Kiriman dibuat oleh Mita Yogi Handayani 2213053107

Nama : Mita Yogi Handayani
NPM : 2213053107
Kelas : 3H

ANALISIS VIDEO 4 "Film Pendek Korupsi - Pelajar Anti Korupsi"

Hanafi seorang pelajar dari SMK Negeri 3 Wonosari. Pada suatu hari temannya menyuruh Hanafi untuk foto kopi tugas. Ia membuat nota palsu, harga asli hanya 5.000 rupiah tetapi ia tulis 10.000 rupiah.

Pada saat jam istirahat tiba, Hanafi duduk di kursi depan kelas dan terlihat sedang tidak enak badan (sakit), dan dihampiri oleh bayu.
Bayu bertanya pada Hanafi, kira-kira ada yang korupsi tidak ya disekolah? Hanafi pun terdiam. Lalu, Bayu menjelaskan kata ustadz nya bahwa ketika kita makan uang korupsi akan menjadi penyakit di dalam tubuh kita.

Hanafi pun memikirkan hal tersebut, Ia jadi sadar dan meminta maaf kepada teman nya serta berjanji akan mengganti uang yang sudah ia ambil.
Nama : Mita Yogi Handayani
NPM : 2213053107
Kelas : 3H

ANALISIS VIDEO 3 "Pantesan Negaranya Cepat Berkembang! begini Perbedaan Pendidikan Dasar Jepang dan Indonesia"

Perbedaan Pendidikan dasar Jepang dan Indonesia
1. Kebersihan sejak dini
Kebiasaan nyampah (membuang sampah sembarang) di Indonesia terjadi karena kebersihan dan pengelolaan sampah yang baik tidak diajarkan di dalam kurikulum pendidikan Indonesia. Berbeda dengan Jepang, kurikulumnya mengharuskan semua siswa bertanggung jawab atas kebersihan kelas.

2. Makan bareng
Di Indonesia, sekolah memiliki kantin yang lebih dari 1 Sedangkan di Jepang, sekolah mengatur makanan siswa (menu,gizi dan cara makan) di lakukan bersama antara siswa dan guru sehingga tercipta hubungan positif antara siswa dan guru

3. Mata pelajaran sedikit
Mata pelajaran di Indonesia terlalu banyak dan ada mata pelajaran yang berulang kali dalam seminggu. Sedangkan di Jepang, mata pelajarannya tergolong sedikit, dan tidak ada mata pelajaran yang berulang dalam seminggu.

4. Pendidikan karakter
Pendidikan di Indonesia diwarnai dengan berbagai ujian. Sedangkan di Jepang, tidak melibatkan ujian. Pada 3 tahun pertama, siswa akan belajar mengenai pendidikan karakter (sopan santun, tolong menolong)

5. Membaca dulu
Minat baca di Indonesia sangat rendah karena tidak terbiasa membaca buku di sekolah. Sedangkan di Jepang, siswa dibiasakan untuk membaca buku selama 10 menit sebelum masuk jam pelajaran.

6. Perlengkapan sekolah
Di jepang, perlengkapan sekolah difasilitasi oleh pemerintah jadi semua nya sama, hal itu dikarenakan agar para siswa tidak minder satu sama lain Sedangkan Indonesia tidak

7. Seragam sekolah
Seragam sekolah di Indonesia lebih ribet karena memiliki beberapa seragam (ada 3 macam seragam). Sedangkan di Jepang, hanya memiliki 1 macam seragam
Nama : Mita Yogi Handayani
NPM : 2213053107
Kelas : 3H

ANALISIS VIDEO 2 "Potret Pendidikan di Dusun Terpencil"

