Posts made by Raca Asyifa Hasanah

Nama: Raca Asyifa Hasanah
NPM : 2217011028
Kelas : C

Jurnal ini membahas pentingnya identitas bangsa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Penulis menjelaskan bahwa identitas bangsa adalah sesuatu yang membuat suatu bangsa berbeda dan unik dari bangsa lain, seperti budaya, bahasa, adat, dan nilai-nilai bersama. Namun, karena Indonesia sangat beragam, sering terjadi konflik sosial dan perpecahan yang bisa mengancam identitas nasional. Maka dari itu, penting untuk membangun identitas bangsa yang kuat agar masyarakat bisa hidup rukun dan bersatu.

Salah satu solusi yang ditawarkan adalah melalui pendidikan multikultural. Pendidikan ini mengajarkan kita untuk menghargai perbedaan budaya, suku, dan agama, serta menumbuhkan sikap toleransi. Dalam jurnal ini, penulis menekankan bahwa sekolah dan lembaga pendidikan harus menjadi tempat untuk menanamkan nilai-nilai kebersamaan, saling menghargai, dan cinta tanah air. Guru juga punya peran penting dalam membentuk cara berpikir siswa agar mereka tidak hanya pintar dalam akademik, tetapi juga punya sikap sosial yang baik terhadap keberagaman.

Jadi, jurnal ini menyampaikan bahwa pendidikan multikultural sangat penting dalam membentuk identitas bangsa Indonesia yang majemuk. Jika generasi muda diajarkan sejak dini untuk menghargai perbedaan dan hidup dalam kebhinekaan, maka persatuan bangsa akan lebih kuat. Dengan begitu, Indonesia bisa tetap kokoh sebagai negara yang beragam tapi tetap satu, sesuai dengan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika.”
Nama: Raca Asyifa Hasanah
NPM : 2217011028
Kelas : C

Jurnal yang ditulis oleh R. Siti Zuhro ini memberikan penjelasan tentang tantangan yang dihadapi demokrasi di Indonesia, khususnya dalam pemilu presiden 2019. Dalam jurnal tersebut dijelaskan bahwa meskipun Indonesia sudah beberapa kali melaksanakan pemilu sejak era Reformasi, kualitas demokrasi yang tercipta masih jauh dari harapan. Salah satu masalah utama yang dibahas adalah belum mampunya pemilu menghasilkan pemimpin yang bisa membawa kepercayaan publik. Hal ini bisa dilihat dari adanya kerusuhan sosial setelah pengumuman hasil pemilu oleh KPU, ketika salah satu calon menolak menerima hasil tersebut. Selain itu, keputusan akhir yang berada di tangan Mahkamah Konstitusi juga menunjukkan bahwa proses demokrasi kita masih belum sepenuhnya stabil dan bisa dipercaya oleh semua pihak.

Jurnal ini juga menyoroti isu politisasi identitas dan agama yang semakin kuat dalam pemilu 2019. Kedua kubu capres sama-sama berusaha menarik simpati umat Islam dengan menyebut diri mereka sebagai perwakilan suara umat. Namun, hal ini justru memperdalam perpecahan di masyarakat. Selain itu, saya melihat bahwa kritik juga diarahkan kepada partai politik yang lebih mementingkan popularitas, seperti mencalonkan artis sebagai anggota legislatif, daripada mempersiapkan kader yang berkualitas. Hal ini menunjukkan bahwa proses kaderisasi di partai politik masih lemah. Jadi, menurut jurnal ini, agar demokrasi Indonesia bisa berjalan lebih baik, dibutuhkan perubahan dalam sistem politik dan partai, supaya demokrasi yang kita jalankan tidak hanya sekadar prosedural, tapi juga substansial dan bermanfaat untuk rakyat secara luas.