ijin menjawab, Taufan Al Amin - 2421011028
1. Jelaskan tentang teori karismatik dan transformasional!
a.
Kepemimpinan Karismatik
Teori
kepemimpinan karismatik menjelaskan bahwa pemimpin memiliki daya tarik luar biasa (karisma) yang membuat pengikut merasakan kekaguman, kepercayaan, dan komitmen emosional. Pemimpin karismatik biasanya memiliki: Visi kuat, Kepercayaan diri tinggi, Kemampuan memengaruhi emosi pengikut, Perilaku heroik/berani mengambil risiko besar. Karisma bersifat personalis, yaitu melekat pada figur pemimpin itu sendiri.
b.
Kepemimpinan Transformasional
Teori transformasional (Bass, 1985) memfokuskan pada kemampuan pemimpin untuk mengubah nilai, motivasi, dan perilaku pengikut, sehingga mereka bekerja melebihi ekspektasi. Pemimpin transformasional ditandai oleh empat elemen:
1. Idealized Influence – menjadi panutan moral & profesional.
2. Inspirational Motivation – memberikan motivasi dan harapan besar.
3. Intellectual Stimulation – mendorong kreativitas dan pemikiran kritis.
4. Individualized Consideration – memperhatikan kebutuhan perkembangan tiap individu.
Tujuan
kepemimpinan transformasional lebih luas: mengubah organisasi secara berkelanjutan, bukan sekadar membangun ketertarikan pribadi.
2. Persamaan dan Perbedaan
Kepemimpinan Karismatik dan Transformasional
Persamaan
Keduanya:
• Berorientasi pada visi masa depan.
• Menginspirasi dan memotivasi pengikut.
• Mengubah perilaku dan meningkatkan kinerja.
• Menggunakan komunikasi yang kuat dan penuh makna.
Perbedaan Utama
Aspek
Kepemimpinan Karismatik
Kepemimpinan Transformasional
Fokus utama Karisma pribadi & daya tarik pemimpin Perubahan organisasi & pengembangan pengikut
Basis pengaruh Emosi, kekaguman, kepercayaan personal Nilai bersama, visi kolektif, proses transformasi
Risiko Kultus individu, ketergantungan pada pemimpin Risiko rendah karena fokus pada sistem & tim
Ketergantungan pengikut Tinggi Rendah–sedang
Orientasi perubahan Jangka pendek–menengah Jangka panjang, sistematis
3. Menilai Manfaat dan Risiko
Kepemimpinan Karismatik
Manfaat:
1. Meningkatkan motivasi karena pengikut merasa terinspirasi.
2. Mendorong tindakan cepat dalam situasi krisis.
3. Memunculkan kepercayaan diri kolektif karena pemimpin tampil kuat.
4. Membangun komitmen emosional terhadap misi organisasi.
Risiko:
1. Kultus individu, pengikut menjadi terlalu bergantung pada figur pemimpin.
2. Pengambilan keputusan berisiko tinggi, karena pemimpin sering terlalu percaya diri.
3. Manipulasi emosional, jika karisma digunakan untuk tujuan tidak etis.
4. Keruntuhan organisasi jika pemimpin pergi karena struktur tidak kuat.
5. Kurangnya checks and balances, karena pengikut enggan mengkritik pemimpin.
4. Cara Menginspirasi Lebih Banyak Komitmen dan Optimisme Pengikut
Pemimpin dapat meningkatkan komitmen dan optimisme melalui cara berikut:
1. Artikulasi visi yang jelas dan bermakna sehingga pengikut mengetahui tujuan bersama.
2. Komunikasi inspiratif, menggunakan bahasa yang membangkitkan harapan.
3. Memberi contoh nyata (role modeling) yang konsisten dengan nilai organisasi.
4. Memberikan tantangan yang realistis yang dapat dicapai namun mendorong pertumbuhan.
5. Memperkuat kepercayaan diri pengikut melalui pengakuan, umpan balik positif, dan dukungan moral.
6. Menumbuhkan budaya optimisme dengan menekankan peluang, bukan hambatan.
7. Menunjukkan keyakinan pada kemampuan tim, terutama saat menghadapi kesulitan besar.
Semakin besar rasa percaya diri yang ditanamkan pemimpin, semakin meningkat komitmen terhadap tujuan kolektif.
