Forum Diskusi

Forum Diskusi

Forum Diskusi

Number of replies: 4

Mahasiswa silahkan berikan pendapat kalian tentang karakteristik masing-masing kurikulum Pendidikan Sejarah pada masa Reformasi

In reply to First post

Re: Forum Diskusi

by Rizky Pahlevi -
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, izin memperkenalkan diri nama saya Rizky Pahlevi dengan NPM 2013033023. Izin menjawab ibu

Pasca lengsernya presiden Soeharto, pemerintah hanya focus kepada masalah pemerintahan saja. Artinya pemecahan masalah politik dan ekonomi yang paling diperhatikan oleh pemerintah, dan menyebabkan sektor lain seperti pendidikan kurang mendapat perhatian yang serius pada masa awal Reformasi. Perubahan politik dari Orde Baru menjadi Reformasi banyak mengubah tatanan negara Indonesia, misalnya dalam pendidikan khususnya materi pembelajaran sejarah. Buku-buku sejarah yang diterbitkan masa orde baru banyak “dicurigai” oleh kalangan akademisi Reformasi sebagai karya “pesanan” dan pembenaran politik Soeharto. Walaupun tidak semua karya sejarah sebagai “justifikasi” politik atau terkontaminasi pembenaran rezim orde baru, tetapi penulisan sejarah yang cenderung “seragam” membuat akademisi curiga dengan karya-karya sejarah yang terbit masa orde baru. Oleh karena itu, sejarawan masa Reformasi menerbitkan IDAS (Indonesia Dalam Arus Sejarah) untuk referensi yang lebih beragam dari SNI (Sejarah Nasional Indonesia). Perubahan arah dan penulisan sejarah masa Reformasi juga mempengaruhi materi sejarah dalam kurikulum yang dikembangkan kepada peserta didik. Kurikulum 2004 sebagai kurikulum pertama yang dicetuskan masa Reformasi juga dikenal sebagai Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Kurikulum ini diterapkan bukan sebagai upaya dalam memperbaiki kurikulum sebelumnya, tetapi disebabkan oleh situasi dan kebutuhan masyarakat yang menuntut tersedianya SDM yang unggul dan kompeten. Selama pelaksanaan uji coba kurikulum 2004, buku-buku sejarah yang mengacu pada kurikulum tersebut dilarang oleh pemerintah melalui arahan menteri Pendidikan nasional Bambang Sudibyo. Pelarangan tersebut dinilai karena Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar pada mata pelajaran sejarah dalam kurikulum 2004 tidak sepenuhnya mencatat fakta perjalanan bangsa Indonesia.
Kurikulum 2004 akhirnya diganti dengan kurikulum 2006 yang dikenal dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Hal ini dipicu agar peserta didik lebih mandiri dengan cara memberdayakan satuan pendidikan melalui otonomi daearah kepada lembaga pendidikan. Dalam kurikulum KTSP, guru sejarah dan atau IPS di sekolah diberikan otonomi yang luas untuk mengembangkan materi pembelajaraan yang sesuai dengan situasi daerah setempat. Masalah-masalah sosial kontemporer yang sedang dihadapi oleh para peserta didik dapat diangkat sebagai materi pembelajaran sejarah sebagai pengembangan dari materi dalam dokumen kurikulum (Peraturan Menteri Diknas No 22,23 dan 24 Tahun 2006).

Dengan demikian, pembelajaran sejarah dalam kurikulum KTSP berfokus pada sejarah lokal yang relevan dengan persolaan setempat. Selain itu, sejarah dalam KTSP juga harus menampilkan peran orang-orang biasa termasuk para peserta didik dengan persoalan sosialnya sebagai pelaku sejarah pada zamannya. Untuk SMP, pembelajaran sejarah masuk dalam kategori IPS bersama dengan mata pelajaran sosiologi, geografi, dan ekonomi. Sementara untuk jenjang pendidikan SMA, sejarah hanya diberikan 2 (dua) jam mata pelajaran tiap minggu untuk peserta didik yang mengambil jurusan IPA dan 4 (empat) jam tiap minggu untuk peserta didik yang mengambil jurusan IPS. Kurikulum KTSP akhirnya diganti dengan kurikulum 2013 (K-13) dengan alasan materi yang diajarkan kepada peserta didik terlalu banyak dan padat. Selain itu, keleluasaan terhadap guru membuat kurikulum secara mandiri untuk masing-masing sekolah ternyata tak berjalan mulus.

