Lampirkan analisis anda mengenai jurnal diatas, dengan menyertakan identitas diri seperti nama dan NPM.
Forum Analisis Jurnal 1
Nama: Farhan Iqbal Pratama
NPM: 2113053196
Kelas: 3C
Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabaraktuh.
Selamat Pagi Bapak Roy Kembar Habibie, M.Pd. selaku dosen pengampu mata kuliah Pendidikan Nilai dan Moral Kelas 3C PGSD. Saya Farhan Iqbal Pratama ingin mengirim tugas mengenai analisis jurnal 1 yang berjudul “Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat: Suatu Pemikiran Kefilsafatan”. Oleh Suparlan Suhartono.”
Memasuki zaman semakin modern di abad 21 ini, kehidupan nyata masyarakat masih saja diliputi berbagai macam konflik meskipun kondisi dunia sudah maju. Konflik tersebut terjadi dikarenakan adanya kesenjangan antara kepentingan umum dan kepentingan pribadi yang menjadu pemantik munculnya masalah. Secara tidak langsung, konflik tersebut disebabkan adanya kesenjangan moral dari masing-masing individu. Konflik dua paham sosial antara individualisme dan kolektivisme tidak perlu dibenturkan. Hal ini seharusnya dapat dikelola sesuai nilai dan moral sehingga menjadi kekuatan sosial bagi kehidupan bermasyarakat bukan malah merugikan. Oleh karena itu, penting bagi setiap orang menjaga dengan baik moralitasnya.
Atas kesadaran moral yang dimilikinya, seseorang akan terdorong untuk melakukan perbuatan yang baik dan bernilai guna bagi kelangsungan dan tujuan hidupnya. Adanya kesadaran moral berfungsi sebagai pengendali perilaku sehingga seseroang yang memiliki moral akan berperilaku jujur, bersabar, dan ikhlas. Namun, seringkali moralitas seseorang terhalang oleh nafsu negattif dari masing-masing diri individu sehingga menyebabkan perbuatan ke arah negatif yang dilakukan. Van Puersuen (1990) menyimpulkan bahwa potensi kreatif sebagai ciri penting dari kepribadian manusia. Kreativitas dinilai sebagai daya dalam memahami sesuatu yang menjadi tuntutan perubahan. Potensi kreatif ini mendorong kehidupan masyarakat lebih maju, kreatif, produktif dan mandiri sehingga masyarakat tidak bergantung pada masyarakat otonom melainkan kemampuannya sendiri.
Tanggung jawab terhadap perilaku individual di masyarakat harus bertujuan dalam meningkatkan produktivitas bukan malah merugikan dan menyebabkan konflik di masyarakat. Oleh sebab itu, tiga pilar moralitas dan etika, yaitu kesadaran moral, kreativitas dalam reproduksi dan pengendalian perilaku dalam berproduksi wajib ditanam, dibina dan dikembangkan di dalam diri setiap individu melalui pendidikan keluarga, pendidikan sekolah dan pendidikan bermasyarakat. Jika berhasil, maka konflik kepentingan antara paham individualisme dan kolektivisme justru menjadi energi sosial untuk mendorong pertumbuhan kehidupan masyarakat berkeadilan.
Sebagai warga masyarakat, kita harus memperhatikan bagaimana cara kita bersikap dan berperilaku di masyarakat. Kita harus memperhatikan dan menjalankan norma-norma yang berlaku di lingkungan masyarakat kita. Hal ini dikarenakan untuk menghindari konflik dan senantiasa berusaha menjadi masyarakat yang berkemajuan dan berkeadilan.
Sekian analisis jurnal 1 dari saya.
Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.
NPM: 2113053196
Kelas: 3C
Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabaraktuh.
Selamat Pagi Bapak Roy Kembar Habibie, M.Pd. selaku dosen pengampu mata kuliah Pendidikan Nilai dan Moral Kelas 3C PGSD. Saya Farhan Iqbal Pratama ingin mengirim tugas mengenai analisis jurnal 1 yang berjudul “Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat: Suatu Pemikiran Kefilsafatan”. Oleh Suparlan Suhartono.”
Memasuki zaman semakin modern di abad 21 ini, kehidupan nyata masyarakat masih saja diliputi berbagai macam konflik meskipun kondisi dunia sudah maju. Konflik tersebut terjadi dikarenakan adanya kesenjangan antara kepentingan umum dan kepentingan pribadi yang menjadu pemantik munculnya masalah. Secara tidak langsung, konflik tersebut disebabkan adanya kesenjangan moral dari masing-masing individu. Konflik dua paham sosial antara individualisme dan kolektivisme tidak perlu dibenturkan. Hal ini seharusnya dapat dikelola sesuai nilai dan moral sehingga menjadi kekuatan sosial bagi kehidupan bermasyarakat bukan malah merugikan. Oleh karena itu, penting bagi setiap orang menjaga dengan baik moralitasnya.
Atas kesadaran moral yang dimilikinya, seseorang akan terdorong untuk melakukan perbuatan yang baik dan bernilai guna bagi kelangsungan dan tujuan hidupnya. Adanya kesadaran moral berfungsi sebagai pengendali perilaku sehingga seseroang yang memiliki moral akan berperilaku jujur, bersabar, dan ikhlas. Namun, seringkali moralitas seseorang terhalang oleh nafsu negattif dari masing-masing diri individu sehingga menyebabkan perbuatan ke arah negatif yang dilakukan. Van Puersuen (1990) menyimpulkan bahwa potensi kreatif sebagai ciri penting dari kepribadian manusia. Kreativitas dinilai sebagai daya dalam memahami sesuatu yang menjadi tuntutan perubahan. Potensi kreatif ini mendorong kehidupan masyarakat lebih maju, kreatif, produktif dan mandiri sehingga masyarakat tidak bergantung pada masyarakat otonom melainkan kemampuannya sendiri.
Tanggung jawab terhadap perilaku individual di masyarakat harus bertujuan dalam meningkatkan produktivitas bukan malah merugikan dan menyebabkan konflik di masyarakat. Oleh sebab itu, tiga pilar moralitas dan etika, yaitu kesadaran moral, kreativitas dalam reproduksi dan pengendalian perilaku dalam berproduksi wajib ditanam, dibina dan dikembangkan di dalam diri setiap individu melalui pendidikan keluarga, pendidikan sekolah dan pendidikan bermasyarakat. Jika berhasil, maka konflik kepentingan antara paham individualisme dan kolektivisme justru menjadi energi sosial untuk mendorong pertumbuhan kehidupan masyarakat berkeadilan.
Sebagai warga masyarakat, kita harus memperhatikan bagaimana cara kita bersikap dan berperilaku di masyarakat. Kita harus memperhatikan dan menjalankan norma-norma yang berlaku di lingkungan masyarakat kita. Hal ini dikarenakan untuk menghindari konflik dan senantiasa berusaha menjadi masyarakat yang berkemajuan dan berkeadilan.
Sekian analisis jurnal 1 dari saya.
Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.
Nama : Yuninda Putri
Npm : 2113053045
Analisis jurnal 1 yang berjudul " Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat: Suatu Pemikiran Kefilsafatan". Secara langsung atau tidak langsung, moralitas dan etika hanya bisa berlaku secara sempurna di dalam kehidupan bermasyarakat. Orang yang hidup dengan mengisolir diri di tengah hutan, seolah-olah tidak memerlukan moral dan etika. Tetapi ketika mulai memanfaatkan sumber daya hutan, apalagi jka cara pemanfaatannya cenderung merusak, maka perilakunya sudah masuk ke dalam lingkup moral dan etika. Hal itu karena kelangsungan hidup dan kehidupan pada umumnya, termasuk kehidupan bermasyarakat, mutlak bergantung pada keberadaan hutan. Karena sifatnya universal, maka pemikiran kritis tentang moral dan etika lebih menyoal pada masalah kesadaran moral, yang berkedudukan pada awal dari seluruh kegiatan hidup. Sadar akan asal-mula dan tujuan kehidupan, maka manusia sadar tentang apa yang perlu dilakukan dalam menjalani kehidupannya. Atas kesadaran moralnya, seseorang terdorong untuk melakukan perbuatan yang baik dan bernilai guna bagi kelangsungan dan tujuan hidup.
Npm : 2113053045
Analisis jurnal 1 yang berjudul " Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat: Suatu Pemikiran Kefilsafatan". Secara langsung atau tidak langsung, moralitas dan etika hanya bisa berlaku secara sempurna di dalam kehidupan bermasyarakat. Orang yang hidup dengan mengisolir diri di tengah hutan, seolah-olah tidak memerlukan moral dan etika. Tetapi ketika mulai memanfaatkan sumber daya hutan, apalagi jka cara pemanfaatannya cenderung merusak, maka perilakunya sudah masuk ke dalam lingkup moral dan etika. Hal itu karena kelangsungan hidup dan kehidupan pada umumnya, termasuk kehidupan bermasyarakat, mutlak bergantung pada keberadaan hutan. Karena sifatnya universal, maka pemikiran kritis tentang moral dan etika lebih menyoal pada masalah kesadaran moral, yang berkedudukan pada awal dari seluruh kegiatan hidup. Sadar akan asal-mula dan tujuan kehidupan, maka manusia sadar tentang apa yang perlu dilakukan dalam menjalani kehidupannya. Atas kesadaran moralnya, seseorang terdorong untuk melakukan perbuatan yang baik dan bernilai guna bagi kelangsungan dan tujuan hidup.
Jadi, kesadaran moral mendorong terbentuknya suatu keterikatan sosial dalam bentuk kerja sama dalam kehidupan bermasyarakat. Atas kesadaran moral itulah kemudian berfungsi menjadi satu wawasan bagi seluruh individu dalam bermasyarakat. Kedua, kreativitas dalam reproduksi. Wawasan sosial tersebut, selanjutnya mendorong kehidupan bermasyarakat untuk meningkatkan kreativitas dan produktivitas. Kreativitas kehidupan suatu masyarakat sangat ditentukan oleh lapisan sosial golongan tengah (middle class). Golongan ini adalah kaum intelektual yang berkompeten dalam teori dan sistem pemberdayaan IPTEK. Atas kompeten sinya itu, mereka bersinergi dalam berkreativitas untuk meningkatkan produksi pangan, sandang, papan, dan alat perlengkapan hidup lainnya.
Nama: Mutia Rahma Aulia
NPM: 2113053136
Kelas: 3C
Analisis jurnal 1 dengan judul "Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat:
Suatu Pemikiran Kefilsafatan"
Filsafat berarti cinta kearifan. Kata cinta, menunjukkan adanya hubungan menyatukan antara subyek dan obyek, di dalam mana subyek melakukan suatu kebaikan terhadap obyek.
Hubungan antara moral dan etika dapat dirumuskan bahwa moral lebih bersifat abstrak universal, sedangkan etika lebih bersifat konkret khusus (obyektif). Pendekatan filsafat dan moral atau etika dapat disusun sebuah kerangka pikir bahwa jika di dalam diri setiap individu tertanam kuat dorongan moral untuk berbuat kebaikan, berarti mereka berada dalam satu ikatan moral di dalam dunia kebersamaan.
Menurut keberadaannya, sifat hakikat manusia adalah sebagai makhluk
individu yang mengindividu memasyarakat dan makhluk sosial yang mengindividu.
Masyarakat bukan hanya tempat berkumpul, melainkan suatu proses sosial di dalam mana setiap ind ividu mendapat ruang gerak untuk melakukan berbagai aksi sosial (social action).
Secara langsung atau tidak langsung, moralitas dan etika hanya bisa berlaku secara sempurna di dalam kehidupan bermasyarakat. Kesadaran moral juga berfungsi sebagai pengendali perilaku, sedemikian rupa sehingga seseorang mampu berperilaku jujur menurut moralitas bersyukur, bersabarbersabar dan berikhlas.
Sistem nilai adalah suasana moralitas manusia yang harus dipertanggungjawabkan secara etis di sepanjang kehidupan. Di dalam kehidupan bermasyarakat, setiap orang
harus berpedoman pada norma - norma etika, menurut kesadaran moral, karena mereka akan selalu diperhadapkan dengan masalah hak dan kewajiban.
Oleh sebab itu, hanya ada satu jalan rekonstruksi sosial yaitu “revolusi moral”, tentu melalui jalan pendidikan bukan melalui jalan pertumpahan darah. Jika kesadaran moral tumbuh, maka norma -norma etika dan aturan hukum positif akan mudah ditaati oleh siapapun (terutama para pemimpin).
NPM: 2113053136
Kelas: 3C
Analisis jurnal 1 dengan judul "Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat:
Suatu Pemikiran Kefilsafatan"
Filsafat berarti cinta kearifan. Kata cinta, menunjukkan adanya hubungan menyatukan antara subyek dan obyek, di dalam mana subyek melakukan suatu kebaikan terhadap obyek.
Hubungan antara moral dan etika dapat dirumuskan bahwa moral lebih bersifat abstrak universal, sedangkan etika lebih bersifat konkret khusus (obyektif). Pendekatan filsafat dan moral atau etika dapat disusun sebuah kerangka pikir bahwa jika di dalam diri setiap individu tertanam kuat dorongan moral untuk berbuat kebaikan, berarti mereka berada dalam satu ikatan moral di dalam dunia kebersamaan.
Menurut keberadaannya, sifat hakikat manusia adalah sebagai makhluk
individu yang mengindividu memasyarakat dan makhluk sosial yang mengindividu.
Masyarakat bukan hanya tempat berkumpul, melainkan suatu proses sosial di dalam mana setiap ind ividu mendapat ruang gerak untuk melakukan berbagai aksi sosial (social action).
Secara langsung atau tidak langsung, moralitas dan etika hanya bisa berlaku secara sempurna di dalam kehidupan bermasyarakat. Kesadaran moral juga berfungsi sebagai pengendali perilaku, sedemikian rupa sehingga seseorang mampu berperilaku jujur menurut moralitas bersyukur, bersabarbersabar dan berikhlas.
Sistem nilai adalah suasana moralitas manusia yang harus dipertanggungjawabkan secara etis di sepanjang kehidupan. Di dalam kehidupan bermasyarakat, setiap orang
harus berpedoman pada norma - norma etika, menurut kesadaran moral, karena mereka akan selalu diperhadapkan dengan masalah hak dan kewajiban.
