EVALUASI SESI 13

EVALUASI SESI 13

EVALUASI SESI 13

Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M. གིས-
Number of replies: 36

JAWABLAH PERTANYAAN PERTANYAAN BERIKUT INI

1. Jelaskan konsep kepemimpinan tim dan peran pemimpin dalam membangun visi serta kepercayaan tim!

2. Sebutkan delapan determinan kinerja tim yang efektif dan memahami cara pemimpin memengaruhinya?

3. Jelaskan bagaimana membedakan jenis-jenis tim (functional, cross-functional, self-managed, dan virtual) serta gaya kepemimpinan yang sesuai untuk masing-masing!

4. Jelaskan tujuh strategi untuk meningkatkan efektivitas dan kolaborasi dalam tim kerja!

5. Bagaimana menganalisis peran pemimpin puncak (CEO dan tim eksekutif) dalam menentukan arah strategis organisasi di tengah perubahan lingkungan bisnis?

6. Jelaskan langkah-langkah sistematis dalam pengembangan strategi kompetitif dan bagaimana melibatkan pemangku kepentingan utama dalam prosesnya!



In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 13

Melly Fitriyani Ms གིས-
Melly Fitriyani Ms - 2421011003

Izin menjawab Evaluasi 13 Bu,
1. Jelaskan konsep kepemimpinan tim dan peran pemimpin dalam membangun visi serta kepercayaan tim!
Jawab:
Kepemimpinan tim adalah kemampuan seorang pemimpin untuk mengarahkan, mengoordinasikan, dan memotivasi anggota tim agar bekerja secara efektif menuju tujuan bersama. Pemimpin tim berperan sebagai pengarah, fasilitator, sekaligus motivator. Dalam membangun visi, pemimpin harus mampu menjelaskan tujuan jangka panjang dengan jelas, membuatnya bermakna, dan memastikan seluruh anggota memahami peran mereka dalam mencapai visi tersebut. Untuk membangun kepercayaan, pemimpin perlu menunjukkan konsistensi, transparansi, integritas, serta menghargai kontribusi setiap anggota. Kepercayaan terbentuk ketika pemimpin adil, terbuka dalam komunikasi, dan mampu menciptakan lingkungan yang aman bagi setiap anggota untuk berpendapat.

2. Sebutkan delapan determinan kinerja tim yang efektif dan memahami cara pemimpin memengaruhinya?
Jawab :
Kinerja tim yang efektif dipengaruhi oleh delapan faktor utama.

1. Tujuan yang Jelas:
Pemimpin berpengaruh besar dalam memastikan tim memiliki tujuan yang jelas melalui komunikasi yang terarah, penetapan target yang spesifik, serta penyelarasan tujuan individu dengan tujuan organisasi. Dengan memberikan visi yang terstruktur, pemimpin membantu tim memahami arah kerja dan prioritas utama sehingga meminimalkan kebingungan dan meningkatkan fokus.

2. Peran dan Tanggung Jawab yang Terdefinisi:
Pemimpin berperan menetapkan peran setiap anggota secara tegas agar tidak terjadi tumpang-tindih tugas. Dengan memberikan deskripsi tugas yang rinci, pembagian kerja yang adil, serta penempatan anggota sesuai kompetensinya, pemimpin membantu meningkatkan efisiensi dan mengurangi konflik internal.

3. Komunikasi yang Efektif:
Pemimpin mendorong komunikasi terbuka dengan menciptakan budaya saling mendengar, memberikan umpan balik secara teratur, dan memastikan informasi penting mengalir dengan cepat. Gaya komunikasi pemimpin menjadi contoh bagi tim dalam menyampaikan ide, kritik, maupun penyelesaian masalah.

4. Kepercayaan di Dalam Tim:
Pemimpin membangun kepercayaan melalui konsistensi, transparansi, dan keadilan dalam pengambilan keputusan. Dengan menunjukkan integritas dan mempraktikkan tindakan yang dapat diprediksi, pemimpin membuat anggota tim merasa aman untuk berkontribusi tanpa rasa takut disalahkan.

5. Kolaborasi dan Kohesi Tim:
Pemimpin memfasilitasi kerja sama melalui pembentukan budaya inklusif, mendorong kerja lintas fungsi, serta menghadirkan kegiatan yang memperkuat kebersamaan. Ketika pemimpin mampu mengurangi silo dan mendorong interaksi positif, kohesi tim akan meningkat sehingga kinerja lebih solid.

6. Keterampilan Anggota Tim:
Pemimpin dapat meningkatkan keterampilan anggota dengan menyediakan pelatihan, coaching, mentoring, dan kesempatan pengembangan diri. Dengan mengidentifikasi kebutuhan kompetensi, pemimpin membantu tim mencapai kapasitas kerja yang lebih tinggi dan adaptif terhadap perubahan.

7. Motivasi dan Komitmen:
Pemimpin memengaruhi motivasi melalui pengakuan, penghargaan, pemberian tantangan yang sesuai, serta mendukung kesejahteraan anggota tim. Kepemimpinan yang inspiratif mampu meningkatkan semangat kerja dan membangun komitmen jangka panjang terhadap tujuan tim.

8. Kepemimpinan yang Efektif:
Determinasi terakhir ini merangkum peran pemimpin sebagai faktor penggerak seluruh komponen lainnya. Pemimpin efektif mengarahkan, mendukung, dan memberi teladan sehingga menjadi motor penggerak yang memastikan semua determinan sebelumnya berjalan secara optimal dan selaras.


3. Jelaskan bagaimana membedakan jenis-jenis tim (functional, cross-functional, self-managed, dan virtual) serta gaya kepemimpinan yang sesuai untuk masing-masing!
Jawab :
  • Tim Fungsional adalah tim dari satu departemen dengan tugas yang mirip. Pemimpin cocok memakai gaya direktif dan terstruktur, karena pekerjaan membutuhkan aturan yang jelas dan keteraturan.
  • Tim Lintas Fungsi (Cross-Functional) berisi anggota dari berbagai departemen. Pemimpin perlu gaya kolaboratif, yaitu mampu menyatukan perbedaan, mendorong diskusi, dan menjaga kerja sama antar fungsi.
  • Tim Swakelola (Self-Managed) adalah tim yang bekerja mandiri dan mengatur tugasnya sendiri. Pemimpin sebaiknya menggunakan gaya delegatif, memberi kepercayaan dan kebebasan, serta berperan sebagai pembimbing, bukan pengatur.
  • Tim Virtual bekerja secara online dari lokasi berbeda. Pemimpin perlu gaya komunikatif dan adaptif, memastikan komunikasi tetap lancar, menjaga keterhubungan, dan mengatasi tantangan jarak serta teknologi.

4. Jelaskan tujuh strategi untuk meningkatkan efektivitas dan kolaborasi dalam tim kerja!
Jawab:
Untuk meningkatkan efektivitas dan kolaborasi tim, pemimpin perlu menerapkan beberapa strategi penting. Pertama, menetapkan tujuan yang jelas sehingga semua anggota memahami arah dan prioritas kerja. Kedua, membangun komunikasi terbuka, di mana anggota merasa aman menyampaikan ide, masukan, atau masalah. Ketiga, menciptakan kepercayaan antar anggota, karena kepercayaan memudahkan kerja sama dan mengurangi konflik. Keempat, mendistribusikan peran dan tanggung jawab secara adil, agar semua orang tahu tugas masing-masing dan tidak tumpang tindih. Kelima, mendorong kolaborasi aktif, misalnya lewat diskusi rutin atau kerja lintas fungsi agar anggota dapat belajar satu sama lain. Keenam, memberikan dukungan dan pelatihan, sehingga kemampuan tim terus berkembang sesuai kebutuhan pekerjaan. Ketujuh, memberikan umpan balik dan penghargaan, yang membantu memperbaiki kinerja sekaligus menjaga motivasi dan rasa memiliki terhadap tim.

5. Bagaimana menganalisis peran pemimpin puncak (CEO dan tim eksekutif) dalam menentukan arah strategis organisasi di tengah perubahan lingkungan bisnis?
Jawab :
Untuk menganalisis peran pemimpin puncak dalam menentukan arah strategis organisasi, kita perlu melihat bagaimana CEO dan tim eksekutif membaca perubahan lingkungan bisnis dan menerjemahkannya menjadi keputusan strategis. Pemimpin puncak berperan penting dalam memantau tren pasar, teknologi, regulasi, serta perilaku pelanggan, lalu menilai risiko dan peluang yang muncul. Mereka juga menetapkan visi jangka panjang, menentukan prioritas strategis, serta memastikan seluruh unit organisasi bergerak ke arah yang sama. Selain itu, pemimpin puncak mengalokasikan sumber daya, membuat keputusan investasi, dan mengubah struktur atau proses kerja jika diperlukan agar perusahaan tetap kompetitif. Peran mereka juga mencakup komunikasi strategis kepada karyawan, pemegang saham, dan mitra bisnis, sehingga semua pihak memahami arah perubahan. Dengan kata lain, CEO dan tim eksekutif menjadi pengendali utama yang menjaga agar organisasi tetap adaptif, inovatif, dan responsif di tengah lingkungan bisnis yang terus berubah.

6. Jelaskan langkah-langkah sistematis dalam pengembangan strategi kompetitif dan bagaimana melibatkan pemangku kepentingan utama dalam prosesnya!
Jawab :

Pengembangan strategi kompetitif dilakukan melalui beberapa langkah sistematis:

  1. Analisis lingkungan eksternal (misalnya PESTEL, analisis industri, kompetitor).

  2. Analisis lingkungan internal (kekuatan, kelemahan, sumber daya, kapabilitas).

  3. Menentukan visi, misi, dan tujuan strategis.

  4. Merumuskan opsi strategi seperti diferensiasi, cost leadership, atau fokus pasar.

  5. Memilih strategi terbaik berdasarkan data dan potensi risiko.

  6. Membuat rencana implementasi termasuk struktur organisasi, anggaran, dan KPI.

  7. Mengukur hasil dan melakukan evaluasi berkala.

Dalam prosesnya, pemangku kepentingan (karyawan, pelanggan, pemasok, pemegang saham, dan regulator) harus dilibatkan melalui konsultasi, diskusi, survei, atau rapat koordinasi. Pelibatan mereka membantu memastikan strategi yang dirumuskan lebih realistis, diterima luas, dan memiliki dukungan yang kuat.


In reply to Melly Fitriyani Ms

Re: EVALUASI SESI 13

Beni Yusuf གིས-
Izin Menjawab Ibu
Beni Yusuf 2421011031

1. Konsep Kepemimpinan Tim & Peran Pemimpin dalam Membangun Visi & Kepercayaan
Konsep Kepemimpinan Tim
Kepemimpinan tim adalah proses memengaruhi sekelompok individu untuk mencapai tujuan bersama melalui koordinasi, komunikasi, motivasi, dan pengambilan keputusan. Kepemimpinan ini berfokus pada:
• Menciptakan arah bersama (shared direction)
• Membangun kohesi dan sinergi
• Mengatasi konflik
• Meningkatkan kinerja kolektif, bukan hanya individu
Peran Pemimpin dalam Membangun Visi
Pemimpin perlu:
1. Merumuskan visi yang jelas, inspiratif, dan mudah dipahami
2. Mengkomunikasikan visi secara konsisten di berbagai forum
3. Menghubungkan visi dengan tujuan individu dan tim
4. Menjadi role model yang menunjukkan keselarasan tindakan dengan visi
5. Mengajak tim berpartisipasi dalam penyempurnaan visi untuk meningkatkan komitmen
Peran Pemimpin dalam Membangun Kepercayaan Tim
Pemimpin membangun trust dengan:
• Integritas (janji = tindakan)
• Kompetensi (mampu mengambil keputusan tepat)
• Transparansi informasi
• Keadilan dan konsistensi
• Mendukung anggota tim, bukan menyalahkan
• Menciptakan psychological safety sehingga anggota berani bicara dan berinovasi

2. Delapan Determinan Kinerja Tim yang Efektif & Pengaruh Pemimpin
1. Tujuan yang Jelas (Clear Goals)
Pemimpin mengarahkan tujuan SMART dan menghubungkannya dengan strategi organisasi.
2. Peran dan Tanggung Jawab yang Jelas
Pemimpin menetapkan job division, RACI matrix, dan mengurangi tumpang tindih tugas.
3. Komunikasi yang Efektif
Pemimpin membuat standar komunikasi (metode, frekuensi, tools).
4. Kepercayaan dan Kohesi Tim
Pemimpin membangun budaya saling menghormati, keterbukaan, dan kolaborasi.
5. Kepemimpinan yang Mendukung (Supportive Leadership)
Pemimpin menyediakan coaching, resources, dan menghilangkan hambatan kinerja.
6. Proses Pengambilan Keputusan yang Jelas
Pemimpin memastikan mekanisme: partisipatif, konsultatif, atau direktif sesuai situasi.
7. Kompetensi Anggota Tim
Pemimpin merekrut, melatih, dan mengembangkan anggota tim agar sesuai tuntutan tugas.
8. Sistem Evaluasi & Reward
Pemimpin menyusun KPI tim, umpan balik berkala, dan penghargaan atas kontribusi.
________________________________________
3. Jenis-Jenis Tim & Gaya Kepemimpinan yang Sesuai
1. Functional Team
• Anggota berasal dari departemen yang sama (misal: tim marketing).
• Gaya kepemimpinan yang cocok:
o Directive atau transactional bila struktur formal tinggi
o Coaching untuk peningkatan kapabilitas
2. Cross-Functional Team
• Anggota dari divisi berbeda, biasanya untuk inovasi/proyek.
• Gaya kepemimpinan:
o Transformational → membangun visi lintas fungsi
o Collaborative leadership → mengelola perbedaan perspektif
3. Self-Managed Team
• Tim bekerja dengan otonomi tinggi; pengawasan minimal.
• Gaya kepemimpinan:
o Empowering
o Servant leadership → fasilitator, bukan komando
o Fokus pada mentorship, bukan kontrol
4. Virtual Team
• Terpisah lokasi, mengandalkan teknologi digital.
• Gaya kepemimpinan:
o E-leadership → mahir teknologi, komunikasi digital
o Results-based leadership → fokus pada output, bukan proses fisik
o Memberikan kejelasan dan ritme komunikasi

4. Tujuh Strategi Meningkatkan Efektivitas & Kolaborasi Tim
1. Membangun tujuan bersama yang jelas
2. Menguatkan komunikasi terbuka dan dua arah
3. Mengelola konflik secara konstruktif (win–win resolution)
4. Mengembangkan budaya saling percaya dan psychological safety
5. Memberikan kejelasan peran, SOP, dan ekspektasi kinerja
6. Melakukan evaluasi rutin (retrospective/after-action review)
7. Mengoptimalkan teknologi digital dan tools kolaborasi

5. Peran Pemimpin Puncak (CEO & Tim Eksekutif) dalam Menentukan Arah Strategis Organisasi
Pemimpin puncak memiliki kontribusi strategis sebagai berikut:
1. Visioning & Strategic Direction
Menetapkan visi jangka panjang, posisi kompetitif, dan prioritas strategis.
2. Environmental Scanning
Mengidentifikasi perubahan eksternal: teknologi, regulasi, pasar, kompetisi.
3. Resource Allocation
Menentukan alokasi modal, SDM, teknologi, dan investasi strategis.
4. Organizational Alignment
Menyelaraskan struktur, budaya, dan kebijakan dengan strategi baru.
5. Leading Change
CEO menjadi champion dalam perubahan organisasi:
• komunikasi perubahan
• manajemen resistensi
• menggerakkan budaya adaptif
6. Governance & Risk Management
Mengelola risiko strategis, reputasi, dan tata kelola perusahaan.
7. Stakeholder Management
Menjalin hubungan dengan pemegang saham, regulator, pelanggan, dan mitra bisnis.

6. Langkah-Langkah Sistematis dalam Pengembangan Strategi Kompetitif & Pelibatan Pemangku Kepentingan
Langkah-Langkah Sistematis
1. Analisis Lingkungan Eksternal
o PESTEL
o Industry analysis (Porter’s Five Forces)
2. Analisis Internal
o Resources, capabilities, core competencies
o Value chain analysis
3. Penetapan Strategic Issues
o Gap analysis
o Tantangan utama yang harus diselesaikan
4. Formulasi Strategi
o Strategic positioning (cost leadership, differentiation, focus)
o Growth strategy (market expansion, innovation, partnership)
5. Implementasi Strategi
o Struktur organisasi
o Anggaran
o Transformasi proses
6. Evaluasi & Kontrol
o KPI strategis
o Balanced scorecard
o Review berkala dan penyesuaian
Pelibatan Pemangku Kepentingan
Pemimpin perlu melibatkan:
• Internal stakeholders: karyawan, manajer, serikat pekerja
• External stakeholders: pemerintah, pelanggan, pemasok, investor
Melalui mekanisme:
• Workshop strategi
• Focus group discussion
• Town hall meeting
• Co-creation dengan mitra strategis
• Rapat manajemen lintas fungsi
Pelibatan ini memastikan:
• Legitimasi
• Dukungan
• Reduksi resistensi
• Keselarasan implementasi
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 13

Talitha Nahda Engrasia གིས-
Talitha Nahda Engrasia 242101102

Jawaban :
1. Konsep kepemimpinan tim dan peran pemimpin dalam membangun visi serta kepercayaan tim:
Kepemimpinan tim adalah kemampuan seorang pemimpin dalam mengarahkan, memengaruhi, dan menyatukan anggota tim agar bekerja secara kolaboratif untuk mencapai tujuan bersama. Peran utama pemimpin dalam tim adalah membangun visi yang jelas sebagai arah kerja bersama, mengomunikasikan tujuan secara terbuka, serta menumbuhkan kepercayaan melalui sikap adil, jujur, dan konsisten. Kepercayaan tim terbentuk ketika pemimpin mampu menjadi teladan, menghargai kontribusi anggota, serta menciptakan lingkungan yang aman untuk berpendapat dan bekerja sama.

2. Delapan determinan kinerja tim yang efektif dan peran pemimpin dalam memengaruhinya:
Delapan determinan kinerja tim yang efektif meliputi tujuan yang jelas, struktur peran yang tepat, kompetensi anggota, komitmen, kepercayaan, komunikasi yang baik, sistem penghargaan, serta kepemimpinan yang kuat. Pemimpin memengaruhi seluruh determinan tersebut dengan cara menetapkan tujuan yang terarah, membagi tugas secara adil, mengembangkan kemampuan anggota, membangun komitmen melalui motivasi, menciptakan iklim saling percaya, menjaga komunikasi terbuka, memberikan penghargaan yang adil, serta membimbing tim secara aktif agar tetap fokus pada kinerja.

3. Perbedaan jenis-jenis tim dan gaya kepemimpinan yang sesuai:
Tim fungsional terdiri dari anggota dengan keahlian serupa dalam satu bidang dan cocok dipimpin dengan gaya kepemimpinan direktif dan koordinatif, tim lintas fungsi (cross-functional) terdiri dari berbagai latar belakang keahlian sehingga membutuhkan pemimpin yang kolaboratif dan komunikatif, tim mandiri (self-managed team) bekerja dengan tingkat otonomi tinggi sehingga pemimpin berperan sebagai fasilitator dan pemberi dukungan, sedangkan tim virtual bekerja secara jarak jauh sehingga membutuhkan gaya kepemimpinan yang berbasis kepercayaan, komunikasi digital yang efektif, serta pengawasan berbasis hasil.

4. Tujuh strategi meningkatkan efektivitas dan kolaborasi tim kerja:
Tujuh strategi meningkatkan efektivitas dan kolaborasi tim meliputi penetapan tujuan yang jelas, komunikasi terbuka dan rutin, pembagian tugas yang adil, peningkatan kepercayaan antaranggota, pengelolaan konflik secara sehat, pemberian penghargaan atas kinerja tim, serta pengembangan kompetensi anggota melalui pelatihan. Strategi-strategi ini membantu membangun hubungan kerja yang harmonis, meningkatkan rasa tanggung jawab, serta memperkuat kerja sama dalam mencapai target organisasi.

5. Peran pemimpin puncak (CEO dan tim eksekutif) dalam menentukan arah strategis organisasi:
Pemimpin puncak seperti CEO dan tim eksekutif berperan penting dalam menganalisis perubahan lingkungan bisnis, menentukan visi jangka panjang, menetapkan strategi utama, serta mengarahkan seluruh sumber daya organisasi agar mampu beradaptasi dengan tantangan global, teknologi, dan persaingan pasar. Mereka juga bertanggung jawab memastikan bahwa strategi dijalankan secara konsisten di seluruh lini organisasi, membangun budaya kerja yang adaptif, serta mengambil keputusan strategis yang berdampak besar bagi keberlangsungan organisasi.

6. Langkah-langkah sistematis pengembangan strategi kompetitif dan pelibatan pemangku kepentingan:
Pengembangan strategi kompetitif dilakukan melalui beberapa langkah sistematis yaitu analisis lingkungan eksternal dan internal, perumusan visi dan tujuan strategis, pemilihan strategi yang tepat, implementasi strategi, serta evaluasi dan pengendalian. Pemangku kepentingan utama seperti karyawan, manajemen, investor, dan mitra bisnis perlu dilibatkan melalui komunikasi terbuka, diskusi strategis, serta partisipasi dalam perencanaan dan pelaksanaan agar strategi yang disusun mendapat dukungan luas dan dapat dijalankan secara efektif.
In reply to Talitha Nahda Engrasia

Re: EVALUASI SESI 13

Sri Hartati 2421011049 གིས-
Nama : Sri Hartati
Npm : 2421011049

JAWABLAH PERTANYAAN PERTANYAAN BERIKUT INI


1. Jelaskan konsep kepemimpinan tim dan peran pemimpin dalam membangun visi serta kepercayaan tim!
2. Sebutkan delapan determinan kinerja tim yang efektif dan memahami cara pemimpin memengaruhinya?
3. Jelaskan bagaimana membedakan jenis-jenis tim (functional, cross-functional, self-managed, dan virtual) serta gaya kepemimpinan yang sesuai untuk masing-masing!
4. Jelaskan tujuh strategi untuk meningkatkan efektivitas dan kolaborasi dalam tim kerja!
5. Bagaimana menganalisis peran pemimpin puncak (CEO dan tim eksekutif) dalam menentukan arah strategis organisasi di tengah perubahan lingkungan bisnis?
6. Jelaskan langkah-langkah sistematis dalam pengembangan strategi kompetitif dan bagaimana melibatkan pemangku kepentingan utama dalam prosesnya!
Berikut jawaban lengkap, rapi, dan profesional untuk setiap pertanyaan:

1. Konsep kepemimpinan tim dan peran pemimpin dalam membangun visi serta kepercayaan tim
Kepemimpinan tim adalah proses mempengaruhi sekelompok individu untuk bekerja secara efektif dalam mencapai tujuan bersama. Pemimpin tim berfungsi sebagai pengarah, penggerak, dan penjaga dinamika tim.
Peran pemimpin dalam membangun visi dan kepercayaan tim meliputi:
• Merumuskan visi yang jelas dan memberikan arah bagi tim.
• Mengkomunikasikan visi dengan inspiratif, sehingga setiap anggota memahami perannya.
• Membangun kepercayaan melalui keteladanan, integritas, dan konsistensi tindakan.
• Menciptakan lingkungan psikologis yang aman, sehingga anggota berani berpendapat.
• Mendorong kolaborasi dan rasa memiliki, sehingga visi menjadi komitmen bersama.

2. Delapan determinan kinerja tim yang efektif & bagaimana pemimpin memengaruhinya
Berikut 8 faktor penentu efektivitas tim serta pengaruh pemimpin:
1. Tujuan yang jelas
Pemimpin memastikan arah kerja pasti dan dipahami semua anggota.
2. Peran dan tanggung jawab yang terdefinisi
Pemimpin membagi tugas sesuai keahlian agar tidak terjadi tumpang tindih.
3. Komunikasi terbuka
Pemimpin menciptakan alur komunikasi dua arah dan bebas tekanan.
4. Kepercayaan dan kohesi tim
Pemimpin menanamkan kejujuran, dukungan, dan rasa saling menghargai.
5. Kepemimpinan yang kompeten
Pemimpin menunjukkan kemampuan memotivasi, memecahkan masalah, dan memberi arahan.
6. Pengambilan keputusan yang efektif
Pemimpin memastikan proses diskusi berjalan objektif dan menghindari dominasi individu.
7. Keterampilan anggota tim yang memadai
Pemimpin menyediakan pelatihan, mentoring, dan pembagian tugas yang tepat.
8. Sumber daya yang cukup
Pemimpin mengamankan informasi, waktu, teknologi, dan dukungan organisasi agar tim bisa maju.

3. Membedakan jenis-jenis tim dan gaya kepemimpinan yang sesuai
1. Functional Team (Tim Fungsional)
• Terdiri dari orang-orang dalam departemen yang sama.
• Gaya kepemimpinan: directive–supportive (mengatur proses dan mendukung tugas harian).
2. Cross-Functional Team
• Anggota berasal dari fungsi atau departemen berbeda.
• Gaya kepemimpinan: collaborative & koordinatif, fokus pada penyatuan perspektif.
3. Self-Managed Team
• Tim mengatur diri sendiri dengan sedikit intervensi pemimpin.
• Gaya kepemimpinan: coaching, memberi arahan awal tetapi membiarkan anggota mengambil keputusan sendiri.
4. Virtual Team
• Tim bekerja secara online di lokasi berbeda.
• Gaya kepemimpinan: technology-oriented leadership, kuat di komunikasi digital, transparan, dan hasil-oriented.

4. Tujuh strategi untuk meningkatkan efektivitas dan kolaborasi dalam tim kerja
1. Bangun komunikasi yang terbuka dan konsisten
2. Ciptakan tujuan dan standar kinerja yang jelas
3. Libatkan anggota dalam pengambilan keputusan penting
4. Fasilitasi kolaborasi melalui teknologi dan pertemuan rutin
5. Berikan apresiasi dan pengakuan atas kontribusi anggota
6. Atasi konflik secara cepat dan konstruktif
7. Kembangkan kemampuan anggota melalui pelatihan dan coaching

5. Analisis peran pemimpin puncak (CEO & eksekutif) dalam menentukan arah strategis organisasi
Pemimpin puncak berperan penting dalam mengarahkan organisasi melalui:
• Menciptakan visi jangka panjang yang sesuai dengan dinamika lingkungan bisnis.
• Mengidentifikasi tren, tantangan, dan peluang baru di pasar.
• Mengambil keputusan strategis besar seperti ekspansi, investasi, atau inovasi produk.
• Mengelola budaya organisasi, memastikan nilai perusahaan mendukung strategi.
• Mengalokasikan sumber daya strategis, seperti modal, SDM, dan teknologi.
• Memastikan organisasi tetap adaptif, terutama saat terjadi perubahan besar seperti digitalisasi, krisis ekonomi, atau kompetisi ketat.
Pemimpin puncak bukan hanya membuat strategi tetapi menjadi role model dalam penerapannya.

6. Langkah-langkah sistematis dalam pengembangan strategi kompetitif & melibatkan pemangku kepentingan
Langkah Pengembangan Strategi Kompetitif

1. Analisis lingkungan internal & eksternal
(menggunakan SWOT, PESTEL, Porter’s Five Forces).
2. Menentukan visi, misi, dan tujuan strategis
Agar seluruh aktivitas terarah.
3. Menetapkan pilihan strategi
Seperti diferensiasi, cost leadership, pemasaran, inovasi, atau ekspansi.
4. Merumuskan rencana implementasi
Termasuk program kerja, anggaran, dan timeline.
5. Mengalokasikan sumber daya
SDM, keuangan, teknologi, dan fasilitas pendukung.
6. Melaksanakan strategi
Pemimpin memantau disiplin tim agar implementasi berjalan efektif.
7. Evaluasi dan pengendalian
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 13

Evi Komala 2421011005 གིས-
Evi Komala (2421011005)
Izin menjawab evaluasi sesi 13 Ibu Nova

1. Konsep Kepemimpinan Tim dan Peran Pemimpin dalam Membangun Visi serta Kepercayaan Tim

Kepemimpinan tim merupakan kemampuan seorang pemimpin untuk mengarahkan, mengkoordinasikan, dan memotivasi kelompok kerja agar dapat mencapai tujuan bersama secara efektif. Dalam konteks kerja modern yang semakin kompleks, pemimpin tidak hanya bertindak sebagai instruktur, tetapi juga sebagai fasilitator yang menciptakan lingkungan kolaboratif. Salah satu peran utama pemimpin adalah membangun visi tim yang jelas dan inspiratif. Visi yang baik memberikan arah masa depan dan menumbuhkan rasa makna dalam pekerjaan. Pemimpin harus mampu mengartikulasikan visi tersebut secara persuasif dan memastikan setiap anggota memahami kontribusinya terhadap pencapaian visi. Selain itu, pemimpin juga harus membangun kepercayaan melalui integritas, konsistensi perilaku, keterbukaan komunikasi, dan kemampuan menyelesaikan konflik secara adil. Kepercayaan tim tumbuh ketika pemimpin menunjukkan komitmen yang nyata, menghargai setiap anggota, serta menciptakan rasa aman psikologis dalam bekerja.

