Kiriman dibuat oleh MAE LISA INDRIYANI 2253053014

Nama : Mae Lisa Indriyani
NPM : 2253053014

Judul jurnal : PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH
Penulis : Rukiyati

Pendidikan moral perlu dilaksanakan secara sungguh-sungguh untuk membangun generasi bangsa yang berkualitas. Pendidikan moral anak ditangan orang tua mereka, tetapi guru juga berperan besar untuk mewujudkan moral peserta didik yang seharusnya. Keluarga, sekolah dan masyarakat bersama-sama bertanggung jawab untuk mendidik anak mereka. pendidikan moral di sekolah dirancang secara komprehensif mencangkup berbagai aspek, yaitu pendidik, materi, metode dan evaluasi sehingga hasil yang diharapkan optimal.

1. Pendidikan Moral di Sekolah, pendidik dan semua subjek sekolah bersama-sama membangun moral peserta didik menjadi orang yang baik. Peserta didik belajar wacana tentang organisasi umum dan tanggung jawab sosial, pendidik berfungsi untuk mewujudkan peserta didik yang aktif dalam masyarakat yang demoktatis sehingga pendidikan moral oleh pendidik dapat diterima dan diteledani secara baik oleh peserta didik.
2. Materi Pendidikan Moral, pendidikan moral terhadap diri sendiri penting diberikan kepada peserta didik berkaitan dengan nilai kebersihan, kerajinan, keuletan dan disiplin waktu. Pendidikan moral untuk sesama manusia mencakup nilai moral sosial yaitu kerjasama atau toleransi, respect, berlaku adil, jujur, bertanggung jawab, rendah hati dan peduli.
3. Metode Pendidikan Moral, yaitu sebagai berikut:
a. Penanaman (inkulkasi) nilai-nilai dan moralitas, dengan cara identifikasi nilai-nilai target, membaca buku-buku sastra dan non fiksi, bercerita.
b. Metode keteladanan merupakan bentuk mengestafetkan moral yang digunakan oleh masyarakat religius tradisional, dan digunakan oleh masyarakat modern.
c. Metode klasifikasi nilai, yaitu tentang peserta didik yang diberikan kebebasan dalam memutuskan suatu hal untuk menentukan nilai-nilainya.
d. Metode fasilitasi nilai yaitu pihak sekolah dan pendidik memberikan berbagai fasilitas yang dapat digunakan siswa agar dapat merealisasikan nilai moral dalam dirinya secara individu maupun berkelompok.
e. Metode keterampilan nilai moral, yaitu dapat diwujudkan dengan pembiasaan yang lama kelamaan akan menjadi komitmen diri, action plan mereka sebagai wujud realisasi pada diri sendiri.
f. Evaluasi pendidikan moral, yaitu untuk mencapai tujuan pendidikan moral yang diharapkan tercapai.
Nama : Mae Lisa Indriyani
NPM : 2253053014

Pendidikan Nilai dan Moral dari video yang berjudul "PENDEKATAN PENTAHELIX PENDIDIKAN NILAI DAN MORAL" hasil analisis saya yaitu. Nilai artinya memberikan harga pada suatu konsep yang dihadapi, sedangkan moral artinya kebiasaan yang berulang oleh sekelompok orang. Pendekatan Pentahelix sebagai berikut: pemerintah yang mengatur undang-undang tentang pendidikan nilai dan moral, masyarakat/komunitas, akademisi, pengusaha/pemilik modal dan media. Perlukah nilai diajarkan, Herman (1972) mengemukakan bahwa substansi nilai tidaklah semata-mata ditangkap dan diajarkan. Beberapa aliran dalam penjara nilai, sebagai berikut:
1. Aliran relativisme yaitu tidka bisa diajarkan karena hakekat nilai bersifat relatif, sebjektif, temporer, dan situasional.
2. Aliran kebebasan (value free) artinya nilai tidak perlu dna tidak boleh diajarkan karena bertentangan dengan kodrat keberadaan dasar manusia untuk menentukan pilibannya secara bebas dan mandiri.
Penanaman dan penerapan nilai sangatlah penting bagi kehidupan seorang manusia untuk menjalani kehidupan.
Nama: Mae Lisa Indriyani
NPM : 2253053014

