Kiriman dibuat oleh Yuda Kristian Lumban Raja

Nama: Yuda Kristian Lumban Raja
NPM: 2213053169

Fungsi Agama dalam nilai Moral yaitu
1. Keimanan
2. Ketaqwaan
3. Kejujuran
4. Bersyukur
5. Kepedulian
6.Tenggang Rasa
7. Kepedulian
8. Kesalehan
9. Ketaatan
10. Suka Menolong
11. Kesabaran
12. Disiplin
13. Kasih sayang
Fungsi Sosial Budaya
Nilai Moral:
1. Gotong Royong
2. Sopan Santun
3. Kerukunan
4. Kepedulian
5. Kebersamaan
6. Toleransi
7. Kebangsaan
Fungsi Cinta Kasih
Nilai Moral
1. Empati
2. Keakraban
3. Keadilan
4. Pemaaf
5. Kesetiaan
6. Pengorbanan
7. Suka Menolong
8. Bertanggung Jawab
Fungsi Perlindungan
Nilai Moral
1. Pemaaf
2. Tanggap
3. Ketabahan
Fungsi Reproduksi
Nilai Moral
1. Tanggung Jawab
2. Kesehatan
3. Keteguhan
Fungsi Sosialisasi dan Pendidikan
1. Percaya Diri
2. Keluwesan
3. Kebanggaan
4. Kerajinan
5. Kreatifitas
6. Bertanggung Jawab
7. Bekerja Sama
Fungsi Ekonomi
Nilai Moral
1. Hemat
2. Ketelitian
3. Disiplin
4. Kepedulian
5. Keuletan
Fungsi Pemeliharaan Lingkungan
Nilai Moral
1. Kebersihan
2. Kedisplinan

Kesimpulan yaitu, Pendidikan moral sangat penting dalam kehidupan kita sehari-hari, sehingga di dalam keluarga anak harus diajarkan sejak dini mengenai Moral baik itu di dalam keluarga, masyarakat, sekolah, dan ditempat lainnya
Nama: Yuda Kristian Lumban Raja
NPM: 2213053260

