EVALUASI SESI 15

EVALUASI SESI 15

EVALUASI SESI 15

oleh Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M. -
Jumlah balasan: 37

JAWABLAH PERTANYAAN PERTANYAAN BERIKUT INI

1.Jelaskan cara menciptakan visi yang baik!
2. Jelaskan cara mengatasi konflik yang buruk !
3. Jelaskan teknik negosiasi antar pemimpin !
4. Jelaskan cara pembangunan tim di posisi puncak!
6. Bagaimana cara untuk dapat mengetahui hukuman yang tepat bagi karyawan bermasalah?

Sebagai balasan Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 15

oleh Melly Fitriyani Ms -
Melly Fitriyani Ms - 2421011003

Izin menjawab evaluasi sesi 15 Ibu,
1. Jelaskan cara menciptakan visi yang baik!
Jawab :
Visi yang baik diciptakan melalui proses memahami arah jangka panjang organisasi, menganalisis kebutuhan pelanggan, tren industri, serta nilai inti perusahaan. Pemimpin harus melibatkan tim dalam brainstorming, merumuskan pernyataan visi yang singkat, inspiratif, mudah dipahami, dan fokus pada masa depan. Visi juga harus realistis namun menantang, serta disosialisasikan secara konsisten agar membentuk komitmen bersama.


2. Jelaskan cara mengatasi konflik yang buruk!
Jawab:
Mengatasi konflik buruk dilakukan dengan mengidentifikasi sumber konflik secara objektif, mendengarkan kedua pihak tanpa memihak, memastikan komunikasi berlangsung terbuka, serta mencari solusi kolaboratif. Pemimpin harus menenangkan situasi, fokus pada masalah bukan orangnya, menetapkan aturan komunikasi, dan jika perlu menggunakan mediator. Setelah solusi dicapai, lakukan monitoring untuk memastikan konflik tidak muncul kembali.


3. Jelaskan teknik negosiasi antar pemimpin!
Jawab :
Teknik negosiasi antar pemimpin meliputi:
  • Preparation (Persiapan): memahami tujuan, batas minimal, dan data pendukung.
  • Interest-based negotiation: fokus pada kepentingan bersama, bukan posisi.
  • Win win approach: mencari hasil yang menguntungkan kedua belah pihak.
  • Active listening: mendengarkan secara penuh untuk memahami perspektif lawan negosiasi.
  • Flexibility: menawarkan alternatif solusi.
  • Building rapport: menjaga hubungan baik sebagai investasi jangka panjang.
  • Clear communication: menyampaikan tawaran dan batasan secara tegas namun sopan.


4. Jelaskan cara pembangunan tim di posisi puncak!
Jawab:
Pembangunan tim di posisi puncak dilakukan dengan memilih individu yang memiliki kompetensi tinggi dan nilai yang selaras. Pemimpin harus menciptakan kepercayaan melalui transparansi, memperjelas peran dan tanggung jawab, serta membangun budaya kolaborasi. Aktivitas team building, evaluasi kinerja bersama, komunikasi rutin, dan penyelarasan tujuan strategis juga sangat penting untuk memperkuat kohesi tim pada level eksekutif.


5. Bagaimana cara untuk mengetahui hukuman yang tepat bagi karyawan bermasalah?
Jawab :
Menentukan hukuman yang tepat bagi karyawan bermasalah dilakukan dengan memastikan proses penegakan disiplin berjalan objektif dan terstruktur.
Langkahnya adalah:
  • Menilai tingkat pelanggaran, kategorikan apakah pelanggaran terkait perilaku, kedisiplinan, etika, keselamatan kerja, atau kinerja.
  • Membandingkan dengan aturan perusahaan, gunakan Peraturan Perusahaan, PKB, SOP, atau kode etik sebagai acuan agar hukuman sesuai kebijakan yang berlaku.
  • Melihat dampak pelanggaran, nilai sejauh mana tindakan karyawan merugikan tim, perusahaan, atau melanggar nilai organisasi.
  • Memperhatikan sejarah perilaku karyawan, apakah ini pelanggaran pertama atau sudah terjadi berulang kali.
  • Menggunakan prinsip keadilan dan konsistensi, karyawan dengan kesalahan serupa harus mendapat konsekuensi yang relatif sama.
  • Melibatkan HR atau atasan langsung dalam diskusi agar keputusan tidak subjektif.
  • Memastikan hukuman bersifat korektif, bukan menghukum secara emosional, sehingga tujuan akhirnya adalah memperbaiki perilaku dan mencegah pelanggaran berulang.
Hukuman yang tepat adalah hukuman yang adil, sesuai aturan, tidak berlebihan, dan tetap menjaga motivasi karyawan untuk berubah.
Sebagai balasan Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 15

oleh Talitha Nahda Engrasia -
Talitha Nahda Engrasia 242101125

Jawaban :
1. Cara menciptakan visi yang baik
Visi yang baik dapat diciptakan dengan memahami tujuan jangka panjang organisasi serta nilai-nilai yang ingin dijunjung tinggi. Pemimpin perlu melakukan analisis terhadap kondisi internal dan eksternal organisasi agar visi yang dibuat realistis, relevan, dan sesuai dengan perkembangan lingkungan. Visi harus dirumuskan secara jelas, singkat, mudah dipahami, serta mampu memberikan motivasi kepada seluruh anggota organisasi. Selain itu, visi perlu dikomunikasikan secara konsisten agar dapat menjadi pedoman bersama dalam mencapai tujuan organisasi.

2. Cara mengatasi konflik yang buruk
Konflik yang buruk dapat diatasi dengan mengidentifikasi sumber masalah secara objektif dan tidak memihak salah satu pihak. Pemimpin harus menjadi penengah yang adil dengan membuka komunikasi yang baik, mendengarkan pendapat semua pihak, serta mengendalikan emosi agar konflik tidak semakin membesar. Penyelesaian konflik sebaiknya dilakukan melalui musyawarah untuk mencapai kesepakatan bersama yang menguntungkan semua pihak, serta tetap berlandaskan pada aturan dan nilai-nilai organisasi.

3. Teknik negosiasi antar pemimpin
Teknik negosiasi antar pemimpin dilakukan dengan mengutamakan komunikasi yang terbuka, sikap saling menghargai, dan fokus pada tujuan bersama. Setiap pihak harus mampu menyampaikan kepentingannya secara jelas, sekaligus memahami kepentingan pihak lain. Negosiasi yang baik mengarah pada solusi yang saling menguntungkan (win-win solution), bukan mengedepankan kemenangan sepihak. Selain itu, kemampuan mengendalikan emosi dan bersikap fleksibel sangat diperlukan agar kesepakatan dapat tercapai dengan baik.

4. Cara pembangunan tim di posisi puncak
Pembangunan tim di posisi puncak dilakukan dengan memilih pemimpin yang memiliki kompetensi, integritas, dan komitmen terhadap visi organisasi. Pembagian tugas dan wewenang harus jelas agar setiap anggota memahami perannya masing-masing. Selain itu, diperlukan komunikasi yang terbuka, rasa saling percaya, serta kerja sama yang kuat agar para pemimpin dapat bekerja secara efektif sebagai satu tim dalam mengambil keputusan strategis demi kemajuan organisasi.

5. Cara mengetahui hukuman yang tepat bagi karyawan bermasalah
Hukuman yang tepat bagi karyawan bermasalah dapat ditentukan dengan mempertimbangkan tingkat kesalahan, dampak yang ditimbulkan, serta riwayat perilaku karyawan tersebut. Penjatuhan hukuman harus berdasarkan peraturan perusahaan yang berlaku, bersifat adil, objektif, dan mendidik. Sebelum memberikan sanksi, perusahaan perlu melakukan klarifikasi agar karyawan memiliki kesempatan untuk menjelaskan perbuatannya. Tujuan utama pemberian hukuman adalah untuk memperbaiki perilaku, bukan semata-mata untuk memberi efek jera.
Sebagai balasan Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 15

oleh ADE AYU RYANA 2421011043 -
Izin menjawab Evaluasi
Ade Ayu Ryana 2421011043

1. Cara Menciptakan Visi yang Baik
Menciptakan visi yang baik dimulai dari kemampuan seorang pemimpin membaca kondisi organisasi secara menyeluruh, termasuk peluang, tantangan, serta arah perubahan lingkungan eksternal. Visi tidak sekadar kalimat inspiratif, tetapi gambaran masa depan yang ingin dicapai secara realistis. Proses perumusannya biasanya melalui pemetaan kekuatan internal, identifikasi kebutuhan pasar atau pemangku kepentingan, serta refleksi atas nilai-nilai inti organisasi.
Sebuah visi akan efektif jika mampu memberikan arah yang jelas, mudah dipahami seluruh anggota, dan cukup menantang sehingga mendorong motivasi kerja. Pemimpin perlu melibatkan tim inti atau stakeholders dalam diskusi agar visi tersebut memiliki dukungan dan rasa memiliki. Setelah visi final ditetapkan, langkah penting berikutnya adalah mengkomunikasikannya secara konsisten melalui perilaku, keputusan, maupun strategi kerja agar visi tidak hanya menjadi slogan, tetapi menjadi pedoman dalam setiap proses operasional organisasi.

2. Cara Mengatasi Konflik yang Buruk
Mengatasi konflik yang buruk menuntut kemampuan analisis, ketenangan, serta pendekatan yang sistematis. Konflik cenderung menjadi destruktif bila sudah melibatkan emosi, prasangka, dan penurunan kinerja. Oleh karena itu, langkah pertama adalah mengidentifikasi akar penyebab konflik, bukan hanya gejalanya. Pemimpin perlu mendengarkan kedua belah pihak dengan objektif, memberikan kesempatan yang sama untuk menjelaskan sudut pandangnya, dan meminimalkan asumsi.
Setelah sumber masalah dipahami, pemimpin dapat menggunakan pendekatan mediasi dengan mempertemukan pihak-pihak yang berselisih dan mengarahkan diskusi pada solusi, bukan saling menyalahkan. Fokus diberikan pada pencarian kepentingan bersama dan dampak jangka panjang terhadap organisasi. Bila diperlukan, pemimpin dapat menetapkan aturan baru atau prosedur kerja yang lebih jelas untuk mencegah konflik yang sama terulang. Yang terpenting, penyelesaian konflik harus tetap menjaga hubungan kerja agar produktivitas dapat pulih dan budaya organisasi tetap sehat.

3. Teknik Negosiasi Antar Pemimpin
Negosiasi antar pemimpin menuntut kemampuan strategis dan komunikasi yang matang. Pada tahap awal, seorang pemimpin perlu melakukan persiapan dengan memahami kebutuhan, prioritas, dan batas minimal yang bisa diterima (BATNA—Best Alternative to a Negotiated Agreement). Persiapan ini juga mencakup analisis terhadap lawan negosiasi, seperti kepentingan mereka, tekanan yang mereka hadapi, dan apa yang mereka anggap penting.
Dalam proses negosiasi, teknik yang sering digunakan adalah pendekatan win–win, yaitu mencari solusi yang memberikan keuntungan bagi kedua pihak. Pemimpin harus mampu menyampaikan argumen secara logis, mendengarkan secara aktif, serta mengontrol emosi agar diskusi tetap konstruktif. Teknik framing juga penting, yaitu bagaimana sebuah masalah dikemas agar dipahami sebagai peluang bersama. Jika muncul kebuntuan, pemimpin dapat menawarkan opsi alternatif, kompromi bertahap, atau mencari mediator independen. Negosiasi yang efektif selalu berlandaskan rasa saling menghormati dan orientasi jangka panjang.

4. Cara Pembangunan Tim di Posisi Puncak
Membangun tim di posisi puncak (top management team) memerlukan pendekatan yang lebih strategis dibandingkan pembentukan tim operasional biasa. Anggota tim puncak adalah individu yang membawa pengalaman besar, ego profesional, dan tanggung jawab tinggi. Oleh karena itu, fondasi utamanya adalah menciptakan keselarasan visi dan strategi di antara mereka.
Pemimpin tertinggi perlu memastikan bahwa setiap anggota memahami peran dan kontribusi masing-masing terhadap target organisasi. Selain itu, mekanisme komunikasi internal harus jelas sehingga tidak ada silo antar divisi atau tumpang tindih kewenangan. Penting juga membentuk budaya keterbukaan dan kepercayaan, di mana anggota bisa saling memberikan masukan tanpa takut dianggap mengancam otoritas. Aktivitas seperti strategic retreat, evaluasi berkala, dan sesi alignment diperlukan agar koordinasi tetap solid. Dalam tim puncak, fokus pembangunannya bukan hanya pada kerjasama, tetapi juga pada integrasi strategi dan kebijaksanaan dalam membuat keputusan penting.

5/6. Cara Mengetahui Hukuman yang Tepat bagi Karyawan Bermasalah
Menentukan hukuman yang tepat bagi karyawan bermasalah bukanlah tindakan spontan, tetapi proses yang harus mengikuti prinsip keadilan, proporsionalitas, dan konsistensi. Langkah pertama adalah memahami dengan jelas pelanggaran yang dilakukan, apakah berkaitan dengan disiplin, etika, kinerja, atau pelanggaran berat seperti kecurangan. Informasi harus dikumpulkan secara objektif, termasuk bukti, saksi, dan rekam jejak karyawan terkait.
Setelah fakta terkumpul, organisasi biasanya mengacu pada standar operasional prosedur atau peraturan perusahaan yang menjelaskan kategori pelanggaran dan konsekuensi yang sesuai. Hukuman harus proporsional: pelanggaran ringan seperti keterlambatan umumnya cukup diberikan teguran lisan atau pembinaan, sementara pelanggaran yang lebih serius memerlukan surat peringatan, skorsing, hingga pemutusan hubungan kerja jika diperlukan.
Pemimpin juga harus mempertimbangkan faktor-faktor pendukung, misalnya apakah karyawan tersebut sebelumnya memiliki catatan baik, apakah ada kondisi pribadi yang mempengaruhi perilaku, atau apakah sistem kerja perusahaan ikut berkontribusi pada terjadinya pelanggaran. Proses penjatuhan hukuman harus dilakukan secara transparan dan komunikatif, sehingga karyawan memahami alasan dan tujuan hukuman tersebut.
Sebagai balasan Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 15

oleh Naufal Ar Rafi Mursalin -
Izin bu Izin mejawab pertanyaan

1. Cara Menciptakan Visi yang Baik
- Menentukan nilai inti organisasi sebagai dasar.
- Membuat visi yang jelas, ringkas, dan mudah dipahami.
- Menyusun visi yang inspiratif namun tetap realistis.
- Berorientasi pada masa depan dan tujuan jangka panjang.
- Melibatkan stakeholder agar tercipta rasa memiliki.

2. Cara Mengatasi Konflik yang Buruk
- Mengidentifikasi akar masalah terlebih dahulu.
- Menggunakan komunikasi terbuka tanpa saling menyalahkan.
- Memfokuskan pembahasan pada solusi, bukan kesalahan.
- Menggunakan mediator bila diperlukan.
- Membuat kesepakatan bersama agar konflik tidak berulang.

3. Teknik Negosiasi Antar Pemimpin
- Melakukan persiapan matang dengan data dan argumen.
- Menerapkan prinsip win-win solution.
- Membangun hubungan jangka panjang berbasis kepercayaan.
- Menggunakan empati untuk memahami kepentingan pihak lain.
- Mengendalikan emosi agar tetap profesional.

4. Cara Pembangunan Tim di Posisi Puncak
- Menyeleksi anggota dengan kompetensi dan integritas tinggi.
- Menetapkan tujuan bersama yang jelas dan terukur.
- Membangun kepercayaan melalui transparansi.
- Menerapkan delegasi efektif sesuai keahlian.
- Melakukan evaluasi berkala untuk menjaga arah tim.

6. Menentukan Hukuman yang Tepat bagi Karyawan Bermasalah
- Menganalisis tingkat pelanggaran (ringan atau berat).
- Menerapkan konsistensi aturan agar adil.
- Menentukan hukuman yang proporsional dengan kesalahan.
- Mempertimbangkan rekam jejak karyawan (baru pertama atau berulang).
- Menyertakan pembinaan agar karyawan dapat memperbaiki diri.
Sebagai balasan Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 15

oleh MOHAMMAD ADRIAN 2421011010 -
1. Cara Menciptakan Visi yang Baik

Dalam kepemimpinan, visi yang baik muncul dari kombinasi analisis situasi, nilai pemimpin, dan gambaran masa depan yang diinginkan. Caranya:

Memahami kondisi organisasi (kekuatan–kelemahan–tantangan).

Mengidentifikasi nilai inti yang ingin dijaga oleh pemimpin.

Membayangkan kondisi ideal di masa depan yang realistis namun menantang.

Merumuskan visi secara sederhana, inspiratif, dan mudah dipahami oleh pengikut.

Mengkomunikasikan visi secara konsisten agar menjadi arah dan motivasi bersama.

Intinya: visi yang baik adalah future-oriented, clear, dan inspiring, sehingga mampu menggerakkan pengikut.

2. Cara Mengatasi Konflik yang Buruk

Dalam kepemimpinan, konflik buruk terjadi ketika perbedaan berubah menjadi permusuhan dan merusak tujuan kelompok. Cara mengatasinya:

Mengidentifikasi akar konflik, bukan hanya gejalanya.

Mendengarkan kedua pihak secara adil untuk mengurangi prasangka.

Fokus pada kepentingan bersama, bukan ego atau posisi masing-masing.

Menjadi mediator yang netral, menjaga komunikasi tetap rasional.

Menciptakan aturan dan kesepakatan baru agar konflik tidak terulang.

Pemimpin harus mampu mengubah konflik menjadi proses pembelajaran, bukan pertikaian berkepanjangan.

3. Teknik Negosiasi Antar Pemimpin

Dalam teori kepemimpinan, negosiasi adalah kemampuan mencapai kesepakatan tanpa mengorbankan hubungan. Teknik utamanya:

Persiapan tujuan dan batas minimal sebelum bernegosiasi.

Menggunakan komunikasi persuasif—bahasa jelas, logis, dan menghargai lawan bicara.

Membangun hubungan (rapport) agar negosiasi tidak kaku.

Fokus pada kepentingan, bukan posisi, sehingga solusi lebih kreatif.

Mencapai win–win solution, yaitu keputusan yang menguntungkan kedua pemimpin.

Negosiasi pemimpin menekankan kolaborasi, bukan dominasi.

4. Cara Pembangunan Tim di Posisi Puncak

Kepemimpinan tingkat atas membutuhkan kerja kolektif. Cara membangun tim puncak:

Menetapkan tujuan bersama yang jelas dan disetujui semua pemimpin.

Membagi peran dan tanggung jawab secara tegas agar tidak tumpang tindih.

Menciptakan kepercayaan dan komunikasi terbuka di antara pemimpin.

Mendorong pengambilan keputusan bersama untuk meningkatkan rasa kepemilikan.

Mengembangkan budaya saling mendukung, bukan kompetisi destruktif.

Tim puncak kuat ketika pemimpinnya saling mempercayai dan memiliki arah yang sama.

6. Cara Mengetahui Hukuman yang Tepat Bagi Karyawan Bermasalah

Dari perspektif kepemimpinan, hukuman harus mendidik, adil, dan proporsional. Prinsipnya:

Menilai tingkat kesalahan: apakah ringan, sedang, atau berat.

Melihat niat dan dampaknya terhadap organisasi.

Memperhatikan riwayat perilaku karyawan (apakah baru pertama).

Menggunakan hukuman bertahap: teguran, peringatan, hingga tindakan tegas.

Memastikan hukuman bersifat korektif, bukan balas dendam.

Pemimpin yang baik menghukum untuk memperbaiki perilaku, bukan untuk menunjukkan kekuasaan.
Sebagai balasan Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 15

oleh Selin Faradina -
Nama: SELIN FARADINA
NPM: 2421011017

1. Jelaskan cara menciptakan visi yang baik!
Jawab:
Menciptakan visi yang baik memerlukan proses strategis yang mempertimbangkan arah jangka panjang organisasi, nilai inti, serta aspirasi kolektif pemangku kepentingan. Visi yang efektif harus jelas, inspiratif, futuristik, dan realistis. Proses pembentukannya dimulai dengan melakukan analisis lingkungan internal dan eksternal, seperti kekuatan organisasi, peluang pasar, dinamika industri, dan tren global. Selanjutnya, pemimpin perlu merumuskan gambaran masa depan yang ingin dicapai dengan bahasa yang sederhana namun bermakna agar mudah dipahami seluruh anggota organisasi. Selain itu, visi harus mencerminkan identitas, budaya, dan tujuan strategis sehingga dapat menjadi pedoman dalam setiap proses pengambilan keputusan. Pemimpin juga wajib mengkomunikasikan visi secara konsisten melalui berbagai saluran dan mendorong keterlibatan anggota dalam proses interpretasinya, sehingga visi tidak hanya menjadi pernyataan formal tetapi menjadi komitmen bersama yang mendorong kinerja organisasi.

2. Jelaskan cara mengatasi konflik yang buruk !
Jawab:
Konflik yang buruk (destructive conflict) dapat menghambat produktivitas, menurunkan moral kerja, dan merusak hubungan antar individu. Untuk mengatasinya, organisasi perlu menerapkan pendekatan manajerial yang terstruktur. Pertama, pemimpin harus melakukan identifikasi sumber konflik, apakah berasal dari perbedaan tujuan, komunikasi yang buruk, beban kerja, atau kepribadian. Setelah itu, pemimpin perlu melakukan klarifikasi persepsi, karena banyak konflik berkembang akibat asumsi yang salah. Teknik mediasi dapat digunakan untuk mempertemukan pihak-pihak yang berkonflik agar dapat menyampaikan pandangan mereka secara terkontrol. Pemimpin harus menjaga netralitas dan objektivitas, serta mendorong penyelesaian yang berfokus pada masalah, bukan menyerang pribadi. Strategi seperti problem-solving, kompromi, dan kolaborasi sering kali lebih efektif dibandingkan dominasi atau penghindaran. Terakhir, organisasi perlu menanamkan budaya komunikasi terbuka dan membangun mekanisme formal penyelesaian konflik untuk mencegah konflik serupa muncul kembali.

3. Jelaskan teknik negosiasi antar pemimpin !
Jawab:
Negosiasi antar pemimpin merupakan proses strategis untuk mencapai kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak (win–win solution). Teknik negosiasi yang efektif mencakup beberapa langkah penting. Pertama, pemimpin harus melakukan persiapan dengan mengumpulkan informasi tentang kebutuhan, kepentingan, dan posisi tawar pihak lain. Kedua, teknik interest-based negotiation digunakan untuk fokus pada kepentingan mendasar, bukan sekadar posisi yang terlihat di permukaan. Ketiga, pemimpin harus menerapkan komunikasi asertif, yaitu menyampaikan pendapat dengan jelas namun tetap menghormati lawan negosiasi. Keempat, pemimpin harus mampu mengembangkan opsi-opsi kreatif yang dapat memberikan nilai tambah bagi kedua belah pihak. Selain itu, kemampuan membangun kepercayaan, membaca situasi emosional, serta menjaga integritas sangat menentukan keberhasilan negosiasi. Dalam prosesnya, pemimpin juga perlu mengelola konflik kepentingan, menjaga fleksibilitas, dan membuat keputusan berdasarkan data serta analisis risiko.

4. Jelaskan cara pembangunan tim di posisi puncak!
Jawab:
Pembangunan tim pada posisi puncak (top management team) membutuhkan pendekatan strategis yang mempertimbangkan peran kritis mereka dalam menentukan arah organisasi. Proses ini dimulai dengan seleksi anggota tim berdasarkan kompetensi kepemimpinan, pengalaman, integritas, dan kemampuan kolaboratif. Setelah itu, penting untuk membangun shared purpose agar seluruh anggota tim memiliki pemahaman yang sama tentang prioritas strategis organisasi. Komunikasi terbuka harus difasilitasi melalui forum rutin seperti executive meeting untuk menyelaraskan perspektif dan meningkatkan koordinasi. Selain itu, aktivitas team-building seperti workshop kepemimpinan, simulasi manajerial, hingga coaching menjadi instrumen penting untuk memperkuat kohesi tim. Pemimpin puncak juga harus menciptakan budaya psychological safety, di mana anggota tim merasa aman mengemukakan ide atau kritik tanpa takut disalahkan. Evaluasi kinerja tim secara berkala diperlukan untuk mengidentifikasi area perbaikan dan meningkatkan efektivitas kerja kolektif.

5. Bagaimana cara untuk dapat mengetahui hukuman yang tepat bagi karyawan bermasalah?
Jawab:
Menentukan hukuman yang tepat bagi karyawan bermasalah harus mengikuti prinsip keadilan prosedural (procedural justice) dan proporsionalitas. Langkah pertama adalah melakukan investigasi objektif untuk mengumpulkan fakta mengenai pelanggaran yang dilakukan. Selanjutnya, organisasi harus mengacu pada peraturan perusahaan, standar operasional prosedur (SOP), dan peraturan ketenagakerjaan yang berlaku agar keputusan tidak bersifat subjektif. Pemimpin juga perlu menilai tingkat keseriusan pelanggaran, frekuensi kejadian, dampak terhadap organisasi, serta riwayat perilaku karyawan tersebut. Pendekatan progressive discipline dapat diterapkan, yaitu memberikan tahapan hukuman mulai dari teguran lisan, teguran tertulis, skorsing, hingga pemutusan hubungan kerja sesuai tingkat pelanggaran. Konsultasi dengan bagian HR sangat penting agar hukuman tidak bertentangan dengan regulasi formal dan tetap melindungi hak karyawan. Selain fokus pada hukuman, organisasi juga perlu menekankan aspek perbaikan perilaku melalui coaching, konseling, atau pelatihan agar pelanggaran tidak terulang kembali.
Sebagai balasan Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 15

oleh Vindi Millenia Putri -
Nama : Vindi Milenia Putri
NPM : 2421011006

1. Jelaskan cara menciptakan visi yang baik!
Jawab :
Cara menciptakan visi yang baik adalah dengan memahami kondisi internal dan eksternal organisasi, termasuk kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman. Pemimpin perlu melibatkan berbagai pemangku kepentingan kunci dalam proses perumusan agar visi tersebut relevan dan didukung oleh seluruh pihak. Visi yang baik harus singkat, inspiratif, realistis, namun tetap menantang, serta mampu memberikan arah jangka panjang bagi organisasi. Setelah visi dirumuskan, pemimpin harus mengomunikasikannya secara konsisten kepada seluruh anggota organisasi sehingga visi menjadi pedoman utama dalam setiap keputusan strategis.

