responsi 2

responsi 2

responsi 2

by Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M. -
Number of replies: 28

Jawablah pertanyaan pertanyaan berikut ini:

1. Jelaskan cara mengembangkan   wawasan   tentang   hubungan   antara   nilai   dan   praktik kemasyarakatan dan budaya organisasi yang bekerja dalam masyarakat!

2. Jelaskan model lima dimensi yang dikembangkan oleh Hofstede serta membangun definisi budaya dari  penelitian lebih baru oleh proyek Globe!

3. Jelaskan gagasan tentang Clustering  budaya yang dirancang  oleh  proyek GLOBE sesuai dengan kesamaan antara negara menyusun budaya masing-masing cluster!


In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: responsi 2

by M. Ridho Arya Wardana -
Nama: M. Ridho Arya Wardana
NPM: 2411011096

1. Hubungan nilai, praktik kemasyarakatan, dan budaya organisasi

Wawasan dapat dikembangkan dengan membandingkan nilai dan praktik yang berlaku dalam masyarakat dengan cara organisasi menjalankan kegiatan. Nilai masyarakat seperti gotong royong, individualisme, atau hierarki dapat memengaruhi pola komunikasi, kepemimpinan, pengambilan keputusan, dan hubungan kerja dalam organisasi.

2. Model lima dimensi Hofstede dan proyek GLOBE

Hofstede menjelaskan budaya melalui lima dimensi:
1. Power Distance – tingkat penerimaan terhadap ketimpangan kekuasaan.
2. Individualism vs Collectivism – lebih mementingkan individu atau kelompok.
3. Uncertainty Avoidance – tingkat kenyamanan terhadap ketidakpastian.
4. Masculinity vs Femininity – orientasi pada pencapaian/kompetisi atau kepedulian/kualitas hidup.
5. Long-Term vs Short-Term Orientation – orientasi pada masa depan atau hasil dan nilai jangka pendek.
Sementara proyek GLOBE mengembangkan pemahaman budaya dengan membedakan praktik budaya (what is) dan nilai budaya (what should be) serta melihat pengaruh budaya terhadap kepemimpinan dan efektivitas organisasi.

3. Clustering budaya dalam proyek GLOBE

Clustering budaya adalah pengelompokan negara berdasarkan kesamaan nilai dan praktik budaya. Negara-negara yang memiliki karakteristik budaya yang mirip dimasukkan ke dalam satu cluster. GLOBE mengidentifikasi beberapa cluster, seperti Anglo, Germanic Europe, Nordic Europe, Latin Europe, Confucian Asia, Southern Asia, Middle East, Sub-Saharan Africa, Latin America, dan Eastern Europe. Pengelompokan ini membantu memahami bahwa negara dalam satu cluster cenderung memiliki karakteristik budaya dan pola kepemimpinan yang relatif serupa.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: responsi 2

by Aditya Ramadhan_2451011012 -
Nama: Aditya Ramadhan
NPM: 2451011012

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ma’am. Izin menjawab responsi sesi 2.

1. Jelaskan cara mengembangkan wawasan tentang hubungan antara nilai dan praktik kemasyarakatan dan budaya organisasi yang bekerja dalam masyarakat!

Untuk mengembangkan wawasan mengenai hubungan antara nilai dan praktik kemasyarakatan dengan budaya organisasi, kita perlu memahami bahwa budaya masyarakat dapat memengaruhi cara suatu organisasi bekerja. Nilai, norma, kebiasaan, dan cara berpikir yang berkembang di masyarakat biasanya juga tercermin dalam perilaku anggota organisasi.

Caranya dapat dilakukan dengan mempelajari nilai dan norma yang berlaku di masyarakat, mengamati kebiasaan dan perilaku orang dalam lingkungan kerja, serta memahami bagaimana masyarakat berinteraksi dan berkomunikasi. Selain itu, kita juga dapat membandingkan budaya organisasi dengan budaya masyarakat di sekitarnya. Dengan begitu, kita dapat melihat bagaimana nilai masyarakat memengaruhi kepemimpinan, komunikasi, pengambilan keputusan, kerja sama, dan hubungan antaranggota organisasi.

2. Jelaskan model lima dimensi yang dikembangkan oleh Hofstede serta membangun definisi budaya dari penelitian lebih baru oleh proyek GLOBE!

Hofstede menjelaskan budaya melalui lima dimensi utama, yaitu:

1. Power Distance, yaitu sejauh mana masyarakat menerima adanya perbedaan kekuasaan dan status.
2. Individualism vs Collectivism, yaitu apakah seseorang lebih mengutamakan kepentingan pribadi atau kepentingan kelompok.
3. Uncertainty Avoidance, yaitu sejauh mana masyarakat merasa nyaman atau tidak nyaman terhadap ketidakpastian dan situasi yang tidak jelas.
4. Masculinity vs Femininity, yaitu sejauh mana masyarakat menekankan persaingan, prestasi, dan keberhasilan dibandingkan hubungan sosial dan kepedulian.
5. Long-Term vs Short-Term Orientation, yaitu bagaimana masyarakat memandang masa depan, tradisi, dan pencapaian tujuan jangka panjang.

Sementara itu, proyek GLOBE (Global Leadership and Organizational Behavior Effectiveness) melakukan penelitian yang lebih baru mengenai budaya. GLOBE melihat budaya sebagai nilai, keyakinan, norma, dan praktik bersama yang berkembang dalam suatu masyarakat dan memengaruhi perilaku anggota masyarakat maupun organisasi. GLOBE juga membedakan antara nilai budaya yang diharapkan dengan praktik budaya yang benar-benar dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

3. Jelaskan gagasan tentang Clustering budaya yang dirancang oleh proyek GLOBE sesuai dengan kesamaan antara negara menyusun budaya masing-masing cluster!

Gagasan cultural clustering dari proyek GLOBE adalah mengelompokkan negara-negara berdasarkan kesamaan karakteristik budaya yang mereka miliki. Negara yang memiliki nilai dan praktik budaya yang mirip akan ditempatkan dalam satu kelompok atau cluster.

GLOBE mengidentifikasi beberapa kelompok budaya, seperti Anglo, Germanic Europe, Nordic Europe, Latin Europe, Latin America, Eastern Europe, Confucian Asia, Southern Asia, Sub-Saharan Africa, dan Middle East.

Pengelompokan ini bertujuan untuk memudahkan perbandingan antarnegara dan membantu memahami bagaimana perbedaan budaya dapat memengaruhi perilaku organisasi, kepemimpinan, komunikasi, serta cara seseorang bekerja. Jadi, negara dalam satu cluster dianggap memiliki beberapa kesamaan budaya, meskipun tetap memiliki karakteristik masing-masing.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: responsi 2

by Riris Surya Putri -
Nama: Riris Surya Putri
NPM: 2411011021

1. Jelaskan cara mengembangkan   wawasan   tentang   hubungan   antara   nilai   dan   praktik kemasyarakatan dan budaya organisasi yang bekerja dalam masyarakat!
Wawasan tentang hubungan tersebut dapat dikembangkan dengan memahami bahwa nilai dan praktik dalam masyarakat akan memengaruhi cara organisasi berjalan. Nilai budaya seperti cara memandang kekuasaan, hubungan antarindividu, kerja sama, dan aturan akan tercermin dalam perilaku karyawan maupun gaya manajemen. Karena itu, untuk memahami budaya organisasi, kita perlu melihat kondisi sosial dan budaya masyarakat tempat organisasi tersebut berada. Dengan membandingkan nilai dan praktik dari berbagai masyarakat, kita dapat melihat bagaimana budaya memengaruhi komunikasi, kepemimpinan, pengambilan keputusan, serta hubungan kerja dalam organisasi.

2. Jelaskan model lima dimensi yang dikembangkan oleh Hofstede serta membangun definisi budaya dari  penelitian lebih baru oleh proyek Globe!
Hofstede menjelaskan budaya melalui lima dimensi, yaitu power distance (sejauh mana ketimpangan kekuasaan diterima), individualism vs collectivism (lebih mengutamakan kepentingan individu atau kelompok), uncertainty avoidance (sejauh mana masyarakat menghindari ketidakpastian), masculinity vs femininity (penekanan pada persaingan dan pencapaian atau kepedulian dan hubungan), serta long-term vs short-term orientation (orientasi pada masa depan atau hasil jangka pendek). Sementara itu, proyek GLOBE mengembangkan pemahaman budaya dengan melihat bagaimana nilai dan praktik budaya memengaruhi kepemimpinan serta organisasi. GLOBE mendefinisikan budaya sebagai nilai, keyakinan, dan praktik bersama yang membedakan satu kelompok masyarakat dengan kelompok lainnya.

3. Jelaskan gagasan tentang Clustering  budaya yang dirancang  oleh  proyek GLOBE sesuai dengan kesamaan antara negara menyusun budaya masing-masing cluster!
Clustering budaya dalam proyek GLOBE dilakukan dengan mengelompokkan negara-negara yang memiliki karakteristik budaya yang relatif sama. Negara dalam satu cluster dianggap memiliki kesamaan dalam nilai, praktik sosial, dan cara masyarakat memandang kepemimpinan maupun organisasi. GLOBE mengidentifikasi beberapa kelompok budaya, seperti Anglo, Germanic Europe, Nordic Europe, Latin Europe, Latin America, Eastern Europe, Confucian Asia, Southern Asia, Sub-Saharan Africa, dan Middle East. Pengelompokan ini membantu peneliti memahami bahwa budaya tidak harus dilihat satu negara secara terpisah, tetapi dapat dipahami berdasarkan pola kesamaan budaya antarnegara.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: responsi 2

by Dimas Maulana 2411011113 -
Nama: Dimas Maulana
NPM: 2411011113

1. Mengembangkan wawasan tentang hubungan antara nilai, praktik kemasyarakatan, dan budaya organisasi

Untuk memahami hubungan antara nilai dan praktik kemasyarakatan dengan budaya organisasi, kita perlu melihat bahwa organisasi tidak berdiri sendiri. Organisasi berada di dalam masyarakat, sehingga nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat dapat memengaruhi cara organisasi dijalankan.

