གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Devana Okta Mahdalena 2253053034

Nama : Devana Okta Mahdalena
Npm : 2253053034
Kelas : 3/H

Apa sih pengamalan sila Pancasila itu ?
Pengamalan sila Pancasila artinya penerapan nilai nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari .
Nilai nilai yang harus kita teladani dalam kehidupan sehari-hari terdapat pada sila Pancasila .
1. Sila pertama mengajak kita untuk percaya kepada Tuhan dan melaksanakan perintahnya .
Contoh nya : Bersyukur kepada Tuhan , melaksanakan ibadah sesuai dengan agama yang dianut.
2. Sila kedua mengajak kita untuk bersikap saling mencintai sesama manusia.
Contohnya : membantu korban bencana alam , menolong teman yang kesulitan , bersikap sopan kepada orang tua.
3. Sila ketiga mengajak kita untuk cinta terhadap bangsa Indonesia.
Contohnya : mengikuti upacara bendera dengan tertib , mencintai dan bangga produk Indonesia , bermain dengan rukun.
4. Sila ke empat empat mengajak kita untuk bermusyawarah dalam menyelesaikan masalah.
Contohnya : menyampaikan pendapat , berdiskusi , dan saling menghargai pendapat .
5. Sila kelima mengajak kita bersikap adil terhadap sesama .
Contoh nya : tidak berbuat curang terhadap orang lain , menghargai hasil karya orang lain.

Menurut saya agar seseorang dapat meneladani dan menerapkan nilai nilai tersebut kepada generasi di era modern ini
Dengan cara memanfaatkan sosial media atau teknologi informasi sebagai media untuk mengenalkan nilai nilai Pancasila. Menumbuhkan sifat nasionalisme . Tidak terpengaruh westernisasi atau pengaruh budaya barat .
Nama : Devana Okta Mahdalena
Npm: 2253053034
Kelas : 3/H

Pentingnya pendidikan nilai moral untuk generasi bangsa
Pendidikan nilai moral/agama sangat penting bagi tegaknya satu bangsaTanpa pendidikan nilai moral (agama, budi pekerti, akhlak) kemungkinan besar suatu bangsa bisa hancur, carut marut. Munculnya kembali pendidikan budi pekerti sebagai primadona dewasa ini mencerminkan kegusaran bangsa ini akan terjadinya krisis moral bangsa dan kehidupan sosial yang carut marut.
Moral adalah ajaran tentang perilaku hidup yang baik berdasarkan visi hidup atau agama tertentu. Pendidikan moral bagi anak sejak dini sangatlah penting, karena biasanya anak yang sedang memasuki masa pubertas belum bisa mengendalikan emosinya. Nilai moral menjadi prioritas utama dalam kehidupan saat ini karena semakin tidak sejalan dengan norma-norma masyarakat kita. Selain itu, anak-anak zaman sekarang sering meniru akhlak di YouTube, Instagram, Facebook dan jejaring sosial lainnya sehingga menyebabkan akhlak yang ada menjadi hilang dan mereka mengadopsi akhlak yang sering dicontohkan oleh jejaring sosial lain.

Tantangan nya di era digital ini banyak anak remaja yang sudah banyak kecanduan dengan game , video yang tidak layak di tonton seusia nya , dan judi online . Banyak orang tua yang memberikan Handphone ke anak anak kecil agar anak nya tidak main , terkadang anak mencontoh yang tidak baik dari video yang telat di tonton nya .

Positif nya adalah anak anak memiliki kepribadian yang baik , menjaga tutur kata , sopan kepada yang lebih tua , dan saling menghargai teman teman nya .