2. Delapan Determinan Kinerja Tim yang Efektif dan Cara Pemimpin Mempengaruhinya

Kinerja tim yang efektif dipengaruhi oleh delapan determinan utama yang harus dikelola secara optimal oleh pemimpin. Pertama, tim membutuhkan tujuan yang jelas agar anggota mengetahui arah kerja dan indikator keberhasilan. Kedua, peran dan tanggung jawab harus terdefinisi secara tepat untuk menghindari konflik dan ketidakefektifan. Ketiga, komposisi tim perlu disusun berdasarkan kompetensi, diversitas kemampuan, dan kecocokan interpersonal. Keempat, norma kerja dan budaya tim harus dibangun untuk memastikan perilaku kolaboratif berjalan dengan baik. Kelima, komunikasi yang terbuka diperlukan agar informasi mengalir secara efektif dan transparan. Keenam, kepemimpinan yang suportif sangat penting untuk memberikan arahan, motivasi, dan pendampingan. Ketujuh, koordinasi antaranggota harus dipastikan agar interdependensi tugas dapat berjalan harmonis. Terakhir, pemimpin harus mengamankan sumber daya seperti waktu, anggaran, teknologi, dan dukungan sistem sehingga tim dapat bekerja tanpa hambatan. Melalui intervensi yang tepat pada setiap determinan, pemimpin mampu membentuk tim yang solid dan berkinerja tinggi.

3. Pembeda Jenis Tim dan Gaya Kepemimpinan yang Sesuai

Dalam organisasi modern, terdapat beberapa jenis tim yang dibedakan berdasarkan struktur dan pola kerjanya. Tim fungsional terdiri dari anggota yang berasal dari divisi atau departemen yang sama, seperti tim keuangan atau tim pemasaran. Pada tim ini, gaya kepemimpinan yang paling sesuai adalah gaya direktif atau coaching karena sifat pekerjaannya cenderung terstruktur dan membutuhkan arahan teknis. Berbeda dengan itu, tim lintas fungsi (cross-functional) menggabungkan anggota dari berbagai departemen untuk menyelesaikan suatu proyek kompleks. Untuk jenis tim ini, gaya kepemimpinan kolaboratif atau partisipatif lebih efektif karena diperlukan integrasi perspektif dari berbagai fungsi. Sementara itu, tim swakelola (self-managed team) memiliki tingkat otonomi yang tinggi dan anggota tim biasanya mengambil keputusan operasional secara mandiri. Pemimpin yang sesuai adalah pemimpin yang memberdayakan, memberikan delegasi, dan berperan sebagai fasilitator. Pada tim virtual yang bekerja dari lokasi berbeda dan mengandalkan teknologi digital, gaya kepemimpinan yang dibutuhkan adalah e-leadership yang menekankan manajemen komunikasi digital, monitoring dari jarak jauh, dan pembangunan kepercayaan secara virtual. Setiap jenis tim membutuhkan pendekatan kepemimpinan yang berbeda agar kolaborasi dapat berjalan optimal.

4. Strategi untuk Meningkatkan Efektivitas dan Kolaborasi Tim Kerja

Untuk menciptakan tim yang efektif dan kolaboratif, pemimpin perlu menerapkan sejumlah strategi yang terarah. Pertama, pemimpin harus menetapkan tujuan bersama yang jelas, terukur, dan realistis sehingga anggota memahami arah kerja. Kedua, komunikasi yang terbuka perlu dibangun agar anggota merasa aman menyampaikan pendapat, ide, maupun keluhan. Ketiga, pemimpin harus mengembangkan budaya kolaboratif melalui kerja sama lintas fungsi dan penghapusan pola kerja individualis. Keempat, peningkatan kompetensi anggota tim menjadi penting melalui pelatihan, coaching, atau pembelajaran berkelanjutan. Kelima, pemberdayaan anggota perlu dilakukan dengan memberikan otonomi dalam pengambilan keputusan untuk meningkatkan rasa tanggung jawab. Keenam, pemanfaatan teknologi seperti platform kolaborasi, sistem manajemen proyek, dan perangkat digital lainnya dapat meningkatkan kecepatan koordinasi. Ketujuh, pemimpin harus menciptakan lingkungan kerja yang inklusif dan suportif dengan menghargai perbedaan dan mengakui kontribusi setiap anggota. Ketujuh strategi ini membentuk fondasi bagi kinerja tim yang optimal dan hubungan kerja yang sehat.

5. Analisis Peran Pemimpin Puncak dalam Menentukan Arah Strategis Organisasi

Pemimpin puncak seperti CEO dan tim eksekutif memainkan peran sentral dalam menentukan arah strategis organisasi terutama dalam situasi lingkungan bisnis yang berubah dengan cepat. Mereka bertanggung jawab melakukan environmental scanning, yaitu memantau perubahan eksternal seperti perkembangan teknologi, regulasi baru, dinamika persaingan, dan perubahan preferensi konsumen. Informasi tersebut kemudian digunakan untuk merumuskan visi dan misi jangka panjang yang mencerminkan posisi organisasi di masa depan. Pemimpin puncak juga membangun budaya yang adaptif dan inovatif agar organisasi mampu merespons perubahan dengan cepat dan tepat. Selain itu, CEO memiliki peran penting dalam pengambilan keputusan strategis yang melibatkan risiko besar seperti investasi teknologi, ekspansi pasar, restrukturisasi organisasi, atau kolaborasi strategis. Mereka juga harus mampu mengelola hubungan dengan berbagai pemangku kepentingan seperti pemerintah, pelanggan, pemegang saham, dan karyawan untuk memastikan keberlanjutan strategi. Melalui alokasi sumber daya yang tepat, pemimpin puncak memastikan strategi dapat diimplementasikan secara konsisten sehingga organisasi tetap kompetitif.

6. Langkah Sistematis dalam Pengembangan Strategi Kompetitif dan Pelibatan Pemangku Kepentingan

Pengembangan strategi kompetitif membutuhkan proses yang sistematis dan terukur. Tahap pertama dimulai dengan analisis lingkungan eksternal menggunakan alat seperti PESTEL atau Porter’s Five Forces untuk mengidentifikasi peluang dan ancaman. Setelah itu, analisis lingkungan internal dilakukan untuk menilai sumber daya, kapabilitas, dan keunggulan organisasi berdasarkan pendekatan resource-based view. Berdasarkan hasil analisis tersebut, pemimpin kemudian merumuskan tujuan strategis yang sesuai dengan kondisi organisasi. Selanjutnya, strategi kompetitif dirumuskan, misalnya melalui diferensiasi, cost leadership, atau strategi fokus. Setelah strategi ditetapkan, organisasi perlu menyusun rencana implementasi yang meliputi struktur organisasi, distribusi kerja, penggunaan teknologi, alokasi anggaran, serta indikator kinerja. Tahap terakhir adalah monitoring dan evaluasi untuk memastikan strategi berjalan sesuai rencana dan dapat disesuaikan dengan perubahan lingkungan.

Pelibatan pemangku kepentingan dilakukan sepanjang proses, dimulai dari mengidentifikasi kelompok stakeholder utama seperti karyawan, pelanggan, investor, dan regulator. Masukan mereka dapat dikumpulkan melalui wawancara, diskusi strategis, atau survei. Komunikasi transparan tentang tujuan dan manfaat strategi sangat penting untuk membangun komitmen. Selain itu, stakeholder dapat dilibatkan dalam implementasi strategi melalui pembentukan tim proyek atau komite pengarah. Evaluasi berkelanjutan dilakukan dengan menerima feedback dari stakeholder sehingga strategi tetap relevan dan mendapatkan dukungan penuh.

In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 13

Naufal Ar Rafi Mursalin གིས-
Naufal Ar Rafi Mursalin 2421011008
Izin menjawab bu

1. Konsep Kepemimpinan Tim dan Peran Pemimpin
- Kepemimpinan tim adalah kemampuan seorang pemimpin untuk mengarahkan, memotivasi, dan mengkoordinasikan anggota tim agar mencapai tujuan bersama.
- Peran pemimpin:
- Menyusun dan mengkomunikasikan visi yang jelas.
- Menjadi teladan dalam integritas dan komitmen.
- Membangun kepercayaan melalui konsistensi, transparansi, dan dukungan terhadap anggota tim.
- Menciptakan lingkungan kerja yang aman untuk berpendapat dan berinovasi.

2. Delapan Determinan Kinerja Tim Efektif
- Tujuan yang jelas – pemimpin memastikan semua anggota memahami arah tim.
- Peran dan tanggung jawab yang terdefinisi – pemimpin membagi tugas sesuai kompetensi.
- Komunikasi terbuka – pemimpin mendorong dialog dan keterbukaan.
- Kepercayaan antar anggota – dibangun melalui keadilan dan konsistensi.
- Keterampilan anggota tim – pemimpin mendukung pengembangan kompetensi.
- Kepemimpinan yang efektif – pemimpin memberi arahan sekaligus memberdayakan.
- Motivasi dan komitmen – pemimpin memberi penghargaan dan pengakuan.
- Sumber daya yang memadai – pemimpin memastikan dukungan fasilitas dan teknologi.

3. Jenis-Jenis Tim dan Gaya Kepemimpinan
- Functional team: terdiri dari anggota dengan fungsi yang sama.
- Gaya kepemimpinan: direktif dan koordinatif.
- Cross-functional team: anggota dari berbagai departemen.
- Gaya kepemimpinan: kolaboratif, fasilitatif, mendorong integrasi lintas fungsi.
- Self-managed team: tim mengatur dirinya sendiri tanpa pengawasan ketat.
- Gaya kepemimpinan: delegatif, memberi otonomi, berperan sebagai mentor.
- Virtual team: bekerja jarak jauh dengan teknologi komunikasi.
- Gaya kepemimpinan: komunikatif, adaptif, fokus pada kejelasan instruksi dan penggunaan teknologi.

4. Tujuh Strategi Meningkatkan Efektivitas dan Kolaborasi
- Menetapkan visi dan tujuan yang jelas.
- Membangun budaya komunikasi terbuka.
- Memberikan pelatihan dan pengembangan keterampilan.
- Mendorong partisipasi aktif semua anggota.
- Menggunakan teknologi kolaborasi yang tepat.
- Memberikan penghargaan atas kontribusi.
- Melakukan evaluasi berkala untuk perbaikan.

5. Peran Pemimpin Puncak (CEO dan Tim Eksekutif)
- Menentukan arah strategis organisasi dengan visi jangka panjang.
- Mengantisipasi perubahan lingkungan bisnis (teknologi, regulasi, pasar).
- Membuat keputusan strategis yang memengaruhi seluruh organisasi.
- Menjadi simbol budaya organisasi dan nilai inti.
- Mengkomunikasikan strategi kepada seluruh level agar konsisten.

6. Langkah-Langkah Sistematis Pengembangan Strategi Kompetitif
- Analisis lingkungan eksternal: tren pasar, pesaing, regulasi.
- Analisis internal: kekuatan, kelemahan, sumber daya.
- Formulasi strategi: menentukan posisi kompetitif dan diferensiasi.
- Implementasi strategi: menyusun rencana aksi, struktur, dan alokasi sumber daya.
- Evaluasi dan kontrol: memantau hasil, melakukan penyesuaian.
- Melibatkan pemangku kepentingan:
- Konsultasi dengan karyawan, pelanggan, investor, dan mitra.
- Transparansi dalam proses perumusan.
- Membangun komitmen bersama agar strategi dapat dijalankan secara efektif.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 13

KATTY CINTIASARI གིས-
Nama : Katty Cintiasari Npm 2421011016

Izin Menjawab
1. Konsep Kepemimpinan Tim dan Peran Pemimpin dalam Membangun Visi serta Kepercayaan Tim

Kepemimpinan tim adalah esensi dari fasilitasi kolektif, di mana peran pemimpin bergeser dari pengontrol menjadi pemberdaya ✨. Tujuannya adalah memastikan bahwa potensi gabungan tim lebih besar daripada jumlah potensi setiap individu.

Membangun Visi (Penciptaan Makna): Pemimpin berfungsi sebagai juru tafsir strategis. Mereka tidak hanya menyampaikan visi yang ditetapkan oleh manajemen, tetapi membantu tim menginterpretasikan makna dari visi tersebut dalam konteks pekerjaan sehari-hari. Pemimpin harus mampu menghubungkan tugas kecil anggota tim dengan tujuan besar organisasi, menciptakan keselarasan tujuan yang memberikan energi dan motivasi kolektif.

Membangun Kepercayaan (Fondasi Hubungan): Kepercayaan adalah mata uang sosial tim. Pemimpin membangunnya melalui tiga pilar:

Integritas dan Konsistensi: Pemimpin harus jujur, adil, dan memenuhi janji. Perilaku yang konsisten menciptakan prediktabilitas.

Kompetensi: Tim harus percaya bahwa pemimpin memiliki kemampuan teknis dan manajerial untuk memimpin.

Kerentanan dan Kepedulian: Pemimpin harus bersedia mengakui kesalahan dan menunjukkan bahwa mereka peduli pada kesejahteraan anggota tim, menciptakan lingkungan aman secara psikologis di mana anggota juga berani mengambil risiko dan jujur.

2. Delapan Determinan Kinerja Tim yang Efektif

Kinerja tim yang efektif adalah hasil dari lingkungan yang dirancang dengan baik, yang sebagian besar dipengaruhi oleh tindakan pemimpin:

Tujuan yang Jelas dan Menantang: Tim harus memiliki tujuan akhir (purpose) yang jelas, disepakati bersama, dan cukup menantang untuk memotivasi upaya terbaik mereka.

Keahlian dan Kompetensi Relevan: Tim harus memiliki gabungan keterampilan teknis, pemecahan masalah, dan interpersonal yang sesuai dengan tugas yang dihadapi.

Struktur dan Proses Kerja yang Efektif: Harus ada norma yang disepakati untuk bagaimana pekerjaan dilakukan, bagaimana keputusan diambil, dan bagaimana konflik diselesaikan. Proses yang efisien mencegah gesekan internal.

Komitmen dan Akuntabilitas: Setiap anggota harus berkomitmen pada tujuan bersama dan merasa bertanggung jawab tidak hanya kepada pemimpin tetapi juga kepada sesama anggota tim.

Dukungan Sumber Daya Eksternal: Pemimpin harus bertindak sebagai pembela tim, memastikan tim memiliki alat, informasi, anggaran, dan dukungan manajemen yang diperlukan untuk berhasil.

Kepercayaan Antar Anggota: Tim harus percaya pada niat dan kemampuan satu sama lain, meminimalkan kebutuhan untuk saling mengawasi dan memaksimalkan kolaborasi yang spontan.

Sistem Penghargaan yang Sesuai: Penghargaan harus dirancang untuk menghargai hasil kolektif tim, di samping kontribusi individu.

Identitas dan Efikasi Kolektif yang Kuat: Tim harus memiliki rasa "kami" yang kuat dan keyakinan bersama (collective efficacy) bahwa mereka mampu mengatasi tantangan dan berhasil.

3. Membedakan Jenis-Jenis Tim dan Gaya Kepemimpinan yang Sesuai

Gaya kepemimpinan harus lentur, disesuaikan dengan struktur dan kebutuhan tim:
A. Functional Team (Tim Fungsional)

Karakteristik: Anggota berasal dari satu departemen/bidang keahlian (misalnya, Marketing atau R&D). Pekerjaan sangat terstruktur dan berulang.

Kepemimpinan yang Sesuai: Directive (Direktif) & Transaksional. Pemimpin fokus pada efisiensi, mempertahankan standar kualitas, dan kepatuhan terhadap prosedur. Peran utama pemimpin adalah mengelola proses.

B. Cross-Functional Team (Tim Lintas Fungsi)

Karakteristik: Anggota dari berbagai departemen/fungsi berbeda, disatukan untuk proyek spesifik (misalnya, peluncuran produk). Membutuhkan koordinasi dan integrasi perspektif yang tinggi.

Kepemimpinan yang Sesuai: Integratif & Fasilitatif. Pemimpin bertindak sebagai jembatan komunikasi, memfasilitasi dialog, dan menjamin bahwa semua perspektif fungsional dipertimbangkan. Peran utama pemimpin adalah mengoordinasikan keahlian.

C. Self-Managed Team (Tim Dikelola Mandiri)

Karakteristik: Tim memiliki otoritas yang luas dalam pengambilan keputusan operasional sehari-hari dan penugasan pekerjaan. Peran pemimpin tradisional berkurang.

Kepemimpinan yang Sesuai: Pemberdayaan (Empowering) & Coach (Pelatih). Pemimpin menetapkan batas yang jelas (visi, hasil akhir yang diharapkan, dan sumber daya) lalu mundur. Fokus beralih ke pengembangan kapasitas dan coaching individu dalam keterampilan interpersonal dan pengambilan keputusan.

D. Virtual Team (Tim Virtual/Maya)

Karakteristik: Anggota tersebar secara geografis. Komunikasi sangat bergantung pada teknologi. Tantangan utama adalah membangun kepercayaan dan kebersamaan tanpa interaksi fisik.

Kepemimpinan yang Sesuai: Komunikatif & High-Touch. Pemimpin harus sangat proaktif dalam membangun kepercayaan melalui komunikasi yang berlebihan (transparan dan konsisten), menetapkan check-in yang terstruktur, dan memastikan semua anggota merasa terhubung dan terlihat.

4. Tujuh Strategi untuk Meningkatkan Efektivitas dan Kolaborasi dalam Tim Kerja

Peningkatan kolaborasi adalah proses yang berpusat pada hubungan dan desain proses:

Menciptakan Keselamatan Psikologis: Prioritaskan lingkungan di mana anggota berani mengajukan pertanyaan, mengakui kesalahan, dan berbagi ide radikal tanpa takut dihakimi atau dihukum.

Menetapkan Aturan Main (Norma) yang Jelas: Tim perlu secara eksplisit menyepakati bagaimana mereka akan berkomunikasi, bagaimana konflik akan diselesaikan, dan bagaimana feedback konstruktif akan diberikan.

Fokus pada Tujuan Bersama yang Lebih Tinggi: Selalu ingatkan tim tentang tujuan kolektif yang mengikat mereka. Hal ini membantu meredam ego individu dan persaingan antar-fungsi.

Mendorong Boundary Spanning (Penjangkauan Batas): Fasilitasi interaksi anggota tim dengan pihak eksternal (departemen lain, klien, stakeholder). Ini membawa perspektif baru dan sumber daya yang berharga ke dalam tim.

Meningkatkan Kecerdasan Emosional Kolektif: Latih tim untuk mengenali dan merespons suasana hati dan kebutuhan emosional anggota lain. Ini memungkinkan tim untuk berfungsi sebagai unit yang peka secara sosial.

Berinvestasi pada Infrastruktur Kolaboratif: Pastikan tim memiliki teknologi komunikasi, software, dan ruang kerja (fisik atau virtual) yang memfasilitasi interaksi yang lancar dan cepat.

Menganalisis dan Merayakan Proses (Bukan Hanya Hasil): Alokasikan waktu untuk debriefing setelah proyek selesai. Identifikasi apa yang berjalan dengan baik dalam hal kolaborasi dan apa yang bisa diperbaiki, sehingga pembelajaran berkelanjutan menjadi norma.

5. Analisis Peran Pemimpin Puncak (CEO dan Tim Eksekutif) dalam Menentukan Arah Strategis

Pemimpin puncak bertindak sebagai Arsitek dan Navigator organisasi. Peran mereka di tengah perubahan lingkungan bisnis sangatlah krusial:

Pencipta Visi dan Penerjemah Lingkungan: CEO dan tim eksekutif bertugas menginterpretasikan sinyal yang kompleks dari pasar (teknologi disruptif, perubahan perilaku konsumen, krisis global) dan menerjemahkannya menjadi visi strategis yang jelas dan menarik.

Alokator Sumber Daya: Mereka membuat keputusan paling sulit mengenai di mana organisasi harus berinvestasi (misalnya, berinvestasi besar pada AI) dan di mana harus mundur (menghentikan lini produk lama). Keputusan ini menentukan nasib kompetitif organisasi.

Penjaga Budaya dan Nilai: Mereka menanamkan budaya dan nilai inti yang akan mendukung strategi. Jika strategi menuntut inovasi cepat, pemimpin puncak harus menumbuhkan budaya yang toleran terhadap risiko dan kegagalan.

Pengelola Stakeholder dan Risiko: Mereka menyeimbangkan tuntutan yang saling bertentangan dari berbagai pemangku kepentingan (pemegang saham menginginkan profit cepat; masyarakat menginginkan keberlanjutan) sambil mengelola risiko yang melekat pada perubahan arah strategis.

6. Langkah-Langkah Sistematis Pengembangan Strategi Kompetitif dan Keterlibatan Pemangku Kepentingan Utama

Pengembangan strategi yang efektif adalah proses yang logis, melibatkan analisis mendalam dan konsensus kolektif:
Langkah-Langkah Sistematis Pengembangan Strategi

Analisis Situasi (Internal & Eksternal): Lakukan pemindaian lingkungan secara komprehensif (analisis PESTEL dan Lima Kekuatan Porter). Secara internal, identifikasi kompetensi inti (keunggulan unik yang sulit ditiru).

Formulasi Pilihan Strategis: Kembangkan beberapa opsi strategi kompetitif (misalnya, fokus pada diferensiasi superior, biaya rendah, atau segmentasi pasar).

Evaluasi dan Pemilihan Strategi: Nilai setiap opsi berdasarkan kecocokannya dengan kapabilitas internal (fit) dan potensi untuk menciptakan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan (sustainable competitive advantage).

Perancangan Struktur Pendukung: Tentukan bagaimana organisasi (struktur, sistem penghargaan, budaya) perlu diubah agar selaras dengan strategi yang dipilih.

Implementasi dan Eksekusi: Menerjemahkan strategi besar menjadi rencana operasional yang jelas, target kinerja yang dapat diukur, dan tindakan yang harus diambil di tingkat unit kerja.

Pengawasan dan Pembelajaran: Bangun mekanisme monitoring yang kuat. Evaluasi kinerja secara berkala dan bersiap untuk beradaptasi atau memodifikasi strategi (strategic flexibility) berdasarkan feedback pasar.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 13

FEBIOLA EFRIANI གིས-
Selamat siang ibu proff, izin menjawab pertanyaan evaluasinya..
Febiola Efriani (2421011015)

1. Kepemimpinan tim menekankan kemampuan pemimpin untuk memandu tim mencapai tujuan bersama. Pemimpin bertugas membuat visi yang jelas, membangun kepercayaan, dan mendorong kerja sama antar anggota agar semua merasa terlibat

2. Delapan faktor yang memengaruhi kinerja tim meliputi tujuan yang jelas, peran yang tepat, komunikasi, sumber daya, kepemimpinan, hubungan antar anggota, budaya tim, dan umpan balik. Pemimpin dapat meningkatkan kinerja dengan memastikan semua faktor ini terpenuhi dan saling mendukung.

3. Functional team fokus pada fungsi tertentu, membutuhkan kepemimpinan arah langsung; cross-functional team melibatkan banyak departemen sehingga perlu kepemimpinan kolaboratif; self-managed team otonom sehingga pemimpin lebih sebagai fasilitator; virtual team jarak jauh sehingga pemimpin harus fokus pada komunikasi dan kepercayaan.

4. Strategi meningkatkan efektivitas tim antara lain: menetapkan tujuan, jelas membagi peran, komunikasi terbuka, membangun kepercayaan, memberi umpan balik rutin, mendorong partisipasi, dan menghargai kontribusi anggota.

5. CEO dan tim eksekutif menentukan arah strategis dengan menilai perubahan lingkungan, membuat keputusan berdasarkan visi, dan memastikan strategi diterapkan di seluruh organisasi. Mereka juga menjadi penghubung antara visi perusahaan dan pelaksanaan di lapangan.

6. Strategi kompetitif dikembangkan dengan menganalisis kondisi internal dan eksternal, menetapkan tujuan, merancang alternatif strategi, melibatkan pemangku kepentingan, memilih strategi terbaik, dan memantau pelaksanaannya untuk menyesuaikan dengan perubahan pasar.

Terima kasih banyak..
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 13

Khairunnnisaa Khairunnisaa གིས-
Khairunnisaa
2421011007

1. Jelaskan konsep kepemimpinan tim dan peran pemimpin dalam membangun visi serta kepercayaan tim!
Kepemimpinan tim berfokus pada kemampuan mengarahkan anggota menuju tujuan bersama. Pemimpin menjelaskan visi yang menggambarkan arah jangka panjang. Visi yang jelas memberi kepastian dan menyatukan fokus kerja. Kepercayaan tumbuh ketika pemimpin bersikap konsisten, terbuka, dan adil. Pemimpin memberi dukungan, mendengarkan masukan, dan memastikan setiap anggota merasa dihargai. Kejelasan peran dan komunikasi rutin ikut memperkuat kepercayaan dalam tim.

2. Sebutkan delapan determinan kinerja tim yang efektif dan memahami cara pemimpin memengaruhinya?
Delapan determinan kinerja tim meliputi tujuan yang jelas, peran yang terdefinisi, proses kerja yang efektif, komposisi anggota yang tepat, kualitas komunikasi, kepemimpinan yang terarah, motivasi, dan sistem evaluasi. Pemimpin memengaruhi tujuan melalui penetapan sasaran terukur. Pemimpin menata peran agar tidak tumpang tindih. Pemimpin membangun proses kerja yang efisien. Pemimpin memilih anggota berdasarkan kompetensi. Komunikasi diperkuat melalui pertemuan rutin. Motivasi ditingkatkan dengan umpan balik. Evaluasi dilakukan secara teratur agar tim memahami kemajuan dan kebutuhan perbaikan.

3. Jelaskan bagaimana membedakan jenis-jenis tim (functional, cross-functional, self-managed, dan virtual) serta gaya kepemimpinan yang sesuai untuk masing-masing!
Tim fungsional terdiri dari anggota dalam satu bidang. Gaya kepemimpinan yang sesuai adalah arahan yang terstruktur karena pekerjaan biasanya rutin. Tim lintas fungsi berisi anggota dari berbagai divisi. Kepemimpinan membutuhkan koordinasi kuat untuk menyatukan pandangan. Tim swakelola mengatur tugas tanpa pengawasan ketat. Pemimpin memberi pedoman umum lalu memberi ruang otonomi. Tim virtual bekerja dari lokasi berbeda. Pemimpin memperkuat komunikasi digital, menetapkan standar respons, dan memastikan semua anggota tetap terhubung.

4. Jelaskan tujuh strategi untuk meningkatkan efektivitas dan kolaborasi dalam tim kerja!
Efektivitas dan kolaborasi meningkat melalui penetapan tujuan yang jelas. Peran dijelaskan agar setiap orang tahu kontribusinya. Komunikasi dibangun dengan pertemuan rutin. Kolaborasi diperkuat melalui proyek bersama. Konflik ditangani dengan proses penyelesaian yang cepat dan objektif. Proses kerja dibuat sederhana agar tidak menghambat kinerja. Evaluasi berkala dilakukan untuk memperbaiki koordinasi dan hasil kerja tim.

5. Bagaimana menganalisis peran pemimpin puncak (CEO dan tim eksekutif) dalam menentukan arah strategis organisasi di tengah perubahan lingkungan bisnis? Pemimpin puncak menetapkan arah strategis dengan melihat perubahan teknologi, pasar, dan regulasi. Analisis lingkungan dilakukan untuk mengenali peluang dan ancaman. Informasi ini digunakan untuk menentukan prioritas strategis. CEO menyusun visi jangka panjang dan memastikan seluruh eksekutif memahami arah tersebut. Tim eksekutif menilai kapasitas internal dan menyiapkan langkah untuk menyesuaikan organisasi. Pemimpin puncak menggerakkan perubahan melalui kebijakan, alokasi sumber daya, dan pemantauan hasil.

6. Jelaskan langkah-langkah sistematis dalam pengembangan strategi kompetitif dan bagaimana melibatkan pemangku kepentingan utama dalam prosesnya!
Pengembangan strategi kompetitif dimulai dengan analisis kondisi industri. Langkah berikutnya adalah mengidentifikasi kekuatan internal. Peluang pasar dipetakan untuk menentukan posisi yang ingin dicapai. Opsi strategi disusun berdasarkan data pelanggan, kompetitor, dan tren. Pemangku kepentingan utama dilibatkan melalui diskusi, konsultasi, dan forum perencanaan. Masukan mereka membantu menilai risiko dan dampak keputusan. Strategi dipilih berdasarkan manfaat terbesar bagi organisasi lalu diterjemahkan ke dalam rencana kerja yang terukur. Implementasi dipantau agar langkah strategis berjalan sesuai tujuan.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 13

ELIYA AGUSTINA གིས-
Izin menjawab ibu,
2421011036_Eliya Agustina:

1. Kepemimpinan tim adalah kemampuan memengaruhi, mengoordinasikan, dan memberdayakan anggota tim agar bekerja secara sinergis untuk mencapai tujuan bersama. Pemimpin berperan membangun visi yang jelas, relevan, dan menantang, sekaligus menciptakan kepercayaan melalui konsistensi perilaku, kompetensi, komunikasi terbuka, serta keadilan dalam pengambilan keputusan. Visi memberi arah, sementara kepercayaan memperkuat kohesi dan komitmen tim.

2. Delapan determinan kinerja tim yang efektif meliputi tujuan yang jelas, peran yang terdefinisi, komposisi anggota yang tepat, norma dan proses kerja yang sehat, komunikasi yang efektif, kepercayaan dan kohesi, kepemimpinan yang mendukung, serta dukungan sumber daya dan sistem organisasi. Pemimpin memengaruhinya dengan menetapkan ekspektasi, menata struktur kerja, memfasilitasi komunikasi, menangani konflik, membangun iklim psikologis yang aman, serta menghubungkan tim dengan sumber daya strategis.

