Posts made by Eliska Bia Kusuma Putri

PSPB Etnosains B Ganjil 2021/2022 -> Rangkuman 5

by Eliska Bia Kusuma Putri -
Eliska Bia Kusuma Putri
NPM 1913024018

Kearifan lokal memiliki hubungan yang erat dengan kebudayaan tradisional pada
suatu tempat, dalam kearifan lokal tersebut banyak mengandung suatu pandangan
maupun aturan agar masyarakat lebih memiliki pijakan dalam menentukan suatu
tindakkan seperti perilaku masyarakat sehari-hari.

Adat pepadun didirikan sekitar abad ke-16 pada zaman kesultanan Banten. Pada
mulanya terdiri dari 12 kebuaian (Abung Siwo Mego dan Pubian Telu Suku),
kemudian ditambah 12 kebuaian lain yaitu Mego Pak Tulang Bawang, Buay Lima
Way Kanan dan Sungkai Bunga Mayang (3 Buay) sehingga menjadi 24 kebuaian.
Adat Pepadun dipakai oleh masyarakat adat Abung Siwo Mego, Mego Pak Tulang
Bawang, Pubian Telu Suku, Buay Lima Way Kanan dan Sungkai Bunga Mayang. Nama pepadun diambil dari kata “Pepadun” tempat penobatan Penyimbang di
Paksi Pak Skala Brak yang beradat Sai Batin. Sedangkan “Pepadun” masih juga
digunakan pada pengakatan kepala adat di marga-marga keturunan Paksi Pak Skala
Brak yang beradat Sai Batin di Pesisir Krui dan Pesisir Teluk Semaka.

Perkawinan Adat Lampung Pepadun
Terjadinya perkawinan menurut adat suku lampung pepadun melalui 2 cara,
yaitu Rasan Sanak dan Rasan Tuho. Perkawinan Rasan Sanak ini atas kehendak kedua muda-mudi (mulei-
menganai) dengan cara berlarian (Sebambangan) dimana si gadis dibawa oleh
pihak bujang ke keluarga dan ke kepala adatnya, kemudian diselesaikan
dengan perundingan damai diantara kedua belah pihak. Perbuatan mereka ini
disebut “Mulei Ngelakai”. Apabila gadis yang pergi berlarian atas kehendak
sendiri maka disebut “cakak lakai/nakat”. Dalam acara berlarian ini terjadi
perbuatan melarikan dan untuk si gadis dipaksa lari bukan atas persetujuannya.
Perbuatan ini disebut “Tunggang” atau “Ditengkep”. Perbuatan tersebut
merupakan pelanggaran adat muda-mudi dan dapat berakibat dikenakan
hukum secara adat atau denda. Tetapi pada umumnya dapat diselesaikan
dengan cara damai oleh para penyimbang kedua belah pihak. Sedangkan rasan tuho yaitu perkawinan yang terjadi dengan cara
“Lamaran” atau pinangan dari pihak orang tua bujang kepada pihak orang tua
gadis. Rasan Tuho ini dapat juga terjadi dikarenakan sudah ada rasan sanak,
yang kemudian diselesaikan oleh para penyimbang kedua belah pihak dengan
Rasan Tuho.

Nilai kearifan local yang ada di pernikahan adat pepadun :
a. Nilai religious, terlihat dari tahap khatam alquran yang dilakukan sebelum akad nikah.
b. Nilai gotong royong, karena acara pernikahn adat pepadun berlangsung kurang lebih 7 hari maka banyak masyarakat yang ikut serta membantu melancarkan acara.
c. Nilai musyawarah, acara awal sebelum perkawinan cakak sai tuha.
d. Nilai social budaya, yaitu budaya yang terlahir dari acara adat.

Falsafah Hidup Masyarakat Adat Pepadun
Masyarakat Lampung baik yang beradat Pepadun maupun yang beradat Saibatin,
mempunyai sistem falsafah hidup. Filsafat hidup masyarakat Lampung yang terkenal
adalah filsafat hidup Piil Pesenggiri. lampung pepadun menyebut; Piil
pesenggiri (prinsip kehormatan), Juluk adek (prinsip keberhasilan), Nemui nyimah
(prinsip penghargaan), Nengah nyappur (prinsip persamaan), dan Sakai sambayan
(prinsip kerja sama).

