Kiriman dibuat oleh Efi yulyana 2213053075

Efi Yulyana(2213053075)

Dari video 1 dapat di analisis
bahwa video tersebut diambil dari kisah nyata para anak muda yang rela melepaskan karirnya dan kehidupan di kota besar untuk menjadi guru dan mengajar di desa kecil seluruh pelosok Negeri. Dari video tersebut juga dapat mengajarkan kita untuk selalu bersyukur atas segala hal yang masih banyak orang di luar sana termasuk di daerah terpencil yang membutuhkan dan memerlukan pendidikan. Pemerintah seharusnya dapat membuka mata agar pendidikan dan kehidupan masyarakat di desa terpncil khususnya seperti di video tersebut yaitu di pelosok Kalimantan agar bisa diperhatikan lebih baik lagi agar pendidikan teersebut dapat dirasakan seluruh masyarakat Indonesia supaya dapat merasakan hidup yang lebih baik dan layak seperti masyarakat yang tinggal di perkotaan.
Efi Yulyana (2213053075)

Dari jurnal yang berjudul Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat: Suatu Pemikiran Kefilsafatan dapat di analisis bahwa terdapat konflik dua paham sosial antara individualisme dan kolektivisme tidak perlu dibenturkan, tetapi justru perlu dikelola menurut nilai-nilai moral dan etika, sehingga menjadi kekuatan sosial bagi kehidupan bermasyarakat. Menurut sudut pandang manajemen pendid ikan, ada dua pilihan yaitu apakah dengan sistem menyeragamkan atau justru membina kebebasan untuk mengembangkan berbagai kreativitas individual.
Ada tiga komponen moral dan etika bermasyarakat yang perlu dibina untuk dikembangkan secara berkelanjutan.
Pertama, kesadaran moral. Fakta membuktikan bahwa potensi individual bersifat terbatas. Padahal eksistensi kehidupan manusia terarah pada suatu tujuan. Untuk mencapai tujuan tersebut, manusia wajib mempertahankan dan mengembangkan eksistensi kehidupannya itu. kesadaran moral mendorong terbentuknya suatu keterikatan sosial dalam bentuk kerja sama dalam kehidupan bermasyarakat. Atas kesadaran moral itulah kemudian berfungsi menjadi satu wawasan bagi seluruh individu dalam bermasyarakat.
Kedua, kreativitas dalam reproduksi. Wawasan sosial tersebut, selanjutnya mendorong kehidupan bermasyarakat untuk meningk atkan kreativitas dan produktivitas. Kreativitas kehidupan suatu masyarakat sangat ditentukan oleh lapisan sosial golongan tengah (middle class). Golongan ini adalah kaum intelektual yang berkompeten dalam teori dan sistem pemberdayaan IPTEK. Atas kompeten sinya itu, mereka bersinergi dalam berkreativitas untuk meningkatkan produksi pangan, sandang, papan, dan alat perlengkapan hidup lainnya. Jadi, atas potensi kreatifnya itu, kehidupan masyarakat menjadi lebih lebih maju, kreatif, produktif, dan mandiri di masa depan, sehingga, bukan menjadi masyarakat bergantung, melainkan masyarakat otonom yang mampu mengelola kehidupan atas kemampuan sendiri.
Ketiga, pengendalian perilaku dalam berproduksi. Teknologi dan perindustrian, memiliki kekuatan pelipat-gandaan dalam berproduksi, tetapi perlu diingat bahwa kharakteristik berproduksi seperti itu, berakibat eksploratif dan eksploitatif terhadap sumber daya alam, sehingga ekosistem bisa terancam. Untuk itu, di dalam kehidupan bermasyarakat baik pada taraf individual maupun kelembagaan sosial secara moral dan etika bertanggung -jawab atas perilaku berproduksi. Secara moral dan etika, tujuan meningkatkan produktivitas tidak ada lain kecuali untuk mewujudkan kesejahteraan umum bagi totalitas kemasyarakatan. Bukan berprodu ksi dengan cara menguras habis sumber daya alam, tetapi menurut azas keadilan ( renewable).
 
Jadi, kesadaran moral yang kuat mendorong kreativitas untuk berproduksi secara terkendali menurut norma-norma etika ke arah terbentuknya kehidupan masyarakat berkead ilan. Oleh sebab itu, tiga pilar moralitas dan etika tersebut wajib ditanam dibina dan dikembangkan di dalam diri setiap individu melalui pendidikan keluarga, pendidikan sekolah dan pendidikan bermasyarakat. Jika berhasil, maka konflik kepentingan antara p aham individualisme dan kolektivisme justru menjadi energi sosial untuk mendorong pertumbuhan kehidupan masyarakat berkeadilan. Di dalam masyarakat berkeadilan, setiap individu mendapat keleluasaan berdinamika untuk mengoptimalkan potensi dirinya menjadi seorang individu berkepribadian ideal. Sebaliknya, dengan demikian otomatis masyarakat menemukan jati dirinya yaitu sebagai suatu sistem manajemen sosial.
Efi yulyana (2213053075)


