Wawancara
sejarah lisan merupakan metode pengumpulan data sejarah yang didasarkan pada sumber lisan, bukan tertulis.
Jenis-jenis wawancara dapat dibagi ke dalam beberapa jenis, yaitu, seperti cara pelaksanaan, jumlah narasumber, dan keterbukaan informasi
Berdasarkan Cara Pelaksanaan:
Wawancara Terstruktur/Terpimpin: Pewawancara memiliki daftar pertanyaan yang telah disiapkan sebelumnya. Pertanyaan akan sesuai dengan urutan, sehingga wawancara lebih lancar dan tidak ada informasi yang terlewatkan.
Wawancara Bebas: Pewawancara bebas menanyakan apa saja kepada responden atau narasumber, namun pertanyaan harus berhubungan dengan data yang diinginkan.
Berdasarkan Jumlah Narasumber:
Wawancara Individu: Dilakukan oleh seseorang pewawancara dengan responden tunggal.
Wawancara Kelompok: Dilakukan terhadap sekelompok orang dalam waktu bersamaan.
Wawancara Konferensi: Dilakukan oleh sejumlah pewawancara kepada narasumber dan dilaksanakan pada waktu yang bersamaan.
Berdasarkan Keterbukaan Informasi:
Wawancara Tertutup: Pewawancara memiliki daftar pertanyaan yang telah disiapkan sebelumnya, dan jawaban responden terbatas.
Wawancara Terbuka: Pewawancara tidak memiliki daftar pertanyaan yang telah disiapkan sebelumnya, dan responden bebas memberikan jawaban.
Dengan pemahaman yang baik mengenai jenis-jenis wawancara, seseorang dapat memilih jenis wawancara yang sesuai dengan kebutuhan dan tujuan yang ingin dicapai dalam proses wawancara
- Teknik wawancara yang baik sangat penting dalam mengumpulkan sumber
sejarah lisan yang berkualitas.
Pemahaman yang Mendalam: Pewawancara perlu memiliki pemahaman yang mendalam tentang konteks sejarah yang ingin diteliti. Hal ini akan membantu dalam merumuskan pertanyaan yang relevan dan memahami tanggapan narasumber dengan lebih baik
Pertanyaan Terbuka: Mengajukan pertanyaan terbuka akan memberikan kesempatan bagi narasumber untuk memberikan informasi secara bebas. Hal ini dapat menghasilkan cerita yang lebih kaya dan mendalam
Empati dan Keterbukaan: Pewawancara perlu menunjukkan empati dan keterbukaan terhadap narasumber. Hal ini akan membantu narasumber merasa nyaman dan lebih terbuka dalam berbagi informasi
Menghindari Bias: Pewawancara perlu berhati-hati untuk menghindari bias dalam pertanyaan dan interpretasi. Hal ini penting untuk memastikan bahwa informasi yang dikumpulkan akurat dan tidak terdistorsi
Rekam Wawancara: Merekam wawancara dengan izin narasumber dapat membantu dalam memperoleh informasi yang lengkap dan akurat. Rekaman juga dapat menjadi
referensi yang berguna dalam analisis data