Oleh sebab itu, hanya ada satu jalan rekonstruksi sosial yaitu “revolusi moral”, tentu melalui jalan pendidikan bukan melalui jalan pertumpahan darah. Jika kesadaran moral tumbuh, maka norma -norma etika dan aturan hukum positif akan mudah ditaati oleh siapapun (terutama para pemimpin).
nama : winda eriska
npm : 2113053079
analisis jurnal "Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat
Suatu Pemikiran Kefilsafatan" Memasuki abad ke-21, kehidupan nyata masyarakat manusia masih tetap diliputi berbagai macam konflik. Secara klasik, ada dua jenis konflik kepentingan yaitu antara kepentingan umum keseluruhan masyarakat dan kepenti ngan khusus bagi setiap individu. Ketika kepentingan umum tidak menyerap keberagaman tuntutan individual dan ketika kepentingan individual mengganggu kepentingan umum, maka pasti terjadi konflik. namun sekarang yang terjadi tradisi konflik antara kepentingan individu dan masya rakat melemah dan bahkan cenderung tidak muncul ke permukaan. Sedangkan yang muncul adalah konflik antar individu atau grup untuk mendapatkan kekuasaan dalam pemerintahan. Proses demokratis untuk meraih suatu kekuasaan semakin dikendalikan sepenuhnya denga n sistem “money politics”. Sudah barang tentu, tidak menghasilkan pemimpin yang aspiratif bagi kepentingan umum. Menurut filsafat moral (etika), masya -rakat adalah suatu sistem komunikasi sosial antar individu untuk mencapai tujuan bersama. Maka konflik antara kepentingan individual (individualisme) dan kepentingan ko lektif (kolektivisme) justru menjadi potensi bagi eksistensi masyarakat. Oleh sebab itu, kunci persoalannya terletak pada sejauh mana kesadaran moral dan etika menjadi watak perilaku setiap individu.
Jika kesadaran moral terbingkai dalam sistem norma-norma perilaku sosial (etika), maka kedua kepentingan akan terselenggara secara berkeadilan. kehidupan bermasyarakat adalah suatu si stem manajemen untuk mengorganisir kemampuan individual menjadi sebuah kekuatan sosial, agar kemudian tujuan bersama seluruh individu anggotanya dapat terwujud. Masyarakat bukan hanya tempat berkumpul, melainkan suatu proses sosial di dalam mana setiap ind ividu mendapat ruang gerak
untuk melakukan berbagai aksi sosial kesadaran moral yang kuat mendorong kreativitas untuk berproduksi secara terkendali menurut norma-norma etika ke arah terbentuknya kehidupan masyarakat berkeadilan.
Oleh sebab itu, tiga pilar moralitas dan etika tersebut wajib ditanam dibina dan dikembangkan di dalam diri setiap individu melalui pendidikan keluarga, pendidikan sekolah dan pendidikan bermasyarakat
npm : 2113053079
analisis jurnal "Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat
Suatu Pemikiran Kefilsafatan" Memasuki abad ke-21, kehidupan nyata masyarakat manusia masih tetap diliputi berbagai macam konflik. Secara klasik, ada dua jenis konflik kepentingan yaitu antara kepentingan umum keseluruhan masyarakat dan kepenti ngan khusus bagi setiap individu. Ketika kepentingan umum tidak menyerap keberagaman tuntutan individual dan ketika kepentingan individual mengganggu kepentingan umum, maka pasti terjadi konflik. namun sekarang yang terjadi tradisi konflik antara kepentingan individu dan masya rakat melemah dan bahkan cenderung tidak muncul ke permukaan. Sedangkan yang muncul adalah konflik antar individu atau grup untuk mendapatkan kekuasaan dalam pemerintahan. Proses demokratis untuk meraih suatu kekuasaan semakin dikendalikan sepenuhnya denga n sistem “money politics”. Sudah barang tentu, tidak menghasilkan pemimpin yang aspiratif bagi kepentingan umum. Menurut filsafat moral (etika), masya -rakat adalah suatu sistem komunikasi sosial antar individu untuk mencapai tujuan bersama. Maka konflik antara kepentingan individual (individualisme) dan kepentingan ko lektif (kolektivisme) justru menjadi potensi bagi eksistensi masyarakat. Oleh sebab itu, kunci persoalannya terletak pada sejauh mana kesadaran moral dan etika menjadi watak perilaku setiap individu.
Jika kesadaran moral terbingkai dalam sistem norma-norma perilaku sosial (etika), maka kedua kepentingan akan terselenggara secara berkeadilan. kehidupan bermasyarakat adalah suatu si stem manajemen untuk mengorganisir kemampuan individual menjadi sebuah kekuatan sosial, agar kemudian tujuan bersama seluruh individu anggotanya dapat terwujud. Masyarakat bukan hanya tempat berkumpul, melainkan suatu proses sosial di dalam mana setiap ind ividu mendapat ruang gerak
untuk melakukan berbagai aksi sosial kesadaran moral yang kuat mendorong kreativitas untuk berproduksi secara terkendali menurut norma-norma etika ke arah terbentuknya kehidupan masyarakat berkeadilan.
Oleh sebab itu, tiga pilar moralitas dan etika tersebut wajib ditanam dibina dan dikembangkan di dalam diri setiap individu melalui pendidikan keluarga, pendidikan sekolah dan pendidikan bermasyarakat
Nama : Dhea Ajeng Pradana
NPM : 2113053277
Izin memberikan analisis saya mengenai jurnal yang berjudul “Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat Suatu Pemikiran Kefilsafatan”
Tradisi konflik yang terjadi anatara kepentingan individu dengan masyarakat menjadi sebuah kesibukan yang meghabiskan energi hanya utnuk memerangi para koruptor. Padahal, jika penguasa memiliki komitmen moral serta etika yang kuat, maka akan memberikan keuntungan bagi seluruh individu dan masyarakat dan otomatis bagi para pemimpin. Hal ini dikarenakan di dalam individu terdapat potensi sosial dan di dalam masyarakat terdapat potensi individual. Tetapi rupanya para pemimpin justru memanfaatkan tradisi konflik sosial itu sebagai alat penyelamatan diri. Hal tersebut secara tidak langsung, moralitas dan etika hanya berlaku secara sempurna di dalam kehidupan bermasyarakat. Kesadaran moral ini berfungsi sebagai pengendali perilaku, sedemikian rupa sehingga kehidupan seseorang mampu berperilaku jujur menurut moralitas bersuyukur ( ketika memperoleh sesuatu ), bersabar (ketika mendapat ujian hidup) dan berikhlas (k etika harus kehilangan). Sebenarnya kesadaran moral itu selalu ada di dalam diri setiap orang. Hanya saja sering kali terhalang oleh nafsu negatif yang mendorong suatu perbuatan dilakukan.
Dalam kehidupan bermasyarakat yang perlu dibina untuk dikembangkan secara berkelanjutan terdapat 3 komponen moral dan etika. Yang pertama yaitu kesadaran moral, kesadaran moral ini mendorong terbentuknya suatu keterikatan sosial dalam bentuk kerja sama dalam kehidupan bermasyarakat. Kedua yaitu kreativitas dalam reproduksi, maksudnya adalah mendorong kehidupan bermasyarakat untuk meningkatkan kreativitas dan produksi yang ditentukan oleh lapisan sosial golongan tengah, dengan kreatifnya itu, kehidupan masyarakat akan menjadi lebih maju, kreatif produktif dan mandiri di masa depan dan tidak bergantung. Ketiga yaitu pengendalian perilaku berproduksi, maksudnya secara moral dan etika tujuan meningkatkan produktivitas adalah untuk mewujudkan kesejahteraan umum bagi totalitas kemayarakatan. Oleh karena itu, 3 komponen ini, wajib ditanam dibina dan dikembangkan dalam diri setiap individu melalui pendidikan keluarga, sekolah dan masyarakat.
NPM : 2113053277
Izin memberikan analisis saya mengenai jurnal yang berjudul “Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat Suatu Pemikiran Kefilsafatan”
Tradisi konflik yang terjadi anatara kepentingan individu dengan masyarakat menjadi sebuah kesibukan yang meghabiskan energi hanya utnuk memerangi para koruptor. Padahal, jika penguasa memiliki komitmen moral serta etika yang kuat, maka akan memberikan keuntungan bagi seluruh individu dan masyarakat dan otomatis bagi para pemimpin. Hal ini dikarenakan di dalam individu terdapat potensi sosial dan di dalam masyarakat terdapat potensi individual. Tetapi rupanya para pemimpin justru memanfaatkan tradisi konflik sosial itu sebagai alat penyelamatan diri. Hal tersebut secara tidak langsung, moralitas dan etika hanya berlaku secara sempurna di dalam kehidupan bermasyarakat. Kesadaran moral ini berfungsi sebagai pengendali perilaku, sedemikian rupa sehingga kehidupan seseorang mampu berperilaku jujur menurut moralitas bersuyukur ( ketika memperoleh sesuatu ), bersabar (ketika mendapat ujian hidup) dan berikhlas (k etika harus kehilangan). Sebenarnya kesadaran moral itu selalu ada di dalam diri setiap orang. Hanya saja sering kali terhalang oleh nafsu negatif yang mendorong suatu perbuatan dilakukan.
Dalam kehidupan bermasyarakat yang perlu dibina untuk dikembangkan secara berkelanjutan terdapat 3 komponen moral dan etika. Yang pertama yaitu kesadaran moral, kesadaran moral ini mendorong terbentuknya suatu keterikatan sosial dalam bentuk kerja sama dalam kehidupan bermasyarakat. Kedua yaitu kreativitas dalam reproduksi, maksudnya adalah mendorong kehidupan bermasyarakat untuk meningkatkan kreativitas dan produksi yang ditentukan oleh lapisan sosial golongan tengah, dengan kreatifnya itu, kehidupan masyarakat akan menjadi lebih maju, kreatif produktif dan mandiri di masa depan dan tidak bergantung. Ketiga yaitu pengendalian perilaku berproduksi, maksudnya secara moral dan etika tujuan meningkatkan produktivitas adalah untuk mewujudkan kesejahteraan umum bagi totalitas kemayarakatan. Oleh karena itu, 3 komponen ini, wajib ditanam dibina dan dikembangkan dalam diri setiap individu melalui pendidikan keluarga, sekolah dan masyarakat.
Nama: Erma Titis Nikmah
Npm: 2153053014
Kelas: 3C
Hasil analisis dari jurnal yang berjudul "Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat:
Suatu Pemikiran Kefilsafatan"
Hubungan antara moral dan etika dapat dirumuskan bahwa moral lebih bersifat abstrak universal, sedangkan etika lebih bersifat konkret khusus. Norma moral adalah aturan tentang bagaimana manusia harus hidup supaya menjadi baik sebagai manusia. Tanpa masyarakat, individu tidak mungkin ada dan bisa mengembangkan diri. Individu lahir dari masyarakat dan masyarakat terbentuk dari individu. Jadi, individualisme menjadi berbahaya bagi kehidupan masyarakat ketika potensinya tidak terserap bagi kepentingan sosial. Menurut keberadaannya, sifat hakikat manusia adalah sebagai makhluk individu yang memasyarakat dan makhluk sosial yang mengindividu.
Kehidupan bermasyarakat adalah suatu sistem manajemen untuk mengorganisir kemampuan individual menjadi sebuah kekuatan sosial, agar kemudian tujuan bersama seluruh individu anggotanya dapat terwujud. Secara langsung atau tidak langsung, moralitas dan etika hanya bisa berlaku secara sempurna di dalam kehidupan bermasyarakat. kesadaran moral juga berfungsi sebagai pengendali perilaku, sedemikian rupa sehingga seseorang mampu berperilaku jujur menurut moralitas bersyukur, bersabar dan berikhlas. kesadaran moral memiliki kekuatan memposisikan dan memfungsikan segala potensi
individual untuk “social eforcement”, sedangkan masyarakat difungsikan sebagai sistem proses mencapai kesejahteraan umum.
Ada tiga komponen moral dan etika bermasyarakat yang perlu dibina untuk dikembangkan secara berkelanjutan.
1. kesadaran moral.
2. kreativitas dalam reproduksi
3. pengendalian perilaku dalam berproduksi.
Oleh sebab itu, tiga pilar moralitas dan etika tersebut wajib ditanam dibina dan dikembangkan di dalam diri setiap individu melalui pendidikan keluarga, pendidikan sekolah dan pendidikan bermasyarakat. Jika berhasil, maka konflik kepentingan antara paham individualisme dan kolektivisme justru menjadi energi sosial untuk mendorong pertumbuhan kehidupan masyarakat berkeadilan.
Npm: 2153053014
Kelas: 3C
Hasil analisis dari jurnal yang berjudul "Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat:
Suatu Pemikiran Kefilsafatan"
Hubungan antara moral dan etika dapat dirumuskan bahwa moral lebih bersifat abstrak universal, sedangkan etika lebih bersifat konkret khusus. Norma moral adalah aturan tentang bagaimana manusia harus hidup supaya menjadi baik sebagai manusia. Tanpa masyarakat, individu tidak mungkin ada dan bisa mengembangkan diri. Individu lahir dari masyarakat dan masyarakat terbentuk dari individu. Jadi, individualisme menjadi berbahaya bagi kehidupan masyarakat ketika potensinya tidak terserap bagi kepentingan sosial. Menurut keberadaannya, sifat hakikat manusia adalah sebagai makhluk individu yang memasyarakat dan makhluk sosial yang mengindividu.
Kehidupan bermasyarakat adalah suatu sistem manajemen untuk mengorganisir kemampuan individual menjadi sebuah kekuatan sosial, agar kemudian tujuan bersama seluruh individu anggotanya dapat terwujud. Secara langsung atau tidak langsung, moralitas dan etika hanya bisa berlaku secara sempurna di dalam kehidupan bermasyarakat. kesadaran moral juga berfungsi sebagai pengendali perilaku, sedemikian rupa sehingga seseorang mampu berperilaku jujur menurut moralitas bersyukur, bersabar dan berikhlas. kesadaran moral memiliki kekuatan memposisikan dan memfungsikan segala potensi
individual untuk “social eforcement”, sedangkan masyarakat difungsikan sebagai sistem proses mencapai kesejahteraan umum.
Ada tiga komponen moral dan etika bermasyarakat yang perlu dibina untuk dikembangkan secara berkelanjutan.
1. kesadaran moral.
2. kreativitas dalam reproduksi
3. pengendalian perilaku dalam berproduksi.
Oleh sebab itu, tiga pilar moralitas dan etika tersebut wajib ditanam dibina dan dikembangkan di dalam diri setiap individu melalui pendidikan keluarga, pendidikan sekolah dan pendidikan bermasyarakat. Jika berhasil, maka konflik kepentingan antara paham individualisme dan kolektivisme justru menjadi energi sosial untuk mendorong pertumbuhan kehidupan masyarakat berkeadilan.
