EVALUASI SESI 12

EVALUASI SESI 11

Re: EVALUASI SESI 11

oleh FEBIOLA EFRIANI -
Jumlah balasan: 0
RANTI DWI OCTAVIANI _ 2421011045

1. Proses perolehan atau hilangnya kekuasaan dalam organisasi
Kekuasaan dalam organisasi dapat diperoleh melalui keahlian, posisi, akses informasi, dan dukungan dari orang lain. Ketika pemimpin mampu menunjukkan kompetensi dan membangun kepercayaan, kekuasaannya biasanya semakin kuat. Sebaliknya, kekuasaan dapat hilang jika pemimpin kehilangan kredibilitas, gagal memenuhi ekspektasi, atau kehilangan dukungan bawahan maupun atasan. Kekuasaan bersifat dinamis dan berubah sesuai persepsi serta kualitas kinerja seorang pemimpin.

2. Konsekuensi kekuasaan terhadap efektivitas kepemimpinan
Kekuasaan dapat membantu pemimpin bekerja lebih efektif jika digunakan untuk memotivasi, mengarahkan, dan menciptakan perubahan positif. Namun, jika kekuasaan disalahgunakan atau digunakan secara otoriter, hal ini dapat menurunkan kepercayaan dan merusak hubungan kerja. Efektivitas kepemimpinan sangat dipengaruhi oleh cara pemimpin menggunakan kekuasaan tersebut.

3. Cara menggunakan kekuasaan secara efektif
Kekuasaan digunakan secara efektif ketika pemimpin mampu menggabungkan otoritas formal dengan pengaruh pribadi seperti komunikasi yang baik, empati, dan teladan positif. Pemimpin yang efektif tidak mengandalkan paksaan, melainkan menggunakan pendekatan yang memberdayakan, melibatkan orang lain, dan membangun kerja sama. Dengan begitu, pengaruh yang diciptakan lebih kuat dan berkelanjutan.

4. Jenis taktik pengaruh dalam organisasi
Dalam organisasi terdapat berbagai taktik pengaruh, seperti menggunakan logika dan data, memberikan inspirasi, melibatkan bawahan dalam keputusan, melakukan pertukaran kepentingan, atau membangun hubungan personal. Ada juga taktik yang lebih keras seperti tekanan atau penggunaan otoritas, namun biasanya efektivitasnya hanya jangka pendek. Pemimpin perlu memilih taktik sesuai situasi dan tujuan.

5. Mengapa hubungan diadik berbeda berkembang antara pemimpin dan bawahan
Hubungan pemimpin dan bawahan berbeda-beda karena masing-masing bawahan memiliki kemampuan, sikap, dan kedekatan emosional yang tidak sama. Pemimpin cenderung memiliki hubungan lebih dekat dengan bawahan yang dianggap kompeten dan dapat dipercaya, sehingga terbentuk kelompok “in-group.” Bawahan lain mungkin menerima interaksi yang lebih terbatas, sehingga hubungannya berbeda.

6. Bagaimana pemimpin dipengaruhi oleh atribusi tentang bawahan
Atribusi adalah cara pemimpin menafsirkan penyebab perilaku bawahan. Jika pemimpin menganggap bawahan gagal karena malas atau tidak mampu (faktor internal), ia mungkin lebih keras dalam memberikan tindakan. Namun jika dianggap karena situasi atau hambatan luar, pemimpin biasanya lebih memberi dukungan. Cara menafsirkan perilaku ini sangat memengaruhi respons pemimpin.

7. Cara mengelola bawahan dengan kekurangan kinerja
Untuk menangani bawahan yang kinerjanya rendah, pemimpin perlu mencari tahu penyebabnya terlebih dahulu. Apakah karena kurang kemampuan, kurang motivasi, atau hambatan pekerjaan tertentu. Setelah itu, pemimpin dapat memberikan bimbingan, pelatihan, atau arahan yang lebih jelas. Evaluasi rutin diperlukan agar bawahan mengetahui kemajuan mereka. Jika tidak ada perbaikan, tindakan disiplin dapat diambil sesuai aturan.

8. Memahami atribusi dan teori implisit
Atribusi berkaitan dengan bagaimana seseorang menjelaskan penyebab perilaku orang lain. Sementara itu, teori implisit adalah keyakinan dasar seseorang tentang bagaimana orang seharusnya bersikap, termasuk asumsi tentang bawahan atau pemimpin. Kedua hal ini memengaruhi cara pemimpin menilai orang lain. Jika teori implisit atau atribusi tidak tepat, bisa muncul penilaian yang bias dan keputusan yang kurang adil.

9. Cara pengikut memiliki hubungan lebih efektif dengan pemimpin
Pengikut dapat membangun hubungan yang baik dengan pemimpin dengan bersikap profesional, berkomunikasi secara terbuka, dan proaktif menunjukkan komitmen. Menjaga kejujuran, memberikan ide secara sopan, serta menunjukkan tanggung jawab juga dapat meningkatkan kepercayaan pemimpin. Semakin baik interaksi dua arah, semakin efektif hubungan kerja yang tercipta.