silahkan bagi kelompok yang bertugas Upload PPT, Makalah juga Notulensi diskusi terimakasih
Sebagai balasan muhisom M.Pd.I
Re: Upload PPT, Makalah juga Notulensi diskusi terimakasih
oleh DIVA PUTRI MAHARANI -
Sebagai balasan muhisom M.Pd.I
Re: Upload PPT, Makalah juga Notulensi diskusi terimakasih
oleh DIVA PUTRI MAHARANI -
Notulensi diskusi Kelompok 6:
1. Nama : Nia Nabilla Putri
Npm : 2513053048
Pertanyaan : Jika seseorang gagal dalam salah satu fase perkembangan pengelolaan emosi, bagaimana dampaknya terhadap fase berikutnya?
Jawaban:
Jika seseorang gagal dalam salah satu fase perkembangan pengelolaan emosi, dampaknya dapat memengaruhi fase berikutnya karena setiap tahap saling berkaitan. Individu bisa mengalami kesulitan dalam mengenali, memahami, dan mengontrol emosinya, sehingga muncul reaksi yang kurang tepat, seperti terlalu berlebihan atau justru menekan perasaan. Hal ini juga dapat berdampak pada hubungan sosial, seperti sulit berempati, kurang terbuka, atau mudah terjadi konflik. Meskipun demikian, kemampuan pengelolaan emosi tetap dapat dikembangkan dan diperbaiki seiring waktu dengan pengalaman serta lingkungan yang mendukung.
2. Nama : Hardika Rani
NPM : 2513053042
Apa dampak jika seorang guru tidak menjadi contoh/model pengelolaan emosi yang baik(misalnya menunjukkan kemarahan di hadapan siswa) dan bagaimana cara mengubah strategi mengajar untuk menyelesaikan perbedaan emosi yang dimiliki setiap siswa?
Jawaban :
Jika guru tidak menjadi contoh emosi yang baik, siswa bisa meniru perilaku negatif, merasa takut atau tidak nyaman, sehingga hubungan dan suasana belajar menjadi kurang kondusif. Untuk menyesuaikan dengan perbedaan emosi siswa, guru perlu mengontrol emosi, menggunakan komunikasi yang positif, memahami karakter tiap siswa, serta menciptakan lingkungan belajar yang aman dan suportif agar siswa bisa berkembang dengan baik.
3. Griselda Kayla Maheswari
NPM: 2513053054
Apakah pengelolaan emosi yang terlalu baik bisa berdampak negatif, misalnya menekan emosi?
Jawaban:
Ya, pengelolaan emosi bisa berdampak negatif jika dilakukan dengan cara menekan atau memendam emosi. Pengelolaan emosi yang baik bukan berarti tidak boleh marah atau sedih, tetapi mampu mengontrol dan mengekspresikan emosi dengan cara yang tepat. Jika emosi terus dipendam, hal ini bisa menimbulkan stres dan bahkan meledak di kemudian hari. Jadi, yang penting adalah menyalurkan emosi dengan cara yang sehat, bukan menahannya
4. Qorina Sholehati Amri NPM : 2513053035
Bagaimana cara membedakan antara orang yang benar-benar mengelola emosi dengan yang hanya menyembunyikan emosi?
Jawaban:
Mengelola emosi:
• Mengakui perasaan (“aku sedang marah/sedih”)
• Tetap tenang dan bisa membicarakannya
• Reaksi konsisten, tidak meledak
• Setelahnya merasa lega
Menyembunyikan emosi:
• Menyangkal/menekan perasaan
• Terlihat tenang tapi menghindar
• Kadang tiba-tiba meledak
• Tetap terasa stres atau tidak nyaman
5. Inayah Debilla
NPM: 2553053042
Di poin faktor internal, disebutkan bahwa motivasi tinggi membantu mengelola emosi negatif. Namun, seringkali motivasi yang terlalu tinggi (ambisi berlebih) justru menjadi sumber utama stres dan ledakan emosi negatif saat gagal. Bagaimana kita menyeimbangkan antara 'motivasi untuk maju' dengan 'penerimaan diri' agar motivasi tersebut tidak berbalik menjadi bumerang yang merusak regulasi emosi?
Jawaban:
Motivasi memang bisa membantu seseorang mengelola emosi negatif, tetapi harus seimbang; jika motivasi terlalu tinggi tanpa pengendalian emosi, justru bisa menjadi tekanan karena seseorang merasa harus selalu berhasil dan sulit menerima kegagalan, sehingga mudah stres atau marah. Oleh karena itu, agar motivasi tidak menjadi bumerang, seseorang perlu mengimbanginya dengan kemampuan mengenali dan mengontrol emosi, tidak hanya fokus pada hasil tetapi juga proses, serta memiliki kepercayaan diri yang realistis. Dengan begitu, seseorang tetap semangat untuk maju, tetapi juga bisa menerima kegagalan sebagai hal yang wajar dan tetap mampu mengelola emosinya dengan baik.
6. Aura Kharisma
NPM: 2513053031
Jika pengelolaan emosi dianggap penting, mengapa dalam praktik pendidikan formal masih lebih banyak menekankan aspek kognitif dibanding emosional?