Nama: Ika Sae fitri
NPM: 2113053099
Kelas: 3C
NPM: 2113053099
Kelas: 3C
Konflik dua paham sosial antara individualisme dan kolektivisme tidak perlu dibenturkan, tetapi justru perlu dikelola menurut nilai-nilai moral dan etika, sehingga menjadi kekuatan sosial bagi kehidupan bermasyarakat. Menurut sudut pandang manajemen pendidikan, ada dua pilihan yaitu apakah dengan sistem yang menyeragamkan atau justru membina kebebasan untuk mengembangkan
berbagai kreativitas individual.
Terdapat tiga komponen moral dan etika bermasyarakat yang perlu dibina untuk dikembangkan secara berkelanjutan. Pertama, kesadaran moral. Fakta membuktikan bahwa potensi individual
bersifat terbatas. Padahal eksistensi kehidupan manusia terarah pada suatu tujuan. Untuk mencapai tujuan tersebut, manusia wajib mempertahankan dan mengembangkan eksistensi kehidupannya itu. Atas keterbatasannya itu, mendorong munculnya suatu kesadaran moral setiap
individu untuk membangun kehidupan bermasyarakat. Sadar akan segala keterbatasannya, mereka memadukan keberagaman potensi individual yang mereka miliki dalam bentuk sistem
kerja-sama, sehingga menjadi satu kekuatan sosial untu k mencapai tujuan kesejahteraan umum.
Adapun kesejahteraan umum bukan hanya berlaku secara kolektif saja, melainkan juga bagi seluruh individu anggotanya.
kesadaran moral mendorong terbentuknya suatu keterikatan sosial dalam bentuk kerja
sama dalam kehidupan bermasyarakat. Atas kesadaran moral itulah kemudian berfungsi menjadi satu wawasan bagi seluruh individu dalam bermasyarakat. Kedua, kreativitas dalam reproduksi.
Wawasan sosial tersebut, selanjutnya mendorong kehidupan bermasyarakat untuk meningkatkan kreativitas dan produktivitas. Kreativitas kehidupan suatu masyarakat sangat ditentukan oleh lapisan sosial golongan tengah (middle class). Golongan ini adalah kaum intelektual yang
berkompeten dalam teori dan sistem pemberdayaan IPTEK. Atas kompetensinya itu, mereka bersinergi dalam berkreativitas untuk meningkatkan produksi pangan, sandang, papan, dan alat perlengkapan hidup lainnya.
kesadaran moral yang kuat mendorong kreativitas untuk berproduksi secara terkendali menurut norma-norma etika ke arah terbentuknya kehidupan masyarakat berkeadilan. Oleh sebab itu, tiga pilar moralitas dan etika tersebut wajib ditanam dibina dan dikembangkan di dalam diri
setiap individu melalui pendidikan keluarga, pendidikan sekolah dan pendidikan bermasyarakat. Jika berhasil, maka konflik kepentingan antara paham individualisme dan kolektivisme justru menjadi energi sosial untuk mendorong pertumbuhan kehidupan masyarakat berkeadilan. Di
dalam masyarakat berkeadilan, setiap individu mendapat keleluasaan berdinamika untuk mengoptimalkan potensi dirinya menjadi seorang individu berkepribadian ideal. Sebaliknya, dengan demikian otomatis masyarakat menemukan jati dirinya yaitu sebagai suatu sistem manajemen sosial.
Nama : Miftahu Rahman
NPM : 2113053092
Kelas : 3C
analisi jurnal 1 berjudul "Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat Suatu Pemikiran Kefilsafatan" ada dua jenis konflik kepentingan yaitu antara kepentingan umum keseluruhan masyarakat dan kepenti ngan khusus bagi setiap individu Ketika kepentingan umum tidak menyerap keberagaman tuntutan individual dan ketika kepentingan individual mengganggu kepentingan umum, maka pasti terjadi konflik Misalnya, pembebasan tanah warga untuk pelebaran jalan akan mengakibatkan konflik antara kepentingan individual dan masyarakat keseluruhan, jika hak warga atas tanah itu dirampas begitu saja Kini, tradisi konflik antara kepentingan individu dan masya rakat melemah dan bahkan cenderung tidak muncul ke permukaan Sedangkan yang muncul adalah konflik antar individu atau grup untuk mendapatkan kekuasaan dalam pemerintahan Egoisme individual menjadi watak para penguasa Kalau tradisi konflik kepentingan individu dan masyarakat justru "menggairahkan" kehidupan bermasyarakat, maka gairah itu kini berubah menjadi sebuah kesibukan yang menghabiskan energi untuk memerangi para koruptor Padahal, jika para penguasa memiliki komitmen moral dan etika yang kuat, maka mengelola tradisi konflik kepentingan, justru memberi keuntungan bagi seluruh individu dan masyarakat dan otomatis bagi para pemimpin Karena di dalam diri individu terdapat potensi sosial dan di dalam masyarakat terdapat potensi individual Jadi, paradigma konflik sosial antara dua kepentingan menjadi lebih rumit Potensi individual yang terkandung di dalam individualisme berubah menjadi negatif berupa keserakahan Terlebih moral negatif keserakahan itu menjadi watak para pemimpin dan pejabat pemerintahan Potensi kesatuan yang terkandung di dalam kolektivisme terpendam begitu dalam, sehingga semangat kebersamaan tidak muncul ke permukaan Bertitik tolak dari hal tersebut di atas, pemikiran ini mencoba mencari kejelasan kembali tentang hakikat manusia dan masyarakatnya, agar kemudian bisa menilai kelayakan konflik antara individualisme dan kolektivisme di dalam kehidupan bermasyarakat Menurut filsafat moral (etika).
masyarakat adalah suatu sistem komunikasi sosial antar individu untuk mencapai tujuan bersama Maka konflik antara kepentingan individual (individualisme) dan kepentingan ko lektif (kolektivisme) justru menjadi potensi bagi eksistensi masyarakat. Oleh sebab itu, kunci persoalannya terletak pada sejauh mana kesadaran moral dan etika menjadi watak perilaku setiap individu Jika kesadaran moral terbingkai dalam sistem norma-norma perilaku sosial (etika), maka kedua kepentingan akan terselenggara secara berkeadilan Metoda analisa dan sintesa digunakan dalam pemikiran ini Misalnya analisis obyek tentang kepentingan individual, menghasilkan ragam jenis, dan bentuk Obyek manusia dan masyarakatnya adalah masalah perilaku baik individual maupun sosial. Berdasar pada sifat obyek, maka bidang filsafat perilaku (moral) atau etika menjadi model bangunan kerangka pikir Arti Moral dan Etika Dalam Webster's New Collegiate Dictionary dijelaskan bahwa moral berakar dari b ahasa Latin "mos" atau "mores", berarti costum, Sedangkan mengenai etika, ditandaskan b ahwa "etika bukan sumber tambahan moralitas melainkan merupakan filsafat yang merefleksikan ajaran -ajaran moral"Sedangkan moral adalah hal -hal yang mendorong orang untuk melakukan tindakan -tindakan yang baik sebagai kewajiban untuk norma"Dari bentuk hubungan antara moral dan etika dapat dirumuskan bahwa moral lebih bersifat abstrak universal,
NPM : 2113053092
Kelas : 3C
analisi jurnal 1 berjudul "Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat Suatu Pemikiran Kefilsafatan" ada dua jenis konflik kepentingan yaitu antara kepentingan umum keseluruhan masyarakat dan kepenti ngan khusus bagi setiap individu Ketika kepentingan umum tidak menyerap keberagaman tuntutan individual dan ketika kepentingan individual mengganggu kepentingan umum, maka pasti terjadi konflik Misalnya, pembebasan tanah warga untuk pelebaran jalan akan mengakibatkan konflik antara kepentingan individual dan masyarakat keseluruhan, jika hak warga atas tanah itu dirampas begitu saja Kini, tradisi konflik antara kepentingan individu dan masya rakat melemah dan bahkan cenderung tidak muncul ke permukaan Sedangkan yang muncul adalah konflik antar individu atau grup untuk mendapatkan kekuasaan dalam pemerintahan Egoisme individual menjadi watak para penguasa Kalau tradisi konflik kepentingan individu dan masyarakat justru "menggairahkan" kehidupan bermasyarakat, maka gairah itu kini berubah menjadi sebuah kesibukan yang menghabiskan energi untuk memerangi para koruptor Padahal, jika para penguasa memiliki komitmen moral dan etika yang kuat, maka mengelola tradisi konflik kepentingan, justru memberi keuntungan bagi seluruh individu dan masyarakat dan otomatis bagi para pemimpin Karena di dalam diri individu terdapat potensi sosial dan di dalam masyarakat terdapat potensi individual Jadi, paradigma konflik sosial antara dua kepentingan menjadi lebih rumit Potensi individual yang terkandung di dalam individualisme berubah menjadi negatif berupa keserakahan Terlebih moral negatif keserakahan itu menjadi watak para pemimpin dan pejabat pemerintahan Potensi kesatuan yang terkandung di dalam kolektivisme terpendam begitu dalam, sehingga semangat kebersamaan tidak muncul ke permukaan Bertitik tolak dari hal tersebut di atas, pemikiran ini mencoba mencari kejelasan kembali tentang hakikat manusia dan masyarakatnya, agar kemudian bisa menilai kelayakan konflik antara individualisme dan kolektivisme di dalam kehidupan bermasyarakat Menurut filsafat moral (etika).
masyarakat adalah suatu sistem komunikasi sosial antar individu untuk mencapai tujuan bersama Maka konflik antara kepentingan individual (individualisme) dan kepentingan ko lektif (kolektivisme) justru menjadi potensi bagi eksistensi masyarakat. Oleh sebab itu, kunci persoalannya terletak pada sejauh mana kesadaran moral dan etika menjadi watak perilaku setiap individu Jika kesadaran moral terbingkai dalam sistem norma-norma perilaku sosial (etika), maka kedua kepentingan akan terselenggara secara berkeadilan Metoda analisa dan sintesa digunakan dalam pemikiran ini Misalnya analisis obyek tentang kepentingan individual, menghasilkan ragam jenis, dan bentuk Obyek manusia dan masyarakatnya adalah masalah perilaku baik individual maupun sosial. Berdasar pada sifat obyek, maka bidang filsafat perilaku (moral) atau etika menjadi model bangunan kerangka pikir Arti Moral dan Etika Dalam Webster's New Collegiate Dictionary dijelaskan bahwa moral berakar dari b ahasa Latin "mos" atau "mores", berarti costum, Sedangkan mengenai etika, ditandaskan b ahwa "etika bukan sumber tambahan moralitas melainkan merupakan filsafat yang merefleksikan ajaran -ajaran moral"Sedangkan moral adalah hal -hal yang mendorong orang untuk melakukan tindakan -tindakan yang baik sebagai kewajiban untuk norma"Dari bentuk hubungan antara moral dan etika dapat dirumuskan bahwa moral lebih bersifat abstrak universal,
Nama : Resti Umi Melinda
Npm : 2113053058
Kelas : 3C
Izin mengirimkan analisis jurnal 1 yang berjudul Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat: Suatu Pemikiran Kefilsafatan
Dari jurnal tersebut dapat kita ketahu Bersama bahwa Memasuki abad ke-21, kehidupan nyata masyarakat manusia masih tetap diliputi berbagai macam konflik. Secara klasik, ada dua jenis konflik kepentingan yaitu antara kepentingan umum keseluruhan masyarakat dan kepenti ngan khusus bagi setiap individu. Menurut filsafat moral (etika), masya -rakat adalah suatu sistem komunikasi sosial antar individu untuk mencapai tujuan bersama. Maka konflik antara kepentingan individual (individualisme) dan kepentingan ko lektif (kolektivisme) justru menjadi potensi bagi eksistensi masyarakat. Oleh sebab itu, kunci persoalannya terletak pada sejauh mana kesadaran moral dan etika menjadi watak perilaku setiap individu. Jika kesadaran moral terbingkai dalam sistem norma-norma perilaku sosial (etika), maka kedua kepentingan akan terselenggara secara berkeadilan.
kehidupan bermasyarakat adalah suatu si stem manajemen untuk mengorganisir kemampuan individual menjadi sebuah kekuatan sosial, agar kemudian tujuan bersama seluruh individu anggotanya dapat terwujud. Masyarakat bukan hanya tempat berkumpul, melainkan suatu proses sosial di dalam mana setiap ind ividu mendapat ruang gerak untuk melakukan berbagai aksi sosial (social action). Masyarakat memproses seluruh jenis pengertian, perasaan dan perilaku individual dalam jumlah tak terbatas. Maka, muncullah suatu pemikiran bahwa seharusnya kehidupan bermasyar akat itu “berkeadilan”.kesadaran moral juga berfungsi sebagai pengendali perilaku, sedemikian rupa sehingga seseorang mampu berperilaku jujur menurut moralitas bersyukur (ketika memperolehsesuatu), bersabar (ketika mendapat ujian hidup) dan berikhlas (k etika harus kehilangan). Sesungguhnya, kesadaran moral itu selalu ada di dalam diri setiap orang. Hanya saja sering kali terhalang oleh nafsu negatif yang mendorong suatu perbuatan dilakukan. Nafsu adalah baik, tetapi ketika tidak terkontrol oleh akal dan tanpa pertimbangan rasa, maka lalu berubah menjadi kejahatan).
Ada tiga komponen moral dan etika bermasyarakat yang perlu dibina untuk dikembangkan secara berkelanjutan. Pertama, kesadaran moral. kesadaran moral mendorong terbentuknya suatu keterikatan sosial dalam bentuk kerja sama dalam kehidupan bermasyarakat. Atas kesadaran moral itulah kemudian berfungsi menjadi satu wawasan bagi seluruh individu dalam bermasyarakat. Kedua, kreativitas dalam reproduksi. atas potensi kreatifnya itu, kehidupan masyarakat menjadi lebih lebih maju, kreatif, produktif, dan mandiri di masa depan, sehingga, bukan menjadi masyarakat bergantung, melainkan masyarakat otonom yang mampu mengelola kehidupan atas kemampuan sendiri. Ketiga, pengendalian perilaku dalam berproduksi kesadaran moral yang kuat mendorong kreativitas untuk berproduksi secara terkendali menurut norma-norma etika ke arah terbentuknya kehidupan masyarakat berkead ilan. Oleh sebab itu, tiga pilar moralitas dan etika tersebut wajib ditanam dibina dan dikembangkan di dalam diri setiap individu melalui pendidikan keluarga, pendidikan sekolah dan pendidikan bermasyarakat.
