Posts made by Desviana Safitri 2213053064

Nama : Desviana Safitri
NPM : 2213053064

Hasil analisis artikel jurnal yang saya dapatkan yaitu artikel ini memberikan gambaran yang cukup lengkap tentang pentingnya pendidikan moral dan nilai-nilai dalam sistem pendidikan di Aceh, Indonesia. Dalam artikel ini menjelaskan bahwa perubahan sosial yang cepat telah menimbulkan kekhawatiran tentang nilai-nilai moral peserta didik. Pemerintah Aceh telah mengimplementasikan sistem pendidikan Islam yang sesuai dengan ketentuan yang diberikan oleh pemerintah pusat. Implementasi pembelajaran Islam di Aceh didasarkan pada Qanun No. 9/2015 yang berfokus pada ajaran Islam.

Artikel ini juga menjelaskan pentingnya pendidikan nilai dan moral dalam membentuk karakter peserta didik dan masa depan bangsa. Di dalam artikel ini menjelaskan bahwa pendidikan nilai dan moral di Aceh didasarkan pada ajaran Islam dan diatur dalam qanun yang ada di provinsi tersebut. Penerapan kurikulum Islam di Aceh mencakup mata pelajaran inti dan muatan lokal yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam.

Selain itu, artikel ini juga mengutip sumber-sumber yang membahas berbagai aspek moralitas, nilai-nilai, dan pengembangan karakter dalam konteks yang berbeda, termasuk Islam, pendidikan, dan kearifan lokal. Hal ini menunjukkan bahwa penulis telah melakukan penelitian yang cukup komprehensif dalam menyusun artikel ini.

Secara keseluruhan, artikel ini memberikan pemahaman yang baik tentang pentingnya pendidikan nilai dan moral dalam sistem pendidikan di Aceh. Artikel ini dapat menjadi sumber informasi yang berguna bagi pembaca yang tertarik dengan pendidikan nilai dan moral di Indonesia.
Nama : Desviana Safitri
NPM : 2213053064

Hasil analisis dari video tersebut adalah terjadinya kekerasan dan penurunan nilai moral di sekolah dasar merupakan masalah yang sangat serius dan membutuhkan langkah-langkah konkret untuk mengatasinya. Berikut ini beberapa hal yang dapat menjadi solusi:

1. Melibatkan semua pihak terkait: Penting untuk melibatkan seluruh stakeholder, termasuk para guru, orang tua, siswa, dan pihak sekolah lainnya, dalam mengatasi masalah ini. Dengan melibatkan semua pihak, kita dapat bekerja sama dalam menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung pertumbuhan moral.

2. Membangun kesadaran tentang nilai moral: Pendidikan moral harus menjadi bagian integral dari kurikulum sekolah dasar. Dalam proses pembelajaran, perlu diintegrasikan pelajaran dan nilai-nilai moral yang mendorong kebaikan, kerjasama, penghormatan, dan empati antar siswa.

3. Pelatihan dan bimbingan bagi para guru: Para guru perlu diberikan pelatihan dan bimbingan untuk mengenali tanda-tanda kekerasan, mengelola emosi siswa, dan mengatasi konflik dengan cara yang positif. Keterampilan ini akan membantu mereka merespons dengan bijaksana dan efektif saat menghadapi situasi yang tidak aman.

4. Pelibatan orang tua: Orang tua juga perlu diberikan pemahaman tentang pentingnya nilai moral dan bagaimana mereka dapat mendukung pembentukan karakter anak di rumah. Sekolah dapat mengadakan pertemuan dengan orang tua secara reguler untuk membahas masalah ini dan saling menguatkan dalam upaya menciptakan lingkungan yang lebih aman dan beretika.

5. Pengawasan yang lebih ketat: Sekolah harus meningkatkan pengawasan di area-area yang rentan terjadinya kekerasan, seperti kantin, toilet, dan area bermain. Selain itu, CCTV dan sistem pengawasan lainnya dapat diterapkan untuk meningkatkan keamanan siswa.

6. Pembentukan komite anti-kekerasan: Sekolah bisa membentuk komite khusus yang bertugas untuk mengidentifikasi, mencegah, dan menindaklanjuti tindakan kekerasan. Komite ini dapat bekerja sama dengan pihak berwenang dan organisasi lainnya untuk mengatasi masalah secara menyeluruh.

