Posts made by Qurota A'yunin 2213053183

Nama: Qurota A'yunin
NPM: 2213053183
Dalam artikel ini dijelaskan bahwa Indonesia saat ini masih mengalami krisis akhlak dan moral Indonesia melalui dunia pendidikan telah gagal dalam membentuk manusia yang berkepribadian beriman menghargai perbedaan dan berakhlak mulia pendidikan juga gagal dalam mengembangkan nilai-nilai dalam diri peserta didik pada dasarnya pendidikan harus menebarkan berbagai nilai dan mengembangkan tata nilai dan moral.Salah satunya Indonesia pada saat ini termasuk salah satu negara yang banyak melakukan korupsi di dunia untuk kawasan Asia Indonesia menduduki peringkat kedua setelah Bangladesh.
Susanto menyebutkan bahwa perubahan masyarakat akibat berkembangnya pengetahuan dan teknologi tersebut membawa dampak yang besar pada budaya nilai dan agama di Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan adanya peristiwa beberapa tahun belakangan ini yaitu adanya perilaku kekerasan kriminalitas pesta sabu dan beberapa peristiwa buruk lainnya di seluruh Indonesia khususnya dilakukan oleh kalangan kaum muda. Fenomena ini di kalangan pendidik ditangkap sebagai gejala adanya krisis atau kemunduran dalam pendidikan di negara Indonesia baik dalam lingkup pendidikan formal yang ada di sekolah maupun pendidikan informal yang ada di dalam keluarga dan masyarakat. Banyak yang belum sadar bahwa pendidikan nilai yang selama ini dijalankan dan dirasakan itu kurang efektif dalam membentuk watak sikap perilaku dan moralitas yang baik pada kalangan muda.
Menurut Max Scheler ada empat kelompok nilai yang tersusun secara hierarki yaitu
1. Nilai religius kerohanian meliputi iman, kesucian, keutamaan moral, kejujuran, ketulusan, tanggung jawab, keadilan, kebijaksanaan kesetiaan kesabaran dan ketabahan.
2. Nilai-nilai kejiwaanmeliputi keindahan, kebenaran ilmiah, ilmu pengetahuan,
3. Nilai-nilai kehidupan meliputi kedamaian ketenangan, kesehatan, kecukupan, kesejahteraan, dan kerukunan
4. Nilai-nilai kenikmatan yaitu terpenuhi kebutuhan-kebutuhan biologis ragawi indrawi
Empat macam nilai tersebut harus disusun secara benar sehingga keseluruhan nilai menjadi kokoh dan seimbang.
Pengaruh globalisasi meliputi berbagai bidang kehidupan seperti politik ekonomi dan sosial budaya pengaruh positif globalisasi terhadap nilai-nilai dan moral
1. Aspek politik pemerintah dijalankan secara terbuka dan demokratis jika pemerintah dijalankan secara jujur bersih dan dinamis tentunya akan mendapatkan tanggapan positif dari rakyat
2. Aspek ekonomi terbukanya pasar internasional meningkatkan kesempatan kerja dan meningkatkan devisa negara.
3. Aspek sosial budaya kita dapat meniru pola pikir dan baik seperti etos kerja yang tinggi disiplin dan IPTEK dari bangsa yang sudah maju untuk meningkatkan kemajuan bangsa.
Pengaruh negatif globalisasi terhadap nilai-nilai dan moral
1. Aspek ekonomi hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri karena banyaknya produk luar negeri yang membanjiri Indonesia.
2. Masyarakat kita khususnya anak muda banyak yang lupa akan identitas diri sebagai bangsa Indonesia karena gaya hidupnya cenderung meniru budaya barat yang oleh sebagian masyarakat dunia dianggap sebagai kiblat
3. Terjadinya kesenjangan sosial yang tajam antara yang kaya dan miskin karena adanya persaingan bebas dan globalisasi ekonomi.
4. Munculnya sikap individualisme yang menimbulkan ketidakpedulian antar pelaku sesama warga.
Dunia pendidikan terakhir lengan nilai-nilai moral ini bisa dilihat dari kenyataan banyaknya praktik dalam dunia pendidikan yang justru membuat anak belajar tidak jujur curang dan malas anak bisa merasakan bagaimana praktek korupsi dan nepotisme yang telah masuk di dunia pendidikan. Faktor penyebab gaya pendidikan antara lain pendidikan di sekolah hanyalah acara formal, banyaknya materi pelajaran yang dituntut kurikulum setiap minggunya, proses dalam pembelajaran anak didik tidak dilibatkan dalam pengalaman fisik dan mental
Pentingnya pendidikan nilai moral bagi anak adalah menjadikan peserta didik menjadi manusia yang utuh sempurna tercapainya kesempurnaan ditunjukkan oleh terbentuknya pribadi yang sempurna. Pribadi yang bermoral adalah yang memiliki kemampuan untuk mengelola hidupnya sesuai dengan nilai-nilai luhur kemanusiaan. Yb Adimassana menyatakan bahwa pendidikan nilai akan efektif jika melalui tahap-tahap
1. Preparasi atau persiapan yaitu penataan disposisi batin yang meliputi keterbukaan keseluruhan, keterangan seluruh niat, kehendak pikiran dan perhatian.
2. Konsentrasi integrasi yaitu pemutusan perhatian
3. Asimilasi atau transformasi yaitu penangkapan peresapan dan terjadinya
4. Realisasi atau aktualisasi yaitu perwujudan nilai ke dalam bentuk yang konkret

