Weekly outline
General
Pertemuan Pertama 9 February - 15 February
1.1 Melakukan kontrak kuliah
1.2 Ketepatan penjelasan konsep pembelajaran kelas rangkap
1.3 Ketepatan penjelasan sejarah dan perkembangan pembelajaran kelas rangkap
1.4 Ketepatan penjelasan tujuan dan manfaat pembelajaran kelas rangkap
Mata kuliah ini akan berfokus pada pengelolaan pembelajaran kelas rangkap dimana nantinya seorang pendidik akan mengajar dalam satu ruangan kelas atau lebih, dalam saat yang sama, dan menghadapi dua atau lebih tingkat kelas yang berbeda. Mata kuliah ini juga nanti akan berfokus pada pembentukan karakter peserta didik.
Simak pembagian kelompok berikut ini
Menjelaskan konsep, sejarah, perkembangan, tujuan, dan manfaat pembelajaran kelas rangkap
Silahkan donload
Pertemuan Kedua 16 February - 22 February Menjelaskan karakteristik pembelajaran kelas rangkap
Karakteristik Utama Pembelajaran Kelas Rangkap (PKR) Karakteristik utama Pembelajaran Kelas Rangkap (PKR) terletak pada kemampuannya menyatukan dua atau lebih tingkatan kelas dalam satu ruang dan waktu di bawah bimbingan satu orang guru. Hal ini menciptakan dinamika unik di mana proses belajar-mengajar berlangsung secara simultan namun tetap terarah pada target kurikulum masing-masing jenjang. Selain itu, PKR sangat mengandalkan kemandirian siswa melalui peran tutor sebaya, fleksibilitas pengaturan tempat duduk, serta manajemen waktu yang presisi agar setiap kelompok kelas mendapatkan perhatian yang proporsional tanpa mengabaikan kualitas instruksional.
Menjelaskan karakteristik pembelajaran kelas rangkap
Menjelaskan karakteristik pembelajaran kelas rangkap
- This week
Pertemuan Ketiga 23 February - 1 March Menerapkan strategi pembelajaran kelas rangkap
Menerapkan strategi PKR menuntut kecakapan guru dalam merancang alur instruksional yang sinkron, di mana satu kelompok siswa diberikan penugasan mandiri atau diskusi kelompok sementara kelompok lainnya menerima pengajaran langsung. Strategi ini mengedepankan pengelolaan waktu yang ketat dan pemanfaatan sumber daya secara efisien, sehingga materi dari dua kurikulum yang berbeda dapat tersampaikan tanpa ada satu tingkatan kelas pun yang merasa "ditelantarkan." Dalam hal ini, guru bertindak sebagai manajer kelas yang dinamis, yang harus mampu berpindah fokus secara strategis untuk memastikan setiap jenjang usia tetap terlibat aktif dalam aktivitas belajar yang relevan.
Di sisi lain, efektivitas penerapan PKR sangat bergantung pada pemberdayaan siswa melalui sistem tutor sebaya dan penggunaan lembar kerja mandiri yang terstruktur dengan baik. Dengan melatih siswa yang lebih senior atau mereka yang memiliki kemampuan lebih untuk mendampingi rekan sejawatnya, guru dapat menciptakan ekosistem belajar yang kolaboratif sekaligus mandiri. Pendekatan ini tidak hanya meringankan beban instruksional guru secara langsung, tetapi juga mengasah keterampilan sosial dan tanggung jawab siswa, mengubah keterbatasan jumlah tenaga pendidik menjadi peluang emas untuk membangun karakter dan kemandirian belajar yang kuat.
Smak metri berikut
Simak meteri berikut ini
- Menerapkan strategi pembelajaran kelas rangkap
Pertemuan Keempat 2 March-8 March Merancang Pembelajaran Kelas Rangkap
Perancangan Pembelajaran Kelas Rangkap (PKR)
Merancang Pembelajaran Kelas Rangkap (PKR) membutuhkan ketelitian dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang mampu mengakomodasi dua atau lebih tingkatan kelas sekaligus. Langkah awal yang krusial adalah memilih model organisasi kelas yang tepat, seperti Model 221 (dua kelas, dua mata pelajaran, satu ruangan) atau Model 222 (dua kelas, dua mata pelajaran, dua ruangan). Guru harus mampu memetakan kompetensi dasar dari masing-masing tingkatan kelas dan mencari "benang merah" atau topik yang serupa agar proses penyampaian materi menjadi lebih efisien tanpa mengaburkan target kurikulum tiap jenjang.