7. Program pengembangan sosial dan emosional: Sekolah dapat menerapkan program pengembangan keterampilan sosial dan emosional bagi siswa. Program seperti ini dapat membantu siswa menjalin hubungan yang sehat, mengelola emosi, dan membangun kedewasaan moral.

Penting untuk menyadari bahwa masalah ini tidak dapat diatasi dalam semalam. Diperlukan kolaborasi dan upaya yang berkesinambungan dari seluruh komunitas sekolah untuk menciptakan lingkungan yang aman, mencerminkan nilai-nilai moral yang positif, dan mencegah tindakan kekerasan.
Nama : Desviana Safitri
NPM : 2213053064
Hasil analisis yang saya dapatkan dari video tersebut adalah dalam video ini mengajak kita untuk menghadapi sebuah persoalan dilematis tentang moralitas. Selanjutnya kita bermain-main dengan beberapa pertanyaan filosofis dari trolley problem yang klasik. Kita dipaksa berpikir untuk mendefinisikan kembali moralitas dari perspektif yang berbeda, mencari mana nilai moral yang lebih baik atau mungkinkah yang lebih baik itu hanya tipuan belaka.

Pada permasalahan yang pertama kamu berada dalam ruang kemudi kereta yang sedang bergerak kencang didepanmu, kamu melihat ada lima orang yang terletak di rel dan tidak bisa bergerak. Jika kereta menabrak orang tersebut kamu tahu kelimanya pasti akan meninggal dunia kabar baiknya di depanmu terdapat cabang perlintasan yang dapat membuat kereta berbelok hanya dengan menarik tuas yang ada di ruang kemudi tersebut tapi masalahnya saat kamu menatap ke arah lintasan tersebut ternyata disana ada satu orang lain yang juga terikat di real dan kamu tidak tahu cara menghentikan kereta. Satu-satunya yang dapat kamu lakukan adalah menarik tuas dan membuat kereta berbelok-belok atau kamu membiarkan kereta pada posisinya maka kereta akan terus meluncur dan membunuh lima orang. "Apa yang akan kamu lakukan?" Jika dibandingin 5/1 pastinya akan berbelok jawabanmu barangkali sama dengan orang lain pada umumnya. Dari survei yang dilakukan 90% orang menjawab mereka akan membuat kereta berbelok sehingga hanya akan ada satu orang yang terbunuh daripadanya lima orang terbunuh.

Permasalahan kedua sebuah kereta bergerak cepat menuju lima orang yang terikat di rel, kali ini hanya ada satu lintasan rel saja tanpa cabang perlintasan. Di skenario ini kamu tidak di dalam kereta melainkan berada di atas sebuah jembatan yang berada di atas rel kereta. Di depanmu entah darimana dan entah siapa ada seseorang yang bertubuh sangat besar, saat melihat kereta meluncur kamu tahu jika kamu mendorong orang bertubuh besar itu maka bobotnya dapat menghentikan kereta sehingga lima orang berada di ujung rel akan selamat tetapi orang bertubuh besar itu yang akan terbunuh. Tetapi jika kamu tidak melakukan apa-apa, tidak mendorongnya maka lima orang akan terbunuh. Apa yang akan kamu lakukan? Jawabanmu mungkin juga sama dengan orang lain pada umumnya. Kali ini berkebalikan dari yang sebelumnya pada skenario kedua ini 90% orang akan memilih untuk tidak mendorong sehingga berakibat lima orang meninggal dunia karena tertabrak kereta.

Coba ingat-ingat kembali padahal baru beberapa menit yang lalu kamu memberikan sebuah alasan lebih baik mengorbankan satu orang daripada lima orang tapi sekarang kebanyakan orang mungkin termasuk kamu ternyata tidak melakukannya. Ada banyak alasan yang diberikan yang paling banyak adalah karena pada skenario kedua ini terjadi perbuatan aktif yaitu mendorong orang tapi mereka termasuk kamu juga lupa jika menarik tuas untuk membelokkan kereta juga merupakan pembuatan aktif. Dari sinilah moralitas menjadi sebuah dilema.
Nama : Desviana Safitri
NPM : 2213053064