3. Tim fungsional terdiri dari anggota dalam departemen yang sama dan cocok dengan gaya kepemimpinan yang struktural dan berorientasi tugas. Tim lintas fungsi melibatkan berbagai keahlian dan membutuhkan pemimpin yang fasilitatif, kolaboratif, dan mampu menjembatani perbedaan perspektif. Tim swakelola (self-managed) menuntut gaya kepemimpinan yang memberdayakan dan berbasis kepercayaan karena kontrol formal bersifat minimal. Tim virtual, yang bekerja jarak jauh, membutuhkan pemimpin yang komunikatif, adaptif terhadap teknologi, serta mampu membangun kepercayaan dan koordinasi tanpa kehadiran fisik.

4. Efektivitas dan kolaborasi tim ditingkatkan melalui penetapan tujuan bersama yang terukur, klarifikasi peran dan tanggung jawab, penguatan komunikasi dua arah, pembangunan kepercayaan dan keamanan psikologis, pengelolaan konflik secara konstruktif, pemberian umpan balik berkelanjutan, serta pembelajaran dan refleksi tim secara rutin untuk perbaikan berkelanjutan.

5. Pemimpin puncak berperan memantau perubahan lingkungan eksternal, menafsirkan ancaman dan peluang, serta menerjemahkannya menjadi visi dan arah strategis organisasi. CEO dan tim eksekutif memastikan keselarasan antara strategi, struktur, budaya, dan sumber daya, membangun komitmen organisasi terhadap perubahan, serta menjaga keseimbangan antara kinerja jangka pendek dan keberlanjutan jangka panjang.

6. Pengembangan strategi kompetitif dimulai dengan analisis lingkungan eksternal (industri, pesaing, tren makro) dan internal (sumber daya, kapabilitas inti), dilanjutkan dengan identifikasi isu strategis dan perumusan alternatif strategi. Setelah evaluasi risiko dan manfaat, strategi terbaik dipilih, dikomunikasikan, dan diterjemahkan ke dalam rencana aksi. Pemangku kepentingan utama dilibatkan melalui konsultasi, forum strategis, dan mekanisme umpan balik agar tercipta legitimasi, komitmen, serta implementasi yang lebih efektif.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 13

Selin Faradina གིས-
Nama: SELIN FARADINA
NPM: 2421011017

1. Jelaskan konsep kepemimpinan tim dan peran pemimpin dalam membangun visi serta kepercayaan tim!
Jawab:
Kepemimpinan tim merupakan proses di mana seorang pemimpin mengarahkan, memotivasi, dan mengkoordinasikan anggota untuk mencapai tujuan kolektif melalui kerja sama yang efektif. Seorang pemimpin tim harus mampu menciptakan arah yang jelas melalui visi yang inspiratif, yaitu gambaran masa depan yang realistis dan menantang untuk memotivasi anggota. Dalam membangun visi, pemimpin perlu mengkomunikasikannya secara konsisten, memastikan setiap anggota memahami relevansi visi tersebut terhadap tugas mereka. Selain itu, membangun kepercayaan tim merupakan elemen krusial dalam kepemimpinan, karena kepercayaan meningkatkan komitmen, keterbukaan, dan kolaborasi. Pemimpin membangun kepercayaan melalui integritas, kompetensi, konsistensi tindakan, serta keberanian untuk memberikan dukungan dan umpan balik yang adil. Dengan demikian, kepemimpinan tim yang efektif bergantung pada kemampuan pemimpin menciptakan visi bersama dan lingkungan yang penuh kepercayaan.

2. Sebutkan delapan determinan kinerja tim yang efektif dan memahami cara pemimpin memengaruhinya?
Jawab:
Terdapat delapan determinan utama kinerja tim yang efektif, yaitu: tujuan yang jelas, struktur tim yang tepat, peran yang terdefinisi, norma kerja yang sehat, komunikasi terbuka, kohesi tim, dukungan organisasi, dan kepemimpinan yang efektif. Pemimpin memengaruhi tujuan tim melalui perumusan sasaran yang SMART dan selaras dengan strategi organisasi. Struktur dan peran dipengaruhi melalui pembagian tugas yang sesuai kompetensi. Norma kerja dibentuk melalui teladan pemimpin dan penerapan aturan kolaboratif. Komunikasi yang terbuka difasilitasi melalui mekanisme diskusi, keterbukaan informasi, dan penyelesaian konflik secara konstruktif. Kohesi tim dapat diperkuat ketika pemimpin menciptakan identitas bersama dan mendorong interaksi positif. Dukungan organisasi dijembatani oleh pemimpin melalui penyediaan sumber daya dan pelatihan. Secara keseluruhan, kepemimpinan menentukan baik buruknya dinamika internal dan efektivitas tim.

3. Jelaskan bagaimana membedakan jenis-jenis tim (functional, cross-functional, self-managed, dan virtual) serta gaya kepemimpinan yang sesuai untuk masing-masing!
Jawab:
Tim fungsional terdiri dari individu dalam departemen yang sama dengan keahlian serupa, sehingga gaya kepemimpinan yang sesuai adalah gaya direktif atau koordinatif, karena pemimpin perlu memastikan keselarasan dan efisiensi pekerjaan teknis. Tim lintas fungsi (cross-functional) menggabungkan anggota dari berbagai departemen untuk menyelesaikan tugas kompleks, sehingga membutuhkan gaya kepemimpinan kolaboratif dan integratif, khususnya dalam mengelola perbedaan perspektif. Tim swakelola (self-managed teams) memiliki otonomi tinggi dalam mengatur pekerjaan, sehingga gaya kepemimpinan yang optimal adalah gaya fasilitatif, yang menekankan pembinaan, pemberdayaan, dan penyediaan dukungan tanpa kontrol berlebihan. Tim virtual bekerja secara geografis terpisah dan bergantung pada teknologi komunikasi, sehingga membutuhkan kepemimpinan digital dan transformasional, dengan fokus pada kejelasan komunikasi, pemantauan berbasis sistem, dan penciptaan keterhubungan emosional meski tanpa interaksi fisik. Dengan demikian, gaya kepemimpinan harus selaras dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing jenis tim.

4. Jelaskan tujuh strategi untuk meningkatkan efektivitas dan kolaborasi dalam tim kerja!
Jawab:
Terdapat tujuh strategi utama untuk meningkatkan efektivitas dan kolaborasi tim kerja, yaitu: (1) merumuskan tujuan yang jelas dan dapat diukur untuk menciptakan arah kerja; (2) membangun struktur dan peran yang terdefinisi agar tidak terjadi tumpang tindih tugas; (3) mengembangkan komunikasi yang terbuka dan transparan untuk mendukung koordinasi; (4) mengelola konflik secara konstruktif sehingga perbedaan tidak menjadi hambatan; (5) meningkatkan kepercayaan antar anggota melalui integritas, tanggung jawab, dan saling menghargai; (6) memberikan pelatihan dan pengembangan kompetensi untuk meningkatkan kemampuan individual dan kolektif; serta (7) memanfaatkan teknologi kolaborasi untuk mempercepat koordinasi dan pengambilan keputusan. Strategi ini membantu menciptakan dinamika tim yang positif dan memperkuat kinerja.

5. Bagaimana menganalisis peran pemimpin puncak (CEO dan tim eksekutif) dalam menentukan arah strategis organisasi di tengah perubahan lingkungan bisnis?
Jawab:
Pemimpin puncak seperti CEO dan tim eksekutif memiliki peran krusial dalam merumuskan arah strategis organisasi, terutama di tengah perubahan lingkungan bisnis yang cepat dan tidak pasti. Mereka bertanggung jawab melakukan analisis lingkungan eksternal melalui pemindaian peluang dan ancaman, serta menilai kekuatan dan kelemahan internal organisasi. Selain itu, pemimpin puncak harus menciptakan visi strategis yang mampu merespons disrupsi dan mengarahkan organisasi pada masa depan yang berkelanjutan. Dalam menjalankan perannya, pemimpin puncak harus adaptif, mengambil keputusan berbasis data, serta memastikan strategi dijalankan melalui alokasi sumber daya yang tepat. Mereka juga berperan dalam membangun budaya organisasi yang inovatif dan fleksibel agar mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan pasar. Melalui kepemimpinan strategis yang kuat, organisasi dapat mempertahankan daya saing dan keberlanjutan bisnis.

6. Jelaskan langkah-langkah sistematis dalam pengembangan strategi kompetitif dan bagaimana melibatkan pemangku kepentingan utama dalam prosesnya!
Jawab:
Pengembangan strategi kompetitif melibatkan beberapa langkah sistematis, dimulai dari analisis lingkungan eksternal (melalui PESTEL atau five forces) dan analisis internal (melalui resource-based view) untuk memahami posisi kompetitif organisasi. Langkah selanjutnya adalah perumusan strategi berdasarkan diferensiasi, biaya rendah, inovasi, atau fokus pasar yang menjadi keunggulan kompetitif organisasi. Setelah strategi dirumuskan, organisasi menyusun rencana implementasi termasuk struktur organisasi, alokasi sumber daya, dan indikator kinerja. Pemantauan dan evaluasi kemudian dilakukan untuk memastikan strategi berjalan dengan efektif. Pelibatan pemangku kepentingan menjadi bagian penting dalam setiap tahap, termasuk karyawan, pelanggan, pemasok, investor, dan regulator. Pemangku kepentingan dilibatkan melalui komunikasi strategis, konsultasi, kolaborasi, dan partisipasi dalam proses pengambilan keputusan sehingga strategi yang dihasilkan lebih inklusif, realistis, dan mendapatkan dukungan luas.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 13

Afrida Jayanti གིས-
Nama : Afrida Jayanti
NPM. : 2421011013

1. Jelaskan konsep kepemimpinan tim dan peran pemimpin dalam membangun visi serta kepercayaan tim!
Jawab:
Kepemimpinan tim adalah kemampuan seorang pemimpin dalam mengarahkan, mengoordinasikan, dan memfasilitasi kerja sekelompok individu untuk mencapai tujuan bersama secara efektif. Konsep ini menekankan kolaborasi, komunikasi terbuka, dan pemberdayaan anggota tim. Dalam membangun visi, pemimpin berperan sebagai arsitek arah masa depan yang memberikan gambaran jelas tentang apa yang ingin dicapai tim dan mengapa hal itu penting. Visi yang kuat membantu menyatukan persepsi, meningkatkan motivasi, dan menciptakan makna bagi anggota tim. Selain itu, pemimpin juga berperan penting dalam membangun kepercayaan dengan menunjukkan integritas, konsistensi, dan komitmen terhadap nilai-nilai tim. Kepercayaan terbentuk melalui keterbukaan informasi, keteladanan, penghargaan terhadap kontribusi anggota, dan kemampuan pemimpin untuk menciptakan lingkungan aman secara psikologis, di mana setiap orang merasa dihargai dan bebas mengemukakan ide tanpa takut disalahkan.

2. Sebutkan delapan determinan kinerja tim yang efektif dan memahami cara pemimpin memengaruhinya?
Jawab:
Delapan determinan kinerja tim yang efektif meliputi: (1) tujuan yang jelas, (2) struktur tim yang tepat, (3) peran dan tanggung jawab yang jelas, (4) komunikasi terbuka, (5) kohesi dan kepercayaan, (6) kepemimpinan yang efektif, (7) dukungan organisasi, dan (8) kompetensi serta motivasi anggota. Pemimpin dapat memengaruhi setiap determinan tersebut melalui cara yang berbeda. Misalnya, pemimpin membantu menetapkan tujuan spesifik dan terukur, merancang struktur kerja yang sesuai kompetensi, serta memastikan setiap anggota memahami tugasnya. Pemimpin juga memfasilitasi komunikasi rutin, membangun budaya kolaboratif, dan menciptakan kepercayaan melalui keteladanan. Selain itu, pemimpin dapat mengadvokasi sumber daya tim kepada organisasi serta mendorong pengembangan keterampilan anggota agar kontribusi mereka optimal. Dengan memengaruhi determinan-determinan ini, pemimpin memastikan tim bekerja efektif dan selaras dengan tujuan organisasi.

3. Jelaskan bagaimana membedakan jenis-jenis tim (functional, cross-functional, self-managed, dan virtual) serta gaya kepemimpinan yang sesuai untuk masing-masing!
Jawab:
Tim fungsional terdiri dari anggota yang bekerja dalam bidang atau departemen yang sama, sehingga pemimpin cocok menggunakan gaya kepemimpinan direktif atau koordinatif yang menekankan efisiensi dan keseragaman tugas. Tim cross-functional mencakup anggota dari berbagai departemen untuk menyelesaikan proyek tertentu; gaya kepemimpinan yang sesuai adalah kolaboratif dan partisipatif, karena pemimpin perlu menyatukan perspektif lintas disiplin. Tim self-managed adalah tim yang mengatur dirinya sendiri, memutuskan pembagian kerja, bahkan menilai kinerjanya; pemimpin yang efektif menggunakan gaya delegatif dan empowering, berfokus pada fasilitasi dan pemberian otonomi. Sementara itu, tim virtual beroperasi tanpa batasan lokasi dengan komunikasi digital; gaya kepemimpinan yang tepat adalah komunikatif, transparan, dan relationship-oriented, karena pemimpin perlu menjaga keterhubungan, kejelasan informasi, serta pengawasan tanpa kontrol fisik. Dengan menyesuaikan gaya kepemimpinan dengan karakteristik tim, efektivitas kolaborasi dapat meningkat.

4. Jelaskan tujuh strategi untuk meningkatkan efektivitas dan kolaborasi dalam tim kerja!
Jawab:
Terdapat tujuh strategi penting untuk meningkatkan efektivitas dan kolaborasi tim: (1) menetapkan tujuan yang jelas dan dapat dicapai, (2) membangun komunikasi terbuka dan rutin, (3) menciptakan kepercayaan melalui transparansi dan konsistensi, (4) mengembangkan peran yang jelas agar tidak terjadi tumpang tindih tugas, (5) meningkatkan kompetensi anggota melalui pelatihan, (6) mendorong pengambilan keputusan partisipatif, dan (7) membangun budaya apresiasi terhadap kontribusi individu maupun tim. Pemimpin yang menerapkan strategi ini mampu menciptakan lingkungan kerja yang harmonis dan produktif, di mana anggota tim merasa dihargai, berdaya, dan berkomitmen. Strategi ini juga meningkatkan inovasi karena anggota tim terdorong untuk saling mendukung, bertukar ide, dan menghadapi tantangan bersama.

5. Bagaimana menganalisis peran pemimpin puncak (CEO dan tim eksekutif) dalam menentukan arah strategis organisasi di tengah perubahan lingkungan bisnis?
Jawab:
Pemimpin puncak seperti CEO dan tim eksekutif memiliki peran kritis dalam menetapkan arah strategis organisasi, terutama ketika lingkungan bisnis terus berubah. Mereka bertanggung jawab mengamati tren eksternal seperti teknologi, regulasi, kompetitor, serta perubahan perilaku pelanggan, lalu menerjemahkan temuan tersebut menjadi strategi jangka panjang yang adaptif. Analisis peran pemimpin puncak mencakup kemampuan mereka memformulasikan visi masa depan, membuat keputusan strategis berdasarkan data, dan memastikan strategi tersebut dieksekusi dengan efektif melalui struktur organisasi, budaya kerja, dan alokasi sumber daya. Selain itu, mereka berperan sebagai agen perubahan yang menginspirasi organisasi tetap lincah dalam merespons ketidakpastian. Pemimpin puncak juga memastikan bahwa komunikasi strategis berjalan dua arah sehingga seluruh karyawan memahami alasan perubahan dan komitmen organisasi terhadap strategi baru.

6. Jelaskan langkah-langkah sistematis dalam pengembangan strategi kompetitif dan bagaimana melibatkan pemangku kepentingan utama dalam prosesnya!
Jawab:
Pengembangan strategi kompetitif dilakukan melalui langkah-langkah sistematis: pertama, analisis lingkungan eksternal seperti peluang, ancaman, tren industri, dan perilaku pesaing menggunakan alat seperti PESTEL atau Porter’s Five Forces. Kedua, pemimpin menganalisis lingkungan internal meliputi sumber daya, kapabilitas, dan keunggulan kompetitif organisasi. Ketiga, merumuskan alternatif strategi seperti diferensiasi, keunggulan biaya, atau inovasi. Keempat, memilih strategi terbaik berdasarkan kelayakan, kesesuaian, dan potensi dampaknya. Kelima, mengimplementasikan strategi melalui perubahan struktur, proses, dan budaya organisasi. Keenam, melakukan evaluasi dan kontrol secara berkala untuk memastikan strategi berjalan sesuai tujuan. Dalam proses ini, pemangku kepentingan—seperti karyawan, pelanggan, pemasok, pemerintah, dan pemegang saham—perlu dilibatkan melalui konsultasi, forum diskusi, survei kebutuhan, dan komunikasi terbuka agar strategi yang dihasilkan relevan, mendapat dukungan luas, serta lebih mudah dieksekusi. Melibatkan pemangku kepentingan juga meningkatkan legitimasi dan keberlanjutan strategi tersebut.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 13

Fifkha Rizky Amalia གིས-
Fifkha Rizky Amalia - 2421011032

Izin menjawab Ibu
1. Konsep kepemimpinan tim dan peran pemimpin dalam membangun visi serta kepercayaan tim
Kepemimpinan tim itu intinya bagaimana seorang pemimpin bisa mengarahkan, memotivasi, dan menyatukan anggota tim untuk mencapai tujuan bersama. Pemimpin jadi sumber arah, penentu ritme kerja, sekaligus penjaga harmoninya tim. Peran pemimpin dalam membangun visi dan kepercayaan:
- Pemimpin harus bisa menjelaskan visi yang jelas dan mudah dipahami, supaya semua anggota tahu mereka lagi menuju ke mana.
- Pemimpin perlu konsisten antara ucapan dan tindakan, karena dari situlah rasa percaya muncul.
- Pemimpin juga harus transparan, mendengarkan anggota, memberi umpan balik yang sehat, dan menciptakan suasana kerja yang aman.

2. Delapan determinan kinerja tim yang efektif dan bagaimana pemimpin memengaruhinya
Delapan faktor penting kinerja tim:
1) Tujuan yang jelas
2) Peran yang terdefinisi
3) Komunikasi yang terbuka
4) Kohesi/kebersamaan tim
5) Kepemimpinan yang mendukung
6) Pengambilan keputusan yang efektif
7) Sumber daya yang memadai
8) Evaluasi dan umpan balik berkala
Cara pemimpin memengaruhinya:
- Menetapkan tujuan dan peran dengan jelas.
- Mendorong komunikasi dua arah dan menghargai masukan anggota.
- Membuat budaya kerja saling dukung.
- Menyediakan waktu, alat, atau pelatihan yang diperlukan.
- Memastikan keputusan diambil dengan proses yang adil dan rasional.
- Mengadakan review rutin untuk memantau perkembangan.

3. Perbedaan jenis-jenis tim dan gaya kepemimpinan yang tepat
Tim fungsional
Anggotanya berasal dari divisi yang sama.
Gaya kepemimpinan: lebih direktif dan terstruktur karena pekerjaannya biasanya rutin.
1) Tim lintas fungsi (cross-functional)
Anggotanya dari berbagai divisi.
Gaya kepemimpinan: kolaboratif dan komunikatif agar perspektif berbeda bisa menyatu.
2) Tim swakelola (self-managed)
Tim mengatur kerja mereka sendiri.
Gaya kepemimpinan: delegatif dan memberi kepercayaan, pemimpin fokus pada fasilitasi.
3) Tim virtual
Bekerja jarak jauh dengan teknologi.
Gaya kepemimpinan: penguatan komunikasi, responsif, dan menjaga keterhubungan.

4. Tujuh strategi meningkatkan efektivitas dan kolaborasi tim
- Menetapkan tujuan yang jelas dan terukur.
- Membuat aturan kerja/tata cara kolaborasi.
- Mendorong komunikasi terbuka dan rutin.
- Menyelesaikan konflik secara cepat dan adil.
- Memberikan pelatihan atau pengembangan kompetensi.
- Menggunakan teknologi untuk koordinasi.
- Memberi penghargaan atau pengakuan terhadap kontribusi anggota.

5. Peran pemimpin puncak dalam menentukan arah strategis organisasi
Pemimpin puncak seperti CEO bertugas membaca arah perubahan lingkungan bisnis lalu menyesuaikannya dengan strategi perusahaan. Mereka:
- Menganalisis peluang dan ancaman pasar.
- Menentukan prioritas strategis seperti inovasi produk, ekspansi, atau efisiensi.
- Menyelaraskan visi perusahaan dengan perubahan industri.
- Membangun budaya organisasi yang siap berubah.
- Mengkomunikasikan strategi ke seluruh level supaya semua bergerak ke arah yang sama.

6. Langkah-langkah pengembangan strategi kompetitif dan pelibatan pemangku kepentingan
Langkah-langkah pengembangan strategi:
- Analisis lingkungan (internal dan eksternal).
- Menentukan posisi kompetitif perusahaan.
- Merumuskan strategi utama berdasarkan keunggulan.
- Membuat rencana implementasi yang jelas.
- Mengevaluasi dan memperbaiki strategi secara berkala.
Pelibatan pemangku kepentingan bisa dilakukan dengan:
1) Melakukan konsultasi ke pimpinan unit, karyawan, pelanggan, atau mitra bisnis.
2) Mengambil umpan balik untuk menyempurnakan strategi.
3) Mengkomunikasikan tujuan secara terbuka supaya mereka merasa dilibatkan dan mau menjalankan rencana.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 13

Aninda Agustia Andiani གིས-
Izin bu, Saya Aninda Agustia Andiani NPM 2421011018,

1. Kepemimpinan tim mengacu pada kemampuan seorang pemimpin dalam mengarahkan, memfasilitasi, dan mendukung anggota agar dapat bekerja secara sinergis mencapai tujuan bersama. Peran pemimpin dalam konteks ini sangat penting untuk membangun visi yang dapat dipahami seluruh anggota, serta menciptakan kepercayaan melalui konsistensi sikap, transparansi komunikasi, dan dukungan terhadap kebutuhan anggota tim. Pemimpin harus mampu menanamkan keyakinan bahwa setiap individu memiliki kontribusi penting, sehingga tercipta lingkungan kerja yang aman, terbuka, dan berorientasi pada hasil.

2. Delapan determinan kinerja tim yang efektif meliputi tujuan yang jelas, struktur peran yang tepat, kompetensi anggota, iklim kepercayaan, komunikasi terbuka, kepemimpinan yang mendukung, sistem penghargaan yang adil, dan ketersediaan sumber daya yang memadai. Pemimpin memengaruhi seluruh aspek ini dengan menetapkan arah yang spesifik, memastikan anggota ditempatkan sesuai keahlian, membangun budaya kerja yang kolaboratif, menjaga arus informasi berjalan baik, memberi motivasi serta apresiasi, dan memastikan tim memiliki fasilitas yang dibutuhkan untuk menjalankan tugas secara optimal.

3. Tim fungsional terdiri dari anggota yang bekerja pada fungsi atau departemen yang sama dan biasanya cocok dengan gaya kepemimpinan yang terstruktur dan direktif. Tim lintas fungsi (cross-functional) beranggotakan individu dari berbagai bidang, sehingga memerlukan pemimpin yang mampu menjadi fasilitator dan penjembatan perbedaan perspektif. Tim swakelola (self-managed) diberi kewenangan untuk mengatur tugasnya sendiri sehingga lebih efektif dengan gaya kepemimpinan delegatif dan suportif. Sementara itu, tim virtual bekerja tanpa batas lokasi fisik dan membutuhkan pemimpin yang kuat dalam komunikasi digital, koordinasi jarak jauh, serta kemampuan membangun keterhubungan meskipun tidak bertemu langsung.

4. Tujuh strategi untuk meningkatkan efektivitas dan kolaborasi tim meliputi menetapkan tujuan yang terukur, memperjelas peran dan tanggung jawab, membangun komunikasi yang terbuka, memperkuat budaya saling percaya, mengatasi konflik secara konstruktif, memberikan pelatihan atau pengembangan kapasitas, dan menerapkan sistem penghargaan yang mendorong kolaborasi. Dengan menerapkan strategi tersebut, pemimpin dapat menciptakan suasana kerja yang saling mendukung sehingga kolaborasi tim semakin kuat.

5. Peran pemimpin puncak seperti CEO dan tim eksekutif sangat menentukan arah strategis organisasi karena mereka bertanggung jawab membaca dinamika lingkungan bisnis serta menyesuaikan strategi perusahaan. Mereka harus mampu mengantisipasi perubahan pasar, teknologi, dan regulasi, kemudian menerjemahkan analisis tersebut menjadi visi, prioritas, dan keputusan strategis. Pemimpin puncak juga mempengaruhi budaya organisasi dan menggerakkan seluruh unit agar selaras dengan arah yang ditetapkan, terutama dalam situasi ketidakpastian atau tekanan kompetitif.

6. Pengembangan strategi kompetitif dimulai dari analisis lingkungan eksternal dan internal, identifikasi peluang dan ancaman, penetapan posisi bersaing, perumusan alternatif strategi, pemilihan strategi yang paling efektif, serta implementasi dan evaluasinya secara berkelanjutan. Dalam proses ini, pemangku kepentingan utama seperti karyawan, pelanggan, investor, dan mitra strategis perlu dilibatkan untuk memastikan strategi yang dipilih sesuai kebutuhan nyata dan memiliki dukungan yang kuat dalam pelaksanaannya.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 13

Rica Sherly Permatasari གིས-
Rica Sherly Permatasari
2421011022

1. Jelaskan konsep kepemimpinan tim dan peran pemimpin dalam membangun visi serta kepercayaan tim!
Jawaban :
Kepemimpinan tim adalah kemampuan pemimpin mengarahkan, memotivasi, dan mengoordinasikan anggota tim untuk mencapai tujuan bersama secara efektif. Pemimpin tim berperan bukan hanya memberikan instruksi, tetapi juga menciptakan lingkungan kerja yang kolaboratif, penuh kepercayaan, dan berfokus pada hasil. Salah satu tanggung jawab utama pemimpin adalah membangun visi yang jelas, yaitu gambaran masa depan yang ingin dicapai oleh tim. Visi ini harus dikomunikasikan secara konsisten agar setiap anggota memahami arah kerja dan merasa menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut. Selain visi, pemimpin juga harus membangun kepercayaan melalui integritas, transparansi, dan konsistensi dalam keputusan maupun tindakan. Dengan kepercayaan yang kuat, anggota tim lebih berani mengambil inisiatif, saling mendukung, dan bekerja tanpa rasa takut terhadap kegagalan.

2. Sebutkan delapan determinan kinerja tim yang efektif dan memahami cara pemimpin memengaruhinya?
Jawaban :
Kinerja tim yang efektif ditentukan oleh delapan faktor utama, yaitu: (1) kejelasan tujuan, (2) komposisi tim yang tepat, (3) peran dan tanggung jawab yang jelas, (4) keterampilan interpersonal, (5) proses komunikasi yang baik, (6) kepemimpinan yang efektif, (7) dukungan organisasi, dan (8) evaluasi serta umpan balik berkelanjutan. Pemimpin memengaruhi setiap determinan ini dengan memastikan tujuan tim dirumuskan secara spesifik dan terukur, memilih anggota yang memiliki kompetensi saling melengkapi, serta menetapkan struktur kerja yang jelas. Pemimpin juga membangun komunikasi terbuka, memfasilitasi kerja sama, menyediakan pelatihan yang diperlukan, serta memastikan tim mendapatkan sumber daya dan dukungan organisasi. Pada tahap evaluasi, pemimpin memberikan umpan balik yang konstruktif untuk meningkatkan motivasi dan memperbaiki performa tim.

3. Jelaskan bagaimana membedakan jenis-jenis tim (functional, cross-functional, self-managed, dan virtual) serta gaya kepemimpinan yang sesuai untuk masing-masing!
Jawaban :
Tim fungsional terdiri dari anggota dengan bidang keahlian serupa dan biasanya bekerja pada divisi tertentu seperti pemasaran atau keuangan. Gaya kepemimpinan yang sesuai adalah direktif namun kolaboratif, karena tugas mereka biasanya rutin dan bersifat spesialis. Tim lintas fungsi (cross-functional) menggabungkan anggota dari berbagai departemen untuk menyelesaikan proyek tertentu. Pemimpin yang tepat harus menunjukkan gaya kepemimpinan fasilitatif, mampu mengoordinasikan perspektif berbeda, dan mengelola konflik antar fungsi. Tim swakelola (self-managed) adalah tim yang diberi otonomi tinggi untuk mengatur tugas, jadwal, dan pengambilan keputusan. Pemimpin yang cocok harus menggunakan gaya delegatif dan coaching yang menekankan pemberdayaan anggota. Tim virtual bekerja tanpa tatap muka langsung dan bergantung pada teknologi komunikasi. Pemimpin tim virtual harus sangat kuat dalam komunikasi digital, manajemen waktu, kejelasan instruksi, dan membangun kepercayaan melalui interaksi rutin.

4. Jelaskan tujuh strategi untuk meningkatkan efektivitas dan kolaborasi dalam tim kerja!
Jawaban :
Untuk meningkatkan efektivitas dan kolaborasi tim, terdapat tujuh strategi penting. Pertama, menetapkan visi dan tujuan yang jelas, sehingga semua anggota memahami arah kerja. Kedua, membangun komunikasi terbuka untuk mendorong pertukaran informasi dan ide secara bebas. Ketiga, menciptakan kepercayaan interpersonal melalui kejujuran, transparansi, dan konsistensi tindakan pemimpin. Keempat, mengelola peran dan ekspektasi secara jelas, sehingga tidak terjadi tumpang tindih tugas. Kelima, memberikan pelatihan dan pengembangan keterampilan, terutama dalam hal kolaborasi, pemecahan masalah, dan adaptasi perubahan. Keenam, mendorong budaya kerja sama dibanding kompetisi, agar anggota tim merasa aman untuk berkontribusi. Ketujuh, melakukan evaluasi dan umpan balik berkelanjutan, sehingga tim dapat memperbaiki proses dan meningkatkan kinerja secara terus-menerus.