Nilai merupakan keyakinan masyarakat mengenai sesuatu yang dianggap baik, penting, atau benar. Sementara praktik kemasyarakatan adalah kebiasaan atau perilaku yang umum dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Kedua hal tersebut dapat membentuk budaya organisasi, seperti cara anggota organisasi berkomunikasi, mengambil keputusan, bekerja sama, dan memandang pemimpin.

Contohnya, masyarakat yang memiliki nilai kolektivisme cenderung menekankan kerja sama dan kepentingan kelompok. Organisasi yang berkembang dalam masyarakat tersebut biasanya memiliki budaya kerja yang lebih mengutamakan kerja tim dibandingkan pencapaian individu.

Dengan demikian, wawasan tentang hubungan tersebut dapat dikembangkan melalui:

mempelajari nilai dan kebiasaan masyarakat;
mengamati bagaimana nilai tersebut diterapkan dalam organisasi;
membandingkan budaya organisasi di berbagai negara atau masyarakat;
memahami bahwa budaya nasional dapat memengaruhi perilaku individu dalam organisasi.

Intinya: budaya organisasi dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan budaya masyarakat tempat organisasi tersebut berada.

2. Model Lima Dimensi Hofstede dan definisi budaya menurut Proyek GLOBE
A. Lima Dimensi Budaya Hofstede

Geert Hofstede mengembangkan model untuk memahami perbedaan budaya antarnegara melalui lima dimensi.

1. Power Distance (Jarak Kekuasaan)

Menunjukkan sejauh mana masyarakat menerima adanya perbedaan kekuasaan dan hierarki.

Tinggi: bawahan cenderung menerima keputusan atasan dan struktur hierarki yang kuat.
Rendah: hubungan antara atasan dan bawahan lebih setara.

Contoh: Dalam budaya dengan power distance tinggi, bawahan mungkin lebih jarang membantah keputusan pimpinan.

2. Individualism vs Collectivism

Menunjukkan apakah masyarakat lebih mengutamakan kepentingan individu atau kelompok.

Individualisme: menekankan kebebasan, pencapaian, dan tanggung jawab pribadi.
Kolektivisme: menekankan kerja sama, loyalitas, dan kepentingan kelompok.
3. Masculinity vs Femininity

Menunjukkan nilai yang lebih dominan dalam masyarakat.

Masculinity: menekankan pencapaian, kompetisi, dan keberhasilan.
Femininity: menekankan kerja sama, kepedulian, dan kualitas hidup.

Dimensi ini bukan berarti membahas jenis kelamin seseorang, tetapi nilai-nilai budaya yang lebih dominan dalam masyarakat.

4. Uncertainty Avoidance (Penghindaran Ketidakpastian)

Menunjukkan sejauh mana masyarakat merasa nyaman atau tidak nyaman terhadap situasi yang tidak pasti.

Tinggi: masyarakat lebih menyukai aturan, kepastian, dan struktur yang jelas.
Rendah: masyarakat lebih mudah menerima perubahan dan situasi baru.

Contoh: Organisasi dengan uncertainty avoidance tinggi biasanya memiliki prosedur kerja yang lebih rinci.

5. Long-Term vs Short-Term Orientation

Menunjukkan orientasi masyarakat terhadap waktu dan masa depan.

Orientasi jangka panjang: menekankan perencanaan masa depan, ketekunan, dan investasi jangka panjang.
Orientasi jangka pendek: lebih menekankan tradisi, hasil cepat, dan kondisi saat ini.
B. Definisi Budaya Menurut Proyek GLOBE

Proyek GLOBE (Global Leadership and Organizational Behavior Effectiveness) mengembangkan pemahaman budaya melalui penelitian lintas negara dan organisasi.

Menurut GLOBE, budaya merupakan nilai, keyakinan, identitas, serta praktik bersama yang dimiliki oleh anggota suatu kelompok atau masyarakat dan diwariskan dari generasi ke generasi.

GLOBE membedakan antara:

Nilai budaya: bagaimana masyarakat seharusnya bertindak atau menjalankan sesuatu.
Praktik budaya: bagaimana masyarakat benar-benar bertindak dalam kehidupan sehari-hari.

Hal ini penting karena terkadang apa yang dianggap ideal oleh masyarakat tidak selalu sama dengan praktik yang benar-benar dilakukan.

Contoh: Suatu masyarakat mungkin menganggap bahwa semua orang seharusnya diperlakukan setara, tetapi dalam praktiknya struktur hierarki masih sangat kuat.

3. Gagasan Clustering Budaya oleh Proyek GLOBE

Proyek GLOBE mengembangkan konsep cultural clustering, yaitu pengelompokan negara-negara berdasarkan kesamaan karakteristik budayanya.

Artinya, negara-negara yang memiliki nilai, praktik sosial, dan karakteristik budaya yang relatif mirip dikelompokkan ke dalam satu cluster budaya.

Tujuan clustering ini adalah untuk memahami bahwa negara-negara tertentu memiliki pola budaya yang mirip, sehingga perilaku organisasi dan gaya kepemimpinannya juga dapat memiliki kesamaan.

Beberapa cluster budaya dalam Proyek GLOBE antara lain:

Anglo
Negara-negara yang memiliki pengaruh budaya Inggris yang kuat.

Nordic Europe
Negara-negara Eropa Utara yang umumnya menekankan kesetaraan dan partisipasi.

Germanic Europe
Negara-negara yang memiliki karakteristik budaya Eropa Tengah dan Jermanik.

Latin Europe
Negara-negara Eropa dengan pengaruh budaya Latin.

Eastern Europe
Negara-negara di kawasan Eropa Timur.

Latin America
Negara-negara Amerika Latin yang memiliki karakteristik budaya relatif serupa.

Middle East
Negara-negara di kawasan Timur Tengah.

Southern Asia
Negara-negara Asia Selatan.

Confucian Asia
Negara-negara Asia yang banyak dipengaruhi nilai-nilai Konfusianisme.

Sub-Saharan Africa
Negara-negara Afrika di wilayah selatan Sahara.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: responsi 2

by Ligar Awali Rajabia -
Ligar Awali Rajabia
2411011051

1. Cara mengembangkan wawasan tentang hubungan antara nilai & praktik kemasyarakatan dengan budaya organisasi

Cara paling utama untuk memahami hubungan ini adalah dengan menggunakan pendekatan dimensi budaya  yaitu alat bantu untuk menggambarkan dan membandingkan variasi karakteristik budaya antarmasyarakat. Dengan dimensi ini, kita bisa melihat bagaimana masyarakat memandang kekuasaan, bagaimana individu berhubungan dengan kelompoknya, bagaimana mereka menyikapi ketidakpastian, bagaimana mereka memandang pekerjaan/pencapaian, dan bagaimana orientasi waktu mereka (masa lalu vs masa depan).

Wawasan ini kemudian diterapkan dalam konteks organisasi/bisnis, misalnya:

• Kepemimpinan  di budaya power distance tinggi, gaya kepemimpinan cenderung direktif; di budaya rendah, lebih terbuka.
• Komunikasi masyarakat power distance tinggi lebih hati-hati menyampaikan kritik.
• Pengambilan keputusan  budaya individualistik menonjolkan pencapaian pribadi, budaya kolektivistik mengutamakan kepentingan kelompok.
• Manajemen risiko  uncertainty avoidance tinggi butuh aturan jelas; rendah lebih fleksibel.
• Motivasi individualistik menekankan prestasi pribadi, kolektivistik menekankan keberhasilan tim.

2. Model lima dimensi Hofstede & definisi budaya dari GLOBE

Lima Dimensi Hofstede (hasil riset terhadap karyawan IBM di 64

Power Distance: Hubungan terhadap kekuasaan & hierarki
Individualism vs Collectivism: Individu atau kelompok
Masculinity vs Femininity: Persaingan/pencapaian vs kepedulian/kualitas hidup
Uncertainty Avoidance: Sikap terhadap ketidakpastian
Long-term vs Short-term Orientation: Orientasi masa depan vs masa lalu/kini

Hofstede berpendapat bahwa perbedaan budaya nasional bisa menjelaskan kenapa cara bekerja dan mengelola organisasi berbeda antarnegara. Namun modelnya dikritik karena datanya hanya dari satu perusahaan (IBM), dianggap terlalu menyederhanakan budaya, dan mengabaikan bahwa budaya di satu negara tidak selalu homogen.

Proyek GLOBE (Global Leadership and Organizational Behavior Effectiveness) muncul untuk memperluas pendekatan ini. GLOBE mendefinisikan budaya dengan cara yang lebih luas dengan membedakan nilai (should be bagaimana seharusnya keadaan menurut masyarakat) dan praktik (as is  bagaimana keadaan budaya saat ini senyatanya). GLOBE mengembangkan sembilan dimensi: Uncertainty Avoidance, Power Distance, Institutional Collectivism, In-Group Collectivism, Gender Egalitarianism, Assertiveness, Future Orientation, Performance Orientation, dan Humane Orientation.

3. Gagasan Clustering Budaya oleh GLOBE

GLOBE tidak hanya membandingkan negara satu per satu berdasarkan skor dimensi, tetapi juga mengelompokkan negara-negara ke dalam klaster (cluster) budaya berdasarkan kemiripan karakteristik budayanya. Pengelompokan ini mempertimbangkan berbagai faktor: agama, bahasa, geografi, etnis, sejarah, kondisi ekonomi, serta nilai dan sikap terhadap pekerjaan.

Contoh klaster budaya menurut GLOBE:

• Asia Konfusianisme
• Asia Selatan
• Timur Tengah
• Eropa Nordik
• Eropa Jermanik
• Amerika Latin
• Afrika Sub-Sahara
• Eropa Timur
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: responsi 2

by Farrel Pratama_2411011081 -
Nama: Farrel Pratama
NPM: 2411011081

1. Hubungan nilai, praktik kemasyarakatan, dan budaya organisasi

Wawasan dapat dikembangkan dengan memahami bahwa nilai masyarakat memengaruhi cara orang berpikir dan bertindak. Nilai tersebut kemudian tercermin dalam praktik kemasyarakatan dan dibawa ke dalam organisasi. Akibatnya, budaya organisasi dapat berbeda-beda sesuai dengan lingkungan masyarakat tempat organisasi tersebut berada.

