Posts made by INDAH APRILIA WINDIYANI

Nama : Indah Aprilia Windiyani
Npm :2213053033
Analisis video 3

Perbedaan Pendidikan Dasar Jepang dan Indonesia
Pendidikan memang menjadi salah satu kebutuhan pokok manusia, makanya dunia pendidikan pasti jadi perhatian buat pemerintah di semua negara pasti punya kondisi perbedaan mulai dari kebudayaan, ekonomi penduduk, sampai watak masyarakatnya pasti berbeda. Salah satu sistem pendidikan terbaik di dunia ada di negeri sakura, Jepang.
1. Kebersihan Sejak Dini
Kebiasaan nyampah ini terjadi karena terjadi karena kebersihan dan pengelolaan sampah yang baik yang gak diajari di dalam kurikulum pendidikan kita yaitu Kurikulum 13.
Sedangkan sekolah di Jepang tidak punya petugas kebersihan. Hal ini pun disebabkan kurikulum Jepang mengharuskan semua siswa bertanggung jawab atas kebersihan kelas mereka sendiri hal ini dilakukan supaya semua siswa ini bisa bekerja sama berbagai tanggung jawab dan peka dengan kondisi lingkungan yang kotor.

2. Makan bareng
Di Indonesia memiliki berbagai Kantin dan jajanan di luar sekolah. Sedangkan pendidikan Jepang mengatur makanan siswanya. Makan siang siswa di Jepang akan dilakukan bersama-sama dan diikuti oleh para guru kegiatan makan siang bersama ini dilakukan untuk membangun hubungan positif antara siswa dan juga siswa dengan guru

3. Mata pelajaran sedikit
Indonesia memiliki mata pelajaran yang banyak dan mata pelajaran berulang di 1 minggu, sedangkan pendidikan dasar di Jepang mata pelajarannya tergolong sedikit dan hanya diajarkan dihari tertentu saja.

4. Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter dasar Indonesia berbagai ujian, misalnya menulis dan membaca yang nantinya menjadi faktor dalam penaikan kelas.
Sedangkan pendidikan dasar Jepang, pada tahun pertama para siswa nggak diberi ujian supaya mereka fokus dalam belajar pendidikan karakter, seperti sopan santu,tolong menolong, bersikap di publik dan pendidikan karakter lainnya. Pemerintah Jepang percaya kalau pendidikan karakter akan menjadi dasar yang baik untuk para siswa dan membantu pendidikan mereka nantinya

5. Membaca dulu
Minat baca di Indonesia sangat rendah, hal ini terjadi karena tidak terbiasa membaca buku saat di sekolah.
Sedangkan di Jepang, biasakan para siswa untuk membaca buku selama 10 menit selama masuk pelajaran.

6. Perlengkapan Sekolah
Jepang sangat memperhatikan kelengkapan sekolah, siswa tidak ada siswa yang seragamnya berbeda atau sepatunya berbeda. Semuanya serba sama dan disediakan. Berbeda dengan di Indonesia yang perlengkapannya berbeda.

7. Seragam Sekolah
Indonesia ataupun Jepang seragam tetap diatur dalam dunia pendidikan. Seragam sekolah Indonesia sangat banyak yang membedakan seperti SD merah putih,putih biru,abu putih atau batik.
Sedangkan di Jepang,seragam sekolah hanya memiliki 1 macam.
Nama : Indah Aprilia Windiyani
NPM : 2213053033
Analisis Video 2
Potret Pendidikan di Dusun Terpencil

Dalam video tersebut, SD Negri 2 Glak membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah. Pasalnya sekolah yang terletak di sebuah dusun terpencil ini terpaksa harus melakukan kegiatan belajar mengajar di teras kelas, teras dipakai sebagai ruang kelas lantaran ketiadaan ruang kelas, sekolah yang terletak di kaki gunung api egon ini hanya memiliki 6 ruangan, di mana 5 ruangan dipakai sebagai ruang kelas dan 1 ruangan sebagai ruang guru. Jangankan kelas perpustakaan saja tak dimiliki sekolah ini. Meski begitu para siswa tetap bersemangat untuk bersekolah setiap hari mereka harus berjalan kaki hingga 2 km bunda bisa belajar di sekolah. Di masa pandemi covid 19 ini ketika pemerintah aktif mengkampanyekan belajar dari sekolah ini tak mampu melaksanakannya, di wilayah ini belum ada jaringan telekomunikasi sama sekali, karena itu pihak sekolah terpaksa tetap melakukan kegiatan di sekolah. Pihak sekolah pun berharap pemerintah bisa membuka mata melihat keadaan mereka dengan menyediakan fasilitas yang dibutuhkan.
Nama: Indah Aprilia Windiyani
NPM : 2213053033
Kelas :3H

