གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Yuda Kristian Lumban Raja

3J 2023 Pendidikan Nilai dan Moral -> Forum Analisis Video 1

Yuda Kristian Lumban Raja གིས-

Yuda Kristian Lumban Raja

2213053260

Analysis dari video di atas adalah sejak awal kita sudah mengorbankan hal kecil demi keuntungan kita, dan kita tak pernah memposisikan diri kita dengan hal tersebut, 

      Banyak hal yang kita korbankan untuk hal yang belum tentu itu benar untuk dikorbankan. Sebagian besar juga banyak orang tertindas hanya karena kita menganggap hal tersebut berlandaskan kemoralan semata, dan tidak memikirkan akibat dari yang kita korbankan

    Nilai kemoralan menjadi jawaban dari akibat yang kita pilih karena nilai moral yang memihak maupun keuntungan kita. 

  The Trolley  Problem menggambarkan sudut pandang yang berbeda dari nilai moral yang kita pahami. Tanpa kita sadari juga kita selalu mengorbankan hal yang kecil atau resiko yang kita dapat, namun banyak yang dirugikan dari pilihan kita tersebut karena kemoralan yang kita pilih

3J 2023 Pendidikan Nilai dan Moral -> Forum Analisis Video

Yuda Kristian Lumban Raja གིས-

Nama: Yuda Kristian Lumban Raja

NPM: 2213053260

1. Pengalaman sila kesatu, Ketuhanan Yang Maha Esa 

a. Percaya dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama  dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. 

b. Hormat menghormati dan bekerjasama antar pemeluk agama dan  penganut-penganut kepercayaan yang berbeda-beda, sehingga terbina  kerukunan hidup. 

c. Saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya. 

d. Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan kepada orang lain. 

2. Pengalaman sila kedua, Kemanusiaan yang adil dan beradap 

a. Mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan persamaan kewajiban anatar sesama manusia. 

b. Saling mencintai sesama manusia. 

c. Mengembangkan sikap tenggang rasa dan tepa-selira. 

d. Tidak semena-mena terhadap orang lain.e. Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

f. Berani membela kebenaran dan keadilan.

3. Pengalaman sila ketiga peraturan Indonesia.

a. Rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara.

b. Cinta tanah air dan bangsa .

c. Bangga sebagai bangsa Indonesia dan bertanah air Indonesia.

d. Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa yang Bhineka tunggal .

4. Pengalaman sila keempat, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.

a. Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat.

b. Tidak memaksakan kehendak pada orang lain.

c. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.

d. Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.

e. Dengan itikat baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah.

f. Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.

g. Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggung-jawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai kebenaran dan keadilan.

5. Pengalaman sila kelima, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

a. Mengembangkan perbuatan-perbuatan yang luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotong-royongan.

b. Bersikap adil.

c. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.

d. Menghormati hak-hak orang lain .

e. Suka memberi pertolongan kepada orang lain.

f. Menjauhi sikap pemerasan terhadap orang lain.

g. Tidak bersifat boros.

h. Tidak bergaya hidup mewah. Witarsa (2021:7)


Rajasa:2007 menyatakan bahwa generasi muda harus mengambangkan karakter nasionalisme melalui tiga proses yaitu yang pertama dengan pembangun karakter atau character builder generasi muda berperan membangun karakter positif bangsa melalui kemauan keras, untuk menjunjung nilai-nilai moral serta menginternalisasikannya pada kehidupan nyata. Kedua adalah pemberdaya karakter atau character enabler generasi muda menjadi role model dari pengembangan karakter bangsa yang positif, dengan berinisiatif membangun kesadaran kolektif dengan kohesivitas tinggi, misalnya menyerukan penyelesaian konflik. Dan yang terakhir adalah perekayasa karakter atau charcter engineer yaitu generasi muda berperan dan berprestasi dalam ilmu pengetahuan dan kebudayaan, serta terlibat dalam proses pembelajaran dalam pengembangan karakter positif bangsa sesuai dengan perkembangan zaman (Ginting, 2017).

