Kiriman dibuat oleh Annisa Rintiara 2213053050

NAMA : ANNISA RINTIARA
NPM :2213053050

Perbedaan Pendidikan Dasar Jepang dan Indonesia
Salah satu sistem pendidikan terbaik di dunia ialah di negri sakura, Jepang.
1. Kebersihan sejak dini (kurikulum di jepang mengharuskan semua siswa bertanggunng jawab atas kebersihan kelas mereka sendiri, hal ini agar para siswa berbagi tanggung jawab dan peka terhadap lingkungan yang kotor, kalau di Indonesia kebersihan dini tidak masuk ke dalam kurikulum)
2. Makan Bareng ( kegiatan makan siang bersama di jepang dilakukan untuk membangun hubungan positif antara siswa dengan siswa dan juga siswa dengan guru)
3. Mata Pelajaran sedikit ( Indonesia terkenal dengan jumlah mata pelajaran yang sangat banyak, kalau di jepang mata pelajarannya sedikit dan tidak dilakukan berulang dalam seminggu)
4. Pendidikan Karakter ( kalau di jepang tidak ada ujian di 3 awal pembelajaran, tetapi di fokuskan untuk belajar pendidikan karakter seperti sopan santun, tolong menolong,hal ini dilakukan karena pemerintah jepang percaya kalau pendidikan karakter inilah yang akan membantu pendidikan mereka nantinya.)
5. Membaca ( minat membaca Indonesia sangat rendah, kalau di jepang memiliki minat baca yang tinggi)
6. Perlengkapan sekolah ( perlengkapan di jepang sangat diperhatikan mulai dari tas, sepatu dll sudah di siapkan oleh pemerintah)
7. Seragam sekolah ( seragam sekolah di Indonesia lebih ribet, kalau di jepang hanya memiliki 1seragam)
Namun terdapat kekurangan dalam pembelajaran di jepang, yaitu tekanan sistem pembelajaran yang sangat ngeri, sehingga tingkat bunuh diri di jepang sangat tinggi
NAMA : ANNISA RINTIARA
NPM : 2213053050

Divideo memperlihatkan bahwasanya siswa SD NEGERI GLAK kabupaten sikang membutuhkan perhatian lebih sebab lokasinya terpencil dan harus melakukan pembelajaran diteras kelas karena tidak ada ruang kelas yang layak mereka tempati. SD NEGERI GLAK hanya memiliki 6 ruangan, 5 ruang kelas 1 kantor dan ruang guru, tidak terdapat perpustakan. Namun hal tersebut tidak membuat siswa malas mereka tetap semangat bersekolah walaupun harus menempuh jarak 2km guna sampai ke sekolah. Pada masa covid SD NEGERI GLAK tidak dapat menerapkan pembelajaran daring karena tidak terdapat jaringan. Lalu, pada saat musim hujan siswa tidak bisa belajar, saat panas mereka bertenduh di bawah pohon. Dengan kondisi ini sekolah berharap pemerintah dapat membuka mata dan memenuhi fasilitas sekolah yang dibutuhkan.
NAMA : ANNISA RINTIARA
NPM : 2213053050

