Forum Pertanyaan

Forum Pertanyaan

Number of replies: 28

berikan tanggapan kalian mengenai macam macam pendekatan dalam pendidikan nilai dan moral, dijelaskan ya sesuai dengan halaman 12 di dalam ppt. terimakasih.

In reply to First post

Re: Forum Pertanyaan

Farhan Iqbal Pratama གིས-
Nama : Farhan Iqbal Pratama
NPM : 2113053196
Kelas : 3C

Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabaraktuh.
Selamat Pagi Bapak Roy Kembar Habibie, M.Pd. selaku dosen pengampu mata kuliah Pendidikan Nilai dan Moral Kelas 3C PGSD. Saya Farhan Iqbal Pratama ingin mengirim tanggapan saya terkait pertanyaan macam-macam pendekatan dalam pendidikan nilai dan moral sesuai PPT halaman 12.

A. Pendekatan Lawrence Kohlberg yang disebut Cognitive Moral Development
Pendekatan perkembangan moral yang dikemukakan Kohlberg ada tiga, yaitu tingkat prekonvensional (punishment and obedience orientatin, instruental-relativist orientation/hedonistic orientation), tingkat konvensional (interpersonal concordance/good-boy/good-girl orientation, law and order orientation) dan tingkat postkonvensional (social-contrast, legalistic orientation, orientation of universal ethic principles) (Slavin, 2006: 54). Jadi, pendekatan dengan teori Kohlberg ini harus mengikuti tingkatan karena penalaran di tahap awal akan menentukan seseorang menuju tahap perkembangan moral berikutnya. Pendekatan awal dilakukan dengan mengaplikasikan norma-norma budaya, seperti perilaku baik dan buruk, salah dan benar, dll. Anak perlu dibantu agar dapat mengaitkan norma tersebut dengan akibat yang akan diterima atas tindakan yang dilakukannya. Pendekatan berikutnya adalah perkembangan moral anak harus diberikan sebuah contoh nyata atas tindakan yang ia lakukan, bagaimana bersikap sesuai norma di masyarakat sehingga anak dapat menjalin hubungan sosial yang baik dengan diri sendiri, orang lain dan masyarakat. Pada tahap ketiga, pendekatan dengan teori Kohlberg, anak harus sudah paham sehingga tidak perlu adanya bantuan dalam mengaitkan tindakan yang ia lakukan dengan akibat yang akan terjadi. Anak sudah bisa dalam menyimpulkan baik atau buruk dari hal yang ia lakukan karena sudah paham mengenai hak-hak asasi manusia (HAM) secara universal.

B. Pendekatan L. Metccalf dan Imam Al Ghozalli yang disebut Affective Moral Development
Pendekatan ini mengutamakan pendidikan moral diadopsi dari pendidikan akhlak yang mana diaplikasikan dalam bentuk sikap sehari-hari. Pendidikan nilai moral melalui pendekatan afektif ini mengadopsi ajaran agama yaitu bagaimana cara berperilaku yang baik sesuai ajaran Tuhan. Imam Al Ghozali menganjurkan dalam mendidik anak dan membina akhlak mereka melalui bantuan acara-acara olahraga dan perilaku yang sesuai dengan peningkatan jiwa meski nampak dipaksa agar anak terhindar dari kesesatan.

Pendidikan nilai moral menggunakan pendekatan ini harus dilakukan sejak di lingkungan keluarga dikarenakan untuk membentuk pribadi anak yang baik dan sesuai ajaran agama yang dianut. Orang tua hendaknya memberikan contoh dan membiasakan akhlak di rumah agar anak dapat mencontoh melalui perilaku orang tua sehari-hari.

C. Pendekatan Albert Bandura dan Skinner yang disebut Behavior Moral Development
Pendekatan pendidikan moral melalui Behavior Moral Development dilakukan dengan menekankan pembelajarn pada tingkah laku manusia mengenai cara memberi respon yang baik terhadap lingkungan. Melalui pendekatan ini, anak akan diberikan penguatan yang dapat memperkuat perilaku ke arah positif, kemudian diberikan pemahaman dan contoh nyata terhadap hukuman dari penyimpangan perilaku yang dilakukan, membentuk perilaku yang baik dilakukan dengan melatih hal-hal yang sudah didapat dan kemudian dikembangkan.

Pendekatan ini mengutamakan mengubah lingkungan untuk menghindari pelanggaran agar tidak menghukum. Pendidik diarahkan untuk menghargai setiap anak didiknya. Pendidik juga harus melakukan cara peniruan atau menjadi role model dalam memberikan pengajaran pendidikan nilai dan moral sehingga anak akan mencontoh kebiasaan baik yang diperlihatkan oleh pendidik. Pendidikan memperhatikan setiap anak didiknya, memberi pengingatan akan perilaku yang dilakukan orang lain (pengamatan), memproduksi hal yang telah didapat kepada pengaplikasian nilai moral secara nyata, selalu memberikan motivasi kepada anak sehingga percaya diri dalam melakukan perbuatan sesuai norma yang berlaku.

Pendekatan Behavior Moral Development dilakukan melalui proses mengamati dan meniru perilaku dan sikap orang lain sebagai model dalam tindakan belajar yang merupakan perilaku manusia dalam interaksi timbal balik.

Sebagai calon pendidik sudah pasti kita harus menanamkan pendidikan moral kepada anak didik kita agar generasi penerus tidak kehilangan arah dan dapat memajukan bangsa di era keterbukaan namun tetap memiliki perilaku dan adab yang baik.

Sekian tanggapan dari saya.
Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.
In reply to First post

Re: Forum Pertanyaan

Resti Umi Melinda གིས-
Nama : Resti Umi Melinda
Npm : 211305058
Kelas : 3C

Izin menjawab terkait pertanyaan.

Pendekatan dalam pendidikan moral dibedakan menjadi tiga (3) yaitu;
Pendekatan Lawrence Kolhberg disebut Cognitive Moral Development
Pendekatan L Metccalf dan Iman al Ghozalli disebut Affektive Moral Development
Pendekatan Albert Bandura dan Skiner disebut Behavior Moral Development
Penjelasaan:
Pendekatan Lawrence Kolhberg disebut Cognitive Moral Development
Disebut sebagai pendekatan perkembangan moral kognitif (cognitive moral development approach)karena karakteristiknya memberikan penekanan pada aspek kognitif dan perkembangannya. Pendekatan ini mendorong siswa untuk berfikir aktif tentang masalah-masalah moral dan dalam membuat keputusan-keputusan moral. Menurut pendekatan ini, perkembangan moral dilihat sebagai perkembangan tingkat berfikir dalam membuat pertimbangan moral, dari suatu tingkat yang lebih rendah menuju tingkat yang lebih tinggi. (Masnur Muslich 2011)

Berdasarkan teori perkembangan moral menurut Kohlberg ada enam tahap pertimbangan moral yang terbagi dalam tiga tingkatan, yaitu (1) tingkat pre-konvensional (2) tingkat konvensional (3) tingkat post-konvensional. Pada tingkatan pertama terdapat dua tahap yaitu orientasi hukuman dan kepatuhan serta orientasi relativis instrumental, pada tingkatan yang kedua ada tahapan orientasi masuk ke kelompok “anak baik” dan “anak manis” serta orientasi hukum dan ketertiban, sedangkan pada tingkatan yang ketiga ada tahapan ada orientasi kontrak-sosial legalitis dan oreintasi asas etika universal. (Sarbini, 2012)

Pembelajaran moral menurut konsep pemkembangan kognitif, yang ditekankan sekali adalah peranan guru dalam suasana diskusi mengenai dilema-dilema moral dalam mengajarkan unit-unit kurikulum yang formal. Guru hendaknya memanfaatkan situasi moral hipotesis atau situasi-situasi sosiologis dan historis yang nyata. Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan menurut UU nomor 20 tahun 2003, pendidikan bertujuan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.

Pendekatan L Metccalf dan Iman al Ghozalli disebut Affektive Moral Development
Imam al-Ghazali berpendapat bahwa seorang pendidik akan senantiasa belajar mengevaluasi dan mencari manfaat dari setiap ilmu yang didapat, juga belajar bagaimana mengajarkanya. Di samping itu, mereka juga seharusnya selalu mencari solusi dari berbagai masalah yang timbul terkait masalah pendidikan. Menjadi seorang pendidik tidak hanya dituntut untuk mengerti tentang agama saja, namun juga memahami dan mempunyai kelayakan akademik.
Berkaitan dengan setiap profesi, Imam Al-Ghazali berpendapat bahwa setiap profesi atau pekerjaan merupakan satu ibadah. Seperti halnya pendidik, dia akan bisa dikatakan ibadah apabila memiliki ciri-ciri sebagai berikut: zuhhud, benar, ikhlas, Amanah, sabar, lemah lembut dan pemaaf serta penyayang. Menurut al-Ghazali ada dua cara dalam mendidik akhlak, yaitu;
pertama, mujahadah dan membiasakan latihan dengan amal shaleh. Kedua,
perbuatan itu dikerjakan dengan di ulang-ulang. Selain itu juga ditempuh
dengan jalan :
1. Memohon karunia Illahi dan sempurnanya fitrah (kejadian), agar nafsu, syahwat dan amarah itu dijadikan lurus, patuh kepada akal dan agama. Lalu jadilah orang itu berilmu (alim) tanpa belajar, terdidik tanpa pendidikan, ilmu ini disebut juga dengan ladunniah.
2. Akhlak tersebut diusahakan dengan mujahadah dan riyadhah, yaitu dengan membawa diri kepada perbuatan-perbuatan yang dikehendaki oleh akhlak tersebut. Singkatnya, akhlak berubah dengan pendidikan latihan. (Al-Ghazali, 2012:69)
Karakteristik pemikiran Imam al-Ghazali menekankan pada pengajaran keteladanan dan kognitifistik. Selain itu, beliau juga memakai pendekatan behavioristik sebagai salah satu pendekatan dalampendidikan yang dijalankan. Hal ini tampak dalam pandangannya yang menyatakan jika seorang murid berprestasi hendaklah seorang guru mengapresiasi murid tersebut, dan jika melanggar hendaklah diperingatkan. Tetapi bentuk pengapresiasian gaya al-Ghazali tentu berbeda dengan pendekatan behavioristik dalam Eropa modern yang memberikan reward and punishment-nya dalam bentuk kebendaan dan simbol-simbol materi. Al-Ghazali menggunakan tsawab (pahala) dan uqubah (dosa) sebagai reward and punishment-nya.
Imam al-Ghazali dalam konsep pendidikan akhlak, beliau mengelaborasi behavioristic dengan pendekatan humanistik yang mengatakan bahwa para pendidik harus memandang anak didik sebagai manusia secara holistik dan mengahrgai mereka sebagai manusia. Bahasa al-Ghazali tentang hal ini adalah bagaimana seorang guru harus bersikap lemah lembut dan penuh dengan kasih sayang pada murid selayaknya mereka adalah anak kandung sendiri. Dengan ungkapan seperti ini tentu al-Ghazali menginginkan sebuah pemanusiaan anak didik oleh guru.
Pemikiran Imam al-Ghazali tentang konsep pendidikan akhlak sampai saat ini tetap relevan terbukti dengan banyaknya pendidik yang masih menggunakan konsep beliau. Hanya saja berbeda dalam penyajian pemikiran dan kasus yang dihadapi. Seperti halnya Imam al-Ghazali dalam mendidik sesuai dengan zaman anak tersebut dan tidak bersifat yang mutlak. Dari ini pendidikan akhlak bersifat dinami dan dapat diimplikasikan nilai-nilai dari konsep pendidikan akhlak tersebut pada zaman kekinian dan masih relevan.

Pendekatan Albert Bandura dan Skiner disebut Behavior Moral Development
Teori pembelajaran yang dikemukakan oleh Bandura disebut teori pembelajaran social-kognitif dan disebut pula sebagai teori pembelajaran melalui peniruan. Teori Bandura berdasarkan pada tiga asumsi, yaitu:
a. Individu melakukan pembelajaran dengan meniru apa yang ada di lingkungannya, terutama perilaku-perilaku orang lain. contoh. Apabila peniruan itu memperoleh penguatan, maka perilaku yang ditiru itu akan menjadi perilaku dirinya.
b. Terdapat hubungan yang erat antara pelajar dengan lingkungannya. Pembelajaran terjadi dalam keterkaitan antara tiga pihak yaitu lingkungan, perilaku dan faktorfaktor pribadi.
c. Hasil pembelajaran adalah berupa kode perilaku visual dan verbal yang diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.