5. Bagaimana menganalisis peran pemimpin puncak (CEO dan tim eksekutif) dalam menentukan arah strategis organisasi di tengah perubahan lingkungan bisnis?
Jawaban :
Pemimpin puncak seperti CEO dan tim eksekutif memiliki peran fundamental dalam merumuskan arah strategis organisasi, terutama ketika lingkungan bisnis berubah cepat akibat teknologi, globalisasi, atau dinamika pasar. Mereka bertugas memantau perubahan eksternal, mengidentifikasi peluang serta ancaman, dan menerjemahkan temuan tersebut menjadi strategi yang visioner namun realistis. Pemimpin puncak juga menentukan prioritas strategis, mengalokasikan sumber daya, dan memastikan seluruh unit organisasi selaras dengan strategi tersebut. Selain itu, mereka harus menjadi komunikator yang efektif dalam menyampaikan visi dan strategi agar seluruh karyawan memahami arah perubahan. Di tengah ketidakpastian, pemimpin puncak juga memiliki peran sebagai pengambil keputusan kunci, manajer risiko, dan penggerak budaya organisasi yang adaptif.

6. Jelaskan langkah-langkah sistematis dalam pengembangan strategi kompetitif dan bagaimana melibatkan pemangku kepentingan utama dalam prosesnya!
Jawaban :
Pengembangan strategi kompetitif melibatkan beberapa langkah sistematis. Pertama, organisasi melakukan analisis lingkungan eksternal (peluang dan ancaman) menggunakan alat seperti PESTEL atau analisis industri Porter. Kedua, perusahaan mengevaluasi kekuatan dan kelemahan internal melalui analisis sumber daya, kompetensi inti, dan kapabilitas organisasi. Ketiga, temuan eksternal dan internal digabungkan dalam analisis SWOT untuk menentukan posisi kompetitif. Keempat, organisasi merumuskan alternatif strategi, termasuk strategi diferensiasi, biaya rendah, atau fokus pada segmen tertentu. Kelima, strategi terbaik dipilih melalui pertimbangan kelayakan, risiko, dan kesesuaian terhadap visi organisasi. Keenam, pemimpin melibatkan pemangku kepentingan—seperti karyawan kunci, pelanggan, investor, dan mitra bisnis—melalui konsultasi, diskusi, dan penyelarasan tujuan. Pelibatan ini penting untuk mendapatkan komitmen dan meminimalkan resistensi. Terakhir, strategi diimplementasikan dan dievaluasi secara berkala untuk memastikan efektivitasnya dalam menghadapi dinamika kompetitif.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 13

Fernando Hosse Fahrezi གིས-
Izin Menjawab Ibu
Nama Fernando Hosse Fahrezi
Npm 2421011042

1. Konsep Kepemimpinan Tim dan Peran Pemimpin dalam Membangun Visi serta Kepercayaan Tim

Konsep Kepemimpinan Tim:
Kepemimpinan tim adalah kemampuan seorang pemimpin untuk memimpin kelompok yang bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Kepemimpinan ini menekankan kolaborasi, komunikasi terbuka, dan pemberdayaan anggota tim. Pemimpin tim bertanggung jawab untuk menciptakan iklim yang mendukung kerja tim yang produktif dan harmonis, serta memastikan bahwa setiap anggota memiliki peran yang jelas dalam pencapaian tujuan tim.

Peran Pemimpin dalam Membangun Visi dan Kepercayaan Tim:

a. Membangun Visi: Pemimpin harus mampu menyampaikan visi yang jelas dan menginspirasi, yang memberikan arah dan tujuan bagi tim. Visi ini harus menjadi kompas yang menyatukan tujuan individual menjadi tujuan bersama. Pemimpin perlu menjelaskan bagaimana setiap peran anggota tim berkontribusi terhadap pencapaian visi tersebut.

b. Membangun Kepercayaan: Kepercayaan adalah elemen kunci dalam kepemimpinan tim. Pemimpin harus membangun kepercayaan melalui konsistensi, integritas, dan transparansi dalam komunikasi serta pengambilan keputusan. Pemimpin yang dapat dipercaya akan memotivasi anggota tim untuk berpartisipasi aktif dan bertanggung jawab dalam pekerjaan mereka.

2. Delapan Determinan Kinerja Tim yang Efektif dan Cara Pemimpin Memengaruhinya

Berikut adalah delapan determinan yang mempengaruhi kinerja tim yang efektif:

1. Tujuan yang Jelas: Tim yang efektif memiliki tujuan yang jelas dan terukur. Pemimpin berperan penting dalam memastikan tujuan tim disampaikan secara jelas dan dipahami oleh semua anggota tim.

2. Komunikasi yang Efektif: Pemimpin harus memfasilitasi komunikasi yang terbuka, jujur, dan transparan antara anggota tim. Hal ini memastikan tidak ada misinformasi dan semua anggota tim merasa didengar.

3. Kepercayaan: Kepercayaan adalah pondasi bagi kerja sama yang baik. Pemimpin harus membangun kepercayaan dengan menunjukkan komitmen, memberikan dukungan, dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai yang dipegang oleh tim.

4. Keberagaman: Keberagaman keterampilan, latar belakang, dan perspektif meningkatkan kreativitas dan inovasi. Pemimpin harus menghargai perbedaan dan memanfaatkan keberagaman untuk meningkatkan kinerja tim.

5. Pengembangan Anggota Tim: Pemimpin yang baik terus mendorong pengembangan anggota tim melalui pelatihan, mentoring, dan pemberian umpan balik konstruktif.

6. Pemecahan Masalah secara Kolaboratif: Pemimpin harus menciptakan lingkungan yang mendukung pemecahan masalah secara kolaboratif, di mana setiap anggota tim merasa diberdayakan untuk berkontribusi dengan ide-ide kreatif mereka.

7. Kepemimpinan yang Efektif: Pemimpin yang efektif tahu kapan harus memimpin, memberi dukungan, dan membiarkan anggota tim berinisiatif. Gaya kepemimpinan yang tepat sesuai dengan situasi akan mempengaruhi kinerja tim.

8. Manajemen Konflik: Pemimpin harus mampu mengelola konflik dengan bijaksana, memastikan bahwa perbedaan pendapat tidak merusak hubungan kerja tim, melainkan menjadi kesempatan untuk berkembang.

3. Membedakan Jenis-jenis Tim dan Gaya Kepemimpinan yang Sesuai

a. Tim Fungsional (Functional Teams):

Definisi: Tim fungsional terdiri dari anggota yang memiliki spesialisasi dalam bidang yang sama dan bekerja pada tugas yang berhubungan dengan fungsi tertentu (misalnya, tim pemasaran, keuangan, atau produksi).

Gaya Kepemimpinan: Pemimpin tim fungsional umumnya menggunakan gaya kepemimpinan otoritatif atau direktif, di mana pemimpin memberikan arahan yang jelas mengenai tugas dan ekspektasi, karena tim ini sering kali fokus pada efisiensi dan spesialisasi.

b. Tim Lintas Fungsi (Cross-Functional Teams):

Definisi: Tim ini terdiri dari anggota yang memiliki keahlian dari berbagai bidang fungsional dan bekerja sama untuk menyelesaikan masalah atau proyek tertentu.

Gaya Kepemimpinan: Pemimpin tim lintas fungsi harus menggunakan gaya kepemimpinan kolaboratif dan partisipatif, di mana pemimpin memfasilitasi komunikasi antar anggota tim dengan latar belakang yang berbeda dan memastikan pemecahan masalah secara bersama-sama.

c. Tim Mandiri (Self-Managed Teams):

Definisi: Tim ini memiliki tingkat otonomi yang tinggi, di mana anggota tim mengatur tugas mereka sendiri tanpa pengawasan langsung dari atasan.

Gaya Kepemimpinan: Pemimpin yang efektif dalam tim mandiri sering menggunakan gaya kepemimpinan transformasional, yang mendorong pengembangan diri anggota tim dan memberikan kebebasan untuk mengambil inisiatif serta bertanggung jawab atas pekerjaan mereka.

d. Tim Virtual (Virtual Teams):

Definisi: Tim yang bekerja dari lokasi yang berbeda dan mengandalkan teknologi untuk berkomunikasi dan bekerja sama.

Gaya Kepemimpinan: Pemimpin tim virtual perlu mengadopsi gaya kepemimpinan berbasis teknologi dengan fokus pada komunikasi yang jelas, manajemen waktu yang efisien, dan penggunaan teknologi untuk memastikan kolaborasi tetap berjalan meskipun secara jarak jauh.

4. Tujuh Strategi untuk Meningkatkan Efektivitas dan Kolaborasi dalam Tim Kerja
a. Menetapkan Tujuan yang Jelas dan Terukur: Tujuan yang jelas memberikan arah dan fokus pada tim, memastikan bahwa setiap anggota tahu apa yang harus dicapai.
b. Meningkatkan Komunikasi: Membuka saluran komunikasi yang transparan dan mendukung dialog antar anggota tim.
c. Membangun Kepercayaan: Kepercayaan memungkinkan anggota tim untuk berbagi ide dan bekerja sama dengan lebih efektif.
d. Menghargai Keberagaman: Pemimpin perlu mengelola dan memanfaatkan keberagaman keterampilan, pengalaman, dan pandangan anggota tim untuk memperkaya proses pemecahan masalah.
e. Memberikan Umpan Balik Konstruktif: Memberikan umpan balik yang membantu anggota tim memperbaiki kinerja dan meningkatkan hasil kolaborasi.
d. Mengelola Konflik dengan Bijaksana: Menangani konflik secara terbuka dan konstruktif untuk menghindari eskalasi masalah dan mempertahankan hubungan yang sehat di dalam tim.
e. Mendorong Inovasi dan Kreativitas: Pemimpin harus menciptakan ruang bagi anggota tim untuk berpikir kreatif dan menciptakan solusi baru, baik dalam pekerjaan sehari-hari maupun dalam proyek-proyek baru.

5. Menganalisis Peran Pemimpin Puncak dalam Menentukan Arah Strategis Organisasi di Tengah Perubahan Lingkungan Bisnis

Pemimpin puncak, seperti CEO dan tim eksekutif, memainkan peran penting dalam menentukan arah strategis organisasi, terutama dalam menghadapi perubahan lingkungan bisnis yang cepat. Tugas mereka meliputi:

1. Visi dan Strategi Jangka Panjang: Pemimpin puncak harus memiliki visi yang jelas dan merumuskan strategi jangka panjang yang dapat menanggapi perubahan pasar, teknologi, dan kompetisi. Mereka harus mampu memprediksi tren dan memanfaatkan peluang yang ada.

2. Pengambilan Keputusan Berdasarkan Data dan Analisis: Dalam menghadapi ketidakpastian, keputusan strategis harus didasarkan pada data yang akurat dan analisis yang cermat terhadap kondisi pasar dan pesaing.

3. Pengelolaan Perubahan: Pemimpin puncak harus menjadi agen perubahan dalam organisasi, mengarahkan tim eksekutif untuk menavigasi perubahan organisasi yang mungkin diperlukan untuk beradaptasi dengan kondisi baru.

4. Kolaborasi dengan Pemangku Kepentingan: Pemimpin puncak harus menjaga komunikasi yang baik dengan pemangku kepentingan utama (seperti investor, karyawan, dan pelanggan) untuk memastikan dukungan dan pemahaman terhadap strategi yang diambil.

6. Langkah-langkah Sistematis dalam Pengembangan Strategi Kompetitif dan Melibatkan Pemangku Kepentingan

Langkah-langkah dalam pengembangan strategi kompetitif meliputi:
1. Analisis Lingkungan Eksternal dan Internal: Melakukan analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) untuk memahami kekuatan dan kelemahan internal serta peluang dan ancaman eksternal.
2. Penentuan Tujuan dan Sasaran Strategis: Menetapkan tujuan yang jelas, terukur, dan realistis sesuai dengan visi organisasi.
3. Pemilihan Strategi Kompetitif: Memilih antara strategi biaya rendah, diferensiasi produk, atau fokus pasar berdasarkan analisis yang telah dilakukan.
4. Implementasi Strategi: Mengembangkan rencana aksi yang jelas untuk implementasi strategi, serta mengalokasikan sumber daya yang diperlukan.
5. Pemantauan dan Evaluasi: Secara terus-menerus memantau
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 13

Mega Widiyaningrum གིས-
Mega Widiyaningrum - 2421011020

Izin Menjawab yah Bu..

1. Jelaskan konsep kepemimpinan tim dan peran pemimpin dalam membangun visi serta kepercayaan tim!
Jawab:
Kepemimpinan tim adalah kemampuan seorang pemimpin dalam mengarahkan, mengoordinasikan, dan mempengaruhi sekelompok individu agar dapat bekerja secara sinergis mencapai tujuan bersama. Dalam konteks ini, pemimpin tidak hanya bertindak sebagai instruktur, tetapi juga sebagai fasilitator yang menciptakan lingkungan kerja yang kondusif bagi kolaborasi, komunikasi terbuka, dan motivasi yang tinggi. Peran pemimpin dalam membangun visi sangat penting karena visi bertindak sebagai panduan arah bagi seluruh anggota tim; pemimpin harus mampu menjelaskan visi tersebut dengan cara yang inspiratif, realistis, dan mudah dipahami. Selain itu, pemimpin berperan dalam membangun kepercayaan tim melalui konsistensi perilaku, kejujuran, keteladanan, serta keterbukaan dalam mengambil keputusan. Kepercayaan tim terbentuk ketika pemimpin menunjukkan integritas, mendengarkan kebutuhan anggota, memberikan dukungan, dan menciptakan rasa aman untuk berpendapat tanpa rasa takut. Dengan kombinasi visi yang jelas dan kepercayaan yang kuat, tim akan lebih mudah mencapai tingkat kinerja optimal.

2. Sebutkan delapan determinan kinerja tim yang efektif dan memahami cara pemimpin memengaruhinya?
Jawab:
Ada delapan determinan penting yang memengaruhi kinerja tim yang efektif, yaitu:
1. Kejelasan tujuan – Tim membutuhkan tujuan yang jelas dan terukur; pemimpin berperan menyusun dan mengomunikasikan tujuan tersebut.
2. Keterampilan anggota tim – Pemimpin memastikan bahwa setiap anggota memiliki kompetensi yang sesuai serta memberikan pelatihan bila diperlukan.
3. Struktur tim – Pemimpin menentukan pembagian peran, aturan kerja, dan alur komunikasi agar tidak terjadi kebingungan.
4. Komunikasi yang efektif – Pemimpin mendorong budaya komunikasi terbuka dan transparan sehingga informasi mengalir dengan baik.
5. Dukungan organisasi – Pemimpin berperan mengakses sumber daya, fasilitas, dan kebijakan organisasi yang menunjang kerja tim.
6. Kepemimpinan yang kuat – Pemimpin menyediakan arahan, motivasi, serta dukungan emosional yang memacu kinerja tim.
7. Kohesi tim – Pemimpin menciptakan hubungan positif antar anggota melalui kegiatan team-building dan penyelesaian konflik.
8. Evaluasi dan umpan balik – Pemimpin melakukan pemantauan berkala dan memberikan umpan balik yang konstruktif untuk perbaikan berkelanjutan.

Dengan memahami dan mengelola semua determinan tersebut, pemimpin dapat meningkatkan efektivitas dan hasil kerja tim secara signifikan.

3. Jelaskan bagaimana membedakan jenis-jenis tim (functional, cross-functional, self-managed, dan virtual) serta gaya kepemimpinan yang sesuai untuk masing-masing!
Jawab:
Tim fungsional adalah tim yang terdiri dari anggota dengan keahlian serupa dan bekerja dalam satu departemen. Gaya kepemimpinan yang cocok untuk tim ini biasanya adalah kepemimpinan direktif atau struktural, karena tugas dan tanggung jawab sudah jelas, sehingga pemimpin perlu memastikan koordinasi dan standar kerja terpenuhi.

Tim cross-functional terdiri dari anggota dari berbagai departemen dengan keahlian berbeda yang bekerja sama untuk proyek tertentu. Tim ini membutuhkan gaya kepemimpinan kolaboratif, di mana pemimpin bertindak sebagai fasilitator yang mengintegrasikan perspektif beragam dan mendorong komunikasi antar fungsi.

Tim self-managed adalah tim yang diberi kewenangan untuk mengatur tugas mereka sendiri tanpa pengawasan intens. Pemimpin yang ideal untuk tim ini menggunakan gaya kepemimpinan delegatif atau empowering, yaitu memberikan otonomi tinggi namun tetap menyediakan arah strategis dan dukungan jika dibutuhkan.

Tim virtual adalah tim yang bekerja jarak jauh dan terhubung melalui teknologi. Untuk jenis ini, pemimpin harus menerapkan gaya kepemimpinan berbasis komunikasi digital, dengan menekankan kejelasan instruksi, koordinasi yang intens melalui platform daring, serta membangun kepercayaan melalui transparansi dan akuntabilitas.

4. Jelaskan tujuh strategi untuk meningkatkan efektivitas dan kolaborasi dalam tim kerja!
Jawab:
Tujuh strategi penting untuk meningkatkan efektivitas dan kolaborasi tim kerja antara lain:
1. Menetapkan tujuan yang jelas dan terukur, sehingga semua anggota memahami arah dan prioritas tim.
2. Membangun komunikasi terbuka, melalui ruang diskusi, pertemuan rutin, dan penggunaan teknologi kolaboratif.
3. Mengembangkan kepercayaan antar anggota, melalui keterbukaan, penghargaan, dan keteladanan pemimpin.
4. Menyusun struktur kerja dan pembagian tugas yang tepat, agar tidak terjadi tumpang tindih atau konflik peran.
5. Meningkatkan kompetensi anggota, dengan menyediakan pelatihan, mentoring, serta kesempatan belajar berkelanjutan.
6. Mengelola konflik secara konstruktif, dengan teknik mediasi, kompromi, atau dialog terbuka untuk menemukan solusi terbaik.
7. Memberikan penghargaan dan umpan balik positif, sehingga anggota termotivasi dan terus memperbaiki kinerjanya.

Jika ketujuh strategi ini dijalankan secara konsisten, kolaborasi dalam tim akan semakin kuat dan hasil kerja akan meningkat.

5. Bagaimana menganalisis peran pemimpin puncak (CEO dan tim eksekutif) dalam menentukan arah strategis organisasi di tengah perubahan lingkungan bisnis?
Jawab:
Pemimpin puncak memiliki peran fundamental dalam menetapkan arah strategis organisasi, terutama di tengah lingkungan bisnis yang cepat berubah. CEO dan tim eksekutif harus mampu melakukan analisis terhadap kondisi internal dan eksternal, seperti tren pasar, teknologi baru, regulasi, serta dinamika kompetisi. Berdasarkan informasi tersebut, mereka menentukan visi strategis yang relevan, menetapkan prioritas, serta menyusun kebijakan yang memandu seluruh organisasi. Selain itu, pemimpin puncak bertanggung jawab memastikan bahwa budaya organisasi mendukung perubahan, inovasi, dan adaptasi. Mereka juga harus menjadi role model dalam menghadapi ketidakpastian dengan memberikan komunikasi yang jelas, menjaga moral karyawan, serta mengambil keputusan yang cepat namun tetap berbasis data. Untuk mengatasi perubahan lingkungan bisnis, pemimpin puncak juga harus menjalin hubungan dengan pemangku kepentingan eksternal seperti investor, pemerintah, pemasok, dan komunitas agar strategi yang dibangun dapat berjalan secara efektif.

6. Jelaskan langkah-langkah sistematis dalam pengembangan strategi kompetitif dan bagaimana melibatkan pemangku kepentingan utama dalam prosesnya!

Pengembangan strategi kompetitif biasanya mengikuti langkah-langkah sistematis sebagai berikut:
1. Analisis lingkungan eksternal, seperti kondisi pasar, peluang, ancaman, serta kompetitor dengan menggunakan alat seperti PESTEL atau analisis lima kekuatan Porter.
2. Analisis lingkungan internal, termasuk sumber daya, kompetensi inti, kinerja, dan kelemahan organisasi, sehingga diketahui posisi kompetitif perusahaan.
3. Menentukan visi dan tujuan strategis, yang menjadi dasar dari arah jangka panjang dan target keberhasilan organisasi.
4. Merumuskan alternatif strategi, seperti strategi diferensiasi, kepemimpinan biaya, inovasi, atau fokus pasar tertentu.
5. Memilih strategi terbaik, berdasarkan evaluasi risiko, potensi keuntungan, kemampuan sumber daya, dan kesesuaian dengan tujuan organisasi.
6. Mengimplementasikan strategi, dengan menetapkan rencana kerja, pembagian tanggung jawab, alokasi anggaran, serta penetapan indikator kinerja.
7. Melakukan evaluasi dan penyesuaian, untuk memastikan strategi tetap relevan dengan perubahan bisnis.

Dalam proses ini, pemangku kepentingan utama—seperti karyawan, pelanggan, mitra bisnis, investor, dan regulator—harus dilibatkan melalui konsultasi, diskusi kelompok, survei, atau rapat koordinatif. Keterlibatan mereka memastikan bahwa strategi yang dirumuskan sesuai kebutuhan pasar, dapat diterima secara internal, dan memiliki dukungan luas sehingga implementasinya lebih efektif dan berkelanjutan.

Terima Kasih..
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 13

Adrian Kevin Prathama གིས-

Adrian Kevin Prathama - 2421011024

Izin menjawab Bu Nova


1. Konsep Kepemimpinan Tim dan Peran Pemimpin dalam Membangun Visi serta Kepercayaan Tim

Kepemimpinan tim adalah kemampuan seorang pemimpin untuk mengoordinasikan anggota tim, memotivasi mereka, serta mengarahkan upaya kolektif untuk mencapai tujuan bersama. Pemimpin tim tidak hanya mengatur pekerjaan, tetapi juga membina hubungan interpersonal, mengelola konflik, dan menciptakan budaya kolaboratif.

Peran Pemimpin dalam Visi dan Kepercayaan

·       Membangun visi tim

o   Mengomunikasikan arah dan tujuan yang jelas.

o   Menjabarkan nilai-nilai yang menjadi dasar perilaku tim.

o   Menghubungkan visi dengan peran masing-masing anggota.

·       Membangun kepercayaan tim

o   Menunjukkan integritas, transparansi, dan konsistensi perilaku.

o   Menghargai kontribusi tiap anggota tim.

o   Menciptakan ruang aman untuk berbagi ide tanpa takut disalahkan.

Pada praktiknya, pemimpin yang dipercaya dapat menggerakkan tim secara sukarela, bukan hanya karena instruksi.

 

2. Delapan Determinan Kinerja Tim yang Efektif dan Peran Pemimpin

Determinannya

Cara Pemimpin Mempengaruhi

Tujuan yang jelas

Menetapkan sasaran SMART; menyelaraskan peran.

Struktur tim

Menyesuaikan jumlah anggota, peran, alur kerja.

Norma dan budaya

Menetapkan nilai, aturan komunikasi, dan etika tim.

Keahlian anggota

Menyediakan pelatihan, coaching, dan rekrutmen tepat.

Kepemimpinan

Menjadi role model, membina kepercayaan.

Komunikasi efektif

Menjadwalkan rapat berkala, open feedback.

Motivasi dan penghargaan

Memberikan pengakuan, reward, dan promosi.

Teknologi dan sarana

Menyediakan alat pendukung kerja digital/operasional.

 

3. Tipe Tim dan Gaya Kepemimpinan yang Sesuai

Jenis Tim

Karakteristik

Gaya Kepemimpinan yang Tepat

Functional

Terdiri dari satu divisi dengan keahlian sama.

Direktif-bimbingan, fokus pada standarisasi.

Cross-Functional

Anggota dari berbagai departemen.

Kolaboratif, fasilitatif, demokratis.

Self-Managed

Anggota mengatur pekerjaannya sendiri, minim pengawasan.

Delegatif; fokus monitoring & motivasi.

Virtual Team

Bekerja jarak jauh, berbasis teknologi.

Transformasional, komunikatif, berbasis kepercayaan.

 

4. Tujuh Strategi Meningkatkan Efektivitas dan Kolaborasi Tim

  1. Menetapkan tujuan yang jelas dan terukur.
  2. Mendorong komunikasi terbuka dan saling menghargai.
  3. Menggunakan gaya kepemimpinan situasional sesuai dinamika tim.
  4. Membangun budaya berbagi pengetahuan dan mentoring.
  5. Memberikan penghargaan atas kontribusi kolektif dan individu.
  6. Mengelola konflik secara konstruktif melalui dialog terbuka.
  7. Mengoptimalkan teknologi pendukung kolaborasi (tools digital).

 

5. Peran Pemimpin Puncak (CEO & Executive Team) dalam Arah Strategis Organisasi 

Pemimpin puncak memegang peran sentral dalam membaca perubahan lingkungan bisnis dan menetapkan arah strategis organisasi.

 Peran Utama CEO & Tim Eksekutif

  • Visioner Strategis: Menentukan misi dan visi jangka panjang.
  • Pengambilan Keputusan Kritis: Menentukan prioritas, investasi, dan risiko bisnis.
  • Change Leadership: Mengelola perubahan agar organisasi adaptif.
  • Pembentuk Budaya Korporasi: Menciptakan nilai yang mendukung inovasi & etika.
  • Pengelola Hubungan Eksternal: Membangun relasi dengan pemerintah, investor, mitra bisnis. 

Keberhasilan strategi bergantung pada kemampuan pemimpin puncak dalam menyeimbangkan stabilitas bisnis dan inovasi.

 

6. Langkah Sistematis dalam Pengembangan Strategi Kompetitif & Pelibatan Pemangku Kepentingan

Tahapan Pengembangan Strategi Kompetitif

Pelibatan Stakeholder Utama

Analisis lingkungan internal & eksternal (SWOT, PESTEL, Porter)

Melibatkan tim analis, unit bisnis, regulator.

Penentuan visi dan tujuan strategis

Konsultasi dengan board, manajemen puncak.

Formulasi alternatif strategi

Diskusi dengan divisi produksi, marketing, SDM, keuangan.

Pemilihan strategi terbaik

Melibatkan dewan komisaris, investor.

Implementasi strategi

Kolaborasi dengan seluruh karyawan, vendor, mitra bisnis.

Evaluasi & kontrol

Feedb

 


In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 13

Vindi Millenia Putri གིས-
Nama : Vindi Milenia Putri
NPM : 2421011006

1. Jelaskan konsep kepemimpinan tim dan peran pemimpin dalam membangun visi serta kepercayaan tim!
Jawab :
Kepemimpinan tim adalah kemampuan seorang pemimpin untuk mengarahkan, memotivasi, dan mengoordinasikan anggota tim agar mencapai tujuan bersama secara efektif. Dalam kepemimpinan tim, pemimpin berperan penting menciptakan visi yang jelas sehingga seluruh anggota memahami arah yang ingin dicapai. Selain itu, pemimpin juga harus membangun kepercayaan melalui konsistensi tindakan, komunikasi terbuka, dan keadilan dalam pengambilan keputusan. Kepercayaan memungkinkan anggota tim merasa aman untuk berkolaborasi, saling mendukung, dan mengambil risiko demi kemajuan tim.

2. Sebutkan delapan determinan kinerja tim yang efektif dan memahami cara pemimpin memengaruhinya?
Jawab :
Delapan determinan kinerja tim yang efektif meliputi:
- Tujuan yang jelas
- Struktur tim yang baik
- Peran yang terdefinisi
- Komunikasi efektif
- Kohesi tim
- Dukungan organisasi
- Keterampilan dan keahlian anggota
- Kepemimpinan yang kompeten.
Pemimpin dapat memengaruhi faktor-faktor ini dengan menetapkan arah dan tujuan yang jelas, memastikan pembagian tugas yang tepat, membangun budaya komunikasi terbuka, dan memberikan umpan balik yang konstruktif. Selain itu, pemimpin juga memfasilitasi pelatihan anggota, menjaga motivasi, serta memastikan bahwa tim memperoleh sumber daya yang diperlukan.

3. Jelaskan bagaimana membedakan jenis-jenis tim (functional, cross-functional, self-managed, dan virtual) serta gaya kepemimpinan yang sesuai untuk masing-masing!
Jawab :
Tim fungsional terdiri dari anggota yang bekerja dalam bidang atau departemen yang sama, sehingga gaya kepemimpinan yang cocok adalah gaya direktif atau coaching yang memastikan koordinasi teknis berjalan lancar. Tim lintas-fungsi (cross-functional) beranggotakan individu dari berbagai departemen, sehingga pemimpin perlu menggunakan gaya kolaboratif dan fasilitatif untuk menyatukan perspektif yang berbeda. Tim swakelola (self-managed) diberi kewenangan mengatur pekerjaannya sendiri, sehingga pemimpin berperan sebagai mentor atau pemberi arah strategis, bukan pengawas harian. Sementara itu, tim virtual bekerja dari lokasi yang berbeda dan mengandalkan teknologi komunikasi, sehingga pemimpin perlu mengadopsi gaya kepemimpinan berbasis komunikasi, membangun kejelasan informasi, serta menjaga keterhubungan emosional antaranggota.