Sepenggal Cerita Pengajar Muda Di Pelosok Kalimantan
Martencis Siregar, pengajar mua dari Indonesia Mengajar yang di tempatkan di desa Tanjung Matol, Kalimantan Utara. Beliau sempat menjadi relavan peduli HIV AIDS di papua. Martencis mengajar anak anak kelas 1 sd dan menjadi guru les kelas 6 sd. Anak- anak di Tanjung Matol masih sedikit yang berminat melanjutkan pendidikan setelah Sekolah menyelesaikan pendidikan Dasar karena orang tua di desa tersebut masih kurang sadar akan pentingnya pendidikan. Banyak anak anak perempuan yang menikah di usia dini di sekitaran umur 12 tahun. Kurangnya perhatian orang tua kepada anak pun masih menjadi persoalan di desa Tanjung Motal. Membuat orang tua sadar akan pentingnya pendidikan masih menjadi pekerjaan yang harus di selesaikan. Kelas 1 menjadi langkah awal untuk menempuh pendidikan panjang karena TK dan PAUD belum masuk di desa Tanjung Matol. Martencis selalu menekankan kepada anak-anak bahwa belajar itu bisa dari mana saja dan dimana saja. Untuk menumbuhkan semangat belajar anak-anak di desa Tanjung Matol ini diberikannya motivasi, anak-anak yang berprestasi diberikan reward. Memberikan hadiah sekedar jalan jalan keluar dari esa Matol memberikan wawasan baru bagi anak anak Matol terutama soal cerita dunia luar. Warga desa Matol mencari makan menggukan cara berburu untuk bertahan hidup.Terdapat seorang pemudi bernama Loly, gadis berusia 18 tahun yang memiliki ketertarikan pada bidang pendidikan di desa Matol dan ialah yang juga membantu Martencis mengajar anak anak di Sekolah Dasar. Tidak hanya Loly, tetapi juga guru-guru yang penuh semangat . Bersama orang-orang hebat seperti mereka kelak masa depan anak-anak desa Matol dapat terukir. Berada di tapal batas negara, namun cita cita anak desa Matol melintasi pelosok negara
NAMA : ANNISA RINTIARA
NPM : 2213053050

A. Peranan Keluarga Bagi Anak-Anak

Keluarga merupakan pendidikan pertama dan utama, pertama karena keluarga merupakan lingkungan awal sebelum anak itu mengenal luar dan utama karena keluarga menjadi lingkungan sosial dan emosional dimana hal itu sangat memberikan kualitas pengalaman sehingga menjadi faktor determinan untuk pembentukan kepribadian seorang anak.
Menurut M.I Silaeman (1978: 84), fungsi keluarga itu ada delapan jenis, yaitu:
(1) fungsi edukasi, (2) fungsi sosialisasi, (3) fungsi proteksi, (4) fungsi afeksi, (5) fungsi religius, (6) fungsi ekonomi, (7) fungsi rekreasi, (8) fungsi biologis.
Berdasarkan kepada beberapa fungsi keluarga di atas terlihat bahwa salah satu fungsi keluarga ialah fungsi pendidikan. Hal ini berarti bahwa orangtua sebagai pendidik pertama dan utama mempunyai kewajiban dalam memberikan pendidikan kepada anak-anaknya termasuk pendidikan nilai moral.

B. PERANAN NILAI MORAL BAGI ANAK-ANAK

Moral sangat penting bagi tiap-tiap orang, tiap bangsa. Karena pentingnya moral tersebut ada yang mengungkapkan bahwa ukuran baik buruknya suatu bangsa tergantung kepada moral bangsa tersebut. Apabila bangsa tersebut moralnya hancur, maka akan hancurlah bangsa tersebut bersama moralnya.
Moral sangat penting bagi anak-anak, masyarakat, bangsa dan ummat. Kalau moral rusak, ketenteraman dan kehormatan bangsa itu akan hilang. Oleh karena itu, untuk memelihara kelangsungan hidup sebagai bangsa yang terhormat, maka perlu sekali memperhatikan pendidikan moral, baik dalam keluarga, sekolah maupun masyarakat.

C. FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN KEMEROSOTAN MORAL

Ada beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya kemerosotan moral pada anak, di antaranya
1) Kurang tertanamnya nilai-nilai keimanan pada anak-anak
2) lingkungan masyarakat yang kurang baik
3) Pendidikan moral tidak berjalan menurut semestinya, baik di keluarga, sekolah dan masyarakat
4) Suasana rumah tangga yag kurang baik
5) Banyak diperkenalkannya obat-obat terlarang dan alat- alat anti hamil
6) Banyak tulisan-tulisan, gambar-gambar, saran-siaran yang tidak sejalan dengan nilai-nilai moral
7) Kurang adanya bimbingan dalam mengisi waktu luang dengan cara yang baik yang membawa kepada pembinaan nilai moral
8) Kurangnya markas-markas bimbingan da penyuluhan bagi anak-anak.

