Posts made by Wulan Agustina

Nama :Wulan Agustina
Npm :2213053011

Sementara isu-isu terkait politik identitas di Indonesia antara lain adalah munculnya kepentingan local seperti tentang keadilan dan pembangunan daerah yang tidak merata serta adanya perbedaan agama dan ideology yang dirasa tidak menjamin antar golongan dapat hidup tenang berdampingan.(Mundiri & Zahra, 2017) Sejalan dengan arus globalisasi, potret pendidikan Islam dewasa ini melahirkan dua sudut pandang yang berbeda (Fauzi, 2018), yaitu; a) pendidikan Islam tidak lagi dimonopoli oleh kelompok liberalis dan fundamentalis, melainkan telah diwarnai oleh sekelompok Islam lain, b) pendidikan Islam dipersepsikan menjadi embrio lahirnya kelompok Islam radikal dan Islam fundamentalis (Fauzi, 2018), sebagaimana hasil penelitian Farida menjelaskan bahwa lahirnya radikalisme dan fundamentalisme dilatarbelakangi oleh pemikiran dan peran sosial kiai, pandangan tersebut secara signifikan memberikan pengaruh terhadap lulusan pendidikan Islam, (Ummah Farida, 2016).

Berangkat dari konteks tersebut, diperlukanlah paradigma pendidikan Islam yang lebih membumi dan humanistik, dengan melakukan kajian ulang terhadap sistem nilai sosial pesantren berdasarkan nilai al-Qur'an dan al-Hadits, sesuai dengan konteks ke-Indonesiaan.

Fenomena saling serang dan merasa kelompok yang dianutnya paling benar adalah indikasi dari kegagalan pendidikan melahirkan manusia bermoral dan berbudi pekerti.
Kedua, mereka yang memiliki kemampuan intelektual dan mampu menghayati terhadap nilai-nilai ajaran agama akan tetapi tidak mampu menguasai teknologi dan dinamika politik yang ada di dalamnya.

Maka peran pendidikan sebagai agen perubahan adalah merubah orang yang kurang beradab menjadikan orang yang beradab atau merubah orang yang perilakunya tidak baik menjadi baik.
Artinya pendidikan berperan besar dalam memproduksi ulang dan terus menerus mendampingi kelas-kelas sosial yang ada di masyarakat.

Padahal pemerintah sudah memberikan kebijakan system desentralisasi yang berlanjut pada system demokrasi kepada setiap daerah dan sekolah untuk mengolah dan mengembangkan sendiri potensi yang dimiliki daerah dan sekolah dalam mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan.
Karena itu, perlu digarisbawahi adalah out put pendidikan yang melahirkan manusia cakap dalam potensi kepribadian dan sosial.
Karena masalah bangsa yang masih menjadi sorotan utama adalah out put pendidikan yang masih buram dalam membangun relasi sosial.

Tantangan Materi Pelajaran di Sekolah Penanaman dan penghayatan sikap-sikap budi pekerti di sekolah sejauh ini masih bersifat formatif belum menjadikan nilai-nilai yang diharapkan dalam indikator pencapaian belajar terwujud secara permanen dalam diri peserta didik di sekolah, terlebih lagi tantangan ketika peserta didik sudah tidak berada di lingkungan sekolah.
Ketika kasus potensi kepribadian dan sosial yang dipertayakan, maka materi pelajaran di sekolah yang dianggap paling bertanggung jawab atas kegelisahan ini adalah mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn).
Kandungan moral dari kedua mata pelajaran di atas telah mencakup norma-norma hidup manusia yang berbudi pekerti, menghayati dan memahami agama dan Negara yang melindunginya serta memuat materi toleransi dalam bentuk mampu menghargai perbedaan di tengah-tengah lingkungan masyarakatnya.
Nama : Wulan Agustina
Npm : 2213053011

Instrumen Penilaian
Alat yang digunakan untuk mengumpulkan data sebagai bah pengolahan informasi untuk menguku pencapaian hasil belajar peserta didik dengan berbagai cara dan beragam penilaian belajar peserta didik.

Manfaat Penilaian
1. Bagi Anak
1.Untuk memelihara perkembangan anak agar lebih sehat dan konsisten jadi dengan penilaian guru dapat mengukur perkembangan setiap anak ketika adanya gejala kesehatan pada pertumbuhan masing"anak
2.Perkembangan anak menjadi optimal
3.Anak mendapatkan stimulasi dengan minat perkembangannya
4.Anak mendapatkan dukungan yang lebih dengan kebutuhan dan perkembangannya

2.Bagi Orang Tua
1.Orang tua akan memperoleh informasi tentang pertumbuhan perkembangan dan minat anak pada satuan pank.
2.Memudahkan orang tua dalam memberikan stimulasi yang sesuai dan berkelanjutan ketika di rumah
3.Membuat keputusan bersama antara orang tua dengan pihak satuan dan memberikan dukungan untuk memenuhi kebutuhan anak

3.Bagi Guru
1.Untuk mengetahui perkembangan sikap pengetahuan atau keterampilan
2.Mendapatkan informasi awal tentang hambatan atau gangguan tumbuh kembang setiap anak
3.Mengetahui kesesuaian stimulasi dalam layanan dengan kebutuhan perkembangannya
4.Dapat memberikan dukungan yang tepat pada setiap anak
5.Memiliki data dan informasi tentang perkembangan anak untuk pembuatan sumber belajaran selanjutnya

