Nama : Siti Nurhaliza
NPM : 2253053028
"Membina Nilai Moral Sosial Budaya Indonesia Di Kalangan Remaja"
Dalam suasana kehidupan dewasa ini yang banyak tuntutan, tantangan
dan masalah, upaya orang tua membina anak dalam keluarga dengan
sentuhan kasih sayang untuk menjadi generasi mendatang yang
bertanggung jawab dan berakhlaq mulia. Menjadi sesuatu yang langka.
Kelangkaan sentuhan orang tua tersebut kini menggejala dengan
munculnya berbagai kenakalan remaja, tawuran pelajar, dan
penggunaan obat terlarang narkoba dan semacamnya, merupakan
pelarian dari suasana mental remaja yang bersifat terminal. Untuk itu
upaya pendidikan perlu perlakuan yang menitik beratkan pada aspek
afektif dan perilaku yang luhur.Dalam membina keluarga,
baik hubungan antara suami istri
maupun antara orang tua dengan
anak, ada rujukan yang kuat dengan
menggunakan ayat Qur’an surat ArRum (30): 21, yang artinya “... dan di
antara tanda-tanda kebesaran-Nya
ialah dia menciptakan pasanganpasangan untukmu dari jenismu
sendiri, agar kamu cenderung dan
merasa tentram kepadanya, dan dia
menjadikan di antaramu rasa kasih
dan sayang. Sungguh, pada yang
demikian itu benar-benar terdapat
tanda-tanda kebesaran Allah bagi
kaum yang berpikir Surat ke dua Al
Isra (17): 23-25: yang artinya“.... dan
hendaklah engkau merendah diri
kepada keduanya karena belas
kasihan dan kasih sayangmu, dan
doakanlah untuk mereka dengan
berkata: wahai Tuhanku cucurilah
rahmat kepada mereka berdua
sebagaimana mereka telah
mencurahkan kasih sayangnya
memelihara dan mendidikku semasa
kecil”. (Sofyan Sauri, 2008, 96-97).
Ke dua surat di atas yaitu ArRum dan Al Isra, Allah telah
memberikan pedoman pada umat
manusia untuk membina anak agar
menjadi generasi mendatang yang
bertanggungjawab dan berakhlaq
mulia. Generasi yang bertanggung
jawab dan berakhlaq mulia adalah
generasi yang kelak mampu
mempertanggungjawabkan perbuatan,
tindakan dan perilaku sekecil apapun, harus dapat dipertanggungjawabkan
baik terhadap Tuhan, dirinya sendiri
dan kepada masyarakat luas. Untuk
itu tanggung jawab perlu ditanamkan
sejak dini sampai dengan akhir
kehidupannya (Nursid Sumaatmadja,
2007, 40-44; UU. Sisdiknas, 2003,
Bab II, pasal 3, hal 6; Zaim
Elmubarok, 2008, 159-160).
Tanggung jawab dan akhlaq
mulia akan dapat diwujudkan
manakala, sejak dini kepada generasi
muda sudah ditanamkan nilai-nilai
keimanan dan disertai kegiatan ibadah
dan muamallah yang terus menerus
dan konsisten disertai keteladanan
orangtua dan para pemimpin/tokoh
masyarakat yang ada disekitar kita,
masyarakat dan bangsa Indonesia ini,
agar kelak tujuan pendidikan yang
telah dirumuskan dalam UU
Sisdiknas 2003 dapat tercapai dengan
baik tanpa upaya tersebut maka
pembinanaan generasi muda yang
bertanggung jawab dan akhlaq mulia
hanya sebagai buah bibir dan isapan
jempol belaka.Menurut Edward E. Sampson,
terdapat perspektf yang berpusat pada
persona dan perspektif yang berpusat
pada situasi. Perspektif yang berpusat
pada personal mempertanyakan
faktor-faktor internal, apakah baik
berupa instik, motif, kepribadian,
sistem kognitif yang menjelaskan
perilaku manusia. Secara garis besar
terdapat dua aspek:
1. Aspek Biologis
Faktor biologis terlibat dalam
seluruh kegiatan manusia, bahkan
berpadu dengan faktor-faktor
sosiopsikologis.
2. Aspek Sosiopsikologis
Kita dapat mengklarifikasikannya
ke dalam tiga komponen:
a. Komponen Afektif; merupakan aspek
emosional dari faktor
sosiopsikologis, didahulukan karena
erat kaitannya dengan sebelumnya.
b. Komponen Kognitif; Aspek
intelektual yang berkaitan dengan
apa yang diketahui manusia,
c. Komponen Koaktif; Aspek
Volisional, yang berhubungan
dengan kebiasaan dan kemauan
bertindak.
3. Motif Sosiogenesis
Motif Sosiogenesis disebut
juga dengan motif sekunder sebagai
lawan motif perimer (motif biologis).
Berbagai klasifikasi motif
sosiogenesis .
Kesimpulan: Pembentukan nilai moral sosial
budaya Indonesia di kalangan anak anak dan remaja merupakan tanggung
jawab orang tua, masyarakat dan
pemerintah secara bersinergis