2. Jelaskan cara mengatasi konflik yang buruk !
Jawab :
Cara mengatasi konflik yang buruk adalah dengan terlebih dahulu mengidentifikasi akar penyebab konflik secara objektif, bukan hanya melihat gejala yang muncul di permukaan. Pemimpin harus membuka ruang komunikasi yang jujur dan menghargai pandangan semua pihak agar suasana tidak semakin tegang. Jika konflik sulit diselesaikan, diperlukan mediator yang netral untuk membantu proses penyelesaian. Langkah selanjutnya adalah mencari solusi win–win yang dapat diterima semua pihak, menetapkan aturan kerja yang lebih jelas, dan melakukan evaluasi lanjutan agar konflik tidak muncul kembali di masa depan.

3. Jelaskan teknik negosiasi antar pemimpin !
Jawab :
Teknik negosiasi antar pemimpin melibatkan persiapan yang matang, termasuk memahami tujuan, batas minimal yang dapat diterima, dan alternatif solusi terbaik. Pemimpin perlu membangun hubungan yang baik di awal negosiasi untuk menciptakan rasa saling percaya. Selama proses berlangsung, pemimpin harus mendengarkan dengan aktif, memahami kepentingan pihak lain, dan mengajukan argumentasi berdasarkan data dan fakta. Negosiasi yang efektif menekankan pendekatan kolaboratif sehingga menghasilkan solusi integratif yang menguntungkan kedua belah pihak. Seluruh hasil negosiasi kemudian perlu didokumentasikan untuk menghindari kesalahpahaman.

4. Jelaskan cara pembangunan tim di posisi puncak!
Jawab :
Pembangunan tim di posisi puncak dilakukan dengan memilih anggota tim yang memiliki kompetensi strategis dan mampu berkontribusi pada pencapaian tujuan organisasi. Setiap anggota tim puncak harus memiliki tujuan yang selaras dan memahami peran serta tanggung jawab masing-masing. Komunikasi yang terbuka dan rasa saling percaya sangat penting untuk membangun kerja sama yang efektif. Pengembangan kemampuan kepemimpinan melalui pelatihan eksekutif, coaching, dan mentoring juga dibutuhkan agar tim semakin solid. Selain itu, budaya kolaboratif harus diciptakan agar setiap keputusan strategis mempertimbangkan kepentingan organisasi secara keseluruhan.

5. Bagaimana cara untuk dapat mengetahui hukuman yang tepat bagi karyawan bermasalah?
Jawab :
Mengetahui hukuman yang tepat bagi karyawan bermasalah dilakukan dengan menilai tingkat pelanggaran berdasarkan peraturan perusahaan dan undang-undang ketenagakerjaan. Pemimpin perlu mengumpulkan fakta secara objektif, termasuk bukti dan rekam jejak perilaku karyawan, untuk memastikan keputusan yang diambil tidak bersifat subjektif. Hukuman harus diberikan secara bertahap dan proporsional, mulai dari teguran lisan, teguran tertulis, skorsing, hingga pemutusan hubungan kerja untuk pelanggaran berat. Karyawan harus diberi kesempatan untuk menjelaskan tindakan mereka sebagai bentuk keadilan prosedural. Setiap langkah dan keputusan juga perlu dicatat secara administratif agar prosesnya transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.
Sebagai balasan Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 15

oleh NELLY FITRIA -
JAWABAN

1. Menjelaskan cara menciptakan visi yang baik:
Menciptakan visi yang baik membutuhkan pemahaman mendalam mengenai kondisi organisasi saat ini serta gambaran tentang masa depan yang ingin dicapai. Visi yang efektif harus bersifat jelas, inspiratif, dan mudah dipahami oleh seluruh anggota organisasi agar dapat menjadi pedoman arah jangka panjang. Pemimpin perlu melakukan analisis lingkungan internal dan eksternal, memahami kekuatan serta tantangan yang dihadapi, lalu merumuskannya menjadi tujuan besar yang relevan. Selain itu, visi harus memuat nilai-nilai inti organisasi sehingga mampu membangun komitmen emosional. Setelah visi dirumuskan, pemimpin perlu mengkomunikasikannya secara konsisten melalui berbagai saluran sehingga seluruh anggota dapat memahami maknanya dan termotivasi untuk mewujudkannya. Keterlibatan karyawan dalam proses perumusan visi juga penting agar mereka merasa memiliki peran aktif dan lebih mudah menerima perubahan.

2. Menjelaskan cara mengatasi konflik yang buruk:
Untuk mengatasi konflik yang buruk, pemimpin harus terlebih dahulu mengidentifikasi sumber konflik dan memahami perspektif masing-masing pihak secara objektif. Langkah pertama adalah memastikan adanya komunikasi terbuka agar masing-masing individu dapat menyampaikan masalah tanpa rasa takut atau defensif. Pemimpin kemudian dapat melakukan mediasi dengan membantu pihak-pihak yang berkonflik mencari titik temu. Dalam proses ini, penting untuk fokus pada masalah, bukan menyerang pribadi, sehingga pertukaran pendapat tetap profesional. Jika perlu, pemimpin dapat menerapkan pendekatan penyelesaian konflik seperti kolaborasi, kompromi, atau akomodasi, tergantung pada situasi dan tingkat urgensinya. Selain menyelesaikan konflik jangka pendek, pemimpin juga harus menciptakan budaya kerja yang mencegah konflik buruk, misalnya melalui aturan kerja yang jelas, komunikasi rutin, dan pelatihan interpersonal.

3. Menjelaskan teknik negosiasi antar pemimpin:
Negosiasi antar pemimpin memerlukan kemampuan komunikasi strategis yang dipadukan dengan pemahaman terhadap kepentingan kedua belah pihak. Salah satu teknik yang umum digunakan adalah win–win negotiation, yaitu pendekatan yang mencari solusi yang menguntungkan kedua pihak. Pemimpin harus mampu menggali kepentingan yang mendasari posisi masing-masing agar dapat menemukan alternatif solusi yang kreatif. Teknik lain adalah BATNA (Best Alternative to a Negotiated Agreement), yaitu kemampuan pemimpin untuk mengetahui opsi terbaik apabila negosiasi tidak menghasilkan kesepakatan, sehingga mereka tidak tertekan untuk menerima keputusan yang merugikan. Selain itu, negosiasi efektif membutuhkan kemampuan mengatur emosi, membangun kepercayaan, dan mendengarkan secara aktif. Pemimpin juga harus menyampaikan argumen secara logis, menyiapkan data pendukung, serta menjaga fleksibilitas dalam proses tawar-menawar.

4. Menjelaskan cara pembangunan tim di posisi puncak:
Pembangunan tim di tingkat puncak (top management) memerlukan strategi yang berbeda karena melibatkan individu dengan pengalaman, ego, dan tanggung jawab yang besar. Langkah pertama adalah memastikan adanya kejelasan peran dan tanggung jawab masing-masing anggota agar tidak terjadi tumpang tindih kewenangan. Pemimpin puncak juga perlu membangun kepercayaan interpersonal melalui kegiatan kolaboratif, diskusi strategis, dan transparansi informasi. Selain itu, tim puncak harus memiliki visi dan tujuan bersama agar setiap keputusan yang dibuat tetap searah dengan strategi organisasi. Penting juga untuk menciptakan budaya komunikasi terbuka, di mana setiap anggota dapat menyampaikan pendapat secara kritis tanpa takut disalahartikan. Proses evaluasi kinerja tim secara berkala juga perlu dilakukan untuk mengidentifikasi kelemahan dan meningkatkan koordinasi antardepartemen.

6. Cara untuk dapat mengetahui hukuman yang tepat bagi karyawan bermasalah:
Menentukan hukuman yang tepat bagi karyawan bermasalah harus melalui proses yang adil, objektif, dan mengikuti standar kebijakan organisasi. Pemimpin harus memulai dengan melakukan investigasi menyeluruh terkait pelanggaran yang terjadi, mengumpulkan fakta, bukti, serta mendengarkan penjelasan dari pihak terkait. Setelah itu, pelanggaran harus dinilai berdasarkan tingkat keparahan, dampaknya terhadap organisasi, serta apakah pelanggaran tersebut berulang. Organisasi biasanya memiliki SOP disiplin atau kode etik yang menjadi acuan dalam menentukan jenis hukuman, mulai dari teguran lisan, teguran tertulis, skorsing, hingga pemutusan hubungan kerja. Pemimpin juga harus mempertimbangkan faktor kemanusiaan seperti niat, kondisi karyawan, dan riwayat kinerja sebelumnya. Hukuman harus bersifat edukatif dan bukan hanya menghukum namun agar dapat mendorong perbaikan perilaku dan tidak menurunkan motivasi kerja secara berlebihan.
Sebagai balasan Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 15

oleh A Bagas Windu Panji Nata -

izin menjawab ibu saya A Bagas Windu Panji Nata NPM 2421011034

1. Jelaskan cara menciptakan visi yang baik!

Visi yang baik adalah gambaran aspiratif, jelas, dan memotivasi tentang masa depan organisasi. Visi berfungsi sebagai kompas moral dan strategis.

  • Aspiratif dan Menantang: Visi harus melampaui kemampuan saat ini, memaksa organisasi untuk tumbuh. Visi yang kuat menciptakan tujuan kolektif yang lebih besar dari kepentingan departemen individu.

  • Jelas dan Ringkas (Mudah Dikomunikasikan): Visi harus dapat disampaikan dan dipahami dengan mudah oleh semua orang, dari anggota tim operasional hingga C-level. Ini adalah kunci untuk penyelarasan.

  • Fokus pada Dampak: Visi yang hebat menjelaskan bagaimana dunia akan menjadi berbeda (lebih baik) karena keberadaan organisasi Anda, bukan hanya tentang menghasilkan uang. Hal ini menciptakan makna kerja (sense of purpose).

  • Relevansi Dyad (LMX): Visi yang kuat adalah alat utama bagi pemimpin untuk mengubah hubungan "Out-Group" menjadi "In-Group". Dengan mengkomunikasikan visi yang menginspirasi, pemimpin dapat memotivasi anggota tim untuk mengambil tanggung jawab di luar deskripsi pekerjaan formal mereka (yaitu, bergerak melampaui pertukaran kontraktual) demi mencapai tujuan bersama.

Gambar the difference between Mission, Vision, and Values

2. Jelaskan cara mengatasi konflik yang buruk!

Konflik yang buruk (destruktif) adalah yang merusak hubungan pribadi, menghambat produktivitas, dan berpusat pada permusuhan personal. Tujuannya adalah mengubah konflik menjadi diskusi konstruktif yang fokus pada isu.

  • Fokuskan pada Isu, Bukan Personal: Inti resolusi konflik yang buruk adalah mengalihkan pembicaraan dari "Siapa yang salah?" menjadi "Apa yang salah dengan sistemnya?" Pemimpin harus menjadi fasilitator netral yang menjaga diskusi tetap pada data dan proses.

  • Gunakan Model Kolaborasi (Win-Win): Dorong pihak yang berkonflik untuk mencari solusi yang memenuhi kepentingan mendasar kedua belah pihak. Ini membutuhkan keterbukaan dan kesediaan untuk memahami kebutuhan pihak lain.

  • Relevansi Dyad (LMX): Konflik buruk seringkali diperparah di antara anggota "Out-Group" karena mereka memiliki daya negosiasi rendah dan mungkin merasa kurang didukung oleh pemimpin, yang dapat meningkatkan frustrasi. Pemimpin harus memastikan bahwa mereka tidak terlalu fokus pada konflik di In-Group sementara mengabaikan gesekan di Out-Group. Resolusi yang adil dan transparan memperkuat kepercayaan, yang penting untuk semua dyad.

3. Jelaskan teknik negosiasi antar pemimpin!

Negosiasi di tingkat puncak (antara pemimpin) berfokus pada menciptakan nilai bersama dan mempertahankan hubungan kerja jangka panjang, bukan hanya memenangkan kesepakatan saat ini.

  • Pola Pikir Integratif (Menciptakan Nilai): Pemimpin harus mencari cara untuk memperbesar kue (expand the pie) sebelum membaginya. Ini dilakukan dengan menemukan elemen di mana biaya konsesi bagi satu pihak lebih rendah daripada manfaatnya bagi pihak lain (Logrolling).

  • Negosiasi Berbasis Kepentingan: Fokus pada alasan mendasar (kepentingan) mengapa seorang pemimpin mengambil posisi tertentu, bukan hanya posisi yang diungkapkan.

  • Kuasai BATNA: Selalu siapkan BATNA (Best Alternative to a Negotiated Agreement). Ini memberi Anda kekuatan dan titik keluar yang jelas jika kesepakatan yang dinegosiasikan tidak menguntungkan.

  • Relevansi Dyad (LMX): Negosiasi antar pemimpin yang sukses terjadi karena mereka sudah berada dalam hubungan Dyad yang kuat, yang dicirikan oleh kepercayaan, rasa hormat, dan komitmen timbal balik. Hubungan "In-Group" yang kuat memungkinkan para pemimpin untuk berbagi informasi sensitif secara jujur, yang sangat penting dalam negosiasi strategis tingkat tinggi, karena mereka tahu bahwa hubungan tersebut tidak akan rusak oleh perselisihan sementara.

4. Jelaskan cara pembangunan tim di posisi puncak!

Pembangunan tim eksekutif (TMT) adalah tentang menyelaraskan individu-individu yang sangat berkuasa dan berorientasi pada hasil individu untuk mencapai tujuan kolektif organisasi secara keseluruhan.

  • Penyelarasan Misi & Visi: Prioritas utama adalah memastikan semua pemimpin berkomitmen total pada satu visi dan misi. Perbedaan pendapat harus diselesaikan sebelum keluar dari ruang rapat TMT.

  • Ciptakan Kepercayaan Psikologis: Para pemimpin harus merasa aman untuk berdebat secara terbuka dan mengakui kesalahan atau ketidakpastian tanpa takut akan pembalasan atau penilaian negatif dari rekan-rekan mereka. Ini adalah fondasi pengambilan keputusan strategis yang baik.

Gambar the five dysfunctions of a team pyramid (focus on absence of trust)
  • Kejelasan Akuntabilitas: Tentukan siapa yang bertanggung jawab (Accountable) untuk keputusan lintas fungsi. Ini mencegah konflik teritorial dan tumpang tindih peran.

  • Relevansi Dyad (LMX): Pembangunan TMT yang sukses adalah upaya untuk menciptakan satu Dyad yang besar dan kohesif, di mana semua anggota tim puncak berada dalam "In-Group" satu sama lain dan dengan CEO. Ketika semua berada di In-Group, terdapat keterikatan timbal balik yang memungkinkan adanya fleksibilitas tinggi dalam peran, dukungan, dan fokus pada hasil kolektif, bukan kepentingan departemen semata.

6. Bagaimana cara untuk dapat mengetahui hukuman yang tepat bagi karyawan bermasalah?

Menentukan hukuman yang tepat (tindakan disipliner) harus didasarkan pada prinsip keadilan, konsistensi, dan disiplin progresif, dengan tujuan utama koreksi perilaku dan kepatuhan terhadap kebijakan.

  • Terapkan Prinsip Disiplin Progresif: Gunakan sistem hukuman bertahap, dari Peringatan Lisan (untuk pelanggaran ringan/pertama kali) hingga Peringatan Tertulis, Skorsing, dan akhirnya Pemberhentian (untuk pelanggaran berat atau berulang).

  • Kesesuaian Hukuman: Hukuman harus proporsional dengan tingkat keparahan pelanggaran (ringan, sedang, berat). Pelanggaran Berat (seperti pelecehan atau pencurian) dapat mem-bypass langkah progresif dan langsung berujung pada pemberhentian.

  • Konsistensi adalah Kunci: Pastikan bahwa hukuman yang sama diterapkan pada pelanggaran yang sama, terlepas dari siapa karyawan tersebut. Ketidaksesuaian adalah sumber demoralisasi dan risiko hukum.

  • Relevansi Dyad (LMX): Teori LMX menggarisbawahi tantangan dalam disiplin: Pemimpin harus berhati-hati agar tidak menunjukkan bias yang tidak adil terhadap anggota "In-Group". Jika anggota In-Group hanya menerima peringatan lisan untuk pelanggaran yang sama yang menyebabkan anggota Out-Group diskors, hal ini akan menghancurkan moral dan keyakinan pada keadilan sistem. Tindakan disipliner harus didasarkan pada deskripsi pekerjaan dan standar formal, menjadikannya isu yang lebih dekat dengan pertukaran kontraktual hubungan "Out-Group", untuk memastikan keadilan yang merata.


Sebagai balasan Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 15

oleh INTAN LIDIYA WIDURI 2421011047 -
Intan Lidiya Widuri 2421011047 izin menjawab ibu:

1. Cara menciptakan visi yang baik
Visi yang baik harus mampu mengarahkan organisasi untuk menghadapi perubahan jangka panjang. Pemimpin perlu memahami lingkungan eksternal, peluang, dan ancaman agar visi yang dirumuskan tidak hanya ideal, tetapi juga strategis. Proses penciptaan visi juga melibatkan pemahaman nilai inti organisasi serta aspirasi para anggota. Pemimpin menyelaraskan semua elemen tersebut menjadi gambaran masa depan yang jelas, menantang, namun realistis, sehingga seluruh anggota organisasi merasa bahwa visi tersebut layak diperjuangkan dan dapat diwujudkan bersama.

2. Cara mengatasi konflik yang buruk
Pemimpin harus peka terhadap perbedaan nilai, gaya komunikasi, dan pola interaksi lintas budaya. Untuk mengatasi konflik, pemimpin perlu memahami perspektif setiap individu berdasarkan latar budayanya, karena konflik sering muncul bukan dari substansi, tetapi dari perbedaan interpretasi. Dengan pendekatan lintas budaya yang inklusif, pemimpin dapat menciptakan ruang dialog yang aman, memastikan semua pihak merasa dihargai, serta mengarahkan mereka pada penyelesaian berbasis kesepahaman dan rasa saling menghormati.

3. Teknik negosiasi antar pemimpin
Dalam negosiasi antar pemimpin, kunci utamanya adalah memahami kepentingan masing-masing, bukan sekadar mempertahankan posisi. Pemimpin harus datang dengan persiapan yang matang, termasuk data pendukung dan alternatif yang bisa ditawarkan. Proses negosiasi akan lebih efektif bila dilakukan dengan sikap terbuka, saling menghargai, dan tidak terburu-buru mengambil kesimpulan. Ketika kedua pihak mampu melihat manfaat yang sama, kesepakatan biasanya tercapai lebih mudah dan dapat dijalankan tanpa menimbulkan konflik baru.

4. Cara pembangunan tim di posisi puncak
Membangun tim di tingkat pimpinan tidak hanya soal menyatukan orang-orang terbaik, tetapi memastikan mereka bekerja dalam arah yang sama. Pemimpin puncak perlu membuat kejelasan mengenai peran, kewenangan, serta tujuan yang harus dicapai bersama. Komunikasi yang rutin, berbagi informasi secara terbuka, dan saling menghormati keputusan adalah fondasi agar kerja sama dapat berjalan. Ketika hubungan antar pemimpin semakin kuat, tim puncak akan lebih solid dalam mengambil keputusan strategis bagi organisasi.

6. Mengetahui hukuman yang tepat bagi karyawan bermasalah
Untuk menentukan hukuman bagi karyawan bermasalah, pemimpin harus memastikan bahwa setiap keputusan didasarkan pada bukti dan aturan perusahaan, bukan emosi. Langkah yang umum dilakukan adalah meninjau tingkat kesalahan, melihat apakah pelanggaran pernah terjadi sebelumnya, dan menyesuaikannya dengan sanksi dalam kebijakan perusahaan. Tindakan bisa dimulai dari peringatan lisan, peringatan tertulis, hingga sanksi yang lebih berat jika masalahnya cukup serius atau berulang. Yang terpenting, hukuman tersebut tetap memberikan kesempatan bagi karyawan untuk memperbaiki diri.
Sebagai balasan Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 15

oleh Elvin Agustianda -
Izin Menjawab ibu
Elvin Agustianda_2421011029


1. Menciptakan Visi yang Baik
Menciptakan visi yang baik melibatkan proses yang jelas dan hasil yang menginspirasi, berorientasi masa depan, dan mudah dipahami.
● Jelas dan Ringkas: Visi harus mudah diingat dan dipahami oleh semua orang. Hindari jargon yang rumit.
● Berorientasi Masa Depan: Visi harus melukiskan gambaran yang ambisius dan aspiratif tentang posisi organisasi di masa depan (misalnya, 5-10 tahun ke depan). Visi harus berfokus pada dampak yang ingin dicapai.
● Menginspirasi dan Memotivasi: Visi yang baik akan membangkitkan semangat dan memotivasi karyawan untuk bekerja mencapai tujuan bersama. Visi ini harus memberikan arti pada pekerjaan sehari-hari.
● Relevan: Visi harus sinkron dengan nilai-nilai organisasi dan kebutuhan para pemangku kepentingan (stakeholder).
● Ambitious (Ambisus) namun Realistis: Visi harus menantang (stretch), tetapi masih dalam batas kemungkinan untuk dicapai dengan upaya keras dan sumber daya yang tepat.
● Proses Inklusif: Melibatkan pemimpin kunci dan bahkan karyawan dalam merumuskan visi dapat meningkatkan kepemilikan (sense of ownership).

2. Mengatasi Konflik yang Buruk
Konflik yang buruk (dysfunctional conflict) adalah konflik yang merusak hubungan, menghambat kinerja, dan berfokus pada serangan pribadi alih-alih pada isu. Cara mengatasinya adalah:
● Identifikasi Akar Masalah: Cari tahu penyebab utama konflik—apakah itu perebutan sumber daya, perbedaan tujuan, nilai yang bertentangan, atau masalah komunikasi.
● Intervensi Cepat: Jangan biarkan konflik berlarut-larut. Pemimpin harus campur tangan secepatnya sebelum konflik membesar dan meluas.
● Fokus pada Isu, Bukan Individu: Alihkan diskusi dari siapa yang salah menjadi apa yang salah. Gunakan bahasa yang netral dan berfokus pada perilaku, bukan karakter.
● Fasilitasi Komunikasi Terbuka: Sediakan ruang aman bagi kedua pihak untuk mengungkapkan perspektif mereka secara jujur, dengan aturan dasar untuk saling menghormati.
● Cari Solusi Saling Menguntungkan (Win-Win): Dorong pihak-pihak yang berkonflik untuk bekerja sama mencari resolusi yang memenuhi kebutuhan dasar masing-masing.
● Terapkan Aturan dan Konsekuensi: Jika konflik melibatkan pelanggaran etika atau perilaku yang tidak dapat diterima, pemimpin harus menegakkan kebijakan dan memberikan konsekuensi yang sesuai.

3. Teknik Negosiasi Antar Pemimpin
Negosiasi di tingkat puncak seringkali bersifat strategis dan berisiko tinggi. Teknik yang efektif meliputi:
● Persiapan Mendalam: Pahami kepentingan inti diri sendiri dan pihak lawan (bukan sekadar posisi), batas-batas negosiasi (bottom line), dan BATNA (Best Alternative to a Negotiated Agreement—Alternatif Terbaik Selain Kesepakatan yang Dinegosiasikan).
● Berfokus pada Kepentingan Bersama: Cari tahu tujuan strategis yang sama-sama penting (misalnya, pertumbuhan perusahaan, stabilitas pasar) untuk membangun landasan kolaborasi daripada konfrontasi.
● Bersikap Transparan dan Jujur: Khususnya di antara pemimpin, kredibilitas sangat penting. Sampaikan informasi dengan jujur untuk membangun kepercayaan.
● Menggunakan Standar Objektif: Alih-alih mengandalkan kemauan, gunakan data, tolok ukur industri, atau kriteria keadilan lainnya sebagai dasar argumen.
● Menciptakan Pilihan Nilai: Jangan hanya bernegosiasi pada satu isu (misalnya harga); tawarkan beberapa paket solusi dengan nilai yang berbeda untuk memudahkan tercapainya kesepakatan (value creation).
● Menjaga Hubungan: Negosiasi antar pemimpin seringkali bersifat berkelanjutan. Pertahankan profesionalisme dan rasa hormat untuk memastikan hubungan kerja tetap sehat setelah kesepakatan tercapai.

4. Pembangunan Tim di Posisi Puncak
Pembangunan tim eksekutif (Executive Team Development) adalah kunci karena tim ini bertanggung jawab atas arah strategis organisasi.
■ Mendefinisikan Tujuan Bersama: Pastikan semua anggota tim puncak memiliki pemahaman yang sama dan berkomitmen pada visi, misi, dan prioritas strategis organisasi.
■ Memperjelas Peran dan Akuntabilitas: Batasi tumpang tindih dan kekosongan dalam tanggung jawab. Setiap pemimpin harus tahu persis apa yang menjadi tanggung jawabnya dan bagaimana ia dinilai.
■ Meningkatkan Kepercayaan (Psychological Safety): Ciptakan lingkungan di mana para pemimpin merasa nyaman untuk mengambil risiko, mengungkapkan ketidaksetujuan, dan mengakui kesalahan tanpa takut dihukum. Ini memungkinkan debat yang sehat.
■ Mengembangkan Mekanisme Pengambilan Keputusan: Tetapkan proses yang jelas untuk keputusan penting, termasuk kapan harus berkonsensus, kapan suara mayoritas, dan kapan CEO/Presiden mengambil keputusan akhir.
■ Investasi dalam Pengembangan kepemimpinan : Tim puncak perlu sesi pelatihan atau coaching bersama yang berfokus pada dinamika tim, komunikasi, dan strategi.