Kurikulum 2013 sebagai lanjutan kurikulum KBK dan KTSP mulai diberlakukan sejak tahun ajaran 2013/2014. Kurikulum ini bertujuan untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, inovatif, efektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan peradaban dunia. Posisi mata pelajaran sejarah dalam kurikulum 2013 di tingkat SMA baik untuk kelas wajib maupun peminatan mengalami perubahan dari kurikulum sebelumnya. Dalam kurikulum 2013, posisi pembelajaran sejarah memiliki tempat terhormat karena sesuai dengan landasan pengembangan kurikulum. Pembelajaran sejarah dinilai sebagai salah satu mata pelajaran yang berperan penting dalam pengembangan karakter peserta didik, sehingga memiliki jumlah jam mata pelajaran yang banyak. Bagi peserta didik yang mengambil jurusan IPA, akan memperoleh 2 (dua) jam mata pelajaran sejarah tiap minggu dengan materi perjuangan bangsa Indonesia. Sementara bagi peserta didik yang mengambil jurusan IPS kelas X akan memperoleh 3 (jam) mata pelajaran sejarah tiap minggu, sedangkan kelas XI dan XII memperoleh 4 (empat) jam mata pelajaran sejarah tiap minggunya.

Sekian jawaban dari saya, mohon maaf jika terdapat kesalahan.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
In reply to First post

Re: Forum Diskusi

by Mia Nurlita 2013033011 -
assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh ibu
sebelumnya izin memp[erkenalkan diri bu,,,
Nama: Mia Nurlita
Npm: 2013033011
izin menjawab ibu,,

Era reformasi telah memberikan ruang yang cukup besar bagi perumusan kebijakan-kebijakan pendidikan baru yang bersifat reformatif dan revolusioner. Bentuk kurikulum menjadi berbasis kompetensi. Begitu pula bentuk pelaksanaan pendidikan berubah dari sentralistik (ordelama) menjadi desentralistik. Adapun kurikulum-kurikulum yang dipakai pada masa reformasi yaitu Kurikulum 2004 (KBK), Kurikulum 2006 (KTSP), Kurikulum 2013, Kurikulum 2013 Revisi, Kurikulum Darurat, dan Kurikulum Merdeka Belajar. Pada penerapan kurikulum Sejarah di Sekolah, Guru harus menggunakan pendekatan ilmiah (scientific), karena pendekatan ini lebih efektif hasilnya dibandingkan pendekatan tradisional. Kriteria sebuah pendekatan pembelajaran sehingga dapat dikatakan sebagai pendekatan ilmiah atau pendekatan scientific harus memenuhi tujuah kriteria pembelajaran scientific. Proses pembelajaran yang mengimplementasikan pendekatan scientific akan menyentuh tiga ranah, yaitu: sikap (afektif), pengetahuan (kognitif), dan keterampilan.

sekian ibu dari saya kurang lebihnya saya mohon maaf
wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh
In reply to First post

Re: Forum Diskusi

by Octari Tauvita -
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Izin menjawab bu

