Kiriman dibuat oleh Adelina Kusumawati 2213053234

Nama : Adelina Kusumawati
NPM : 2213053234

Analisis Jurnal 2
Identitas Jurnal
Nama Jurnal : Jurnal Rechten: Riset Hukum Dan Hak Asasi Manusia
Volume: 03
Nomor : 03
Halaman : 17-27
Tahun : 2021
Judul : Problematika Moral Bangsa Terhadap Etika Masyarakat
Penulis : Kanesa Putri, Muhammad Eko Maryana

Pembahasan
Pada masyarakat terdapat nilai-nilai dasar perilaku yang secara umum diakui sebagai norma yang harus dipatuhi, selain peraturan atau norma hukum. Norma tersebut biasa disebut etika. Etika dalam arti sempit sering dipahami masyarakat sebagai sopan santun. Etika yang menyelidiki tentang kesusilaan masyarakat sama halnya dengan moral. Moral adalah prinsip yang membantu individu dalam kehidupan ber masyarakat. Meski moral dapat berubah seiring waktu, moral menjadi standar perilaku yang digunakan untuk menilai benar dan salah. Di dalam kehidupan masyarakat tentunya ada norma hukum untuk mengatur tingkah laku masyarakat tersebut karena norma hukum itu memiliki ketegasan bagi siapapun yang melanggarnya. Dengan diciptakannya hukum bisa menghasilkan keharmonisan hidup manusia dalam bermasyarakat, sehingga antara hak dan kewajiban menjadi seimbang.

Pelanggaran adalah perbuatan yang melawan hukum yang hanya dapat ditentukan setelah ada hukum atau undang undang yang mengaturnya. Penyebab yang menimbulkan masyarakat melakukan pelanggaran etika adalah kurangnya sanksi yang tegas, kesadaran masyarakat yang belum terbentuk, dan lingkungan tidak etis. Apabila terjadi pelanggaran tentunya pasti ada sanksi yang didapatkan baik sanksi hukum maupun sanksi sosial dari masyarakat itu sendiri.

Salah satu penyebab terjadinya kehilangan etika dan moral khususnya pemuda pada era globalisasi ini dikarenakan tidak adanya pasal dan sanksi yang mengatur tentang etika dalam bermasyarakat. Beberapa faktor yang menyababkan para individu zaman sekarang kurang dalam beretika. Pertama, kurangnya kepedulian orang tua terhadap pentingnya menanamkan serta mengajarkan etika (moral) terhadap anak. Kedua, berkembangnya teknologi yang sangat pesat membuat pola pikir di zaman sekarang menjadi serba instan dan tidak peduli akan lingkungan sekitarnya. Ketiga, lingkungan sekitar yang membentuk karakter dan membentuk kepribadian seorang pemuda masih kurang diperhatikan atau bahkan tidak diperhatikan sama sekali oleh masyarakat sekitar, terkhusus orangtuanya. Keempat, kurangnya penanaman jiwa religius didalam diri pemuda serta masih kurangnya pengetahuan tentang agama yang menjadikannya turntutan untuk selalu berperilaku etis.

Upaya hukum yang dapat dilakukan dalam membentuk moral bangsa saat ini
Hukum mempunyai 3 peran utama dalam masyarakat yaitu sebagai sarana kontrol sosial, sarana untuk memfasilitasi proses interaksi sosial, dan sarana untuk menciptkan keadaan tertentu. peran hukum tersebut seolah-olah tidak berfungsi, hilangnya etika membuat warga melakukakan pelanggaran- pelanggaran sehingga mangabaikan norma yang ada dalam masyarakat. Untuk membangun etika yang baik di dalam masyakat diperlukan upaya internal dan eksternal. Ada 3 upaya internal (dari dalam) yang bisa diterapkan untuk meningkatkan moral bangsa
1. Meningkatkan peran keluarga dalam membentuk moral
2. Menciptkan lingkungan yang baik dalam masyarakat
3. Membatasi teknologi yang ada
Selain upaya internal ada juga upaya eksternal yang meliputi :
1. Mengimplementasikan pendidikan karakter di sekolah
2. Seminar tentang kesadaran hukum
3. Menegakan HAM dimasyarakat
4. Pemerintah harus bertindak
Nama : Adelina Kusumawati
NPM : 2213053234

Analisis Video 2
Potret pendidikan di dusun terpencil

Dalam video tersebut menunjukkan kondisi para siswa SD Negeri Glak, Kabupaten Sikka yang membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah. Pasalnya, sekolah yang terletak di sebuah dusun terpencil itu terpaksa harus melakukan kegiatan belajar mengajar di teras kelas. Teras dipakai sebagai ruang kelas lantaran ketiadaan ruang kelas. Sekolah yang terletak di kaki gunung api Egon tersebut hanya memiliki 6 ruangan. Dimana 5 ruangan dipakai sebagai ruang kelas, dan 1 ruangan sebagai ruang guru. Jangankan kelas perpustakaan saja tak dimiliki sekolah ini. Meski begitu, para siswa tetap bersemangat untuk bersekolah. Setiap hari mereka harus berjalan kaki hingga 2 kilometer guna bisa belajar di sekolah. Di masa pandemi covid-19 ini, ketika pemerintah aktif mengkampanyekan belajar daring, sekolah ini tak mampu melaksanakannya. Di wilayah ini, belum ada jaringan telekomunikasi sama sekali. Karena itu, pihak sekolah terpaksa tetap melakukan kegiatan di sekolah. Pihak sekolah pun berharap, pemerintah bisa membuka mata melihat keadaan mereka dengan menyediakan fasilitas yang dibutuhkan.
Nama : Adelina Kusumawati
NPM: 2213053234

