གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Aulia Zahwa Adinda 2213053103

Nama: Aulia Zahwa Adinda
NPM: 2213053103
Kelas: 3G

Pendekatan Pentahelix Pendidikan Nilai dan Moral

Pendidikan nilai artinya memberikan harga pada suatu konsep yang dihadapi, sedangkan moral berasal dari kata morse yang artinya kebiasaan-kebiasaan yang berulang-ulang oleh sekelompok orang.
Terdapat beberapa pendekatan untuk menanamkan nilai suatu pemerintah. Pemerintah membuat undang-undang nomor 12 tahun 2012 mengenai pendidikan tinggi pasal 35 tentang kurikulum ayat 3 yang mana agama, pancasila, pendidikan kewarganegaraan, bahasa Indonesia wajib ada di dalam dunia pendidikan sebagai upaya penanaman nilai; yang kedua masyarakat atau komunitas kebiasaan-kebiasaan di masyarakat akan membantu untuk menanamkan nilai; ketiga akademisi guru maupun dosen atau siapapun yang bekerja dibidang akademisi pasti akan melakukan transfer of knowledge serta transfer of value di dalamnya di tempat pengusaha atau pemilik modal tentu jelas Penerapan nilai rata-ratanya dengan bidang tersebut; yang kelima penanaman nilai dapat dilakukan melalui berbagai media elektronik serta bisa dilakukan melalui berbagai media sosial perlukan nilai itu diajarkan.

Herman mengemukakan bahwa value is neither stokor Chung Irish learn maknanya bahwa substansi nilai tidak semata-mata ditangkap dan dipenjarakan, mulai harus ditangkap, dicerna kemudian diinternalisasikan dan dibakukan di dalam diri kita. Bagaimana menilai kualitas orang itu dilihat dari penerapan nilai di dalam dirinya. Selain itu terdapat beberapa aliran dalam pengajaran nilai yang pertama aliran relativisme. Nilai tidak bisa diajarkan perhatikan, nilai festival, kreatif, subjektif, temporer dan situasional. Dan yang kedua aliran kebebasan atau value-free nilai tidak perlu dan tidak boleh diajarkan, karena bertentangan dengan kodrat kebebasan dasar manusia untuk menentukan pilihannya secara bebas dan mandiri. Penanaman nilai dan Penerapan nilai sangatlah penting bagi kehidupan seorang manusia untuk menjalani kehidupan. 

Nama: Aulia Zahwa Adinda
NPM: 2213053103
Kelas: 3G

Pentingnya Pendidikan Nilai dan Moral

Kesadaran nilai moral berguna untuk mengarahkan anak agar mampu membuat pertimbangan secara matang atas perilakunya dalam kehidupan sehari-hari baik di sekolah maupun di masyarakat. Kesadaran moral dalam pendidikan pada saat ini tuh masih sangatlah kurang diperhatikan sehingga banyak sekali kasus atau masalah-masalah yang berkaitan dengan kesadaran moral yang sangat memprihatinkan di dunia pendidikan.

Jika seorang peserta didik tidak dibekali pendidikan nilai dan juga moral yang akan terjadi pada peserta didik tersebut  adalah semakin menurutnya moral dan etika peserta didik yang mengakibatkan akan terjadinya hal-hal yang fatal. Contohnya
Ketika menurunnya etika dan moral peserta didik ketita di sekolah adalah terjadinya bulliying. Masih banyak sekali kita temui masalah ini di sekolah-sekolah, mau di SD, SMP bahkan SMA. Hal ini merupakan contoh dari kurangnya bekal pendidikan nilai dan moral dari lingkungan keluarga.

Masalah moral dalah masalah yang pada saat ini sangat menyita perhatian terutama dari para pendidik, alim ulama, pemuka masyarakat dan orangtua. Tentunya tidak henti-hentinya kita mendengar keluhan orangtua yang kebingungan menghadapi anak-anaknya yang sukar patuh keras kepala dan juga Nakal, bahkan guru-guru pun tidak sedikit yang kebingungan menghadapi anak didik yang tidak dapat menerima pendidikan dan tidak mau belajar. Namun anehnya mereka tetap ingin naik kelas ingin lulus ujian dan ingin memaksakan kehendaknya kepada guru.
Banyak berita offline yang mencemaskan mengenai gejala kemerosotan moral yang sedang tumbuh belakangan ini. Usaha untuk menanggulangi kemerosotan Moral ini telah banyak dilakukan baik oleh lembaga keagamaan pendidikan sosial maupun instansi pemerintah.