secara individual setiap pendidik diharapkan mencoba melaksanakan tugasnya mengajar dan mendidik secara bertanggung jawab. Hal yang mendesak dan harus dilakukan adalah mengajari anak didik untuk dapat menggunakan alat dan hati sebaik-baiknya melalui sarana segala aktivitas yang dapat mendewasakan dirinya untuk menghindari anak didik dari arus globalisasi harus dibekali dengan alat dan hati yang benar normal dan agama yang kuat rasa nasionalisme yang benar dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa
Nama : Qurota A'yunin
NPM : 2213053183
Judul :PENDIDIKAN NILAI DAN MORAL DALAM SISTEM KURIKULUM PENDIDIKAN DI ACEH
Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha Vol. 9 No. 3 (September, 2021)

Berdasarkan analisis jurnal yang sudah saya baca saya menemukan bahwa perubahan pesat dalam kehidupan sosial merupakan salah satu perbincangan paling signifikan tentang hukum dan moral siswa. . Dimana pendidikan memegang peranan yang sangat berarti dalam pembuatan akhlak di golongan peserta didik, apalagi jadi tumpuan budaya warga. Dalam menjawab perihal tersebut pemerintah Aceh tidak hanya menyelenggarakan pendidikan yang sesuai dengan yang diamanatkan secara nasional, pemerintah Aceh pula melakukan pembelajaran yang sesuai dengan kekhususan yang diberikan oleh pemerintah pusat kepada pemerintah Aceh. Penyelenggaraan pembelajaran Islami di Provinsi Aceh mengacu pada Qanun No 9 Tahun 2015 pergantian atas Qanun Aceh No 11 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pembelajaran. Penyelenggaraan pendidikan di seluruh satuan pendidikan berpedoman pada ajaran Islam,dengan indikator sistem pengelolaan sekolah memiliki nilai transparansi, akuntabilitas, pendekatan keteladanan, pengembangan budaya berorientasi islami dan penerapan kurikulum islami sebagaimana diatur dalam qanun.
Nilai merupakan bentuk perilaku konkrit, atau penerapan akhlak. Akhlak baik yang melandasi moral disebut nilai ketika diwujudkan dalam bentuk perilaku yang terlihat. Manusia sebagai makhluk sosial mengakomodir masyarakatnya dengan menyerap nilai-nilai, sikap, dan kepercayaannya. Nilai tidak hanya mempengaruhi budaya tetapi juga dipengaruhi oleh budaya, termasuk kualitas menjadi warga negara yang baik.
Proses pendidikan di sekolah harus diarahkan pada pembentukan nilai-nilai kebaikan siswa.Di Indonesia, pendidikan nilai telah diatur dalam sistem pendidikan nasional. Ada delapan belas nilai yang perlu diintegrasikan guru dalam pembelajaran. Kedelapan belas nilai tersebutadalah religius, jujur, toleransi, disiplin, pekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, ingin tahu, nasionalis, patriotik, menghargai prestasi, ramah dan komunikatif, cinta damai, gemar membaca, sadar lingkungan, peduli sosial, dan bertanggung jawab. Penanaman nilai kepada siswa di sekolah dapat dicapai melalui berbagai cara. Ada enam strategi dalam pembentukan nilai yang membutuhkan proses keberlanjutan seperti pembiasaan nilai, nilai budaya, pengetahuan moral, perasaan dan cinta yang baik, akting moral, dan nilai keteladanan.