4. Jelaskan tujuh strategi untuk meningkatkan efektivitas dan kolaborasi dalam tim kerja!
Jawab :
Strategi untuk meningkatkan efektivitas dan kolaborasi tim antara lain:
- Membangun tujuan yang jelas dan terukur
- Menciptakan komunikasi yang terbuka dan transparan
- Memperjelas peran dan tanggung jawab individu
- Membangun kepercayaan melalui konsistensi perilaku
- Memberikan umpan balik secara rutin
- Memfasilitasi kolaborasi melalui kegiatan yang meningkatkan hubungan interpersonal
- Menyediakan pelatihan serta pengembangan keterampilan tim.
Ketika strategi ini diterapkan, tim akan lebih mampu berkoordinasi dan menyelesaikan pekerjaan secara sinergis.

5. Bagaimana menganalisis peran pemimpin puncak (CEO dan tim eksekutif) dalam menentukan arah strategis organisasi di tengah perubahan lingkungan bisnis?
Jawab :
Pemimpin puncak seperti CEO dan eksekutif senior memegang peranan penting dalam menetapkan visi jangka panjang dan arah strategis organisasi. Di tengah perubahan lingkungan bisnis yang cepat, mereka harus mampu membaca tren, mengantisipasi risiko, dan mengambil keputusan strategis yang menjaga daya saing perusahaan. Pemimpin puncak juga bertanggung jawab memobilisasi seluruh organisasi agar selaras dengan strategi, membangun budaya yang adaptif, serta memastikan keberlanjutan bisnis melalui inovasi. Keberhasilan organisasi sangat bergantung pada kemampuan mereka menggabungkan analisis lingkungan eksternal dengan kapabilitas internal perusahaan.

6. Jelaskan langkah-langkah sistematis dalam pengembangan strategi kompetitif dan bagaimana melibatkan pemangku kepentingan utama dalam prosesnya!
Jawab :
Pengembangan strategi kompetitif biasanya melalui langkah-langkah sistematis seperti analisis lingkungan eksternal (peluang dan ancaman), analisis internal organisasi (kekuatan dan kelemahan), identifikasi keunggulan bersaing, formulasi strategi, serta implementasi dan evaluasi strategi. Pemangku kepentingan utama perlu dilibatkan melalui konsultasi, diskusi strategis, survei kebutuhan, atau forum komunikasi untuk memastikan strategi yang diputuskan mencerminkan kepentingan bersama. Pelibatan tersebut meningkatkan legitimasi, dukungan, serta memperkuat keberhasilan implementasi strategi karena para pemangku kepentingan merasa menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 13

ADE AYU RYANA 2421011043 གིས-
izin menjawab
Ade Ayu Ryana 2421011043
Konsep Kepemimpinan Tim dan Peran Pemimpin dalam Membangun Visi serta Kepercayaan Tim

1. Kepemimpinan tim adalah kemampuan seorang pemimpin untuk mengarahkan, menyatukan, dan mengoptimalkan kontribusi anggota agar tujuan kelompok dapat tercapai secara efektif. Dalam konteks ini, pemimpin bukan sekadar pemberi instruksi, melainkan fasilitator yang memastikan kolaborasi berjalan lancar dan setiap anggota merasa dihargai.
Peran paling penting dari pemimpin tim adalah membangun visi yang jelas. Visi ini menjadi kompas yang menyatukan orientasi seluruh anggota. Pemimpin harus mampu menerjemahkan visi tersebut ke dalam tujuan spesifik, menjelaskan maknanya, serta memastikan semua anggota memahami arah yang dituju.
Selain itu, pemimpin juga berperan dalam membangun kepercayaan tim. Kepercayaan muncul ketika pemimpin menunjukkan konsistensi, integritas, keterbukaan, dan rasa peduli. Dengan memperlihatkan keadilan, menghargai kontribusi individu, serta menciptakan lingkungan komunikasi terbuka, pemimpin mendorong tim untuk bekerja lebih harmonis tanpa rasa takut atau kecemasan.

2. Delapan Determinan Kinerja Tim yang Efektif dan Cara Pemimpin Memengaruhinya
Terdapat delapan determinan utama yang membuat tim bekerja secara efektif. Pertama, tujuan yang jelas, yang membantu setiap anggota memahami prioritas. Kedua, peran yang didefinisikan, sehingga tidak terjadi tumpang tindih pekerjaan. Ketiga, komposisi anggota, di mana keahlian dan kepribadian yang beragam dapat saling melengkapi.
Keempat, norma atau aturan kerja, yang memberikan pedoman perilaku dalam kolaborasi. Kelima, komunikasi efektif, agar informasi mengalir tanpa hambatan. Keenam, kohesi dan solidaritas, yang membuat anggota merasa terhubung dengan tim. Ketujuh, kepemimpinan yang mendukung, khususnya yang mampu memfasilitasi, tidak hanya mengontrol. Terakhir, kedelapan, sumber daya dan dukungan organisasi, seperti teknologi, pelatihan, dan fasilitas memadai.
Pemimpin memengaruhi semua determinan ini dengan cara mengkomunikasikan visi, menempatkan anggota sesuai kompetensi, membangun norma positif, mendorong komunikasi terbuka, serta memberi feedback dan dukungan yang konsisten sepanjang proses kerja.

3. Jenis-Jenis Tim dan Gaya Kepemimpinan yang Sesuai
Tim fungsional terdiri dari anggota dengan keahlian serupa dalam satu departemen. Gaya kepemimpinan yang cocok adalah gaya yang lebih terstruktur dan direktif, karena mereka bekerja dalam lingkup kerja yang relatif homogen dan membutuhkan koordinasi yang jelas.
Tim lintas fungsi (cross-functional) menggabungkan individu dari berbagai departemen. Karena keberagaman perspektif cukup tinggi, pemimpin perlu mengadopsi gaya kolaboratif dan fasilitatif dengan fokus pada integrasi ide, manajemen konflik, dan keselarasan tujuan.
Tim self-managed memiliki tingkat otonomi tinggi dan dapat mengambil keputusan sendiri. Pada tim seperti ini, pemimpin sebaiknya menggunakan gaya delegatif atau empowering — memberikan ruang bagi anggota untuk mengatur sendiri ritme, metode kerja, dan peran mereka.
Tim virtual bekerja di lokasi berbeda dan terhubung melalui teknologi. Gaya kepemimpinan yang tepat adalah gaya yang menekankan komunikasi intens, kejelasan instruksi, monitoring berbasis hasil, serta penggunaan teknologi untuk menciptakan rasa kebersamaan meski fisik terpisah.

4. Tujuh Strategi untuk Meningkatkan Efektivitas dan Kolaborasi Tim
Untuk meningkatkan efektivitas dan kolaborasi, beberapa strategi dapat diterapkan.
1. memperjelas tujuan dan ekspektasi sejak awal. Ketika arah jelas, tim lebih mudah menyelaraskan energi dan waktu.
2. membangun komunikasi terbuka yang menghindarkan miskomunikasi dan memfasilitasi pertukaran ide.
3. mengembangkan kepercayaan melalui transparansi dan keadilan.
4. memperkuat peran dan akuntabilitas agar setiap anggota mengetahui tanggung jawabnya.
5. menumbuhkan budaya kolaborasi dengan mendorong kerjasama lintas fungsi dan mengurangi silo.
6. menyediakan pelatihan serta pengembangan kompetensi agar anggota merasa didukung dalam pekerjaannya.
7. melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala untuk memperbaiki proses dan meningkatkan kinerja tim dari waktu ke waktu.

5. Analisis Peran Pemimpin Puncak dalam Menentukan Arah Strategis Organisasi
Pemimpin puncak seperti CEO dan tim eksekutif memiliki peran kritis karena mereka menentukan arah organisasi di tengah dinamika lingkungan bisnis yang sering tidak pasti. Mereka berfungsi sebagai arsitek strategi yang membaca perubahan eksternal — seperti teknologi, regulasi, preferensi konsumen, dan kompetisi — lalu menerjemahkannya ke dalam keputusan strategis.
Pemimpin puncak harus mampu bekerja dengan analisis jangka panjang, mengelola risiko, dan menciptakan visi strategis yang adaptif. Mereka juga perlu mengomunikasikan strategi tersebut secara jelas kepada organisasi agar seluruh unit bergerak dengan arah yang sama. Di masa perubahan, pemimpin puncak menjadi penggerak budaya inovasi, pengendali prioritas, sekaligus penjaga stabilitas agar organisasi tidak kehilangan identitasnya.

6. Langkah-Langkah Sistematis Pengembangan Strategi Kompetitif dan Keterlibatan Pemangku Kepentingan
Pengembangan strategi kompetitif dilakukan melalui beberapa langkah sistematis. Proses biasanya dimulai dengan analisis lingkungan — baik internal maupun eksternal — untuk mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman. Analisis ini membantu menentukan posisi organisasi di pasar.
Langkah berikutnya adalah merumuskan tujuan strategis yang ingin dicapai. Setelah itu, organisasi perlu mengembangkan alternatif strategi yang dapat mendukung tujuan tersebut, seperti inovasi produk, diferensiasi layanan, atau efisiensi biaya. Pemilihan strategi dilakukan melalui evaluasi kelayakan, relevansi, dan risiko.
Melibatkan pemangku kepentingan menjadi bagian penting dari proses ini. Karyawan, pelanggan, mitra bisnis, regulator, dan investor dapat memberikan perspektif yang beragam, sehingga strategi yang dihasilkan lebih komprehensif dan realistis. Pelibatan ini bisa dilakukan melalui konsultasi, survei, forum diskusi, hingga kolaborasi langsung dalam implementasi strategi.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 13

Jennie Anggraeni Maesa གིས-
Nama : Jennie Anggraeni Maesa
Npm : 2421011051

izin menjawab Evaluasi ibu,
1. Konsep kepemimpinan tim dan peran pemimpin dalam membangun visi serta kepercayaan tim
Kepemimpinan tim menekankan kemampuan seorang pemimpin untuk mengarahkan kelompok agar bekerja secara selaras menuju tujuan bersama. Seorang pemimpin tidak hanya mengatur tugas, tetapi juga menciptakan lingkungan kerja yang kondusif, memotivasi anggota, serta memastikan komunikasi berjalan terbuka. Dalam membangun visi, pemimpin bertugas merumuskan arah masa depan yang jelas, mudah dipahami, dan menyalakan semangat anggota tim. Visi yang kuat menjadi pemandu keputusan dan memberikan makna terhadap pekerjaan yang dilakukan.
Selain visi, pemimpin juga harus membangun kepercayaan dengan menunjukkan integritas, konsistensi, dan keterbukaan. Kepercayaan membuat anggota berani menyampaikan ide, mengambil inisiatif, dan merasa aman dalam bekerja. Ketika visi jelas dan kepercayaan terbentuk, kinerja tim akan lebih solid dan kolaborasi meningkat.
2. Delapan determinan kinerja tim yang efektif dan bagaimana pemimpin memengaruhinya
Delapan faktor utama yang menentukan efektivitas tim meliputi: kejelasan tujuan, struktur peran, komposisi keahlian, standar kinerja, komunikasi terbuka, kolaborasi, kepemimpinan yang mendukung, dan sistem penghargaan yang adil. Pemimpin memengaruhi faktor-faktor ini melalui cara mereka berkomunikasi, membagi tugas, serta membangun budaya kerja yang menghargai hasil maupun proses.
Pemimpin yang mampu memberikan arah yang jelas, memastikan peran tidak tumpang tindih, menjaga arus informasi, dan mendorong kerja sama akan membuat tim bekerja lebih efisien. Selain itu, pemimpin dapat memperkuat motivasi melalui penghargaan yang proporsional dan dukungan moral, sehingga standar kinerja tetap tinggi dan konsisten.
3. Membedakan jenis-jenis tim dan gaya kepemimpinan yang sesuai
Tim fungsional terdiri dari anggota yang bekerja dalam satu divisi yang sama; gaya kepemimpinan yang paling cocok adalah directive atau coaching, karena pemimpin perlu memastikan spesialis bekerja sinkron. Tim lintas fungsi (cross-functional) berisi orang dari berbagai departemen; gaya kepemimpinan yang sesuai adalah kolaboratif, karena pemimpin harus menjadi jembatan antar keahlian berbeda.
Tim swakelola (self-managed) memiliki otonomi tinggi sehingga pemimpin berperan sebagai fasilitator, bukan pengontrol; gaya delegatif paling tepat. Sementara itu, tim virtual yang bekerja secara geografis tersebar memerlukan pemimpin dengan gaya komunikatif dan empowering, yang memastikan koordinasi tetap lancar meskipun tanpa tatap muka. Setiap jenis tim memerlukan pendekatan yang berbeda sesuai dinamika kerja internalnya.
4. Tujuh strategi meningkatkan efektivitas dan kolaborasi tim kerja
Beberapa strategi penting untuk memperkuat efektivitas tim meliputi: menetapkan tujuan yang jelas, memperkuat komunikasi terbuka, membangun aturan kerja (norms) yang disepakati, memastikan peran dan tanggung jawab terdefinisi, mendorong kepercayaan dan transparansi, menyediakan pelatihan yang relevan, serta menciptakan sistem evaluasi dan umpan balik yang konstruktif.
Ketika strategi-strategi tersebut dijalankan secara konsisten, tim akan lebih mudah berkolaborasi karena memiliki arah yang sama, memahami ekspektasi, serta memiliki ruang untuk terus memperbaiki diri. Pemimpin yang aktif memfasilitasi proses ini akan mampu menjaga keterlibatan dan meningkatkan produktivitas tim secara berkelanjutan.
5. Peran pemimpin puncak dalam menentukan arah strategis organisasi di tengah perubahan lingkungan bisnis
CEO dan tim eksekutif berperan sebagai pengarah utama organisasi, terutama dalam situasi bisnis yang penuh ketidakpastian. Mereka harus mampu membaca tren eksternal, merumuskan strategi yang adaptif, serta memastikan seluruh unit organisasi bergerak selaras dengan strategi tersebut. Dalam kondisi lingkungan yang berubah cepat, pemimpin puncak dituntut untuk membuat keputusan strategis yang fleksibel namun tetap berlandaskan analisis yang kuat.
Selain itu, pemimpin puncak harus menggerakkan budaya organisasi yang mendukung inovasi dan ketangkasan. Melalui komunikasi yang intens dan kepemimpinan berbasis data, mereka membantu organisasi tetap kompetitif, memanfaatkan peluang baru, dan mengurangi risiko dari perubahan yang tidak terduga.

6. Langkah-langkah sistematis dalam pengembangan strategi kompetitif dan pelibatan pemangku kepentingan
Pengembangan strategi kompetitif biasanya dimulai dengan analisis lingkungan internal dan eksternal, seperti melalui SWOT, analisis industri, serta evaluasi sumber daya dan kapabilitas. Setelah itu, organisasi merumuskan alternatif strategi, memilih strategi yang paling sesuai, lalu menyusun rencana implementasi yang mencakup tujuan, program kerja, dan indikator kinerja. Proses ini harus bersifat iteratif agar strategi tetap relevan menghadapi dinamika pasar.
Pelibatan pemangku kepentingan menjadi bagian penting karena mereka memberikan perspektif yang berbeda dan membantu mengurangi potensi resistensi. Pemimpin dapat melibatkan mereka melalui forum diskusi, konsultasi berkala, survei, ataupun kolaborasi dalam penyusunan program strategis. Ketika setiap pihak merasa didengar dan dihargai, implementasi strategi akan berjalan lebih mulus dan memperoleh dukungan yang lebih kuat.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 13

Ranti Dwi Octaviani གིས-
1. Kepemimpinan tim dan peran pemimpin
Kepemimpinan tim adalah kemampuan memandu anggota untuk mencapai tujuan bersama. Pemimpin membangun visi yang jelas, menumbuhkan kepercayaan, dan mendorong kolaborasi agar semua anggota merasa terlibat dan termotivasi.

2. Delapan determinan kinerja tim dan peran pemimpin
Delapan faktor kinerja tim efektif adalah: tujuan yang jelas, peran yang tepat, komunikasi lancar, sumber daya memadai, kepemimpinan yang mendukung, hubungan interpersonal baik, budaya tim positif, dan umpan balik rutin. Pemimpin memengaruhi semua faktor ini dengan memberi arah, membagi peran, memfasilitasi komunikasi, dan menciptakan lingkungan yang mendukung.

3. Jenis tim dan gaya kepemimpinan
Functional team fokus pada tugas tertentu dan butuh kepemimpinan arahan langsung. Cross-functional team melibatkan banyak departemen sehingga memerlukan kepemimpinan kolaboratif. Self-managed team otonom sehingga pemimpin berperan sebagai fasilitator. Virtual team bekerja jarak jauh, sehingga pemimpin harus fokus pada komunikasi dan membangun kepercayaan.

4. Tujuh strategi meningkatkan efektivitas tim
Strategi meliputi: menetapkan tujuan jelas, membagi peran secara tepat, komunikasi terbuka, membangun kepercayaan, memberi umpan balik rutin, mendorong partisipasi aktif, dan menghargai kontribusi anggota.

5. Peran pemimpin puncak dalam arah strategis
CEO dan tim eksekutif menentukan arah strategis dengan menganalisis perubahan lingkungan, menilai peluang dan risiko, serta memastikan visi dan strategi diterapkan secara konsisten di seluruh organisasi.

6. Langkah pengembangan strategi kompetitif
Strategi kompetitif dikembangkan melalui analisis internal dan eksternal, merumuskan alternatif, melibatkan pemangku kepentingan utama, memilih strategi terbaik, dan memantau implementasi untuk menyesuaikan dengan perubahan pasar.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 13

Ledi Cahaya Sibuea 2421011027 གིས-
Nama : Ledi Cahaya Sibuea
Npm : 2421011027

1. Konsep Kepemimpinan Tim dan Peran Pemimpin dalam Membangun Visi serta Kepercayaan Tim
a. Konsep Kepemimpinan Tim
Kepemimpinan tim adalah kemampuan pemimpin untuk mengarahkan, memotivasi, mengoordinasi, dan menciptakan kondisi yang memungkinkan anggota tim bekerja secara efektif menuju tujuan bersama.
Fokus utama: kolaborasi, komunikasi, dan pembelajaran bersama.
b. Peran Pemimpin dalam Membangun Visi
1. Merumuskan arah dan tujuan yang jelas → pemimpin menjelaskan “ke mana tim akan pergi”.
2. Mengkomunikasikan visi secara inspiratif → menggunakan bahasa yang membuat anggota merasa terlibat.
3. Mengaitkan visi dengan peran tiap anggota → sehingga semua merasa berkontribusi.
4. Menyelaraskan visi dengan strategi organisasi → agar tim bekerja searah dengan tujuan besar.
c. Peran Pemimpin dalam Membangun Kepercayaan Tim
1. Menjadi teladan (role model) → kejujuran, konsistensi, dan integritas menciptakan trust.
2. Membuka komunikasi dua arah → ada ruang untuk diskusi dan kritik.
3. Adil dan transparan dalam keputusan → meningkatkan kredibilitas.
4. Memberikan dukungan dan pengakuan → membuat anggota merasa dihargai.
5. Menciptakan keamanan psikologis (psychological safety) → anggota berani berpendapat tanpa takut salah.


2. Delapan Determinan Kinerja Tim yang Efektif dan Peran Pemimpin
Berikut 8 determinan utama:
1. Tujuan yang jelas dan menantang
→ Pemimpin mendefinisikan tujuan SMART dan menyelaraskannya dengan visi.
2. Peran dan tanggung jawab yang jelas
→ Pemimpin mendesain struktur tugas agar tidak saling tumpang tindih.
3. Komunikasi terbuka dan konsisten
→ Pemimpin menjamin alur komunikasi efektif, baik formal maupun informal.
4. Kepercayaan dan kohesi tim
→ Dibangun lewat keteladanan, transparansi, dan dukungan emosional.
5. Keterampilan anggota yang memadai
→ Pemimpin memberi pelatihan, coaching, mentoring.
6. Sistem penghargaan yang adil
→ Pemimpin mendesain reward berbasis tim, bukan hanya individu.
7. Kepemimpinan efektif
→ Pemimpin adaptif, mampu mengatasi konflik, memotivasi, dan menyelaraskan tujuan.
8. Sumber daya & dukungan organisasi
→ Pemimpin mengelola sumber daya, menghapus hambatan, dan memastikan akses alat, waktu, serta informasi.


3. Jenis-Jenis Tim dan Gaya Kepemimpinan yang Sesuai
1. Functional Team (Tim Fungsional)
Ciri:
Terdiri dari anggota satu departemen dengan keahlian sama (misal: tim pemasaran).
Gaya kepemimpinan yang tepat:
• Direktif atau kepemimpinan konsultatif.
• Fokus pada koordinasi tugas dan standar.
2. Cross-Functional Team (Lintas Fungsi)
Ciri:
Anggota berasal dari berbagai departemen untuk memecahkan masalah atau proyek tertentu.
Gaya kepemimpinan yang tepat:
• Kolaboratif dan fasilitatif.
• Pemimpin harus mengintegrasikan berbagai perspektif.
3. Self-Managed Team (Tim Mandiri / Otonom)
Ciri:
Tim mengatur sendiri tugas, jadwal, dan keputusan operasional.
Gaya kepemimpinan yang tepat:
• Empowering leadership.
• Pemimpin lebih bertindak sebagai coach, bukan pengontrol.
4. Virtual Team
Ciri:
Anggota berada di lokasi berbeda, bekerja melalui teknologi digital.
Gaya kepemimpinan yang tepat:
Kepemimpinan berbasis komunikasi digital.
• Fokus pada kejelasan tugas, check-in rutin, dan penggunaan teknologi kolaboratif.


4. Tujuh Strategi untuk Meningkatkan Efektivitas dan Kolaborasi Tim
1. Membangun tujuan bersama yang jelas
Agar seluruh anggota memahami arah tim.
2. Meningkatkan komunikasi terbuka
Melalui rapat rutin, platform kolaborasi, dan feedback dua arah.
3. Menciptakan kepercayaan dan keamanan psikologis
Kesalahan dijadikan pembelajaran, bukan hukuman.
4. Mengoptimalkan keragaman keterampilan (skill diversity)
Menempatkan orang sesuai kekuatan masing-masing.
5. Pelatihan dan pengembangan tim
Workshop, coaching, dan team-building activity.
6. Sistem reward berbasis tim
Mendorong kolaborasi, bukan persaingan internal.
7. Manajemen konflik yang konstruktif
Konflik dijadikan proses peningkatan, bukan ancaman.


5. Peran Pemimpin Puncak dalam Menentukan Arah Strategis Organisasi
Pemimpin puncak seperti CEO dan tim eksekutif memiliki peran kunci:
a. Analisis Lingkungan Bisnis
• Mengidentifikasi tren industri, teknologi, ekonomi, dan regulasi.
• Melakukan competitive intelligence untuk memantau pesaing.
b. Menetapkan Visi dan Strategi Organisasi
• CEO merumuskan visi jangka panjang yang relevan dengan perubahan lingkungan.
• Menentukan prioritas strategis (pertumbuhan, inovasi, efisiensi, ekspansi).
c. Mengalokasikan Sumber Daya Strategis
• Menentukan investasi, anggaran, dan penempatan SDM pada area prioritas.
d. Membangun Budaya Organisasi
• Menetapkan nilai-nilai perusahaan, etika, dan standar kinerja.
e. Mengelola Risiko
• Mengantisipasi krisis ekonomi, teknologi baru, pergantian pasar.
f. Mengkomunikasikan Strategi ke seluruh Organisasi
• Memastikan semua unit operasi memahami arah strategis.
g. Menjalin hubungan dengan pemangku kepentingan eksternal
• Pemerintah, investor, pelanggan, mitra bisnis.


6. Langkah-Langkah Sistematis dalam Pengembangan Strategi Kompetitif
1. Analisis Lingkungan Eksternal
Menggunakan:
• PESTEL (politik, ekonomi, sosial, teknologi, lingkungan, legal)
• Analisis Industri (Porter’s Five Forces)
→ untuk memahami peluang dan ancaman.
2. Analisis Lingkungan Internal
Mengevaluasi:
• Sumber daya & kapabilitas (VRIO)
• Kelebihan dan kelemahan organisasi
• Kompetensi inti (core competencies)
3. Menentukan Visi, Misi, dan Tujuan Strategis
Menetapkan tujuan SMART dan prioritas organisasi.
4. Merumuskan Alternatif Strategi
Contoh:
• Diferensiasi
• Cost leadership
• Fokus niche
• Inovasi (product innovation, digital strategy)
5. Memilih Strategi yang Paling Tepat
Berdasarkan:
• Kelayakan (feasibility)
• Kesesuaian dengan lingkungan
• Penerimaan stakeholder
• Kapasitas sumber daya
6. Implementasi Strategi
Meliputi:
• Pengaturan struktur organisasi
• Pengalokasian anggaran
• Penyelarasan budaya kerja
• Komunikasi strategi ke seluruh lini
7. Evaluasi & Pengendalian Strategi
Dilakukan melalui KPI, feedback, analisis performa, serta adaptasi jika terjadi perubahan lingkungan bisnis.
Pelibatan Pemangku Kepentingan (Stakeholder)
• Melalui konsultasi, rapat koordinasi, forum diskusi, dan komunikasi transparan.
• Stakeholder utama: karyawan, pelanggan, investor, pemerintah, pemasok, masyarakat.
• Keterlibatan mereka memastikan strategi lebih realistis, diterima, dan minim resistensi.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 13

DEWIANA SARI UTAMI གིས-
Dewiana Sari Utami - 2421011035, izin menjawab pertanyaan evaluasi

1. Jelaskan konsep kepemimpinan tim dan peran pemimpin dalam membangun visi serta kepercayaan tim!
Jawab:
Kepemimpinan tim adalah kemampuan untuk memandu dan mempengaruhi sekelompok orang agar bekerja sama mencapai tujuan bersama. Peran pemimpin mencakup pembentukan visi yang jelas dan inspiratif, serta membangun kepercayaan tim melalui transparansi, konsistensi, dan integritas. Pemimpin harus mendengarkan anggota, menciptakan lingkungan yang aman untuk berbagi ide, dan menjadi contoh dalam komitmen. Dengan visi yang dibagikan bersama dan kepercayaan yang kuat, tim akan lebih kohesif dan termotivasi.

2. Sebutkan delapan determinan kinerja tim yang efektif dan memahami cara pemimpin memengaruhinya?
Jawab:
Delapan determinan tersebut adalah:
1) tujuan yang jelas
2) struktur dan peran yang tepat
3) anggota yang kompeten
4) komitmen bersama
5) iklim kolaboratif
6) standar kinerja tinggi
7) dukungan eksternal
8) coaching yang efektif.
Pemimpin memengaruhi ini dengan menetapkan arah, memastikan kecocokan keterampilan, memfasilitasi komunikasi, memberikan sumber daya, serta melatih dan memberi umpan balik secara berkala untuk menjaga energi dan fokus tim.

3. Jelaskan bagaimana membedakan jenis-jenis tim (functional, cross-functional, self-managed, dan virtual) serta gaya kepemimpinan yang sesuai untuk masing-masing!
Jawab:
1) Tim Fungsional: Anggota dari departemen yang sama; gaya kepemimpinan direktif atau partisipatif sesuai karena spesialisasi serupa.
2) Tim Lintas Fungsional: Anggota dari berbagai bidang; pemimpin perlu fasilitatif dan kolaboratif untuk menyelaraskan perspektif berbeda.
3)Tim Mengelola Diri: Otonomi tinggi; pemimpin bertindak sebagai coach atau mentor yang memberikan panduan tanpa mengendalikan.
4) Tim Virtual: Bekerja dari lokasi berbeda; pemimpin harus fokus pada komunikasi terstruktur, penggunaan teknologi, dan membangun kepercayaan jarak jauh.

4. Jelaskan tujuh strategi untuk meningkatkan efektivitas dan kolaborasi dalam tim kerja!
Jawab:
1) Tetapkan tujuan bersama yang spesifik
2) bangun komunikasi terbuka dan rutin
3) definisikan peran dan tanggung jawab dengan jelas
4) gunakan alat kolaborasi yang memudahkan koordinasi
5) latih tim dalam resolusi konflik
6) berikan pengakuan dan umpan balik konstruktif
7) adakan pertemuan tatap muka atau virtual untuk memperkuat hubungan dan kepercayaan.

5. Bagaimana menganalisis peran pemimpin puncak (CEO dan tim eksekutif) dalam menentukan arah strategis organisasi di tengah perubahan lingkungan bisnis?
Jawab:
CEO dan tim eksekutif berperan sebagai navigator yang menganalisis lingkungan bisnis (perubahan teknologi, pasar, regulasi) untuk mengidentifikasi peluang dan ancaman. Mereka merumuskan visi jangka panjang, mengalokasikan sumber daya strategis, dan memastikan keselarasan seluruh organisasi dengan arah baru. Di tengah perubahan, mereka harus cepat mengambil keputusan, beradaptasi, dan mengkomunikasikan strategi secara transparan agar organisasi tetap relevan dan kompetitif.

6. Jelaskan langkah-langkah sistematis dalam pengembangan strategi kompetitif dan bagaimana melibatkan pemangku kepentingan utama dalam prosesnya!
Jawab:
Langkahnya meliputi:
1) analisis lingkungan internal dan eksternal (SWOT)
2) perumusan visi dan tujuan strategis
3) pengembangan opsi strategi
4) evaluasi dan pemilihan strategi terbaik
5) implementasi dengan rencana aksi jelas
6) monitoring dan evaluasi berkala.
Pelibatan pemangku kepentingan (karyawan, investor, pelanggan) dilakukan melalui konsultasi, survei, workshop, atau dewan penasihat untuk mendapat masukan, meningkatkan kepemilikan, dan memastikan strategi realistis dan diterima.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 13

RIA YULI HASTINI གིས-
RIA YULI HASTINI_2421011046

JAWABAN EVALUASI :
1. Konsep Kepemimpinan Tim dan Peran Pemimpin
Kepemimpinan Tim berfokus pada fasilitasi, coaching, dan memastikan tim memiliki kondisi internal dan eksternal yang diperlukan untuk bekerja efektif.

