Nama : Qurota A'yunin
NPM : 2213053183
Dalam artikel ini dijelaskan bahwa sekolah adalah suatu mikrosistem yang berkembang dengan karakteristik fisik khusus, yaitu lingkungan kehidupan yang di individu menghabiskan sebagian besar waktunya, seperti keluarga, teman sebaya, sekolah dan lingkungan tetangga. Seorang anak bersifat interaksi timbal balik dengan yang lain dan membentuk mikrosistem masing-masing. Sekolah diperkirakan mempunyai pengaruh kuat yang dapat dilihat secara langsung dalam diri subjek didik. Sekolah yang baik merupakan keniscayaan agar pengaruhnya terhadap anak menjadi positif. Sekolah merupakan bentuk pendidikan formal. Noeng Muhadjir (2003: 16-18) mengatakan bahwa ditinjau dari segi antropologi kultural dan sosiologis, ada tiga fungsi utama pendidikan, yaitu menumbuhkan kreativitas subjek-didik, menumbuhkembangkan nilai-nilai insani dan Ilahi pada subjek didik dan satuan masyarakat, dan meningkatkan kemampuan kerja produktif pada subjek didik. Sekolah terkait dengan upaya menumbuhkan nilai-nilai akademik, nilai-nilai sosial, dan nilai-nilai keagamaan. Sekolah yang baik adalah sekolah peduli dan fokus pada pendidikan moral atau pendidikan nilai di samping kegiatan pengajaran ilmu. Amstrong (2006: 17) mengemukakan teorinya tentang sekolah sebagi wahana pengembangan manusia (human development). Pengembangan dalam pendidikan dapat didefinisikan menjadi “keseluruhan tindakan dan komunikasi lisan dan tertulis” yang mendorong, mendorong, memfasilitasi pertumbuhan siswa sebagai manusia utuh.
Pendidikan moral di sekolah merupakan aspek penting dalam pembangunan manusia yang bertujuan untuk mengembangkan individu yang bermoral menjadi warga negara yang baik. Guru, kepala sekolah, dan komite sekolah bekerja sama untuk menumbuhkan perilaku moral pada siswa, menumbuhkan rasa tanggung jawab dan tanggung jawab terhadap pendidikannya.
Kurikulum pendidikan moral berfokus pada pengajaran dan pembelajaran untuk menjadi individu yang bermoral dalam kehidupannya sendiri, mengatasi masalah-masalah seperti harga diri, rasa hormat, dan penghargaan terhadap orang lain. Hal ini juga menekankan pentingnya nilai-nilai moral dalam hubungan antarmanusia, seperti kerja sama, toleransi, menghargai, dan menghormati orang lain.Kurikulum pendidikan moral juga menitikberatkan pada pentingnya hubungan manusia dengan lingkungan, seperti sikap hormat, adil, dan menghargai lingkungan. Di Indonesia, kurikulum pendidikan akhlak didasarkan pada konsep Yang Maha Esa yang merupakan faktor terpenting dalam kehidupan manusia.
Metode pendidikan moral dibagi menjadi lima kategori: mengajar, belajar, dan mengajar. Mengajar adalah suatu proses sistematis yang melibatkan pengajaran kepada siswa untuk memahami dan menerapkan nilai-nilai moral dalam kehidupannya, sedangkan belajar adalah suatu proses yang melibatkan pengajaran kepada siswa untuk menerapkan nilai-nilai moral dalam kehidupan sehari-hari.
Kesimpulannya, pendidikan moral di sekolah sangat penting untuk mengembangkan individu yang bermoral dan menumbuhkan rasa tanggung jawab dan tanggung jawab terhadap pendidikannya.
NPM : 2213053183
Dalam artikel ini dijelaskan bahwa sekolah adalah suatu mikrosistem yang berkembang dengan karakteristik fisik khusus, yaitu lingkungan kehidupan yang di individu menghabiskan sebagian besar waktunya, seperti keluarga, teman sebaya, sekolah dan lingkungan tetangga. Seorang anak bersifat interaksi timbal balik dengan yang lain dan membentuk mikrosistem masing-masing. Sekolah diperkirakan mempunyai pengaruh kuat yang dapat dilihat secara langsung dalam diri subjek didik. Sekolah yang baik merupakan keniscayaan agar pengaruhnya terhadap anak menjadi positif. Sekolah merupakan bentuk pendidikan formal. Noeng Muhadjir (2003: 16-18) mengatakan bahwa ditinjau dari segi antropologi kultural dan sosiologis, ada tiga fungsi utama pendidikan, yaitu menumbuhkan kreativitas subjek-didik, menumbuhkembangkan nilai-nilai insani dan Ilahi pada subjek didik dan satuan masyarakat, dan meningkatkan kemampuan kerja produktif pada subjek didik. Sekolah terkait dengan upaya menumbuhkan nilai-nilai akademik, nilai-nilai sosial, dan nilai-nilai keagamaan. Sekolah yang baik adalah sekolah peduli dan fokus pada pendidikan moral atau pendidikan nilai di samping kegiatan pengajaran ilmu. Amstrong (2006: 17) mengemukakan teorinya tentang sekolah sebagi wahana pengembangan manusia (human development). Pengembangan dalam pendidikan dapat didefinisikan menjadi “keseluruhan tindakan dan komunikasi lisan dan tertulis” yang mendorong, mendorong, memfasilitasi pertumbuhan siswa sebagai manusia utuh.
Pendidikan moral di sekolah merupakan aspek penting dalam pembangunan manusia yang bertujuan untuk mengembangkan individu yang bermoral menjadi warga negara yang baik. Guru, kepala sekolah, dan komite sekolah bekerja sama untuk menumbuhkan perilaku moral pada siswa, menumbuhkan rasa tanggung jawab dan tanggung jawab terhadap pendidikannya.
Kurikulum pendidikan moral berfokus pada pengajaran dan pembelajaran untuk menjadi individu yang bermoral dalam kehidupannya sendiri, mengatasi masalah-masalah seperti harga diri, rasa hormat, dan penghargaan terhadap orang lain. Hal ini juga menekankan pentingnya nilai-nilai moral dalam hubungan antarmanusia, seperti kerja sama, toleransi, menghargai, dan menghormati orang lain.Kurikulum pendidikan moral juga menitikberatkan pada pentingnya hubungan manusia dengan lingkungan, seperti sikap hormat, adil, dan menghargai lingkungan. Di Indonesia, kurikulum pendidikan akhlak didasarkan pada konsep Yang Maha Esa yang merupakan faktor terpenting dalam kehidupan manusia.
Metode pendidikan moral dibagi menjadi lima kategori: mengajar, belajar, dan mengajar. Mengajar adalah suatu proses sistematis yang melibatkan pengajaran kepada siswa untuk memahami dan menerapkan nilai-nilai moral dalam kehidupannya, sedangkan belajar adalah suatu proses yang melibatkan pengajaran kepada siswa untuk menerapkan nilai-nilai moral dalam kehidupan sehari-hari.
Kesimpulannya, pendidikan moral di sekolah sangat penting untuk mengembangkan individu yang bermoral dan menumbuhkan rasa tanggung jawab dan tanggung jawab terhadap pendidikannya.