Berdasarkan berbagai literatur yang ada, konsep mengenai moral dalam islam sangat sedikit referensi yang lebih relevan dengan istilah islam. Moral disini akan dijelaskan menurut Quran dan Hadis, dan beberapa ahli yang dikaitkan dengannya. Beberapa jenis literatur kata akhlak Islam terdiri dari empat: hikmah (hikmah), keberanian (shaja'ah), kesederhanaan ('iffah), dan keadilan ('adl).Perspektif psikologis Islam moral terkait dengan jiwa (nafsiyah) dan yang termasuk didalamnya disebut juga ma'nawiyyah. Satu catatan penting tentang nilai-nilai moral Islam dalam psikologi Islam adalah juga bahwa semua sumber literatur bersumber dari Alquran dan Hadits. Alquran dan telah disebutkan banyak nilai moral yang harus dimasukkan setiap Muslim ke dalam karakternya. Nilai-nilai akhlak dalam sastra Islam adalah makna yang baik dan menentukan sikap positif dan negatif, dan tidak ditinggalkan untuk motivasi semata, mereka digerakkan oleh iman.

Dalam artikel ini di jelaskan bahwa Integrasi budaya Islam dalam Manajemen Sekolah bertujuan untuk membentuk pola perilaku warga sekolah,budaya Islam di sekolah diperlakukan melalui beberapa aspek; (1) Budaya Disiplin, (2) Budaya berkomunikasi dengan sopan, dan (3) Menciptakan lingkungan madrasah yang kondusif dan Islami. Budaya Islam yang dikembangkan di sekolah mengacu pada syariat Islam yang berlaku di Aceh dan selanjutnya dibuat dalam bentuk peraturan di sekolah. Strategi membangun budaya Islam di sekolah adalah; (1) Penerapan Peraturan sekolah, (2), mendandani / menekan seragam madrasah mengikuti kaidah sekolah dan Qanun Syariah Islam, (3) berkomunikasi dengan guru dan teman belajar dengan menggunakan bahasa yang sopan, (4) menampilkan perilaku yang berkaitan dengan budaya Aceh dan pendidikan qanun Aceh.

Jadi dapat disi,pulkan bahwa penyelenggaraan pendidikan di seluruh satuan pendidikan berpedoman pada ajaran Islam. Pelaksanaan pendidikan di Sekolah di Aceh secara keseluruhan sudah Islami, dengan indikator sistem pengelolaan madrasah memiliki nilai transparansi, akuntabilitas, pendekatan keteladanan, pengembangan budaya berorientasi islami dan penerapan kurikulum islami sebagaimana diatur dalam qanun. Pendidikan nilai dan moral di satuan pendidikan di Aceh diselenggarakan selain sesuai dengan pendidikan nasional, juga mengacu pada penerapan melalui kurikulum islami yang berpedoman sesuai dengan qanun pendidikan di Aceh. Proses pembelajaran yang dilaksanakan di Aceh berbasis dan berorientasi kepada budaya islami yang berbasis syariat islam di Aceh.
Nama : Qurota A'yunin
NPM: 2213053183
Dalam vidio tersebut diberitakan banyaknya kekerasan di lingkungan sekolah yang banyak di perankan oleh anak di bawah umur yang seharusnya mereka perlu perhatian khusus dalam bersosial dengan masyarakat.
Kekerasan di lingkungan sekolah adalah masalah serius yang menyedihkan. Salah satu penyebab utama kekerasan ini adalah perkelahian antara siswa. Seringkali, konflik pribadi atau masalah interpersonal tidak diselesaikan dengan cara yang sehat, yang dapat berujung pada kekerasan fisik atau verbal. Selain itu, kurangnya perhatian dan pengawasan dari pihak guru dan staf sekolah juga dapat menjadi faktor utama dalam meningkatnya kekerasan di sekolah. Ketika siswa tidak merasa didengar atau didukung oleh guru mereka, mereka cenderung merasa terisolasi dan frustrasi, yang dapat memicu tindakan kekerasan sebagai bentuk ekspresi.

