གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Tri Maharani 2213053017

Nama : Tri Maharani
Npm : 2213053017
Kelas : 2A
POST TEST
Analisis jurnal
Demokrasi Sebagai Wujud Nilai-Nilai Sila Keempat Pancasila Dalam Pemilihan Umum Daerah di Indonesia.

Dalam Jurnal ini,penulis membahas bahwa nilai-nilai sila keempat Pancasila memiliki kaitan erat dengan demokrasi, karena dalam praktiknya, demokrasi juga menuntut adanya partisipasi aktif dan kesepakatan bersama dari seluruh rakyat sebagai bentuk kerakyatan yang dijiwai oleh hikmat kebijaksanaan. Dalam konteks pemilihan umum daerah di Indonesia, penulis menekankan pentingnya memahami dan menerapkan nilai-nilai sila keempat Pancasila dalam proses pemilihan umum agar tercipta praktik demokrasi yang sehat dan berkelanjutan.

Selain itu, penulis juga mengkritisi pengaturan mengenai pemilihan kepala daerah yang terdapat dalam Undang-Undang yang kurang jelas dan multi tafsir. Kekurangan ini dapat memicu kekacauan dan disintegrasi bangsa. Oleh karena itu, perlu dilakukan kepastian dalam menegakkan peraturan pemilihan umum yang sekiranya dapat mencegah terjadinya kekacauan dan disintegrasi bangsa. Dalam hal ini, penulis menekankan bahwa melindungi demokrasi juga berarti melindungi sesuatu yang menyandang status minoritas, yaitu calon kepala daerah yang bertarung sesuai dengan amanat nilai demokrasi dalam sila keempat Pancasila. Kesimpulannya, pemilihan umum di Indonesia perlu memperhatikan nilai-nilai Pancasila sebagai landasan demokrasi yang seharusnya mencerminkan prinsip negara hukum dan demokrasi serta melindungi hak minoritas.
Nama : Tri Maharani
Npm : 2213053017
Kelas : 2A
Analisis Video "Perkembangan Demokrasi di Indonesia"

1.Perkembangan Demokrasi Masa Revolusi Kemerdekaan.
Pada masa ini demokrasi sangatlah terbatas. Saat itu demokrasi didukung oleh beberapa pers, seperti dalam buku Inspirasi Bagi Revolusi Indonesia karya Douwes Dekker dan Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta 1945-1949 karya Robert Gribb.


2. Perkembangan Demokrasi Parlementer (1945-1959)
Pada masa ini adalah masa kejayaan demokrasi di Indonesia, karena hampir semua elemen demokrasi dapat ditemukan dalam perwujudan kehidupan politik di Indonesia.
Tetapi demokrasi Perlementer gagal karna:
1. dominannya politik aliran, sehingga membawa konsekuensi terhadap pengelolaan konflik
2. basis sosial ekonomi yang masih sangat lemah
3. persamaan kepentingan antara presiden. Soekarno dengan kalangan Angkatan Darat, yang sama-sama tidak senang dengan proses politik yang berjalan.
• Perkembangan Demokrasi Terpimpin (1959-1965)
Politik pada masa ini diwarnai oleh tolak ukur yang sangat kuat antara ketiga kekuatan politik yang utama pada waktu itu.
• Perkembangan Demokrasi Pada Masa Reformasi (1998 Sampai Dengan Sekarang).
Demokrasi yang diterapkan Negara kita pada era reformasi ini adalah demokrasi Pancasila, tentu saja dengan karakteristik yang berbeda dengan orde baru dan sedikit mirip dengan demokrasi perlementer tahun 1950-1959.
Adanya perubahan demokrasi di atas, menggambarkan adanya upaya bangsa Indonesia untuk berusaha menjadi negara yang lebih baik lagi demi terciptanya kemakmuran, kesejahteraan, dan keadilan.
Nama : Tri Maharani
Npm : 2213053017
Kelas : 2A
Analisis Jurnal “DEMOKRASI DAN PEMILU PRESIDEN 2019”

Berdasarkan analisis saya terhadap jurnal di atas,
Pendalaman demokrasi dipandang sebagai upaya untuk merealisasikan pemerintahan yang efektif. Melihat fakta yang ada bahwa demokrasi di Indonesia yang sudah berjalan selama 21 tahun masih didominasi prosedural dibandingkan substansif.
Apalagi ketika pemilu berlangsung di tengah keterbelahan sosial, menyeruaknya berita-berita sensasional di medsos, ujaran kebencian dan maraknya berita-berita hoax membuat hasil pemilu rentan dengan sengketa dan konflik. Beberapa masalah yang muncul selama tahapan-tahapan pilpres tidak mendapatkan solusi yang konkrit dan memadai. Beberapa masalah seperti politisasi identitas dan sengitnya perebutan suara Muslim, permasalahan parpol dan semua stakeholders terkait pemilu yang belum mampu mengefektifkan dan memaksimalkan peran pentingnya dengan penuh tanggungjawab, tata kelola pemilu yang belum mampu mengakomodasi keragaman masyarakat, dan kentalnya politisasi birokrasi menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dibenahi Indonesia.


Munculnya sebuah isu yang sebagian umat Islam dipandang merugikan mereka pada akhirnya melahirkan gerakan jjtima ulama untuk mengusung pasangan calon presiden dan wakil presiden yang didalamnya terdapat representasi ulama sebagai penantang Prabowo untuk memilih cawapres yang berasal dari kalangan ulama. Indonesia memang memiliki masyarakat yang beragama muslim terbanyak di dunia. Permasalahan tersebut merupakan hal yang logis dan selalu terjadi di setiap pemilu.
Sejauh ini, Indonesia mampu menyelenggarakan pemilu yang aman dan damai. Pemilu 2019 yang rumit, dengan tingkat kerumitan yang cukup tinggi dan hasil yang meragukan, merupakan pelajaran yang sangat berharga. Pemilu yang berkualitas membutuhkan parpol dan koalisi parpol yang berkualitas. Hal ini penting karena pemilu tidak hanya menjadi sarana perebutan kekuasaan yang adil dan damai, tetapi juga menjadi anugerah bagi jaminan sosial rakyat dan kelangsungan hidup negara kesatuan Republik Indonesia. Namun hal ini gagal menjadikan Indonesia sebagai pemimpin demokrasi sejati.