Adapun upaya-upaya untuk menanamkan nilai pancasila:

a. Mempunyai satu agama dan tekun terhadap agama tersebut, serta tidak memaksa orang lain untuk masuk ke agamanya.

b. Harus menanamkan jiwa menghargai perbedaan yang ada dari banyaknya suku,ras,agama. Dan menjaga adab, kesopanan.

c. Mencintai tanah air dan turut serta menjaga kesatuan bangsa.

d. Mengandalkan musyawarah mufakat untuk mencapai tujuan bersama.

e. Selalu membantu orang lain yang sedang susah, mengormati hasil musyawarah, serta memperjuangkan adanya keadilan.

  Memang seiring berjalannya waktu nilai pancasila tidak ada yang berubah tetapi mulai luntur karena sikap yang kurang mencintai bangsanya diiringi dengan perkembangan IPTEK. Tetapi sebagai generasi penerus harusnya tetap memfilter serta menyaring semua hal dari luar yang masuk ke dalam bangsanya.

3J 2023 Pendidikan Nilai dan Moral -> Forum Analisis Jurnal-2

Yuda Kristian Lumban Raja གིས-

Nama: Yuda Kristian Lumban Raja

NPM: 2213053260

Indentitas Jurnal

Nama Jurnal: Jurnal Pendidikan Sosiologi Dan Humaniora 

Volume Jurnal: Vol. 1

Nomor Jurnal: No. 1

Jumlah Halaman: 12 Halaman

Tahun Terbit: 2010

Judul Jurnal: MEMBINA NILAI MORAL SOSIAL BUDAYA INDONESIA DI KALANGAN REMAJA

Penulis: H. Wanto Rivaie

Abstrak Jurnal: Dalam suasana kehidupan dewasa ini yang banyak tuntutan, tantangan dan masalah, upaya orang tua membina anak dalam keluarga dengan sentuhan kasih sayang untuk menjadi generasi mendatang yang bertanggung jawab dan berakhlak mulia. Menjadi sesuatu yang langka. Kelangkaan sentuhan orang tua tersebut kini menggejala dengan munculnya berbagai kenakalan remaja, tawuran pelajar, dan penggunaan obat terlarang narkoba dan semacamnya, merupakan pelarian dari suasana mental remaja yang bersifat terminal. Untuk itu upaya pendidikan perlu perlakuan yang menitik beratkan pada aspek afektif dan perilaku yang luhur.

Pendahuluan: Kasih sayang merupakan sifat luhur Tuhan YME. Secara ideal, sifat tersebut seyogyanya melekat pada diri manusia sebagai ciptaan-Nya. Atas dasar asumsi itu, muncul persoalan, bahwa dalam suasana kehidupan dewasa ini yang banyak tuntutan, tantangan dan masalah, upaya orang tua membina anak dalam keluarga dengan sentuhan kasih sayang untuk menjadi generasi mendatang yang bertanggung jawab dan berakhlaq mulia.

 Dalam membina keluarga, baik hubungan antara suami istri maupun antara orang tua dengan anak, ada rujukan yang kuat dengan menggunakan ayat Qur’an surat Ar-Rum (30): 21, yang artinya “... dan di antara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi kaum yang berpikir Surat ke dua Al Isra (17): 23-25: yang artinya“.... dan hendaklah engkau merendah diri kepada keduanya karena belas kasihan dan kasih sayangmu, dan doakanlah untuk mereka dengan berkata: wahai Tuhanku cucurilah rahmat kepada mereka berdua sebagaimana mereka telah mencurahkan kasih sayangnya memelihara dan mendidikku semasa kecil”. (Sofyan Sauri, 2008, 96-97).