5. Menentukan Hukuman yang Tepat bagi Karyawan Bermasalah
Mengetahui hukuman yang tepat memerlukan proses yang sistematis, adil, dan konsisten.
■Sistem Disiplin Progresif (Progressive Discipline): Ini adalah pendekatan bertahap di mana hukuman menjadi lebih berat seiring dengan terulangnya pelanggaran atau parahnya pelanggaran. Tahapannya umumnya:
■ Peringatan Lisan: Untuk pelanggaran kecil yang pertama kali.
■ Peringatan Tertulis: Untuk pelanggaran berulang atau lebih serius.
■ Skorsing Tanpa Bayaran: Untuk pelanggaran serius atau setelah peringatan tertulis tidak diindahkan.
■ Pemutusan Hubungan Kerja (PHK): Untuk pelanggaran berat (misalnya, pencurian, kekerasan) atau setelah semua langkah sebelumnya gagal.
■ Tinjau Kebijakan Perusahaan: Pastikan hukuman sesuai dengan apa yang tertulis dalam peraturan perusahaan atau perjanjian kerja.
■ Kumpulkan Bukti dan Fakta: Hukuman harus didasarkan pada investigasi menyeluruh dan bukti yang kuat, bukan rumor atau bias.
■ Pertimbangkan Tingkat Pelanggaran: Nilai seberapa parah dampak pelanggaran tersebut terhadap bisnis, karyawan lain, dan citra perusahaan.
■ Terapkan Konsistensi: Hukuman untuk pelanggaran yang sama harus seragam di seluruh organisasi. Inkonsistensi adalah penyebab utama gugatan dan demotivasi.
■ Beri Hak Karyawan untuk Didengar: Sebelum mengambil keputusan akhir, berikan karyawan kesempatan untuk menjelaskan pihak mereka.
Sebagai balasan Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 15

oleh Afrida Jayanti -
Nama : Afrida Jayanti
NPM : 2421011013

1. Jelaskan cara menciptakan visi yang baik!
Jawab:
Menciptakan visi yang baik dimulai dari kemampuan pemimpin untuk memahami kondisi internal dan eksternal organisasi secara mendalam, termasuk peluang, tantangan, kekuatan, dan kelemahan yang ada. Seorang pemimpin harus mampu membayangkan masa depan ideal yang ingin dicapai organisasi secara realistis namun tetap inspiratif. Visi yang baik juga harus sederhana, jelas, mudah dikomunikasikan, serta mampu memberi arah bagi seluruh anggota organisasi dalam mengambil keputusan. Selain itu, visi yang efektif dibangun melalui proses partisipatif, yaitu melibatkan masukan dari tim inti agar visi tersebut mencerminkan aspirasi bersama. Dengan demikian, visi tidak hanya menjadi slogan, tetapi menjadi kompas strategis yang memotivasi dan mempersatukan seluruh anggota organisasi.

2. Jelaskan cara mengatasi konflik yang buruk!
Jawab:
Konflik yang buruk dapat diatasi dengan pendekatan komunikasi terbuka dan penyelesaian masalah secara kolaboratif. Pemimpin harus terlebih dahulu mengidentifikasi akar konflik, apakah berasal dari perbedaan kepentingan, miskomunikasi, atau personal issue dalam tim. Setelah akar masalah diketahui, pemimpin perlu menciptakan ruang dialog yang aman sehingga pihak-pihak yang berkonflik dapat menyampaikan perspektif mereka secara jujur tanpa rasa takut. Pemimpin kemudian memfasilitasi penyelarasan tujuan bersama dan mengarahkan tim untuk mencari solusi win–win. Selain itu, pemimpin harus menegakkan aturan dan norma kerja yang jelas agar perilaku destruktif tidak terulang, serta memberikan pendampingan bila diperlukan, seperti mediasi atau coaching. Dengan pendekatan ini, konflik yang awalnya merugikan dapat diubah menjadi peluang untuk memperbaiki hubungan dan meningkatkan kinerja tim.

3. Jelaskan teknik negosiasi antar pemimpin!
Jawab:
Teknik negosiasi antar pemimpin umumnya berfokus pada kemampuan memahami kepentingan masing-masing pihak, bukan hanya posisi yang terlihat di permukaan. Salah satu teknik yang efektif adalah principled negotiation, yaitu negosiasi berbasis prinsip yang menekankan pemisahan antara orang dan masalah, fokus pada kepentingan, pencarian opsi-opsi kreatif, serta penggunaan standar objektif. Selain itu, pemimpin harus menunjukkan empati dan kecerdasan emosional agar proses negosiasi berlangsung konstruktif. Teknik BATNA (Best Alternative to a Negotiated Agreement) juga sangat penting, yaitu menentukan alternatif terbaik apabila kesepakatan tidak tercapai, sehingga pemimpin dapat menawar dengan posisi yang lebih kuat. Negosiasi yang baik dilakukan melalui komunikasi yang persuasif, argumentasi logis, dan kemampuan mengelola emosi agar tercapai solusi yang menguntungkan organisasi tanpa merusak hubungan antar pemimpin.

4. Jelaskan cara pembangunan tim di posisi puncak!
Jawab:
Pembangunan tim di posisi puncak (top management team) memerlukan pendekatan strategis karena anggota tim pada level ini memiliki peran kritis dalam menentukan arah organisasi. Proses pembangunan dimulai dengan pemilihan anggota yang memiliki kompetensi komplementer, integritas tinggi, serta kemampuan bekerja sama dalam situasi yang kompleks. Pemimpin puncak perlu menciptakan budaya kepercayaan (trust) melalui transparansi, komunikasi rutin, dan penyelarasan nilai serta tujuan strategis. Selain itu, struktur kerja yang jelas, mekanisme pengambilan keputusan yang efektif, serta pembagian tanggung jawab yang terukur sangat penting untuk mendukung kolaborasi. Program pengembangan seperti executive coaching, leadership retreat, atau diskusi strategi rutin dapat memperkuat kohesi tim. Dengan cara ini, tim puncak dapat bekerja secara sinergis dalam mengarahkan organisasi menuju kinerja terbaik.

5. Bagaimana cara untuk dapat mengetahui hukuman yang tepat bagi karyawan bermasalah?
Jawab:
Menentukan hukuman yang tepat bagi karyawan bermasalah harus dilakukan melalui proses evaluasi yang objektif, adil, dan sesuai aturan organisasi. Pemimpin perlu terlebih dahulu melakukan investigasi untuk memahami fakta dan konteks perilaku yang dianggap bermasalah, termasuk frekuensi kesalahan, dampaknya terhadap organisasi, serta apakah sebelumnya karyawan tersebut sudah diberikan peringatan atau pembinaan. Setelah fakta terkumpul, pemimpin harus menyesuaikan hukuman dengan kebijakan perusahaan, prinsip proporsionalitas, serta mempertimbangkan rekam jejak karyawan. Penting juga melakukan pendekatan humanis dengan melihat apakah masalah disebabkan oleh kurangnya pelatihan, beban kerja berlebih, atau faktor pribadi. Dalam proses ini, pemimpin harus tetap transparan, mendokumentasikan langkah-langkahnya, dan memberikan kesempatan kepada karyawan untuk menyampaikan penjelasan. Pendekatan yang adil tidak hanya memastikan hukuman sesuai, tetapi juga menjaga kepercayaan dan integritas dalam organisasi.
Sebagai balasan Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 15

oleh ALBINO PRASHESARB -

Izin menjawab evaluasi 15 ibu

Albino Prashesarb_242101101

1.Jelaskan cara menciptakan visi yang baik!
Jawab:
Cara Menciptakan Visi yang Baik

Menciptakan visi yang baik dimulai dengan pemikiran yang ambisius dan berwawasan ke depan, di mana visi tersebut harus jelas, ringkas, dan mudah dipahami oleh semua anggota organisasi. Visi yang efektif harus melampaui sasaran keuangan jangka pendek dan sebaliknya menggambarkan gambaran masa depan yang inspiratif yang memotivasi dan memberikan arah yang jelas. Hal ini melibatkan identifikasi nilai-nilai inti dan tujuan jangka panjang organisasi, memastikannya realistis namun menantang, dan yang terpenting, berpusat pada pelanggan atau dampak yang ingin dicapai, sehingga menjadi mercusuar yang memandu pengambilan keputusan strategis dan operasional sehari-hari.

2. Jelaskan cara mengatasi konflik yang buruk !

Jawab:

Cara Mengatasi Konflik yang Buruk

Mengatasi konflik yang buruk, terutama di tingkat kepemimpinan, memerlukan pendekatan yang terstruktur, berempati, dan berorientasi pada solusi. Langkah awalnya adalah mengakui keberadaan konflik dan menciptakan ruang yang aman untuk dialog terbuka dan jujur, di mana setiap pihak memiliki kesempatan untuk menyuarakan perspektifnya tanpa dihakimi. Seorang pemimpin harus berperan sebagai fasilitator netral, mengidentifikasi akar permasalahan yang sebenarnya, bukan hanya gejala permukaannya, dan fokus pada kepentingan bersama organisasi alih-alih pada posisi pribadi. Solusi terbaik sering kali melibatkan kompromi yang didorong oleh kebutuhan tim, memastikan bahwa semua pihak merasa didengarkan dan menghargai hasil akhirnya untuk memulihkan kohesi dan produktivitas tim.

3. Jelaskan teknik negosiasi antar pemimpin !
Jawab:

Teknik Negosiasi Antar Pemimpin

Negosiasi antar pemimpin harus dilakukan dengan fokus pada kolaborasi strategis daripada kemenangan sepihak, menggunakan pendekatan "win-win" yang berpusat pada penciptaan nilai bersama. Teknik yang efektif meliputi persiapan yang matang mengenai sasaran, batas, dan alternatif solusi (BATNA), serta kemampuan untuk mendengarkan secara aktif untuk memahami kebutuhan dan kendala pihak lain secara mendalam. Dalam diskusi, penting untuk memisahkan orang dari masalah, berfokus pada kriteria objektif dan standar yang adil, dan mempertahankan komunikasi yang profesional dan penuh rasa hormat. Pada akhirnya, negosiasi yang berhasil di tingkat puncak memerlukan kemauan untuk berbagi informasi secara transparan dan membangun kepercayaan untuk mencapai kesepakatan yang berkelanjutan dan saling menguntungkan.

4. Jelaskan cara pembangunan tim di posisi puncak!
Jawab:

Cara Pembangunan Tim di Posisi Puncak

Pembangunan tim di posisi puncak berfokus pada menciptakan keselarasan strategis dan kepercayaan psikologis di antara para eksekutif. Hal ini dilakukan dengan menetapkan tujuan bersama yang jelas dan memastikan setiap anggota tim kepemimpinan memahami peran dan tanggung jawabnya dalam mencapai visi organisasi secara keseluruhan. Penting untuk secara teratur mengadakan retret strategis atau sesi perencanaan di mana para pemimpin dapat secara terbuka membahas masalah kritis, menyelesaikan perbedaan, dan mengembangkan norma-norma tim yang kuat seputar pengambilan keputusan, komunikasi, dan akuntabilitas. Dengan mempromosikan kerentanan yang konstruktif dan budaya di mana tantangan dapat diberikan secara langsung, tim eksekutif dapat beroperasi sebagai satu kesatuan yang kohesif dan berkinerja tinggi.

5. Bagaimana cara untuk dapat mengetahui hukuman yang tepat bagi karyawan bermasalah?

Jawab:

Menentukan hukuman yang tepat bagi karyawan bermasalah harus mengikuti prinsip kedisiplinan progresif dan didasarkan pada kebijakan perusahaan yang jelas, adil, dan konsisten. Prosesnya dimulai dengan investigasi menyeluruh dan tidak memihak untuk memahami sepenuhnya sifat dan tingkat keparahan masalah, serta apakah ini merupakan pelanggaran berulang atau insiden tunggal. Hukuman yang tepat harus proporsional dengan pelanggaran dan bertujuan untuk mengoreksi perilaku, bukan hanya menghukum, dimulai dari teguran lisan, tertulis, skorsing, hingga, sebagai upaya terakhir, pemutusan hubungan kerja. Penting untuk mempertimbangkan riwayat karyawan dan memberikan kesempatan untuk perbaikan melalui pelatihan atau pembinaan, memastikan bahwa setiap tindakan didokumentasikan dengan baik dan mematuhi semua peraturan hukum dan ketenagakerjaan yang berlaku.


Sebagai balasan Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 15

oleh Jennie Anggraeni Maesa -
Nama : Jennie Anggraeni Maesa
Npm : 2421011051

izin menjawab Evaluasi ibu,
1. Cara menciptakan visi yang baik
Visi yang efektif biasanya lahir dari kemampuan pemimpin membaca arah perubahan dan merangkum harapan organisasi ke dalam gambaran masa depan yang jelas dan menggugah. Untuk membangunnya, pemimpin perlu memahami kekuatan internal, peluang luar, serta nilai yang ingin dijaga. Visi juga akan lebih kuat apabila disusun melalui dialog dengan tim, sehingga semua orang merasa memiliki dan terdorong untuk mewujudkannya.
2. Cara mengatasi konflik yang buruk
Ketika konflik berkembang menjadi tidak sehat, pemimpin perlu masuk sebagai penengah yang adil dan fokus pada inti masalah, bukan pada emosinya. Langkah utamanya adalah membuka ruang komunikasi yang aman, mendengarkan setiap pihak, dan memastikan aturan serta ekspektasi kerja jelas. Dengan pendekatan yang tenang dan objektif, konflik dapat diarahkan menjadi pembelajaran dan hubungan tim dapat kembali stabil.
3. Teknik negosiasi antar pemimpin,
Negosiasi antar pemimpin menuntut kemampuan mempertimbangkan kepentingan masing-masing pihak sambil mencari titik temu yang saling menguntungkan. Biasanya proses diawali dengan membangun hubungan saling percaya, memperjelas tujuan, dan menetapkan batasan yang realistis. Selama negosiasi, pemimpin efektif menggunakan dialog terbuka, mendengarkan secara aktif, serta mengajukan solusi berbasis data agar kesepakatan yang dicapai kokoh dan berjangka panjang.
4. Cara pembangunan tim di posisi puncak
Membangun tim di level eksekutif memerlukan pendekatan yang lebih strategis, karena kelompok ini menentukan arah organisasi. Upaya penyelarasan visi, pembagian peran yang tegas, dan budaya saling menghargai menjadi kunci utama. Pertemuan rutin yang berfokus pada strategi, evaluasi menyeluruh, serta diskusi terbuka membantu memperkuat kohesi tim sehingga mereka dapat bergerak secara kompak dalam mengambil keputusan penting.
5. Cara mengetahui hukuman yang tepat bagi karyawan bermasalah
Untuk menentukan sanksi yang tepat, pemimpin harus memulai dengan menggali fakta secara objektif dan melihat konteks pelanggaran yang dilakukan. Keputusan yang dibuat sebaiknya konsisten dengan kebijakan organisasi dan mempertimbangkan riwayat perilaku karyawan. Sanksi harus proporsional—cukup memberi efek jera, namun tetap memberi ruang bagi karyawan untuk belajar dan memperbaiki dirinya.
Sebagai balasan Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 15

oleh Willya Marsha Annisa Wardhany -
Willya Marsha Annisa W 2421011040

Izin menjawab evaluasi sesi 15 bu..

1. Jelaskan cara menciptakan visi yang baik!
Dalam konteks cross-cultural leadership, visi yang baik harus mampu menjembatani perbedaan nilai dan ekspektasi budaya di dalam organisasi. Untuk itu, pemimpin perlu memahami karakteristik budaya karyawan, seperti tingkat hierarki, gaya komunikasi, serta orientasi individualisme atau kolektivisme. Visi harus dirumuskan secara jelas, sederhana, dan menggunakan bahasa yang inklusif agar dapat diterima oleh semua kelompok budaya. Selain itu, proses penyusunan visi sebaiknya melibatkan perwakilan dari berbagai negara dan latar belakang agar visi benar-benar mencerminkan keberagaman. Setelah dirumuskan, visi perlu dikomunikasikan secara adaptif—langsung dan detail untuk budaya low-context, serta simbolis dan naratif untuk budaya high-context—sehingga maknanya dipahami secara konsisten di seluruh organisasi.

2. Jelaskan cara mengatasi konflik yang buruk !
Konflik yang buruk dalam lingkungan kerja multikultural biasanya muncul karena perbedaan gaya komunikasi, cara pengambilan keputusan, dan persepsi terhadap otoritas. Pemimpin lintas budaya perlu mengidentifikasi terlebih dahulu sumber konflik yang mungkin dipengaruhi oleh faktor budaya, kemudian melakukan mediasi dengan pendekatan sensitif budaya, misalnya menggunakan mediator yang memahami kedua nilai budaya pihak yang berselisih. Dalam proses penyelesaian, pemimpin harus menghindari sikap menyalahkan dan lebih fokus pada pemahaman serta rekonsiliasi. Gaya penyelesaian konflik juga harus adaptif: kolaboratif bagi budaya egaliter dan lebih akomodatif bagi budaya dengan power distance tinggi. Dengan cara ini, konflik dapat diubah menjadi pembelajaran, bukan sumber kerusakan hubungan.

3. Jelaskan teknik negosiasi antar pemimpin !
Negosiasi dalam kepemimpinan lintas budaya memerlukan kemampuan memahami preferensi budaya terkait komunikasi, keputusan, dan gaya penyampaian kepentingan. Pemimpin perlu memulai negosiasi dengan membangun cultural awareness, yaitu memahami apakah pihak lain berasal dari budaya yang lebih langsung atau tidak langsung, lebih kompetitif atau kooperatif, serta lebih berorientasi hubungan atau tugas. Dalam proses negosiasi, pemimpin harus mampu menyesuaikan taktik seperti tingkat ketegasan, cara menyampaikan penolakan, atau memberikan konsesi agar tidak melanggar norma budaya pihak lain. Teknik negosiasi efektif dalam konteks lintas budaya selalu menekankan empati, fleksibilitas, menjaga kehormatan pihak lain, dan mencari solusi yang menguntungkan kedua belah pihak (win-win).

4. Jelaskan cara pembangunan tim di posisi puncak!
Pembangunan tim eksekutif lintas budaya memerlukan pemimpin yang mampu memadukan perspektif global dengan kekuatan lokal. Cara membangunnya adalah dengan menciptakan lingkungan yang inklusif, di mana setiap anggota dari budaya berbeda merasa aman menyampaikan ide dan kritik. Pemimpin puncak perlu membangun shared purpose yang dapat diterima oleh semua budaya, sekaligus memastikan peran dan tanggung jawab jelas agar tidak menimbulkan ambiguitas, terutama di budaya dengan ketidakpastian rendah. Selain itu, pemimpin perlu memfasilitasi interaksi lintas budaya melalui pelatihan, kolaborasi lintas negara, dan sistem kerja yang mendorong saling ketergantungan positif. Dengan demikian, tim puncak mampu bekerja harmonis dan memanfaatkan keberagaman sebagai keunggulan strategis.

5. Bagaimana cara untuk dapat mengetahui hukuman yang tepat bagi karyawan bermasalah?
Dalam kepemimpinan multikultural, menentukan hukuman yang tepat harus mempertimbangkan standar kebijakan perusahaan sekaligus norma budaya yang berlaku di lingkungan kerja. Pemimpin perlu memahami bagaimana budaya tertentu memandang teguran, hukuman, dan kehilangan muka (loss of face). Di beberapa budaya, hukuman langsung dianggap adil, tetapi di budaya lain dapat menimbulkan rasa malu yang berlebihan. Untuk itu, penentuan hukuman harus melalui analisis objektif terhadap tingkat pelanggaran, konsistensi aturan, serta dampaknya terhadap keharmonisan tim lintas budaya. Pemimpin sebaiknya menerapkan prinsip keadilan distributif dan prosedural, memastikan prosesnya transparan dan tidak bias budaya. Dengan pendekatan ini, hukuman tetap adil sekaligus menghormati keragaman nilai yang ada di organisasi.
Sebagai balasan Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 15

oleh Ledi Cahaya Sibuea 2421011027 -
Nama : Ledi Cahaya Sibuea
Npm : 2421011027

1. Jelaskan cara menciptakan visi yang baik!
Visi yang baik adalah gambaran masa depan yang ingin dicapai organisasi. Untuk menciptakannya, diperlukan beberapa langkah:
1. Memahami kondisi organisasi saat ini
Analisis kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman (SWOT) agar visi dapat realistis namun tetap menantang.
2. Melibatkan pemangku kepentingan
Pemimpin mengajak manajemen, karyawan, dan kadang pelanggan untuk memberikan masukan - ini meningkatkan rasa memiliki.
3. Memproyeksikan masa depan jangka panjang
Visi harus melihat 5 - 10 tahun ke depan dan menggambarkan kondisi ideal organisasi.
4. Menyusun gambaran yang jelas, inspiratif, dan mudah dipahami
Visi tidak boleh terlalu teknis. Gunakan kalimat singkat, kuat, dan mudah diingat.
5. Konsisten dengan nilai dan budaya organisasi
Visi yang bertentangan dengan budaya organisasi akan sulit diterapkan.
6. Menguji visi (feasible, desirable, achievable)
Pastikan visi tidak mustahil dicapai, tetapi tetap menantang.

2. Jelaskan cara mengatasi konflik yang buruk!
Konflik buruk adalah konflik yang merusak hubungan, mengganggu pekerjaan, dan menghambat kinerja. Cara mengatasinya:
1. Mengidentifikasi akar masalah
Pecahnya komunikasi? Kesalahpahaman? Ketidakadilan? Atau benturan kepentingan?
2. Menerapkan komunikasi terbuka dan empatik
Pemimpin mengajak pihak-pihak yang berkonflik untuk saling menyampaikan pendapat tanpa saling menyalahkan.
3. Menerapkan aturan “serang masalah, bukan orang”
Fokus pada masalah, bukan emosi atau karakter individu.
4. Memfasilitasi mediasi
Pemimpin bertindak sebagai mediator untuk menemukan solusi win–win.
5. Menyusun kesepakatan tertulis
Agar kedua pihak jelas terhadap kewajiban dan batasan mereka.
6. Memberikan pembinaan atau tindakan disiplin bila perlu
Jika konflik disebabkan oleh perilaku buruk, pemimpin harus memberi konsekuensi sesuai aturan.

3. Jelaskan teknik negosiasi antar pemimpin!
Negosiasi antar pemimpin biasanya dilakukan untuk menyatukan kepentingan organisasi atau bagian. Tekniknya:
1. Persiapan matang
Menentukan tujuan, batas minimal, data pendukung, dan alternatif solusi (BATNA).
2. Membangun hubungan positif
Hubungan yang baik mempermudah komunikasi dan mengurangi resistensi.
3. Teknik Win-Win Negotiation
Fokus menghasilkan solusi yang menguntungkan bagi semua pihak, bukan menang-kalah.
4. Active Listening (Mendengarkan aktif)
Memahami apa yang benar-benar dibutuhkan pihak lain, bukan hanya apa yang mereka katakan.
5. Klarifikasi dan kesepakatan bertahap
Negosiasi dilakukan langkah demi langkah, bukan sekaligus.
6. Mengelola emosi
Pemimpin harus tetap objektif dan tidak terseret ego.
7. Dokumentasi hasil negosiasi
Agar jelas dan menghindari penafsiran berbeda di kemudian hari.

4. Jelaskan cara pembangunan tim di posisi puncak!
Pembangunan tim (top management team building) sangat penting karena tim puncak menentukan strategi organisasi.
1. Menciptakan visi dan tujuan bersama
Semua anggota tim puncak harus memiliki pemahaman yang sama terhadap arah organisasi.
2. Menyelaraskan peran dan tanggung jawab
Setiap anggota harus tahu batas fungsi dan kontribusi masing-masing.
3. Membangun kepercayaan (trust building)
Melalui transparansi, integritas, dan komunikasi yang jujur.
4. Menciptakan budaya diskusi dan perbedaan pendapat yang sehat
Perbedaan sudut pandang diperlukan dalam tim puncak untuk mengambil keputusan strategis.
5. Sistem evaluasi kinerja bersama
Agar semua anggota merasa bertanggung jawab atas hasil organisasi, bukan hanya unitnya.
6. Pelatihan kepemimpinan dan kolaborasi
Termasuk coaching, retreat manajemen, dan workshop.
7. Mengelola konflik secara dewasa
Konflik di tim puncak harus dianggap sebagai input strategis, bukan ancaman.