Identitas Jurnal
Nama jurnal : Jurnal Pendidikan Sosiologi Dan Humaniora
Volume :1
Nomor : 1
Halaman : 89 - 105
Tahun Terbit : 2010
Judul : MEMBINA NILAI MORAL SOSIAL BUDAYA INDONESIA DI KALANGAN REMAJA
Nama penulis : H. Wanto Rivaie
Artikel tersebut membahas tentang pentingnya peningkatan nilai-nilai moral, sosial dan budaya di kalangan generasi muda Indonesia. Dalam konteks kehidupan dewasa yang penuh tuntutan dan kesulitan, orang tua harus memberikan kasih sayang kepada anaknya agar menjadi generasi yang bertanggung jawab dan berakhlak mulia. Artikel ini menyoroti bahwa kurangnya kontak emosional dari orang tua menjadi faktor yang menyebabkan banyaknya perilaku nakal di kalangan remaja seperti tawuran antar pelajar dan penggunaan narkoba.

Pendidikan harus menekankan aspek emosional dan perilaku yang mulia. Nilai-nilai etika, sosial, dan budaya juga perlu ditanamkan sejak dini agar generasi muda memiliki rasa tanggung jawab dan kepribadian yang luhur. Pembentukan identitas generasi muda juga penting untuk pengembangan kepribadian mereka, dan pendidikan memegang peranan penting dalam proses ini.

Artikel ini juga menekankan pentingnya peran pendidikan formal dan informal dalam membentuk kepribadian manusia. Guru dan tokoh masyarakat bertanggung jawab membentuk nilai moral dan membangun jati diri generasi muda. Komunikasi yang penuh nilai, kreatif dan bertanggung jawab juga penting untuk menciptakan suasana pendidikan yang menyenangkan. Agama juga berperan strategis dalam membentuk perilaku siswa dalam masyarakat majemuk.
Nama : Desviana Safitri
NPM : 2213053064

Nama Jurnal : Jurnal Pemimpin Pengabdian Masyarakat Ilmu Pendidikan
Volume : 2
Nomor : 1
Halaman : 13-17
Tahun Terbit : Januari 2022
Judul Jurnal : PENERAPAN NILAI MORAL PANCASILA DALAM MEWUJUDKAN GENERASI ANTI KORUPSI DILeo SD NEGERI OSILOA KUPANG TENGAH!
Nama Penulis : Asti Yunita Benu, Agnes Maria Diana Rafael, Imanuel Baok, Intan Yunita Tungga, Maria M Nina Niron, Niski Astria Ndolu, dan Vebiyanti P Leo.
Artikel ini membahas tentang penerapan nilai-nilai etika Pancasila di Sekolah Dasar Negeri Osiloa Kupang Tengah dengan tujuan untuk menciptakan generasi anti korupsi. Penulis menekankan pentingnya pendidikan moral untuk menanamkan nilai-nilai tersebut sejak dini. Artikel ini juga menjelaskan metode yang digunakan dalam proyek pengabdian masyarakat, termasuk menanamkan nilai-nilai tersebut pada siswa sekolah dasar. Bagian hasil dan diskusi menyoroti kegiatan dan pengamatan selama pelaksanaan proyek.

Penerapan nilai-nilai etika Pancasila sejak dini di SD Negeri Osiloa Kupang Tengah bertujuan untuk membangun generasi anti korupsi. Hal ini menunjukkan kesadaran akan pentingnya pendidikan akhlak sejak dini untuk membentuk kepribadian yang tangguh dan terhindar dari perbuatan korupsi di kemudian hari.

Artikel ini juga menyoroti eratnya hubungan antara nilai moral dan hukum, yang menjalankan fungsi kemanusiaan. Dengan menanamkan nilai-nilai etika Pancasila, kita berharap dapat mencegah korupsi sejak dini dan membangun budaya anti korupsi di kalangan pelajar.

Metode yang digunakan dalam proyek pengabdian masyarakat ini adalah dengan mensosialisasikan nilai-nilai moral Pancasila kepada siswa sekolah dasar. Hal ini menunjukkan pendekatan yang tepat dalam mengenalkan nilai-nilai tersebut kepada generasi muda, karena pendidikan moral yang dimulai sejak dini akan memberikan dampak yang lebih besar terhadap pembentukan karakter dan perilaku pribadi. Artikel yang dihasilkan menjelaskan kegiatan dan observasi selama pelaksanaan proyek. Meski tidak dijelaskan secara rinci, namun artikel ini memberikan gambaran bagaimana nilai-nilai etika Pancasila disampaikan kepada mahasiswa serta masukan dan observasi yang diperoleh selama proyek berlangsung.