Landasan Teori: Generasi yang bertanggung jawab dan berakhlaq mulia adalah generasi yang kelak mampu mempertanggungjawabkan perbuatan,tindakan dan perilaku sekecil apapun,harus dapat dipertanggungjawabkan baik terhadap Tuhan, dirinya sendiri dan kepada masyarakat luas. Untuk itu tanggung jawab perlu ditanamkan sejak dini sampai dengan akhir kehidupannya (Nursid Sumaatmadja, 2007, 40-44; UU. Sisdiknas, 2003, Bab II, pasal 3, hal 6; Zaim Elmubarok, 2008, 159-160)

Tujuan Jurnal: Tanggung jawab dan akhlaq mulia akan dapat diwujudkan manakala, sejak dini kepada generasi muda sudah ditanamkan nilai-nilai keimanan dan disertai kegiatan ibadah dan muamallah yang terus menerus dan konsisten disertai keteladanan orang tua dan para pemimpin/tokoh masyarakat yang ada disekitar kita, masyarakat dan bangsa Indonesia ini, agar kelak tujuan pendidikan yang telah dirumuskan dalam UU Sisdiknas 2003 dapat tercapai dengan baik tanpa upaya tersebut maka pembinaan generasi muda yang bertanggung jawab dan akhlaq mulia hanya sebagai buah bibir dan isapan jempol belaka

Metode: Groundet Theory

Hasil dan pembahasan: Pembentukan nilai moral sosial budaya Indonesia di kalangan anak-anak dan remaja merupakan tanggungjawab orang tua, masyarakat dan pemerintah secara bersinergis. Kerjasama yang baik antara ketiga lingkungan pendidikan yang oleh KiHajar Dewantoro (1964) disebut dengan Tri Pusat Pendidikan pada dasarnya sudah dikenal seusia kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Dalam realitas kehidupan saat ini terlihat ketiganya belum melakukan sinergitas yang optimal, sehingga di berbagai lingkungan pendidikan seringkali terjadi penyimpangan terhadap nilai moral dan norma yang tidak sesuai dengan kondisi sosial budaya masyarakat Indonesia. Ke depan ke tiga lingkungan pendidikan tersebut perlu meningkatkan kerjasama yang kuat, koordinasi yang sistematis, dan saling bahu-membahu dalam bingkai nilai kekeluargaan yang sesuai dengan nilai-nilai agama yang suci, sebagai anak bangsa yang merindukan kembali kokohnya jati diri bangsa ini, menjadi bangsa yang cerdas otaknya, lembut hatinya, dan terampil tangannya sehingga bangsa ini menjadi bangsa yang maju yang bernilai, bermoral, dan berbudaya Indonesia yang diRidhai Tuhan Yang Maha Esa. 

Kesimpulan: Semua upaya–upaya internalisasi nilai-nilai Pancasila yang diuraikan di atas akan lebih berhasil dan berdaya guna dan optimal manakala semua upaya

3J 2023 Pendidikan Nilai dan Moral -> Forum Analisis Jurnal-1

Yuda Kristian Lumban Raja གིས-

Mama: Yuda Kristian Lumban Raja

NPM: 2213053160

Indentitas Jurnal

Nama Jurnal: JURNAL PEMIMPIN - PENGABDIAN MASYARAKAT ILMU PENDIDIKAN

Volume Jurnal: Vol 02

Nomor Jurnal:  No 01

Jumlah Halaman: Hal 13 - Hal 17

Tahun Terbit: 2022

Judul Jurnal: PENERAPAN NILAI MORAL PANCASILA DALAM MEWUJUDKAN GENERASI ANTI KORUPSI DI SD NEGERI OSILOA KUPANG TENGAH!

Penulis: Asti Yunita Benu, Agnes Maria Diana Rafael, Imanuel Baok, Intan Yunita Tungga, Maria M Nina Niron, Niski Astria Ndolu, Febiyanti P Leo

Abstrak Jurnal: Pendidikan Moral Pancasila bertujuan untuk menumbuhkembangkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, serta menjadi standar baik atau buruknya perbuatan manusia. Seiring dengan perkembangan zaman, generasi muda rentan terhadap nilai moral pancasiala, ditambah dengan kemajuan IPTEK sehingga menimbulkan adanya korupsi. Pendidikan moral pancasila sangatlah penting, dengan adanya metode sosialisasi yang diterapkan bagi anak sekolah dasar diharapkan dapat menumbuhkan nilai-nilai moral pancasila yang ditanam sejak dini. Dengan menanamkan nilai moral sejak dini dapat mencegah ajakan/dorongan negatif untuk melalukan korupsi sejak dini. Penanaman nilai moral pancasila kepada peserta didik dapat membangun dan membekali peserta didik sebagai generasi emas dalam mewujudkan budaya anti korupsi sejak dini.