2. Model lima dimensi Hofstede dan proyek GLOBE

Hofstede menjelaskan budaya melalui lima dimensi utama, yaitu:

1. Power Distance – sejauh mana ketimpangan kekuasaan diterima.
2. Individualism vs Collectivism – lebih mengutamakan individu atau kelompok.
3. Uncertainty Avoidance – tingkat penerimaan terhadap ketidakpastian.
4. Masculinity vs Femininity – penekanan pada persaingan/prestasi atau kepedulian/hubungan sosial.
5. Long-Term Orientation – orientasi pada masa depan atau lebih berpegang pada tradisi.

Sementara itu, proyek GLOBE mengembangkan penelitian budaya dengan melihat bagaimana nilai dan praktik budaya memengaruhi kepemimpinan serta perilaku organisasi di berbagai negara.

3. Clustering budaya dalam proyek GLOBE

Clustering budaya adalah pengelompokan negara berdasarkan kesamaan nilai dan praktik budayanya. GLOBE mengelompokkan negara-negara ke dalam beberapa cluster budaya, seperti Anglo, Eropa Latin, Eropa Jermanik, Eropa Nordik, Timur Tengah, Asia Konfusian, Asia Selatan, dan Afrika Sub-Sahara. Pengelompokan ini membantu memahami bahwa negara yang memiliki budaya serupa cenderung memiliki pola perilaku organisasi dan kepemimpinan yang juga relatif mirip.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: responsi 2

by Natalia Sant Artika -
Nama: Natalia Sant Artika
NPM: 2451011024


1. Hubungan nilai, praktik masyarakat, dan budaya organisasi

Nilai masyarakat adalah keyakinan tentang apa yang dianggap penting dan baik. Nilai tersebut memengaruhi praktik kehidupan sehari-hari dan kemudian masuk ke dalam organisasi. Contohnya, masyarakat yang menghargai hierarki biasanya memiliki organisasi dengan hubungan atasan-bawahan yang lebih formal. Jadi, budaya organisasi banyak dipengaruhi oleh budaya masyarakat di sekitarnya.


2. Lima dimensi budaya Hofstede dan GLOBE

Lima dimensi Geert Hofstede adalah:
1) Power Distance (penerimaan terhadap perbedaan kekuasaan)
2) Individualism vs collectivism (kepentingan individu atau kelompok)
3) Maskulinity-femininity (persaingan dan pencapaian atau kepedulian dan kerja sama)
4)Uncertainity Avoidance (tingkat kenyamanan terhadap ketidakpastian)
5)Long term vs short term orientation (fokus pada masa depan atau masa kini/tradisi)

Proyek GLOBE mengembangkan penelitian budaya dengan melihat nilai dan praktik budaya dan juga hubungannya dengan kepemimpinan dan organisasi.


3. Clustering budaya menurut GLOBE

Clustering adalah pengelompokan negara berdasarkan kesamaan budaya. Negara yang memiliki nilai dan praktik budaya yang mirip dimasukkan dalam satu kelompok, seperti Anglo, Latin Eropa, Asia Konfusian, Asia Selatan, Timur Tengah, dan Afrika Sub-Sahara. Tujuannya agar perbedaan budaya antarnegara lebih mudah dipahami dan diterapkan dalam pengelolaan organisasi.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: responsi 2

by Aris Krisna Setiawan 2411011125 -
Nama: Aris Krisna Setiawan
NPM: 2411011125

1. Untuk mengembangkan wawasan tentang hubungan antara nilai dan praktik kemasyarakatan dengan budaya organisasi, langkah pertama adalah tidak berasumsi bahwa keduanya otomatis sejalan, sebagaimana diasumsikan Hofstede lewat metafora "onion" di mana nilai sebagai inti dianggap tercermin langsung pada praktik di lapisan luarnya. Pendekatan yang lebih tepat, seperti dilakukan GLOBE, adalah mengukur nilai (Should Be, apa yang dianggap seharusnya) dan praktik (As Is, apa yang senyatanya terjadi) secara terpisah pada tiga level: industri, organisasi, dan masyarakat. Hasil pengukuran ini kemudian dibandingkan untuk melihat kesenjangan di antara keduanya, karena riset GLOBE menemukan korelasi negatif antara nilai dan praktik pada tujuh dari sembilan dimensi budaya yang diteliti, dengan Gender Egalitarianism menjadi satu-satunya pengecualian. Wawasan yang lebih utuh diperoleh dengan memahami bahwa nilai dan praktik memiliki fungsi berbeda: praktik berkaitan dengan kondisi nyata masyarakat seperti harapan hidup dan daya saing nasional, sementara nilai berkaitan dengan persepsi tentang kepemimpinan yang dianggap unggul. Dengan demikian, budaya organisasi yang beroperasi dalam suatu masyarakat perlu dianalisis melalui kesenjangan antara apa yang dipraktikkan dan apa yang dicita-citakan tersebut, bukan dengan menganggap salah satunya sebagai cerminan otomatis dari yang lain.

2. Hofstede mengembangkan lima dimensi budaya dari studi karyawan IBM di 64 negara: power distance, uncertainty avoidance, individualism-collectivism, masculinity-femininity, dan long-term orientation (muncul belakangan dari riset perspektif Tiongkok). Dimensi ini menggambarkan tendensi umum, bukan aturan mutlak. GLOBE, mengikuti pandangan Schein, mendefinisikan budaya sebagai hasil upaya kolektif menghadapi adaptasi eksternal dan integrasi internal, serta memandang budaya mencakup nilai dan praktik sebagai dua konstruk terpisah, bukan satu kesatuan otomatis.

3.Clustering GLOBE menyusun negara ke dalam kelompok berdasarkan kemiripan skor dimensi budaya, mempertimbangkan agama, bahasa, geografi, etnisitas, serta faktor historis dan ekonomi. Hasilnya sepuluh cluster: Anglo, Latin Europe, Nordic Europe, Germanic Europe, Eastern Europe, Latin America, Sub-Saharan Africa, Middle East, Southern Asia, dan Confucian Asia. Pengelompokan ini memudahkan orientasi umum, tapi berisiko menyamaratakan keragaman internal tiap negara.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: responsi 2

by Khalissa Haliya -
Nama: Khalissa Haliya Aprindra
NPM: 2451011011

1. Hubungan nilai, praktik kemasyarakatan, dan budaya organisasi

Wawasan tentang hubungan tersebut dapat dikembangkan dengan memahami bahwa nilai masyarakat memengaruhi cara orang berpikir, bersikap, dan bekerja, sedangkan praktik kemasyarakatan menunjukkan bagaimana nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika seseorang masuk ke organisasi, nilai dan kebiasaan masyarakat dapat terbawa ke dalam lingkungan kerja sehingga membentuk budaya organisasi. Oleh karena itu, untuk memahaminya dapat dilakukan dengan mengamati kebiasaan, norma, cara berkomunikasi, pola kepemimpinan, serta cara pengambilan keputusan dalam masyarakat dan organisasi.

2. Lima dimensi Hofstede dan penelitian GLOBE

Model Hofstede menjelaskan budaya melalui lima dimensi utama, yaitu power distance (jarak kekuasaan), individualism–collectivism (individualisme–kolektivisme), masculinity–femininity (orientasi pencapaian/ketegasan versus kepedulian), uncertainty avoidance (penghindaran ketidakpastian), dan long-term orientation (orientasi jangka panjang). Sementara itu, proyek GLOBE mengembangkan penelitian budaya dengan melihat hubungan antara nilai budaya, praktik budaya, dan kepemimpinan dalam berbagai negara. GLOBE menggunakan sembilan dimensi budaya, sehingga memberikan gambaran yang lebih luas mengenai bagaimana budaya memengaruhi organisasi dan gaya kepemimpinan.

3. Clustering budaya dalam proyek GLOBE

Clustering budaya adalah gagasan untuk mengelompokkan negara-negara yang memiliki kesamaan karakteristik budaya ke dalam satu kelompok atau cluster. GLOBE mengelompokkan negara berdasarkan kesamaan nilai dan praktik budaya, seperti pola kekuasaan, hubungan sosial, orientasi prestasi, dan cara menghadapi ketidakpastian. Contohnya, negara-negara dalam cluster Asia Konfusian memiliki beberapa karakteristik budaya yang relatif serupa. Pengelompokan ini membantu peneliti memahami bahwa negara yang berada dalam satu cluster cenderung memiliki pola budaya dan kepemimpinan yang mirip, meskipun tetap memiliki perbedaan masing-masing.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: responsi 2

by Balqis Aulia -
Nama: Balqis Aulia
NPM: 2411011038

1. Menjelaskan cara mengembangkan wawasan tentang hubungan antara nilai dan praktik kemasyarakatan dan budaya organisasi yang bekerja dalam masyarakat!
Jawab:
Untuk mengembangkan wawasan tentang hubungan antara nilai dan praktik kemasyarakatan serta budaya organisasi, kita perlu memahami bahwa budaya terdiri dari nilai-nilai dan praktik yang dianut oleh masyarakat dan organisasi. Nilai adalah keyakinan dasar yang menjadi pedoman perilaku dan keputusan, sedangkan praktik adalah penerapan nyata dari nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari dan kegiatan organisasi.
Model GLOBE, misalnya, membedakan antara nilai dan praktik budaya, sehingga kita dapat mempelajari bagaimana nilai-nilai yang diyakini masyarakat dan organisasi mempengaruhi praktik nyata di lapangan. Melalui penelitian lintas budaya dan analisis terhadap praktik-praktik yang berlangsung di berbagai negara dan organisasi, kita dapat memperoleh wawasan tentang bagaimana nilai-nilai tersebut diterjemahkan ke dalam perilaku dan kebijakan yang nyata. Dengan memahami hubungan ini, manajer dan pemimpin dapat menyesuaikan strategi, komunikasi, dan pengelolaan sumber daya agar sesuai dengan budaya setempat, sehingga meningkatkan efektivitas dan keberhasilan organisasi dalam masyarakat.

