Posts made by CHEZA MELVINOSA 2213053251

Nama : Cheza Melvinosa
NPM : 2213053251

Analisis Video 2
Potret Pendidikan di Desa Terpencil

Siswa SD Negeri Glak kabupaten Sikka membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah dikarenakan sekolah yang terletak di dusun terpencil terpaksa melakukan proses belajar mengajar di teras kelas. Teras digunakan sebagai ruang kelas karena ketidaktersediaan ruang kelas. Sekolah ini memiliki 6 ruangan dimana 5 ruang digunakan untuk ruang kelas dan 1 ruang lainnya di gunakan untuk ruang guru. Namun, siswa tetap bersekolah dengan semangat walaupun setiap hari harus berjalan kaki sejauh 2km demi bisa belajar disekolah.

Di masa pandemi dimana sekolah lain banyak yang melaksanakan sekolah daring, sekolah ini tetap melaksanakan sekolah tatap muka dikarenakan tidak adanya jaringan telekomunikasi. Dengan kondisi ini sekolah berharap pemerintah dapat membuka mata dan memenuhi fasilitas sekolah yang dibutuhkan.
Nama : Cheza Melvinosa
NPM : 2213053251

Analisis Video 1
Sepenggal Cerita Pengajar Muda di Pelosok Kalimantan - Lentera Indonesia

Dalam video ini mengisahkan seorang pengajar muda bernama Martencis Veronica Siregar. Beliau merupakan pemuda dari Gerakan Indonesia Mengajar yang ditempatkan di Desa Tanjung Matol, Kalimantan Utara. Beliau sudah hampir 6 blan mengajar SD kelas 1 dan juga menjadi guru les bagi murid kelas 6. Anak-anak di Tanjung Matol ini masih sedikit yang berminat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya setelah tamat SD. Hal itu dikarenakan masih minimnya kesadaran akan pentingnya pendidikan. Bahkan, banyak anak perempuan yang menikah usia dini sekitar mulai dari umur 12 tahun dan juga baru lulus SD pun sudah ada yang melamar. Hal tersebut menyangkut tradisi di desa setempat maka dari itu, Martencis Siregar tidak bisa ikut campur terlalu dalam akan tradisinya.

Martencis Siregar berkeinginan membuat orang tua atau wali murid sadar akan pentingnya pendidikan anak-anak mereka. Beliau memiliki cita-cita yaitu membuat anak-anak Tanjung Matol mau pergi kesekolah dan belajar, sehingganya mereka memiliki bekal yang lebih baik untuk masa depan mereka. Martencez Siregar mengajar di SDN 11 Sembakung sejak akhir Desember 2016. Taman Kanak-kanak dan juga PAUD belum ada di desa Tanjung Matol, maka dari itu kelas 1 merupakan awal dari jalan panjang menempuh pendidikan. Martencis berusaha membuat agar anak-anak mau belajar sehingganya beliau menggunakan metode-metode belajar yang menyenangkan. Beliau juga menekankan bahwa belajar itu bisa dimana saja.
Nama : Cheza Melvinosa
NPM : 2213053251

Menurut saya Hard skill merupakan keahlian yang bisa diukur dan dikuantifikasi. Pengukurannya bisa melalui gelar kuliah, nilai, atau sertifikasi. Di sisi lain, soft skill adalah keahlian yang lebih bersifat subjektif.

Penjelasan Hard skill dan Soft skill
Hard skill merupakan kelompok kemampuan yang memiliki ciri khas tertentu. Cirinya yang paling khas adalah mudah dinilai. Selain itu, hard skill biasanya dapat dipelajari melalui pengajaran sekolah, pelatihan, membaca buku, dan lain-lain. Skill ini biasanya mudah dilihat oleh recruiter karena dapat dinilai. Misalnya, nilai akhir kuliah, kemampuan menggunakan aplikasi tertentu, dan lain-lain. Kemampuan ini tentu penting agar kamu bisa lebih mudah menyelesaikan pekerjaan. Hard skill biasanya identik dengan kemampuan inteligensi (IQ). Contoh dari hard skill misalnya mahir dalam kemampuan computer programming.

Soft skill merupakan kemampuan yang memiliki ciri khas. Soft skill biasanya lebih sulit dinilai dan cenderung subjektif. Kita bisa mengatakan bahwa si A pintar desain grafis karena berhasil mendapat nilai 97 di mata kuliah Desain Komunikasi Visual. Namun, kita tidak bisa mengatakan bahwa si B mendapat nilai 90 untuk leadership skill-nya. Nah, soft skill biasanya identik dengan kecerdasan emosional (EQ). Selain EQ, kemampuan ini juga identik dengan empati dan kemampuan interpersonal. Contoh dari hard skill yaitu misalnya kemampuan dalam berkomunikasi.
Oleh : Cheza Melvinosa (2213053251)

Analisis Jurnal 2

IDENTITAS JURNAL
Nama jurnal : Jurnal Pendidikan Agana Islam
Nomor : 1
Volume : 2
Tahun terbit : 2014
Judul : Proses Pendidikan Nilai Moral di Lingkungan Keluarga Sebagai Upaya Mengatasi Kenakalan Remaja
Penulis : Fahrudin