Prinsip-Prinsip Penilaian dibagi menjadi 8
-Mendidik
-Berkesinambungan
-Objektif
-Akuntabel
-Transparan
-Sistematis
- Menyeluruh
-Bermakna

Teknik dan Lingkup Penilaian
Teknik penilaian mencakup tingkat pencapaian perkembangan anak dan Instrumen yang dapat dijadikan pedoman penilaian perkembangan anak meliputi instrumen penilaian proses, catatan anekdot, rubrik dan/atau instrument penilaian hasil kemampuan anak

1.Menyusun teknik, instrument penilaian serta menetapkan indikator capaian perkembangan anak.
2.Melaksanakan proses penilaian sesuai dengan tahap, teknik, dan instrument penilaian.
3.Mendokumentasikan penilaian proses dan hasil belajar anak secara akuntabel dan transparan.
4.Melaporkan capaian perkembangan anak pada orang tua.

Bentuk Penilaian
-Penilaian harian
-Penilaian mingguan
-Penilaian bulanan
-Penilaian semester
-Portofolio anak
-Dokumen lain yang diperlukan oleh setiap satuan PAUD.
Nama : Wulan Agustina
Npm : 2213053011

Etika,Nilai, dan Moral saling berkaitan, sebab semuanya berusaha mengarahkan manusia agar memiliki pola pikir, sikap, dan perilaku yang balk dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegare.

Etika adalah cara manusia memperlakukan sesama dan menjalani hidup dan kehidupan dengan baik, sesuai aturan yang berlaku } di masyarakat. Contohnya : mengucapkan salam ketika memasuki rumah atau bertamu, izin atau mencium tangan kedua orang tua jika bepergian, membuang sampah pada tempatnya.
Etika dan Moral mempunyat pengertian yang hampir bersamaan . atau berkaitan, karena keduanya mengandung nilai dan norma untuk mengatur tingkah laku manusia, yang mengacu pada kebiasaanyang berlaku dalam masyarakat.
NILAI ialah sesuatu yang memberi makna hidup yang dijunjung tinggi, yang mewarnai dan menjiwai tindakan atau perilaku seseorang.
NILAI juga bisa disebut penghargaan, penghormatan atau kualitas terhadap sesuatu yang dapat bermanfaat, menyenangkan, memuaskan, menarik, atau sebagai sistem keyakinan .
Sifat dan jenis nilai
YANG PERTAMA bersifat relatif, artinya nilai bergantung oleh tempat dan waktu.
YANG KEDUA Lebih bersifat subjektif, nilai berbeda-beda bagi setiap orang.

Moral adalah hal-hal yang dapat mendorong manusia untuk melakukan tindakan yang baik sebagai kewajiban atau keharusan.
Moral adalah sarana untuk mengukur benar atau tidaknya sikap dan tindakan manusia.
Moral adalah kepekaan dalam pikiran, perasaa dan tindakan terhadap prinsip-prinsip, dan aturan-aturan.


Kesimpulannya adalah manfaat mempelajari etika dan nilai moral ini kita dapat menjunjung tinggi dan menghargai nilai"kemanusiaan.
Kita lebih toleran etis atau santun dan adil dalam sikap dan bertindak .
Kita lebih dapat menghargai orang lain.
Kita lebih dapat bertanggung jawab oleh bidang ilmu yang diampunya.
Kita dapat meningkatkan Perfosionilitas.
Nama :Wulan Agustina
NPM :2213053011

Identitas Jurnal
Nama jurnal : Jurnal JIPSINDO
Volume :6
Nomor : 2
Halaman : 131- 145
Tahun Terbit : 2019
Judul : PERKEMBANGAN MORAL SISWA SEKOLAH DASAR BERDASARKAN
TEORI KOHLBERG
Nama penulis : Enung Hasanah

Membahas tentang teori Kohlberg.
Teori ini untuk mengukur tingkat moral seseorang . Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat perkembangan moral siswa SD yang berusia antara 11-12 tahun, berdasarkan tahapan perkembangan teori Kohlberg. Penelitian menggunakan metode_ penelitian kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa anak-anak SD yang berusia 11-12 tahun secara umum termasuk dalam tahap pra konvensional tahap “% yang dominan diukuti tahap 2 dan 2/3, yang cenderung melakukan sesuatu kegiatan bukan karena membutuhkan hasil melainkan karena takut dihukum.

Berdasarkan hasil analisis data dengan menggunakan teori perkembangan moral Kohlberg, anak-anak usia 11-12 tahun memang masih berada pada tahap pra konvensional tahap % yang dominan diikuti tahap 2 dan 2/3, yang cenderung ingin melakukan sesuatu karena takut dihukum. Dalam hasil penelitian sederhana ini, responden yang berusia 11-12 tahun cenderung baru memasuki tingkat 1 tahap 1, meskipun pada kasus tertentu mungkin saja ada pengecualian yaitu pada usia 11-12 bisa saja berada pada tingkat perkembangan moral yang lebih rendah atau yang lebih tinggi.