Untuk kurikulum 2004 buku-buku sejarah yang mengacu pada kurikulum tersebut dilarang oleh pemerintah melalui arahan menteri Pendidikan nasional Bambang Sudibyo. Pelarangan tersebut dinilai karena Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar pada mata pelajaran sejarah dalam kurikulum 2004 tidak sepenuhnya mencatat fakta perjalanan bangsa Indonesia. Pada Kurikulum 2006 sejarah dikembangkan untuk mengikuti arus zaman, karena sudah mulai berkembang teknologi maka sejarah pada kurikulum ini bisa mengubah pola, serta evalusai pembelajarannya. Dan materi nya semakin berkembang untuk melihat sejarah-sejarah di tempat tinggal sendiri, maka sudah diadakan sejarah lokal dalam pembelajaran. Lalu untuk K13 sejarah berperan sebagai pengembangan karakter maka dari itu pembelajaran sejarah dibagi menjadi 2 yakni sejarah Indonesia dengan peminatan. Dan K13 Revisi yakni karena menata kembali KD, Sejarah Indonesia tetap 2 jam pelajaran perminggu namun hanya diberikan di kelas 10 dan 11 saja. Hal ini tentu saja menjadi masalah karena secara tidak langsung materi dalam mata pelajaran sejarah terpotong begitu saja di kelas XI, karena di
kelas XII peserta didik tidak mendapatkan mata pelajaran Sejarah Indonesia. Pelaksanaan pembelajaran sejarah pada masa PJJ lebih menekankan pada nilai kebermaknaan yang akan didapat siswa dalam pembelajaran menyesuaikan materi-materi dengan penjelasan yang sederhana namun mudah untuk dipahami siswa. Terakhir ada Kurikulum Merdeka untuk pembalajaran Sejarah yang mana materi nya ditambahkan yakni jalur rempah.

Terima kasih. Mohon maaf jika terdapat kesalahan.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
In reply to First post

Re: Forum Diskusi

by Murniyati . -
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Izin memperkenalkan diri nama saya Murniyati dengan NPM 2013033025, izin menjawab pertanyaan yang ibu berikan.
Pada dasarnya, pembelajaran sejarah tidak dapat dipisahkan dengan tujuan politik pemerintah. Oleh karena itu pembelajaran sejarah mengikuti warna politik pemerintahan. Kemudian pada masa Reformasi yang dimulai tahun 1999, warna pembelajaran Sejarah mengalami perubahan. Pembelajaran Sejarah berubah secara keseluruhan mulai dari tujuan, landasan, hingga buku-buku sejarah pada masa Orde Baru banyak dikritisi oleh sejarawan Reformasi. Untuk itu pembelajaran sejarah sangat penting diterapkan di sekolah. Pembelajaran sejarah dapat membantu mengembangkan potensi dan kepribadian peserta didik melalui pesan-pesan sejarah agar menjadi warga bangsa yang arif dan bermartabat. Pembelajaran sejarah juga merupakan pencarian untuk menemukan dan membantu manusia di masa sekarang dalam memecahkan masalah. Perubahan arah dan penulisan sejarah pada masa reformasi mempengaruhi materi Sejarah dalam kurikulum yang dikembangkan kepada peserta didik. Selama pelaksanaan uji coba kurikulum 2004, buku-buku sejarah yang mengacu pada kurikulum tersebut dilarang oleh pemerintah melalui arahan Menteri Pendidikan Nasional, Bambang Sudibyo. Pelarangan tersebut dinilai karena Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar pada mata pelajaran sejarah dalam kurikulum 2004 tidak sepenuhnya mencatat fakta perjalanan bangsa Indonesia (Batubara, 2019).


Pembelajaran sejarah mempunyai peran fundamental dalam kaitannya dengan guna dari belajar sejarah. Melalui pembelajaran sejarah, dapat juga dilakukan penilaian moral pada saat ini sebagai ukuran menilai masa lampau. Materi pembelajaran sejarah sebagai satu komponen dalam proses pembelajaran sejarah mengalami perkembangan yang tertuang dalam implementasi kurikulum 1994 sampai kurikulum KTSP 2006. Pada kurikulum masa Reformasi, materi pengantar ilmu sejarah mulai diterapkan dari kelas X sebagai dasar pengetahuan sejarah sebelum mempelajari materi sejarah lainnya. Implementasi pembelajaran sejarah pada kurikulum KTSP 2006 juga lebih baik daripada kurikulum 1994, karena guru dan siswa sama-sama sudah terbantu dengan adanya media belajar yang modern disertai dengan metode belajar sejarah yang lebih membuat siswa aktif, seperti diskusi kelompok (Suryawan, 2018).

Sekian jawaban dari saya, mohon maaf jika terdapat kesalahan.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh