Nama : Meyin syabira
Npm : 2213053185
Kelas : 3F
Masalah Trolley, atau yang sering dikenal sebagai "The Trolley Problem," merupakan sebuah skenario yang dirancang untuk menguji keberanian moral seseorang. Dalam situasi pertama, kita dihadapkan pada dua pilihan yang sangat sulit, yaitu harus memilih antara mengorbankan satu nyawa untuk menyelamatkan lima nyawa lainnya atau membiarkan lima orang tersebut tertabrak oleh kereta. Demikian pula, dalam situasi kedua, kita dihadapkan pada dua pilihan yang memerlukan pengambilan keputusan moral, yaitu apakah kita bersedia mendorong satu orang untuk menyelamatkan lima orang lain atau membiarkan lima orang tersebut tertabrak oleh kereta.
Trolley Problem mengundang kita untuk merenung lebih dalam tentang konsekuensi atau akibat dari setiap pilihan yang kita ambil, berdasarkan nilai-nilai moral yang kita anut. Pertanyaan utama yang muncul adalah apakah mengorbankan yang lebih sedikit demi menyelamatkan yang lebih banyak adalah tindakan yang lebih bermoral? Hal ini sering kali berkaitan dengan konsep moral yang mengharuskan kita mengorbankan sedikit demi kepentingan yang lebih besar.
Setiap pilihan dalam Trolley Problem memiliki risikonya sendiri, dan keputusan akhir berada dalam tangan masing-masing individu. Namun, situasi ini menjadi lebih kompleks ketika kita membalikkan peran, menjadi bagian dari kelompok minoritas, atau ketika orang yang berada dalam bahaya adalah seseorang yang kita cintai. Ini mengingatkan kita bahwa apa yang kita anggap baik atau moral belum tentu sama dengan pandangan orang lain. Dalam intinya, Trolley Problem adalah sebuah eksperimen pemikiran yang menggali isu-isu etika dan psikologi, menghadirkan dilema moral yang menantang pemikiran kita tentang nilai kehidupan manusia dan konsep kebaikan yang lebih besar.
Npm : 2213053185
Kelas : 3F
Masalah Trolley, atau yang sering dikenal sebagai "The Trolley Problem," merupakan sebuah skenario yang dirancang untuk menguji keberanian moral seseorang. Dalam situasi pertama, kita dihadapkan pada dua pilihan yang sangat sulit, yaitu harus memilih antara mengorbankan satu nyawa untuk menyelamatkan lima nyawa lainnya atau membiarkan lima orang tersebut tertabrak oleh kereta. Demikian pula, dalam situasi kedua, kita dihadapkan pada dua pilihan yang memerlukan pengambilan keputusan moral, yaitu apakah kita bersedia mendorong satu orang untuk menyelamatkan lima orang lain atau membiarkan lima orang tersebut tertabrak oleh kereta.
Trolley Problem mengundang kita untuk merenung lebih dalam tentang konsekuensi atau akibat dari setiap pilihan yang kita ambil, berdasarkan nilai-nilai moral yang kita anut. Pertanyaan utama yang muncul adalah apakah mengorbankan yang lebih sedikit demi menyelamatkan yang lebih banyak adalah tindakan yang lebih bermoral? Hal ini sering kali berkaitan dengan konsep moral yang mengharuskan kita mengorbankan sedikit demi kepentingan yang lebih besar.
Setiap pilihan dalam Trolley Problem memiliki risikonya sendiri, dan keputusan akhir berada dalam tangan masing-masing individu. Namun, situasi ini menjadi lebih kompleks ketika kita membalikkan peran, menjadi bagian dari kelompok minoritas, atau ketika orang yang berada dalam bahaya adalah seseorang yang kita cintai. Ini mengingatkan kita bahwa apa yang kita anggap baik atau moral belum tentu sama dengan pandangan orang lain. Dalam intinya, Trolley Problem adalah sebuah eksperimen pemikiran yang menggali isu-isu etika dan psikologi, menghadirkan dilema moral yang menantang pemikiran kita tentang nilai kehidupan manusia dan konsep kebaikan yang lebih besar.