Negatif nya anak banyak menuturkan kata yang kasar , tidak sopan kepada yang lebih tua , dan mengikuti trend yang kurang baik untuk seusianya .
Nama : Devana Okta Mahdalena
Npm : 2253053034
Kelas : 3/H

Pertemuan 3
PENTINGNYA PENDIDIKAN NILAI MORAL BAGI GENERASI PENERUS

Teori pendidikan nilai moral
- Teori Perkembangan Pertimbangan Moral Kohlberg Lawrence Kohlberg adalah pengikut Piaget, menemukan tiga tingkat perkembangan moral yang dilalui para remaja awal, masa remaja, dan pasca remaja. Setiap tingkat perkembangan terdiri atas dua tahap perkembangan, sehingga secara keseluruhan perkembangan moral manusia mterjadi dalam enam tahap.
1. Tingkat 1 ( Moralitas Prakonvesional (usia 4-10 tahun ))
Tahap 1 ( memperhatikan ketaatan dan hukum )
Tahap 2 ( memperhatikan pemuasan kebutuhan )

2. Tingkat 2 ( Moralitas konvensional (usia 10-13 tahun))
Tahap 3 ( memperhatikan citra “anak baik “
Tahap 4 ( memperhatikan hukum dan peraturan )

3. Tingkat 3 ( Moralitas pascajonvensional (usia 13 tahun keatas ))
Tahap 5 ( memperhatikan hak perseorangan )
Tahap 6 ( memperhatikan prinsip-prinsip etik )

- Teori Belajar Sosial dan Moral Albert Bandura

Prinsip dasar belajar hasil temuan Bandura meliputi proses belajar sosial dan moral. Menurut Bandura sebagian besar dari yang dipelajari manusia terjadi melalui peniruan (imitation) dan contoh perilaku (modeling)Anak mempelajari respon-respon baru dengan cara pengamatan terhadap perilaku model/contoh dari orang lain yang menjadi idola, seperti guru, orang tua, teman sebaya, dan atau insane film yang setiap saat muncul di tayangan televise.
Aspek :
Tekanan dasar , mekanisme perolehan moralitas , usia perolehan , kenisbian kebudayaan , pelaku sosialisasi , implikasi untuk pendidikan .
Pendidikan nilai moral
- Fenomena Tingkah Laku Amoral Remaja

Kita seringkali menyaksikan di banyak mass media elektronik dan cetak, fenomena tingkah laku amoral remaja yang semakin hari se- makin meningkat, dari tindakan amoral yang paling ringan, seperti: membohong, menipu, perilaku menyontek di sekolah, tidak menaati peraturan, mélanggar norma, mencaci maki, sampai pada tingkat yang paling menghawatirkan, mencemaskan dan meresahkan orang tua dan masyarakat, bahkan mengganggu ketertiban umum, kenyamanan, ke- tentraman, dan kesejahteraan, serta merusak fasilitas umum, seperti: mencuri, menodong/merampok, menjambret, memukul, tawuran pelajar, tindak kekerasan, kriminal, mabuk, dan bahkan sampai membunuh, serta mutilasiPendek kata perilaku amoral ini mengancam keselamatan fisik dan jiwa diri mereka dan orang lain.

- Kondisi Ideal Remaja sebagai Generasi Penerus Remaja sebagai generasi penerus bangsa memiliki peran dan posisi yang strategis. Mereka merupakan harapan masa depan bangsa. Maju atau mundurnya bangsa dan Negara ada di pundak mereka. Kalau mereka maju maka majulah Negara, tetapi kalau meraka bobrok, mundur, dan loyo, maka mundurlah Negara. Sudut pandang psikologi para remaja sebagai generasi penerus memiliki potensi yang bisa dikembangkan secara maksimalPotensi mereka yang prospektif, dinamis, energikpenuh vitalitas, patriotisme dan idealisme harus dikembangkan melalui pendidikan dan pelatihan yang terrencana dan terprogram.
Nama : Devana Okta Mahdalena
Npm : 2253053034
Kelas : 3/H

Pertemuan 2
PENDIDIKAN NILAI DAN MORAL DALAM SISTEM KURIKULUM
PENDIDIKAN DI ACEH

Pemerintah Aceh mengembangkan sistem pendidikan yang sesuai dengan karakteristik-karakteristik adat istiadat masyarakat Aceh serta otonomi khusus yang berlaku di Aceh Amin (2018) Sistem pendidikan yang diamanahkan berupa sistem pendidikan Islam seperti yang tertuang dalam Qanun No23 Tahun 2002Qanun tersebut kemudian disempurnakan dengan Qanun Aceh No 5 Tahun 2008 dan pemerintah kemudian diganti oleh Qanun Aceh No 9 Tahun 2015 perubahan atas Qanun Aceh No11 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Islam di Aceh, Indonesia.

