Izin menjawab pertanyaan evaluasi nya ibu prof..
Febiola Efriani (2421011015)
1. Proses perolehan dan kehilangan kekuasaan dalam organisasi
Perolehan Kekuasaan
Seseorang bisa mendapatkan kekuasaan melalui berbagai jalan:
Kekuatan posisi, yaitu otoritas yang melekat pada jabatan formal sehingga orang lain wajib mengikuti.
Keahlian khusus, di mana individu yang menguasai pengetahuan penting menjadi rujukan bagi orang lain.
Pengelolaan sumber daya, misalnya kemampuan memberikan informasi, akses, dukungan, atau fasilitas.
Kemampuan membangun hubungan, sehingga ia memiliki jejaring yang membuatnya berpengaruh.
Karisma dan kepribadian, yang menciptakan rasa hormat dan kesediaan orang lain untuk mengikuti.
Kehilangan Kekuasaan
Kekuasaan dapat memudar ketika:
Posisi berubah akibat rotasi, reorganisasi, atau pengurangan wewenang.
Kepercayaan melemah karena perilaku tidak konsisten atau keputusan yang merugikan.
Hasil kerja tidak mencapai standar, sehingga legitimasi menurun.
Lingkungan berubah, dan individu gagal menyesuaikan diri.
Dukungan politik berkurang, sehingga pengaruh informal hilang.
2. Konsekuensi kekuasaan bagi efektivitas
kepemimpinan
Kekuasaan bisa memperkuat atau justru menghambat efektivitas pemimpin.
Dampak Positif:
Membantu pemimpin mengarahkan organisasi secara lebih terkoordinasi.
Memberikan kekuatan legitimasi untuk bertindak dan mengambil keputusan sulit.
Memungkinkan percepatan perubahan atau implementasi strategi.
Menumbuhkan rasa aman dan kepastian bagi anggota tim ketika digunakan dengan bijak.
Dampak Negatif:
Kekuasaan yang tidak dikendalikan bisa membuat pemimpin bersikap dominan atau otoriter.
Dapat memunculkan ketergantungan berlebihan pada pemimpin.
Menciptakan ketakutan dan menurunkan kreativitas jika kekuasaan digunakan secara koersif.
Mengundang penolakan atau konflik bila pemimpin tidak peka terhadap kondisi bawahannya.
3. Cara menggunakan kekuasaan secara efektif
Untuk menjadi efektif, pemimpin harus menggunakan kekuasaan dengan cara yang tepat dan proporsional.
Prinsip utamanya adalah:
Lebih mengedepankan persuasi dibanding paksaan, agar pengikut bergerak karena kesadaran, bukan tekanan.
Menjaga hubungan baik, sehingga kekuasaan berjalan melalui pengaruh, bukan otoritas semata.
Memberi ruang bagi penggunaan diskresi bawahan, sehingga mereka merasa diberdayakan.
Menyesuaikan taktik dengan situasi, tidak semua kondisi cocok dengan gaya keras.
Konsisten dan transparan, supaya keputusan dapat diterima tanpa menimbulkan kecurigaan.
Mengutamakan nilai etika, agar kekuasaan tidak kehilangan legitimasi.
4. Jenis taktik pengaruh dalam organisasi
Taktik pengaruh adalah cara pemimpin memengaruhi orang lain agar bersedia melakukan sesuatu.
Taktik yang Bersifat Relasional / Soft:
Ajakan logis (rational persuasion): menawarkan argumentasi yang kuat dan didukung data.
Ajakan inspirasional, menyentuh nilai, tujuan, atau aspirasi yang lebih tinggi.
Konsultasi, melibatkan orang lain dalam proses perencanaan.
Pendekatan simpatik (ingratiation), menciptakan suasana positif sebelum meminta bantuan.
Pendekatan pribadi, memanfaatkan hubungan baik secara profesional.
Taktik yang Lebih Teknis / Hard:
Imbal-balik (exchange), menawarkan sesuatu sebagai timbal balik.
Koalisi, mengumpulkan dukungan dari pihak lain.