Npm : 2113053058
Kelas : 3C
Izin mengirimkan analisis jurnal 1 yang berjudul Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat: Suatu Pemikiran Kefilsafatan
Dari jurnal tersebut dapat kita ketahu Bersama bahwa Memasuki abad ke-21, kehidupan nyata masyarakat manusia masih tetap diliputi berbagai macam konflik. Secara klasik, ada dua jenis konflik kepentingan yaitu antara kepentingan umum keseluruhan masyarakat dan kepenti ngan khusus bagi setiap individu. Menurut filsafat moral (etika), masya -rakat adalah suatu sistem komunikasi sosial antar individu untuk mencapai tujuan bersama. Maka konflik antara kepentingan individual (individualisme) dan kepentingan ko lektif (kolektivisme) justru menjadi potensi bagi eksistensi masyarakat. Oleh sebab itu, kunci persoalannya terletak pada sejauh mana kesadaran moral dan etika menjadi watak perilaku setiap individu. Jika kesadaran moral terbingkai dalam sistem norma-norma perilaku sosial (etika), maka kedua kepentingan akan terselenggara secara berkeadilan.
kehidupan bermasyarakat adalah suatu si stem manajemen untuk mengorganisir kemampuan individual menjadi sebuah kekuatan sosial, agar kemudian tujuan bersama seluruh individu anggotanya dapat terwujud. Masyarakat bukan hanya tempat berkumpul, melainkan suatu proses sosial di dalam mana setiap ind ividu mendapat ruang gerak untuk melakukan berbagai aksi sosial (social action). Masyarakat memproses seluruh jenis pengertian, perasaan dan perilaku individual dalam jumlah tak terbatas. Maka, muncullah suatu pemikiran bahwa seharusnya kehidupan bermasyar akat itu “berkeadilan”.kesadaran moral juga berfungsi sebagai pengendali perilaku, sedemikian rupa sehingga seseorang mampu berperilaku jujur menurut moralitas bersyukur (ketika memperolehsesuatu), bersabar (ketika mendapat ujian hidup) dan berikhlas (k etika harus kehilangan). Sesungguhnya, kesadaran moral itu selalu ada di dalam diri setiap orang. Hanya saja sering kali terhalang oleh nafsu negatif yang mendorong suatu perbuatan dilakukan. Nafsu adalah baik, tetapi ketika tidak terkontrol oleh akal dan tanpa pertimbangan rasa, maka lalu berubah menjadi kejahatan).
Ada tiga komponen moral dan etika bermasyarakat yang perlu dibina untuk dikembangkan secara berkelanjutan. Pertama, kesadaran moral. kesadaran moral mendorong terbentuknya suatu keterikatan sosial dalam bentuk kerja sama dalam kehidupan bermasyarakat. Atas kesadaran moral itulah kemudian berfungsi menjadi satu wawasan bagi seluruh individu dalam bermasyarakat. Kedua, kreativitas dalam reproduksi. atas potensi kreatifnya itu, kehidupan masyarakat menjadi lebih lebih maju, kreatif, produktif, dan mandiri di masa depan, sehingga, bukan menjadi masyarakat bergantung, melainkan masyarakat otonom yang mampu mengelola kehidupan atas kemampuan sendiri. Ketiga, pengendalian perilaku dalam berproduksi kesadaran moral yang kuat mendorong kreativitas untuk berproduksi secara terkendali menurut norma-norma etika ke arah terbentuknya kehidupan masyarakat berkead ilan. Oleh sebab itu, tiga pilar moralitas dan etika tersebut wajib ditanam dibina dan dikembangkan di dalam diri setiap individu melalui pendidikan keluarga, pendidikan sekolah dan pendidikan bermasyarakat.
Nama: Diah Widianingsih
NPM: 2113053171
Kelas: 3C
Analisis Jurnal 1 yang berjudul “ Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat: Suatu Pemikiran Kefilsafatan”
Pada abad ke-21 ini banyak sekali konflik-konflik yang terjadi di masyarakat, konflik tersebut misalnya saja konflik antar masyarakat individu dan kelompok. Banyak para penguasa tradisi konflik kepentingan individu dan masyarakat justru sangat menggairahkan kehidupan bermasyarakat hal tersebut berakibat menghabiskan energi untuk memerangi para koruptor.jika para penguasa memiliki komitmen moral dan etika yang kuat, maka mengelola tradisi konflik kepentingan, justru memberi keuntungan bagi seluruh individu dan masyarakat dan otomatis bagi para pemimpin. Karena di dalam diri individu terdapat potensi sosial dan di dalam masyarakat terdapat potensi individual. Tetapi rupanya para pemimpin justru memanfaatkan tradisi konflik sosial itu sebagai alat penyelamatan diri.
Dalam sebuah ilmu filsafat, filsafat sendiri memang terkandung persoalan tentang sistem perilaku ( morality) atau etika. Moralitas sendiri dapat diartikan sebagai dorongan atau semangat batin untuk melakukan perbuatan baik. Etika merupakan filsafat yang merefleksikan ajaran -ajaran moral. Norma moral merupakan sebuah aturan tentang bagaimana manusia harus hidup supaya menjadi baik sebagai manusia. Dalam pandangan filsafat moral atau etika dapat disusun sebuah kerangka pikir bahwa jika di dalam diri setiap individu tertanam kuat dorongan moral untuk berbuat kebaikan, berarti mereka berada dalam satu ikatan moral di dalam dunia kebersamaan. Di dalam satu keterikatan moral, mereka bermasyarakat menurut prinsip etika normatif dalam mencapai tujua n bersama. Jadi tidak perlu terjadi benturan konflik.
Manusia dan masyarakat dalam pandangan filosofis sangat berkaitan karena tanpa adanya masyarakat, individu tidak mungkin ada dan bisa mengembangkan dirinya. Individu lahir dari masyarakat dan masyarakat terbentuk dari individu, itulah mengapa mereka saling berkaitan. apabila dalam sebuah individu terdapat sikap individualisme maka hal tersebut menjadi hambatan bagi kehidupan masyarakat ketika potensinya tidak terserap bagi kepentingan sosial. Kehidupan bermasyarakat adalah sistem manajemen dengan demikian mengatur keterampilan individu menjadi kekuatan sosial
tujuan bersama dari semua anggota individu dapat tercapai. Masyarakat bukan sekedar tempat sebuah pertemuan, melainkan sebuah proses sosial di mana setiap individu memiliki ruang untuk bergerak melakukan kegiatan sosial. Masyarakat memperlakukan semua jenis
jumlah persepsi, perasaan, dan perilaku individu yang tak terbatas. Jadi sesuatu muncul
gagasan bahwa kehidupan sosial harus "adil".
Moralitas dan etika secara tidak langsung sudah melekat pada setiap individu, hanya saja moralitas dan etika tersebut hanya berlaku sempurna jika di dalam masyarakat. moral juga berfungsi sebagai pengendali perilaku, sedemikian rupa sehingga seseorang mampu berperilaku jujur menurut moralitas bersyukur (ketika memperoleh sesuatu), bersabar (ketika mendapat ujian hidup) dan berikhlas (k etika harus kehilangan).
Sejak lahir, manusia menyandang sifat labil. Meski di dalam sifat labil terkandung potensi dinamis, tetapi jika tidak mendapat binaan secara tepat justru bisa merusak kehidupan. Di balik kelabilan itu terlihat jelas bahwa pendidikan menjadi tuntutan kodrat manusia. Manusia siapapun, di manapun berada, sampai kapanpun wajib berpendidikan di dalam menghadapi setiap peri-kehidupannya. Dari sisi pendidikan, dalam kehidupan bermasyarakat terkandung sistem interaksi menyatukan dalam bentuk saling didik -mendidik antara pihak yang satu dengan yang lain untuk mencapai tujuan bersama. Orang yang terdidik memiliki kesadaran tentang dari mana asal mula dan tujuan kehidupan. Berdasar kesadaran itu, manusia harus kreatif dan produktif dalam menjalani kehidupan dan mau bersikap dan berperilaku adil di sepanjang hidupnya. Jadi nilai-nilai moral dan etika perlu ditanamkan di dunia pendidikan dan dikembangkan di dalam kehidupan sosial pada umumnya. Sebagai sistem, masyarakat seharusnya berkharakteristik mendidik agar dinamika sosial berkembang menurut doro ngan moral (hati nurani individual) dan nilai -nilai etika. Karena, dengan jiwa mendidik berarti setiap pihak bermoral belajar, dan hanya dengan belajar suatu kemajuan dapat diraih.
NPM: 2113053171
Kelas: 3C
Analisis Jurnal 1 yang berjudul “ Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat: Suatu Pemikiran Kefilsafatan”
Pada abad ke-21 ini banyak sekali konflik-konflik yang terjadi di masyarakat, konflik tersebut misalnya saja konflik antar masyarakat individu dan kelompok. Banyak para penguasa tradisi konflik kepentingan individu dan masyarakat justru sangat menggairahkan kehidupan bermasyarakat hal tersebut berakibat menghabiskan energi untuk memerangi para koruptor.jika para penguasa memiliki komitmen moral dan etika yang kuat, maka mengelola tradisi konflik kepentingan, justru memberi keuntungan bagi seluruh individu dan masyarakat dan otomatis bagi para pemimpin. Karena di dalam diri individu terdapat potensi sosial dan di dalam masyarakat terdapat potensi individual. Tetapi rupanya para pemimpin justru memanfaatkan tradisi konflik sosial itu sebagai alat penyelamatan diri.
Dalam sebuah ilmu filsafat, filsafat sendiri memang terkandung persoalan tentang sistem perilaku ( morality) atau etika. Moralitas sendiri dapat diartikan sebagai dorongan atau semangat batin untuk melakukan perbuatan baik. Etika merupakan filsafat yang merefleksikan ajaran -ajaran moral. Norma moral merupakan sebuah aturan tentang bagaimana manusia harus hidup supaya menjadi baik sebagai manusia. Dalam pandangan filsafat moral atau etika dapat disusun sebuah kerangka pikir bahwa jika di dalam diri setiap individu tertanam kuat dorongan moral untuk berbuat kebaikan, berarti mereka berada dalam satu ikatan moral di dalam dunia kebersamaan. Di dalam satu keterikatan moral, mereka bermasyarakat menurut prinsip etika normatif dalam mencapai tujua n bersama. Jadi tidak perlu terjadi benturan konflik.
Manusia dan masyarakat dalam pandangan filosofis sangat berkaitan karena tanpa adanya masyarakat, individu tidak mungkin ada dan bisa mengembangkan dirinya. Individu lahir dari masyarakat dan masyarakat terbentuk dari individu, itulah mengapa mereka saling berkaitan. apabila dalam sebuah individu terdapat sikap individualisme maka hal tersebut menjadi hambatan bagi kehidupan masyarakat ketika potensinya tidak terserap bagi kepentingan sosial. Kehidupan bermasyarakat adalah sistem manajemen dengan demikian mengatur keterampilan individu menjadi kekuatan sosial
tujuan bersama dari semua anggota individu dapat tercapai. Masyarakat bukan sekedar tempat sebuah pertemuan, melainkan sebuah proses sosial di mana setiap individu memiliki ruang untuk bergerak melakukan kegiatan sosial. Masyarakat memperlakukan semua jenis
jumlah persepsi, perasaan, dan perilaku individu yang tak terbatas. Jadi sesuatu muncul
gagasan bahwa kehidupan sosial harus "adil".
Moralitas dan etika secara tidak langsung sudah melekat pada setiap individu, hanya saja moralitas dan etika tersebut hanya berlaku sempurna jika di dalam masyarakat. moral juga berfungsi sebagai pengendali perilaku, sedemikian rupa sehingga seseorang mampu berperilaku jujur menurut moralitas bersyukur (ketika memperoleh sesuatu), bersabar (ketika mendapat ujian hidup) dan berikhlas (k etika harus kehilangan).
Sejak lahir, manusia menyandang sifat labil. Meski di dalam sifat labil terkandung potensi dinamis, tetapi jika tidak mendapat binaan secara tepat justru bisa merusak kehidupan. Di balik kelabilan itu terlihat jelas bahwa pendidikan menjadi tuntutan kodrat manusia. Manusia siapapun, di manapun berada, sampai kapanpun wajib berpendidikan di dalam menghadapi setiap peri-kehidupannya. Dari sisi pendidikan, dalam kehidupan bermasyarakat terkandung sistem interaksi menyatukan dalam bentuk saling didik -mendidik antara pihak yang satu dengan yang lain untuk mencapai tujuan bersama. Orang yang terdidik memiliki kesadaran tentang dari mana asal mula dan tujuan kehidupan. Berdasar kesadaran itu, manusia harus kreatif dan produktif dalam menjalani kehidupan dan mau bersikap dan berperilaku adil di sepanjang hidupnya. Jadi nilai-nilai moral dan etika perlu ditanamkan di dunia pendidikan dan dikembangkan di dalam kehidupan sosial pada umumnya. Sebagai sistem, masyarakat seharusnya berkharakteristik mendidik agar dinamika sosial berkembang menurut doro ngan moral (hati nurani individual) dan nilai -nilai etika. Karena, dengan jiwa mendidik berarti setiap pihak bermoral belajar, dan hanya dengan belajar suatu kemajuan dapat diraih.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Nama : Wiranto Oktavian
NPM : 2153053012
Berikut hasil analisis saya dari jurnal diatas pak, terkait tentang Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat Suatu PemikiranKefilsafatan.
Di kehidupan nyata dalam bermasyarakat manusia masih tetap diliputi berbagai macam konflik. Secara klasik, ada dua jenis konflik kepentingan yaitu antara kepentingan umum keseluruhan masyarakat dan kepenti ngan khusus bagi setiap individu. Ketika kepentingan umum
tidak menyerap keberagaman tuntutan individual dan ketika kepentingan individual mengganggu kepentingan umum, maka pasti terjadi konflik. Misalnya, pembebasan tanah warga untuk pelebaran jalan akan mengakibatkan konflik antara kepentingan individual dan masyarakat keseluruhan, jika hak warga atas tanah itu dirampas begitu saja. Konflik dua paham sosial antara individualisme dan kolektivisme tidak perlu dibenturkan, tetapi justru perlu dikelola menurut nilai-nilai moral dan etika, sehingga menjadi kekuatan sosial bagi kehidupan bermasyarakat.
pemikiran filosofis tentang manusia, pada umumnya pandangan “Timur”
menitikberatkan sifat hakikat manusia sebagai makhluk sosial. Ki Ageng Suryomentaram (1974) misalnya, berpendapat bahwa: “manusia termasuk jenis yang cara hidupnya berkelompok, jadi
serupa dengan jenis lebah. Dalam kelompok, orang saling memberi dan mengambil kefaedahan masing-masing. Tindakan tersebut dinamakan gotong -royong atau kemasyarakatan
Berikut 3 komponen moral dan etika bermasyarakat yang perlu dibina untuk dikembangkan
secara berkelanjutan:
1). kesadaran moral.
