Nama : Friska Faradila
NPM : 2213053278
Kelas : 2D
A. Identitas Jurnal
1. Nama Jurnal : Jurnal Penelitian Politik
2. Halaman : 69-81
3. Volume : Vol. 16
4. Nomor : No. 01
5. Tahun Terbit : Juni 2019
6. Judul Jurnal : Demokrasi dan Pemilu Presiden 2019
7. Nama Penulis : R. Siti Zuhro
8. Kata Kunci : Pendalaman Demokrasi, Pemilu Presiden, Politisasi Identitas, Pemerintahan Efektif, Membangun Kepercayaan
B. Isi Jurnal
-Deepening Democracy dan Tantangannya
Seperti yang ditunjukkan oleh Laurence Whitehead (1989), penguatan demokrasi adalah sarana untuk meningkatkan komitmen terhadap aturan permainan demokrasi di semua lapisan masyarakat. Bukan hanya proses politik yang berlangsung di tataran prosedural lembaga politik, tetapi juga di tataran masyarakat. Demokrasi yang berlaku di daerah merupakan basis terpenting bagi perkembangan demokrasi di tingkat nasional
Sementara itu, proses demokrasi yang berlangsung di tingkat nasional (setelah tiga kali pemilihan presiden langsung) menunjukkan arah yang sulit, terutama dalam membangun kualitas pemilihan presiden dan pendalaman atau konsolidasi demokrasi. Dalam konteks ini, pemilihan presiden secara langsung dapat digolongkan sebagai proses demokrasi formal yang merupakan kelanjutan dari penjaminan hak-hak politik tersebut.
Di sisi masyarakat, pendalaman demokrasi mengacu pada pelembagaan penguatan partisipasi masyarakat dalam kegiatan politik formal di tingkat lokal. Dengan kehendak ini, negara diharapkan untuk menginvasi masyarakat, mengatur hubungan sosial, mengekstraksi dan menguasai sumber daya.
Selain itu, negara juga harus mampu memberdayakan masyarakat untuk terlibat secara aktif dalam proses kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya dalam kepemimpinan sosial. Situasi politik di Indonesia yang sedang mengkonsolidasikan demokrasi menimbulkan pertanyaan, apakah pemilihan presiden langsung saat ini relevan dan berguna untuk memperkuat demokratisasi dan menciptakan pemerintahan yang sah dan efektif? Seiring dengan penipuan dan ujaran kebencian, isu politisasi agama di Pilpres 2019 menjadi salah satu isu yang paling terlihat di musim kampanye. Penggunaan politisasi agama dan pembunuhan karakter dalam kampanye memperburuk ketegangan sosial dan menyebabkan rasa saling tidak percaya dan tidak hormat di antara orang-orang.
-Pemilu Presiden 2019 dan Masalahnya
Pemilu serentak tahun 2019 ini ialah pemilu serentak yang melangsungkan pileg dan pilpres dalam waktu yang sama, pemilu ini menjadi test case penguatan sistem presidensial, pelembagaan parpol dan koalisi parpol secara terukur dan terhormat
Dalam pemilu ini semua pihak harus berkomitmen untuk bersama sama meningkatkan kualitas pemilu dari segi prosedural dan subtansial
-Politisasi Identitas: Berebut Suara Muslim
Pemilu serentak 2019 tidak lepas dari isi politisasi identitas dan agama yang diwarnai dengan berebut suara muslim, kemudian muncul ijtima karena ada beberapa isu yang dipandang merugikan umat Islam, ijtima ini digunakan untuk mengusung pasangan calon presiden dan wakil presiden,
Setelah didapatnya keputusan hasil rapat ijtima tetapi masih ada perdebatan diantara ulama NU dan Muhammadiyah karena dinilai tidak merasa terlibat dalam ijtima tersebut. Sebagai negara yang mayoritas muslim, berebut suara muslim merupakan hal yang wajar
-Pemilu dan Kegagalan Parpol
Fungsi parpol mulai tidak maksimal pada pemilu 2019 ditandai dengan banyaknya arti yang masuk ke dalam caleg dengan tujuan sebagai vite Getter partai dalam pemilu.
Belakangan ini terjadi fermentasi parpol menyebabkan parpol tidak solid, jumlah fraksi cenderung terus meningkat ini mengakibatkan meningkatnya ketidakpuasan massa terhadap parpol, parpol dianggap hanya memperjuangkan kekuasaan dan kepentingannya sendiri. Pengalaman dari pemilu ke pemilu menunjukkan bahwa permasalahan yang dihadapi relatif sama: perilaku distortif, melanggar hukum dan menghalalkan semua cara (vote buying),
Harapan rakyat pasca pemilu, mereka bisa menyaksikankinerja pemerintah/parlemen yang lebih berpihak pada nasib rakyat. Karena pemilu diharapkan berkorelasi positif terhadap kesejahteraan rakyat
-Pemilu dalam Masyarakat Plural
Dalam teori etik filsuf jerman, Immanuel kant (1724-1804) yang mengingatkan jika dalam masyarakat majemuk masing-masing mengklaim kebenaran absolut agama, mayoritas, atau kultur, maka hasil akhirnya adalah konflik,
Dalam konteks pilpres 2019 sepertinya semua pihak tidak menyadari pentingnya nilai-nilai budaya sendiri sebagai perisai ketahanan sosial bangsa yaitu Pancasila, UUD, NKRI, dan bhineka tunggal Ika, berakar dari sejarah dan falsafah hidup bangsa.
Hal yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur dalam pilpres 2019 lalu ialah penggunaan sebutan cebong dan kampret untuk saling mengejek antara pendukung.
Pemilu serentak dasarnya merupakan upaya demokrasi yang diharapkan dapat menjadikan legislator dan eksekutif menjadi lebih akuntabel dihadapan rakyat sebagaimana tuntutan demokrasi ideal
-Pemilu dan Politisasi Birokrasi
Ketidaknetralan birokrasi internal Pemilu dapat melemahkan legitimasi pemerintah, penyelenggara pemilu, dll. hasil Sejauh ini menunjukkan tingkat empirisDaya tarik politik terutama datang dari pihak berwenang melawan birokrasi. Itu terlihat sangat kuat. Salah satunya adalah video viral menunjukkan dugaan dukungan seluruh camat Makassar kepada pasangan calon Joko Widodo-Ma'ruf Amin.16 Politisasi birokrasi semakin kentara dengan mengangkat menteri, kepala lembaga, pengurus daerah
kandidat pemenang dalam pemilihan presiden. Itu berarti, birokrasi tidak hanya terlibat dalam politik praktis ke pusat tetapi juga ke daerah.