EVALUASI SESI 14

EVALUASI SESI 14

EVALUASI SESI 14

by Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M. -
Number of replies: 36

JAWABLAH PERTANYAAN PERTANYAAN BERIKUT INI

1. Jelaskan tentang  teori karismatik dan transformasional!

2. Bagaimana persamaan dan perbedaan antara kepemimpinan karismatik dan transformasional?

3. Bagaimana menilai manfaat dan risiko kepemimpinan karismatik?

4. Jelaskan cara menginspirasi lebih banyak komitmen dan optimisme pengikut!

5. Bagaimana memahami berbagai konsep kepemimpinan etis?

6. Jelaskan dilema etika yang dihadapi pemimpin!

7. Bagaimana mengidentifikasi faktor individu & situasional yang memengaruhi perilaku etis?

8. Jelaskan cara menumbuhkan perilaku etis dan mencegah yang tidak etis!


In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 14

by MOHAMMAD ADRIAN 2421011010 -
1. Teori Karismatik dan Transformasional

Kepemimpinan Karismatik menekankan kekuatan pribadi pemimpin: daya tarik, visi kuat, kemampuan memengaruhi emosi, dan identifikasi pengikut terhadap sosok pemimpin. Pengikut mengikuti karena kekaguman dan keyakinan pada kualitas pribadi pemimpin.

Kepemimpinan Transformasional berfokus pada perubahan besar dalam organisasi melalui empat dimensi: idealized influence, inspirational motivation, intellectual stimulation, dan individualized consideration. Pemimpin mengubah nilai, sikap, dan perilaku pengikut agar melampaui kepentingan pribadi demi tujuan bersama.

2. Persamaan dan Perbedaan Karismatik vs Transformasional
Persamaan

Keduanya berorientasi pada perubahan dan inspirasi.

Sama-sama meningkatkan motivasi, rasa percaya, dan komitmen pengikut.

Memerlukan kemampuan komunikasi yang kuat dan visi yang jelas.

Perbedaan

Karismatik: fokus pada kekuatan pribadi pemimpin; kepatuhan terjadi karena daya tarik emosional pemimpin.

Transformasional: fokus pada pemberdayaan pengikut; pemimpin membangun kapasitas pengikut agar dapat mandiri dan berkembang.

Karismatik berpotensi menciptakan ketergantungan, sedangkan transformasional mengurangi ketergantungan.

3. Manfaat dan Risiko Kepemimpinan Karismatik
Manfaat

Mampu memobilisasi pengikut dalam kondisi krisis.

Menyuntikkan energi, keyakinan, dan arah yang jelas.

Meningkatkan loyalitas dan motivasi secara cepat.

Risiko

Pengikut terlalu bergantung pada sosok pemimpin, bukan pada sistem.

Potensi penyalahgunaan kekuasaan karena kepercayaan yang berlebihan.

Keputusan menjadi subjektif jika tidak diimbangi mekanisme kontrol.

Jika pemimpin jatuh, organisasi ikut melemah.

4. Cara Menginspirasi Komitmen dan Optimisme Pengikut

Komunikasikan visi yang bermakna, sehingga pengikut merasa bagian dari tujuan besar.

Gunakan pesan positif dan realistis, bukan janji manipulatif.

Tunjukkan keteladanan, karena optimisme muncul ketika pemimpin konsisten bertindak.

Berikan pengakuan dan penghargaan atas usaha pengikut.

Lakukan pemberdayaan, membuat pengikut merasa mampu, penting, dan memiliki kontrol.

5. Memahami Berbagai Konsep Kepemimpinan Etis

Kepemimpinan etis adalah gaya memimpin yang didasarkan pada:

Nilai moral (kejujuran, keadilan, tanggung jawab).

Proses pengambilan keputusan etis (adil, transparan, tidak merugikan).

Perilaku moral (teladan, konsisten, menghindari penyalahgunaan wewenang).
Konsep penting dalam kepemimpinan etis: ethical stewardship, servant leadership, deontologi, utilitarianisme, dan virtue ethics.

6. Dilema Etika yang Dihadapi Pemimpin

Dilema etika terjadi ketika pemimpin menghadapi dua pilihan yang sama-sama benar atau sama-sama berisiko moral. Contohnya:

Kepentingan organisasi vs kesejahteraan karyawan.

Kejujuran informasi vs perlindungan stabilitas organisasi.

Loyalitas kepada atasan vs integritas pribadi.

Efisiensi biaya vs tanggung jawab sosial.

Pemimpin harus memilih opsi yang memiliki konsekuensi moral paling dapat dipertanggungjawabkan.

7. Faktor Individu & Situasional yang Mempengaruhi Perilaku Etis
Faktor Individu

Nilai pribadi dan moralitas.

Karakter, empati, integritas.

Tingkat pendidikan etika.

Pengalaman dan peran sosial individu.

Faktor Situasional

Budaya organisasi (etis atau permisif).

Tekanan target dan lingkungan kerja.

Gaya kepemimpinan atasan.

Sistem reward–punishment.

Perilaku etis muncul ketika nilai individu bertemu dengan lingkungan yang mendukung moralitas.

8. Cara Menumbuhkan Perilaku Etis dan Mencegah yang Tidak Etis

Membangun budaya organisasi yang etis melalui aturan, prosedur, dan teladan pemimpin.

Menetapkan kode etik, serta mengkomunikasikannya secara jelas.

Menciptakan mekanisme pelaporan pelanggaran yang aman (whistleblowing).

Pemberian reward pada perilaku etis dan hukuman tegas untuk pelanggaran.

Pelatihan etika berkala untuk meningkatkan kesadaran moral.

Konsistensi pemimpin, karena perilaku etis tidak dapat dipaksakan jika pemimpin sendiri tidak menjadi contoh.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 14

by Afrida Jayanti -
Nama : Afrida Jayanti
NPM. : 2421011013

1. Jelaskan tentang teori karismatik dan transformasional!
Jawab:
Teori kepemimpinan karismatik menjelaskan bahwa pemimpin memiliki daya tarik personal yang kuat, kemampuan komunikasi persuasif, dan kepribadian yang menginspirasi sehingga membuat pengikut memandangnya sebagai figur luar biasa. Pengaruh mereka muncul dari keyakinan, visi yang atraktif, serta kemampuan membangkitkan emosi dan loyalitas. Sementara itu, teori kepemimpinan transformasional berfokus pada kemampuan pemimpin untuk mengubah nilai, sikap, dan motivasi pengikut guna mencapai kinerja yang lebih tinggi. Pemimpin transformasional menggunakan empat dimensi utama: idealized influence, inspirational motivation, intellectual stimulation, dan individualized consideration. Dengan demikian, pemimpin transformasional tidak hanya menggerakkan pengikut secara emosional, tetapi juga mengembangkan kapasitas individu dan mendorong perubahan positif dalam organisasi.

2. Bagaimana persamaan dan perbedaan antara kepemimpinan karismatik dan transformasional?
Jawab:
Kepemimpinan karismatik dan transformasional memiliki beberapa persamaan, terutama dalam hal kemampuan menginspirasi dan menggerakkan pengikut secara emosional serta menggunakan visi yang kuat sebagai alat motivasi. Keduanya menekankan pentingnya kemampuan komunikasi dan hubungan interpersonal yang memengaruhi pengikut. Namun, terdapat perbedaan mendasar: pemimpin karismatik sering kali bergantung pada kekuatan personal dan pesona individu, sehingga pengaruhnya sangat melekat pada figur pemimpin. Sementara itu, kepemimpinan transformasional berfokus pada pengembangan pengikut, mendorong kreativitas, dan membangun sistem perubahan berkelanjutan, bukan hanya bergantung pada kepribadian pemimpinnya. Dengan kata lain, karisma merupakan sifat, sedangkan transformasional adalah proses perubahan struktural dan psikologis dalam organisasi.

3. Bagaimana menilai manfaat dan risiko kepemimpinan karismatik?
Jawab:
Manfaat kepemimpinan karismatik adalah kemampuannya membangkitkan motivasi tinggi, memperkuat visi bersama, mempercepat perubahan, dan menciptakan komitmen emosional yang kuat dalam organisasi. Pemimpin karismatik sering menjadi sumber inspirasi bagi pengikut ketika organisasi menghadapi krisis atau membutuhkan dorongan besar. Namun, kepemimpinan karismatik juga memiliki risiko, terutama bila kekuatan emosional pemimpin digunakan untuk tujuan pribadi atau manipulasi. Ketergantungan pengikut pada figur pemimpin dapat membuat organisasi rentan ketika pemimpin tersebut tidak ada atau mengambil keputusan keliru. Selain itu, pemimpin karismatik berisiko mendorong budaya “cult of personality” yang menghambat kritik dan pengawasan sehat. Oleh karena itu, pengaruh karismatik harus diseimbangkan dengan mekanisme kontrol dan nilai etis yang kuat.

4. Jelaskan cara menginspirasi lebih banyak komitmen dan optimisme pengikut!
Jawab:
Untuk menginspirasi lebih banyak komitmen dan optimisme, pemimpin perlu mengomunikasikan visi yang jelas, realistis, dan bermakna bagi para pengikut. Pemimpin juga harus menunjukkan antusiasme, keyakinan terhadap tujuan organisasi, serta menjadi teladan nyata dalam perilaku sehari-hari. Memberikan pengakuan atas kontribusi, mendengarkan aspirasi anggota tim, dan menciptakan lingkungan kerja yang suportif akan meningkatkan rasa memiliki. Selain itu, pemimpin dapat menumbuhkan optimisme dengan menekankan peluang, memberikan harapan realistis, serta membantu pengikut memahami makna pekerjaan mereka. Pendekatan coaching dan empowerment juga memampukan anggota tim untuk merasakan kemajuan, sehingga komitmen mereka semakin kuat.

5. Bagaimana memahami berbagai konsep kepemimpinan etis?
Jawab:
Kepemimpinan etis mengacu pada gaya kepemimpinan yang bertumpu pada nilai moral, integritas, dan kewajiban untuk bertindak benar meskipun menghadapi tekanan. Konsep ini meliputi beberapa pendekatan, seperti kepemimpinan berbasis nilai (value-based leadership), kepemimpinan autentik, dan kepemimpinan melayani (servant leadership). Intinya, pemimpin etis tidak hanya peduli pada hasil, tetapi juga cara mencapai hasil tersebut. Mereka menekankan keadilan, transparansi, tanggung jawab, serta perlindungan terhadap hak-hak karyawan. Pemimpin etis juga memengaruhi melalui keteladanan dan konsistensi antara kata dan tindakan, sehingga mereka membangun budaya organisasi yang penuh integritas dan kepercayaan.

6. Jelaskan dilema etika yang dihadapi pemimpin!
Jawab:
Dilema etika muncul ketika pemimpin harus memilih antara dua pilihan yang sama-sama memiliki konsekuensi moral atau ketika nilai-nilai yang dianut saling bertentangan. Contohnya termasuk konflik antara kepentingan organisasi dan kesejahteraan karyawan, antara kejujuran dan kerahasiaan, atau antara efisiensi dan keadilan. Dalam situasi tersebut, pemimpin sering menghadapi tekanan dari berbagai pihak dan harus mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap reputasi, kepercayaan, dan nilai moral organisasi. Menangani dilema etika membutuhkan pemikiran kritis, keberanian moral, serta kebijakan yang jelas untuk menjamin keputusan yang diambil tetap berdasarkan prinsip etika.

7. Bagaimana mengidentifikasi faktor individu & situasional yang memengaruhi perilaku etis?
Jawab:
Perilaku etis dipengaruhi oleh faktor individu seperti nilai pribadi, pengalaman moral, tingkat pendidikan, kepribadian, dan orientasi etika seseorang. Misalnya, individu dengan integritas tinggi dan kontrol diri yang kuat cenderung bertindak lebih etis. Sementara itu, faktor situasional seperti budaya organisasi, tekanan pekerjaan, sistem penghargaan, aturan perusahaan, serta teladan pemimpin juga memengaruhi perilaku karyawan. Lingkungan kerja yang menekankan hasil tanpa memperhatikan proses dapat memicu perilaku tidak etis. Untuk mengidentifikasi kedua faktor tersebut, pemimpin harus melakukan observasi, survei etika, wawancara, serta menilai sistem yang berlaku dalam organisasi untuk melihat apakah ia mendukung atau justru melemahkan perilaku etis.

8. Jelaskan cara menumbuhkan perilaku etis dan mencegah yang tidak etis!
Jawab:
Menumbuhkan perilaku etis dapat dilakukan melalui penetapan kode etik yang jelas, pelatihan etika, penguatan budaya organisasi berbasis nilai, serta keteladanan dari pemimpin. Pemimpin harus secara konsisten menunjukkan perilaku etis sehingga karyawan memiliki model yang dapat ditiru. Sistem reward dan punishment juga harus mendukung perilaku etis, misalnya memberikan penghargaan kepada karyawan yang berintegritas dan memberi sanksi pada tindakan melanggar etika. Selain itu, membangun mekanisme pelaporan pelanggaran, seperti whistleblowing system, akan membantu mencegah tindakan tidak etis. Transparansi, komunikasi terbuka, dan monitoring berkala memastikan bahwa nilai-nilai etika bukan hanya tertulis, tetapi benar-benar dipraktikkan dalam organisasi.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 14

by A Bagas Windu Panji Nata -


izin menjawab ibu

nama : A Bagas Windu Panji Nata

NPM : 2421011034

1. Teori Kepemimpinan Karismatik dan Transformasional 

Kepemimpinan Karismatik berfokus pada sifat-sifat pribadi dan perilaku pemimpin yang menginspirasi loyalty, kekaguman, dan komitmen yang luar biasa dari pengikut.

  • Pemimpin Karismatik memiliki visi yang jelas, berkomunikasi dengan cara yang mengesankan, dan menunjukkan perilaku yang luar biasa (seringkali non-konvensional) untuk mencapai visi tersebut.

  • Pengikut mengidentifikasi diri secara kuat dengan pemimpin, merasakan emosi positif, dan percaya bahwa pemimpin tersebut memiliki kemampuan yang luar biasa atau bahkan heroik.

  • Kelemahan: Seringkali berpusat pada pemimpin. Jika pemimpin pergi atau visi gagal, komitmen pengikut bisa runtuh.

Kepemimpinan Transformasional berfokus pada bagaimana pemimpin mengubah dan memotivasi pengikut untuk berkinerja melebihi ekspektasi. Tujuannya adalah untuk meningkatkan moral, motivasi, dan kinerja pengikut.

Model ini terdiri dari Empat Faktor "I" (kadang-kadang disebut "4 I's"):

  1. Pengaruh Ideal (Idealized Influence - II): Bertindak sebagai panutan yang menginspirasi rasa hormat dan kepercayaan (mirip dengan karisma).

  2. Motivasi Inspirasional (Inspirational Motivation - IM): Mengartikulasikan visi yang menarik dan optimis tentang masa depan, menantang pengikut dengan standar yang tinggi.

  3. Stimulasi Intelektual (Intellectual Stimulation - IS): Mendorong pengikut untuk kreatif, inovatif, dan menantang status quo serta asumsi mereka sendiri.

  4. Pertimbangan Individual (Individualized Consideration - IC): Memperhatikan kebutuhan pribadi setiap pengikut, bertindak sebagai pelatih dan mentor.

2. Persamaan dan Perbedaan Kepemimpinan Karismatik dan Transformasional

Persamaan

  • Visi dan Inspirasi: Keduanya mengandalkan visi yang menarik dan kemampuan untuk menginspirasi pengikut agar melampaui kepentingan diri sendiri demi tujuan bersama.

  • Meningkatkan Motivasi: Keduanya bertujuan untuk memotivasi pengikut agar melakukan yang terbaik dan memiliki komitmen tinggi terhadap pemimpin dan tujuan.

  • Fokus pada Nilai: Keduanya cenderung menekankan nilai-nilai moral dan ideal dalam kepemimpinan.

Perbedaan

KarakteristikKepemimpinan KarismatikKepemimpinan Transformasional
Fokus UtamaKarakteristik pribadi, citra, dan pengaruh emosional pemimpin.Transformasi, pengembangan, dan peningkatan pengikut.
KarakterKarisma dianggap sebagai kualitas mendasar, berpusat pada kepribadian.4 Faktor 'I' (Idealized, Inspirational, Intellectual, Individualized) adalah perilaku terukur.
Tujuan AkhirPencapaian visi pemimpin melalui identifikasi pengikut.Pemberdayaan pengikut untuk menjadi pemimpin dan agen perubahan di masa depan.
SifatBisa terjadi dalam situasi positif maupun negatif (misalnya, kultus atau tirani).Secara inheren lebih berkaitan dengan moralitas dan hasil yang positif bagi organisasi dan pengikut.


3. Manfaat dan Risiko Kepemimpinan Karismatik

Manfaat (Potensi Positif) 

  • Komitmen Tinggi: Mampu menggalang dukungan dan komitmen yang intens dan kuat dari pengikut, terutama di masa krisis atau perubahan.

  • Kinerja yang Lebih Baik: Menginspirasi pengikut untuk mencapai hasil yang melampaui apa yang diperkirakan normal.

  • Perubahan Cepat: Memungkinkan organisasi untuk melakukan perubahan besar dengan cepat karena pengikut sangat percaya pada arah pemimpin.

Risiko (Potensi Negatif) 

  • Ketergantungan yang Berlebihan: Pengikut dapat menjadi terlalu bergantung pada pemimpin dan gagal mengembangkan inisiatif atau berpikir kritis sendiri.

  • Orientasi pada Diri Sendiri: Jika pemimpin memiliki nilai yang rendah atau narsistik, mereka dapat menggunakan karisma untuk tujuan yang eksploitatif atau mementingkan diri sendiri.

  • Kegagalan Suksesi: Sulit untuk menggantikan pemimpin karismatik, yang dapat menyebabkan kekosongan kekuasaan atau penurunan moral setelah kepergian mereka.

  • Pengambilan Keputusan yang Buruk: Pengikut yang terlalu setia cenderung tidak menantang keputusan pemimpin, yang dapat menyebabkan kesalahan fatal.

4. Cara Menginspirasi Lebih Banyak Komitmen dan Optimisme Pengikut

Pemimpin dapat menggunakan prinsip-prinsip transformasional dan karismatik untuk meningkatkan komitmen dan optimisme:

  1. Artikulasikan Visi yang Menarik (Motivasi Inspirasional): Ciptakan gambaran masa depan yang jelas, aspiratif, dan berharga yang melampaui tugas sehari-hari. Gunakan bahasa yang emosional dan positif.

  2. Jadilah Panutan (Pengaruh Ideal): Tunjukkan standar etika dan kinerja tertinggi. Pengikut akan meniru apa yang Anda lakukan, bukan hanya apa yang Anda katakan.

  3. Komunikasi yang Penuh Semangat: Gunakan retorika yang kuat, bahasa tubuh yang bersemangat, dan kontak mata untuk menularkan energi dan keyakinan Anda pada pengikut.

  4. Tantang Pengikut (Stimulasi Intelektual): Beri pengikut otonomi dan dorongan untuk menyelesaikan masalah dengan cara baru. Ini menumbuhkan rasa kepemilikan dan kompetensi.

  5. Tunjukkan Kepedulian Individu (Pertimbangan Individual): Akui kontribusi individu. Dengarkan kebutuhan, berikan umpan balik yang konstruktif, dan bertindak sebagai mentor atau pelatih.

5. Memahami Berbagai Konsep Kepemimpinan Etis

Kepemimpinan Etis melibatkan perilaku pemimpin yang benar secara normatif dan tindakan yang secara moral benar, serta mempromosikan perilaku tersebut di antara pengikut melalui komunikasi, penguatan, dan pengambilan keputusan.

Tiga konsep utama:

  1. Kepemimpinan Etis (Ethical Leadership):

    • Pemimpin adalah panutan moral (orang moral) yang menunjukkan integritas, kejujuran, dan keadilan dalam perilaku sehari-hari.

    • Pemimpin adalah pengelola moral (pengelola moral) yang secara proaktif mempromosikan perilaku etis melalui hadiah/hukuman dan komunikasi yang terbuka tentang etika.

  2. Kepemimpinan Pelayan (Servant Leadership):

    • Fokus utama pemimpin adalah melayani kebutuhan pengikut dan membantu mereka tumbuh dan berprestasi, bukan sebaliknya.

    • Ciri-ciri termasuk mendengarkan, empati, penyembuhan, kesadaran, persuasi, dan komitmen untuk pertumbuhan orang.

  3. Kepemimpinan Otentik (Authentic Leadership):

    • Pemimpin yang jujur pada diri sendiri (nilai, keyakinan, dan prinsip) dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai tersebut, bahkan di bawah tekanan.

    • Komponennya meliputi kesadaran diri, pemrosesan yang seimbang (objektivitas), transparansi hubungan, dan perspektif moral terinternalisasi.

6. Dilema Etika yang Dihadapi Pemimpin

Dilema etika terjadi ketika seorang pemimpin harus memilih antara dua opsi yang sah secara moral (atau satu opsi yang benar secara etis dan satu opsi yang menguntungkan secara bisnis/pribadi) yang saling bertentangan.

Contoh umum Dilema Etika meliputi:

  • Kebenaran vs. Loyalitas: Memberitahu kebenaran tentang kesalahan rekan kerja atau melindungi rekan kerja demi loyalitas dan kesatuan tim.

  • Keadilan vs. Belas Kasih: Menerapkan aturan secara ketat dan adil (semua orang menerima hukuman yang sama) versus mempertimbangkan keadaan yang meringankan (belas kasihan).

  • Jangka Pendek vs. Jangka Panjang: Mengambil keputusan yang menghasilkan laba jangka pendek (misalnya, memotong biaya) tetapi merusak lingkungan atau reputasi jangka panjang.

  • Individu vs. Komunitas: Membuat keputusan yang terbaik untuk sebagian besar karyawan (komunitas), meskipun merugikan satu atau dua individu yang berprestasi tinggi.

  • Kepentingan Pribadi vs. Kepentingan Organisasi: Menggunakan sumber daya organisasi untuk keuntungan pribadi (misalnya, pengeluaran yang dipertanyakan) versus kepentingan terbaik organisasi.

7. Mengidentifikasi Faktor Individu & Situasional yang Memengaruhi Perilaku Etis

Perilaku etis seseorang dipengaruhi oleh interaksi yang kompleks antara karakteristik bawaan dan lingkungan eksternal mereka.

Faktor Individu

FaktorPenjelasan
Tahap Perkembangan MoralTingkat penalaran moral seseorang (misalnya, berfokus pada konsekuensi pribadi vs. mengikuti prinsip universal).
Nilai PribadiKeyakinan dasar yang memandu penilaian dan tindakan (misalnya, kejujuran, keadilan).
KepribadianCiri-ciri seperti kekuatan ego (seberapa kuat keyakinan seseorang) dan lokus kontrol (apakah mereka merasa mengontrol takdir mereka atau tidak).
Filosofi EtikaPendekatan yang digunakan untuk membuat keputusan (misalnya, utilitarianisme - yang terbaik untuk sebagian besar vs. deontologi - mengikuti tugas dan aturan).

Faktor Situasional (Organisasional)

FaktorPenjelasan
Budaya Etika OrganisasiNorma, nilai, dan harapan bersama yang memandu perilaku (dipengaruhi oleh kepemimpinan).
Intensitas Moral MasalahSeberapa besar kemungkinan tindakan tersebut menyebabkan kerugian, seberapa besar konsensus sosial, dan seberapa dekat korbannya.
Sistem Penghargaan dan HukumanKaryawan akan lebih mungkin bertindak etis jika perilaku etis diberi penghargaan dan perilaku tidak etis dihukum.
Pengawasan dan TekananKehadiran pengawasan yang ketat dan tekanan kinerja yang berlebihan dapat meningkatkan godaan untuk melakukan tindakan tidak etis.


8. Cara Menumbuhkan Perilaku Etis dan Mencegah yang Tidak Etis

Pemimpin memainkan peran penting dalam menciptakan lingkungan di mana perilaku etis adalah norma.

Menumbuhkan Perilaku Etis 

  1. Bertindak sebagai Panutan Etis: Menjadi teladan yang konsisten dengan menunjukkan integritas, kejujuran, dan keadilan dalam semua keputusan.

  2. Komunikasi Nilai: Secara eksplisit dan teratur mengkomunikasikan kode etik, nilai-nilai organisasi, dan harapan etis.

  3. Memberi Penghargaan Etis: Memberi penghargaan atau pengakuan kepada karyawan yang menunjukkan perilaku etis dan moral yang tinggi, bukan hanya kinerja yang tinggi.

  4. Pelatihan Etika: Memberikan pelatihan rutin untuk membantu karyawan mengidentifikasi dilema etika dan bagaimana menerapkan prinsip organisasi untuk menyelesaikannya.

Mencegah Perilaku Tidak Etis 

  1. Sistem Pengawasan dan Akuntabilitas: Menerapkan mekanisme pelaporan yang jelas dan proses disipliner yang tegas dan adil untuk setiap pelanggaran etika.

  2. Mekanisme Pelaporan yang Aman (Whistleblowing): Menciptakan saluran rahasia di mana karyawan dapat melaporkan perilaku tidak etis tanpa takut akan pembalasan.

  3. Mengurangi Ambiguitas: Menetapkan kebijakan dan prosedur yang jelas di area yang rawan konflik etika (misalnya, hadiah, insider trading, konflik kepentingan).

  4. Memperkuat Budaya Etika: Memastikan bahwa tekanan untuk mencapai tujuan tidak pernah menjadi alasan untuk melanggar etika. Nilai-nilai harus diintegrasikan ke dalam setiap keputusan strategis.


In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 14

by Talitha Nahda Engrasia -
Talitha Nahda Engrasia 2421011025

Jawaban :
1. Teori kepemimpinan karismatik dan transformasional
Teori kepemimpinan karismatik menjelaskan bahwa seorang pemimpin mampu memengaruhi pengikut melalui daya tarik pribadi, kepercayaan diri tinggi, visi yang kuat, serta kemampuan komunikasi yang luar biasa sehingga pengikut merasa kagum dan loyal. Sementara itu, teori kepemimpinan transformasional menekankan pada kemampuan pemimpin untuk mengubah nilai, sikap, dan motivasi pengikut agar mau bekerja melampaui kepentingan pribadi demi tujuan bersama melalui inspirasi, keteladanan, perhatian individual, serta stimulasi intelektual.

2. Persamaan dan perbedaan kepemimpinan karismatik dan transformasional
Persamaan kedua gaya kepemimpinan ini terletak pada kemampuannya menginspirasi, memotivasi, dan membawa perubahan besar dalam organisasi. Perbedaannya, kepemimpinan karismatik lebih bertumpu pada pesona pribadi dan figur pemimpin yang menjadi pusat perhatian, sedangkan kepemimpinan transformasional lebih menekankan pada pemberdayaan pengikut, pengembangan potensi individu, serta proses perubahan jangka panjang yang tidak bergantung pada satu sosok pemimpin saja.

3. Menilai manfaat dan risiko kepemimpinan karismatik
Manfaat kepemimpinan karismatik antara lain mampu meningkatkan semangat kerja, loyalitas, kepercayaan diri pengikut, serta mempercepat perubahan dalam organisasi. Namun, risikonya adalah ketergantungan yang berlebihan pada pemimpin, potensi penyalahgunaan kekuasaan, keputusan subjektif, serta kemungkinan munculnya organisasi yang tidak stabil ketika pemimpin tersebut tidak lagi ada.

4. Cara menginspirasi lebih banyak komitmen dan optimisme pengikut
Pemimpin dapat menginspirasi komitmen dan optimisme dengan cara menunjukkan visi yang jelas dan bermakna, memberi teladan yang konsisten antara ucapan dan tindakan, memberikan apresiasi atas usaha pengikut, menciptakan komunikasi yang terbuka, serta menumbuhkan rasa percaya bahwa setiap individu memiliki peran penting dalam keberhasilan bersama.

5. Memahami berbagai konsep kepemimpinan etis
Kepemimpinan etis adalah kepemimpinan yang berlandaskan pada nilai moral seperti kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap orang lain, di mana pemimpin tidak hanya mengejar hasil, tetapi juga memperhatikan cara mencapai hasil tersebut. Konsep ini mencakup prinsip integritas, kepatuhan terhadap norma, pengambilan keputusan yang adil, serta perlindungan terhadap hak dan kesejahteraan seluruh anggota organisasi.

6. Dilema etika yang dihadapi pemimpin
Dilema etika terjadi ketika pemimpin harus memilih di antara dua keputusan yang sama-sama memiliki konsekuensi moral, seperti antara kepentingan organisasi dan kepentingan karyawan, antara kejujuran dan tekanan hasil, atau antara kepatuhan aturan dan tuntutan situasi darurat. Dilema ini menuntut pemimpin untuk berpikir secara bijak, mempertimbangkan dampak jangka panjang, dan tetap berpegang pada nilai etika.

7. Mengidentifikasi faktor individu dan situasional yang memengaruhi perilaku etis
Faktor individu yang memengaruhi perilaku etis meliputi nilai pribadi, moralitas, kepribadian, tingkat pendidikan, serta pengalaman hidup seseorang. Sementara itu, faktor situasional mencakup budaya organisasi, tekanan kerja, gaya kepemimpinan atasan, sistem penghargaan dan sanksi, serta norma sosial di lingkungan kerja yang dapat mendorong atau justru menghambat perilaku etis.

8. Cara menumbuhkan perilaku etis dan mencegah perilaku tidak etis
Perilaku etis dapat ditumbuhkan dengan menetapkan kode etik yang jelas, memberikan teladan dari pimpinan, melakukan pendidikan etika secara berkelanjutan, menciptakan budaya organisasi yang terbuka dan adil, serta menerapkan sistem penghargaan dan sanksi yang tegas. Pencegahan perilaku tidak etis juga dapat dilakukan melalui pengawasan yang konsisten, perlindungan terhadap pelapor pelanggaran, dan penegakan aturan tanpa pilih kasih.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 14

by Vindi Millenia Putri -
Nama : Vindi Milenia Putri
NPM : 2421011006

1. Jelaskan tentang teori karismatik dan transformasional!
Jawab :
- Teori karismatik menekankan bahwa pemimpin memiliki daya tarik pribadi yang kuat, kemampuan komunikasi yang memukau, serta visi yang inspiratif sehingga para pengikut secara emosional tergerak untuk mengikuti arahan pemimpin.
- Teori transformasional berfokus pada kemampuan pemimpin untuk mentransformasi pengikut melalui perubahan nilai, motivasi, dan pola pikir. Pemimpin transformasional tidak hanya mengandalkan pesona pribadi, tetapi juga mendorong perkembangan individu, memberikan visi jangka panjang, serta menciptakan perubahan organisasi yang signifikan.

