Posts made by Bunga Amanda Sastra Ayu Pitaloka

Nama: Bunga Amanda Sastra Ayu Pitaloka
Npm: 2213053034

“Perbedaan Pendidikan Dasar Jepang dan Indonesia”

Pendidikan emang jadi salah satu kebutuhan pokok manusia. Makanya, dunia pendidikan menjadi perhatian buat pemerintah di semua negara. Tiap negara pasti punya kondisi berbeda. Mulai dari kebudayaan, ekonomi, penduduk sampai watak masyarakatnya pasti berbeda. Nah, karena itu sistem pendidikan di tiap negara ikut berbeda. Salah satu sistem pendidikan terbaik di dunia ada di negeri sakura jepang, apalagi pendidikan dasar di jepang.

Perbedaan Pendidikan dasar Jepang dan Indonesia:
1. Kebersihan Sejak Dini
Di Indonesia pendidikan tentang kebersihan tidak di masukan di kurikulum sedangkan di Jepang setiap kurikulum ada pendidikan tentang kebersihan , jadi setiap siswa di Jepang punya tanggung jawab terhadap sampah .
2. Makan bareng
Pendidikan Jepang mengatur makan siswa , mulai dari menu yang di siapkan , gizi pada makanan dan cara mereka makan , makan siang disana di lakukan secara bersama sama , ini di lakukan untuk membangun hubungan positif antara sesama siswa dan guru .
3. Mata Pelajaran sedikit
Pendidikan dasar di Jepang mata pelajaran tergolong sedikit dan di ajarkan di hari tertentu jadi ga ada mata pelajaran yang di ulang lagi dalam seminggu .
4. Pendidikan Karakter
Pendidikan Jepang pada 3 tahun pertama mereka tidak di beri ujian karena supaya mereka bisa fokus dalam pendidikan karakter seperti sopan santun , tolong menolong , karena pemerintah Jepang percaya pendidikan karakter akan menjadi dasar yang baik dalam pendidikan .
5. Membaca dulu
Di Indonesia minat baca buku masih rendah karena tidak terbiasa membaca buku saat di sekolah , di Jepang siswa diberi 10 menit untuk membaca buku dari situ minta baca di Jepang tinggi .
6. Perlengkapan Sekolah
Di Jepang di mulai dari tas sampai sepatu semua sama karena agar siswa tidak ada yang minder .
7. Seragam Sekolah
Kalo di Indonesia seragam ada 3 untuk seminggu tetapi di jelang cuma ada satu .
Di Jepang pendidikan nya juga ada minus nya yaitu tekanan belajar yang tinggi.

Meskipun sistem pendidikan di Jepang punya banyak kelebihan tapi pendidikan Jepang juga punya mines yaitu tekanan pelajar yang ngeri banget bahkan kasus bunuh diri di Jepang menjadi salah satu yang terbanyak di dunia.
Nama: Bunga Amanda Sastra Ayu Pitaloka
Npm: 2213053034

“Potret Pendidikan di Dusun Terpencil”

Para siswa SD Negeri Glak, Kabupaten Sikka membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah. Pasalnya, sekolah yang terletak di sebuah dusun terpencil itu terpaksa harus melakukan kegiatan belajar mengajar di teras kelas.

Teras dipakai sebagai ruang kelas lantaran ketiadaan ruang kelas. Sekolah yang terletak di kaki gunung api Egon tersebut hanya memiliki 6 ruangan. Dimana 5 ruangan dipakai sebagai ruang kelas, dan 1 ruangan sebagai ruang guru. Jangankan kelas perpustakaan saja tak dimiliki sekolah ini.

Meski begitu, para siswa tetap bersemangat untuk bersekolah. Setiap hari mereka harus berjalan kaki hingga 2 kilometer guna bisa belajar di sekolah.

Di masa pandemi covid-19 ini, ketika pemerintah aktif mengkampanyekan belajar daring, sekolah ini tak mampu melaksanakannya. Di wilayah ini, belum ada jaringan telekomunikasi sama sekali. Karena itu, pihak sekolah terpaksa tetap melakukan kegiatan di sekolah.

Pihak sekolah pun berharap, pemerintah bisa membuka mata melihat keadaan mereka dengan menyediakan fasilitas yang dibutuhkan.
Nama: Bunga Amanda Sastra Ayu Pitaloka
Npm: 2213053034

“Sepenggal cerita pengajar muda dipelosok kalimantan - lentera indonesia”

Pendidikan itu seperti cahaya sebenarnya jadi ketika kita tidak punya cahaya untuk melakukan perjalanan kita bisa tersesat ketika kita punya cahaya kita tau arah kita akan kemana itu akan menuntun kita sampai ketujuan yang kita mau.

anak anak dayak kalimantan mereka satu dari sekian banyak keragaman dalam negara kesatuan kita Indonesia .

anak anak tanjung matol ini masih sedikit yang minat lanjutkan pendidikan setelah tamat sd.
orang tua disini masih kurang sadar pentingnya pendidikan.

anak perempuan didesaku malah banyak yang menikah diusia dini, sekitar umur 12 tahun atau lulus sd sudah ada yang melamar.