2. Menjelaskan model lima dimensi yang dikembangkan oleh Hofstede serta membangun definisi budaya dari penelitian lebih baru oleh proyek GLOBE!
Jawab:
Model lima dimensi Hofstede mengidentifikasi lima aspek utama yang membedakan budaya nasional, yaitu:
- Power Distance adalah Tingkat penerimaan masyarakat terhadap ketimpangan kekuasaan dan hierarki.
- Individualism vs Collectivism adalah Orientasi terhadap pencapaian pribadi atau kepentingan kelompok.
- Masculinity vs Femininity adalah Nilai kompetisi dan pencapaian versus hubungan interpersonal dan kualitas hidup.
- Uncertainty Avoidance adalah Tingkat toleransi terhadap ketidakpastian dan risiko.
- Long-term vs Short-term Orientation adalah Orientasi terhadap masa depan atau tradisi dan nilai-nilai masa lalu.

Sedangkan menurut penelitian dari proyek GLOBE, budaya didefinisikan sebagai seperangkat nilai dan praktik yang dianut oleh masyarakat dan organisasi. GLOBE memperluas pemahaman budaya dengan mengembangkan sembilan dimensi, yang tidak hanya fokus pada nilai-nilai tetapi juga praktik nyata, serta membedakan antara budaya dan efektivitas kepemimpinan. Definisi ini menegaskan bahwa budaya mencerminkan sistem kepercayaan, norma, dan perilaku yang berlaku dalam suatu masyarakat atau organisasi, yang mempengaruhi cara orang berperilaku dan berinteraksi.

3. Menjelaskan gagasan tentang Clustering budaya yang dirancang oleh proyek GLOBE sesuai dengan kesamaan antara negara menyusun budaya masing-masing cluster!
Jawab:
Gagasan clustering budaya dari proyek GLOBE adalah mengelompokkan negara-negara berdasarkan kemiripan karakteristik budaya mereka, bukan hanya membandingkannya satu per satu. Pengelompokan ini didasarkan pada analisis terhadap nilai-nilai, praktik, dan sikap terhadap pekerjaan, agama, bahasa, geografi, dan faktor lain yang mempengaruhi budaya.
Dengan membangun klaster berdasarkan kesamaan ini, GLOBE menyusun kategori budaya yang homogen secara relatif, sehingga memudahkan pemahaman dan studi tentang pola budaya di antara negara-negara tertentu. Contoh klaster yang umum digunakan adalah Asia Konfusianisme, Eropa Nordik, Amerika Latin, dan lain-lain. Pendekatan ini membantu organisasi dan pemimpin memahami variasi budaya secara lebih sistematis dan strategis dalam konteks global, sekaligus menyesuaikan kebijakan dan praktik kepemimpinan sesuai dengan karakteristik budaya dari klaster tertentu.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: responsi 2

by Aril Azhima Rosa -
Nama: Aril Azhima Rosa
NPM: 2411011097


1. Cara mengembangkan wawasan tentang hubungan nilai, praktik kemasyarakatan, dan budaya organisasi

Wawasan tersebut dapat dikembangkan dengan mempelajari budaya masyarakat, mengamati perilaku organisasi, membandingkan organisasi dari budaya berbeda, serta memahami nilai yang dianut karyawan. Contohnya, budaya yang menghormati atasan cenderung memiliki komunikasi lebih formal dan keputusan yang lebih banyak berasal dari pimpinan, sedangkan budaya egaliter lebih terbuka terhadap pendapat karyawan.


2. Model lima dimensi Hofstede dan definisi budaya berdasarkan proyek GLOBE

Hofstede menjelaskan budaya nasional melalui lima dimensi:

1. Power Distance – sejauh mana masyarakat menerima perbedaan kekuasaan dan hierarki.
2. Individualism vs. Collectivism – apakah lebih mengutamakan kepentingan individu atau kelompok.
3. Uncertainty Avoidance – sejauh mana masyarakat merasa tidak nyaman terhadap ketidakpastian dan membutuhkan aturan serta prosedur.
4. Masculinity vs. Femininity – apakah lebih menekankan pencapaian dan kompetisi atau kerja sama, kepedulian, dan kualitas hidup.
5. Long-Term Orientation – sejauh mana masyarakat berorientasi pada masa depan, ketekunan, dan perencanaan jangka panjang.

Sementara itu, GLOBE (Global Leadership and Organizational Behavior Effectiveness) melihat hubungan antara budaya masyarakat, organisasi, dan kepemimpinan. GLOBE menggunakan sembilan dimensi, yaitu uncertainty avoidance, power distance, institutional collectivism, in-group collectivism, gender egalitarianism, assertiveness, future orientation, performance orientation, dan humane orientation. GLOBE juga membedakan praktik yang terjadi saat ini (as is) dengan kondisi yang diharapkan (should be).


3. Clustering budaya dalam proyek GLOBE

Clustering budaya adalah pengelompokan negara berdasarkan kesamaan karakteristik budaya untuk mempermudah perbandingan antarnegara.

GLOBE mengelompokkan negara ke dalam 10 cluster budaya, yaitu:

1. Anglo
2. Latin Europe
3. Nordic Europe
4. Germanic Europe
5. Eastern Europe
6. Latin America
7. Middle East
8. Sub-Saharan Africa
9. Southern Asia
10. Confucian Asia

Negara dalam satu cluster memiliki beberapa kesamaan nilai dan praktik budaya, meskipun tetap memiliki perbedaan. Bagi manajemen internasional, clustering membantu perusahaan menyesuaikan kepemimpinan, komunikasi, penghargaan, pengambilan keputusan, dan praktik MSDM dengan karakteristik budaya karyawan.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: responsi 2

by Echy Aurellia Puteri -
Nama: Echy Aurellia Puteri
NPM: 2411011133

1. Cara mengembangkan wawasan tentang hubungan nilai dan praktik kemasyarakatan dengan budaya organisasi adalah dengan memahami nilai-nilai yang dianut masyarakat, kemudian melihat bagaimana nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan dan organisasi. Nilai budaya dapat memengaruhi cara seseorang bekerja, berkomunikasi, mengambil keputusan, menerima kekuasaan, serta berhubungan dengan kelompok. Selain itu, perlu dibedakan antara kondisi budaya yang terjadi saat ini (as is) dan kondisi yang dianggap seharusnya (should be), karena keduanya tidak selalu sama.

2. Hofstede mengembangkan lima dimensi budaya, yaitu Power Distance yang melihat penerimaan terhadap hierarki kekuasaan, Individualism vs Collectivism yang melihat apakah masyarakat lebih mengutamakan individu atau kelompok, Masculinity vs Femininity yang melihat penekanan pada pencapaian atau kepedulian dan kualitas hidup, Uncertainty Avoidance yang melihat sikap terhadap ketidakpastian dan risiko, serta Long-term vs Short-term Orientation yang melihat orientasi terhadap masa depan atau masa lalu dan masa kini. Sementara itu, proyek GLOBE (Global Leadership and Organizational Behavior Effectiveness) memperluas penelitian budaya dengan melihat hubungan antara budaya, organisasi, kepemimpinan, dan efektivitas. GLOBE menggunakan sembilan dimensi budaya serta membedakan antara nilai dan praktik budaya.

3. Clustering budaya dalam proyek GLOBE merupakan gagasan untuk mengelompokkan negara berdasarkan kesamaan karakteristik budaya, sehingga negara tidak hanya dibandingkan satu per satu. Kesamaan tersebut dapat dipengaruhi oleh agama, bahasa, geografi, etnis, sejarah, kondisi ekonomi, serta nilai dan sikap terhadap pekerjaan. Beberapa contoh cluster budaya GLOBE adalah Asia Konfusianisme, Asia Selatan, Timur Tengah, Eropa Nordik, Eropa Jermanik, Amerika Latin, Afrika Sub-Sahara, dan Eropa Timur. Dengan pengelompokan ini, karakteristik budaya negara-negara yang memiliki kesamaan dapat lebih mudah dipahami dalam konteks organisasi dan kepemimpinan.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: responsi 2

by Izzati Muthmainnah Al Anshoriah -
Nama: Izzati Muthmainnah Al Anshoriah
NPM: 2411011124

Jawaban:
1. Wawasan tersebut dapat dikembangkan dengan mempelajari nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat serta mengamati bagaimana nilai tersebut diwujudkan dalam praktik sehari-hari dan lingkungan organisasi. Perbandingan antarbudaya, penelitian lapangan, wawancara, dan observasi juga dapat membantu memahami bagaimana budaya masyarakat memengaruhi perilaku, struktur, komunikasi, dan praktik organisasi.

2. Hofstede menjelaskan budaya melalui lima dimensi utama:

a)Power Distance – tingkat penerimaan terhadap ketimpangan kekuasaan.
b)Individualism vs. Collectivism – orientasi pada kepentingan individu atau kelompok.
c)Uncertainty Avoidance – tingkat toleransi masyarakat terhadap ketidakpastian.
d)Masculinity vs. Femininity – orientasi pada pencapaian, kompetisi, dan keberhasilan material dibandingkan kepedulian dan kualitas hubungan.
e)Long-Term vs. Short-Term Orientation – orientasi terhadap masa depan dan ketekunan dibandingkan fokus pada tradisi dan hasil jangka pendek.

3. Clustering budaya adalah pengelompokan negara berdasarkan kesamaan karakteristik budaya yang dimilikinya. GLOBE mengelompokkan negara-negara ke dalam 10 cultural clusters, yaitu Anglo, Germanic Europe, Nordic Europe, Latin Europe, Latin America, Eastern Europe, Confucian Asia, Southern Asia, Sub-Saharan Africa, dan Middle East.

Pengelompokan ini menunjukkan bahwa negara dalam satu cluster cenderung memiliki nilai dan praktik budaya yang relatif serupa, sehingga dapat membantu organisasi memahami perbedaan perilaku dan praktik manajemen antarnegara.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: responsi 2

by Ni Made Krisnanda Satyawati -
Nama: Ni Made Krisnanda Satyawati
NPM: 2451011014

1. Hubungan nilai, praktik kemasyarakatan, dan budaya organisasi dapat dipahami dengan melihat bahwa nilai yang dianut masyarakat akan memengaruhi perilaku dan cara kerja organisasi. Wawasan dikembangkan melalui pengamatan budaya, interaksi sosial, dan pemahaman terhadap norma yang berlaku.