2. Bagaimana persamaan dan perbedaan antara kepemimpinan karismatik dan transformasional?
Jawab :
Persamaan dan perbedaan kepemimpinan karismatik dan transformasional memiliki persamaan dalam hal kemampuan menginspirasi, menciptakan visi yang kuat, serta meningkatkan motivasi pengikut. Namun, perbedaannya terletak pada sumber pengaruh dan tujuan jangka panjang. Kepemimpinan karismatik lebih berpusat pada daya tarik pribadi pemimpin, sedangkan transformasional menekankan proses perubahan yang sistemik dan pengembangan pengikut. Pemimpin transformasional cenderung lebih berorientasi pada pemberdayaan dan kolaborasi, sementara pemimpin karismatik sering kali mengandalkan kekuatan figur pemimpin itu sendiri.

3. Bagaimana menilai manfaat dan risiko kepemimpinan karismatik?
Jawab :
Kepemimpinan karismatik bermanfaat karena mampu meningkatkan motivasi dan loyalitas, menciptakan semangat tinggi dalam organisasi, serta memudahkan pencapaian tujuan melalui pengaruh emosional yang kuat. Namun, risikonya adalah potensi penyalahgunaan kekuasaan, ketergantungan berlebihan pada pemimpin, serta sulitnya keberlanjutan ketika pemimpin tersebut tidak lagi hadir. Selain itu, keputusan dapat menjadi subjektif karena pengaruh kuat pemimpin dapat menutupi penilaian rasional.

4. Jelaskan cara menginspirasi lebih banyak komitmen dan optimisme pengikut!
Jawab :
Menginspirasi komitmen dan optimisme, pemimpin perlu memberikan visi yang jelas, menanamkan nilai-nilai positif, serta menunjukkan keteladanan dalam tindakan sehari-hari. Komunikasi yang terbuka dan empatik penting untuk membangun kepercayaan, sementara pemberian pengakuan dan dukungan dapat memperkuat rasa percaya diri pengikut. Pemimpin juga perlu menanamkan makna pada setiap tugas, sehingga pengikut melihat kontribusi mereka sebagai bagian penting dari tujuan yang lebih besar.

5. Bagaimana memahami berbagai konsep kepemimpinan etis?
Jawab :
Kepemimpinan etis mencakup prinsip kejujuran, tanggung jawab, keadilan, dan kepedulian terhadap kesejahteraan orang lain. Pemimpin etis berupaya bertindak sesuai nilai moral, membuat keputusan yang mempertimbangkan dampak bagi semua pihak, serta menjaga integritas dalam setiap keadaan. Pemimpin jenis ini juga menekankan transparansi dan akuntabilitas, sehingga proses pengambilan keputusan dapat dipahami dan dipertanggungjawabkan oleh seluruh anggota organisasi.

6. Jelaskan dilema etika yang dihadapi pemimpin!
Jawab :
Pemimpin sering menghadapi dilema etika ketika harus memilih antara dua keputusan yang sama-sama memiliki konsekuensi moral. Misalnya, pemimpin harus menyeimbangkan antara kepentingan perusahaan dan kebutuhan karyawan, menjaga kerahasiaan namun tetap transparan, atau memilih keputusan yang menguntungkan jangka pendek tetapi berisiko jangka panjang. Dilema semacam ini mengharuskan pemimpin untuk mempertimbangkan nilai moral, aturan organisasi, serta dampak keputusan secara menyeluruh.

7. Bagaimana mengidentifikasi faktor individu & situasional yang memengaruhi perilaku etis?
Jawab :
Faktor individu yang memengaruhi perilaku etis meliputi nilai-nilai pribadi, karakter moral, pengalaman hidup, dan tingkat pendidikan etis seseorang. Sementara itu, faktor situasional mencakup budaya organisasi, tekanan sosial, kebijakan perusahaan, serta lingkungan eksternal yang dapat mendorong atau menghambat perilaku etis. Kombinasi kedua faktor ini membentuk landasan bagi seseorang dalam mengambil keputusan moral.

8. Jelaskan cara menumbuhkan perilaku etis dan mencegah yang tidak etis!
Jawab :
Perilaku etis dapat ditumbuhkan melalui penerapan kode etik yang jelas, pelatihan etika, dan pemberian contoh dari pemimpin. Lingkungan yang mendukung keterbukaan dan diskusi moral juga penting agar anggota organisasi merasa aman untuk melaporkan pelanggaran. Selain itu, sistem penghargaan untuk perilaku etis dan sanksi tegas untuk perilaku tidak etis dapat memperkuat budaya integritas dan mencegah terjadinya penyimpangan.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 14

by Willya Marsha Annisa Wardhany -
Willta Marsha Annisa Wardhany 2421011040

Izin menjawan evaluasi sesi 14 bu

1. Jelaskan tentang teori karismatik dan transformasional!
Teori kepemimpinan karismatik menjelaskan bahwa pemimpin memiliki daya tarik personal dan kekuatan pengaruh yang kuat sehingga mampu membangkitkan kekaguman, loyalitas, dan identifikasi tinggi dari para pengikut. Pemimpin karismatik biasanya memiliki visi yang kuat, kemampuan komunikasi yang luar biasa, kepercayaan diri tinggi, serta mampu menciptakan rasa misi yang mendalam. Mereka mampu menggerakkan pengikut tidak hanya melalui logika, tetapi juga emosi dan keyakinan personal.

Sementara itu, teori kepemimpinan transformasional berfokus pada kemampuan pemimpin untuk mentransformasi pengikut melalui empat komponen utama, yaitu idealized influence, inspirational motivation, intellectual stimulation, dan individualized consideration. Pemimpin transformasional tidak hanya mengandalkan daya tarik pribadi, tetapi juga mengembangkan pengikut agar tumbuh, berkembang, kreatif, dan memiliki komitmen terhadap tujuan organisasi. Fokusnya adalah perubahan positif berkelanjutan pada sistem dan manusia.

2. Bagaimana persamaan dan perbedaan antara kepemimpinan karismatik dan transformasional?

Kepemimpinan karismatik dan transformasional memiliki kesamaan karena keduanya berupaya menginspirasi, memotivasi, dan mendorong perubahan positif dalam organisasi melalui pengaruh personal pemimpin. Namun, kepemimpinan karismatik lebih menekankan kekuatan pribadi pemimpin, citra, serta kemampuan membangkitkan emosi dan loyalitas pengikut. Sebaliknya, kepemimpinan transformasional lebih berfokus pada proses transformasi organisasi melalui pengembangan individu, pemberian tantangan intelektual, dan peningkatan kapasitas tim secara sistemik. Pemimpin karismatik berpusat pada figur pemimpin, sedangkan pemimpin transformasional berpusat pada perubahan struktur, budaya, dan potensi pengikut dengan orientasi jangka panjang.

3. Bagaimana menilai manfaat dan risiko kepemimpinan karismatik?

Kepemimpinan karismatik memiliki banyak manfaat, seperti meningkatkan motivasi, mempercepat perubahan, menyatukan tim dalam kondisi krisis, dan mendorong komitmen tinggi dari pengikut. Namun, model ini juga memiliki risiko signifikan, terutama jika karisma tidak diimbangi etika dan mekanisme kontrol. Pemimpin yang terlalu dominan berpotensi menciptakan ketergantungan, pengambilan keputusan yang impulsif, bahkan penyalahgunaan kekuasaan karena pengikut cenderung menerima instruksi tanpa kritik. Tanpa batasan institusional, karisma yang berlebihan dapat menyebabkan organisasi kehilangan objektivitas dan rentan pada kegagalan moral maupun operasional.

4. Jelaskan cara menginspirasi lebih banyak komitmen dan optimisme pengikut!

Untuk menumbuhkan komitmen dan optimisme, pemimpin perlu mengartikulasikan visi yang jelas, bermakna, dan selaras dengan aspirasi pengikut. Komunikasi yang positif, empatik, dan konsisten membantu membangun rasa percaya serta keyakinan bahwa tujuan organisasi dapat dicapai. Selain itu, pemimpin dapat meningkatkan optimisme melalui pemberian contoh nyata, pengakuan atas kontribusi individu, dan menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan. Ketika pemimpin memperlihatkan integritas dan kesediaan membimbing, pengikut lebih terdorong untuk menunjukkan komitmen yang lebih besar dan merasakan keterlibatan emosional dalam pekerjaan mereka.

5. Bagaimana memahami berbagai konsep kepemimpinan etis?

Kepemimpinan etis mengacu pada perilaku pemimpin yang didasarkan pada prinsip moral seperti keadilan, kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap kesejahteraan orang lain. Pemahaman terhadap kepemimpinan etis mencakup kemampuan membedakan tindakan yang benar dan salah, memahami konsekuensi etis dari keputusan, serta memastikan bahwa proses organisasi berjalan secara transparan. Pemimpin etis tidak hanya berperilaku moral, tetapi juga menjadi teladan, membangun budaya integritas, dan menetapkan standar perilaku dalam organisasi melalui kebijakan, sistem penghargaan, dan komunikasi yang konsisten.

6. Jelaskan dilema etika yang dihadapi pemimpin!

Pemimpin sering menghadapi dilema etika ketika harus memilih antara dua keputusan yang sama-sama memiliki konsekuensi moral yang signifikan. Contoh dilema etika adalah memilih antara keuntungan perusahaan dan kesejahteraan karyawan, menjaga privasi versus kebutuhan transparansi, serta mempertahankan kesetiaan pada individu atau kepatuhan pada aturan organisasi. Dalam konteks multikultural, dilema etika bisa muncul karena perbedaan nilai budaya, misalnya penerimaan terhadap praktik tertentu yang dianggap wajar di satu negara, tetapi dianggap tidak etis di negara lain. Pemimpin dituntut menilai situasi secara objektif dengan mempertimbangkan nilai moral universal dan kebijakan organisasi.

7. Bagaimana mengidentifikasi faktor individu & situasional yang memengaruhi perilaku etis?

Perilaku etis dipengaruhi oleh faktor individu seperti nilai pribadi, kepribadian, tingkat moralitas, pengalaman, dan keyakinan agama atau budaya. Sementara faktor situasional meliputi tekanan organisasi, budaya perusahaan, gaya kepemimpinan atasan, sistem penghargaan dan hukuman, serta norma sosial di lingkungan kerja. Pemimpin dapat mengidentifikasi faktor-faktor ini melalui observasi, asesmen psikologis, dialog terbuka, dan evaluasi lingkungan kerja. Pemahaman yang mendalam terhadap faktor individu dan situasional memungkinkan pemimpin merancang kebijakan yang mendorong perilaku etis secara konsisten.

8. Jelaskan cara menumbuhkan perilaku etis dan mencegah yang tidak etis!

Perilaku etis dapat ditumbuhkan melalui penciptaan budaya organisasi yang menekankan integritas, penegakan kode etik yang jelas, dan komitmen pemimpin untuk menjadi role model moral. Pelatihan etika, mekanisme pelaporan pelanggaran, serta kebijakan sanksi yang adil dapat membantu mencegah perilaku tidak etis. Selain itu, sistem penghargaan harus selaras dengan perilaku etis, bukan hanya berorientasi pada hasil. Pemimpin juga perlu membangun komunikasi terbuka sehingga karyawan merasa aman untuk menyampaikan kekhawatiran etis tanpa takut terhadap pembalasan. Ketika etika menjadi bagian dari sistem, struktur, dan perilaku sehari-hari, organisasi dapat menjaga integritas sekaligus meningkatkan kepercayaan publik.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 14

by Mega Widiyaningrum -
Mega Widiyaningrum - 2421011020

Izin menjawab ya Bu..

1. Jelaskan tentang teori kepemimpinan karismatik dan transformasional!
Jawab:
Teori kepemimpinan karismatik menyatakan bahwa seorang pemimpin memperoleh pengaruh terutama melalui daya tarik pribadi, pesona, dan kemampuan emosionalnya dalam memotivasi pengikut. Pemimpin karismatik mampu menciptakan rasa kagum dan kepercayaan tinggi melalui visi yang kuat, keyakinan diri, gaya komunikasi yang menggerakkan emosi, serta kemampuan menunjukkan keberanian atau tindakan luar biasa. Sementara itu, teori kepemimpinan transformasional berfokus pada bagaimana pemimpin mengubah nilai, sikap, dan perilaku pengikut agar sesuai dengan visi organisasi yang lebih tinggi. Pemimpin transformasional mendorong pengikut untuk mencapai potensi maksimal melalui empat komponen utama: idealized influence (pengaruh ideal), inspirational motivation (motivasi inspirasional), intellectual stimulation (stimulasi intelektual), dan individualized consideration (perhatian individual). Intinya, pemimpin transformasional tidak hanya memengaruhi secara emosional, tetapi juga membentuk budaya dan pola pikir baru dalam organisasi untuk menciptakan perubahan jangka panjang.

2. Bagaimana persamaan dan perbedaan antara kepemimpinan karismatik dan transformasional?
Jawab:
Kepemimpinan karismatik dan transformasional memiliki beberapa persamaan penting, terutama dalam hal kemampuan memotivasi pengikut, memberikan visi yang jelas, serta menciptakan semangat perubahan dalam organisasi. Keduanya sama-sama bergantung pada hubungan emosional antara pemimpin dan pengikut, sehingga pemimpin harus memiliki kemampuan komunikasi yang kuat, keyakinan diri, serta kepedulian terhadap kesejahteraan pengikut.

Namun, keduanya juga memiliki perbedaan signifikan. Kepemimpinan karismatik lebih berpusat pada figur pemimpin itu sendiri, di mana keberhasilan organisasi sering kali bergantung pada daya tarik dan karakter personal pemimpin. Sedangkan kepemimpinan transformasional lebih menekankan proses perubahan sistemik yang dapat bertahan meskipun pemimpin tidak lagi ada, karena mengembangkan budaya organisasi dan memberdayakan pengikut untuk menjadi pemimpin. Selain itu, pemimpin karismatik cenderung menggunakan pengaruh emosional yang kuat, sementara pemimpin transformasional menggunakan pendekatan yang lebih terstruktur melalui pembelajaran, pemberdayaan, dan perubahan nilai jangka panjang.

3. Bagaimana menilai manfaat dan risiko kepemimpinan karismatik?
Jawab:
Kepemimpinan karismatik memiliki manfaat besar, khususnya dalam situasi krisis atau perubahan cepat, karena pemimpin karismatik dapat memunculkan harapan, keberanian, dan rasa percaya diri pengikut. Karisma juga mampu mempercepat proses mobilisasi sumber daya dan mendorong komitmen tinggi, bahkan dalam kondisi yang tidak pasti. Selain itu, pemimpin karismatik dapat menjadi simbol stabilitas dan memberikan energi emosional yang memotivasi tim untuk bekerja lebih keras mencapai tujuan organisasi.

Namun, di balik manfaat tersebut terdapat risiko yang harus diperhatikan. Pengaruh karismatik dapat menimbulkan ketergantungan berlebihan pada satu individu, sehingga organisasi menjadi rapuh jika pemimpin tidak hadir. Selain itu, karisma yang tidak seimbang dapat berkembang menjadi otoritarianisme, manipulasi, atau pengambilan keputusan yang tidak rasional karena pengikut terlalu mempercayai pemimpin tanpa kritik. Jika pemimpin karismatik memiliki nilai moral rendah, risiko penyalahgunaan kekuasaan dan perilaku tidak etis menjadi sangat tinggi. Oleh karena itu, kepemimpinan karismatik harus disertai sistem kontrol dan nilai etika yang kuat agar tetap berada pada jalur yang sehat.

4. Jelaskan cara menginspirasi lebih banyak komitmen dan optimisme pengikut!
Jawab:
Untuk menginspirasi komitmen dan optimisme yang lebih besar, pemimpin harus mampu menyampaikan visi dengan cara yang menarik, jelas, dan penuh makna bagi pengikut. Visi tersebut harus dikaitkan dengan tujuan pribadi pengikut, sehingga mereka merasa perjuangan organisasi juga merupakan bagian dari identitas mereka. Pemimpin juga perlu menunjukkan keteladanan melalui tindakan nyata yang sesuai dengan nilai-nilai yang dianut organisasi; pengikut akan lebih termotivasi apabila melihat pemimpinnya konsisten, jujur, dan bekerja keras. Selain itu, pemimpin perlu menciptakan iklim psikologis yang positif, seperti memberikan apresiasi secara tulus, memastikan adanya kesempatan berkembang, dan menyediakan ruang untuk kreativitas. Komitmen dan optimisme juga akan tumbuh ketika pemimpin mampu memberi harapan realistis, menjelaskan strategi yang jelas, serta mendorong kolaborasi yang saling mendukung antar anggota tim.

5. Bagaimana memahami berbagai konsep kepemimpinan etis?
Jawab:
Kepemimpinan etis adalah bentuk kepemimpinan yang menekankan prinsip moral, tanggung jawab, dan integritas dalam seluruh pengambilan keputusan organisasi. Konsep ini mencakup beberapa pendekatan, seperti deontologi, yang menekankan tindakan yang benar berdasarkan aturan; utilitarianisme, yang menilai keputusan berdasarkan manfaat terbesar bagi banyak orang; serta virtue ethics, yang menekankan karakter moral pemimpin seperti kejujuran, keberanian, dan empati. Kepemimpinan etis juga melibatkan perilaku yang adil, transparan, serta penggunaan kekuasaan secara bertanggung jawab. Pemimpin etis menjadi panutan dengan memastikan bahwa setiap keputusan tidak hanya menguntungkan organisasi, tetapi juga memperhatikan dampak sosial, lingkungan, dan kesejahteraan individu. Dengan memahami these konsep, pemimpin dapat menilai situasi secara komprehensif dan menghindari bias yang dapat menimbulkan tindakan tidak etis.

6. Jelaskan dilema etika yang dihadapi pemimpin!
Jawab:
Dilema etika adalah situasi di mana seorang pemimpin harus memilih antara dua pilihan yang sama-sama memiliki konsekuensi moral yang sulit. Dalam dunia kerja, pemimpin sering menghadapi dilema seperti memilih antara kepentingan organisasi dengan kesejahteraan individu, menjaga kerahasiaan informasi versus kebutuhan transparansi, atau mempertahankan kinerja perusahaan meskipun terdapat risiko melanggar nilai moral tertentu. Misalnya, seorang pemimpin mungkin harus memutuskan apakah akan memberhentikan sebagian karyawan demi menyelamatkan perusahaan, atau sebaliknya mempertahankan mereka tetapi membahayakan keberlanjutan bisnis. Pemimpin juga dapat dihadapkan pada tekanan untuk memenuhi target yang membuatnya mempertimbangkan tindakan tidak etis. Dalam situasi seperti ini, pemimpin harus mempertimbangkan nilai moral, dampak jangka panjang, serta aturan hukum sebelum mengambil keputusan.

7. Bagaimana mengidentifikasi faktor individu dan situasional yang memengaruhi perilaku etis?
Jawab:
Faktor individu meliputi nilai pribadi, kepribadian, tingkat moralitas, pendidikan, dan pengalaman hidup seseorang. Pemimpin atau karyawan yang menjunjung tinggi kejujuran, empati, dan tanggung jawab cenderung bertindak secara etis meskipun berada dalam tekanan. Selain itu, tingkat perkembangan moral individu—seperti menurut teori Kohlberg—dapat memengaruhi bagaimana seseorang menilai benar atau salah.

Sementara itu, faktor situasional mencakup budaya organisasi, tekanan kerja, struktur wewenang, insentif, serta contoh perilaku dari pemimpin. Jika lingkungan kerja memberikan penghargaan pada hasil tanpa memperhatikan proses, atau jika pimpinan cenderung mengambil jalan pintas, maka perilaku tidak etis lebih mungkin muncul. Oleh karena itu, pemimpin harus peka dalam mengenali kombinasi faktor individu dan situasional tersebut untuk mencegah terjadinya penyimpangan etika dalam organisasi.

8. Jelaskan cara menumbuhkan perilaku etis dan mencegah perilaku tidak etis!
Jawab:
Menumbuhkan perilaku etis memerlukan komitmen kuat dari pemimpin untuk menciptakan budaya organisasi yang berlandaskan integritas. Langkah pertama adalah menetapkan kode etik yang jelas, memberikan pedoman perilaku yang mudah dipahami oleh seluruh karyawan. Pemimpin harus memperkuat budaya etis melalui keteladanan, karena perilaku pemimpin menjadi standar utama bagi seluruh anggota organisasi. Selain itu, perusahaan perlu menyediakan pelatihan etika secara berkala agar karyawan mampu menghadapi situasi sulit dengan lebih bijak.

Untuk mencegah perilaku tidak etis, organisasi dapat membangun sistem pengawasan yang transparan, memberikan mekanisme pelaporan pelanggaran (whistleblowing), serta memberikan sanksi yang tegas dan konsisten terhadap setiap tindakan yang melanggar nilai etika. Lingkungan kerja yang mendukung komunikasi terbuka, mengurangi tekanan yang berlebihan, dan memastikan keadilan dalam distribusi tugas juga membantu mencegah karyawan mengambil keputusan tidak etis. Dengan kombinasi pendekatan struktural dan kepemimpinan yang berintegritas, perilaku etis dapat tumbuh secara berkelanjutan dalam organisasi.

Terima Kasih..
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 14

by DEWIANA SARI UTAMI -
Dewiana Sari Utami - 2421011035, izin menjawab pertanyaan evaluasi

1. Jelaskan tentang teori karismatik dan transformasional!
Jawab:
Teori kepemimpinan karismatik menekankan daya tarik luar biasa pemimpin yang mampu mempengaruhi pengikut melalui kepribadian, visi inspiratif, dan komunikasi persuasif. Pengikut biasanya setia karena percaya pada visi dan karakter pemimpin tersebut. Sementara itu, teori transformasional berfokus pada kemampuan pemimpin menginspirasi dan memotivasi pengikut untuk melampaui kepentingan pribadi, mencapai perubahan positif, serta mengembangkan potensi mereka melalui empat komponen: pengaruh ideal, motivasi inspirasi, stimulasi intelektual, dan pertimbangan individual.

2. Bagaimana persamaan dan perbedaan antara kepemimpinan karismatik dan transformasional?
Jawab:
Persamaannya, keduanya mengandalkan visi inspiratif dan kemampuan mempengaruhi pengikut secara emosional. Namun, kepemimpinan karismatik cenderung berpusat pada sosok pemimpin dan bergantung pada karisma pribadinya, sementara transformasional lebih berfokus pada proses perubahan dan pemberdayaan pengikut secara berkelanjutan. Pemimpin transformasional biasanya membangun sistem dan nilai kolektif, sedangkan karismatik lebih mungkin meninggalkan kekosongan jika pemimpin pergi.

3. Bagaimana menilai manfaat dan risiko kepemimpinan karismatik?
Jawab:
Manfaatnya mencakup kemampuan menghadapi krisis, menggerakkan perubahan cepat, dan meningkatkan loyalitas serta semangat tim. Namun risikonya meliputi ketergantungan berlebihan pada satu figur, potensi penyalahgunaan kekuasaan, dan kurangnya pengembangan sistem yang berkelanjutan. Pengikut bisa menjadi tidak kritis, dan keputusan mungkin didasari emosi atau keinginan pemimpin, bukan analisis rasional.

4. Jelaskan cara menginspirasi lebih banyak komitmen dan optimisme pengikut!
Jawab:
Pemimpin dapat menginspirasi dengan menjadi teladan yang konsisten antara kata dan perbuatan, menyampaikan visi yang jelas dan menarik, serta memberikan pengakuan atas kontribusi pengikut. Bangun komunikasi dua arah, berikan tantangan yang bermakna, dan tunjukkan kepercayaan pada kemampuan tim. Cerita sukses kecil juga dapat digunakan untuk membangun optimisme dan keyakinan bahwa tujuan dapat dicapai.

5. Bagaimana memahami berbagai konsep kepemimpinan etis?
Jawab:
Kepemimpinan etis adalah praktik memimpin dengan integritas, keadilan, dan rasa tanggung jawab terhadap semua pemangku kepentingan. Konsepnya mencakup kejujuran, transparansi, penghargaan terhadap martabat orang lain, serta pengambilan keputusan yang mempertimbangkan dampak moral. Pemimpin etis tidak hanya mematuhi aturan, tetapi juga mendorong budaya etika dalam organisasi.

6. Jelaskan dilema etika yang dihadapi pemimpin!
Jawab:
Dilema etika sering muncul saat harus memilih antara dua opsi yang sama-sama memiliki dampak moral, seperti kepentingan jangka pendek vs jangka panjang, keuntungan perusahaan vs kesejahteraan karyawan, atau transparansi vs kerahasiaan bisnis. Contohnya adalah memutuskan untuk melakukan PHK untuk menyelamatkan perusahaan atau mempertahankan karyawan dengan risiko kebangkrutan.

7. Bagaimana mengidentifikasi faktor individu & situasional yang memengaruhi perilaku etis?
Jawab:
Faktor individu mencakup nilai pribadi, moralitas, pengalaman, dan tingkat kesadaran etis seseorang. Faktor situasional meliputi budaya organisasi, sistem imbalan/hukuman, tekanan rekan kerja, waktu, serta aturan dan norma yang berlaku. Keduanya saling mempengaruhi; misalnya, orang dengan integritas tinggi pun bisa tergoda jika situasi memberikan tekanan ekstrem atau imbalan besar untuk perilaku tidak etis.

8. Jelaskan cara menumbuhkan perilaku etis dan mencegah yang tidak etis!
Jawab:
Bangun budaya etika melalui keteladanan pemimpin, buat kode etik yang jelas dan disosialisasikan secara konsisten. Terapkan sistem pelaporan yang aman (whistleblowing), berikan pelatihan etika berkala, dan integrasikan pertimbangan etika dalam pengambilan keputusan. Berikan penghargaan untuk perilaku etis dan sanksi yang tegas untuk pelanggaran, serta buat sistem transparansi yang mengurangi ruang untuk penyimpangan.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 14

by Rica Sherly Permatasari -
Rica Sherly Permatasari 2421011022

1. Jelaskan tentang teori karismatik dan transformasional!
Jawaban :
Teori kepemimpinan karismatik menjelaskan bahwa pemimpin mampu memengaruhi pengikut melalui pesona pribadi, kemampuan komunikasi yang kuat, dan keyakinan diri yang tinggi. Pemimpin karismatik biasanya dianggap memiliki visi luar biasa, mampu membangun emosi positif pada pengikut, dan dipercaya memiliki kualitas yang “lebih tinggi” dibanding pemimpin biasa. Mereka mengandalkan daya tarik pribadi dan kehadiran yang menginspirasi untuk menciptakan loyalitas dan kepatuhan. Sementara itu, teori kepemimpinan transformasional menekankan kemampuan pemimpin mengubah nilai, keyakinan, dan motivasi pengikut agar mau melampaui kepentingan pribadi demi tujuan bersama. Pemimpin transformasional tidak hanya menginspirasi, tetapi juga membangun kapasitas pengikut melalui stimulasi intelektual, perhatian individual, dan pemberian visi jangka panjang yang bermakna. Fokus mereka adalah perubahan budaya organisasi dan pengembangan manusia secara menyeluruh.

2. Bagaimana persamaan dan perbedaan antara kepemimpinan karismatik dan transformasional?
Jawaban :
Kedua model kepemimpinan ini sama-sama bergantung pada kemampuan pemimpin memengaruhi secara emosional dan memotivasi pengikut untuk mencapai tujuan yang lebih besar. Keduanya juga menekankan visi jangka panjang, komunikasi yang kuat, dan kemampuan menggerakkan komitmen kolektif. Namun, perbedaannya terletak pada sumber pengaruh dan pendekatan. Pemimpin karismatik mendapat pengaruh dari pesona dan daya tarik pribadi, sehingga pengikut sering menggantungkan diri secara emosional kepada sosok pemimpin. Sebaliknya, pemimpin transformasional menggunakan proses sistematis yang melibatkan visi, pelatihan, stimulasi intelektual, dan pembentukan budaya. Kepemimpinan transformasional lebih berkelanjutan karena mendorong pengikut menjadi pemimpin baru, sedangkan kepemimpinan karismatik terkadang menciptakan ketergantungan pada figur pemimpin.

3. Bagaimana menilai manfaat dan risiko kepemimpinan karismatik?
Jawaban :
Kepemimpinan karismatik memiliki banyak manfaat, seperti kemampuan menggerakkan organisasi di masa krisis, memotivasi karyawan secara cepat, membangun rasa percaya diri yang tinggi, dan mempercepat perubahan. Pemimpin karismatik juga mampu menciptakan identitas kolektif yang kuat dan meningkatkan moral kerja. Namun, model ini memiliki risiko besar jika tidak dikontrol dengan etika dan sistem. Salah satu risikonya adalah ketergantungan berlebih pada pemimpin sehingga organisasi kehilangan arah ketika pemimpin pergi. Selain itu, pemimpin karismatik yang tidak etis berpotensi menggunakan kekuatan emosionalnya untuk memanipulasi pengikut. Terdapat juga risiko pengambilan keputusan impulsif karena pemimpin merasa diri tidak dapat salah. Jika tidak dilengkapi mekanisme akuntabilitas, gaya karismatik dapat berubah menjadi otoriter.

4. Jelaskan cara menginspirasi lebih banyak komitmen dan optimisme pengikut!
Jawaban :
Untuk menginspirasi komitmen dan optimisme, pemimpin perlu menyampaikan visi yang jelas, bermakna, dan relevan dengan aspirasi pengikut. Pemimpin harus menjadi teladan dalam tindakan sehari-hari agar pengikut merasakan konsistensi antara kata dan perbuatan. Komunikasi positif dan penuh empati membantu membangun ikatan emosional, sementara penguatan (reinforcement) terhadap pencapaian kecil dapat meningkatkan optimisme kolektif. Selain itu, memberikan kesempatan bagi pengikut untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan membuat mereka merasa memiliki tanggung jawab terhadap tujuan organisasi. Penghargaan atas kontribusi, coaching, serta suasana kerja yang mendukung kreativitas juga dapat meningkatkan komitmen dan rasa percaya diri pengikut.

5. Bagaimana memahami berbagai konsep kepemimpinan etis?
Jawaban :
Kepemimpinan etis adalah konsep yang menekankan bahwa pemimpin harus berperilaku berdasarkan prinsip moral seperti kejujuran, integritas, keadilan, dan tanggung jawab sosial. Pemimpin etis tidak hanya berperilaku baik, tetapi juga memengaruhi dan mendorong pengikut agar melakukan hal yang sama. Pemahaman kepemimpinan etis mencakup pemahaman berbagai teori, seperti utilitarianisme (keputusan terbaik adalah yang menghasilkan manfaat terbesar), deontologi (bertindak sesuai aturan moral), virtue ethics (berfokus pada karakter baik), dan teori keadilan (keadilan distributif dan prosedural). Pemimpin harus mampu menilai dilema moral secara sistematis, mempertimbangkan dampak bagi seluruh pemangku kepentingan, dan menjaga konsistensi antara nilai pribadi dan tindakan profesional.