Lalu Seberapa pentingnya pendidikan moral ini disosialisasikan kepada seluruh peserta didik?
Pendidikan moral ini sangat penting disosialisasikan kepada seluruh peserta didik karena pendidikan moral ini penting bagi peserta didik untuk kemajuan sekolah bangsa maupun negara dalam membentuk kepribadian karakter peserta didik.
Kepribadian dan karakter peserta didik yang baik akan membentuk Generasi masa depan yang cerah. Oleh karena itu, kita harus mengetahui Seberapa pentingnya mata pelajaran PPKN dalam penanaman pendidikan nilai dan juga moral.

Pendidikan Kewarganegaraan (PPKN) merupakan mata pelajaran yang memiliki salah satu misinya sebagai pendidikan nilai dalam proses pendidikan nasional. PPKN pada dasarnya merupakan Wahana pedagogis pembangunan Watak atau karakter secara makro. PPKN juga merupakan Wahana sosial pedagogis untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal ini sejalan dengan konsep fungsi pendidikan nasional dalam membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai pendidikan nilai dan juga moral.
Pendidikan Kewarganegaraan ini diharapkan dapat membantu peserta didik untuk dapat meningkatkan pengetahuan serta pemahaman peserta didik tentang nilai dan juga moral.

Pendidikan nilai dan moral diantaranya teori kognitif moral yang dikemukakan oleh Piaget dalam could dengan dasar pemikirannya yang menyatakan, bahwa pengetahuan moral dapat mempengaruhi sikap seseorang upaya penanaman moral seringkali dilakukan, namun masih saja mengalami kesulitan. Melalui pendidikan kewarganegaraan diharapkan dapat menjadi acuan penerapan keberhasilan pendidikan nilai dan juga moral di sekolah serta menjadi jembatan untuk menjadi pendidikan nilai dan moral yang baik. Pendidikan moral ini dapat membentuk karakter kepribadian dan akan memiliki budi pekerti yang luhur.
Pendidikan kewarganegaraan adalah pendidikan nilai dan juga moral karena yang disampaikan oleh mata pelajaran ini adalah nilai-nilai moral yang diperlukan oleh seorang warga negara dalam berkehidupan sebagai warga negara dan masyarakat baik .
Nama: Aulia Zahwa Adinda
NPM: 2213053103

A. Identitas Jurnal
Judul jurnal: PERKEMBANGAN MORAL SISWA SEKOLAH DASAR BERDASARKAN TEORI KOHLBERG
Penulis: Enung Hasanah
Tahun Terbit: 2019
Bulan Terbit: September
Nomor: 2
Volume: 6
Kata Kunci: teori kohlberg, SD, moral

B. Isi Jurnal
Teori Kohlberg dikenal sebagai teori yang mengukur tingkatan moral seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat perkembangan moral siswa SD yang berusia antara 11-12 tahun, berdasarkan tahapan perkembangan teori Kohlberg. Ia mahir kolaborasi, komunikasi dan pemecahan masalah, yang merupakan beberapa keterampilan yang dikembangkan melalui pembelajaran keterampilan membekali. Ini menjadi sangat penting terutama bagi para siswa di wilayah Indonesia yang secara umum masyarakatnya adalah masyarakat religius yang meyakini keberhasilan baik pondasi karir terpenting maupun bagi kehidupan pribadinya.

Pendidikan tidak hanya memberikan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai, pelatihan naluri, membina sikap yang tepat dan kebiasaan terhadap generasi muda. Arthur, seorang peneliti dan pendidik karakter memberikan penjelasan bahwa berdasarkan beberapa tulisan mengenai pendidikan karakter, para peneliti atau filsuf cenderung mengambil kesimpulan bahwa hal substantif mengenai pendidikan karakter dan pembentukan karakter pada periode kanak-kanak adalah umumnya menjelaskan dan menganalisis tentang konsep moral . Moralitas selalu berbicara tentang nilai, yang menjadi evaluasi standar normatif dalam mengatur kehidupan manusia. Evaluasi standar normatif maksudnya adalah moralitas merupakan sebuah kesepakatan antara individu dengan masyarakat mengenai kriteria baik atau buruknya sesuatu, sehingga akan menentukan apakah suatu hal layak atau tidak layak untuk dikerjakan oleh individu atau masyarakat. Hal itu didasari oleh pertimbangan moral .
Moralitas dan Pendidikan moral dapat dilihat dari dua sisi, yaitu dari sisi luar dan dari sisi dalam. Dilihat dari luar, moralitas mengatur cara bergaul dengan orang lain, dan dari dalam mengatur cara bergaul dengan diri sendiri. Dengan kata lain, pendidikan moral diperlukan sekaligus sebagai kontrol kondisi sosial dan sarana yang sangat diperlukan untuk aktualisai diri. Oleh karena itu pembentukan moral anak dijadikan sebagai salah satu tujuan dasar dari pendidikan formal. Selain itu, masyarakat semakin sadar bahwa lingkungan dan masyarakat memainkan peran penting untuk melatih anak tentang norma-norma moral dan sosial yang mengatur kehidupan manusia. Bagi seorang pendidik, sangat memahami perkembangan moral peserta didiknya.

