Posts made by Nura Assyifa 2213053134

Nama : Nura Assyifa
NPM : 2213053134
Kelas : 3G

Analisis video 1
6 TAHAP PERKEMBANGAN MORAL MENURUT KOHLBERG

Kohlberg percaya bahwa perkembangan moral meningkat seiring bertambahnya usia. Menurut Kohlberg tahap perkembangan moral dibagi menjadi tiga level setiap level memiliki dua tahapan jika keseluruhannya menjadi 6 tahap, diantaranya:

1. Pra-Konvensional
- Menghindari hukuman, seseorang mempunyai alasan untuk bertindak atau tidak melakukan sesuatu karena untuk menghindari hukuman. Misalnya: ketika seseorang tidak menerobos lampu merah di jalan raya, orang tersebut melakukannya agar tidak ditilang oleh polisi oleh sebab itu ia mematuhi peraturan lalu lintas.

- Keuntungan dan minat pribadi, ditahap ini tindakan dilakukan dengan memperhitungkan timbal balik apa yang akan didapatkan olehnya. Misalnya: saya ingin membantunya karena suatu hari dia mungkin akan membantuku.

2. Konvensional
- Menjaga sikap orang baik, seseorang mungkin menghidari pertengkaran karena ia memikirkan bagaimana kesepakatan sosial yang ada dan pendapat orang lain terhadapnya. Misalnya: tidak bertengkar dengan tetangga dan berpartisipasi dalam kerja bakti.

- Memelihara Peraturan, jika peraturan tidak ada yang mematuhinya maka keadaan dapat menjadi kacau oleh karena itu, peraturan harus dipatuhi untuk memberikan kenyaman bagi semua orang. Misalnya: dilarang melakukan keributan atau bertengkar dikelas agar kelas menjadi damai dan tentram.

3. Pasca-Konvensional
- Orientasi kontrak sosial, dalam tahap ini seseorang menyadari bahwa masing-masing orang memiliki latar belakang dan kondisi i yang berbeda. Tidak ada yang absolut atau pasti ketika melihat suatu kasus. Hak-hak induvidu harus di lihat bersama dengan hukum yang berlaku.

- Prinsip etika universal, dalam tahap ini mengambarkan prinsip internal seseorang. Ia melakukan hal yang dianggapnya benar. Walaupun bertentangan dengan hukum yang ada.
Nama: Nura Assyifa
NPM : 2213053134
Kelas : 3G

Analisis Jurnal 2,
PERKEMBANGAN MORAL SISWA SEKOLAH DASAR BERDASARKAN TEORI KOHLBERG
oleh: Enung Hasanah

Abstrak
Teori Kohlberg dikenal sebagai teori yang mengukur tingkatan moral seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat perkembangan moral siswa SD yang berusia antara 11-12 tahun, berdasarkan tahapan perkembangan teori Kohlberg.

Pendahuluan
Salah satu aspek yang menunjang perkembangan kemahiran dalam kolaborasi, komunikasi, dan pemecahan masalah adalah dengan membantu perkembangan moral siswa agar tumbuh optimal. Ini menjadi sangat penting terutama bagi para siswa di wilayah Indonesia yang secara umum masyarakatnya adalah masyarakat religius yang meyakini bahwa moral merupakan pondasi terpenting bagi keberhasilan seseorang baik dalam karir maupun kehidupan pribadinya.

Teori Kohlberg
Kohlberg tidak memusatkan perhatian pada tingkah laku moral, artinya apa yang dilakukan oleh seorang indivdu tidak menjadi pusat pengamatannya. Kohlberg juga tidak memusatkan perhatian pada pernyataan (statement) seseorang, apakah dia mengatakan sesuatu hal benar atau salah. Penelitian Kohlberg menunjukan bahwa bila penalaran-penalaran yang diajukan oleh seseorang mengapa ia mempunyai pertimbangan moral tertentu atau melakukan tindakan tertentu diperhatikan, maka akan tampak jelas adanya perbedaan-perbedaan yang berarti dalam pandangan moral orang tersebut.

Teori (Kohlberg; L., Hersh, R.H. 1977) tentang Perkembangan Moral dibagi menjadi 3 level, yang masing-masing level dibagi menjadi beberapa tahap sebagai berikut:
Level 1. Moralitas Pra-konvensional
• Tahap 1 - Ketaatan dan Hukuman.
• Tahap 2 - Individualisme dan Pertukaran.
Level 2. Moralitas Konvensional
• Tahap 3 - Hubungan Interpersonal.
• Tahap 4 - Menjaga Ketertiban Sosial.
Level 3. Moralitas Pasca-konvensional.
• Tahap 5 - Kontrak Sosial dan Hak Perorangan.
• Tahap 6 - Prinsip Universal.

Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif. Peneliti kualitatif tertarik pada kepercayaan orang, pengalaman, dan sistem makna dari perspektif orang-orang (Mohajan, 2018).