Analisis video yang berjudul "Pentingnya Pendidikan Nilai dan Moral" saya menganalisis bahwa, kesadaran nilai moral mengarahkan anak untuk mampu membuat pertimbangan secara matang atas perilakunya dalam kehidupan sehari-hari baik di sekolah maupun di masyarakat. Lalu bagaimana jika tidak dibekali pendidikan moral, yaitu masalah moral yang terjadi sekarang ini banyak menyita perhatian masyarakat maupun orang tua. Pemrosotan nilai moral saat ini sudah ditanggulangi oleh beberapa pendidikan keagamaan dan lainnya. Pendidikan moral sangat penting disosialisasikan kepada seluruh peserta didik demi kemajuan bangsa dalam membentuk karakter peserta didik. Pentingnya PPKN dalam pendidikan nilai dan moral yaitu membantu watak dan karakter, pedagogis kecewa kehidupan bangsa, acuan penerapan keberhasilan pendidikan moral, jembatan untuk menuju pendidikan moral yang baik, dan lainnya.

Peran pendidik dalam menanamkan pendidikan nilai dan Moral. Pendekatan indoktrinasi untuk tumbuh menjadi dewasa, sikap disiplin yang ditanamkan kepada peserta didik, jika melanggar maka diberi hukuman yang tidak kekerasan. Klarifikasi nilai yang baik dan buruk diajak untuk mendiskusikan situasi untuk meliahat secara baik dan buruk. Teladan atau contoh pendidik harus menjadi teladan dan contoh yang baik bagi peserta didik. Pembiasaan dalam perilaku yaitu melakukan kegiatan sesuai dengan KBM, seperti doa sebelum melakukan aktivitas, memberi salam kepada orang tua atau guru dan lainnya. Tujuan pendidikan kewarganegaraan yaitu, memberikan pengertian, pengetahuan, pemahaman tentang pancasila, menanamkan nilai-nilai moral pancasila dalam diri peserta didik, meletakkan dan membentuk pola pikir yang sesuatu dengan pancasila, dan laun sebagainya.
Nama : Mae Lisa Indriyani
NPM : 2253053014

Teori kohlberg dikenal dengan teori yang mengukur tingkaran moral seseorang. Penelitian bertujuan untuk mengukur tingkat perkembangan moral siswa SD tang berusaha antara 11-12 tahun, terbukti dengan masuk dalam tahap pra konvensional tahap tang domubab diikuti tahap 2 dan 2/3 yang cenderung melakukan sesuatu kegiatan bukan jarena membutuhkan hasil melainkan karena takut dihukum. 

Pendidikan merupakan proses seumur hidup mulai dari dalam kandungan dan berlangsung sampai akhir kehidupan. Pendidikan tidak hanya memberikan pengetahuan dan keterampilan tetapi juga menanamkan nilai-nilai pelatihan naluri pembinaan sikap yang tepat dan kebiasaan terhadap generasi muda. Moralitas dan pendidikan moral dapat dilihat dari dua sisi yaitu dari sisi luar moralitas mengatur cara bergaul dengan orang lain dan dari dalam mengatur cara bergaul dengan diri sendiri.

Bagi seorang pendidik sangat penting untuk memahami perkembangan moral peserta didiknya, perkembangan moral berdasarkan Teori Kohlberg dalam mengembangkan teorinya tidak memusatkan perhatian pada tingkah laku moral artinya apa yang dilakukan oleh seorang individu tidak menjadi pusat pengamatannya, mengamati tingkah laku tidak menunjukkan banyak mengenai kematangan moral. Kematangan moral itu tidak tercermin dalam tingkah laku mereka melainkan pertimbangan penawaran. 

Menurut teori perkembangan moral dibagi menjadi tiga level yang pertama moralitas pra konvensional (ketaatan hukuman dan individualisme dan petukaran), moralitas konvensional (hubungan interpersonal san mebjaga ketertiban sosial), dan moralitas pasca konvensional (kontrak sosial dan prinsip universal). Dalam hasil penelitian sederhana ini responden yang berusia 11 sampai 12 tahun cenderung baru memasuki tingkat 1 tahap 1, meskipun pada kasus tertentu mungkin saja ada pengecualian yaitu pada usia 11 sampai 12 berada pada tingkat perkembangan moral yang lebih rendah atau yang lebih tinggi.