Selain pemetaan materi, aspek perancangan yang tidak kalah penting adalah penyiapan perangkat instruksional yang menunjang kemandirian. Karena guru tidak bisa berdiri di depan dua kelompok kelas secara bersamaan, rancangan harus mencakup lembar kerja siswa (LKS) yang bersifat memandu (self-explanatory) dan penugasan kelompok yang terstruktur. Dalam rancangan ini, guru juga harus menetapkan strategi pengelolaan kelas yang jelas, termasuk kapan ia akan memberikan penjelasan klasikal, kapan berpindah ke kelompok lain, serta bagaimana mekanisme tutor sebaya diaktifkan untuk menjaga agar ritme belajar tetap terjaga meskipun tanpa pengawasan langsung setiap detiknya.
Berikut sumber rujukan
https://lmsspada.kemdiktisaintek.go.id/course/view.php?id=3135
Tonton video berikut:
Merancang Pembelajaran Kelas Rangkap
Pertemuan lima 9 March-15 March Melaksanakan pembelajaran kelas rangkap secara efektif
Pelaksanaan Pembelajaran Kelas Rangkap yang Efektif Pelaksanaan Pembelajaran Kelas Rangkap (PKR) yang efektif sangat bergantung pada kemampuan guru dalam melakukan pergantian fokus (switching) secara mulus antara satu kelompok kelas ke kelompok lainnya. Guru harus mampu membuka pelajaran secara bersamaan dengan pengantar yang menarik, lalu segera membagi perhatian melalui penugasan terstruktur di satu kelas sementara memberikan penjelasan materi esensial di kelas lainnya. Kunci utamanya terletak pada kejelasan instruksi; setiap siswa harus tahu persis apa yang harus dilakukan saat guru sedang tidak berada di dekat mereka, sehingga tidak ada waktu yang terbuang sia-sia atau memicu kegaduhan yang dapat mengganggu konsentrasi kelompok lain. Selain aspek manajerial, efektivitas PKR juga ditentukan oleh terciptanya iklim belajar yang mandiri dan kolaboratif. Guru perlu memberdayakan siswa melalui sistem tutor sebaya, di mana siswa yang lebih cepat memahami materi membantu rekan-rekannya, sehingga proses belajar tetap berjalan meskipun tanpa supervisi langsung setiap detiknya. Evaluasi yang dilakukan pun harus bersifat formatif dan berkelanjutan, memastikan bahwa setiap jenjang kelas mencapai target kurikulumnya masing-masing. Dengan komunikasi yang efektif dan pengaturan tata ruang yang fleksibel, keterbatasan jumlah guru bukan lagi penghalang, melainkan sarana untuk melatih tanggung jawab dan kemandirian belajar siswa sejak dini.5.1 Ketepatan dalam melaksanakan pembelajaran kelas rangkap yang efektif
5.2 Ketepatan dalam menggunakan metode pembelajaran kelas rangkap
Ketepatan dalam mengembangkan kemampuan komunikasi dalam pembelajaran kelas rangkapSub-CPMK-5: Melaksanakan pembelajaran kelas rangkap secara efektif
Pertemuan Keenam 16 March-22 March Mengembangkan evaluasi pembelajaran kelas rangkap
Mengembangkan Evaluasi Pembelajaran Kelas Rangkap (PKR) Mengembangkan evaluasi dalam Pembelajaran Kelas Rangkap (PKR) memerlukan strategi yang berbeda dari kelas reguler karena guru harus menilai pencapaian kompetensi dari dua atau lebih tingkatan kelas yang berbeda secara bersamaan. Evaluasi yang efektif harus dirancang agar bersifat fleksibel namun tetap terukur, di mana instrumen penilaian disesuaikan dengan indikator pencapaian masing-masing jenjang kelas. Guru perlu mengembangkan alat evaluasi yang memungkinkan siswa bekerja secara mandiri, seperti lembar kerja yang dilengkapi kunci jawaban mandiri (self-correction) atau tugas portofolio, sehingga guru tetap bisa melakukan observasi terhadap kelompok kelas lain tanpa terganggu oleh proses administrasi penilaian yang rumit. Selain itu, pengembangan evaluasi dalam PKR harus mengedepankan aspek penilaian proses dan penilaian autentik. Mengingat