Dari junal yang berjudul Problematika Moral Bangsa Terhadap Etika Masyarakat dapat di analisis bahwa Moral merupakan perilaku yang baik yang menjadi karakter dari individu atau kelompok yang bisa di lihat dari cara berfikir bertindak dan merespon suatu keadaan. Namun moral bangsa saat ini tidak lagi sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia yang berlandaskan Pancasila. Sedangkan moral menrcerminkan karakteristik dari bangsa Indonesia itu sendiri. Indonesia terkenal dengan pluralisme yang dapat mempengaruhi etika dalam suatu masyarakat yang dikenal dengan aturan adat istiadat.
Dalam kehidupan, etika ataupun moral memiliki peran yang sangat penting yaitu untuk mempermudah manusia dalam berinteraksi dengan baik. Namun dalam penerapannya masih ada yang melakukan pelanggran etika maupun moral hal ini akan menggelisahkan masyarakat dan menimbulkan kerugian baik pada dirinya sendiri maupun orang lain. Belakangan ini sering terjadi ketidak sesuaian beretika dalam masyarakat yang menghilangkan citra dari karakter bangsa. Kurangnya pemahaman tentang kewajiban beretika di kampung Cijambe Girang Sukaresmi,sehingga timbulnya kasus seperti pelecehan seksual yang menghilangnya kesadaran beretika dalam masyarakat. Tentunya hal ini harus diperhatikan dan diberikan upaya agar moral bangsa tetap terjaga.
Setelah dikaji lebih dalam mengenai etika dan moral dalam masyarakat ternyata ini bukan lagi hal yang sepele jika dilihat lebih serius untuk membahas lebih dalam. Karena setelah mengetahui dampak daripada perubahan zaman terhadap etika dan moral masyarakat sangat Komplek artinya dapat mempengaruhi segala aspek kehidupan masyarakat. Sedikit-sedikit etika dan moral yang dibentuk dari kebiasaan bangsa yang baik mulai luntur tertimbun zaman. Untuk menjegah terjadinya perubahan etika dan moral yang buruk pada masyarakat maka setidaknya harus membuat pencegahan dan aturan yang dapat menjamin bagaimana etika dan moral bangsa Indonesia khususnya Kampung Cijambe Girang Sukaresmi, Kabupaten Sukabumi, tidak hilang tertimbun zaman. Etika dan moral baik sudah menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia yang diajarkan dari nenek moyang mereka sehingga ini menjadi kalater bangsa yang terus dijunjung tinggi.
.

3I 2023 Pendidikan nilai dan Moral -> FORUM pertanyaan

oleh Efi yulyana 2213053075 -
Efi Yulyana (2213053075)

Tanggapan saya mengenai perbedaan kriteria antara hardskil dan softskill,
meski hardskill dan softskill sangat jauh berbeda dimana hard skli menunjukkan kemampuan yang bisa di lihat dan bisa di nilai seperti kemampuan digital marketing, copywriting, content witing, menerjemahkan bahasa, desain, programming, mengelola media sosial, sales, finance dll. kemampuan hardskil memang tidak harus dimiliki oleh setiap orang namun hard skil perlu untuk di bagun.
Berbeda hal nya dengan soft skil, jika hardskil bisa di lihat dan bisa di nilai secara langsung maka softskil sebalik nya, softskil memang tidak terlihat tetapi softskil bisa di rasakan, kemampuan ini harus dimiliki oleh setiap orang, seperti kemampuan berkomunikasi dengan orang lain, bagaimana caranya kamu menyelesaikan masalah, berpikir kritis, berpikir kreatif, dan bisa bekerja sama dengan orang lain.
tidak semua manusia langsung memiliki softskil, softskil perlu di bangun dan perlu di latih terus menerus.
EFI Yulyana (2213053075)

Dari jurnal yang berjudul proses pendidikan nilai moral di lingkungan keluarga sebagai upaya mengatasi kenakalan remaja, dengan adanya pembinaan nilai dan moral sejak dini dalam keluarga maka anak anak akan memiliki nilai moral yang baik dan terhindar dari pelanggaran pelanggaran nilai dan moral. Keluarga merupakan tempat dimana anak anak di besarkan merupakan lingkungan yang pertama kali di jalani oleh seorang anak di dalam mengarungi hidupnya, sehingga Keluarga merupakan institusi pendidikan utama dan pertama bagi anak. Karena pertama kali anak mengenal pendidikan di lingkungan keluarga sebelum mengenal masyarakat yang lebih luas. orang tua memiliki peranan yang sangat penting dalam mendidik anaknya karena anak-anak akan mengikuti perilaku atau sikap yang dicontohkan oleh orang tuanya. Baik buruknya sikap anak di masa depan ditentukan oleh pendidikan dan bimbingan yang diajarkan oleh orang tuanya.
Berbagai faktor merosot nya nilai moral pada anak
1. Kurang tertanamnya nilai-nilai keimanan pada anak-anak.
2.lingkungan masyarakat yang kurang baik.
3.Pendidikan moral tidak berjalanmenurut semestinya, baik di keluarga, sekolah dan masyarakat.
4.Suasana rumahtangga yag kurang baik.
5. Banyak diperkenalkannya obat-obat terlarang dan alatalat anti hamil.
6.Banyak tulisan-tulisan, gambar-gambar, saran-siaran yang tidaksejalan dengan nilai-nilai moral,
7. Kurang adanya bimbingan dalam mengisi waktuluang dengan cara yang baik yang membawa kepada pembinaan nilai moral
8. Kurangnya markas-markas bimbingan da penyuluhan bagi anak-anak.
Dengan berbagai faktor merosotnya nilai moral pada anak, maka sangat penting sekali menanam kan nilai nilai moral pada anak sejak usia dini sejak mereka masih kecil.
Terdapat beberapa cara untuk mengatasi nilai mora di dalam keluarga :
• Penanaman pendidikan keimanan sejak dini kepada anak-anak
• Menanamkan pendidikan moral kepada anak-anak.
• Menciptakan suasana rumah tangga yang harmonis