Video 1

Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan manusia disamping kebutuhan akan pangan sandang dan papan pendidikan merupakan upaya yang dilakukan masyarakat untuk mengubah perilaku agar lebih baik dan dapat mengembangkan pengetahuan yang ada moral adalah ajaran yang pelajaran tentang baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan sikap dan kewajiban jadi pendidikan moral adalah suatu proses yang digunakan untuk menanamkan baik dan buruk mengenai perbuatan untuk mencapai kedewasaan pendidikan moral sangat penting untuk anak-anak sekolah dasar karena mereka harus memiliki sikap atau perilaku yang baik di lingkungan sekolah maupun keluarga pendidikan moral juga bertujuan untuk memahami nilai pakarti mampu mengambil keputusan dengan tepat dan membentuk pola perilaku yang bertanggung jawab pendidikan moral ini ditujukan untuk anak sekolah dasar sebagai salah satu pendidikan yang harus diterapkan oleh guru
Penyebab menurunnya moral pada anak terdapat dua penyebabnya yaitu yang pertama ada perlindungan di sekolah dalam era globalisasi saat ini pendidikan moral sangat diutamakan bagi anak sekolah dasar untuk memiliki kompetensi personal dan sosial sehingga bisa menjadi warga negara yang baik saat ini anak sekolah dasar sangat membutuhkan pendidikan moral pada beberapa kasus contohnya itu kandungan di sekolah Hai renungan kerap terjadi di lingkungan sekolah yang dilakukan oleh anak sekolah dasar baik perempuan maupun laki-laki terdapat suatu kelompok yang berisi 4-6 orang atau bahkan lebih perundungan yang dimaksud yaitu dengan menyakiti korban secara fisik maupun sosial secara fisik misalnya dengan melakukan ancaman atau mengejek korban sedangkan secara sosial eh misalkan dengan cara mengecilkan atau mengabaikan korban perlindungan yang dilakukan oleh anak disebabkan kurangnya rasa perhatian dari orang tua lantas anak pun membuat keributan dengan cara merundung teman-temannya agar dapat perhatian dari guru maupun orang tuanya lalu yang kedua yaitu adanya kekerasan secara fisik di keluarga hal ini bisa dilakukan oleh saudara kandungnya di rumah kepada anak tersebut meskipun rumah adalah salah satu tempat yang aman bagi anak ini disebabkan adanya ketidakseimbangan kekuatan dalam keluarga yang mengakibatkan pemukulan oleh saudara kandungnya dalam hal ini kita memerlukan peran orangtua di lingkungan rumah Hai ini peran orang tua dan guru jadi orang tua memiliki peranan penting untuk terbentuknya moral yang baik orangtua juga merupakan model yang penting dalam perkembangan moral anak karena anak meniru tingkah laku orang tuanya yang kedua ada peranan dari guru-guru berperan untuk memperkaya dan memperkokoh kepribadian anak serta membekali mereka dengan nilai-nilai yang dipersiapkan agar menjadi insan yang bertanggung jawab terhadap dirinya masyarakat serta keluarga peran yang harus dilaksanakan oleh guru yaitu dengan menjadikan dirinya sebagai figur yang dapat dipercaya dan berprilaku baik serta memberikan contoh yang baik kepada siswa agar tingkah lakunya sesuai dengan norma yang berlaku di lingkungan sekolah misalnya hadir tepat waktu ketika mengajar halo halo ada penyelesaian terhadap moral anak supaya siswa tidak menyimpang dari tujuannya diperlukan motivator untuk memberikan pelajaran tentang kebaikan agar tujuannya tercapai peranan guru yang dilakukan dengan cara memberikan nasihat setiap harinya agar siswa mengingatnya dan tujuan yang akan dituju pun tidak menyimpang Jadi kesimpulannya upaya dalam mewujudkan nilai-nilai moral melalui pendidikan moral harus diupayakan agar pendidikan moral betul-betul maksimal bukan hanya dari guru tetapi pendidikan moral harus sudah diajarkan sejak dini oleh orangtuanya terlebih anak biasanya mengikuti sikap atau perilaku orangtua yang kadang tidak baik untuk ditiru maka dari itu orangtua adalah peran utama yang harus mencontohkan sikap dan perilaku baik agar anak memiliki sikap yang baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan
Nama: Yuda Kristian Lumban Raja
NPM: 2213053260


Identitas Jurnal
Judul: Jurnal Humanika
Judul Jurnal: PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH
Nama Penulis: Rukiyati
Tahun: 2017
Vol, No: No. 1

Abstrak Jurnal:Pendidikan moral di sekolah perlu dilaksanakan secara bersungguh-sungguh untuk
membangun generasi bangsa yang berkualitas. Walaupun peran utama untuk mendidik
moral anak adalah di tangan orang tua mereka, guru di sekolah juga berperan besar untuk
mewujudkan moral peserta didik yang seharusnya. Keluarga, sekolah, dan masyarakat
bersama-sama bertanggung jawab untuk mendidik anak-anak muda agar bermoral baik
sekaligus pintar secara intelektual sehingga terwujud generasi muda yang unggul. Itulah
tujuan utama pendidikan sebagaimana dinyatakan oleh Aristoteles. Pendidikan moral di
sekolah harus dirancang komprehensif mencakup berbagai aspek, yaitu: pendidik, materi,
metode, dan evaluasi sehingga hasilnya diharapkan akan optimal.

Pendahuluan:Sebagai sebuah mikrosistem,
sekolah diperkirakan mempunyai
pengaruh yang kuat yang dapat dilihat
secara langsung dalam diri subjek didik.
Terlebih lagi di zaman sekarang, ketika
banyak orang tua menaruh harapan
sangat besar terhadap sekolah untuk
menjadikan anak-anaknya pintar dan
baik. Sekolah yang baik merupakan
keniscayaan agar pengaruhnya terhadap
anak menjadi positif. Sekolah
merupakan bentuk pendidikan formal.