Proses pembelajaran menurut teori Bandura, terjadi dalam tiga komponen (unsur) yaitu perilaku model (contoh), pengaruh perilaku model, dan proses internal pelajar. Jadi individu melakukan pembelajaran dengan proses mengenal perilaku model (perilaku yang akan ditiru), kemudian mempertimbangkan dan memutuskan untuk meniru sehingga menjadi perilakunya sendiri. Perilaku model ialah berbagai perilaku yang dikenal di lingkungannya. Apabila bersesuaian dengan keadaan dirinya (minat, pengalaman, cita-cita, tujuan dan sebagainya) maka perilaku itu akan ditiru. Setiap proses belajar dalam hal ini belajar sosial terjadi dalam urutan tahapan peristiwa. Tahap-tahap ini berawal dari adanya peristiwa stimulus atau sajian perilaku model dan berakhir dengan penampilan atau kinerja (performance) tertentu sebagai hasil atau perolehan belajar seorang siswa. Tahap-tahap dalam proses belajar tersebut adalah sebagai berikut:
Tahap perhatian (attentional phase)
Tahap penyimpanan dalam ingatan (retention phase)
Tahap reproduksi (reproduction phase)
Tahap motivasi (motivation phase)

Secara garis besar, ada tiga hal yang menjadi pemikiran Albert Bandura berkenaan dengan pendidikan moral, yaitu:
a. Albert Bandura memandang pendidik sebagai model atau teladan yang baik sebab anak selalu meniru apa yang dilakukan oleh model. Sedangkan peserta didik merupakan subyek pendidikan yang selalu memperhatikan model (lebih cenderung sebagai pengamat).
b. Tentang lingkungan, bahwa lingkungan (keluarga, sekolah dan masyarakat) mempunyai pengaruh yang besar dalam pembentukan moral siswa baik secara langsung maupun tidak langsung.
c. Terdapat dua metode dalam pendidikan moral, yaitu conditioning (pembiasaan merespon) dan imitation (peniruan). Hal ini berarti membiasakan suatu perilaku dengan menunjukkan mana perilaku yang mendapat rewards (hadiah) dan mana yang mendapatkan punishment (hukuman) sehingga nantinya perilaku tersebut akan ditirunya. Dengan kata lain, seorang anak itu meniru suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang yang ada di sekitarnya apakah perilaku itu mendapat hadiah atau mendapat hukuman.
In reply to First post

Re: Forum Pertanyaan

miftahu rahman གིས-
Nama : Miftahu Rahman
NPM : 2113053092
Kelas : 3C
Assalamualaikum Wr Wb izin memberikan tanggapan saya tentang macam-macam pendekatan nilai dan moral sesuai ppt hal 12 dari materi yang disampaikan

A. Pendekatan Lawrence Kolhberg disebut Cognitive Moral Development
Teori kognitif-developmental menegaskan bahwa pada intinya moralitas mewakili seperangkat pertimbangan dan putusan rasional yang berlaku untuk setiap kebudayaan, yaitu prinsip kesejahteraan manusia dan prinsip keadilan, Menurut Kohlberg bahwasanya prinsip keadilan merupakan komponen pokok dalam proses perkembangan moral yang kemudian diterapkan dalam proses pendidikan moral.

B. Pendekatan L Metccalf dan Iman al Ghozalli disebut Affektive Moral Development
Perkembangan Moral secara Afektual (affective/attitudional/psychological Moral Development) yang dianut oleh L. Metcalf, Justian Aronfreed, Imam Al Ghazali dan lain-lain; yang meyakini bahwa dunia afektif bisa dibina dan dididik melalui pendekatan dan strategi khusus, dengan mempribadikan nya, syarat pendidik moral bagi al-Gazali adalah sebagai uswatun hasanah. Pendidik dalam pendidikan merupakan komponen yang sangat menentukan keberlangsungan proses pembelajaran menurut al-Gazali bahwa metode pendidikan moral yaitu kedisiplinan (pembiasaan), dan keteladanan.

C. Pendekatan Albert Bandura dan Skiner disebut Behavior Moral Development
Menurut Bandura, Teori belajar sosial sering disebut sebagai jembatan antara teori behavioristik dan kognitivistik karena meliputi perhatian, memori, dan motivasi (Bandura, A., 1977). Teori belajar sosial menjelaskan bahwa perilaku manusia mempunyai interaksi timbal balik yang berkesinambungan antara kognitif, perilaku, dan pengaruh lingkungan.

Albert Bandura merupakan salah satu tokoh utama yang mengembangkan social learning theory atau teori belajar Ssosial. Social learning theory adalah teori mengenai perilaku belajar manusia yang pada intinya menganggap belajar dilakukan secara internal oleh individu dengan cara melakukan observasi terhadap perilaku kelompok sosial, tidak hanya berdasarkan respons akan stimulus eksternal saja. Social learning theory merupakan turunan teori behaviorisme yang dianggap jauh lebih memanusia dan dapat diaplikasikan dengan lebih baik di zaman ini. Seperti yang diungkapkan oleh Nurjan (2016, hlm. 69) bahwa Social Learning Theory dikembangkan oleh Albert Bandura yang oleh banyak ahli dianggap sebagai seorang behavioris masa kini yang moderat, karena Bandura memandang tingkah laku manusia bukan semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond), melainkan juga akibat reaksi yang ditimbulkan sebagai hasil interaksi lingkungan dengan skema kognitif manusia itu sendiri.Albert Bandura menerima apa yang dikemukakan oleh Skinner (tokoh behaviorisme), yaitu bahwa perilaku dapat berubah karena reinforcement akan tetapi ia juga berpendapat bahwa perilaku dapat berubah tanpa adanya reinforcement secara langsung, yaitu melalui vicarious reinforcement atau penguatan dari pihak lain, yaitu melalui observasi terhadap orang lain dan konsekuensi dari perilakunya (Saleh, 2018, hlm. 106). Observasi terhadap orang lain di lingkungan sosial inilah yang kemudian menjadi inti dari teori belajar sosial
In reply to First post

Re: Forum Pertanyaan

Winda.l eriska གིས-
nama : winda eriska
npm : 2113053079

izin menjawab

a. Pendekatan Lawrence Kohlberg yang disebut Cognitive Moral Development
Teori perkembangan moral Kohlberg terinspirasi oleh hasil kerja psikologi Swiss yaitu Jean Piaget (1896 – 1980) tentang perkembangan moral kognitif, selain Piaget, pemikiran – pemikiran Kohlberg melalui tahap –tahap yang syarat dipengaruhi oleh John Dewey, Baldwin, dan Emile Durkheim. n tentang perilaku moral, dan disinilah gagasan tentang komunitas yang adil dan tindakan demokratis mendominasi karyanya. Pengaruhnya pada praktek pendidikan ditemukan dalam kurikulum pendidikan untuk perkembangan moral dan dalam model pengelolaan dan penyelenggaraan sekolah (school administration dan governance).

b. Pendekatan L Metccalf dan Iman al Ghozalli disebut Affektive Moral Development
suatu tafsiran kognitif terhadap keadaan dilema moral dan bersikap konstruktif kognitif yang bersifat aktif terhadap titik pandang masing-masing individu sambil mempertimbangkan segala macam tuntutan, hak, kewajiban, dan keterlibatan setiap pribadi terhadap sesuatu yang baik dan adil.
c. Pendekatan Albert Bandura dan Skiner disebut Behavior Moral Development
Teori belajar sosial sering disebut sebagai jembatan antara teori behavioristik dan kognitivistik karena meliputi perhatian, memori, dan motivasi (Bandura, A., 1977). Teori belajar sosial menjelaskan bahwa perilaku manusia mempunyai interaksi timbal balik yang berkesinambungan antara kognitif, perilaku, dan pengaruh lingkungan. Kebanyakan perilaku manusia dipelajari observasional melalui pemodelan yaitu dari mengamati orang lain
In reply to First post

Re: Forum Pertanyaan

Yuninda Putri གིས-
Yuninda Putri
2113053045

Tanggapan saya terkait macam macam pendekatan dalam pendidikan nilai dan moral sesuai PPT halaman 12.
1. Pendekatan Lawrence Kohlberg yang disebut Cognitive Moral Development
Adapun buah pemikiran Lawrence Kohlberg mengenai 3 tingkat dan 6 tahap perkembangan moral manusia, menurut Prof. Dr. K. Bertens dalam bukunya “Etika”, yang kemudian menjadi sebuah teori moral yang mempengaruhi dunia psikologi dan filsafat moral atau etika, yakni:
1. Tingkat Pra-Konvensional
a. Tahap orientasi hukuman dan kepatuhan.
b. Tahap orientasi relativis-instrumental.
2. Tingkat Konvensional
a. Tahap penyesuaian dengan kelompok atau orientasi untuk menjadi “anak manis”.
b. Tahap orientasi hukum dan ketertiban.
3. Tingkat Pasca Konvensional
a. Orientasi kontrak-sosial legalistik.
b. Orientasi prinsip etika universal.

2. Pendekatan L. Metccalf dan Imam Al Ghozalli yang disebut Affective Moral Development
Hal yang ditekankan oleh pendekatan Affective Moral Development, yaitu menanamkan nilai melalui aras afektif, berupa sentuhan-sentuhan perasaan, imajinasi, dan intuisi. Proses pembinaan afektif ini membutuhkan strategi tersendiri yang berbeda dengan proses-proses pembinaan kognitif. Para pimpinan dan para guru dituntut untuk mempunyai kepiawaian dalam mengelola strategi pendekatan yang dilakukannya. Metode-metode out bond, games, pembelajaran di luar kelas, dan sejenisnya merupakan aplikasi dari pendekatan ini.
3. Pendekatan Albert Bandura dan Skinner yang disebut Behavior Moral Development
Pendekatan Behavior Moral Development memandang bahwa internalisasi nilai dilakukan melalui pembiasaan (conditioning/habituation). Kendatipun pendekatan ini berawal mula dari percobaan yang dilakukan oleh Ivan Pavlov pada seekor binatang, akan tetapi pendekatan ini sangat relevan dengan upaya penanaman nilai. Seorang mahasiswa yang dibiasakan tertib dan berperilaku baik dalam kehidupan sehari-harinya, pada akhirnya akan terbiasa melakukan hal-hal tersebut. Pada gilirannya nanti kebiasaan-kebiasaan yang dilakukannya tersebut akan mengendap menjadi tata nilai milik dirinya sendiri. Manakala mereka melakukan suatu tindakan di luar kebiasaannya, mereka akan merasa bersalah. Pembiasaan atau conditioning (habituation) sebagai sebuah metode dalam menanamkan nilai tetap memiliki efektifitas yang tinggi, apalagi jika diikuti dengan adanya reward and punishment, dalam arti yang luas.
In reply to First post

Re: Forum Pertanyaan

Diah Widianingsih གིས-
Nama: Diah Widianingsih
NPM: 2113053171

Macam macam pendekatan dalam pendidikan nilai dan moral sesuai dengan slide PPT hal 12 yaitu:
Pendekatan dalam pendidikan moral dibedakan menjadi tiga (3) yaitu;
1. Pendekatan Lawrence Kolhberg disebut Cognitive Moral Development
Teori ini berpandangan bahwa penalaran moral, yang merupakan landasan dari perilaku etis, ada enam tahapan perkembangan yang dapat teridentifikasi. Kohlberg menggunakan cerita tentang dilema moral dalam penelitiannya, dan beliau tertarik pada bagaimana orang-orang akan menjustifikasi tindakan-tindakan mereka bila mereka terletak dalam masalah moral yang sama. Pembelajaran moral menurut konsep pemkembangan kognitif, yang ditekankan sekali adalah peranan guru dalam suasana diskusi mengenai dilema-dilema moral dalam mengajarkan unit-unit kurikulum yang formal. Guru hendaknya memanfaatkan situasi moral hipotesis atau situasi-situasi sosiologis dan historis yang nyata.
Sesuai dengan teori perkembangan moral yang dikemukakannya, pendekatan Kohlberg dalam pendidikan moral disebut pendekatan kognitif-developmental. Pendidikan moral merupakan salah satu aspek yang menarik perhatian Lawrence Kohlberg. Dengan teori the cognitive developmental of moralization, Kohlberg menetapkan bahwa tujuan pendidikan moral adalah pencapaian orientasi etika universal, dimana dalam tahap ini seseorang dapat memahami, menerima dan melaksanakan aturan berdasarkan hati nuraninya. Bahkan sangat dimungkinkan siswa mengkritisi aturan yang mengabaikan prinsip-prinsip keadilan, kejujuran, demokrasi, dan prinsip-prinsip lainnya.

2.Pendekatan L Metccalf dan Iman al Ghozalli disebut Affektive Moral Development
Justian Aronfeed, Imam Ghazali,
Pendekatan inimerupakan pendekatan yang saling berkaitan dengan moral
pendidikan akhlak yang diimplemantasikan dalam bentuk sikap sehari-hari
Al-Ghazali tentang akhlak (moral dalam Islam), akhlak tersebut merupakan perangai yang sudah tertanam dan menjadi label dalam diri seseorang, sehingga akan memunculkan perbuatan yang baik tanpa mempertimbangkan pikiran terlebih dahulu. Perubahan-perubahan seringkali terjadi pada beberapa ciptaan Allah, kecuali hal-hal yang sudah menjadi ketetapan Allah seperti langit dan bintang-bintang. Dalam hal ini, keadaan dalam diri seseorang yang dapat diadakan kesempurnaannya dengan jalan pendidikan.

3. Pendekatan Albert Bandura dan Skiner disebut Behavior Moral Development
Teori ini merupakan teori yang dilakukan dengan cara pembelajaran melalui proses peniruan, peniruan ini dibagi menjadi 3 yaitu:
1. Individu melakukan pembelajaran dengan meniru apa yang ada di lingkungan nya.
2. Terdapat hubungan yang erat antara pelajar dan lingkungannya
3. Hasil belajar merupakan kod hasil visual dan verbal yang di wujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Selanjutnya teori ini disebut sebagai Social Cognitive Theory karena pembelajaran terjadi karena adanya pengaruh lingkungan sosial. Social Learning Theory dikembangkan oleh Albert Bandura yang oleh banyak ahli dianggap sebagai seorang behavioris masa kini yang moderat, karena Bandura memandang tingkah laku manusia bukan semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond), melainkan juga akibat reaksi yang ditimbulkan sebagai hasil interaksi lingkungan dengan skema kognitif manusia itu sendiri.
In reply to First post

Re: Forum Pertanyaan

Annisa Salsabina Rahmadhani གིས-
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat pagi bapak roy kembar habibie, M.Pd.

Izin memberikan tanggapan mengenai macam macam pendekatan dalam pendidikan nilai dan moral, dijelaskan ya sesuai dengan halaman 12 di dalam ppt.
Nama : Annisa Salsabina Rahmadhani
NPM : 2113053014
Kelas : 3C

1. Pendekatan Lawrence Kolhberg disebut Cognitive Moral Development, yakni Teori perkembangan moral Kohlberg terinspirasi oleh hasil kerja psikologi Swiss yaitu Jean Piaget (1896 – 1980) tentang perkembangan moral kognitif, selain Piaget, pemikiran – pemikiran Kohlberg melalui tahap –tahap yang syarat dipengaruhi oleh John Dewey, Baldwin, dan Emile Durkheim. Kohlberg menyatakan bahwa orientasi moral individu terbentang sebagai konsekuensi dari perkembangan kognitif. Anak- anak dan remaja mennyusun pemikiran moralnya seiring dengan perkembanganya dari satu tahap ke tahap berikutnya, dibandingkan hanya secara pasif sekedar menerima norma-norma budaya mengenai moralitas.