6. Jelaskan dilema etika yang dihadapi pemimpin!
Jawaban :
Pemimpin sering menghadapi dilema etika ketika harus memilih antara dua atau lebih pilihan yang sama-sama memiliki konsekuensi moral. Contohnya termasuk memilih antara keuntungan perusahaan atau kesejahteraan karyawan, mempertahankan rahasia bisnis atau mengungkap sesuatu demi keselamatan publik, serta memutuskan apakah harus mengikuti aturan formal atau mempertimbangkan rasa kemanusiaan. Dilema juga muncul ketika loyalitas bertentangan, misalnya ketika pemimpin harus melindungi reputasi organisasi tetapi juga harus jujur kepada publik. Pemimpin perlu menilai dilema ini dengan menggunakan kerangka etis yang jelas agar keputusan tetap bertanggung jawab dan berintegritas.

7. Bagaimana mengidentifikasi faktor individu & situasional yang memengaruhi perilaku etis?
Jawaban :
Perilaku etis tidak hanya dipengaruhi nilai pribadi seseorang, tetapi juga oleh faktor situasional. Faktor individu mencakup moralitas pribadi, tingkat pendidikan, kepercayaan moral, pengalaman masa lalu, dan sifat-sifat kepribadian seperti empati atau keberanian moral. Sementara itu, faktor situasional meliputi budaya organisasi, tekanan atasan, sistem reward-punishment, struktur kekuasaan, serta norma sosial di lingkungan kerja. Pemimpin harus mampu memahami bahwa perilaku tidak etis sering muncul bukan karena niat buruk pribadi, tetapi karena lingkungan yang mendorong tindakan tersebut, seperti target tidak realistis atau budaya kompetitif ekstrem.

8. Jelaskan cara menumbuhkan perilaku etis dan mencegah yang tidak etis!
Jawaban :
Untuk menumbuhkan perilaku etis, organisasi harus menciptakan budaya yang menekankan integritas melalui aturan tertulis, pedoman perilaku, dan pelatihan etika. Pemimpin harus menjadi role model dan menunjukkan konsistensi antara perkataan dan tindakan. Sistem reward juga harus mendukung perilaku etis, bukan sekadar pencapaian hasil angka. Transparansi dalam keputusan, mekanisme pelaporan pelanggaran tanpa takut balas dendam (whistleblowing system), serta audit internal yang kuat membantu mencegah perilaku tidak etis. Selain itu, organisasi harus memastikan tekanan kerja tidak menciptakan situasi yang mendorong perilaku menyimpang. Ketika perilaku tidak etis terjadi, penanganan harus cepat, adil, dan sesuai prosedur agar menjadi pelajaran bagi seluruh anggota organisasi.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 14

by Selin Faradina -
Nama: SELIN FARADINA
NPM: 2421011017

1. Jelaskan tentang teori karismatik dan transformasional!
Jawab:
Teori kepemimpinan karismatik dan transformasional menjelaskan bagaimana pemimpin memengaruhi pengikut melalui visi, nilai, dan gaya kepemimpinan mereka. Kepemimpinan karismatik berfokus pada daya tarik personal seorang pemimpin yang dianggap luar biasa, memiliki kekuatan pengaruh emosional, dan mampu menciptakan loyalitas mendalam dari para pengikutnya. Karisma membuat pemimpin dipersepsikan sebagai sosok yang memiliki kekuatan khusus sehingga pengikut bersedia mengikuti arahannya tanpa banyak keraguan. Sementara itu, kepemimpinan transformasional menekankan proses mengubah motivasi, nilai, serta perilaku pengikut melalui empat komponen utama yaitu pengaruh ideal, motivasi inspirasional, stimulasi intelektual, dan pertimbangan individual. Pemimpin transformasional tidak hanya menarik secara pribadi, tetapi juga mampu mengembangkan kapasitas pengikut dan menciptakan perubahan organisasi secara berkelanjutan.

2. Bagaimana persamaan dan perbedaan antara kepemimpinan karismatik dan transformasional?
Jawab:
Persamaan dan perbedaan antara kepemimpinan karismatik dan transformasional terletak pada sumber pengaruh dan fokus perubahan. Kedua gaya kepemimpinan ini sama-sama mengandalkan visi yang kuat, komunikasi inspiratif, serta kemampuan memotivasi pengikut untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi. Keduanya berorientasi pada perubahan besar dan peningkatan komitmen dalam organisasi. Namun, keduanya memiliki perbedaan mendasar. Kepemimpinan karismatik bertumpu pada pesona dan daya tarik pribadi pemimpin, sehingga hubungan pemimpin-pengikut cenderung lebih emosional dan personal. Sementara kepemimpinan transformasional berfokus pada pengembangan sistem, nilai, dan potensi pengikut, sehingga orientasinya lebih berbasis institusi dan jangka panjang. Pemimpin transformasional juga secara eksplisit menekankan perilaku etis, sedangkan karisma dapat digunakan baik untuk tujuan positif maupun negatif.

3. Bagaimana menilai manfaat dan risiko kepemimpinan karismatik?
Jawab:
Manfaat dan risiko kepemimpinan karismatik dapat dinilai melalui dampaknya terhadap organisasi dan pengikut. Pemimpin karismatik memberikan manfaat berupa motivasi dan inspirasi yang tinggi, kesediaan pengikut untuk berkomitmen, serta kemampuan menggerakkan perubahan secara cepat dan energik. Karisma membantu menciptakan visi yang jelas dan mempersatukan pengikut di bawah tujuan bersama. Namun, kepemimpinan karismatik juga membawa risiko besar, antara lain ketergantungan pengikut pada sosok pemimpin sehingga organisasi menjadi tidak stabil ketika pemimpin pergi. Selain itu, karisma yang kuat dapat mendorong penyalahgunaan kekuasaan, mengurangi objektivitas pengikut, dan menimbulkan kesulitan dalam memberikan kritik kepada pemimpin. Oleh karena itu, karisma harus diimbangi dengan mekanisme kontrol dan nilai-nilai etis.

4. Jelaskan cara menginspirasi lebih banyak komitmen dan optimisme pengikut!
Jawab:
Cara menginspirasi komitmen dan optimisme pengikut dapat dilakukan dengan membangun visi yang jelas, optimistis, dan bermakna sehingga pengikut memahami arah dan signifikansi pekerjaan mereka. Pemimpin perlu menggunakan komunikasi yang positif dan emosional, seperti cerita inspiratif, simbol, atau metafora yang memupuk rasa kebersamaan. Selain itu, memberikan apresiasi dan pengakuan atas pencapaian pengikut akan meningkatkan rasa percaya diri dan komitmen mereka. Keteladanan moral pemimpin menjadi faktor penting dalam membangun optimisme, karena pengikut cenderung meniru perilaku dan integritas pemimpinnya. Menyediakan lingkungan kerja yang suportif, hubungan interpersonal yang hangat, dan tantangan yang konstruktif juga membantu meningkatkan motivasi, rasa percaya diri, serta komitmen jangka panjang.

5. Bagaimana memahami berbagai konsep kepemimpinan etis?
Jawab:
Berbagai konsep kepemimpinan etis dapat dipahami melalui prinsip moral dalam pengambilan keputusan. Kepemimpinan etis mengharuskan pemimpin bertindak berdasarkan nilai-nilai moral, kejujuran, keadilan, dan integritas, serta memengaruhi pengikut melalui teladan moral. Dalam memahami kepemimpinan etis, terdapat konsep deontologi yang menekankan kewajiban moral, utilitarianisme yang menilai etika berdasarkan hasil terbesar bagi orang banyak, serta etika kebajikan yang mengutamakan karakter moral seperti kejujuran dan empati. Teori kepemimpinan etis juga membedakan pemimpin sebagai pribadi bermoral dan sebagai pengelola moral organisasi, yang bertanggung jawab membentuk sistem, aturan, dan budaya kerja yang mendorong perilaku bermoral.

6. Jelaskan dilema etika yang dihadapi pemimpin!
Jawab:
Dilema etika yang dihadapi pemimpin muncul ketika pemimpin harus memilih antara dua keputusan yang sama-sama memiliki konsekuensi moral penting. Pemimpin sering menghadapi dilema seperti memilih antara kejujuran dan loyalitas, menegakkan aturan secara ketat atau mempertimbangkan belas kasih terhadap kondisi individu, serta menentukan prioritas antara kepentingan pribadi anggota tim dan tujuan besar organisasi. Selain itu, pemimpin juga dihadapkan pada konflik antara kepentingan jangka pendek dengan keberlanjutan jangka panjang, serta keputusan mengenai sejauh mana informasi harus dijaga atau dibagikan demi akuntabilitas. Dilema-dilema ini mengharuskan pemimpin menggunakan penalaran moral yang matang serta mempertimbangkan nilai-nilai organisasi sebelum membuat keputusan.

7. Bagaimana mengidentifikasi faktor individu & situasional yang memengaruhi perilaku etis?
Jawab:
Faktor individu dan situasional yang memengaruhi perilaku etis dapat diidentifikasi dengan memahami karakteristik pribadi dan lingkungannya. Faktor individu meliputi nilai pribadi, integritas moral, pengalaman, pendidikan etika, dan karakter seperti empati atau locus of control. Individu dengan nilai moral tinggi cenderung lebih konsisten dalam membuat keputusan etis. Sementara itu, faktor situasional meliputi budaya organisasi, sistem penghargaan dan hukuman, tekanan pekerjaan, norma sosial, serta contoh perilaku dari pemimpin. Ketika organisasi tidak memberi batasan moral atau menoleransi pelanggaran, individu lebih mudah terpengaruh untuk bertindak tidak etis. Oleh karena itu, kedua faktor ini saling berinteraksi dalam membentuk perilaku moral seseorang.

8. Jelaskan cara menumbuhkan perilaku etis dan mencegah yang tidak etis!
Jawab:
Cara menumbuhkan perilaku etis dan mencegah perilaku tidak etis memerlukan upaya sistematis yang mencakup penguatan nilai, struktur, dan perilaku dalam organisasi. Langkah penting termasuk merancang budaya kerja berbasis integritas, menyusun kode etik yang jelas, dan memastikan seluruh anggota memahami standar moral tersebut. Pemimpin perlu menjadi teladan etis dan mengintegrasikan nilai moral dalam setiap keputusan. Pelatihan etika secara rutin, sistem pengawasan dan mekanisme pelaporan seperti whistleblowing, serta penerapan reward dan punishment moral sangat efektif dalam memperkuat perilaku etis. Selain itu, organisasi harus mengurangi tekanan kerja berlebihan yang dapat memicu perilaku tidak etis dan menciptakan komunikasi terbuka sehingga karyawan merasa aman dalam melaporkan penyimpangan.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 14

by Kerin Yolanda Clara -
Kerin Yolanda Clara - 2421011053 Izin menjawab pertanyaan diatas :

1. Teori kepemimpinan karismatik menekankan pada kemampuan pemimpin memancarkan daya tarik pribadi yang kuat sehingga pengikut merasa terinspirasi, percaya, dan bersedia mengikuti arahannya. Pemimpin karismatik biasanya memiliki visi yang menarik, komunikasi yang persuasif, serta kepercayaan diri tinggi yang menumbuhkan rasa kekaguman pada pengikut. Kepemimpinan ini sering muncul pada situasi tidak stabil atau saat organisasi membutuhkan figur yang mampu memberikan harapan baru.

Di sisi lain, kepemimpinan transformasional berfokus pada upaya pemimpin mengubah nilai, sikap, dan perilaku pengikut secara sistematis agar tercapai kinerja di atas standar. Pemimpin transformasional memotivasi melalui visi jangka panjang, mendorong inovasi, serta memberdayakan pengikut agar tumbuh secara personal maupun profesional. Tujuannya bukan hanya memengaruhi, tetapi menciptakan perubahan mendasar dalam budaya dan struktur organisasi.

2. Persamaan keduanya terletak pada kemampuan memotivasi dan menggerakkan pengikut menuju visi yang lebih baik. Keduanya menekankan aspek emosi, inspirasi, dan kemampuan komunikasi yang kuat dalam menciptakan pengaruh. Baik karismatik maupun transformasional sama-sama mampu membangun kepercayaan dan komitmen pengikut melalui pendekatan yang bersifat visioner.

Perbedaannya terdapat pada fokus dasar. Kepemimpinan karismatik lebih berpusat pada sosok pemimpin sebagai figur “heroik” yang mengandalkan daya tarik personal. Sementara kepemimpinan transformasional berorientasi pada proses perubahan organisasi dan pengembangan pengikut, bukan pada pesona individu. Pemimpin transformasional lebih menekankan kolaborasi dan pemberdayaan, sedangkan pemimpin karismatik cenderung mengontrol dan memusatkan keputusan pada dirinya.

3. Manfaat utama kepemimpinan karismatik adalah kemampuannya menaikkan moral, membangun kepercayaan, dan memobilisasi organisasi secara cepat. Pemimpin karismatik dapat mengubah situasi krisis menjadi momentum perbaikan karena mampu mendorong pengikut untuk bertindak berani. Selain itu, gaya ini dapat menciptakan identitas kolektif yang kuat sehingga pengikut merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.

Namun, risiko kepemimpinan karismatik juga signifikan. Ketergantungan berlebihan pada satu figur dapat melemahkan kapasitas institusi jika pemimpin tersebut pergi atau gagal. Selain itu, jika karisma digunakan tanpa kontrol etis, pemimpin bisa mengambil keputusan manipulatif, otoriter, atau berbahaya. Dalam beberapa kasus, karisma menjadi alat memaksakan kehendak, bukan memajukan organisasi.

4. Membangun komitmen dimulai dari penyampaian visi yang jelas, relevan, dan dapat dihubungkan dengan kebutuhan pengikut. Pemimpin perlu menunjukkan bahwa arah organisasi memberikan manfaat nyata, baik untuk perkembangan individu maupun tujuan lebih besar. Transparansi, kepercayaan, dan konsistensi tindakan juga memperkuat komitmen karena pengikut melihat keteladanan nyata dari pemimpin.

Untuk menumbuhkan optimisme, pemimpin harus menghadirkan harapan yang realistis sambil tetap memberikan dorongan emosional positif. Memberikan apresiasi, mendengarkan aspirasi, dan menciptakan ruang partisipasi menjadikan pengikut merasa dihargai. Pemimpin yang mampu mengelola narasi positif dalam situasi sulit akan membuat pengikut lebih percaya diri menghadapi tantangan.

5. Kepemimpinan etis dapat dipahami melalui prinsip bahwa pemimpin harus mengambil keputusan yang tidak hanya efektif, tetapi juga benar secara moral. Konsep ini menekankan integritas, transparansi, tanggung jawab, dan keadilan dalam setiap tindakan. Kepemimpinan etis tidak hanya soal hasil, tetapi juga proses dan cara mencapainya.

Selain itu, kepemimpinan etis menggabungkan aspek nilai pribadi dan standar organisasi. Pemimpin diharapkan memiliki karakter yang kuat serta mampu menjadi panutan (role model). Mereka juga perlu mempertimbangkan dampak jangka panjang keputusan terhadap stakeholder, bukan hanya keuntungan jangka pendek.

6. Dilema etika muncul ketika pemimpin harus memilih antara dua keputusan yang sama-sama memiliki konsekuensi moral. Misalnya, menjaga kerahasiaan informasi tetapi di sisi lain harus transparan demi kepentingan publik. Pemimpin sering dihadapkan pada konflik antara nilai pribadi dan tuntutan organisasi.

Dilema juga timbul ketika pemimpin harus memilih antara kepentingan jangka pendek dan keberlanjutan jangka panjang. Tekanan finansial atau politik dapat membuat pemimpin tergoda mengambil jalan cepat yang tidak etis. Dalam kondisi ini, kualitas karakter dan komitmen moral pemimpin sangat menentukan arah keputusannya.

7. Faktor individu meliputi nilai pribadi, pengalaman hidup, tingkat moralitas, serta karakter seperti kejujuran dan empati. Latar belakang pendidikan, pola asuh, dan etika profesional juga membentuk cara seseorang menilai benar atau salah. Semakin matang moral individu, semakin besar kemungkinan ia bertindak etis meskipun berada dalam tekanan.

Faktor situasional meliputi budaya organisasi, sistem penghargaan, tekanan kerja, dan keteladanan pemimpin. Lingkungan yang toleran terhadap pelanggaran akan mendorong perilaku tidak etis, sedangkan budaya yang memprioritaskan integritas akan memperkuat perilaku moral. Ketidakjelasan aturan dan lemahnya pengawasan juga membuat perilaku tidak etis lebih mungkin terjadi.

8. Perilaku etis dapat dibangun melalui penetapan nilai organisasi yang jelas, kode etik, serta pelatihan etika yang konsisten. Pemimpin harus menjadi panutan utama dengan menunjukkan integritas dalam tindakan, bukan hanya kata-kata. Lingkungan yang mendukung diskusi terbuka tentang dilema moral juga membantu karyawan memahami standar etis yang diharapkan.

Untuk mencegah perilaku tidak etis, organisasi perlu menerapkan sistem pengawasan, mekanisme pelaporan pelanggaran, dan sanksi yang tegas. Selain itu, insentif harus didesain agar tidak mendorong karyawan mengambil jalan pintas. Ketika aturan jelas, pengawasan konsisten, dan budaya integritas kuat, perilaku tidak etis akan berkurang secara signifikan.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 14

by Jennie Anggraeni Maesa -
Nama : Jennie Anggraeni Maesa
Npm : 2421011051

izin menjawab Evaluasi ibu,
1. Teori karismatik dan transformasional
Kepemimpinan karismatik berangkat dari kemampuan pemimpin memancarkan pesona pribadi, keyakinan kuat, serta visi yang membuat orang lain terpikat untuk mengikuti. Pengaruhnya bersifat emosional dan muncul dari kekuatan karakter. Berbeda dengan itu, kepemimpinan transformasional menekankan perubahan mendasar pada cara berpikir dan nilai pengikut. Pemimpin transformasional berusaha membangun kapasitas, mendorong kreativitas, dan mengarahkan pengikut untuk mencapai tujuan kolektif yang lebih tinggi.
2. Persamaan dan perbedaan kepemimpinan karismatik & transformasional
Keduanya memiliki kesamaan dalam menggerakkan pengikut melalui inspirasi, visi, dan komunikasi yang kuat. Namun keduanya berbeda dalam sumber pengaruhnya. Kepemimpinan karismatik bertumpu pada daya tarik personal pemimpin, sedangkan kepemimpinan transformasional berfokus pada proses pemberdayaan dan perubahan jangka panjang. Karismatik lebih bersifat “pemimpin-sentris”, sementara transformasional lebih “pengikut-sentris” dan berorientasi sistem.
3. Manfaat dan risiko kepemimpinan karismatik
Manfaat utama model karismatik adalah kemampuan pemimpin menghidupkan semangat tim, menciptakan rasa percaya dalam situasi sulit, serta mendorong tindakan cepat karena pengikut merasa yakin dengan arahan pemimpin. Namun, karisma juga membawa risiko seperti ketergantungan tinggi pada satu orang, potensi manipulasi, serta minimnya kontrol rasional ketika keputusan sangat dipengaruhi emosi atau pesona pribadi pemimpin.
4. Cara menginspirasi komitmen dan optimisme
Untuk menumbuhkan komitmen, pemimpin perlu menghadirkan visi yang konkret namun tetap memberikan tantangan yang memotivasi. Pengikut akan lebih bersemangat jika mereka merasa dilibatkan, dihargai, dan melihat pemimpinnya memberi teladan nyata. Optimisme lahir ketika pemimpin menunjukkan dukungan, mengakui upaya setiap anggota, serta menumbuhkan keyakinan bahwa tujuan yang dikejar dapat dicapai bersama.
5. Memahami konsep kepemimpinan etis
Kepemimpinan etis berpijak pada nilai moral seperti keadilan, keterbukaan, dan tanggung jawab. Berbagai pendekatan seperti utilitarianisme, etika deontologis, dan etika kebajikan membantu pemimpin menimbang apakah suatu keputusan membawa manfaat, memenuhi kewajiban moral, atau mencerminkan karakter baik. Prinsipnya, pemimpin etis selalu menempatkan integritas sebagai arah dalam tindakan maupun pembuatan kebijakan.
6. Dilema etika dalam kepemimpinan
Dilema etika muncul ketika pemimpin dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama memiliki konsekuensi moral. Contohnya, memilih antara menjaga kerahasiaan informasi atau memberikan transparansi penuh, atau antara prioritas perusahaan dan perlindungan terhadap individu. Kondisi ini menuntut pemimpin mampu menilai dampak jangka panjang, tetap adil, serta konsisten dengan nilai-nilai etis.
7. Faktor individu dan situasional yang memengaruhi perilaku etis
Perilaku etis tidak hanya dipengaruhi karakter personal seperti pendidikan moral, kejujuran, dan pengalaman, tetapi juga dipengaruhi lingkungan sekitar. Budaya organisasi, tekanan atasan, kebijakan penghargaan, dan norma kelompok dapat mendorong seseorang untuk bertindak etis atau sebaliknya. Ketika struktur organisasi mendukung integritas, maka kecenderungan perilaku etis meningkat.
8. Cara menumbuhkan dan mencegah perilaku tidak etis
Untuk menumbuhkan perilaku etis, organisasi perlu menerapkan aturan etika yang jelas, memberikan pelatihan, dan memastikan pemimpin menjalankan praktik yang selaras dengan nilai moral. Pengawasan yang konsisten dan penegakan sanksi yang adil ikut memperkuat budaya integritas. Pencegahan perilaku tidak etis dapat dilakukan dengan menciptakan lingkungan kerja yang transparan, sistem pelaporan yang aman, serta insentif yang mendorong tindakan yang benar.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 14

by Fifkha Rizky Amalia -
Fifkha Rizky Amalia - 2421011032

Izin menjawab Ibu
1. Teori karismatik dan transformasional
Teori karismatik melihat pemimpin sebagai sosok yang punya daya tarik personal tinggi, mampu membuat orang lain terinspirasi hanya lewat kepribadiannya. Biasanya pengikut merasa kagum, percaya, dan mau mengikuti karena merasa pemimpinnya “berbeda” dari yang lain.
Teori transformasional lebih fokus pada proses perubahan. Pemimpin menggerakkan orang lewat visi yang jelas, memberi motivasi, memperhatikan kebutuhan tiap individu, dan menantang mereka untuk berkembang.
Poin intinya:
• Karismatik lebih ke daya tarik pribadi.
• Transformasional lebih ke proses mengubah cara pikir dan perilaku pengikut.

2. Persamaan dan perbedaan kepemimpinan karismatik dan transformasional
Keduanya sama-sama menginspirasi dan memotivasi pengikut. Pengikut merasa semangat, percaya, dan terdorong untuk mencapai sesuatu yang lebih tinggi.
Perbedaannya:
• Karismatik: fokus pada figur pemimpinnya. Pengikut mengikuti karena kagum.
• Transformasional: fokus pada visi dan perubahan yang ingin dicapai bersama.
• Karismatik bisa jadi sangat bergantung pada satu orang. Transformasional mendorong pengikut jadi pemimpin juga.
Versi gampangnya: karismatik itu “wow karena orangnya”, transformasional itu “wow karena visinya”.

3. Menilai manfaat dan risiko kepemimpinan karismatik
Manfaat:
• Pengikut cepat termotivasi.
• Mudah membangun kepercayaan.
• Cocok untuk situasi krisis yang butuh keputusan cepat.
• Ide-ide besar mudah diterima karena pemimpinnya sangat meyakinkan.
Risiko:
• Terlalu bergantung pada pribadi pemimpin.
• Bisa mengarah ke penyalahgunaan kekuasaan kalau karismanya dipakai untuk kepentingan pribadi.
• Pengikut bisa kehilangan kemampuan berpikir kritis.
• Jika pemimpinnya jatuh, organisasi ikut goyah.

4. Cara menginspirasi lebih banyak komitmen dan optimisme pengikut
Cara paling efektif biasanya sederhana, misalnya:
• Tunjukkan visi yang jelas dan mudah dipahami.
• Beri contoh lewat tindakan, bukan cuma kata-kata.
• Dengarkan aspirasi pengikut dan libatkan mereka dalam keputusan.
• Tunjukkan apresiasi sekecil apa pun kontribusinya.
• Ciptakan lingkungan yang positif dan saling mendukung.
• Buat tantangan yang realistis supaya mereka merasa mampu berkembang.
Intinya, kalau pemimpin peduli, jelas, dan konsisten, pengikut otomatis makin optimis.

5. Memahami berbagai konsep kepemimpinan etis
Kepemimpinan etis berarti pemimpin menjalankan nilai moral dalam setiap keputusan. Ada beberapa konsep yang sering dibahas, misalnya:
• Utilitarian: keputusan terbaik adalah yang memberi manfaat paling banyak bagi orang banyak.
• Deontologi: keputusan mengikuti aturan moral, bahkan kalau hasilnya tidak menguntungkan.
• Virtue ethics: pemimpin fokus pada karakter baik, misalnya jujur, adil, dan rendah hati.
• Fairness: keputusan dibuat secara adil dan transparan.
Intinya, pemimpin etis itu selalu mempertimbangkan dampak moral sebelum bertindak.

6. Dilema etika yang dihadapi pemimpin
Dilema etika muncul ketika pemimpin dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama benar, atau sama-sama sulit. Contohnya:
• Harus memilih antara keuntungan jangka pendek atau keselamatan karyawan.
• Menjaga kerahasiaan data tapi di sisi lain ada kepentingan publik yang butuh informasi.
• Memutuskan promosi antara karyawan yang sangat loyal atau yang lebih kompeten.
Dilema etika tidak bisa diselesaikan dengan “benar atau salah”, tapi lewat pertimbangan nilai moral dan dampaknya bagi semua pihak.

7. Mengidentifikasi faktor individu dan situasional yang memengaruhi perilaku etis
Faktor individu:
• Nilai pribadi
• Pendidikan
• Pengalaman
• Kepribadian
• Keyakinan moral
Faktor situasional:
• Budaya organisasi
• Tekanan pekerjaan
• Aturan dan sistem reward
• Teladan dari atasan
• Lingkungan sosial
Gabungan keduanya menentukan apakah seseorang cenderung berperilaku etis atau tidak.

8. Cara menumbuhkan perilaku etis dan mencegah yang tidak etis
Beberapa langkah yang efektif:
• Tetapkan kode etik yang jelas dan mudah dipahami.
• Pemimpin harus memberi contoh langsung.
• Beri pelatihan etika secara rutin.
• Bangun sistem penghargaan untuk perilaku etis dan konsekuensi untuk perilaku tidak etis.
• Buat saluran pelaporan yang aman bagi karyawan yang ingin melapor.
• Ciptakan budaya transparan dan terbuka.
Kalau lingkungan kerjanya sehat, orang akan lebih mudah berperilaku etis.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 14

by NELLY FITRIA -
Nelly Fitria (2421011002)
JAWABAN

1. Teori karismatik dan transformasional

Teori kepemimpinan karismatik menekankan bahwa pemimpin memiliki daya tarik personal yang kuat, kemampuan komunikasi persuasif, serta visi yang mampu menggerakkan orang lain. Pemimpin karismatik sering dipersepsikan sebagai sosok yang luar biasa, penuh keyakinan, dan mampu membangkitkan emosi pengikut sehingga mereka mengikuti pemimpin karena kekaguman pribadi. Karisma dianggap muncul dari kombinasi kualitas individu seperti kepercayaan diri yang tinggi, kemampuan retorika, serta perilaku yang dianggap heroik.
Sementara itu, teori kepemimpinan transformasional menekankan kemampuan pemimpin untuk mentransformasi pengikut melalui pemberian inspirasi, stimulasi intelektual, perhatian individual, dan pengembangan nilai-nilai kolektif. Pemimpin transformasional tidak hanya memotivasi secara emosional, tetapi juga mengubah pola pikir, perilaku, dan komitmen pengikut ke arah visi jangka panjang organisasi. Fokusnya bukan hanya pada daya tarik pribadi, tetapi pada proses perubahan yang sistematis dan pemberdayaan pengikut.

2. Persamaan dan perbedaan kepemimpinan karismatik dan transformasional
Keduanya memiliki persamaan, yaitu sama-sama memotivasi pengikut melalui visi yang kuat, memiliki kemampuan komunikasi efektif, dan mampu menciptakan perubahan serta komitmen tinggi. Kedua pemimpin juga dapat membangkitkan inspirasi dan loyalitas, serta sering muncul dalam kondisi ketidakpastian atau perubahan besar.
Namun terdapat perbedaan penting dimana kepemimpinan karismatik berfokus pada kualitas pribadi pemimpin, sehingga pengikut cenderung bergantung pada figur pemimpinnya. Sementara kepemimpinan transformasional berfokus pada pemberdayaan pengikut dan pembangunan kapabilitas mereka agar organisasi tetap kuat meskipun pemimpin telah berganti. Karismatik bisa lebih sentralistik dan emosional, sedangkan transformasional lebih sistematis, etis, dan berorientasi jangka panjang.

3. Menilai manfaat dan risiko kepemimpinan karismatik
Kepemimpinan karismatik memiliki sejumlah manfaat, seperti kemampuan memobilisasi dukungan secara cepat, membangkitkan motivasi tinggi, membentuk budaya organisasi yang energik, dan menginspirasi keberanian dalam menghadapi perubahan. Pemimpin karismatik juga sering berhasil dalam situasi krisis karena pengikut memerlukan sosok yang kuat dan penuh keyakinan.
Namun, terdapat risiko signifikan, yaitu ketergantungan pengikut yang terlalu besar pada figur pemimpin, potensi penyalahgunaan kekuasaan, serta kemungkinan pemimpin bertindak sesuai kepentingan pribadi karena merasa dirinya tak dapat salah. Risiko lainnya adalah organisasi menjadi lemah ketika pemimpin pergi karena tidak ada proses pemberdayaan. Jika karisma digunakan secara negatif, ia dapat mengarah pada manipulasi dan ketidaketisan.

4. Cara menginspirasi lebih banyak komitmen dan optimisme pengikut
Untuk menginspirasi komitmen dan optimisme, pemimpin perlu menyampaikan visi yang jelas, bermakna, dan realistis, serta menghubungkannya dengan nilai dan aspirasi pengikut. Pemimpin juga perlu menunjukkan antusiasme dan optimisme yang nyata, karena emosi positif pemimpin menular kepada pengikut. Selain itu, memberikan pengakuan, penghargaan, dan dukungan emosional dapat meningkatkan rasa percaya diri pengikut sehingga mereka lebih berkomitmen.
Pemimpin juga dapat meningkatkan optimisme melalui pemberdayaan: memberi kesempatan belajar, memberikan tanggung jawab, serta menciptakan lingkungan yang aman untuk berpendapat. Keteladanan, integritas, dan komunikasi terbuka membuat pengikut merasa yakin bahwa visi tersebut dapat dicapai.