PSPB Etnosains B Ganjil 2021/2022 -> Forum diskusi 5

by Eliska Bia Kusuma Putri -
Eliska Bia Kusuma Putri
NPM 1913024018

Sebagai seseorang yang lahir dan bertempat tinggal di lampung kita haruslah mengenal kearifan lokal yang ada di lampung salah satunya adalah kearifan lokal adat pepadun. Kearifan lokal ini adalah pengetahuan yang sudah dijaga dan dikembangkan oleh para
leluhur dalam mensiasati lingkungan hidup sekitar mereka, dan
pengetahuan itu dijadikan sebagai bagian dari budaya dan memperkenalkan serta
meneruskan itu dari generasi ke generasi termasuk kita semua. Hal ini agar selalu lestari dan hidup kearifan lokal tersebut. Masyarakat adat pepadun sendiri memiliki
berbagai kearifan lokal yang menjadi ciri khasnya serta mencerminkan sikap budi
pekerti yang baik, seperti gotong royong dan saling membantu satu sama lain.
Selain itu, kearifan lokal yang ada dapat dijadikan sebagai sumber proses
pembelajaran sehingga pengalaman belajar yang didapat siswa akan bersifat lebih
konkret dan memberikan pembelajaran yang bermakna.

PSPB Etnosains B Ganjil 2021/2022 -> Tugas latihan 5

by Eliska Bia Kusuma Putri -
Eliska Bia Kusuma Putri
NPM 1913024018

Kearifan lokal lampung pepadun:
1. Perkawinan Adat Lampung Pepadun
Terjadinya perkawinan menurut adat suku lampung pepadun melalui 2 cara,
yaitu Rasan Sanak dan Rasan Tuho. Perkawinan Rasan Sanak ini atas kehendak kedua muda-mudi (mulei-
menganai) dengan cara berlarian (Sebambangan) dimana si gadis dibawa oleh pihak bujang ke keluarga dan ke kepala adatnya, kemudian diselesaikan
dengan perundingan damai diantara kedua belah pihak. Perbuatan mereka ini
disebut “Mulei Ngelakai”. Apabila gadis yang pergi berlarian atas kehendak
sendiri maka disebut “cakak lakai/nakat”. Dalam acara berlarian ini terjadi
perbuatan melarikan dan untuk si gadis dipaksa lari bukan atas persetujuannya.
Perbuatan ini disebut “Tunggang” atau “Ditengkep”. Perbuatan tersebut
merupakan pelanggaran adat muda-mudi dan dapat berakibat dikenakan
hukum secara adat atau denda. Tetapi pada umumnya dapat diselesaikan
dengan cara damai oleh para penyimbang kedua belah pihak. Sedangkan rasan tuho yaitu perkawinan yang terjadi dengan cara
“Lamaran” atau pinangan dari pihak orang tua bujang kepada pihak orang tua
gadis. Rasan Tuho ini dapat juga terjadi dikarenakan sudah ada rasan sanak,
yang kemudian diselesaikan oleh para penyimbang kedua belah pihak dengan
Rasan Tuho.

2. Falsafah Hidup Masyarakat Adat Pepadun
Masyarakat Lampung baik yang beradat Pepadun maupun yang beradat Saibatin,
mempunyai sistem falsafah hidup. Filsafat hidup masyarakat Lampung yang terkenal
adalah filsafat hidup Piil Pesenggiri. lampung pepadun menyebut; Piil
pesenggiri (prinsip kehormatan), Juluk adek (prinsip keberhasilan), Nemui nyimah
(prinsip penghargaan), Nengah nyappur (prinsip persamaan), dan Sakai sambayan
(prinsip kerja sama).

PSPB Etnosains B Ganjil 2021/2022 -> Forum Diskusi 4

by Eliska Bia Kusuma Putri -
Nama: Eliska Bia Kusuma Putri
NPM: 1913024018

kearifan lokal di suatu daerah kadang kala bertentangan dengan keyakinan yang dianut. Jika terjadi seperti itu maka saya sebagai seseorang yang memiliki suatu kepercayaan tidak boleh dengan mudahnya mengikuti adat tersebut, dan sebaliknya kita juga tidak boleh langsung menjudge adat tersebut tidak boleh dilakukan atau dilaksanakan, karena pastinya bagi orang orang yang mempercayai budaya tersebut ada kebaikan yang diperolehnya sehingga terus dilaksanakan dan dilestarikan. kita bisa mengakulturasi budaya/adat tersebut dengan nilai nilai yang kita anut agar kehidupan adat dan beraga tetap dapat terselenggara dengan baik.