Kohlberg menyatakan bahwa proses perkembangan penalaran moral merupakan sebuah proses alih peran, yaitu proses perkembangan yang menuju ke arah struktur yang lebih komprehensif, lebih terdiferensiasi dan lebih seimbang dibandingkan dengan struktur sebelumnya. Melihat pentingnya perkembangan penalaran moral dalam kehidupan manusia, maka berbagai penelitian psikologi di bidang ini dilakukan. Lawrence Kohlberg, memperluas penelitian Piaget tentang penalaran aturan konvensi sosial, menjadi tiga tingkat penalaran moral yang terdiri dari prakonvensional, konvensional, dan pascakonvensional.

Perkembangan moral anak terbentuk melalui fase-fase atau periode-periode seperti halnya perkembangan aspek-aspek lainya. Tiap fase perkembangan mempunyai cirri-ciri moralitas yang telah dapat dicapai oleh anak, sekalipun dalam hal ini tidak ada perbedaan atas batas-batas yang jelas dan lebih bergantung pada setiap individu dari pada norma-norma umunya yang terjadi pada anak.

2. Pendekatan L Metccalf dan Iman al Ghozali disebut Affektive Moral Development, yakni Pendidikan moral dalam pandangan al- Gazali bernuansa religius dan sufistik. Konsep ini jelas terlihat dari pandangannya tentang moral. Hakikat pendidikan moral al-Gazali menekankan pada aspek kejiwa- an individu. Bagi al-Gazali, tujuan hidup manusia sebagai individu adalah untuk mencari kebahagiaan. Kebahagian yang paling penting adalah merealisasikan keba- hagiaan di kehidupan yang akan datang atau kehidupan akhirat. Pencapaian tujuan ini dapat dicapai melalui perilaku yang baik sesama manusia berdasarkan tuntunan agama, serta mengupayakan secara batin untuk mencapai keutamaan jiwa. Tujuan pendidikan moral bagi al-Gazali adalah mempro-duksi manusia sempurna yang memiliki kepribadian yang baik, kesucian jiwa dan mendekatkan diri kepada Allah swt. Amin Abdullah mengungkapkan bahwa al-Gazali menempatkan wahyu sebagai petunjuk utama atau bahkan cenderung satu-satunya dalam tindakan etis, dan dengan keras menghindari intervensi rasio dalam merumuskan prinsip-prinsip dasar universal tentang petunjuk al-Qur’an bagi kehidupan manusia. Dengan demikian, sumber pendidikan moral menurut al-Gazali adalah wahyu al-Qur’an sebagai otoritas utama dalam pembentukan moral. Adapun peran rasio (akal) hanya sebagai sumber pendukung dalam tindakan etis-manusia. Dalam hal ini, rasio (akal) berperan memberikan keseimbangan dan rohani yang bersih kepada seseo-rang sehingga melahirkan moral yang baik.

3. Pendekatan Albert Bandura dan Skiner disebut Behavior Moral Development, yakni Menurut Albert Bandura, proses perkembangan sosial dan moral siswa selalu berkaitan dengan proses belajar karena menentukan kemampuan siswa dalam bersikap dan berperilaku sosial yang selaras dengan norma moral agama, moral tradisi, moral hukum, dan norma moral lainnya yang berlaku dalam masyarakat.
Teori pembelajaran ini disebut teori pembelajaran social-kognitif atau teori pembelajaran melalui peniruan. Teori ini berdasarkan pada tiga asumsi, yaitu:
a. Individu melakukan pembelajaran dengan meniru apa yang ada di lingkungan sekitarnya, terutama perilaku-perilaku orang lain.
b. Terdapat hubungan yang erat antara pelajar dengan lingkungannya. Pembelajaran terjadi dalam keterkaitan antara tiga pihak yaitu lingkungan, perilaku dan faktor-faktor pribadi.
c. Hasil pembelajaran adalah berupa kode perilaku visual dan verbal yang diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.

Secara garis besar, ada tiga hal yang menjadi pemikiran Albert Bandura berkenaan dengan pendidikan moral, yaitu:
a. Albert Bandura memandang pendidik sebagai model atau teladan yang baik sebab anak selalu meniru apa yang dilakukan oleh model. Sedangkan peserta didik merupakan subyek pendidikan yang selalu memperhatikan model (lebih cenderung sebagai pengamat).
b. Tentang lingkungan, bahwa lingkungan (keluarga, sekolah dan masyarakat) mempunyai pengaruh yang besar dalam pembentukan moral siswa baik secara langsung maupun tidak langsung.
c. Terdapat dua metode dalam pendidikan moral, yaitu conditioning (pembiasaan merespon) dan imitation (peniruan). Hal ini berarti membiasakan suatu perilaku dengan menunjukkan mana perilaku yang mendapat rewards (hadiah) dan mana yang mendapatkan punishment (hukuman) sehingga nantinya perilaku tersebut akan ditirunya. Dengan kata lain, seorang anak itu meniru suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang yang ada
In reply to First post

Re: Forum Pertanyaan

Farida Julia Saputri གིས-
Nama : Farida Julia Saputri
NPM : 2113053073
Kelas : 3C

Dalam ppt menjelaskan bahwa terdapat 3 pendekatan dalam pendidikan moral antara lain:
1. Pendekatan Lawrence Kolhberg disebut juga Pendekatan Cognitive Moral Development merupakan pendekatan yang lebih mengacu pada kognitif dan afektif yang mana berkembang secara paralel dan keputusan moral merupakan proses dari perkembangan kognitif secara murni. Menurut pemahaman kognitif, belajar adalah proses yang menggunakan aktivitas mental yang terjadi dalam diri manusia, sebagai akibat dari sebuah proses interaksi aktif dengan lingkungannya untuk memperoleh suatu perubahan dalam bentuk pengetahuan, pemahaman, tingkah laku, keterampilan, dan nilai sikap yang bersifat relatif dan berbekas.

2. Pendekatan L Metccalf dan Iman al Ghozalli disebut Affektive Moral Development yaitu menanamkan nilai melalui aras afektif, berupa sentuhan-sentuhan perasaan, imajinasi, dan intuisi. Proses pembinaan afektif ini membutuhkan strategi tersendiri yang berbeda dengan proses-proses pembinaan kognitif.

3. Pendekatan Albert Bandura dan Skiner disebut juga Pendekatan Behavior Moral Development merupakan pendekatan yang memandang bahwa internalisasi nilai dilakukan melalui pembiasaan (conditioning/habituation). Membiasakan berperilaku tertib dan tanggung jawab yang nantinya akan menjadi kebiasaan pada dirinya sendiri. Pada gilirannya nanti kebiasaan-kebiasaan yang dilakukannya tersebut akan mengendap menjadi tata nilai milik dirinya sendiri. Manakala mereka melakukan suatu tindakan di luar kebiasaannya, mereka akan merasa bersalah.
In reply to First post

Re: Forum Pertanyaan

ADELBERTUS GADING ANANTA PUTRA གིས-
Nama: Adelbertus Gading Ananta Putra
Npm: 2113053023

Izin menjawab pertanyaan terkait dengan “ macam macam pendekatan dalam pendidikan nilai dan moral”

A. Pendekatan Lawrence Kolhberg disebut Cognitive Moral Development
Teori perkembangan kognitif menekankan bahwa pada hakekatnya etika merupakan seperangkat pertimbangan dan keputusan rasional yang berlaku untuk semua budaya, yaitu prinsip kebahagiaan manusia dan prinsip keadilan. Menurut Kohlberg, prinsip keadilan merupakan bagian penting dari proses perkembangan moral yang kemudian diterapkan dalam proses pendidikan moral.

B. Pendekatan L Metccalf dan Iman al Ghozalli disebut Affektive Moral Development
Pendidikan moral dari sudut pandang al-Gazali memiliki pengaruh agama dan sufi. Pandangan ini terlihat dari sudut pandangnya tentang moralitas. Hakikat pendidikan moral al-Gazali menekankan pada aspek psikologis individu. Bagi al-Gazali, tujuan hidup manusia sebagai individu adalah mencari kebahagiaan. Kebahagiaan yang paling utama adalah mewujudkan kebahagiaan di kehidupan selanjutnya atau kehidupan selanjutnya. Perwujudan tujuan ini dapat dicapai melalui perilaku yang baik di antara orang-orang berdasarkan tuntunan agama, serta dengan memperjuangkan keutamaan spiritual dalam diri.


C. Pendekatan Albert Bandura dan Skinner yang disebut Behavior Moral Development
Metode pendidikan moral melalui pengembangan etika perilaku diwujudkan dengan menekankan pembelajaran perilaku manusia tentang cara merespon lingkungan dengan baik. Melalui metode ini, anak akan mendapat penguatan yang dapat memperkuat perilaku ke arah yang positif, kemudian menerima pemahaman dan contoh kongkrit hukuman atas perilaku menyimpang yang dilakukan, menjadi perilaku yang baik dengan mempraktekkan apa yang telah dicapai kemudian mengembangkannya.
In reply to First post

Re: Forum Pertanyaan

MUTIA RAHMA AULIA གིས-
Nama: Mutia Rahma Aulia
NPM: 2113053136
Kelas: 3C

A. Pendekatan Lawrence Kohlberg Teori Kohlberg merupakan sebuah teori perkembangan kognitif klasik, yang memberikan catatan tentang sifat yang integrated. Beberapa penelitian yang mendukung teori Kohlberg tersebut di atas antara lain penelitian Kohlberg sendiri (dalam Durkin, 1995) yang menemukan bahwa dengan meningkatnya usia, maka subjek juga cenderung mencapai penalaran moral yang lebih tinggi. Hasil penelitian lain mendukung pendapat Kohlberg tentang pentingnya konflik sosio kognitif dan iklim moral lingkungan sosial dalam meningkatkan penalaran moral. Penelitian Speicher (1994) menunjukkan hubungan positif antara penalaran moral orangtua dengan penalaran moral anak-anaknya.

B. Pendekatan L Metcalf dan Iman al Ghozalli

Hakikat pendidikan moral al-Gazali menekankan pada aspek kejiwaan individu. Bagi al-Gazali, tujuan hidup manusia sebagai individu adalah untuk
mencari kebahagiaan. Kebahagian yang paling penting adalah merealisasikan kebahagiaan di kehidupan yang akan datang atau kehidupan akhirat. Pencapaian tujuan ini dapat dicapai melalui perilaku yang baik sesama manusia berdasarkan tuntunan agama, serta mengupayakan secara batin untuk mencapai keutamaan jiwa.

C. Pendekatan Albert Bandura dan Skinner
Albert Bandura mengmukakan tentang proses perkembangan sosial dan moral siswa yang selalu berkaitan dengan proses belajar sebab prinsip dasar belajar hasil temuan Bandura ini adalah belajar sosial dan moral.
Untuk memahami tingkah laku siswa secara tuntas, menurut skinner perlu memahami hubungan anatara satu stimulus dengan stimulus lainnya, memahami respons itu sendiri, dan berbagi konsekuensi yang diakibatkan oleh respons tersebut.
Skinner juga mengemukakan bahwa menggunakan perubahan mental
sebagai alat untuk menjelaskan tingkah laku hanya akan membuat segala sesuatunya menjadi bertambah rumit, sebab alat itu akhirnya juga harus dijelaskan lagi.
In reply to First post

Re: Forum Pertanyaan

Dhea Ajeng Pradana གིས-
Nama : Dhea Ajeng Pradana
NPM : 2113053277

Izin memberikan tanggapan saya mengenai macam-macam pendekatan dalam pendidikan nilai dan moral.
Pendekatan dalam pendidikan moral terbagi menjadi 3 yaitu :
1. Pendekatan Lawrence Kolhberg disebut Cognitive Moral Development
Penilaian dan perbuatan moral pada intinya bersifat rasional. Keputusan dari moral ini bukanlah soal perasaan atau nilai, malainkan selalu mengandung suatu tafsiran kognitif terhadap keadaan dilema moral dan bersifat konstruksi kognitif yang bersifat aktif terhadap titik pandang masing-masing individu sambil mempertimbangkan segala macam tuntutan, kewajiban, hak dan keterlibatan setiap pribadi terhadap sesuatu yang baik dan juga adil. kesemuanya ini merupakan tindakan kognitif. Kohlberg juga mengatakan bahwa terdapat pertimbangan moral yang sesuai dengan pandangan formal harus diuraikan dan yang biasanya digunakan remaja untuk mempertanggung jawabkan perbuatan moralnya. Adapun tahap-tahap perkembangan moral yang sangat terkenal adalah yang dikemukakan oleh Lawrence Kohlberg.

2. Pendekatan L Metccalf dan Iman Al Ghozalli disebut Affektive Moral Development
Menurut al-Ghazali, tujuan mempelajari etika adalah dalam rangka untuk meningkatkan sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Prinsip-prinsip moral dipelajari dengan maksud menerapkan semuanya dalam kehidupan sehari-hari. Ia bahkan dengan lebih tegas menyatakan bahwa pengetahuan (terutama akhlaq) yang tidak diamalkan tidak lebih baik daripada kebodohan (M. Abul Quasem, 1988: 13). Selain itu, tujuan hidup manusia sebagai individu adalah untuk mencari kebahagiaan. Kebahagian yang paling penting adalah merealisasikan keba- hagiaan di kehidupan yang akan datang atau kehidupan akhirat.