HASIL DAN PEMBAHASAN
Agar anak-anak memiliki moral yang baik dan terhindar dari pelanggaran-pelanggaran moral, maka perlu adanya pembinaan nilai moral sejak dini kepada anak-anak dalam keluarga. Lingkungan keluarga merupakan tempat di mana anak-anak dibesarkan dan merupakan lingkungan yang pertama kali dijalanai oleh seorang anak di dalam mengarungi hidupnya, sehingga apa yang dilihat dan dirasakan oleh anak-anak dalam keluarga akan dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan jiwa seorang anak. Agar anak-anak memiliki moral yang baik, langkah pertama yang harus ditanamkan kepada anak-anak adalah nilai-nilai keimanan supaya anak-anak memiliki keimanan yang kuat. Proses pembinaan nilai-nilai keimanan yang harus ditanamkan kepada anak-anak, dapat dimulai sejak anak lahir sampai ia dewasa. Ketika lahir diperkenalkan dengan kaliamah thoyyobah, kemudian setelah mereka tumbuh dan berkembang menjadi anak-anak, maka yang pertama harus ditanamkan ialah nilai-nilai agama yang berkaitan dengan keimanan, sehingga anak meyakini adanya Allah dan dapat mengenal Allah dengan seyakin-yakinnya (ma’rifatullah). Bersamaan dengan itu, anak-anak juga dibimbing mengenai nilai-nilai moral itu sendiri, seperti cara bertutur kata yang baik, berpakaian yang baik, bergaul dengan baik, dan lainlainnya. Kepada anak-anak juga ditanamkan sifat-sifat yang baik, seperti nilai-nilai kejujuran, keadilan, hidup serderhana, sabar dan lain-lainnya. Selain itu, agar anak-anak memiliki nilai-nilai moral yang baik, juga di dalam keluarga, khususnya antara ibu dan bapak harus menjaga harmonisasi hubungan antara keduanya dan harus menjadi suri tauladan bagi anak-anaknya.

Lingkungan keluarga sangat besar peranannya dalam pendidikan nilai moral keagamaan, karena di lingkungan keluargalah anak-anak pertama kali menerima pendidikan yang dapat mempengaruhi perkembangan anak selanjutnya. Ada beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya kemerosotan moral pada anak, di antaranya: (1) Kurang tertanamnya nilai-nilai keimanan pada anak-anak, (2) lingkungan masyarakat yang kurang baik, (3) Pendidikan moral tidak berjalan menurut semestinya, baik di keluarga, sekolah dan masyarakat, (4) Suasana rumah tangga yag kurang baik, (5) Banyak diperkenalkannya obat-obat terlarang dan alat-alat anti hamil, (6) Banyak tulisan-tulisan, gambar-gambar, saran-siaran yang tidak sejalan dengan nilai-nilai moral, (7) Kurang adanya bimbingan dalam mengisi waktu luang dengan cara yang baik yang membawa kepada pembinaan nilai moral, (8) Kurangnya markas-markas bimbingan da penyuluhan bagi anak-anak.
Oleh : Cheza Melvinosa 2213053251

Analisis Jurnal 1

IDENTITAS JURNAL
Nama Jurnal : Jurnal Humanika
Nomor : 1
Tahun Terbit : 2017
Judul : PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH
Nama Penulis : Rukiyati

PENDAHULUAN
Sekolah merupakan lingkungan mikrosistem. Bronfenbrenner (1979: 22)mengatakan bahwa mikrosistem adalah sebuah pola dari aktivitas, peran dan relasi interpersonal yang dialami oleh seseorang yang sedang tumbuh berkembang di dalam setting tertentu dengan karakteristik fisik khusus, yaitu suatu lingkungan kehidupan yang di
dalamnya seorang individu menghabiskan sebagian besar waktunya, seperti keluarga, teman sebaya, sekolah dan lingkungan tetangga.

METODE PENELITIAN
Tulisan ini merupakan gabungan antara teori dan hasil penelitian lapangan.

HASIL DAN PEMBAHASAN
  1. Pendidik moral di sekolah di sekolah ada guru, pegawai tata usaha, pramu kantor, tukang kebun, dan komite. Semua subjek tersebut berperan untuk bersama sama membangun moral siswa.
  2. Materi pendidikan moral mencakup ajaran dan pengalaman belajar untuk menjadi orang bermoral dalam kaitan dengan diri sendiri, sesama manusia, dan alam semesta serta moral terhadap Tuhan YME.
  3. Metode pendidikan moral dipayungi dalam lima kategori besar metode pendidikan moral yaitu penanaman (inkulkasi) nilai-nilai dan moralitas, modeling nilai-nilai dan moralitas, fasilitasi nilai-nilai dan moralitas, kecakapan untuk mengembangkan nilai dan melek moral, pelaksanaan program pendidikan nilai di sekolah.
  4. Evaluasi Pendidikan Moral Di samping keempat aspek (isi, metode, proses dan pendidik), pendidikan nilai juga memerlukan evaluasi yang komprehensif. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui ketercapaian tujuan.
KESIMPULAN
Pendidikan moral di sekolah penting dilakukan oleh guru dan segenap komponen warga sekolah agar tercapai pendidikan moral yang komprehensif. Komponen-komponen pendidikan moral di sekolah yang lain yang tidak kalah penting adalah cakupan materi, variasi metode, dan evaluasi yang menyeluruh. Dengan memperhatikan komponen komponen tersebut, sekolah dengan guru sebagai peran utama dapat merancang pendidikan moral secara lebih komprehensif sehingga hasilnya dapat dicapai secara optimal, yaitu berkembangnya nilai-nilai moral dalam diri peserta didik sehingga mereka menjadi generasi muda yang berkualitas