Nama : Lutfiatun Nisa
NPM : 2313053175
Kelas: 6/F
Izin menjawab pertanyaan diskusi pak,
1. Menurut saya, penggunaan komunikasi visual seperti kode warna atau simbol status tugas memang cukup membantu dalam mengurangi kebisingan di kelas PKR yang ramai, karena siswa tidak perlu terus-terusan memanggil guru hanya untuk hal-hal kecil. Tapi kalau terlalu bergantung pada sistem ini, ada risikonya juga, siswa bisa jadi malas untuk mengungkapkan kesulitannya secara langsung padahal komunikasi verbal itu penting untuk perkembangan berpikir mereka. Jadi menurut saya kode visual ini lebih baik dijadikan pelengkap saja, bukan satu-satunya cara berkomunikasi di kelas, dan guru tetap perlu membuka ruang dialog dengan siswa secara rutin.
2. Ini menurut saya jadi tantangan yang cukup nyata dalam PKR, karena wajar saja kalau siswa yang lebih muda merasa segan dan akhirnya hanya diam mengikuti apa kata kakak kelasnya. Salah satu cara yang bisa dilakukan guru adalah membagi peran secara spesifik sejak awal, misalnya ada bagian tugas yang memang hanya bisa dikerjakan oleh siswa junior sehingga mereka punya tanggung jawab yang jelas. Dengan begitu mereka tidak hanya jadi penonton, tapi benar-benar terlibat dan merasa kontribusinya dihargai dalam kelompok.
3. Menurut saya LKS yang baik dalam konteks PKR itu harus bisa "berbicara" sendiri kepada siswa, artinya instruksinya harus jelas dan tidak membingungkan bahkan tanpa penjelasan tambahan dari guru. Caranya bisa dengan memulai dari pertanyaan atau situasi yang dekat dengan kehidupan siswa dulu sebelum masuk ke inti tugas, lalu setiap langkah diberi pertanyaan kecil supaya siswa terbiasa berpikir sebelum lanjut. Kalau bisa tampilannya juga dibuat menarik dengan gambar atau variasi tulisan, karena itu lumayan membantu siswa tetap semangat mengerjakan meski guru sedang tidak ada di dekat mereka.
NPM : 2313053175
Kelas: 6/F
Izin menjawab pertanyaan diskusi pak,
1. Menurut saya, penggunaan komunikasi visual seperti kode warna atau simbol status tugas memang cukup membantu dalam mengurangi kebisingan di kelas PKR yang ramai, karena siswa tidak perlu terus-terusan memanggil guru hanya untuk hal-hal kecil. Tapi kalau terlalu bergantung pada sistem ini, ada risikonya juga, siswa bisa jadi malas untuk mengungkapkan kesulitannya secara langsung padahal komunikasi verbal itu penting untuk perkembangan berpikir mereka. Jadi menurut saya kode visual ini lebih baik dijadikan pelengkap saja, bukan satu-satunya cara berkomunikasi di kelas, dan guru tetap perlu membuka ruang dialog dengan siswa secara rutin.
2. Ini menurut saya jadi tantangan yang cukup nyata dalam PKR, karena wajar saja kalau siswa yang lebih muda merasa segan dan akhirnya hanya diam mengikuti apa kata kakak kelasnya. Salah satu cara yang bisa dilakukan guru adalah membagi peran secara spesifik sejak awal, misalnya ada bagian tugas yang memang hanya bisa dikerjakan oleh siswa junior sehingga mereka punya tanggung jawab yang jelas. Dengan begitu mereka tidak hanya jadi penonton, tapi benar-benar terlibat dan merasa kontribusinya dihargai dalam kelompok.
3. Menurut saya LKS yang baik dalam konteks PKR itu harus bisa "berbicara" sendiri kepada siswa, artinya instruksinya harus jelas dan tidak membingungkan bahkan tanpa penjelasan tambahan dari guru. Caranya bisa dengan memulai dari pertanyaan atau situasi yang dekat dengan kehidupan siswa dulu sebelum masuk ke inti tugas, lalu setiap langkah diberi pertanyaan kecil supaya siswa terbiasa berpikir sebelum lanjut. Kalau bisa tampilannya juga dibuat menarik dengan gambar atau variasi tulisan, karena itu lumayan membantu siswa tetap semangat mengerjakan meski guru sedang tidak ada di dekat mereka.