Kiriman dibuat oleh Qurota A'yunin 2213053183

Nama: Qurota A'yunin
NPM: 2213053183
Video ini membahas permasalahan moral di Indonesia, dengan fokus pada dampak perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) terhadap remaja.Putri Fifa Maulina dan Fayril Tsaqif Dliyatul Haq memberikan pandangannya mengenai bagaimana Iptek menjadi faktor utama dalam kemerosotan moral remaja di Indonesia. Mereka menyatakan bahwa perhatian masyarakat terus meningkat terhadap permasalahan ini, dan bahwa solusi yang baik perlu ditemukan.

Putri Fifa Maulina dan Fayril Tsaqif Dliyatul Haq menyoroti peranan pendidikan, baik di lingkungan keluarga maupun dalam sistem pendidikan formal. Mereka menyebutkan bahwa pendidikan moral di lingkungan keluarga, pengaruh globalisasi, dan peran agama memiliki dampak signifikan pada moralitas individu. Poin ini menggambarkan kompleksitas sumber-sumber nilai moral dalam masyarakat.

Selanjutnya, mereka mengemukakan bahwa upaya membentuk moralitas anak didik perlu dilakukan melalui pendidikan formal, khususnya di tingkat perguruan tinggi. Pembelajaran mengenai moralitas dan pendidikan Pancasila diharapkan dapat menyempurnakan pembentukan moral mahasiswa. Selain itu, faktor keluarga dan masyarakat juga dianggap sebagai elemen penting dalam membentuk karakter dan moral seseorang.

Analisis terhadap vidio tersebut menunjukkan bahwa Putri Fifa Maulina dan Fayril Tsaqif Dliyatul Haq memiliki pemahaman yang cukup baik tentang permasalahan moral di Indonesia dan mencoba mengaitkan faktor-faktor yang mempengaruhi moralitas, seperti pendidikan, lingkungan keluarga, globalisasi, dan agama. Namun, sebagian besar argumennya cenderung bersifat deskriptif, dan tidak menyajikan data konkret atau rujukan untuk mendukung klaim-klaim yang diajukannya. Sebuah analisis yang lebih mendalam dapat ditambahkan dengan menyertakan bukti empiris atau rujukan teoritis yang mendukung argumen yang diajukan Putri Fifa Maulina dan Fayril Tsaqif Dliyatul Haq .
Nama: Qurota A'yunin
NPM : 2213053183

Vidio di atas mengajak kita untuk merenung tentang lingkungan hidup dan menggambarkan masalah-masalah etika dan moral yang terkait. Pertama-tama, Vidio tersebut menyampaikan pentingnya kesadaran terhadap lingkungan hidup sebagai konteks tempat tinggal dan kehidupan kita. Diungkapkan bahwa kesadaran ini seringkali lemah karena anggapan bahwa eksploitasi alam untuk kebutuhan manusia adalah hal lumrah.

Selanjutnya, dibahas bahwa masalah kerusakan lingkungan muncul karena tindakan manusia yang tidak bertanggung jawab, seperti menebang pohon seenaknya atau membuang sampah sembarangan. Paralel ditarik antara perilaku ini dengan kecanduan, di mana kesadaran terhadap dampak negatif baru muncul ketika telah mengalami kerugian.

Vidio tersebut juga menguraikan masalah lingkungan dalam perspektif etika dan moral, dengan fokus pada penyusutan sumber daya alam, polusi, bisnis, dan konservasi. Penjelasan tentang polusi mencakup berbagai bentuk, seperti udara, tanah, air, suara, limbah domestik, radiasi, dan teknologi. Sementara itu, peran bisnis dalam konservasi sumber daya alam di Indonesia dijelaskan sebagai hal yang masih belum berkembang dengan pemahaman yang kurang sesuai.

Selanjutnya, Vidio ini membahas regulasi terkait sumber daya alam di Indonesia, seperti Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1992 dan peran pesantren dalam konservasi sumber daya alam. Diuraikan pula bahwa eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya alam dapat menimbulkan biaya yang jauh lebih besar daripada manfaat ekonomi yang diperoleh.

Pembahasan tentang dampak kerusakan lingkungan, peran pesantren, dan regulasi diikuti dengan poin-poin mengenai konservasi sumber daya alam. Dijelaskan bahwa tujuan konservasi adalah memelihara proses ekologi, menjamin keanekaragaman genetik, dan pelestarian pemanfaatan jenis dan ekosistem.