5. Memahami berbagai konsep kepemimpinan etis
Kepemimpinan etis berkaitan dengan bagaimana pemimpin bertindak berdasarkan nilai-nilai moral seperti keadilan, kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap orang lain. Berbagai konsep penting dalam kepemimpinan etis antara lain etika deontologis (mematuhi prinsip moral), etika teleologis (mempertimbangkan konsekuensi tindakan), dan virtue ethics (mengutamakan karakter dan kebajikan). Selain itu, konsep seperti servant leadership, authentic leadership, serta moral management juga menjadi bagian dari kepemimpinan etis modern.
Inti dari kepemimpinan etis adalah pemimpin tidak hanya membuat keputusan yang benar secara moral, tetapi juga menciptakan budaya organisasi yang mendorong perilaku etis di semua level.

6. Dilema etika yang dihadapi pemimpin
Dilema etika muncul ketika pemimpin harus memilih antara dua keputusan yang sama-sama memiliki nilai moral, tetapi tidak bisa dipenuhi bersamaan. Contohnya adalah keputusan antara keadilan dan belas kasih, kejujuran dan loyalitas, kepentingan individu dan kepentingan organisasi, atau hasil jangka pendek vs keberlanjutan jangka panjang. Pemimpin sering menghadapi situasi dimana setiap pilihan memiliki konsekuensi moral yang berbeda, sehingga keputusan menjadi kompleks.
Dilema etika menuntut pemimpin untuk menimbang nilai, mempertimbangkan dampak bagi berbagai pihak, dan membuat keputusan yang paling adil, transparan, serta bertanggung jawab.

7. Mengidentifikasi faktor individu & situasional yang memengaruhi perilaku etis
Faktor individu mencakup nilai moral pribadi, karakter, pengalaman hidup, pendidikan etika, tingkat empati, dan orientasi moral seseorang. Orang dengan integritas tinggi dan nilai moral kuat cenderung bertindak etis meskipun dalam tekanan. Selain itu, faktor seperti umur, motivasi, dan kepribadian juga dapat memengaruhi perilaku etis.
Faktor situasional mencakup budaya organisasi, kepemimpinan atasan, sistem penghargaan-punishment, tekanan kerja, norma kelompok, serta tingkat pengawasan. Lingkungan organisasi yang permisif, penuh tekanan, atau berorientasi hasil tanpa memperhatikan proses dapat mendorong pelanggaran etika. Sebaliknya, aturan jelas dan budaya etis akan mendorong perilaku moral.

8. Cara menumbuhkan perilaku etis dan mencegah yang tidak etis
Untuk menumbuhkan perilaku etis, pemimpin harus membangun budaya etika, yaitu melalui contoh perilaku (role model), membuat kebijakan etika yang jelas, menyediakan pelatihan etika, serta menciptakan sistem pelaporan pelanggaran (whistleblowing) yang aman. Pemimpin juga perlu menegakkan aturan secara konsisten melalui reward dan punishment yang adil.
Pencegahan perilaku tidak etis dapat dilakukan dengan memperkuat transparansi, membangun komunikasi terbuka, mengurangi tekanan yang mendorong kecurangan, serta memastikan adanya pengawasan yang efektif. Penting juga untuk menanamkan integritas sejak awal melalui rekrutmen yang memperhatikan karakter dan nilai moral kandidat.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 14

by INTAN LIDIYA WIDURI 2421011047 -
Intan Lidiya Widuri 2421011047 izin menjawab bu:

1. Teori karismatik dan transformasional

Kepemimpinan karismatik menggambarkan pemimpin yang mampu menarik pengikut melalui pesona pribadi, keyakinan kuat, dan gaya komunikasi yang menggerakkan. Pemimpin seperti ini biasanya muncul ketika tim menghadapi ketidakpastian dan membutuhkan figur yang dinilai “visioner”. Pemimpin menetapkan visi yang memberi arah dan energi baru bagi tim. Sementara itu, kepemimpinan transformasional lebih menekankan perubahan menyeluruh, baik pada individu maupun budaya kerja. Menekankan bagaimana pemimpin strategis membangun budaya adaptif, menyelaraskan sumber daya, dan mempengaruhi organisasi menuju tujuan jangka panjang. Transformasional bukan hanya soal pesona, tetapi soal menciptakan perubahan sistematis.

2. Persamaan dan perbedaan kepemimpinan karismatik dan transformasional 

Keduanya memiliki kesamaan dalam hal kemampuan memberi inspirasi, membangkitkan komitmen, dan menciptakan motivasi yang lebih tinggi. Hal ini terlihat dalam cara pemimpin membangun kepercayaan dan kohesivitas tim sebagai fondasi kinerja. Namun, perbedaannya terletak pada sumber pengaruh. Pemimpin karismatik mengandalkan daya tarik pribadi dan hubungan emosional. Dampaknya sering kali berpusat pada sosok pemimpin. Sebaliknya, kepemimpinan transformasional membangun perubahan pada struktur, proses, dan budaya organisasi  tentang pembangunan budaya organisasi, kolaborasi tim eksekutif, dan pembelajaran berkelanjutan. Karena itu, transformasional cenderung lebih berkelanjutan meski pemimpin diganti.

3. Menilai manfaat dan risiko kepemimpinan karismatik 

Pemimpin karismatik dapat memperkuat moral tim, menciptakan efikasi kolektif, dan menumbuhkan kohesivitas melalui visi yang inspiratif. Ketika tim membutuhkan momentum, karisma dapat mempercepat koordinasi, meningkatkan semangat, dan menyatukan anggota untuk mencapai tujuan bersama. Namun, risikonya juga nyata. Ketergantungan berlebihan pada satu figur pemimpin dapat melemahkan struktur tim, terutama jika tidak dibangun kejelasan peran atau sistem kolaborasi. Dalam jangka panjang, gaya karismatik yang tidak dikendalikan bisa bertentangan dengan prinsip behavioral integration yang dijelaskan dalam file, yakni kolaborasi yang memberi ruang bagi semua anggota, bukan hanya pemimpinnya.

4. Cara menginspirasi lebih banyak komitmen dan optimisme pengikut 

Banyak strategi yang relevan, seperti menekankan nilai bersama, memperkuat identitas tim, menggunakan simbol dan ritual, serta menceritakan pencapaian tim secara terbuka. Semuanya adalah cara efektif untuk membangun optimisme dan komitmen. Pemimpin dapat menciptakan suasana di mana anggota tim merasa dihargai dan memiliki arah yang jelas. Dengan komunikasi visi yang konsisten, pengikut melihat bahwa tujuan organisasi bukan sekadar angka, tetapi sesuatu yang bermakna secara personal. Relasi positif, ruang bagi interaksi informal, dan contoh nyata dari pemimpin juga memperkuat rasa percaya dan harapan.

5. Memahami berbagai konsep kepemimpinan etis 

Walau file tidak secara khusus membahas “etika”, kedua chapter menekankan pentingnya kepercayaan, integritas, dan budaya organisasi. Kepemimpinan etis dapat dipahami melalui gambaran pemimpin yang memberi arah jelas (Envisioning), menjaga hubungan sosial yang sehat (Social Integrating), serta memastikan pengambilan keputusan inklusif dan objektif. Budaya organisasi yang kuat dibangun melalui teladan pemimpin, sistem reward, dan tindakan simbolis membentuk lingkungan etis. Dengan demikian, kepemimpinan etis adalah tentang bagaimana perilaku pemimpin menjadi contoh dan bagaimana struktur organisasi mendukung nilai moral.

6. Dilema etika yang dihadapi pemimpin 

Dilema etika sering muncul ketika pemimpin harus menyeimbangkan tujuan jangka pendek dan jangka panjang, seperti ditunjukkan mengenai strategi kompetitif dan keberlanjutan organisasi. Misalnya, pemimpin mungkin harus memilih antara efisiensi proses atau kesejahteraan karyawan, antara mengambil keputusan cepat atau memberi ruang diskusi inklusif seperti yang dijelaskan dalam pedoman memimpin rapat. Dilema ini menuntut kemampuan menimbang dampak bagi tim, budaya organisasi, serta stakeholder eksternal yang dijelaskan sebagai bagian dari external spanning.

7. Mengidentifikasi faktor individu dan situasional yang memengaruhi perilaku etis 

Perilaku etis tidak hanya dipengaruhi karakter individu, tetapi juga situasi di lingkungan kerja. Dalam file, faktor seperti kejelasan peran, sumber daya, kepercayaan, model mental yang terbagi, dan budaya organisasi semuanya dapat memengaruhi bagaimana seseorang bertindak dalam situasi sulit. Pada level strategis, tekanan perubahan lingkungan dan sistem reward menjadi faktor situasional yang bisa mendorong perilaku etis maupun sebaliknya. Pemimpin perlu memahami kombinasi faktor ini untuk menciptakan kondisi kerja yang kondusif.

8. Cara menumbuhkan perilaku etis dan mencegah yang tidak etis 

Budaya organisasi dibentuk melalui perilaku pemimpin, komunikasi visi, dan sistem penghargaan. Ini menjadi cara utama menumbuhkan perilaku etis. Pemimpin dapat memperkuatnya melalui mekanisme seperti refleksi tim (after-activity review), pembelajaran berkelanjutan, dan keterbukaan dalam diskusi strategis. Pemberian reward untuk kolaborasi, bukan kompetisi berlebihan, juga membantu mencegah perilaku tidak etis. Ketika nilai organisasi dijalankan secara konsisten dan ditunjukkan melalui tindakan nyata, perilaku etis akan tumbuh secara alami di seluruh tim.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 14

by Elvin Agustianda -
Izin Menjawab ibu
Elvin Agustianda_2421011029


1. Teori Kepemimpinan Karismatik dan Transformasional
Kepemimpinan Karismatik
Kepemimpinan karismatik berpusat pada daya tarik, kepribadian, dan kekuatan visi yang dimiliki oleh pemimpin. Pemimpin karismatik mampu memengaruhi pengikut karena mereka dipandang sebagai figur yang luar biasa atau heroik. Inti dari kepemimpinan ini adalah kemampuan pemimpin untuk mengartikulasikan visi masa depan yang menarik dan meyakinkan, yang kemudian membangkitkan rasa hormat, kekaguman, dan kepercayaan yang mendalam dari pengikut. Pengikut secara kuat mengidentifikasi diri dengan pemimpin, bahkan bersedia melakukan pengorbanan pribadi demi visi tersebut.
Kepemimpinan Transformasional
Kepemimpinan transformasional adalah gaya yang berfokus pada mengubah atau mentransformasi pengikutnya, meningkatkan kesadaran mereka tentang pentingnya nilai-nilai dan hasil, serta membantu mereka berkembang melampaui kepentingan pribadi. Kepemimpinan ini memiliki Empat Komponen Utama (4 I's):
■ Pengaruh Ideal (Idealized Influence): Pemimpin bertindak sebagai panutan etis dan menjadi teladan.
■ Motivasi Inspirasional (Inspirational Motivation): Pemimpin menginspirasi pengikut dengan mengartikulasikan visi yang menarik dan menumbuhkan optimisme.
■ Stimulasi Intelektual (Intellectual Stimulation): Pemimpin mendorong pengikut untuk berpikir kreatif dan inovatif, serta berani menantang asumsi yang ada.
■ Pertimbangan Individual (Individualized Consideration): Pemimpin memperhatikan kebutuhan perkembangan setiap pengikut, berperan sebagai pelatih dan mentor.

2. Persamaan dan Perbedaan Karismatik & Transformasional
● Persamaan
Kedua teori kepemimpinan ini sangat terkait. Keduanya berfokus pada visi, nilai-nilai, dan penggunaan inspirasi untuk memotivasi pengikut. Baik pemimpin karismatik maupun transformasional bertujuan untuk mencapai perubahan besar (transformasi) dalam organisasi dengan mendorong pengikut untuk bekerja melampaui batas kemampuan normal mereka.
● Perbedaan
Perbedaan mendasarnya terletak pada fokus utama dan keterikatannya:
* Kepemimpinan Karismatik lebih berfokus pada karisma dan kepribadian sang pemimpin itu sendiri. Pengikut merasa terikat pada diri pemimpin. Karisma sering dianggap sebagai prasyarat agar seorang pemimpin dapat menjadi transformasional.
* Kepemimpinan Transformasional memiliki cakupan yang lebih luas dan berfokus pada perkembangan pengikut dan tujuan bersama organisasi. Pengikut lebih terikat pada visi dan nilai yang dianut bersama, bukan hanya pada pemimpinnya.

3. Menilai Manfaat dan Risiko Kepemimpinan Karismatik
Manfaat
Kepemimpinan karismatik sangat efektif dalam situasi krisis atau saat organisasi membutuhkan perubahan drastis. Manfaatnya mencakup:
▪︎ Motivasi Tinggi: Menginspirasi dedikasi, gairah, dan kinerja yang luar biasa dari pengikut.
▪︎ Visi yang Jelas: Kemampuan untuk mengartikulasikan visi yang kuat dan membangkitkan harapan, memberikan arah yang jelas.
▪︎ Identifikasi Kuat: Menciptakan rasa persatuan dan identifikasi yang erat antara pengikut dengan tujuan yang diperjuangkan.
Risiko
Kekuatan karisma juga membawa bahaya jika disalahgunakan:
▪︎ Ketergantungan Berlebihan: Organisasi dapat menjadi terlalu bergantung pada pemimpin karismatik tersebut, sehingga stabilitas dan kesinambungan organisasi terancam jika pemimpin tersebut pergi.
▪︎ Potensi Penyalahgunaan Kekuasaan: Jika pemimpin memiliki nilai yang egois atau narsistik (karisma tidak etis), mereka dapat menggunakan daya tarik mereka untuk memanipulasi pengikut demi kepentingan pribadi. Pengikut cenderung kurang kritis karena terpesona.

4. Cara Menginspirasi Lebih Banyak Komitmen dan Optimisme Pengikut
Pemimpin dapat meningkatkan komitmen dan optimisme dengan menerapkan prinsip-prinsip transformasional:
° Artikulasikan Visi yang Meyakinkan: Sampaikan visi masa depan yang jelas, menantang, dan inspiratif. Pastikan pengikut memahami mengapa pekerjaan mereka penting.
° Tunjukkan Kepercayaan Diri: Pemimpin harus memancarkan keyakinan pada diri mereka sendiri dan, yang terpenting, pada kemampuan pengikut untuk sukses. Ini membangun harapan (efek Pygmalion).
° Jadilah Panutan Moral: Pimpin melalui teladan dengan menunjukkan integritas dan perilaku etis yang tinggi.
° Berikan Tantangan yang Membangun: Dorong pengikut melalui stimulasi intelektual untuk mencari solusi baru dan inovatif, alih-alih hanya mengikuti cara lama.
° Tunjukkan Perhatian Pribadi: Bertindak sebagai mentor dan pelatih. Dengan menunjukkan perhatian tulus pada kebutuhan perkembangan individu, komitmen akan meningkat.

5. Memahami Berbagai Konsep Kepemimpinan Etis
Kepemimpinan etis adalah penerapan nilai, norma, dan standar moral dalam praktik kepemimpinan. Konsep-konsep utamanya meliputi:
~ Kepemimpinan Etis (Umum): Seorang pemimpin harus menjadi "orang yang benar" (panutan moral yang memiliki integritas) dan "manajer yang benar" (secara proaktif mengelola etika organisasi melalui komunikasi dan sanksi yang adil).
~ Kepemimpinan yang Melayani (Servant Leadership): Filosofi ini memprioritaskan kebutuhan pengikut di atas kepentingan pemimpin. Tujuan utamanya adalah memberdayakan dan memajukan pengikut.
~ Kepemimpinan Autentik (Authentic Leadership): Pemimpin yang sadar diri, tulus, dan transparan, yang bertindak secara konsisten sesuai dengan nilai-nilai inti mereka.

6. Dilema Etika yang Dihadapi Pemimpin
Dilema etika terjadi ketika pemimpin dihadapkan pada pilihan antara dua tindakan yang sama-sama mengandung konflik moral, di mana memilih salah satu opsi akan melanggar prinsip etika lainnya. Contoh-contoh yang sering dihadapi meliputi:
● Keadilan vs. Belas Kasih: Memutuskan apakah akan menerapkan kebijakan PHK massal (adil secara bisnis untuk kelangsungan perusahaan) atau mempertahankan karyawan yang berharga (belas kasih).
● Kepentingan Jangka Pendek vs. Jangka Panjang: Memilih antara berinvestasi pada praktik berkelanjutan (baik untuk masa depan) yang mengurangi keuntungan kuartal ini (mengecewakan pemegang saham).
● Kebenaran vs. Loyalitas: Memutuskan apakah akan mengungkapkan kesalahan atau pelanggaran etika yang dilakukan oleh rekan kerja yang loyal (menjunjung kebenaran) atau menahan informasi demi melindungi tim.

7. Mengidentifikasi Faktor Individu & Situasional yang Memengaruhi Perilaku Etis
Perilaku etis seseorang dipengaruhi oleh kombinasi faktor internal dan eksternal.
Faktor Individu
Faktor-faktor internal yang memengaruhi meliputi:
◇ Tahap Perkembangan Moral: Individu pada tahap perkembangan moral yang lebih tinggi cenderung membuat keputusan berdasarkan prinsip-prinsip universal, bukan hanya berdasarkan imbalan atau hukuman.
◇ Nilai dan Kepribadian: Keyakinan pribadi tentang apa yang benar dan salah, serta sifat kepribadian seperti lokus kontrol (sejauh mana seseorang merasa mengendalikan hidupnya) dan tingkat kecenderungan untuk memanipulasi orang lain.
Faktor Situasional
Faktor-faktor eksternal dari lingkungan organisasi meliputi:
◇ Budaya Organisasi: Norma, nilai, dan kepercayaan dominan yang membentuk harapan perilaku.
◇ Sistem Imbalan dan Hukuman: Jika organisasi hanya menghargai hasil finansial tanpa melihat proses etisnya, perilaku tidak etis akan didorong.
◇ Perilaku Pemimpin Senior: Perilaku etis atau tidak etis dari pimpinan senior menjadi panutan (role model) yang paling kuat bagi semua karyawan.

8. Cara Menumbuhkan Perilaku Etis dan Mencegah yang Tidak Etis
Untuk membangun organisasi yang etis, pemimpin harus aktif dalam mendefinisikan dan menegakkan standar etika:
Menumbuhkan Perilaku Etis
☆ Jadilah Panutan Etis: Pemimpin harus menunjukkan integritas dan perilaku etis yang konsisten dalam setiap tindakan.
☆ Tentukan dan Komunikasikan Kode Etik: Kembangkan Kode Etik yang jelas dan berikan pelatihan etika yang berfokus pada pengambilan keputusan moral.
☆ Berikan Dukungan: Dorong komunikasi terbuka di mana karyawan merasa nyaman membahas dilema etika.
Mencegah Perilaku Tidak Etis
☆ Mekanisme Pelaporan yang Kuat: Sediakan saluran whistleblowing yang rahasia dan aman agar karyawan dapat melaporkan pelanggaran tanpa takut pembalasan.
☆ Sanksi yang Konsisten dan Adil: Terapkan hukuman yang seragam untuk pelanggaran etika, tanpa memandang posisi atau kontribusi pelanggar.
☆ Pengawasan Independen: Pastikan adanya pengawasan eksternal atau dewan direksi yang independen untuk meninjau dan menantang keputusan kepemimpinan senior
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 14

by Aninda Agustia Andiani -
Izin bu, Saya Aninda Agustia Andiani NPM 2421011018,

1. Teori karismatik menjelaskan bahwa pengaruh pemimpin muncul dari daya tarik personal, kepercayaan diri tinggi, serta kemampuan membangkitkan kekaguman dan loyalitas pengikut. Sementara itu, teori kepemimpinan transformasional menekankan kemampuan pemimpin mengubah cara berpikir, nilai, dan perilaku pengikut melalui inspirasi, motivasi, serta pembentukan visi bersama. Pemimpin transformasional mendorong perubahan jangka panjang dan pertumbuhan, sedangkan pemimpin karismatik bertumpu pada kekuatan pribadi untuk mempengaruhi pengikut.

2. Kepemimpinan karismatik dan transformasional memiliki kesamaan karena keduanya mampu memotivasi pengikut, membangun antusiasme, dan menciptakan arah perubahan. Perbedaannya terletak pada sumber pengaruh: pemimpin karismatik bergantung pada daya tarik pribadi serta citra yang kuat, sementara pemimpin transformasional berfokus pada pengembangan pengikut, pembagian visi, serta penciptaan perubahan sistemik. Kepemimpinan karismatik cenderung lebih person-centered, sedangkan kepemimpinan transformasional lebih organization-centered.

3. Kepemimpinan karismatik bermanfaat karena mampu meningkatkan motivasi, mempercepat pengambilan keputusan, dan memunculkan rasa percaya serta kesatuan dalam organisasi, terutama saat situasi krisis. Namun, ada risiko besar ketika pemimpin terlalu dipersonalisasi sehingga menciptakan ketergantungan, sulit dikritik, atau bahkan berpotensi menyalahgunakan kekuasaan. Pemimpin karismatik dapat membawa keberhasilan besar, tetapi juga memiliki kemungkinan menimbulkan keruntuhan bila tidak diawasi secara etis.

4. Untuk menumbuhkan komitmen dan optimisme pengikut, pemimpin perlu mengkomunikasikan visi masa depan dengan jelas dan meyakinkan, menunjukkan integritas serta keteladanan, dan memperkuat hubungan emosional dengan pengikut. Dukungan yang konsisten, pengakuan terhadap kontribusi individu, dan pelibatan karyawan dalam proses pengambilan keputusan juga meningkatkan rasa memiliki. Ketika pengikut merasa dihargai dan memahami tujuan besar yang mereka perjuangkan, komitmen dan optimisme tumbuh secara alami.

5. Pemahaman tentang kepemimpinan etis mencakup kesadaran akan nilai moral, kejujuran, tanggung jawab, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat individu. Kepemimpinan etis menuntut pemimpin mempertimbangkan dampak keputusan terhadap berbagai pihak serta memastikan keputusan selaras dengan prinsip moral, bukan hanya keuntungan jangka pendek. Konsepnya mencakup integrity leadership, servant leadership, dan authentic leadership, yang semuanya menekankan transparansi dan moralitas dalam tindakan kepemimpinan.

6. Dilema etika muncul ketika pemimpin harus memilih antara dua keputusan yang sama-sama memiliki konsekuensi moral. Misalnya mempertahankan kerahasiaan karyawan tetapi harus melaporkan situasi yang mengancam keselamatan, atau memilih efisiensi biaya namun berpotensi mengurangi kesejahteraan pekerja. Pemimpin sering menghadapi situasi di mana nilai-nilai seperti keadilan, kesetaraan, dan loyalitas saling bertentangan, sehingga keputusan memerlukan pertimbangan mendalam dan keberanian moral.

7. Faktor individu yang memengaruhi perilaku etis meliputi nilai pribadi, kepribadian, pengalaman moral, serta tingkat kesadaran etika seseorang. Sementara itu, faktor situasional terdiri dari budaya organisasi, tekanan pekerjaan, sistem penghargaan, dan gaya kepemimpinan atasan. Kombinasi keduanya menentukan apakah seseorang lebih mungkin bertindak secara etis atau tidak, karena karakter pribadi bisa diperkuat atau dilemahkan oleh lingkungan kerja.

8. Perilaku etis dapat ditumbuhkan melalui teladan pemimpin, aturan yang jelas, sistem penghargaan yang mendukung perilaku baik, serta pelatihan etika yang konsisten. Transparansi dalam pengambilan keputusan dan budaya organisasi yang mendorong pelaporan pelanggaran tanpa takut dihukum juga sangat penting. Untuk mencegah perilaku tidak etis, organisasi perlu pengawasan yang kuat, mekanisme audit internal, serta penegakan disiplin yang adil sehingga setiap anggota memahami konsekuensi dari pelanggaran moral.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 14

by ADE AYU RYANA 2421011043 -
izin menjawab
Ade Ayu Ryana 2421011043

1. Teori Karismatik dan Transformasional
Kepemimpinan karismatik berfokus pada sosok pemimpin yang memiliki daya tarik personal, kepercayaan diri kuat, kemampuan komunikasi persuasif, serta visinya yang mampu memikat pengikut. Pemimpin karismatik biasanya menjadi pusat perhatian karena dianggap berbeda, heroik, dan memiliki aura yang membuat pengikut rela mengikuti arahan mereka.
Sementara itu, kepemimpinan transformasional menekankan proses perubahan menyeluruh pada individu maupun organisasi. Pemimpin transformasional berusaha mengangkat motivasi dan moralitas pengikut melalui inspirasi, stimulasi intelektual, perhatian individual, dan pengembangan nilai-nilai baru. Fokusnya bukan hanya pada daya tarik pribadi, tetapi pada transformasi jangka panjang, pemberdayaan, dan perubahan struktural.

2. Persamaan dan Perbedaan Karismatik vs Transformasional
Keduanya sama-sama berusaha menginspirasi, menciptakan visi yang kuat, dan memotivasi pengikut untuk bekerja melampaui standar. Baik pemimpin karismatik maupun transformasional mampu membangun komitmen, antusiasme, dan rasa percaya.
Perbedaannya terletak pada sumber pengaruh. Pemimpin karismatik mengandalkan daya tarik pribadi dan pesona individu. Mereka sering dilihat sebagai figur luar biasa yang memiliki kemampuan unik. Sedangkan pemimpin transformasional lebih menekankan perubahan nilai, pembelajaran, pemberdayaan, dan struktur. Pengaruhnya tidak hanya bersumber dari sosok pribadi, tetapi dari proses transformasi yang dibangun secara sistematis dalam organisasi.

3. Manfaat dan Risiko Kepemimpinan Karismatik
Kepemimpinan karismatik memiliki beberapa manfaat penting, seperti kemampuan menggerakkan perubahan cepat, memunculkan loyalitas tinggi, dan menyatukan pengikut dalam situasi krisis. Daya tarik pemimpin sering membuat tim merasa dipandu oleh figur yang kuat dan visioner.
Namun, risiko juga muncul ketika pengikut terlalu tergantung pada individu, bukan pada sistem. Pemimpin karismatik berpotensi menggunakan pengaruhnya secara tidak etis, bahkan manipulatif, jika tidak dikendalikan oleh norma moral dan tata kelola organisasi. Risiko lainnya adalah idolization, di mana kritik berkurang karena pemimpin dianggap tidak dapat salah.

4. Cara Menginspirasi Komitmen dan Optimisme Pengikut
Untuk meningkatkan komitmen dan optimisme, pemimpin perlu memberikan visi yang jelas, berbicara dengan keyakinan, dan menunjukkan integritas. Pengikut akan lebih terinspirasi jika pemimpin menampilkan empati, memberikan pengakuan, dan menunjukkan bahwa kontribusi individu benar-benar berdampak.
Selain itu, menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan, membuka ruang partisipasi, serta memberikan makna yang lebih besar terhadap pekerjaan sehari-hari akan memperkuat rasa memiliki dan optimisme. Narasi yang memberi harapan dan fokus pada tujuan jangka panjang juga membantu menciptakan dorongan emosional yang kuat dalam diri pengikut.

5. Memahami Konsep-Konsep Kepemimpinan Etis
Kepemimpinan etis mengacu pada perilaku pemimpin yang berlandaskan moral, transparansi, dan tanggung jawab. Konsep-konsepnya meliputi fairness, honesty, integrity, dan caring. Pemimpin etis harus menunjukkan keteladanan dalam keputusan dan perilaku, tidak hanya menyampaikan nilai tetapi juga menjalankannya secara konsisten.
Dalam kepemimpinan etis, keputusan harus mempertimbangkan dampaknya terhadap stakeholders dan dilakukan melalui pertimbangan moral, bukan hanya mempertimbangkan keuntungan jangka pendek. Pemimpin juga diharapkan membangun budaya etika agar organisasi berjalan dengan prinsip yang selaras dengan nilai luhur.

6. Dilema Etika yang Dihadapi Pemimpin
Dilema etika terjadi ketika pemimpin harus memilih antara dua opsi yang sama-sama memiliki konsekuensi moral. Misalnya saat harus memilih antara kepentingan organisasi dan hak individu, antara efisiensi dan keadilan, atau ketika informasi sensitif harus diputuskan apakah akan dibuka atau dirahasiakan demi keamanan.
Pemimpin sering menghadapi dilema yang tidak memiliki jawaban benar secara absolut. Mereka harus mempertimbangkan nilai-nilai inti, hukum, dampak sosial, dan keadilan sebelum mengambil keputusan. Proses ini menuntut kebijaksanaan serta keberanian moral.

7. Faktor Individu & Situasional yang Mempengaruhi Perilaku Etis
Perilaku etis dipengaruhi oleh kombinasi faktor individu dan situasional. Faktor individu meliputi nilai pribadi, karakter moral, tingkat empati, pengalaman, dan kemampuan menganalisis dilema moral. Sementara faktor situasional mencakup budaya organisasi, tekanan pekerjaan, norma kelompok, kepemimpinan atasan, serta sistem penghargaan dan hukuman.Dalam kondisi tekanan tinggi atau budaya organisasi yang permisif, perilaku tidak etis lebih mudah muncul meskipun individu memiliki nilai moral yang baik. Sebaliknya, lingkungan kerja yang menghargai transparansi dan akuntabilitas akan memperkuat perilaku etis.

8. Cara Menumbuhkan Perilaku Etis dan Mencegah yang Tidak Etis
Untuk menumbuhkan perilaku etis, pemimpin perlu memulai dari keteladanan. Sikap jujur, konsisten, dan adil memberi sinyal kuat tentang standar organisasi. Penguatan dapat dilakukan melalui kode etik, pelatihan, sistem pelaporan, dan mekanisme kontrol internal.
Selain itu, menciptakan budaya keterbukaan, memastikan insentif tidak mendorong perilaku manipulatif, serta memberikan sanksi tegas terhadap pelanggaran akan mencegah munculnya tindakan tidak etis. Pemimpin harus menyediakan ruang aman bagi pengikut untuk menyampaikan kekhawatiran etis tanpa takut dihukum.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 14

by Fernando Hosse Fahrezi -
Izin Menjawab Ibu
Nama Fernando Hosse Fahrezi
Npm 2421011042

1. Teori Karismatik dan Transformasional

A. Teori Kepemimpinan Karismatik:
Teori kepemimpinan karismatik, yang pertama kali dikemukakan oleh Max Weber, menyatakan bahwa pemimpin karismatik memiliki daya tarik pribadi yang luar biasa dan kemampuan untuk menginspirasi pengikut mereka melalui visi yang kuat, pesona pribadi, dan kemampuan untuk menciptakan ikatan emosional yang mendalam. Karisma ini memungkinkan pemimpin untuk memotivasi pengikutnya dengan cara yang unik, membangkitkan loyalitas yang tinggi, dan menghasilkan perubahan yang signifikan. Karisma dalam kepemimpinan karismatik sering kali dihubungkan dengan kemampuan pemimpin untuk memberikan rasa harapan dan keyakinan kepada pengikutnya dalam menghadapi tantangan.