6. Bagaimana cara untuk dapat mengetahui hukuman yang tepat bagi karyawan bermasalah?
Menentukan hukuman harus adil, proporsional, dan mengikuti prosedur resmi.
1. Mengidentifikasi jenis pelanggaran
Apakah pelanggaran ringan (terlambat), sedang (melawan atasan), atau berat (kecurangan)?
2. Mengacu pada peraturan perusahaan
Setiap organisasi biasanya memiliki SOP disiplin yang menetapkan jenis hukuman untuk tiap pelanggaran.
3. Melakukan investigasi fakta
Wawancara saksi, cek bukti, dan pastikan tidak ada asumsi sepihak.
4. Menerapkan asas keadilan dan konsistensi
Pelanggaran yang sama - hukuman yang sama, tidak membeda-bedakan individu.
5. Mempertimbangkan riwayat karyawan
Karyawan dengan catatan baik mungkin mendapat peringatan lebih ringan.
6. Menggunakan prinsip progressive discipline
Mulai dari yang paling ringan ke berat:
• Teguran lisan
• Teguran tertulis
• Skorsing
• Pemotongan insentif
• PHK (jika sangat berat)
7. Melakukan diskusi pembinaan
Hukuman harus disertai arahan perbaikan, bukan sekadar menghukum.
8. Dokumentasi lengkap
Untuk mencegah sengketa hukum di masa depan.
Sebagai balasan Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 15

oleh DEWIANA SARI UTAMI -
Dewiana Sari Utami - 2421011035, Izin menjawab pertanyaan evaluasi yang diberikan

1.Jelaskan cara menciptakan visi yang baik!
Jawab:
Visi yang baik diciptakan melalui proses partisipatif dan realistis. Pertama, libatkan pemangku kepentingan kunci untuk mengumpulkan berbagai perspektif. Visi harus jelas, inspiratif, dan mudah diingat, mencerminkan tujuan jangka panjang organisasi. Selain itu, visi harus selaras dengan nilai-nilai inti dan mampu menjawab tantangan masa depan. Pastikan visi tersebut dapat diukur dan dikomunikasikan secara konsisten agar seluruh anggota memahami dan termotivasi untuk mencapainya

2. Jelaskan cara mengatasi konflik yang buruk !
Jawab:
Mengatasi konflik buruk memerlukan pendekatan proaktif dan objektif. Identifikasi akar masalah melalui dialog tanpa menghakimi. Dengarkan semua pihak dengan empati, lalu fokus pada kepentingan bersama, bukan posisi masing-masing. Gunakan mediasi jika diperlukan, dan cari solusi win-win yang adil. Setelah konflik reda, evaluasi penyebabnya dan buat mekanisme pencegahan, seperti klarifikasi peran atau pelatihan komunikasi, agar tidak terulang.

3. Jelaskan teknik negosiasi antar pemimpin !
Jawab:
Negosiasi antar pemimpin efektif bila didasari persiapan matang dan sikap kolaboratif. Kumpulkan data pendukung, pahami kebutuhan dan batasan kedua belah pihak, serta tetapkan tujuan realistis. Selama negosiasi, gunakan komunikasi asertif tanpa agresif, pertahankan fokus pada tujuan organisasi, dan cari titik temu yang saling menguntungkan. Bangun kepercayaan dengan transparansi, dan jika terjadi kebuntuan, ajukan opsi alternatif atau kompromi yang tetap menjaga hubungan jangka panjang.

4. Jelaskan cara pembangunan tim di posisi puncak!
Jawab:
Membangun tim di level puncak membutuhkan penekanan pada keselarasan strategis dan kepercayaan. Rekrut anggota berdasarkan kompetensi dan nilai yang sejalan dengan visi organisasi. Tentukan peran dan tanggung jawab dengan jelas, sambil mendorong kolaborasi lintas fungsi. Lakukan pertemuan rutin untuk evaluasi strategis, dan ciptakan lingkungan yang aman untuk berdiskusi terbuka. Tingkatkan kohesi tim melalui retreat atau pelatihan kepemimpinan bersama, serta berikan otonomi disertai akuntabilitas.

6. Bagaimana cara untuk dapat mengetahui hukuman yang tepat bagi karyawan bermasalah?
Jawab:
Menentukan hukuman yang tepat diawali dengan investigasi objektif. Kumpulkan fakta dan bukti terkait pelanggaran, lalu evaluasi berdasarkan kebijakan perusahaan dan hukum yang berlaku. Pertimbangkan tingkat kesalahan, dampaknya, serta rekam jejak karyawan sebelumnya. Libatkan tim HR untuk memastikan keadilan dan konsistensi. Hukuman harus proporsional, mulai dari teguran lisan, tertulis, hingga pemutusan hubungan kerja, dengan tujuan korektif dan pencegahan, bukan balas dendam.
Sebagai balasan Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 15

oleh FEBIOLA EFRIANI -
Selamat siang ibu prof, izin menjawab pertanyaan evaluasi sesi 15..
Febiola Efriani (2421011015)

1. Cara menciptakan visi yang baik
Visi yang baik dibuat dengan memahami kondisi dan nilai organisasi, termasuk keberagaman budaya di dalamnya. Pemimpin harus merumuskan gambaran masa depan yang jelas, realistis, dan mampu menginspirasi semua anggota. Bahasa yang digunakan harus sederhana agar mudah dipahami, serta prosesnya sebaiknya melibatkan karyawan agar visi tersebut benar-benar diterima dan dijalankan bersama. Setelah itu, visi perlu dikomunikasikan secara konsisten agar menjadi arah yang dipahami semua pihak.

2. Cara mengatasi konflik yang buruk
Untuk menangani konflik yang tidak sehat, pemimpin perlu mencari tahu sumber masalahnya terlebih dahulu. Setelah itu, pemimpin membuka dialog yang terbuka dan menenangkan agar masing-masing pihak bisa menyampaikan pandangannya. Pendekatan empati dan komunikasi yang baik sangat membantu meredakan suasana. Jika diperlukan, mediator dapat digunakan agar penyelesaian berjalan lebih objektif. Tujuan akhirnya adalah menemukan solusi yang adil dan menjaga hubungan kerja tetap positif.

3. Teknik negosiasi antar pemimpin
Negosiasi antar pemimpin memerlukan persiapan yang matang dan pemahaman mengenai kepentingan kedua belah pihak. Pemimpin harus mampu membangun suasana yang saling menghormati, bersikap fleksibel, serta fokus pada hasil yang menguntungkan bersama. Pengendalian emosi juga penting agar proses tetap berjalan profesional. Setelah kesepakatan dicapai, hasilnya harus dicatat dengan jelas untuk menghindari salah tafsir.

4. Cara pembangunan tim di posisi puncak
Pembangunan tim di level puncak dimulai dengan memilih anggota yang kompeten dan beragam agar keputusan lebih kaya perspektif. Tim kemudian perlu dibangun dengan dasar kepercayaan, komunikasi terbuka, dan tujuan yang sama. Rapat rutin, pembagian tugas yang jelas, dan kerja sama yang kuat membantu tim puncak menjadi lebih efektif dalam menjalankan arah strategis organisasi.

6. Mengetahui hukuman yang tepat bagi karyawan bermasalah
Untuk menentukan hukuman yang tepat, pemimpin harus memahami penyebab perilaku bermasalah melalui penelusuran fakta dan mendengarkan penjelasan karyawan. Keputusan harus mengacu pada aturan perusahaan dan tingkat pelanggarannya, mulai dari teguran sampai tindakan disiplin yang lebih berat. Aspek keadilan dan cara penyampaian yang profesional juga penting agar hukuman tidak menimbulkan konflik baru

Terima kasih ibu..
Sebagai balasan Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 15

oleh Kerin Yolanda Clara -
Kerin Yolanda Clara NPM 2421011053 berikut jawaban dari pertanyaan diatas :

1. Cara menciptakan visi yang baik
Visi yang efektif lahir dari pemahaman mendalam terhadap arah jangka panjang organisasi serta nilai inti yang ingin diwujudkan. Pemimpin perlu menganalisis lingkungan bisnis, peluang masa depan, dan aspirasi tim, lalu merumuskan gambaran masa depan yang jelas, inspiratif, dan realistis. Visi yang baik bukan hanya kalimat indah, tetapi narasi strategis yang mampu menggerakkan emosi, memberi arah tindakan, serta mudah dipahami semua anggota organisasi sehingga mereka merasa terlibat dalam pencapaiannya.

2. Cara mengatasi konflik yang buruk
Konflik yang merusak perlu ditangani dengan pendekatan komunikasi terbuka dan pemahaman empatik. Pemimpin harus mampu mengidentifikasi akar masalah, mendengarkan kedua pihak tanpa bias, dan menetapkan aturan dialog yang konstruktif. Setelah itu, pemimpin memfasilitasi pencarian solusi yang saling menguntungkan, memastikan setiap pihak memahami perannya, serta membangun kembali hubungan kerja melalui kepercayaan dan kejelasan peran agar konflik tidak berulang.

3. Teknik negosiasi antar pemimpin
Negosiasi antar pemimpin membutuhkan kemampuan membaca kepentingan strategis masing-masing pihak serta menciptakan ruang kompromi yang adil. Teknik yang umum digunakan adalah pendekatan interest-based negotiation, yaitu fokus pada kepentingan, bukan posisi; penggunaan data obyektif sebagai dasar keputusan; dan pencarian alternatif kreatif yang memberi nilai tambah bagi kedua belah pihak. Pemimpin juga harus menjaga profesionalitas, mengelola emosi, dan membangun hubungan jangka panjang agar hasil negosiasi tidak sekadar menyelesaikan masalah, tetapi memperkuat kolaborasi.

4. Cara pembangunan tim di posisi puncak
Membangun tim eksekutif membutuhkan proses seleksi yang cermat, penetapan tujuan bersama, dan penciptaan budaya kerja yang saling mempercayai. Pemimpin puncak harus mendorong kolaborasi melalui pembagian peran yang jelas, forum diskusi strategis, serta evaluasi rutin yang mengutamakan transparansi. Selain itu, penguatan keselarasan nilai dan komitmen bersama menjadi kunci agar tim puncak mampu mengambil keputusan besar secara cepat dan solid.

5. Cara menentukan hukuman yang tepat bagi karyawan bermasalah
Penetapan sanksi yang tepat dilakukan melalui penilaian objektif terhadap tingkat kesalahan, dampaknya terhadap organisasi, serta riwayat perilaku karyawan. Pemimpin sebaiknya mengacu pada kebijakan perusahaan (misalnya aturan disiplin, SOP, atau kode etik) dan memastikan proses penegakan hukuman berlangsung adil, proporsional, dan konsisten. Pendekatan ini membantu memastikan bahwa hukuman tidak hanya sebagai tindakan korektif, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran agar karyawan dapat memperbaiki diri dan tetap produktif.
Sebagai balasan Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 15

oleh Fifkha Rizky Amalia -
Fifkha Rizky Amalia - 2421011032

Izin menjawab Ibu
1. Cara menciptakan visi yang baik
Untuk membuat visi yang kuat, pemimpin perlu benar-benar memahami arah masa depan organisasi. Visi tidak boleh hanya jadi kalimat formal, tetapi harus bisa menggerakkan orang. Beberapa cara yang umum dilakukan:
- Memahami kondisi organisasi saat ini, termasuk kekuatan dan masalahnya.
- Membayangkan masa depan ideal yang ingin dicapai, tetapi tetap realistis.
- Membuat visi yang jelas, singkat, dan mudah diingat oleh semua orang.
- Memastikan visi tersebut mampu menginspirasi dan membuat orang merasa ingin ikut mewujudkannya.
- Mengkomunikasikan visi secara konsisten melalui kata-kata maupun tindakan pemimpin.

2. Cara mengatasi konflik yang buruk
Konflik yang buruk biasanya menghambat pekerjaan dan merusak hubungan antar anggota tim. Pemimpin harus menanganinya dengan cepat dan tepat agar tidak semakin besar. Cara mengatasinya:
- Menemukan akar masalahnya terlebih dahulu, bukan hanya melihat permukaan.
- Memberi kesempatan semua pihak untuk bicara dan didengar secara adil.
- Mengarahkan diskusi agar fokus pada masalahnya, bukan menyerang pribadi.
- Menetapkan aturan komunikasi yang tenang dan saling menghargai.
- Mencari titik temu yang bisa diterima semua pihak.
- Memberikan batasan dan konsekuensi jika ada perilaku yang melewati batas.

3. Teknik negosiasi antar pemimpin
Negosiasi antar pemimpin membutuhkan kemampuan komunikasi dan strategi yang baik karena biasanya menyangkut kepentingan organisasi. Teknik yang sering digunakan:
- Melakukan persiapan dengan memahami apa yang diinginkan dan apa yang bisa dikompromikan.
- Membangun hubungan positif terlebih dahulu supaya suasana negosiasi lebih nyaman.
- Berkomunikasi dengan tegas tetapi tetap sopan.
- Mencari solusi yang menguntungkan kedua belah pihak atau win-win solution.
- Menggunakan trade-off, yaitu memberikan sesuatu untuk mendapatkan hal lain.
- Merangkum hasil kesepakatan secara jelas di akhir pertemuan.

4. Cara pembangunan tim di posisi puncak
Tim di tingkat puncak sangat menentukan arah organisasi. Karena itu proses pembentukannya harus benar-benar diperhatikan. Cara yang biasanya dilakukan:
- Memilih anggota tim dengan keahlian yang beragam agar keputusan lebih kaya perspektif.
- Membangun kepercayaan melalui komunikasi terbuka dan saling menghargai.
- Menetapkan tujuan bersama yang jelas sehingga semua bergerak ke arah yang sama.
- Membuat rutinitas kerja yang efektif seperti rapat berkala dan mekanisme keputusan.
- Mendorong kolaborasi dan menghindari persaingan yang tidak sehat.

6. Cara mengetahui hukuman yang tepat bagi karyawan bermasalah
Menentukan hukuman harus dilakukan dengan hati-hati agar tetap adil dan sesuai aturan organisasi. Langkah yang biasanya dilakukan:
- Melakukan investigasi terlebih dahulu untuk memastikan fakta yang sebenarnya.
- Menilai tingkat kesalahan apakah termasuk pelanggaran ringan, sedang, atau berat.
- Menyesuaikan hukuman dengan aturan perusahaan dan contoh kasus sebelumnya.
- Mempertimbangkan apakah pembinaan atau coaching masih bisa dilakukan sebelum memberi hukuman berat.
- Memberikan hukuman yang proporsional dan konsisten agar tidak menimbulkan rasa ketidakadilan.
Sebagai balasan Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 15

oleh FEBIOLA EFRIANI -
RANTI DWI OCTAVIANI _ 2421011045


1. Cara menciptakan visi yang baik
Untuk menciptakan visi yang baik, seorang pemimpin perlu memahami konteks budaya organisasi secara mendalam agar visi yang dirumuskan tidak bertentangan dengan nilai dan keyakinan kelompok-kelompok yang ada di dalamnya. Pemimpin kemudian harus menganalisis kondisi internal dan eksternal organisasi untuk menemukan peluang, ancaman, serta arah perkembangan masa depan. Setelah memiliki gambaran yang jelas, pemimpin dapat merumuskan visi yang sederhana, jelas, dan inspiratif menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh berbagai latar budaya. Proses pembuatan visi sebaiknya melibatkan anggota organisasi dari berbagai kelompok budaya agar visi tersebut lebih diterima, dihargai, dan dirasakan sebagai milik bersama. Setelah visi disusun, pemimpin perlu mengomunikasikannya secara konsisten melalui berbagai saluran dan menyesuaikannya dengan gaya komunikasi budaya yang berbeda.

2. Cara mengatasi konflik yang buruk
Konflik yang buruk dapat diatasi dengan terlebih dahulu mengidentifikasi akar permasalahannya, apakah berasal dari perbedaan budaya, miskomunikasi, atau kepentingan tertentu. Setelah itu, pemimpin perlu menggunakan komunikasi empatik melalui mendengarkan secara aktif dan memahami perspektif masing-masing pihak tanpa menghakimi. Jika konflik cukup rumit, seorang mediator netral dapat membantu menjembatani perbedaan nilai maupun gaya komunikasi. Selama proses penyelesaian, sangat penting untuk menetapkan aturan diskusi agar fokus tetap pada masalah, bukan menyerang pribadi. Pendekatan yang paling efektif adalah mencari solusi yang mampu memenuhi kepentingan kedua belah pihak sehingga konflik dapat berubah menjadi peluang perbaikan dan pembelajaran.

3. Teknik negosiasi antar pemimpin
Dalam negosiasi antar pemimpin, terutama dalam konteks lintas budaya, persiapan yang matang adalah kunci utama. Pemimpin perlu memahami tujuan negosiasi baik dari pihak sendiri maupun pihak lain, termasuk mempelajari budaya komunikasi dan gaya negosiasi yang digunakan lawannya. Beberapa budaya lebih mengutamakan hubungan personal sehingga membangun relasi terlebih dahulu menjadi penting sebelum membahas substansi negosiasi. Selama proses negosiasi, pemimpin harus fleksibel dalam berkomunikasi dan mampu menyesuaikan diri dengan budaya individualis maupun kolektivis. Teknik negosiasi yang paling efektif adalah strategi win-win, yaitu mencari nilai tambah yang bisa menguntungkan kedua pihak. Untuk menjaga kualitas negosiasi, pengendalian emosi sangat penting sehingga pembicaraan tetap rasional. Hasil akhir negosiasi harus dituangkan dalam kesepakatan yang jelas agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di kemudian hari.

4. Cara pembangunan tim di posisi puncak
Membangun tim di posisi puncak memerlukan upaya strategis yang fokus pada keragaman, kepercayaan, dan kejelasan tujuan. Pemimpin harus merekrut atau memilih anggota tim yang berasal dari berbagai latar belakang budaya dan keahlian agar keputusan yang dihasilkan lebih komprehensif. Setelah tim terbentuk, pemimpin perlu membangun budaya kepercayaan melalui transparansi dan integritas sehingga anggota tim nyaman untuk berdiskusi dan menyampaikan pendapat. Tujuan organisasi dan arah strategis harus dijelaskan secara menyeluruh agar setiap pimpinan memahami peran dan kewajibannya. Komunikasi terbuka harus difasilitasi melalui pertemuan rutin, sesi evaluasi, dan forum kolaboratif lainnya. Selain itu, pembangunan tim puncak membutuhkan pelatihan berkelanjutan, terutama dalam kepemimpinan lintas budaya, komunikasi strategis, dan manajemen konflik. Semua ini harus didukung oleh norma dan prosedur kerja yang jelas sehingga kerja sama dalam tim berjalan harmonis dan efektif.

6. Cara mengetahui hukuman yang tepat bagi karyawan bermasalah
Untuk menentukan hukuman yang tepat bagi karyawan bermasalah, pemimpin harus terlebih dahulu menelusuri akar persoalan yang menyebabkan perilaku tersebut, apakah karena ketidaktahuan, perbedaan budaya, tekanan pekerjaan, atau kelalaian yang dilakukan secara sengaja. Pemimpin perlu mengacu pada kebijakan perusahaan dan aturan ketenagakerjaan yang berlaku agar keputusan yang diambil adil dan sesuai prosedur. Penting untuk menerapkan prinsip keadilan prosedural dengan mendengarkan penjelasan karyawan dan mengumpulkan bukti sebelum memberikan sanksi. Tingkat hukuman harus disesuaikan dengan tingkat pelanggaran, misalnya teguran lisan untuk pelanggaran ringan, teguran tertulis atau pelatihan ulang untuk pelanggaran sedang, dan skorsing atau tindakan lebih tegas untuk pelanggaran berat. Pemimpin juga harus mempertimbangkan aspek budaya, karena beberapa budaya sensitif terhadap kritik atau sanksi yang diberikan secara terbuka, sehingga penyampaian hukuman sebaiknya dilakukan secara privat. Setiap langkah dan keputusan harus didokumentasikan agar prosesnya transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.
Sebagai balasan Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 15

oleh Fernando Hosse Fahrezi -
Izin Menjawab Evaluasi sesi 15 Ibu
Nama Fernando Hosse Fahrezi
Npm 2421011042

1. Cara Menciptakan Visi yang Baik dalam Kepemimpinan

Visi yang baik adalah landasan strategis bagi organisasi dan menjadi kompas yang mengarahkan seluruh aktivitas menuju tujuan jangka panjang. Untuk menciptakan visi yang baik, pemimpin perlu memperhatikan beberapa hal penting sebagai berikut:

a. Penyelarasan dengan Nilai dan Strategi Organisasi: Visi harus mencerminkan nilai-nilai inti dan tujuan strategis organisasi. Pemimpin perlu memahami konteks organisasi, baik secara internal (budaya, sumber daya) maupun eksternal (tuntutan pasar, tren industri).

b. Keterlibatan Stakeholder: Menciptakan visi yang inklusif membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, terutama dari kalangan pemangku kepentingan internal (karyawan, manajer, dan tim operasional) dan eksternal (klien, investor, masyarakat). Hal ini memastikan bahwa visi tersebut dapat diterima dan dijalankan dengan komitmen bersama.

c. Keterukuran dan Keberlanjutan: Visi harus memiliki elemen keberlanjutan dan dapat diukur dengan indikator yang jelas. Penggunaan model seperti SMART goals (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-bound) sangat membantu dalam memberikan kejelasan pada tujuan yang ingin dicapai dalam jangka panjang.

d. Kepemimpinan yang Inspiratif: Visi yang baik bersifat menginspirasi dan menantang, menciptakan rasa urgensi dan motivasi yang tinggi bagi seluruh anggota organisasi. Visi yang tepat harus mampu menyatukan dan memberi makna pada setiap individu dalam organisasi.

e. Komunikasi yang Efektif: Agar visi dapat diterima dan dijalankan dengan baik, pemimpin harus memastikan bahwa visi tersebut disampaikan dengan jelas dan berkesinambungan, serta dibarengi dengan tindakan nyata yang mendukung pencapaiannya.

2. Cara Mengatasi Konflik yang Buruk dalam Organisasi

Konflik dalam organisasi adalah hal yang wajar, namun konflik yang buruk (destruktif) dapat merugikan dan menghambat kinerja. Untuk mengatasi konflik yang buruk, berikut adalah pendekatan berbasis teori kepemimpinan yang dapat diterapkan:

a. Pemahaman Sumber Konflik: Menurut Thomas-Kilmann Conflict Mode Instrument (TKI), ada lima gaya dalam mengatasi konflik: kompetisi, kolaborasi, kompromi, penghindaran, dan akomodasi. Pemimpin perlu memahami dinamika konflik dan memilih gaya yang sesuai berdasarkan sifat konflik dan budaya organisasi.

b. Pendekatan Kolaboratif: Konflik yang buruk sering kali disebabkan oleh ketidakmampuan untuk berkomunikasi atau bekerja sama. Pendekatan kolaboratif (win-win) adalah cara terbaik untuk menyelesaikan konflik, di mana setiap pihak merasa diuntungkan. Ini mencakup diskusi terbuka, menemukan solusi kreatif, dan menyelesaikan masalah bersama-sama.

c. Mediation dan Penyelesaian Secara Formal: Ketika konflik sudah meruncing dan tidak dapat diselesaikan melalui diskusi internal, menggunakan pihak ketiga atau mediator (internal atau eksternal) untuk menengahi masalah sering kali diperlukan. Pendekatan ini penting untuk mencapai resolusi yang adil dan objektif.

d. Pengelolaan Emosi dalam Konflik: Pemimpin yang efektif harus dapat mengelola emosi mereka sendiri dan membantu tim mereka untuk mengelola emosi selama konflik. Model Emotional Intelligence (EI) yang dipopulerkan oleh Daniel Goleman dapat menjadi acuan dalam hal ini, karena EI berperan besar dalam menjaga hubungan interpersonal yang sehat.

e. Penyelesaian yang Berkelanjutan: Mengatasi konflik tidak hanya menyelesaikan masalah jangka pendek, tetapi juga memastikan bahwa masalah yang mendasarinya tidak terulang di masa depan. Ini melibatkan evaluasi dan perubahan dalam kebijakan atau praktik yang mungkin menyebabkan konflik.

3. Teknik Negosiasi Antar Pemimpin

Negosiasi antar pemimpin atau pemimpin dengan pemimpin membutuhkan pendekatan yang berbasis pada keterampilan komunikasi dan pemahaman strategis. Teknik-teknik yang sering digunakan dalam negosiasi pada tingkat kepemimpinan antara lain:

a. Pendekatan Integratif: Negosiasi integratif berfokus pada menciptakan nilai bersama atau solusi yang saling menguntungkan bagi semua pihak. Pemimpin harus berusaha untuk menemukan titik temu yang tidak hanya mempertimbangkan kebutuhan mereka, tetapi juga kebutuhan pihak lain, menciptakan hubungan yang lebih saling menguntungkan.

b. Mendengarkan secara Aktif dan Empatik: Menggunakan teknik active listening sangat penting untuk memahami kebutuhan dan kepentingan pihak lain. Kemampuan untuk mendengarkan secara empatik memungkinkan pemimpin untuk memperoleh informasi yang lebih dalam, mengurangi ketegangan, dan membangun hubungan yang lebih produktif.

c. Penawaran yang Fleksibel: Pemimpin harus menguasai seni untuk memberikan penawaran yang fleksibel. Ketika menghadapi negosiasi dengan pemimpin lain, sikap terbuka terhadap perubahan posisi atau alternatif sangat penting dalam membangun kesepakatan yang saling menguntungkan.

d. Pengelolaan Konflik yang Efektif: Pada tingkat kepemimpinan, sering kali terdapat konflik kepentingan. Oleh karena itu, pemimpin perlu memiliki keterampilan untuk menyeimbangkan dan mengelola perbedaan tersebut dengan cara yang konstruktif. BATNA (Best Alternative to a Negotiated Agreement) adalah konsep penting dalam negosiasi yang membantu pemimpin memahami kapan harus menerima atau menolak tawaran yang ada.

e. Menjaga Hubungan dalam Negosiasi: Negosiasi tidak hanya tentang mencapai kesepakatan jangka pendek, tetapi juga tentang menjaga hubungan jangka panjang. Oleh karena itu, penting bagi pemimpin untuk tetap menjaga rasa hormat, transparansi, dan integritas selama proses negosiasi.

