གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Putri Alya

3I 2023 Pendidikan nilai dan Moral -> FORUM pertanyaan

Putri Alya གིས-
Hard skills dan soft skills adalah dua jenis keterampilan yang berbeda dalam dunia kerja. Hard skills adalah keterampilan teknis yang dapat diukur dan diukur dengan angka atau kriteria yes or no, seperti kemampuan bahasa asing, penggunaan komputer, dan pengembangan aplikasi. Sementara itu, soft skills adalah keterampilan interpersonal yang sulit diukur dan lebih subjektif, seperti kemampuan berkomunikasi, berpikir kritis, manajemen waktu, dan kepemimpinan. Keduanya sama-sama penting dalam dunia kerja dan harus seimbang untuk mendukung karier seseorang. Hard skills membantu meningkatkan produktivitas dan efisiensi dalam kegiatan operasional perusahaan, sedangkan soft skills membantu seseorang menghadapi keadaan yang berubah dan bekerja sama dengan orang lain. Keduanya dapat dikembangkan dan diperbaiki seiring dengan berjalannya waktu.

Contoh hard skill dan soft skill yang umum digunakan di dunia kerja meliputi:
Hard Skill:
Kemampuan bahasa asing
Penggunaan komputer dan teknologi
Kemampuan untuk menggunakan program komputer (misalnya, CAD, ERP, platform CRM)
Keterampilan dalam bidang teknik dan sains (misalnya, prototyping, drafting, STEM)
Soft Skill:
Komunikasi (berbicara dengan depan umum, berpikir kritis, membaca body language lawan bicara)
Manajemen waktu
Kepemimpinan
Motivasi kerja
Etika
Kemampuan bernegosiasi
Kemampuan menggunakan komunikasi non-verbal (intonasi nada, gestur tangan, ekspresi wajah)
Keduanya sangat penting dalam dunia kerja dan harus seimbang untuk mendukung karier seseorang. Hard skill membantu meningkatkan produktivitas dan efisiensi dalam kegiatan operasional perusahaan, sedangkan soft skill membantu seseorang menghadapi keadaan yang berubah dan bekerja sama dengan orang lain.

3I 2023 Pendidikan nilai dan Moral -> Forum Analisis Jurnal 2

Putri Alya གིས-
Nama : Putri Alya
Npm : 2213053240

Agar anak-anak memiliki moral yang baik, maka perlu adanya pembinaan sejak dini kepada anak dalam keluarga, dan adanya kerjasama antar keluarga, sekolah dan masyarakat.
Faktor-faktor kemerosotan moral yaitu sebagai berikut :
1. Kurang tertanamnya nilai-nilai keimanan pada anak-anak
2. Lingkungan masyarakat yang kurang sehat
3. Pendidikan moral tidak terlaksana menurut mestinya, baik di rumah, sekolah maupun masyarkat
4. Suasana rumah yang kurang baik
5. Kurang adanya bimbingan untuk mengisi waktu luang dengan cara yang baik dan yang membawa kepada pembinaan moral.

Beberapa faktor yang menyebabkan
timbulnya kemerosotan moral pada anak, di antaranya yaitu
1. Kurang tertanamnya nilai-nilai keimanan pada anak-anak,
2. Lingkungan masyarakat yang kurang baik,
3. Pendidikan moral tidak berjalan menurut semestinya, baik di keluarga, sekolah dan masyarakat,
4. Suasana rumah tangga yag kurang baik,
5. Banyak diperkenalkannya obat-obat terlarang dan alatalat anti hamil,
6. Banyak tulisan-tulisan, gambar-gambar, saran-siaran yang tidak sejalan dengan nilai-nilai moral,
7. Kurang adanya bimbingan dalam mengisi waktu luang dengan cara yang baik yang membawa kepada pembinaan nilai moral,
8. Kurangnya markas-markas bimbingan da penyuluhan bagi anak-anak.

Maka dari itu supaya anak-anak memiliki moral yang baik dan terhindar dari pelanggaran-pelanggaran moral, maka perlu adanya pembinaan sejak dini kepada anak-anak dalam keluarga dan adanya kerjasama antara keluarga, sekolah dan masyarakat. Sebaik apa pun pendidikan moral dalam keluarga tanpa adanya dukungan dari sekolah dan masyarakat, sulit bagi anak-anak untuk memiliki moral yang baik.

3I 2023 Pendidikan nilai dan Moral -> Forum Analisis Jurnal 1

Putri Alya གིས-
Nama : Putri Alya
Npm : 2213053240

Artikel tersebut membahas tentang pentingnya penerapan pendidikan moral di sekolah untuk membangun generasi yang berkualitas. Hal ini menekankan pentingnya peran guru dalam mendidik akhlak anak dan menyarankan agar pendidikan akhlak hendaknya mencakup nilai-nilai terhadap diri sendiri, orang lain, alam semesta, dan Tuhan. Berbagai metode seperti penanaman nilai, keteladanan, fasilitasi, dan program pendidikan nilai dapat digunakan dalam pendidikan moral.
Evaluasi pendidikan moral meliputi penalaran moral, karakteristik afektif, dan perilaku moral. Metode evaluasi melibatkan respon yang melibatkan perasaan dan pengukuran menggunakan skala sikap. Tulisan ini juga menyoroti pentingnya pendidikan moral secara komprehensif, yang melibatkan keterlibatan guru dan seluruh komponen sekolah, serta cakupan materi, variasi metode, dan evaluasi menyeluruh. Pendidikan moral dapat dievaluasi dengan menilai karakteristik afektif dan perilaku moral peserta didik. Karakteristik afektif dapat dievaluasi dengan mengukur intensitas dan adanya pengaruh positif atau negatif dengan menggunakan skala seperti skala Likert, yang banyak digunakan karena kemudahan pengembangannya dan keandalan yang tinggi.
Mengevaluasi perilaku moral lebih menantang dan memerlukan pengamatan terus menerus dalam jangka waktu yang relatif lama untuk menarik kesimpulan tentang kualitas moral individu yang diamati, seperti kejujuran, keadilan, komitmen, etos kerja, dan tanggung jawab. Selain itu, dalam teori pendidikan Islam, penekanannya adalah pada evaluasi sikap dan perilaku untuk memahami penguasaan nilai dan perilaku daripada aspek kognitif.
Evaluasi pendidikan moral secara komprehensif ini meliputi penilaian penalaran moral, perasaan moral, dan perilaku moral untuk menjamin tercapainya tujuan pendidikan moral.
Oleh karena itu, evaluasi pendidikan moral melibatkan penilaian karakteristik afektif melalui pengukuran tidak langsung dan pengamatan terus menerus terhadap perilaku moral untuk menjamin berkembangnya nilai-nilai moral secara menyeluruh pada siswa.