Tradisi dan kebiasaan warga disini selain soal pernikahan dini anak perempuan, kurangnya perhatian orang tua kepada pendidikan anak juga jadi persoalan.

Kelas 1 menjadi langkah awal untuk menempuh pendidikan panjang karena TK dan PAUD belum masuk di desa Tanjung Matol. Martencis selalu menekankan kepada anak-anak bahwa belajar itu bisa dari mana saja dan dimana saja. Untuk menumbuhkan semangat belajar anak-anak di desa Tanjung Matol ini diberikannya motivasi, anak-anak yang berprestasi akan diberikan hadiah yaitu jalan jalan keluar dari esa Matol memberikan wawasan baru bagi anak anak Matol terutama soal cerita dunia luar.

seorang pemudi bernama Loly, berusia 18 tahun yang memiliki ketertarikan juga pada bidang pendidikan di desa Matol dan ia juga membantu Martencis mengajar anak anak di Sekolah Dasar. Tidak hanya Loly, tetapi juga guru-guru yang penuh semangat. Bersama orang-orang hebat seperti mereka kelak masa depan anak-anak desa Matol dapat terukir.
Nama: Bunga Amanda Sastra Ayu Pitaloka
Npm: 2213053034

“Proses pendidikan nilai moral di lingkungan Keluarga sebagai upaya Mengatasi kenakalan remaja”

Identitas Jurnal
nama penulis : Fahrudin


Pendahuluan:
Keluarga merupakan institusi pendidikan utama dan pertama bagi anak. Karena anak untuk pertama kali mengenal pendidikan di lingkungan keluarga, Sebelum mengenal masyarakat yang lebih luas. Disamping itu keluarga Dikatakan sebagai peletak fondasi untuk pendidikan selanjutnya. Pendidikan dan keluarga berjalan sepanjang masa, Melalui proses interaksi dan sosialisasi di dalam kerja itu sendiri. Esensi Jadikan nya tersirat dalam integrasi keluarga baik dalam komunikasi antar sesama anggota keluarga dalam tingkah laku keseharian orang tua dan anggota keluarga lainnya.

Peranan keluarga bagi anak anak
Keluarga secara etimologi is berasal dari rangkaian kata "Kawula" dan "warga" kawula Artinya Abdi yakni hamba sedangkan warga berarti anggota, Sebagai Abdi dalam keluarga seseorang wajib menyerahkan segala kepentingan kepada keluarganya dan sebagai warga atau anggota Iya berhak untuk ikut mengurus segala kepentingan di dalam keluarganya, Karena keluarga juga sering diartikan sebagai unit terkecil dalam suatu masyarakat yang terdiri atas Ayah ,ibu ,anak-anak dan kerabat lainnya . Karena keluarga merupakan ini bertambah dan Institusi pertama dalam masyarakat di mana hubungan -hubungan yang terdapat di dalamnya.

Peranan nilai moral bagi anak anak:
1. Moral sebagai ajaran kesusilaan ,berarti segala sesuatu yang berhubungan dengan tuntutan untuk melakukan perbuatan perbuatan baik dan meninggalkan perbuatan jelek yang bertentangan dengan ketentuan yang berlaku dalam suatu masyarakat.
2. Moral sebagai aturan ,berarti ketentuan yang digunakan Oleh masyarakat untuk menilai perbuatan seseorang apakah termasuk baik atau sebaliknya.
3. Moral sebagai gejala kejiwaan yang timbul dalam bentuk perbuatan seperti berani, jujur ,sabar ,Gairah dan sebagainya( Sofyan sauri,2010:34).

Faktor faktor yang menyebabkan kemerosotan moral:
1. Kurang tertanamnya nilai nilai ke imanan pada anak- anak.
2. Lingkungan masyarakat yang kurang sehat.
3. Pendidikan moral tidak Terlaksana menurut mestinya baik di rumah tangga ,sekolah maupun masyarakat.
4. Suasana rumah tangga yang kurang baik.
5. Diperkenalkannya secara populer obat obatan terlarang dan alat alat anti hamil.
6. Banyaknya tulisan tulisan gambaran gambaran ,siaran -siaran ,kesenian - kesenian yang tidak mengindahkan dasar dasar tuntunan moral.
7. Kurang adanya bimbingan untuk mengisi waktu Luang (leusure time) Dengan cara yang baik, dan yang membawa kepada pembinaan moral.
8. Tidak ada atau kurangnya markas makas bimbingan dan Penyuluhan bagi anak-anak dan pemuda-pemuda.