3. Pendekatan Albert Bandura dan Skiner disebut Behavior Moral Development
Teori pembelajaran Bandura disebut sosial kognitif karena proses kognitif dalam diri individu memegang peranan dalam pembelajaran sedangkan pembelajaran terjadi karena adanya pengaruh lingkungan sosial. Individu akan mengamati perilaku di lingkungannya sebagai model, kemudian ditirunya sehingga menjadi perilaku miliknya. Dengan demikian, maka teori Bandura ini disebut teori pembelajaran melalui peniruan. Perilaku individu terbentuk melalui peniruan terhadap perilaku di lingkungan, pembelajaran merupakan suatu proses bagaimana membuat peniruan yang sebaik-baiknya sehingga bersesuaian dengan keadaan dirinya dan tujuannya.
In reply to First post

Re: Forum Pertanyaan

WAHYU RINGGIT KUNCORO གིས-
Nama : Wahyu Ringgit Kuncoro
Npm : 2113053254
Kelas : 3C

Menurut tanggapan saya terkait pendekatan pendidikan nilai yaitu terdapat 3 pendekatan yang masing -masing pengertiannya sebagai berikut:
1. Pendekatan Lawrence kolhbreg yang disebut dengan Cognitive Moral Development
merupakan Teori perkembangan moral yang dikemukakan oleh Kohlberg yang menunjukkan sikap moral bukan hasil sosialisasi atau pelajaran yang diperoleh dari kebiasaan, teori the cognitive developmental of moralization, Kohlberg menetapkan bahwa tujuan pendidikan moral adalah pencapaian orientasi etika universal, dimana dalam tahap ini seseorang dapat memahami, menerima dan melaksanakan aturan berdasarkan hati nuraninya.

2. Pendekatan L Metccalf dan Iman al Ghozalli disebut Affektive Moral Development
imam Al-Ghazali mengemukakan dua tujuan pendidikan Islami, yaitu pertama untuk mencapai kesempurnaan manusia dalam mendekatkan diri kepada Tuhan. Kedua sekaligus untuk mencapai kesempurnaan hidup manusia dalam menjalani hidup dan penghidupannya dalam mewujudkan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

3. Pendekatan menurut Albert Bandura dan Skiner yang disebut Behavior Moral Development
Teori ini disebut sociobehavioristic Approach karena merupakan sudut pandang sosial dari teori behaviorisme, karena menyangkut kecerdasan atau proses mental kognitif seseorang dalam sudut pandang sosial. Social learning theory merupakan turunan teori behaviorisme yang dianggap jauh lebih memanusia dan dapat diaplikasikan dengan lebih baik di zaman ini. Seperti yang diungkapkan oleh Nurjan (2016, hlm. 69) bahwa Social Learning Theory dikembangkan oleh Albert Bandura memandang tingkah laku manusia bukan semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond), melainkan juga akibat reaksi yang ditimbulkan sebagai hasil interaksi lingkungan dengan skema kognitif manusia itu sendiri.

Terima kasih.
In reply to First post

Re: Forum Pertanyaan

DWI OKTAVIANINGSIH གིས-
Nama: Dwi Oktavianingsih
NPM: 2113053208
Kelas: 3C

Pendekatan Lawrence Kohlberg (Cognitive Moral Development) orientasi moral individu terbentang sebagai konsekuensi dari perkembangan kognitif. Anak-anak dan remaja menyusun pemikiran moralnya seiring dengan perkembangan dari satu tahap ke tahap berikutnya kemudian dibandingkan hanya secara pasif sekedar menerima norma-norma budaya mengenai moralitas. Pendekatan ini menunjukkan bahwa apabila penalaran- penalaran yang diajukan oleh seseorang mengapa ia mempunyai pertimbangan moral tertentu atau melakukan tindakan tertentu maka akan tampak jelas adanya perbedaan-perbedaan yang berarti dalam pandangan moral orang tersebut.

endekatan L Metccalf dan Iman Al Ghozali (Affektive Moral Development) pendekatan moral mengutamakan pada ajaran agama yang di mana karakteristik pemikiran imam Al Ghazali menekankan pada pengajaran keteladanan dan kognitif. Hal ini terlihat dari pandangan beliau yang menyatakan apabila seorang murid berprestasi hendaklah seorang guru mengapresiasi murid tersebut dan apabila ada seorang murid yang melanggar hendaknya diperingatkan. Pendekatan moral pendidikan akhlak kemudian diimplementasikan dalam bentuk keseharian, seperti yang kita ketahui bahwasanya akhlak adalah peraga yang sudah tertanam dan menjadi label dalam diri seseorang sehingga akan memunculkan perbuatan yang baik tanpa mempertimbangkan pikiran terlebih dahulu.


Pendekatan Albert Bandura dan Skiner (Behavior Moral Development)
teori Albert Bandura mengenai belajar sosial yang biasa disebut dengan jembatan antara teori behavioristik dan kognitif karena meliputi perhatian, memori, dan motivasi. Di mana pada teori ini pendekatan pendidikan moral dilakukan dengan pembelajaran pada tingkah laku manusia. Teori ini menjelaskan tentang perilaku manusia memiliki interaksi timbal balik yang saling berkaitan antara kognitif, yang saling berkaitan antara kognitif, perilaku dan pengaruh lingkungan.
In reply to First post

Re: Forum Pertanyaan

Putri ristamarin 2053054009 གིས-
Nama : Putri ristamarin
NPM : 2013053185

Pendidikan adalah tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, yaitu menuntut segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya (KH Dewantoro).

Pendekatan Lawrence Kolhberg disebut Cognitive Moral Development
Disebut sebagai pendekatan perkembangan moral kognitif (cognitive moral development approach)karena karakteristiknya memberikan penekanan pada aspek kognitif dan perkembangannya. Pendekatan ini mendorong siswa untuk berfikir aktif tentang masalah-masalah moral dan dalam membuat keputusan-keputusan moral. Menurut pendekatan ini, perkembangan moral dilihat sebagai perkembangan tingkat berfikir dalam membuat pertimbangan moral, dari suatu tingkat yang lebih rendah menuju tingkat yang lebih tinggi. (Masnur Muslich 2011)

Berdasarkan teori perkembangan moral menurut Kohlberg ada enam tahap pertimbangan moral yang terbagi dalam tiga tingkatan, yaitu (1) tingkat pre-konvensional (2) tingkat konvensional (3) tingkat post-konvensional. Pada tingkatan pertama terdapat dua tahap yaitu orientasi hukuman dan kepatuhan serta orientasi relativis instrumental, pada tingkatan yang kedua ada tahapan orientasi masuk ke kelompok “anak baik” dan “anak manis” serta orientasi hukum dan ketertiban, sedangkan pada tingkatan yang ketiga ada tahapan ada orientasi kontrak-sosial legalitis dan oreintasi asas etika universal. (Sarbini, 2012)

Pembelajaran moral menurut konsep pemkembangan kognitif, yang ditekankan sekali adalah peranan guru dalam suasana diskusi mengenai dilema-dilema moral dalam mengajarkan unit-unit kurikulum yang formal. Guru hendaknya memanfaatkan situasi moral hipotesis atau situasi-situasi sosiologis dan historis yang nyata. Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan menurut UU nomor 20 tahun 2003, pendidikan bertujuan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.

Pendekatan L Metccalf dan Iman al Ghozalli disebut Affektive Moral Development
Imam al-Ghazali berpendapat bahwa seorang pendidik akan senantiasa belajar mengevaluasi dan mencari manfaat dari setiap ilmu yang didapat, juga belajar bagaimana mengajarkanya. Di samping itu, mereka juga seharusnya selalu mencari solusi dari berbagai masalah yang timbul terkait masalah pendidikan. Menjadi seorang pendidik tidak hanya dituntut untuk mengerti tentang agama saja, namun juga memahami dan mempunyai kelayakan akademik.
Berkaitan dengan setiap profesi, Imam Al-Ghazali berpendapat bahwa setiap profesi atau pekerjaan merupakan satu ibadah. Seperti halnya pendidik, dia akan bisa dikatakan ibadah apabila memiliki ciri-ciri sebagai berikut: zuhhud, benar, ikhlas, Amanah, sabar, lemah lembut dan pemaaf serta penyayang. Menurut al-Ghazali ada dua cara dalam mendidik akhlak, yaitu;
pertama, mujahadah dan membiasakan latihan dengan amal shaleh. Kedua,
perbuatan itu dikerjakan dengan di ulang-ulang. Selain itu juga ditempuh
dengan jalan :
1. Memohon karunia Illahi dan sempurnanya fitrah (kejadian), agar nafsu, syahwat dan amarah itu dijadikan lurus, patuh kepada akal dan agama. Lalu jadilah orang itu berilmu (alim) tanpa belajar, terdidik tanpa pendidikan, ilmu ini disebut juga dengan ladunniah.
2. Akhlak tersebut diusahakan dengan mujahadah dan riyadhah, yaitu dengan membawa diri kepada perbuatan-perbuatan yang dikehendaki oleh akhlak tersebut. Singkatnya, akhlak berubah dengan pendidikan latihan. (Al-Ghazali, 2012:69)
Karakteristik pemikiran Imam al-Ghazali menekankan pada pengajaran keteladanan dan kognitifistik. Selain itu, beliau juga memakai pendekatan behavioristik sebagai salah satu pendekatan dalampendidikan yang dijalankan. Hal ini tampak dalam pandangannya yang menyatakan jika seorang murid berprestasi hendaklah seorang guru mengapresiasi murid tersebut, dan jika melanggar hendaklah diperingatkan. Tetapi bentuk pengapresiasian gaya al-Ghazali tentu berbeda dengan pendekatan behavioristik dalam Eropa modern yang memberikan reward and punishment-nya dalam bentuk kebendaan dan simbol-simbol materi. Al-Ghazali menggunakan tsawab (pahala) dan uqubah (dosa) sebagai reward and punishment-nya.
Imam al-Ghazali dalam konsep pendidikan akhlak, beliau mengelaborasi behavioristic dengan pendekatan humanistik yang mengatakan bahwa para pendidik harus memandang anak didik sebagai manusia secara holistik dan mengahrgai mereka sebagai manusia. Bahasa al-Ghazali tentang hal ini adalah bagaimana seorang guru harus bersikap lemah lembut dan penuh dengan kasih sayang pada murid selayaknya mereka adalah anak kandung sendiri. Dengan ungkapan seperti ini tentu al-Ghazali menginginkan sebuah pemanusiaan anak didik oleh guru.
Pemikiran Imam al-Ghazali tentang konsep pendidikan akhlak sampai saat ini tetap relevan terbukti dengan banyaknya pendidik yang masih menggunakan konsep beliau. Hanya saja berbeda dalam penyajian pemikiran dan kasus yang dihadapi. Seperti halnya Imam al-Ghazali dalam mendidik sesuai dengan zaman anak tersebut dan tidak bersifat yang mutlak. Dari ini pendidikan akhlak bersifat dinami dan dapat diimplikasikan nilai-nilai dari konsep pendidikan akhlak tersebut pada zaman kekinian dan masih relevan.

Pendekatan Albert Bandura dan Skiner disebut Behavior Moral Development
Teori pembelajaran yang dikemukakan oleh Bandura disebut teori pembelajaran social-kognitif dan disebut pula sebagai teori pembelajaran melalui peniruan. Teori Bandura berdasarkan pada tiga asumsi, yaitu:
a. Individu melakukan pembelajaran dengan meniru apa yang ada di lingkungannya, terutama perilaku-perilaku orang lain. contoh. Apabila peniruan itu memperoleh penguatan, maka perilaku yang ditiru itu akan menjadi perilaku dirinya.
b. Terdapat hubungan yang erat antara pelajar dengan lingkungannya. Pembelajaran terjadi dalam keterkaitan antara tiga pihak yaitu lingkungan, perilaku dan faktorfaktor pribadi.
c. Hasil pembelajaran adalah berupa kode perilaku visual dan verbal yang diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.

Proses pembelajaran menurut teori Bandura, terjadi dalam tiga komponen (unsur) yaitu perilaku model (contoh), pengaruh perilaku model, dan proses internal pelajar. Jadi individu melakukan pembelajaran dengan proses mengenal perilaku model (perilaku yang akan ditiru), kemudian mempertimbangkan dan memutuskan untuk meniru sehingga menjadi perilakunya sendiri. Perilaku model ialah berbagai perilaku yang dikenal di lingkungannya. Apabila bersesuaian dengan keadaan dirinya (minat, pengalaman, cita-cita, tujuan dan sebagainya) maka perilaku itu akan ditiru. Setiap proses belajar dalam hal ini belajar sosial terjadi dalam urutan tahapan peristiwa. Tahap-tahap ini berawal dari adanya peristiwa stimulus atau sajian perilaku model dan berakhir dengan penampilan atau kinerja (performance) tertentu sebagai hasil atau perolehan belajar seorang siswa. Tahap-tahap dalam proses belajar tersebut adalah sebagai berikut:
Tahap perhatian (attentional phase)
Tahap penyimpanan dalam ingatan (retention phase)
Tahap reproduksi (reproduction phase)
Tahap motivasi (motivation phase)

Secara garis besar, ada tiga hal yang menjadi pemikiran Albert Bandura berkenaan dengan pendidikan moral, yaitu:
a. Albert Bandura memandang pendidik sebagai model atau teladan yang baik sebab anak selalu meniru apa yang dilakukan oleh model. Sedangkan peserta didik merupakan subyek pendidikan yang selalu memperhatikan model (lebih cenderung sebagai pengamat).
b. Tentang lingkungan, bahwa lingkungan (keluarga, sekolah dan masyarakat) mempunyai pengaruh yang besar dalam pembentukan moral siswa baik secara langsung maupun tidak langsung.
c. Terdapat dua metode dalam pendidikan moral, yaitu conditioning (pembiasaan merespon) dan imitation (peniruan). Hal ini berarti membiasakan suatu perilaku dengan menunjukkan mana perilaku yang mendapat rewards (hadiah) dan mana yang mendapatkan punishment (hukuman) sehingga nantinya perilaku tersebut akan ditirunya. Dengan kata lain, seorang anak itu meniru suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang yang ada di sekitarnya apakah perilaku itu mendapat hadiah atau mendapat hukuman.
In reply to First post

Re: Forum Pertanyaan

Grace Hanna གིས-
Nama : Grace Hanna
Kelas : 3C
Npm : 2113053287

- Pendekatan Kohlberg dalam pendidikan moral disebut pendekatan kognitif-developmental. Asumsi dasar dari pendekatan model tersebut adalah:
1. Pendidikan moral memerlukan gagasan filosofis tentang moralitas.
2. Perkembangan moral melalui tahap-tahap kualitatif. Pendekatan Kohlberg menunjukan bahwa bila penalaran-penalaran yang diajukan oleh seseorang mengapa ia mempunyai pertimbangan moral tertentu atau melakukan tindakan tertentu diperhatikan, maka akan tampak jelas adanya perbedaan-perbedaan yang berarti dalam pendangan moral orang tersebut.