2. Model lima dimensi budaya yang dikembangkan oleh Hofstede menjelaskan perbedaan budaya antarnegara melalui lima aspek, yaitu
- Power Distance (jarak kekuasaan) yang menunjukkan penerimaan terhadap perbedaan status atau sejauh mana kekuasaan dapat diterima masyarakat,
- Individualism vs Collectivism yang menjelaskan orientasi individu atau kelompok,
- Masculinity vs Femininity yang berkaitan dengan persaingan dan kepedulian sosial,
- Uncertainty Avoidance yang menunjukkan sikap terhadap ketidakpastian,
- Long-term Orientation yang menggambarkan fokus masyarakat terhadap masa depan.
Sementara itu, proyek GLOBE mendefinisikan mendefinisikan budaya sebagai nilai, keyakinan, dan praktik bersama yang memengaruhi perilaku masyarakat dan organisasi. GLOBE membedakan budaya menjadi nilai yang diharapkan masyarakat (values) dan praktik budaya yang benar-benar dilakukan (practices).

3. Clustering budaya GLOBE adalah pengelompokan negara berdasarkan kesamaan nilai dan praktik budaya. Pengelompokan ini membantu memahami perbedaan budaya antarnegara dalam cara berkomunikasi, memimpin, dan menjalankan organisasi.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: responsi 2

by Firdaos Hasa -
Name: Firdaos Hasa
NPM: 2411011154

1. Hubungan nilai, praktik kemasyarakatan, dan budaya organisasi
Wawasan dapat dikembangkan dengan memahami bahwa nilai dan praktik yang berlaku di masyarakat dapat memengaruhi budaya organisasi. Nilai seperti kejujuran, kedisiplinan, gotong royong, atau hierarki akan terbawa ke dalam cara karyawan bekerja dan berinteraksi. Untuk memahaminya, dapat dilakukan dengan mengamati kebiasaan masyarakat, mempelajari norma dan nilai yang berlaku, serta melihat penerapannya dalam organisasi.

2. Model lima dimensi Hofstede dan penelitian GLOBE
Hofstede menjelaskan budaya melalui lima dimensi utama:
1. Power Distance: sejauh mana ketimpangan kekuasaan diterima.
2. Individualism vs. Collectivism: lebih mengutamakan kepentingan individu atau kelompok.
3. Uncertainty Avoidance: tingkat kenyamanan masyarakat terhadap ketidakpastian.
4. Masculinity vs. Femininity: penekanan pada persaingan/prestasi atau kepedulian/hubungan sosial.
5. Long-Term vs. Short-Term Orientation: orientasi pada masa depan dan jangka panjang atau hasil serta tradisi jangka pendek.
Proyek GLOBE mengembangkan penelitian budaya dengan melihat bagaimana nilai dan praktik budaya memengaruhi kepemimpinan serta perilaku organisasi. GLOBE membedakan antara praktik budaya (bagaimana keadaan yang terjadi) dan nilai budaya (bagaimana keadaan yang seharusnya).

3. Clustering budaya dalam proyek GLOBE
Cultural clustering adalah gagasan untuk mengelompokkan negara-negara yang memiliki kesamaan nilai dan praktik budaya. Negara dalam satu cluster dianggap memiliki karakteristik budaya yang relatif mirip sehingga dapat digunakan untuk membandingkan perilaku organisasi dan gaya kepemimpinan.
GLOBE mengelompokkan negara ke dalam beberapa cluster, antara lain:
- Anglo
- Germanic Europe
- Nordic Europe
- Latin Europe
- Eastern Europe
- Latin America
- Middle East
- Southern Asia
- Confucian Asia
- Sub-Saharan Africa
Clustering membantu peneliti memahami bahwa negara yang memiliki kesamaan budaya cenderung memiliki pola perilaku organisasi dan kepemimpinan yang lebih mirip.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: responsi 2

by ASYFA DAFANTY FITRIARNI -
Nama: Asyfa Dafanty Fitriarni
NPM: 2411011082

1. Budaya organisasi dipengaruhi oleh nilai, kebiasaan, dan praktik yang berkembang di masyarakat. Untuk memahaminya, kita bisa melakukan observasi, wawancara, dan membandingkan budaya antarnegara. Namun, budaya masyarakat tidak otomatis sama dengan budaya organisasi, karena organisasi juga dipengaruhi kepemimpinan, strategi, dan lingkungan kerja. Jadi, budaya sebaiknya dilihat sebagai kecenderungan, bukan stereotip.

2. Hofstede menjelaskan budaya melalui lima dimensi:
- Power Distance (Jarak Kekuasaan): sejauh mana masyarakat menerima adanya perbedaan kekuasaan antara atasan dan bawahan.
- Individualism vs. Collectivism: apakah masyarakat lebih menekankan kepentingan individu atau kepentingan kelompok.
- Uncertainty Avoidance (Penghindaran Ketidakpastian): sejauh mana masyarakat merasa tidak nyaman dengan situasi yang tidak pasti dan membutuhkan aturan yang jelas.
- Masculinity vs. Femininity: apakah masyarakat lebih menekankan persaingan, prestasi, dan keberhasilan atau lebih mengutamakan hubungan, kepedulian, dan kualitas hidup.
- Long-Term vs. Short-Term Orientation: apakah masyarakat lebih berorientasi pada masa depan dan jangka panjang atau lebih berpegang pada tradisi dan hasil jangka pendek.

Sementara GLOBE mengembangkan penelitian tersebut dengan melihat nilai dan praktik budaya serta kaitannya dengan kepemimpinan melalui sembilan dimensi. Secara kritis, kedua teori ini membantu memahami perbedaan budaya, tetapi tidak berarti semua orang dalam suatu negara memiliki karakter yang sama.

3. Clustering adalah pengelompokan negara berdasarkan kesamaan nilai dan praktik budayanya, seperti Anglo, Germanic Europe, Latin America, Confucian Asia, dan lainnya. Tujuannya untuk mempermudah perbandingan budaya dan memahami praktik manajemen. Namun, cluster bukan pembagian mutlak, karena negara dalam satu kelompok tetap memiliki perbedaan. Jadi, cluster lebih tepat digunakan sebagai gambaran kecenderungan, bukan label masyarakat.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: responsi 2

by Ade Candra Fachruddin -
Nama: Ade Candra Fachruddin
NPM: 2411011104

1. Mengembangkan wawasan dapat dilakukan melalui Melalui riset lintas budaya dan observasi. Organisasi harus mempelajari norma, kebiasaan, dan nilai-nilai masyarakat lokal, kemudian menyelaraskan kebijakan dan praktiknya agar dapat diterima dan beroperasi secara efektif di lingkungan tersebut.

2.1. Model Hofstede
• Power Distance (Jarak Kekuasaan):
Tingkat penerimaan masyarakat terhadap ketidaksetaraan distribusi kekuasaan di dalam organisasi atau institusi.
• Individualisme vs Kolektivis:
Kecenderungan masyarakat untuk lebih mengutamakan kepentingan diri sendiri dan keluarga inti (individualisme) dibandingkan loyalitas dan integrasi yang kuat di dalam sebuah kelompok (kolektivisme).
• Masculinity vs. Femininity: Maskulinitas menekankan pada pencapaian, ketegasan, persaingan, dan kesuksesan material. Sebaliknya, femininitas mengutamakan kerja sama, kepedulian terhadap sesama, dan kualitas hidup.
• Uncertainty Avoidance: Sejauh mana suatu masyarakat merasa tidak nyaman atau terancam oleh situasi yang tidak pasti dan ambigu, sehingga berusaha menciptakan aturan yang ketat untuk menghindarinya.
• Long-Term vs. Short-Term Orientation:
Orientasi jangka panjang berfokus pada persiapan masa depan melalui adaptasi, ketekunan, dan menabung. Orientasi jangka pendek lebih berfokus pada masa kini atau masa lalu, seperti menjaga tradisi dan mengharapkan hasil yang cepat.

2.2. Definisi Budaya GLOBE:
Budaya adalah motif, nilai, kepercayaan, identitas, dan interpretasi peristiwa yang dimiliki bersama serta diwariskan oleh anggota suatu kolektivitas/masyarakat, yang memengaruhi kepemimpinan dan praktik organisasi.

3. Proyek GLOBE mengelompokkan puluhan negara ke dalam 10 klaster budaya (seperti Anglo, Amerika Latin, Asia Selatan, Timur Tengah, dll.). Pengelompokan ini didasarkan pada kesamaan geografis, bahasa, agama, dan nilai sosial, sehingga memudahkan perusahaan memahami gaya kepemimpinan dan praktik manajemen yang paling efektif untuk diterapkan pada kelompok negara dengan budaya yang serupa.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: responsi 2

by Beginda Sae Winsang -
Nama : Beginda Sae Winsang
NPM : 2411011136

1. Wawasan ini dapat dikembangkan dengan memahami nilai, norma, kebiasaan, dan praktik yang berlaku di masyarakat, lalu menghubungkannya dengan perilaku dalam organisasi. Nilai masyarakat seperti kolektivisme, penghormatan terhadap hierarki, cara berkomunikasi, dan kerja sama dapat memengaruhi gaya kepemimpinan, pengambilan keputusan, komunikasi, serta hubungan antara atasan dan bawahan. Dengan membandingkan budaya masyarakat yang berbeda, kita dapat memahami mengapa suatu praktik organisasi dapat berjalan baik di satu tempat tetapi belum tentu sesuai di tempat lain.

2. Hofstede menjelaskan budaya melalui lima dimensi utama, yaitu:
1). Power Distance: sejauh mana masyarakat menerima perbedaan kekuasaan dan hierarki.
2). Individualism–Collectivism: apakah masyarakat lebih mengutamakan kepentingan individu atau kelompok.
3). Uncertainty Avoidance: sejauh mana masyarakat menghindari ketidakpastian dan menyukai aturan yang jelas.
4). Masculinity–Femininity: penekanan pada prestasi dan kompetisi atau kepedulian serta hubungan sosial.
5). Long-Term Orientation: orientasi pada perencanaan dan tujuan jangka panjang dibandingkan hasil jangka pendek.