B. Teori Kepemimpinan Transformasional:
Kepemimpinan transformasional, dikembangkan oleh Bernard Bass dan James MacGregor Burns, berfokus pada kemampuan pemimpin untuk mengubah dan memotivasi pengikutnya menuju tujuan yang lebih tinggi dan visi jangka panjang. Pemimpin transformasional mendorong inovasi dan perubahan positif dengan menginspirasi pengikut untuk mengatasi kepentingan pribadi mereka demi kebaikan bersama. Ada empat komponen utama dalam kepemimpinan transformasional:

1. Idealized Influence (Pengaruh yang Diidealkan) – Pemimpin menjadi teladan moral.
2. Inspirational Motivation (Motivasi Inspiratif) – Memberikan visi yang jelas dan memotivasi.
3. Intellectual Stimulation (Stimulasi Intelektual) – Mengajak pengikut untuk berpikir kritis dan kreatif.
4. Individualized Consideration (Pertimbangan Individu) – Memperhatikan kebutuhan dan pengembangan individu.

2. Persamaan dan Perbedaan Antara Kepemimpinan Karismatik dan Transformasional

A. Persamaan:

Motivasi dan Pengaruh Emosional: Kedua jenis kepemimpinan ini mengandalkan pengaruh emosional untuk menginspirasi pengikut. Pemimpin dalam kedua pendekatan ini mampu menciptakan ikatan yang kuat dengan pengikut dan memberikan visi yang menggugah.

Perubahan Organisasi: Pemimpin karismatik dan transformasional berperan dalam mendorong perubahan dan perbaikan dalam organisasi melalui motivasi dan pemberdayaan pengikut.

B. Perbedaan:

Sumber Pengaruh: Pada kepemimpinan karismatik, pengaruh pemimpin lebih didasarkan pada pesona pribadi dan kemampuan untuk memikat hati pengikut. Sementara itu, pada kepemimpinan transformasional, pengaruh lebih berfokus pada kemampuan pemimpin untuk menginspirasi dan mengembangkan pengikut dengan memberikan tujuan yang lebih tinggi.

Fokus Jangka Panjang vs. Jangka Pendek: Kepemimpinan transformasional cenderung lebih berorientasi pada pencapaian tujuan jangka panjang, membentuk budaya dan struktur organisasi yang mendalam, sedangkan kepemimpinan karismatik lebih banyak berfokus pada inspirasi jangka pendek yang lebih kuat dalam situasi tertentu, tetapi bisa kehilangan kekuatan ketika pemimpin tersebut tidak lagi ada.

3. Menilai Manfaat dan Risiko Kepemimpinan Karismatik

A. Manfaat:
1. Motivasi Tinggi: Pemimpin karismatik dapat meningkatkan motivasi dan antusiasme pengikut, yang bisa mengarah pada produktivitas dan kinerja tinggi.
2. Perubahan Cepat: Kemampuan untuk memimpin melalui pengaruh emosional memungkinkan pemimpin karismatik untuk menciptakan perubahan yang cepat dalam organisasi.
3. Loyalitas dan Komitmen: Pemimpin karismatik sering kali membangun loyalitas yang kuat dari pengikutnya, yang mendukung kestabilan dalam organisasi.

B. Risiko:
1. Terlalu Bergantung pada Pemimpin: Jika organisasi terlalu bergantung pada satu pemimpin karismatik, akan ada risiko besar jika pemimpin tersebut meninggalkan organisasi atau kehilangan daya tarik.
2. Pemimpin yang Otoriter: Dalam beberapa kasus, pemimpin karismatik bisa menjadi terlalu dominan dan otoriter, menyebabkan ketergantungan pada mereka untuk membuat keputusan dan memimpin.
3. Kehilangan Objektivitas: Pengikut mungkin tidak objektif dalam menilai pemimpin karismatik, yang bisa menyebabkan pengambilan keputusan yang kurang rasional atau terlalu memuja pemimpin.

4. Cara Menginspirasi Lebih Banyak Komitmen dan Optimisme Pengikut

Untuk menginspirasi lebih banyak komitmen dan optimisme, seorang pemimpin bisa menerapkan strategi-strategi berikut:

1. Membangun Visi yang Kuat dan Memotivasi: Pemimpin harus dapat menggambarkan masa depan yang jelas dan menarik, serta bagaimana kontribusi setiap individu berperan dalam mencapai tujuan bersama.
2. Menunjukkan Kepemimpinan yang Teladan: Menjadi teladan dalam hal etika, integritas, dan dedikasi akan meningkatkan rasa hormat dan kepercayaan pengikut.
3. Memberikan Umpan Balik Positif: Mengakui dan menghargai pencapaian serta usaha yang dilakukan oleh pengikut, yang meningkatkan rasa kepemilikan dan komitmen terhadap tujuan organisasi.
4. Melibatkan Pengikut dalam Proses Pengambilan Keputusan: Memberikan pengikut kesempatan untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan penting akan meningkatkan rasa kepemilikan dan komitmen mereka terhadap organisasi.

5. Memahami Berbagai Konsep Kepemimpinan Etis

Kepemimpinan etis adalah konsep yang mengedepankan prinsip moral dan nilai-nilai dalam pengambilan keputusan kepemimpinan. Ada beberapa konsep yang mendasari kepemimpinan etis, antara lain:
1. Kepemimpinan yang Berdasarkan Nilai: Pemimpin etis memastikan bahwa keputusan dan tindakan mereka selalu sejalan dengan nilai-nilai moral yang dipegang oleh organisasi dan masyarakat.
2. Pengambilan Keputusan yang Transparan: Kepemimpinan etis menekankan pentingnya transparansi dalam pengambilan keputusan agar dapat dipertanggungjawabkan kepada seluruh pemangku kepentingan.
3. Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan: Pemimpin etis mengutamakan dampak jangka panjang dari keputusan mereka terhadap masyarakat dan lingkungan, bukan hanya fokus pada keuntungan finansial.

6. Dilema Etika yang Dihadapi Pemimpin

Pemimpin sering kali dihadapkan pada dilema etika yang sulit, antara lain:

1. Konflik Kepentingan: Pemimpin harus membuat keputusan yang adil tanpa membiarkan kepentingan pribadi mempengaruhi pilihan mereka, terutama dalam pengelolaan sumber daya dan relasi dengan pihak ketiga.
2. Keputusan yang Menguntungkan atau Merugikan: Pemimpin harus menghadapi situasi di mana keputusan mereka bisa menguntungkan sebagian pihak, tetapi merugikan pihak lain, seperti pengurangan biaya yang berdampak pada kesejahteraan karyawan.
3. Integritas vs. Tekanan Eksternal: Pemimpin sering kali menghadapi tekanan untuk bertindak secara pragmatis atau bahkan tidak etis demi mencapai tujuan organisasi, yang bisa bertentangan dengan nilai-nilai pribadi dan moral mereka.

7. Mengidentifikasi Faktor Individu dan Situasional yang Memengaruhi Perilaku Etis

Faktor-faktor yang memengaruhi perilaku etis seorang pemimpin meliputi:

A. Faktor Individu:

Nilai dan Integritas Pribadi: Setiap pemimpin memiliki nilai-nilai yang membimbing keputusan mereka. Pemimpin dengan nilai-nilai yang kuat lebih cenderung untuk membuat keputusan etis.

Kepribadian dan Moralitas: Kepribadian yang moral dan etis akan mempengaruhi bagaimana seorang pemimpin menghadapi dilema etika.

B. Faktor Situasional:

Konteks Organisasi: Budaya dan norma dalam organisasi dapat memengaruhi apakah perilaku etis dianggap penting atau tidak.

Tekanan Eksternal dan Internal: Tekanan dari atasan, rekan sejawat, atau bahkan dari pasar dapat mempengaruhi keputusan pemimpin dalam mempertimbangkan tindakan etis.

8. Cara Menumbuhkan Perilaku Etis dan Mencegah yang Tidak Etis

Untuk menumbuhkan perilaku etis dan mencegah perilaku tidak etis dalam organisasi, pemimpin dapat melakukan langkah-langkah berikut:

1. Menerapkan Kebijakan Etika yang Jelas: Menyusun dan menyosialisasikan kode etik yang jelas di seluruh organisasi, serta memastikan semua karyawan memahami standar perilaku yang diharapkan.

2. Memberikan Pelatihan Etika: Mengadakan pelatihan rutin mengenai etika dan tanggung jawab sosial untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman karyawan tentang pentingnya perilaku etis dalam lingkungan kerja.

3. Menjadi Teladan dalam Kepemimpinan Etis: Pemimpin harus menunjukkan perilaku etis melalui tindakan mereka sendiri agar menjadi contoh yang diikuti oleh pengikut

Terimakasih Ibu
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 14

by FEBIOLA EFRIANI -
RANTI DWI OCTAVIANI _ 2421011045
1. Teori karismatik dan transformasional
Teori kepemimpinan karismatik menggambarkan pemimpin yang mampu memengaruhi pengikut melalui kepribadian yang kuat, daya tarik emosional, serta kemampuan membangun rasa kagum. Sementara itu, teori kepemimpinan transformasional menekankan kemampuan pemimpin untuk membawa perubahan besar dalam organisasi dengan mengubah cara berpikir, motivasi, dan nilai pengikut sehingga mereka mau bekerja melampaui kepentingan pribadi demi tujuan bersama. Jika kepemimpinan karismatik berpusat pada daya tarik individu, kepemimpinan transformasional lebih menekankan proses perubahan dan pembentukan visi jangka panjang.

2. Persamaan dan perbedaan kepemimpinan karismatik dan transformasional
Kedua gaya kepemimpinan ini sama-sama mampu memotivasi pengikut pada tingkat emosional, memberikan inspirasi, dan menciptakan perubahan positif. Namun, kepemimpinan karismatik lebih bergantung pada pesona pribadi pemimpin, sedangkan kepemimpinan transformasional menekankan pengembangan pengikut, penciptaan visi, dan perubahan sistem organisasi. Pemimpin karismatik sering dipandang sebagai sosok yang dikagumi, sementara pemimpin transformasional dianggap sebagai penggerak perubahan yang memberdayakan orang lain.

3. Manfaat dan risiko kepemimpinan karismatik
Kepemimpinan karismatik dapat meningkatkan motivasi pengikut, mempercepat perubahan, dan membangun kepercayaan yang kuat dalam organisasi. Namun, risiko yang muncul adalah pengikut bisa menjadi terlalu bergantung pada pemimpin, keputusan dapat menjadi terlalu terpusat, dan potensi penyalahgunaan kekuasaan bisa terjadi jika pemimpin tidak memiliki landasan etis yang baik. Pemimpin karismatik yang tidak bertanggung jawab juga dapat mengarahkan pengikut kepada tujuan yang keliru.

4. Cara menginspirasi komitmen dan optimisme pengikut
Pemimpin dapat menginspirasi komitmen dan optimisme dengan menyampaikan visi yang jelas dan penuh makna, menunjukkan keyakinan terhadap kemampuan tim, serta memberikan dukungan dan penguatan positif. Ketika pemimpin menunjukkan integritas, keteladanan, dan sikap optimis dalam menghadapi tantangan, pengikut cenderung ikut terdorong untuk bekerja lebih baik. Memberikan penghargaan, pengakuan, serta melibatkan pengikut dalam pengambilan keputusan juga membantu menumbuhkan rasa memiliki dan komitmen yang lebih tinggi.

5. Memahami berbagai konsep kepemimpinan etis
Kepemimpinan etis menekankan perilaku pemimpin yang berlandaskan nilai moral seperti kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan rasa hormat terhadap orang lain. Berbagai konsep dalam kepemimpinan etis mencakup kepemimpinan berbasis nilai, kepemimpinan otentik, dan kepemimpinan yang peduli pada dampak sosial. Pemimpin etis tidak hanya membuat keputusan yang benar secara hukum, tetapi juga mempertimbangkan dampak moral, kesejahteraan individu, serta integritas organisasi.

6. Dilema etika yang dihadapi pemimpin
Pemimpin sering dihadapkan pada situasi di mana pilihan yang tersedia sama-sama sulit, seperti memilih antara keuntungan organisasi atau keadilan bagi karyawan, antara menjaga kerahasiaan atau keterbukaan, atau antara tekanan atasan dan kepentingan publik. Dilema etis terjadi ketika tidak ada jawaban yang jelas benar atau salah, sehingga pemimpin harus menggunakan nilai moral, prinsip organisasi, dan penilaian profesional untuk mengambil keputusan yang paling bertanggung jawab.

7. Faktor individu dan situasional yang memengaruhi perilaku etis
Perilaku etis dipengaruhi oleh faktor individu seperti nilai pribadi, karakter, kepribadian, dan pengalaman hidup. Selain itu, situasi juga berperan penting, misalnya budaya organisasi, tekanan dari atasan, sistem penghargaan, serta norma sosial yang berlaku. Kombinasi faktor pribadi dan lingkungan akan menentukan apakah seseorang bertindak etis atau tidak dalam suatu situasi.

8. Cara menumbuhkan perilaku etis dan mencegah perilaku tidak etis
Perilaku etis dapat ditumbuhkan dengan membangun budaya organisasi yang menekankan kejujuran, transparansi, dan tanggung jawab. Pemimpin harus memberi contoh melalui tindakan nyata dan memastikan aturan etika diterapkan secara konsisten. Pelatihan etika, mekanisme pelaporan penyimpangan, penghargaan bagi perilaku positif, serta pengawasan yang efektif dapat mencegah tindakan tidak etis. Ketika etika menjadi bagian dari sistem dan budaya organisasi, kemungkinan pelanggaran akan berkurang secara signifikan.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 14

by Evi Komala 2421011005 -
Evi Komala (2421011005)
Izin menjawab evaluasi sesi 14 ibu Nova

1. Jelaskan tentang  teori karismatik dan transformasional!

Teori kepemimpinan karismatik dan transformasional merupakan dua paradigma yang saling berkaitan dan sangat berpengaruh dalam kajian perilaku organisasi modern. Teori Kepemimpinan karismatik berakar pada pemikiran Max Weber yang mendefinisikan karisma sebagai kualitas luar biasa yang dimiliki individu sehingga dianggap mampu memberikan pengaruh yang tidak biasa kepada pengikutnya. Pemimpin karismatik memperoleh legitimasi bukan dari jabatan formal, tetapi dari daya tarik personal, kepercayaan diri, kemampuan retorika, dan kapasitas emosional yang membuat pengikut merasa terinspirasi. Karismanya memunculkan kepatuhan emosional, kekaguman, dan identifikasi yang sangat kuat, sehingga pemimpin dapat menggerakkan orang dengan cepat dan efektif.

Sementara itu, kepemimpinan transformasional dikembangkan oleh Burns (1978) dan disempurnakan oleh Bass (1985). Teori ini menekankan kemampuan pemimpin untuk melakukan transformasi nilai, keyakinan, dan perilaku pengikut demi mencapai kinerja yang melampaui standar. Pemimpin transformasional memanfaatkan empat komponen utama, yaitu pengaruh ideal (idealized influence), motivasi inspiratif (inspirational motivation), stimulasi intelektual (intellectual stimulation), dan pertimbangan individual (individualized consideration). Melalui pendekatan ini, pemimpin tidak hanya mengandalkan pesona personal, melainkan juga fokus pada peningkatan kapasitas pengikut, mendorong inovasi, dan membangun komitmen jangka panjang terhadap perubahan strategis organisasi.

2. Bagaimana persamaan dan perbedaan antara kepemimpinan karismatik dan transformasional?

Secara konseptual, kedua model ini sering tumpang tindih karena sama-sama menekankan pengaruh emosional dan perubahan positif terhadap pengikut. Persamaan utama terletak pada kemampuan keduanya menginspirasi dan memotivasi pengikut melalui visi yang jelas, komunikasi yang kuat, serta hubungan emosional yang solid. Keduanya juga efektif dalam menciptakan perubahan signifikan, meningkatkan semangat kerja, dan menumbuhkan loyalitas terhadap pemimpin ataupun organisasi.

Namun, terdapat sejumlah perbedaan fundamental. Kepemimpinan karismatik biasanya berfokus pada kualitas personal pemimpin yang dianggap luar biasa dan seringkali sulit direplikasi. Efektivitasnya sangat bergantung pada figur pemimpin itu sendiri, sehingga ketika pemimpin hilang, stabilitas organisasi dapat terganggu. Sebaliknya, kepemimpinan transformasional lebih menekankan proses perubahan organisasi dan peningkatan kemampuan pengikut. Pemimpin transformasional mentransfer visi, nilai, dan keterampilan, sehingga keberhasilan organisasi tidak sepenuhnya bergantung pada sosok pemimpin. Dengan demikian, perbedaan paling mencolok adalah bahwa kepemimpinan karismatik bersifat person-centered, sementara kepemimpinan transformasional bersifat process-centered dan cenderung lebih berjangka panjang.

3. Bagaimana menilai manfaat dan risiko kepemimpinan karismatik?

Kepemimpinan karismatik menawarkan sejumlah manfaat penting, terutama dalam konteks organisasi yang menghadapi ketidakpastian atau membutuhkan perubahan cepat. Pemimpin karismatik mampu membangkitkan antusiasme dan keberanian pengikut dalam menghadapi tantangan besar. Karisma memungkinkan pemimpin menanamkan keyakinan kolektif dan menciptakan rasa tujuan bersama. Pada situasi krisis, pemimpin karismatik sering dipandang sebagai figur penyelamat yang dapat memberikan arah dan ketenangan psikologis.

Meski demikian, pendekatan ini juga memiliki risiko signifikan. Ketergantungan berlebihan pada pemimpin dapat melemahkan struktur organisasi karena pengikut cenderung menerima instruksi tanpa kritik. Selain itu, karisma dapat menjadi alat manipulatif jika tidak dikendalikan oleh nilai etika, sehingga membuka peluang munculnya kepemimpinan otoriter atau narsistik. Risiko lain adalah kemungkinan pemimpin mengabaikan prosedur formal dan sistem organisasi karena terlalu mengandalkan intuisi dan pesona personal. Oleh sebab itu, kepemimpinan karismatik harus selalu diimbangi dengan mekanisme kontrol dan kesadaran etis untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan. 

4. Jelaskan cara menginspirasi lebih banyak komitmen dan optimisme pengikut!

Untuk menumbuhkan komitmen dan optimisme pengikut, pemimpin perlu mengembangkan strategi yang berorientasi pada aspek psikologis dan emosional. Salah satu cara paling efektif adalah dengan mengembangkan dan mengkomunikasikan visi yang jelas serta bermakna. Visi yang kuat memberi arah, tujuan, dan makna bagi pengikut. Selain itu, pemimpin harus menjadi teladan moral dan perilaku melalui konsistensi tindakan, integritas, dan komitmen terhadap nilai-nilai organisasi.

Pemimpin juga harus menggunakan komunikasi inspiratif, yaitu komunikasi yang tidak hanya informatif tetapi juga mengandung unsur motivasi, kehangatan, dan harapan. Pengakuan atas pencapaian individu dan kelompok dapat meningkatkan rasa percaya diri dan memperkuat ikatan emosional. Lebih jauh, pemberian kesempatan untuk berkembang — seperti pelatihan, coaching, dan pendelegasian — dapat meningkatkan rasa memiliki (sense of belonging) serta memperkuat komitmen jangka panjang. Ketika pengikut merasa dihargai secara personal dan profesional, mereka cenderung menunjukkan optimisme yang lebih tinggi terhadap masa depan organisasi.

5. Bagaimana memahami berbagai konsep kepemimpinan etis?

Kepemimpinan etis merupakan pendekatan kepemimpinan yang menjunjung tinggi nilai moral dan standar perilaku profesional. Konsep ini berlandaskan prinsip doing the right thing, yaitu melakukan tindakan yang benar meskipun tidak selalu populer atau menguntungkan secara jangka pendek. Menurut Brown dan Treviño (2006), kepemimpinan etis terdiri dari dua dimensi utama: perilaku moral pribadi dan peran sebagai manajer moral. Pemimpin tidak hanya bertindak etis dalam kehidupannya, tetapi juga secara aktif mempengaruhi bawahan agar mematuhi standar moral organisasi.

Konsep ini juga berkaitan dengan beberapa teori kepemimpinan lain, seperti servant leadership, yang menekankan pelayanan kepada pengikut sebagai prioritas utama, serta authentic leadership, yang mendorong keaslian, kejujuran, dan transparansi dalam tindakan pemimpin. Selain itu, transformational leadership juga memiliki komponen moral yang kuat, terutama dalam peran pemimpin sebagai teladan nilai positif. Secara keseluruhan, kepemimpinan etis menekankan bahwa kekuasaan harus digunakan untuk kepentingan organisasi dan masyarakat, bukan untuk kepentingan pribadi.

6. Jelaskan dilema etika yang dihadapi pemimpin!

Pemimpin sering berhadapan dengan situasi yang mengandung dua pilihan yang sama-sama benar atau sama-sama mengandung risiko moral — inilah yang disebut dilema etika. Salah satu dilema umum adalah konflik antara keadilan dan loyalitas, ketika pemimpin harus memilih antara mendukung anggota tim atau menegakkan aturan. Contoh lain adalah pertentangan antara kejujuran dan menjaga kerahasiaan, seperti ketika pemimpin mengetahui informasi tertentu tetapi tidak dapat mengungkapkannya kepada publik demi keamanan organisasi.

Dilema lainnya mencakup konflik antara profit dan tanggung jawab sosial, terutama dalam perusahaan yang menghadapi tekanan untuk mencapai target keuangan. Pemimpin juga sering menghadapi situasi di mana tekanan kinerja dapat mendorong perilaku tidak etis, misalnya memanipulasi data atau melanggar standar prosedural. Dalam menghadapi dilema seperti ini, pemimpin dituntut menggunakan penalaran etis yang matang, seperti prinsip utilitarian (berdasarkan manfaat terbesar), deontologi (berdasarkan kewajiban moral), dan virtue ethics (berdasarkan karakter moral pribadi).

7. Bagaimana mengidentifikasi faktor individu & situasional yang memengaruhi perilaku etis?

Perilaku etis dalam organisasi dipengaruhi oleh kombinasi faktor individu dan situasional. Dari sisi faktor individu, nilai moral pribadi, karakter, dan integritas memainkan peran penting dalam menentukan bagaimana seseorang merespons situasi etis. Pendidikan, pengalaman, dan tingkat perkembangan moral seseorang (berdasarkan teori Kohlberg) juga berpengaruh terhadap kecenderungan perilaku etis. Selain itu, locus of control menentukan apakah seseorang percaya bahwa tindakannya dipengaruhi oleh dirinya sendiri atau oleh faktor luar.

Sementara itu, faktor situasional seringkali memiliki pengaruh yang lebih kuat. Budaya organisasi, norma kelompok, gaya kepemimpinan, tekanan waktu, dan sistem penghargaan merupakan elemen situasional yang dapat membentuk perilaku etis atau tidak etis. Misalnya, organisasi dengan budaya kompetitif yang berlebihan dapat mendorong perilaku manipulatif, sedangkan organisasi dengan budaya transparan cenderung mendorong perilaku etis. Struktur formal seperti kode etik dan kebijakan internal juga dapat mengarahkan perilaku karyawan ke arah yang etis.

8. Jelaskan cara menumbuhkan perilaku etis dan mencegah yang tidak etis!

Untuk menumbuhkan perilaku etis dalam organisasi, pemimpin harus mengembangkan lingkungan moral yang kuat melalui aturan, nilai, dan teladan perilaku. Salah satu langkah penting adalah membangun budaya organisasi yang etis, yakni budaya yang menekankan integritas, kejujuran, dan tanggung jawab dalam setiap aktivitas. Penyusunan kode etik dan pedoman perilaku yang jelas serta pelatihan etika dapat membantu karyawan memahami standar moral yang harus diikuti.

Selain itu, sistem reward dan punishment harus dirancang dengan adil, sehingga perilaku etis diberi penghargaan dan pelanggaran diberikan sanksi. Penerapan mekanisme whistleblowing yang aman dapat membantu mencegah perilaku tidak etis sebelum menjadi masalah besar. Pemimpin juga harus menciptakan psychological safety, yaitu kondisi di mana karyawan merasa aman untuk mengungkapkan pendapat dan melaporkan pelanggaran tanpa takut mendapat hukuman. Kunci utama untuk mencegah perilaku tidak etis adalah konsistensi pemimpin sebagai teladan moral, karena perilaku pemimpin menjadi rujukan utama bagi seluruh anggota organisasi.

In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 14

by Melly Fitriyani Ms -
Melly Fitriyani Ms - 2421011003

Izin menjawab evaluasi sesi 14 Bu,
1. Jelaskan tentang teori karismatik dan transformasional!
Jawab:
Kepemimpinan Karismatik adalah teori yang menekankan kekuatan daya tarik pribadi, kepercayaan diri, komunikasi persuasif, serta kemampuan pemimpin membangkitkan kekaguman dan loyalitas pengikut. Pemimpin karismatik memengaruhi terutama melalui pesona pribadi dan emosi.
Kepemimpinan Transformasional adalah teori yang menjelaskan pemimpin yang mampu mengubah organisasi melalui inspirasi visi, pemberdayaan, inovasi, dan peningkatan motivasi.
Fokusnya adalah transformasi individu dan organisasi melalui empat pilar (4 I):

  • Idealized Influence,
  • Inspirational Motivation,
  • Intellectual Stimulation,
  • Individualized Consideration.

2. Persamaan dan perbedaan kepemimpinan karismatik dan transformasional
Jawab :
Persamaannya:
  • Sama-sama menginspirasi dan memotivasi pengikut.
  • Sama-sama punya visi dan mampu membawa perubahan.
  • Sama-sama membangun hubungan emosional dengan pengikut.

Perbedaannya:
  • Karismatik: pengaruhnya datang dari pesona pribadi pemimpin (kharisma).
  • Transformasional: pengaruhnya datang dari visi, nilai, dan kemampuan mengembangkan orang lain.
  • Karismatik: pengikut cenderung bergantung pada pemimpin.
  • Transformasional: pengikut justru diberdayakan agar mandiri dan berkembang.
  • Karismatik: lebih fokus pada pemimpin sebagai figur kuat.
  • Transformasional: lebih fokus pada perubahan organisasi dan tim.

3. Bagaimana menilai manfaat dan risiko kepemimpinan karismatik?
Jawab :
Kepemimpinan karismatik memiliki manfaat sekaligus risiko yang perlu dinilai secara seimbang. Dari sisi manfaat, pemimpin karismatik mampu memberikan motivasi tinggi, menumbuhkan loyalitas kuat, serta menggerakkan perubahan dengan cepat terutama saat organisasi berada dalam situasi sulit. Karisma pemimpin sering membuat pengikut merasa terinspirasi dan percaya diri untuk mencapai tujuan yang lebih besar. Namun, terdapat risiko yang perlu diperhatikan, seperti kemungkinan munculnya ketergantungan berlebihan pada sosok pemimpin sehingga organisasi menjadi lemah ketika pemimpin tersebut tidak ada. Selain itu, jika pemimpin tidak memiliki dasar etika yang kuat, karisma dapat disalahgunakan untuk kepentingan pribadi. Pemimpin karismatik juga berpotensi mengambil keputusan yang terlalu subjektif karena pengaruh emosional pengikut. Oleh karena itu, manfaat dan risiko kepemimpinan karismatik harus dievaluasi untuk memastikan pengaruhnya tetap positif bagi organisasi.


4. Jelaskan cara menginspirasi lebih banyak komitmen dan optimisme pengikut!
Jawab :
Untuk menginspirasi lebih banyak komitmen dan optimisme pengikut, seorang pemimpin perlu menyampaikan visi yang jelas, positif, dan mudah dipahami sehingga pengikut mengetahui arah yang ingin dicapai. Pemimpin juga harus menunjukkan keteladanan melalui tindakan yang konsisten dengan kata-kata, karena contoh nyata lebih kuat daripada instruksi. Memberikan penghargaan atas usaha dan pencapaian, serta menunjukkan apresiasi secara tulus, dapat meningkatkan motivasi dan rasa memiliki. Selain itu, melibatkan pengikut dalam proses pengambilan keputusan membuat mereka merasa dihargai dan berperan penting dalam keberhasilan bersama. Komunikasi yang terbuka, empati, serta dukungan terhadap tantangan yang dihadapi pengikut juga membantu menumbuhkan rasa percaya diri dan optimisme. Ketika pemimpin mampu menciptakan lingkungan yang penuh kepercayaan dan harapan positif, komitmen dan semangat pengikut akan meningkat dengan sendirinya.

5. Bagaimana memahami berbagai konsep kepemimpinan etis?
Jawab :
Memahami berbagai konsep kepemimpinan etis berarti melihat bagaimana pemimpin mengambil keputusan dan bertindak berdasarkan nilai moral, prinsip keadilan, serta tanggung jawab. Pemimpin etis tidak hanya menunjukkan perilaku yang jujur dan berintegritas (moral person), tetapi juga aktif memandu dan memengaruhi orang lain untuk berperilaku etis (moral manager). Berbagai konsep seperti virtue ethics menekankan pentingnya karakter baik, sementara deontologi menekankan kewajiban dan aturan, serta utilitarianisme menilai keputusan berdasarkan manfaat terbesar bagi banyak orang. Selain itu, konsep keadilan dan fairness mengharuskan pemimpin membuat keputusan yang tidak diskriminatif. Dengan memahami konsep-konsep ini, pemimpin dapat menilai situasi secara lebih bijak dan memastikan bahwa setiap keputusan mendukung nilai-nilai moral organisasi dan masyarakat.

6. Jelaskan dilema etika yang dihadapi pemimpin!
Jawab :
Dilema etika yang dihadapi pemimpin muncul ketika mereka harus memilih antara dua keputusan yang sama-sama benar atau sama-sama sulit, sehingga tidak ada pilihan yang sepenuhnya ideal. Contohnya, pemimpin sering dihadapkan pada konflik antara kejujuran dan loyalitas, seperti harus berkata jujur kepada publik tetapi di sisi lain ingin melindungi timnya. Ada juga dilema antara kepentingan perusahaan dan kesejahteraan karyawan, misalnya ketika perusahaan harus melakukan efisiensi yang berdampak pada pemotongan tenaga kerja. Pemimpin juga kerap harus memilih antara keadilan dan belas kasih, seperti mengikuti aturan secara tegas atau memberi toleransi karena kondisi tertentu. Selain itu, mereka bisa menghadapi dilema antara menjaga privasi dan kebutuhan akan transparansi. Dalam situasi seperti ini, pemimpin harus mempertimbangkan nilai moral, dampak keputusan, serta prinsip keadilan agar dapat menentukan pilihan yang paling etis.