Solusi untuk mengatasi masalah kekerasan di sekolah melibatkan berbagai tindakan yang harus diambil oleh semua pihak terkait. Pertama, penting bagi sekolah untuk menerapkan program anti-kekerasan yang efektif, termasuk pelatihan bagi siswa dalam menyelesaikan konflik dengan cara yang sehat dan berkomunikasi dengan baik. Selain itu, guru dan staf sekolah harus lebih peduli terhadap kebutuhan emosional dan psikologis siswa, memberikan dukungan yang dibutuhkan, dan menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif di sekolah. Ini juga penting untuk mendorong siswa untuk melaporkan kejadian kekerasan kepada guru atau staf sekolah jika mereka menjadi saksi atau korban. Selain itu, melibatkan orang tua dalam proses pendidikan dan membangun kemitraan antara sekolah dan keluarga dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih positif dan aman di sekolah. Dengan pendekatan komprehensif ini, kita dapat berharap untuk mengurangi tingkat kekerasan di lingkungan sekolah dan memberikan peluang yang lebih baik bagi pertumbuhan dan perkembangan siswa.
Nama: Qurota A'yunin
NPM: 2213053183
Dalam video ini, pembicara membawa kita ke dalam dilema moral yang terkenal, yaitu Troli Problem. Troli Problem adalah eksperimen pikiran yang digunakan untuk menguji aspek-aspek moralitas dalam pengambilan keputusan.
Dalam skenario pertama, kita dihadapkan pada situasi di mana kita berada di dalam kereta yang bergerak kencang menuju lima orang yang terikat di rel kereta. Jika kereta tetap lurus, lima orang akan terbunuh. Namun, kita memiliki opsi untuk menarik tuas yang akan membuat kereta berbelok dan hanya membunuh satu orang. Mayoritas orang memilih untuk berbelok dalam situasi ini untuk menyelamatkan lima nyawa, menggambarkan prinsip moralitas dasar.
Namun, dalam skenario kedua, keadaannya berbeda. Kita berada di atas jembatan di atas rel kereta, dan di depan kita ada orang besar yang bisa menghentikan kereta jika kita mendorongnya. Tetapi, orang yang berada di rel kedua adalah anggota keluarga kita. Dalam situasi ini, banyak orang memilih untuk tidak mendorong orang besar, bahkan jika itu berarti lima orang akan terbunuh, menunjukkan bahwa dalam situasi di mana tindakan kita secara langsung menyebabkan kematian seseorang, banyak orang enggan melakukannya.
Dari sini, video mengajukan pertanyaan-pertanyaan moral yang mendalam, seperti apakah mengorbankan sedikit untuk menyelamatkan yang lebih banyak adalah tindakan yang lebih bermoral, atau apakah itu hanya pembenaran untuk kepentingan diri sendiri. Video juga mencoba untuk merangsang pemirsa untuk mempertanyakan asumsi-asumsi moral yang telah mereka pegang selama ini dan untuk memahami bahwa moralitas sering kali bisa menjadi alat pembenaran, terutama ketika kita berada di posisi yang memiliki kepentingan.
Penggunaan Troli Problem dalam eksperimen ini juga dihubungkan dengan isu-isu moral dalam kehidupan sehari-hari, seperti pengorbanan masa depan anak untuk kepentingan pekerjaan atau diskriminasi terhadap kelompok minoritas atas nama kepentingan mayoritas.
Video ini mengingatkan kita bahwa moralitas sering kali tidak mutlak dan dapat dipengaruhi oleh posisi dan kepentingan kita. Oleh karena itu, penting untuk mempertimbangkan berbagai sudut pandang dan konsekuensi dari keputusan moral kita dalam kehidupan sehari-hari.
Nama : Qurota A'yunin
NPM: 2213053183
Judul: MEMBINA NILAI MORAL SOSIAL BUDAYA INDONESIA DI KALANGAN REMAJA oleh H Wanto Rivaie
jurnal pendidikan sosiologi dan humaniora