Sementara itu, proyek GLOBE memperluas penelitian budaya dengan membedakan nilai budaya, yaitu bagaimana sesuatu seharusnya dilakukan, dan praktik budaya, yaitu bagaimana sesuatu benar-benar dilakukan dalam masyarakat. GLOBE menggunakan sembilan dimensi budaya untuk melihat pengaruh budaya terhadap kepemimpinan dan organisasi.

3. Clustering budaya adalah proses mengelompokkan negara berdasarkan kesamaan karakteristik budaya. GLOBE membagi negara ke dalam 10 kelompok budaya, seperti Anglo, Germanic Europe, Latin Europe, Latin America, Nordic Europe, Eastern Europe, Middle East, Sub-Saharan Africa, Southern Asia, dan Confucian Asia.

Pengelompokan ini didasarkan pada kesamaan seperti sejarah, wilayah geografis, nilai sosial, dan pola budaya. Indonesia termasuk dalam Southern Asia cluster. Konsep clustering membantu organisasi memahami perbedaan budaya sehingga dapat menyesuaikan gaya kepemimpinan, komunikasi, dan cara mengelola karyawan sesuai dengan budaya masyarakat setempat.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: responsi 2

by Dellya Fairuz Syasya Mandala -
Nama: Dellya Fairuz Syasya Mandala
NPM: 2411011078

1. Cara mengembangkan wawasan tentang hubungan nilai, praktik kemasyarakatan, dan budaya organisasi, yaitu wawasan bisa dikembangkan dengan melihat nilai dan kebiasaan yang ada di masyarakat, lalu melihat bagaimana nilai tersebut memengaruhi cara orang bekerja dan berorganisasi. Nilai masyarakat dapat memengaruhi cara berkomunikasi, mengambil keputusan, memimpin, dan bekerja sama dalam organisasi. Jadi, budaya organisasi biasanya juga dipengaruhi oleh budaya masyarakat di sekitarnya.

2. Model lima dimensi Hofstede dan proyek GLOBE

1. Power Distance - sejauh mana seseorang menerima adanya perbedaan kekuasaan.
2. Individualism vs Collectivism - lebih mementingkan diri sendiri atau kelompok.
3. Uncertainty Avoidance - seberapa nyaman menghadapi ketidakpastian.
4. Masculinity vs Femininity - lebih menekankan persaingan dan pencapaian atau hubungan dan kepedulian.
5. Long Term Orientation - lebih fokus pada masa depan atau lebih mempertahankan kebiasaan dan nilai masa lalu.

Sedangkan GLOBE mengembangkan penelitian budaya dengan melihat hubungan antara budaya, perilaku masyarakat, dan kepemimpinan. GLOBE menggunakan sembilan dimensi budaya dan membedakan antara praktik (bagaimana keadaan yang sebenarnya terjadi) dan nilai (bagaimana keadaan yang seharusnya).

3. Clustering budaya adalah cara GLOBE mengelompokkan beberapa negara berdasarkan kesamaan budaya yang mereka miliki. Negara yang memiliki nilai, kebiasaan, sejarah, atau karakteristik budaya yang mirip dimasukkan ke dalam satu kelompok atau cluster.

Tujuannya adalah supaya perbedaan dan persamaan budaya antarnegara lebih mudah dipahami. GLOBE membagi negara ke dalam beberapa cluster budaya, seperti Eropa Nordik, Eropa Jermanik, Asia Konfusianisme, Asia Selatan, Timur Tengah, dan Amerika Latin.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: responsi 2

by Fita Nahdia Azizah -
Nama: Fita Nahdia Azizah
NPM: 2411011018

1. Nilai merupakan keyakinan masyarakat tentang apa yang dianggap baik, benar, dan penting. Nilai tersebut kemudian tercermin dalam praktik kemasyarakatan, seperti cara berkomunikasi, menghormati atasan, mengambil keputusan, dan menyelesaikan konflik. Praktik ini dibawa oleh individu ke dalam organisasi sehingga dapat membentuk budaya organisasi. Untuk mengembangkan wawasan tersebut, kita dapat mempelajari dan membandingkan budaya antarnegara serta menggunakan penelitian seperti Hofstede dan GLOBE. Dengan memahami hubungan ini, manajer dapat menyesuaikan gaya kepemimpinan dan cara kerja dengan budaya masyarakat setempat.

2. Hofstede menjelaskan budaya melalui lima dimensi, yaitu:
- Power Distance yang menunjukkan penerimaan terhadap perbedaan kekuasaan
- Individualism vs Collectivism yang membedakan kepentingan individu dan kelompok
- Masculinity vs Femininity yang berkaitan dengan persaingan dan pencapaian dibandingkan kepedulian dan kualitas hidup
- Uncertainty Avoidance yang menunjukkan tingkat penerimaan terhadap ketidakpastian
- Long-Term vs Short-Term Orientation yang membedakan orientasi pada masa depan dan orientasi pada hasil atau tradisi.

Sementara itu, proyek GLOBE memperluas pemahaman budaya dengan melihat hubungan antara budaya masyarakat, organisasi, dan kepemimpinan. GLOBE memandang budaya sebagai nilai, keyakinan, identitas, dan makna bersama yang berkembang dari pengalaman suatu kelompok dan diwariskan antar generasi. GLOBE juga membedakan values atau bagaimana sesuatu seharusnya dilakukan dan practices atau bagaimana sesuatu benar-benar dilakukan.

3. Clustering budaya adalah gagasan untuk mengelompokkan beberapa negara berdasarkan kesamaan karakteristik budaya yang mereka miliki. GLOBE melakukan pengelompokan karena setiap negara memiliki budaya yang berbeda, tetapi beberapa negara dapat memiliki pola nilai dan praktik yang relatif mirip. Tujuan clustering adalah untuk mempermudah pemahaman mengenai budaya internasional. Daripada mempelajari setiap negara secara terpisah, negara-negara yang memiliki karakteristik budaya yang sama dapat ditempatkan dalam satu cultural cluster. Negara dalam cluster yang sama biasanya memiliki kesamaan dalam nilai, praktik sosial, hubungan antarindividu, kepemimpinan, serta cara organisasi dijalankan. Dalam proyek GLOBE, terdapat beberapa cultural clusters, antara lain Anglo, Germanic Europe, Nordic Europe, Latin Europe, Eastern Europe, Confucian Asia, Southern Asia, Latin America, Middle East, dan Sub-Saharan Africa.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: responsi 2

by Zhara Aulia Putri -
Nama: Zhara Aulia Putri
NPM: 2411011075

1. Untuk memahami hubungan tersebut, kita harus menyadari bahwa budaya masyarakat memengaruhi cara organisasi bekerja. Nilai yang berkembang dalam masyarakat, seperti penghormatan terhadap senioritas, pentingnya keluarga, kerja sama, atau kebebasan individu, dapat memengaruhi gaya kepemimpinan, cara berkomunikasi, pengambilan keputusan, dan hubungan kerja di perusahaan.

2. 5 dimensi hofstede meliputi: Power distance (bagaimana masyarakat melihat perbedaan kekuasaan), individualism vs collectivism (lebih mementingkan individu atau kelompok), uncertainty avoidance (bagaimana menghadapi ketidakpastian), masculinity vs femininity (lebih menekankan pada prestasi/kompetisi atau menekankan hubungan sosial/kebersaman), long term vs short term orientation (lebih berorientasi jangka panjang atau jangka pendek).
Proyek GLOBE mempelajari bagaimana nilai dan praktik budaya memengaruhi kepemimpinan dan organisasi. GLOBE membedakan antara “As Is”, yaitu kondisi budaya yang terjadi saat ini, dan “Should Be”, yaitu kondisi budaya yang dianggap ideal oleh masyarakat. Perbedaan budaya memengaruhi cara manajer melihat masalah, menghadapi ketidakpastian, dan menentukan strategi.

3. Cultural clustering adalah pengelompokan negara-negara berdasarkan persamaan karakteristik budaya. Negara yang memiliki nilai, sejarah, cara berpikir, dan praktik sosial yang relatif mirip dimasukkan ke dalam satu culture cluster.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: responsi 2

by Sevilla Uefa Duna -
Nama: Sevilla Uefa Duna
NPM: 2411011050

1. Caranya adalah dengan memahami bahwa nilai yang berkembang di masyarakat dapat memengaruhi bagaimana organisasi dijalankan.
Nilai masyarakat seperti gotong royong, menghormati orang yang lebih tua, kedisiplinan, atau individualisme akan tercermin dalam praktik kemasyarakatan, yaitu kebiasaan dan perilaku yang dilakukan sehari-hari. Nilai dan praktik tersebut kemudian dapat masuk ke dalam organisasi dan membentuk budaya organisasi, seperti cara berkomunikasi, gaya kepemimpinan, pengambilan keputusan, dan hubungan antara atasan dengan karyawan.

2. Model 5 dimensi:
1. Power Distance: Menggambarkan sejauh mana masyarakat menerima perbedaan kekuasaan dan hierarki.
2. Individualism vs Collectivism: Menggambarkan apakah masyarakat lebih mengutamakan kepentingan individu atau kelompok.
3. Masculinity vs Femininity: Menggambarkan apakah masyarakat lebih menekankan persaingan, prestasi, dan keberhasilan atau kepedulian, kerja sama, dan kualitas hidup.
4. Uncertainty Avoidance: Menunjukkan sejauh mana masyarakat merasa nyaman atau tidak nyaman terhadap ketidakpastian dan situasi yang tidak jelas.
5. Long-term vs Short-term Orientation
Menggambarkan orientasi masyarakat terhadap masa depan dibandingkan masa lalu atau masa kini. Orientasi jangka panjang menekankan perencanaan, ketekunan, dan investasi masa depan, sedangkan orientasi jangka pendek lebih menekankan tradisi dan hasil saat ini.
Definisi budaya berdasarkan proyek Globe: Penelitian GLOBE (Global Leadership and Organizational Behavior Effectiveness) mengembangkan pemahaman budaya yang lebih luas dengan melihat nilai dan praktik budaya, baik pada tingkat masyarakat maupun organisasi.
Secara sederhana, budaya dapat dipahami sebagai pola nilai, keyakinan, norma, dan praktik yang dimiliki bersama oleh suatu kelompok masyarakat dan memengaruhi bagaimana anggotanya berpikir, bertindak, bekerja, serta berinteraksi.