- Pendekatan L. Metccalf dan Imam Al Ghozalli yang disebut Affective Moral Development berpendapat bahwa pendidik adalah sosok manusia yang secara total berkonsentrasi kepada bidang pendidikan. Ia tidak boleh melakukan aktivitas lainnya. Namun di sisi lain, ia boleh menerima imbalan materi yang proporsional untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Menurut al-Ghazali, Tuhan mengetahui segala sesuatu dengan ilmu yang satu dalam keasliannya, keabadian-Nya tanpa mengalami perubahan. Para filosof mengingkari adanya kebangkitan jasmani di akhirat, kembalinya roh ke dalam jasad serta adanya neraka dan surga secara materi.

- Pendekatan Albert Bandura dan Skinner yang disebut Behavior Moral Development
suatu perilaku belajar adalah hasil dari kemampuan individu memaknai suatu pengetahuan atau informasi, memaknai suatu model yang ditiru, kemudian mengolah secara kognitif dan menentukan tindakan sesuai tujuan yang dikehendaki. Teori belajar Skinner didasarkan atas gagasan bahwa belajar adalah fungsi perubahan perilaku individu secara jelas. Perubahan perilaku tersebut diperoleh sebagai hasil respon individu terhadap kejadian (stimulus) dari lingkungan.
In reply to First post

Re: Forum Pertanyaan

ERMA TITIS NIKMAH གིས-
Nama: Erma Titis Nikmah
Npm: 2153053014
Kelas: 3C

tanggapan mengenai macam macam pendekatan dalam pendidikan nilai dan moral, dijelaskan ya sesuai dengan halaman 12 di dalam ppt.

1. Pendekatan Lawrence Kohlberg yang disebut Cognitive Moral Development

Teori perkembangan moral yang dikemukakan oleh Kohlberg menunjukkan bahwa sikap moral bukan hasil sosialisasi atau pelajaran yang diperoleh dari kebiasaan dan hal-hal lain yang berhubungan dengan nilai kebudayaan. Tahap-tahap perkembangan moral terjadi dari aktivitas spontan pada anak-anak.

Tahap-tahap perkembangan penalaran moral dibagi menjadi 3 tingkat, yang terdiri 
1. prakonvensional, Pada tingkatan ini individu belum memperlihatkan adanya internalisasi dari nilai-nilai moral, penalaran moral dikontrol oleh hadiah dan hukuman eksternal.
2. konvensional, menurut Kohlberg adalah penalaran tingkat kedua atau menengah dalam teori perkembangan. Internalisasi yang dilakukan bersifat menengah. Individu–individu mengikuti standart-standart tertentu (internal), namun standart-standart itu ditetapkan oleh orang lain (eksternal), misalnya oleh orang tua atau pemerintah.
3. pascakonvensional, adalah tingkat tertinggi dalam teori perkembangan moral menurut Kohlberg. Pada tingkat ini moralitas sepenuhnya diinternalisasikan dan tidak didasarkan pada standar-standar orang lain. Individu mengenali kembali alternatif pelajaran-pelajaran moral, mengeksplorasi pilihan-pilihanya dan kemudian menentukan aturan-aturan moral personalnya.

2. Pendekatan L Metccalf dan Iman al Ghozalli disebut Affektive Moral Development

Karakteristik pemikiran Imam al-Ghazali menekankan pada pengajaran keteladanan dan kognitifistik. Selain itu, beliau juga memakai pendekatan behavioristik sebagai salah satu pendekatan dalam pendidikan yang dijalankan. Hal ini tampak dalam pandangannya yang menyatakan jika seorang murid berprestasi hendaklah seorang guru mengapresiasi murid tersebut, dan jika melanggar hendaklah diperingatkan. Tetapi bentuk pengapresiasian gaya al-Ghazali tentu berbeda dengan pendekatan behavioristik dalam Eropa modern yang memberikan reward and punishment-nya dalam bentuk kebendaan dan simbol-simbol materi. Al-Ghazali menggunakan tsawab (pahala) dan uqubah (dosa) sebagai reward and punishment-nya.

3. Pendekatan Albert Bandura dan Skiner disebut Behavior Moral Development

Menurut Albert Bandura, proses perkembangan sosial dan moral siswa selalu berkaitan dengan proses belajar karena menentukan kemampuan siswa dalam bersikap dan berperilaku sosial yang selaras dengan norma moral agama, moral tradisi, moral hukum, dan norma moral lainnya yang berlaku dalam masyarakat. Teori pembelajaran ini disebut teori pembelajaran social-kognitif atau teori pembelajaran melalui peniruan.

Teori ini berdasarkan pada tiga asumsi, yaitu:
a. Individu melakukan pembelajaran dengan meniru apa yang ada dilingkungan sekitarnya, terutama perilaku-perilaku orang lain.
b. Terdapat hubungan yang erat antara pelajar dengan lingkungannya. Pembelajaran terjadi dalam keterkaitan antara tiga pihak yaitu lingkungan, perilaku dan faktor-faktor pribadi.
c. Hasil pembelajaran adalah berupa kode perilaku visual dan verbal yang diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.

In reply to First post

Re: Forum Pertanyaan

IKA SAEFITRI གིས-
Nama: Ika Saefitri
Npm: 2113053099
Kelas: 3C

Izin memberikan tanggapan,
Pendekatan dalam pendidikan nilai moral dibedakan menjadi tiga (3) yaitu;
Pendekatan Lawrence Kolhberg disebut Cognitive Moral Development
Pendekatan L Metccalf dan Iman al Ghozalli disebut Affektive Moral Development
Pendekatan Albert Bandura dan Skiner disebut Behavior Moral Development
Penjelasaan: Pendekatan Lawrence Kolhberg disebut Cognitive Moral Development Disebut sebagai pendekatan perkembangan moral kognitif (cognitive moral development approach)karena karakteristiknya memberikan penekanan pada aspek kognitif dan perkembangannya. Pendekatan ini mendorong siswa untuk berfikir aktif tentang masalah-masalah moral dan dalam membuat keputusan-keputusan moral. Menurut pendekatan ini, perkembangan moral dilihat sebagai perkembangan tingkat berfikir dalam membuat pertimbangan moral, dari suatu tingkat yang lebih rendah menuju tingkat yang lebih tinggi. (Masnur Muslich 2011)

Berdasarkan teori perkembangan moral menurut Kohlberg ada enam tahap pertimbangan moral yang terbagi dalam tiga tingkatan, yaitu (1) tingkat pre-konvensional (2) tingkat konvensional (3) tingkat post-konvensional. Pada tingkatan pertama terdapat dua tahap yaitu orientasi hukuman dan kepatuhan serta orientasi relativis instrumental, pada tingkatan yang kedua ada tahapan orientasi masuk ke kelompok “anak baik” dan “anak manis” serta orientasi hukum dan ketertiban, sedangkan pada tingkatan yang ketiga ada tahapan ada orientasi kontrak-sosial legalitis dan oreintasi asas etika universal. (Sarbini, 2012)

Pembelajaran moral menurut konsep pemkembangan kognitif, yang ditekankan sekali adalah peranan guru dalam suasana diskusi mengenai dilema-dilema moral dalam mengajarkan unit-unit kurikulum yang formal. Guru hendaknya memanfaatkan situasi moral hipotesis atau situasi-situasi sosiologis dan historis yang nyata. Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan menurut UU nomor 20 tahun 2003, pendidikan bertujuan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.

Pendekatan L Metccalf dan Iman al Ghozalli disebut Affektive Moral Development
Imam al-Ghazali berpendapat bahwa seorang pendidik akan senantiasa belajar mengevaluasi dan mencari manfaat dari setiap ilmu yang didapat, juga belajar bagaimana mengajarkanya. Di samping itu, mereka juga seharusnya selalu mencari solusi dari berbagai masalah yang timbul terkait masalah pendidikan. Menjadi seorang pendidik tidak hanya dituntut untuk mengerti tentang agama saja, namun juga memahami dan mempunyai kelayakan akademik.
Berkaitan dengan setiap profesi, Imam Al-Ghazali berpendapat bahwa setiap profesi atau pekerjaan merupakan satu ibadah. Seperti halnya pendidik, dia akan bisa dikatakan ibadah apabila memiliki ciri-ciri sebagai berikut: zuhhud, benar, ikhlas, Amanah, sabar, lemah lembut dan pemaaf serta penyayang. Menurut al-Ghazali ada dua cara dalam mendidik akhlak, yaitu;
pertama, mujahadah dan membiasakan latihan dengan amal shaleh. Kedua,
perbuatan itu dikerjakan dengan di ulang-ulang. Selain itu juga ditempuh
dengan jalan :
1. Memohon karunia Illahi dan sempurnanya fitrah (kejadian), agar nafsu, syahwat dan amarah itu dijadikan lurus, patuh kepada akal dan agama. Lalu jadilah orang itu berilmu (alim) tanpa belajar, terdidik tanpa pendidikan, ilmu ini disebut juga dengan ladunniah.
2. Akhlak tersebut diusahakan dengan mujahadah dan riyadhah, yaitu dengan membawa diri kepada perbuatan-perbuatan yang dikehendaki oleh akhlak tersebut. Singkatnya, akhlak berubah dengan pendidikan latihan. (Al-Ghazali, 2012:69)
Karakteristik pemikiran Imam al-Ghazali menekankan pada pengajaran keteladanan dan kognitifistik. Selain itu, beliau juga memakai pendekatan behavioristik sebagai salah satu pendekatan dalampendidikan yang dijalankan. Hal ini tampak dalam pandangannya yang menyatakan jika seorang murid berprestasi hendaklah seorang guru mengapresiasi murid tersebut, dan jika melanggar hendaklah diperingatkan. Tetapi bentuk pengapresiasian gaya al-Ghazali tentu berbeda dengan pendekatan behavioristik dalam Eropa modern yang memberikan reward and punishment-nya dalam bentuk kebendaan dan simbol-simbol materi. Al-Ghazali menggunakan tsawab (pahala) dan uqubah (dosa) sebagai reward and punishment-nya.
Imam al-Ghazali dalam konsep pendidikan akhlak, beliau mengelaborasi behavioristic dengan pendekatan humanistik yang mengatakan bahwa para pendidik harus memandang anak didik sebagai manusia secara holistik dan mengahrgai mereka sebagai manusia. Bahasa al-Ghazali tentang hal ini adalah bagaimana seorang guru harus bersikap lemah lembut dan penuh dengan kasih sayang pada murid selayaknya mereka adalah anak kandung sendiri. Dengan ungkapan seperti ini tentu al-Ghazali menginginkan sebuah pemanusiaan anak didik oleh guru.
Pemikiran Imam al-Ghazali tentang konsep pendidikan akhlak sampai saat ini tetap relevan terbukti dengan banyaknya pendidik yang masih menggunakan konsep beliau. Hanya saja berbeda dalam penyajian pemikiran dan kasus yang dihadapi. Seperti halnya Imam al-Ghazali dalam mendidik sesuai dengan zaman anak tersebut dan tidak bersifat yang mutlak. Dari ini pendidikan akhlak bersifat dinami dan dapat diimplikasikan nilai-nilai dari konsep pendidikan akhlak tersebut pada zaman kekinian dan masih relevan.

Pendekatan Albert Bandura dan Skiner disebut Behavior Moral Development
Teori pembelajaran yang dikemukakan oleh Bandura disebut teori pembelajaran social-kognitif dan disebut pula sebagai teori pembelajaran melalui peniruan. Teori Bandura berdasarkan pada tiga asumsi, yaitu:
a. Individu melakukan pembelajaran dengan meniru apa yang ada di lingkungannya, terutama perilaku-perilaku orang lain. contoh. Apabila peniruan itu memperoleh penguatan, maka perilaku yang ditiru itu akan menjadi perilaku dirinya.
b. Terdapat hubungan yang erat antara pelajar dengan lingkungannya. Pembelajaran terjadi dalam keterkaitan antara tiga pihak yaitu lingkungan, perilaku dan faktorfaktor pribadi.
c. Hasil pembelajaran adalah berupa kode perilaku visual dan verbal yang diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.

Proses pembelajaran menurut teori Bandura, terjadi dalam tiga komponen (unsur) yaitu perilaku model (contoh), pengaruh perilaku model, dan proses internal pelajar. Jadi individu melakukan pembelajaran dengan proses mengenal perilaku model (perilaku yang akan ditiru), kemudian mempertimbangkan dan memutuskan untuk meniru sehingga menjadi perilakunya sendiri. Perilaku model ialah berbagai perilaku yang dikenal di lingkungannya. Apabila bersesuaian dengan keadaan dirinya (minat, pengalaman, cita-cita, tujuan dan sebagainya) maka perilaku itu akan ditiru. Setiap proses belajar dalam hal ini belajar sosial terjadi dalam urutan tahapan peristiwa.
In reply to First post

Re: Forum Pertanyaan

ICHA KURNIA PUTRI གིས-
Nama : Icha Kurnia Putri
NPM : 2113053052
Kelas : 3C

Pendekatan Lawrence Kolhberg disebut Cognitive Moral Development
Teori ini berpandangan bahwa penalaran moral, yang merupakan landasan dari perilaku etis, ada enam tahapan perkembangan yang dapat teridentifikasi. Kohlberg menggunakan cerita tentang dilema moral dalam penelitiannya, dan beliau tertarik pada bagaimana orang-orang akan menjustifikasi tindakan-tindakan mereka bila mereka terletak dalam masalah moral yang sama. Pembelajaran moral menurut konsep pemkembangan kognitif, yang ditekankan sekali adalah peranan guru dalam suasana diskusi mengenai dilema-dilema moral dalam mengajarkan unit-unit kurikulum yang formal. Guru hendaknya memanfaatkan situasi moral hipotesis atau situasi-situasi sosiologis dan historis yang nyata.