Jawaban:
Pendidikan lebih menekankan kognitif karena lebih mudah diukur, sesuai tuntutan kurikulum, dan jadi patokan penilaian (nilai/ujian), sedangkan aspek emosional lebih sulit dinilai dan kurang mendapat perhatian
1. Nama : Nia Nabilla Putri
Npm : 2513053048
Pertanyaan : Jika seseorang gagal dalam salah satu fase perkembangan pengelolaan emosi, bagaimana dampaknya terhadap fase berikutnya?
Jawaban:
Jika seseorang gagal dalam salah satu fase perkembangan pengelolaan emosi, dampaknya dapat memengaruhi fase berikutnya karena setiap tahap saling berkaitan. Individu bisa mengalami kesulitan dalam mengenali, memahami, dan mengontrol emosinya, sehingga muncul reaksi yang kurang tepat, seperti terlalu berlebihan atau justru menekan perasaan. Hal ini juga dapat berdampak pada hubungan sosial, seperti sulit berempati, kurang terbuka, atau mudah terjadi konflik. Meskipun demikian, kemampuan pengelolaan emosi tetap dapat dikembangkan dan diperbaiki seiring waktu dengan pengalaman serta lingkungan yang mendukung.
2. Nama : Hardika Rani
NPM : 2513053042
Apa dampak jika seorang guru tidak menjadi contoh/model pengelolaan emosi yang baik(misalnya menunjukkan kemarahan di hadapan siswa) dan bagaimana cara mengubah strategi mengajar untuk menyelesaikan perbedaan emosi yang dimiliki setiap siswa?
Jawaban :
Jika guru tidak menjadi contoh emosi yang baik, siswa bisa meniru perilaku negatif, merasa takut atau tidak nyaman, sehingga hubungan dan suasana belajar menjadi kurang kondusif. Untuk menyesuaikan dengan perbedaan emosi siswa, guru perlu mengontrol emosi, menggunakan komunikasi yang positif, memahami karakter tiap siswa, serta menciptakan lingkungan belajar yang aman dan suportif agar siswa bisa berkembang dengan baik.
3. Griselda Kayla Maheswari
NPM: 2513053054
Apakah pengelolaan emosi yang terlalu baik bisa berdampak negatif, misalnya menekan emosi?
Jawaban:
Ya, pengelolaan emosi bisa berdampak negatif jika dilakukan dengan cara menekan atau memendam emosi. Pengelolaan emosi yang baik bukan berarti tidak boleh marah atau sedih, tetapi mampu mengontrol dan mengekspresikan emosi dengan cara yang tepat. Jika emosi terus dipendam, hal ini bisa menimbulkan stres dan bahkan meledak di kemudian hari. Jadi, yang penting adalah menyalurkan emosi dengan cara yang sehat, bukan menahannya
4. Qorina Sholehati Amri NPM : 2513053035
Bagaimana cara membedakan antara orang yang benar-benar mengelola emosi dengan yang hanya menyembunyikan emosi?
Jawaban:
Mengelola emosi:
• Mengakui perasaan (“aku sedang marah/sedih”)
• Tetap tenang dan bisa membicarakannya
• Reaksi konsisten, tidak meledak
• Setelahnya merasa lega
Menyembunyikan emosi:
• Menyangkal/menekan perasaan
• Terlihat tenang tapi menghindar
• Kadang tiba-tiba meledak
• Tetap terasa stres atau tidak nyaman
5. Inayah Debilla
NPM: 2553053042
Di poin faktor internal, disebutkan bahwa motivasi tinggi membantu mengelola emosi negatif. Namun, seringkali motivasi yang terlalu tinggi (ambisi berlebih) justru menjadi sumber utama stres dan ledakan emosi negatif saat gagal. Bagaimana kita menyeimbangkan antara 'motivasi untuk maju' dengan 'penerimaan diri' agar motivasi tersebut tidak berbalik menjadi bumerang yang merusak regulasi emosi?
Jawaban:
Motivasi memang bisa membantu seseorang mengelola emosi negatif, tetapi harus seimbang; jika motivasi terlalu tinggi tanpa pengendalian emosi, justru bisa menjadi tekanan karena seseorang merasa harus selalu berhasil dan sulit menerima kegagalan, sehingga mudah stres atau marah. Oleh karena itu, agar motivasi tidak menjadi bumerang, seseorang perlu mengimbanginya dengan kemampuan mengenali dan mengontrol emosi, tidak hanya fokus pada hasil tetapi juga proses, serta memiliki kepercayaan diri yang realistis. Dengan begitu, seseorang tetap semangat untuk maju, tetapi juga bisa menerima kegagalan sebagai hal yang wajar dan tetap mampu mengelola emosinya dengan baik.
6. Aura Kharisma
NPM: 2513053031
Jika pengelolaan emosi dianggap penting, mengapa dalam praktik pendidikan formal masih lebih banyak menekankan aspek kognitif dibanding emosional?
Jawaban:
Pendidikan lebih menekankan kognitif karena lebih mudah diukur, sesuai tuntutan kurikulum, dan jadi patokan penilaian (nilai/ujian), sedangkan aspek emosional lebih sulit dinilai dan kurang mendapat perhatian