Para siswa SD Negeri Glak Kabupaten Sikang, membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah sebab lokasinya di dusun terpencil dan terpaksa melakukan pembelajaran di teras kelas, karena ketiadaan ruang kelas. SD ini hanya memiliki 6 ruangan (5 ruangan untuk kelas dan 1 untuk ruang guru) dan tidak memiliki perpustakaan. Meski begitu siswa tetap semangat sekolah walau harus berjalan kaki hingga 2 km.
Pada masa pandemi covid, semua sekolah melakukan pembelajaran daring. Namun SD ini tidak mampu melakukan nya, karena tidak terdapat jaringan. Lalu, pada saat musim hujan siswa tidak bisa belajar, saat panas mereka bertenduh di bawah pohon. Dengan kondisi ini sekolah berharap pemerintah dapat segera membangunkan ruangan kelas dan memenuhi fasilitas sekolah yang dibutuhkan.
Nama : Mita Yogi Handayani
NPM : 2213053107
Kelas : 3H

ANALISIS JURNAL 2

-Identitas Jurnal
Nama Jurnal : JURNAL RECHTEN: RISET HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
Volume: 03
Nomor : 03
Halaman : 17-27
Tahun Terbit : 2021
Judul : Problematika Moral Bangsa Terhadap Etika Masyarakat
Nama Penulis : Kanesa Putri, Muhammad Eko Maryana

-Pendahuluan
Moral merupakan perilaku yang baik yang
menjadi karakter dari individu atau kelompok yang bisa di lihat dari cara berfikir bertindak dan
merespon suatu keadaan. Etika dan moral lahir dari kebiasaan mayarakat yang
sesuai dengan ajaran biasanya hukum adat dan
hukum agama yang di anut. Namun belakangan ini sering terjadi ketidak
sesuaian beretika dalam masyarakat yang
menghilangkan citra dari karakter bangsa.

-Metode Penelitian
Sifat Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis penelitian yang
bersifat deskriptif dengan pendekatan kualitatif.

Sumber Data
Data primer adalah data yang diperoleh dari hasil
penelitian di lapangan secara langsung dari pihakpihak yang bersangkutan. Data Sekunder adalah Data yang diperoleh dengan mengadakan
penelusuran terhadap beberapa bahanpustaka dan literatur yang relevan dengan masalah.

Teknik Analisis Data
Metode yang digunakan menganalisis data ini
adalah menggunakan analisis kualitatif.

-Pembahasan
Penegakan hukum terhadap pelanggaran etika yang
terjadi di masyarakat Kampung Cijambe Girang
Sukaresmi, Kabupaten Sukabumi.
Moral adalah prinsip yang membantu individu
dalam kehidupan ber masyarakat. Pelanggaran adalah perbuatan yang melawan hukum
yang hanya dapat ditentukan setelah ada hukum atau
undang undang yang mengaturnya. Apabila terjadi pelanggaran tentunya pasti ada
sanksi yang didapatkan baik sanksi hukum maupun
sanksi sosial dari masyarakat itu sendiri. Terjadinya pelecehan seksual ini tentunya berawal dari etika dan moral yang buruk. Perlindungan hukum yang dapat diberikan terhadap
perempuan yang menjadi korban tindak kekerasan/pelecehan seksual dapat diberikan
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang
PKDRT dan Undang-undang No. 13 Tahun 2006 khususnya pasal 5, pasal 8, dan pasal 9 merupakan
hak dari seorang perempuan yang menjadi korban.

•Upaya hukum yang dapat dilakukan dalam
membentuk moral bangsa saat ini

Upaya Internal yang bisa
diterapkan untuk meningkatkan moral bangsa : Meningkatkan
peran keluarga
dalam membentuk moral, Menciptkan lingkungan yang baik dalam
masyarakat, Membatasi teknologi yang ada.

Upaya Eksternal yang bisa
diterapkan untuk meningkatkan moral bangsa : Mengimplementasikan pendidikan karakter di
sekolah, Seminar tentang kesadaran hukum, Menegakkan HAM dimasyarakat, Pemerintah harus bertindak.
Nama : Mita Yogi Handayani
NPM : 2213053107
Kelas : 3H

ANALISIS JURNAL 1

-Identitas Jurnal
Nama Jurnal : Jurusan Administrasi Pendidikan
Volume : -
Nomor : -
Halaman : -
Tahun Terbit : -
Judul : Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat:
Suatu Pemikiran Kefilsafatan
Nama Penulis : Suparlan Suhartono

Memasuki abad ke-21, kehidupan nyata masyarakat manusia masih tetap diliputi berbagai macam
konflik. Secara klasik, ada dua jenis konflik kepentingan yaitu antara kepentingan umum
keseluruhan masyarakat dan kepenti ngan khusus bagi setiap individu. Obyek manusia dan masyarakatnya adalah masalah perilaku baik individual maupun sosial.
Berdasar pada sifat obyek, maka bidang filsafat perilaku (moral) atau etika menjadi model
bangunan kerangka pikir.