Landasan teori:teori
diambil dari hasil pemikiran dan
penelitian para pakar pendidikan moral
seperti Kirschenbaum, Thomas Lickona,
Darmiyati Zuchdi dan Nurul Zuriah
yang kemudian diinterpretasi dan
disintesiskan oleh penulis sehingga
diperoleh kesatuan gagasan tentang teori
pendidikan moral di sekolah.

Tujuan Jurnal:
tujuan utama pendidikan sebagaimana dinyatakan oleh Aristoteles. Pendidikan moral di
sekolah harus dirancang komprehensif mencakup berbagai aspek, yaitu: pendidik, materi,
metode, dan evaluasi sehingga hasilnya diharapkan akan optimal.

Metode Jurnal:Tulisan ini merupakan gabungan
antara teori dan hasil penelitian
lapangan.

Pembahasan:
1. Pendidik Moral di Sekolah
Guru yang baik tentu saja sangat
strategis untuk terbentuknya moral siswa
yang baik pula. Sebagaimana dinyatakan
oleh Henry Giroux (1988: xxxiv)
sekolah berfungsi sebagai ruang publik
yang demokratis. Sekolah sebagai
tempat demokratis yang didedikasikan
untuk membentuk pemberdayaan diri
dan sosial. Dalam arti ini, sekolah adalah
tempat publik bagi peserta didik untuk
dapat belajar pengetahuan dan keahlian
yang dibutuhkan untuk hidup dalam
demokrasi yang sesungguhnya.
2. Materi Pendidikan Moral
Pendidikan moral terhadap diri
sendiri yang penting diberikan kepada
peserta didik berkaitan dengan nilai-
nilai kebersihan diri, kerajinan dalam
belajar/bekerja, keuletan, disiplin waktu.
Pendidikan moral untuk sesama manusia
mencakup nilai-nilai moral sosial seperti
kerjasama, toleransi, respek, berlaku
adil, jujur, rendah hati, tanggung jawab,
dan peduli. Pendidikan moral untuk
hubungan manusia dengan alam semesta
dapat diberikan dengan menguatkan
nilai-nilai keseimbangan alam, menjaga
kelestarian alam, tidak merusak alam,
hemat, dan mendidik untuk
menggunakan kembali barang-barang
bekas (daur ulang) dalam bentuk yang
baru.
3. Metode Pendidikan Moral
Pendidikan moral pada masa
sekarang menghadapi berbagai
tantangan seiring dengan kemajuan
zaman yang ditandai oleh keterbukaan
informasi dan kecanggihan teknologi.
Hal ini tentu berbeda sekali dengan masa
lalu. Di lingkungan masyarakat religius
tradisional, moral diwariskan kepada
generasi berikutnya secara given yaitu
indoktrinasi. Artinya suatu ajaran moral
harus diterima karena memang sejak
dahulu diajarkan demikian. Setelah itu,
ajaran tersebut dilaksanakan. Peran akal
sebatas berupaya memahami alasannya
dan konsekuensinya.
ada metode lain yang
lebih sesuai yaitu inkulkasi atau
penanaman nilai.
a. Inkulkasi nilai
b. Metode keteladanan
c. Metode klarifikasi nilai
d. Metode fasilitasi nilai
4. Evaluasi Pendidikan Moral
Supaya tujuan pendidikan nilai
yang berwujud perilaku yang diharapkan
dapat tercapai, subjek didik harus sudah
memiliki kemampuan berpikir/bernalar
dalam permasalahan nilai/moral sampai
dapat membuat keputusan secara
mandiri dalam menentukan tindakan apa
yang harus dilakukan.
Terkait dengan evaluasi
pendidikan moral, dalam teori
pendidikan Islam juga menitikberatkan
pada evaluasi sikap dan perilaku. Samsu
Nizar (2002: 80) mengatakan bahwa
evaluasi pendidikan Islam secara
keseluruhan lebih ditujukan untuk
mengetahui penguasaan sikap dan
perilaku dari pada penguasaan aspek
kognitif. Penekanan ini bertujuan untuk
mengetahui kemampuan subjek didik
yang meliputi empat hal, yaitu:
a. Sikap dan pengalaman peserta didik
terhadap hubungan pribadinya
dengan Tuhannya;
b. Sikap dan pengalaman peserta didik
terhadap arti hubungan dirinya
dengan masyarakat;
c. Sikap dan pengalaman peserta didik
terhadap arti hubungan
kehidupannya dengan alam
sekitarnya;
d. Sikap dan pandangan peserta didik
terhadap diri sendiri selaku hamba
Allah, anggota masyarakat, serta
khalifah Allah SWT.