Pendekatan L. Metccalf dan Imam Al Ghozalli yang disebut Affective Moral Development
Pendekatan ini mengutamakan pendidikan moral diadopsi dari pendidikan akhlak yang mana diaplikasikan dalam bentuk sikap sehari-hari. Pendidikan nilai moral melalui pendekatan afektif ini mengadopsi ajaran agama yaitu bagaimana cara berperilaku yang baik sesuai ajaran Tuhan. Imam Al Ghozali menganjurkan dalam mendidik anak dan membina akhlak mereka melalui bantuan acara-acara olahraga dan perilaku yang sesuai dengan peningkatan jiwa meski nampak dipaksa agar anak terhindar dari kesesatan.

Pendekatan menurut Albert Bandura dan Skiner yang disebut Behavior Moral Development
Teori ini disebut sociobehavioristic Approach karena merupakan sudut pandang sosial dari teori behaviorisme, karena menyangkut kecerdasan atau proses mental kognitif seseorang dalam sudut pandang sosial. Social learning theory merupakan turunan teori behaviorisme yang dianggap jauh lebih memanusia dan dapat diaplikasikan dengan lebih baik di zaman ini. Seperti yang diungkapkan oleh Nurjan (2016, hlm. 69) bahwa Social Learning Theory dikembangkan oleh Albert Bandura memandang tingkah laku manusia bukan semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond), melainkan juga akibat reaksi yang ditimbulkan sebagai hasil interaksi lingkungan dengan skema kognitif manusia itu sendiri.
In reply to First post

Re: Forum Pertanyaan

WAHANA TRI ADHASARI གིས-
Nama : Wahana Tri Adhasari
NPM : 2113053209
Kelas : 3C

1. Pendekatan Lawrence Kohlberg yang disebut Cognitive Moral Development
Teori perkembangan moral yang dikemukakan oleh Kohlberg menunjukkan bahwa sikap moral bukan hasil sosialisasi atau pelajaran yang diperoleh dari kebiasaan dan hal-hal lain yang berhubungan dengan nilai kebudayaan. Tahap-tahap perkembangan moral terjadi dari aktivitas spontan pada anak-anak.
tahapan perkembangan moral dari Kolhlberg dikelompokkan ke dalam tiga tingkatan yaitu :
Tingkat 1 (Pra-Konvensional)
- Orientasi kepatuhan dan hukuman
- Orientasi minat pribadi
( Apa untungnya buat saya?)
Tingkat 2 (Konvensional)
- Orientasi keserasian interpersonal dan konformitas
( Sikap anak baik)
- Orientasi otoritas dan pemeliharaan aturan sosial
( Moralitas hukum dan aturan)
Tingkat 3 (Pasca-Konvensional)
- Orientasi kontrak sosial
Prinsip etika universal
( Principled conscience)

2. Pendekatan L. Metccalf dan Imam Al Ghozalli yang disebut Affective Moral Development
pendidikan moral menurut Al-Ghozali dan L. Metcalf sependapat bahwa metode pendidikan moral yaitu kedisiplinan (pembiasaan), dan keteladanan, dengan metode penyucian jiwa sebagai metode pendidikan moral.
Yang dimana sejalan dengan konsep Pendidikan Islam bahwa peranan lembaga pendidikan (sekolah) untuk membantu individu menum-buhkan dan membentuk moralitasnya. Melalui pendidikan formal, umat manusia akan mencapai perada-ban dan memiliki
kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual yang tinggi sebagai bekal untuk melanjutkan dan memperjuangkan agamanya. Oleh sebab itu mereka berpendapat bahwa sekolah merupakan wadah bagi peserta didik untuk mengembangkan moralitasnya dengan bantuan pendidikan agama.

3. Pendekatan Albert Bandura dan Skinner yang disebut Behavior Moral Development

Teori Bandura menjelaskan perilaku manusia dalam konteks interaksi timbal balik yang berkesinambungan antara kognitif, perilaku dan pengaruh lingkungan. Kondisi lingkungan sekitar individu sangat berpengaruh pada pola belajar sosial ini. Misalnya seorang yang hidup dan lingkungannya dibesarkan di lingkungan judi, maka dia cenderung menyenangi judi, atau sekitarnya menganggap bahwa judi itu tidak jelek.

Menurut B.F. Skinner teori belajar behaviorisme adalah hubungan antara stimulus dengan respon yang ditunjukkan individu atau subyek terjadi melalui interaksi dengan lingkungan. Teori ini menekankan bahwa tingkah laku yang ditunjukkan seseorang merupakan akibat dari interaksi antara stimulus dengan respon.

Prinsip dasar belajar menurut teori ini, bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling). Teori ini juga masih memandang pentingnya conditioning. Melalui pemberian reward dan punishment, seorang individu akan berpikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan.
In reply to First post

Re: Forum Pertanyaan

RAFITRI PRIHATINI གིས-
Nama: Rafitri Prihatini
Npm: 2113053133
Kelas: 3C

1. Pendekatan pendidikan nilai menurut Lawrence Kohlberg (Cognitive Moral Development)
Cognitive Moral Development adalah pembenaran dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan tindakan sosial untuk bertindak secara etis. Teori ini menyatakan bahwa penilaian moral berubah dari waktu ke waktu dalam tahap diprediksi yang bergerak dari yang sederhana ke kompleks.

2. Pendekatan L Metcalf dan Imam Al Ghazali (Affective Moral Development)
Pada pendekatan ini Al Ghazali berpandangan bahwa pendidikan moral ini bernuansa religius dan sufistik, dimana menurut Al Ghazali hakikat pendidikan moral ditekankan pada aspek kejiwaan individu. Tujuan hidup manusia sebagai individu adalah untuk mencari kebahagiaan yang direalisasikan di kehidupan yang akan datang dan kehidupan di akhirat. Pendidikan nilai ini lebih menekankan pada ajaran agama dimana dalam bertingkah laku harus sesuai dengan ajaran Tuhan Yang Maha Esa.

3. Pendekatan Albert Bandura dan Skinner (Behavior Moral Development)
Menurut pandangan Albert Bandura proses pendidikan tak lepas dari norma-norma moral yang berlaku dimasyarakat sehingga nilai-nilai dari norma tersebut dijawantahkan dalam perilaku peserta didik sehari-hari. Pada teori ini lebih ditekankan pada proses bagaimana anak-anak belajar tentang norma-norma kemasyarakatan. Apabila pesan yang disampaikan bersifat positif maka anak-anak akan menerimanya dengan baik dan akan berpengaruh positif sehingga anak akan cenderung tumbuh dengan nilai yang baik dalam hidupnya. Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa pendekatan pendidikan nilai Behavior Moral Development adalah pendekatan pendidikan nilai dan moral yang berkaitan dengan proses belajar yang diimplementasikan oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.
In reply to First post

Re: Forum Pertanyaan

KIKI LIEONI WIDODO གིས-
Nama : Kiki Lieoni Widodo
NPM : 2113053005

Izin menjawab
Pendekatan dalam pendidikan moral terbagi menjadi 3 yaitu :
1. Pendekatan Lawrence Kolhberg disebut Cognitive Moral Development
Penilaian dan perbuatan moral pada intinya bersifat rasional. Keputusan dari moral ini bukanlah soal perasaan atau nilai, malainkan selalu mengandung suatu tafsiran kognitif terhadap keadaan dilema moral dan bersifat konstruksi kognitif yang bersifat aktif terhadap titik pandang masing-masing individu sambil mempertimbangkan segala macam tuntutan, kewajiban, hak dan keterlibatan setiap pribadi terhadap sesuatu yang baik dan juga adil. kesemuanya ini merupakan tindakan kognitif. Kohlberg juga mengatakan bahwa terdapat pertimbangan moral yang sesuai dengan pandangan formal harus diuraikan dan yang biasanya digunakan remaja untuk mempertanggung jawabkan perbuatan moralnya. Adapun tahap-tahap perkembangan moral yang sangat terkenal adalah yang dikemukakan oleh Lawrence Kohlberg.

2. Pendekatan L Metccalf dan Iman Al Ghozalli disebut Affektive Moral Development
Menurut al-Ghazali, tujuan mempelajari etika adalah dalam rangka untuk meningkatkan sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Prinsip-prinsip moral dipelajari dengan maksud menerapkan semuanya dalam kehidupan sehari-hari. Ia bahkan dengan lebih tegas menyatakan bahwa pengetahuan (terutama akhlaq) yang tidak diamalkan tidak lebih baik daripada kebodohan (M. Abul Quasem, 1988: 13). Selain itu, tujuan hidup manusia sebagai individu adalah untuk mencari kebahagiaan. Kebahagian yang paling penting adalah merealisasikan keba- hagiaan di kehidupan yang akan datang atau kehidupan akhirat.

3. Pendekatan Albert Bandura dan Skiner disebut Behavior Moral Development
Teori pembelajaran Bandura disebut sosial kognitif karena proses kognitif dalam diri individu memegang peranan dalam pembelajaran sedangkan pembelajaran terjadi karena adanya pengaruh lingkungan sosial. Individu akan mengamati perilaku di lingkungannya sebagai model, kemudian ditirunya sehingga menjadi perilaku miliknya. Dengan demikian, maka teori Bandura ini disebut teori pembelajaran melalui peniruan. Perilaku individu terbentuk melalui peniruan terhadap perilaku di lingkungan, pembelajaran merupakan suatu proses bagaimana membuat peniruan yang sebaik-baiknya sehingga bersesuaian dengan keadaan dirinya dan tujuannya.
In reply to First post

Re: Forum Pertanyaan

IRMANDA FRAHANI གིས-
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Sebelumnya izin memperkenalkan diri
Nama : Irmanda Frahani
Npm : 2113053124

Izin memberikan tanggapan mengenai pertanyaan diatas:
Didalam ppt terdapat macam-macam pendekatan dalam pendidikan menjadi 3 yaitu :
1.Pendekatan lawrence kohlberg disebut cognitive moral Development
Teori perkembangan moral yang dikemukakan oleh Kohlberg menunjukkan bahwa sikap moral bukan hasil sosialisasi atau pelajaran yang diperoleh dari kebiasaan dan hal-hal lain yang berhubungan dengan nilai kebudayaan. Tahap-tahap perkembangan moral terjadi dari aktivitas spontan pada anak-anak. Jadi dapat disimpulkan bahwa pendekatan dalam pendidikan moral itu berasal dari anak sendiri atau diri sendiri bukan dari pembelajaran atau masyarakat.

2. Pendekatan L metcalf dan imam al-ghazali disebut affective moral development
Al-Gazali dan Émile Durkheim memiliki perbedaan pandangan tentang konsep pendidikan moral. Latar belakang sosial politik yang mengitari kedua-nya adalah salah satu faktor yang mempengaruhinya.

Pendidikan moral dalam pandangan al-Gazali bernuansa religius dan sufistik. Konsep ini jelas terlihat dari pandangannya tentang moral. Hakikat pendidikan moral al-Gazali menekankan pada aspek kejiwaan individu. Bagi al-Gazali, tujuan hidup manusia sebagai individu adalah untuk mencari kebahagiaan. Kebahagian yang paling penting adalah merealisasikan kebahagiaan di kehidupan yang akan datang atau kehidupan akhirat. Pencapaian tujuan ini dapat dicapai melalui perilaku yang baik sesama manusia berdasarkan tuntunan agama, serta mengupayakan secara batin untuk mencapai keutamaan jiwa. Tujuan pendidikan moral bagi al-Gazali adalah mempro-duksi manusia sempurna yang memiliki kepribadian yang baik, kesucian jiwa dan mendekatkan diri kepada Allah swt. Amin Abdullah mengungkapkan bahwa al-Gazali menempatkan wahyu sebagai petunjuk utama atau bahkan cenderung satu-satunya dalam tindakan etis, dan dengan keras menghindari intervensi rasio dalam merumuskan prinsip-prinsip dasar universal tentang petunjuk al-Qur’an bagi kehidupan manusia. Dengan demikian, sumber pendidikan moral menurut al-Gazali adalah wahyu al-Qur’an sebagai otoritas utama dalam pembentukan moral. Adapun peran rasio (akal) hanya sebagai sumber pendukung dalam tindakan etis-manusia. Dalam hal ini, rasio (akal) berperan memberikan keseimbangan dan rohani yang bersih kepada seseo-rang sehingga melahirkan moral yang baik.

Konsep pendidikan moral yang diuraikan oleh
Émile Durkheim lebih menekankan aspek pembentukan moralitas individu terhadap masyarakat. Émile Durkheim sebagaimana yang dikutip George Ritzer dan Douglas J. Goodman mendefinisikan pendidikan sebagai proses yang menekankan perolehan individu terhadap alat-alat fisik, intelektual, dan moral yang merupakan poin terpenting dalam pendidikan. Eksistensi moral bagi individu sangat diperlukan agar dapat berperan dalam masyarakat. Durkheim meyakini bahwa pendidikan merupakan sarana sosial untuk suatu tujuan sosial pada suatu masyarakat yang menjamin kelangsungan hidupnya. Pendidikan tidak hanya sekedar membantu mengembangkan individu sesuai dengan kodratnya, atau hanya membantu menyingkap segala kemampuan tersembunyi pada setiap individu,tetapi pendidikan juga mampu men-
cetak makhluk baru. Dengan demikian, pendidikan moral menurut Émile Durkheim bertu-juan untuk membentuk dan menciptakan makhluk baru (elle cree dans I homme un etre nouveau) yang memiliki rasa solidaritas dan disiplin yang tinggi untuk tujuan-tujuan sosial.