keterbatasan waktu guru untuk menguji setiap siswa secara lisan atau klasikal, penggunaan tutor sebaya sebagai asisten evaluasi atau penilaian antar-teman (peer-assessment) menjadi sangat krusial. Guru dapat merancang rubrik penilaian yang sederhana namun komprehensif, yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dengan mengintegrasikan evaluasi ke dalam aktivitas belajar harian, guru tidak hanya mendapatkan data tentang hasil akhir belajar siswa, tetapi juga dapat memantau perkembangan kemandirian dan tanggung jawab siswa dalam situasi kelas yang heterogen.6.1 Ketepatan penjelasan
evaluasi pembelajaran
kelas rangkap
6.2 Ketepatan penggunaan
teknik evaluasi
pembelajaran kelas rangkap
6.3 Ketepatan dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis dalam evaluasi pembelajaran kelas rangkap
Sub-CPMK-6: Mengembangkan evaluasi pembelajaran kelas rangkap
Pertemuan Ketujuh 23 March-29 March Mengembangkan kemampuan berpikir kritis dalam pembelajaran kelas rangkap
Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis dalam PKR Mengembangkan kemampuan berpikir kritis dalam Pembelajaran Kelas Rangkap (PKR) memerlukan perancangan pertanyaan dan tugas yang bersifat Open-Ended (terbuka), yang memicu siswa untuk menganalisis, menyintesis, dan mengevaluasi informasi, bukan sekadar menghafal. Guru dapat memanfaatkan heterogenitas usia dan tingkat perkembangan di kelas rangkap sebagai aset dengan memberikan masalah kontekstual yang relevan bagi kedua tingkatan kelas, namun dengan kedalaman analisis yang disesuaikan. Strategi seperti Problem-Based Learning (PBL) sangat efektif diterapkan di sini; siswa diajak untuk memecahkan masalah nyata dalam kelompok kecil, sehingga mereka terbiasa mempertanyakan asumsi dan mencari solusi alternatif secara mandiri saat guru sedang mendampingi kelompok kelas yang lain. Selain itu, interaksi melalui diskusi lintas kelas dan tutor sebaya menjadi sarana krusial untuk mengasah ketajaman berpikir. Dalam PKR, siswa yang lebih senior dapat dilatih untuk memberikan penjelasan mendalam kepada adik kelasnya, yang secara tidak langsung memaksa mereka untuk mengorganisir pemikiran secara logis dan kritis. Sebaliknya, adik kelas dirangsang untuk berani bertanya dan memberikan argumen terhadap penjelasan yang diterima. Dengan menciptakan budaya kelas yang menghargai perbedaan pendapat dan proses inkuiri, guru kelas rangkap dapat mengubah keterbatasan menjadi laboratorium berpikir kritis, di mana siswa belajar untuk mandiri dalam mencari kebenaran dan tidak hanya bergantung pada instruksi searah dari guru.Sub-CPMK-7: Mengembangkan kemampuan berpikir kritis dalam pembelajaran kelas rangkap
Pertemuan Kedelapan 30 March-5April UTS
Pertemuan Kesembilan 6 April - 12 April Mengembangkan kemampuan komunikasi dan berkolaborasi dalam pembelajaran kelas rangkap
Mengembangkan Kemampuan Komunikasi dan Kolaborasi dalam PKR
Mengembangkan kemampuan komunikasi dalam Pembelajaran Kelas Rangkap (PKR) merupakan strategi krusial untuk mengatasi keterbatasan kehadiran fisik guru di setiap kelompok kelas secara bersamaan. Dalam ekosistem ini, guru harus merancang instruksi yang sangat jelas, baik secara lisan maupun tertulis (seperti melalui Papan Berjalan atau Lembar Kerja Siswa), agar pesan pembelajaran tetap tersampaikan secara akurat kepada seluruh jenjang kelas. Siswa dilatih untuk memiliki keterampilan komunikasi fungsional, di mana mereka belajar cara bertanya yang efektif, mendengarkan instruksi dengan saksama, dan menyampaikan ide secara ringkas saat sesi pleno maupun dalam kelompok kecil agar tidak mengganggu kelompok kelas lainnya yang sedang fokus.