7. Bagaimana mengidentifikasi faktor individu & situasional yang memengaruhi perilaku etis?
Jawab :
Faktor individu dan situasional yang memengaruhi perilaku etis dapat diidentifikasi dengan memahami karakter pribadi seseorang sekaligus lingkungan tempat ia bekerja. Dari sisi individu, perilaku etis dipengaruhi oleh nilai moral, kepribadian, integritas, pengalaman, dan tingkat pendidikan etika yang dimiliki seseorang. Orang dengan nilai moral kuat atau yang terbiasa berpikir kritis biasanya lebih mampu mengambil keputusan etis. Sementara itu, faktor situasional dapat dilihat dari budaya organisasi, gaya kepemimpinan atasan, tekanan pekerjaan, sistem penghargaan dan hukuman, serta norma kelompok kerja. Misalnya, lingkungan kerja yang memberi tekanan target berlebihan atau tidak transparan cenderung mendorong perilaku tidak etis. Sebaliknya, organisasi dengan budaya terbuka dan pemimpin yang menjadi teladan etika akan memperkuat perilaku etis karyawan. Dengan menilai kedua faktor ini secara bersamaan, pemimpin dapat lebih mudah memahami mengapa perilaku etis atau tidak etis muncul dalam organisasi.

8. Jelaskan cara menumbuhkan perilaku etis dan mencegah yang tidak etis!
Jawab:
Cara menumbuhkan perilaku etis dan mencegah yang tidak etis dilakukan dengan menciptakan budaya organisasi yang mendorong nilai moral dan transparansi. Langkah utamanya adalah menyusun kode etik yang jelas dan mudah dipahami, kemudian memastikan seluruh karyawan mendapat pelatihan etika secara rutin. Pemimpin harus menjadi teladan utama dengan menunjukkan integritas dalam setiap keputusan, karena perilaku pemimpin sangat memengaruhi perilaku bawahan. Selain itu, organisasi perlu menyediakan sistem pelaporan pelanggaran (whistleblowing) yang aman sehingga karyawan dapat melapor tanpa takut dihukum. Memberikan penghargaan kepada perilaku yang jujur dan adil, serta memberikan sanksi tegas untuk setiap tindakan tidak etis, juga membantu menegakkan standar moral. Mengurangi tekanan berlebihan, memperjelas aturan, dan mendorong komunikasi terbuka akan menciptakan lingkungan kerja yang sehat. Dengan kombinasi kebijakan, keteladanan, dan sistem pendukung yang baik, perilaku etis dapat tumbuh dan tindakan tidak etis dapat dicegah.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 14

by Ranti Dwi Octaviani -
RANTI DWI OCTAVIANI _ 2421011045
1. Teori karismatik dan transformasional
Teori kepemimpinan karismatik menggambarkan pemimpin yang mampu memengaruhi pengikut melalui kepribadian yang kuat, daya tarik emosional, serta kemampuan membangun rasa kagum. Sementara itu, teori kepemimpinan transformasional menekankan kemampuan pemimpin untuk membawa perubahan besar dalam organisasi dengan mengubah cara berpikir, motivasi, dan nilai pengikut sehingga mereka mau bekerja melampaui kepentingan pribadi demi tujuan bersama. Jika kepemimpinan karismatik berpusat pada daya tarik individu, kepemimpinan transformasional lebih menekankan proses perubahan dan pembentukan visi jangka panjang.

2. Persamaan dan perbedaan kepemimpinan karismatik dan transformasional
Kedua gaya kepemimpinan ini sama-sama mampu memotivasi pengikut pada tingkat emosional, memberikan inspirasi, dan menciptakan perubahan positif. Namun, kepemimpinan karismatik lebih bergantung pada pesona pribadi pemimpin, sedangkan kepemimpinan transformasional menekankan pengembangan pengikut, penciptaan visi, dan perubahan sistem organisasi. Pemimpin karismatik sering dipandang sebagai sosok yang dikagumi, sementara pemimpin transformasional dianggap sebagai penggerak perubahan yang memberdayakan orang lain.

3. Manfaat dan risiko kepemimpinan karismatik
Kepemimpinan karismatik dapat meningkatkan motivasi pengikut, mempercepat perubahan, dan membangun kepercayaan yang kuat dalam organisasi. Namun, risiko yang muncul adalah pengikut bisa menjadi terlalu bergantung pada pemimpin, keputusan dapat menjadi terlalu terpusat, dan potensi penyalahgunaan kekuasaan bisa terjadi jika pemimpin tidak memiliki landasan etis yang baik. Pemimpin karismatik yang tidak bertanggung jawab juga dapat mengarahkan pengikut kepada tujuan yang keliru.

4. Cara menginspirasi komitmen dan optimisme pengikut
Pemimpin dapat menginspirasi komitmen dan optimisme dengan menyampaikan visi yang jelas dan penuh makna, menunjukkan keyakinan terhadap kemampuan tim, serta memberikan dukungan dan penguatan positif. Ketika pemimpin menunjukkan integritas, keteladanan, dan sikap optimis dalam menghadapi tantangan, pengikut cenderung ikut terdorong untuk bekerja lebih baik. Memberikan penghargaan, pengakuan, serta melibatkan pengikut dalam pengambilan keputusan juga membantu menumbuhkan rasa memiliki dan komitmen yang lebih tinggi.

5. Memahami berbagai konsep kepemimpinan etis
Kepemimpinan etis menekankan perilaku pemimpin yang berlandaskan nilai moral seperti kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan rasa hormat terhadap orang lain. Berbagai konsep dalam kepemimpinan etis mencakup kepemimpinan berbasis nilai, kepemimpinan otentik, dan kepemimpinan yang peduli pada dampak sosial. Pemimpin etis tidak hanya membuat keputusan yang benar secara hukum, tetapi juga mempertimbangkan dampak moral, kesejahteraan individu, serta integritas organisasi.

6. Dilema etika yang dihadapi pemimpin
Pemimpin sering dihadapkan pada situasi di mana pilihan yang tersedia sama-sama sulit, seperti memilih antara keuntungan organisasi atau keadilan bagi karyawan, antara menjaga kerahasiaan atau keterbukaan, atau antara tekanan atasan dan kepentingan publik. Dilema etis terjadi ketika tidak ada jawaban yang jelas benar atau salah, sehingga pemimpin harus menggunakan nilai moral, prinsip organisasi, dan penilaian profesional untuk mengambil keputusan yang paling bertanggung jawab.

7. Faktor individu dan situasional yang memengaruhi perilaku etis
Perilaku etis dipengaruhi oleh faktor individu seperti nilai pribadi, karakter, kepribadian, dan pengalaman hidup. Selain itu, situasi juga berperan penting, misalnya budaya organisasi, tekanan dari atasan, sistem penghargaan, serta norma sosial yang berlaku. Kombinasi faktor pribadi dan lingkungan akan menentukan apakah seseorang bertindak etis atau tidak dalam suatu situasi.

8. Cara menumbuhkan perilaku etis dan mencegah perilaku tidak etis
Perilaku etis dapat ditumbuhkan dengan membangun budaya organisasi yang menekankan kejujuran, transparansi, dan tanggung jawab. Pemimpin harus memberi contoh melalui tindakan nyata dan memastikan aturan etika diterapkan secara konsisten. Pelatihan etika, mekanisme pelaporan penyimpangan, penghargaan bagi perilaku positif, serta pengawasan yang efektif dapat mencegah tindakan tidak etis. Ketika etika menjadi bagian dari sistem dan budaya organisasi, kemungkinan pelanggaran akan berkurang secara signifikan.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 14

by RIA YULI HASTINI -
RIA YULI HASTINI _2421011046

JAWABAN EVALUASI :

1. Teori Karismatik dan Transformasional
• Pemimpin memotivasi pengikut melalui kekuatan perilaku personal, visi idealis, dan kesediaan mengambil risiko. Pengaruhnya bersifat emosional.
• Pemimpin mengubah nilai dan motivasi pengikut untuk melampaui kepentingan diri sendiri, berfokus pada empat komponen utama (Pengaruh Ideal, Motivasi Inspirasional, Stimulasi Intelektual, Pertimbangan Individual).

2. Persamaan dan Perbedaan Kepemimpinan Karismatik dan Transformasional
• Persamaan ;
Keduanya menggunakan visi kuat, menginspirasi emosi, dan menghasilkan komitmen serta kinerja yang tinggi.
• Perbedaan:
Karismatik fokus pada personalitas pemimpin (persepsi "pahlawan"), sementara Transformasional fokus pada proses pengembangan pengikut (melalui coaching dan pemberdayaan).

3. Manfaat dan Risiko Kepemimpinan Karismatik
• Manfaat:
Komitmen ekstrem, akselerasi perubahan budaya yang cepat, dan kinerja melebihi ekspektasi.
• Risiko:
Ketergantungan pengikut (pasif), risiko penyalahgunaan etika (manipulasi), dan masalah besar saat suksesi.

4. Cara Menginspirasi Komitmen dan Optimisme Pengikut
Tingkatkan komitmen dan optimisme dengan:
a. Mendefinisikan Visi yang Jelas dan bermakna.
b. Menerapkan Pemberdayaan (Empowerment) dan otonomi.
c. Membangun Penguatan Diri (Self-Efficacy) kolektif.
d. Menggunakan Komunikasi Positif yang berorientasi peluang.
e. Menunjukkan Perhatian Individual dan kepedulian.

5. Memahami Berbagai Konsep Kepemimpinan Etis
Kepemimpinan etis dilihat dari dua dimensi:
a. Moral Person (Siapa Pemimpin Itu)
Karakter pemimpin harus jujur, berintegritas, dan peduli.
b. Moral Manager (Bagaimana Pemimpin Bertindak)
Pemimpin harus menjadi role model, mengomunikasikan standar etika, dan
menerapkan sistem penghargaan/hukuman etis.

6. Dilema Etika yang Dihadapi Pemimpin
Dilema etika adalah situasi memilih antara dua tindakan moral yang bertentangan. Contohnya:
• Keadilan vs. Kasih Sayang:
Menegakkan aturan kaku vs. mempertimbangkan keadaan individu.
• Jangka Pendek vs. Jangka Panjang:
Keuntungan cepat vs. keberlanjutan.
• Kebenaran vs. Loyalitas:
Melaporkan kesalahan vs. melindungi rekan.

7. Mengidentifikasi Faktor Individu & Situasional yang Memengaruhi Perilaku Etis
• Faktor Individu:
Dipengaruhi oleh Tahap Perkembangan Moral (kematangan etis) dan Lokus Kontrol (keyakinan individu atas kendali nasib).
• Faktor Situasional:
Dipengaruhi oleh Budaya Organisasi, Intensitas Isu Moral (potensi bahaya keputusan), dan Tekanan Atasan untuk mencapai target.

8. Cara Menumbuhkan Perilaku Etis dan Mencegah yang Tidak Etis
Strategi komprehensif diperlukan:
a. Pemimpin harus menjadi teladan.
b. Menyusun aturan dan pelatihan wajib.
c. Menyediakan saluran aman untuk pelaporan rahasia.
d. Konsisten dalam menghargai integritas dan menghukum pelanggaran.
e. Melakukan penilaian berkala untuk identifikasi celah etika.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 14

by ELIYA AGUSTINA -
Izin menjawab ibu,
2421011036_Eliya Agustina:

1. Teori kepemimpinan karismatik menjelaskan bahwa pemimpin mampu mempengaruhi pengikut melalui daya tarik pribadi yang luar biasa, visi yang radikal, kepercayaan diri tinggi, keberanian mengambil risiko, serta kemampuan menyentuh emosi dan nilai-nilai pengikut. Pengikut tidak hanya patuh karena posisi formal, tetapi karena keyakinan dan keterikatan emosional terhadap pemimpin. Sedangkan kepemimpinan transformasional berfokus pada kemampuan pemimpin untuk mentransformasi nilai, sikap, dan tujuan pengikut agar selaras dengan kepentingan kolektif organisasi melalui empat komponen utama: idealized influence (teladan moral), inspirational motivation (visi yang memotivasi), intellectual stimulation (dorongan berpikir kreatif), dan individualized consideration (perhatian pada pengembangan individu).

2. Persamaannya, kedua gaya kepemimpinan sama-sama berorientasi pada visi jangka panjang, perubahan besar, dan inspirasi yang melampaui kepentingan pribadi pengikut. Keduanya meningkatkan komitmen, kepercayaan, dan kinerja pengikut. Perbedaannya, kepemimpinan karismatik bertumpu kuat pada pesona dan figur pemimpin sebagai pusat pengaruh, sedangkan kepemimpinan transformasional lebih menekankan proses, nilai moral, dan pemberdayaan pengikut secara sistematis. Kepemimpinan karismatik berisiko menjadi personalistik, sementara transformasional lebih kolektif dan berorientasi pada keberlanjutan organisasi.

3. Manfaat kepemimpinan karismatik terlihat ketika organisasi berada dalam krisis atau perubahan besar karena mampu membangkitkan semangat, menyatukan arah, dan mempercepat tindakan. Namun risikonya muncul ketika kekuatan pengaruh tidak diimbangi kontrol etis dan rasional, sehingga dapat mendorong kultus individu, pengambilan keputusan impulsif, manipulasi pengikut, serta melemahkan mekanisme checks and balances dalam organisasi.

4. Komitmen dan optimisme pengikut dapat diperkuat dengan cara mengomunikasikan visi yang bermakna dan realistis, menunjukkan keyakinan terhadap kemampuan tim, memberi makna pada setiap peran individu, merayakan kemajuan kecil, serta mempertahankan konsistensi antara kata dan tindakan pemimpin. Dukungan emosional, pengakuan, dan kesempatan berkembang juga meningkatkan rasa memiliki dan harapan terhadap masa depan.

5. Kepemimpinan etis dipahami sebagai praktik kepemimpinan yang didasarkan pada nilai moral universal seperti kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap dampak keputusan bagi semua pemangku kepentingan. Konsep ini mencakup integritas pribadi, penggunaan kekuasaan secara bertanggung jawab, transparansi, serta komitmen terhadap kesejahteraan bersama, bukan hanya kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.

6. Dilema etika muncul ketika pemimpin dihadapkan pada dua atau lebih pilihan yang sama-sama memiliki konsekuensi moral, seperti memilih antara loyalitas pada organisasi dan keadilan bagi individu, antara keuntungan jangka pendek dan keberlanjutan jangka panjang, atau antara menjaga rahasia dan kewajiban transparansi. Tekanan target, konflik kepentingan, dan ambiguitas aturan sering memperparah dilema tersebut.

7. Faktor individu yang memengaruhi perilaku etis meliputi nilai pribadi, tingkat perkembangan moral, kepribadian, dan keberanian moral. Sementara faktor situasional mencakup budaya organisasi, norma kelompok, sistem penghargaan, tekanan atasan, struktur kekuasaan, serta kejelasan aturan. Lingkungan yang permisif terhadap pelanggaran cenderung meningkatkan perilaku tidak etis, bahkan pada individu yang secara moral baik.

8. Perilaku etis dapat ditumbuhkan melalui keteladanan pemimpin, penerapan kode etik yang jelas, sistem penghargaan dan sanksi yang konsisten, pelatihan etika, serta penguatan budaya organisasi yang terbuka dan akuntabel. Pencegahan perilaku tidak etis juga diperkuat dengan adanya mekanisme pelaporan yang aman (whistleblowing), audit independen, dan distribusi kekuasaan yang seimbang untuk mencegah penyalahgunaan wewenang.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 14

by Naufal Ar Rafi Mursalin -
Naufal Ar Rafi Mursalin

izin menjawab bu

1. Teori Karismatik dan Transformasional
- Karismatik: Pemimpin memiliki daya tarik luar biasa yang membuat pengikut percaya dan terinspirasi oleh figur pribadi.
- Transformasional: Menekankan perubahan mendasar melalui visi, motivasi kolektif, dan perhatian pada kebutuhan individu pengikut.

2. Persamaan dan Perbedaan
- Persamaan: Sama-sama menginspirasi pengikut, membangkitkan semangat, dan meningkatkan komitmen.
- Perbedaan:
- Karismatik lebih berpusat pada figur pemimpin.
- Transformasional lebih menekankan visi kolektif dan perubahan sistemik.
- Karismatik berisiko menciptakan ketergantungan pada individu, sedangkan transformasional lebih berkelanjutan.

3. Manfaat dan Risiko Kepemimpinan Karismatik
- Manfaat: Meningkatkan motivasi, loyalitas, memberikan arah jelas, menciptakan energi positif.
- Risiko: Ketergantungan berlebihan pada pemimpin, potensi manipulasi, rentan gagal bila kredibilitas hilang.

4. Cara Menginspirasi Komitmen dan Optimisme
- Menyampaikan visi yang jelas dan bermakna.
- Memberikan teladan nyata dalam tindakan.
- Menghargai kontribusi pengikut dan melibatkan mereka dalam keputusan.
- Menumbuhkan empati dan komunikasi terbuka.

5. Konsep Kepemimpinan Etis
- Kepemimpinan yang menempatkan moralitas, integritas, dan keadilan sebagai nilai utama.
- Prinsip utama: transparansi, akuntabilitas, keadilan, dan tanggung jawab sosial.

6. Dilema Etika Pemimpin
- Pemimpin sering menghadapi situasi di mana nilai moral bertabrakan dengan kepentingan organisasi atau pribadi.
- Contoh dilema: memilih antara keuntungan jangka pendek dengan kepentingan publik, atau antara loyalitas pada individu dengan keadilan.

7. Faktor Individu dan Situasional
- Individu: Nilai pribadi, integritas, religiusitas, persepsi pentingnya etika.
- Situasional: Budaya organisasi, tekanan kelompok, sistem penghargaan, kondisi lingkungan.

8. Menumbuhkan Perilaku Etis dan Mencegah yang Tidak Etis
- Menetapkan kode etik yang jelas.
- Memberikan pelatihan etika.
- Membangun budaya transparansi dan akuntabilitas.
- Memberikan sanksi tegas terhadap pelanggaran.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 14

by Adrian Kevin Prathama -
Adrian Kevin Prathama - 2421011024

Izin menjawab Bu Nova

1. Jelaskan tentang teori karismatik dan transformasional!

a. Kepemimpinan Karismatik
Teori ini menjelaskan bahwa pemimpin memiliki daya tarik personal (charisma) yang membuat pengikut percaya, mengagumi, dan bersedia mengikuti arahannya. Karisma berasal dari kepribadian, visi yang memukau, komunikasi persuasif, dan kemampuan membangkitkan emosi. Pemimpin karismatik fokus pada motivasi emosional dan loyalitas personal.

b. Kepemimpinan Transformasional
Pemimpin transformasional menginspirasi pengikut untuk melampaui kepentingan pribadi demi tujuan bersama. Mereka tidak hanya memotivasi secara emosional, tetapi juga mengembangkan kompetensi, perilaku, dan nilai pengikut. Model Bass menyebut 4 aspek utama:
• Idealized Influence (panutan)
• Inspirational Motivation (visi inspiratif)
• Intellectual Stimulation (mendorong kreativitas)
• Individualized Consideration (perhatian individu)

2. Persamaan dan Perbedaan antara Kepemimpinan Karismatik dan Transformasional

Aspek

Karismatik

Transformasional

Fokus Utama

Kekaguman & loyalitas pada pemimpin

Pengembangan nilai, motivasi, dan potensi pengikut

Cara Memimpin

Membangkitkan emosi, daya tarik personal

Mengubah pola pikir, memberi visi, membina individu

Ketergantungan Pengikut

Tinggi (berpusat pada pemimpin)

Rendah (berbasis pemberdayaan)

Tujuan

Menggerakkan untuk tujuan pemimpin/organisasi

Mengubah sistem dan memberdayakan orang

Persamaan

Sama-sama mampu menginspirasi, memotivasi, meningkatkan kinerja, membawa perubahan



3. Bagaimana menilai manfaat dan risiko kepemimpinan karismatik?
Manfaat
• Mampu menggerakkan organisasi dengan cepat saat menghadapi krisis.
• Membangun keberanian, kepercayaan diri, dan motivasi pengikut.
• Menciptakan energi dan semangat perubahan.
Risiko
• Pengikut terlalu bergantung dan kehilangan kemampuan berpikir kritis.
• Berpotensi otoriter jika karisma tidak dikontrol etika (contoh sejarah: Hitler).
• Rentan manipulasi karena sentralitas pemimpin.
• Keberhasilan sulit berlanjut jika pemimpin pergi (“charisma vacuum”).

Penilaian
Cara menilai: dampak jangka panjang, etika keputusan, pemberdayaan pengikut, dan keberlanjutan organisasi setelah pemimpin tidak ada.

4. Jelaskan cara menginspirasi lebih banyak komitmen dan optimisme pengikut!
Pemimpin dapat menginspirasi komitmen dan optimisme dengan:
a. Menyampaikan visi yang bermakna dan realistis
Visi tidak boleh hanya ambisius, tetapi juga dapat dicapai.
b. Memberikan teladan integritas dan konsistensi
Komitmen tumbuh ketika pemimpin melakukan dulu, bukan hanya bicara.
c. Mendistribusikan tanggung jawab (empowerment)
Keterlibatan membuat pengikut merasa memiliki tujuan.
d. Mengakui dan merayakan pencapaian sekecil apapun
Apresiasi meningkatkan optimisme dan kepercayaan.
e. Memfasilitasi pembelajaran dan perkembangan
Pengikut lebih optimis ketika merasa mampu berkembang, bukan hanya bekerja.

5. Bagaimana memahami berbagai konsep kepemimpinan etis?
Kepemimpinan etis (ethical leadership) dapat dipahami melalui beberapa pendekatan:
a. Moral Person & Moral Manager (Treviño)
Pemimpin etis memiliki karakter moral kuat dan menggunakan pengaruh untuk mengarahkan perilaku etis.
b. Servant Leadership
Pemimpin sebagai pelayan yang mengutamakan kesejahteraan orang lain.
c. Authentic Leadership
Pemimpin bertindak sesuai nilai pribadi secara jujur dan transparan.
d. Ethical Decision-Making Model
Pemimpin mempertimbangkan nilai, akibat, hak individu, dan keadilan sebelum membuat keputusan.

6. Jelaskan dilema etika yang dihadapi pemimpin!

Jenis Dilema Etika

Contoh Kasus dalam Organisasi

Konflik Nilai yang Terlibat

Prinsip Penyelesaian

Kepedulian Individu vs Kepentingan Organisasi

Melakukan PHK karyawan berkinerja baik demi efisiensi perusahaan

Keadilan vs Kepentingan Bersama

Pertimbangkan dampak jangka panjang & kompensasi yang manusiawi

Kesetiaan vs Keadilan

Memberikan toleransi kepada teman kerja yang melanggar aturan

Loyalitas personal vs Penegakan aturan

Aturan harus diterapkan konsisten tanpa diskriminasi

Transparansi vs Kerahasiaan

Menyampaikan informasi sensitif kepada publik/pegawai vs menjaga kerahasiaan bisnis

Keterbukaan vs Keamanan organisasi

Sampaikan secara proporsional tanpa merugikan pihak tertentu

Target Bisnis vs Kepatuhan Hukum

Mengejar penjualan dengan praktik yang berpotensi melanggar regulasi

Profit vs Etika hukum

Selalu mendahulukan kepatuhan hukum dan regulasi

Kualitas Produk vs Penghematan Biaya

Mengurangi standar kualitas untuk menghemat biaya produksi

Keamanan konsumen vs Efisiensi biaya

Prioritaskan keselamatan & integritas produk

Kepentingan Pemegang Saham vs Kepentingan Sosial

Mengambil keputusan yang menguntungkan investor tetapi berdampak buruk bagi masyarakat

Profit pemilik vs Kelestarian sosial & lingkungan

Terapkan prinsip stakeholder value, bukan hanya shareholder value



7. Bagaimana mengidentifikasi faktor individu & situasional yang memengaruhi perilaku etis?

Faktor Individu
• Nilai moral pribadi
• Kepribadian (kejujuran, empati, integritas)
• Tingkat pendidikan dan pengalaman
• Orientasi religius dan budaya

Faktor Situasional
• Budaya organisasi (apakah toleran pada penyimpangan)
• Sistem reward & punishment
• Teladan pemimpin
• Tekanan kerja (target tidak realistis memicu perilaku tidak etis)
• Aturan formal dan penegakannya
Perilaku etis bukan hanya tentang karakter individu, tetapi juga ekosistem kerja yang memengaruhi keputusan.

8. Jelaskan cara menumbuhkan perilaku etis dan mencegah yang tidak etis!
Untuk menumbuhkan perilaku etis, pemimpin dapat:
a. Menetapkan kode etik yang jelas & dapat diterapkan
Tidak hanya dokumen, tetapi panduan nyata dalam bekerja.
b. Menjadi role model (keteladanan moral)
Pengikut cenderung meniru, bukan mendengar.
c. Sistem reward & punishment yang adil
Mengapresiasi perilaku etis dan menghukum pelanggaran dengan konsisten.
d. Pelatihan etika & pengambilan keputusan
Melatih kemampuan moral, bukan hanya aturan.
e. Membangun budaya transparansi & pelaporan
Membuat saluran whistleblowing yang aman & bebas balas dendam.
f. Mendorong diskusi moral dalam pengambilan keputusan bisnis
Etika harus menjadi bagian dari strategi, bukan aksesori.

In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 14

by Ledi Cahaya Sibuea 2421011027 -
Nama : Ledi Cahaya Sibuea
Npm : 2421011027

1. Jelaskan tentang teori karismatik dan transformasional!
a. Teori Kepemimpinan Karismatik
Teori ini menyatakan bahwa pemimpin memiliki daya tarik pribadi (charisma) yang kuat sehingga pengikut memandang mereka sebagai sosok luar biasa.
Ciri pemimpin karismatik:
• Memiliki visi yang menarik dan meyakinkan.
• Komunikasi kuat dan penuh emosi.
• Berani mengambil risiko besar.
• Mampu membangun kepercayaan dan loyalitas tinggi.
• Mampu membangkitkan emosi dan antusiasme pengikut.
Pemimpin karismatik biasanya membuat orang mengikuti karena kekuatan kepribadian dan pengaruh emosional.

b. Teori Kepemimpinan Transformasional
Pemimpin transformasional berfokus pada mengubah organisasi dan meningkatkan kapasitas pengikut. Mereka tidak hanya menginspirasi, tetapi juga mengembangkan kompetensi pengikut.
Empat dimensi utama (4I):
1. Idealized Influence → memberikan contoh dan menjadi teladan moral.
2. Inspirational Motivation → menginspirasi visi yang kuat dan optimis.
3. Intellectual Stimulation → mendorong kreativitas dan pemikiran baru.
4. Individualized Consideration → memperhatikan kebutuhan setiap anggota.
Pemimpin transformasional fokus pada perubahan jangka panjang dan pengembangan SDM.

2. Persamaan dan perbedaan kepemimpinan karismatik dan transformasional
Persamaan
• Sama-sama menginspirasi dan memotivasi pengikut.
• Muncul ketika organisasi menghadapi perubahan atau krisis.
• Membuat pengikut memiliki komitmen tinggi.
• Menghasilkan peningkatan kinerja melalui pengaruh pribadi.
Perbedaan
Aspek Kepemimpinan Karismatik Kepemimpinan Transformasional
Fokus Mengandalkan pesona pribadi Mengembangkan organisasi & pengikut
Orientasi Lebih pada pemimpin Lebih pada tim & masa depan
Pengaruh Emosional & personal Rasional, moral, dan edukatif
Ketergantungan Tinggi pada figur pemimpin Rendah; pengikut menjadi mandiri
Risiko Kultus individu Relatif aman, berbasis nilai & etika

3. Bagaimana menilai manfaat dan risiko kepemimpinan karismatik?
Manfaat
1. Motivasi tinggi → pengikut bekerja dengan semangat lebih besar.
2. Perubahan cepat → cocok saat krisis atau butuh keputusan tegas.
3. Visi jelas dan memikat → membuat organisasi bergerak searah.
4. Loyalitas tinggi → karena pengikut percaya pada pemimpin.
5. Meningkatkan moral kerja → membangun rasa percaya diri.
Risiko
1. Kultus individu → semua keputusan tergantung pemimpin.
2. Kurang kontrol → pengikut terlalu percaya sehingga tidak kritis.
3. Penyalahgunaan kekuasaan → jika karisma tidak diimbangi etika.
4. Ketergantungan tinggi → organisasi melemah ketika pemimpin pergi.
5. Resiko keputusan impulsif → pemimpin terlalu percaya diri.

4. Jelaskan cara menginspirasi lebih banyak komitmen dan optimisme pengikut!
1. Menyampaikan visi yang jelas dan positif
Pengikut perlu tahu arah yang ingin dicapai.
2. Memberi contoh (role model)
Keteladanan lebih efektif dibanding kata-kata.
3. Memberikan pengakuan & penghargaan
Komitmen tumbuh ketika pengikut merasa dihargai.
4. Komunikasi inspiratif
Gunakan bahasa optimis, penuh semangat, dan mudah dipahami.
5. Melibatkan pengikut dalam pengambilan keputusan
Meningkatkan rasa memiliki (ownership).
6. Memberikan dukungan emosional
Pemimpin hadir, mendengar, dan membantu.
7. Mengembangkan kompetensi mereka
Pelatihan, coaching, mentoring → membuat mereka percaya diri.

5. Bagaimana memahami berbagai konsep kepemimpinan etis?
Kepemimpinan etis adalah kepemimpinan yang berfokus pada nilai moral dan perilaku yang benar. Konsep-konsepnya antara lain:
1. Integrity (integritas)
Konsisten antara ucapan dan tindakan.
2. Servant Leadership
Pemimpin mengutamakan kebutuhan pengikut.
3. Authentic Leadership
Pemimpin jujur, transparan, dan tidak berpura-pura.
4. Moral Manager
Pemimpin membuat kebijakan dan keputusan berbasis prinsip moral.
5. Fairness
Adil dalam keputusan, penghargaan, dan hukuman.
6. Ethical Role Modeling
Pemimpin menjadi contoh perilaku etis.

