Salam pembelajar, Pada pertemuan pekan ini kita akan mempelajari tentang perkembangan Konsep Dasar IPS secara komprehensif dan multidimensi. Sejauh ini apakah yang anda ketahui tentang perkembangan konsep dasar IPS? IPS bukan hal baru bukan? Coba anda kemukakan perkembangan konsep dasar IPS yang anda ketahui hingga saat ini dalam kolom komentar. Boleh disertakan rujukan jika anda sudah membaca referensi terkait dengan topik kita ini. Kewajiban utama mahasiswa adalah membaca. Ya, membaca banyak sumber belajar. Di era digital ini kita dilimpahkan banyak data dan informasi. Kita gunakan semaksimal mungkin untuk peningkatan ilmu dan wawasan serta ketrampilan kita. Jangan sampai era robotik kita jadi robot juga. Oleh karena itu, secanggih apapun teknologi yang berkembang saat ini, peran pengguna merupakan kuncinya. Teknologi adalah alat, sedangkan manusia adalah pengguna alat. Sejauhmana keberfungsian alat tergantung dari sejauhmana optimalisasinya oleh si pengguna. Begitupula dengan kita sebagai manusia yang dibekali akal sehat dan panca indera yang sempurna oleh Tuhan Yang Maha Kuasa harus mampu mengoptimalkan potensi yang dimiliki. Optimalisasi potensi sangat penting dan sudah anda buktikan dengan sekarang anda duduk sebagai mahasiswa pascasarjana. Melalui studi lanjut S2 diharapkan semakin banyak kontribusinya di dalam masyarakat. Mengingat diri kita merupakan makhluk sosial, yang tidak pernah lepas dari ketergantungan kepada sesama manusia. Silakan dikemukakan disini perkembangan konsep dasar IPS, semoga anda dapat semakin mencintai IPS dan menjadi role model yang baik di masyarakat. Selamat belajar. Salam sehat selalu. Terlampir slide ppt yang bisa anda downloud untuk menambah wawasan anda. Terimakasih.
Diskusi
izin menjawab ibu
Menurut pemahaman saya, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) bukanlah bidang kajian yang baru, tetapi merupakan hasil perkembangan dan pengintegrasian berbagai disiplin ilmu sosial seperti sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, politik, dan ilmu sosial lainnya. Perkembangan konsep dasar IPS tidak terlepas dari kebutuhan pendidikan untuk membekali peserta didik agar mampu memahami kehidupan masyarakat secara utuh serta mampu menghadapi berbagai perubahan sosial.
Pada awal perkembangannya, pembelajaran IPS lebih banyak menekankan pada penguasaan pengetahuan dan fakta-fakta sosial. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, konsep IPS mengalami perluasan. IPS tidak hanya berorientasi pada aspek pengetahuan, tetapi juga mencakup keterampilan sosial, kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, pengambilan keputusan, serta pembentukan sikap dan nilai yang diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat.
Dalam konteks pendidikan saat ini, IPS berkembang menjadi pembelajaran yang bersifat multidimensi dan kontekstual. Berbagai permasalahan nyata seperti perubahan lingkungan, kemiskinan, ketimpangan sosial, perkembangan teknologi, globalisasi, perubahan budaya, dan keberlanjutan lingkungan dapat dikaji melalui perspektif IPS. Oleh karena itu, pembelajaran IPS seharusnya tidak berhenti pada pemahaman teori, tetapi menghubungkan pengetahuan dengan realitas kehidupan peserta didik.
Menurut saya, perkembangan konsep dasar IPS juga semakin menempatkan peserta didik sebagai subjek pembelajaran. Peserta didik diarahkan untuk mengamati lingkungan, menganalisis permasalahan sosial, mencari informasi dari berbagai sumber, berdiskusi, serta menghasilkan solusi berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya. Dengan demikian, IPS memiliki peran penting dalam membentuk individu yang memiliki pengetahuan sosial, berpikir kritis, memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat, serta mampu berpartisipasi secara bertanggung jawab.
Di era digital dan perkembangan kecerdasan buatan saat ini, konsep IPS menjadi semakin penting. Teknologi dapat digunakan sebagai alat untuk memperoleh dan mengolah informasi, tetapi kemampuan manusia dalam berpikir kritis, menilai kebenaran informasi, memahami kondisi sosial, dan mengambil keputusan tetap menjadi hal yang utama. Dengan demikian, perkembangan konsep dasar IPS pada akhirnya diarahkan untuk membentuk manusia yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran sosial dan mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.
Menurut pemahaman saya, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) bukanlah bidang kajian yang baru, tetapi merupakan hasil perkembangan dan pengintegrasian berbagai disiplin ilmu sosial seperti sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, politik, dan ilmu sosial lainnya. Perkembangan konsep dasar IPS tidak terlepas dari kebutuhan pendidikan untuk membekali peserta didik agar mampu memahami kehidupan masyarakat secara utuh serta mampu menghadapi berbagai perubahan sosial.
Pada awal perkembangannya, pembelajaran IPS lebih banyak menekankan pada penguasaan pengetahuan dan fakta-fakta sosial. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, konsep IPS mengalami perluasan. IPS tidak hanya berorientasi pada aspek pengetahuan, tetapi juga mencakup keterampilan sosial, kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, pengambilan keputusan, serta pembentukan sikap dan nilai yang diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat.
Dalam konteks pendidikan saat ini, IPS berkembang menjadi pembelajaran yang bersifat multidimensi dan kontekstual. Berbagai permasalahan nyata seperti perubahan lingkungan, kemiskinan, ketimpangan sosial, perkembangan teknologi, globalisasi, perubahan budaya, dan keberlanjutan lingkungan dapat dikaji melalui perspektif IPS. Oleh karena itu, pembelajaran IPS seharusnya tidak berhenti pada pemahaman teori, tetapi menghubungkan pengetahuan dengan realitas kehidupan peserta didik.
Menurut saya, perkembangan konsep dasar IPS juga semakin menempatkan peserta didik sebagai subjek pembelajaran. Peserta didik diarahkan untuk mengamati lingkungan, menganalisis permasalahan sosial, mencari informasi dari berbagai sumber, berdiskusi, serta menghasilkan solusi berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya. Dengan demikian, IPS memiliki peran penting dalam membentuk individu yang memiliki pengetahuan sosial, berpikir kritis, memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat, serta mampu berpartisipasi secara bertanggung jawab.
Di era digital dan perkembangan kecerdasan buatan saat ini, konsep IPS menjadi semakin penting. Teknologi dapat digunakan sebagai alat untuk memperoleh dan mengolah informasi, tetapi kemampuan manusia dalam berpikir kritis, menilai kebenaran informasi, memahami kondisi sosial, dan mengambil keputusan tetap menjadi hal yang utama. Dengan demikian, perkembangan konsep dasar IPS pada akhirnya diarahkan untuk membentuk manusia yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran sosial dan mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.
Izin menjawab Bu, Nama saya Anggun Anggrani (2623031001). Menurut saya, perkembangan konsep dasar Ilmu Pengetahuan Sosial itu tidak bisa dipisahkan dari perkembangan kehidupan masyarakat dan kebutuhan pendidikan. IPS pada awalnya berkembang dari penggabungan berbagai disiplin ilmu sosial, seperti sejarah, ekonomi, sosiologi, geografi, psikologi , antropologi dan ilmu politik, yang kemudian disederhanakan dan disesuaikan dengan tingkat perkembangan peserta didik. Dalam perkembangannya, IPS tidak lagi hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan atau hafalan mengenai materi-materi, akan tetapi mulai diarahkan pada pemahaman kehidupan masyarakat secara lebih kritis dan terpadu sesuai dengan fakta-fakta dan perkembangan yang terjadi di lingkungan sosial. Di Indonesia, konsep IPS berkembang sebagai mata pelajaran yang membantu peserta didik memahami hubungan antara manusia, lingkungan, dan kehidupan sosial serta membentuk rasa bertanggung jawab, empati dan menghargai, berani mengambil keputusan, dan memecahkan masalah sosial. Sejalan dengan perkembangan zaman dan teknologi, pembelajaran IPS juga dituntut untuk lebih responsif terhadap isu-isu kontemporer seperti keberagaman budaya, globalisasi, perubahan lingkungan, perkembangan ekonomi, dan transformasi digital. Dengan demikian, konsep dasar IPS saat ini tidak hanya menempatkan siswa sebagai penerima informasi, tetapi sebagai individu yang aktif memahami realitas sosial dan mampu memberikan kontribusi positif dalam masyarakat. Menurut saya, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa IPS tetap relevan karena objek kajiannya selalu dikaitkan dengan kehidupan manusia yang terus menerus mengalami perubahan. Selanjutnya dari artikel yang berjudul "Tinjauan Historis Pendidikan IPS di Indonesia", karya B.Hidayat, bahwa perkembangan konsep dasar IPS di Indonesia tidak terlepas dari perkembangan pendidikan IPS (social studies) di negara lain, terutama Amerika Serikat dan Inggris, yang kemudian disesuaikan dengan kondisi, kebutuhan, dan karakteristik masyarakat Indonesia. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa IPS mengalami perubahan dari waktu ke waktu, baik dalam tujuan, isi, maupun pendekatan pembelajarannya. Terimakasih
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat siang ibu dan teman-teman.
Nama: Redo
NPM: 2623031016
Izin merangkum dan atau menanggapi materi kita siang hari ini. Konsep dasar IPS (social studies) berakar dari Amerika Serikat awal abad ke-20, khususnya melalui laporan Committee on Social Studies NEA tahun 1916, yang lahir dari kebutuhan mendidik warga negara yang baik di tengah arus imigrasi dan industrialisasi. Barr, Barth, & Shermis (1977) kemudian merumuskan tiga tradisi besar yang masih relevan hingga kini: citizenship transmission (penanaman nilai kewarganegaraan), social science (penyederhanaan ilmu-ilmu sosial), dan reflective inquiry (proses berpikir reflektif memecahkan masalah sosial). NCSS (1993) menegaskan sifat IPS sebagai kajian terintegrasi dari ilmu-ilmu sosial dan humaniora untuk membangun civic competence.
