APRILIA IRAWATI
2213031071
Analisis Penyebab Utama Rendahnya Efektivitas Implementasi Digitalisasi
Berdasarkan temuan setelah 1 tahun implementasi platform SehatMandiri, rendahnya efektivitas dapat dianalisis melalui faktor-faktor utama berikut, yang saling terkait dan didasarkan pada masalah teknis, organisasional, dan penggunaan:
Kurangnya Adopsi dan Pelatihan di Tingkat Fasilitas Kesehatan: Banyak Puskesmas belum menggunakan sistem secara penuh, kemungkinan karena kurangnya pelatihan staf, resistensi terhadap perubahan teknologi, atau keterbatasan infrastruktur (seperti koneksi internet yang buruk di daerah pedesaan). Ini menyebabkan sistem tidak dimanfaatkan optimal, sehingga layanan manual masih dominan.
Masalah Sinkronisasi Data dan Integrasi Sistem: Data yang tidak sinkron antar fasilitas kesehatan menunjukkan kegagalan dalam integrasi platform dengan sistem lama atau antar-Puskesmas/Klinik. Hal ini bisa disebabkan oleh standar data yang tidak seragam, kurangnya API yang kuat, atau masalah keamanan data yang menghambat berbagi informasi real-time.
Peningkatan Pengaduan Keterlambatan Pelayanan: Meskipun platform bertujuan mempercepat layanan (seperti janji temu online), peningkatan pengaduan menunjukkan bahwa digitalisasi justru menambah beban kerja tanpa mengurangi bottleneck. Penyebabnya mungkin overload sistem saat puncak penggunaan, kurangnya dukungan teknis, atau proses manual yang masih diperlukan untuk verifikasi, sehingga pasien mengalami delay lebih lama.
Faktor tambahan yang memperburuk: Kurangnya keterlibatan stakeholder (seperti dokter dan pasien) dalam desain awal, anggaran terbatas untuk pemeliharaan, dan tidak adanya monitoring berkelanjutan. Secara keseluruhan, ini mencerminkan implementasi yang terburu-buru tanpa evaluasi iteratif, sehingga manfaat digitalisasi tidak tercapai.
Pendekatan Audit Berbasis Data untuk Mengevaluasi dan Meningkatkan Kinerja Sistem SehatMandiri
Untuk mengevaluasi efektivitas dan meningkatkan kinerja, rancang audit berbasis data dengan pendekatan sistematis, menggunakan data kuantitatif dan kualitatif dari platform. Audit ini dapat dilakukan oleh tim internal Dinas Kesehatan atau auditor eksternal, dengan durasi 3-6 bulan, dan fokus pada indikator kinerja utama (KPI) seperti tingkat adopsi, akurasi data, dan kepuasan pengguna.
Langkah-Langkah Audit:
Pengumpulan Data:
Data Internal Platform: Ekstrak log penggunaan (misalnya, jumlah janji temu online, waktu akses rekam medis, dan frekuensi error sinkronisasi) dari database SehatMandiri. Gunakan tools seperti SQL queries atau dashboard analitik untuk mengidentifikasi pola, seperti Puskesmas dengan adopsi rendah (<50% penggunaan fitur penuh).
Data Eksternal: Survei pengguna (pasien dan staf) via formulir online atau aplikasi, dengan pertanyaan tentang kemudahan penggunaan, waktu tunggu, dan pengalaman. Kumpulkan data pengaduan dari hotline atau sistem feedback, serta metrik infrastruktur (misalnya, uptime server dan kecepatan koneksi).
Data Perbandingan: Bandingkan dengan benchmark nasional (seperti dari Kementerian Kesehatan RI) untuk tingkat digitalisasi layanan kesehatan serupa.
Analisis Data:
Kuantitatif: Hitung metrik seperti tingkat adopsi (persentase Puskesmas yang aktif), rasio sinkronisasi data (persentase data yang akurat antar fasilitas), dan waktu respons rata-rata (misalnya, dari janji temu hingga pelayanan). Gunakan statistik deskriptif dan inferensial (misalnya, regresi untuk mengidentifikasi korelasi antara pelatihan dan adopsi).
Kualitatif: Analisis tema dari survei dan pengaduan, seperti "kurang pelatihan" atau "sistem lambat", menggunakan teknik coding tematik.
Identifikasi Bottleneck: Lakukan root cause analysis (misalnya, dengan diagram fishbone) untuk menghubungkan data dengan penyebab, seperti data sinkron yang rendah akibat API yang lemah.
Evaluasi dan Rekomendasi:
Evaluasi Efektivitas: Bandingkan KPI dengan target awal (misalnya, pengurangan waktu tunggu 30%). Jika tidak tercapai, nilai dampak terhadap kesehatan masyarakat (misalnya, peningkatan pengaduan sebagai indikator kegagalan).
Rekomendasi Perbaikan:
Teknis: Tingkatkan integrasi dengan migrasi data bertahap dan penguatan keamanan (misalnya, enkripsi end-to-end).
Organisasional: Implementasikan program pelatihan wajib dan insentif untuk Puskesmas dengan adopsi tinggi.
Pengguna: Tambahkan fitur seperti chatbot AI untuk mengurangi beban staf dan survei real-time untuk feedback cepat.
Monitoring Berkelanjutan: Buat dashboard KPI bulanan untuk tracking, dengan alert otomatis jika metrik turun.
Implementasi dan Follow-Up:
Pilot Perbaikan: Uji rekomendasi di 2-3 Puskesmas terlebih dahulu, lalu skalakan.
Pelaporan: Hasilkan laporan audit dengan visualisasi data (grafik dan tabel) untuk Dewan Pengawas, termasuk timeline perbaikan dan proyeksi dampak (misalnya, pengurangan pengaduan 20% dalam 6 bulan).
Risiko dan Etika: Pastikan audit mematuhi regulasi data kesehatan (seperti UU Kesehatan RI), dengan anonimisasi data sensitif.
Pendekatan ini berbasis data untuk memastikan objektivitas, memungkinkan perbaikan berbasis bukti, dan dapat meningkatkan efektivitas SehatMandiri menjadi alat yang benar-benar mendukung layanan kesehatan terintegrasi. Jika diperlukan, konsultasikan dengan ahli IT kesehatan untuk tools spesifik.