•Arti dan Isi Filsafat
Secara etimologis, istilah filsafat berakar dari bahasa Yunani “philo sophia”, tersusun dari kata -
kata ‘philein’ atau ‘philia’ yang berarti cinta, dan “sophia” yang berarti kearifan (Suhartono,
2005). Jadi, istilah filsafat berarti cinta kearifan. Cinta kearifan adalah suatu bentuk perilaku yang bersubstansi nilai -nilai aksiologis
keindahan, kebenaran dan kebaikan. Oleh sebab itu, secara etimologis, dalam istilah filsafat
sendiri memang terkandung persoalan tentang sistem perilaku ( morality) atau etika.

•Arti Moral dan Etika
Dari bentuk hubungan antara moral dan etika dapat dirumuskan bahwa moral lebih bersifat
abstrak universal, sedangkan etika lebih bersifat konkret khusus (obyektif). Dari pendekatan filsafat dan moral atau etika dapat disusun sebuah kerangka pikir
bahwa jika di dalam diri setiap individu tertanam kuat dorongan moral untuk berbuat kebaikan,
berarti mereka berada dalam satu ikatan moral di dalam dunia kebersamaan.

•Pemikiran Filosofis tentang Manusia dan Masyarakat
Mengenai pemikiran filosofis tentang manusia, pada umumnya pandangan “Timur”
menitikberatkan sifat hakikat manusia sebagai makhluk sosial. kehidupan bermasyarakat adalah suatu si stem manajemen
untuk mengorganisir kemampuan individual menjadi sebuah kekuatan sosial, agar kemudian
tujuan bersama seluruh individu anggotanya dapat terwujud. Masyarakat bukan hanya tempat
berkumpul, melainkan suatu proses sosial di dalam mana setiap ind ividu mendapat ruang gerak
untuk melakukan berbagai aksi sosial (social action).

•Kesadaran Moral, dasar Etika Bermasyarakat
Pada dasarnya, sebagai komponen kesadaran moral, daya kreativitas ada secara menginti di
dalam tujuan hidup, dorongan hidup dan kecakapan hidup. Secara keseluruhan, sistem nilai adalah suasana moralitas manusia yang harus dipertanggung -
jawabkan secara etis di sepanjang kehidupan.
Di dalam kehidupan bermasyarakat, setiap orang
harus berpedoman pada norma -norma etika, menurut kesadaran moral, karena mereka akan selalu
diperhadapkan dengan masalah hak dan kewajiban. Apakah karena hak, sesuatu itu dilakukan
atau sebaliknya karena telah menjalankan kewajiban lalu mendapatkan hak.
Jadi, kesadaran moral memiliki kekuatan memposisikan dan memfungsikan segala potensi
individual untuk “social eforcement”, sedangkan masyarakat difungsikan sebagai sistem proses
mencapai kesejahteraan umum.

•Moral dan Etika Bermasyarakat dalam Pendidikan
Dari sisi pendidikan, dalam kehidupan bermasyarakat terkandung sistem
interaksi menyatukan dalam bentuk saling didik -mendidik antara pihak yang satu dengan yang
lain untuk mencapai tujuan bersama. Nilai-nilai moral
dan etika perlu ditanamkan di dunia pendidikan dan dikembangkan di dalam kehidupan sosial
pada umumnya. Sebagai sistem, masyarakat seharusnya berkharakteristik mendidik agar
dinamika sosial berkembang menurut doro ngan moral (hati nurani individual) dan nilai -nilai
etika. Karena, dengan jiwa mendidik berarti setiap pihak bermoral belajar, dan hanya dengan
belajar suatu kemajuan dapat diraih.