6. Jelaskan dilema etika yang dihadapi pemimpin!
Dilema etika terjadi ketika pemimpin memilih antara dua keputusan yang sama-sama benar atau sama-sama sulit. Contoh dilema:
1. Loyalitas vs Kejujuran
Membela bawahan atau melaporkan kesalahan mereka?
2. Keadilan vs Kepedulian
Menghukum sesuai aturan atau memberi toleransi karena kondisi pribadi?
3. Keuntungan perusahaan vs Kesejahteraan karyawan
PHK untuk efisiensi atau mempertahankan karyawan meski rugi?
4. Kepentingan jangka pendek vs jangka panjang
Fokus profit cepat atau investasi lama?
5. Transparansi vs Kerahasiaan informasi
Berapa banyak yang boleh dibagikan kepada publik?
Pemimpin harus menimbang nilai moral, aturan organisasi, dan dampaknya.

7. Bagaimana mengidentifikasi faktor individu & situasional yang memengaruhi perilaku etis?
Faktor individu:
1. Nilai pribadi
Nilai moral dari keluarga dan budaya.
2. Kepribadian
Contoh: conscientiousness, empati, integritas.
3. Tingkat moral reasoning
Tingkat kemampuan seseorang menilai benar–salah.
4. Pengalaman dan pendidikan
Semakin terlatih, semakin etis perilakunya.
Faktor situasional:
1. Budaya organisasi
Apakah perusahaan menekankan integritas atau profit?
2. Tekanan kerja & target
Target tinggi bisa mendorong perilaku tidak etis.
3. Sistem reward dan punishment
Sistem yang salah → mendorong kecurangan.
4. Kepemimpinan atasan
Atasan adalah role model utama.
5. Norma kelompok kerja
Jika rekan kerja berperilaku tidak etis, seseorang cenderung ikut.

8. Jelaskan cara menumbuhkan perilaku etis dan mencegah yang tidak etis!
1. Menetapkan kode etik yang jelas
Aturan tertulis membantu menyamakan standar perilaku.
2. Pelatihan etika secara rutin
Mengajarkan karyawan menghadapi dilema etika.
3. Percontohan dari pemimpin
Pemimpin harus berperilaku etis agar ditiru bawahan.
4. Sistem reward etis
Mengapresiasi perilaku yang benar, bukan hanya hasil.
5. Sistem pengawasan dan pelaporan (whistleblowing)
Ada saluran aman untuk melaporkan pelanggaran.
6. Penerapan hukuman adil dan konsisten
Mencegah orang mengulangi perilaku buruk.
7. Membangun budaya integritas
Komunikasi nilai-nilai moral dalam rapat, SOP, dan kebijakan.
8. Mengurangi tekanan kerja yang berlebihan
Target realistis mengurangi peluang kecurangan.
In reply to Ledi Cahaya Sibuea 2421011027

Re: EVALUASI SESI 14

by Sri Hartati 2421011049 -
Nama : Sri Hartati
Npm : 2421011049


JAWABLAH PERTANYAAN PERTANYAAN BERIKUT INI
1. Jelaskan tentang teori karismatik dan transformasional!
2. Bagaimana persamaan dan perbedaan antara kepemimpinan karismatik dan
transformasional?
3. Bagaimana menilai manfaat dan risiko kepemimpinan karismatik?
4. Jelaskan cara menginspirasi lebih banyak komitmen dan optimisme pengikut!
5. Bagaimana memahami berbagai konsep kepemimpinan etis?
6. Jelaskan dilema etika yang dihadapi pemimpin!
7. Bagaimana mengidentifikasi faktor individu & situasional yang memengaruhi perilaku
etis?
8. Jelaskan cara menumbuhkan perilaku etis dan mencegah yang tidak etis!

Jawaban

1. Jelaskan tentang teori karismatik dan transformasional!
• Teori Kepemimpinan Karismatik
Kepemimpinan karismatik menekankan pada kemampuan pemimpin untuk memengaruhi pengikut melalui kepribadian kuat, pesona emosional, dan keyakinan diri yang tinggi. Pemimpin karismatik biasanya mampu menciptakan kekaguman, memotivasi lewat visi yang meyakinkan, serta membangun hubungan emosional yang intens dengan pengikutnya.

• Teori Kepemimpinan Transformasional
Kepemimpinan transformasional berfokus pada kemampuan pemimpin untuk mengubah cara berpikir, nilai, serta perilaku pengikut, sehingga mereka mampu mencapai kinerja di atas standar. Pemimpin transformasional menginspirasi, memberi motivasi, mendorong kreativitas, dan memberdayakan pengikut melalui keteladanan dan komunikasi yang jelas.

2. Persamaan dan perbedaan antara kepemimpinan karismatik dan transformasional
Persamaan
• Keduanya mampu menginspirasi dan memotivasi pengikut.
• Sama-sama menekankan visi masa depan yang kuat.
• Mengandalkan komunikasi efektif dan pengaruh interpersonal.
• Mendorong perubahan dan peningkatan kinerja.
Perbedaan

Aspek Karismatik Transformasional
• Sumber pengaruh • •
• Fokus • •
• Risiko • •
• Gaya • •

• Pesona pribadi & emosi
• Kekaguman pada pemimpin
• Ketergantungan pada pemimpin
• Person-centered
• Nilai, visi, & pemberdayaan
• Perubahan diri pengikut
• Kemandirian pengikut meningkat
• Mission & value-centered






3. . Bagaimana menilai manfaat dan risiko kepemimpinan karismatik?
Manfaat
• Mampu menggerakkan pengikut dengan cepat.
• Menciptakan motivasi tinggi dan loyalitas kuat.
• Efektif dalam situasi krisis karena membawa energi dan kepercayaan diri.
• Menghasilkan perubahan radikal dan inovatif.
Risiko
• Pengikut menjadi terlalu bergantung pada pemimpin.
• Potensi penyalahgunaan kekuasaan jika pemimpin tidak etis.
• Keputusan dapat bias karena terlalu dipengaruhi pendapat pemimpin.
• Sulit berkelanjutan bila pemimpin meninggalkan organisasi.

4. Jelaskan cara menginspirasi lebih banyak komitmen dan optimisme pengikut!
Cara untuk meningkatkan komitmen dan optimisme pengikut antara lain:
• Menyampaikan visi yang jelas dan menginspirasi, sehingga pengikut tahu arah yang dituju.
• Memberi contoh nyata (role model) dalam integritas, kerja keras, dan motivasi.
• Mengakui kontribusi pengikut secara tulus untuk meningkatkan rasa dihargai.
• Menciptakan suasana kerja positif, aman, dan bebas tekanan berlebihan.
• Memberdayakan pengikut, memberi ruang untuk berpendapat dan mengambil peran.
• Membangun kepercayaan, melalui komunikasi jujur dan keterbukaan.
• Menunjukkan optimisme, terutama saat menghadapi tantangan.

5. Bagaimana memahami berbagai konsep kepemimpinan etis?
Kepemimpinan etis dapat dipahami sebagai kemampuan pemimpin untuk:
• Mengambil keputusan berdasarkan nilai moral, bukan hanya keuntungan.
• Menjunjung keadilan, transparansi, dan integritas dalam setiap tindakan.
• Menjadi panutan, menunjukkan perilaku yang benar dan terpuji.
• Mengutamakan kesejahteraan karyawan, pelanggan, dan masyarakat.
• Menghargai aturan, hukum, serta kode etik organisasi.
Konsep penting dalam kepemimpinan etis meliputi:
• Altruisme
• Keadilan
• Tanggung jawab sosial
• Kejujuran dan integritas
• Empati dan rasa hormat

6. Jelaskan dilema etika yang dihadapi pemimpin!
Dilema etika adalah situasi ketika pemimpin harus memilih antara dua keputusan yang sama-sama memiliki konsekuensi moral. Contohnya:
• Memilih antara keuntungan perusahaan atau keselamatan pelanggan.
• Memutuskan apakah perlu memecat karyawan yang loyal tetapi tidak kompeten.
• Mengungkap fakta kepada publik yang mungkin merugikan citra perusahaan.
• Menangani situasi benturan kepentingan (conflict of interest).
• Mengambil keputusan cepat saat informasi belum lengkap.
Dalam dilema etika, tidak selalu ada pilihan yang “benar”, sehingga pemimpin harus mempertimbangkan prinsip moral, nilai perusahaan, dan dampak jangka panjang.

7. Bagaimana mengidentifikasi faktor individu & situasional yang memengaruhi perilaku etis?
Faktor Individu
• Nilai moral pribadi
• Kepribadian
• Pengalaman dan pendidikan
• Kepercayaan agama atau budaya
• Tingkat kebutuhan dan tekanan hidup
Faktor Situasional
• Budaya organisasi
• Aturan, SOP, dan sistem reward–punishment
Kepemimpinan atasan
• Tekanan pekerjaan atau target tinggi
• Norma kelompok kerja
• Transparansi sistem pengawasan
Perilaku etis muncul ketika nilai individu sejalan dengan budaya organisasi dan situasi kerja mendukung pengambilan keputusan yang jujur.

8. Jelaskan cara menumbuhkan perilaku etis dan mencegah yang tidak etis!
Untuk menumbuhkan perilaku etis, pemimpin perlu:
• Menjadi teladan utama dalam kejujuran, disiplin, dan integritas.
• Membuat aturan dan kode etik yang jelas, dipahami seluruh anggota.
• Memberikan pelatihan etika secara berkala.
• Membangun budaya keterbukaan, agar karyawan berani melaporkan pelanggaran.
• Menerapkan reward & punishment yang konsisten, tidak diskriminatif.
• Mengurangi tekanan berlebihan, karena tekanan tinggi sering memicu perilaku tidak etis.
• Mendorong diskusi dan refleksi etika, sehingga karyawan terbiasa mempertimbangkan aspek moral.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 14

by Khairunnnisaa Khairunnisaa -
Khairunnisaa
2421011007
1. Jelaskan tentang teori karismatik dan transformasional!
Jawaban:
Teori karismatik menggambarkan pemimpin yang memiliki daya tarik personal yang kuat. Pengikut melihat pemimpin sebagai figur yang memiliki keyakinan tinggi, keberanian, dan kemampuan berbicara yang meyakinkan. Pemimpin membangun hubungan emosional yang kuat sehingga pengikut merasa terdorong mengikuti arah yang ditetapkan. Teori transformasional menekankan proses perubahan jangka panjang. Pemimpin mengembangkan cara berpikir baru, memperkuat motivasi, dan membantu pengikut mencapai kinerja yang lebih tinggi. Pendekatan ini menekankan visi yang jelas, stimulasi intelektual, perhatian individual, serta upaya mengubah budaya kerja secara sistematis.

2. Bagaimana persamaan dan perbedaan antara kepemimpinan karismatik dan transformasional?
Jawaban:
Kepemimpinan karismatik dan transformasional memiliki persamaan dalam kemampuan memotivasi dan menciptakan perubahan. Keduanya mendorong pengikut untuk bergerak menuju tujuan yang lebih besar. Perbedaannya terletak pada sumber pengaruh. Karismatik bertumpu pada daya tarik personal pemimpin. Transformasional bertumpu pada proses pengembangan kapasitas pengikut dan pembentukan budaya organisasi. Karismatik berfokus pada figur pemimpin. Transformasional berfokus pada perubahan sistem, perilaku, dan nilai bersama.

3. Bagaimana menilai manfaat dan risiko kepemimpinan karismatik?
Jawaban:
Manfaat kepemimpinan karismatik muncul pada situasi yang membutuhkan arah cepat dan tingkat inspirasi tinggi. Pemimpin mampu membangkitkan kepercayaan, menumbuhkan keberanian mengambil risiko, serta memobilisasi dukungan dalam waktu singkat. Risiko muncul ketika organisasi terlalu bergantung pada satu individu. Ketika pemimpin menarik diri, organisasi bisa kehilangan arah. Risiko lain adalah potensi penyalahgunaan kekuasaan karena pengikut sangat percaya pada figur pemimpin. Kurangnya mekanisme kontrol juga membuat keputusan sulit diuji secara objektif.

4. Jelaskan cara menginspirasi lebih banyak komitmen dan optimisme pengikut!
Jawaban:
Komitmen dan optimisme pengikut meningkat ketika pemimpin menyampaikan visi yang jelas. Visi harus konkret dan dapat dihubungkan dengan tantangan yang sedang dihadapi. Proses internalisasi visi diperkuat melalui komunikasi rutin serta penjelasan manfaat jangka panjang. Partisipasi pengikut diperluas melalui diskusi terbuka. Setiap kontribusi dihargai agar pengikut merasa memiliki peran. Pencapaian kecil diumumkan untuk memperkuat keyakinan. Pembinaan diberikan secara konsisten sehingga pengikut melihat perkembangan diri dan merasa memiliki masa depan di dalam organisasi.

5. Bagaimana memahami berbagai konsep kepemimpinan etis?
Jawaban:
Kepemimpinan etis dipahami melalui konsep integritas, keadilan, tanggung jawab, dan transparansi. Pemimpin etis mengambil keputusan berdasarkan nilai moral yang konsisten. Tindakan diukur dengan prinsip keadilan agar tidak ada pihak yang dirugikan. Transparansi diterapkan agar setiap keputusan dapat dipertanggungjawabkan. Pemimpin menggunakan kekuasaan secara terukur dan menghindari tindakan yang menimbulkan konflik kepentingan. Konsistensi antara ucapan dan perilaku menjadi indikator utama kepemimpinan etis.

6. Jelaskan dilema etika yang dihadapi pemimpin!
Jawaban:
Dilema etika muncul ketika pemimpin menghadapi dua pilihan yang sama sama memiliki konsekuensi moral. Situasinya bisa berupa kebutuhan mempertahankan keuntungan namun berisiko merugikan pihak tertentu. Dilema juga muncul ketika aturan perusahaan bertentangan dengan prinsip keadilan atau nilai moral. Pemimpin harus menilai dampak keputusan terhadap kelompok yang terdampak. Analisis jangka panjang diperlukan agar keputusan tidak hanya mengutamakan keuntungan sesaat. Pemimpin juga perlu mempertimbangkan nilai moral organisasi agar keputusan tetap selaras dengan prinsip dasar.

7. Bagaimana mengidentifikasi faktor individu & situasional yang memengaruhi perilaku etis?
Jawaban:
Faktor individu yang memengaruhi perilaku etis mencakup nilai hidup, pengalaman kerja, ketegasan moral, serta tingkat integritas. Faktor situasional mencakup budaya organisasi, tekanan kerja, arahan atasan, dan sistem penghargaan. Budaya yang menoleransi pelanggaran meningkatkan risiko perilaku tidak etis. Tekanan untuk mencapai target dapat memicu keputusan yang bertentangan dengan nilai moral. Sistem penghargaan yang hanya menilai hasil tanpa memperhatikan proses juga memicu perilaku tidak etis. Interaksi faktor individu dan faktor situasional membentuk cara seseorang merespons situasi moral.

8. Jelaskan cara menumbuhkan perilaku etis dan mencegah yang tidak etis!
Jawaban:
Perilaku etis tumbuh ketika organisasi memiliki aturan etika yang jelas. Pedoman perilaku diterjemahkan ke bentuk tindakan sehari hari agar mudah diterapkan. Pelatihan rutin diberikan untuk meningkatkan kemampuan mengenali risiko etis. Sistem penghargaan diperbaiki agar perilaku etis mendapat pengakuan. Mekanisme pelaporan disediakan agar pelanggaran dapat diungkap tanpa rasa takut. Keteladanan pemimpin menjadi kunci untuk membentuk budaya etis. Ketegasan dalam memberikan konsekuensi terhadap pelanggaran mencegah perilaku tidak etis berkembang. Hal ini menciptakan lingkungan kerja yang konsisten dan aman bagi seluruh anggota organisasi.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 14

by Taufan Al Amin -
ijin menjawab, Taufan Al Amin - 2421011028


1. Jelaskan tentang teori karismatik dan transformasional!
a. Kepemimpinan Karismatik
Teori kepemimpinan karismatik menjelaskan bahwa pemimpin memiliki daya tarik luar biasa (karisma) yang membuat pengikut merasakan kekaguman, kepercayaan, dan komitmen emosional. Pemimpin karismatik biasanya memiliki: Visi kuat, Kepercayaan diri tinggi, Kemampuan memengaruhi emosi pengikut, Perilaku heroik/berani mengambil risiko besar. Karisma bersifat personalis, yaitu melekat pada figur pemimpin itu sendiri.
b. Kepemimpinan Transformasional
Teori transformasional (Bass, 1985) memfokuskan pada kemampuan pemimpin untuk mengubah nilai, motivasi, dan perilaku pengikut, sehingga mereka bekerja melebihi ekspektasi. Pemimpin transformasional ditandai oleh empat elemen:
1. Idealized Influence – menjadi panutan moral & profesional.
2. Inspirational Motivation – memberikan motivasi dan harapan besar.
3. Intellectual Stimulation – mendorong kreativitas dan pemikiran kritis.
4. Individualized Consideration – memperhatikan kebutuhan perkembangan tiap individu.
Tujuan kepemimpinan transformasional lebih luas: mengubah organisasi secara berkelanjutan, bukan sekadar membangun ketertarikan pribadi.

2. Persamaan dan Perbedaan Kepemimpinan Karismatik dan Transformasional
Persamaan
Keduanya:
• Berorientasi pada visi masa depan.
• Menginspirasi dan memotivasi pengikut.
• Mengubah perilaku dan meningkatkan kinerja.
• Menggunakan komunikasi yang kuat dan penuh makna.
Perbedaan Utama
Aspek Kepemimpinan Karismatik Kepemimpinan Transformasional
Fokus utama Karisma pribadi & daya tarik pemimpin Perubahan organisasi & pengembangan pengikut
Basis pengaruh Emosi, kekaguman, kepercayaan personal Nilai bersama, visi kolektif, proses transformasi
Risiko Kultus individu, ketergantungan pada pemimpin Risiko rendah karena fokus pada sistem & tim
Ketergantungan pengikut Tinggi Rendah–sedang
Orientasi perubahan Jangka pendek–menengah Jangka panjang, sistematis

3. Menilai Manfaat dan Risiko Kepemimpinan Karismatik
Manfaat:
1. Meningkatkan motivasi karena pengikut merasa terinspirasi.
2. Mendorong tindakan cepat dalam situasi krisis.
3. Memunculkan kepercayaan diri kolektif karena pemimpin tampil kuat.
4. Membangun komitmen emosional terhadap misi organisasi.
Risiko:
1. Kultus individu, pengikut menjadi terlalu bergantung pada figur pemimpin.
2. Pengambilan keputusan berisiko tinggi, karena pemimpin sering terlalu percaya diri.
3. Manipulasi emosional, jika karisma digunakan untuk tujuan tidak etis.
4. Keruntuhan organisasi jika pemimpin pergi karena struktur tidak kuat.
5. Kurangnya checks and balances, karena pengikut enggan mengkritik pemimpin.

4. Cara Menginspirasi Lebih Banyak Komitmen dan Optimisme Pengikut
Pemimpin dapat meningkatkan komitmen dan optimisme melalui cara berikut:
1. Artikulasi visi yang jelas dan bermakna sehingga pengikut mengetahui tujuan bersama.
2. Komunikasi inspiratif, menggunakan bahasa yang membangkitkan harapan.
3. Memberi contoh nyata (role modeling) yang konsisten dengan nilai organisasi.
4. Memberikan tantangan yang realistis yang dapat dicapai namun mendorong pertumbuhan.
5. Memperkuat kepercayaan diri pengikut melalui pengakuan, umpan balik positif, dan dukungan moral.
6. Menumbuhkan budaya optimisme dengan menekankan peluang, bukan hambatan.
7. Menunjukkan keyakinan pada kemampuan tim, terutama saat menghadapi kesulitan besar.
Semakin besar rasa percaya diri yang ditanamkan pemimpin, semakin meningkat komitmen terhadap tujuan kolektif.

5. Memahami Berbagai Konsep Kepemimpinan Etis
Kepemimpinan etis adalah gaya kepemimpinan yang berlandaskan nilai moral, keadilan, dan tanggung jawab. Konsep-konsep utama dalam kepemimpinan etis meliputi:
a. Etika Deontologis
Pemimpin bertindak berdasarkan aturan moral dan kewajiban (benar–salah absolut).
b. Etika Teleologis (Konsekuensialis)
Penilaian moral berdasarkan hasil tindakan, terutama manfaat terbesar bagi banyak orang.
c. Etika Keutamaan (Virtue Ethics)
Fokus pada karakter moral pemimpin: kejujuran, integritas, kesabaran, keberanian.
d. Kepemimpinan Berbasis Nilai
Pemimpin menyelaraskan tujuan organisasi dengan nilai inti seperti keadilan, transparansi, dan tanggung jawab sosial.
e. Kepemimpinan Autentik
Pemimpin bersikap jujur pada diri sendiri, transparan, dan memiliki konsistensi antara ucapan dan tindakan.
f. Kepemimpinan Pelayan (Servant Leadership)
Pemimpin lebih memprioritaskan kepentingan pengikut dan masyarakat daripada kepentingan pribadi.

6. Dilema Etika yang Dihadapi Pemimpin
Pemimpin sering menghadapi situasi ketika dua pilihan sama-sama sulit atau bertentangan nilai. Beberapa dilema etika yang umum:
1. Kesetiaan vs. kejujuran
Misalnya, melindungi reputasi tim tetapi harus mengungkap kesalahan sebenarnya.
2. Keadilan vs. belas kasih
Menegakkan aturan disiplin atau memberi keringanan karena kondisi pribadi karyawan.
3. Keuntungan organisasi vs. tanggung jawab sosial
Mengejar profit atau mempertimbangkan dampak terhadap lingkungan/masyarakat.
4. Transparansi vs. kerahasiaan
Menyampaikan informasi penuh atau menjaga kerahasiaan demi keamanan organisasi.
5. Peran pribadi vs. profesional
Misalnya konflik kepentingan dalam pengambilan keputusan.
6. Kebutuhan jangka pendek vs. keberlanjutan jangka panjang
Contoh: PHK untuk efisiensi, tetapi merugikan kesejahteraan karyawan.

7. Mengidentifikasi Faktor Individu & Situasional yang Memengaruhi Perilaku Etis
Faktor Individu:
1. Nilai pribadi dan moralitas setiap individu.
2. Kepribadian, misalnya tingkat empati, integritas, dan locus of control.
3. Pengalaman hidup & pendidikan etika.
4. Kebutuhan pribadi, termasuk tekanan ekonomi.
5. Tingkat keberanian moral, kemampuan menolak tindakan salah.
Faktor Situasional:
1. Budaya organisasi, apakah mendukung perilaku etis atau tidak.
2. Tekanan kerja, misal target tinggi yang mendorong manipulasi.
3. Kepemimpinan atasan, apakah menjadi contoh etika atau tidak.
4. Sistem reward & punishment, apakah tindakan etis dihargai.
5. Norma kelompok, pengaruh rekan kerja.
6. Transparansi dan pengawasan, semakin besar kontrol, semakin kecil peluang perilaku tidak etis.
Perilaku etis muncul dari interaksi kompleks kedua faktor tersebut.

8. Cara Menumbuhkan Perilaku Etis dan Mencegah yang Tidak Etis
Organisasi harus menciptakan sistem dan budaya yang mendukung perilaku etis. Caranya:
a. Menyusun kode etik yang jelas
Aturan harus ditulis, dijelaskan, dan dikomunikasikan secara konsisten.
b. Memberikan pendidikan dan pelatihan etika
Pelatihan membantu karyawan mengenali dilema etika dan mengambil keputusan yang benar.
c. Menetapkan pemimpin sebagai role model
Pemimpin harus menunjukkan integritas dan konsistensi moral dalam perilaku sehari-hari.
d. Sistem reward & punishment yang adil
Penghargaan bagi perilaku etis dan sanksi tegas untuk perilaku tidak etis.
e. Membangun budaya transparansi
Keterbukaan dalam pelaporan masalah membuat pelanggaran lebih mudah terdeteksi.
f. Menciptakan mekanisme pelaporan aman (whistleblowing)
Karyawan harus merasa aman melaporkan pelanggaran tanpa takut dibalas.
g. Mengurangi tekanan situasional
Misalnya target yang terlalu tinggi dapat melemahkan komitmen etis.
h. Mendorong dialog dan refleksi etika
Diskusi rutin mengenai nilai-nilai organisasi memperkuat perilaku moral.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 14

by Dhika Pratama -

Mohon ijin menjawab Evaluasi Sesi-14, ibuu…

Dhika Pratama

NPM 2421011026 (Kelompok-9)

 

SOAL-1Teori Kepemimpinan Karismatik dan Transformasional

Kepemimpinan Karismatik
Kepemimpinan karismatik menjelaskan bahwa pemimpin memiliki “kekuatan personal yang memikat” sehingga para pengikut merasakan daya tarik emosional yang kuat.
Ciri-cirinya antara lain:

  • Pemimpin memiliki gaya komunikasi yang penuh magnetisme.
  • Membangkitkan kekaguman dan loyalitas emosional.
  • Memiliki visi yang sangat kuat dan meyakinkan.
  • Pengikut merasakan keterikatan pribadi kepada pemimpin.

Karisma bukan sekadar pesona, tetapi kombinasi kepercayaan diri tinggi, kemampuan berkomunikasi luar biasa, dan keyakinan kuat pada visi masa depan.

 

Kepemimpinan Transformasional
Kepemimpinan transformasional berfokus pada mengubah organisasi dan individu ke arah yang lebih baik melalui visi, motivasi, intelektualisasi, dan perhatian personal. Bass dan Avolio menyebut empat indikator utama:

  1. Idealized Influence → menjadi teladan yang dikagumi.
  2. Inspirational Motivation → memberikan harapan dan arah masa depan.
  3. Intellectual Stimulation → mendorong inovasi dan berpikir kritis.
  4. Individualized Consideration → memberi perhatian unik pada setiap individu.

Pemimpin transformasional tidak hanya memikat, tetapi juga mengembangkan kapasitas pengikut menuju pertumbuhan yang berkelanjutan.

 

SOAL-2 Persamaan dan Perbedaan Kepemimpinan Karismatik dan Transformasional

Persamaan:

  • Keduanya memiliki visi masa depan yang kuat.
  • Keduanya menggerakkan motivasi pengikut.
  • Keduanya sangat berorientasi pada perubahan besar.
  • Keduanya membutuhkan kemampuan komunikasi tinggi.

Perbedaan:

Aspek

Karismatik

Transformasional

Fokus utama

Kepribadian pemimpin dan pesona pribadi

Perubahan jangka panjang organisasi

Sumber pengaruh

Emosi & kekaguman pengikut

Nilai, visi, dan proses pembelajaran

Kebergantungan pengikut

Tinggi pada pemimpin

Menumbuhkan kemandirian pengikut

Risiko

Kultus individu

Konflik perubahan, tapi tidak memusatkan kuasa

Orientasi

Pengikut mengikuti pemimpin

Pengikut diberdayakan menjadi pemimpin

Kesimpulan:
Semua pemimpin transformasional itu karismatik, tetapi tidak semua pemimpin karismatik itu transformasional.

SOAL-3 Manfaat dan Risiko Kepemimpinan Karismatik

Manfaat:

  1. Motivasi tinggi → Karisma mampu membangkitkan semangat dalam krisis.
  2. Visi yang meyakinkan → Membuat organisasi bergerak cepat menuju arah yang jelas.
  3. Kesatuan emosional → Pengikut lebih kompak dan energik.
  4. Keberanian mengambil keputusan sulit → Pemimpin karismatik sering menjadi motor perubahan drastis.

Risiko:

  1. Ketergantungan berlebihan pada pemimpin → Organisasi jatuh ketika pemimpin pergi.
  2. Potensi penyalahgunaan kekuasaan → Karisma dapat menjadi alat manipulasi.
  3. Kultus individu → Pengikut lebih setia pada sosok, bukan nilai organisasi.
  4. Kurangnya mekanisme kontrol → Keputusan pemimpin bisa diterima tanpa kritik.

Kepemimpinan karismatik adalah pedang bermata dua: sangat kuat namun berisiko besar tanpa etika dan pengawasan.

 

SOAL-4 Cara Menginspirasi Komitmen dan Optimisme Pengikut

Untuk membangkitkan komitmen dan optimisme, pemimpin harus menyentuh akal sekaligus hati.

Langkah-langkahnya:

  1. Komunikasikan visi dengan energi
    Gunakan bahasa yang menyentuh makna: mengapa pekerjaan ini penting bagi bangsa, masyarakat, dan masa depan organisasi.
  2. Ceritakan narasi harapan
    Pengikut terinspirasi oleh cerita, bukan slogan. Cerita kemenangan kecil sangat berpengaruh.
  3. Berikan tujuan yang menantang namun mungkin dicapai
    Tantangan mengangkat kepercayaan diri tim.
  4. Tampilkan keteladanan nyata
    Komitmen dan optimisme tumbuh jika pemimpin menjadi contoh hidup dari nilai yang ia ajarkan.
  5. Berikan pengakuan terhadap kontribusi sekecil apa pun
    Pengakuan adalah bahan bakar emosi positif.
  6. Bangun budaya apresiasi dan partisipasi
    Semakin orang merasa dihargai, semakin kuat komitmen mereka.

 

SOAL-5 Memahami Berbagai Konsep Kepemimpinan Etis

Kepemimpinan etis berakar pada keyakinan bahwa pemimpin harus menjadi figur moral sekaligus penggerak organisasi. Beberapa konsep utamanya:

A. Deontologi (Kewajiban Moral)
Pemimpin harus melakukan yang benar karena itu adalah kewajiban moral, bukan karena konsekuensinya.

B. Teleologi (Konsekuensialisme / Utilitarianisme)
Keputusan dinilai etis ketika menghasilkan manfaat terbesar bagi banyak orang.

C. Virtue Ethics (Etika Kebajikan)
Fokus pada karakter pemimpin: integritas, kejujuran, keberanian, keadilan.

D. Servant Leadership
Pemimpin etis bertanya: “Apa yang paling bermanfaat bagi orang yang saya layani?”

E. Ethical Climate & Ethical Culture
Organisasi dengan iklim etis kuat memiliki aturan, norma, dan prosedur yang mencegah pelanggaran.

Pemimpin etis adalah pemimpin yang keputusannya selaras dengan nilai moral, kemanusiaan, dan tanggung jawab publik.

 

SOAL-6 Dilema Etika yang Dihadapi Pemimpin

Dilema etika adalah situasi ketika pemimpin harus memilih antara dua nilai moral yang sama-sama benar. Contoh dilema:

  1. Kejujuran vs Loyalitas
    Apakah harus mengungkap kesalahan rekan kerja (jujur) atau melindunginya (loyal)?
  2. Keadilan vs Kasih sayang
    Apakah memberikan sanksi tegas atau mempertimbangkan kondisi pribadi pegawai?
  3. Kepentingan individu vs kepentingan organisasi
    Memberikan reward kepada individu hebat atau menjaga perasaan tim lain?
  4. Rahasia vs Transparansi
    Mana yang harus dibuka ke publik, mana yang harus dijaga?
  5. Hasil cepat vs proses yang benar
    Tekanan target sering membuat proses etis dilewati.