3. Pendekatan Albert Bandura dan skiner disebut Behaviour Moral Development
Teori pembelajaran social (Social Learning Teory) salah satu konsep dalam aliran behaviorisme yang menekankan pada komponen kognitif dari fikiran, pemahaman dan evaluasi. Bandura seorang psikologi yang terkenal dengan teori belajar social atau kognitif social serta efikasi diri.

Terima kasih
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
In reply to First post

Re: Forum Pertanyaan

NEGI TITIN WIDYANINGTIUS གིས-
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Nama : Negi Titin widyaningtius
Npm:2123053167

izin memberikan tanggapan saya tentang macam-macam pendekatan nilai dan moral sesuai ppt hal 12 dari materi yang disampaikan

A. Pendekatan Lawrence Kohlberg yang disebut Cognitive Moral Development

Pendekatan Lawrence Kohlberg yang disebut Cognitive Moral Development menegaskan bahwa pada intinya moralitas mewakili seperangkat pertimbangan dan putusan rasional yang berlaku untuk setiap kebudayaan, yaitu prinsip kesejahteraan manusia dan prinsip keadilan, Menurut Kohlberg bahwasanya prinsip keadilan merupakan komponen pokok dalam proses perkembangan moral yang kemudian diterapkan dalam proses pendidikan moral.

Adapun buah pemikiran Lawrence Kohlberg mengenai 3 tingkat dan 6 tahap perkembangan moral manusia, menurut Prof. Dr. K. Bertens dalam bukunya “Etika”, yang kemudian menjadi sebuah teori moral yang mempengaruhi dunia psikologi dan filsafat moral atau etika, yakni:
1. Tingkat Pra-Konvensional
a. Tahap orientasi hukuman dan kepatuhan.
b. Tahap orientasi relativis-instrumental.
2. Tingkat Konvensional
a. Tahap penyesuaian dengan kelompok atau orientasi untuk menjadi “anak manis”.
b. Tahap orientasi hukum dan ketertiban.
3. Tingkat Pasca Konvensional
a. Orientasi kontrak-sosial legalistik.
b. Orientasi prinsip etika universal

B. Pendekatan L Metccalf dan Iman al Ghozalli disebut Affektive Moral Development
Justian Aronfeed, Imam Ghazali,
Pendekatan ini merupakan pendekatan yang saling berkaitan dengan moral
pendidikan akhlak yang diimplemantasikan dalam bentuk sikap sehari-hari
Al-Ghazali tentang akhlak (moral dalam Islam), akhlak tersebut merupakan perangai yang sudah tertanam dan menjadi label dalam diri seseorang, sehingga akan memunculkan perbuatan yang baik tanpa mempertimbangkan pikiran terlebih dahulu.

Hal yang ditekankan oleh pendekatan Affective Moral Development, yaitu menanamkan nilai melalui aras afektif, berupa sentuhan-sentuhan perasaan, imajinasi, dan intuisi. Proses pembinaan afektif ini membutuhkan strategi tersendiri yang berbeda dengan proses-proses pembinaan kognitif.

Perubahan-perubahan seringkali terjadi pada beberapa ciptaan Allah, kecuali hal-hal yang sudah menjadi ketetapan Allah seperti langit dan bintang-bintang. Dalam hal ini, keadaan dalam diri seseorang yang dapat diadakan kesempurnaannya dengan jalan pendidikan.

C. Pendekatan Albert Bandura dan Skiner disebut Behavior Moral Development merupakan pendekatan yang memandang bahwa internalisasi nilai dilakukan melalui pembiasaan (conditioning/habituation). Membiasakan berperilaku tertib dan tanggung jawab yang nantinya akan menjadi kebiasaan pada dirinya sendiri. Pada gilirannya nanti kebiasaan-kebiasaan yang dilakukannya tersebut akan mengendap menjadi tata nilai milik dirinya sendiri. Manakala mereka melakukan suatu tindakan di luar kebiasaannya, mereka akan merasa bersalah.
Teori ini merupakan teori yang dilakukan dengan cara pembelajaran melalui proses peniruan, peniruan ini dibagi menjadi 3 yaitu:
1. Individu melakukan pembelajaran dengan meniru apa yang ada di lingkungan nya.
2. Terdapat hubungan yang erat antara pelajar dan lingkungannya
3. Hasil belajar merupakan kod hasil visual dan verbal yang di wujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
In reply to First post

Re: Forum Pertanyaan

LAELA NUR VAZRIYAH གིས-
Nama: Laela Nur Vazriyah
Npm: 2113053186
Kelas: 3C

tanggapan mengenai macam macam pendekatan dalam pendidikan nilai dan moral, dijelaskan ya sesuai dengan halaman 12 di dalam ppt.

Pendekatan dalam pendidikan moral dibedakan menjadi tiga (3) yaitu;
1. Pendekatan Lawrence Kolhberg disebut Cognitive Moral Development
Gibs et al. (2007) menyebutkan bahwa teori CMD (Cognitive Moral Development) dapat menggambarkan kedudukan judgment moral individu dalam mengambil keputusan. CMD melibatkan
dua aspek individual dalam proses pengambilan keputusan (Kohlberg 1981 & 1984). Pertama, aspek cognitive, yaitu bagian utama dalam stuktur penalaran (reasoning) moral individual, dan setiap individu memunculkan motivasi tindakan moral atau amoral dari bagian ini. Kedua, argumen development, yaitu argumen yang menjelaskan bahwa struktur penalaran moral individu bergerak meningkat dari satu tahap kemajuan pemikiran (rationale progress) ke tahap berikutnya, dengan cara yang tidak berbeda (invariant), tidak dapat berbalik (irreversble), dan mengikuti urutan (sequence) tahap perkembangan moral.

Menurut Kohlberg, perkembangan moral kognitif terdiri atas enam tahap hirarkhis yang dapat dikelompokkan ke dalam tiga tingkatan: prakonvensional (tahap 1 dan 2), konvensional (tahap 3 dan 4), dan pascakonvensional (tahap 5 dan 6). 
Pada tingkatan prakonvensional, individu mempersepsikan aturan dan ekspektasi sosial sebagai hal-hal di luar dirinya; rasa takut akan hukuman adalah motivasi utama untuk mengikuti aturan-aturan sosial pada tahap ini.

Pada tingkat konvensional, individu mengidentifikasi dirinya dengan suatu kelompok sosial dan menginternalisasi aturan-aturan kelompok serta ekspektasi-ekspektasi dari orang lain di dalam kelompok, terutama orang yang memiliki autoritas. “

Pada tingkat pascakonvensional, seseorang mendiferensiasi self-esteem-nya dari aturan-aturan dan ekspektasi orang lain serta menentukan nilai-nilai pribadi terkait dengan prinsip-prinsip yang dipilihnya sendiri” (Wright, 1995, p. 17).

2. Pendekatan L Metccalf dan Iman al Ghozalli disebut Affektive Moral Development
Imam al-Ghazali berpendapat bahwa seorang pendidik akan senantiasa belajar mengevaluasi dan mencari manfaat dari setiap ilmu yang didapat, juga belajar bagaimana mengajarkanya. Di samping itu, mereka juga seharusnya selalu mencari solusi dari berbagai masalah yang timbul terkait masalah pendidikan. Menjadi seorang pendidik tidak hanya dituntut untuk mengerti tentang agama saja, namun juga memahami dan mempunyai kelayakan akademik. Berkaitan dengan setiap profesi, Imam Al-Ghazali berpendapat bahwa setiap profesi atau pekerjaan merupakan satu ibadah. Seperti halnya pendidik, dia akan bisa dikatakan ibadah apabila memiliki ciri-ciri sebagai berikut: zuhhud, benar, ikhlas, Amanah, sabar, lemah lembut dan pemaaf serta penyayang. Menurut al-Ghazali ada dua cara dalam mendidik akhlak, yaitu; pertama, mujahadah dan membiasakan latihan dengan amal shaleh. Kedua, perbuatan itu dikerjakan dengan di ulang-ulang. Selain itu juga ditempuh dengan jalan :
1. Memohon karunia Illahi dan sempurnanya fitrah (kejadian), agar nafsu, syahwat dan amarah itu dijadikan lurus, patuh kepada akal dan agama. Lalu jadilah orang itu berilmu (alim) tanpa belajar, terdidik tanpa pendidikan, ilmu ini disebut juga dengan ladunniah.
2. Akhlak tersebut diusahakan dengan mujahadah dan riyadhah, yaitu dengan membawa diri kepada perbuatan-perbuatan yang dikehendaki oleh akhlak tersebut. Singkatnya, akhlak berubah dengan pendidikan latihan. (Al-Ghazali, 2012:69)

3. Pendekatan Albert Bandura dan Skiner disebut Behavior Moral Development 
Menurut Albert Bandura, proses perkembangan sosial dan moral siswa selalu berkaitan dengan proses belajar karena menentukan kemampuan siswa dalam bersikap dan berperilaku sosial yang selaras dengan norma moral agama, moral tradisi, moral hukum, dan norma moral lainnya yang berlaku dalam masyarakat. Teori pembelajaran ini disebut teori pembelajaran social-kognitif atau teori pembelajaran melalui peniruan. Teori ini berdasarkan pada tiga asumsi, yaitu:
a. Individu melakukan pembelajaran dengan meniru apa yang ada di lingkungan sekitarnya, terutama perilaku-perilaku orang lain.
b. Terdapat hubungan yang erat antara pelajar dengan lingkungannya. Pembelajaran terjadi dalam keterkaitan antara tiga pihak yaitu lingkungan, perilaku dan faktor-faktor pribadi.
c. Hasil pembelajaran adalah berupa kode perilaku visual dan verbal yang diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.

Secara garis besar, ada tiga hal yang menjadi pemikiran Albert Bandura berkenaan dengan pendidikan moral, yaitu:
a. Albert Bandura memandang pendidik sebagai model atau teladan yang baik sebab anak selalu meniru apa yang dilakukan oleh model. Sedangkan peserta didik merupakan subyek pendidikan yang selalu memperhatikan model (lebih cenderung sebagai pengamat).
b. Tentang lingkungan, bahwa lingkungan (keluarga, sekolah dan masyarakat) mempunyai pengaruh yang besar dalam pembentukan moral siswa baik secara langsung maupun tidak langsung.
c. Terdapat dua metode dalam pendidikan moral, yaitu conditioning (pembiasaan merespon) dan imitation (peniruan). Hal ini berarti membiasakan suatu perilaku dengan menunjukkan mana perilaku yang mendapat rewards (hadiah) dan mana yang mendapatkan punishment (hukuman) sehingga nantinya perilaku tersebut akan ditirunya. Dengan kata lain, seorang anak itu meniru suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang yang ada di sekitarnya apakah perilaku itu mendapat hadiah atau mendapat hukuman.
In reply to First post

Re: Forum Pertanyaan

ANNISA NATHANIA གིས-
Annisa Nathania
2153053040

Izin memberikan jawaban dari pertanyaan diatas. Berdasarkan pada PPT slide ke-12, dapat saya simpulkan bahwa:



terdapat macam-macam pendekatan dalam pendidikan, yaitu :
1.Pendekatan Lawrence Kohlberg (Cognitive Moral Development)
Dikemukakan oleh Kohlberg
Bahwa sikap moral bukan hasil sosialisasi atau pelajaran yang diperoleh dari kebiasaan dan hal-hal lain yang berhubungan dengan nilai kebudayaan. Tahap-tahap perkembangan moral terjadi dari aktivitas spontan pada anak-anak. Jadi dapat disimpulkan bahwa pendekatan dalam pendidikan moral itu berasal dari anak sendiri atau diri sendiri bukan dari pembelajaran atau masyarakat.

2. Pendekatan L Metcalf dan Imam Al-Ghazali affective moral development
Dikemukakan oleh Al-Gazali dan Émile Durkheim
Latar belakang sosial politik adalah salah satu faktor yang mempengaruhinya.

Pendidikan moral dalam pandangan al-Gazali bernuansa religius dan sufistik. Konsep ini jelas terlihat dari pandangannya tentang moral.
Hakikat pendidikan moral al-Gazali menekankan pada aspek kejiwaan individu. Bagi al-Gazali, tujuan hidup manusia sebagai individu adalah untuk mencari kebahagiaan.
Tujuan pendidikan moral bagi al-Gazali adalah memproduksi manusia sempurna yang memiliki kepribadian yang baik, kesucian jiwa dan mendekatkan diri kepada Allah swt. Dengan demikian, sumber pendidikan moral menurut al-Gazali adalah wahyu al-Qur’an sebagai otoritas utama dalam pembentukan moral. Adapun peran rasio (akal) hanya sebagai sumber pendukung dalam tindakan etis-manusia. Dalam hal ini, rasio (akal) berperan memberikan keseimbangan dan rohani yang bersih kepada seseorang sehingga melahirkan moral yang baik.

Konsep pendidikan moral yang diuraikan oleh
Émile Durkheim lebih menekankan aspek pembentukan moralitas individu terhadap masyarakat. Émile Durkheim sebagaimana yang dikutip George Ritzer dan Douglas J. Goodman mendefinisikan pendidikan sebagai proses yang menekankan perolehan individu terhadap alat-alat fisik, intelektual, dan moral yang merupakan poin terpenting dalam pendidikan. Eksistensi moral bagi individu sangat diperlukan agar dapat berperan dalam masyarakat. Durkheim meyakini bahwa pendidikan merupakan sarana sosial untuk suatu tujuan sosial pada suatu masyarakat yang menjamin kelangsungan hidupnya.
Dengan demikian, pendidikan moral menurut Émile Durkheim bertujuan untuk membentuk dan menciptakan makhluk baru yang memiliki rasa solidaritas dan disiplin yang tinggi untuk tujuan-tujuan sosial.