Di Indonesia, pendidikan nilai telah diatur dalam sistem pendidikan nasionalAda delapan belas nilai yang perlu diintegrasikan guru dalam pembelajaran. Kedelapan belas nilai tersebut adalah religius, jujur, toleransi, disiplin, pekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, ingin tahu, nasionalis, patriotik, menghargai prestasi, ramah dan komunikatif, cinta damaigemar membaca, sadar lingkungan, peduli sosial, dan bertanggung jawab (Kemendiknas, 2010)Nilai-nilai tersebut dipupuk dengan memadukan nilai dengan isi kurikulum tertulis, kurikulum tidak tertulis (hidden curriculum), serta kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler. Artinya nilai yang akan dikembangkan harus diwujudkan dalam isi setiap mata pelajaran melalui proses pembelajaran di kelas, tugas di luar kelas, dan juga terwujud dalam aturan sekolah. Khusus pendidikan di Aceh sama hal nya dengan pendidikan di provinsi lainnya secara nasional. Hanya saja di Aceh diberikan keistimewaan sesuai dengan Undang-Undangan nomor 44 tahun 1999 tentang tentang Keistimewaan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus.
Pendidikan di Aceh saat ini sedang mempersiapkan kurikulum Aceh yang disusun berdasarkan ajaran Qanun Aceh tentang penyelenggaraan pendidikan IslamKurikulum Aceh dapat disebut sebagai kurikulum nasional plus karena seluruh muatan kurikulum nasional 2013 termasuk kurikulum Aceh ditambah dengan materi pendidikan Islam dan materi muatan lokal.
Ada enam strategi dalam pembentukan nilai yang membutuhkan proses keberlanjutan seperti pembiasaan nilainilai budayapengetahuan moral, perasaan dan cinta yang baik, akting moral, dan nilai keteladanan. Bagaimanapun guru memiliki peranan yang sangat penting dalam proses pembentukan nilai siswa selama di sekolah . Oleh karena itu, para guru perlu mempelajari strategi yang digunakan untuk mengajarkan nilai-nilai baik kepada siswa baik melalui pendidikan formal maupun nonformalPeran guru sebagai panutan bagi siswa dinilai sangat penting dalam pendidikan nilai. Nilai- nilai utama yang harus dimiliki oleh seorang guru untuk mendukung keberhasilan implementasi kurikulum di National Institute of Education (NIE), Singapura adalah: keyakinan bahwa semua siswa dapat belajar, merawat dan memperhatikan semua siswa, menghormati keragamankomitmen dan dedikasi terhadap profesi.
Nilai moral Islam adalah Alquran dan Hadits Nabi, dan ini berarti bahwa nilai harus mutlak dan stabil. Dari sisi individu membantu mereka untuk merasakan keamanan, stabilitas, dan keselamatanuntuk menentukan identitas mereka, dan kepemilikan kelompok serta penerimaan mereka terhadap nilai-nilai dan keyakinan yang diatur oleh agamaDari sisi masyarakat membantu dalam mengatur emosi dan keberlanjutannya, dan ini merupakan salah satu pilar keberlangsungan dan keberlanjutan masyarakatSingkatnya, seorang Muslim harus mengembangkan karakter moralnyaDengan demikian, nilai-nilai yang lebih baik. yang dimasukkan oleh seorang Muslim ke dalam karakternya, menjadi Muslim yang lebih baik.