Analisis Video 3
Perbedaan pendidikan dasar Jepang dan Indonesia

1. Kebersihan sejak dini
Kebersihan dan pengelolaan sampah yang baik tidak diajarkan di kurikulum pendidikan indonesia.
Sedangkan kurikulum jepang mengharuskan semua siswa bertanggung jawab atas kebersihan kelas mereka sendiri agar siswa dapat bekerjasama, berbagi tanggung jawab, dan peka terhadap kondisi lingkungan yang kotor.

2. Makan bersama
Sekolah di Indonesia memiliki kantin, serta jajanan di luar sekolah. Makanan untuk siswa diindonesia sangat beragam.
Sedangkan dalam pendidikan jepang, proses makan dianggap penting. Pendidikan jepang mengatur makanan siswa, mulai dari menu, gizi, hingga cara mereka makan. Makan siang siswa di jepang dilakukan bersama-sama dan diikuti oleh para guru guna membangun hubungan positif antar siswa maupun guru.

3. Mata pelajaran sedikit
Mata pelajaran di indonesia sangat banyak, dan diajarkan berulang dalam semingu.
Sedangkan di Jepang, mata pelajaran tergolong sedikit dan hanya diajarkan di hari tertentu dalam seminggu.

4. Pendidikan karakter
Pendidikan di Indonesia diwarnai dengan berbagai ujian.
Sedangkan pendidikan dasar jepang tidak melibatkan ujian dalam 3 tahun pertama. Para siswa akan difokuskan pada pendidikan karakter.

5. Membaca dulu
Indonesia memiliki minat baca yang rendah, yang disebabkan karena kurang dibiasakan untuk membaca buku di sekolah.
Sedangkan jepang, membiasakan para siswa untuk membiasakan membaca selama 10 menit, itu sebabnya mereka memiliki minat baca yang tinggi.

6. Perlengkapan sekolah
Di indonesia, tidak terlalu memperhatikan perlengkapan sekola siswa. Siswa mengenakan perlengkapan yang berbeda.
Sedangkan di jepang, perlengkapan sekolah sangat diperhatikan, siswa mengenkan perlengkapan yang sama agar tidak menimbulkan kesenjangan.

7. Seragam Sekolah
Di indonesia memiliki banyak seragam sekolah.
Sedangkan di jepang, siswa hanya memakai satu seragam sekolah.
Nama : Adelina Kusumawati
NPM: 2213053234

Analisis video 2
Dalam video tersebut menunjukan tindakan siswa yang tidak terpuji, atau tindakan tidak sopan dan tidak menghormati guru. Kemudian tindakan guru yang dilakukan untuk menangapi tindakan tersebut adalah dengan menyuruhnya keluar dari kelas, dengan tujuan memberikan efek jera terhadap siswa tersebut, serta menjadikan pembelajaran bagi yang lain agar tdak meniru tindakan tersebut. Selanjutnya, terdapat dua siswa yang merokok dan minum minuman keras saat pulang sekolah, guru bertindak memberikan nasihat terkait perilaku menyimpang yang telah dilakukan oleh siswa tersebut.

Maka dapat disimpulkan bahwa peran pendidikan pancasila sangat penting membentuk moral peserta didik.
Nama : Adelina Kusumawati
NPM: 2213053234

Perbedaan kriteria nilai hardskill dan kriteria softskill
1. Definisi
Hard skill adalah keahlian yang bisa diukur dan dikuantifikasi. Kriteria nilai hardskill merujuk pada kemampuan teknis yang diperoleh melalui pendidikan formal atau pelatihan tertentu. Hardskill mencakup kemampuan seperti pemrograman komputer, pemahaman bahasa pemrograman, atau kemampuan spesifik lainnya yang berkaitan dengan pekerjaan. Sementara soft skill adalah keahlian yang bersifat subjektif. Kriteria softskill, di sisi lain, merujuk pada kemampuan interpersonal dan komunikasi yang dibutuhkan untuk bekerja dengan baik dalam tim atau hubungan antara karyawan.

2. Pembelajaran
Hardskill dapat dipelajari melalui pendidikan formal atau pelatihan khusus, sementara softskill didasarkan pada pengalaman dan pengembangan melalui interaksi dengan orang lain.

3. Pengukuran
Kriteria nilai hardskill dapat diukur dengan tes atau ujian tertulis dan secara objektif dapat dievaluasi. Kriteria softskill sulit untuk diukur secara objektif dan sering kali dievaluasi melalui pengamatan.