4. Cara Pembangunan Tim di Posisi Puncak

Pada tingkat puncak (eksekutif atau manajer senior), pembangunan tim membutuhkan pendekatan yang lebih strategis dan berorientasi pada hasil. Berikut adalah beberapa hal yang perlu dilakukan untuk membangun tim yang efektif di posisi puncak:

a. Seleksi Anggota Tim Berdasarkan Kompetensi dan Kemampuan Kepemimpinan: Tim di posisi puncak harus terdiri dari individu yang memiliki keahlian di berbagai bidang dan mampu berfungsi sebagai pemimpin dalam konteks masing-masing. Menggunakan model Team Effectiveness seperti yang dijelaskan oleh Katzenbach & Smith, pemimpin harus memastikan adanya keberagaman keterampilan dan pengalaman yang saling melengkapi.

b. Kepemimpinan yang Kolaboratif dan Partisipatif: Kepemimpinan di tingkat puncak harus menekankan kolaborasi dan pembagian wewenang. Model Kepemimpinan Transformasional sangat cocok diterapkan pada tim tingkat eksekutif, di mana pemimpin berfokus pada pemberdayaan anggota tim untuk berkembang dan berinovasi.

c. Komunikasi yang Terbuka dan Transparan: Untuk memfasilitasi keputusan yang tepat, komunikasi yang terbuka sangat diperlukan. Pemimpin perlu memastikan bahwa informasi penting mengalir dengan lancar di antara anggota tim dan seluruh pihak terkait.

d. Pengembangan Kepercayaan dan Sinergi: Di tim puncak, hubungan antar anggota harus didasarkan pada kepercayaan yang tinggi. Model Kepercayaan dalam Kepemimpinan (Mayer, Davis, & Schoorman) mengajarkan bahwa kepercayaan didasarkan pada tiga komponen utama: kompetensi, niat baik, dan integritas.

e. Evaluasi dan Umpan Balik Kinerja: Evaluasi dan umpan balik harus dilakukan secara reguler untuk memastikan bahwa tujuan tim tercapai. Pemimpin harus menerapkan model 360-degree feedback untuk memberikan umpan balik yang komprehensif kepada anggota tim dan mendorong peningkatan kinerja.

5. Menentukan Hukuman yang Tepat untuk Karyawan Bermasalah

Menentukan hukuman yang tepat bagi karyawan bermasalah membutuhkan pemahaman tentang manajemen disiplin dan penerapan kebijakan yang adil dan konsisten. Berikut adalah pendekatan yang dapat digunakan:

a. Evaluasi Tindak Pidana dan Pelanggaran: Pemimpin harus memastikan bahwa masalah yang dihadapi adalah pelanggaran yang nyata dan tidak berdasarkan asumsi atau prasangka. Proses investigasi harus dilakukan secara objektif dan profesional.

b. Penerapan Pendekatan yang Progresif: Menurut teori progressive discipline, hukuman sebaiknya diberikan dengan pendekatan bertahap, dimulai dengan peringatan verbal, diikuti dengan peringatan tertulis, dan akhirnya tindakan yang lebih serius seperti pemecatan jika pelanggaran berlanjut.

c. Pertimbangkan Konteks dan Motivasi Karyawan: Pemimpin perlu mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku karyawan, termasuk apakah masalah tersebut disebabkan oleh faktor eksternal atau kekurangan pelatihan.

d. Konsistensi dan Keadilan: Untuk menghindari diskriminasi atau ketidakadilan, penting bagi organisasi untuk memiliki kebijakan disiplin yang jelas dan diterapkan secara konsisten pada seluruh karyawan, tanpa kecuali.

Sekian Terimakasih Ibu
Sebagai balasan Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 15

oleh Adrian Kevin Prathama -
Adrian Kevin Prathama - 2421011024

izin menjawab Bu Nova

1. Jelaskan cara menciptakan visi yang baik!
Visi adalah gambaran masa depan ideal yang ingin dicapai organisasi. Visi yang baik tidak hanya menjadi kalimat indah, tetapi mampu menggerakkan orang untuk bertindak. Cara menciptakannya:

a. Memahami konteks organisasi dan lingkungannya
Pemimpin harus membaca peluang, ancaman, tren industri, serta kekuatan internal organisasi. Visi yang kuat lahir dari pemahaman realitas, bukan asumsi.

b. Mengikutsertakan pemangku kepentingan (kolaboratif)
Visi tidak harus dibuat pemimpin seorang diri. Melibatkan karyawan kunci, tim strategis, dan stakeholders akan meningkatkan rasa memiliki (sense of ownership).

c. Menyusun visi yang jelas, ringkas, dan inspiratif
Visi harus mudah dipahami, memotivasi, dan dapat diterjemahkan dalam tindakan. Hindari jargon rumit. Contoh: “Menjadi bank daerah terdepan dalam pelayanan digital yang memberdayakan masyarakat.”

d. Merefleksikan nilai inti (core values)
Visi harus selaras dengan etika, karakter, dan budaya organisasi, sehingga tidak hanya berbicara tentang ‘apa’, tetapi juga ‘bagaimana’.

e. Mampu diterjemahkan menjadi strategi
Visi yang baik dapat diturunkan menjadi misi, tujuan, program, KPI, dan budaya kerja. Jika visi tidak bisa diukur melalui langkah nyata, maka itu hanya slogan.

2. Jelaskan cara mengatasi konflik yang buruk!
Konflik buruk adalah konflik yang menghambat kolaborasi, menurunkan produktivitas, dan menimbulkan emosi negatif. Cara mengatasinya:

a. Mengidentifikasi akar masalah, bukan hanya gejalanya
Konflik sering tampak seperti soal teknis, padahal akarnya bisa berupa komunikasi, ketidakadilan, ego, atau persepsi yang salah.

b. Berkomunikasi secara terbuka dan empatik
Pemimpin perlu memberikan ruang bagi semua pihak untuk menyampaikan pandangan tanpa judgement. Mengurangi asumsi dan memperjelas maksud.

c. Bersikap netral dan tidak memperkeruh keadaan
Ketidaknetralan pemimpin akan memperburuk konflik. Ia harus bertindak adil dan tidak memihak individu tertentu berdasarkan kedekatan personal.

d. Mendorong pencarian solusi win–win
Pemimpin membantu pihak-pihak mencari kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak, bukan mencari siapa yang kalah atau menang.

e. Jika tidak mereda, lakukan mekanisme formal
Gunakan prosedur mediasi, arbitrase, atau kebijakan SDM yang jelas jika konflik berlarut. Ini memberikan kejelasan dan batasan profesional.

3. Jelaskan teknik negosiasi antar pemimpin!
Negosiasi antarpemimpin menuntut lebih dari sekadar mencari kesepakatan; mereka membawa kepentingan strategis dan reputasi. Teknik yang efektif:

a. Interest-Based Negotiation (Berbasis Kepentingan)
Fokus pada kepentingan sebenarnya, bukan posisi yang terlihat. Misalnya, bukan hanya meminta anggaran lebih, tetapi membahas tujuan proyek.

b. BATNA (Best Alternative to a Negotiated Agreement)
Pemimpin harus memiliki alternatif terbaik jika negosiasi gagal. Dengan memahami BATNA, pemimpin tidak mudah ditekan dan bisa mengambil keputusan rasional.

c. Collaborative Negotiation (Kolaboratif atau win–win)
Pendekatan ini mengutamakan solusi jangka panjang, menjaga hubungan, dan membangun trust antar pemimpin.

d. Persuasion and Listening Skills
Pemimpin yang efektif tidak hanya berbicara, tetapi mendengarkan. Persuasinya objektif, berbasis data, dan menghindari manipulasi emosional.

e. Ethical Negotiation
Pemimpin menjunjung integritas, tidak menggunakan ancaman tidak etis, dan menjaga transparansi. Negosiasi yang etis membangun reputasi yang tahan lama.

4. Jelaskan cara pembangunan tim di posisi puncak (Top Management Team Building)!
Tim posisi puncak (Direksi/Manajemen eksekutif) menghadapi kompleksitas lebih tinggi. Cara membangunnya:

a. Menentukan kompetensi berbeda yang saling melengkapi
Tim puncak memerlukan keanekaragaman keahlian, bukan sekadar orang-orang pintar. Keanekaragaman perspektif mencegah blind spot dalam keputusan strategis.

b. Menciptakan psychological safety (rasa aman berbicara)
Agar anggota TMT tidak sungkan berbeda pendapat dengan CEO. Lingkungan ini mendorong diskusi kritis, inovatif, dan etis.

c. Menetapkan tujuan bersama dan kesepakatan kerja
Anggota tim puncak harus memahami visi bersama, pembagian peran, batas otoritas, dan mekanisme evaluasi kinerja kolektif.

d. Menumbuhkan budaya feedback dan transparansi
Saling memberi masukan secara profesional tanpa menyerang pribadi. Transparansi mencegah intrik politik organisasi.

e. Membina hubungan interpersonal dan trust
Hubungan yang sehat mengurangi konflik antar eksekutif dan memperkuat kecepatan pengambilan keputusan.

5. Bagaimana cara untuk dapat mengetahui hukuman yang tepat bagi karyawan bermasalah?
Pemimpin harus menghukum bukan untuk balas dendam, tetapi untuk mendidik. Cara mengetahui hukuman yang tepat:

a. Mengacu pada kebijakan dan peraturan perusahaan
Pemimpin wajib memahami aturan disiplin yang berlaku, termasuk tingkatan pelanggaran dan jenis sanksinya. Keputusan harus berbasis hukum, bukan selera pribadi.

b. Mengidentifikasi konteks pelanggaran
Pertimbangkan: niat (sengaja/ tidak sengaja), dampak, frekuensi, dan kondisi psikologis karyawan. Karyawan yang salah karena beban kerja berat membutuhkan pembinaan, bukan hukuman berat.

c. Menerapkan prinsip proporsionalitas
Sanksi harus sebanding dengan kesalahan. Kesalahan kecil diberi teguran, bukan pemotongan gaji. Kesalahan berat dapat berjenjang hingga pemutusan hubungan kerja.

d. Mengedepankan restorative approach
Selain hukuman, pimpinan membantu memperbaiki perilaku. Misalnya pelatihan ulang, mentoring, atau konseling untuk membangun perubahan positif.

e. Menyampaikan sanksi dengan komunikasi yang humanis
Pemimpin harus menjelaskan alasan hukuman secara profesional, menghormati martabat karyawan, dan memberikan ruang perbaikan. Sanksi yang manusiawi meningkatkan loyalitas dan pertumbuhan karakter.

Sebagai balasan Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 15

oleh Sri Hartati 2421011049 -
Nama : Sri Hartati
Npm : 2421011049



JAWABLAH PERTANYAAN PERTANYAAN BERIKUT INI

1. Jelaskan cara menciptakan visi yang baik!
2. Jelaskan cara mengatasi konflik yang buruk !
3. Jelaskan teknik negosiasi antar pemimpin !
4. Jelaskan cara pembangunan tim di posisi puncak!
5. Bagaimana cara untuk dapat mengetahui hukuman yang tepat bagi karyawan
bermasalah?

Jawaban
1. Visi yang baik menurut saya sebagai pribadi yang mempunyai usaha dibidang bisnis Wedding Planner adalah : visi yang mampu memberikan arah jelas bagi bisnis sekaligus mencerminkan nilai yang saya pegang dalam memberikan pelayanan kepada setiap pasangan.
• Menggambarkan pengalaman pernikahan yang ingin saya ciptakan
Bagi saya, wedding planner bukan sekadar mengatur acara, tetapi membantu pasangan mewujudkan momen yang penuh makna. Visi saya harus mampu menggambarkan kualitas pengalaman itu—hangat, terarah, dan berkesan.

• Mengutamakan kepuasan dan ketenangan klien
Saya percaya bahwa hari pernikahan adalah hari sakral yang harus berjalan tanpa beban. Maka, visi saya mencakup pelayanan yang membuat klien merasa aman, terbantu, dan diperlakukan secara profesional.


• Berorientasi pada kreativitas dan inovasi
Dunia pernikahan terus berkembang, sehingga visi saya harus menggambarkan komitmen untuk selalu menghadirkan konsep-konsep baru, dekorasi yang relevan, serta pelayanan yang semakin efisien.

• Mengangkat nilai profesionalisme dan integritas
Sebagai pemilik usaha, saya ingin visi saya menegaskan standar etika kerja yang tinggi, transparansi, dan ketepatan dalam setiap proses mulai dari persiapan hingga selesai acara.

• Menjadi acuan jangka panjang bagi tim

Visi yang baik membantu saya dan tim bekerja pada arah yang sama—memberikan layanan terbaik, menjaga reputasi usaha, dan terus berkembang di industri wedding.

2. Konflik yang buruk adalah konflik yang menghambat kinerja, menurunkan moral tim, atau memicu ketegangan personal. Cara mengatasinya:
• Identifikasi akar masalah untuk memahami apa yang sebenarnya memicu konflik.
• Dengarkan kedua belah pihak secara objektif, tanpa memihak.
• Bangun komunikasi terbuka, sehingga setiap pihak dapat menyampaikan sudut pandang dengan cara yang konstruktif.
• Fokus pada solusi, bukan menyalahkan, agar penyelesaian berjalan efektif.
• Gunakan mediasi bila perlu, terutama ketika konflik sudah sulit dikendalikan.
• Tetapkan aturan kerja yang jelas, supaya konflik serupa tidak berulang di masa depan.
3. Negosiasi antar pemimpin membutuhkan pendekatan strategis, profesional, dan berorientasi pada win–win solution.
Teknik yang digunakan antara lain:
• Persiapan matang, dengan memahami tujuan, batas minimal, dan alternatif solusi (BATNA).
• Membangun hubungan dan kepercayaan, sehingga menciptakan suasana negosiasi yang terbuka.
• Mendengarkan secara aktif, agar kedua pihak memahami kebutuhan dan kepentingan masing-masing.
• Menggunakan komunikasi persuasif, berbasis data dan logika.
• Fleksibel dan kreatif, mencari opsi-opsi baru yang dapat menguntungkan kedua belah pihak.
• Fokus pada kepentingan, bukan posisi, sehingga negosiasi tidak menjadi ajang tarik-menarik yang kaku.
• Membuat kesepakatan tertulis, jelas, dan dapat ditindaklanjuti.
4. Tim di posisi puncak (top management team) memainkan peran strategis dalam organisasi. Pembangunan timnya meliputi:
• Pemilihan anggota yang kompeten dan saling melengkapi, baik dari sisi keterampilan maupun pengalaman.
• Membangun keselarasan visi dan tujuan, sehingga seluruh pimpinan bergerak pada arah yang sama.
• Menciptakan kepercayaan dan transparansi, agar pengambilan keputusan berjalan efektif.
• Menyusun mekanisme komunikasi yang terstruktur, seperti rapat strategis rutin.
• Mendorong kolaborasi, bukan kompetisi internal, untuk menjaga kekompakan.
• Mengembangkan budaya saling menghargai, perbedaan pendapat dan sudut pandang dianggap sebagai kekuatan.
• Mengadakan evaluasi berkala, untuk memastikan tim puncak tetap adaptif terhadap dinamika organisasi.
5. Menentukan hukuman yang tepat membutuhkan pertimbangan yang adil dan terukur. Caranya:
• Identifikasi tingkat pelanggaran: apakah ringan, sedang, atau berat.
• Kumpulkan fakta dan bukti, sehingga keputusan tidak berdasarkan asumsi.
• Pelajari kebijakan dan peraturan perusahaan, termasuk SOP dan kode etik.
• Gunakan prinsip keadilan dan konsistensi, hukuman harus sesuai dengan aturan dan berlaku sama bagi semua karyawan.
• Pertimbangkan riwayat perilaku karyawan, apakah ini pelanggaran pertama atau sudah berulang.
• Libatkan HRD atau atasan langsung, untuk memastikan keputusan objektif dan tepat prosedur.
• Berikan hukuman yang bersifat edukatif, bukan hanya menghukum, agar dapat memperbaiki perilaku dan mencegah pelanggaran serupa.
Sebagai balasan Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 15

oleh Mega Widiyaningrum -
Mega Widiyaningrum - 2421011020

Izin Menjawab ya Bu..

1. Jelaskan cara menciptakan visi yang baik!
Jawab :
Menciptakan visi yang baik memerlukan pemahaman mendalam mengenai arah jangka panjang organisasi, nilai-nilai inti, serta peluang dan tantangan yang mungkin dihadapi. Seorang pemimpin harus mampu menganalisis kondisi internal dan eksternal untuk melihat potensi masa depan yang ingin diwujudkan. Visi yang baik biasanya bersifat inspiratif, jelas, realistis namun tetap menantang, sehingga mampu memberikan motivasi kepada seluruh anggota organisasi. Selain itu, pemimpin perlu melibatkan berbagai pihak dalam proses pembentukan visi agar tercipta rasa memiliki (sense of ownership). Setelah visi terbentuk, pemimpin wajib mengomunikasikannya secara konsisten, menggunakan bahasa yang mudah dipahami, dan memvisualisasikan perubahan yang ingin dicapai. Dengan cara ini, visi tidak hanya menjadi kata-kata, tetapi menjadi arah tindakan yang dipahami dan diyakini oleh semua anggota organisasi.

2. Jelaskan cara mengatasi konflik yang buruk!
Jawab:
Mengatasi konflik yang buruk membutuhkan kemampuan pemimpin untuk memahami akar masalah dan memfasilitasi penyelesaian secara produktif. Pemimpin harus memulai dengan mengidentifikasi jenis konflik: apakah berasal dari perbedaan tujuan, miskomunikasi, tekanan pekerjaan, atau faktor interpersonal. Setelah akar masalah ditemukan, pemimpin dapat melakukan pendekatan komunikasi terbuka, yaitu memberikan kesempatan kepada setiap pihak untuk menyampaikan pendapat tanpa rasa takut dihakimi. Pemimpin harus tetap netral, mendengarkan secara aktif, dan menunjukkan empati agar suasana tetap kondusif. Jika konflik sudah terlalu intens, perlu dilakukan mediasi formal untuk menengahi perbedaan. Pemimpin juga dapat menetapkan aturan main yang jelas dalam berinteraksi, sehingga konflik tidak berkembang menjadi destruktif. Pada akhirnya, solusi yang dihasilkan harus dapat diterima kedua belah pihak, fokus pada perbaikan hubungan, dan mencegah konflik serupa terjadi di masa depan.

3. Jelaskan teknik negosiasi antar pemimpin!
Jawab:
Teknik negosiasi antar pemimpin menekankan pada kemampuan untuk mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan (win–win solution). Salah satu teknik penting adalah persiapan yang matang, yaitu memahami kebutuhan, kepentingan, dan batas minimal yang dapat diterima oleh kedua pihak. Pemimpin juga perlu menerapkan teknik komunikasi persuasif, di mana setiap argumen disampaikan secara logis, sopan, dan berorientasi solusi. Selain itu, terdapat teknik integrative negotiation, yaitu upaya menggabungkan kepentingan berbagai pihak untuk menemukan alternatif terbaik yang memaksimalkan keuntungan seluruh organisasi, bukan hanya satu pihak. Pemimpin yang baik juga menggunakan teknik kompromi strategis, yaitu memberikan konsesi kecil untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar di area lain. Selama proses negosiasi, penting untuk menjaga hubungan profesional, mengendalikan emosi, dan selalu mencari titik temu yang memberikan nilai tambah jangka panjang.

4. Jelaskan cara pembangunan tim di posisi puncak!
Jawab:
Pembangunan tim di posisi puncak (top management team) memerlukan pendekatan strategis karena tim ini memiliki tanggung jawab besar dalam menentukan arah organisasi. Pertama, pemimpin harus memilih anggota yang memiliki kompetensi tinggi, pengalaman relevan, dan karakter kerja yang saling melengkapi. Setelah tim terbentuk, pemimpin perlu menciptakan lingkungan kerja yang penuh kepercayaan, di mana setiap anggota merasa aman untuk mengemukakan ide dan berpendapat. Komunikasi yang transparan, aturan kerja yang jelas, dan pembagian peran yang tepat adalah kunci dalam menjaga efektivitas tim. Selain itu, kegiatan pengembangan seperti workshop kepemimpinan, pelatihan kolaborasi, dan evaluasi rutin dapat meningkatkan kualitas kerja tim. Pemimpin juga harus memastikan bahwa semua anggota tim memahami visi dan strategi organisasi sehingga mereka dapat bekerja secara selaras dan memberikan kontribusi optimal dalam pengambilan keputusan strategis.

5. Bagaimana cara untuk dapat mengetahui hukuman yang tepat bagi karyawan bermasalah?
Jawab:
Menentukan hukuman yang tepat bagi karyawan bermasalah membutuhkan proses yang objektif, adil, dan sesuai dengan kebijakan perusahaan. Langkah pertama adalah melakukan investigasi untuk memastikan fakta dan kronologi masalah secara jelas. Setelah informasi lengkap diperoleh, pemimpin harus mengevaluasi tingkat kesalahan berdasarkan kategori pelanggaran: ringan, sedang, atau berat. Perusahaan biasanya memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) atau aturan disiplin yang dapat dijadikan pedoman untuk menentukan jenis hukuman yang sesuai, seperti teguran lisan, teguran tertulis, skorsing, hingga pemutusan hubungan kerja. Selain mempertimbangkan aturan, pemimpin juga harus memperhatikan riwayat perilaku karyawan—apakah ini pelanggaran pertama atau sudah berulang. Pemimpin harus memastikan hukuman diberikan secara konsisten, proporsional, dan berorientasi pada perbaikan karyawan, bukan semata-mata hukuman. Komunikasi yang jelas mengenai alasan hukuman juga penting agar karyawan memahami kesalahannya dan dapat memperbaikinya di masa depan.

Terima Kasih..
Sebagai balasan Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 15

oleh Evi Komala 2421011005 -

Evi Komala(2421011005)

Izin menjawab evaluasi sesi 15 ibu Nova

1. Jelaskan cara menciptakan visi yang baik!

Menciptakan visi yang baik merupakan kemampuan fundamental seorang pemimpin transformasional. Visi berfungsi sebagai arah strategis yang menuntun organisasi menuju tujuan jangka panjang. Menurut teori kepemimpinan Bass & Avolio, visi harus mampu menginspirasi, memberikan makna, dan menciptakan komitmen kolektif. Cara menciptakan visi yang baik meliputi:

  • Analisis lingkungan strategis

Pemimpin harus memahami kondisi internal (Sumber daya, budaya, struktur) dan eksternal (persaingan, tren teknologi, regulasi). Analisis ini dapat menggunakan alat seperti SWOT atau PESTEL agar visi relevan dengan konteks.

  • Memahami nilai dan aspirasi organisasi

Visi yang kuat muncul dari pemahaman terhadap nilai-nilai organisasi dan aspirasi berbagai pemangku kepentingan. Pemimpin perlu menangkap kebutuhan jangka panjang karyawan, pelanggan, dan pemilik organisasi.

  • Merumuskan gambaran masa depan yang ideal

Visi harus menggambarkan kondisi ideal yang diinginkan organisasi di masa depan—bukan hanya target angka, tetapi keadaan masa depan yang lebih baik. Visi harus menantang namun tetap realistis.

  • Sederhana, inspiratif, dan mudah dikomunikasikan

Dalam teori komunikasi kepemimpinan, visi yang efektif adalah visi yang singkat, berkesan, dan mudah dipahami. Bahasa harus jelas, mengandung makna aspiratif, dan mampu membangun semangat perubahan.

  • Melibatkan tim dalam proses penciptaan visi

Dalam kepemimpinan partisipatif, visi disusun bukan hanya oleh pemimpin, tetapi juga melalui masukan tim dan unit strategis lainnya. Pelibatan ini meningkatkan rasa memiliki (sense of ownership) dan komitmen untuk mewujudkan visi tersebut.

  • Konsistensi dalam komunikasi

Pemimpin harus menyampaikan visi melalui berbagai platform dan tindakan nyata. Frekuensi komunikasi sangat penting agar visi tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar menuntun perilaku organisasi.

2. Jelaskan cara mengatasi konflik yang buruk!

Konflik buruk (destructive conflict) muncul ketika ketegangan antar individu atau kelompok menghasilkan friksi yang merusak produktivitas, hubungan, dan stabilitas organisasi. Dalam teori manajemen konflik, konflik buruk harus ditangani melalui pendekatan sistematis.

  • Mengidentifikasi akar penyebab konflik

Pemimpin harus melakukan root cause analysis untuk mengetahui apakah konflik dipicu oleh kesalahpahaman, ketidakjelasan peran, perbedaan nilai, kompetisi tidak sehat, atau masalah komunikasi.

  • Menerapkan komunikasi terbuka dan asertif

Komunikasi yang efektif membantu menurunkan intensitas emosi. Pemimpin perlu membuka forum dialog di mana pihak yang berkonflik dapat mengungkapkan pandangan secara terbuka tanpa menyerang persona.

  • Penengahan melalui mediasi formal

Pemimpin atau pihak HR dapat menjadi mediator netral. Teknik third-party mediation membantu menciptakan kesepakatan yang adil dan mencegah eskalasi konflik.

  • Fokus pada kepentingan, bukan posisi

Menggunakan pendekatan interest-based conflict resolution, pemimpin diarahkan untuk mencari kepentingan inti masing-masing pihak, bukan hanya tuntutan permukaan. Pendekatan ini lebih efektif dalam menciptakan solusi win–win.

  • Menetapkan kebijakan manajemen konflik

Organisasi memerlukan aturan formal, seperti standar perilaku, etika, SOP, atau mekanisme grievance handling untuk mengendalikan konflik yang berulang.

  • Mengembangkan budaya organisasi yang adaptif

Budaya kolaboratif, transparan, dan berorientasi solusi membantu mencegah konflik buruk. Pemimpin harus memberi teladan dalam berperilaku dewasa, mengelola emosi, dan menghargai perbedaan.