●Teori Kohlberg
Perkembangan moral telah dipelajari dari berbagai perspektif psikologis, termasuk teori belajar, psikoanalisis, dan lain-lain. Studi saat ini tentang telah dipengaruhi pendekatan perkembangan kognitif Jean Piaget dan Lawrence Kohlberg. Asumsi utama Piaget adalah bahwa kognisi dan afek berkembang secara paralel dan keputusan moral merupakan proses perkembangan kognisi secara alami. Sebaliknya, kebanyakan ahli psikologi pada masa itu berasumsi bahwa pikiran proses psikologi sosial. Seseorang dihadapkan pada dilema moral supaya muncul minatnya, lalu ditanya secar alangsung bagaimana solusinya terhadap dilema tersebut dan mengapa dia mengambil keputusan seperti itu. Mengamati tingkah laku tidak menunjukan banyak mengenai kematangan moral.

Kohlberg juga tidak memusatkan pernyataan seseorang, apakah mengatakan sesuatu hal benar atau salah. Seorang dewasa yang sudah matang dan seorang anak kecil, mungkin berkata bahwa mencuri mangga itu salah. Sekali lagi tidak tampak perbedaan antara orang dewasa dengan anak kecil. Apa yang menampakan perbedaan dalam kematangan moral itu adalah pertimbangan-pertimbangan yang diberikan oleh mereka, mengapa mencuri mangga itu salah. Memperhatikan pertimbangan mengapa suatu tindakan seseorang atau bahkan mendengar pernyataannya bahwa sesuatu itu salah. Mungkin saja seseorang menunjukan bahwa berbuat curang itu salah, karena dapat ditangkap, sedangkan orang lain merongrong barangkali kepercayaan umum berbuat curang dibutuhkan itu berlangsungnya masyarakat .
Nama: Aulia Zahwa Adinda
NPM: 2213053103

A. Identitas Jurnal
Judul jurnal: PENDIDIKAN NILAI MORAL
DITINJAU DARI PERSPEKTIF GLOBAL
Penulis: Sudiati
Tahun Terbit: 2009
Bulan Terbit: Juni
Nomor: 2
Kata Kunci: moral value education, global perspective (pendidikan nilai moral, perspektif global)

B. Isi Jurnal
Pendidikan nilai moral merupakan tuntutan sekaligus kebutuhan umat manusia sebagai wujud kebersamaan dalam berbangsa dan bernegara dengan berbagai permasalahannya.  Pendidikan nilai moral merupakan salah satu alternatif penyelesaian permasalahan yang bersifat lokal, regional, nasional, dan internasional.  Namun negara-negara tersebut menekankan pendidikan nilai moral pada nilai-nilai etika moral, terutama pada nilai-nilai terkait hak asasi manusia yang bersifat universal dan global.  Konsep pendidikan nilai moral yang dikemukakan oleh Kohlberg dan Miller cenderung bersifat individualistis.  Pendekatan pendidikan nilai moral meliputi pendekatan penanaman, pemodelan, fasilitasi, dan pengembangan keterampilan, sedangkan metode yang digunakan meliputi metode dogmatis, deduktif, induktif, dan reflektif.