Aspek kolaborasi dalam PKR diwujudkan melalui pembentukan kelompok belajar yang heterogen dan sistem tutor sebaya (peer tutoring). Kolaborasi ini memaksa siswa dari tingkatan kelas yang berbeda atau kemampuan yang beragam untuk bekerja sama dalam menyelesaikan proyek atau lembar kerja. Siswa yang lebih senior belajar mengayomi dan menjelaskan materi (mengasah kepemimpinan), sementara siswa yang lebih muda belajar beradaptasi dan berkontribusi dalam tim. Dengan merancang tugas-tugas yang membutuhkan kerja tim—seperti proyek pengamatan lingkungan atau diskusi kelompok lintas kelas—PKR bertransformasi menjadi laboratorium sosial yang efektif untuk membangun jiwa gotong royong dan empati.
Lebih jauh lagi, komunikasi dalam kelas rangkap juga mencakup pengembangan literasi digital dan visual. Karena guru tidak bisa selalu mendampingi setiap detik, penggunaan media komunikasi seperti bagan alur tugas atau kode-kode warna di kelas membantu siswa berkomunikasi secara non-verbal mengenai status tugas mereka (misalnya, tanda warna hijau jika sudah selesai dan merah jika butuh bantuan). Hal ini menciptakan budaya komunikasi yang efektif dan efisien, di mana setiap individu merasa bertanggung jawab atas kelancaran arus informasi di dalam kelas yang padat aktivitas.
Terakhir, penguatan kolaborasi dalam PKR berdampak langsung pada karakter kemandirian kolektif. Siswa tidak hanya belajar untuk pintar sendiri, tetapi belajar bahwa keberhasilan kelas bergantung pada kerja sama antar tingkatan. Guru dapat memberikan penghargaan (reward) berbasis kelompok atau kelas untuk memicu semangat saling membantu. Melalui pembiasaan berkolaborasi secara rutin, hambatan perbedaan usia atau materi pelajaran justru menjadi jembatan bagi siswa untuk memahami nilai-nilai demokrasi, toleransi, dan tanggung jawab sosial yang akan sangat berguna bagi kehidupan mereka di masa depan.
Sub-CPMK-8: Mengembangkan kemampuan komunikasi dan berkolaborasi dalam pembelajaran kelas rangkap
Pertemuan Kesepuluh 13 April - 19 April Mengembangkan kemampuan komunikasi dan berkolaborasi dalam pembelajaran kelas rangkap
Mengembangkan Kemampuan Komunikasi dan Kolaborasi dalam PKR
Mengembangkan kemampuan komunikasi dalam Pembelajaran Kelas Rangkap (PKR) merupakan strategi krusial untuk mengatasi keterbatasan kehadiran fisik guru di setiap kelompok kelas secara bersamaan. Dalam ekosistem ini, guru harus merancang instruksi yang sangat jelas, baik secara lisan maupun tertulis (seperti melalui Papan Berjalan atau Lembar Kerja Siswa), agar pesan pembelajaran tetap tersampaikan secara akurat kepada seluruh jenjang kelas. Siswa dilatih untuk memiliki keterampilan komunikasi fungsional, di mana mereka belajar cara bertanya yang efektif, mendengarkan instruksi dengan saksama, dan menyampaikan ide secara ringkas saat sesi pleno maupun dalam kelompok kecil agar tidak mengganggu kelompok kelas lainnya yang sedang fokus.