Pendahuluan: Nilai Moral pancasila adalah suatu pedoman bagi masyarakat untuk bertindak hidup sebagaimana telah diatur dalam pancasila atau ideologi Indonesia, dengan kata lain moral pancasila adalah sikap bermasyarakat yang baik dimana harus dilakukan oleh masyarakat. Pendidikan Moral Pancasila merupakan pendidikan yang berupaya untuk menumbuhkembangkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Pengajarannya menitik beratkan pada penghayatan dan pengalaman butir-butir Pancasila (36 butir Pancasila) sebagaimana termuat dalam Tap MPR RI No. II/MPR/1978 tentang pedoman penghayatan dan pengalaman Pancasila atau Eka Prasetya Pancarya.

Landasan Teori: Pengertian moral, menurut Suseno (1998) adalah ukuran baik-buruknya seseorang, baik sebagai pribadi maupun sebagai warga masyarakat, dan warga negara.Sedangkan menurut Ouska dan Whellan (1997), moral adalah prinsip baik-buruk yang ada dan melekat dalam diri individu/seseorang. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pengertian moral adalah suatu tuntutan perilaku yang baik yang dimiliki individu sebagai moralitas, yang tercermin dalam pemikiran/konsep, sikap, dan tingkah laku

Tujuan Jurnal: Pendidikan Moral Pancasila bertujuan untuk menumbuhkembangkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, serta menjadi standar baik atau buruknya perbuatan manusia. Seiring dengan perkembangan zaman, generasi muda rentan terhadap nilai moral Pancasila, ditambah dengan kemajuan IPTEK sehingga menimbulkan adanya korupsi. Pendidikan moral pancasila sangatlah penting, dengan adanya metode sosialisasi yang diterapkan bagi anak sekolah dasar diharapkan dapat menumbuhkan nilai-nilai moral pancasila yang ditanam sejak dini. 

Metode: Metode yang digunakan adalah sosialisasi kepada siswa kelas III-V di SD Negeri Osiloa, tentang menanamkan sikap dan nilai kejujuran, nilai kedisiplinan, nilai tanggung jawab serta nilai keadilan.

Hasil dan pembahasan: SD Negeri Osiloa Kupang Tengah merupakan salah satu sekolah yang siswa kelas VA berjumlah 23 orang siswa, anggota kelompok memasuki kelas VA untuk memberikan materi tentang menanamkan sikap dan nilai kejujuran, nilai kedisiplinan, nilai tanggung jawab serta nilai keadilan . Tim mulai membagikan media pada siswa di kelas VA kemudian tim memberikan materi kepada siswa tersebut. Tujuan dari Penerapan Nilai Moral Pancasila Sejak Dini Dalam Mewujudkan Generasi Anti Korupsi di SD Negeri Osiloa Kupang Tengah ialah membangun dan membekali peserta didik sebagai generasi emas dengan jiwa Pancasila yang baik guna menghadapi dinamika perubahan, menembangkan pendidikan nasional yang meletakan pendidikan moral Pancasila sebagai jiwa utama dalam penyelenggaraan pendidikan bagi peserta didik dengan dukungan keterlibatan publik yang di lakukan melalui pendidikan jalur formal, non formal dan informal, merevitalisasi dan memperkuat potensi pendidik, tenaga pendidikan, peserta didik ,masyarakat dan lingkungan keluarga. 

Kesimpulan: Dari sosialisasi penerapan nilai moral pancasila dalam mewujudkan generasi anti korupsi di SD Negeri Osiloa Kupang Tengah, dapat disimpulkan bahwa dengan menanamkan nilai moral sejak dini dapat mencegah ajakan/dorongan negatif untuk melalukan korupsi sejak dini. Penanaman nilai moral pancasila kepada peserta didik dapat membangun dan membekali peserta didik sebagai generasi emas dalam mewujudkan budaya anti korupsi sejak din

Nama: Yuda Kristian Lumban Raja

Npm: 2213053260

Seberapa pentingnya pendidikan nilai moral bagi generasi bangsa Indonesia? 

