Kiriman dibuat oleh RIRI OKTAVIA ERLINA 2213053098

Nama : Riri Oktavia Erlina
NPM : 2213053098

Analisis Video 3
"Perbedaan Pendidikan Dasar Jepang dan Indonesia"

Pendidikan memang merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Maka dari itu, dunia pendidikan masih menjadi perhatian untuk pemerintah disemua negara. Setiap negara pasti mempunyai perbedaan, mulai dari kebudayaan, ekonomi, penduduk sampai watak masyarakatnya pasti berbeda. Nah karna itulah, pasti sistem pendidikan ditiap negara ikut berbeda.

Salah satu sistem pendidikan terbaik didunia ada di negri sakura, Jepang, sebagaimana kita tahu bahwa pendidikan di Jepang sangat baik.

Perbedaan pendidikan dasar Jepang dan Indonesia
1. Kebersihan Sejak Dini.
Indonesia merupakan salah satu negara, yang paling sering menyampah di dunia. Terjadinya kebiasaan menyampah karena kebersihan dan pengelolaan sampah yang baik yang tidak diajarkan didalam kurikulum pendidikan kita. Hal ini sangat berbeda dengan negara Jepang. Kurikulum Jepang mengharuskan seluruh siswa bertanggung jawab atas kebersihan kelas mereka sendiri, maka dari itu tidak ada petugas kebersihan sekolah disana. Hal ini, dilakukan agar semua siswa bisa bekerja sama dan berbagi tanggung jawab dan peka dengan kondisi lingkungan yang kotor.

2. Makan Bareng.
Dalam pendidikan Jepang, pengelolaan proses makanan pun sangat diperhatikan. Pendidikan Jepang mengatur makanan siswanya. Mulai dari menu, gizi dan cara mereka makan diperhatikan. Makan siang di Jepang akan dilakukan bersama-sama dan juga didampingi guru. Makan bersama ini dilakukan untuk membangun hubungan yang positif antara siswa dan juga siswa dengan guru. Sangat berbeda dengan sekolah di Indonesia yang justru malah banyak makanan yang berwarna-warni.

3. Mata Pelajaran Sedikit.
Indonesia terkenal dengan jumlah mata pelajaran yang banyak. Berbeda dengan pendidikan dasar di Jepang, mata pelajaran disana sedikit dan hanya di ajarkan di hari tertentu saja, jadi tidak ada mata pelajaran yang mengulang dalam seminggu.

4. Pendidikan Karakter.
Pendidikan di Indoensia menerapkan berbagai ujian, seperti ujian tertulis sebagai salah satu faktor dalam kenaikan kelas. Hal ini sangat berbeda dengan pendidikan di Jepang, mereka tidak menerapkam ujian seperti itu untuk penaikan kelas. Pada 3 tahun pertama mereka akan diberikan pengajaran seperti sopan santun, tolong menolong, bersikap dipublik dan bersikap karakter lainnya. Hal ini dilakukan karena pihak pemerintah Jepang percaya, kalau pendidikam karakter akan menjadi dasar yang baik bagi para siswa dan membantu pendidikan mereka nantinya.

5. Membaca.
Indonesia berada di urutan 60 dari 61 negara minat baca. Minat baca di Indonesia sangat rendah, hal ini terjadi karena orang-orang Indonesia jarang ataupun malas membaca buku saat di sekolah. Sedangkan di Jepang, mereka menerapkan untuk selalu membaca selama 10 menit sebelum pembelajaran.

6. Perlengkapan Sekolah.
Di Jepang, tidak ada perbedaan tas, sepatu dan lain lain, hal ini sangat berbeda dengan di Indonesia. Persamaan tersebut diadakan agar para siswa tidak ada yang minder antara satu sama lain.

7. Seragam Sekolah.
Di Jepang dan di Indonesia, soal seragam pasti tetap sama-sama diatur. Tetapi, jika dibandingkan dengan Jepang, seragam di Indonesia lebih ribet dibandingkan dengan di Jepang. Kalau di Jepang, hanya memiliki satu seragam sekolah, sedangkan di Indonesia memiliki kurang lebih 3 seragam sekolah sehingga dapat dikatakan ribet.

Meskipun sistem pendidikan di Jepang banyak kelebihan, akan tetapi pendidikan di Jepang juga mempunyai minus, yaitu adanya tekanan belajar, bahkan kasus bunuh diri di Jepang salah satu yang terbanyak di dunia.
Nama : Riri Oktavia Erlina
NPM : 2213053098

Analisis Video 2
"Potret Pendidikan di Dusun Terpencil"

Para siswa SDN Glak membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah. Pasalnya, sebuah sekolah yang terletak didusun terpencil tersebut harus terpaksa melaksanakan kegiatan belajar mengajar di teras kelas. Teras kelas ini dipakai karna tidak adanya ruang kelas. Namun, hal tersebut tidak menghalangi semangat mereka dalam sekolah, meskipun mereka harus berjalan kaki sejauh kurang lebih 2km. Ketika covid-19 kemarin, dimana pemerintah mengkampanyekan bahwa pembelajaran diadakan secara daring, sekolah tersebut tidak mampu melaksanakannya, karena sekolah ini belum ada jaringan telekomunikasi yang baik, karena itulah pihak sekolah terpaksa tetap harus melaksanakan pembelajaran di sekolah.

