Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, ibu
Saya Dika Yumanda dengan NPM 2623031015, mohon izin menjawab pertanyaan
1. Berdasarkan kasus yang diberikan, memang terdapat gap/kesenjangan antara bentuk pembelajaran yang dilaksanakan Pak Arif dengan prinsip pembelajaran sukses dalam konteks IPS, kesenjangan berikut ialah sebagai berikut:
a) Pembelajaran seharusnya berorientasi pada tujuan dan kebutuhan peserta didik, bukannya menjadi buku sebagai pusat pembelajaran tanpa memperhatikan kompetensi dan pengalaman siswa
b) Peserta didik perlu aktif membangun pengetahuan, bukannya cenderung menjadi penerima informasi saja
c) Keberhasilan dilihat dari ketercapaian kompetensi, sedangkan penyelesaian materi tidak menjamin siswa memahami dan mampu menerapkannya
d) Asesmen perlu mengukur pengetahuan sekaligus keterampilan, sedangkan pembelajaran Pak Arif, kemampuan analisis, argumentasi, pemecahan masalah, dan komunikasi kurang terukur
e) Prestasi akademik merupakan salah satu indikator, bukan satu-satunya, padahal nilai tinggi belum tentu menunjukkan pemahaman mendalam
f) Lingkungan belajar yang baik harus mendorong keterlibatan, padahal kelas yang tenang belum tentu kelas yang aktif dan produktif
g) IPS harus mengembangkan kemampuan memahami kehidupan sosial, sedangkan dalam hal ini, peserta didik kurang memperoleh kesempatan menghubungkan konsep dengan realitas
h) Pembelajaran IPS perlu inquiry, kolaborasi, dan pemecahan masalah, sedangkan dalam hal ini, potensi berpikir kritis dan keterampilan sosial siswa belum berkembang
Dengan demikian, kesalahan utama Pak Arif bukan terletak pada penggunaan ceramah atau tes tertulis semata, melainkan pada cara mendefinisikan pembelajaran sukses. Ceramah dan pilihan ganda tetap dapat digunakan pada situasi tertentu, tetapi menjadi masalah ketika hampir seluruh proses pembelajaran hanya bergantung pada keduanya. Pembelajaran sukses seharusnya menghasilkan perubahan pada pengetahuan, keterampilan, sikap, kemampuan berpikir, dan kemampuan menerapkan pengetahuan.
2. IPS memiliki karakter yang berbeda dari pembelajaran yang hanya berorientasi pada hafalan fakta. Objek kajian IPS adalah manusia, masyarakat, interaksi sosial, perubahan sosial, ekonomi, budaya, sejarah, geografi, dan berbagai persoalan kehidupan masyarakat. Karena itu, pembelajaran IPS akan lebih bermakna apabila peserta didik dapat melihat hubungan antara konsep yang dipelajari dengan realitas yang mereka alami. Maka dalam hal ini, pembelajaran kontekstual dapat menghubungkan materi dengan pengalaman dan lingkungan peserta didik. Hal ini penting karena peserta didik lebih mudah memahami konsep ketika mereka dapat menghubungkannya dengan sesuatu yang mereka kenal. Karena, pembelajaran IPS yang efektif pada akhirnya diarahkan agar peserta didik memiliki kemampuan untuk memahami kehidupan sosial dan berpartisipasi secara bertanggung jawab dalam masyarakat. Hal ini memberikan implikasi bahwa pembelajaran IPS yang kontekstual dan kritis dapat membangun beberapa kompetensi sekaligus, yaitu pengetahuan sosial, keterampilan berpikir, dan keterampilan sosial.
3. Skenario singkat pembelajaran IPS:
a) Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti pembelajaran, peserta didik diharapkan mampu:
1. Mengidentifikasi permasalahan sosial yang terdapat di lingkungan sekitar.
2. Menjelaskan faktor penyebab dan dampak dari suatu permasalahan sosial.
3. Menganalisis permasalahan sosial berdasarkan informasi atau bukti yang diperoleh.
4. Mengemukakan argumentasi mengenai alternatif penyelesaian masalah.
5. Menganalisis bersama dalam kelompok untuk menghasilkan solusi.
6. Merefleksikan peran individu dan masyarakat dalam menghadapi permasalahan sosial.
b)
Strategi Pembelajaran:
Strategi yang dapat digunakan ialah Pembelajaran Kontekstual yang dikemas dalam Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Artinya, peserta didik belajar melalui permasalahan nyata, bekerja sama dengan teman, mencari informasi, menganalisis sebab-akibat, kemudian merumuskan solusi. Selanjutnya pembelajaran ini turun menjadi sintaks/langkah-langkah pembelajaran.
c) Asesmen Pembelajaran:
1. Asesmen diagnostik
Dilakukan pada awal pembelajaran melalui pertanyaan: “Sebutkan satu permasalahan sosial yang pernah kamu lihat di lingkungan sekitar.” Tujuannya mengetahui pengetahuan awal siswa.
2. Asesmen formatif
Dilakukan selama proses pembelajaran melalui: observasi aktivitas kelompok; pertanyaan dan jawaban; kemampuan mengidentifikasi masalah; kemampuan memberikan argumentasi; kemampuan bekerja sama.
3. Asesmen produk
Produk kelompok berupa peta analisis permasalahan sosial dan alternatif penyelesaiannya. Contoh rubrik (aspek dan bobot):
Identifikasi masalah 20%
Analisis penyebab dan dampak 25%
Penggunaan bukti/informasi 20%
Kualitas alternatif solusi 20%
Presentasi dan kerja sama 15%
Total 100%
4. Asesmen reflektif
Peserta didik menulis refleksi individu mengenai apa yang dipelajari dan kontribusi yang dapat dilakukan dalam menghadapi masalah sosial.