Proses pendidikan nilai moral untuk mengatasi kenakalan remaja dalam keluarga:
1. Penanaman pendidikan di mana sejak dini kepada anak -anak.
2. Menanamkan pendidikan moral kepada anak -anak.
3. Menciptakan suasana rumah tangga yang Harmonis.
Nama: Bunga Amanda Sastra Ayu Pitaloka
Npm: 2213053034

“PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH”

Identitas Jurnal
nama penulis : Rukiyati
nama jurnal : jurnal Humanika
nomor: 1
tahun terbit : 2017

Pendidikan moral di sekolah perlu dilaksanakan secara bersungguh-sungguh untuk membangun generasi bangsa yang berkualitas. Walaupun peran utama untuk mendidik moral anak adalah di tangan orang tua mereka, guru di sekolah juga berperan besar untuk mewujudkan moral peserta didik yang seharusnya. Keluarga, sekolah, dan masyarakat bersama-sama bertanggung jawab untuk mendidik anak-anak muda agar bermoral baik sekaligus pintar secara intelektual sehingga terwujud generasi muda yang unggul. Itulah tujuan utama pendidikan sebagaimana dinyatakan oleh Aristoteles. Pendidikan moral di sekolah harus dirancang komprehensif mencakup berbagai aspek, yaitu: pendidik, materi, metode, dan evaluasi sehingga hasilnya diharapkan akan optimal.

Pendahuluan:
Sekolah merupakan lingkungan mikrosistem. Bronfenbrenner (1979: 22) mengatakan bahwa mikrosistem adalah sebuah pola dari aktivitas, peran dan relasi interpersonal yang dialami oleh seseorang yang sedang tumbuh berkembang di dalam setting tertentudengan karakteristik fisik khusus, yaitu suatu lingkungan kehidupan yang di dalamnya seorang individu meng- habiskan sebagian besar waktunya, seperti keluarga, teman sebaya, sekolah dan lingkungan tetangga.

Sebagai sebuah mikrosistem,
sekolah diperkirakan mempunyai
pengaruh yang kuat yang dapat dilihat
secara langsung dalam diri subjek didik.
Terlebih lagi di zaman sekarang, ketika
banyak orang tua menaruh harapan
sangat besar terhadap sekolah untuk
menjadikan anak-anaknya pintar dan
baik. Sekolah yang baik merupakan
keniscayaan agar pengaruhnya terhadap
anak menjadi positif. Sekolah merupakan bentuk pendidikan formal, Sekolah yang baik adalah sekolah yang peduli dan fokus pada pendidikan moral atau pendidikan nilai di samping kegiatan pengajaran ilmu. Amstrong (2006: 17) mengemukakan teorinya tentang sekolah sebagai wahana
pengembangan manusia (human development). Istilah “pengembangan”
atau ”development” lebih berkonotasi
pada upaya menumbuhkan, memerdekakan manusia dari beban, rintangan dan kesulitan.

METODE PENELITIAN:
Tulisan ini merupakan gabungan antara teori dan hasil penelitian lapangan. Rangkuman berbagai teori diambil dari hasil pemikiran dan penelitian para pakar pendidikan moral seperti Kirschenbaum, Thomas Lickona, Darmiyati Zuchdi dan Nurul Zuriah yang kemudian diinterpretasi dan disintesiskan oleh penulis sehingga diperoleh kesatuan gagasan tentang teori pendidikan moral di sekolah.

HASIL DAN PEMBAHASAN:
1. Pendidik Moral di Sekolah
Tidak dapat dipungkiri bahwa pendidik utama di sekolah adalah guru.
2. Materi Pendidikan Moral
Pada intinya materi pendidikan moral mencakup ajaran dan pengalaman belajar untuk menjadi orang bermoral dalam kaitan dengan diri sendiri, moral terhadap sesama manusia dan alam semesta serta moral terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Zuriah, 2010)
3. Metode Pendidikan Moral
Kirschenbaum (1995: 31) mengusulkan 100 cara atau metode pendidikan moral, yang dipayungi dalam lima kategori besar metode pendidikan moral yaitu penanaman (inkulkasi) nilai-nilai dan moralitas, modeling nilainilai dan moralitas, fasilitasi nilai-nilai
dan moralitas, kecakapan untuk mengembangkan nilai dan melek moral,
pelaksanaan program pendidikan nilai di
sekolah.