3. Cultural clustering adalah gagasan dalam proyek GLOBE untuk mengelompokkan beberapa negara ke dalam cluster budaya berdasarkan kesamaan karakteristik budaya, bukan hanya melihat setiap negara secara terpisah.
Pengelompokan ini dilakukan karena negara yang berbeda dapat memiliki nilai, kebiasaan, sejarah, agama, bahasa, kondisi geografis, serta pandangan terhadap pekerjaan yang mirip. Negara-negara yang memiliki karakteristik serupa kemudian ditempatkan dalam satu cluster sehingga lebih mudah memahami pola budaya dan perilaku masyarakatnya.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: responsi 2

by PASYA AULIA RAMADANI -
Nama: Pasya Aulia
Npm: 2411011044

1. Wawasan mengenai hubungan antara nilai, praktik kemasyarakatan, dan budaya organisasi dapat dikembangkan dengan memahami bahwa organisasi merupakan bagian dari masyarakat. Nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat, seperti cara berkomunikasi, bekerja sama, menghormati otoritas, dan menyelesaikan masalah, akan memengaruhi perilaku individu dalam organisasi. Oleh karena itu, pemahaman mengenai budaya masyarakat menjadi penting untuk menjelaskan bagaimana suatu budaya organisasi terbentuk dan berkembang.

Wawasan tersebut dapat dikembangkan melalui pengamatan terhadap kehidupan sosial, mempelajari perbedaan budaya antar masyarakat, serta menganalisis pengaruh nilai sosial terhadap perilaku organisasi. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa budaya organisasi tidak hanya terbentuk dari kebijakan internal, tetapi juga dipengaruhi oleh nilai dan praktik yang berkembang dalam masyarakat.

2. Hofstede mengembangkan 5 dimensi budaya untuk menjelaskan perbedaan budaya antarnegara. Dimensi tersebut meliputi :
1.jarak kekuasaan, yaitu tingkat penerimaan terhadap ketimpangan kekuasaan 2.individualisme dan kolektivisme, yaitu orientasi terhadap kepentingan individu atau kelompok
3.maskulinitas dan femininitas, yang berkaitan dengan orientasi terhadap prestasi, persaingan, kepedulian, dan kualitas hidup
4.penghindaran ketidakpastian, yaitu tingkat kemampuan masyarakat dalam menghadapi kondisi yang tidak pasti serta,
5.krientasi jangka panjang, yaitu pandangan masyarakat terhadap masa depan, tradisi, dan perencanaan.

Penelitian proyek GLOBE memberikan pemahaman yang lebih luas mengenai budaya. Budaya didefinisikan sebagai seperangkat nilai, keyakinan, norma, dan praktik yang dianut bersama oleh anggota suatu kelompok atau masyarakat. Budaya memengaruhi cara individu berpikir, berperilaku, berinteraksi, dan menjalankan aktivitas dalam organisasi.

3. Proyek GLOBE mengembangkan konsep cultural clustering atau pengelompokan budaya berdasarkan kesamaan karakteristik budaya antarnegara. Negara-negara yang memiliki kesamaan dalam nilai, praktik sosial, kondisi sejarah, maupun karakteristik budaya dapat dikelompokkan ke dalam satu cluster.

Melalui pengelompokan tersebut, proyek GLOBE menunjukkan bahwa negara-negara dalam satu cluster cenderung memiliki pola budaya yang relatif serupa, meskipun tetap memiliki karakteristik nasional masing-masing. Konsep ini membantu dalam memahami perbedaan dan persamaan budaya antarnegara, khususnya dalam kaitannya dengan perilaku organisasi dan kepemimpinan.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: responsi 2

by Rafa Adya Sunanda -
Nama: Rafa Adya Sunanda
NPM: 2411011027

1. Wawasan hubungan nilai dan praktik kemasyarakatan dengan budaya organisasi
Caranya dengan pendekatan "As Is" vs "Should Be" dari GLOBE. As Is menggambarkan keadaan budaya yang sebenarnya terjadi, misalnya "bawahan biasanya mengikuti keputusan pimpinan." Sedangkan Should Be menggambarkan keadaan yang seharusnya menurut masyarakat, misalnya "seharusnya bawahan lebih dilibatkan dalam pengambilan keputusan." Dari perbandingan keduanya bisa terlihat apakah praktik organisasi sudah sesuai dengan nilai masyarakat atau belum, sehingga manajer bisa menyesuaikan cara memimpin dan mengambil keputusan agar lebih selaras dengan nilai yang dianut masyarakat setempat.

2. Lima dimensi Hofstede & definisi budaya versi GLOBE
Hofstede meneliti karyawan IBM di 64 negara dan menghasilkan lima dimensi, yaitu Power Distance (penerimaan terhadap ketimpangan kekuasaan), Individualism vs Collectivism (fokus pada individu atau kelompok), Masculinity vs Femininity (orientasi pencapaian atau kepedulian), Uncertainty Avoidance (sikap terhadap ketidakpastian), dan Long-term vs Short-term Orientation (orientasi masa depan atau tradisi).

GLOBE memperluas definisi ini dengan memisahkan nilai (should be) dan praktik (as is), menambah dimensi jadi sembilan dengan memasukkan Assertiveness, Institutional dan In-Group Collectivism, Gender Egalitarianism, Performance Orientation, dan Humane Orientation, serta menghubungkan budaya dengan efektivitas kepemimpinan lewat rantai Budaya-Organisasi-Kepemimpinan-Efektivitas. Jadi GLOBE membuat definisi budaya lebih kompleks dan multidimensional dibanding Hofstede yang lebih sederhana.

3. Clustering budaya menurut GLOBE
GLOBE mengelompokkan negara berdasarkan kemiripan budaya, bukan membandingkan satu per satu. Dasar pengelompokannya mempertimbangkan agama, bahasa, geografi, etnis, sejarah, kondisi ekonomi, serta nilai dan sikap terhadap pekerjaan. Contoh klasternya antara lain Asia Konfusianisme, Asia Selatan, Timur Tengah, Eropa Nordik, Eropa Jermanik, Amerika Latin, Afrika Sub-Sahara, dan Eropa Timur. Dengan cara ini, negara yang punya latar belakang sejarah, agama, atau bahasa mirip dianggap punya karakter budaya yang sepadan, sehingga lebih memudahkan analisis lintas budaya secara regional.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: responsi 2

by Evania Nurresya Arsana -
Nama: Evania Nurresya Arsana
NPM: 2451011044

1. Cara mengembangkan wawasan tentang hubungan antara nilai, praktik kemasyarakatan, dan budaya organisasi

Untuk memahami hubungan antara nilai, praktik kemasyarakatan, dan budaya organisasi, kita perlu melihat bagaimana nilai yang dimiliki oleh suatu masyarakat dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari dan cara sebuah organisasi berjalan. Nilai merupakan sesuatu yang dianggap penting, baik, dan benar oleh masyarakat, seperti gotong royong, tanggung jawab, kedisiplinan, menghargai orang lain, atau menghormati orang yang lebih tua. Nilai tersebut kemudian terlihat dalam praktik atau kebiasaan masyarakat.

Dalam organisasi, nilai masyarakat juga dapat memengaruhi cara orang bekerja, berkomunikasi, mengambil keputusan, dan berhubungan dengan atasan maupun sesama anggota. Misalnya, dalam masyarakat yang menjunjung tinggi kebersamaan, kerja sama dalam organisasi biasanya lebih ditekankan. Sebaliknya, masyarakat yang lebih individualis dapat lebih menekankan kebebasan dan pencapaian pribadi.

Untuk mengembangkan wawasan tersebut, kita dapat melakukan pengamatan terhadap kehidupan masyarakat, mempelajari kebiasaan dan nilai yang berlaku, membandingkan budaya dari beberapa negara, serta mempelajari hasil penelitian mengenai budaya seperti penelitian Hofstede dan GLOBE. Dengan cara tersebut, kita dapat memahami bahwa budaya masyarakat memiliki hubungan dengan cara organisasi menjalankan kegiatan dan mengatur anggotanya.

2. Model lima dimensi Hofstede dan penelitian GLOBE

Hofstede mengembangkan model yang digunakan untuk melihat perbedaan budaya antarnegara. Dalam model tersebut terdapat lima dimensi utama, yaitu power distance, individualism versus collectivism, uncertainty avoidance, masculinity versus femininity, dan long-term orientation.

Power distance menjelaskan sejauh mana masyarakat menerima adanya perbedaan kekuasaan atau hierarki. Individualism dan collectivism menjelaskan apakah masyarakat lebih mengutamakan kepentingan individu atau kepentingan kelompok. Uncertainty avoidance menjelaskan sejauh mana masyarakat merasa perlu adanya aturan dan kepastian untuk menghadapi ketidakpastian. Masculinity dan femininity berkaitan dengan apakah masyarakat lebih menekankan persaingan dan pencapaian atau lebih menekankan hubungan sosial dan kepedulian. Sedangkan long-term orientation menjelaskan sejauh mana masyarakat lebih berorientasi pada masa depan, perencanaan, dan ketekunan.

Penelitian GLOBE kemudian mengembangkan penelitian budaya dengan cakupan yang lebih luas. GLOBE melihat budaya melalui nilai dan praktik yang ada dalam masyarakat maupun organisasi. GLOBE menggunakan sembilan dimensi, yaitu uncertainty avoidance, power distance, institutional collectivism, in-group collectivism, gender egalitarianism, assertiveness, future orientation, performance orientation, dan humane orientation. Penelitian ini juga membedakan antara kondisi yang benar-benar terjadi di masyarakat dengan kondisi yang dianggap seharusnya terjadi.