Kompleksitas mengemuka dalam tatanan global yang ditandai dengan munculnya berbagai masalah dan isu-isu global seperti pelanggaran hak-hak asasi manusia , fenomena kekerasan, dan penyalahgunaan narkotika. Di samping itu, revolusi teknologi telekomunakasi dan transportasi menghadirkan sejumlah kemudahan untuk melakukan aktivitas kehidupan di se-gala bidang. Kerjasama dalam bidang ekonomi, politik, kebudayaan dan militer dijalin tanpa dibatasi oleh jarak antarwilayah negara. Di lain hal, globalisasi dapat melahirkan kompetisi yang kurang sehat. Dengan kata lain kompleksitas global memiliki banyak keuntungan bagi yang kuat, tetapi sebaliknya keadaan itu dapat menghancurkan kehidupan bangsa yang kalah bersaing.

Eropa menyaksikan kehancuran yang ditimbulkan oleh perang. Perang Dunia II terjadi Perang Dingin yang hampir membawa manusia pada konflik nuklir yang dapat menghancurkan dunia ini, Syukurlah hal itu bisa dihindari. Pada masa-masa perang dingin isu-isu tentang nilai, moral, etika kehidupan, juga kelestarian lingkungan sangat menonjol. Majalah Newsweek ketika menyambut datangnya abad 21 menurunkan laporan utama yang mengevaluasi perjalanan manusia selama abad 20. Sebagai kesimpulannya dikemukakan bahwa selama abad 20 waktu yang digunakan manusia untuk saling berperang lebih banyak daripada perdamaian.

Pada tahun 1970-an saintis masih sering mengatakan ilmu bebas nilai, akan tetapi sekarang mereka hampir sepakat untuk menyatakan "there is no such thing the so-called value-free science". Sebaliknya, mereka berbicara tentang sains yang bermuatan nilai di mana pun titik nilai melekat.
Dalam tesisnya dinyatakan bahwa setelah berakhirnya Perang Dingin akan terjadi konflik atau benturan yang hebat antar peradaban. Lebih lanjut, diungkapkan pula bahwa ada tujuh kelompok peradaban di dunia dan hanya tiga kekuatan yang saling berhadapan, yaitu Barat, Konghucu, dan Islam
Fakta yang berkaitan dengan benturan antarperadaban itu cukup banyak.
Kesemua itu, bila dicermati, akarnya adalah konflik atau benturan antarnilai yang pada dasarnya juga merupakan benturan antarperadaban yang melatarbelakanginya. Di antaranya, untuk mengkritik habis paradigma Newtonian yang mekanistik dan eksploratif.

Pendidikan dituntut untuk memiliki wawasan pemikiran ke depan dan mampu membaca peluang dan tantangan global. Di samping itu, harus mampu memelihara perilaku etik pribumi yang harus dipertahankan sesuai dengan keanekaragaman dan keunikan yang dimiliki.
Sastrapratedja menyatakan bahwa untuk menjadikan suatu bangsa berpredikat ganda seperti itu, tidak hanya memerlukan pengembangan ilmu, keterampilan, dan teknologi, tetapi juga memerlukan pengembangan aspek-aspek lainnya, seperti kepribadian dan etik-moral. Kesemuanya itu dapat disebut dengan pengembangan pendidikan nilai.Ruang lingkup klasifikasi nilai mencakup nilai terminal dan instrumental, instrinsik dan ekstrinsik, personal dan sosial, subjektif dan objektif. Kategorisasi nilai meliputi enam klasifikasi nilai dan enam dunia makna. Klasifikasi nilai mencakup nilai teoretik, ekonomis, estetik, sosial, politik, dan agama. 

Dunia nilai mencakup simbolik, empirik, estetik, sinoetik, etik, dan sinoptik .
Pembahasan dalam tulisan ini dibatasi pada nilai terminal dan nilai instrumental. Menurut Rokeach, nilai instrumental meliputi bercita-cita keras, berwawasan luas, berkemampuan, ceria, bersih, bersemangat, pemaaf, penolong, jujur, imajinatif, mandiri, cerdas, logis, cinta, taat, sopan, tanggung jawab, dan pengawasan diri. Nilai terminal meliputi hidup nyaman, hidup bergairah, rasa berprestasi, rasa kedamaian, rasa keindahan, rasa persamaan, keamanan keluarga, kebebasan, kebahagiaan, keharmonisan diri, kasih sayang yang matang, rasa aman secara luas, kesenagan, keselamatan, rasa hormat, pengakuan social, persahabatan, dan kearifan.Pendidikan nilai di Indonesia disadari atau tidak masih belum banyak menyentuh pemberdayaan dan pencerahan kesadaran dalam perspektif global. Persoalan pembenahan pendi-dikan masih terpaku pada kurikulum nasional dan lokal yang belum pernah tuntas.