Posts made by Anggun Putri Pradani 2213053172

Nama : Anggun Putri Pradani
NPM : 2213053172

Pada video tersebut dijelaskan bahwa terdapat 6 tahap perkembangan moral menurut Kohlberg.

Level 1. Moralitas Pra-konvensional
• Tahap 1 - Menghindari hukuman.
• Tahap 2 - Keuntungan dan minat pribadi .
Level 2. Moralitas Konvensional
• Tahap 3 - Menjaga sikap orang baik.
• Tahap 4 - Memelihara peraturan.
Level 3. Moralitas Pasca-konvensional
• Tahap 5 - Orientasi kontak sosial.
• Tahap 6 - prinsip etika universal.

• Tahap 1
Dalam tahap ini seseorang memiliki alasan untuk bertindak atau tidak bertindak karena menghindari hukuman.

• Tahap 2
Dalam tahap ini seseorang melakukan tindakan dengan memperhitungkan apa yang akan didapatkan olehnya.

• Tahap 3
Dalam tahap ini seseorang memikirkan tentang kesepakatan sosial dan pendapat orang lain terhadapnya.

• Tahap 4
Dalam tahap ini seseorang harus mematuhi peraturan yang telah diberikan.

• Tahap 5
Dalam tahap ini seseorang harus melihat bersamaan terkait hak-hak individu dengan hukum yang ada.

• Tahap 6
Dalam tahap ini seseorang melakukan hal yang dianggapnya benar walaupun bertentangan dengan hukum yang ada. Pada tahap ini menggambarkan prinsip internal seseorang.

Dalam dilema Heinz tersebut, menurut saya hal yang dapat dilakukan yaitu Heinz bisa mencuri obat tersebut dan tidak ada hukum yang boleh menghukumnya. Keputusan ini membuat Heinz menyelamatkan istrinya dan keduanya bisa hidup bahagia. Pemikiran ini didasarkan pada pemikiran bahwa kekakuan dalam hukum harus ditolak dan keadilan harus ditegakkan berdasarkan moral. Ini adalah tingkat pemikiran moral pasca-konvensional atau dalam level 3.
Nama : Anggun Putri Pradani
NPM : 2213053172


Sekarang ini pendidikan di Indonesia sangat memprihatikan, selain nilai dan moral yang ada di dalam diri anak rendah pengawasan dari orang tua dan pendidik kurang. Salah satu contohnya yaitu pada video di atas, hanya karena masalah sepele nyawa melayang. Terdapat peserta didik yang meninggal dunia karena berkelahi, bullying atau perundangan, dan masih banyak lagi. Sehingga peran orang tua disini sangatlah penting untuk mengarahkan anak jalan yang baik yang tidak seharusnya dilakukan seperti menanamkan nilai dan moral yang baik sehingga anak akan mempunyai moral atau kepribadian yang baik dan bisa mengerti yang tidak seharusnya dilakukan. Selain itu, peran pendidik juga perlu dalam melanjutkan pendidikan nolai dan moral di lingkungan sekolah yang sudah ditanamkan oleh orang tua peserta didik tersebut. Orang tua dan pendidik juga harus mengawasi mereka supaya tidak menyimpang, orang tua mengawasi di lingkungan rumah dan pendidik mengawasi di lingkungan sekolah.
Nama : Anggun Putri Pradani
NPM : 2213053172

Trolley problem membahas tentang kontrol untuk mengambil keputusan yang lebih bermoral pada berbagai kondisi yang terjadi. The trolley problem menekankan konsekuensi dari sebuah pilihan, seperti apakah itu dibuat berdasarkan nilai moral tertentu atau lebih kepada hasil akhirnya dan bagaimana cara mengekspresikannya dalam kehidupan sehari-hari. Mengorbankan yang lebih sedikit atau menyelamatkan yang lebih banyak merupakan salah satu sebuah doktrin dimana harus ada yang dikorbankan demi kepentingan yang lebih besar sehingga moral digunakan sebagai alat penguasa. Pada akhirnya moralitas hanyalah egoisme manusia dengan kepentingan dirinya atau kelompoknya sendiri.
Nama : Anggun Putri Pradani
NPM : 2213053172