Bahkan, jika musim hujanpun siswa yang belajar di teras tidak bisa sekolah. Pihak sekolah pun berharap pemerintah membuka mata, dan menyediakan fasilitas yang dibutuhkan.

Dalam hal ini, maka peran pemerintahlah yang sangat berpengaruh, seperti pemberian dan penyediaan fasilitas sekolah, agar anak-anak dapat belajar dengan baik dan lancar.
Nama : Riri Oktavia Erlina
Npm : 2213053098

Analisis Video 1
"Sepenggal Cerita Pengajar Muda di Pelosok Kalimantan - Lentera Indonesia"

Menurut analisis saya kesadaran penduduk Tanjung Matol masih sangat minim akan pentingnya suatu pendidikan bagi anak-anaknya. Seperti halnya dimana pernikahan anak perempuan dibawah umur merupakan hal lumrah terjadi di desa tersebut. Banyak faktor yang mempengaruhi akan menurunnya kesadaran akan pentingnya suatu pendidikan bagi anak-anak desa tersebut yaitu faktor dari suatu adat kebiasaan ataupun tradisi, memiliki pemikiran yang masih tradisional, akses kota yang jauh untuk menempuh pendidikan, tidak adanya akses informasi dan komunikasi bagi masyarakat untuk menambah pengetahuan akan pentingnya suatu pendidikan. Oleh karena itu para pendidik disana merasa bertanggung jawab dan memiliki peran penting untuk memberikan kesadaran akan pentingnya suatu pendidikan terutama bagi masa depan anak bangsa baik pria maupun wanita.
Pendidik yang mengajar disana tentunya harus memiliki kemampuan untuk dapat memberikan pembelajaran menggunakan metode-metode yang kreatif walaupun dengan fasilitas yang terbatas, hal ini dikarenakan di desa tersebut tidak adanya pendidikan TK ataupun paud sehigga kelas 1 SD merupakan kelas yang memiliki perjalanan yang begitu panjang bagi pendidik untuk memulai dan mengajarkan pengetahuan akan ilmu pengetahuan. Diharapkan dengan menggunakan metode yang kreatif ini dapat memberikan motivasi, semanagat dan rasa senang bagi para peserta didik untuk terus mengikuti kegiatan pembelajaran dengan penuh rasa semangat tentunya.
Dari hal tersebut dapat kita simpulkan jika seorang pendidik memiliki pengaruh dan peran penting dalam membangun keasadaran akan pentingnya pendidikan baik bagi peserta didik maupun bagi pandangan orang tua terhadap pendidikan.
Nama : Riri Oktavia Erlina
NPM : 2213053098

"Perbedaan kriteria nilai hardskill dan kriteria softskill"

Perbedaan mendasar antara soft skill dan hard skill terletak pada bagaimana orang mendapatkan dan menggunakannya pada pekerjaan. Hard skill biasanya didapatkan melalui edukasi atau pelatihan spesifik. Seperti kompetensi dalam mengoperasikan mesin, dan suatu software. Sedangkan soft skill kepribadian yang selalu kita kembangkan. Soft skill mungkin bisa dipelajari, namun tidak dengan cara belajar seperti di bangku kuliah, namun dengan cara lebih banyak berinteraksi dengan orang lain serta melatih kepekaan terhadap lingkungan. Contoh soft skill itu seperti bagaimana kita mengatur waktu,berkomunikasi dengan orang lain, dan berfikir kritis.
Nama : Riri Oktavia Erlina
NPM : 2213053098

Analisis Jurnal 2

Identitas jurnal
Judul : PROSES PENDIDIKAN NILAI MORAL DI LINGKUNGAN KELUARGA SEBAGAI UPAYA MENGATASI KENAKALAN REMAJA
Nama Penulis : Fahrudin

Keluarga merupakan institusi pendidikan utama dan pertama bagi anak. Karena Anak untuk pertama kalinya mengenal pendidikan di lingkungan keluarga, sebelum mengenal masyarakat yang lebih luas. Di samping itu keluarga dikatakan sebagai peletak pondasi untuk pendidikan selanjutnya. Pendidikan yang diterima anak dalam keluarga inilah yang akan digunakan oleh anak sebagai dasar untuk mengikuti pendidikan selanjutnya di sekolah (MI.Soelaeman, 1978:23). Orang tua memegang peranan yang sangat penting dalam mendidik anak-anaknya. Baik buruknya anak anak di masa yang akan datang banyak ditentukan oleh pendidikan dan bimbingan orang tuanya. Karena, di dalam keluarga itulah anak-anak pertama kali memperoleh pendidikan sebelum pendidikan-pendidikan yang lain.