Kesimpulan:
pendidikan moral di sekolah penting
dilakukan oleh guru dan segenap
komponen warga sekolah agar tercapai
pendidikan moral yang komprehensif.
Komponen-komponen pendidikan moral
di sekolah yang lain yang tidak kalah
penting adalah cakupan materi, variasi
metode, dan evaluasi yang menyeluruh.Dengan memperhatikan komponen-
komponen tersebut, sekolah dengan guru
sebagai peran utama dapat merancang
pendidikan moral secara lebih
komprehensif sehingga hasilnya dapat
dicapai secara optimal, yaitu
berkembangnya nilai-nilai moral dalam
diri peserta didik sehingga mereka
menjadi generasi muda yang berkualitas
Nama: Yuda Kristian Lumban Raja
NPM: 2213053260

Identitas Jurnal
Nama Jurnal:Jurnal Pendidikan Agama Islam -Ta’lim
Judul Jurnal:PROSES PENDIDIKAN NILAI MORAL
DI LINGKUNGAN KELUARGA SEBAGAI UPAYA
MENGATASI KENAKALAN REMAJA
Nama Penulis: Fahrudin
Tahun Terbit: 2014
Vol, No: Vol. 12 No. 1
Abstrak Jurnal: Agar anak-anak memiliki moral yang baik dan terhindar dari pelanggaran-pelanggaran
moral, maka perlu adanya pembinaan nilai moral sejak dini kepada anak-anak dalam
keluarga. Lingkungan keluarga merupakan tempat di mana anak-anak dibesarkan dan
merupakan lingkungan yang pertama kali dijalanai oleh seorang anak di dalam mengarungi
hidupnya, sehingga apa yang dilihat dan dirasakan oleh anak-anak dalam keluarga akan
dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan jiwa seorang anak.
Pendahuluan: Keluarga merupakan institusi pendidikan utama dan pertama bagi anak. Karena
anak untuk pertama kalinya mengenal pendidikan di lingkungan keluarga, sebelum
mengenal masyarakat yang lebih luas. Di samping itu keluarga dikatakan sebagai
peletak pondasi untuk pendidikan selanjutnya
Landasan teori: Pendidikan yang diterima anak dalam
keluarga inilah yang akan digunakan oleh anak sebagai dasar untuk mengikuti
pendidikan selanjutnya di sekolah (MI.Soelaeman, 1978:23)
Tujuan Jurnal: tujuan yang diharapkan
diperoleh dari pembahasan makalah ini yaitu untuk mengetahui proses pendidikan
nilai moral di lingkungan keluarga agar anak-anak terhindar dari penyimpangan
moral.
Metode Jurnal: -
Pembahasan:
PERANAN KELUARGA BAGI ANAK-ANAK
Keluarga merupakan pendidikan pertama dan utama, pertama karena keluarga
merupakan lingkungan awal sebelum anak itu mengenal luar dan utama karena
keluarga menjadi lingkungan sosial dan emosional dimana hal itu sangat
memberikan kualitas pengalaman sehingga menjadi faktor determinan untuk
pembentukan kepribadian seorang anak.
Menurut M.I Silaeman (1978: 84), fungsi keluarga itu ada delapan jenis, yaitu:
(1) fungsi edukasi, (2) fungsi sosialisasi, (3) fungsi proteksi, (4) fungsi afeksi, (5)