3. Jelaskan teknik negosiasi antar pemimpin!

Negosiasi antar pemimpin merupakan proses strategis untuk mencapai kesepakatan yang menguntungkan organisasi. Teori negosiasi modern (Fisher & Ury, Harvard Negotiation Project) mengemukakan beberapa teknik utama:

  • Win–Win Negotiation (Integrative Negotiation)

Pendekatan ini mencari kesepakatan yang saling menguntungkan sehingga relasi jangka panjang tetap terjaga. Pemimpin berfokus pada kerja sama, bukan kompetisi.

  • BATNA (Best Alternative to a Negotiated Agreement)

Pemimpin harus memahami alternatif terbaik jika negosiasi gagal. BATNA memperkuat posisi tawar dan mencegah keputusan yang merugikan organisasi.

  • Interest-Based Negotiation

Kunci utama adalah memahami kepentingan dasar (interest) kedua pihak. Pemimpin berusaha mencari solusi yang memuaskan kepentingan inti masing-masing, bukan hanya bertukar tuntutan.

  • Persuasive Negotiation

Pemimpin menggunakan strategi komunikasi persuasif melalui data, argumen logis, retorika, dan kredibilitas pribadi untuk memengaruhi pihak lain.

  • Preparation and Planning

Negosiasi yang efektif dimulai dari persiapan matang: memahami situasi, menentukan tujuan maksimum dan minimum, menganalisis perilaku lawan, dan menyiapkan strategi alternatif.

  • Emotional Intelligence dalam Negosiasi

Pemimpin yang memiliki kecerdasan emosional tinggi mampu mengelola emosi, memahami bahasa tubuh, dan meningkatkan empati sehingga negosiasi berjalan konstruktif.

4. Jelaskan cara pembangunan tim di posisi puncak!

Tim posisi puncak (top management team) memegang peran strategis dalam mengarahkan organisasi. Menurut teori Upper Echelon (Hambrick & Mason), kualitas tim puncak akan menentukan kualitas keputusan organisasi. Oleh karena itu, pembentukan tim ini harus dilakukan dengan struktur dan strategi yang matang.

  • Penyelarasan visi dan strategi

Seluruh anggota top management harus memahami arah strategis organisasi. Penyelarasan ini mencegah konflik internal dan memastikan eksekusi berjalan konsisten.

  • Klarifikasi peran dan tanggung jawab

Pembagian tugas harus jelas untuk menghindari tumpang tindih. Struktur ini juga memudahkan akuntabilitas dalam mencapai target.

  • Pembangunan kepercayaan (trust building)

Kepercayaan adalah fondasi tim efektif. Dibangun melalui transparansi, integritas, konsistensi perilaku, dan kemampuan menghargai perbedaan pandangan.

  • Peningkatan komunikasi lintas fungsi

Top management team harus rutin melakukan rapat koordinasi, evaluasi kinerja, pertukaran informasi, dan diskusi strategis untuk menjaga keselarasan.

Anggota tim puncak harus mendapatkan pelatihan berkelanjutan untuk meningkatkan kemampuan analitis, komunikasi, negosiasi, dan pengambilan keputusan strategis.

Pemimpin puncak harus memilih pendekatan kolaboratif, bukan koersif. Kolaborasi memperkuat keterlibatan dan meningkatkan kualitas keputusan tim.

  • Evaluasi kinerja tim secara berkelanjutan

Evaluasi ini meliputi pengukuran efektivitas kerja, pencapaian indikator kinerja utama (KPI), dan analisis dinamika tim.

6/5. Bagaimana cara untuk dapat mengetahui hukuman yang tepat bagi karyawan bermasalah?

Penentuan hukuman yang tepat harus didasarkan pada prinsip keadilan organisasi (organizational justice) dan teori disiplin kerja. Beberapa langkah penting meliputi:

  • Mengidentifikasi jenis dan tingkat pelanggaran

Pelanggaran dikategorikan menjadi ringan, sedang, atau berat. Jenis pelanggaran menentukan jenis hukuman, agar keputusan proporsional dan adil.

  • Mengacu pada regulasi formal organisasi

Pemimpin harus memastikan hukuman sesuai Peraturan Perusahaan (PP), Perjanjian Kerja Bersama (PKB), SOP HR, dan Undang-Undang Ketenagakerjaan. Ini membantu menghindari bias dan tuntutan hukum.

  • Melakukan investigasi objektif

Kumpulkan bukti dan keterangan saksi untuk memastikan keputusan tidak didasarkan pada asumsi. Investigasi harus dilakukan secara netral dan transparan.

  • Menerapkan konsep Progressive Discipline

Teori ini menyatakan bahwa hukuman diberikan secara bertahap:

    • Teguran lisan
    • Teguran tertulis
    • Surat peringatan (SP1, SP2, SP3)
    • Skorsing
    • Penurunan jabatan
    • Pemutusan hubungan kerja (PHK) jika sangat berat
  • Pertimbangkan riwayat perilaku karyawan

Jika pelanggaran berulang, hukuman dapat ditingkatkan. Jika pelanggaran pertama kali, pendekatan pembinaan dapat menjadi prioritas.

  • Konsultasi dengan HR dan aspek hukum

Pemimpin harus bekerja sama dengan HR untuk memastikan hukuman selaras dengan kebijakan dan aspek legal.

  • Hukuman harus bersifat pembinaan

Tujuan utama punishment bukan menghukum, tetapi mengoreksi perilaku dan menjaga disiplin organisasi. Oleh karena itu, hukuman harus memberikan pelajaran, bukan menimbulkan ketakutan berlebihan.

Sebagai balasan Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 15

oleh Rica Sherly Permatasari -
Rica Sherly Permatasari 2421011022
Izin ibu mengirim evaluasi sesi 15

1. Jelaskan cara menciptakan visi yang baik!
Jawaban :
Untuk menciptakan visi yang baik, pemimpin harus terlebih dahulu memahami kondisi internal dan eksternal organisasi melalui analisis seperti SWOT serta membaca tren industri sehingga visi yang dibuat relevan dengan masa depan. Visi yang kuat lahir dari proses kolaboratif, sehingga melibatkan pemangku kepentingan seperti manajemen dan karyawan kunci akan membantu menghasilkan pandangan masa depan yang realistis dan diterima bersama. Selain itu, penetapan nilai inti organisasi menjadi fondasi untuk menentukan arah jangka panjang. Visi harus dirumuskan dengan bahasa yang jelas, inspiratif, dan mudah dipahami, menggambarkan posisi organisasi yang ingin dicapai dalam 5–10 tahun mendatang. Setelah dirumuskan, pemimpin wajib mengomunikasikannya secara konsisten melalui tindakan dan strategi, memastikan bahwa visi tersebut selaras dengan tujuan strategis dan rencana kerja organisasi.

2. Jelaskan cara mengatasi konflik yang buruk !
Jawaban :
Konflik yang buruk dapat menghambat kinerja dan merusak hubungan antarindividu, sehingga pemimpin perlu menanganinya secara bijaksana. Langkah pertama adalah mengidentifikasi sumber konflik, apakah berasal dari perbedaan tugas, komunikasi, kepribadian, atau kompetisi sumber daya. Setelah itu, pemimpin harus mendengarkan kedua pihak secara aktif tanpa berpihak, memastikan setiap pihak merasa didengar. Fokus penyelesaian harus diarahkan pada masalahnya, bukan menyerang orangnya, sehingga pemimpin perlu menggunakan data dan fakta untuk menjernihkan situasi. Jika situasi sulit, pemimpin dapat bertindak sebagai mediator yang objektif untuk mencari titik temu. Penyelesaian sebaiknya dicapai melalui pendekatan win-win yang memenuhi kepentingan kedua pihak. Setelah konflik terselesaikan, pemimpin juga mesti membangun kembali hubungan kerja agar kepercayaan dapat pulih.

3. Jelaskan teknik negosiasi antar pemimpin !
Jawaban :
Negosiasi antar pemimpin menuntut persiapan matang dan kecerdasan emosional. Pemimpin harus memulai dengan mempersiapkan data, tujuan, batas minimal yang dapat diterima (BATNA), serta memahami kepentingan pihak lain. Langkah berikutnya adalah membangun hubungan awal yang positif sehingga suasana negosiasi lebih terbuka dan penuh saling menghargai. Pemimpin yang efektif melakukan negosiasi berbasis kepentingan, bukan hanya memperdebatkan posisi, sehingga fokusnya ada pada kebutuhan nyata masing-masing pihak. Dalam prosesnya, pemimpin perlu menyiapkan beberapa opsi trade-off serta konsesi terukur yang bisa diberikan tanpa merugikan inti tujuan. Komunikasi yang digunakan harus jelas, tegas, dan tidak emosional. Kesepakatan yang dicapai kemudian harus ditegaskan kembali dan didokumentasikan agar tidak terjadi salah interpretasi di masa depan.

4. Jelaskan cara pembangunan tim di posisi puncak!
Jawaban :
Pembangunan tim di tingkat top management membutuhkan pemilihan anggota yang memiliki kompetensi berbeda-beda, baik dalam keuangan, pemasaran, operasional, maupun strategi, sehingga keberagaman pemikiran memperkuat kualitas keputusan. Setiap anggota perlu memiliki peran dan tanggung jawab yang jelas agar tidak terjadi tumpang tindih pekerjaan. Kepercayaan juga harus dibangun melalui komunikasi yang transparan dan lingkungan yang memungkinkan setiap anggota berbicara terbuka tanpa takut dikritik secara negatif. Tim di posisi puncak harus memiliki tujuan bersama yang sejalan dengan visi organisasi, dan melakukan pertemuan berkala untuk mengevaluasi kinerja serta menyesuaikan strategi. Pemimpin juga harus menumbuhkan budaya kolaborasi lintas fungsi, misalnya dengan memberikan penghargaan yang berbasis tim, bukan hanya individu.

5. Bagaimana cara untuk dapat mengetahui hukuman yang tepat bagi karyawan bermasalah?
Jawaban :
Menentukan hukuman yang tepat untuk karyawan bermasalah harus dilakukan secara hati-hati dan objektif. Pemimpin perlu meneliti terlebih dahulu penyebab masalah, apakah berasal dari kurangnya keterampilan, rendahnya motivasi, beban kerja berlebih, atau pelanggaran disiplin. Prinsip disiplin progresif sangat efektif digunakan, yaitu dimulai dari teguran lisan, peringatan tertulis, skorsing, hingga PHK sebagai langkah terakhir. Tingkat hukuman harus sesuai dengan beratnya pelanggaran dan tetap mengacu pada peraturan perusahaan serta undang-undang ketenagakerjaan. Setiap tindakan disiplin harus didokumentasikan untuk menjaga akuntabilitas dan menghindari kesalahpahaman. Selain menghukum, pemimpin juga wajib memberikan kesempatan pembinaan melalui coaching atau pelatihan agar karyawan dapat memperbaiki perilakunya. Pendekatan yang adil dan berbasis data akan membantu pemimpin mengambil keputusan yang tepat tanpa bias pribadi.
Sebagai balasan Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 15

oleh Aninda Agustia Andiani -
Izin bu, saya Aninda Agustia Andiani NPM 2421011018, izin menjawab, 1. Untuk membangun visi yang efektif, pemimpin perlu memahami kondisi internal dan eksternal organisasi, menegaskan nilai-nilai utama yang menjadi karakter dasar, lalu merumuskan gambaran masa depan yang ingin dicapai secara realistis namun tetap menantang. Proses ini lebih kuat jika melibatkan berbagai pemangku kepentingan sehingga visi memiliki dukungan luas. Setelah disusun, visi harus ringkas, mudah diingat, memberi inspirasi, dan dikomunikasikan secara berulang supaya benar-benar menjadi arah bersama dalam bekerja. 2. Konflik yang bersifat destruktif dapat diminimalkan dengan terlebih dahulu mengenali akar permasalahannya secara objektif, kemudian membuka ruang komunikasi yang aman bagi semua pihak. Pemimpin harus mengarahkan pembicaraan pada inti persoalan, bukan menyerang individu, serta menggunakan metode mediasi untuk menemukan titik tengah. Menetapkan aturan interaksi yang jelas membantu meredam emosi, dan penyelesaian sebaiknya diarahkan pada solusi yang menguntungkan kedua pihak agar hubungan kerja tetap terjaga. 3. Negosiasi antarpemimpin membutuhkan persiapan matang dengan menetapkan target yang jelas serta alternatif terbaik jika negosiasi gagal. Hubungan baik perlu dibangun sejak awal agar komunikasi lebih lancar. Fokus negosiasi harus pada kepentingan di balik posisi masing-masing pihak, disertai kemampuan mendengarkan secara aktif. Pemimpin juga perlu kreatif dalam menawarkan opsi kerja sama, dan ketika kesepakatan tercapai, keputusan harus dirumuskan dengan jelas agar mudah dieksekusi. 4. Pembentukan tim di tingkat kepemimpinan puncak dilakukan dengan memilih anggota yang memiliki kompetensi strategis dan perspektif yang saling melengkapi. Tujuan bersama harus dirumuskan secara jelas serta dipahami seluruh anggota tim eksekutif. Untuk menjaga efektivitas perlu ada lingkungan yang penuh kepercayaan, komunikasi terbuka, serta batas peran yang tidak tumpang tindih. Diskusi yang sehat perlu didorong agar keputusan yang muncul lebih matang, dan kinerja tim harus dievaluasi secara rutin. 5. Penentuan sanksi bagi karyawan bermasalah harus didasarkan pada pemahaman mengenai tingkat kesalahan yang dilakukan, ditambah pedoman dari peraturan perusahaan dan ketentuan hukum ketenagakerjaan. Pemimpin perlu melakukan penyelidikan yang adil dengan mendengar berbagai pihak. Riwayat perilaku karyawan juga menjadi bahan pertimbangan agar keputusan lebih proporsional. Prinsip pembinaan harus diutamakan sebelum menjatuhkan hukuman berat, dan seluruh proses harus dicatat jelas agar keputusan transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.
Sebagai balasan Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 15

oleh RIA YULI HASTINI -
RIA YULI HASTINI _2421011046

JAWABAN EVALUASI :

1. Cara Menciptakan Visi yang Baik
Berikut adalah langkah-langkah dalam menciptakan visi yang baik:
a. Memulai dengan memahami tujuan mendasar dan nilai-nilai inti organisasi atau tim (purpose). Visi harus berakar pada keyakinan yang kuat.
b. Makukan penilaian jujur terhadap posisi saat ini, kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman (analisis SWOT). Visi harus realistis di tengah tantangan yang ada, namun tetap aspiratif.
c. Memproyeksikan kondisi ideal di masa depan (biasanya 5-10 tahun ke depan). Visi yang diciptakan harus mudah dipahami dan diingat oleh semua orang, inspiratif, berorientasi pada masa depan, memiliki arah yang berbeda dan unik dari pesaing.
d. Mibatkan pemangku kepentingan dalam perumusannya dan komunikasikan secara konsisten dan berulang kali melalui berbagai saluran. Pastikan setiap karyawan memahami peran mereka dalam mencapai visi tersebut.
e. Memastikan setiap keputusan dan inisiatif yang diambil selaras dengan visi tersebut.

2. Cara Mengatasi Konflik yang Buruk (Disruptif)
Berikut teknik mengatasi konflik disruptif:
a. Pemimpin harus segera turun tangan begitu konflik mulai bersifat personal atau destruktif, bukan menunggu masalah mereda sendiri. Pertahankan posisi netral sebagai fasilitator, bukan hakim.
b. Arahkan fokus perdebatan kembali pada isu yang dipermasalahkan (fakta, data, tujuan) dan menjauhi serangan pribadi atau emosi. Gunakan frasa seperti, "Mari kita fokus pada hasil yang ingin kita capai, bukan siapa yang salah."
c. Menggunakan Gaya Kolaborasi (Win-Win) untuk mencari solusi yang benar-benar memuaskan kedua belah pihak (integratif).
d. Menetapkan aturan dasar yang jelas mengenai cara berkomunikasi, mendengarkan aktif, dan menyatakan perbedaan pendapat secara profesional dan terstruktur.
e. Apabila semua upaya fasilitasi dan kolaborasi gagal, dan konflik terus merusak tim, pemimpin harus menggunakan otoritasnya untuk membuat keputusan dan memberlakukan penyelesaian (forcing), atau, sebagai upaya terakhir, memisahkan individu-individu yang berkonflik.

3. Teknik Negosiasi Antar Pemimpin
Teknik Negosiasi yang Efektif:
a. Fokus pada kepentingan fundamental (mengapa mereka menginginkan sesuatu) alih-alih pada posisi awal (apa yang mereka minta).
b. Sebelum bernegosiasi, tentukan alternatif terbaik Anda jika negosiasi gagal.
c. Menciptakan Nilai Bersama (Creating Value) dengan mengidentifikasi isu-isu dengan nilai berbeda bagi kedua belah pihak (logrolling) untuk menemukan solusi yang saling menguntungkan.
d. Menggunakan Kriteria Objektif sebagai tolok ukur, atau data eksternal yang adil (misalnya, harga pasar, benchmark industri) untuk menyelesaikan perbedaan.
e. Melakukan pendekatan sistemik dengan memperhatikan dampak jangka panjang dan reputasi karena kredibilitas dan kepercayaan adalah aset paling berharga di tingkat puncak.

4. Pembangunan Tim di Posisi Puncak (Top Management Team Development)
Strategi Pembangunan TMT:
a. Tentukan dengan tegas peran setiap anggota TMT (misalnya, CEO, COO, CFO) dan, yang paling penting, peran kolektif TMT dalam tata kelola dan strategi. Hindari tumpang tindih peran yang menyebabkan konflik kekuasaan.
b. Fasilitasi TMT untuk menyelaraskan pemahaman mereka tentang pasar, pesaing, dan masa depan perusahaan (mental models). Gunakan skenario perencanaan untuk memastikan mereka berpikir dengan cara yang sama tentang risiko dan peluang.
c. TMT perlu memiliki keberanian psikologis (psychological safety) untuk berdebat secara terbuka tentang ide-ide strategis (konflik tugas) tanpa takut dicap buruk atau dihakimi (konflik hubungan). Pemimpin harus memodelkan keterbukaan ini.
d. Tetapkan proses yang jelas untuk membuat keputusan strategis: bagaimana data dianalisis, kapan konsensus diperlukan, dan kapan CEO/Presiden Direktur harus mengambil keputusan akhir. Proses yang baik mengurangi konflik pribadi.
e. Lakukan sesi pengembangan, retreat, atau pelatihan khusus yang berfokus pada kepemimpinan eksekutif, bukan hanya pengembangan individu. Ini membangun rasa kesatuan dan saling ketergantungan.
6. Mengetahui Hukuman yang Tepat bagi Karyawan Bermasalah

a. Mengidentifikasi Akar Masalah (Root Cause Analysis): sebelum menjatuhkan hukuman, pemimpin harus menyelidiki mengapa karyawan tersebut bermasalah.
b. Penerapan Disiplin Progresif, ini adalah sistem bertahap yang memberikan peluang bagi karyawan untuk memperbaiki perilaku, memastikan hukuman sebanding dengan pelanggaran, dan memberikan bukti yang terdokumentasi.
c. Semua tindakan, mulai dari coaching hingga PHK, harus didokumentasikan dengan jelas. Pastikan penerapan sanksi konsisten di seluruh organisasi untuk pelanggaran yang serupa (prinsip keadilan).
d. Fokus Korektif (Performance Improvement Plan - PIP): karena tindakan disiplin harus selalu disertai dengan rencana perbaikan kinerja (PIP) yang jelas, memberikan karyawan batas waktu, sumber daya, dan coaching untuk berhasil. Hukuman yang tepat adalah hukuman yang membawa perbaikan atau, jika tidak mungkin, pemisahan yang adil dan terdokumentasi.
Sebagai balasan Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 15

oleh Beni Yusuf -

Beni Yusuf   2421011031

Izin menjawab sesi 15  :

1.Jelaskan cara menciptakan visi yang baik ?

Jawab  :

Visi harus memenuhi beberapa kriteria utama agar dapat memengaruhi dan menginspirasi pengikut secara efektif:

·        Jelas dan Ringkas (Clear and Concise): Visi harus mudah dipahami oleh semua orang, termasuk karyawan, pelanggan, dan mitra. Hindari jargon yang tidak perlu.

·        Berorientasi Masa Depan (Future-Oriented): Visi harus melampaui keadaan saat ini dan menggambarkan apa yang dapat dicapai organisasi dalam 5 hingga 10 tahun ke depan.

·        Idealistik dan Berprinsip (Idealistic and Principled): Visi harus mengekspresikan nilai-nilai inti dan cita-cita organisasi yang patut dikejar. Ini memberikan makna moral pada pekerjaan sehari-hari.

·        Menarik dan Inspiratif (Appealing and Inspiring): Visi harus menciptakan rasa semangat, urgensi, dan rasa bangga bagi para pengikut. Visi yang baik menjawab pertanyaan, "Mengapa pekerjaan kita penting?"

·        Unik dan Membedakan (Unique and Distinctive): Visi harus membedakan organisasi Anda dari pesaing dan menyoroti nilai khusus yang ditawarkan.

·        Ambisius tetapi Realistis (Ambitious but Achievable): Visi harus menjadi tantangan (stretch goal) yang membutuhkan upaya luar biasa, tetapi tetap berada dalam batas kemungkinan untuk dicapai.


2. Jelaskan cara mengatasi konflik yang buruk ?

Jawab :

 Langkah-Langkah Mengatasi Konflik yang Buruk

Pemimpin harus mengambil peran sebagai mediator yang bijaksana dan mengadopsi pendekatan yang fokus pada solusi, bukan pada kesalahan.

1. Diagnosis dan Pemahaman Awal (Identifikasi Akar Masalah)

  • Dengarkan Kedua Belah Pihak (Tanpa Menghakimi): Adakan pertemuan terpisah (one-on-one) dengan setiap pihak yang terlibat. Dengarkan pandangan, perasaan, dan fakta yang mereka miliki secara aktif dan empatik.
  • Temukan Akar Masalah: Konflik yang buruk sering kali hanya merupakan gejala. Tanyakan:
    • Apakah ini konflik kepribadian (suka-tidak suka)?
    • Apakah ini konflik sumber daya (perebutan anggaran/alat)?
    • Apakah ini konflik tujuan/peran (ketidakjelasan ekspektasi kerja)?
  • Fokuskan pada Perilaku, Bukan Karakter: Arahkan diskusi dari "Dia orang yang malas" menjadi "Perilakunya menunda pelaporan tugas X merusak jadwal tim."

2. Memfasilitasi Dialog (Mediasi)

  • Atur Pertemuan Bersama (Mediasi): Sebagai pemimpin/mediator, fasilitasi pertemuan di mana kedua pihak harus mengungkapkan pandangan mereka secara terbuka.
  • Tetapkan Aturan Dasar yang Jelas: Tekankan bahwa tujuan pertemuan adalah mencari solusi bersama, bukan mencari siapa yang salah. Terapkan aturan seperti:
    • Tidak boleh menyela saat pihak lain berbicara.
    • Fokus pada isu, bukan serangan pribadi.
    • Menggunakan pernyataan "Saya" ("I feel...") daripada pernyataan "Anda" ("You always...").
  • Dorong Komunikasi Terbuka: Gunakan pertanyaan terbuka untuk memicu pemahaman, misalnya: "Apa yang Anda butuhkan dari rekan kerja Anda agar pekerjaan ini berhasil?"

3. Mengembangkan Solusi (Pendekatan Kolaboratif)

  • Fokus pada Tujuan Bersama: Kembalikan fokus pada visi dan misi organisasi/tim (sesuai dengan prinsip Yukl tentang Kepemimpinan Transformasional dan Tim). Perjelas bahwa konflik ini menghalangi pencapaian tujuan bersama.
  • Gunakan Gaya Resolusi Kolaboratif: Yukl sangat mendukung gaya Kolaborasi (Collaboration) atau Integrasi (Integrating) di mana kedua pihak berupaya mencari solusi yang sepenuhnya memuaskan kebutuhan mereka (win-win solution).
  • Cari Solusi yang Disepakati: Kumpulkan masukan tentang solusi yang mungkin. Dorong pihak-pihak yang berkonflik untuk menyepakati tindakan spesifik yang akan mereka lakukan ke depannya.

4. Tindak Lanjut dan Evaluasi

  • Dokumentasikan Kesepakatan: Catat dengan jelas apa keputusan yang disepakati, peran dan tanggung jawab masing-masing, serta batas waktu yang jelas.
  • Tinjau dan Follow Up: Lakukan check-in secara berkala untuk memastikan bahwa solusi sedang diterapkan dan ketegangan tidak muncul kembali.
  • Jadikan Lesson Learned: Setelah konflik mereda, analisis apa yang dapat dipelajari organisasi dari konflik tersebut (misalnya, perlu ada deskripsi pekerjaan yang lebih jelas atau kebijakan yang lebih tegas) untuk mencegah konflik serupa di masa depan.


3. Jelaskan teknik negosiasi antar pemimpin ?

Jawab :

Berikut adalah penjelasan mengenai teknik negosiasi antar pemimpin yang efektif:

1. Pendekatan Utama: Negosiasi Berprinsip (Principled Negotiation)

Pendekatan yang paling efektif untuk negosiasi tingkat tinggi adalah Negosiasi Berprinsip (dikembangkan oleh Fisher dan Ury di Harvard, dan sering dianjurkan dalam konteks kepemimpinan kontemporer), yang berfokus pada solusi win-win atau Integratif.

A. Memisahkan Orang dari Masalah (Separate the People from the Problem)

  • Fokus pada Isu: Hindari menyerang atau menyalahkan karakter pemimpin lain. Fokuskan diskusi secara ketat pada isu, kebutuhan, dan kepentingan yang ada.
  • Mengelola Emosi: Sadari bahwa emosi dapat memburuk, tetapi sebagai pemimpin, Anda harus menjadi teladan dalam menjaga diskusi tetap objektif dan profesional.

