Izin menjawab evaluasi 14
Beni Yusuf 2421011031
1. Teori Kepemimpinan Karismatik dan Transformasional
Kepemimpinan Karismatik
Kepemimpinan Karismatik berpusat pada seorang pemimpin yang memiliki daya tarik luar biasa (karisma) dan kemampuan persuasif yang kuat yang menginspirasi kepatuhan, pengabdian, dan identifikasi pengikut.
· Fokus: Kualitas pribadi (daya tarik) dan visi heroik pemimpin.
· Pengikut: Merasa diangkat dan diilhami oleh kehadiran pemimpin dan seringkali mengidentifikasi diri secara emosional dengan pemimpin.
· Hasil: Perubahan dalam sikap dan perilaku pengikut yang didorong oleh keyakinan dan kepercayaan kepada pemimpin.
Kepemimpinan Transformasional
Kepemimpinan Transformasional berfokus pada mengubah pengikut dengan meningkatkan kesadaran mereka tentang pentingnya hasil tugas dan membujuk mereka untuk melampaui kepentingan diri sendiri demi kepentingan organisasi atau tim.
Kepemimpinan transformasional terdiri dari Empat "I":
a) Pengaruh Ideal (Idealized Influence): Pemimpin bertindak sebagai panutan (role model) yang dikagumi, dihormati, dan dipercaya (mirip dengan karisma, tetapi berfokus pada perilaku etis dan bermoral).
b) Motivasi Inspirasional (Inspirational Motivation): Pemimpin mengartikulasikan visi yang menarik dan optimis, menggunakan simbol, dan mengekspresikan tujuan penting dengan cara yang mudah dipahami.
c) Stimulasi Intelektual (Intellectual Stimulation): Pemimpin mendorong kreativitas dengan mempertanyakan asumsi, mengubah cara berpikir, dan mempromosikan pemecahan masalah baru.
d) Pertimbangan Individual (Individualized Consideration): Pemimpin memberikan perhatian pribadi pada kebutuhan pengikut, bertindak sebagai pelatih atau mentor.
2. Persamaan dan Perbedaan
|
Fitur |
Kepemimpinan Karismatik |
Kepemimpinan Transformasional |
|
Persamaan |
Keduanya mengandalkan visi, inspirasi, dan pengaruh pemimpin terhadap pengikut untuk mencapai perubahan atau kinerja yang luar biasa. Keduanya berfokus pada peningkatan motivasi dan moral. |
|
|
Fokus Utama |
Kualitas pribadi yang luar biasa dan daya tarik emosional pemimpin (karisma). |
Perilaku pemimpin yang memberdayakan, memotivasi, dan mengembangkan pengikut (Empat "I"). |
|
Tujuan |
Menciptakan pengabdian dan identifikasi emosional pengikut terhadap pemimpin dan visi. |
Mengubah nilai, keyakinan, dan kebutuhan pengikut agar selaras dengan misi organisasi, mempromosikan perkembangan pengikut. |
|
Lingkup |
Lebih sempit; dapat menjadi komponen dari kepemimpinan transformasional (Pengaruh Ideal). |
Lebih luas; mencakup karisma tetapi juga fokus pada pengembangan, stimulasi, dan pertimbangan individual. |
3. Manfaat dan Risiko Kepemimpinan Karismatik
✅ Manfaat
· Meningkatkan Motivasi: Karisma pemimpin dapat memberikan energi kepada pengikut, membuat mereka percaya bahwa segala sesuatu mungkin dilakukan.
· Visi yang Jelas: Pemimpin karismatik mampu mengartikulasikan visi yang memukau dan mudah diingat, memberikan arah yang kuat.
· Kinerja Luar Biasa: Pengabdian pengikut dapat menghasilkan kinerja yang jauh melampaui harapan normal.
· Memfasilitasi Perubahan: Karisma dapat membantu mengatasi resistensi terhadap perubahan besar dalam organisasi.
Risiko
· Ketergantungan Berlebihan: Pengikut mungkin menjadi terlalu bergantung pada pemimpin, sehingga organisasi berjuang ketika pemimpin tersebut pergi.
· Kegagalan Visi: Jika visi pemimpin salah atau tidak etis, energi yang sama dapat digunakan untuk tujuan yang merusak.
· Kelemahan Pengambilan Keputusan: Karisma dapat membayangi penilaian kritis dan menghambat umpan balik yang jujur dari pengikut.
· Bahaya Kepemimpinan Narsistik: Pemimpin karismatik mungkin tergelincir menjadi narsistik dan memprioritaskan kepentingan atau ego pribadi mereka di atas kepentingan organisasi (karisma yang terpersonalisasi vs. tersosialisasikan).
4. Cara Menginspirasi Lebih Banyak Komitmen dan Optimisme Pengikut
Pemimpin dapat menggunakan teknik Motivasi Inspirasional (bagian dari kepemimpinan transformasional) untuk mencapai hal ini:
1. Artikulasikan Visi yang Meyakinkan: Ciptakan gambaran masa depan yang menarik dan ambisius yang dapat dibayangkan oleh pengikut.
2. Gunakan Komunikasi Simbolis: Gunakan metafora, cerita, dan analogi yang kuat untuk menyederhanakan pesan dan membuatnya emosional.
3. Tunjukkan Keyakinan Diri: Tunjukkan kepercayaan pada visi, dan yang lebih penting, percaya pada kemampuan pengikut untuk mencapainya (efikasi diri).