fungsi religius, (6) fungsi ekonomi, (7) fungsi rekreasi, (8) fungsi biologis.
Berdasarkan kepada beberapa fungsi keluarga di atas terlihat bahwa salah satu
fungsi keluarga ialah fungsi pendidikan. Hal ini berarti bahwa orangtua sebagai
pendidik pertama dan utama mempunyai kewajiban dalam memberikan pendidikan
kepada anak-anaknya termasuk pendidikan nilai moral.
PERANAN NILAI MORAL BAGI ANAK-ANAK
Dengan demikian pengertian moral dapat dipahami dengan
mengklasifikasikannya sebagai berikut:
1. Moral sebagai ajaran kesusilaan, berarti segala sesuatu yang berhubungan dengan
tuntutan untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik dan meningalkan perbuatan
jelek yang bertentangan dengan ketentuan yang berlaku dalam suatu masyarakat.
2. Moral sebagai aturan, berarti ketentuan yang digunakan oleh masyarakat untuk
menilai perbuatan seseorang apakah termasuk baik atau sebaliknya buruk.
3. Moral sebagai gejala kejiwaan yang timbul dalam bentuk perbuatan, seperti
berani, jujur, sabar, gairah dan sebagainya Sofya Sauri, 2010: 34).
FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN KEMEROSOTAN
MORAL
1. Kurang tertanamnya nilai-nilai keimanan pada anak-anak.
2. Lingkungan masyarakat yang kurang sehat
3. Pendidikan moral tidak terlaksana menurut mestinya, baik di rumah
tangga, sekolah maupun masyarakat.
4. Suasana rumah tangga yang kurang baik.
5. Diperkenalkannya secara populer obat-obat terlarang dan alat-alat anti
hamil.
6. Banyaknya tulisan-tulisan, gambar-gambar, siaran-siaran, kesenian-
kesenian yang tidak mengindahkan dasar-dasar dan tuntunan moral.
7. Kurang adanya bimbingan untuk mengisi waktu luang (leisure time) dengan
cara yang baik, dan yang membawa kepada pembinaan moral.
8. Tidak ada atau kurangnya markas-markas bimbingan dan penyuluhan bagi
anak-anak dan pemuda-pemuda.
9. Pengaruh westernisasi, yaitu berupa yahudinisasi dan kristenisasi.
PROSES PENDIDIKAN NILAI MORAL UNTUK MENGATASI
KENAKALAN REMAJA DALAM KELUARGA
Keluarga memiliki peranan yang sangat penting dalam pendidikan nilai moral
bagi anak-anaknya, termasuk nilai dan moral dalam beragama. Seperti yang telah
dijelaskan di atas, bahwa keluarga mempunyai fungsi religious, artinya keluarga
berkewajiban memperkenalkan dan mengajak anak dan anggota keluarga lainnya
kepada kehidupan beragama. Untuk melaksanakannya, orang tua sebagai tokoh-
tokoh inti dalam keluarga itu terlebih dulu harus menciptakan iklim religius dalam
keluarga itu, yang dapat dihayati seluruh anggotanya, terutama anak-anaknya.
Agar anak-anak memiliki moral yang baik dan terhindar dari pelanggaran moral
dalam kehidupannya sehari-hari, maka perlu adanya pembinaan agama sejak dini
dalam keluarga.