Di Indonesia, istilah "IPS" resmi digunakan sejak Kurikulum 1975 atas gagasan Prof. Nu'man Somantri, lalu terus berkembang melalui Kurikulum 1994, KBK 2004, KTSP, Kurikulum 2013, hingga Kurikulum Merdeka dengan penekanan yang bergeser dari sekadar penguasaan fakta (content-based) menuju kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah (competency-based*), serta dari kajian nasional menuju isu-isu global seperti perubahan iklim dan literasi digital.
Selain pergeseran kurikuler, perkembangan konsep IPS juga tercermin dari perubahan paradigma pembelajarannya: dari teacher-centered menuju student-centered dan inquiry-based learning, serta semakin terbukanya IPS terhadap pendekatan tematik dan proyek (project based learning) agar peserta didik tidak hanya menghafal konsep, tetapi juga mampu menganalisis dan merespons persoalan sosial di sekitarnya. Di era digital, tantangan IPS semakin kompleks karena harus membekali peserta didik dengan literasi digital dan kesadaran kewargaan global (global citizenship), tanpa kehilangan akar nilai lokal dan nasionalnya.
Benang merah dari seluruh perkembangan ini adalah konsistensi tujuan IPS: membentuk warga negara yang cerdas dan berkarakter sosial, meski pendekatan dan penekanan materinya terus menyesuaikan zaman. Rujukan: Barr, Barth & Shermis (1977); Somantri (2001); NCSS (1993); Sapriya (2009).
Terima kasih..
Selamat siang ibu dan teman-teman.
Nama: Redo
NPM: 2623031016
Izin merangkum dan atau menanggapi materi kita siang hari ini. Konsep dasar IPS (social studies) berakar dari Amerika Serikat awal abad ke-20, khususnya melalui laporan Committee on Social Studies NEA tahun 1916, yang lahir dari kebutuhan mendidik warga negara yang baik di tengah arus imigrasi dan industrialisasi. Barr, Barth, & Shermis (1977) kemudian merumuskan tiga tradisi besar yang masih relevan hingga kini: citizenship transmission (penanaman nilai kewarganegaraan), social science (penyederhanaan ilmu-ilmu sosial), dan reflective inquiry (proses berpikir reflektif memecahkan masalah sosial). NCSS (1993) menegaskan sifat IPS sebagai kajian terintegrasi dari ilmu-ilmu sosial dan humaniora untuk membangun civic competence.
Di Indonesia, istilah "IPS" resmi digunakan sejak Kurikulum 1975 atas gagasan Prof. Nu'man Somantri, lalu terus berkembang melalui Kurikulum 1994, KBK 2004, KTSP, Kurikulum 2013, hingga Kurikulum Merdeka dengan penekanan yang bergeser dari sekadar penguasaan fakta (content-based) menuju kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah (competency-based*), serta dari kajian nasional menuju isu-isu global seperti perubahan iklim dan literasi digital.
Selain pergeseran kurikuler, perkembangan konsep IPS juga tercermin dari perubahan paradigma pembelajarannya: dari teacher-centered menuju student-centered dan inquiry-based learning, serta semakin terbukanya IPS terhadap pendekatan tematik dan proyek (project based learning) agar peserta didik tidak hanya menghafal konsep, tetapi juga mampu menganalisis dan merespons persoalan sosial di sekitarnya. Di era digital, tantangan IPS semakin kompleks karena harus membekali peserta didik dengan literasi digital dan kesadaran kewargaan global (global citizenship), tanpa kehilangan akar nilai lokal dan nasionalnya.
Benang merah dari seluruh perkembangan ini adalah konsistensi tujuan IPS: membentuk warga negara yang cerdas dan berkarakter sosial, meski pendekatan dan penekanan materinya terus menyesuaikan zaman. Rujukan: Barr, Barth & Shermis (1977); Somantri (2001); NCSS (1993); Sapriya (2009).
Terima kasih..
Assalamualaikum Wr. Wb.
Nama : Redha Aulia
Npm : 2623031004
Izin menyampaikan tanggapan terkait perkembangan konsep dasar IPS yang terus bertransformasi secara komprehensif dan multidimensi.
IPS memang bukan hal yang baru, melainkan disiplin yang terus berevolusi mengikuti kebutuhan zaman. Dari penelusuran referensi yang saya pelajari, perkembangan konsep dasar IPS dapat ditinjau dari beberapa fase:
1. Awal Perkembangan Global (AS, 1916 & 1977): IPS (Social Studies) diinisiasi oleh Committee on Social Studies di Amerika Serikat (1916) untuk membina warga negara yang baik (civic efficacy). Barr, Barth, & Shermis (1977) kemudian memetakan 3 tradisi utamanya: IPS sebagai transmisi kewarganegaraan, ilmu sosial, dan inkuiri kritis (reflective inquiry).
2. Perkembangan Konsep di Indonesia: Masuk resmi dalam Kurikulum 1975, IPS berkembang dalam dua domain sebagaimana ditegaskan oleh Nu'man Somantri (2001): IPS sebagai mata pelajaran terpadu di sekolah dan Pendidikan IPS sebagai disiplin akademis di perguruan tinggi.
3. Konsep IPS di Era Digital & Multidimensi: Saat ini, IPS tidak lagi sekadar hafalan fakta sosial atau sejarah, melainkan sarana penguatan humanitas dan literasi kritis (digital citizenship). Sebagaimana yang disinggung dalam pengantar diskusi, teknologi adalah alat dan manusia adalah pengendalinya—IPS berperan memastikan agar perkembangan teknologi tetap berlandaskan etika dan nilai-nilai kemanusiaan.
Sebagai mahasiswa, saya sepakat bahwa optimalisasi potensi diri dan literasi membaca adalah kunci agar kita mampu memberikan kontribusi nyata sebagai makhluk sosial di masyarakat.
Nama : Redha Aulia
Npm : 2623031004
Izin menyampaikan tanggapan terkait perkembangan konsep dasar IPS yang terus bertransformasi secara komprehensif dan multidimensi.
IPS memang bukan hal yang baru, melainkan disiplin yang terus berevolusi mengikuti kebutuhan zaman. Dari penelusuran referensi yang saya pelajari, perkembangan konsep dasar IPS dapat ditinjau dari beberapa fase:
1. Awal Perkembangan Global (AS, 1916 & 1977): IPS (Social Studies) diinisiasi oleh Committee on Social Studies di Amerika Serikat (1916) untuk membina warga negara yang baik (civic efficacy). Barr, Barth, & Shermis (1977) kemudian memetakan 3 tradisi utamanya: IPS sebagai transmisi kewarganegaraan, ilmu sosial, dan inkuiri kritis (reflective inquiry).
2. Perkembangan Konsep di Indonesia: Masuk resmi dalam Kurikulum 1975, IPS berkembang dalam dua domain sebagaimana ditegaskan oleh Nu'man Somantri (2001): IPS sebagai mata pelajaran terpadu di sekolah dan Pendidikan IPS sebagai disiplin akademis di perguruan tinggi.
3. Konsep IPS di Era Digital & Multidimensi: Saat ini, IPS tidak lagi sekadar hafalan fakta sosial atau sejarah, melainkan sarana penguatan humanitas dan literasi kritis (digital citizenship). Sebagaimana yang disinggung dalam pengantar diskusi, teknologi adalah alat dan manusia adalah pengendalinya—IPS berperan memastikan agar perkembangan teknologi tetap berlandaskan etika dan nilai-nilai kemanusiaan.
Sebagai mahasiswa, saya sepakat bahwa optimalisasi potensi diri dan literasi membaca adalah kunci agar kita mampu memberikan kontribusi nyata sebagai makhluk sosial di masyarakat.
Assalamuallaikum wr.wb
izin menanggapi ibu
Nama: Nur Rachma Lini
NPM : 2623031012
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) bukanlah suatu disiplin ilmu yang baru, melainkan bidang kajian yang berkembang dari kebutuhan manusia untuk memahami berbagai fenomena sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Konsep dasar IPS pada awalnya berkembang dari tradisi pendidikan sosial di Amerika Serikat pada awal abad ke-20, khususnya setelah munculnya kebutuhan untuk membekali peserta didik dengan kemampuan memahami kehidupan demokrasi, masyarakat, dan perubahan sosial.
Di Indonesia, perkembangan IPS mulai mendapat perhatian secara formal pada tahun 1970-an sebagai bagian dari upaya pembaruan pendidikan. IPS dikembangkan sebagai mata pelajaran yang bersifat integratif dengan menggabungkan berbagai disiplin ilmu sosial seperti sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, politik, dan ilmu sosial lainnya. Tujuannya bukan sekadar memberikan pengetahuan tentang masyarakat, tetapi membentuk peserta didik agar memiliki kemampuan berpikir kritis, memiliki kepedulian sosial, serta mampu mengambil keputusan sebagai warga negara yang bertanggung jawab.
Seiring perkembangan zaman, konsep dasar IPS mengalami perubahan dari pendekatan yang awalnya berorientasi pada hafalan fakta sosial menuju pendekatan yang lebih multidimensi dan kontekstual. IPS saat ini tidak hanya membahas hubungan manusia dengan lingkungan sosialnya, tetapi juga mengkaji berbagai isu kontemporer seperti globalisasi, keberagaman budaya, ketimpangan sosial, perubahan teknologi, pembangunan berkelanjutan, hingga dampak revolusi digital terhadap kehidupan masyarakat.
Dalam perspektif modern, IPS memiliki tiga dimensi utama, yaitu:
1. Dimensi pengetahuan (knowledge), yaitu pemahaman terhadap konsep-konsep sosial dan berbagai fenomena yang terjadi dalam masyarakat.