Taktik legitimasi, mengacu pada aturan atau prosedur formal.
Tekanan, menggunakan ancaman atau pengawasan ketat.
5. Alasan hubungan diadik pemimpin–bawahan berkembang secara berbeda
Dalam teori LMX, pemimpin biasanya tidak memperlakukan semua bawahan secara identik. Beberapa memiliki hubungan lebih dekat, sementara lainnya memiliki hubungan standar.
Hal ini muncul karena:
Tingkat kepercayaan awal yang berbeda-beda antara pemimpin dan masing-masing bawahan.
Perbedaan kontribusi, komitmen, dan kemampuan yang ditunjukkan bawahan.
Kecocokan interpersonal, seperti kesamaan nilai, gaya komunikasi, atau cara kerja.
Kesempatan berinteraksi, ada bawahan yang lebih sering berkolaborasi dengan pemimpin.
Riwayat kerja sebelumnya, seperti kedekatan yang terbangun dari proyek bersama.
6. Pengaruh atribusi pemimpin terhadap pandangannya mengenai bawahan
Atribusi adalah penilaian pemimpin tentang penyebab di balik perilaku bawahan.
Jika bawahan gagal, pemimpin bisa menyimpulkan bahwa penyebabnya internal (tidak kompeten, kurang usaha).
Atau, pemimpin bisa menilai penyebabnya eksternal (tugas tidak jelas, beban terlalu besar, hambatan teknis).
Interpretasi ini sangat mempengaruhi:
Cara pemimpin memberi feedback
Tingkat kepercayaan yang diberikan
Kesempatan yang diberikan di masa depan
Gaya pengawasan (lebih ketat atau lebih longgar)
Atribusi yang tidak akurat berpotensi menciptakan bias dan penilaian tidak adil.
7. Cara mengelola bawahan dengan kinerja kurang optimal
Pemimpin harus menangani penurunan kinerja secara sistematis dan objektif.
Langkah-langkahnya meliputi:
Menganalisis penyebab (apakah masalahnya kemampuan, motivasi, atau hambatan kerja).
Memberikan klarifikasi standar dan ekspektasi yang ingin dicapai.
Dialog terbuka, bukan menghakimi, untuk menemukan kendala nyata.
Memberikan pelatihan, pendampingan, atau sumber daya tambahan yang diperlukan.
Menyusun rencana perbaikan kinerja dengan tahapan dan batas waktu.
Melakukan pemantauan berkala, memberi penguatan ketika menunjukkan perkembangan.
Mengambil tindakan administratif bila tidak ada perubahan setelah pendampingan memadai.
8. Atribusi dan teori implisit
Atribusi
Adalah proses kognitif pemimpin dalam memahami alasan perilaku bawahan.
Atribusi menentukan apakah pemimpin akan memberikan dukungan atau justru hukuman.
Teori Implisit
Adalah asumsi atau stereotip tak sadar tentang seperti apa karakter “pemimpin yang baik” atau “karyawan yang baik”.
Teori implisit bisa memengaruhi:
Cara pemimpin menilai kemampuan bawahan
Seberapa cepat pemimpin memberi kepercayaan
Siapa yang dianggap layak dipromosikan
Jika teori implisit tidak disadari, bisa menimbulkan bias.
9. Cara pengikut membangun hubungan lebih efektif dengan pemimpin
Agar hubungan lebih produktif dan saling menghargai, bawahan dapat:
Menunjukkan komitmen pada pekerjaan, sehingga pemimpin melihat mereka sebagai mitra yang bisa diandalkan.
Berinisiatif, tidak hanya menunggu perintah, tetapi mengusulkan solusi.
Menjaga komunikasi aktif, termasuk melaporkan progres dan meminta arahan saat perlu.
Mengembangkan kompetensi, agar kontribusinya semakin bernilai.
Menunjukkan sikap profesional, termasuk kerja sama dan kemampuan beradaptasi.
Memahami gaya
kepemimpinan atasan, sehingga lebih mudah berkolaborasi.
Menunjukkan kesediaan mendukung tujuan tim, bukan sekadar menyelesaikan tugas pribadi.