PERANAN KELUARGA BAGI ANAK-ANAK.
Keluarga secara etimologis berasal dari rangkaian kata “kawula” dan “warga”.Kawula artinya abdi yakni hamba sedangkan warga berarti anggota . Sebagai abdi di dalam keluarga, seseorang wajib menyerahkan segala kepentingan kepada keluarganya dan sebagai warga atau anggota, ia berhak untuk ikut mengurus segala kepentingan di dalam keluarganya.
Keluarga merupakan pendidikan pertama dan utama, pertama karena keluarga merupakan lingkungan awal sebelum anak itu mengenal luar dan utama karena keluarga menjadi lingkungan sosial dan emosional dimana hal itu sangat memberikan kualitas pengalaman sehingga menjadi faktor determinan untuk pembentukan kepribadian seorang anak.Menurut M.I Soelaeman (1978: 84), fungsi keluarga itu ada delapan jenis, yaitu:
(1) fungsi edukasi,
(2) fungsi sosialisasi,
(3) fungsi proteksi,
(4) fungsi afeksi,
(5)fungsi religius,
(6) fungsi ekonomi,
(7) fungsi rekreasi,
(8) fungsi biologis.
Berdasarkan kepada beberapa fungsi keluarga di atas terlihat bahwa salah satu fungsi keluarga adalah fungsi pendidikan. Hal ini berarti bahwa orang tua sebagai pendidik pertama dan utama mempunyai kewajiban dalam memberikan pendidikan kepada anak-anaknya termasuk pendidikan nilai moral.

PERANAN NILAI MORAL BAGI ANAK-ANAK.
Ada beberapa istilah yang sering digunakan secara bergantian untuk menunjukkan maksud yang sama, istilah moral, akhlak, karakter, etika, budi pekerti dan susila. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, “moral” diartikan sebagai keadaan baik dan buruk yang diterima secara umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban,budi pekerti dan susila. Moral juga berarti kondisi mental yang terungkap dalam bentuk perbuatan. Selain itu moral berarti sebagai ajaran Kesusilaan. Kata moral sendiri berasal dari bahasa Latin “mores” yang berarti tata cara dalam kehidupan,adat istiadat dan kebiasaan.

Dengan demikian pengertian moral dapat dipahami dengan mengklasifikasikannya sebagai berikut:
1. Moral sebagai ajaran kesusilaan, berarti segala sesuatu yang berhubungan dengan tuntutan untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik dan meninggalkan perbuatan jelek yang bertentangan dengan ketentuan yang berlaku dalam suatu masyarakat.
2. Moral sebagai aturan, berarti ketentuan yang digunakan oleh masyarakat untuk menilai perbuatan seseorang apakah termasuk baik atau sebaliknya buruk.
3. Moral sebagai gejala kejiwaan yang timbul dalam bentuk perbuatan, seperti berani, jujur, sabar, gairah dan sebagainya Sofyan Sauri, 2010: 34).

Moral sangat penting bagi tiap-tiap orang, tiap bangsa. Karena pentingnya moral tersebut ada yang mengungkapkan bahwa ukuran baik buruknya suatu bangsatergantung kepada moral bangsa tersebut. Apabila bangsa tersebut moralnya hancur,maka akan hancurlah bangsa tersebut bersama moralnya.

FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN KEMEROSOTAN MORAL.
Apabila kita analisis faktor-faktor yang menyebabkan merosotnya moral pada masyarakat sangat banyak sekali. Menurut Zakiyah Darajat (1971: 45-46), diantara faktor-faktor kemerosotan moral tersebut, yang terpenting adalah:
1. Kurang tertanamnya nilai-nilai keimanan pada anak-anak.
2. Lingkungan masyarakat yang kurang sehat.
3. Pendidikan moral tidak terlaksana menurut mestinya, baik di rumah tangga, sekolah maupun masyarakat.
4. Suasana rumah tangga yang kurang baik.
5. Diperkenalkannya secara populer obat-obat terlarang dan alat-alat anti hamil.
6. Banyaknya tulisan-tulisan, gambar-gambar, siaran-siaran, kesenian kesenian yang tidak mengindahkan dasar-dasar dan tuntunan moral.
7. Kurang adanya bimbingan untuk mengisi waktu luang (leisure time) dengan cara yang baik, dan yang membawa kepada pembinaan moral.
8. Tidak ada atau kurangnya markas-markas bimbingan dan penyuluhan bagi anak-anak dan pemuda-pemuda.
9. Pengaruh westernisasi, yaitu berupa yahudinisasi dan kristenisasi.

PROSES PENDIDIKAN NILAI MORAL UNTUK MENGATASI KENAKALAN REMAJA DALAM KELUARGA.
1. Penanaman pendidikan keimanan sejak dini kepada anak-anak.
2. Menanamkan pendidikan moral kepada anak-anak.
3. Menciptakan suasana rumah tangga yang harmonis, khususnya hubungan Ibu Bapak dan anggota keluarga lainnya, sehingga pergaulan dan kehidupan mereka dapat menjadi contoh bagi anak-anak, terutama anak yang belum berumur enam tahun