2). kreativitas dalam reproduksi.
3). pengendalian perilaku dalam berproduksi.
Sekian terimakasih.
Nama : Wiranto Oktavian
NPM : 2153053012
Berikut hasil analisis saya dari jurnal diatas pak, terkait tentang Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat Suatu PemikiranKefilsafatan.
Di kehidupan nyata dalam bermasyarakat manusia masih tetap diliputi berbagai macam konflik. Secara klasik, ada dua jenis konflik kepentingan yaitu antara kepentingan umum keseluruhan masyarakat dan kepenti ngan khusus bagi setiap individu. Ketika kepentingan umum
tidak menyerap keberagaman tuntutan individual dan ketika kepentingan individual mengganggu kepentingan umum, maka pasti terjadi konflik. Misalnya, pembebasan tanah warga untuk pelebaran jalan akan mengakibatkan konflik antara kepentingan individual dan masyarakat keseluruhan, jika hak warga atas tanah itu dirampas begitu saja. Konflik dua paham sosial antara individualisme dan kolektivisme tidak perlu dibenturkan, tetapi justru perlu dikelola menurut nilai-nilai moral dan etika, sehingga menjadi kekuatan sosial bagi kehidupan bermasyarakat.
pemikiran filosofis tentang manusia, pada umumnya pandangan “Timur”
menitikberatkan sifat hakikat manusia sebagai makhluk sosial. Ki Ageng Suryomentaram (1974) misalnya, berpendapat bahwa: “manusia termasuk jenis yang cara hidupnya berkelompok, jadi
serupa dengan jenis lebah. Dalam kelompok, orang saling memberi dan mengambil kefaedahan masing-masing. Tindakan tersebut dinamakan gotong -royong atau kemasyarakatan
Berikut 3 komponen moral dan etika bermasyarakat yang perlu dibina untuk dikembangkan
secara berkelanjutan:
1). kesadaran moral.
2). kreativitas dalam reproduksi.
3). pengendalian perilaku dalam berproduksi.
Sekian terimakasih.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat pagi bapak roy kembar habibie, M.Pd.
Izin menyampaikan analisis terkait jurnal 1 mengenai "KESADARAN MORAL KEHIDUPAN BERMASYARAKAT : SUATU PEMIKIRAN KEFILSAFATAN."
Nama : Annisa Salsabina Rahmadhani
NPM : 2113053014
Kelas : 3C
- Arti filsafat, yakni Secara etimologis, istilah filsafat berakar dari bahasa Yunani “philo sophia”, tersusun dari kata - kata ‘philein’ atau ‘philia’ yang berarti cinta, dan “sophia” yang berarti kearifan (Suhartono, 2005). Jadi, istilah filsafat berarti cinta kearifan. Pada dasarnya dalam ungkapan cinta dan kearifan terkandung suatu pengetahuan mendalam (hakikat).
- Arti moral dan etika, yakni Menurut Franz Magnis Suseno (1991), “ajaran moral memuat pandangan-pandangan nilai- nilai dan norma-norma moral yang terdapat di antara sekelompok manusia. Norma moral adalah aturan tentang bagaimana manusia harus hidup supaya menjadi baik sebagai manusia”. Sedangkan mengenai etika, ditandaskan bahwa “etika bukan sumber tambahan moralitas melainkan merupakan filsafat yang merefleksikan ajaran -ajaran moral”. Lebih lanjut, ditekankan bahwa “etika mempersoalkan tentang mengapa kita harus mengikuti moralitas tertentu, bagaimana kita dapat mengambil sikap yang bertanggung-jawab berhadapan dengan berbagi moralitas”.
- pemikiran filosofis tentang manusia, pada umumnya pandangan “Timur” menitikberatkan sifat hakikat manusia sebagai makhluk sosial. Ki Ageng Suryomentaram (1974) misalnya, berpendapat bahwa: “manusia termasuk jenis yang cara hidupnya berkelompok, jadi serupa dengan jenis lebah. Dalam kelompok, orang saling memberi dan mengambil kefaedahan masing-masing.
- moralitas dan etika hanya bisa berlaku secara sempurna di dalam kehidupan bermasyarakat. Orang yang hidup dengan mengisolir diri di tengah hutan, seolah-olah tidak memerlukan moral dan etika. Tetapi ketika mulai memanfaatkan sumber daya hutan, apalagi jka cara pemanfaatannya cenderung merusak, maka perilakunya sudah masuk ke dalam lingkup moral dan etika.
Konflik dua paham sosial antara individualisme dan kolektivisme tidak perlu dibenturkan, tetapi justru perlu dikelola menurut nilai-nilai moral dan etika, sehingga menjadi kekuatan sosial bagi kehidupan bermasyarakat. Menurut sudut pandang manajemen pendid ikan, ada dua pilihan yaitu apakah dengan sistem menyeragamkan atau justru membina kebebasan untuk mengembangkan berbagai kreativitas individual. Jika penyeragaman dipilih, maka potensi kreativitas individual sebagai hak individu bisa terancam tidak berkembang.
Di era teknologi komunikasi ini, komunikasi individual semakin mengglobal. Kemajuan ekonomi material negara-negara maju, membuat silau orang-orang yang hidup di negara-negara berkembang. Mereka terstimuli untuk bisa berkehidupan dengan kelimpahan harta dalam waktu sesingkat mungkin. Sementara itu, karena kualitas pendidikannya, mereka belum memiliki potensi kreatif untuk menghasilkan kelimpahan ekonomi material. Dalam hal ini moral dan etika sangatlah penting serta kesadaran moral mendorong terbentuknya suatu keterikatan sosial dalam bentuk kerja sama dalam kehidupan bermasyarakat.
Atas kesadaran moral itulah kemudian berfungsi menjadi satu wawasan bagi seluruh individu dalam bermasyarakat. Kedua, kreativitas dalam reproduksi. Wawasan sosial tersebut, selanjutnya mendorong kehidupan bermasyarakat untuk meningk atkan kreativitas dan produktivitas. Kreativitas kehidupan suatu masyarakat sangat ditentukan oleh lapisan sosial golongan tengah (middle class). Golongan ini adalah kaum intelektual yang berkompeten dalam teori dan sistem pemberdayaan IPTEK. Atas kompeten sinya itu, mereka bersinergi dalam berkreativitas untuk meningkatkan produksi pangan, sandang, papan, dan alat perlengkapan hidup lainnya.
Izin menyampaikan analisis terkait jurnal 1 mengenai "KESADARAN MORAL KEHIDUPAN BERMASYARAKAT : SUATU PEMIKIRAN KEFILSAFATAN."
Nama : Annisa Salsabina Rahmadhani
NPM : 2113053014
Kelas : 3C
- Arti filsafat, yakni Secara etimologis, istilah filsafat berakar dari bahasa Yunani “philo sophia”, tersusun dari kata - kata ‘philein’ atau ‘philia’ yang berarti cinta, dan “sophia” yang berarti kearifan (Suhartono, 2005). Jadi, istilah filsafat berarti cinta kearifan. Pada dasarnya dalam ungkapan cinta dan kearifan terkandung suatu pengetahuan mendalam (hakikat).
- Arti moral dan etika, yakni Menurut Franz Magnis Suseno (1991), “ajaran moral memuat pandangan-pandangan nilai- nilai dan norma-norma moral yang terdapat di antara sekelompok manusia. Norma moral adalah aturan tentang bagaimana manusia harus hidup supaya menjadi baik sebagai manusia”. Sedangkan mengenai etika, ditandaskan bahwa “etika bukan sumber tambahan moralitas melainkan merupakan filsafat yang merefleksikan ajaran -ajaran moral”. Lebih lanjut, ditekankan bahwa “etika mempersoalkan tentang mengapa kita harus mengikuti moralitas tertentu, bagaimana kita dapat mengambil sikap yang bertanggung-jawab berhadapan dengan berbagi moralitas”.
- pemikiran filosofis tentang manusia, pada umumnya pandangan “Timur” menitikberatkan sifat hakikat manusia sebagai makhluk sosial. Ki Ageng Suryomentaram (1974) misalnya, berpendapat bahwa: “manusia termasuk jenis yang cara hidupnya berkelompok, jadi serupa dengan jenis lebah. Dalam kelompok, orang saling memberi dan mengambil kefaedahan masing-masing.
- moralitas dan etika hanya bisa berlaku secara sempurna di dalam kehidupan bermasyarakat. Orang yang hidup dengan mengisolir diri di tengah hutan, seolah-olah tidak memerlukan moral dan etika. Tetapi ketika mulai memanfaatkan sumber daya hutan, apalagi jka cara pemanfaatannya cenderung merusak, maka perilakunya sudah masuk ke dalam lingkup moral dan etika.
Konflik dua paham sosial antara individualisme dan kolektivisme tidak perlu dibenturkan, tetapi justru perlu dikelola menurut nilai-nilai moral dan etika, sehingga menjadi kekuatan sosial bagi kehidupan bermasyarakat. Menurut sudut pandang manajemen pendid ikan, ada dua pilihan yaitu apakah dengan sistem menyeragamkan atau justru membina kebebasan untuk mengembangkan berbagai kreativitas individual. Jika penyeragaman dipilih, maka potensi kreativitas individual sebagai hak individu bisa terancam tidak berkembang.
Di era teknologi komunikasi ini, komunikasi individual semakin mengglobal. Kemajuan ekonomi material negara-negara maju, membuat silau orang-orang yang hidup di negara-negara berkembang. Mereka terstimuli untuk bisa berkehidupan dengan kelimpahan harta dalam waktu sesingkat mungkin. Sementara itu, karena kualitas pendidikannya, mereka belum memiliki potensi kreatif untuk menghasilkan kelimpahan ekonomi material. Dalam hal ini moral dan etika sangatlah penting serta kesadaran moral mendorong terbentuknya suatu keterikatan sosial dalam bentuk kerja sama dalam kehidupan bermasyarakat.
Atas kesadaran moral itulah kemudian berfungsi menjadi satu wawasan bagi seluruh individu dalam bermasyarakat. Kedua, kreativitas dalam reproduksi. Wawasan sosial tersebut, selanjutnya mendorong kehidupan bermasyarakat untuk meningk atkan kreativitas dan produktivitas. Kreativitas kehidupan suatu masyarakat sangat ditentukan oleh lapisan sosial golongan tengah (middle class). Golongan ini adalah kaum intelektual yang berkompeten dalam teori dan sistem pemberdayaan IPTEK. Atas kompeten sinya itu, mereka bersinergi dalam berkreativitas untuk meningkatkan produksi pangan, sandang, papan, dan alat perlengkapan hidup lainnya.
Nama : Farida Julia Saputri
NPM : 2113053073
Kelas : 3C
Analisis Jurnal
Berdasarkan hasil analisis jurnal yang berjudul “Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat: Suatu Pemikiran Kefilsafatan”. Oleh Suparlan Suhartono.” Menjelaskan bahwa terdapat tiga komponen moral dan etika bermasyarakat yang perlu dibina untuk dikembangkan secara berkelanjutan.
A. Kesadaran moral. Untuk mencapai tujuan tersebut, manusia wajib mempertahankan dan mengembangkan eksistensi kehidupannya itu. Sadar akan segala keterbatasannya, mereka memadukan keberagaman potensi individual yang mereka miliki dalam bentuk sistem kerja-sama, sehingga menjadi satu kekuatan sosial untuk mencapai tujuan kesejahteraan umum.
B. Kreativitas dalam reproduksi. Kreativitas kehidupan suatu masyarakat sangat ditentukan oleh lapisan sosial golongan tengah (middle class). Golongan ini adalah kaum intelektual yang berkompeten dalam teori dan sistem pemberdayaan IPTEK.
C. Pengendalian perilaku dalam berproduksi. Untuk itu, di dalam kehidupan bermasyarakat baik pada taraf individual maupun kelembagaan sosial secara moral dan etika bertanggung jawab atas perilaku berproduksi. Secara moral dan etika, tujuan meningkatkan produktivitas tidak ada lain kecuali untuk mewujudkan kesejahteraan umum bagi totalitas kemasyarakatan. Bukan berproduksi dengan cara menguras habis sumber daya alam, tetapi menurut azas keadilan ( renewable). Oleh sebab itu, tiga pilar moralitas dan etika tersebut wajib ditanam dibina dan dikembangkan di dalam diri setiap individu melalui pendidikan keluarga, pendidikan sekolah dan pendidikan bermasyarakat. Jika berhasil, maka konflik kepentingan antara paham individualisme dan kolektivisme justru menjadi energi sosial untuk mendorong pertumbuhan kehidupan masyarakat.
NPM : 2113053073
Kelas : 3C
Analisis Jurnal
Berdasarkan hasil analisis jurnal yang berjudul “Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat: Suatu Pemikiran Kefilsafatan”. Oleh Suparlan Suhartono.” Menjelaskan bahwa terdapat tiga komponen moral dan etika bermasyarakat yang perlu dibina untuk dikembangkan secara berkelanjutan.
A. Kesadaran moral. Untuk mencapai tujuan tersebut, manusia wajib mempertahankan dan mengembangkan eksistensi kehidupannya itu. Sadar akan segala keterbatasannya, mereka memadukan keberagaman potensi individual yang mereka miliki dalam bentuk sistem kerja-sama, sehingga menjadi satu kekuatan sosial untuk mencapai tujuan kesejahteraan umum.
B. Kreativitas dalam reproduksi. Kreativitas kehidupan suatu masyarakat sangat ditentukan oleh lapisan sosial golongan tengah (middle class). Golongan ini adalah kaum intelektual yang berkompeten dalam teori dan sistem pemberdayaan IPTEK.
C. Pengendalian perilaku dalam berproduksi. Untuk itu, di dalam kehidupan bermasyarakat baik pada taraf individual maupun kelembagaan sosial secara moral dan etika bertanggung jawab atas perilaku berproduksi. Secara moral dan etika, tujuan meningkatkan produktivitas tidak ada lain kecuali untuk mewujudkan kesejahteraan umum bagi totalitas kemasyarakatan. Bukan berproduksi dengan cara menguras habis sumber daya alam, tetapi menurut azas keadilan ( renewable). Oleh sebab itu, tiga pilar moralitas dan etika tersebut wajib ditanam dibina dan dikembangkan di dalam diri setiap individu melalui pendidikan keluarga, pendidikan sekolah dan pendidikan bermasyarakat. Jika berhasil, maka konflik kepentingan antara paham individualisme dan kolektivisme justru menjadi energi sosial untuk mendorong pertumbuhan kehidupan masyarakat.