Vidio berlanjut dengan membahas fakta etika lingkungan hidup dan perumusan kebijakan yang masih terfokus pada keberlanjutan hidup manusia dan keseimbangan ekonomi versus etika lingkungan. Beberapa regulasi, seperti Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967, juga disorot sebagai bagian dari pengelolaan pertambangan dan sumber daya mineral.

Pembahasan kemudian mencakup masalah lingkungan seperti kekeringan, illegal fishing, limbah B3, dan krisis moral global yang terkait dengan perilaku manusia. Terakhir, paragraf menggarisbawahi bahwa krisis ekologi memerlukan penanaman nilai moral melalui pendidikan sepanjang usia.

Secara keseluruhan, Vidio tersebut memberikan gambaran yang komprehensif tentang permasalahan lingkungan hidup, mengaitkannya dengan aspek-etika, moral, regulasi, dan upaya konservasi, serta menyoroti pentingnya pendidikan moral sebagai solusi untuk krisis ekologi global.
Vidio ini membahas tentang berbagai topik mulai dari pengalaman kehidupan mahasiswa seorang komedian yaitu Arie Kriting di sebuah perguruan tinggi swasta, perbandingan antara kampus swasta dan negeri, hingga kritik terhadap sistem pendidikan di Indonesia. Pengalaman Arie Kriting tersebut mencerminkan perasaan bangga terhadap kampusnya sendiri meskipun awalnya bermimpi untuk masuk ke kampus negeri. Pembandingan antara kampus swasta dan negeri disoroti dari segi canggihnya fasilitas dan kompetensi, dengan penekanan pada keunggulan kampus swasta dalam menghasilkan komedian berbakat.

Selanjutnya, penjelasan Arie Kriting mengarah ke isu pendidikan moral di Indonesia. Arie menyuarakan keprihatinan terhadap penurunan moral bangsa dan menyoroti perubahan kurikulum dari PMP ke PKN. Kritik dilontarkan terutama terkait dengan ketidaksesuaian antara ajaran moral yang diajarkan dan realitas kehidupan sehari-hari. Penekanan pada kriteria anak baik yang mengandalkan aksi menyeberangkan nenek-nenek sebagai indikator kebaikan menjadi catatan kritis terhadap kurangnya relevansi pendidikan moral dengan kondisi nyata.

Di bagian akhir, Arie menciptakan narasi komedi dengan menyampaikan keputusan pribadinya untuk mendedikasikan hidupnya dalam menciptakan stok nenek-nenek untuk diselamatkan di tengah jalan. Hal ini memberikan sentuhan humor pada kritik serius terhadap sistem pendidikan dan memberikan suasana yang ringan bagi pendengar. Keseluruhan, Vidio ini menciptakan kombinasi unik antara pengalaman pribadi, kritik pendidikan, dan elemen komedi dalam menyampaikan pesan.
Nama: Qurota A'yunin
NPM : 2213053183

