Posts made by Mesri Rahayu 2213053250

NAMA: MESRI RAHAYU

NPM: 2213053250

KELAS: 3H

Dalam jurnal yang berjudul "PENERAPAN NILAI MORAL PANCASILA DALAM MEWUJUDKAN GENERASI ANTI KORUPSI DI SD NEGERI OSILOA KUPANG TENGAH!" dapat diketahui bahwasanya Pancasila adalah pedoman hidup warga negara Indonesia. Dalam hidup berwarga negara terdapat nilai moral yang harus di patuhi dan di terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai moral Pancasila adalah sikap bermasyarakat yang baik dimana harus ditaati dan diterpakan oleh masyarakat. Pengertian moral, menurut Suseno (1998) adalah ukuran baik-buruknya seseorang, baik sebagai pribadi maupun sebagai warga masyarakat, dan warga negara. Sedangkan menurut Ouska dan Whellan (1997), moral adalah prinsip baik- buruk yang ada dan melekat dalam diri individu/seseorang. Maka dapat disimpulkan bahwa moral adalah suatu pedoman atau tuntunan berperilaku yang dimiliki oleh setiap individu, yang dapat tercermin melalui perilaku, sikap dan pemikiran nya.

Penerapan nilai moral Pancasila sejak dini pada anak-anak dapat mewujudkan generasi muda yang anti korupsi, dan mereka dapat terhindar dari pengaruh hal-hal negatif dari dunia luar, yang dapat merusak pemikiran dan menimbulkan tindakan yang tidak mencerminkan seseorang yang memiliki moral yang baik. Oleh karena itu, pembiasan penerapan nilai moral sejak dini, dapat melatih anak-anak untuk selalu bersikap jujur dan juga disiplin, baik di lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat ataupun lingkungan keluarga.

NAMA: MESRI RAHAYU

NPM: 2213053250

Dari jurnal yang berjudul "PENTINGNYA PENDIDIKAN NILAI MORAL BAGI GENERASI PENERUS" Dapat diketahui bahwa pendidikan nilai dan moral amat sangat penting bagi generasi penerus bangsa. Dikarenakan pendidikan nilai dan moral merupakan pondasi dasar dari maju nya sebuah bangsa dan negara. Tanpa adanya pendidikan nilai dan moral, maka generasi penerus bangsa akan terpengaruh hal-hal buruk dari luar yang akan menyebabkan mundur dan loyo nya generasi penerus. Sehingga mundur jugalah bangsa dan negaranya.

Hambatan atau tantangan dalam penegakan nilai dalam kalangan generasi muda, dapat diakibatkan oleh lingkungan tempat tinggal yang kurang memadai ataupun lingkungan yang kurang baik dalam penerapan pendidikan nilai dan moral. Selain itu, kurangnya kesadaran dalam pengimplementasian pendidikan nilai dan moral dalam kehidupan sehari-hari, yang seharusnya dapat di implementasikan dengan baik.

Adapun dampak positif yang didapat dari pendidikan nilai dan moral adalah generasi muda mampu berpartisipasi aktif dalam pembangunan bangsa dan Negara yang penuh dengan kejujuran, tidak korup, semangat yang tinggi dan bertanggungjawab. Potensi mereka yang prospektif, dinamis, energik, penuh vitalitas, patriotisme dan idealisme telah dibuktikan ketika zaman pergerakan nasional, pemuda pelajar telah banyak memberikan kontribusi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sedangkan untuk dampak negatif dari pendidikan nilai dan moral itu sendiri, mungkin bukan dampak negatif, namun lebih kepada pemerosotan kesadaran betapa pentingnya pendidikan nilai dan moral bagi kehidupan, baik kehidupan sehari-hari ataupun kehidupan berbangsa dan bernegara.

NAMA: MESRI RAHAYU

NPM: 2213053250

PENTINGNYA PENDIDIKAN NILAI MORAL BAGI GENERASI PENERUS

Pendidikan nilai dan moral dapat dikatakan sebagai tiang atau pondasi agar suatu bangsa tidak melenceng dari aturan yang ada, dan dapat berdiri dengan tegak dan kokoh. Pendidikan nilai dan moral amat sangat penting diajarkan kepada anak-anak, agar mereka dapat menetapkan nya dala kehidupan sehari-hari. Pendidikan nilai dan moral dapat diartikan sebagai suatu usaha sadar yang dilakukan oleh manusia yang terencana untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menanakan nilai-nilai estetik dan etik, nilai baik dan buruk, benar dan salah, mengenai perbuatan, sikap dan kewajiban; akhlak mulia, budi pekerti luhur agar mencapai kedewasaannya dan bertanggung jawab.