PSPB Etnosains B Ganjil 2021/2022 -> Rangkuman 4

by Eliska Bia Kusuma Putri -
Nama: Eliska Bia Kusuma Putri
NPM 1913024018

Rangkuman
Kearifan lokal berasal dari dua kata, yaitu kearifan (wisdom) dan
lokal (local). Local artinya setempat, sementara wisdom artinya bijaksana.
Jadi, kearifan lokal dapat dikatakan sebagai gagasan atau pandangan yang
bersumber dari sebuah tempat, yang di dalamnya terdapat sifat bijaksana
atau nilai-nilai baik yang tertanam, diyakini, dan dianut oleh suatu
masyarakat secara turun-temurun.

Ciri-ciri kearifan lokal yang ada di Indonesia antara lain:
1. Menjadi benteng yang menjaga eksistensi kebudayaan asli dari
pengaruh perkembangan zaman maupun terpaan budaya luar.
2. Mampu mengakomodasi unsur-unsur budaya luar. Artinya, kearifan
lokal mampu memilih mana budaya luar yang cocok dan masih
sesuai dengan budaya asli. Ciri ini menunjukkan bahwa kearifan
lokal tidak selalu bersifat tradisional, tapi juga adaptif terhadap
perkembangan budaya.
3. Mampu mengintegrasikan unsur budaya luar ke dalam budaya asli.
Kearifan lokal mampu menyatukan budaya luar dan budaya asli
dalam komunitas masyarakat sehingga berpotensi menciptakan
kebudayaan nasional.
4. Kearifan lokal sebagai alat kontrol sosial, berarti kearifan lokal
menjadi alat yang mampu menjaga agar masyarakat memiliki
tanggung jawab atas keberlangsungan hidupnya dan agar hubungan
sosial di masyarakat tidak hilang.
5. Pemberi arah perkembangan budaya. Artinya, kearifan lokal mampu
menjadi alat untuk Menjadi benteng pertahanan masyarakat dari
terpaan budaya luar. Artinya, kearifan lokal mengarahkan
masyarakat agar tetap berperilaku sesuai budayanya.

Fungsi kearifan lokal antara lain:
1. Sebagai pelestarian sumber daya alam.
2. Pemberdayaan kebudayaan dan ilmu pengetahuan, misalnya
upacara Saraswati, kepercayaan dan pemujaan pada Pura Panji.
3. Sebagai petuah, kepercayaan, sastra, sdan pantangan.
4. Sebagai integrasi komunitas atau kerabat serta upacara daur
pertanian.
5. Sebagai makna etika dan moral, misalnya dalam upacara ngaben dan
penyucian roh leluhur.

Tipe tipe kearifan lokal antara lain:
1. Kearifan lokal dalam hubungan dengan makanan: khusus
berhubungan dengan lingkungan setempat, dicocokkan dengan
iklim dan bahan makanan pokok setempat. Contoh: sasi laut di
Maluku
. Kearifan lokal dalam hubungan dengan pengobatan: untuk
pencegahan dan pengobatan. Contoh: masing-masing daerah
memiliki tanaman obat tradisional dengan khasiat yang berbeda-
beda
3. Kearifan lokal dalam hubungan dengan sistem produksi: untuk pemenuhan kebutuhan dan tenaga kerja. Contoh: Subak di Bali; di Maluku ada Masohi untuk membuka lahan
pertanian, dll
4. Kearifan lokal dalam hubungan dengan perumahan: disesuaikan
dengan iklim dan bahan baku yang tersedia di wilayah tersebut
Contoh: rumah orang Eskimo: rumah yang terbuat dari gaba-gaba di
Ambon, dll.
5. Kearifan lokal dalam hubungan dengan pakaian: disesuaikan dengan
iklim dan bahan baku yang tersedia di wilayah itu.
6. Kearifan lokal dalam hubungan sesama manusia: sistem
pengetahuan lokal sebagai hasil interaksi terus menerus yang
terbangun karena kebutuhan kebutuhan di atas. Contoh: Hubungan
Pela di Maluku juga berhubungan dengan kebutuhan kebutuhan
pangan, perumahan, sistem produksi dan lain sebagainya

Macam macam kearifan lokal di Indonesia antara lain:
1. Wayang kulit
2. Tradisi Suran
3. Koko dan Tattakeng di Sulawesi Selatan
4. Moposad Dan Moduduran di Sulawesi Selatan
5. Tembawai di Kalimantan Barat
6. Rimba Kepungan Sialang di Riau
7. Hompongan di Jambi
8. Awig Awig di Lombok Utara
9. Hutan Larangan Adat Rumbio di Kampar
10. Kearifan lokal Tradisi Maauwo di Danau Bakuok
Dsb..