2. Dimensi keterampilan (skills), yaitu kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, melakukan penelitian sosial, dan mengambil keputusan.
3. Dimensi nilai dan sikap (values and attitudes), yaitu pembentukan karakter, tanggung jawab sosial, toleransi, dan kesadaran sebagai warga masyarakat.
Menurut saya, perkembangan konsep dasar IPS menunjukkan bahwa IPS bukan hanya ilmu yang mempelajari masyarakat masa lalu, tetapi ilmu yang membantu manusia memahami kondisi saat ini dan mempersiapkan masa depan. Oleh karena itu, pembelajaran IPS harus terus berkembang mengikuti perubahan zaman dengan tetap berlandaskan nilai sosial, kemanusiaan, dan tanggung jawab sebagai bagian dari masyarakat.
izin menanggapi ibu
Nama: Nur Rachma Lini
NPM : 2623031012
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) bukanlah suatu disiplin ilmu yang baru, melainkan bidang kajian yang berkembang dari kebutuhan manusia untuk memahami berbagai fenomena sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Konsep dasar IPS pada awalnya berkembang dari tradisi pendidikan sosial di Amerika Serikat pada awal abad ke-20, khususnya setelah munculnya kebutuhan untuk membekali peserta didik dengan kemampuan memahami kehidupan demokrasi, masyarakat, dan perubahan sosial.
Di Indonesia, perkembangan IPS mulai mendapat perhatian secara formal pada tahun 1970-an sebagai bagian dari upaya pembaruan pendidikan. IPS dikembangkan sebagai mata pelajaran yang bersifat integratif dengan menggabungkan berbagai disiplin ilmu sosial seperti sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, politik, dan ilmu sosial lainnya. Tujuannya bukan sekadar memberikan pengetahuan tentang masyarakat, tetapi membentuk peserta didik agar memiliki kemampuan berpikir kritis, memiliki kepedulian sosial, serta mampu mengambil keputusan sebagai warga negara yang bertanggung jawab.
Seiring perkembangan zaman, konsep dasar IPS mengalami perubahan dari pendekatan yang awalnya berorientasi pada hafalan fakta sosial menuju pendekatan yang lebih multidimensi dan kontekstual. IPS saat ini tidak hanya membahas hubungan manusia dengan lingkungan sosialnya, tetapi juga mengkaji berbagai isu kontemporer seperti globalisasi, keberagaman budaya, ketimpangan sosial, perubahan teknologi, pembangunan berkelanjutan, hingga dampak revolusi digital terhadap kehidupan masyarakat.
Dalam perspektif modern, IPS memiliki tiga dimensi utama, yaitu:
1. Dimensi pengetahuan (knowledge), yaitu pemahaman terhadap konsep-konsep sosial dan berbagai fenomena yang terjadi dalam masyarakat.
2. Dimensi keterampilan (skills), yaitu kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, melakukan penelitian sosial, dan mengambil keputusan.
3. Dimensi nilai dan sikap (values and attitudes), yaitu pembentukan karakter, tanggung jawab sosial, toleransi, dan kesadaran sebagai warga masyarakat.
Menurut saya, perkembangan konsep dasar IPS menunjukkan bahwa IPS bukan hanya ilmu yang mempelajari masyarakat masa lalu, tetapi ilmu yang membantu manusia memahami kondisi saat ini dan mempersiapkan masa depan. Oleh karena itu, pembelajaran IPS harus terus berkembang mengikuti perubahan zaman dengan tetap berlandaskan nilai sosial, kemanusiaan, dan tanggung jawab sebagai bagian dari masyarakat.
Selamat siang Bu,Izin menjawab Bu, Santa Feni Brigita (2623031005)
Menurut pemahaman saya, perkembangan konsep dasar IPS tidak sekadar berkaitan dengan perubahan materi pembelajaran, tetapi juga menunjukkan perubahan paradigma dalam memahami kehidupan manusia dan masyarakat. IPS berkembang dari penguasaan fakta sosial menuju pendekatan yang lebih integratif, interdisipliner, kritis, dan kontekstual dengan memanfaatkan perspektif sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, dan ilmu sosial lainnya.
Perubahan tersebut penting karena persoalan sosial pada dasarnya bersifat multidimensional. Kemiskinan, misalnya, tidak hanya berkaitan dengan ekonomi, tetapi juga pendidikan, budaya, kebijakan, kondisi geografis, dan struktur sosial. Oleh karena itu, pembelajaran IPS seharusnya tidak berhenti pada kemampuan mengetahui fakta, tetapi mendorong peserta didik untuk menganalisis sebab-akibat, melihat berbagai perspektif, berpikir kritis, serta mampu memberikan solusi terhadap persoalan sosial.
Di era digital, konsep IPS semakin relevan karena masyarakat menghadapi tantangan seperti disinformasi, polarisasi, perubahan budaya, kesenjangan sosial, dan perkembangan kecerdasan buatan. Dalam kondisi tersebut, literasi digital dan kemampuan berpikir kritis menjadi bagian penting dari kompetensi IPS. Teknologi dapat menyediakan informasi dengan cepat, tetapi manusia tetap membutuhkan kemampuan untuk memverifikasi, menilai, dan menggunakan informasi secara etis.
Dengan demikian, menurut saya IPS bukan sekadar ilmu untuk memahami masyarakat, tetapi juga sarana membentuk manusia yang kritis, adaptif, humanis, dan bertanggung jawab. Semakin kompleks persoalan masyarakat, semakin penting IPS dikembangkan secara komprehensif dan multidimensional agar pengetahuan yang diperoleh dapat berkontribusi nyata bagi kehidupan sosial.
Menurut pemahaman saya, perkembangan konsep dasar IPS tidak sekadar berkaitan dengan perubahan materi pembelajaran, tetapi juga menunjukkan perubahan paradigma dalam memahami kehidupan manusia dan masyarakat. IPS berkembang dari penguasaan fakta sosial menuju pendekatan yang lebih integratif, interdisipliner, kritis, dan kontekstual dengan memanfaatkan perspektif sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, dan ilmu sosial lainnya.
Perubahan tersebut penting karena persoalan sosial pada dasarnya bersifat multidimensional. Kemiskinan, misalnya, tidak hanya berkaitan dengan ekonomi, tetapi juga pendidikan, budaya, kebijakan, kondisi geografis, dan struktur sosial. Oleh karena itu, pembelajaran IPS seharusnya tidak berhenti pada kemampuan mengetahui fakta, tetapi mendorong peserta didik untuk menganalisis sebab-akibat, melihat berbagai perspektif, berpikir kritis, serta mampu memberikan solusi terhadap persoalan sosial.
Di era digital, konsep IPS semakin relevan karena masyarakat menghadapi tantangan seperti disinformasi, polarisasi, perubahan budaya, kesenjangan sosial, dan perkembangan kecerdasan buatan. Dalam kondisi tersebut, literasi digital dan kemampuan berpikir kritis menjadi bagian penting dari kompetensi IPS. Teknologi dapat menyediakan informasi dengan cepat, tetapi manusia tetap membutuhkan kemampuan untuk memverifikasi, menilai, dan menggunakan informasi secara etis.
Dengan demikian, menurut saya IPS bukan sekadar ilmu untuk memahami masyarakat, tetapi juga sarana membentuk manusia yang kritis, adaptif, humanis, dan bertanggung jawab. Semakin kompleks persoalan masyarakat, semakin penting IPS dikembangkan secara komprehensif dan multidimensional agar pengetahuan yang diperoleh dapat berkontribusi nyata bagi kehidupan sosial.
Assalamualaikum wr.wb Ibu, saya Vilia Ariana izin berdiskusi.
Menurut saya, perkembangan konsep dasar IPS tidak terlepas dari kebutuhan manusia untuk memahami kehidupan sosial secara lebih terarah. IPS bukanlah ilmu yang benar-benar baru, karena konsepnya berkembang dari berbagai disiplin ilmu sosial seperti sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, politik, dan psikologi sosial. Dalam perkembangannya, IPS kemudian dikembangkan sebagai bidang pendidikan yang tidak hanya menyampaikan pengetahuan sosial, tetapi juga membantu peserta didik memahami berbagai persoalan yang terjadi di lingkungan sekitarnya.
Pada awalnya, pembelajaran IPS cenderung berorientasi pada penguasaan fakta, konsep, dan pengetahuan tentang kehidupan masyarakat. Namun, seiring perubahan zaman, konsep IPS berkembang menjadi lebih **interdisipliner, kontekstual, dan multidimensi**. IPS tidak hanya membahas apa yang terjadi dalam masyarakat, tetapi juga mengajak peserta didik menganalisis sebab-akibat suatu masalah, melihat berbagai sudut pandang, berpikir kritis, serta mencari solusi terhadap persoalan sosial. Perkembangan teknologi dan munculnya masyarakat digital juga membuat IPS semakin berkaitan dengan isu-isu seperti globalisasi, lingkungan, kewarganegaraan, keberagaman, perubahan sosial, dan literasi digital.
Menurut saya, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa IPS harus terus menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat tanpa kehilangan tujuan utamanya, yaitu membentuk manusia yang memiliki pengetahuan sosial, keterampilan berpikir, dan kepedulian terhadap lingkungan sosialnya. Di era teknologi dan Society 5.0, teknologi seharusnya menjadi alat yang membantu manusia belajar dan memecahkan masalah, bukan menggantikan kemampuan manusia untuk berpikir dan mengambil keputusan. Karena itu, sebagai mahasiswa pascasarjana bidang IPS, mempelajari perkembangan konsep dasar IPS penting agar kita tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengimplementasikannya dalam pembelajaran dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Menurut saya, perkembangan konsep dasar IPS tidak terlepas dari kebutuhan manusia untuk memahami kehidupan sosial secara lebih terarah. IPS bukanlah ilmu yang benar-benar baru, karena konsepnya berkembang dari berbagai disiplin ilmu sosial seperti sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, politik, dan psikologi sosial. Dalam perkembangannya, IPS kemudian dikembangkan sebagai bidang pendidikan yang tidak hanya menyampaikan pengetahuan sosial, tetapi juga membantu peserta didik memahami berbagai persoalan yang terjadi di lingkungan sekitarnya.