Aspek kolaborasi dalam PKR diwujudkan melalui pembentukan kelompok belajar yang heterogen dan sistem tutor sebaya (peer tutoring). Kolaborasi ini memaksa siswa dari tingkatan kelas yang berbeda atau kemampuan yang beragam untuk bekerja sama dalam menyelesaikan proyek atau lembar kerja. Siswa yang lebih senior belajar mengayomi dan menjelaskan materi (mengasah kepemimpinan), sementara siswa yang lebih muda belajar beradaptasi dan berkontribusi dalam tim. Dengan merancang tugas-tugas yang membutuhkan kerja tim—seperti proyek pengamatan lingkungan atau diskusi kelompok lintas kelas—PKR bertransformasi menjadi laboratorium sosial yang efektif untuk membangun jiwa gotong royong dan empati.
Lebih jauh lagi, komunikasi dalam kelas rangkap juga mencakup pengembangan literasi digital dan visual. Karena guru tidak bisa selalu mendampingi setiap detik, penggunaan media komunikasi seperti bagan alur tugas atau kode-kode warna di kelas membantu siswa berkomunikasi secara non-verbal mengenai status tugas mereka (misalnya, tanda warna hijau jika sudah selesai dan merah jika butuh bantuan). Hal ini menciptakan budaya komunikasi yang efektif dan efisien, di mana setiap individu merasa bertanggung jawab atas kelancaran arus informasi di dalam kelas yang padat aktivitas.
Terakhir, penguatan kolaborasi dalam PKR berdampak langsung pada karakter kemandirian kolektif. Siswa tidak hanya belajar untuk pintar sendiri, tetapi belajar bahwa keberhasilan kelas bergantung pada kerja sama antar tingkatan. Guru dapat memberikan penghargaan (reward) berbasis kelompok atau kelas untuk memicu semangat saling membantu. Melalui pembiasaan berkolaborasi secara rutin, hambatan perbedaan usia atau materi pelajaran justru menjadi jembatan bagi siswa untuk memahami nilai-nilai demokrasi, toleransi, dan tanggung jawab sosial yang akan sangat berguna bagi kehidupan mereka di masa depan.
Sub-CPMK-8: Mengembangkan kemampuan komunikasi dan berkolaborasi dalam pembelajaran kelas rangkap
Pertemuan Kesebelas 20 April-26 April Mengembangkan kemampuan menggunakan teknologi dalam pembelajaran kelas rangkap
Mengembangkan Kemampuan Teknologi dalam PKR
Mengembangkan kemampuan menggunakan teknologi dalam Pembelajaran Kelas Rangkap (PKR) merupakan langkah strategis untuk mengatasi keterbatasan kehadiran fisik guru secara simultan di beberapa kelompok kelas. Dengan mengintegrasikan platform pembelajaran digital atau perangkat lunak pendidikan, guru dapat memberikan instruksi berbasis video atau materi interaktif yang dapat diakses mandiri oleh satu tingkatan kelas sementara ia memberikan pengajaran langsung (face-to-face) kepada tingkatan kelas lainnya. Teknologi dalam konteks ini berfungsi sebagai asisten mengajar virtual yang memastikan ritme belajar tetap terjaga, meminimalisir waktu luang yang tidak produktif, dan menyediakan sumber belajar yang kaya serta bervariasi bagi siswa dengan tingkat kemampuan yang berbeda.
Selain sebagai alat instruksional, penggunaan teknologi dalam PKR juga bertujuan untuk meningkatkan literasi digital dan kemandirian siswa. Siswa dilatih untuk mengoperasikan perangkat, mencari informasi secara valid, dan mengumpulkan tugas melalui sistem manajemen pembelajaran sederhana (seperti Google Classroom atau aplikasi berbasis kuis). Hal ini menciptakan ekosistem belajar yang modern di mana teknologi tidak hanya dilihat sebagai tren, tetapi sebagai solusi praktis untuk kolaborasi jarak pendek di dalam satu ruangan. Dengan pembiasaan ini, keterbatasan sarana di kelas rangkap justru menjadi pemicu bagi siswa untuk menguasai keterampilan abad ke-21, yakni kemampuan beradaptasi dengan teknologi guna memecahkan masalah belajar secara mandiri dan efisien.