Peran Pemimpin:
a. Membangun Visi: Menetapkan tujuan kinerja yang jelas dan arah strategis yang sama bagi semua anggota (visi bersama).
b. Membangun Kepercayaan: Memastikan anggota dapat saling mengandalkan (reliability), berkomunikasi secara terbuka (honesty), dan menunjukkan karakter yang jujur (integrity). Kepercayaan adalah fondasi kolaborasi.

2. Determinan Kinerja Tim yang Efektif
Kinerja tim yang efektif ditentukan oleh delapan faktor kunci, di mana pemimpin berperan sebagai manajer batasan dan coach:
a. Memberikan arah dan fokus.
b. Anggota memiliki kombinasi teknis dan interpersonal yang tepat.
c. Keyakinan antar anggota terhadap niat dan kemampuan satu sama lain.
d. Dedikasi pada tujuan tim, lebih besar dari tujuan pribadi.
e. Tergantung jenis tim (direktif, fasilitatif, atau coaching).
f. Ketersediaan sumber daya, sistem pelatihan, dan infrastruktur.
g. Ukuran tim dan peran yang tepat.
h. Kemampuan tim bernegosiasi dan berinteraksi dengan pemangku kepentingan di luar tim.

3. Jenis-jenis Tim dan Gaya Kepemimpinan yang Sesuai
Kepemimpinan harus menyesuaikan dengan otonomi dan fungsi tim.
• Fungsional:
Berbasis departemen (tugas rutin). Gaya Kepemimpinan: Direktif atau Transaksional.
• Lintas Fungsional (Cross-functional):
Anggota dari berbagai departemen (proyek spesifik). Gaya Kepemimpinan: Fasilitatif, fokus pada mediasi dan kolaborasi.
• Swakelola (Self-managed):
Tim otonom dalam keputusan operasional. Gaya Kepemimpinan: Coach, fokus pada penyediaan sumber daya dan supervisory, bukan direktif harian.
• Virtual:
Bekerja terpisah secara geografis. Gaya Kepemimpinan: Fokus Komunikasi (frekuensi tinggi), Membangun Kepercayaan, dan monitoring output.

4. Tujuh Strategi untuk Meningkatkan Efektivitas dan Kolaborasi
a. Tujuan Kinerja Bersama
Mengubah tujuan individu menjadi tujuan kolektif.
b. Spesialisasi Keterampilan
Mengoptimalkan keahlian unik setiap anggota tim.
c. Kepercayaan
Mendorong keterbukaan dan risiko interpersonal yang aman (psychological safety).
d. Komunikasi Terbuka
Menyediakan platform untuk berbagi informasi tanpa hambatan hirarkis.
e. Penghargaan Berbasis Tim:
Memberikan insentif yang mendorong hasil kolektif, bukan hanya individu.
f. Coaching dan Dukungan Kepemimpinan
Memberikan dukungan sumber daya dan intervensi yang diperlukan.
g. Pelatihan Keterampilan Interpersonal
Melatih tim dalam manajemen konflik dan negosiasi.

5. Analisis Peran Pemimpin Puncak (CEO dan Tim Eksekutif) dalam Strategi
Pemimpin puncak memiliki peran vital dalam menentukan arah strategis organisasi di tengah perubahan lingkungan:
a. Mengidentifikasi dan menginterpretasikan tren bisnis, teknologi, dan politik yang berubah cepat (megatren).
b. Menetapkan visi jangka panjang, nilai-nilai inti, dan budaya yang akan mendukung eksekusi strategi.
c. Mengarahkan investasi modal, SDM, dan teknologi ke area yang paling krusial bagi keunggulan kompetitif.
d. Membuat keputusan Go/No Go untuk akuisisi, divestasi, atau pengembangan lini bisnis baru.
e. Menjadi teladan bagi seluruh organisasi dalam mengambil risiko strategis dan beradaptasi.

6. Langkah-langkah Pengembangan Strategi Kompetitif dan Keterlibatan Pemangku Kepentingan
Langkah Sistematis Pengembangan Strategi:
a. Melakukan Scanning Eksternal (tren, pesaing) dan Internal (sumber daya, kompetensi inti).
b. Mendefinisikan tujuan organisasi.
c. Menetapkan target terukur yang ambisius.
d. Memutuskan tingkat korporat, bisnis, dan fungsional (misalnya, strategi diferensiasi atau biaya rendah).
e. Mengalokasikan sumber daya, menyusun struktur, dan memimpin perubahan.
f. Memantau kinerja dan melakukan penyesuaian (feedback loop).

Keterlibatan Pemangku Kepentingan:
• Analisis:
Memberikan masukan tentang kebutuhan pasar dan risiko yang akan datang.
• Perumusan:
Menyelaraskan kepentingan mereka dengan tujuan strategis.
• Implementasi:
Memastikan komitmen dan dukungan sumber daya yang diperlukan untuk menjalankan strategi. Keterlibatan ini membangun legitimasi dan memastikan strategi diterima secara luas.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 13

Dhika Pratama གིས-

Mohon ijin menjawab Evaluasi Sesi-14, ibuu…

Dhika Pratama

NPM 2421011026 (Kelompok-9)

SOAL-1 Konsep Kepemimpinan Tim dan Peran Pemimpin dalam Membangun Visi serta Kepercayaan Tim

Kepemimpinan tim adalah proses memandu sekelompok orang untuk mencapai tujuan kolektif melalui koordinasi, komunikasi, dan pengelolaan dinamika antaranggota. Intinya, pemimpin tim bukan hanya “penyampai tugas”, tetapi pengarah ide, penggerak motivasi, dan penjaga kultur kerja.

A. Peran Pemimpin dalam Membangun Visi

Visi adalah gambaran masa depan yang ingin dicapai tim. Pemimpin tim berperan untuk:

Mendefinisikan visi yang jelas, realistis, namun inspiratif.
Visi harus menjawab apa, mengapa, dan ke mana tim pergi.

Menghubungkan visi dengan nilai organisasi.
Misalnya DJBC: integritas, pelayanan, profesionalitas.

Mengkomunikasikan visi secara berulang dan konsisten.
Visi hanya hidup jika sering diceritakan dalam rapat, briefing, dan evaluasi.

Menterjemahkan visi ke langkah yang konkret.
Setiap anggota mengetahui perannya dalam mewujudkan visi.

B. Peran Pemimpin dalam Membangun Kepercayaan

Kepercayaan adalah “modal sosial” yang menentukan kekuatan tim.
Pemimpin membangun kepercayaan dengan:

Keteladanan (walk the talk).
Komitmen pemimpin menciptakan kredibilitas.

Transparansi dalam komunikasi.
Tidak ada agenda tersembunyi.

Keberanian mengakui kesalahan.
Pemimpin yang berani salah membuat anggota berani belajar.

Konsistensi dalam aturan.
Standar berlaku sama untuk semua.

Perhatian terhadap kesejahteraan anggota.
Empati memperkuat rasa aman kerja.

Kepercayaan yang kuat melahirkan tim yang solid, berani mengambil risiko, dan loyal terhadap visi.

 

SOAL-2 Delapan Determinan Kinerja Tim yang Efektif dan Cara Pemimpin Memengaruhinya

Berikut 8 determinan utama yang menentukan efektivitas tim serta bagaimana pemimpin dapat memengaruhinya:

Determinan

Penjelasan

Peran Pemimpin

1. Tujuan yang Jelas

Semua anggota memahami misi tim.

Menyusun dan mengkomunikasikan tujuan yang spesifik dan terukur.

2. Struktur Tim yang Tepat

Tugas, peran, dan alur kerja jelas.

Menetapkan pembagian kerja dan koordinasi yang efisien.

3. Komposisi Keahlian

Tim harus memiliki kompetensi yang saling melengkapi.

Memilih anggota dengan skill relevan dan kepribadian kompatibel.

4. Norma Kerja yang Positif

Aturan tak tertulis yang mengatur perilaku tim.

Menetapkan standar disiplin, etika, dan kualitas.

5. Mekanisme Komunikasi

Aliran informasi lancar dan terbuka.

Membuat forum diskusi, evaluasi rutin, dan feedback cepat.

6. Kepemimpinan yang Efektif

Pemimpin jadi role model dan penggerak.

Memberikan arahan, motivasi, dan dukungan emosional.

7. Kohesi dan Kepercayaan

Hubungan antaranggota harmonis.

Memfasilitasi kegiatan yang membangun kebersamaan.

8. Sistem Reward dan Evaluasi

Kinerja diukur dan diapresiasi.

Membuat reward adil dan evaluasi objektif.

Pemimpin memiliki peran langsung terhadap semua determinan tersebut. Keberhasilan tim sangat ditentukan oleh strategi, perilaku, dan keteladanan pemimpin.

 

SOAL-3 Jenis-Jenis Tim dan Gaya Kepemimpinan yang Sesuai

Dalam organisasi modern, tim dapat dibedakan menjadi empat tipe utama:

A. Functional Team

Definisi:
Tim yang beranggotakan orang-orang dari departemen yang sama (misal: HR, Keuangan, Operasional).

Gaya kepemimpinan yang sesuai:

Directive + Coaching
Karena tugas biasanya rutin, pemimpin perlu mengarahkan dengan standar kerja yang jelas sambil mengembangkan kompetensi anggota.

 

B. Cross-Functional Team

Definisi:
Tim yang terdiri dari anggota dari berbagai divisi untuk menyelesaikan proyek bersama.
Contoh: tim pengembangan CEISA 4.0 yang melibatkan IT, operasional, dan kebijakan.

Gaya kepemimpinan yang sesuai:

Collaborative + Transformasional
Karena perbedaan latar belakang tinggi, pemimpin harus menjadi jembatan visi dan budaya.

 

C. Self-Managed Team

Definisi:
Tim yang mengatur sendiri jadwal, pembagian tugas, dan keputusan operasional sehari-hari.

Gaya kepemimpinan yang sesuai:

Delegatif + Empowering Leadership
Pemimpin berperan sebagai fasilitator, bukan pengontrol.

 

D. Virtual Team

Definisi:
Tim bekerja secara geografis terpisah, berkomunikasi melalui platform digital.

Gaya kepemimpinan yang sesuai:

Communication-Intensive Leadership
Pemimpin harus memastikan koordinasi digital, kejelasan pesan, dan ritme komunikasi agar tidak terjadi miskomunikasi.

 

SOAL-4 Tujuh Strategi untuk Meningkatkan Efektivitas dan Kolaborasi Tim Kerja

Berikut tujuh strategi emas pemimpin dalam membangun kolaborasi tim yang kuat:

Bangun visi dan tujuan bersama sejak awal.
Tanpa tujuan bersama, tim hanya sekumpulan individu.

Jelas dalam peran dan tanggung jawab.
Mencegah konflik, duplikasi kerja, dan kebingungan.

Kembangkan komunikasi yang jujur, terbuka, dan rutin.
Misalnya briefing harian, laporan mingguan, kanal diskusi informal.

Bangun kepercayaan dengan keteladanan.
Kepercayaan adalah perekat kolaborasi.

Ciptakan budaya saling menghargai keahlian.
Anggota berani berbagi ide tanpa takut dihina.

Sediakan sarana kolaborasi digital.
Tools seperti WhatsApp group, Trello, Notion, CEISA dashboard untuk organisasi pemerintah.

Rayakan kemenangan kecil dan evaluasi kegagalan secara dewasa.
Kemenangan kecil meningkatkan moral, evaluasi matang meningkatkan kemampuan tim.

 

SOAL-5 Peran Pemimpin Puncak (CEO & Tim Eksekutif) dalam Menentukan Arah Strategis Organisasi

Pemimpin puncak memiliki tugas paling kritis: menjaga keberlangsungan organisasi di tengah perubahan lingkungan bisnis yang cepat, kompleks, dan penuh ketidakpastian.

A. Menentukan Visi Strategis Jangka Panjang
CEO dan tim eksekutif harus menganalisis tren ekonomi, teknologi, politik, dan regulasi untuk memastikan organisasi tetap relevan.

B. Mengalokasikan Sumber Daya Secara Optimal
Mereka menetapkan prioritas investasi, SDM, teknologi, dan anggaran sesuai strategi.

C. Membangun Budaya Organisasi yang Mendukung Strategi
Budaya tidak dapat didelegasikan. Pemimpin puncak harus menjadi role model nilai-nilai inti.

D. Mengelola Risiko dan Ketidakpastian
Termasuk perubahan regulasi, disrupsi teknologi, dan dinamika persaingan.

E. Menjaga Hubungan dengan Pemangku Kepentingan
Pemerintah, investor, mitra bisnis, media, masyarakat, dan internal organisasi.

F. Menginisiasi Transformasi Organisasi
Pemimpin puncak harus memimpin perubahan, bukan sekadar mengarahkan dari belakang.

Pemimpin puncak pada dasarnya adalah arsitek strategi dan penjaga relevansi organisasi.

 

SOAL-6 Langkah-Langkah Sistematis dalam Pengembangan Strategi Kompetitif dan Pelibatan Pemangku Kepentingan

Pengembangan strategi kompetitif memerlukan proses yang terstruktur:

A. Analisis Lingkungan (External & Internal)

External:

PESTEL (politik, ekonomi, sosial, teknologi, lingkungan, legal)

Analisis industri (Porter’s Five Forces)

Internal:

Analisis sumber daya, kapabilitas, kompetensi inti

Evaluasi budaya, proses, dan nilai perusahaan

B. Menetapkan Visi, Misi, dan Tujuan Strategis

Harus jelas, terukur, dan mencerminkan keunggulan kompetitif.

C. Formulasi Strategi

Menentukan:

diferensiasi produk

efisiensi biaya

inovasi proses

strategi digital

strategi pelayanan

strategi kepemimpinan pasar

D. Pelibatan Pemangku Kepentingan Utama

Pemangku kepentingan dilibatkan melalui:

forum konsultasi

workshop strategi

wawancara mendalam

masukan data pelanggan

kolaborasi lintas unit

Tujuan pelibatan adalah memastikan strategi relevan, didukung, dan dapat dieksekusi.

E. Implementasi Strategi

Meliputi:

penyusunan roadmap

pengalokasian sumber daya

penetapan KPI

sistem monitoring

F. Evaluasi dan Penyesuaian Berkala

Lingkungan bisnis berubah cepat; strategi harus responsif dan selalu diuji.

 Terimakasih Ibuu......

In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 13

MOHAMMAD ADRIAN 2421011010 གིས-
1. Konsep kepemimpinan tim & peran pemimpin dalam membangun visi serta kepercayaan tim

Konsep singkat: kepemimpinan tim adalah proses memobilisasi, mengarahkan, dan mengembangkan sekelompok individu menuju tujuan kolektif dengan memadukan peran, keterampilan, dan motivasi anggota.

Peran pemimpin (inti) dalam membangun visi & kepercayaan:

Perumus visi bersama — menerjemahkan tujuan organisasi menjadi gambaran tim yang bisa dimiliki bersama (shared mental model).

Pengkomunikasi yang konsisten — menyampaikan visi berulang-ulang dengan konteks praktis (mengapa, bagaimana, peran tiap anggota).

Pemberi teladan — bertindak konsisten dengan nilai dan komitmen yang diungkapkan sehingga integritas teruji.

Pencipta struktur & aturan — menyusun peran, ekspektasi, dan proses kerja yang membuat tujuan menjadi mudah diikuti.

Pembina psikological safety — menciptakan lingkungan aman untuk menyuarakan ide dan kesalahan tanpa takut dihukum.

Pengembang kapabilitas — memberi coaching, feedback, dan sumber daya agar anggota mampu mewujudkan visi.

Penjaga keadilan — memutuskan konflik dan sanksi yang adil untuk menjaga legitimasi pemimpin.

Catatan kritis: visi tanpa mekanisme (kebiasaan, KPI, reward) jadi retorika; trust tanpa transparansi mudah runtuh saat krisis.

2. Delapan determinan kinerja tim yang efektif & bagaimana pemimpin memengaruhinya

(Format: determinan → peran pemimpin/faktor pengaruh)

Tujuan yang jelas & terkomunikasi

Pemimpin menetapkan, menyelaraskan, dan menerjemahkan tujuan ke tugas harian.

Komposisi & keterampilan anggota (skill mix)

Pemimpin memilih anggota/menugaskan peran sesuai kompetensi; fasilitasi pelatihan bila gap.

Struktur peran & tanggung jawab (role clarity)

Pemimpin memastikan RACI/clarity sehingga overlap dan konflik berkurang.

Proses kerja dan koordinasi (workflow)

Pemimpin desain proses, cadence rapat, dan alat kolaborasi untuk sinkronisasi.

Psychological safety & kultur tim

Pemimpin membentuk norma komunikasi; menegakkan rule “challenge ideas, not people.”

Sumber daya & dukungan organisasi

Pemimpin advokasi anggaran, waktu, akses informasi ke level atas.

Feedback & learning loop

Pemimpin fasilitasi review rutin (retrospective), memberi feedback konstruktif, dan membiarkan eksperimen.

Motivasi & reward system

Pemimpin desain insentif (intrinsik & ekstrinsik) yang menguatkan tujuan tim, bukan kompetisi internal beracun.

Catatan kritis: pemimpin yang kuat tapi otoriter bisa memperbaiki beberapa determinan jangka pendek (keputusan cepat) tetapi merusak psychological safety dan learning jangka panjang.

3. Jenis-jenis tim & gaya kepemimpinan yang sesuai

(Deskripsi singkat + gaya kepemimpinan ideal + catatan)

Functional team (tim berdasarkan fungsi/departemen)

Ciri: tugas rutin, spesialisasi teknis, hierarki jelas.

Gaya kepemimpinan: Transactional + Directive coaching — fokus pada koordinasi, efisiensi, standar kinerja.

Catatan: beri ruang inovasi agar tidak stagnan.

Cross-functional team (anggota lintas fungsi untuk proyek/tujuan tertentu)

Ciri: heterogen kompetensi, tujuan integratif, konflik kepentingan mungkin muncul.

Gaya kepemimpinan: Facilitative transformational — fasilitator, jembatan antar-fungsi, menekankan shared purpose dan integrasi.

Catatan: leader harus manajemen stakeholder & clear decision rights.

Self-managed team (tim otonom yang mengelola tugasnya sendiri)

Ciri: otonomi tinggi, anggota buat keputusan operasional.

Gaya kepemimpinan: Servant / Empowering leadership — menyediakan sumber daya, coaching, dan menjaga boundary organisasi.

Catatan: perlu seleksi anggota dan norma kuat agar otonomi tak jadi chaos.

Virtual team (tim bekerja terdistribusi secara geografis/digital)

Ciri: jarak, komunikasi asinkron, ketergantungan pada teknologi.

Gaya kepemimpinan: Distributed transformational + digital facilitation — fokus pada komunikasi eksplisit, ritual sinkronisasi, dan membangun trust jarak jauh.

Catatan: kultur komunikasi harus lebih formal dan dokumentasinya kuat.

4. Tujuh strategi meningkatkan efektivitas & kolaborasi dalam tim kerja

(Strategi + implementasi singkat)

Alignment tujuan & outcome-oriented work

Buat objective yang terukur (outcomes), bukan hanya aktivitas; semua tugas dilacak ke outcome.

Ritual kerja yang konsisten (cadence)

Daily stand-up singkat, weekly sync, monthly strategy review, dan retrospektif untuk learning.

Clear role design & decision rights

Terapkan RACI + delineasi authority untuk mempercepat keputusan.

Psychological safety interventions

Leader model vulnerability, buat ground rules, adakan sesi sharing kegagalan tanpa hukuman.

Cross-training & knowledge sharing

Pairing, shadowing, dokumentasi proses untuk mengurangi bottleneck individu.

Effective use of collaboration tools + norms

Pilih tool terbatas, buat rules komunikasi (response time, channel untuk urgent vs non-urgent).

Feedback culture & performance loop

Gunakan 1:1 rutin, peer feedback, dan KPI tim + behavior metrics; rayakan wins kecil.

Catatan kritis: strategi teknis tanpa perubahan budaya (nilai & norma) biasanya gagal; kombinasikan keduanya.

5. Analisis peran pemimpin puncak (CEO & tim eksekutif) dalam menentukan arah strategis di tengah perubahan lingkungan bisnis

(Framework analitis + peran spesifik + risiko)

Framework analitis singkat: Sensemaking → Strategy formulation → Strategic alignment → Mobilization → Adaptive governance.

Peran CEO & tim eksekutif pada tiap tahap:

Sensemaking (mendeteksi perubahan)

Menginisiasi scanning eksternal (kompetitor, regulasi, teknologi), menginterpretasi implikasi strategis.

Formulasi strategi

Memimpin diskusi opsi strategis (portofolio, positioning), memilih arah kompetitif.

Alignment organisasi

Mentranslasikan strategi jadi prioritas, struktur organisasi, kapabilitas yang dibutuhkan.

Mobilisasi & komunikasi

Memformalkan narasi strategis, menggalang komitmen stakeholder internal & eksternal.

Adaptive governance & resource reallocation

Menetapkan mekanisme review cepat (strategy sprints), re-allocation sumber daya, dan contingency plans.

Peran kunci eksklusif CEO/tim eksekutif: legitimasi keputusan, akses sumber daya, boundary spanning (hubungan pemegang saham/regulator), dan menjaga fokus jangka panjang.

Risiko & limitasi: jika top team terlalu terisolasi (CEO-centric), terjadi groupthink; jika terlalu sering gonta-ganti strategi, organisasi kehilangan kecepatan eksekusi. Pemimpin puncak harus menyeimbangkan stability dan adaptability.

6. Langkah-langkah sistematis pengembangan strategi kompetitif & keterlibatan pemangku kepentingan

(Stepwise process + bagaimana melibatkan stakeholder di tiap langkah)

Langkah sistematis (7 langkah):

Environmental scanning & diagnosis

Analisis eksternal (PESTEL, 5 Forces) + internal audit (capability, value chain).

Stakeholder: involve fungsi market research, frontline sales, dan key customers untuk insight real market.

Formulasi visi strategis & tujuan kompetitif

Tentukan positioning (cost leadership, differentiation, niche) dan tujuan jangka menengah.

Stakeholder: dewan direksi & investor untuk alignment tujuan finansial; kunci unit bisnis untuk feasibility.

Option generation & evaluation

Kreasikan alternatif strategi (M&A, digitalisasi, diversifikasi), uji kelayakan dan payoff/risiko.

Stakeholder: cross-functional workshops (R&D, ops, finance) untuk menilai implementabilitas.

Selection & strategic fit assessment

Pilih strategi berdasarkan fit kapabilitas & pasar; buat business case (NPV, IRR).

Stakeholder: CFO & legal review; early buy-in dari leader unit terkait.

Design roadmap & capability building

Rinci inisiatif, milestones, KPI, budget, dan pemilik (owners). Tentukan quick wins vs long bets.

Stakeholder: middle managers & HR untuk kebutuhan talent, training plans.

Implementation & change management

Jalankan inisiatif terprioritas, gunakan change management (komunikasi, training, pilot).

Stakeholder: komunikasi ke seluruh organisasi, pelanggan kunci, mitra strategis.

Monitor, learn, adapt (strategic control)

Review KPI, scenario testing, adjust alokasi sumber daya; institutionalize learning.

Stakeholder: board reviews, investor updates, feedback loop dari frontline.

Prinsip keterlibatan stakeholder (praktis):

Early involvement untuk legitimacy dan insight;

Segment engagement: berbeda tingkat detail untuk board vs operasional;

Transparent trade-offs: komunikasikan biaya dan risiko secara eksplisit;

Use of pilots: melibatkan pelanggan/mitra sebagai co-creators sebelum skalasi.

Catatan kritis: strategi yang “dibuat di menara gading” (top-down tanpa input operasional) sering gagal implementasi; sebaliknya, strategi yang hanya emergent tanpa arah bisa sulit memicu diferensiasi kompetitif.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 13

Elvin Agustianda གིས-
Izin Menjawab Bu
Elvin Agustiand_2421011029
1. Konsep Kepemimpinan Tim dan Peran Pemimpin dalam Membangun Visi & Kepercayaan Tim
Konsep kepemimpinan tim
Kepemimpinan tim adalah kemampuan seorang pemimpin untuk mengarahkan, memotivasi, dan mengoordinasikan anggota tim agar mampu mencapai tujuan bersama. Fokus utamanya bukan hanya pada tugas (task), tetapi juga pada dinamika hubungan antaranggota (relationship).
Karakteristik utama kepemimpinan tim:
• Berorientasi tujuan bersama
• Mampu menciptakan sinergi
• Membangun komitmen dan motivasi
• Menyelesaikan konflik secara konstruktif
• Mengembangkan dan memberdayakan anggota
Peran pemimpin dalam membangun visi
Pemimpin harus:
1. Merumuskan arah yang jelas – menjelaskan tujuan jangka pendek & jangka panjang sehingga tim tahu apa yang harus dicapai.
2. Mengkomunikasikan visi secara inspiratif – menyampaikan “mengapa pekerjaan kita penting”.
3. Menyelaraskan visi dengan nilai-nilai organisasi – sehingga tim memahami kontribusi strategis mereka.
4. Menterjemahkan visi menjadi rencana aksi – membuat roadmap yang dapat dikerjakan sehari-hari.
Peran pemimpin dalam membangun kepercayaan tim
Pemimpin membangun trust melalui:
• Konsistensi perilaku (walk the talk)
• Transparansi informasi
• Keadilan dalam pengambilan keputusan
• Mendukung anggota dan tidak menyalahkan
• Mengakui kesalahan dan menghargai kontribusi anggota Kepercayaan membuat tim lebih berani berinovasi, mengambil risiko, dan bekerja sama lebih baik.

2. Delapan Determinan Kinerja Tim yang Efektif & Pengaruh Pemimpin
Berikut 8 determinan atau faktor pembentuk tim yang efektif:
No Determinan Kinerja Tim Penjelasan Pengaruh Kepemimpinan
1 Tujuan yang jelas Anggota memahami arah tim Pemimpin menetapkan tujuan SMART dan menyelaraskan dengan visi
2 Komposisi tim yang tepat Ragam kompetensi & peran yang seimbang Pemimpin melakukan penempatan orang yang tepat
3 Struktur tugas dan proses kerja SOP, alur kerja, dan pembagian peran jelas Pemimpin menetapkan struktur & koordinasi
4 Komunikasi efektif Aliran informasi terbuka dan dua arah Pemimpin membangun budaya komunikasi terbuka
5 Kepercayaan dan kohesi tim Hubungan yang saling mendukung Pemimpin menciptakan psychological safety
6 Kepemimpinan yang efektif Memberi arahan, dukungan, dan coaching Pemimpin mengubah gaya sesuai situasi
7 Motivasi dan komitmen anggota Anggota merasa dihargai dan bermakna Pemimpin memberikan apresiasi & empowerment
8 Evaluasi dan feedback Pengukuran kinerja dan perbaikan terus menerus Pemimpin memfasilitasi refleksi dan pembelajaran

3. Jenis-Jenis Tim dan Gaya Kepemimpinan yang Sesuai
1) Functional Team
• Berasal dari divisi yang sama (misal: tim keuangan, tim HR).
• Tugas spesifik dan rutin.
Gaya kepemimpinan yang sesuai:
• Transactional / Task-oriented
• Pemimpin perlu struktur yang jelas, instruksi, dan kontrol.
2) Cross-Functional Team
• Anggota dari berbagai departemen.
• Fokus inovasi, pemecahan masalah kompleks.
Gaya kepemimpinan yang sesuai:
• Transformational leadership
• Collaborative leadership Pemimpin harus mampu mengelola perbedaan perspektif dan menyatukan expertise.
3) Self-Managed Team
• Tim mengatur diri sendiri, minim supervisi.
• Anggota memiliki tanggung jawab dan otonomi tinggi.
Gaya kepemimpinan yang sesuai:
• Empowering leadership
• Servant leadership Pemimpin berperan sebagai fasilitator, bukan pengendali.
4) Virtual Team
• Bekerja secara online/daring di lokasi berbeda.
Gaya kepemimpinan yang sesuai:
• E-leadership
• Fokus pada komunikasi digital, kejelasan instruksi, dan monitoring berbasis hasil.

4. Tujuh Strategi untuk Meningkatkan Efektivitas & Kolaborasi Tim
1. Membangun tujuan yang jelas dan disepakati bersama
2. Menetapkan peran dan tanggung jawab yang tidak tumpang tindih
3. Menciptakan budaya komunikasi terbuka dan aman
4. Mengembangkan trust melalui keterbukaan & konsistensi
5. Memberikan motivasi dan penghargaan yang relevan
6. Mendorong pembelajaran dan feedback berkala
7. Mengoptimalkan teknologi kolaboratif (untuk koordinasi, dokumentasi, dan transparansi)

5. Analisis Peran Pemimpin Puncak (CEO dan Eksekutif) dalam Menentukan Arah Strategis Organisasi
Pemimpin puncak memiliki peran yang sangat strategis karena mereka berada pada level formulasi strategi. Peran tersebut mencakup:
1) Environmental Scanning
CEO menganalisis tren eksternal:
• persaingan,
• teknologi,
• regulasi,
• pelanggan,
• ekonomi.
2) Menentukan Strategic Direction
CEO menetapkan:
• visi,
• misi,
• nilai inti,
• tujuan strategis organisasi.
3) Resource Allocation
Pemimpin puncak menentukan:
• anggaran,
• prioritas investasi,
• penyusunan kapabilitas inti.
4) Culture Shaping
• CEO adalah role model organisasi.
• Budaya kerja terbentuk dari gaya kepemimpinannya.
5) Strategy Execution Oversight
• Mengawasi implementasi strategi melalui KPI, monitoring, dan strategic review.
6) Adaptability & Change Management
• Memastikan organisasi responsif terhadap perubahan lingkungan bisnis.
• Menjalankan transformasi bila diperlukan.
Pemimpin puncak sangat menentukan apakah organisasi adaptif atau tertinggal dalam persaingan.