Pemimpin dituntut berani memilih yang paling benar, bukan yang paling mudah.

 

SOAL-7 Mengidentifikasi Faktor Individu dan Situasional yang Mempengaruhi Perilaku Etis

Perilaku etis dipengaruhi oleh dua kelompok faktor:

A. Faktor Individu:

  • Nilai moral pribadi
  • Karakter (integritas, keberanian moral)
  • Religiusitas
  • Tingkat pendidikan
  • Pengalaman
  • Kepribadian (misalnya conscientiousness)

B. Faktor Situasional:

  • Budaya organisasi
  • Tekanan atasan atau target berlebihan
  • Sistem reward & punishment
  • Aturan internal (SOP)
  • Contoh nyata dari pimpinan
  • Kelompok sosial (peer pressure)

Kesimpulan:
Pegawai baik sekalipun bisa bertindak tidak etis jika lingkungannya mendukung pelanggaran. Oleh karena itu organisasi harus membangun sistem yang memperkuat etika.

 

SOAL-8 Cara Menumbuhkan Perilaku Etis dan Mencegah Perilaku Tidak Etis

Untuk membangun organisasi yang berintegritas, pemimpin harus menciptakan lingkungan yang membuat perilaku etis menjadi kebiasaan, bukan sekadar instruksi.

Langkah-langkahnya:

  1. Berikan teladan etis dari pimpinan tertinggi
    Perilaku pemimpin adalah “peraturan pertama” yang diikuti pegawai.
  2. Perkuat aturan dan mekanisme kontrol
    SOP, pengawasan melekat (waskat), kode etik, audit, whistleblowing system, semuanya harus hidup.
  3. Lakukan sosialisasi etika secara konsisten
    Pelatihan etika bukan acara satu kali; ia harus menjadi budaya.
  4. Ciptakan budaya transparansi
    Semakin terbuka suatu organisasi, semakin kecil peluang terjadinya pelanggaran.
  5. Berikan reward pada perilaku etis, bukan hanya pada kinerja
    Banyak organisasi salah fokus: hanya mengejar target tanpa menilai cara mencapainya.
  6. Tindak cepat pelanggaran
    Ketika pelanggaran dibiarkan, itu menjadi “izin” untuk pelanggaran berikutnya.
  7. Bangun sistem pengaduan aman dan terpercaya
    Pengadu berani bersuara jika sistem melindungi mereka.
  8. Kembangkan kepemimpinan berbasis nilai
    Pemimpin harus mengingatkan bahwa etika bukan beban, melainkan fondasi kepercayaan publik.

 Terimakasih Ibuuu...


In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 14

by FEBIOLA EFRIANI -
Selamat siang ibu proff, izin menjawab semua pertanyaan nya..
Febiola Efriani (2421011015)

1.Proses perolehan atau hilangnya kekuasaan dalam organisasi
Kekuasaan muncul ketika seseorang dipercaya, memiliki kemampuan, dan memegang posisi penting. Kekuasaan bisa hilang jika pemimpin gagal memenuhi ekspektasi, kehilangan dukungan tim, atau reputasinya menurun.

2. Konsekuensi kekuasaan terhadap efektivitas kepemimpinan
Kekuasaan dapat mempermudah pemimpin mengarahkan tim dan mengambil keputusan. Jika disalahgunakan, kekuasaan justru menurunkan motivasi dan merusak hubungan kerja.

3. Cara menggunakan kekuasaan secara efektif
Pemimpin harus menggunakan kekuasaan untuk membangun kerja sama, memberikan dukungan, dan menjadi contoh. Pendekatan persuasif lebih efektif daripada paksaan.

4. Jenis taktik pengaruh dalam organisasi
Taktik pengaruh meliputi logika, inspirasi, konsultasi, imbalan, dan hubungan personal. Taktik keras seperti tekanan biasanya hanya efektif sementara. Pemilihan taktik disesuaikan dengan situasi.

5. Mengapa hubungan diadik berbeda berkembang antara pemimpin dan bawahan
Hubungan berbeda karena karakter, kemampuan, dan loyalitas bawahan tidak sama. Pemimpin cenderung lebih dekat dengan bawahan yang dapat dipercaya dan kompeten.

6. Bagaimana pemimpin dipengaruhi oleh atribusi tentang bawahan
Pemimpin menilai perilaku bawahan berdasarkan penyebab yang diyakini. Kesalahan bawahan akibat faktor internal biasanya ditanggapi lebih tegas, sementara faktor eksternal diberi toleransi.

7. Cara mengelola bawahan dengan kekurangan kinerja
Pemimpin perlu mencari penyebab rendahnya kinerja, lalu memberi bimbingan, pelatihan, atau arahan yang jelas. Jika tidak ada perbaikan, baru diterapkan tindakan disiplin.

8. Memahami atribusi dan teori implisit
Atribusi menjelaskan penyebab perilaku orang lain, sedangkan teori implisit adalah keyakinan tentang bagaimana orang seharusnya bertindak. Keduanya memengaruhi penilaian pemimpin dan keputusan yang diambil.

9. Cara pengikut memiliki hubungan yang lebih efektif dengan pemimpin
Pengikut dapat menjalin hubungan baik dengan bersikap terbuka, jujur, disiplin, dan proaktif. Komunikasi yang lancar dan kerja sama yang baik meningkatkan kepercayaan pemimpin.

Terima kasih banyak ibu..
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 14

by ALBINO PRASHESARB -

Izin menjawab evaluasi 14 Ibu

Albino Prashesarb_2421011001

1. Jelaskan tentang  teori karismatik dan transformasional!

Jawab

Teori Karismatik dan Transformasional

Teori kepemimpinan karismatik berfokus pada sifat-sifat pemimpin yang menginspirasi ketaatan, loyalitas, dan dedikasi yang kuat dari para pengikut. Pemimpin karismatik sering kali memiliki visi yang menarik, keterampilan komunikasi yang luar biasa, keyakinan diri yang kuat, dan perilaku yang dianggap heroik atau luar biasa, yang membuat pengikut mengidentifikasi secara emosional dengan mereka dan ingin meniru mereka.

Teori Kepemimpinan Transformasional menjelaskan bagaimana pemimpin memotivasi pengikut untuk melampaui kepentingan diri mereka sendiri demi kebaikan organisasi atau kelompok. Kepemimpinan transformasional terdiri dari empat komponen utama: Pengaruh Ideal (menjadi teladan), Motivasi Inspirasional (mengartikulasikan visi yang menarik dan menantang), Stimulasi Intelektual (mendorong kreativitas dan pemecahan masalah yang inovatif), dan Pertimbangan Individual (memperhatikan kebutuhan perkembangan pengikut secara individu).

Image of transformational leadership components diagram

2. Bagaimana persamaan dan perbedaan antara kepemimpinan karismatik dan transformasional?

Jawab

Persamaan utama antara kepemimpinan karismatik dan transformasional adalah bahwa keduanya melibatkan visi dan motivasi pengikut untuk mencapai tujuan di luar ekspektasi normal. Karisma sering dianggap sebagai salah satu komponen kunci dari kepemimpinan transformasional (Pengaruh Ideal dan Motivasi Inspirasional). Perbedaan utamanya terletak pada fokus: Karismatik lebih berfokus pada sifat dan persona pemimpin yang menimbulkan pengabdian emosional, sedangkan Transformasional lebih berfokus pada proses dan perilaku pemimpin yang mengubah dan mengembangkan pengikut, memberdayakan mereka untuk menjadi pemimpin diri mereka sendiri dan mempromosikan perubahan yang signifikan dalam organisasi.

3. Bagaimana menilai manfaat dan risiko kepemimpinan karismatik?

Jawab

Manfaat utama dari kepemimpinan karismatik adalah kemampuannya untuk memotivasi pengikut secara intens dan menghasilkan komitmen, kinerja, dan kepuasan kerja yang tinggi, terutama selama masa krisis atau ketika diperlukan perubahan radikal. Karisma dapat menginspirasi upaya ekstra dan loyalitas yang teguh. Namun, risiko terbesarnya adalah potensi untuk menjadi manipulatif atau tidak etis (kepemimpinan karismatik yang tidak etis), di mana pemimpin mungkin menggunakan pengaruh mereka demi kepentingan pribadi atau merugikan organisasi, serta risiko ketergantungan pengikut yang berlebihan pada pemimpin, membuat suksesi menjadi sulit.

4. Jelaskan cara menginspirasi lebih banyak komitmen dan optimisme pengikut!

Jawab

Seorang pemimpin dapat menginspirasi komitmen dan optimisme pengikut dengan beberapa cara. Pertama, dengan mengartikulasikan visi yang jelas, bermakna, dan menarik tentang masa depan, yang melampaui status quo dan menantang pengikut. Kedua, melalui komunikasi yang kuat dan persuasif yang menyampaikan keyakinan, harapan, dan optimisme. Ketiga, dengan menjadi teladan (memimpin dengan memberi contoh) dan menunjukkan pengorbanan diri demi visi. Keempat, dengan memberikan dorongan, pengakuan, dan dukungan secara teratur, serta memberikan stimulasi intelektual yang membuat pengikut merasa dihargai kontribusinya.

5. Bagaimana memahami berbagai konsep kepemimpinan etis?

Jawab

Konsep kepemimpinan etis mencakup beberapa sudut pandang penting. Kepemimpinan Etis secara umum mengacu pada perilaku pemimpin yang tepat dan tindakan hubungan interpersonal yang tepat, serta promosi perilaku tersebut kepada pengikut melalui komunikasi, penguatan, dan pengambilan keputusan. Ini sering dilihat melalui lensa Kepemimpinan Otoritatif (Authentic Leadership), yang menekankan transparansi, moralitas yang diinternalisasi, dan pemrosesan yang seimbang; Kepemimpinan Abdi (Servant Leadership), yang memprioritaskan kesejahteraan dan pengembangan pengikut di atas kepentingan pemimpin; dan Kepemimpinan Transparan (Ethical Transparency), yang menekankan keterbukaan dan akuntabilitas.


6. Jelaskan dilema etika yang dihadapi pemimpin!

Jawab 

Pemimpin secara teratur menghadapi dilema etika, yaitu situasi di mana tidak ada pilihan yang benar atau salah secara absolut, atau di mana berbagai nilai bertentangan. Dilema umum termasuk memilih antara kepentingan pribadi dan kepentingan organisasi/publik, atau antara keadilan dan belas kasihan. Contoh konkret meliputi: dilema pemangkasan biaya (layoff) yang meningkatkan keuntungan tetapi menyakiti karyawan; memutuskan apakah akan mengungkapkan informasi sensitif yang merugikan perusahaan tetapi transparan; atau berhadapan dengan konflik kepentingan saat memberikan kontrak. Menyelesaikan dilema ini sering memerlukan pertimbangan moral yang cermat dan berpegang pada nilai-nilai inti.

7. Bagaimana mengidentifikasi faktor individu & situasional yang memengaruhi perilaku etis?

Jawab

Perilaku etis dipengaruhi oleh interaksi antara faktor individu dan faktor situasional. Faktor individu mencakup tahap perkembangan moral seseorang (apakah mereka berfokus pada hadiah/hukuman, ekspektasi sosial, atau prinsip universal), nilai-nilai pribadi, kekuatan ego (seberapa besar keyakinan pada kemampuan moral diri sendiri), dan lokasi kendali (locus of control) (apakah mereka percaya dapat mengendalikan nasib mereka sendiri atau tidak). Faktor situasional mencakup budaya organisasi (nilai dan norma yang berlaku), intensitas moral (tingkat bahaya atau pentingnya isu etis), dan tekanan untuk berkinerja yang dapat mendorong jalan pintas yang tidak etis.

8. Jelaskan cara menumbuhkan perilaku etis dan mencegah yang tidak etis!

Jawab

Untuk menumbuhkan perilaku etis, pemimpin harus menetapkan standar etika yang jelas (kode etik), berkomunikasi standar tersebut secara teratur, dan yang paling penting, menjadi teladan etis dalam setiap tindakan dan keputusan. Penting untuk menghargai perilaku etis dan menghukum perilaku yang tidak etis secara konsisten. Untuk mencegah perilaku tidak etis, organisasi harus menerapkan mekanisme akuntabilitas yang kuat, saluran pelaporan (whistleblowing) yang aman, dan menyediakan pelatihan etika yang berfokus pada penalaran moral dan pengakuan dilema etika.

In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 14

by KATTY CINTIASARI -
Nama : Katty Cintiasari NPM : 2421011016
Izin menjawab
1. Konsep Teori Karismatik dan Transformasional
Kedua teori ini berpusat pada kekuatan pengaruh pemimpin terhadap pengikut:
• Teori Kepemimpinan Karismatik: Menjelaskan bahwa pemimpin memengaruhi pengikut melalui daya tarik kepribadian yang luar biasa (karisma), keyakinan diri yang kuat, dan kemampuan untuk mengartikulasikan visi masa depan yang radikal. Hubungan ini bersifat emosional; pengikut terinspirasi dan percaya penuh pada kebenaran visi dan takdir pemimpin, sering kali muncul saat krisis.
• Teori Kepemimpinan Transformasional: Menggambarkan pemimpin yang mengubah dan mengangkat motivasi, moral, dan etika pengikut. Pemimpin transformasional melampaui kepentingan diri pengikut menuju tujuan kolektif yang lebih tinggi. Mereka melakukannya melalui motivasi inspirasional dan pertimbangan individu, memberdayakan pengikut untuk menjadi pemimpin bagi diri mereka sendiri.

2. Persamaan dan Perbedaan antara Karismatik dan Transformasional
Persamaan
Keduanya merupakan gaya kepemimpinan yang berfokus pada motivasi dan inspirasi yang melampaui imbalan atau hukuman sederhana. Karisma sering dianggap sebagai salah satu dari empat komponen yang membentuk kepemimpinan transformasional (yaitu, pengaruh ideal).
Perbedaan
Perbedaan utamanya terletak pada fokus akhir. Kepemimpinan Karismatik berpusat pada keterikatan emosional dan keyakinan pada pribadi pemimpin itu sendiri. Sementara Kepemimpinan Transformasional berfokus pada perubahan dan pengembangan pengikut (pemberdayaan) agar mereka mampu mencapai potensi diri dan melanjutkan transformasi bahkan setelah pemimpin tidak ada.
3. Menilai Manfaat dan Risiko Kepemimpinan Karismatik

Kepemimpinan karismatik membawa kekuatan besar, tetapi juga ancaman signifikan:

Manfaat: Membawa inspirasi dan komitmen tinggi yang menghasilkan kinerja luar biasa. Karisma sangat efektif untuk memobilisasi perubahan cepat di tengah resistensi karena pengikut termotivasi oleh kepercayaan emosional.

Risiko: Potensi penyalahgunaan yang tinggi. Pemimpin karismatik yang narsistik dapat menggunakan pengaruhnya untuk tujuan pribadi yang merusak organisasi. Selain itu, tim dapat mengalami ketergantungan berlebihan pada pemimpin, membuat organisasi rapuh jika pemimpin tersebut pergi atau gagal.

4. Cara Menginspirasi Lebih Banyak Komitmen dan Optimisme Pengikut

Menginspirasi adalah tugas yang berpusat pada hubungan dan makna:

Sajikan Visi yang Memberi Harapan: Komunikasikan gambaran masa depan yang tidak hanya realistis tetapi juga bermakna dan menarik secara etis. Visi harus memberikan alasan kuat untuk berjuang.

Tunjukkan Optimisme yang Terukur: Pemimpin harus menjadi sumber energi dan keyakinan. Tunjukkan kepercayaan kuat pada kemampuan kolektif tim (collective efficacy) untuk mengatasi hambatan.

Libatkan dalam Penciptaan Strategi: Beri pengikut otonomi dan kesempatan berkontribusi pada keputusan strategis. Kepemilikan ini akan secara otomatis meningkatkan komitmen mereka.

Hargai Upaya dan Pembelajaran: Fokus pada upaya dan kemajuan, bukan hanya hasil akhir. Pengakuan yang tulus dan merayakan pembelajaran kecil akan menjaga semangat dan optimisme tim tetap tinggi.

5. Memahami Berbagai Konsep Kepemimpinan Etis

Kepemimpinan etis adalah payung besar yang mencakup berbagai dimensi moral:

Kepemimpinan Etis (Ethical Leadership): Pemimpin yang secara konsisten bertindak sebagai teladan moral dan secara eksplisit mendorong perilaku etis di antara pengikut, menggunakan sistem penghargaan dan disiplin untuk memperkuat standar.

Kepemimpinan Otentik (Authentic Leadership): Berkaitan dengan integritas dan kejujuran diri. Pemimpin harus bertindak sesuai dengan nilai-nilai pribadi mereka yang terdalam, menunjukkan transparansi, dan membangun kepercayaan melalui keterbukaan.

Kepemimpinan Pelayan (Servant Leadership): Intinya adalah mengutamakan kebutuhan dan pertumbuhan pengikut dan komunitas di atas kepentingan pribadi. Pemimpin di sini melayani, bukan didominasi.

6. Dilema Etika yang Dihadapi Pemimpin

Dilema etika adalah situasi sulit di mana tidak ada pilihan yang benar-benar sempurna, sering kali melibatkan pertentangan nilai:

Keadilan vs. Kemanfaatan (Utilitarianisme): Memilih antara menegakkan aturan secara ketat (keadilan) atau melanggarnya demi menghasilkan manfaat terbesar bagi banyak orang (pragmatisme).

Jangka Pendek vs. Jangka Panjang: Memilih keuntungan instan (misalnya, memotong biaya keamanan untuk profit cepat) versus investasi etis yang berkelanjutan (misalnya, teknologi ramah lingkungan yang mahal).

Dilema Privasi vs. Keterbukaan: Memutuskan seberapa banyak informasi yang harus diungkapkan kepada tim atau publik ketika kebenaran dapat menyebabkan ketakutan atau ketidakstabilan.

7. Mengidentifikasi Faktor Individu & Situasional yang Memengaruhi Perilaku Etis

Perilaku etis adalah produk dari interaksi antara karakter internal dan lingkungan luar:

Faktor Individu (Internal):

Perkembangan Moral: Kematangan moral seseorang (apakah ia bertindak berdasarkan menghindari hukuman atau prinsip etika universal).

Nilai Inti dan Egoisme: Seberapa kuat komitmen individu terhadap kejujuran dan seberapa besar dorongan untuk kepentingan diri pribadi (ego) mengalahkan nilai kolektif.

Faktor Situasional (Eksternal):
Budaya Organisasi: Apakah norma dan sejarah organisasi secara implisit atau eksplisit mentoleransi perilaku curang.
Sistem Penghargaan: Struktur imbalan yang hanya menghargai hasil finansial tanpa memperhatikan bagaimana hasil itu dicapai, secara tidak langsung mendorong perilaku tidak etis.
Tekanan Atasan: Perilaku dan contoh etika dari pemimpin adalah faktor situasional terkuat; atasan berfungsi sebagai model etika yang paling mudah ditiru.

8. Cara Menumbuhkan Perilaku Etis dan Mencegah yang Tidak Etis
Menumbuhkan budaya etis memerlukan komitmen struktural dan personal:
Teladan dari Atas (Role Modeling): Perilaku pemimpin puncak harus menjadi cerminan sempurna dari standar etika yang diharapkan. Etika harus dilihat, bukan hanya diucapkan.
Menetapkan dan Menegakkan Kode Etik: Kembangkan kode etik yang jelas dan yang paling penting, tegakkan secara konsisten tanpa memandang jabatan atau kinerja pelaku. Ketidakadilan dalam penegakan aturan merusak seluruh budaya etika.

Pelatihan dan Dialog Etika: Lakukan pelatihan yang fokus pada diskusi dilema nyata dan pengembangan kemampuan penalaran moral, bukan sekadar menghafal aturan.

Ciptakan Mekanisme Pelaporan yang Aman: Sediakan jalur anonim dan aman (whistleblowing) bagi karyawan untuk melaporkan pelanggaran tanpa takut pembalasan, menunjukkan bahwa organisasi serius dalam melindungi kebenaran.

Audit dan Evaluasi Budaya: Secara berkala, ukur dan evaluasi bagaimana keputusan dibuat di lapangan, memastikan bahwa nilai-nilai etika diintegrasikan ke dalam proses bisnis, bukan hanya pajangan di dinding.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 14

by Beni Yusuf -

Izin menjawab evaluasi 14

Beni Yusuf 2421011031

 

1. Teori Kepemimpinan Karismatik dan Transformasional

 Kepemimpinan Karismatik

Kepemimpinan Karismatik berpusat pada seorang pemimpin yang memiliki daya tarik luar biasa (karisma) dan kemampuan persuasif yang kuat yang menginspirasi kepatuhan, pengabdian, dan identifikasi pengikut.

·        Fokus: Kualitas pribadi (daya tarik) dan visi heroik pemimpin.

·        Pengikut: Merasa diangkat dan diilhami oleh kehadiran pemimpin dan seringkali mengidentifikasi diri secara emosional dengan pemimpin.

·        Hasil: Perubahan dalam sikap dan perilaku pengikut yang didorong oleh keyakinan dan kepercayaan kepada pemimpin.

 Kepemimpinan Transformasional

Kepemimpinan Transformasional berfokus pada mengubah pengikut dengan meningkatkan kesadaran mereka tentang pentingnya hasil tugas dan membujuk mereka untuk melampaui kepentingan diri sendiri demi kepentingan organisasi atau tim.

Kepemimpinan transformasional terdiri dari Empat "I":

a)     Pengaruh Ideal (Idealized Influence): Pemimpin bertindak sebagai panutan (role model) yang dikagumi, dihormati, dan dipercaya (mirip dengan karisma, tetapi berfokus pada perilaku etis dan bermoral).

b)     Motivasi Inspirasional (Inspirational Motivation): Pemimpin mengartikulasikan visi yang menarik dan optimis, menggunakan simbol, dan mengekspresikan tujuan penting dengan cara yang mudah dipahami.

c)     Stimulasi Intelektual (Intellectual Stimulation): Pemimpin mendorong kreativitas dengan mempertanyakan asumsi, mengubah cara berpikir, dan mempromosikan pemecahan masalah baru.

d)     Pertimbangan Individual (Individualized Consideration): Pemimpin memberikan perhatian pribadi pada kebutuhan pengikut, bertindak sebagai pelatih atau mentor.

 

2. Persamaan dan Perbedaan

Fitur

Kepemimpinan Karismatik

Kepemimpinan Transformasional

Persamaan

Keduanya mengandalkan visi, inspirasi, dan pengaruh pemimpin terhadap pengikut untuk mencapai perubahan atau kinerja yang luar biasa. Keduanya berfokus pada peningkatan motivasi dan moral.

Fokus Utama

Kualitas pribadi yang luar biasa dan daya tarik emosional pemimpin (karisma).

Perilaku pemimpin yang memberdayakan, memotivasi, dan mengembangkan pengikut (Empat "I").

Tujuan

Menciptakan pengabdian dan identifikasi emosional pengikut terhadap pemimpin dan visi.

Mengubah nilai, keyakinan, dan kebutuhan pengikut agar selaras dengan misi organisasi, mempromosikan perkembangan pengikut.

Lingkup

Lebih sempit; dapat menjadi komponen dari kepemimpinan transformasional (Pengaruh Ideal).

Lebih luas; mencakup karisma tetapi juga fokus pada pengembangan, stimulasi, dan pertimbangan individual.

 

3. Manfaat dan Risiko Kepemimpinan Karismatik

✅ Manfaat

·        Meningkatkan Motivasi: Karisma pemimpin dapat memberikan energi kepada pengikut, membuat mereka percaya bahwa segala sesuatu mungkin dilakukan.

·        Visi yang Jelas: Pemimpin karismatik mampu mengartikulasikan visi yang memukau dan mudah diingat, memberikan arah yang kuat.

·        Kinerja Luar Biasa: Pengabdian pengikut dapat menghasilkan kinerja yang jauh melampaui harapan normal.

·        Memfasilitasi Perubahan: Karisma dapat membantu mengatasi resistensi terhadap perubahan besar dalam organisasi.

 Risiko

·        Ketergantungan Berlebihan: Pengikut mungkin menjadi terlalu bergantung pada pemimpin, sehingga organisasi berjuang ketika pemimpin tersebut pergi.

·        Kegagalan Visi: Jika visi pemimpin salah atau tidak etis, energi yang sama dapat digunakan untuk tujuan yang merusak.

·        Kelemahan Pengambilan Keputusan: Karisma dapat membayangi penilaian kritis dan menghambat umpan balik yang jujur dari pengikut.

·        Bahaya Kepemimpinan Narsistik: Pemimpin karismatik mungkin tergelincir menjadi narsistik dan memprioritaskan kepentingan atau ego pribadi mereka di atas kepentingan organisasi (karisma yang terpersonalisasi vs. tersosialisasikan).

 

4. Cara Menginspirasi Lebih Banyak Komitmen dan Optimisme Pengikut

Pemimpin dapat menggunakan teknik Motivasi Inspirasional (bagian dari kepemimpinan transformasional) untuk mencapai hal ini:

1.     Artikulasikan Visi yang Meyakinkan: Ciptakan gambaran masa depan yang menarik dan ambisius yang dapat dibayangkan oleh pengikut.

2.     Gunakan Komunikasi Simbolis: Gunakan metafora, cerita, dan analogi yang kuat untuk menyederhanakan pesan dan membuatnya emosional.

3.     Tunjukkan Keyakinan Diri: Tunjukkan kepercayaan pada visi, dan yang lebih penting, percaya pada kemampuan pengikut untuk mencapainya (efikasi diri).

4.     Tingkatkan Nilai Tugas: Jelaskan mengapa pekerjaan itu penting dan bagaimana pekerjaan itu berkontribusi pada tujuan yang lebih besar, melampaui kepentingan pribadi.

5.     Tetapkan Harapan Tinggi: Tantang pengikut dengan menetapkan tujuan yang ambisius tetapi dapat dicapai, dan berikan dorongan positif secara teratur.

 

5. Memahami Berbagai Konsep Kepemimpinan Etis

Kepemimpinan Etis melibatkan perilaku yang benar dan pantas serta mempromosikan perilaku tersebut kepada pengikut melalui komunikasi, penegakan, dan pengambilan keputusan.

a)     Kepemimpinan Pelayan (Servant Leadership): Fokus utama pemimpin adalah untuk melayani pengikutnya, organisasi, dan komunitas. Pemimpin memprioritaskan kebutuhan orang lain, bukan kebutuhannya sendiri.

b)     Kepemimpinan Autentik (Authentic Leadership): Pemimpin bertindak sesuai dengan nilai-nilai, keyakinan, dan kepribadian mereka yang sebenarnya. Mereka menunjukkan transparansi, moralitas, dan keterbukaan terhadap pengikut.

c)     Kepemimpinan Moral (Moral Leadership): Ini berfokus pada tindakan benar dan mempromosikan kode etik di tempat kerja. Pemimpin dilihat sebagai "manajer moral" yang secara aktif memengaruhi perilaku etis.

 

6. Dilema Etika yang Dihadapi Pemimpin

Dilema etika adalah situasi di mana pemimpin harus memilih di antara dua atau lebih tindakan, yang masing-masing memiliki justifikasi moral yang kuat, tetapi satu tidak dapat dipilih tanpa melanggar yang lain.

·        Keadilan vs. Efisiensi: Memilih antara keputusan yang adil (misalnya, mempertahankan karyawan yang kinerjanya buruk karena alasan kemanusiaan) atau keputusan yang efisien (misalnya, memberhentikannya untuk meningkatkan kinerja perusahaan).

·        Kebenaran vs. Kesetiaan: Memutuskan apakah akan mengungkapkan kebenaran yang dapat merusak citra organisasi (misalnya, whistleblowing) atau tetap setia dan diam (kesetiaan kepada atasan/perusahaan).

·        Individu vs. Komunitas/Organisasi: Membuat keputusan yang menguntungkan kelompok besar (misalnya, PHK massal untuk menyelamatkan perusahaan) tetapi merugikan individu (karyawan yang di-PHK).

·        Jangka Pendek vs. Jangka Panjang: Mengambil keputusan yang menghasilkan keuntungan cepat tetapi merusak lingkungan atau reputasi organisasi di masa depan.

 

7. Mengidentifikasi Faktor Individu & Situasional yang Memengaruhi Perilaku Etis

 Faktor Individu

·        Tahap Perkembangan Moral Kognitif: Mengacu pada sejauh mana seseorang dapat memahami dan menilai isu-isu moral (dapat diklasifikasikan sebagai prakonvensional, konvensional, atau pascakonvensional).

·        Nilai Pribadi: Prinsip-prinsip inti tentang apa yang benar dan penting bagi individu.

·        Sifat Kepribadian: Misalnya, orang dengan lokus kontrol internal lebih cenderung mengambil tanggung jawab atas tindakan etis/tidak etis, sementara Machiavellianisme dapat membuat seseorang lebih bersedia untuk menggunakan tipu daya demi kepentingan pribadi.

 Faktor Situasional

·        Budaya Organisasi: Norma, nilai, dan harapan yang memandu perilaku (misalnya, budaya yang menekankan hasil di atas segalanya dapat mendorong perilaku tidak etis).

·        Kode Etik: Keberadaan dan penegakan aturan formal yang menentukan perilaku yang dapat diterima.

·        Tekanan Atasan: Tekanan yang dirasakan dari atasan untuk mencapai target dapat memaksa karyawan untuk bertindak tidak etis.

·        Konsekuensi dan Hukuman: Sistem imbalan dan hukuman dalam organisasi yang menunjukkan bahwa perilaku etis dihargai dan perilaku tidak etis dihukum.

 

8. Cara Menumbuhkan Perilaku Etis dan Mencegah yang Tidak Etis

1.     Tetapkan Kode Etik dan Kebijakan yang Jelas: Buat pedoman tertulis yang komprehensif tentang perilaku yang diharapkan.

2.     Jadilah Panutan Etis: Pemimpin harus secara konsisten menunjukkan perilaku etis dalam tindakan dan keputusan sehari-hari mereka.

3.     Adakan Pelatihan Etika: Latih karyawan dan pemimpin untuk mengenali dilema etika dan bagaimana menerapkan prinsip-prinsip etika dalam pengambilan keputusan.

4.     Bangun Mekanisme Pelaporan (Whistleblowing): Ciptakan sistem rahasia dan aman bagi karyawan untuk melaporkan perilaku tidak etis tanpa takut pembalasan.

5.     Terapkan Sistem Imbalan dan Hukuman yang Adil: Hargai perilaku etis secara terbuka dan hukum perilaku tidak etis secara konsisten dan transparan.

6.     Budayakan Diskusi Terbuka: Dorong komunikasi yang jujur tentang isu-isu etika untuk menormalisasi pertimbangan moral dalam proses kerja.