Hasil Penelitian
Dari hasil pengisian angket tersebut secara umum, terlihat bahwa para peserta penelitian yang berusia antara 11 dan 12 tahun, memiliki perkembangan moral seperti apa yang dikemukakan oleh Kohlberg (1968), bahwa pada usia tersebut termasuk pada tahap 1. Berdasarkan hasil analisis terhadap jawaban yang dikemukakan atas dilema moral yang dijawab oleh para responden, secara umum (90%) ternyata perkembangan moral para responden yang berada pada usia 11-12 tahun memang masih berada pada tingkat pra konvensional.

Simpulan
Berdasarkan hasil analisis data dengan menggunakan teori perkembangan moral Kohlberg, anak-anak usia 11-12 tahun memang masih berada pada tahap pra konvensional tahap ½ yang dominan diikuti tahap 2 dan 2/3, yang cenderung ingin melakukan sesuatu karena takut dihukum.
Nama : Nura Assyifa
NPM : 2213053134
Kelas : 3G
Prodi : PGSD

Hasil Analisis Jurnal 1,
PENDIDIKAN NILAI MORAL DITINJAU DARI PERSPEKTIF GLOBAL
Oleh : Sudiati
(FBS Universitas Negeri Yogyakarta)


Abstract
However, such countries emphasize moral value education on moral ethic values, especially on values related to human rights that are universal and 
global in nature. The concept of moral value education proposed by 
Kohlberg and Miller tends to be 
individualistic. Therefore, its needs to  be complemented by taking account of the paradigm proposed by Capra that human life is built on the basis of a systemic and holistic view of life, one which is not partial and individualistic.

A. Pendahuluan
Kehidupan manusia semakin kompleks. Kompleksitas mengemuka dalam tatanan global yang ditandai dengan munculnya berbagai masalah dan isu-isu global seperti pelanggaran hak-hak asasi manusia (HAM), fenomena kekerasan, dan penyalahgunaan narkotika. Hal ini menuntut adanya pemikiran yang berkaitan dengan sistem

B. Pembahasan
1. Isu Pendidikan Nilai Moral di
Beberapa Negara Di bawah ini akan dibahas isu pendidikan nilai moral yang terjadi di empat negara, yaitu Indonesia, Malaysia, India, dan Cina. Empat negara itu dapat mewakili karakteristik bangsa dengan latar belakang ideologi yang berbeda. Indonesia merupakan negara Pancasila yang mayoritas Islam, India merupakan negara federal yang tetap mempertahankan nilai-nilai agama sebagai nilai universal. Malaysia merupakan representasi negara yang memiliki bangsa mayoritas Islam sebagaimana negara Indonesia, sedangkan Cina merupakan perwakilan negara sosialis komunis.

a. Indonesia
Pendidikan nilai di Indonesia disadari atau tidak masih belum banyak menyentuh pemberdayaan dan pencerahan kesadaran dalam perspektif global. Persoalan pembenahan pendidikan masih terpaku pada kurikulum nasional dan lokal yang belum pernah tuntas. Di sisi lain juga adanya pandangan yang terlalu simplistik mengenai pendidikan nilai sebagai wahana penyadaran nilai-nilai yang sektarian subjektif dan belum banyak menyentuh nilai universal-objektif.

b. India
Dalam pendidikan nasional India, pendidikan nilai dikembangkan sebagai usaha untuk meningkatkan kesadaran nilai ilmiah, sosial, dan kewarganegaraan yang tidak secara khusus dikembangkan melalui satu sudut pandangan agama.

c. Malaysia
Pendidikan nilai dilakukan di sekolah dasar dan pengembangannya dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung pendidikan nilai diajarkan melalui pendidikan moral dan mata pelajaran agama, sedangkan pendidikan nilai yang tidak secara langsung dikembangkan melalui 
sejumlah mata pelajaran lainnya, seperti program pendidikan 
kewarganegaraan dan melalui kegiatan kokurikuler.

d. Cina
Dalam tradisi Cina, pendidikan memiliki hubungan erat dengan kewajiban moral. Tradisi ini menempatkan pendidikan nilai sebagai bagian penting dalam percaturan pendidikan. Walaupun demikian, dalam perkembangannya, pendidikan nilai dihadapkan pada beberapa tantangan berikut. Harapan masyarakat dan orang tua siswa akan kemampuan akademik diandalkan dapat memacu konsentrasi peningkatan akademik yang kemudian berakibat tergesernya pengembangan sentimental, perasaan, dan moralitas.

2. Dimensi Pendidikan Nilai Moral
Dalam rangka mengkaji pendidikan nilai moral secara luas, berikut ini dikemukakan pula pembahasan mengenai perkembangan moral, pendidikan nilai moral, dan strategi pendidikan nilai moral.

a.Teori Perkembangan Moral
Nilai moral merupakan penilaian terhadap tindakan yang umumnya diyakini oleh anggota masyarakat tertentu sebagai yang salah atau benar (Berkowitz, 1964; dikutip Muhaimin, 2001: 215). Kohlberg mengidentifikasi enam tahap tingkat pertimbangan moral, yaitu (i) orientasi hukuman atau kepatuhan, (ii) orientasi instrumental-relatif, (iii) orientasi masuk kelompok anak manis atau anak baik, (iv) orientasi hukum dan ketertiban, (v) orientasi kontrak sosial legalitas, dan (vi) orientasi prinsip kewajiban.