Sub-CPMK-9: Mengembangkan kemampuan menggunakan teknologi dalam pembelajaran kelas rangkap
Pertemuan Keduabelas 27 April-3 May Mengembangkan kemampuan berpikir kreatif dalam pembelajaran kelas rangkap
Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kreatif dalam PKR Mengembangkan kemampuan berpikir kreatif dalam Pembelajaran Kelas Rangkap (PKR) dapat dilakukan dengan memanfaatkan heterogenitas kelas sebagai laboratorium ide yang kaya. Guru dapat menerapkan strategi pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning) yang bersifat lintas kelas, di mana siswa dari tingkatan berbeda diminta untuk menciptakan solusi unik atas sebuah tantangan yang sama namun dengan tingkat kompleksitas tugas yang disesuaikan. Misalnya, dalam tema lingkungan, kelas yang lebih rendah dapat membuat poster kreatif dari bahan daur ulang, sementara kelas yang lebih tinggi merancang sistem penyaringan air sederhana. Pendekatan ini mendorong siswa untuk berpikir "out of the box", bereksperimen dengan berbagai kemungkinan, dan melihat masalah dari berbagai sudut pandang yang disediakan oleh teman sejawat maupun kakak kelas mereka. Selain itu, berpikir kreatif dalam PKR dapat diasah melalui metode pemberian tugas terbuka (open-ended tasks) yang meminimalisir instruksi kaku dan memberikan ruang bagi ekspresi diri. Karena guru harus membagi perhatian, waktu mandiri siswa dapat digunakan untuk kegiatan eksploratif seperti menulis cerita berantai antar kelas atau memodifikasi aturan permainan tradisional menjadi sarana belajar konsep matematika. Lingkungan PKR yang dinamis justru menjadi pemicu kreativitas karena siswa dituntut untuk mandiri dalam mencari sumber daya dan ide saat guru tidak mendampingi secara langsung. Dengan menciptakan atmosfer kelas yang menghargai keunikan jawaban dan keberanian mencoba hal baru, guru kelas rangkap dapat mencetak generasi yang adaptif, inovatif, dan mampu mengelola keterbatasan menjadi sebuah karya yang bermakna.Sub-CPMK-10: Mengembangkan kemampuan berpikir kreatif dalam pembelajaran kelas rangkap
Pertemuan Ketigabelas 4 May - 10 May Mengembangkan kemampuan menghadapi perubahan dalam pembelajaran kelas rangkap
Mengembangkan Kemampuan Menghadapi Perubahan dalam PKR Mengembangkan kemampuan menghadapi perubahan dalam Pembelajaran Kelas Rangkap (PKR) merupakan inti dari pembentukan karakter adaptif siswa di tengah situasi belajar yang dinamis. Dalam kelas rangkap, perubahan adalah hal yang konstan; mulai dari transisi fokus guru antar jenjang kelas, perubahan jadwal yang fleksibel, hingga penyesuaian materi yang harus dilakukan secara cepat. Guru dapat melatih kemampuan ini dengan membiasakan siswa pada protokol kelas yang responsif, di mana siswa diajarkan untuk tetap tenang dan produktif meskipun terjadi pergeseran aktivitas atau instruksi mendadak. Hal ini melatih kelenturan kognitif (*cognitive flexibility*) siswa agar tidak kaku dalam mengikuti satu pola saja, melainkan mampu menyesuaikan diri dengan ritme kelas yang bergerak cepat. Selain itu, kemampuan menghadapi perubahan diperkuat melalui pemberian tanggung jawab mandiri dalam pengambilan keputusan. Ketika guru sedang memberikan bimbingan intensif pada satu kelompok kelas, kelompok lainnya seringkali harus menghadapi tantangan teknis atau kendala materi secara mandiri. Di sinilah siswa belajar untuk melakukan penyesuaian strategi belajar, mencari sumber referensi alternatif, atau berkolaborasi dengan teman sejawat untuk mengatasi hambatan. Dengan mengubah "gangguan" atau "perubahan rencana" menjadi peluang belajar, PKR menciptakan simulasi kehidupan nyata di mana perubahan adalah keniscayaan. Hasilnya, siswa tidak hanya menguasai kurikulum akademik, tetapi juga memiliki ketangguhan mental (*resilience*) dan kesiapan untuk menghadapi perubahan di masa depan yang serba tidak pasti.Sub-CPMK-11: Mengembangkan kemampuan menghadapi perubahan dalam pembelajaran kelas rangkap
Pertemuan Keempatbelas 11 May - 17 May Mengembangkan kemampuan menggunakan sumber belajar dalam pembelajaran kelas rangkap
Mengembangkan Kemampuan Menggunakan Sumber Belajar dalam PKR
Mengembangkan kemampuan menggunakan sumber belajar dalam Pembelajaran Kelas Rangkap (PKR) adalah kunci utama untuk menciptakan kemandirian belajar di tengah keterbatasan kehadiran guru secara penuh di setiap kelompok kelas. Guru perlu melatih siswa untuk tidak hanya terpaku pada buku teks, tetapi juga cakap dalam mengeksplorasi sumber belajar lingkungan (SBL), seperti kebun sekolah, pasar tradisional, atau benda-benda di sekitar kelas sebagai media konkret. Dengan memanfaatkan beragam sumber, siswa diajarkan untuk menjadi subjek pembelajar yang aktif mencari informasi secara mandiri, sehingga proses belajar tetap berlangsung dinamis meskipun guru sedang memberikan penjelasan intensif kepada tingkatan kelas yang berbeda.