6. Langkah-Langkah Sistematis dalam Pengembangan Strategi Kompetitif & Pelibatan Pemangku Kepentingan
Langkah-langkah sistematis pengembangan strategi kompetitif
1. Analisis lingkungan eksternal
Menggunakan PESTEL dan Porter’s Five Forces untuk memahami peluang & ancaman.
2. Analisis lingkungan internal
Menggunakan VRIO, value chain, dan analisis kapabilitas.
3. Formulasi strategi
Menentukan strategi generik:
o cost leadership,
o differentiation,
o focus strategy.
4. Penetapan tujuan strategis
Membuat sasaran jangka pendek dan jangka panjang yang terukur.
5. Implementasi strategi
Melibatkan struktur organisasi, proses kerja, budaya, dan alokasi sumber daya.
6. Evaluasi dan kontrol strategi
Menggunakan KPI, balanced scorecard, dan continuous improvement.
Cara melibatkan pemangku kepentingan utama
Agar strategi kompetitif diterima, pemangku kepentingan harus terlibat dalam proses:
• Karyawan: dilibatkan dalam diskusi, pelatihan, dan komunikasi strategi.
• Manajer menengah: berperan sebagai penghubung yang mengubah strategi menjadi rencana operasional.
• Pelanggan dan pemasok: memberikan insight kebutuhan pasar dan rantai pasok.
• Pemilik/Shareholder: memberikan persetujuan atas arah besar organisasi.
• Regulator: memastikan strategi sesuai kebijakan hukum.
Pelibatan stakeholders membuat strategi lebih realistis, dapat diterima, dan mudah
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 13

Kerin Yolanda Clara གིས-
Kerin Yolanda Clara - 2421011053, Izin mengirimkan jawaban dari pertanyaan diatas :

1. Konsep kepemimpinan tim dan peran pemimpin dalam membangun visi serta kepercayaan tim

Kepemimpinan tim adalah kemampuan seorang pemimpin untuk mengarahkan, mempengaruhi, dan memfasilitasi anggota agar bekerja secara sinergis mencapai tujuan bersama. Intinya bukan hanya memberi instruksi, tetapi menciptakan lingkungan yang memungkinkan kolaborasi, komunikasi terbuka, dan tanggung jawab kolektif.

Peran pemimpin dalam membangun visi dan kepercayaan sangat krusial: pemimpin harus mampu menerjemahkan arah organisasi menjadi visi yang jelas dan inspiratif, sekaligus menunjukkan integritas, konsistensi, dan transparansi. Keputusan yang adil, komunikasi yang jujur, serta keteladanan perilaku menjadi fondasi untuk menumbuhkan kepercayaan, yang pada akhirnya memengaruhi motivasi dan keterikatan anggota tim.

2. Delapan determinan kinerja tim yang efektif dan bagaimana pemimpin memengaruhinya

Faktor kinerja tim yang umum meliputi: (1) tujuan jelas, (2) struktur peran, (3) komposisi keahlian, (4) norma kerja, (5) komunikasi terbuka, (6) kepemimpinan yang mendukung, (7) sumber daya yang memadai, dan (8) evaluasi kinerja yang berkelanjutan.

Pemimpin berpengaruh melalui kemampuan mereka menyelaraskan tujuan, menetapkan ekspektasi perilaku, menempatkan orang yang tepat, memfasilitasi komunikasi, memastikan ketersediaan sumber daya, dan melakukan monitoring tanpa micromanagement. Pemimpin yang adaptif dapat memodifikasi gaya mereka untuk memperkuat setiap determinan tersebut sehingga produktivitas tim meningkat.

3. Pembedaan jenis-jenis tim dan gaya kepemimpinan yang sesuai

Tim fungsional terdiri dari anggota dalam departemen yang sama; tipe ini cocok dengan gaya kepemimpinan direktif atau coaching karena tugasnya relatif rutin. Tim lintas fungsi (cross-functional) membutuhkan koordinasi antara berbagai keahlian, sehingga gaya kepemimpinan kolaboratif dan fasilitatif lebih tepat untuk menyatukan perspektif berbeda.

Tim swakelola (self-managed) bekerja dengan otonomi tinggi; pemimpin berperan sebagai mentor dan pemberi arah strategis, bukan pengontrol detail. Sedangkan tim virtual memerlukan kepemimpinan berbasis komunikasi digital yang menekankan kejelasan pesan, kepercayaan jarak jauh, dan kontrol yang lebih fleksibel. Pemimpin yang mampu menyesuaikan gaya dengan struktur tim akan lebih efektif dalam mengurangi konflik dan meningkatkan sinergi.

4. Tujuh strategi meningkatkan efektivitas dan kolaborasi tim

Strategi yang umum meliputi: (1) memperjelas visi dan tujuan, (2) menetapkan peran yang tidak tumpang tindih, (3) membangun norma komunikasi, (4) mengembangkan kepercayaan dan transparansi, (5) memanfaatkan teknologi kolaboratif, (6) memastikan akuntabilitas individu dan tim, dan (7) melakukan refleksi dan evaluasi berkala.

Secara kritis, efektivitas tim tidak hanya bergantung pada alat atau prosedur, tetapi pada bagaimana pemimpin mengelola dinamika interpersonal. Tim yang bekerja di bawah tekanan tinggi memerlukan struktur yang jelas, namun tetap fleksibel untuk inovasi. Evaluasi rutin juga penting agar tim tidak terjebak dalam pola kerja usang.

5. Peran pemimpin puncak dalam menentukan arah strategis organisasi di tengah perubahan bisnis

CEO dan tim eksekutif bertanggung jawab menginterpretasikan perubahan eksternal—teknologi, regulasi, kompetisi—dan mengubahnya menjadi arah strategis organisasi. Mereka tidak hanya menetapkan visi jangka panjang, tetapi juga menyeimbangkan antara kelincahan (agility) dan stabilitas operasional.

Secara kritis, peran pemimpin puncak bukan sekadar membuat keputusan besar, tetapi menciptakan budaya organisasi yang adaptif. Mereka harus mampu mengambil risiko terukur, mengembangkan kemampuan organisasi untuk belajar cepat, dan menjaga konsistensi strategi meski tekanan lingkungan meningkat. Respons yang lambat atau bias persepsi sering menjadi penyebab utama kegagalan strategis.

6. Langkah sistematis pengembangan strategi kompetitif dan pelibatan pemangku kepentingan

Proses penyusunan strategi biasanya meliputi: analisis lingkungan eksternal (PEL, industri, pesaing), analisis internal (sumber daya, kapabilitas, keunggulan), formulasi alternatif strategi, pemilihan strategi terbaik, implementasi, dan evaluasi berkelanjutan. Proses ini membutuhkan data objektif dan penilaian kritis agar strategi tidak hanya ideal tetapi realistis dieksekusi.

Melibatkan pemangku kepentingan—manajemen, karyawan, pelanggan utama, mitra, hingga regulator—dilakukan melalui konsultasi, diskusi, dan perumusan bersama untuk memperoleh wawasan dan dukungan implementasi. Secara kritis, partisipasi stakeholder bukan hanya formalitas; ketidakselarasan atau resistensi dari aktor utama dapat menggagalkan strategi, meskipun secara konsep sangat kuat.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 13

ALBINO PRASHESARB གིས-
Izin menjawab evaluasi 13 Ibu
Albino Prashesarb_2421011001

1. Jelaskan konsep kepemimpinan tim dan peran pemimpin dalam membangun visi serta kepercayaan tim!

Jawab :

Kepemimpinan tim adalah proses memandu sekelompok individu yang saling bergantung menuju pencapaian tujuan bersama. Konsep utamanya bergeser dari model komando dan kontrol menjadi fasilitator dan pelatih yang berfokus pada pemberdayaan tim untuk mengambil alih tanggung jawab. Peran utama pemimpin dalam membangun visi adalah dengan mengartikulasikan tujuan yang jelas, menarik, dan menantang yang memberikan arah dan makna bagi pekerjaan tim, memastikan semua anggota memahami bagaimana peran mereka berkontribusi pada gambaran besar tersebut. . Sementara itu, dalam membangun kepercayaan, pemimpin harus menunjukkan integritas (konsistensi antara kata dan perbuatan), bersikap kompeten (memiliki keterampilan yang dibutuhkan), dan peduli (bertindak demi kepentingan terbaik anggota tim), sehingga menciptakan lingkungan yang aman untuk pengambilan risiko dan keterbukaan.

2. Sebutkan delapan determinan kinerja tim yang efektif dan memahami cara pemimpin memengaruhinya?

Jawab :

Delapan determinan kunci yang menentukan kinerja tim yang efektif umumnya meliputi: tujuan yang jelas dan menantang, keterampilan yang relevan yang saling melengkapi antar anggota, komitmen bersama terhadap tujuan, kepercayaan timbal balik antar anggota, mekanisme komunikasi yang efektif, ukuran tim yang optimal (biasanya kecil hingga sedang), dukungan kepemimpinan yang memfasilitasi daripada mendikte, dan struktur serta peran yang terdefinisi dengan baik. Pemimpin memengaruhinya dengan menetapkan dan memperjelas tujuan, memastikan komposisi tim yang tepat, melatih dan membina keterampilan, memodelkan kepercayaan, dan menghilangkan hambatan atau menyediakan sumber daya yang dibutuhkan tim.

3. Jelaskan bagaimana membedakan jenis-jenis tim (functional, cross-functional, self-managed, dan virtual) serta gaya kepemimpinan yang sesuai untuk masing-masing!

Jawab :

Tim dapat dibedakan menjadi: Tim Fungsional (anggota berasal dari departemen yang sama, fokus pada tugas rutin, memerlukan gaya pengarahan yang jelas), Tim Cross-Functional (anggota dari berbagai departemen/keahlian, fokus pada pemecahan masalah kompleks/proyek, memerlukan gaya fasilitasi dan negosiasi), Tim Self-Managed (mengambil alih tanggung jawab manajerial, memerlukan kepemimpinan pembinaan/coaching yang memberikan otonomi dan dukungan), dan Tim Virtual (bekerja jarak jauh, membutuhkan gaya berbasis kepercayaan tinggi dengan fokus pada komunikasi teknologi, hasil, dan akuntabilitas individu yang jelas). Gaya kepemimpinan yang efektif harus disesuaikan untuk memberikan otonomi yang cukup sambil mempertahankan akuntabilitas dan kohesi, terutama pada tim yang tersebar atau self-managed.

4. Jelaskan tujuh strategi untuk meningkatkan efektivitas dan kolaborasi dalam tim kerja!

Jawab :

Tujuh strategi yang dapat meningkatkan efektivitas dan kolaborasi dalam tim kerja meliputi: 1) Menetapkan Tujuan Bersama yang Jelas untuk menyelaraskan upaya, 2) Mendorong Keterbukaan dan Komunikasi Aktif untuk memastikan berbagi informasi secara jujur, 3) Membangun Norma dan Proses Tim yang Jelas (misalnya, aturan pengambilan keputusan dan rapat), 4) Mengembangkan Keterampilan Interpersonal anggota tim, termasuk resolusi konflik, 5) Mendorong Ketergantungan Timbal Balik di mana anggota saling membutuhkan dan menghargai kontribusi, 6) Menyediakan Sumber Daya yang Memadai dan menghilangkan hambatan eksternal, dan 7) Merayakan Keberhasilan dan Memberikan Feedback secara konstruktif untuk memperkuat perilaku kolaboratif yang positif.

5. Bagaimana menganalisis peran pemimpin puncak (CEO dan tim eksekutif) dalam menentukan arah strategis organisasi di tengah perubahan lingkungan bisnis?

Jawab :

Pemimpin puncak, terutama CEO dan tim eksekutif, memainkan peran penting dalam menentukan arah strategis organisasi di tengah perubahan lingkungan bisnis yang dinamis. Peran mereka meliputi mengembangkan dan mengartikulasikan visi strategis jangka panjang yang tanggap terhadap tren pasar, teknologi, dan persaingan. Mereka harus mengalokasikan sumber daya utama, merancang struktur organisasi yang mendukung pelaksanaan strategi, dan menciptakan budaya yang mendorong inovasi dan adaptasi. Selain itu, mereka berfungsi sebagai juru bahasa strategis, memastikan bahwa semua tingkatan organisasi memahami dan menyelaraskan pekerjaan mereka dengan perubahan arah yang diperlukan untuk mempertahankan keunggulan kompetitif.

6. Jelaskan langkah-langkah sistematis dalam pengembangan strategi kompetitif dan bagaimana melibatkan pemangku kepentingan utama dalam prosesnya!

Jawab :

Pengembangan strategi kompetitif melibatkan serangkaian langkah sistematis. Langkah-langkahnya adalah: 1) Analisis Lingkungan (melakukan analisis SWOT, PESTEL, dan Lima Kekuatan Porter untuk mengidentifikasi peluang dan ancaman), 2) Perumusan Visi dan Misi Strategis, 3) Penetapan Tujuan Jangka Panjang yang terukur, 4) Perumusan Strategi (memilih strategi generik seperti diferensiasi, biaya rendah, atau fokus), 5) Implementasi Strategi (mengalokasikan sumber daya dan menyesuaikan struktur), dan 6) Evaluasi dan Kontrol Strategi (memantau kemajuan dan membuat penyesuaian). Keterlibatan pemangku kepentingan utama (seperti karyawan, pelanggan, pemegang saham, dan pemasok) sangat penting. Mereka harus dilibatkan sejak tahap analisis (untuk mendapatkan perspektif pasar dan operasional yang beragam) dan tahap implementasi (untuk memastikan buy-in, komitmen, dan penyelarasan, yang dapat dilakukan melalui konsultasi, lokakarya, dan komunikasi transparan).

In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 13

Taufan Al Amin གིས-
ijin menjawab Ibu,
Taufan Al Amin - 2421011028


1. Konsep kepemimpinan tim & peran pemimpin dalam membangun visi dan kepercayaan
Kepemimpinan tim = kemampuan mengarahkan, memfasilitasi, dan mengkoordinasikan kinerja kelompok.
• Peran pemimpin:
o Menciptakan visi yang jelas & menyelaraskannya dengan tujuan organisasi.
o Mengkomunikasikan visi secara inspiratif.
o Membangun kepercayaan melalui integritas, konsistensi, dan komunikasi terbuka.
o Memberikan dukungan, keamanan psikologis, dan kesempatan partisipasi anggota tim.

2. Delapan determinan kinerja tim & pengaruh pemimpin
1. Tujuan/visi jelas; seorang pemimpin bisa memperjelas arah.
2. Struktur tim tepat; seorang pemimpin mengatur peran & tanggung jawab.
3. Kompetensi anggota; seorang pemimpin memberi pelatihan & rekrutmen tepat.
4. Kepercayaan & hubungan positif; seorang pemimpin menciptakan iklim aman.
5. Kepemimpinan efektif; seorang pemimpin memfasilitasi, bukan mengontrol.
6. Mekanisme Keputusan; pemimpin mendorong partisipasi & obyektivitas.
7. Komunikasi baik, pemimpin membangun saluran komunikasi rutin.
8. Dukungan organisasi, dimana pemimpin memastikan ketersediaan sumber daya.

3. Jenis tim & gaya kepemimpinan yang sesuai
• Functional Team → dari divisi sama; gaya directive & coaching.
• Cross-Functional Team → lintas fungsi; gaya collaborative & transformational.
• Self-Managed Team → otonom; gaya empowering & servant leadership.
• Virtual Team → jarak jauh; gaya e-leadership & trust-based leadership.

4. Tujuh strategi meningkatkan efektivitas & kolaborasi tim
1. Tujuan & ekspektasi jelas.
2. Komunikasi terbuka & rutin.
3. Kolaborasi > kompetisi.
4. Peran & tanggung jawab jelas.
5. Kepercayaan & keamanan psikologis.
6. Pengembangan kompetensi tim.
7. Evaluasi & refleksi berkala.


5. Peran pemimpin puncak (CEO & eksekutif) dalam arah strategis
• Menetapkan visi & arah jangka panjang.
• Menganalisis lingkungan bisnis & tren.
• Membuat keputusan strategis utama.
• Membangun budaya organisasi.
• Menyelaraskan struktur & sumber daya dengan strategi.
• Memimpin perubahan & mengelola krisis.

6. Langkah sistematis pengembangan strategi kompetitif & pelibatan pemangku kepentingan
Langkah Strategi:
1. Analisis eksternal (kompetitor, pasar).
2. Analisis internal (sumber daya, kapabilitas).
3. Menetapkan visi, misi, tujuan strategis.
4. Merumuskan alternatif strategi.
5. Memilih strategi terbaik.
6. Implementasi (struktur, budaya, sistem).
7. Monitoring & evaluasi.
Pelibatan Pemangku Kepentingan:
• Internal: karyawan, manajemen, dewan direksi.
• Eksternal: pelanggan, investor, pemerintah, mitra, masyarakat.
Melalui konsultasi, forum diskusi, survei, atau kolaborasi langsung.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 13

A Bagas Windu Panji Nata གིས-

izin menjawab ibu 

Nama : A Bagas Windu Panji Nata

NPM : 2421011034

1. Konsep Kepemimpinan Tim, Visi, dan Kepercayaan

Kepemimpinan tim adalah proses memengaruhi anggota tim untuk secara sukarela berkontribusi pada pencapaian tujuan bersama tim dan organisasi. Ini berfokus pada fasilitasi, koordinasi, dan pemberdayaan tim, bukan sekadar memberikan perintah.

Peran pemimpin dalam konteks ini sangat penting:

  • Membangun Visi: Pemimpin harus menciptakan dan mengkomunikasikan visi tim yang jelas, inspiratif, dan selaras dengan tujuan organisasi. Visi ini memberikan arah (ke mana tim akan pergi) dan makna (mengapa pekerjaan itu penting) bagi setiap anggota. Pemimpin bertindak sebagai arsitek yang merancang gambaran masa depan yang menarik.
  • Membangun Kepercayaan: Kepercayaan adalah fondasi bagi tim yang berfungsi dengan baik. Pemimpin membangun kepercayaan melalui:
    • Konsistensi: Menepati janji dan berperilaku etis.
    • Integritas: Bersikap jujur dan transparan.
    • Kompetensi: Menunjukkan keahlian dan mengambil keputusan yang baik.
    • Keterbukaan: Berbagi informasi dan menerima masukan.
    • Empati: Menghargai dan peduli terhadap anggota tim.

Kepercayaan memungkinkan tim untuk mengambil risiko, berkolaborasi secara terbuka, dan menyelesaikan konflik secara konstruktif.

2. Delapan Determinan Kinerja Tim yang Efektif

Kinerja tim yang efektif dipengaruhi oleh berbagai faktor atau determinan. Pemimpin memengaruhi faktor-faktor ini melalui tindakan dan gaya mereka.

Determinan Kinerja Tim

Cara Pemimpin Memengaruhinya

1. Tujuan dan Sasaran yang Jelas

Memastikan tujuan tim (clear goals) terdefinisi, terukur, dan dipahami oleh semua orang.

2. Keterampilan yang Relevan (Keahlian)

Mengidentifikasi kebutuhan keterampilan, melakukan pelatihan, dan memastikan komposisi tim memiliki bauran keahlian yang tepat.

3. Komitmen Bersama (Commitment)

Membangun visi yang kuat dan nilai-nilai bersama untuk mendorong rasa kepemilikan dan motivasi anggota.

4. Komunikasi yang Terbuka

Mendorong dialog yang jujur dan timbal balik, menciptakan saluran komunikasi yang efektif, dan secara aktif mendengarkan.

5. Kepercayaan (Trust)

Bersikap transparan, menunjukkan konsistensi, dan memberikan dukungan kepada anggota tim (seperti dijelaskan di poin 1).

6. Negosiasi yang Baik/Penyelesaian Konflik

Menetapkan norma-norma konflik yang sehat dan memfasilitasi diskusi untuk mengatasi perselisihan dengan adil.

7. Dukungan Eksternal (Resources)

Bertindak sebagai perisai dan penghubung (liaison) dengan manajemen puncak untuk mendapatkan sumber daya yang memadai (dana, peralatan, informasi).

8. Kepemimpinan yang Sesuai (Appropriate Leadership)

Menyesuaikan gaya kepemimpinan (seperti kepemimpinan situasional) dengan kebutuhan tim dan situasi yang dihadapi.

 

3. Jenis-jenis Tim dan Gaya Kepemimpinan yang Sesuai

Membedakan jenis-jenis tim didasarkan pada tujuan, komposisi, dan tingkat otonomi mereka. Gaya kepemimpinan yang efektif harus disesuaikan untuk memaksimalkan potensi masing-masing jenis tim.

Jenis Tim

Karakteristik Utama

Gaya Kepemimpinan yang Sesuai

Fungsional (Functional)

Terdiri dari orang-orang dari departemen yang sama, memiliki keahlian serupa, mengerjakan tugas rutin.

Direktif/Transaksional: Pemimpin menetapkan tujuan, menjelaskan proses, dan memantau kinerja untuk memastikan efisiensi dan kepatuhan standar.

Lintas Fungsional (Cross-Functional)

Terdiri dari orang-orang dari berbagai bidang/departemen, dibentuk untuk menyelesaikan proyek atau masalah kompleks tertentu.

Fasilitatif/Kolaboratif: Pemimpin bertindak sebagai fasilitator dan penghubung, mempromosikan pemahaman antar-disiplin ilmu dan integrasi ide.

Dikelola Mandiri (Self-Managed)

Anggota memiliki otoritas untuk mengambil keputusan operasional, memecahkan masalah, dan merencanakan pekerjaan mereka sendiri tanpa pengawasan langsung.

Pemberdayaan (Empowering): Pemimpin bertindak sebagai pelatih (coach) yang mendelegasikan otoritas, memberikan sumber daya, dan menjaga batasan strategis.

Virtual (Virtual)

Anggota tersebar secara geografis dan berinteraksi melalui teknologi.

Berbasis Kepercayaan & Teknologi: Pemimpin harus fokus pada kepercayaan, komunikasi yang eksplisit, dan memastikan teknologi yang tepat tersedia untuk menjaga keterlibatan dan sinkronisasi.

4. Tujuh Strategi untuk Meningkatkan Efektivitas dan Kolaborasi Tim Kerja

Untuk memastikan tim tidak hanya bekerja, tetapi juga berkolaborasi secara efektif dan memberikan hasil yang optimal, pemimpin dapat menerapkan strategi berikut:

  1. Tetapkan Norma dan Ekspektasi yang Jelas: Buat "aturan dasar" tim (Team Charters) tentang bagaimana anggota akan berkomunikasi, menyelesaikan konflik, dan mengambil keputusan.
  2. Membangun Tujuan yang Saling Bergantung: Rancang tugas dan sasaran sehingga anggota harus bekerja sama untuk berhasil. Ini mendorong interaksi dan berbagi informasi (interdependence).
  3. Investasikan pada Keterampilan Antarpersonal: Latih anggota tim dalam bidang komunikasi, negosiasi, dan resolusi konflik. Keahlian teknis saja tidak cukup.
  4. Menciptakan Rasa Keamanan Psikologis (Psychological Safety): Ciptakan lingkungan di mana anggota merasa aman untuk menyuarakan ide, mengajukan pertanyaan, mengakui kesalahan, dan mengambil risiko tanpa takut dihukum atau dipermalukan.
  5. Mendorong Keberagaman (Diversity) dan Inklusi: Pastikan tim memiliki latar belakang, pengalaman, dan perspektif yang beragam, dan bahwa semua suara didengar dan dihargai. Keberagaman perspektif adalah kunci untuk pemecahan masalah yang inovatif.
  6. Memfasilitasi Pertemuan yang Efektif: Tetapkan agenda yang jelas, libatkan semua peserta, dan akhiri pertemuan dengan tindakan dan tanggung jawab yang terdefinisi.
  7. Sistem Penghargaan Berbasis Tim: Memberikan insentif dan pengakuan tidak hanya berdasarkan kinerja individu, tetapi juga berdasarkan pencapaian kolektif untuk memperkuat perilaku kolaboratif.

5. Peran Pemimpin Puncak (CEO dan Tim Eksekutif) dalam Arah Strategis

Pemimpin puncak (CEO dan tim eksekutif) memainkan peran penentu dalam menetapkan arah strategis organisasi, terutama di tengah perubahan lingkungan bisnis yang cepat (misalnya, disrupsi teknologi, perubahan regulasi, atau perubahan pasar).

  • Pemindaian Lingkungan (Environmental Scanning): Mereka bertanggung jawab untuk terus memantau dan menganalisis lingkungan eksternal (PESTEL: Politik, Ekonomi, Sosial, Teknologi, Lingkungan, Hukum) dan internal (kekuatan, kelemahan) untuk mengidentifikasi ancaman dan peluang.
  • Merumuskan Visi dan Misi Strategis: Berdasarkan analisis lingkungan, mereka merumuskan atau merevisi visi (di mana organisasi ingin berada di masa depan) dan misi (apa yang dilakukan organisasi saat ini).
  • Pengambilan Keputusan Alokasi Sumber Daya: Mereka membuat keputusan kritis tentang bagaimana sumber daya yang langka (modal, bakat, waktu) dialokasikan di seluruh portofolio bisnis dan proyek. Ini menentukan di mana organisasi akan berkompetisi.
  • Membentuk Budaya dan Nilai: Tim eksekutif adalah teladan budaya. Mereka menetapkan nilai-nilai dan norma yang memandu perilaku organisasi. Di masa perubahan, mereka harus memimpin transformasi budaya yang diperlukan untuk mendukung strategi baru.
  • Manajemen Risiko dan Ketidakpastian: Mereka menavigasi ketidakpastian dengan mengembangkan rencana kontingensi dan mengambil keputusan strategis berisiko yang diperlukan untuk mempertahankan keunggulan kompetitif.
  • Penyelarasan (Alignment) Organisasi: Mereka memastikan bahwa struktur, sistem, proses, dan personel organisasi selaras untuk mendukung pelaksanaan strategi yang baru.

6. Langkah-langkah Pengembangan Strategi Kompetitif dan Keterlibatan Pemangku Kepentingan

Pengembangan strategi kompetitif adalah proses sistematis yang bertujuan untuk menciptakan posisi unik dan bernilai di pasar (Competitive Advantage).

Langkah-langkah Sistematis Pengembangan Strategi:

  1. Analisis Situasi (Diagnosis):
  • Lakukan analisis eksternal (misalnya, Analisis Lima Kekuatan Porter) untuk memahami daya tarik industri dan pesaing.
  • Lakukan analisis internal (VRIO) untuk mengidentifikasi sumber daya dan kapabilitas inti (Core Competencies).
  • Sintesiskan temuan ke dalam analisis SWOT (Kekuatan, Kelemahan, Peluang, Ancaman).
Perumusan Strategi (Formulation):
  • Tentukan tingkat strategi (korporat, bisnis, fungsional).
  • Pilih strategi kompetitif generik (misalnya, Diferensiasi, Kepemimpinan Biaya, atau Fokus).
  • Tetapkan tujuan strategis yang terukur (OKRs atau Balanced Scorecard).
Implementasi Strategi (Implementation):
  • Mengalokasikan sumber daya yang diperlukan.
  • Menciptakan atau merevisi struktur organisasi yang mendukung.
  • Mengembangkan sistem operasional dan insentif yang selaras dengan strategi.
  • Mengkomunikasikan strategi ke seluruh organisasi.
Evaluasi dan Pengendalian (Evaluation & Control):
  • Memantau kinerja terhadap sasaran (KPI).
  • Melakukan tinjauan strategis secara berkala.
  • Mengambil tindakan korektif jika kinerja melenceng atau jika lingkungan telah berubah secara signifikan.

Melibatkan Pemangku Kepentingan Utama:

Keterlibatan pemangku kepentingan (Stakeholders) sangat penting untuk mendapatkan wawasan, memastikan dukungan, dan meminimalkan resistensi.

  • Identifikasi dan Prioritas: Identifikasi semua pemangku kepentingan (pemegang saham, karyawan, pelanggan, pemasok, regulator, masyarakat) dan prioritaskan berdasarkan kekuatan dan minat mereka.
  • Keterlibatan Awal (Input): Libatkan pemangku kepentingan yang memiliki informasi penting (misalnya, tim penjualan untuk wawasan pelanggan) pada tahap Analisis Situasi untuk memperkaya data dan perspektif.
  • Komunikasi dan Dialog: Libatkan pemangku kepentingan kunci (misalnya, direktur fungsional, serikat pekerja) dalam Perumusan Strategi melalui sesi strategis atau kelompok fokus untuk memastikan strategi tersebut dapat diterapkan dan didukung.
  • Membangun Kepemilikan (Buy-in): Libatkan tim lini depan selama Implementasi (melalui sesi pelatihan dan diskusi) untuk mengkomunikasikan mengapa strategi baru itu penting dan bagaimana hal itu memengaruhi peran mereka.

Keterlibatan ini mengubah pemangku kepentingan dari pengamat menjadi mitra implementasi yang berkomitmen.