b.Pendidikan Nilai Moral
Menurut John P. Miller (1976: 5), gambaran kepribadian menunjukkan beberapa karakteristik. Pertama, pribadi yang terintegrasikan selalu melakukan pertumbuhan dan perkembangan. Kedua, pribadi yang terintegrasikan memiliki kesadaran akan jati dirinya dan identitasnya. Ketiga, pribadi yang terintegrasikan senantiasa terbuka dan peka terhadap kebutuhan orang lain. Keempat, pribadi yang terintegrasikan menggambarkan suatu kebulatan kesadaran.

c. Pendekatan Pendidikan Nilai Moral
Pendekatan komprehensif pendidikan nilai menurut Kirschenbaum dalam Darmiyati Zuchdi, 2008: 36-37) meliputi pendekatan (i) inculcating, yaitu menanamkan nilai dan moralitas, (ii) modelling, yaitu meneladankan nilai dan moralitas, (iii) facilitating, yaitu memudahkan perkembangan nilai dan moral, dan (iv) skill development, yaitu pengembangan keterampilan untuk mencapai kehidupan pribadi yang tentram dan kehidupan sosial yang kondusif.

d. Metode dan Teknik Pendidikan
Nilai Moral
Pendidikan nilai moral dapat diselenggarakan dengan menggunakan (i) metode dogmatis, (ii) metode deduktif, (iii) metode induktif, atau (iv) metode reflektif (Muhadjir, 1988:161). Berbagai metode tersebut selanjutnya perlu dikembangkan secara rinci ke dalam teknik atau prosedur pembelajaran. Teknik pendidikan nilai moral yang berorientasi pada nilai (afek) ada bermacam-macam, di antaranya ialah (i) teknik indoktrinasi,(ii) teknik moral reasoning, (iii) teknik meramalkan konsekuensi, (iv) teknik klarifikasi, dan (v) teknik internalisasi (Muhadjir, 1988: 199).

D. Penutup
Berdasarkan uraian tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan, bahwa pendidikan nilai moral merupakan tuntutan dan sekaligus kebutuhan pada tatanan global bagi umat manusia sebagai pengejawantahan hidup bersama, berbangsa, dan bernegara dalam hubungannya dengan tatanan global yang diwarnai dengan berbagai permasalahan yang bersifat luas, kompleks, dan mendunia.
Nama: Nura Assyifa
NPM : 2213053134
Kelas : 3G

Analisis video 2,
Dengan judul "Mirisnya Kekerasan di Lingkungan Sekolah"

Perselisihan antara sesama, sudah terjadi sejak dini mulai dari pembulian dan perkelahian antar siswa. Kurangnya pengawasan pihak sekolah atau pendidik selaku orang tua siswa di sekolah, serta kurangnya didikan dalam mengajarkan nilai dan moral menjadi faktor utama penyebab perilaku yang tidak diharapkan terjadi di sekolah. Menurut saya, perlu adanya tindak lanjut pemerintah dalam menangani kasus yang sering terjadi disetiap sekolah, seperti pengawasan guru yang harus lebih diperketat lagi dengan terdapat guru khusus untuk mengawasi siswa di jam istirahat atau jam kosong, juga dengan memperhatikan dan memahami setiap perilaku masing-masing siswa di sekolah.
Nama : Nura Assyifa
NPM : 2213053134
Kelas : 3G

Analisis video 1, dengan judul
"Apakah MORAL? ~ The Trolley Problem"

Dalam video tersebut disajikan suatu gambaran, bagaimana ketika kita sedang mengendarai sebuah kereta yang sedang melaju kencang, dimana terdapat pilihan jika kita berjalan lurus akan ada 5 orang yang berbaring di rel kereta, namun jika kita menarik tuas dan memilih jalur sebelahnya akan ada 1 orang yang berbaring di kereta. Jika saya dalam posisi tersebut saya akan memilih menarik tuas, karena akan ada 5 orang yang terselamatkan walaupun akan ada orang lain yang menjadi korban.

Gambaran kedua disajikan 5 orang yang berbaring di rel kereta dan sebuah jembatan dengan saya dan orang lain yang berbadan besar yang dapat memperlambat kereta. Pertanyaannya apakah saya akan mendorong orang tersebut atau saya tidak akan melakukan apapun, jawabannya saya tidak akan mendorong orang tersebut, alasannya karena 5 orang dibawah memilih untuk mengakhiri hidupnya, sedangkan orang yang berada diatas jembatan dengan saya tidak bersalah, lalu mengapa saya harus mendorongnya.

Dalam mengambil keputusan kita harus tahu pilihan mana yang lebih bermoral pada kondisi yang sedang kita hadapi. Dalam setiap kejadian kita harus bisa membayangkan bagaimana jika kita diposisi orang lain agar, kita dapat memahami apa yang orang lain rasakan dan tidak hanya mementingkan diri sendiri. Walaupun nyatanya moralitas ternyata hanyalah soal egoisme manusia dengan kepentingan dirinya atau kelompoknya sendiri.