B. Fokus pada Kepentingan, Bukan Posisi (Focus on Interests, Not Positions)

  • Posisi: Apa yang pemimpin lain katakan mereka inginkan (misalnya: "Saya harus mendapatkan $1 juta").
  • Kepentingan: Mengapa mereka benar-benar menginginkannya (misalnya: "Saya butuh $1 juta untuk menutupi biaya operasional yang meningkat dan mempertahankan karyawan kunci").
  • Tujuan: Gali kepentingan di balik posisi. Kepentingan sering kali dapat diselesaikan dengan banyak cara, sementara posisi hanya memiliki satu.

C. Menciptakan Opsi untuk Keuntungan Bersama (Generate Options for Mutual Gain)

  • Kreativitas: Sebelum mengambil keputusan, lakukan brainstorming untuk menghasilkan banyak pilihan solusi yang mungkin menguntungkan kedua belah pihak. Jangan menilai ide saat tahap ini.
  • Perluas Pie: Cari cara untuk meningkatkan nilai keseluruhan yang sedang dinegosiasikan (misalnya, menambahkan item yang bernilai rendah bagi Anda tetapi bernilai tinggi bagi pihak lain).

D. Bersikeras Menggunakan Kriteria Objektif (Insist on Using Objective Criteria)

  • Standar Adil: Gunakan standar yang independen dari kemauan kedua belah pihak, seperti nilai pasar, peraturan industri, data ilmiah, atau preseden hukum.
  • Legitimasi: Ini membuat solusi yang diusulkan terasa adil dan terjustifikasi, bukan hanya hasil dari tekanan pihak yang lebih kuat.

 

 


4. Jelaskan cara pembangunan tim di posisi puncak ?

Jawab :

Berikut adalah cara-cara utama pembangunan tim yang efektif di posisi puncak:

1.  Menetapkan Komposisi Tim yang Optimal

Efektivitas TME sangat bergantung pada siapa yang ada di dalamnya. Pemimpin (CEO/Presiden Direktur) harus menyusun tim dengan mempertimbangkan:

  • Keragaman Kognitif dan Pengalaman: Tim tidak boleh hanya diisi oleh orang-orang dengan latar belakang dan cara berpikir yang sama. Keragaman fungsional (pemasaran, keuangan, operasional, SDM) dan keragaman kognitif (gaya pemecahan masalah) menghasilkan solusi yang lebih inovatif dan holistik.
  • Kecocokan Kompetensi Inti: Setiap anggota harus membawa kompetensi unik dan penting yang dibutuhkan untuk strategi organisasi.
  • Ukuran yang Tepat: TME yang terlalu besar menjadi lambat dan sulit mencapai konsensus. TME yang terlalu kecil mungkin kekurangan perspektif penting. Ukuran ideal sering kali berkisar antara 5 hingga 9 anggota.

2. Klarifikasi Peran dan Tujuan Bersama

Tidak seperti tim operasional yang fokus pada hasil harian, TME fokus pada hasil strategis.

  • Mendefinisikan Tujuan Bersama: TME harus memiliki pemahaman yang jelas dan tunggal mengenai visi, misi, dan tujuan strategis jangka panjang organisasi. TME harus beroperasi sebagai satu unit yang bertanggung jawab atas kinerja keseluruhan, bukan hanya kinerja unit masing-masing.
  • Klarifikasi Batasan Peran: Meskipun setiap anggota memiliki departemennya sendiri, harus ada kejelasan mengenai peran lintas fungsional mereka sebagai bagian dari TME (misalnya, siapa yang memimpin inisiatif digitalisasi di seluruh perusahaan). Ini mengurangi konflik peran dan konflik wilayah (turf battles).
  • Fokus pada Pengambilan Keputusan Strategis: Pertemuan TME harus didominasi oleh isu-isu strategis, bukan operasional sehari-hari yang seharusnya didelegasikan.

3. Mengelola Proses Tim dan Komunikasi

Proses TME sangat penting karena keputusannya memiliki dampak besar dan jangka panjang.

  • Penyelesaian Konflik Konstruktif: Di tingkat puncak, konflik tugas (task conflict) (perdebatan sehat mengenai strategi terbaik) sangat diperlukan untuk pengujian ide. Pemimpin harus memastikan konflik ini tetap konstruktif dan tidak berubah menjadi konflik hubungan pribadi yang merusak.
    • Teknik: Mendorong debat terbuka, tetapi memastikan semua keputusan didukung penuh setelah disepakati (Commitment to the Decision).
  • Sesi Strategi Terstruktur (Offsites): Mengadakan pertemuan di luar kantor secara teratur (biasanya tahunan) untuk fokus secara eksklusif pada perencanaan strategis, refleksi, dan pembangunan kepercayaan.
  • Komunikasi Terbuka dan Jujur: Budaya di mana anggota TME merasa nyaman untuk menantang ide satu sama lain, mengungkapkan ketidaksetujuan, dan memberikan umpan balik yang jujur tanpa takut akan pembalasan (psychological safety).

 

4. Membangun Kepercayaan dan Kohesi

Kepercayaan adalah mata uang di tingkat puncak. Tanpa itu, TME akan terfragmentasi menjadi faksi-faksi departemen.

  • Model Perilaku Pemimpin: Pemimpin (CEO) harus menjadi panutan integritas, keterbukaan, dan keselarasan antara ucapan dan tindakan. Ini adalah inti dari Idealized Influence (Kepemimpinan Transformasional).
  • Interaksi Informal: Mendorong interaksi sosial di luar konteks formal pekerjaan (misalnya, makan bersama, kegiatan sosial) untuk membangun hubungan pribadi yang lebih kuat dan mengurangi ketegangan.
  • Menggunakan Bahasa Bersama: Menetapkan kosakata bersama dan kerangka kerja untuk pengambilan keputusan. Ini memastikan bahwa saat membahas risiko, misalnya, semua anggota TME memiliki pemahaman yang sama.

 

5. Evaluasi Kinerja Tim

TME harus mengevaluasi kinerjanya sendiri secara berkala untuk terus meningkatkan efektivitasnya.

  • Mekanisme Umpan Balik TME: Melakukan tinjauan periodik yang mengevaluasi bukan hanya hasil organisasi, tetapi juga proses tim: seberapa baik mereka berkomunikasi, mengambil keputusan, dan mengelola konflik.
  • Akuntabilitas Kolektif: Menekankan bahwa TME secara keseluruhan bertanggung jawab atas kegagalan strategis, bukan hanya individu. Akuntabilitas kolektif mendorong kerja sama.

 

 


6. Bagaimana cara untuk dapat mengetahui hukuman yang tepat bagi karyawan bermasalah?

Jawab :

Berikut adalah langkah-langkah dan prinsip utama untuk menentukan hukuman yang tepat:

1. Prinsip Utama: Disiplin Progresif (Progressive Discipline)

Pendekatan yang paling banyak digunakan dan dianggap paling adil adalah Disiplin Progresif. Prinsip ini memastikan bahwa hukuman sesuai dengan tingkat keparahan pelanggaran dan riwayat pelanggaran karyawan. Hukuman akan meningkat jika perilaku bermasalah terus berlanjut.

Proses umumnya adalah sebagai berikut:

Tahap

Tindakan Disipliner

Tujuan

1.

Peringatan Lisan (Verbal Warning)

Mengoreksi perilaku kecil; memastikan karyawan memahami harapan dan konsekuensinya. Harus didokumentasikan.

2.

Peringatan Tertulis (Written Warning)

Pelanggaran berulang atau pelanggaran yang sedikit lebih serius. Memberikan catatan formal mengenai masalah, konsekuensi, dan rencana perbaikan.

3.

Skorsing/Penangguhan (Suspension)

Pelanggaran serius atau kegagalan untuk memperbaiki perilaku setelah peringatan tertulis. Biasanya tanpa bayaran, berfungsi sebagai waktu untuk refleksi.

4.

Pemutusan Hubungan Kerja (Termination)

Pelanggaran yang sangat serius (Gross Misconduct) atau kegagalan berulang kali untuk memperbaiki masalah setelah melalui tahap-tahap sebelumnya.

 

2. Faktor Kunci Penentu Hukuman

Untuk menentukan tahap hukuman yang tepat, Anda harus mempertimbangkan empat faktor utama:

A. Sifat dan Tingkat Keparahan Pelanggaran

Hukuman harus sesuai dengan dampaknya:

  • Pelanggaran Ringan: Perilaku yang dapat diperbaiki, dampaknya kecil (misalnya, terlambat beberapa kali, kesalahan prosedural kecil). Cocok untuk Peringatan Lisan atau Tertulis pertama.
  • Pelanggaran Serius: Perilaku yang secara signifikan merusak operasi, moral, atau keuangan (misalnya, sering absen tanpa alasan, pelanggaran keamanan, diskriminasi). Dapat langsung menuju Peringatan Tertulis atau Skorsing.
  • Pelanggaran Berat (Gross Misconduct): Perilaku yang tidak dapat ditoleransi, merusak total kepercayaan, atau ilegal (misalnya, pencurian, kekerasan, pelecehan, penipuan). Dapat langsung berujung pada Pemutusan Hubungan Kerja.

B. Riwayat Karyawan (Konsistensi Internal)

  • Sejarah Disipliner: Apakah ini pertama kalinya karyawan melakukan pelanggaran? Riwayat kinerja yang baik sebelumnya dapat mengurangi hukuman. Pelanggaran berulang kali menunjukkan kurangnya komitmen untuk berubah, yang membenarkan hukuman yang lebih berat.
  • Masa Kerja dan Pelatihan: Karyawan senior mungkin diharapkan memiliki pemahaman yang lebih baik tentang aturan. Namun, perlu dipertimbangkan apakah karyawan telah menerima pelatihan yang memadai.

C. Konsistensi (Konsistensi Eksternal)

  • Perlakuan Sama: Hukuman yang diberikan harus konsisten dengan hukuman yang diberikan kepada karyawan lain untuk pelanggaran yang sama di masa lalu. Inkonsistensi adalah penyebab utama klaim ketidakadilan dan dapat merusak moral tim.
  • Aturan yang Jelas: Pastikan bahwa aturan yang dilanggar dan konsekuensinya sudah dikomunikasikan secara jelas kepada semua karyawan (misalnya, melalui buku pedoman perusahaan).

D. Keadaan yang Meringankan (Mitigating Circumstances)

  • Apakah ada faktor di luar kendali karyawan yang berkontribusi pada pelanggaran (misalnya, kurangnya sumber daya yang parah, tekanan kerja yang tidak realistis, atau masalah kesehatan yang belum terdiagnosis)? Pertimbangan faktor ini dapat membenarkan hukuman yang sedikit lebih ringan atau fokus pada bantuan korektif.

 

3. Dokumentasi dan Tindakan Korektif

Setiap langkah harus didokumentasikan secara teliti:

  • Dokumentasi Faktual: Catat tanggal, waktu, lokasi, sifat pelanggaran, nama saksi, dan dampak pelanggaran. Hindari opini, fokus pada fakta yang dapat diverifikasi.
  • Tindakan Korektif dan Harapan: Setiap hukuman (terutama peringatan) harus disertai dengan rencana aksi. Jelaskan secara spesifik perilaku yang diharapkan di masa depan dan konsekuensi jika kegagalan terjadi lagi.
  • Hak Banding: Beri karyawan kesempatan untuk menjelaskan sudut pandang mereka dan mengajukan banding (sesuai kebijakan perusahaan). Ini adalah bagian dari proses yang adil.

 

 





Sebagai balasan Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 15

oleh ELIYA AGUSTINA -
Izin menjawab ibu,
2421011036_Eliya Agustina

1. Cara menciptakan visi yang baik
Visi yang efektif harus sederhana, menantang, realistis, dan bermakna bagi anggota organisasi. Menurut Yukl, pemimpin menciptakan visi melalui pemahaman mendalam tentang kondisi internal dan eksternal organisasi, mengidentifikasi peluang serta ancaman, lalu merumuskan arah masa depan yang lebih baik dari kondisi saat ini. Visi yang baik juga harus selaras dengan nilai dan kebutuhan pengikut, sehingga mampu membangkitkan komitmen, bukan hanya menjadi slogan formal. Selain itu, pemimpin perlu mengomunikasikan visi secara konsisten dan meyakinkan melalui tindakan nyata, bukan sekadar kata-kata.

2. Cara mengatasi konflik yang buruk
Konflik yang buruk adalah konflik yang bersifat destruktif, personal, dan mengganggu kinerja. Yukl menekankan bahwa pemimpin harus membedakan konflik tugas yang konstruktif dengan konflik hubungan yang merusak. Untuk mengatasi konflik yang buruk, pemimpin perlu bertindak sebagai mediator yang netral, mengklarifikasi sumber konflik secara rasional (bukan emosional), mendorong komunikasi terbuka, serta mengarahkan fokus kembali pada tujuan bersama. Jika diperlukan, pemimpin dapat menggunakan klarifikasi peran, penyesuaian struktur kerja, atau aturan interaksi yang lebih jelas untuk mencegah konflik berulang.

3. Teknik negosiasi antar pemimpin
Negosiasi efektif menurut Yukl didasarkan pada prinsip _collaborative bargaining_ atau _integrative negotiation_, yaitu mencari solusi yang menguntungkan kedua belah pihak, bukan sekadar menang-kalah. Teknik pentingnya meliputi memahami kepentingan di balik posisi lawan bicara, menggunakan data dan logika daripada tekanan kekuasaan, menunjukkan empati dan kredibilitas, serta membangun kepercayaan jangka panjang. Pemimpin yang efektif dalam negosiasi juga fleksibel dalam pendekatan, tetapi tegas terhadap prinsip dan tujuan strategis organisasi.

4. Cara pembangunan tim di posisi puncak (top management team)
Pembangunan tim di level puncak menuntut kepercayaan tinggi, keterbukaan, dan keselarasan visi antar pemimpin. Yukl menekankan pentingnya kejelasan peran, pengurangan ego sektoral, dan peningkatan kualitas komunikasi strategis. Pemimpin perlu menciptakan iklim psikologis yang aman agar anggota tim puncak berani menyampaikan perbedaan pendapat, mendorong diskusi yang sehat, serta mengelola konflik secara konstruktif. Aktivitas _team building_ yang terarah, refleksi bersama, dan evaluasi kinerja kolektif juga diperlukan agar tim puncak berfungsi sebagai satu kesatuan strategis, bukan kumpulan individu berkuasa.

6. Cara mengetahui hukuman yang tepat bagi karyawan bermasalah
Menurut pendekatan Yukl, hukuman bukan langkah utama, melainkan pilihan terakhir setelah upaya pembinaan gagal. Untuk menentukan hukuman yang tepat, pemimpin harus mempertimbangkan tingkat kesalahan, dampak terhadap organisasi, riwayat perilaku karyawan, dan kejelasan aturan yang telah disosialisasikan. Prinsip keadilan, konsistensi, dan proporsionalitas sangat penting. Hukuman yang efektif adalah yang bersifat korektif dan edukatif, bukanbalas dendam atau mempermalukan, serta selalu disertai umpan balik yang jelas tentang perilaku yang diharapkan di masa depan.
Sebagai balasan Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 15

oleh Taufan Al Amin -
izin menjawab Ibu,
Taufan Al Amin NPM. 2421011028

1. Jelaskan cara menciptakan visi yang baik!
Visi yang baik adalah gambaran masa depan yang ingin dicapai organisasi. Cara menciptakannya:
a. Memahami lingkungan internal & eksternal, Pemimpin harus menganalisis kondisi organisasi, tantangan, peluang, dan tren masa depan
b. Melibatkan pemangku kepentingan, Visi menjadi kuat jika dikembangkan bersama anggota tim, sehingga ada rasa memiliki (ownership)
c. Fokus pada masa depan yang ingin diwujudkan, Visi harus menggambarkan aspirasi jangka panjang, bukan aktivitas jangka pendek
d. Menyusun visi yang jelas, singkat, dan inspiratif, Visi harus mudah dipahami, memberi arah, dan mendorong motivasi
e. Mengkomunikasikan visi secara konsisten, Pemimpin harus menyampaikan visi melalui tindakan, komunikasi sehari-hari, dan keteladanan
2. Jelaskan cara mengatasi konflik yang buruk!
Konflik yang buruk harus diatasi agar tidak merusak hubungan kerja. Langkah-langkahnya:
a. Identifikasi sumber konflik dengan mengenali apakah konflik berasal dari miskomunikasi, perbedaan nilai, kepentingan, atau beban kerja.
b. Mendengarkan kedua pihak secara aktif dengan mengunakan pendekatan active listening agar pemimpin memahami perspektif semua pihak.
c. Fokus pada masalah, bukan pada orang sehingga Pemimpin harus netral, tidak menyalahkan, dan fokus pada solusi.
d. Gunakan pendekatan mediasi dimana Pemimpin menjadi fasilitator yang mengarahkan pihak bertikai menuju kesepakatan.
e. Tetapkan aturan komunikasi yang sehat, Misal: tidak memotong pembicaraan, tidak menyerang pribadi, dan fokus pada data.
f. Dokumentasikan hasil penyelesaian agar kesepakatan tidak dilanggar di kemudian hari.

3. Jelaskan teknik negosiasi antar pemimpin!
Beberapa teknik negosiasi yang efektif antara pemimpin:
a. Collaborative Negotiation; dengan cara mencari solusi win–win dengan memahami kepentingan kedua pihak.
b. Principled Negotiation, dengan mengutamakan prinsip objektif, seperti data, standar organisasi, bukan emosi atau tekanan.
c. BATNA (Best Alternative To a Negotiated Agreement); seorang Pemimpin menyiapkan alternatif terbaik jika negosiasi gagal, sehingga posisi lebih kuat.
d. Building Relationships, Membangun kepercayaan untuk menciptakan kerja sama jangka panjang.
e. Fokus pada kepentingan, bukan posisi “Posisi” adalah tuntutan, “kepentingan” adalah alasan di balik tuntutan. Negosiasi lebih efektif jika memahami kepentingan.
4. Jelaskan cara pembangunan tim di posisi puncak!
Berikut cara membangun tim di level puncak:
a. Memperjelas tujuan bersama; Tim eksekutif harus memiliki arah yang selaras dengan visi organisasi.
b. Membangun kepercayaan (trust) melalui komunikasi terbuka, transparansi, dan kejelasan peran.
c. Memberikan pengalaman pengembangan (developmental experiences), seperti executive coaching, business simulations, mentoring, dan 360-degree feedback (lihat halaman Developmental Activities).
d. Mendorong kolaborasi lintas fungsi, Pemimpin puncak harus bekerja bersama menyelesaikan isu strategis, bukan bekerja dalam silo.
e. Mengelola dinamika konflik secara konstruktif agar konflik menjadi sumber inovasi, bukan perpecahan.
f. Melakukan evaluasi kinerja tim secara berkala termasuk target strategis, efektivitas komunikasi, serta kualitas keputusan.

5. Bagaimana cara mengetahui hukuman yang tepat bagi karyawan bermasalah?
Cara mengetahui hukuman yang tepat bagi karyawan bermasalah Penentuan hukuman harus adil, proporsional, dan mengikuti prinsip manajemen SDM.
a. Identifikasi tingkat pelanggaran dengan membedakan: Pelanggaran ringan, Pelanggaran sedang, Pelanggaran berat karena menentukan beratnya hukuman.
b. Gunakan data objektif, dimana keputusan harus berdasarkan bukti, laporan, dan evaluasi perilaku—bukan emosi.
c. Konsultasi dengan kebijakan Perusahaan, dimana setiap organisasi memiliki SOP disiplin, peraturan kerja, atau kode etik.
d. Terapkan asas keadilan dan konsistensi untuk kasus yang sama, tidak boleh diskriminatif.
e. Berikan progressive discipline dimulai dari: Teguran lisan → Teguran tertulis → Skorsing → Pemutusan hubungan kerja (jika ekstrem)
f. Tidak kalah penting adalah melakukan coaching terlebih dahulu
Sebagai balasan Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 15

oleh Khairunnnisaa Khairunnisaa -
Khairunnisaa
2421011007

1. Jelaskan cara menciptakan visi yang baik!
Jawaban:
Penciptaan visi yang baik dimulai dari analisis mendalam tentang posisi organisasi. Proses ini mencakup peninjauan data kinerja, tren industri, perubahan kebutuhan pelanggan, serta langkah kompetitor. Informasi tersebut kemudian digunakan untuk merumuskan gambaran masa depan yang ingin dicapai organisasi. Visi disusun dengan struktur yang ringkas agar mudah dipahami semua anggota. Kalimat visi harus menjelaskan arah, tujuan jangka panjang, dan nilai utama yang ingin diwujudkan. Setelah dirumuskan, visi diuji dengan beberapa pertanyaan. Apakah visi memberi kejelasan arah. Apakah visi relevan dengan kapasitas organisasi. Apakah visi dapat mendorong komitmen tim. Tahap terakhir adalah menyosialisasikan visi melalui rapat strategis dan komunikasi rutin agar visi menjadi dasar dalam setiap keputusan penting.

2. Jelaskan cara mengatasi konflik yang buruk !
Jawaban:
Penanganan konflik yang buruk memerlukan proses identifikasi menyeluruh. Langkah pertama adalah mengumpulkan informasi dari pihak yang terlibat. Setiap pihak diberi kesempatan menjelaskan sudut pandang secara langsung. Fakta diverifikasi untuk memastikan bahwa diskusi berfokus pada masalah utama, bukan asumsi atau emosi. Aturan komunikasi ditetapkan agar percakapan berlangsung tertib. Langkah berikutnya adalah memetakan akar masalah, misalnya kesalahpahaman, ketidakjelasan peran, atau tumpang tindih kepentingan. Solusi kemudian disusun dalam bentuk rencana kerja yang konkret. Setiap pihak diberi tanggung jawab yang jelas agar komitmen dapat dipantau. Pemantauan dilakukan melalui pertemuan berkala untuk memastikan penggunaan solusi berjalan dan konflik tidak berkembang kembali.

3. Jelaskan teknik negosiasi antar pemimpin !
Jawaban:
Negosiasi antar pemimpin membutuhkan persiapan dan manajemen dinamika percakapan. Persiapan mencakup pengumpulan data pendukung seperti analisis biaya, risiko organisasi, batas sumber daya, serta dampak keputusan terhadap unit lain. Tujuan negosiasi dijelaskan pada awal percakapan agar arah diskusi tetap fokus. Kepentingan inti masing-masing pemimpin digali melalui pertanyaan terbuka. Dengan mengetahui alasan di balik setiap posisi, ruang kompromi dapat ditemukan lebih mudah. Beberapa alternatif keputusan disiapkan untuk menjaga fleksibilitas. Selama proses berlangsung, kontrol terhadap dinamika emosi sangat penting agar diskusi tetap objektif. Negosiasi ditutup dengan kesepakatan yang tertulis dan memuat rincian seperti target, waktu pelaksanaan, dan indikator keberhasilan.

4. Jelaskan cara pembangunan tim di posisi puncak!
Jawaban:
Pembangunan tim di posisi puncak memerlukan pendekatan struktural dan perilaku. Struktur organisasi ditinjau untuk memastikan peran eksekutif tidak saling tumpang tindih. Alur koordinasi ditetapkan untuk menyederhanakan proses pengambilan keputusan. Setiap pemimpin diberikan tanggung jawab strategis yang selaras dengan keahlian. Rapat rutin dirancang agar fokus pada isu yang berdampak luas, misalnya arah perusahaan, analisis risiko, dan peluang investasi. Budaya komunikasi terbuka dibangun melalui diskusi reguler. Hubungan antar pemimpin dikuatkan dengan mekanisme kolaborasi seperti proyek lintas divisi. Kepercayaan dikembangkan melalui akuntabilitas yang konsisten. Evaluasi kinerja dilakukan secara rutin agar standar kepemimpinan tetap terjaga.

5. Bagaimana cara untuk dapat mengetahui hukuman yang tepat bagi karyawan bermasalah?
Jawaban:
Penentuan hukuman bagi karyawan bermasalah memerlukan penilaian yang berdasarkan data. Informasi lengkap dikumpulkan, termasuk waktu kejadian, bukti yang relevan, saksi, serta dampak perilaku terhadap tim atau hasil kerja. Pelanggaran kemudian dikategorikan berdasarkan tingkat keseriusan, misalnya ringan, sedang, atau berat. Riwayat perilaku karyawan dianalisis untuk melihat apakah pelanggaran bersifat insidental atau berulang. Penyebab pelanggaran juga dievaluasi apakah karena kurangnya pengarahan, kesalahan prosedur, atau tindakan disengaja. Setelah semua data dianalisis, tindakan disiplin dipilih secara proporsional. Dokumen keputusan dibuat secara formal agar proses bersifat transparan dan dapat dipertanggungjawabkan. Proses pembinaan juga disertakan untuk mendukung perbaikan perilaku.
Sebagai balasan Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 15

oleh Taufan Al Amin -
Ijin menjawab Ibu,
Taufan Al Amin - 2421011028

1. Jelaskan cara menciptakan visi yang baik!
Visi yang baik adalah gambaran masa depan yang ingin dicapai organisasi. Cara menciptakannya:
a. Memahami lingkungan internal & eksternal, Pemimpin harus menganalisis kondisi organisasi, tantangan, peluang, dan tren masa depan
b. Melibatkan pemangku kepentingan, Visi menjadi kuat jika dikembangkan bersama anggota tim, sehingga ada rasa memiliki (ownership)
c. Fokus pada masa depan yang ingin diwujudkan, Visi harus menggambarkan aspirasi jangka panjang, bukan aktivitas jangka pendek
d. Menyusun visi yang jelas, singkat, dan inspiratif, Visi harus mudah dipahami, memberi arah, dan mendorong motivasi
e. Mengkomunikasikan visi secara konsisten, Pemimpin harus menyampaikan visi melalui tindakan, komunikasi sehari-hari, dan keteladanan
2. Jelaskan cara mengatasi konflik yang buruk!
Konflik yang buruk harus diatasi agar tidak merusak hubungan kerja. Langkah-langkahnya:
a. Identifikasi sumber konflik dengan mengenali apakah konflik berasal dari miskomunikasi, perbedaan nilai, kepentingan, atau beban kerja.
b. Mendengarkan kedua pihak secara aktif dengan mengunakan pendekatan active listening agar pemimpin memahami perspektif semua pihak.
c. Fokus pada masalah, bukan pada orang sehingga Pemimpin harus netral, tidak menyalahkan, dan fokus pada solusi.
d. Gunakan pendekatan mediasi dimana Pemimpin menjadi fasilitator yang mengarahkan pihak bertikai menuju kesepakatan.
e. Tetapkan aturan komunikasi yang sehat, Misal: tidak memotong pembicaraan, tidak menyerang pribadi, dan fokus pada data.
f. Dokumentasikan hasil penyelesaian agar kesepakatan tidak dilanggar di kemudian hari.