D. PROSES PENDIDIKAN NILAI MORAL UNTUK MENGATASI KENAKALAN REMAJA DALAM KELUARGA

Keluarga memiliki peranan yang sangat penting dalam pendidikan nilai moral bagi anak-anaknya, termasuk nilai dan moral dalam beragama. Seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa keluarga mempunyai fungsi religious, artinya keluarga berkewajiban memperkenalkan dan mengajak anak dan anggota keluarga lainnya kepada kehidupan beragama. Untuk melaksanakannya, orang tua sebagai tokoh- tokoh inti dalam keluarga itu terlebih dulu harus menciptakan iklim religius dalam keluarga itu, yang dapat dihayati seluruh anggotanya, terutama anak-anaknya.
Pembinaan agama yang dapat ditanamkan kepada anak-anak adalah sebagai berikut:

1) Penanaman pendidikan keimanan sejak dini kepada anak-anak
2) Menanamkan pendidikan moral kepada anak-anak
3) Menciptakan suasana rumah tangga yang harmonis
NAMA : ANNISA RINTIARA
NPM : 2213053050

Pendidikan moral di sekolah perlu dilaksanakan secara bersungguh-sungguh untuk membangun generasi bangsa yang berkualitas. Walaupun peran utama untuk mendidik moral anak adalah di tangan orang tua mereka, guru di sekolah juga berperan besar untuk mewujudkan moral peserta didik yang seharusnya. Keluarga, sekolah, dan masyarakat bersama-sama bertanggung jawab untuk mendidik anak-anak muda agar bermoral baik sekaligus pintar secara intelektual sehingga terwujud generasi muda yang unggul. Itulah tujuan utama pendidikan sebagaimana dinyatakan oleh Aristoteles. Pendidikan moral di sekolah harus dirancang komprehensif mencakup berbagai aspek, yaitu: pendidik, materi, metode, dan evaluasi sehingga hasilnya diharapkan akan optimal.

1. Pendidik Moral di Sekolah
Sekolah adalah tempat publik bagi peserta didik untuk dapat belajar pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan untuk hidup dalam demokrasi yang sesungguhnya. Sekolah bukan sebagai perluasan tempat kerja atau sebagai lembaga garis depan dalam pertempuran pasar internasional dan kompetisi asing, sekolah sebagai ruang publik yang demokratis dibangun untuk membentuk siswa dapat mengajukan pertanyaan kritis, menghargai dialog yang bermakna dan menjadi agensi kemanusiaan. Oleh karena guru adalah ujung tombak untuk mewujudkan moral yang baik dalam diri peserta didik, maka guru terlebih dahulu harus bermoral baik pula. Dengan demikian, pendidikan moral yang dilaksanakan oleh guru akan lebih mudah diterima dan diteladani oleh para peserta didiknya.

2. Materi Pendidikan Moral
Pada intinya materi pendidikan moral mencakup ajaran dan pengalaman belajar untuk menjadi orang bermoral dalam kaitan dengan diri sendiri, moral terhadap sesama manusia dan alam semesta serta moral terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Zuriah, 2010).

3. Metode Pendidikan Moral
a) Inkulkasi nilai
b) Metode keteladanan
c) Metode klarifikasi nilai
d) Metode fasilitasi nilai
e) Metode keterampilan nilai moral

4. Evaluasi Pendidikan Moral
Evaluasi dilakukan untuk mengetahui ketercapaian tujuan. Tujuan pendidikan nilai meliputi tiga kawasan, yakni penalaran nilai/moral, perasaan nilai/moral dan perilaku nilai/moral. Maka, evaluasi pendidikan nilai juga mencakup tiga ranah tersebut. berupa evaluasi penalaran moral, evaluasi karakteristik afektif, dan evaluasi perilaku (Darmiyati, 2009: 51).
Cara mengevaluasi capaian belajar dalam ranah afektif dapat dilakukan dengan mengukur afek atau perasaan seseorang secara tidak langsung, yaitu dengan menafsirkan ada atau tidaknya afek positif (atau negatif) yang muncul dan intensitas kemunculan afek dari tindakan atau pendapat seseorang.