3. Pendekatan Albert Bandura dan Skiner (Behaviour Moral Development)
Teori pembelajaran social (Social Learning Teory) salah satu konsep dalam aliran behaviorisme yang menekankan pada komponen kognitif dari fikiran, pemahaman dan evaluasi.

Terimakasih...
In reply to First post

Re: Forum Pertanyaan

REZA FITRIYANI གིས-
Nama : Reza Fitriyani Sari
Npm : 2113053094

1. Pendekatan Lawrence kohlberg (Cognitive Moral Development)

Berdasarkan pemikiran Lawrence Kohlberg mengenai 3 tingkat
dan 6 tahap perkembangan moral manusia, menurut Prof. Dr. K. Bertens
dalam bukunya “Etika”, yang kemudian menjadi sebuah teori moral yang
mempengaruhi dunia psikologi dan filsafat moral atau etika, yakni:
1. Tingkat Pra-Konvensional
a. Tahap orientasi hukuman dan kepatuhan.
b. Tahap orientasi relativis-instrumental.

2. Tingkat Konvensional
a. Tahap penyesuaian dengan kelompok atau orientasi untuk menjadi
“anak manis”.
b. Tahap orientasi hukum dan

3. Tingkat Pasca Konvensional
a. Orientasi kontrak-sosial legalistik.
b. Orientasi prinsip etika universal.

Perkembangan moral Kohlberg memiliki sifat/karakter khusus,
diantaranya:
a. Perkembangan setiap tahap-tahap selalu berlangsung dengan
cara yang sama, dalam arti si anak dari tahap pertama berlanjut
ke tahap kedua.
b. Bahwa orang (anak) hanya dapat mengerti penalaran moral satu
tahap di atas tahap dimana ia berada.
c. Bahwa orang secara kognitif memiliki ketertarikan pada cara
berfikir satu tahap di atas tahapnya sendiri.

Dalam teori perkembangan moral yang dikemukakan oleh Kohlberg menunjukkan bahwa sikap moral bukan hasil sosialisasi atau pelajaran yang diperoleh dari kebiasaan dan hal-hal lain yang berhubungan dengan nilai kebudayaan. Tahap-tahap perkembangan moral terjadi dari aktivitas spontan pada anak-anak.
Sementara Kohlberg lebih menekankan penalaran moral sebagai konstruk. Istilah konstruk serupa dengan konsep akan tetapi ada perbedaan. Konsep mengekspresikan suatu bentuk abstraksi melalui generalisasi dari suatu yang spesifik.

2. Pendekatan L Metccalf dan Imam al Ghozalli (Affektive Moral Development)

Pendidikan moral dalam pandangan Al Ghazali bersifat religius dan sufistik. konsep ini terlihat dari pandangannya tentang moral, dimana hakikat pendidikan moral Al Ghazali menekankan pada aspek kejiwaan individu. Menurut Al Ghazallu tujuan hidup manusia sebagai individu adalah untuk mencari kebahagiaan. Pencapaian tujuan ini dapat dicapai melalui perilaku yang baik sesama manusia berdasarkan tuntutan agama serta mengupayakan secara batin untuk mencapai keutamaan jiwa moralitas.


3. Pendekatan Albert bandura dan skinner (Behavior moral development)

Menurut Bandura, seseorang tidak merasa nyaman jika perbuatan yang dilakukannya menyalahi atau melanggar nilai-nilai kebaikan yang diyakininya, perasaan tidak nyaman tersebut mencegah seseorang dari perbuatan yang diyakininya tidak baiik. Sebagian besar dari yang dipelajari manusia terjadi melalui peniruan dan penyajian contoh perilaku. Seorang siswa yang belajar mengubah perilakunya sendiri melalui penyaksian secara langsung baik orang atau sekelompok orang bereaksi atau merespon sebuah stimulus tertentu. siswa juga dapat mempelajari respon-respon baru dengan cara pengamatan terhadap perilaku contoh dari orang lain misalnya guru atau orang tuanya.

Berdasarkan teori pembelajaran ini mengacu pada sosial kognitif atau teori pembelajaran melalui peniruan. teori pembelajaran ini berdasarkan pada 3 asumsi yaitu :
1. individu melakukan pembelajaran dengan meniru apa yang ada di lingkungan sekitarnya.
2. terdapat hubungan yang erat antara pelajar dengan lingkungannya.
3. Adanya keterkaitan antara tiga pihak yaitu lingkungan, perilaku dan faktor-faktor pribadi.

Pemikiran Albert bandura berkenaan dengan pendidikan moral, yaitu :
1. memandang pendidikan sebagai model atau teladan yang baik, sebab anak selalu meniru apa yang dilakukan oleh model.
2. tentang lingkungan, bahwa lingkungan keluarga sekolah dan masyarakat mempunyai pengaruh yang besar dalam pembentukan moral siswa baik secara langsung maupun tidak langsung.
3. terdapat dua metode dalam pendidikan moral yaitu conditioning pembiasaan merespon dan imitation peniruan.

Terima Kasih
In reply to First post

Re: Forum Pertanyaan

HASNI SEPTIANI གིས-
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Nama : Hasni Septiani
NPM :2113053097
Kelas :3C
Izin memberikan tanggapan,
Pendekatan dalam pendidikan nilai moral ada tiga jenis yaitu;
1. Pendekatan Lawrence Kolhberg disebut Cognitive Moral Development
Pendekatan L Metccalf dan Iman al Ghozalli disebut Affektive Moral Development
Pendekatan Albert Bandura dan Skiner disebut Behavior Moral Development
Penjelasaan: Pendekatan Lawrence Kolhberg disebut Cognitive Moral Development Disebut sebagai pendekatan perkembangan moral kognitif (cognitive moral development approach)karena karakteristiknya memberikan penekanan pada aspek kognitif dan perkembangannya. Pendekatan ini mendorong siswa untuk berfikir aktif tentang masalah-masalah moral dan dalam membuat keputusan-keputusan moral. Menurut pendekatan ini, perkembangan moral dilihat sebagai perkembangan tingkat berfikir dalam membuat pertimbangan moral, dari suatu tingkat yang lebih rendah menuju tingkat yang lebih tinggi. (Masnur Muslich 2011)

Berdasarkan teori perkembangan moral menurut Kohlberg ada enam tahap pertimbangan moral yang terbagi dalam tiga tingkatan, yaitu (1) tingkat pre-konvensional (2) tingkat konvensional (3) tingkat post-konvensional. Pada tingkatan pertama terdapat dua tahap yaitu orientasi hukuman dan kepatuhan serta orientasi relativis instrumental, pada tingkatan yang kedua ada tahapan orientasi masuk ke kelompok “anak baik” dan “anak manis” serta orientasi hukum dan ketertiban, sedangkan pada tingkatan yang ketiga ada tahapan ada orientasi kontrak-sosial legalitis dan oreintasi asas etika universal. (Sarbini, 2012)

2.Pendekatan L Metccalf dan Iman al Ghozalli disebut Affektive Moral Development
Imam al-Ghazali berpendapat bahwa seorang pendidik akan senantiasa belajar mengevaluasi dan mencari manfaat dari setiap ilmu yang didapat, juga belajar bagaimana mengajarkanya. Di samping itu, mereka juga seharusnya selalu mencari solusi dari berbagai masalah yang timbul terkait masalah pendidikan. Menjadi seorang pendidik tidak hanya dituntut untuk mengerti tentang agama saja, namun juga memahami dan mempunyai kelayakan akademik.
Berkaitan dengan setiap profesi, Imam Al-Ghazali berpendapat bahwa setiap profesi atau pekerjaan merupakan satu ibadah. Seperti halnya pendidik, dia akan bisa dikatakan ibadah apabila memiliki ciri-ciri sebagai berikut: zuhhud, benar, ikhlas, Amanah, sabar, lemah lembut dan pemaaf serta penyayang. Menurut al-Ghazali ada dua cara dalam mendidik akhlak, yaitu;
pertama, mujahadah dan membiasakan latihan dengan amal shaleh. Kedua,
perbuatan itu dikerjakan dengan di ulang-ulang. Selain itu juga ditempuh
dengan jalan :
1. Memohon karunia Illahi dan sempurnanya fitrah (kejadian), agar nafsu, syahwat dan amarah itu dijadikan lurus, patuh kepada akal dan agama. Lalu jadilah orang itu berilmu (alim) tanpa belajar, terdidik tanpa pendidikan, ilmu ini disebut juga dengan ladunniah.
2. Akhlak tersebut diusahakan dengan mujahadah dan riyadhah, yaitu dengan membawa diri kepada perbuatan-perbuatan yang dikehendaki oleh akhlak tersebut. Singkatnya, akhlak berubah dengan pendidikan latihan. (Al-Ghazali, 2012:69)
Imam al-Ghazali dalam konsep pendidikan akhlak, beliau mengelaborasi behavioristic dengan pendekatan humanistik yang mengatakan bahwa para pendidik harus memandang anak didik sebagai manusia secara holistik dan mengahrgai mereka sebagai manusia. Bahasa al-Ghazali tentang hal ini adalah bagaimana seorang guru harus bersikap lemah lembut dan penuh dengan kasih sayang pada murid selayaknya mereka adalah anak kandung sendiri. Dengan ungkapan seperti ini tentu al-Ghazali menginginkan sebuah pemanusiaan anak didik oleh guru.
Pemikiran Imam al-Ghazali tentang konsep pendidikan akhlak sampai saat ini tetap relevan terbukti dengan banyaknya pendidik yang masih menggunakan konsep beliau.

3. Pendekatan Albert Bandura dan Skiner disebut Behavior Moral Development
Teori pembelajaran yang dikemukakan oleh Bandura disebut teori pembelajaran social-kognitif dan disebut pula sebagai teori pembelajaran melalui peniruan. Teori Bandura berdasarkan pada tiga asumsi, yaitu:
a. Individu melakukan pembelajaran dengan meniru apa yang ada di lingkungannya, terutama perilaku-perilaku orang lain. contoh. Apabila peniruan itu memperoleh penguatan, maka perilaku yang ditiru itu akan menjadi perilaku dirinya.
b. Terdapat hubungan yang erat antara pelajar dengan lingkungannya. Pembelajaran terjadi dalam keterkaitan antara tiga pihak yaitu lingkungan, perilaku dan faktorfaktor pribadi.
c. Hasil pembelajaran adalah berupa kode perilaku visual dan verbal yang diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.

Proses pembelajaran menurut teori Bandura, terjadi dalam tiga komponen (unsur) yaitu perilaku model (contoh), pengaruh perilaku model, dan proses internal pelajar. Jadi individu melakukan pembelajaran dengan proses mengenal perilaku model (perilaku yang akan ditiru), kemudian mempertimbangkan dan memutuskan untuk meniru sehingga menjadi perilakunya sendiri. Perilaku model ialah berbagai perilaku yang dikenal di lingkungannya. Apabila bersesuaian dengan keadaan dirinya (minat, pengalaman, cita-cita, tujuan dan sebagainya) maka perilaku itu akan ditiru. Setiap proses belajar dalam hal ini belajar sosial terjadi dalam urutan tahapan peristiwa.

Sekian dan Terima Kasih
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
In reply to First post

Re: Forum Pertanyaan

Niken Azzahra གིས-
Assalammualikum warahmatullahi wabarakatuh
Nama : Niken Azzahra
Npm : 2153053032
Kelas : 3C


berikan tanggapan saya mengenai macam macam pendekatan dalam pendidikan nilai dan moral, dijelaskan ya sesuai dengan halaman 12 di dalam ppt.

Pendekatan dalam pendidikan moral dibedakan menjadi tiga (3) yaitu;
1.Pendekatan Lawrence Kolhberg disebut Cognitive Moral Development
2.Pendekatan L Metccalf dan Iman al Ghozalli disebut Affektive Moral Development
3.Pendekatan Albert Bandura dan Skiner disebut Behavior Moral Development



Pendekatan moral kognitif juga bisa menjadikan pola pikir peserta didik lebih tersistematis dalam menghadapi persoalan-persoalan dalam hidupnya.

Berdasarkan teori perkembangan moral menurut Kohlberg ada enam tahap pertimbangan moral yang terbagi dalam tiga tingkatan, yaitu
(1) tingkat pre-konvensional (2) tingkat konvensional
(3) tingkat post-konvensional. Pada keenam tahapan tersebut harus berperan aktif terhadap problem-problem yang dihadapi oleh para peserta didik sehingga peserta didik bisa mempertimbangkan moral yang harus mereka miliki, yaitu dengan melakukan diskusi tentang situasi-situasi yang dilema.

Pemahaman terhadap teori Kohlberg tentang pertimbangan moral ini mengimplikasikan strategi mengajar yang khusus untuk menstimulasi perkembangan moral. Diskusi dari situasi-situasi yang dilema akan memberikan dampak pada peserta didik sebagai berikut:

1. mempertimbangkan problem-problem moral sesunggguhnya
2. mengalami konflik-konflik kognitif dan sosial
Sesungguhnya selama diskusi problem moral
3. mengaplikasi tingkat berpikir tertentu mereka terhadap situasisituasi problematis
4. terbuka terhadap tingkatan berpikir selanjutnya yang lebih tinggi
5. menghadapkan ketidakkonsistenan pertimbangan mereka sendiri terhadap berbagai isu-isu moral tanpa seseorang yang menekankan pada jawaban benar atau salah.

Pembelajaran moral menurut konsep pemkembangan kognitif, yang ditekankan sekali adalah peranan guru dalam suasana diskusi mengenai dilema-dilema moral dalam mengajarkan unit-unit kurikulum yang formal.