SEPENGGAL CERITA PENGAJAR MUDA DI PELOSOK KALIMANTAN
Martencis Veronica Siregar

Dalam video tersebut, Martencis Siregar, pengajar muda dari gerakan Indonesia mengajar yang ditempatkan di desa Tanjung matol,Nunukan, Kalimantan Utara. Sebelum bergabung dengan Indonesia mengajar Martensis Siregar sempat menjadi relawan digerakkan peduli HIV AIDS,Jayapura Papua. Martensis Siregar pengajar muda ini mengajar di SDN 11 Sembangkung kelas 1 dan guru les bagi anak kelas 6.
Desa penempatan Martines ini dapat dijangkau dari Nunukan lewat laut dan sungai berhenti di dermaga Pembelianhan yang lanjut jalan darat.
Anak-anak Tanjung Matol ini masih sedikit yang minat lanjutkan pendidikan setelah tamat SD, orang tua di sini masih kurang sadar pentingnya pendidikan. Anak perempuan di desa penempatan Martines malah banyak yang menikah di usia dini sekitar umur 12 tahun atau lulus SD sudah ada yang melamar. Kurangnya perhatian orang tua pada pendidikan anak jadi persoalan, terkadang Martines dapat di kelas yang hanya terisi oleh segelintir anak, ada lagi pekerjaan rumah yang harus di selesaikan ya membuat para orang tua atau pentingnya pendidikan. Cita-cita Martines di sini sederhana membuat anak-anak mau pergi ke sekolah belajar dan bisa punya bekal yang lebih baik untuk masa depannya. Taman kanak-kanak dan pendidikan anak usia dini atau paud belum masuk ke desa Tanjung Matol, jadi kelas 1 adalah awal dari jalan panjang menempuh pendidikan di sini. Hari ini kelas Martines termasuk ramai, tantangan selanjutnya adalah menciptakan suasana belajar yang kondusif. Anak-anak di sini mudah bosan alhasil harus ajak mereka keluar kelas sambil mencari udara segar. Metode belajar seperti ini selalu ampuh mengusir rasa jenuh pada anak murid, sekali lagi di tekankan kepada mereka bahwa belajar itu bisa dari mana saja dan di mana saja.
Sebagai bentuk apresiasi siswa yang berprestasi ia mengajak siswa pergi berjalan-jalan keluar dari Tanjung Matol untuk mengetahui cerita tentang dunia luar. Warga Matol biasa mencari makan dengan meramu dan berburu. Martencius Siregar bertemu dengan seorang perempuan bernama Loly, gadis berusia 18 tahun yang memiliki ketertarikan pada bidang pendidikan di desa Matol meskipun ia hanya lulusan sekolah menengah atas dan ialah yang membantu Martencis mengajar anak anak di Sekolah Dasar. Tidak hanya Loly, tetapi juga guru-guru yang penuh semangat seperti Bapak kepala sekolah. Bersama orang-orang hebat seperti mereka kelak masa depan anak-anak Tanjung Matol dapat terukir. Berada di tapal batas negara, namun cita cita anak desa Matol melintasi pelosok negara.
Nama: Indah Aprilia Windiyani
NPM: 2213053033

ANALISIS JURNAL
Judul : PROSES PENDIDIKAN NILAI MORAL DI LINGKUNGAN KELUARGA SEBAGAI UPAYA MENGATASI KENAKALAN REMAJA
Nama Penulis : Fahrudin

A. Peranan Keluarga Bagi Anak-Anak
Keluarga merupakan pendidikan pertama dan utama, pertama karena keluarga merupakan lingkungan awal sebelum anak itu mengenal luar dan utama karena keluarga menjadi lingkungan sosial dan emosional dimana hal itu sangat memberikan kualitas pengalaman sehingga menjadi faktor determinan untuk pembentukan kepribadian seorang anak.
Menurut M.I Silaeman (1978: 84), fungsi keluarga itu ada delapan jenis, yaitu:
(1) fungsi edukasi, (2) fungsi sosialisasi, (3) fungsi proteksi, (4) fungsi afeksi, (5) fungsi religius, (6) fungsi ekonomi, (7) fungsi rekreasi, (8) fungsi biologis.
Berdasarkan kepada beberapa fungsi keluarga di atas terlihat bahwa salah satu fungsi keluarga ialah fungsi pendidikan. Hal ini berarti bahwa orangtua sebagai pendidik pertama dan utama mempunyai kewajiban dalam memberikan pendidikan kepada anak-anaknya termasuk pendidikan nilai moral.