Kesimpulan:
Lingkungan keluarga sangat besar peranannya dalam pendidikan nilai moral
keagamaan, karena di lingkungan keluargalah anak-anak pertama kali menerima
pendidikan yang dapat mempengaruhi perkembangan anak selanjutnya.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya kemerosotan moral pada
anak, di antaranya:
(1) Kurang tertanamnya nilai-nilai keimanan pada anak-anak,
(2)
lingkungan masyarakat yang kurang baik,
(3) Pendidikan moral tidak berjalan
menurut semestinya, baik di keluarga, sekolah dan masyarakat,
(4) Suasana rumah
tangga yag kurang baik,
(5) Banyak diperkenalkannya obat-obat terlarang dan alat-
alat anti hamil,
(6) Banyak tulisan-tulisan, gambar-gambar, saran-siaran yang tidak
sejalan dengan nilai-nilai moral,
(7) Kurang adanya bimbingan dalam mengisi waktu
luang dengan cara yang baik yang membawa kepada pembinaan nilai moral,
(8)
Kurangnya markas-markas bimbingan dan penyuluhan bagi anak-anak.
Nama: Yuda Kristian Lumban Raja
NPM:2213053260

Judul Jurnal: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Prodi PGSD
FKIP Unsyiah
Judul:PENANAMAN NILAI-NILAI MORAL PADA SISWA DI SD NEGERI
LAMPEUNEURUT
Penulis: Ruslan, Rosma Elly, Nurul Aini

Persoalan nilai-nilai moral, yang dapat dilakukan oleh guru adalah
penanaman nilai-nilai moral. Penelitian ini berupaya mengungkapkan penanaman nilai-nilai moral
pada siswa di SD Negeri Lampeuneurut. bertujuan untuk mengetahui
penanaman nilai-nilai moral pada siswa di SD Negeri Lampeuneurut. Pendekatan yang digunakan
dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan jenis penelitiannya yaitu deskriptif.
Penggumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara dan teknik observasi. Teknik
wawancara adalah dengan cara mewawancarai 10 orang guru kelas. Agar data hasil wawancara
dapat terpecaya, peneliti menggunakan alat bantu perekaman berupa alat tulis dan media elektronik
seperti HP. Selain itu di dukung dengan teknik observasi (pengamatan) yang diterapkan adalah teknik
pengamatan tidak berpartisipasi (non-participant observation). Dalam melakukan observasi
(pengamatan), peneliti bertindak sebagai pengamat penuh tanpa terlibat dalam penanaman nilai-nilai
moral pada siswa. Selanjutnya seluruh data diolah dengan tahapan analisis data kualitatif yaitu
reduksi data, model data (data display), penarikan/verifikasi kesimpulan dan persentase.

Berdasarkan hasil analisis data, temuan peneliti ini dapat dikemukakan sebagai berikut.
1. Guru menanamkan nilai-nilai moral kepada siswa dengan cara menyisipkan 10 nilai moral
yaitu:
nilai religius,
nilai sosialitas,
nilai gender,
nilai keadilan,
nilai demokrasi,
nilai kejujuran,
nilai
kemandirian,
nilai daya juang,
nilai tanggungjawab, dan
nilai penghargaan terhadap lingkungan ke
semua mata pelajaran yang diajarkan.
2. Siswa kebanyakan tidak berbohong kepada guru
karena menanamkan nilai kejujuran.
3. Hubungan siswa dengan teman-temannya pun baik,

4. Untuk memperdalam ilmu agama siswa selain agama disekolah juga belajar di tempat
pengajian dan TPA.

Simpulannya adalah penanaman nilai-nilai moral pada siswa di SD Negeri
Lampeuneurut adalah sebahagian besar sudah baik karena guru sudah menanamkan nilai-nilai moral
kepada siswa walaupun ada beberapa guru yang belum sepenuhnya mengetahui nilai-nilai yang
harus ditanamkan. Kemudian menanamkan nilai-nilai moral kesemua mata pelajaran, memberi
nasehat setiap hari, guru menjadi panutan siswa, melalui lingkungan sekolah dan kerjasama dengan
orang tua. Disamping itu siswa di SD Negeri Lampeuneurut mempunyai tingkah laku yang baik
karena sudah mengetahui beberapa nilai-nilai moral dan memudahkan guru untuk melanjutkannya.