Vidio ini membahas mengenai "pentingnya nilai moral Pancasila dalam lingkungan kampus".Kehidupan kampus merupakan suatu awal pembentukan karakter seorang mahasiswa . Setiap kampus di Indonesia mengupayakan kepada mahasiswanya untuk selalu berpegang teguh pada norma dan hukum yang berlaku,hal ini bertujuan untuk mencetak generasi Bangsa yang berakhlak dan berjiwa kritis dalam kehidupan bermasyarakat .Untuk menyukseskan terbentuknya suatu moral yang baik berbagai universitas di Indonesia menerapkan kebijakan pendidikan Pancasila sangat berperan penting dalam membangun jiwa nasionalis dan bermoral karena butir-butir Pancasila mengandung makna mendalam dan menjadi pedoman bagi seluruh rakyat Indonesia .Lewat kegiatan pendidikan diharapkan peserta didik menyerap nilai-nilai moral Pancasila .Penerapan nilai-nilai moral Pancasila diarahkan berjalan secara manusiawi dan alamiah tidak saja lewat pengalaman secara pribadi. nilai-nilai moral Pancasila tidak untuk sekedar dipahami melainkan untuk dihayati ,oleh karena itu penyerapan nilai-nilai moral Pancasila bukan lewat proses indoktrinasi mata kuliah pendidikan kewarganegaraan berorientasi untuk mempersiapkan warga negara muda agar memiliki kemampuan untuk terlibat dan berpartisipasi aktif dalam masyarakat politik .Pada masyarakat Indonesia yang multikultural budaya kewarganegaraan perlu dibangun di atas fondasi kebajikan kewarganegaraan dan komitmen kewarganegaraan berdasarkan nilai-nilai Pancasila seperti yang kita ketahui bahwasanya masih banyak masalah moral yang ada di lingkungan seperti :
1. vandalisme dan kekerasan hal ini sering dan sangat berbahaya bagi kepada korbannya karena tidak hanya fisik yang tersakiti biasanya psikis para korban juga ikut terganggu.
2. mencuri, tidak sedikit para mahasiswa memanfaatkan kesempatan kecil untuk mencuri.
3. ada mencontek ini menjadi salah satu masalah penting yang masih belum bisa dikendalikan sampai sekarang .
4. ada ormas tidak terhormat Pada pejabat publik walaupun banyak dari para pejabat publik yang tidak becus dalam tugasnya untuk membangun Indonesia dan mensejahterakan rakyatnya tetapi kita tetap patut perlu hormat terhadap pejabat publik .
5. ada kekejaman terhadap sesama teman seusianya atau bullying hal ini juga sangat berbahaya bagi para psikis para korbannya.
6. ada menyerang keyakinan orang lain yang berbeda kita harus menghapus kebiasaan seperti ini karena kita harus menghargai setiap perbedaan,
7. ada bicara kasar meski dianggap biasa dalam pertemanan berbicara kasar di dalam lingkungan kampus adalah perilaku yang tidak pantas ,
8. ada pemerkosaan dan pelecehan seksual Tak jarang para mahasiswi mendapatkan perilaku keji seperti ini ,
9 . ada bertambahnya orientasi pada diri sendiri dan menurunkan tanggung jawab sebagai warga negara .
10 .ada perilaku merusak diri seperti narkoba yang sangat berbahaya selain itu kita juga harus menanamkan nilai Pancasila untuk memperbaiki karakter mahasiswa Pancasila dapat menjadi basis Pendidikan karakter yang khas di Indonesia dengan fokus keberagaman toleransi dan keadilan sosial misalnya dengan menguraikan sila pertama menjadi bahan-bahan nilai dalam pendidikan karakter seperti itu transisi dan penghargaan terhadap kepercayaan lain
Nama : Qurota A'yunin
NPM: 2213063183

Sebuah film pendek berjudul "Penerapan Nilai Moral Pancasila di Lingkungan Keluarga,". Vidio ini mengisahkan Di sebuah Desa Makmur hiduplah seorang ibu yang memiliki dua orang anak ibu tersebut bernama Ibu Lala yang memiliki sifat rendah hati dan anaknya bernama Caca ,Caca memiliki sifat yang baik dan sopan santun rajin sembahyang suka menolong dan dia miliki satu saudara yaitu kakaknya yang bernama Santi .Santi memiliki sifat angkuh egois tidak memiliki tata krama jahat tidak suka sembahyang dan mabuk-mabukan, mereka hidup bersama namun ada konflik diantara keduanya . Santi memiliki sifat yang angkuh dan sering keluar hingga larut malam untuk mebuk-mabukkan. Dan caca yang selalu taat dengan ibunya yang selalu pergi bersama ibunya untuk beribadah dan menolong pekerjaan ibunya.
Kisah ini mengandung beberapa pelajaran berharga. Pertama, kebaikan dan kesopanan seperti yang dimiliki oleh Caca adalah nilai-nilai yang perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, komunikasi dalam keluarga sangat penting, seperti yang ditunjukkan oleh Caca yang mencoba memberikan informasi kepada ibunya tentang keberadaan Santi. Ketiga, kesetiaan dan kewajiban sebagai anak terhadap orang tua tercermin dalam usaha Caca untuk mengantarkan ibunya ke pasar. Keempat, tindakan tidak bertanggung jawab, seperti yang dilakukan oleh Santi yang pulang dalam keadaan mabuk, dapat membawa dampak negatif pada hubungan keluarga. Terakhir, kisah ini mengajarkan pentingnya kesediaan untuk meminta maaf dan berubah, seperti yang ditunjukkan oleh Santi ketika menyadari kesalahannya.