Dalam artikel ini berisi tentang pentingnya mengajarkan kepada anak bahwa menjaga hubungan baik antara suami dengan istri atau dengan orang tua dan juga anak belajar sikap bertanggung jawab dan berakhlak mulia itu merupakan hal yang wajib dipelajari. Karena generasi yang bertanggung jawab dan berakhlak mulia adalah generasi yang kelak mampu mempertanggungjawabkan perbuatan tindakan dan perilaku sekecil apapun. Tanggung jawab dan akhlak mulia akan dapat diwujudkan manakala sejak dini diajarkan kepada generasi muda supaya nilai-nilai keimanan dan disertai kegiatan ibadah dan muamalah akan terus-menerus dan konsisten menjadi keteladanan bagi anak.
Nilai-nilai hubungan antar manusia seharusnya perlu dibangun berdasarkan asas saling menghargai saling percaya untuk menciptakan kehidupan yang sejahtera.
Dalam artikel ini juga berisi tentang perlunya pendidik dalam menanamkan nilai moral tidak hanya di forum pendidikan formal saja seperti sekolah tapi juga mampu mengajar dalam forum informal seperti di keluarga dan masyarakat melalui tokoh masyarakat sekitar di acara-acara adat dll. Dengan ini mengindikasikan bahwa pendidikan nilai dan moral dalam arti luas sangat berperan dalam memanusiakan manusia yang memiliki jati diri yang khas dari seorang individu di lembaga pendidikan formal dan non formal benih yang bertugas membentuk nilai moral untuk menjadi diri generasi muda adalah guru dan tokoh masyarakat dilakukan dengan upaya mendidik mengajar dan melatih.
Dalam konteks ini manusia adalah individu yang tak berdaya dan perlu bantuan orang lain dengan pengajaran ini kita tahu bahwa melalui pendidikan kita belajar dalam proses memberikan atau meminta bantuan perlu dibangun komunikasi dua arah komunikasi yang setara kesederajatan agar kedua pihak memiliki harga diri yang layak sebagai insan Kamil.
Dalam artikel ini mengajarkan bahwa dengan landasan pendidikan agama yang dilakukan di keluarga sekolah dari masyarakat dengan sebaik-baiknya maka akan terbangun kepribadian peserta didik yang memiliki nilai moral yang baik di mana sila yang pertama adalah sila ketuhanan yang maha esa yang menjadi dasar sila-sila lain.
Dalam artikel ini memuat faktor-faktor personal yang mempengaruhi tindakan manusia ada dua macam yaitu pendekatan dalam pembentukan perilaku manusia kedua pendekatan ini menekankan faktor-faktor psikologis dan faktor sosial yang timbul dari individu dan faktor yang berpengaruh dari luar. McDougall menekankan pentingnya faktor personal dalam menentukan interaksi sosial dalam membentuk perilaku individu.
Aspek biologis: pentingnya kita memperhatikan pengaruh biologis terhadap perilaku manusia seperti tampak dalam dua hal berikut 1. Telah diakui secara meluas adanya perilaku tertentu yang merupakan bawaan manusia dan bukan pengaruh lingkungan atau situasi. 2. Diakui pula adanya faktor biologis yang mendorong perilaku manusia yang lazim disebut sebagai motif biologis yang paling penting dari motif biologis adalah kebutuhan makan minum kebutuhan seksual dan kebutuhan untuk melindungi diri dari bahaya

Jadi dapat disimpulkan bahwa pembentukan nilai moral sosial budaya di Indonesia pada kalangan anak-anak dan remaja merupakan tanggung jawab orang tua masyarakat dan pemerintah secara bersinergi. Apabila ketiganya mampu menjalankan tugas mereka untuk mendidik generasi muda paham mengenai nilai dan moral maka generasi bangsa ini akan menjadi bangsa yang kokoh jati diri bangsa menjadi bangsa yang cerdas otaknya lembut hatinya dan terampil tangannya sehingga bangsa ini bisa menjadi bangsa yang maju bernilai bermoral dan berbudaya Indonesia yang diridhoi Tuhan yang maha esa.