3. Gagasan clustering budaya dalam proyek GLOBE

Clustering budaya merupakan gagasan untuk mengelompokkan beberapa negara berdasarkan kesamaan karakteristik budaya yang dimiliki. Jadi, negara yang mempunyai nilai dan praktik budaya yang relatif mirip akan dimasukkan ke dalam satu kelompok atau cluster. Tujuannya adalah agar perbedaan dan persamaan budaya antarnegara lebih mudah dipahami.

Dalam proyek GLOBE terdapat beberapa kelompok budaya, antara lain Anglo, Latin Europe, Nordic Europe, Germanic Europe, Eastern Europe, Latin America, Confucian Asia, Southern Asia, Middle East, dan Sub-Saharan Africa.

Dengan adanya clustering, kita dapat melihat bahwa negara-negara yang berada dalam satu kelompok cenderung mempunyai beberapa kesamaan dalam cara berkomunikasi, bekerja sama, memimpin, dan menjalankan organisasi. Sementara itu, negara yang berada dalam cluster berbeda dapat memiliki kebiasaan dan cara berpikir yang berbeda. Jadi, clustering membantu menjelaskan bagaimana budaya suatu negara dapat memengaruhi perilaku masyarakat dan organisasi.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: responsi 2

by Ukhti Lu'lu'ul Jannah -
Ukhti Lu'lu'ul Jannah
2411011095

1. Wawasan tentang hubungan antara nilai, praktik kemasyarakatan, dan budaya organisasi dapat dikembangkan dengan memahami bahwa nilai budaya merupakan keyakinan dan prinsip yang dianggap penting oleh masyarakat, sedangkan praktik kemasyarakatan merupakan penerapan nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Nilai dan praktik masyarakat kemudian memengaruhi budaya organisasi, seperti pola komunikasi, gaya kepemimpinan, pengambilan keputusan, serta hubungan antaranggota. Pemahaman tersebut dapat diperoleh melalui pengamatan, penelitian lintas budaya, wawancara, dan perbandingan antara nilai masyarakat dengan praktik yang diterapkan dalam organisasi.

2. Hofstede mengembangkan lima dimensi budaya, yaitu power distance yang menunjukkan penerimaan terhadap ketimpangan kekuasaan, individualism vs. collectivism yang membedakan orientasi individu dan kelompok, uncertainty avoidance yang menunjukkan tingkat toleransi terhadap ketidakpastian, masculinity vs. femininity yang membedakan orientasi pada pencapaian dan kompetisi dengan kepedulian serta kualitas hubungan, serta long-term vs. short-term orientation yang menunjukkan orientasi terhadap masa depan atau hasil jangka pendek dan tradisi. Sementara itu, proyek GLOBE mendefinisikan budaya sebagai pola nilai, keyakinan, dan praktik yang dimiliki bersama oleh suatu kelompok dan membedakannya dari kelompok lain. GLOBE juga membedakan budaya berdasarkan praktik yang berlaku saat ini (as is) dan nilai atau kondisi yang diharapkan (should be).

3. Cultural clustering dalam proyek GLOBE merupakan pengelompokan negara berdasarkan kesamaan nilai dan praktik budaya yang dimiliki, sehingga negara-negara dengan karakteristik budaya yang relatif serupa ditempatkan dalam satu culture cluster. GLOBE mengidentifikasi sepuluh culture clusters, yaitu Anglo, Germanic Europe, Nordic Europe, Latin Europe, Latin America, Eastern Europe, Middle East, Sub-Saharan Africa, Southern Asia, dan Confucian Asia. Pengelompokan ini bertujuan untuk mempermudah analisis persamaan dan perbedaan budaya antarnegara serta memahami pengaruh budaya terhadap kepemimpinan, perilaku organisasi, dan praktik bisnis.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: responsi 2

by Yonada Audylia Putri -
Nama: Yonada Audylia Putri
NPM: 2451011031

1. Hubungan nilai, praktik kemasyarakatan, dan budaya organisasi

Nilai adalah sesuatu yang dianggap penting dan benar oleh suatu masyarakat, misalnya gotong royong, disiplin, tanggung jawab, dan menghormati orang lain. Nilai tersebut kemudian memengaruhi kebiasaan dan perilaku masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan tersebut juga dapat terbawa ke dalam organisasi.

Contohnya, masyarakat yang memiliki nilai kebersamaan biasanya lebih mengutamakan kerja sama dalam organisasi. Sedangkan masyarakat yang lebih mengutamakan individu biasanya lebih memberikan kebebasan kepada setiap orang untuk mencapai tujuan pribadi. Oleh karena itu, untuk memahami hubungan nilai dengan budaya organisasi, kita bisa mempelajari kebiasaan masyarakat, mengamati perilaku organisasi, dan membandingkan budaya dari berbagai negara.

2. Model Hofstede dan proyek GLOBE

Hofstede menjelaskan budaya melalui lima dimensi:
1. Power Distance – tingkat penerimaan terhadap ketimpangan kekuasaan.
2. Individualism vs Collectivism – lebih mementingkan individu atau kelompok.
3. Uncertainty Avoidance – tingkat kenyamanan terhadap ketidakpastian.
4. Masculinity vs Femininity – orientasi pada pencapaian/kompetisi atau kepedulian/kualitas hidup.
5. Long-Term vs Short-Term Orientation – orientasi pada masa depan atau hasil dan nilai jangka pendek.

Hofstede menjelaskan budaya melalui lima dimensi, yaitu jarak kekuasaan, individualisme dan kolektivisme, penghindaran ketidakpastian, maskulinitas dan feminitas, serta orientasi jangka panjang. Kelima dimensi tersebut digunakan untuk melihat perbedaan budaya antarnegara dan bagaimana budaya tersebut dapat memengaruhi perilaku dalam organisasi.

Sementara itu, proyek GLOBE mengembangkan penelitian budaya dengan menggunakan sembilan dimensi, yaitu uncertainty avoidance, power distance, institutional collectivism, in-group collectivism, gender egalitarianism, assertiveness, future orientation, performance orientation, dan humane orientation. GLOBE juga melihat perbedaan antara nilai yang dianggap ideal dengan praktik yang benar-benar terjadi dalam masyarakat.

3. Clustering budaya menurut GLOBE

Clustering budaya adalah cara mengelompokkan negara-negara berdasarkan kesamaan budaya yang mereka miliki. Negara yang mempunyai karakteristik budaya yang mirip akan dimasukkan ke dalam satu cluster. GLOBE membagi negara ke dalam beberapa cluster, seperti Anglo, Latin Europe, Nordic Europe, Germanic Europe, Eastern Europe, Latin America, Confucian Asia, Southern Asia, Middle East, dan Sub-Saharan Africa.

Dengan clustering ini, kita lebih mudah memahami bahwa setiap negara memiliki karakteristik budaya yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat memengaruhi cara orang berkomunikasi, bekerja, memimpin, mengambil keputusan, dan menjalankan organisasi.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: responsi 2

by M.Daffa Rezki Nugraha -
Nama: M Daffa Rezki Nugraha
Npm: 2211011073

1. Cara mengembangkan wawasan tentang hubungan nilai, praktik kemasyarakatan, dan budaya organisasi
Untuk memahami hubungan antara nilai masyarakat, praktik kemasyarakatan, dan budaya organisasi, kita perlu melihat bahwa organisasi tidak berdiri sendiri. Organisasi berada dalam lingkungan sosial dan budaya tertentu sehingga nilai yang berkembang di masyarakat dapat memengaruhi cara organisasi bekerja.
Beberapa cara yang dapat dilakukan adalah:
•Mempelajari nilai-nilai masyarakat, seperti pandangan tentang kekuasaan, hubungan antarindividu, kerja sama, keadilan, waktu, dan tanggung jawab.
•Mengamati praktik kemasyarakatan, yaitu bagaimana nilai tersebut diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya cara berkomunikasi, mengambil keputusan, menyelesaikan konflik, atau menghormati orang yang lebih senior.
•Menggunakan penelitian lintas budaya, seperti penelitian Hofstede dan proyek GLOBE, untuk memahami pola hubungan antara budaya nasional dengan perilaku organisasi.

Dengan demikian, wawasan tersebut dibangun dengan menghubungkan apa yang dianggap penting oleh masyarakat (nilai) dengan apa yang benar-benar dilakukan masyarakat (praktik) dan kemudian melihat bagaimana keduanya tercermin dalam cara organisasi beroperasi.

2. Model lima dimensi Hofstede dan definisi budaya berdasarkan proyek GLOBE
Model lima dimensi Hofstede
Geert Hofstede mengembangkan kerangka untuk membandingkan budaya nasional. Lima dimensi yang umum digunakan adalah:
•Power Distance (Jarak Kekuasaan)
Menggambarkan sejauh mana anggota masyarakat menerima ketimpangan kekuasaan.
•Jarak kekuasaan tinggi: hierarki dan perbedaan status lebih mudah diterima.
Jarak kekuasaan rendah: hubungan lebih egaliter dan bawahan cenderung dapat menyampaikan pendapat kepada atasan.
•Uncertainty Avoidance (Penghindaran Ketidakpastian)
Menunjukkan sejauh mana masyarakat merasa tidak nyaman terhadap situasi yang tidak pasti atau ambigu.
•Individualism vs. Collectivism (Individualisme vs. Kolektivisme)
Menggambarkan apakah seseorang lebih menekankan kepentingan pribadi atau kepentingan kelompok.
Individualisme: kemandirian dan pencapaian individu lebih ditekankan.
Kolektivisme: loyalitas, hubungan kelompok, dan kepentingan bersama lebih ditekankan.
•Masculinity vs. Femininity (Maskulinitas vs. Feminitas)
Berkaitan dengan penekanan budaya pada kompetisi, pencapaian, dan keberhasilan material dibandingkan kepedulian, kerja sama, dan kualitas hidup.
•Long-Term Orientation (Orientasi Jangka Panjang)
Menggambarkan sejauh mana masyarakat berorientasi pada masa depan, ketekunan, penghematan, dan adaptasi jangka panjang dibandingkan mempertahankan tradisi atau memenuhi kebutuhan masa kini