Dari jurnal berjudul ” PENDIDIKAN NILAI DAN MORAL DALAM SISTEM KURIKULUM PENDIDIKAN DI ACEH “ bahwa Aspek terutama dalam kehidupan seorang Muslim merupakan mempunyai standar moral yang besar. Perkembangan IPTEK yang luar biasa yang menyebabkan terjadinya proses interaksi kultural yang lebih terbuka (Suwarman, 2016). Selain itu, perubahan pesat dalam kehidupan sosial merupakan salah satu perbincangan paling signifikan tentang hukum dan moral siswa. Masalah iklim masyarakat moralitas remaja selama dekade terakhir masih belum pernah terjadi sebelumnya. Hal ini menjadi semakin sulit untuk diabaikan dalam berbagai penelitian dimana siswa terlibat dalam perilaku menyimpang yang sering dikaitkan dengan institusi pendidikan. Namun demikian, perubahan yang sangat cepat ini berdampak serius pada kehidupan sosial melalui proses aspek kognitif dan emosi (Aswati, 2007), bahkan juga berdampak pada pembangunan bangsa dalam jangka panjang. Persoalan yang dikaitkan dengan nilai-nilai moral siswa dalam satu dekade terakhir ini menjadi gejolak pemerintah Aceh termasuk orang tua siswa. Dalam menanggapi hal tersebut pemerintah Aceh selain menyelenggarakan pendidikan sesuai dengan yang diamanatkan secara nasional, pemerintah Aceh juga melaksanakan pendidikan sesuai dengan kekhususan yang diberikan oleh pemerintah pusat kepada pemerintah Aceh. Sehingga, Pemerintah Aceh mengembangkan sistem pendidikan yang sesuai dengan karakteristik-karakteristik adat istiadat masyarakat Aceh serta otonomi khusus yang berlaku di Aceh Amin (2018) Sistem pendidikan yang diamanahkan berupa sistem pendidikan Islam seperti yang tertuang dalam Qanun No. 23 Tahun 2002. Qanun tersebut kemudian disempurnakan dengan Qanun Aceh No 5 Tahun 2008 dan pemerintah kemudian diganti oleh Qanun Aceh No 9 Tahun 2015 perubahan atas Qanun Aceh No. 11 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Islam di Aceh, Indonesia.
Nama : Anggun Putri Pradani
NPM : 2213053172

Dari jurnal yang berjudul " Pentingnya Pendidikan Nilai di Era Globalisasi" dapat saya analisis bahwa Nilai merupakan segala sesuatu yang berharga, Menurut I Wayan Koyan (Dwi Siswoyo. 2005 :22). Sedangkan tujuan dari pendidikan nilai yaitu untuk menjadikan peserta didik menjadi "manusia yang utuh sempurna". Tercapainya kesempurnaan ditunjukkan oleh terbentuknya "pribadi yang bermoral" (Driyakara. 1980 129). Pribadi yang bermoral adalah yang memiliki kemampuan untuk mengelola hidupnya sesuai dengan nilai-nilai luhur kemanusiaan. Kemampuan seperti itu ada pada hati nurani yang telah mencapai kedewasaan. Maka dari itu segala usaha yang bertujuan untuk membina hati nurani mesti diarahkan agar peserta didik mempunyai kepekaan dan penghayatan atas nilai-nilai luhur. Usaha- usaha seperti itulah yang disebut "pendidikan nilai". Sasaran pendidikan nilai adalah agar peserta didik dapat mengalami dan menghayati nilai-nilai. Jadi nilai-nilai itu tidak hanya sekedar diajarkan dan diketahui saja, tetapi harus dialami dan dihayati. Tetapi yang sangat menyedihkan akibat dampak globalisasi telah menimbulkan transformasi nilai-nilai dalam kehidupan masyarakat. Kesadaran akan hak-hak personal seseorang semakin tinggi, kehidupan cenderung semakin individualis, semakin permisif, dan lunturnya nilai-nilai moral. Akar permasalahan krisis pendidikan nilai di Indonesia ini yaitu pendidikan nilai selama ini banyak terjadi adanya keterpaksaan, yaitu nilai-nilai diajarkan dengan paksa untuk diketahui secara kognitif dan dilaksanakan, tetapi karena dipaksakan maka tidak sampai menyentuh hati. Hasilnya sikap dan perilaku anak didik tidak berakar dari pengalaman nilai yang otentik. Solusi atau yang dapat seorang pendidik lakukan adalah mendampingi dan mendorong mereka agar menjalani hidup dengan menggunakan nalar dan hati. Dengan nalar dan hati yang berfungsi dengan baik diharapkan mereka akan dapat mempertimbangkan segala perbuatan, tingkah laku, dan keputusan yang diambil. Secara individual setiap pendidik diharapkan mencoba melaksakan tugasnya "mengajar" dan "mendidik" secara bertanggungjawab.