Pendidikan nilai dan moral berlandaskan pada 2 teori, yaitu:

1. Teori Perkembangan Pertimbangan Moral Kohlberg

Menurut Kohlberg perkembangan sosial dan moral manusia ter jadi

dalam tiga tingkatan besar yaitu: a) Tingkat moralitas prakonvensional, b) Tingkat moralitas konvensional dan, c) Tingkat moralitas pasca konvensional.

2. Teori Belajar Sosial dan Moral Albert Bandura

Menurut Bandura sebagian besar dari yang dipelajari manusia terjadi melalui peniruan (imitation) dan contoh perilaku (modeling). Anak cenderung mempelajari respon-respon baru dengan cara pengamatan terhadap perilaku model/contoh dari orang lain yang menjadi idola, seperti guru, orang tua, dan teman sebaya.

Remaja merupakan generasi muda penerus bangsa yang harus memiliki peran dan posisi yang fleksibel. Maju nya suatu bangsa berdasarkan sikap remajanya, apabila mereka maju, maka akan maju pula bangsa dan negaranya. Namun sebaliknya, apabila mereka mundur dan loyo maka akan mundur jugalah bangsa dan negaranya. Maka dari itu, pentingnya penanaman nilai dan moral kepada remaja, agar mereka tidak terpengaruh hal-hal yang buruk dari luar, dan mengancam kemunduran bangsa dan negara. Selain itu, keuntungan yang diperoleh adalah kualitas hidup yang meningkat, dan kesejahteraan serta kenyamanan pun bisa di dapat.

NAMA: MESRI RAHAYU

NPM: 2213053250 

 Berdasarkan jurnal yang berjudul "PENDIDIKAN NILAI DAN MORAL DALAM SISTEM KURIKULUM PENDIDIKAN DI ACEH" yang telah saya analisis, dapat diketahui bahwa  Penyelenggara proses pendidikan di Aceh, terbilang istimewa dibandingkan dengan daerah lainnya. Proses pendidikan di Aceh dikembangkan berdasarkan karakteristik adat istiadat masyarakat Aceh. Yang dimana termuat dalam Qanum terbaru, yaitu Qanum Aceh No. 9 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Islam di Aceh. Berdasarkan Qanum tersebut, sistem pendidikan di Aceh diselenggarakan secara Islami, ini merupakan bentuk komitmen Pemda Aceh dalam mendukung pelaksanaan syariat Islam di Aceh.

Proses pendidikan di sekolah harus diarahkan pada pembentukan nilai-nilai kebaikan siswa. Pembentukan nilai-nilai yang baik dapat mengarah pada kohesi siswa, iklim terbuka, komunikasi yang jujur, penguatan hubungan, seni mendengarkan, kepercayaan, bersikap positif kepada teman, ekspresi dan sentimen emosional, dan pertumbuhan harga diri (Sankar, 2004). Oleh karena itu, penanaman nilai-nilai moral islam dalam kehidupan sekolah, keluarga dan lingkungan masyarakat. Sehingga nilai-nilai islam tersebut menjadi budaya dalam kehidupan sehari-hari (Praja et al., 2020). Dalam konteks pendidikan nilai-nilai keislaman tercermin dalam visi, misi, tujuan dan kurikulum sekolah (Mulyadi et al., 2019). 

Penyelenggaraan Pendidikan Islami di Aceh adalah sebagai upaya untuk mengembangkan seluruh aspek kepribadian peserta didik dalam rangka mewujudkan masyarakat Aceh yang berperadaban dan bermartabat. Namun, dibalik itu, banyak sekolah-sekolah di Aceh yang merasa bahwa kurikulum Islam terlalu tergesa-gesa untuk diterapkan. Dikarenakan banyak sekolah dengan kurikulum Islam hanya diartikan sekedar wacana tanpa aksi nyata. Hal ini disebabkan belum diperbolehkannya gambaran secara nyata bagaimana proses belajar dan mengajar dalam kurikulum Islam yang diinginkan oleh dinas pendidikan di Aceh. Namun, apabila dilihat lebih dalam Islam berupaya memadukan semua aspek kehidupan materialistis atau spiritual, dan berupaya membangun tujuan individu sejalan dengan tujuan masyarakat dan menyerukan kepada semua untuk mengintegrasikan perkataan dengan perbuatan, serta menyeimbangkan antara kebutuhan manusia dalam kehidupan ini dan keinginannya dalam kehidupan. kehidupan lain. Menurut Alavi (2007), Islam menjadikan sisi moral sebagai tolak ukur perbuatan baik, dan sisi utama dalam nilai adalah tujuan utama dakwah Islam.