Materi

Pengantar

Permukiman berkelanjutan adalah permukiman yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang.
Model berbasis geospasial memanfaatkan data lokasi, citra satelit, dan analisis ruang untuk:

  • Menentukan lokasi yang sesuai

  • Mengelola pertumbuhan permukiman

  • Meminimalkan dampak lingkungan

  • Meningkatkan kualitas hidup dan akses pelayanan

  • Mengukur keberlanjutan sosial, ekonomi, dan ekologis


2. Kerangka Konseptual Permukiman Berkelanjutan

Permukiman berkelanjutan didasarkan pada tiga pilar:

A. Ekologis

  • Kualitas lingkungan baik (air, tanah, udara)

  • Penggunaan lahan ramah lingkungan

  • Risiko bencana rendah

  • Ketersediaan ruang terbuka hijau

B. Sosial

  • Akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan transportasi

  • Keterlibatan masyarakat

  • Kenyamanan dan keselamatan permukiman

  • Pelestarian budaya lokal

C. Ekonomi

  • Kesempatan kerja

  • Infrastruktur ekonomi (pasar, transportasi)

  • Aksesibilitas terhadap pusat pertumbuhan

  • Efisiensi energi dan biaya hidup


3. Peran Geospasial dalam Pengembangan Permukiman Berkelanjutan

Teknologi geospasial digunakan untuk:

1. Penentuan Lokasi Permukiman

  • Analisis kesesuaian lahan (overlay tanah, kemiringan, air, risiko bencana)

  • Penilaian ruang terbangun vs ruang terbuka

  • Analisis aksesibilitas jalan dan fasilitas

2. Pemantauan Perubahan Lahan

  • Deteksi pertumbuhan permukiman

  • Urban sprawl

  • Deforestasi atau degradasi lingkungan

  • Pemadatan permukiman dari waktu ke waktu

3. Penilaian Risiko Bencana

  • Bahaya banjir

  • Longsor

  • Tsunami

  • Kebakaran hutan/lahan
    Permukiman berkelanjutan harus berada pada zona aman.

4. Evaluasi Indikator Keberlanjutan

  • Kepadatan penduduk dan bangunan

  • Ruang hijau per kapita

  • Kualitas lingkungan

  • Akses terhadap fasilitas publik

5. Perencanaan Infrastruktur

  • Jaringan jalan

  • Transportasi publik

  • Air bersih & sanitasi

  • Energi terbarukan


4. Model Permukiman Berkelanjutan Berbasis Geospasial (6 Model Utama)

MODEL 1: Eco-Settlement Model

Ciri:

  • Mengutamakan konservasi tanah dan air

  • Tata ruang mengikuti kontur

  • Energi terbarukan (surya, biomassa)

  • Analisis geospasial: slope, curah hujan, tutupan vegetasi, drainage

Cocok untuk: daerah pedesaan konservatif, pegunungan, transmigrasi gambut/hutan.


MODEL 2: Compact Settlement Model

Ciri:

  • Permukiman padat tapi terkontrol

  • Penggunaan lahan efisien

  • Pusat aktivitas kompak (mixed-use)

  • Transportasi mudah dijangkau

Analisis geospasial:
densitas, network analysis, heatmap pembangunan.

Cocok untuk: perkotaan, kawasan pengembangan kota baru.


MODEL 3: Transit Oriented Settlement (TOS)

Ciri:

  • Mengurangi ketergantungan kendaraan pribadi

  • Permukiman tumbuh di sekitar jalur transportasi

  • Jarak tempuh ke fasilitas publik pendek

Geospasial: buffering 400–800 m dari halte/jalur transportasi.

Cocok untuk: wilayah peri-urban, kota besar.


MODEL 4: Resilient Settlement Model

Ciri:

  • Berorientasi pada mitigasi bencana

  • Struktur rumah anti-bencana

  • Zonasi ketat pada kawasan rawan

Analisis geospasial:

  • peta risiko banjir/longsor

  • buffering sungai

  • model elevasi (DEM)

  • risk mapping

Cocok untuk: daerah rawan banjir, gempa, pesisir.


MODEL 5: Green Network-Based Settlement

Ciri:

  • Mengintegrasikan green belt, RTH, koridor ekologis

  • Ruang terbuka sebagai “tulang punggung” permukiman

  • Mengurangi urban heat island

Analisis geospasial: green space index, NDVI, landscape fragmentation.

Cocok untuk: kawasan urban dan suburban.


MODEL 6: Community-Based Spatial Settlement Model

Ciri:

  • Partisipasi masyarakat dominan

  • Pola ruang mengikuti budaya lokal

  • Pengelolaan ruang berbasis kearifan lokal

  • Mengutamakan keberlanjutan sosial

Geospasial: pemetaan partisipatif (PPGIS), overlay budaya, pemetaan sosial-ekologi.

Cocok untuk: desa adat, transmigrasi yang bersinggungan dengan masyarakat lokal.


5. Metode Geospasial dalam Penyusunan Model Permukiman Berkelanjutan

A. Analisis Kesesuaian Lahan (Weighted Overlay)

Variabel:

  • kemiringan

  • jenis tanah

  • jarak dari sungai

  • risiko bencana

  • akses jalan

  • ketersediaan lahan

B. Analisis Jaringan (Network Analysis)

Untuk:

  • aksesibilitas

  • optimasi rute

  • radius pelayanan fasilitas publik

C. Analisis Kepadatan (Density & Heatmap)

Untuk:

  • identifikasi permukiman padat

  • menentukan titik layanan baru

D. Land Use Change Detection

Untuk memantau:

  • pertumbuhan permukiman

  • konversi lahan hutan

E. Pemodelan Spasial (Spatial Modeling)

Untuk memprediksi:

  • arah pertumbuhan permukiman

  • risiko lingkungan masa depan

  • kebutuhan ruang dan fasilitas


6. Indikator Permukiman Berkelanjutan Berbasis Geospasial

A. Ekologis

  • RTH minimal 30%

  • Tingkat fragmentasi rendah

  • Kualitas air terpantau

  • NDVI stabil/meningkat

  • Risiko bencana rendah

B. Sosial

  • Akses fasilitas publik < 1 km

  • Kepadatan ideal (tidak terlalu padat/menyebar)

  • Partisipasi masyarakat tinggi

C. Ekonomi

  • Dekat pusat ekonomi (< 5 km)

  • Transportasi publik memadai

  • Diversifikasi lapangan usaha


7. Contoh Aplikasi dalam Konteks Indonesia

1. Permukiman Transmigrasi di Lampung & Sulawesi

  • Pola grid → mudah dianalisis

  • Cocok diterapkan Eco-Settlement + Resilient Settlement

2. Kota Baru Mandiri (BSD, Kota Baru Parahyangan)

  • Menggunakan geospasial untuk compact settlement dan green network

3. Permukiman Pesisir (Jakarta Utara, Semarang)

  • Diperlukan Resilient + Transit-Oriented Settlement

4. Desa Adat Bali

  • Cocok untuk community-based model