Pada awalnya, pembelajaran IPS cenderung berorientasi pada penguasaan fakta, konsep, dan pengetahuan tentang kehidupan masyarakat. Namun, seiring perubahan zaman, konsep IPS berkembang menjadi lebih **interdisipliner, kontekstual, dan multidimensi**. IPS tidak hanya membahas apa yang terjadi dalam masyarakat, tetapi juga mengajak peserta didik menganalisis sebab-akibat suatu masalah, melihat berbagai sudut pandang, berpikir kritis, serta mencari solusi terhadap persoalan sosial. Perkembangan teknologi dan munculnya masyarakat digital juga membuat IPS semakin berkaitan dengan isu-isu seperti globalisasi, lingkungan, kewarganegaraan, keberagaman, perubahan sosial, dan literasi digital.
Menurut saya, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa IPS harus terus menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat tanpa kehilangan tujuan utamanya, yaitu membentuk manusia yang memiliki pengetahuan sosial, keterampilan berpikir, dan kepedulian terhadap lingkungan sosialnya. Di era teknologi dan Society 5.0, teknologi seharusnya menjadi alat yang membantu manusia belajar dan memecahkan masalah, bukan menggantikan kemampuan manusia untuk berpikir dan mengambil keputusan. Karena itu, sebagai mahasiswa pascasarjana bidang IPS, mempelajari perkembangan konsep dasar IPS penting agar kita tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengimplementasikannya dalam pembelajaran dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Asslamualikum Wr. Wb
Izin menjawab ibu
Nama : Dewi Rahayu
NPM : 2623021014
Menurut saya, IPS bukanlah bidang kajian yang baru, tetapi terus mengalami perkembangan mengikuti perubahan masyarakat dan kebutuhan pendidikan. Pada awalnya, IPS lebih menekankan pada penguasaan pengetahuan dari berbagai ilmu sosial seperti sejarah, geografi, ekonomi, dan sosiologi. Pada awalnya pembelajaran lebih banyak menekankan penguasaan pengetahuan dan fakta sosial.
Namun, dalam perkembangannya IPS tidak hanya bertujuan agar peserta didik mengetahui berbagai peristiwa dan fenomena sosial, tetapi juga mampu memahami permasalahan sosial, berpikir kritis, memecahkan masalah, mengambil keputusan, serta memiliki kesadaran dan tanggung jawab sebagai anggota masyarakat. Seiring waktu, IPS berkembang menjadi pembelajaran yang multidimensi.
Perkembangan IPS di Indonesia juga tidak terlepas dari perkembangan social studies di negara lain, khususnya Amerika Serikat. Di Indonesia, gagasan mengenai IPS mulai berkembang dalam wacana akademik dan kemudian masuk ke dalam sistem kurikulum sekolah. Salah satu tonggak pentingnya munculnya Ilmu Pengetahuan Sosial atas gagasan Prof. Nu'man Somantri pada awal 1960-an, lalu mulai dikenal di Indonesia dan dipopulerkan pada 1970-an. Pada perkembangan berikutnya, IPS semakin mendapatkan tempat dalam kurikulum sekolah, terutama melalui Kurikulum 1975.
Di era sekarang, menurut saya konsep dasar IPS semakin penting karena kehidupan masyarakat juga semakin kompleks. Perkembangan teknologi digital, globalisasi, perubahan sosial, dan derasnya arus informasi membuat peserta didik tidak cukup hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga harus mampu memilah informasi, melihat suatu persoalan dari berbagai perspektif, dan menghubungkannya dengan kondisi nyata di masyarakat. Oleh karena itu, IPS perlu terus berkembang mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan tujuan utamanya, yaitu membantu peserta didik memahami kehidupan sosial dan menjadi warga negara yang mampu berkontribusi secara positif.
Izin menjawab ibu
Nama : Dewi Rahayu
NPM : 2623021014
Menurut saya, IPS bukanlah bidang kajian yang baru, tetapi terus mengalami perkembangan mengikuti perubahan masyarakat dan kebutuhan pendidikan. Pada awalnya, IPS lebih menekankan pada penguasaan pengetahuan dari berbagai ilmu sosial seperti sejarah, geografi, ekonomi, dan sosiologi. Pada awalnya pembelajaran lebih banyak menekankan penguasaan pengetahuan dan fakta sosial.
Namun, dalam perkembangannya IPS tidak hanya bertujuan agar peserta didik mengetahui berbagai peristiwa dan fenomena sosial, tetapi juga mampu memahami permasalahan sosial, berpikir kritis, memecahkan masalah, mengambil keputusan, serta memiliki kesadaran dan tanggung jawab sebagai anggota masyarakat. Seiring waktu, IPS berkembang menjadi pembelajaran yang multidimensi.
Perkembangan IPS di Indonesia juga tidak terlepas dari perkembangan social studies di negara lain, khususnya Amerika Serikat. Di Indonesia, gagasan mengenai IPS mulai berkembang dalam wacana akademik dan kemudian masuk ke dalam sistem kurikulum sekolah. Salah satu tonggak pentingnya munculnya Ilmu Pengetahuan Sosial atas gagasan Prof. Nu'man Somantri pada awal 1960-an, lalu mulai dikenal di Indonesia dan dipopulerkan pada 1970-an. Pada perkembangan berikutnya, IPS semakin mendapatkan tempat dalam kurikulum sekolah, terutama melalui Kurikulum 1975.
Di era sekarang, menurut saya konsep dasar IPS semakin penting karena kehidupan masyarakat juga semakin kompleks. Perkembangan teknologi digital, globalisasi, perubahan sosial, dan derasnya arus informasi membuat peserta didik tidak cukup hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga harus mampu memilah informasi, melihat suatu persoalan dari berbagai perspektif, dan menghubungkannya dengan kondisi nyata di masyarakat. Oleh karena itu, IPS perlu terus berkembang mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan tujuan utamanya, yaitu membantu peserta didik memahami kehidupan sosial dan menjadi warga negara yang mampu berkontribusi secara positif.
Assalamu'alaikum warrohmatullohi wabarokatuh
Selamat siang Ibu, Ijin perkenalkan diri :
Nama : Ucep Saifulloh
NPM : 2623031008
Mohon izin ibu, terima kasih atas pemantik diskusinya, Ibu. Izin saya sampaikan pemahaman awal saya tentang perkembangan konsep dasar IPS, sekaligus menjadi bahan diskusi lanjutan dengan rekan-rekan.
Dari apa yang telah saya pelajari, IPS itu ternyata bukan pelajaran yang muncul begitu saja, tetapi punya perjalanan panjang. Awalnya IPS diadopsi dari konsep social studies di Amerika yang tujuannya membentuk warga negara yang baik, lalu masuk ke Indonesia dan mulai diperkenalkan secara resmi lewat Kurikulum 1975 dengan menggabungkan pelajaran sejarah, geografi, dan ekonomi yang sebelumnya berdiri sendiri-sendiri.
Menurut saya, inti dari perkembangan konsep dasar IPS itu bergerak dari yang sifatnya sekadar "menggabungkan" beberapa mata pelajaran, menjadi benar-benar "meleburkan" (fusi) berbagai ilmu sosial menjadi satu kesatuan yang utuh dan disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik, bukan sekadar kebutuhan keilmuan semata. Jadi IPS itu sifatnya memang lebih ke arah pendidikan (pedagogis), bukan murni ilmu sosial seperti sosiologi atau ekonomi yang berdiri sendiri.
Saya juga memahami bahwa IPS tidak hanya soal pengetahuan atau hafalan konsep, tetapi juga membentuk keterampilan berpikir, sikap peduli terhadap masalah sosial, sampai pada kemampuan untuk benar-benar bertindak dan berkontribusi di masyarakat. Artinya, tujuan akhir IPS bukan hanya membuat siswa "tahu", tetapi membuat mereka "peduli" dan "mampu berbuat sesuatu" untuk lingkungan sosialnya. Dan yang menarik, konsep IPS ini terus berkembang mengikuti zaman. Kalau dulu fokusnya pada isu kewarganegaraan dalam skala nasional, sekarang sudah meluas ke isu-isu global, literasi digital, lingkungan, dan keberagaman budaya. Ini membuat saya sadar bahwa mempelajari IPS di jenjang S2 ini bukan sekadar mengulang apa yang pernah dipelajari di sekolah dulu, tetapi harus dilihat secara lebih akademis dan kritis, karena nantinya sayalah yang akan merancang dan mengembangkan pembelajaran IPS itu sendiri di lapangan.
Selamat siang Ibu, Ijin perkenalkan diri :
Nama : Ucep Saifulloh
NPM : 2623031008
Mohon izin ibu, terima kasih atas pemantik diskusinya, Ibu. Izin saya sampaikan pemahaman awal saya tentang perkembangan konsep dasar IPS, sekaligus menjadi bahan diskusi lanjutan dengan rekan-rekan.
Dari apa yang telah saya pelajari, IPS itu ternyata bukan pelajaran yang muncul begitu saja, tetapi punya perjalanan panjang. Awalnya IPS diadopsi dari konsep social studies di Amerika yang tujuannya membentuk warga negara yang baik, lalu masuk ke Indonesia dan mulai diperkenalkan secara resmi lewat Kurikulum 1975 dengan menggabungkan pelajaran sejarah, geografi, dan ekonomi yang sebelumnya berdiri sendiri-sendiri.
Menurut saya, inti dari perkembangan konsep dasar IPS itu bergerak dari yang sifatnya sekadar "menggabungkan" beberapa mata pelajaran, menjadi benar-benar "meleburkan" (fusi) berbagai ilmu sosial menjadi satu kesatuan yang utuh dan disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik, bukan sekadar kebutuhan keilmuan semata. Jadi IPS itu sifatnya memang lebih ke arah pendidikan (pedagogis), bukan murni ilmu sosial seperti sosiologi atau ekonomi yang berdiri sendiri.
Saya juga memahami bahwa IPS tidak hanya soal pengetahuan atau hafalan konsep, tetapi juga membentuk keterampilan berpikir, sikap peduli terhadap masalah sosial, sampai pada kemampuan untuk benar-benar bertindak dan berkontribusi di masyarakat. Artinya, tujuan akhir IPS bukan hanya membuat siswa "tahu", tetapi membuat mereka "peduli" dan "mampu berbuat sesuatu" untuk lingkungan sosialnya. Dan yang menarik, konsep IPS ini terus berkembang mengikuti zaman. Kalau dulu fokusnya pada isu kewarganegaraan dalam skala nasional, sekarang sudah meluas ke isu-isu global, literasi digital, lingkungan, dan keberagaman budaya. Ini membuat saya sadar bahwa mempelajari IPS di jenjang S2 ini bukan sekadar mengulang apa yang pernah dipelajari di sekolah dulu, tetapi harus dilihat secara lebih akademis dan kritis, karena nantinya sayalah yang akan merancang dan mengembangkan pembelajaran IPS itu sendiri di lapangan.
Izin Bu, menurut saya IPS adalah ilmu pengetahuan sosial yang berkembang dan mulai populer sekitar tahun 1968 dikenalkan oleh Prof. Man Soemantri dari Social Studies yang ada di Amerika. Menjadi IPS, seiring perkembangan teknologi pembelajaran ilmu sosial di tingkat dasar, menengah hingga perguruan tinggi pun ikut menyesuaikan. Paradigma Ilmu sosial saat ini tidak terpisahkan dari ilmu lain seperti ilmu alam misalnya, di SD saja saat ini ada mata pelajaran IPAS (Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial)
Dalam penilaian IPS di sekolah, saat kebijakan pendidikan berubah-ubah setiap kali ganti Menteri, kebijakan seringkali memunculkan pro dan kontra seperti sistem penjurusan yang hilang di SMA. Tuntutan kurikulum di Indonesia masih memberikan keluasan mata pelajaran yang diujikan sebagai penentu kelulusan atau kenaikan kelas masih dipertahankan. Murid didorong menguasai semua mata pelajaran. Tidak mudah memang merubah kebijakan yang sudah lama berjalan, karena aspek pendidikan masih berkaitan dengan aspek lain (kebijakan politik maupun ekonomi di Indonesia) sehingga kemajuan pendidikan membutuhkan dorongan di berbagai aspek lain agar selaras. Sebagaimana ilmu IPS dengan ilmu yang lain, saling melengkapi.
Dalam penilaian IPS di sekolah, saat kebijakan pendidikan berubah-ubah setiap kali ganti Menteri, kebijakan seringkali memunculkan pro dan kontra seperti sistem penjurusan yang hilang di SMA. Tuntutan kurikulum di Indonesia masih memberikan keluasan mata pelajaran yang diujikan sebagai penentu kelulusan atau kenaikan kelas masih dipertahankan. Murid didorong menguasai semua mata pelajaran. Tidak mudah memang merubah kebijakan yang sudah lama berjalan, karena aspek pendidikan masih berkaitan dengan aspek lain (kebijakan politik maupun ekonomi di Indonesia) sehingga kemajuan pendidikan membutuhkan dorongan di berbagai aspek lain agar selaras. Sebagaimana ilmu IPS dengan ilmu yang lain, saling melengkapi.
Menurut pemahaman saya, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) itu bukanlah suatu bidang kajian yang benar-benar baru, melainkan berkembang dari kebutuhan untuk memahami kehidupan manusia dan masyarakat secara lebih terpadu. IPS memiliki karakter multidisipliner karena memanfaatkan berbagai konsep dan metode dari ilmu-ilmu sosial, seperti sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, politik, dan ilmu sosial lainnya. Perkembangan konsep dasar IPS pada awalnya sangat berkaitan dengan pendidikan sosial di sekolah. IPS dikembangkan sebagai suatu bidang pendidikan yang menyederhanakan dan mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu sosial agar sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik. Dengan demikian, IPS tidak sekadar memindahkan pengetahuan dari disiplin ilmu sosial ke dalam pembelajaran, tetapi mengorganisasikannya menjadi pengetahuan yang bermakna untuk memahami berbagai persoalan kehidupan masyarakat. Dalam perkembangannya, konsep IPS mengalami perubahan dari pendekatan yang cenderung berorientasi pada penguasaan pengetahuan menuju pendekatan yang lebih interdisipliner, kontekstual, kritis, dan berorientasi pada pemecahan masalah sosial. Peserta didik tidak hanya diharapkan mengetahui fakta sejarah, kondisi geografis, aktivitas ekonomi, atau struktur sosial, tetapi juga mampu menghubungkan berbagai aspek tersebut untuk memahami fenomena sosial secara utuh.
Di Indonesia, perkembangan IPS juga tidak dapat dilepaskan dari perkembangan kurikulum pendidikan. IPS semakin diarahkan untuk membentuk peserta didik yang memiliki pengetahuan sosial, keterampilan berpikir, kemampuan memecahkan masalah, serta sikap dan nilai yang diperlukan untuk hidup sebagai anggota masyarakat. Oleh sebab itu, IPS memiliki fungsi penting dalam membangun kesadaran sosial, tanggung jawab, kemampuan bekerja sama, serta kemampuan mengambil keputusan secara rasional.
Pada era digital dan perkembangan teknologi saat ini, konsep dasar IPS menjadi semakin luas dan dinamis. Berbagai fenomena seperti globalisasi, perubahan sosial, migrasi, ketimpangan ekonomi, perubahan lingkungan, perkembangan media sosial, transformasi digital, hingga munculnya kecerdasan buatan (AI) merupakan persoalan yang dapat dikaji melalui perspektif IPS. Hal ini menunjukkan bahwa IPS harus terus berkembang mengikuti perubahan masyarakat, tetapi tetap mempertahankan tujuan utamanya, yaitu membantu manusia memahami dirinya, masyarakat, lingkungan, dan berbagai hubungan sosial yang terjadi di dalamnya.
Menurut saya, perkembangan konsep dasar IPS pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai apa yang diketahui manusia tentang masyarakat, tetapi juga mengenai bagaimana pengetahuan tersebut digunakan untuk menghadapi persoalan kehidupan nyata. Karena itu, pembelajaran IPS perlu mendorong kemampuan berpikir kritis, literasi informasi, literasi digital, empati sosial, kolaborasi, dan kemampuan mengambil keputusan yang bertanggung jawab. Dengan demikian, saya memandang IPS sebagai bidang kajian yang terus berkembang secara multidimensi dan relevan dengan perubahan zaman. Teknologi dapat menjadi alat untuk memperluas sumber belajar dan meningkatkan kualitas pembelajaran, tetapi manusia tetap menjadi aktor utama yang menentukan bagaimana teknologi tersebut digunakan. Dalam konteks ini, mahasiswa pascasarjana memiliki tanggung jawab untuk tidak hanya memahami teori IPS, tetapi juga mampu mengimplementasikan pengetahuan tersebut dalam kehidupan masyarakat dan memberikan kontribusi terhadap penyelesaian berbagai persoalan sosial.
- National Council for the Social Studies (NCSS). National Curriculum Standards for Social Studies: A Framework for Teaching, Learning, and Assessment.
- Sapriya. Pendidikan IPS: Konsep dan Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
- Somantri, M. N. Menggagas Pembaharuan Pendidikan IPS. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Di Indonesia, perkembangan IPS juga tidak dapat dilepaskan dari perkembangan kurikulum pendidikan. IPS semakin diarahkan untuk membentuk peserta didik yang memiliki pengetahuan sosial, keterampilan berpikir, kemampuan memecahkan masalah, serta sikap dan nilai yang diperlukan untuk hidup sebagai anggota masyarakat. Oleh sebab itu, IPS memiliki fungsi penting dalam membangun kesadaran sosial, tanggung jawab, kemampuan bekerja sama, serta kemampuan mengambil keputusan secara rasional.
Pada era digital dan perkembangan teknologi saat ini, konsep dasar IPS menjadi semakin luas dan dinamis. Berbagai fenomena seperti globalisasi, perubahan sosial, migrasi, ketimpangan ekonomi, perubahan lingkungan, perkembangan media sosial, transformasi digital, hingga munculnya kecerdasan buatan (AI) merupakan persoalan yang dapat dikaji melalui perspektif IPS. Hal ini menunjukkan bahwa IPS harus terus berkembang mengikuti perubahan masyarakat, tetapi tetap mempertahankan tujuan utamanya, yaitu membantu manusia memahami dirinya, masyarakat, lingkungan, dan berbagai hubungan sosial yang terjadi di dalamnya.
Menurut saya, perkembangan konsep dasar IPS pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai apa yang diketahui manusia tentang masyarakat, tetapi juga mengenai bagaimana pengetahuan tersebut digunakan untuk menghadapi persoalan kehidupan nyata. Karena itu, pembelajaran IPS perlu mendorong kemampuan berpikir kritis, literasi informasi, literasi digital, empati sosial, kolaborasi, dan kemampuan mengambil keputusan yang bertanggung jawab. Dengan demikian, saya memandang IPS sebagai bidang kajian yang terus berkembang secara multidimensi dan relevan dengan perubahan zaman. Teknologi dapat menjadi alat untuk memperluas sumber belajar dan meningkatkan kualitas pembelajaran, tetapi manusia tetap menjadi aktor utama yang menentukan bagaimana teknologi tersebut digunakan. Dalam konteks ini, mahasiswa pascasarjana memiliki tanggung jawab untuk tidak hanya memahami teori IPS, tetapi juga mampu mengimplementasikan pengetahuan tersebut dalam kehidupan masyarakat dan memberikan kontribusi terhadap penyelesaian berbagai persoalan sosial.
- National Council for the Social Studies (NCSS). National Curriculum Standards for Social Studies: A Framework for Teaching, Learning, and Assessment.
- Sapriya. Pendidikan IPS: Konsep dan Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
- Somantri, M. N. Menggagas Pembaharuan Pendidikan IPS. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, ibu.
Nama: Dika Yumanda
NPM: 2623031015
Mohon izin memberikan pendapat mengenai perkembangan konsep dasar IPS,
Pertama, kita akan membahas mengenai perkembangan Pendidikan IPS. Tuntutan masyarakat dan bangsa terhadap pendidikan di dunia akan senantiasa mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Hal ini membawa dampak terhadap eksistensi kurikulum di setiap negara yang akan mengalami perubahan sejalan dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat serta bangsanya. Bagi bangsa Indonesia, keberadaan IPS sebagai mata pelajaran di sekolah sudah tidak terbantahkan kelahirannya karena adanya kebutuhan masyarakat yang tengah berkembang menuju masyarakat maju yang beradab, adil, makmur, dan sejahtera. Arah pengembangan pendidikan ini sejalan dengan cita-cita dan tujuan nasional Negara Kesatuan Republik Indonesia.Secara historis, kelahiran IPS sebagai mata pelajaran di Indonesia erat kaitannya dengan perkembangan Social Studies di negara lain yang telah maju. Sejumlah teori dan gagasan Social Studies telah banyak memengaruhi perkembangan mata pelajaran IPS sebagai bagian dari sistem kurikulum di Indonesia. Oleh karena itu, untuk memahami IPS di Indonesia, perlu memahami perkembangan Social Studies di negara lain yang telah lebih dahulu berkembang.
Perkembangan Social Studies yang di Indonesia dikenal dengan istilah Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (PIPS) dapat ditelusuri dari sebuah karya Saxe (1991) yang berjudul Social Studies in Schools: A History of The Early Years. Menurut Saxe (1991:21-22), pada awal pertumbuhannya, Social Studies dapat diidentifikasi dari the National Herbart Society papers of 1896-1897, yakni sebagai "delimiting the social sciences for pedagogical use" (upaya membatasi ilmu-ilmu sosial untuk penggunaan secara pedagogik). Social studies sebagai satu kesatuan sistem dalam kurikulum pendidikan sangat erat kaitannya dengan disiplin ilmu Sejarah, Geografi, dan Civics. Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, social studies telah dijadikan sebagai istilah resmi dalam kurikulum pendidikan, khususnya di Amerika Serikat.
Perkembangan Social Studies di dunia khususnya di Amerika Serikat telah banyak memengaruhi pemikiran Pendidikan IPS (PIPS) di Indonesia. Namun, untuk menelusuri perkembangan pemikiran atau konsep PIPS di Indonesia secara historis dirasakan sulit. Hal Ini diakui oleh Winataputra (2001) karena dua alasan.Pertama, di Indonesia belum ada lembaga profesional bidang PIPS setua dan sekuat NCSS atau SSEC. Lembaga serupa yang dimiliki Indonesia, yakni HISPIPSI (Himpunan Sarjana Pendidikan IPS Indonesia yang sekarang telah berubah nama menjadi HISPISI/Himpunan Sarjana Pendidikan Ilmu Sosial Indonesia) usianya masih sangat muda dan produktivitas akademisnya masih belum optimal.Kedua, perkembangan kurikulum dan pembelajaran IPS sebagai ontologi ilmu pendidikan (disiplin) IPS sampai saat ini sangat tergantung pada pemikiran individual dan atau kelompok pakar yang ditugasi secara insidental untuk mengembangkan perangkat kurikulum IPS melalui Pusat Pengembangan Kurikulum dan Sarana Pendidikan Balitbang Dikbud (Puskur). Selain itu, tradisi yang dikembangkan oleh komunitas akademik khususnya melalui HISPISI belum dapat menembus/memengaruhi kebijakan pemerintah dalam pengembangan kurikulum sebagaimana yang telah dilakukan oleh NCSS dan SSEC di Amerika Serikat.
Kedua, berdasarkan sejarah perkembangan IPS tersebut, maka IPS telah dimasukkan ke dalam kurikulum hampir setiap negara termasuk pula Indonesia. Sebagai disiplin ilmu yang dinamis, IPS terus berkembang, termasuk pula cakupan konten materinya sesuai perkembangan zaman dan perkembangan manusia itu sendiri.
Nama: Dika Yumanda
NPM: 2623031015
Mohon izin memberikan pendapat mengenai perkembangan konsep dasar IPS,
Pertama, kita akan membahas mengenai perkembangan Pendidikan IPS. Tuntutan masyarakat dan bangsa terhadap pendidikan di dunia akan senantiasa mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Hal ini membawa dampak terhadap eksistensi kurikulum di setiap negara yang akan mengalami perubahan sejalan dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat serta bangsanya. Bagi bangsa Indonesia, keberadaan IPS sebagai mata pelajaran di sekolah sudah tidak terbantahkan kelahirannya karena adanya kebutuhan masyarakat yang tengah berkembang menuju masyarakat maju yang beradab, adil, makmur, dan sejahtera. Arah pengembangan pendidikan ini sejalan dengan cita-cita dan tujuan nasional Negara Kesatuan Republik Indonesia.Secara historis, kelahiran IPS sebagai mata pelajaran di Indonesia erat kaitannya dengan perkembangan Social Studies di negara lain yang telah maju. Sejumlah teori dan gagasan Social Studies telah banyak memengaruhi perkembangan mata pelajaran IPS sebagai bagian dari sistem kurikulum di Indonesia. Oleh karena itu, untuk memahami IPS di Indonesia, perlu memahami perkembangan Social Studies di negara lain yang telah lebih dahulu berkembang.
Perkembangan Social Studies yang di Indonesia dikenal dengan istilah Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (PIPS) dapat ditelusuri dari sebuah karya Saxe (1991) yang berjudul Social Studies in Schools: A History of The Early Years. Menurut Saxe (1991:21-22), pada awal pertumbuhannya, Social Studies dapat diidentifikasi dari the National Herbart Society papers of 1896-1897, yakni sebagai "delimiting the social sciences for pedagogical use" (upaya membatasi ilmu-ilmu sosial untuk penggunaan secara pedagogik). Social studies sebagai satu kesatuan sistem dalam kurikulum pendidikan sangat erat kaitannya dengan disiplin ilmu Sejarah, Geografi, dan Civics. Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, social studies telah dijadikan sebagai istilah resmi dalam kurikulum pendidikan, khususnya di Amerika Serikat.
Perkembangan Social Studies di dunia khususnya di Amerika Serikat telah banyak memengaruhi pemikiran Pendidikan IPS (PIPS) di Indonesia. Namun, untuk menelusuri perkembangan pemikiran atau konsep PIPS di Indonesia secara historis dirasakan sulit. Hal Ini diakui oleh Winataputra (2001) karena dua alasan.Pertama, di Indonesia belum ada lembaga profesional bidang PIPS setua dan sekuat NCSS atau SSEC. Lembaga serupa yang dimiliki Indonesia, yakni HISPIPSI (Himpunan Sarjana Pendidikan IPS Indonesia yang sekarang telah berubah nama menjadi HISPISI/Himpunan Sarjana Pendidikan Ilmu Sosial Indonesia) usianya masih sangat muda dan produktivitas akademisnya masih belum optimal.Kedua, perkembangan kurikulum dan pembelajaran IPS sebagai ontologi ilmu pendidikan (disiplin) IPS sampai saat ini sangat tergantung pada pemikiran individual dan atau kelompok pakar yang ditugasi secara insidental untuk mengembangkan perangkat kurikulum IPS melalui Pusat Pengembangan Kurikulum dan Sarana Pendidikan Balitbang Dikbud (Puskur). Selain itu, tradisi yang dikembangkan oleh komunitas akademik khususnya melalui HISPISI belum dapat menembus/memengaruhi kebijakan pemerintah dalam pengembangan kurikulum sebagaimana yang telah dilakukan oleh NCSS dan SSEC di Amerika Serikat.
Kedua, berdasarkan sejarah perkembangan IPS tersebut, maka IPS telah dimasukkan ke dalam kurikulum hampir setiap negara termasuk pula Indonesia. Sebagai disiplin ilmu yang dinamis, IPS terus berkembang, termasuk pula cakupan konten materinya sesuai perkembangan zaman dan perkembangan manusia itu sendiri.
Izin menjawab ibu
Saya ina yaturrohmah
Perkembangan konsep dasar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) menunjukkan bahwa IPS bukanlah suatu konsep yang benar-benar baru, melainkan bidang kajian yang berkembang dari berbagai disiplin ilmu sosial seperti sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, dan ilmu politik. Sejak awal kemunculannya, IPS memiliki tujuan utama untuk membantu peserta didik memahami kehidupan manusia dalam masyarakat serta membentuk kemampuan sebagai warga negara yang memiliki pengetahuan, sikap, dan keterampilan sosial. Pada tahap awal, pembelajaran IPS lebih banyak berfokus pada penyampaian fakta-fakta sosial, seperti peristiwa sejarah, kondisi geografis, sistem pemerintahan, dan kehidupan masyarakat. Namun, seiring perkembangan zaman, konsep IPS mengalami perubahan menjadi lebih luas dan multidimensional. IPS tidak lagi hanya menekankan pada penguasaan informasi, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis, menganalisis permasalahan sosial, memahami hubungan sebab akibat suatu fenomena, serta mencari solusi terhadap berbagai persoalan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat.