3. Jelaskan teknik negosiasi antar pemimpin!
Beberapa teknik negosiasi yang efektif antara pemimpin:
a. Collaborative Negotiation; dengan cara mencari solusi win–win dengan memahami kepentingan kedua pihak.
b. Principled Negotiation, dengan mengutamakan prinsip objektif, seperti data, standar organisasi, bukan emosi atau tekanan.
c. BATNA (Best Alternative To a Negotiated Agreement); seorang Pemimpin menyiapkan alternatif terbaik jika negosiasi gagal, sehingga posisi lebih kuat.
d. Building Relationships, Membangun kepercayaan untuk menciptakan kerja sama jangka panjang.
e. Fokus pada kepentingan, bukan posisi “Posisi” adalah tuntutan, “kepentingan” adalah alasan di balik tuntutan. Negosiasi lebih efektif jika memahami kepentingan.
4. Jelaskan cara pembangunan tim di posisi puncak!
Berikut cara membangun tim di level puncak:
a. Memperjelas tujuan bersama; Tim eksekutif harus memiliki arah yang selaras dengan visi organisasi.
b. Membangun kepercayaan (trust) melalui komunikasi terbuka, transparansi, dan kejelasan peran.
c. Memberikan pengalaman pengembangan (developmental experiences), seperti executive coaching, business simulations, mentoring, dan 360-degree feedback (lihat halaman Developmental Activities).
d. Mendorong kolaborasi lintas fungsi, Pemimpin puncak harus bekerja bersama menyelesaikan isu strategis, bukan bekerja dalam silo.
e. Mengelola dinamika konflik secara konstruktif agar konflik menjadi sumber inovasi, bukan perpecahan.
f. Melakukan evaluasi kinerja tim secara berkala termasuk target strategis, efektivitas komunikasi, serta kualitas keputusan.

5. Bagaimana cara mengetahui hukuman yang tepat bagi karyawan bermasalah?
Cara mengetahui hukuman yang tepat bagi karyawan bermasalah Penentuan hukuman harus adil, proporsional, dan mengikuti prinsip manajemen SDM.
a. Identifikasi tingkat pelanggaran dengan membedakan: Pelanggaran ringan, Pelanggaran sedang, Pelanggaran berat karena menentukan beratnya hukuman.
b. Gunakan data objektif, dimana keputusan harus berdasarkan bukti, laporan, dan evaluasi perilaku—bukan emosi.
c. Konsultasi dengan kebijakan Perusahaan, dimana setiap organisasi memiliki SOP disiplin, peraturan kerja, atau kode etik.
d. Terapkan asas keadilan dan konsistensi untuk kasus yang sama, tidak boleh diskriminatif.
e. Berikan progressive discipline dimulai dari: Teguran lisan → Teguran tertulis → Skorsing → Pemutusan hubungan kerja (jika ekstrem)
f. Tidak kalah penting adalah melakukan coaching terlebih dahulu
Sebagai balasan Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 15

oleh Dhika Pratama -

Mohon ijin menjawab Evaluasi Sesi-15, ibuu…
Dhika Pratama
NPM 2421011026 (Kelompok-9)


SOAL-1 Jelaskan cara menciptakan visi yang baik!

 Cara Menciptakan Visi yang Baik

Visi adalah kompas moral dan strategis. Tanpa visi, organisasi berjalan seperti kapal besar yang berlayar tanpa cahaya mercusuar. Ia tetap bergerak, tapi tanpa arah. Pemimpin lah yang menyalakan mercusuar itu.

 a. Mulai dari Keresahan

Visi tidak muncul dari brainstorming dingin. Ia lahir dari kegelisahan terhadap keadaan yang tidak boleh dibiarkan tetap sama.
Pertanyaan inti seorang pemimpin adalah:

Apa yang akan terjadi jika kita TIDAK berubah?”

Dari pertanyaan itu, muncul kesadaran tentang urgensi perubahan.

 b. Lihat Masa Depan yang Belum Ada

Pemimpin sejati melihat apa yang orang lain belum lihat.

Bukan mimpi kosong, tapi proyeksi logis dari nilai + keberanian + peluang.
Visi yang hebat harus terasa “lebih jauh” daripada kemampuan saat ini, namun tetap terasa mungkin.

Contoh naratif:
Seorang kepala kantor melihat bahwa sistem saat ini lambat, manual, dan tidak terintegrasi. Dia tidak hanya memikirkan perbaikan kecil. Dia membayangkan kantor DJBC yang sepenuhnya digital, tanpa kertas, dengan waktu respons 5 menit saja. Itu bukan sekadar impian, itu arah.

 c. Libatkan Tim dalam Perumusan Visi

Visi yang kuat tidak tercipta sendirian. Pemimpin menyediakan ruang dialog untuk mendengarkan:

kekuatan tim

ketakutannya

harapannya

peluang yang belum dikejar

Dengan begitu, visi menjadi milik bersama, bukan hanya milik pimpinan.

 d. Uji dengan 3 Pertanyaan Kunci

Sebuah visi harus lulus tiga tes:

Apakah visi ini membangkitkan emosi positif?

Apakah orang bisa membayangkan bentuk konkretnya?

Apakah arah ini konsisten dengan nilai organisasi?

Jika jawaban “ya”, Anda telah menciptakan visi yang layak memimpin ribuan langkah.

 Kriteria Visi Hebat

Kriteria

Makna

Inspiratif

Membangkitkan harapan & energi

Relevan

Menjawab tantangan nyata organisasi

Komunikatif

Mudah dipahami & diulang

Menggerakkan

Membuat orang ingin bertindak

Dapat divisualisasikan

Orang dapat membayangkan masa depan itu

Visi bukan kalimat. Visi adalah gerakan.


SOAL-2 Jelaskan cara mengatasi konflik yang buruk !

Cara Mengatasi Konflik yang Buruk

Konflik adalah bagian dari organisasi. Tapi ada dua jenis:

Konflik sehat: bahan bakar inovasi

Konflik buruk: racun budaya kerja

Konflik buruk adalah konflik yang menyerang orang, bukan masalah. Ia merusak psikologis, hubungan, dan produktivitas.

 Berikut cara mengatasinya secara elegan:

 a. Pahami Akar Konflik

Konflik yang tampak “ribut” sering kali hanya gejala, bukan akar.
Akar konflik bisa:

salah komunikasi

perbedaan standar kinerja

kepentingan yang tidak tersampaikan

rasa tidak dihargai

Pemimpin tidak boleh bereaksi pada gejala. Ia harus mengobati akar.

 b. Turunkan Suhu Emosi Sebelum Menyelesaikan Konflik

Tidak ada konflik yang selesai ketika dua pihak sedang marah.

Gunakan teknik Cooling Down Room:
Berikan jeda waktu 30–60 menit sebelum memulai penyelesaian. Ketika emosi turun, logika naik.

 c. Serang Masalah, Bukan Individu

Prinsip emas:

Kita satu tim melawan masalah, bukan saling melawan.”

Gunakan kalimat netral:

Apa fakta objektifnya?”

Apa kebutuhan masing-masing pihak?”

Solusi apa yang menguntungkan organisasi?”

d. Bantu Pihak Bertikai Melihat Dari Sudut Pandang Orang Lain

Konflik sering selesai ketika seseorang berkata:

Oh, ternyata begitu maksudmu.”

Empati menyelesaikan lebih banyak konflik daripada argumentasi.

Aspek

Konflik Sehat

Konflik Buruk

Fokus

Isu

Ego

Dampak

Inovasi

Keretakan

Energi

Membangun

Menguras

Pemimpin bukan pemadam kebakaran, tetapi arsitek budaya, ia mencegah kebakaran sebelum terjadi.


SOAL-3 Jelaskan teknik negosiasi antar pemimpin !

Teknik Negosiasi Antar Pemimpin

Negosiasi antar pemimpin bukan soal siapa menang dan siapa kalah. Itu adalah seni menggabungkan kekuatan untuk tujuan yang lebih besar.

 Berikut teknik elit yang digunakan pemimpin kelas dunia:

 a. BATNA Thinking

Sebelum negosiasi, tanyakan:

Apa pilihan terbaik yang saya punya jika negosiasi gagal?”

Itu menjadi batas aman Anda.
Pemimpin yang tahu BATNA-nya tidak takut ditekan.

 b. Mirror Listening

Teknik yang ampuh untuk meredakan tensi:

Dengarkan

Ulangi inti pesan lawan

Konfirmasi

Contoh:
Kalau saya tangkap, Bapak ingin timeline dipercepat tanpa menambah biaya, benar begitu?”

Teknik sederhana ini menciptakan rasa dihargai.

 c. Cari Kepentingan, Bukan Posisi

Posisi: “Saya mau A.”
Kepentingan: “Saya butuh keamanan.”

Negosiasi macet ketika dua pemimpin berdebat tentang posisi. Negosiasi cair ketika mereka berbicara tentang kepentingan.

 d. Ciptakan Opsi Bersama

Gunakan brainstorming tanpa penilaian untuk menemukan opsi-opsi kreatif yang sebelumnya tidak terpikirkan.

 e. Rumuskan Win–Win–Future

Negosiasi antar pemimpin harus fokus pada:

hubungan jangka panjang

keberlanjutan proses

sinergi dua unit/instansi

Negosiasi bukan transaksi.
Negosiasi adalah investasi hubungan.


SOAL-4 Jelaskan cara pembangunan tim di posisi puncak!

 Cara Pembangunan Tim di Posisi Puncak (Top Leadership Team)

Membangun tim puncak adalah tantangan paling rumit bagi seorang pemimpin. Di level ini:

semua orang pintar

semua orang berpengalaman

semua orang punya ego

Menyatukan mereka seperti menyatukan bintang-bintang dalam satu rasi.

 a. Keselarasan Nilai Sebelum Keselarasan Strategi

Banyak organisasi gagal karena strateginya bagus, tapi nilainya tidak selaras.
Nilai yang harus selaras misalnya:

integritas

transparansi

keinginan berubah

orientasi layanan public

 b. Ciptakan Psychological Safety

Tanpa rasa aman, tidak ada ide jujur.
Tanpa ide jujur, tidak ada keputusan terbaik.

Pemimpin harus mengirim pesan:

Berbeda pendapat itu bukan ancaman. Itu kontribusi.”

 c. Ritual Kepemimpinan Mingguan

Tim puncak butuh rutinitas:

evaluasi

refleksi

perencanaan

pembaruan visi

Ritual ini menjaga agar ego tidak saling menabrak.

 d. Perjelas Peran Strategis

Banyak konflik di level puncak terjadi karena batas peran kabur.
Pemimpin harus memperjelas:

siapa memimpin pengembangan SDM

siapa memimpin inovasi

siapa memimpin operasional

siapa memimpin integritas

Dengan peran yang jelas, kolaborasi justru lebih mudah.

 e. Rayakan Kemenangan Kecil

Tim puncak butuh penghargaan untuk menjaga semangat perubahan.

Kemenangan kecil adalah “bensin emosi” dalam perjalanan panjang.


SOAL-6 Bagaimana cara untuk dapat mengetahui hukuman yang tepat bagi karyawan bermasalah?

 Cara Menentukan Hukuman yang Tepat Bagi Karyawan Bermasalah

Memberi hukuman adalah tanggung jawab yang berat. Banyak pemimpin jatuh bukan karena keputusan besar, tapi karena kesalahan menegakkan disiplin.

Pemimpin harus tegas, tapi tetap manusiawi.

 a. Tentukan Akar Pelanggaran

Ada tiga kategori penyebab pelanggaran:

Tidak tahu: kurang sosialisasi

Tidak mampu: kurang skill

Tidak mau: masalah sikap & integritas

Setiap kategori butuh hukuman berbeda.

 b. Gunakan Prinsip Proporsionalitas

Kesalahan kecil: pembinaan
Kesalahan sedang: teguran + pemantauan
Kesalahan berat: hukuman disiplin (sesuai aturan)

 c. Pertimbangkan Dampak Terhadap Organisasi

Jika pelanggaran mengancam:

reputasi

integritas

keuangan

layanan publik

Maka hukuman harus lebih berat.

 d. Lihat Rekam Jejak Karyawan

Orang yang baru sekali salah beda perlakuannya dengan orang yang berulang kali salah.

 e. Kombinasikan Hukuman dan Pembinaan

Hukuman tanpa pembinaan hanya menciptakan ketakutan.
Pembinaan tanpa hukuman menciptakan ketidakadilan.

Pemimpin harus menemukan titik tengah yang bijak.

 Tabel Penentu Hukuman

Jenis Pelanggaran

Contoh

Tindakan Tepat

Ringan

Terlambat

Teguran + coaching

Sedang

Mengabaikan SOP

Pembinaan + monitoring

Berat

Gratifikasi, manipulasi data

Hukuman disiplin berat

Hukuman adalah “obat pahit yang menyelamatkan organisasi”.

 Terimakasih Ibuu.......

 

Sebagai balasan Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 15

oleh KATTY CINTIASARI -
Katty Cintiasari NPM 2421011016
IZIN MENJAWAB
1. Bagaimana Cara Menciptakan Visi yang Baik?
Menciptakan visi yang baik itu seperti melukiskan gambaran masa depan yang indah dan menginspirasi, bukan sekadar membuat slogan. Visi yang baik harus terasa hidup dan membangkitkan semangat.

Jadikan Bermakna (Meaningful): Visi tidak hanya tentang angka atau keuntungan, tapi tentang dampak yang ingin Anda ciptakan di dunia. Mengapa keberadaan organisasi Anda penting? Apa yang akan hilang jika Anda tidak ada?

Jadikan Jelas dan Menggugah (Clear & Aspirational): Visi harus mudah dipahami semua orang, dari staf paling bawah hingga dewan direksi. Gunakan bahasa yang sederhana namun mampu membangkitkan rasa ingin mencapai sesuatu yang besar. Ini harus menjadi "bintang utara" yang memandu semua keputusan.

Jadikan Fleksibel (Flexible): Dunia terus berubah, jadi visi yang baik tidak boleh terlalu kaku. Ia harus cukup luas untuk mengakomodasi inovasi dan perubahan strategi, namun intinya tetap kuat.

Libatkan Semua Pihak (Inclusive): Visi akan jauh lebih kuat jika ia tidak hanya datang dari satu kepala. Libatkan tim puncak dan representasi karyawan. Ketika mereka ikut merumuskan, mereka akan merasa memiliki (ownership), dan otomatis termotivasi untuk mewujudkannya.

2. Bagaimana Cara Mengatasi Konflik yang Buruk?
Konflik yang "buruk" biasanya adalah konflik yang bersifat personal, berkepanjangan, dan merusak hubungan. Mengatasinya membutuhkan pendekatan yang sensitif namun tegas.

Pisahkan Orang dari Masalahnya: Ingatlah bahwa masalahnya ada pada situasi atau keputusan, bukan pada karakter individu. Fokuskan diskusi pada fakta, tujuan bersama, dan kepentingan organisasi, bukan pada siapa yang salah.

Dengarkan secara Empatik (Active Listening): Sebelum mencari solusi, Anda harus benar-benar memahami akar masalah dari kedua belah pihak. Beri ruang bagi mereka untuk mengungkapkan perasaan tanpa diinterupsi. Gunakan kalimat seperti, "Saya memahami Anda merasa frustrasi karena..."

Fasilitasi Dialog Terbuka: Atur pertemuan mediasi di mana Anda bertindak sebagai fasilitator yang netral. Tetapkan aturan dasar: tidak ada teriakan, fokus pada solusi, dan wajib menghargai pandangan orang lain.

Tentukan Solusi dan Komitmen Jelas: Setelah semua sudut pandang terdengar, bantu mereka menemukan titik temu. Solusi harus disepakati bersama, dan harus ada komitmen tertulis tentang apa yang akan mereka lakukan ke depannya untuk mencegah konflik berulang. Jika perlu, libatkan pelatihan komunikasi.

3. Jelaskan Teknik Negosiasi Antar Pemimpin
Negosiasi di level puncak lebih sering berkaitan dengan kepentingan jangka panjang dan hubungan strategis daripada sekadar tawar-menawar.

Fokus pada Kepentingan, Bukan Posisi (Interests vs. Positions):

Posisi: Apa yang mereka katakan mereka inginkan (misalnya: "Anggaran tim saya harus X").

Kepentingan: Mengapa mereka benar-benar menginginkannya (misalnya: "Kami butuh X agar kami bisa merekrut talenta untuk proyek masa depan").

Dalam negosiasi pemimpin, selalu gali kepentingan di baliknya. Seringkali, ada cara lain untuk memenuhi kepentingan tersebut tanpa harus memenuhi posisi awalnya.

Siapkan Pilihan Saling Menguntungkan (Win-Win Options): Pemimpin harus menjadi ahli dalam menciptakan nilai. Jangan hanya membagi kue yang ada, tapi cari cara untuk membuat kuenya menjadi lebih besar (expanding the pie). Bagaimana keputusan ini bisa menguntungkan kedua divisi/pihak secara strategis?

Pahami BATNA (Best Alternative to a Negotiated Agreement): Sebelum masuk ke meja negosiasi, setiap pemimpin harus tahu apa alternatif terbaik yang mereka miliki jika negosiasi gagal. Ini memberikan kekuatan dan batas minimal yang tidak boleh dilanggar.

Jaga Hubungan (Prioritize Relationship): Negosiasi antar pemimpin tidak pernah terjadi sekali saja. Hasil negosiasi harus menjaga martabat dan hubungan baik agar kolaborasi di masa depan tetap terjalin mulus. Bersikaplah suportif dan konstruktif.

4. Jelaskan Cara Pembangunan Tim di Posisi Puncak!
Pembangunan tim (atau Top Management Team/TMT) di level puncak fokus pada sinkronisasi strategis dan kepercayaan fungsional.

Jelaskan Peran dan Batasan (Clear Roles & Boundaries): Di level puncak, sering terjadi tumpang tindih tanggung jawab. Pastikan setiap pemimpin divisi (C-Level) memiliki peran, tanggung jawab, dan batasan wewenang yang sangat jelas untuk mencegah perebutan kekuasaan.

Kembangkan Kepercayaan Fungsional (Functional Trust): Kepercayaan di sini bukan hanya tentang suka atau tidak suka, tapi tentang keyakinan bahwa rekan kerja Anda kompeten di bidangnya dan akan selalu bertindak demi kebaikan organisasi secara keseluruhan. Hal ini dibangun melalui transparansi data, berbagi informasi, dan menepati janji.

Hadapi Perbedaan Pendapat secara Konstruktif (Constructive Conflict): Tim puncak yang baik tidak menghindari perdebatan sengit tentang strategi. Doronglah perdebatan ide yang sehat, di mana setiap orang merasa aman untuk menantang ide orang lain tanpa takut diserang secara personal. Konflik intelektual adalah bahan bakar untuk keputusan terbaik.

Fokus pada Akuntabilitas Kolektif: Meskipun setiap orang memimpin divisi masing-masing, tim puncak harus bertanggung jawab bersama atas keberhasilan atau kegagalan seluruh organisasi. Ini mendorong mereka untuk saling mendukung dan menghilangkan mentalitas "kami vs. mereka."

Bagaimana Cara untuk Dapat Mengetahui Hukuman yang Tepat bagi Karyawan Bermasalah?
Menentukan hukuman yang tepat (atau lebih humanisnya, tindakan korektif) adalah seni menyeimbangkan keadilan dan kebaikan. Tujuannya adalah memperbaiki perilaku, bukan menghancurkan semangat.

Prinsip Keadilan dan Konsistensi:

Konsistensi: Apakah kasus serupa sebelumnya telah diberikan hukuman yang sama? Pelanggaran yang sama harus mendapatkan konsekuensi yang serupa, terlepas dari siapa karyawannya (Senioritas/Kedekatan).

Keadilan: Pastikan Anda memiliki semua fakta. Lakukan investigasi yang menyeluruh dan berikan kesempatan bagi karyawan untuk didengar (due process).

Tingkat Pelanggaran (Severity):

Pelanggaran Ringan: Keterlambatan sesekali, kesalahan kecil dalam laporan. Tindakan korektif: Teguran lisan (resmi) dan Pelatihan atau Pendampingan (Coaching).

Pelanggaran Sedang: Ketidakhadiran tanpa izin, pelanggaran kebijakan yang berulang. Tindakan korektif: Surat Peringatan (SP 1, 2, 3), Penangguhan tanpa bayaran.

Pelanggaran Berat: Pencurian, pelecehan, pelanggaran kerahasiaan data. Tindakan korektif: Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Disiplin Progresif (Progressive Discipline): Mulailah dengan tindakan yang paling ringan dan secara bertahap tingkatkan kekakuan hukuman jika perilaku bermasalah terus berlanjut. Ini memberikan karyawan kesempatan untuk memperbaiki diri.

Fokus pada Koreksi: Selalu akhiri proses dengan rencana ke depan. Apa yang harus dilakukan karyawan agar hukuman tidak berlanjut? Sediakan sumber daya (pelatihan, mentor) yang dibutuhkan untuk membantunya kembali ke jalur yang benar.
Sebagai balasan Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: EVALUASI SESI 15

oleh FADHIL FARIZI MURSYIDAN -
Assalamualaikum izin menjawab ibu

1. Jelaskan cara menciptakan visi yang baik!
Menciptakan visi yang baik dilakukan dengan memahami arah masa depan organisasi secara jelas serta menyelaraskannya dengan nilai, tujuan, dan kebutuhan para pemangku kepentingan. Seorang pemimpin harus mampu menganalisis kondisi internal dan eksternal organisasi, menentukan tujuan jangka panjang yang ingin dicapai, serta merumuskan visi yang realistis, inspiratif, dan mudah dipahami oleh seluruh anggota organisasi. Visi yang baik juga perlu disosialisasikan secara konsisten sehingga mampu membangkitkan motivasi, rasa memiliki, dan komitmen bersama untuk mewujudkannya melalui tindakan nyata.

2. Jelaskan cara mengatasi konflik yang buruk!
Mengatasi konflik yang buruk dilakukan dengan mengedepankan komunikasi terbuka, sikap objektif, dan pendekatan penyelesaian masalah. Pemimpin perlu mendengarkan semua pihak secara adil tanpa menyalahkan, memahami akar konflik, serta memastikan bahwa setiap individu diberi kesempatan menyampaikan pandangan secara konstruktif. Setelah itu, solusi dirumuskan melalui diskusi bersama yang berfokus pada kepentingan organisasi, bukan kepentingan pribadi. Mediasi, kompromi, serta penegasan aturan kerja yang jelas dapat membantu mencegah konflik berlanjut atau berulang di kemudian hari.

3. Jelaskan teknik negosiasi antar pemimpin!
Teknik negosiasi antar pemimpin menekankan pada pencarian kesepakatan yang saling menguntungkan (win-win solution). Proses negosiasi diawali dengan persiapan yang matang, yakni memahami kepentingan kedua belah pihak, menentukan batas tawar, dan menyiapkan alternatif solusi. Selama negosiasi, pemimpin harus bersikap profesional, komunikatif, dan terbuka terhadap perbedaan pendapat. Kemampuan mendengarkan, empati, serta penggunaan argumentasi rasional sangat penting untuk membangun kepercayaan dan mencapai kesepakatan yang adil serta berkelanjutan.

4. Jelaskan cara pembangunan tim di posisi puncak!
Pembangunan tim di posisi puncak dilakukan melalui pemilihan anggota tim yang memiliki kompetensi tinggi, integritas, serta visi yang sejalan dengan tujuan organisasi. Pemimpin perlu membentuk budaya kerja kolaboratif dengan menciptakan kepercayaan, komunikasi efektif, dan pembagian peran yang jelas sesuai keahlian masing-masing. Selain itu, pembangunan tim diperkuat melalui pelatihan kepemimpinan, kegiatan team building, serta evaluasi kinerja secara berkelanjutan agar tercipta sinergi antar pimpinan yang solid dalam pengambilan keputusan strategis.

6. Bagaimana cara untuk dapat mengetahui hukuman yang tepat bagi karyawan bermasalah?
Menentukan hukuman yang tepat bagi karyawan bermasalah dilakukan dengan mengacu pada aturan perusahaan, tingkat pelanggaran, serta prinsip keadilan dan objektivitas. Pemimpin harus terlebih dahulu mengklarifikasi fakta dan penyebab masalah, memberikan kesempatan kepada karyawan untuk menjelaskan situasi yang dihadapi, lalu menilai dampak kesalahan terhadap organisasi. Hukuman diberikan secara proporsional, bertahap, dan bersifat mendidik, mulai dari teguran lisan, surat peringatan, hingga sanksi administratif yang lebih tegas. Pendekatan ini bertujuan bukan semata-mata menghukum, tetapi juga membina perilaku karyawan agar dapat kembali bekerja sesuai standar yang ditetapkan.