Nama: Adelbertus Gading Ananta Putra
Npm: 2113053023
Izin memberikan analisis jurnal mengenai “Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat: Suatu Pemikiran Kefilsafatan”
Ada tiga komponen sosial dan etika yang harus dibina secara berkelanjutan.
Pertama, kesadaran moral. Realitas membuktikan bahwa potensi individu itu terbatas. Sedangkan keberadaan hidup manusia bertujuan. Untuk mencapai tujuan tersebut, manusia harus memelihara dan mengembangkan keberadaannya kehidupan itu. Karena keterbatasan tersebut, mendorong munculnya kesadaran moral individu untuk membangun kehidupan masyarakat. Sadar akan segala keterbatasannya, mereka memadukan ragam potensi individu yang dimilikinya dalam bentuk sistem kerjasama, sehingga menjadi kekuatan sosial bagi tercapainya tujuan kesejahteraan serta kemaslahatan bersama. Kesejahteraan umum berlaku tidak hanya untuk kolektif tetapi juga untuk semua anggota individu. Dengan demikian, kesadaran moral mendorong terbentuknya kohesi sosial berupa kerjasama dalam kehidupan bermasyarakat. Kesadaran moral inilah yang kemudian berperan sebagai gambaran bagi seluruh individu dalam hidup bermasyarakat.
Kedua, kreativitas dalam reproduksi. Wawasan sosial ini mendorong kehidupan yang lebih sosial untuk meningkatkan kreativitas dan produktivitas. Penciptaan kehidupan masyarakat sangat ditentukan oleh kelas sosial kelas menengah. Kelompok ini mencakup para intelektual yang menguasai teori dan sistem pemberdayaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Berdasarkan keterampilan ini, mereka secara kreatif bekerja sama untuk meningkatkan produksi makanan, pakaian, tempat tinggal, dan peralatan hidup lainnya. Dengan demikian, berdasarkan potensi kreatif tersebut, kehidupan manusia di masa mendatang akan semakin maju, kreatif, produktif dan mandiri, tidak menjadi masyarakat yang tergantung tetapi masyarakat yang otonom, yang mampu mengatur kehidupannya sendiri.
Ketiga, mengontrol perilaku dalam produksi. Teknologi dan industri memiliki kekuatan untuk berlipat ganda dalam produksi, tetapi harus diingat bahwa fitur produksi tersebut memiliki dampak eksplorasi dan eksploitatif terhadap sumber daya alam, sehingga ekosistem dapat terancam. Untuk itu, dalam kehidupan sosial, baik pada tataran sosial individu maupun institusional, secara moral dan etis bertanggung jawab atas perilaku produktif. Secara moral dan etis, tujuan peningkatan produktivitas tidak lain adalah tercapainya kesejahteraan umum masyarakat secara keseluruhan. Tidak berproduksi dengan menghabiskan sumber daya alam, tetapi berdasarkan prinsip keadilan (terbarukan). Oleh karena itu, kesadaran moral yang kuat mendorong kreativitas untuk berproduksi secara terkendali sesuai standar etika guna membentuk masyarakat yang berkeadilan. Oleh karena itu, tiga pilar moralitas dan etika harus ditanamkan dan dikembangkan dalam diri setiap individu melalui pendidikan keluarga, pendidikan sekolah, dan pendidikan masyarakat. Jika berhasil, konflik kepentingan antara individualisme dan kolektivisme justru akan menjadi energi sosial untuk mendorong pembangunan masyarakat yang berkeadilan.
Npm: 2113053023
Izin memberikan analisis jurnal mengenai “Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat: Suatu Pemikiran Kefilsafatan”
Ada tiga komponen sosial dan etika yang harus dibina secara berkelanjutan.
Pertama, kesadaran moral. Realitas membuktikan bahwa potensi individu itu terbatas. Sedangkan keberadaan hidup manusia bertujuan. Untuk mencapai tujuan tersebut, manusia harus memelihara dan mengembangkan keberadaannya kehidupan itu. Karena keterbatasan tersebut, mendorong munculnya kesadaran moral individu untuk membangun kehidupan masyarakat. Sadar akan segala keterbatasannya, mereka memadukan ragam potensi individu yang dimilikinya dalam bentuk sistem kerjasama, sehingga menjadi kekuatan sosial bagi tercapainya tujuan kesejahteraan serta kemaslahatan bersama. Kesejahteraan umum berlaku tidak hanya untuk kolektif tetapi juga untuk semua anggota individu. Dengan demikian, kesadaran moral mendorong terbentuknya kohesi sosial berupa kerjasama dalam kehidupan bermasyarakat. Kesadaran moral inilah yang kemudian berperan sebagai gambaran bagi seluruh individu dalam hidup bermasyarakat.
Kedua, kreativitas dalam reproduksi. Wawasan sosial ini mendorong kehidupan yang lebih sosial untuk meningkatkan kreativitas dan produktivitas. Penciptaan kehidupan masyarakat sangat ditentukan oleh kelas sosial kelas menengah. Kelompok ini mencakup para intelektual yang menguasai teori dan sistem pemberdayaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Berdasarkan keterampilan ini, mereka secara kreatif bekerja sama untuk meningkatkan produksi makanan, pakaian, tempat tinggal, dan peralatan hidup lainnya. Dengan demikian, berdasarkan potensi kreatif tersebut, kehidupan manusia di masa mendatang akan semakin maju, kreatif, produktif dan mandiri, tidak menjadi masyarakat yang tergantung tetapi masyarakat yang otonom, yang mampu mengatur kehidupannya sendiri.
Ketiga, mengontrol perilaku dalam produksi. Teknologi dan industri memiliki kekuatan untuk berlipat ganda dalam produksi, tetapi harus diingat bahwa fitur produksi tersebut memiliki dampak eksplorasi dan eksploitatif terhadap sumber daya alam, sehingga ekosistem dapat terancam. Untuk itu, dalam kehidupan sosial, baik pada tataran sosial individu maupun institusional, secara moral dan etis bertanggung jawab atas perilaku produktif. Secara moral dan etis, tujuan peningkatan produktivitas tidak lain adalah tercapainya kesejahteraan umum masyarakat secara keseluruhan. Tidak berproduksi dengan menghabiskan sumber daya alam, tetapi berdasarkan prinsip keadilan (terbarukan). Oleh karena itu, kesadaran moral yang kuat mendorong kreativitas untuk berproduksi secara terkendali sesuai standar etika guna membentuk masyarakat yang berkeadilan. Oleh karena itu, tiga pilar moralitas dan etika harus ditanamkan dan dikembangkan dalam diri setiap individu melalui pendidikan keluarga, pendidikan sekolah, dan pendidikan masyarakat. Jika berhasil, konflik kepentingan antara individualisme dan kolektivisme justru akan menjadi energi sosial untuk mendorong pembangunan masyarakat yang berkeadilan.
Nama: Dwi Oktavianingsih
NPM: 2113053208
Kelas: 3C
Analisis Jurnal 1 "Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat: Suatu Pemikiran Kefilsafatan"
Pada abad ke-21 kehidupan manusia mengalami perkembangan yang sangat signifikan dengan munculnya berbagai teknologi canggih dan segala kemudahan yang tersedia, namun di samping itu terdapat berbagai macam konflik yang muncul. Secara klasik ada dua jenis konflik kepentingan yang pertama kepentingan umum keseluruhan masyarakat dan kepentingan khusus bagi setiap individu. Dimana ketika kepentingan umum tidak menyerap keberagaman tuntutan individual dan ketika kepentingan individual mengganggu kepentingan umum karena inilah yang kemudian menyebabkan konflik. Dari sudut pandang manajemen pendidikan ada dua pilihan untuk meminimalisir kedua konflik tersebut yaitu seperti apakah dengan sistem penyeragaman atau dengan sistem pembinaan kebebasan untuk mengembangkan berbagai kreativitas individual. Apabila memilih penyeragaman maka profesi kreativitas individual sebagai hak milik individu bisa terancam tidak bisa berkembang, namun berbeda dengan apabila kita memilih pembebasan maka kemapanan sosial sebagai hak masyarakat bisa goyah.
Ada tiga komponen moral dan etika bermasyarakat yang harus dibina untuk dikembangkan secara berkelanjutan.
Yang pertama kesadaran moral yang mendorong terbentuknya suatu keterikatan sosial dalam bentuk kerjasama dalam kehidupan bermasyarakat. Atas kesadaran moral itulah kemudian berfungsi menjadi satu wawasan bagi seluruh individu dalam masyarakat. Kedua kreativitas dalam reproduksi, yang mendorong kehidupan bermasyarakat untuk meningkatkan kreativitas dan produktivitas yang di mana kreativitas kehidupan masyarakat ini ditentukan oleh lapisan sosial golongan tengah (kaum intelektual) . Atas potensi kreatifnya ini kehidupan bermasyarakat menjadi lebih, kreatif, produktif dan mandiri yang kemudian dimasa depan masyarakat tidak bergantung lagi melainkan menjadi masyarakat otonom yang mampu mengelola kehidupan atas kemampuan sendiri. Ketiga yaitu pengendalian perilaku dalam berproduksi, dengan pengendalian perilaku dalam berproduksi diharapkan mampu meminimalisir eksploratif dan eksploitatif terhadap sumber daya alam, sehingga ekosistem dapat terjaga dan seimbang. Jadi dapat disimpulkan bahwa kesadaran moral yang kuat ini yang mendorong kreativitas untuk berproduksi secara terkendali menurut norma-norma etika ke arah kehidupan masyarakat yang berkeadilan.
Oleh karena itu muncul tiga pilar etika dan moralitas yang wajib ditanamkan dan dibina serta dikembangkan dalam diri setiap individu melalui pendidikan keluarga, pendidikan sekolah dan pendidikan dalam masyarakat. Apabila penanaman tiga pilar moralitas dan etika ini berhasil maka konflik kepentingan antara paham individualisme dan kolektivisme maka akan menjadi energi sosial untuk mendorong pertumbuhan kehidupan masyarakat yang berkeadilan. Dalam masyarakat berkeadilan setiap individu ini memiliki keleluasaan dalam mengoptimalkan potensi dirinya menjadi seorang individu berkepribadian ideal sehingga otomatis masyarakat menemukan jati dirinya yaitu sebagai suatu sistem manajemen sosial.
NPM: 2113053208
Kelas: 3C
Analisis Jurnal 1 "Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat: Suatu Pemikiran Kefilsafatan"
Pada abad ke-21 kehidupan manusia mengalami perkembangan yang sangat signifikan dengan munculnya berbagai teknologi canggih dan segala kemudahan yang tersedia, namun di samping itu terdapat berbagai macam konflik yang muncul. Secara klasik ada dua jenis konflik kepentingan yang pertama kepentingan umum keseluruhan masyarakat dan kepentingan khusus bagi setiap individu. Dimana ketika kepentingan umum tidak menyerap keberagaman tuntutan individual dan ketika kepentingan individual mengganggu kepentingan umum karena inilah yang kemudian menyebabkan konflik. Dari sudut pandang manajemen pendidikan ada dua pilihan untuk meminimalisir kedua konflik tersebut yaitu seperti apakah dengan sistem penyeragaman atau dengan sistem pembinaan kebebasan untuk mengembangkan berbagai kreativitas individual. Apabila memilih penyeragaman maka profesi kreativitas individual sebagai hak milik individu bisa terancam tidak bisa berkembang, namun berbeda dengan apabila kita memilih pembebasan maka kemapanan sosial sebagai hak masyarakat bisa goyah.
Ada tiga komponen moral dan etika bermasyarakat yang harus dibina untuk dikembangkan secara berkelanjutan.
Yang pertama kesadaran moral yang mendorong terbentuknya suatu keterikatan sosial dalam bentuk kerjasama dalam kehidupan bermasyarakat. Atas kesadaran moral itulah kemudian berfungsi menjadi satu wawasan bagi seluruh individu dalam masyarakat. Kedua kreativitas dalam reproduksi, yang mendorong kehidupan bermasyarakat untuk meningkatkan kreativitas dan produktivitas yang di mana kreativitas kehidupan masyarakat ini ditentukan oleh lapisan sosial golongan tengah (kaum intelektual) . Atas potensi kreatifnya ini kehidupan bermasyarakat menjadi lebih, kreatif, produktif dan mandiri yang kemudian dimasa depan masyarakat tidak bergantung lagi melainkan menjadi masyarakat otonom yang mampu mengelola kehidupan atas kemampuan sendiri. Ketiga yaitu pengendalian perilaku dalam berproduksi, dengan pengendalian perilaku dalam berproduksi diharapkan mampu meminimalisir eksploratif dan eksploitatif terhadap sumber daya alam, sehingga ekosistem dapat terjaga dan seimbang. Jadi dapat disimpulkan bahwa kesadaran moral yang kuat ini yang mendorong kreativitas untuk berproduksi secara terkendali menurut norma-norma etika ke arah kehidupan masyarakat yang berkeadilan.
Oleh karena itu muncul tiga pilar etika dan moralitas yang wajib ditanamkan dan dibina serta dikembangkan dalam diri setiap individu melalui pendidikan keluarga, pendidikan sekolah dan pendidikan dalam masyarakat. Apabila penanaman tiga pilar moralitas dan etika ini berhasil maka konflik kepentingan antara paham individualisme dan kolektivisme maka akan menjadi energi sosial untuk mendorong pertumbuhan kehidupan masyarakat yang berkeadilan. Dalam masyarakat berkeadilan setiap individu ini memiliki keleluasaan dalam mengoptimalkan potensi dirinya menjadi seorang individu berkepribadian ideal sehingga otomatis masyarakat menemukan jati dirinya yaitu sebagai suatu sistem manajemen sosial.
Nama: Rafitri Prihatini
Npm: 2113053133
Kelas: 3C
Analisis Jurnal "Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat: Suatu Pemikiran Kefilsafatan"
Secara etimologis filsafat memiliki arti cinta kearifan. Cinta kearifan merupakan sebuah bentuk perilaku yang bersubstansi nilai-nilai keindahan, aksiologis, kebenaran dan kebaikan. Sehingga didalam filsafat mengandung persoalan tentang sistem perilaku atau etika. Dalam bahasa Indonesia moralitas memiliki arti tata tertib tingkah laku yang dianggap baik dalam suatu masyarakat. Etika adalah ilmu pengetahuan tentang kesusilaan dan moral, sedangkan moral adalah hal yang mendorong seseorang untuk melakukan tindakan yang baik sesuai dengan norma yang berlaku. Dari bentuk hubungannya moral bersifat abstrak universal sedangkan etika bersifat konkret khusus atau obyektif.