Perkembangan konsep dasar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) menunjukkan bahwa IPS bukanlah suatu konsep yang benar-benar baru, melainkan bidang kajian yang berkembang dari berbagai disiplin ilmu sosial seperti sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, dan ilmu politik. Sejak awal kemunculannya, IPS memiliki tujuan utama untuk membantu peserta didik memahami kehidupan manusia dalam masyarakat serta membentuk kemampuan sebagai warga negara yang memiliki pengetahuan, sikap, dan keterampilan sosial. Pada tahap awal, pembelajaran IPS lebih banyak berfokus pada penyampaian fakta-fakta sosial, seperti peristiwa sejarah, kondisi geografis, sistem pemerintahan, dan kehidupan masyarakat. Namun, seiring perkembangan zaman, konsep IPS mengalami perubahan menjadi lebih luas dan multidimensional. IPS tidak lagi hanya menekankan pada penguasaan informasi, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis, menganalisis permasalahan sosial, memahami hubungan sebab akibat suatu fenomena, serta mencari solusi terhadap berbagai persoalan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat.
Selamat sore Ibu, izin memperkenalkan diri
Nama : Cica Gafu Arta
Npm : 2623031009
Menurut saya, perkembangan konsep dasar IPS tidak dapat dipisahkan dari perkembangan ilmu-ilmu sosial dan cara manusia memahami kehidupan masyarakat. IPS pada dasarnya bukanlah sesuatu yang baru, karena kajiannya telah berkembang dari berbagai disiplin seperti sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, dan ilmu sosial lainnya. Perkembangannya menunjukkan bahwa IPS tidak hanya berorientasi pada penguasaan fakta, tetapi semakin diarahkan untuk memahami realitas sosial secara lebih kritis, kontekstual, dan multidimensi.
Jika dilihat dari perkembangan pemikiran filsafat yang mendasarinya, konsep IPS dapat dikaitkan dengan berbagai pendekatan, mulai dari empirisme yang menekankan pengalaman dan observasi, rasionalisme yang mengutamakan kemampuan berpikir logis, hingga kritisisme yang berusaha menggabungkan pengalaman dengan kemampuan berpikir. Selanjutnya, pragmatisme dan progresivisme semakin menekankan pengalaman nyata, pemecahan masalah, aktivitas peserta didik, serta keterkaitan pembelajaran dengan kehidupan sosial. Dalam Pendidikan IPS, hal tersebut terlihat dari pembelajaran yang tidak hanya meminta peserta didik menghafal konsep, tetapi juga mengamati lingkungan, menganalisis permasalahan sosial, berdiskusi, melakukan penelitian sederhana, dan mencari solusi terhadap persoalan di sekitarnya.
Menurut saya, perkembangan tersebut membuat IPS semakin relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini. IPS perlu terus berkembang mengikuti perubahan sosial, budaya, ekonomi, politik, dan teknologi. Oleh karena itu, mahasiswa maupun peserta didik tidak cukup hanya menjadi penerima informasi, tetapi harus mampu membaca realitas sosial, berpikir kritis, menggunakan data secara bijak, dan memberikan kontribusi bagi masyarakat. Dengan demikian, IPS bukan sekadar kumpulan materi tentang masyarakat, tetapi menjadi sarana untuk memahami kehidupan sekaligus mempersiapkan manusia agar mampu berperan secara bertanggung jawab di dalamnya.
Nama : Cica Gafu Arta
Npm : 2623031009
Menurut saya, perkembangan konsep dasar IPS tidak dapat dipisahkan dari perkembangan ilmu-ilmu sosial dan cara manusia memahami kehidupan masyarakat. IPS pada dasarnya bukanlah sesuatu yang baru, karena kajiannya telah berkembang dari berbagai disiplin seperti sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, dan ilmu sosial lainnya. Perkembangannya menunjukkan bahwa IPS tidak hanya berorientasi pada penguasaan fakta, tetapi semakin diarahkan untuk memahami realitas sosial secara lebih kritis, kontekstual, dan multidimensi.
Jika dilihat dari perkembangan pemikiran filsafat yang mendasarinya, konsep IPS dapat dikaitkan dengan berbagai pendekatan, mulai dari empirisme yang menekankan pengalaman dan observasi, rasionalisme yang mengutamakan kemampuan berpikir logis, hingga kritisisme yang berusaha menggabungkan pengalaman dengan kemampuan berpikir. Selanjutnya, pragmatisme dan progresivisme semakin menekankan pengalaman nyata, pemecahan masalah, aktivitas peserta didik, serta keterkaitan pembelajaran dengan kehidupan sosial. Dalam Pendidikan IPS, hal tersebut terlihat dari pembelajaran yang tidak hanya meminta peserta didik menghafal konsep, tetapi juga mengamati lingkungan, menganalisis permasalahan sosial, berdiskusi, melakukan penelitian sederhana, dan mencari solusi terhadap persoalan di sekitarnya.
Menurut saya, perkembangan tersebut membuat IPS semakin relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini. IPS perlu terus berkembang mengikuti perubahan sosial, budaya, ekonomi, politik, dan teknologi. Oleh karena itu, mahasiswa maupun peserta didik tidak cukup hanya menjadi penerima informasi, tetapi harus mampu membaca realitas sosial, berpikir kritis, menggunakan data secara bijak, dan memberikan kontribusi bagi masyarakat. Dengan demikian, IPS bukan sekadar kumpulan materi tentang masyarakat, tetapi menjadi sarana untuk memahami kehidupan sekaligus mempersiapkan manusia agar mampu berperan secara bertanggung jawab di dalamnya.
Nama : Rindi Adya Molis
NPM : 2623031017
Dalam konsep dasar IPS berkembang dari ilmu hafalan tentang sejarah/geografi menjadi sarana membentuk karakter dan kecakapan hidup. Dalam pembelajaran IPS, mengajarkan kita cara memahami manusia, berinteraksi dengan lingkungan serta membuat keputusan yang bijak sebagai bagian dari masyarakat. Perkembangan konsep dasar secara multidimensi memiliki empat sudut pandang, yaitu Sejarah (historis), Keilmuan (epistomologis), Pendidikan (pedagogis), dan Tujuan kemasyarakatan (sosiologis).
• Dimensi Historis : IPS berawal dari kebutuhan untuk menyelesaikan masalah secara nyata di masyarakat
• Dimensi Epistomologis : IPS bukan satu disiplin ilmu tunggal seperti matematika atau fisika, melainkan pendekatan terpadu
• Dimensi Pedagogis : Cara dalam mengajar dan tujuan pembelajaran IPS mengalami pergeseran yang cukup pesat. Pada era digital dan kurikulum modern, IPS berfokus pada literasi informasi, kemampuan menyaring hoaks, dan memahami keberagaman global
• Dimensi Sosiologis : perkembangan IPS menyesuaikan dengan tantangan zaman yang dihadapi masyarakat.
Perkembangan konsep dasar IPS :
1. Tahun 1960-an : para ahli mulai mendiskusikan untuk menyatukan pelajaran-pelajaran tersebut supaya dapat memahami masalah masyarakat secara utuh.
Rujukan: Soemantri, N. (2001). Menggagas Pembaharuan Pendidikan IPS . Bandung : Remaja Rosdakarya. Dalam karyanya menjelaskan awal mula sejarah pemikiran penggabungan disiplin ilmu sosial di Indonesia
2. Tahun 1972-1973 : istilah IPS resmi digunakan secara resmi pertama kali pada uji coba Kurikulum Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) di beberapa perguruan tinggi.
Rujukan : Proyek Pembinaan Pendidikan Guru (P3G) Departermen Pendidikan dan Kebudayaan (1975) dalam dokumen historis penerapan kurikulum PPSP
3. Tahun 1975 dan 1984 : IPS masuk secara resmi dalam kurikulum nasional jenjang SD, SMP, dan SMA. Jenjang SD dan SMP, IPS diajarkan secara terpadu yang merupakan gabungan dari sejarah, ekonomi, dan geografi. Pada tingkat SMA, IPS dibagi menjadi mata pelajaran terpisah (sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi). Tahun 1984, disempurnakan pada keaktifan siswa (CBSA/ Cara Belajar Siswa Aktif).
Rujukan : - Departermen Pendidikan dan Kebudayaan (1975 dan 1984). Kurikulum Sekolah Dasar dan Menengah. Jakarta: Depdikbud.
4. Tahun 1994 dan 2006 (KTSP) : fokus IPS bergeser agar menjadi lebih relevan dengan kehidupan sehari-hari. Dalam kurikulum ini juga melatih siswa untuk peka terhadap masalah sosial.
Rujukan : Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). (2006). Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah : Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah : Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar IPS. Jakarta: BSNP
5. Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka : Pada kurikulum 2013 untuk jenjang SMP, IPS ditegaskan sebagai mata pelajaran terpadu. Mempelajari sejarah, ekonomi, geografi tidak terpisah, melalinkan disatukan dalam satu tema dalam kehidupan nyata.
Kurikulum Merdeka : pembelajaran IPS berfokus pada pembentukan profil pelajar pancasila. Murid dilatih untuk bernalar kritis, melakukan riset secara sederhana, dan memahami fenomena sosial yang terjadi secara fleksibel.
Rujukan : Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). (2022). Panduan Pembelajaran dan Asesmen IPS dalam Kurikulum Merdeka. Jakarta: Kemendikbudristek.
NPM : 2623031017
Dalam konsep dasar IPS berkembang dari ilmu hafalan tentang sejarah/geografi menjadi sarana membentuk karakter dan kecakapan hidup. Dalam pembelajaran IPS, mengajarkan kita cara memahami manusia, berinteraksi dengan lingkungan serta membuat keputusan yang bijak sebagai bagian dari masyarakat. Perkembangan konsep dasar secara multidimensi memiliki empat sudut pandang, yaitu Sejarah (historis), Keilmuan (epistomologis), Pendidikan (pedagogis), dan Tujuan kemasyarakatan (sosiologis).
• Dimensi Historis : IPS berawal dari kebutuhan untuk menyelesaikan masalah secara nyata di masyarakat
• Dimensi Epistomologis : IPS bukan satu disiplin ilmu tunggal seperti matematika atau fisika, melainkan pendekatan terpadu
• Dimensi Pedagogis : Cara dalam mengajar dan tujuan pembelajaran IPS mengalami pergeseran yang cukup pesat. Pada era digital dan kurikulum modern, IPS berfokus pada literasi informasi, kemampuan menyaring hoaks, dan memahami keberagaman global
• Dimensi Sosiologis : perkembangan IPS menyesuaikan dengan tantangan zaman yang dihadapi masyarakat.