5. Memahami Berbagai Konsep
Kepemimpinan Etis
Kepemimpinan etis adalah gaya
kepemimpinan yang berlandaskan nilai moral, keadilan, dan tanggung jawab. Konsep-konsep utama dalam
kepemimpinan etis meliputi:
a. Etika Deontologis
Pemimpin bertindak berdasarkan aturan moral dan kewajiban (benar–salah absolut).
b. Etika Teleologis (Konsekuensialis)
Penilaian moral berdasarkan hasil tindakan, terutama manfaat terbesar bagi banyak orang.
c. Etika Keutamaan (Virtue Ethics)
Fokus pada karakter moral pemimpin: kejujuran, integritas, kesabaran, keberanian.
d.
Kepemimpinan Berbasis Nilai
Pemimpin menyelaraskan tujuan organisasi dengan nilai inti seperti keadilan, transparansi, dan tanggung jawab sosial.
e.
Kepemimpinan Autentik
Pemimpin bersikap jujur pada diri sendiri, transparan, dan memiliki konsistensi antara ucapan dan tindakan.
f.
Kepemimpinan Pelayan (Servant Leadership)
Pemimpin lebih memprioritaskan kepentingan pengikut dan masyarakat daripada kepentingan pribadi.
6. Dilema Etika yang Dihadapi Pemimpin
Pemimpin sering menghadapi situasi ketika dua pilihan sama-sama sulit atau bertentangan nilai. Beberapa dilema etika yang umum:
1. Kesetiaan vs. kejujuran
Misalnya, melindungi reputasi tim tetapi harus mengungkap kesalahan sebenarnya.
2. Keadilan vs. belas kasih
Menegakkan aturan disiplin atau memberi keringanan karena kondisi pribadi karyawan.
3. Keuntungan organisasi vs. tanggung jawab sosial
Mengejar profit atau mempertimbangkan dampak terhadap lingkungan/masyarakat.
4. Transparansi vs. kerahasiaan
Menyampaikan informasi penuh atau menjaga kerahasiaan demi keamanan organisasi.
5. Peran pribadi vs. profesional
Misalnya konflik kepentingan dalam pengambilan keputusan.
6. Kebutuhan jangka pendek vs. keberlanjutan jangka panjang
Contoh: PHK untuk efisiensi, tetapi merugikan kesejahteraan karyawan.
7. Mengidentifikasi Faktor Individu & Situasional yang Memengaruhi Perilaku Etis
Faktor Individu:
1. Nilai pribadi dan moralitas setiap individu.
2. Kepribadian, misalnya tingkat empati, integritas, dan locus of control.
3. Pengalaman hidup & pendidikan etika.
4. Kebutuhan pribadi, termasuk tekanan ekonomi.
5. Tingkat keberanian moral, kemampuan menolak tindakan salah.
Faktor Situasional:
1. Budaya organisasi, apakah mendukung perilaku etis atau tidak.
2. Tekanan kerja, misal target tinggi yang mendorong manipulasi.
3.
Kepemimpinan atasan, apakah menjadi contoh etika atau tidak.
4. Sistem reward & punishment, apakah tindakan etis dihargai.
5. Norma kelompok, pengaruh rekan kerja.
6. Transparansi dan pengawasan, semakin besar kontrol, semakin kecil peluang perilaku tidak etis.
Perilaku etis muncul dari interaksi kompleks kedua faktor tersebut.
8. Cara Menumbuhkan Perilaku Etis dan Mencegah yang Tidak Etis
Organisasi harus menciptakan sistem dan budaya yang mendukung perilaku etis. Caranya:
a. Menyusun kode etik yang jelas
Aturan harus ditulis, dijelaskan, dan dikomunikasikan secara konsisten.
b. Memberikan pendidikan dan pelatihan etika
Pelatihan membantu karyawan mengenali dilema etika dan mengambil keputusan yang benar.
c. Menetapkan pemimpin sebagai role model
Pemimpin harus menunjukkan integritas dan konsistensi moral dalam perilaku sehari-hari.
d. Sistem reward & punishment yang adil
Penghargaan bagi perilaku etis dan sanksi tegas untuk perilaku tidak etis.
e. Membangun budaya transparansi
Keterbukaan dalam pelaporan masalah membuat pelanggaran lebih mudah terdeteksi.
f. Menciptakan mekanisme pelaporan aman (whistleblowing)
Karyawan harus merasa aman melaporkan pelanggaran tanpa takut dibalas.
g. Mengurangi tekanan situasional
Misalnya target yang terlalu tinggi dapat melemahkan komitmen etis.
h. Mendorong dialog dan refleksi etika
Diskusi rutin mengenai nilai-nilai organisasi memperkuat perilaku moral.