Sebuah konflik akan terjadi ketika kepentingan umum tidak menyerap keberagaman tuntutan individual dan ketika kepentingan individual mengganggu kepentingan umum. Secara filsafat hakikat manusia adalah sebagai makhluk individu yang memasyarakat dan makhluk sosial yang mengindividu. Perbedaan setiap potensi individu mengendap didalam keutihan masyarakat tergantung pada sistem harmonisasi hubungan antar individu dengan keragaman masing-masing. Jadi dapat dipahami bahwa dalam hidup bersama tergantung pada optimalisasi pengembangan kepribadian individu dan kepribadian setiap individu ini tergantung pada kualitas sistem komunikasi yang berlalu dan masyarakat.
Fakta dalam ikatan sosial saling mendidik, hal ini ditunjukan dalam pendidikan yang terkandung benih moral berupa dorongan sosial setiap orang untuk saling berbuat baik. Dengan sistem hubungan ko eksistensial saling mendidik berarti nilai kebenaran menyebar dan berkembang, sehingga kehidupan bermasyarakat menjadi dinamis ke arah kemajuan. Dibalik adanya dorongan moral, saling mendidik juga menunjukan adanya keadilan sosial. Kemudian, nilai keadilan sosial itu dikembangkan menjadi suatu sistem perilaku yaitu etika.
Ada tiga komponen moral dan etika bermasyarakat yang perlu dibina untuk dikembangkan secara berkelanjutan yaitu kesadaran moral, kreativitas dalam reproduksi, dan pengendalian perilaku dalam berproduksi. Jadi, dengan adanya kesadaran moral dapat memiliki kekuatan memposisikan dan memfungsikan segala potensi
individual untuk "social eforcement", sedangkan masyarakat difungsikan sebagai sistem proses mencapai kesejahteraan umum.
Npm: 2113053133
Kelas: 3C
Analisis Jurnal "Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat: Suatu Pemikiran Kefilsafatan"
Secara etimologis filsafat memiliki arti cinta kearifan. Cinta kearifan merupakan sebuah bentuk perilaku yang bersubstansi nilai-nilai keindahan, aksiologis, kebenaran dan kebaikan. Sehingga didalam filsafat mengandung persoalan tentang sistem perilaku atau etika. Dalam bahasa Indonesia moralitas memiliki arti tata tertib tingkah laku yang dianggap baik dalam suatu masyarakat. Etika adalah ilmu pengetahuan tentang kesusilaan dan moral, sedangkan moral adalah hal yang mendorong seseorang untuk melakukan tindakan yang baik sesuai dengan norma yang berlaku. Dari bentuk hubungannya moral bersifat abstrak universal sedangkan etika bersifat konkret khusus atau obyektif.
Sebuah konflik akan terjadi ketika kepentingan umum tidak menyerap keberagaman tuntutan individual dan ketika kepentingan individual mengganggu kepentingan umum. Secara filsafat hakikat manusia adalah sebagai makhluk individu yang memasyarakat dan makhluk sosial yang mengindividu. Perbedaan setiap potensi individu mengendap didalam keutihan masyarakat tergantung pada sistem harmonisasi hubungan antar individu dengan keragaman masing-masing. Jadi dapat dipahami bahwa dalam hidup bersama tergantung pada optimalisasi pengembangan kepribadian individu dan kepribadian setiap individu ini tergantung pada kualitas sistem komunikasi yang berlalu dan masyarakat.
Fakta dalam ikatan sosial saling mendidik, hal ini ditunjukan dalam pendidikan yang terkandung benih moral berupa dorongan sosial setiap orang untuk saling berbuat baik. Dengan sistem hubungan ko eksistensial saling mendidik berarti nilai kebenaran menyebar dan berkembang, sehingga kehidupan bermasyarakat menjadi dinamis ke arah kemajuan. Dibalik adanya dorongan moral, saling mendidik juga menunjukan adanya keadilan sosial. Kemudian, nilai keadilan sosial itu dikembangkan menjadi suatu sistem perilaku yaitu etika.
Ada tiga komponen moral dan etika bermasyarakat yang perlu dibina untuk dikembangkan secara berkelanjutan yaitu kesadaran moral, kreativitas dalam reproduksi, dan pengendalian perilaku dalam berproduksi. Jadi, dengan adanya kesadaran moral dapat memiliki kekuatan memposisikan dan memfungsikan segala potensi
individual untuk "social eforcement", sedangkan masyarakat difungsikan sebagai sistem proses mencapai kesejahteraan umum.
Nama : Reza Fitriyani Sari
Npm : 2113053094
Izin menyampaikan hasil analisis jurnal 1
Berdasarkan Jurnal di atas, dapat diketahui bahwa menurut filsafat moral (etika), masyarakat adalah suatu sistem komunikasi sosial antar individu untuk mencapai tujuan bersama. Maka konflik antara kepentingan individual (individualisme) dan kepentingan kolektif (kolektivisme) justru menjadi potensi bagi eksistensi masyarakat. Kesadaran moral terbingkai dalam sistem norma-norma perilaku sosial (etika), maka kedua kepentingan akan terselenggara secara berkeadilan. Obyek manusia dan masyarakatnya adalah masalah perilaku baik individual maupun sosial.
Berdasar pada sifat obyek, maka bidang filsafat perilaku (moral) atau etika menjadi model bangunan kerangka pikir. Hubungan antara moral dan etika dapat dirumuskan bahwa moral lebih bersifat
abstrak universal, sedangkan etika lebih bersifat konkret khusus (obyektif).
Kehidupan bermasyarakat adalah suatu sistem manajemen
untuk mengorganisir kemampuan individual menjadi sebuah kekuatan sosial, agar kemudian
tujuan bersama seluruh individu anggotanya dapat terwujud. Masyarakat bukan hanya tempat
berkumpul, melainkan suatu proses sosial di dalam mana setiap individu mendapat ruang gerak
untuk melakukan berbagai aksi sosial (social action). Masyarakat memproses seluruh jenis
pengertian, perasaan dan perilaku individual dalam jumlah tak terbatas. Maka, muncullah suatu
pemikiran bahwa seharusnya kehidupan bermasyarakat itu “berkeadilan" .
Kesadaran moral juga berfungsi sebagai pengendali perilaku, sedemikian rupa sehingga seseorang mampu berperilaku jujur menurut moralitas bersyukur (ketika memperoleh sesuatu), bersabar (ketika mendapat ujian hidup) dan berikhlas (ketika harus kehilangan). Sesungguhnya, kesadaran moral itu selalu ada di dalam diri setiap orang. sistem nilai adalah suasana moralitas manusia yang harus dipertanggungjawabkan secara etis disepanjang kehidupan.
Ada tiga komponen moral dan etika bermasyarakat yang perlu dibina untuk dikembangkan
secara berkelanjutan.
1. kesadaran moral.
2. Kreativitas dalam reproduksi
3. Pengendalian perilaku dalam berproduksi
Dalam masyarakat yang berkeadilan diketahui bahwa setiap individu mendapatkan keleluasaan berdinamika untuk mengoptimalkan potensi dirinya menjadi seorang individu berkepribadian ideal. Sehingganya secara sadar masyarakat akan menemukan jati diri yaitu sebagai suatu sistem manajemen sosial.
Terima Kasih
Npm : 2113053094
Izin menyampaikan hasil analisis jurnal 1
Berdasarkan Jurnal di atas, dapat diketahui bahwa menurut filsafat moral (etika), masyarakat adalah suatu sistem komunikasi sosial antar individu untuk mencapai tujuan bersama. Maka konflik antara kepentingan individual (individualisme) dan kepentingan kolektif (kolektivisme) justru menjadi potensi bagi eksistensi masyarakat. Kesadaran moral terbingkai dalam sistem norma-norma perilaku sosial (etika), maka kedua kepentingan akan terselenggara secara berkeadilan. Obyek manusia dan masyarakatnya adalah masalah perilaku baik individual maupun sosial.
Berdasar pada sifat obyek, maka bidang filsafat perilaku (moral) atau etika menjadi model bangunan kerangka pikir. Hubungan antara moral dan etika dapat dirumuskan bahwa moral lebih bersifat
abstrak universal, sedangkan etika lebih bersifat konkret khusus (obyektif).
Kehidupan bermasyarakat adalah suatu sistem manajemen
untuk mengorganisir kemampuan individual menjadi sebuah kekuatan sosial, agar kemudian
tujuan bersama seluruh individu anggotanya dapat terwujud. Masyarakat bukan hanya tempat
berkumpul, melainkan suatu proses sosial di dalam mana setiap individu mendapat ruang gerak
untuk melakukan berbagai aksi sosial (social action). Masyarakat memproses seluruh jenis
pengertian, perasaan dan perilaku individual dalam jumlah tak terbatas. Maka, muncullah suatu
pemikiran bahwa seharusnya kehidupan bermasyarakat itu “berkeadilan" .
Kesadaran moral juga berfungsi sebagai pengendali perilaku, sedemikian rupa sehingga seseorang mampu berperilaku jujur menurut moralitas bersyukur (ketika memperoleh sesuatu), bersabar (ketika mendapat ujian hidup) dan berikhlas (ketika harus kehilangan). Sesungguhnya, kesadaran moral itu selalu ada di dalam diri setiap orang. sistem nilai adalah suasana moralitas manusia yang harus dipertanggungjawabkan secara etis disepanjang kehidupan.
Ada tiga komponen moral dan etika bermasyarakat yang perlu dibina untuk dikembangkan
secara berkelanjutan.
1. kesadaran moral.
2. Kreativitas dalam reproduksi
3. Pengendalian perilaku dalam berproduksi
Dalam masyarakat yang berkeadilan diketahui bahwa setiap individu mendapatkan keleluasaan berdinamika untuk mengoptimalkan potensi dirinya menjadi seorang individu berkepribadian ideal. Sehingganya secara sadar masyarakat akan menemukan jati diri yaitu sebagai suatu sistem manajemen sosial.
Terima Kasih
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Nama : Negi Titin widyaningtius
Npm : 2113053167
Izin memberikan analisis jurnal yang berjudul kesadaran moral kehidupan bermasyarakat suatu pemikiran kefilsafat
istilah filsafat berakar dari bahasa Yunani “philo sophia”, tersusun dari kata -
kata ‘philein’ atau ‘philia’ yang berarti cinta, dan “sophia” yang berarti kearifan (Suhartono,
2005). Jadi, istilah filsafat berarti cinta kearifan. Pada dasarnya dalam ungkapan cinta dan
kearifan terkandung suatu pengetahuan mendalam (hakikat).
moral lebih bersifat
abstrak universal, sedangkan etika lebih bersifat konkret khusus (obyektif). Misalnya, “korupsi”
adalah perilaku tidak bermoral, tetapi “ tidak membayar pajak” (karena alasan tertentu) adalah
perilaku tidak etis. Tetapi, keduanya tetap mempersoalkan masalah yang sama, yaitu perilaku.
Pembahasan tentang manusia dan masyarakatnya diawali dengan pemikiran filosofis dan dilanjutkan dengan pemikiran etika dalam kehidupan bermasyarakat dan etika pendidikan dalam kehidupan masyarakat. Kehidupan bermasyarakat merupakan suatu sistem manajemen untuk mengorganisasikan kemampuan individual untuk menjadi sebuah kekuatan sosial, agar kemudian dapat tujuan bersama seluruh individu anggotanya dapat terwujud.
Kesadaran moral memiliki kekuatan posisikan dan memfungsikan segala potensi individu untuk sosial affortment sedangkan masyarakat difungsikan sebagai sistem proses mencapai kesetaraan umum jadi tidak perlu lagi ketika saling terjadi menyudutkan antara paham individualisme dan kolektivisme justru dengan kesadaran moral kebebasan dan kreativitas individual mendapat saluran yang tepat dan sebaiknya kolektivisme bisa mendapat jati dirinya dalam kehidupan bermasyarakat.
Terdapat tiga komponen moral dan etika masyarakat yang perlu dibina untuk dikembangkan secara berkelanjutan
1. Kesadaran moral, fakta membuktikan bahwa potensi individual bersifat terbatas padahal ekstensi kehidupan manusia terarah pada suatu tujuan untuk mencapai tujuan tersebut maka manusia wajib mempertahankan serta mengembangkan eksistensi kehidupannya.
2. Kreativitas dalam reproduksi, wawasan sosial selanjutnya mendorong kehidupan bermasyarakat untuk meningkatkan kreativitas dan produktivitas kreativitas kehidupan suatu masyarakat sangat ditentukan oleh lapisan golongan tengah golongan ini adalah kaum intelektual yang berkompeten dalam teori dan sistem pemberdayaan iptek.
3. Pengendalian perilaku dalam berproduksi, teknologi dan perindustrian memiliki kekuatan berlipatgandaan dalam reproduksi tetapi perlu diingat bahwa karakteristik bereproduksi seperti itu berakibat eksploratif dan eksploitasi terhadap sumber daya alam sehingga ekosistem bisa terancam untuk itu dalam kehidupan bermasyarakat baik taraf individual maupun kelembagaan sosial secara moral dan etika bertanggung jawab atas perilaku tersebut.
Jadi, kesadaran moral yang kuat mendorong kreativitas untuk berproduksi secara terkendali
menurut norma-norma etika ke arah terbentuknya kehidupan masyarakat berkead ilan. Oleh sebab
itu, tiga pilar moralitas dan etika tersebut wajib ditanam dibina dan dikembangkan di dalam diri
setiap individu melalui pendidikan keluarga, pendidikan sekolah dan pendidikan bermasyarakat.
Jika berhasil, maka konflik kepentingan antara p aham individualisme dan kolektivisme justru
menjadi energi sosial untuk mendorong pertumbuhan kehidupan masyarakat berkeadilan.
Terimakasih
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Nama : Negi Titin widyaningtius
Npm : 2113053167
Izin memberikan analisis jurnal yang berjudul kesadaran moral kehidupan bermasyarakat suatu pemikiran kefilsafat
istilah filsafat berakar dari bahasa Yunani “philo sophia”, tersusun dari kata -
kata ‘philein’ atau ‘philia’ yang berarti cinta, dan “sophia” yang berarti kearifan (Suhartono,
2005). Jadi, istilah filsafat berarti cinta kearifan. Pada dasarnya dalam ungkapan cinta dan
kearifan terkandung suatu pengetahuan mendalam (hakikat).
moral lebih bersifat
abstrak universal, sedangkan etika lebih bersifat konkret khusus (obyektif). Misalnya, “korupsi”
adalah perilaku tidak bermoral, tetapi “ tidak membayar pajak” (karena alasan tertentu) adalah
perilaku tidak etis. Tetapi, keduanya tetap mempersoalkan masalah yang sama, yaitu perilaku.