Pendidikan moral sangat perlu bagi manusia, karena melalui pendidikan, perkembangan moral diharapkan mampu berjalan dengan baik, serasi dan sesuai dengan norma demi harkat dan martabat manusia itu sendiri.

Pendidikan moral telah ada dalam setiap jenjang pendidikan. Di sekolah dasar perkembangan pendidikan moral tidak pernah beranjak dari nilai-nilai luhur yang ada dalam tatanan moral bangsa Indonesia yang terpapar jelas dalam pancasila sebagai dasar Negara. Pendidikan moral bertujuan sangat mulia yaitu untuk membentuk anak negeri sebagai individu yang beragama, memiliki rasa kemanusiaan/tenggang rasa demi persatuan menjunjung tinggi nilai-nilai musyawarah untuk kerakyatan serta keadilan hakiki.

berikan hambatan atau tantangan dalam menegakkan nilai dan moral tersebut dikalangan generasi muda! 

1. Kemajuan Teknologi

  Kemajuan teknologi yang sangat pesat membuat generasi bangsa lebih fokus terhadap dunia maya, yang dapat menimbulkan Cyber bully, Menonton konten yang tak pantas, dll. Sehingga penerus bangsa akan sulit untuk keluar dari dunia tersebut

2. Kurangnya perhatian dari orang tua

Kurangnya perhatian orang tua akan membuat anak tersebut merasa tidak diperhatikan, sehingga mereka bebas menjelajahi dunia internet tanpa ada batasan dari orang tua

3. Lingkungan yang kurang mendukung

Lingkungan sangat penting dalam membentuk moral penerus bangsa, apabila akan masuk kedalam lingkungan yang buruk akan membuat penerus bangsa kehilangan moral nya

Dampak Positif dan Negatif dari  Penerapan Pendidikan Moral bagi Generasi Bangsa

Dampak positif:

- Menghargai orang lain

Orang-orang dengan kepribadian yang kuat dapat lebih menghormati satu sama lain. Bahkan jika seseorang gagal untuk menghormati satu sama lain, ada kehadiran pembangunan karakter yang intens.

- Membangun bangsa yang jujur ​​dan lebih baik untuk generasi penerus

Karakter yang kuat membuat seseorang menjadi kokoh dan stabil. Hal ini sangat penting bagi bangsa dan kehidupan bangsa. Karena keputusan ini melibatkan integritas pribadi yang tinggi.Integritas ini penting dibentuk dengan pendidikan karakter agar bisa tinggi. Dengan begitu, seseorang bisa menjadi bangsa yang baik bagi generasi penerus dan menjaga negara beserta nilai-nilai integritasnya.

- Melatih kecerdasan dan moralitas siswaM

anfaat pendidikan karakter sejak dini selain dapat membentuk dan memperkuat kepribadian diri sendiri, juga membantu meningkatkan dan melatih peserta pendidikan karakter secara mental dan moral, mencegah kegilaan orang-orang yang berakhlak dan berakhlak buruk.

- Memperbaiki keadaan pikiran dan moral individu dapat menciptakan suasana yang kondusif dan mencegah perpecahan.


Dampak negatif:

- Apabila tidak diimbangi dengan contoh atau role model yang bagus akan percuma, contohnya seorang murid dibekali pendidikan karakter, namun guru atau pendidik disekitar lingkungan tidak memberikan contoh yang serupa atau malah sebaliknya maka akan percuma pendidikan karakter tersebut.

- Apabila tidak ada lingkungan yang mendukung pendidikan karakter hanya sebatas teori saja, yang hanya sebatas masuk kuping kanan keluar kuping kiri.

- Kurang tepatnya dalam menyampaikan materi pendidikan karakter pada siswa akan menghasilkan usaha yang sia-sia, karena tiap tingkatan harusnya disampaikan dengan cara penyampaian yang berbeda-beda (tidak hanya sebatas ceramah saja namun juga praktik atau pelatihan).

- Kurang kompetennya tenaga pendidik dalam menguasai program atau metode pendidikan karakter dapat membuat anak atau siswa semakin jengkel terhadap gurunya.