 


In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 13

INTAN LIDIYA WIDURI 2421011047 གིས-
Intan Lidiya Widuri 2421011047Izin menjawab Ibu

1. Konsep kepemimpinan tim dan peran pemimpin dalam membangun visi serta kepercayaan tim

Kepemimpinan tim berfokus pada kemampuan pemimpin dalam mengarahkan, mengkoordinasikan, dan menyatukan anggota tim agar tujuan bersama dapat dicapai secara efektif. pemimpin memiliki peran penting dalam menetapkan visi yang inspiratif (envisioning) sebagai pedoman arah kerja. Pemimpin harus mampu menjelaskan tujuan strategis tim dengan jelas agar setiap anggota memahami kontribusinya. Selain itu, membangun kepercayaan merupakan bagian dari social integrating, yaitu bagaimana pemimpin menciptakan hubungan yang terbuka, mendorong komunikasi jujur, dan menumbuhkan rasa saling mendukung. Kepercayaan tim lahir dari konsistensi pemimpin, transparansi dalam pengambilan keputusan, serta kemampuan mendengarkan kebutuhan anggota.

2. Delapan determinan kinerja tim yang efektif dan bagaimana pemimpin memengaruhinya

Delapan faktor utama yang menentukan efektivitas tim, yaitu komitmen pada tujuan, kejelasan peran dan keterampilan, koordinasi internal dan eksternal, ketersediaan sumber daya, kepercayaan dan kohesivitas, efikasi kolektif, model mental yang akurat dan terbagi, serta keberagaman anggota. Pemimpin memengaruhinya melalui tindakan langsung, seperti memperjelas tugas, memastikan koordinasi antarbagian, serta menjembatani hubungan dengan pihak eksternal untuk mendapatkan dukungan politik maupun sumber daya. Pemimpin juga mendorong kohesivitas dengan menciptakan lingkungan sosial yang positif serta mengembangkan kepercayaan melalui komunikasi terbuka. Dengan membangun keyakinan bersama bahwa tim mampu mencapai tujuan, pemimpin memperkuat efikasi kolektif yang menjadi fondasi kinerja tinggi.

3. Membedakan functional, cross-functional, self-managed, dan virtual team serta gaya kepemimpinannya

Tim fungsional terdiri dari anggota yang bekerja dalam bidang yang sama, sehingga gaya kepemimpinan yang cocok adalah yang memberikan arahan jelas dan memastikan standar kerja konsisten. Pada tim lintas fungsi (cross-functional), anggotanya berasal dari departemen berbeda, sehingga pemimpin harus lebih bersifat kolaboratif dan mampu menyatukan perspektif yang beragam. Tim swakelola (self-managed) bekerja dengan otonomi tinggi, sehingga pemimpin lebih berperan sebagai fasilitator yang memberikan dukungan daripada instruksi langsung. Sementara itu, tim virtual mengandalkan teknologi komunikasi, sehingga pemimpin perlu memastikan kejelasan informasi, menjaga kedekatan emosional anggota, serta membangun kepercayaan meski tidak bertemu secara fisik. Masing-masing tipe tim membutuhkan pendekatan kepemimpinan yang berbeda sesuai kebutuhan struktur dan tingkat kemandirian anggotanya.

4. Tujuh strategi untuk meningkatkan efektivitas dan kolaborasi dalam tim

\ tujuh strategi penting untuk memperkuat efektivitas tim. Pertama, menekankan nilai dan tujuan bersama agar semua anggota merasa memiliki arah yang sama. Kedua, menggunakan simbol dan ritual tim untuk membangun identitas. Ketiga, mendorong interaksi sosial positif agar hubungan antaranggota semakin kuat. Keempat, menceritakan pencapaian tim secara terbuka untuk menciptakan momentum kerja. Kelima, melakukan after-activity review guna merefleksikan apa yang sudah berjalan baik dan apa yang perlu diperbaiki. Keenam, melatih kerja sama secara berkelanjutan melalui simulasi atau latihan bersama. Ketujuh, memberikan insentif untuk kolaborasi, bukan kompetisi internal. Ketika ketujuh strategi dijalankan secara konsisten, tim akan memiliki budaya kerja yang kuat, harmonis, dan produktif.

5. Peran pemimpin puncak dalam menentukan arah strategis organisasi di tengah perubahan lingkungan bisnis

 pemimpin puncak, termasuk CEO dan tim eksekutif, bertanggung jawab menetapkan visi jangka panjang dan strategi organisasi. Peran mereka menjadi sangat penting ketika lingkungan bisnis berubah dengan cepat. Pemimpin puncak harus mampu membaca peluang dan ancaman lebih awal, kemudian mengarahkan organisasi agar dapat beradaptasi. Melalui kolaborasi erat dalam tim eksekutif, mereka menyusun strategi kompetitif yang realistis dan membangun budaya yang mendukung implementasi strategi tersebut. Kepercayaan dan integrasi perilaku dalam tim eksekutif seperti yang dijelaskani agar keputusan strategis dapat dilakukan secara efektif dan mendapat dukungan dari seluruh organisasi.

6. Langkah-langkah sistematis dalam pengembangan strategi kompetitif dan melibatkan pemangku kepentingan

Pengembangan strategi kompetitif dalam file dilakukan melalui beberapa langkah terstruktur. Pertama, menentukan tujuan jangka panjang yang ingin dicapai organisasi. Kedua, menganalisis kondisi pasar serta perilaku pesaing untuk memahami posisi kompetitif. Ketiga, mengevaluasi kekuatan internal dan kompetensi unik organisasi. Keempat, mengembangkan berbagai alternatif strategi, seperti diferensiasi, biaya rendah, atau fokus pada segmen tertentu. Kelima, memilih strategi yang fleksibel dan dapat menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan. Keenam, melibatkan tim eksekutif dan pemangku kepentingan utama dalam diskusi dan pengambilan keputusan agar strategi yang dipilih mendapat dukungan luas dan mudah diimplementasikan. Pendekatan sistematis ini memastikan bahwa strategi tidak hanya ideal, tetapi juga realistis dan dapat dieksekusi secara efektif.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 13

Willya Marsha Annisa Wardhany གིས-
Willya Marsha A 2421011040

izin menjawab evaluasi sesi 13

1. Konsep kepemimpinan tim dan peran pemimpin dalam membangun visi serta kepercayaan tim
Kepemimpinan tim adalah kemampuan seorang pemimpin dalam mengarahkan, memotivasi, dan menyatukan anggota untuk mencapai tujuan bersama. Dalam perannya, pemimpin harus menciptakan visi yang jelas agar semua anggota memahami arah dan fokus kerja tim. Selain itu, pemimpin juga perlu membangun kepercayaan melalui komunikasi terbuka, sikap konsisten, dan perlakuan yang adil. Kepercayaan ini menjadi dasar kerja sama yang baik, meningkatkan komitmen, serta membuat tim lebih solid dan efektif dalam menyelesaikan tugas.

2. Delapan determinan kinerja tim yang efektif dan bagaimana pemimpin memengaruhinya
Kinerja tim yang efektif dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kejelasan tujuan, pembagian peran yang tepat, komunikasi yang terbuka, kepercayaan antar anggota, kolaborasi yang kuat, kepemimpinan yang baik, kecukupan sumber daya, serta evaluasi dan umpan balik yang rutin. Pemimpin memengaruhi seluruh faktor tersebut dengan memberikan arahan yang jelas, memastikan pembagian tugas tidak tumpang tindih, membuka ruang diskusi, menciptakan lingkungan yang penuh kepercayaan, mendorong kerja sama, menyediakan kebutuhan tim, dan memberikan penilaian berkala untuk menjaga kualitas kerja.

3. Jenis-jenis tim dan gaya kepemimpinan yang sesuai untuk masing-masing
Tim fungsional terdiri dari orang-orang dalam satu departemen sehingga membutuhkan pemimpin dengan gaya yang terstruktur dan direktif. Tim lintas fungsi melibatkan anggota dari berbagai departemen, sehingga lebih cocok dipimpin secara kolaboratif untuk menyatukan beragam perspektif. Tim swakelola bergerak mandiri dalam menyelesaikan pekerjaannya, sehingga pemimpin perlu menggunakan gaya delegatif yang memberi kepercayaan penuh pada tim. Sementara itu, tim virtual bekerja dari lokasi berbeda dan membutuhkan pemimpin yang komunikatif serta adaptif agar koordinasi tetap lancar meski tanpa tatap muka.

4. Tujuh strategi meningkatkan efektivitas dan kolaborasi dalam tim kerja
Untuk meningkatkan efektivitas dan kolaborasi, pemimpin perlu menetapkan tujuan yang jelas dan memastikan komunikasi berjalan terbuka agar anggota dapat bertukar ide dengan nyaman. Pemimpin juga harus membangun kepercayaan lewat sikap konsisten, membagi peran secara adil, dan mendorong kolaborasi melalui kerja sama antar anggota. Selain itu, memberikan dukungan, pelatihan, dan sumber daya adalah langkah penting agar anggota terus berkembang. Umpan balik serta penghargaan juga diperlukan untuk memotivasi tim sekaligus memperbaiki kinerja secara berkelanjutan.

5. Peran pemimpin puncak dalam menentukan arah strategis organisasi
Pemimpin puncak seperti CEO dan tim eksekutif bertanggung jawab membaca perubahan lingkungan bisnis dan menentukan arah strategis yang tepat bagi organisasi. Mereka menilai tren pasar, risiko, peluang, serta perkembangan teknologi untuk merumuskan visi jangka panjang yang akan menjadi pedoman seluruh anggota perusahaan. Selain itu, mereka mengalokasikan sumber daya, membuat keputusan penting, dan memastikan semua unit organisasi berada dalam arah yang sama. Dengan komunikasi strategis yang baik, pemimpin puncak menjaga organisasi tetap adaptif, inovatif, dan mampu bertahan menghadapi perubahan.

6. Langkah-langkah sistematis dalam pengembangan strategi kompetitif dan keterlibatan pemangku kepentingan
Pengembangan strategi kompetitif dimulai dengan analisis lingkungan internal dan eksternal untuk melihat kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman. Berdasarkan analisis ini, perusahaan menetapkan tujuan strategis yang ingin dicapai, kemudian merumuskan berbagai alternatif strategi dan memilih yang paling sesuai. Strategi tersebut direncanakan dengan pembagian sumber daya dan penentuan langkah implementasi yang jelas. Setelah dijalankan, strategi perlu dievaluasi secara berkala agar tetap relevan dengan kondisi pasar. Dalam proses ini, pemangku kepentingan seperti karyawan, pelanggan, pemasok, dan investor dilibatkan melalui diskusi dan komunikasi terbuka sehingga strategi yang dihasilkan lebih realistis, diterima, dan mudah dilaksanakan oleh seluruh pihak.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 13

NELLY FITRIA གིས-
Nelly Fitria (2421011002)

JAWABAN

1. Konsep kepemimpinan tim dan peran pemimpin dalam membangun visi serta kepercayaan tim

Kepemimpinan tim adalah kemampuan seorang pemimpin dalam mengarahkan, memotivasi, dan mengoordinasikan kelompok agar dapat mencapai tujuan bersama secara efektif. Pemimpin tim tidak hanya bertindak sebagai pengambil keputusan, tetapi juga fasilitator yang memastikan setiap anggota memahami perannya, berkolaborasi secara optimal, dan memberikan kontribusi sesuai kapasitasnya. Dalam membangun visi, pemimpin berperan menyusun arah yang jelas, menggambarkan tujuan akhir yang inspiratif, serta menghubungkannya dengan nilai dan harapan anggota tim. Visi yang kuat menciptakan rasa tujuan yang sama dan meningkatkan motivasi intrinsik. Selain itu, membangun kepercayaan merupakan tugas inti pemimpin, yaitu melalui komunikasi terbuka, konsistensi perilaku, kejujuran, keadilan dalam pengambilan keputusan, serta kemampuan mendukung anggota ketika menghadapi tantangan. Kepercayaan juga tumbuh ketika pemimpin menunjukkan kompetensi, integritas, dan empati, sehingga anggota merasa aman untuk bekerja, berpendapat, dan mengambil risiko yang diperlukan.

2. Delapan determinan kinerja tim yang efektif dan bagaimana pemimpin memengaruhinya
Terdapat delapan determinan utama yang memengaruhi efektivitas kinerja tim:
a. Tujuan yang jelas (Clear Goals)
Tujuan yang jelas menjadi dasar bagi setiap tim untuk bekerja secara fokus dan terarah. Tanpa tujuan yang spesifik dan terukur, anggota tim akan mengalami kebingungan mengenai apa yang harus dicapai dan mengapa pekerjaan mereka penting. Pemimpin memegang peran kunci dalam merumuskan dan mengkomunikasikan tujuan tersebut. Mereka harus memastikan bahwa tujuan tidak hanya dipahami secara rasional, tetapi juga diterima secara emosional sehingga anggota merasa termotivasi. Tujuan yang jelas memberikan standar performa, memudahkan evaluasi, serta meningkatkan rasa memiliki terhadap hasil kerja.
b. Struktur peran dan tanggung jawab (Role and Responsibility Clarity)
Struktur kerja yang baik membuat setiap anggota mengetahui peran masing-masing, batas tanggung jawab, serta bagaimana kontribusinya memengaruhi hasil tim. Ketidakjelasan peran sering menjadi sumber konflik, duplikasi kerja, dan inefisiensi. Pemimpin mempengaruhi determinan ini dengan menyusun pembagian tugas yang adil berdasarkan kompetensi, pengalaman, dan minat anggota. Selain itu, pemimpin perlu menjelaskan ekspektasi spesifik, menyediakan pedoman kerja, serta melakukan penyesuaian peran bila terjadi perubahan situasi. Dengan struktur yang jelas, anggota merasa lebih percaya diri dan tahu apa yang diharapkan dari mereka.
c. Komposisi tim yang tepat (Right Team Composition)
Komposisi tim mencakup keberagaman kompetensi, kepribadian, pengalaman, dan gaya kerja anggota. Tim yang efektif biasanya berisi kombinasi anggota dengan keahlian saling melengkapi, sehingga setiap orang memiliki peran unik. Pemimpin memiliki pengaruh besar dalam menentukan siapa yang masuk dalam tim dan bagaimana memaksimalkan potensi mereka. Pemimpin harus mempertimbangkan keseimbangan antara kreator, analis, pelaksana, dan komunikator. Komposisi yang tepat tidak hanya meningkatkan kualitas output, tetapi juga meminimalkan konflik yang disebabkan oleh ketidakcocokan antar anggota.
d. Komunikasi efektif (Effective Communication)
Komunikasi adalah aliran darah dalam sebuah tim. Ketika komunikasi berjalan baik, informasi berpindah dengan cepat, masalah dapat dideteksi lebih awal, dan koordinasi menjadi lebih efisien. Pemimpin memfasilitasi komunikasi melalui rapat berkala, penggunaan teknologi (misal Google Workspace atau Slack), dan pembentukan budaya keterbukaan. Pemimpin juga harus mendengarkan secara aktif, memberikan umpan balik konstruktif, dan memastikan semua anggota merasa memiliki ruang untuk berbicara. Komunikasi yang efektif memperkuat kepercayaan, mengurangi miskomunikasi, dan meningkatkan kecepatan pengambilan keputusan.
e. Norma kerja dan budaya positif (Supportive Norms)
Norma kerja merupakan aturan tidak tertulis yang mengatur perilaku anggota tim dalam bekerja. Norma positif, seperti saling menghormati, tepat waktu, komitmen terhadap kualitas, dan kesediaan membantu rekan, terbukti meningkatkan efektivitas tim. Pemimpin memengaruhi determinan ini dengan memberi teladan (role model), menetapkan aturan dasar, dan menegakkan standar secara konsisten. Ketika budaya positif terbentuk, anggota tim lebih disiplin, lebih produktif, serta lebih bersemangat bekerja karena merasa berada dalam lingkungan yang sehat dan mendukung.
f. Hubungan interpersonal yang harmonis (Team Cohesion & Trust)
Kinerja tim sangat dipengaruhi oleh seberapa baik anggota berinteraksi satu sama lain. Hubungan interpersonal yang kuat menciptakan kohesi, yaitu rasa kebersamaan dan kepedulian kolektif. Pemimpin dapat memperkuat kohesi dengan menciptakan kegiatan team building, memfasilitasi penyelesaian konflik, dan membangun lingkungan yang aman secara psikologis. Ketika anggota saling percaya dan menghargai, kolaborasi menjadi lebih mudah, konflik berkurang, dan semangat kerja meningkat. Kohesi juga membuat anggota lebih loyal dan bersedia berkorban demi keberhasilan tim.
g. Pelatihan dan pengembangan anggota (Training & Development)
Tim tidak dapat mencapai kinerja unggul tanpa kompetensi yang tepat. Oleh karena itu, pemimpin perlu memastikan bahwa anggota mendapatkan pelatihan yang sesuai, baik teknis maupun soft skills. Pengembangan anggota mencakup workshop, coaching, mentoring, rotasi tugas, atau kesempatan mengikuti proyek strategis. Pemimpin yang mendukung pembelajaran membuat anggota merasa berkembang dan dihargai, sehingga meningkatkan motivasi dan produktivitas. Dengan pelatihan yang memadai, tim dapat bekerja lebih efisien, memecahkan masalah lebih cepat, dan tetap adaptif terhadap perubahan.
h. Sistem penghargaan dan motivasi yang adil (Reward & Recognition System)
Sistem penghargaan yang efektif membantu memperkuat perilaku positif, meningkatkan moral, dan mendorong kinerja yang lebih baik. Pemimpin mempengaruhi hal ini melalui pemberian apresiasi yang tepat waktu, objektif, serta sejalan dengan kontribusi anggota. Penghargaan dapat berupa bonus, promosi, sertifikat, pengakuan publik, atau bahkan ucapan terima kasih. Ketika penghargaan diberikan secara adil dan transparan, anggota merasa dihargai dan termotivasi untuk terus memberikan yang terbaik. Sistem reward yang baik juga mengurangi turnover dan meningkatkan loyalitas kepada tim dan organisasi.

3. Perbedaan jenis-jenis tim dan gaya kepemimpinan yang sesuai
a. Functional Team
Tim fungsional terdiri dari anggota dengan keahlian serupa dalam satu departemen, misalnya tim pemasaran atau keuangan. Gaya kepemimpinan yang sesuai adalah gaya direktif atau struktural, karena pemimpin perlu memberikan arahan teknis, mengontrol alur kerja, dan menjaga efisiensi proses.
b. Cross-Functional Team
Tim ini berisi anggota dari berbagai departemen untuk memecahkan masalah atau mengembangkan proyek tertentu. Karena tim ini memiliki keberagaman perspektif, gaya yang cocok adalah kepemimpinan kolaboratif dan partisipatif, di mana pemimpin berperan sebagai fasilitator, penengah, dan penyatu ide.
c. Self-Managed Team
Tim mandiri diberi wewenang untuk merencanakan, mengatur, dan mengendalikan pekerjaan mereka sendiri. Pemimpin yang sesuai adalah pemimpin delegatif dan pemberdaya, yang lebih banyak memberikan kepercayaan, sedikit kontrol, dan fokus pada coaching ketimbang instruksi.
d. Virtual Team
Tim ini bekerja secara geografis terpisah dan mengandalkan teknologi digital. Gaya kepemimpinan yang sesuai adalah kepemimpinan komunikatif dan adaptif, dengan penekanan pada kejelasan pesan, penggunaan teknologi kolaboratif, dan penciptaan kedekatan emosional meskipun jarak berjauhan.

4. Tujuh strategi meningkatkan efektivitas dan kolaborasi tim kerja
Membangun tujuan dan ekspektasi yang jelas sehingga semua anggota memahami arah yang sama.
a. Membangun tujuan dan ekspektasi yang jelas
Tujuan yang jelas adalah fondasi dari kerja tim yang efektif. Tanpa arahan yang tegas, anggota tim tidak memiliki orientasi yang sama sehingga upaya kerja menjadi terpecah. Pemimpin harus merumuskan tujuan jangka pendek dan jangka panjang secara spesifik, terukur, realistis, dan memiliki tenggat yang jelas. Ekspektasi juga harus disampaikan terkait kualitas kerja, peran masing-masing anggota, standar perilaku, dan mekanisme evaluasi. Dengan tujuan dan ekspektasi yang jelas, setiap anggota mengetahui kontribusinya, memahami arah gerak tim, serta merasa memiliki tanggung jawab yang konkret. Kejelasan ini juga meminimalkan kesalahpahaman dan meningkatkan fokus kerja.
b. Meningkatkan komunikasi terbuka
Komunikasi terbuka memungkinkan pertukaran informasi secara cepat, transparan, dan efisien. Pemimpin perlu menciptakan lingkungan di mana anggota merasa aman untuk menyampaikan ide, keluhan, atau pertanyaan tanpa takut dihukum atau diremehkan. Komunikasi terbuka juga mencakup penggunaan teknologi yang mendukung seperti aplikasi kolaboratif, chat group, sistem manajemen proyek, atau meeting rutin. Ketika komunikasi mengalir dengan baik, masalah dapat terdeteksi lebih awal, ide inovatif lebih mudah muncul, dan koordinasi antar anggota menjadi lebih lancar. Selain itu, komunikasi terbuka memperkuat rasa saling percaya dan menghindari konflik yang disebabkan oleh miskomunikasi.
c. Menciptakan norma kerja yang positif
Norma kerja adalah aturan tidak tertulis yang mengatur interaksi dan perilaku tim, seperti kedisiplinan, etika kerja, sikap saling menghormati, dan standar penyelesaian masalah. Pemimpin harus membentuk norma yang mendorong kolaborasi, misalnya keterbukaan dalam diskusi, budaya saling mendukung, serta komitmen pada kualitas. Norma positif juga membantu menciptakan lingkungan psikologis yang aman sehingga anggota merasa dihargai dan berani mengambil risiko. Ketika norma kerja sudah terbangun, anggota secara otomatis mengikuti pola kerja yang sama, mengurangi konflik, serta meningkatkan efisiensi kerja secara keseluruhan.
d. Mendorong kolaborasi dan saling ketergantungan
Kolaborasi yang baik terjadi ketika anggota saling memahami bahwa keberhasilan tim adalah hasil kerja bersama, bukan individu. Pemimpin dapat mendorong kolaborasi dengan mendesain tugas yang mengharuskan kerja sama lintas fungsi, membuat forum diskusi rutin, atau memberi tugas rotasi agar anggota belajar memahami peran satu sama lain. Saling ketergantungan juga dapat diperkuat dengan membangun budaya “kami/our team” sehingga setiap keberhasilan atau kegagalan menjadi tanggung jawab bersama. Dengan demikian, kerja tim menjadi lebih solid, koordinasi meningkat, dan semangat gotong royong memperkuat efektivitas kerja tim.
e. Mengembangkan kompetensi anggota
Tim yang efektif harus diisi oleh anggota yang kompeten dan terus berkembang. Pemimpin berperan menyediakan pelatihan teknis, soft skills, mentoring, coaching, serta kesempatan belajar dari pengalaman proyek. Pengembangan ini tidak hanya meningkatkan kemampuan individu, tetapi juga memperkaya kapasitas kolektif tim. Selain itu, investasi dalam pengembangan kompetensi meningkatkan motivasi, rasa percaya diri, dan loyalitas anggota. Ketika setiap orang memiliki kemampuan yang memadai, beban kerja dapat dibagi lebih merata, kualitas hasil kerja meningkat, dan tim lebih siap menghadapi tantangan kompleks.
f. Memberikan penguatan positif (reward & recognition)
Penguatan positif berupa penghargaan, apresiasi, atau pengakuan publik dapat meningkatkan motivasi dan produktivitas anggota tim. Penghargaan tidak harus selalu berupa bonus, tetapi bisa dalam bentuk ucapan terima kasih, pengakuan verbal dalam rapat, atau peluang promosi. Pemimpin yang mampu memberikan apresiasi secara tepat waktu dan adil akan membuat anggota merasa dihargai atas kontribusinya. Hal ini meningkatkan kepuasan kerja, mengurangi turnover, dan mendorong anggota untuk mempertahankan kualitas kerja terbaiknya. Di sisi lain, reward membantu memperkuat perilaku positif sehingga menjadi budaya kerja yang berkelanjutan.
g. Mengelola konflik secara konstruktif
Konflik tidak selalu negatif; jika dikelola dengan baik, konflik justru dapat memunculkan inovasi dan perbaikan proses kerja. Pemimpin perlu mengelola konflik secara konstruktif dengan mengutamakan dialog terbuka, menghindari serangan personal, serta fokus pada solusi. Teknik manajemen konflik seperti mediasi, kompromi, atau kolaborasi dapat diterapkan sesuai situasi. Pemimpin juga harus mampu mendeteksi tanda-tanda konflik sejak dini, seperti penurunan komunikasi atau ketegangan antar anggota, agar dapat diselesaikan sebelum membesar. Ketika konflik dapat dikelola secara konstruktif, hubungan antar anggota menjadi lebih kuat, kepercayaan meningkat, dan tim mampu bekerja dengan dinamika yang sehat.

5. Analisis peran pemimpin puncak (CEO & tim eksekutif) dalam menentukan arah strategis di tengah perubahan lingkungan bisnis
Pemimpin puncak seperti CEO dan tim eksekutif memiliki peran krusial dalam menentukan arah strategis organisasi, terutama ketika menghadapi ketidakpastian atau perubahan lingkungan bisnis yang cepat. Mereka bertanggung jawab melakukan environmental scanning, yaitu menganalisis tren eksternal seperti teknologi, persaingan, regulasi, dan kebutuhan pelanggan. Berdasarkan analisis tersebut, pemimpin puncak merumuskan visi strategis, menentukan prioritas, serta mengalokasikan sumber daya agar organisasi tetap kompetitif.
Selain itu, pemimpin puncak juga bertugas menanamkan budaya adaptif, memastikan organisasi mampu berubah dan berinovasi. Mereka membangun momentum transformasi dengan komunikasi yang kuat, memberi contoh melalui tindakan, serta melibatkan seluruh level organisasi dalam pelaksanaan strategi. Dalam situasi perubahan, pemimpin puncak harus mengambil keputusan cepat, namun tetap mempertimbangkan risiko, keberlanjutan, dan etika. Kemampuan mereka dalam mengelola perubahan menentukan apakah organisasi bertahan atau tertinggal.

6. Langkah-langkah sistematis dalam pengembangan strategi kompetitif dan pelibatan pemangku kepentingan
Pengembangan strategi kompetitif dilakukan melalui beberapa langkah sistematis. Pertama, organisasi harus melakukan analisis lingkungan internal dan eksternal, misalnya melalui SWOT, PESTEL, Porter’s Five Forces, atau analisis rantai nilai untuk memahami kemampuan dan tantangan. Kedua, hasil analisis digunakan untuk merumuskan visi, misi, dan tujuan strategis yang jelas. Ketiga, organisasi mengidentifikasi pilihan strategi seperti diferensiasi, cost leadership, atau fokus, kemudian mengevaluasi risikonya.
Keempat, strategi yang terpilih diimplementasikan melalui pengaturan struktur organisasi, alokasi sumber daya, penetapan KPI, serta pengembangan budaya kerja yang mendukung. Kelima, organisasi melakukan monitoring dan evaluasi untuk memastikan strategi tetap relevan terhadap dinamika pasar. Dalam seluruh proses ini, pemangku kepentingan penting seperti karyawan, pelanggan, mitra bisnis, investor, dan regulator harus dilibatkan melalui konsultasi, survei, kolaborasi, dan komunikasi intensif. Pelibatan ini meningkatkan legitimasi strategi, memperoleh masukan yang berharga, dan memperkuat komitmen terhadap pelaksanaannya.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 13

FADHIL FARIZI MURSYIDAN གིས-
Fadhil Farizi Murysidan
2421011030

1. Konsep Kepemimpinan Tim dan Peran Pemimpin

Kepemimpinan tim adalah kemampuan pemimpin mengarahkan, memotivasi, dan mengoordinasikan anggota untuk mencapai tujuan bersama. Peran utama pemimpin meliputi penyusunan visi yang jelas, menjadi teladan integritas, membangun kepercayaan, serta menciptakan lingkungan kerja yang aman dan inovatif.

2. Delapan Determinan Kinerja Tim Efektif

Kinerja tim dipengaruhi oleh tujuan yang jelas, pembagian peran yang tepat, komunikasi terbuka, kepercayaan antar anggota, kompetensi tim, kepemimpinan yang efektif, motivasi dan komitmen, serta ketersediaan sumber daya yang memadai.

3. Jenis Tim dan Gaya Kepemimpinan

Functional team: kepemimpinan direktif dan koordinatif.

Cross-functional team: kepemimpinan kolaboratif dan fasilitatif.

Self-managed team: kepemimpinan delegatif dengan otonomi tinggi.

Virtual team: kepemimpinan komunikatif dan adaptif berbasis teknologi.

4. Strategi Meningkatkan Efektivitas dan Kolaborasi

Efektivitas tim ditingkatkan melalui visi yang jelas, komunikasi terbuka, pengembangan keterampilan, partisipasi aktif, pemanfaatan teknologi kolaborasi, pemberian penghargaan, serta evaluasi berkala.

5. Peran Pemimpin Puncak (CEO dan Eksekutif)

Pemimpin puncak bertanggung jawab menetapkan arah strategis jangka panjang, mengantisipasi perubahan lingkungan bisnis, mengambil keputusan strategis, membangun budaya organisasi, dan memastikan komunikasi strategi yang konsisten di seluruh organisasi.

6. Langkah Sistematis Pengembangan Strategi Kompetitif

Pengembangan strategi meliputi analisis eksternal dan internal, formulasi strategi, implementasi, serta evaluasi dan kontrol. Proses ini perlu melibatkan pemangku kepentingan melalui konsultasi, transparansi, dan komitmen bersama.