Selain itu, kemampuan ini mencakup penguasaan sumber belajar berbasis teknologi dan literasi, di mana siswa diarahkan untuk menggunakan modul mandiri, peta, globe, hingga perangkat digital sebagai rujukan informasi. Dalam rancangan PKR yang efektif, guru dapat menyiapkan "pojok baca" atau pusat sumber belajar yang tertata rapi dengan instruksi penggunaan yang jelas, sehingga siswa tahu kapan dan bagaimana harus mencari jawaban atas pertanyaan mereka tanpa harus selalu menunggu instruksi guru. Melalui pembiasaan menggunakan berbagai referensi ini, siswa kelas rangkap tidak hanya mendapatkan pengetahuan materi, tetapi juga mengasah keterampilan riset sederhana dan kecerdasan dalam memilih informasi yang relevan bagi kebutuhan belajar mereka.
Sub-CPMK-12: Mengembangkan kemampuan menggunakan sumber belajar dalam pembelajaran kelas rangka
Pertemuan Kelimabelas 18 May - 24 May Mengembangkan kemampuan menggunakan sumber belajar dalam pembelajaran kelas rangkap
Mengembangkan Kemampuan Menggunakan Sumber Belajar dalam PKR
Mengembangkan kemampuan menggunakan sumber belajar dalam Pembelajaran Kelas Rangkap (PKR) merupakan strategi vital untuk menciptakan kemandirian belajar di tengah keterbatasan kehadiran guru secara penuh di setiap kelompok kelas. Guru perlu melatih siswa agar tidak hanya terpaku pada buku teks, tetapi juga cakap dalam mengeksplorasi Sumber Belajar Lingkungan (SBL), seperti kebun sekolah, benda-benda di sekitar kelas, hingga narasumber lokal sebagai media konkret. Dengan memanfaatkan beragam sumber ini, siswa diajarkan untuk menjadi subjek pembelajar yang aktif mencari informasi secara mandiri, sehingga proses belajar tetap berlangsung dinamis meskipun guru sedang memberikan penjelasan intensif kepada tingkatan kelas yang berbeda.
Selain itu, kemampuan ini mencakup penguasaan sumber belajar mandiri yang terstruktur, di mana siswa diarahkan untuk menggunakan modul, lembar kerja (LKS), peta, hingga perangkat digital sebagai rujukan informasi tanpa instruksi konstan. Dalam rancangan PKR yang efektif, guru dapat menyiapkan "Pojok Sumber Belajar" yang tertata rapi dengan panduan penggunaan yang jelas, sehingga siswa tahu kapan dan bagaimana harus mencari jawaban atas kendala belajar mereka. Melalui pembiasaan ini, siswa kelas rangkap tidak hanya mendapatkan pengetahuan materi, tetapi juga mengasah keterampilan riset sederhana dan kecakapan dalam memilih informasi yang relevan bagi kebutuhan belajar mereka di masa depan.
Sub-CPMK-12: Mengembangkan kemampuan menggunakan sumber belajar dalam pembelajaran kelas rangkap
Pertemuan Keenambelas 25 May - 31 May UAS