Perkembangan konsep dasar IPS :
1. Tahun 1960-an : para ahli mulai mendiskusikan untuk menyatukan pelajaran-pelajaran tersebut supaya dapat memahami masalah masyarakat secara utuh.
Rujukan: Soemantri, N. (2001). Menggagas Pembaharuan Pendidikan IPS . Bandung : Remaja Rosdakarya. Dalam karyanya menjelaskan awal mula sejarah pemikiran penggabungan disiplin ilmu sosial di Indonesia
2. Tahun 1972-1973 : istilah IPS resmi digunakan secara resmi pertama kali pada uji coba Kurikulum Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) di beberapa perguruan tinggi.
Rujukan : Proyek Pembinaan Pendidikan Guru (P3G) Departermen Pendidikan dan Kebudayaan (1975) dalam dokumen historis penerapan kurikulum PPSP
3. Tahun 1975 dan 1984 : IPS masuk secara resmi dalam kurikulum nasional jenjang SD, SMP, dan SMA. Jenjang SD dan SMP, IPS diajarkan secara terpadu yang merupakan gabungan dari sejarah, ekonomi, dan geografi. Pada tingkat SMA, IPS dibagi menjadi mata pelajaran terpisah (sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi). Tahun 1984, disempurnakan pada keaktifan siswa (CBSA/ Cara Belajar Siswa Aktif).
Rujukan : - Departermen Pendidikan dan Kebudayaan (1975 dan 1984). Kurikulum Sekolah Dasar dan Menengah. Jakarta: Depdikbud.
4. Tahun 1994 dan 2006 (KTSP) : fokus IPS bergeser agar menjadi lebih relevan dengan kehidupan sehari-hari. Dalam kurikulum ini juga melatih siswa untuk peka terhadap masalah sosial.
Rujukan : Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). (2006). Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah : Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah : Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar IPS. Jakarta: BSNP
5. Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka : Pada kurikulum 2013 untuk jenjang SMP, IPS ditegaskan sebagai mata pelajaran terpadu. Mempelajari sejarah, ekonomi, geografi tidak terpisah, melalinkan disatukan dalam satu tema dalam kehidupan nyata.
Kurikulum Merdeka : pembelajaran IPS berfokus pada pembentukan profil pelajar pancasila. Murid dilatih untuk bernalar kritis, melakukan riset secara sederhana, dan memahami fenomena sosial yang terjadi secara fleksibel.
Rujukan : Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). (2022). Panduan Pembelajaran dan Asesmen IPS dalam Kurikulum Merdeka. Jakarta: Kemendikbudristek.
Izin menjawab Bu, Nama saya Rejeki Charistias Siregar (2623031019). Terkait dengan perkembangan konsep dasar IPS, pemahaman saya sejauh ini adalah bahwa IPS (Social Studies) telah mengalami evolusi yang sangat dinamis dan multidimensi, baik secara global maupun dalam konteks historis pendidikan di Indonesia. Pada akar kemunculannya, gagasan IPS yang diadaptasi dari Amerika Serikat pada awalnya menitikberatkan pada penyederhanaan disiplin ilmu-ilmu sosial seperti sejarah, geografi, ekonomi, antropologi, dan sosiologi untuk tujuan pedagogis, sebagaimana yang pernah dikemukakan oleh Edgar Bruce Wesley (1937). Di Indonesia sendiri, sejak diintegrasikan secara formal pada Kurikulum 1975, konsep dasar IPS terus bertransformasi seiring dengan tuntutan zaman. Jika di masa lalu pembelajaran IPS kerap direduksi dan dipandang sebagai sekadar mata pelajaran hafalan fakta atau informasi sosial belaka, perkembangannya kini telah bergeser ke arah yang jauh lebih komprehensif.
Saat ini, konsep dasar IPS berkembang menjadi sebuah program pendidikan yang integratif dan interdisipliner dengan tujuan utama membentuk warga negara yang baik (good citizenship). Perkembangan konsep ini menuntut pergeseran paradigma dari transfer of knowledge menjadi upaya holistik untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis (critical thinking), kemampuan memecahkan masalah sosial (problem solving), kesadaran ekologis, hingga pembentukan karakter. Sifat multidimensi dari IPS masa kini memadukan kajian sosial dengan isu-isu kontemporer seperti literasi digital, hak asasi manusia, dan globalisasi.
Seperti yang ditekankan tekankan, secanggih apa pun teknologi, ia hanyalah alat. Perkembangan konsep IPS masa kini justru hadir sebagai penyeimbang agar kita tidak kehilangan empati, kepekaan sosial, dan kebijaksanaan yang menjadi esensi manusia agar tidak berubah menjadi "robot". Pendidikan IPS mengajarkan kita bagaimana menggunakan akal sehat untuk hidup berdampingan, memahami dinamika masyarakat, dan mengambil keputusan yang beretika di tengah masyarakat yang semakin kompleks.
Sebagai mahasiswa, saya menyadari bahwa mendalami fondasi filosofis dan konseptual IPS ini bukan sekadar kewajiban akademis, melainkan bekal utama untuk berkontribusi secara nyata. Pemahaman komprehensif ini menjadi fondasi bagi kita untuk mampu mengoptimalkan potensi diri, mendesain pembelajaran yang memanusiakan manusia, dan pada akhirnya, berusaha menjadi role model yang baik serta membawa kemanfaatan bagi lingkungan sosial di sekitar kita.
Saat ini, konsep dasar IPS berkembang menjadi sebuah program pendidikan yang integratif dan interdisipliner dengan tujuan utama membentuk warga negara yang baik (good citizenship). Perkembangan konsep ini menuntut pergeseran paradigma dari transfer of knowledge menjadi upaya holistik untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis (critical thinking), kemampuan memecahkan masalah sosial (problem solving), kesadaran ekologis, hingga pembentukan karakter. Sifat multidimensi dari IPS masa kini memadukan kajian sosial dengan isu-isu kontemporer seperti literasi digital, hak asasi manusia, dan globalisasi.
Seperti yang ditekankan tekankan, secanggih apa pun teknologi, ia hanyalah alat. Perkembangan konsep IPS masa kini justru hadir sebagai penyeimbang agar kita tidak kehilangan empati, kepekaan sosial, dan kebijaksanaan yang menjadi esensi manusia agar tidak berubah menjadi "robot". Pendidikan IPS mengajarkan kita bagaimana menggunakan akal sehat untuk hidup berdampingan, memahami dinamika masyarakat, dan mengambil keputusan yang beretika di tengah masyarakat yang semakin kompleks.
Sebagai mahasiswa, saya menyadari bahwa mendalami fondasi filosofis dan konseptual IPS ini bukan sekadar kewajiban akademis, melainkan bekal utama untuk berkontribusi secara nyata. Pemahaman komprehensif ini menjadi fondasi bagi kita untuk mampu mengoptimalkan potensi diri, mendesain pembelajaran yang memanusiakan manusia, dan pada akhirnya, berusaha menjadi role model yang baik serta membawa kemanfaatan bagi lingkungan sosial di sekitar kita.
Assalamuallaikum wr.wb
izin menanggapi ibu
Nama: rofi alwan yazid
NPM : 2623031020
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan hasil integrasi berbagai disiplin ilmu sosial seperti sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, dan politik. IPS berkembang untuk membekali peserta didik agar mampu memahami kehidupan masyarakat dan menghadapi perubahan sosial.
Pada awalnya, pembelajaran IPS lebih menekankan penguasaan pengetahuan dan fakta sosial. Namun, perkembangannya kini mencakup keterampilan berpikir kritis, pemecahan masalah, pengambilan keputusan, keterampilan sosial, serta pembentukan sikap dan nilai.
IPS saat ini bersifat multidimensi dan kontekstual dengan mengaitkan materi pada permasalahan nyata, seperti perubahan lingkungan, kemiskinan, ketimpangan sosial, teknologi, globalisasi, dan perubahan budaya. Peserta didik ditempatkan sebagai subjek yang aktif mengamati, menganalisis, berdiskusi, dan mencari solusi terhadap masalah sosial.
Di era digital dan kecerdasan buatan, IPS semakin penting untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, menilai kebenaran informasi, memahami kondisi sosial, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab. Dengan demikian, IPS tidak hanya membentuk kecerdasan akademik, tetapi juga kesadaran sosial dan kemampuan berkontribusi positif bagi masyarakat.
izin menanggapi ibu
Nama: rofi alwan yazid
NPM : 2623031020
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan hasil integrasi berbagai disiplin ilmu sosial seperti sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, dan politik. IPS berkembang untuk membekali peserta didik agar mampu memahami kehidupan masyarakat dan menghadapi perubahan sosial.
Pada awalnya, pembelajaran IPS lebih menekankan penguasaan pengetahuan dan fakta sosial. Namun, perkembangannya kini mencakup keterampilan berpikir kritis, pemecahan masalah, pengambilan keputusan, keterampilan sosial, serta pembentukan sikap dan nilai.
IPS saat ini bersifat multidimensi dan kontekstual dengan mengaitkan materi pada permasalahan nyata, seperti perubahan lingkungan, kemiskinan, ketimpangan sosial, teknologi, globalisasi, dan perubahan budaya. Peserta didik ditempatkan sebagai subjek yang aktif mengamati, menganalisis, berdiskusi, dan mencari solusi terhadap masalah sosial.
Di era digital dan kecerdasan buatan, IPS semakin penting untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, menilai kebenaran informasi, memahami kondisi sosial, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab. Dengan demikian, IPS tidak hanya membentuk kecerdasan akademik, tetapi juga kesadaran sosial dan kemampuan berkontribusi positif bagi masyarakat.