B. PERANAN NILAI MORAL BAGI ANAK-ANAK

Moral sangat penting bagi tiap-tiap orang, tiap bangsa. Karena pentingnya moral tersebut ada yang mengungkapkan bahwa ukuran baik buruknya suatu bangsa tergantung kepada moral bangsa tersebut. Apabila bangsa tersebut moralnya hancur, maka akan hancurlah bangsa tersebut bersama moralnya.
Moral sangat penting bagi anak-anak, masyarakat, bangsa dan ummat. Kalau moral rusak, ketenteraman dan kehormatan bangsa itu akan hilang. Oleh karena itu, untuk memelihara kelangsungan hidup sebagai bangsa yang terhormat, maka perlu sekali memperhatikan pendidikan moral, baik dalam keluarga, sekolah maupun masyarakat.

C. FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN KEMEROSOTAN MORAL
Ada beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya kemerosotan moral pada anak, di antaranya
1) Kurang tertanamnya nilai-nilai keimanan pada anak-anak
2) lingkungan masyarakat yang kurang baik
3) Pendidikan moral tidak berjalan menurut semestinya, baik di keluarga, sekolah dan masyarakat
4) Suasana rumah tangga yag kurang baik
5) Banyak diperkenalkannya obat-obat terlarang dan alat- alat anti hamil
6) Banyak tulisan-tulisan, gambar-gambar, saran-siaran yang tidak sejalan dengan nilai-nilai moral
7) Kurang adanya bimbingan dalam mengisi waktu luang dengan cara yang baik yang membawa kepada pembinaan nilai moral
8) Kurangnya markas-markas bimbingan da penyuluhan bagi anak-anak.

D. PROSES PENDIDIKAN NILAI MORAL UNTUK MENGATASI KENAKALAN REMAJA DALAM KELUARGA
Keluarga memiliki peranan yang sangat penting dalam pendidikan nilai moral bagi anak-anaknya, termasuk nilai dan moral dalam beragama. Seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa keluarga mempunyai fungsi religious, artinya keluarga berkewajiban memperkenalkan dan mengajak anak dan anggota keluarga lainnya kepada kehidupan beragama. Untuk melaksanakannya, orang tua sebagai tokoh- tokoh inti dalam keluarga itu terlebih dulu harus menciptakan iklim religius dalam keluarga itu, yang dapat dihayati seluruh anggotanya, terutama anak-anaknya.
Pembinaan agama yang dapat ditanamkan kepada anak-anak adalah sebagai berikut:

1) Penanaman pendidikan keimanan sejak dini kepada anak-anak
2) Menanamkan pendidikan moral kepada anak-anak
3) Menciptakan suasana rumah tangga yang harmonis
Nama: Indah Aprilia Windiyani
NPM: 2213053033

ANALISIS JURNAL 1
Nama Jurnal : Jurnal Humanika
Nomor : 01
Tahun Terbit : 2017
Judul : PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH
Nama Penulis : Rukiyati

PENDAHULUAN
Noeng Muhadjir (2003: 16-18) mengatakan bahwa ditinjau dari segi antropologi kultural dan sosiologi, ada tiga fungsi utama pendidikan, yaitu menumbuhkan kreativitas subjek-didik, menumbuhkembangkan nilai-nilai insani dan Ilahi pada subjek didik dan satuan sosial masyarakat, dan meningkatkan kemampuan kerja produktif pada subjek didik.
Sekolah yang baik adalah sekolah yang peduli dan fokus pada pendidikan moral atau pendidikan nilai di samping kegiatan pengajaran ilmu. Amstrong (2006: 17) mengemukakan teorinya tentang sekolah sebagai wahana pengembangan manusia (human development). Istilah “pengembangan” atau ”development” lebih berkonotasi
pada upaya menumbuhkan, memerdekakan manusia dari beban, rintangan dan kesulitan.

HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Pendidik Moral di Sekolah
Henry Giroux (1988: xxxiv) sekolah berfungsi sebagai ruang publik yang demokratis. Sekolah sebagai tempat demokratis yang didedikasikan untuk membentuk pemberdayaan diri dan sosial. Dalam arti ini, sekolah adalah tempat publik bagi peserta didik untuk dapat belajar pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan untuk hidup dalam demokrasi yang sesungguhnya.
Dalam konteks inilah, guru berfungsi untuk mewujudkan peserta didik agar menjadi warga negara yang aktif dalam masyarakat yang demokratis.
Oleh karena guru adalah ujung tombak untuk mewujudkan moral yang baik dalam diri peserta didik, maka guru terlebih dahulu harus bermoral baik pula. Dengan demikian, pendidikan moral yang dilaksanakan oleh guru akan lebih mudah diterima dan diteladani oleh para peserta didiknya.

2. Materi Pendidikan Moral
Pada intinya materi pendidikan moral mencakup ajaran dan pengalaman belajar untuk menjadi orang bermoral dalam kaitan dengan diri sendiri, moral terhadap sesama manusia dan alam semesta serta moral terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Zuriah, 2010).

3. Metode Pendidikan Moral
Kirschenbaum (1995: 31) mengusulkan 100 cara atau metode pendidikan moral, yang dipayungi dalam lima kategori besar metode pendidikan moral yaitu penanaman (inkulkasi) nilai-nilai dan moralitas, modeling nilainilai dan moralitas, fasilitasi nilai-nilai dan moralitas, kecakapan untuk mengembangkan nilai dan melek moral, pelaksanaan program pendidikan nilai di sekolah.
a. Inkulkasi nilai
Metode ini dapat dilaksanakan dalam pembelajaran moral di sekolah maupun di dalam keluarga dengan berbagai cara. Kirschenbaum mengetengahkan 34 cara inkulkasi nilai, di antaranya adalah identifikasi nilainilai target, membaca buku-buku sastra dan non-fiksi, bercerita.
b.Metode keteladanan
Keteladanan merupakan bentuk mengestafetkan moral yang digunakan oleh masyarakat religius tradisional, dan digunakan pula oleh masyarakat modern sekarang ini. Dalam masyarakat tradisional, keteladanan diterima secara terberi tanpa harus mengejar argumentasi rasionalnya; sedangkan pada masyarakat modern sekarang keteladanan diterima dengan pemahaman dan argumentasi rasional (Muhadjir, 2004: 163).
c.Metode klarifikasi nilai
Sebagaimana dinyatakan oleh Sidney B. Simon, dkk (1974: 6) bahwa pendekatan klarifikasi nilai mencoba untuk membantu anakanak muda menjawab beberapa pertanyaan dan membangun sistem nilai sendiri.
d. Metode fasilitasi nilai
Guru dan pihak sekolah memberikan berbagai fasilitas yang dapat digunakan siswa agar dapat merealisasikan nilai-nilai moral dalam dirinya baik secara individu maupun berkelompok, misalnya fasilitas beribadah berupa mesjid dan mushola, fasilitas membuat kompos dari sampah sekolah, fasilitas berupa ruang diskusi, perpustakaan dengan buku-buku cerita yang memuat nilai-nilai moral, dan sebagainya.
e. Metode keterampilan nilai moral
Keterampilan moral dalam diri peserta didik dapat diwujudkan dimulai dengan pembiasaan. Lama kelamaan pembiasaan itu ditingkatkan dengan cara peserta didik merancang sendiri berbagai tindakan moral yang akan diwujudkan sebagai suatu komitmen diri, action plan mereka sendiri sebagai wujud realisasi diri menjadi orang yang baik dan memperoleh hidup yang bermakna.

4. Evaluasi Pendidikan Moral
Di samping keempat aspek (isi, metode, proses dan pendidik), pendidikan nilai juga memerlukan evaluasi yang komprehensif. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui
ketercapaian tujuan. Tujuan pendidikan nilai meliputi tiga kawasan, yakni penalaran nilai/moral, perasaan nilai/moral dan perilaku nilai/moral. Maka, evaluasi pendidikan nilai juga mencakup tiga ranah tersebut. berupa evaluasi penalaran moral, evaluasi karakteristik afektif, dan evaluasiperilaku (Darmiyati, 2009: 51).