4. Tingkatkan Nilai Tugas: Jelaskan mengapa pekerjaan itu penting dan bagaimana pekerjaan itu berkontribusi pada tujuan yang lebih besar, melampaui kepentingan pribadi.
5. Tetapkan Harapan Tinggi: Tantang pengikut dengan menetapkan tujuan yang ambisius tetapi dapat dicapai, dan berikan dorongan positif secara teratur.
5. Memahami Berbagai Konsep Kepemimpinan Etis
Kepemimpinan Etis melibatkan perilaku yang benar dan pantas serta mempromosikan perilaku tersebut kepada pengikut melalui komunikasi, penegakan, dan pengambilan keputusan.
a) Kepemimpinan Pelayan (Servant Leadership): Fokus utama pemimpin adalah untuk melayani pengikutnya, organisasi, dan komunitas. Pemimpin memprioritaskan kebutuhan orang lain, bukan kebutuhannya sendiri.
b) Kepemimpinan Autentik (Authentic Leadership): Pemimpin bertindak sesuai dengan nilai-nilai, keyakinan, dan kepribadian mereka yang sebenarnya. Mereka menunjukkan transparansi, moralitas, dan keterbukaan terhadap pengikut.
c) Kepemimpinan Moral (Moral Leadership): Ini berfokus pada tindakan benar dan mempromosikan kode etik di tempat kerja. Pemimpin dilihat sebagai "manajer moral" yang secara aktif memengaruhi perilaku etis.
6. Dilema Etika yang Dihadapi Pemimpin
Dilema etika adalah situasi di mana pemimpin harus memilih di antara dua atau lebih tindakan, yang masing-masing memiliki justifikasi moral yang kuat, tetapi satu tidak dapat dipilih tanpa melanggar yang lain.
· Keadilan vs. Efisiensi: Memilih antara keputusan yang adil (misalnya, mempertahankan karyawan yang kinerjanya buruk karena alasan kemanusiaan) atau keputusan yang efisien (misalnya, memberhentikannya untuk meningkatkan kinerja perusahaan).
· Kebenaran vs. Kesetiaan: Memutuskan apakah akan mengungkapkan kebenaran yang dapat merusak citra organisasi (misalnya, whistleblowing) atau tetap setia dan diam (kesetiaan kepada atasan/perusahaan).
· Individu vs. Komunitas/Organisasi: Membuat keputusan yang menguntungkan kelompok besar (misalnya, PHK massal untuk menyelamatkan perusahaan) tetapi merugikan individu (karyawan yang di-PHK).
· Jangka Pendek vs. Jangka Panjang: Mengambil keputusan yang menghasilkan keuntungan cepat tetapi merusak lingkungan atau reputasi organisasi di masa depan.
7. Mengidentifikasi Faktor Individu & Situasional yang Memengaruhi Perilaku Etis
Faktor Individu
· Tahap Perkembangan Moral Kognitif: Mengacu pada sejauh mana seseorang dapat memahami dan menilai isu-isu moral (dapat diklasifikasikan sebagai prakonvensional, konvensional, atau pascakonvensional).
· Nilai Pribadi: Prinsip-prinsip inti tentang apa yang benar dan penting bagi individu.
· Sifat Kepribadian: Misalnya, orang dengan lokus kontrol internal lebih cenderung mengambil tanggung jawab atas tindakan etis/tidak etis, sementara Machiavellianisme dapat membuat seseorang lebih bersedia untuk menggunakan tipu daya demi kepentingan pribadi.
Faktor Situasional
· Budaya Organisasi: Norma, nilai, dan harapan yang memandu perilaku (misalnya, budaya yang menekankan hasil di atas segalanya dapat mendorong perilaku tidak etis).
· Kode Etik: Keberadaan dan penegakan aturan formal yang menentukan perilaku yang dapat diterima.
· Tekanan Atasan: Tekanan yang dirasakan dari atasan untuk mencapai target dapat memaksa karyawan untuk bertindak tidak etis.
· Konsekuensi dan Hukuman: Sistem imbalan dan hukuman dalam organisasi yang menunjukkan bahwa perilaku etis dihargai dan perilaku tidak etis dihukum.
8. Cara Menumbuhkan Perilaku Etis dan Mencegah yang Tidak Etis
1. Tetapkan Kode Etik dan Kebijakan yang Jelas: Buat pedoman tertulis yang komprehensif tentang perilaku yang diharapkan.
2. Jadilah Panutan Etis: Pemimpin harus secara konsisten menunjukkan perilaku etis dalam tindakan dan keputusan sehari-hari mereka.
3. Adakan Pelatihan Etika: Latih karyawan dan pemimpin untuk mengenali dilema etika dan bagaimana menerapkan prinsip-prinsip etika dalam pengambilan keputusan.
4. Bangun Mekanisme Pelaporan (Whistleblowing): Ciptakan sistem rahasia dan aman bagi karyawan untuk melaporkan perilaku tidak etis tanpa takut pembalasan.
5. Terapkan Sistem Imbalan dan Hukuman yang Adil: Hargai perilaku etis secara terbuka dan hukum perilaku tidak etis secara konsisten dan transparan.
6. Budayakan Diskusi Terbuka: Dorong komunikasi yang jujur tentang isu-isu etika untuk menormalisasi pertimbangan moral dalam proses kerja.