Pembahasan tentang manusia dan masyarakatnya diawali dengan pemikiran filosofis dan dilanjutkan dengan pemikiran etika dalam kehidupan bermasyarakat dan etika pendidikan dalam kehidupan masyarakat. Kehidupan bermasyarakat merupakan suatu sistem manajemen untuk mengorganisasikan kemampuan individual untuk menjadi sebuah kekuatan sosial, agar kemudian dapat tujuan bersama seluruh individu anggotanya dapat terwujud.
Kesadaran moral memiliki kekuatan posisikan dan memfungsikan segala potensi individu untuk sosial affortment sedangkan masyarakat difungsikan sebagai sistem proses mencapai kesetaraan umum jadi tidak perlu lagi ketika saling terjadi menyudutkan antara paham individualisme dan kolektivisme justru dengan kesadaran moral kebebasan dan kreativitas individual mendapat saluran yang tepat dan sebaiknya kolektivisme bisa mendapat jati dirinya dalam kehidupan bermasyarakat.
Terdapat tiga komponen moral dan etika masyarakat yang perlu dibina untuk dikembangkan secara berkelanjutan
1. Kesadaran moral, fakta membuktikan bahwa potensi individual bersifat terbatas padahal ekstensi kehidupan manusia terarah pada suatu tujuan untuk mencapai tujuan tersebut maka manusia wajib mempertahankan serta mengembangkan eksistensi kehidupannya.
2. Kreativitas dalam reproduksi, wawasan sosial selanjutnya mendorong kehidupan bermasyarakat untuk meningkatkan kreativitas dan produktivitas kreativitas kehidupan suatu masyarakat sangat ditentukan oleh lapisan golongan tengah golongan ini adalah kaum intelektual yang berkompeten dalam teori dan sistem pemberdayaan iptek.
3. Pengendalian perilaku dalam berproduksi, teknologi dan perindustrian memiliki kekuatan berlipatgandaan dalam reproduksi tetapi perlu diingat bahwa karakteristik bereproduksi seperti itu berakibat eksploratif dan eksploitasi terhadap sumber daya alam sehingga ekosistem bisa terancam untuk itu dalam kehidupan bermasyarakat baik taraf individual maupun kelembagaan sosial secara moral dan etika bertanggung jawab atas perilaku tersebut.
Jadi, kesadaran moral yang kuat mendorong kreativitas untuk berproduksi secara terkendali
menurut norma-norma etika ke arah terbentuknya kehidupan masyarakat berkead ilan. Oleh sebab
itu, tiga pilar moralitas dan etika tersebut wajib ditanam dibina dan dikembangkan di dalam diri
setiap individu melalui pendidikan keluarga, pendidikan sekolah dan pendidikan bermasyarakat.
Jika berhasil, maka konflik kepentingan antara p aham individualisme dan kolektivisme justru
menjadi energi sosial untuk mendorong pertumbuhan kehidupan masyarakat berkeadilan.
Terimakasih
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Nama : Wahana Tri Adhasari
NPM : 2113053209
Kelas : 3C
Izin mengumpulkan tugas Analisis Jurnal yang berjudul "Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat: Suatu Pemikiran Kefilsafatan"
Menurut filsafat moral (etika), masyarakat adalah suatu sistem komunikasi sosial antar individu untuk mencapai tujuan bersama. Maka konflik antara kepentingan individual (individualisme) dan kepentingan kolektif (kolektivisme) justru menjadi potensi bagi eksistensi masyarakat. Oleh sebab itu, kunci persoalannya terletak pada sejauh mana kesadaran moral dan etika menjadi watak perilaku setiap individu. Jika kesadaran moral terbingkai dalam sistem norma-norma perilaku sosial (etika), maka kedua kepentingan akan terselenggara secara berkeadilan.
Namun masih banyak sekali yang tidak memahami bahwa moral itu sangat penting dalam kehidupan khususnya dalam bermasyarakat, sehingga mereka cenderung bersikap seenaknya saja, tanpa memperhatikan orang lain.
Oleh sebab itu kita harus menanamkan pada diri kita bahwa di dalam diri setiap individu tertanam kuat dorongan moral untuk berbuat kebaikan, dan menuju kepentingan bersama, agar tidak terjadi sebuah benturan konflik antar masyarakat. Karena manusia merupakan makhluk sosial yang sangat memerlukan orang lain untuk bertahan hidup, Manusia tidak akan mampu untuk hidup sendiri tanpa adanya orang lain. Oleh sebab itu sebuah moralitas menjadi hal yang mendasar yang harus ditanamkan pada diri manusia.
NPM : 2113053209
Kelas : 3C
Izin mengumpulkan tugas Analisis Jurnal yang berjudul "Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat: Suatu Pemikiran Kefilsafatan"
Menurut filsafat moral (etika), masyarakat adalah suatu sistem komunikasi sosial antar individu untuk mencapai tujuan bersama. Maka konflik antara kepentingan individual (individualisme) dan kepentingan kolektif (kolektivisme) justru menjadi potensi bagi eksistensi masyarakat. Oleh sebab itu, kunci persoalannya terletak pada sejauh mana kesadaran moral dan etika menjadi watak perilaku setiap individu. Jika kesadaran moral terbingkai dalam sistem norma-norma perilaku sosial (etika), maka kedua kepentingan akan terselenggara secara berkeadilan.
Namun masih banyak sekali yang tidak memahami bahwa moral itu sangat penting dalam kehidupan khususnya dalam bermasyarakat, sehingga mereka cenderung bersikap seenaknya saja, tanpa memperhatikan orang lain.
Oleh sebab itu kita harus menanamkan pada diri kita bahwa di dalam diri setiap individu tertanam kuat dorongan moral untuk berbuat kebaikan, dan menuju kepentingan bersama, agar tidak terjadi sebuah benturan konflik antar masyarakat. Karena manusia merupakan makhluk sosial yang sangat memerlukan orang lain untuk bertahan hidup, Manusia tidak akan mampu untuk hidup sendiri tanpa adanya orang lain. Oleh sebab itu sebuah moralitas menjadi hal yang mendasar yang harus ditanamkan pada diri manusia.
Nama : Wahyu Ringgit Kuncoro
Npm : 2113053254
Kelas : 3C
Izin menyampaikan hasil analisis saya terkait jurnal yang berjudul “Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat:Suatu Pemikiran Kefilsafatan”
Seperti yang kita ketahui bahwa memasuki abad 21 masyarakat tentunya mengalami perubahan konflik dalam hidupnya.Kini, tradisi konflik antara kepentingan individu dan masya rakat melemah dan bahkan Cenderung tidak muncul ke permukaan. Sedangkan yang muncul adalah konflik antar individu Atau grup untuk mendapatkan kekuasaan dalam pemerintahan dalam hal ini perlu adanya kesadaran moral di dalam diri masyarakat.
Konflik perlu kita dihindari karena akan menyebabkan banyak kerugian. Cara menyelesaikan konflik salah satunya dengan mendengarkan semua pihak. Buatlah orang merasa terlibat dengan mengundangnya untuk berbicara terlebih dahulu. Dengan begini, ia menyadari bahwa pendapatnya juga didengar. Dalam konflik kekuasaan, hal yang perlu diperhatikan dalam menyelesaikan konflik tersebut adalah merjemahkan apa yang sebenarnya individu inginkan, mengumpulkan sebanyak mungkin informasi, tetapkan bentuk proses negosiasi, sampaikan pesan yang tepat kemudian negosiasikan.
Kemudian, terdapat tiga komponen moral dan etika sosial yang perlu dibina untuk dikembangkan secara berkelanjutan.
Pertama, kesadaran moral mendorong terbentuknya ikatan sosial berupa kerjasama dalam kehidupan bermasyarakat.
Kedua, kreativitas dalam reproduksi potensi kreatifnya, kehidupan masyarakat akan menjadi lebih maju, kreatif, produktif, dan mandiri di masa depan sehingga, alih-alih menjadi masyarakat yang bergantung, tetapi menjadi masyarakat otonom yang mampu mengelola kehidupan di atas kemampuan sendiri.
Ketiga, pengendalian perilaku dalam produksi, kesadaran moral yang kuat mendorong kreativitas untuk berproduksi secara terkendali sesuai norma etika menuju terbentuknya masyarakat yang adil. Ketiga pilar moralitas dan etika tersebut harus dibina dan dikembangkan pada setiap individu melalui pendidikan keluarga, pendidikan sekolah, dan pendidikan masyarakat.
Terima kasih.
Npm : 2113053254
Kelas : 3C
Izin menyampaikan hasil analisis saya terkait jurnal yang berjudul “Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat:Suatu Pemikiran Kefilsafatan”
Seperti yang kita ketahui bahwa memasuki abad 21 masyarakat tentunya mengalami perubahan konflik dalam hidupnya.Kini, tradisi konflik antara kepentingan individu dan masya rakat melemah dan bahkan Cenderung tidak muncul ke permukaan. Sedangkan yang muncul adalah konflik antar individu Atau grup untuk mendapatkan kekuasaan dalam pemerintahan dalam hal ini perlu adanya kesadaran moral di dalam diri masyarakat.
Konflik perlu kita dihindari karena akan menyebabkan banyak kerugian. Cara menyelesaikan konflik salah satunya dengan mendengarkan semua pihak. Buatlah orang merasa terlibat dengan mengundangnya untuk berbicara terlebih dahulu. Dengan begini, ia menyadari bahwa pendapatnya juga didengar. Dalam konflik kekuasaan, hal yang perlu diperhatikan dalam menyelesaikan konflik tersebut adalah merjemahkan apa yang sebenarnya individu inginkan, mengumpulkan sebanyak mungkin informasi, tetapkan bentuk proses negosiasi, sampaikan pesan yang tepat kemudian negosiasikan.
Kemudian, terdapat tiga komponen moral dan etika sosial yang perlu dibina untuk dikembangkan secara berkelanjutan.
Pertama, kesadaran moral mendorong terbentuknya ikatan sosial berupa kerjasama dalam kehidupan bermasyarakat.
Kedua, kreativitas dalam reproduksi potensi kreatifnya, kehidupan masyarakat akan menjadi lebih maju, kreatif, produktif, dan mandiri di masa depan sehingga, alih-alih menjadi masyarakat yang bergantung, tetapi menjadi masyarakat otonom yang mampu mengelola kehidupan di atas kemampuan sendiri.
Ketiga, pengendalian perilaku dalam produksi, kesadaran moral yang kuat mendorong kreativitas untuk berproduksi secara terkendali sesuai norma etika menuju terbentuknya masyarakat yang adil. Ketiga pilar moralitas dan etika tersebut harus dibina dan dikembangkan pada setiap individu melalui pendidikan keluarga, pendidikan sekolah, dan pendidikan masyarakat.
Terima kasih.
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Nama : Hasni Septiani
NPM :2113053097
Kelas :3C
Izin memberikan hasil analisis jurnal 1
Secara klasik, ada dua jenis konflik kepentingan yaitu antara kepentingan umum seluruh masyarakat dan kepenti ngan khusus bagi setiap individu.
Ketika kepentingan umum tidak menyerap keberagaman individu dan ketika kepentingan individu mengganggu kepentingan umum, maka pasti terjadi konflik.
Misalnya, pembebasan tanah warga untuk pelebaran jalan akan mengakibatkan konflik antara kepentingan individu dan masyarakat secara keseluruhan, jika hak warga atas tanah itu dirampas begitu saja.Kini, tradisi konflik antara kepentingan individu dan masya rakat melemah dan bahkan cenderung tidak muncul ke permukaan.
Sedangkan yang muncul adalah konflik antar individu atau kelompok untuk mendapatkan kekuasaan dalam pemerintahan.Kalau tradisi konflik kepentingan individu dan masyarakat justru "meng-gairahkan" kehidupan bermasyarakat, maka gairah itu kini berubah menjadi sebuah kesibukan yang menghabiskan energi untuk memerangi para koruptor. Padahal, jika para penguasa memiliki komitmen moral dan etika yang kuat, maka mengelola tradisi konflik kepentingan, justru memberi keuntungan bagi seluruh individu dan masyarakat dan otomatis bagi para pemimpin.
Karena di dalam diri individu terdapat potensi sosial dan di dalam masyarakat terdapat potensi individu.
Jadi, paradigma konflik sosial antara dua kepentingan menjadi lebih rumit.
Potensi individu yang terkandung di dalam individualisme berubah menjadi negatif berupa keserakahan.
Terlebih moral negatif keserakahan itu menjadi watak para pemimpin dan pejabat pemerintahan.
Maka konflik antara kepentingan individu (individualisme) dan kepentingan ko lektif (kolektivisme) justru menjadi potensi bagi eksistensi masyarakat.
Oleh karena itu, kunci persoalannya terletak pada sejauh mana kesadaran moral dan etika watak perilaku setiap individu.
Jika kesadaran moral terbingkai dalam sistem norma-norma perilaku sosial (etika), maka kedua kepentingan akan terselenggara secara berkeadilan.
Misalnya analisis obyek tentang kepentingan individu, menghasilkan ragam jenis, dan bentuk.
Arti Moral dan Etika Dalam Webster's New Collegiate Dictionary dijelaskan bahwa moral berasal dari b ahasa Latin "mos" atau "mores", berarti costum.
Sedangkan etika mengenai, ditandaskan bahwa "etika bukan sumber tambahan moralitas melainkan filsafat yang mewujudkan ajaran-ajaran moral".
Sedangkan moral adalah hal-hal yang mendorong orang untuk melakukan tindakan-tindakan yang baik sebagai kewajiban terhadap norma".
Dari bentuk hubungan antara moral dan etika dapat dirumuskan bahwa moral lebih bersifat abstrak universal, sedangkan etika lebih bersifat konkret khusus (obyektif).
Sekian dan Terimakasih
Wassalamu'alaikum warahmatullahi Wabarakatuh.
Nama : Hasni Septiani
NPM :2113053097
Kelas :3C
Izin memberikan hasil analisis jurnal 1
Secara klasik, ada dua jenis konflik kepentingan yaitu antara kepentingan umum seluruh masyarakat dan kepenti ngan khusus bagi setiap individu.
Ketika kepentingan umum tidak menyerap keberagaman individu dan ketika kepentingan individu mengganggu kepentingan umum, maka pasti terjadi konflik.
Misalnya, pembebasan tanah warga untuk pelebaran jalan akan mengakibatkan konflik antara kepentingan individu dan masyarakat secara keseluruhan, jika hak warga atas tanah itu dirampas begitu saja.Kini, tradisi konflik antara kepentingan individu dan masya rakat melemah dan bahkan cenderung tidak muncul ke permukaan.
Sedangkan yang muncul adalah konflik antar individu atau kelompok untuk mendapatkan kekuasaan dalam pemerintahan.Kalau tradisi konflik kepentingan individu dan masyarakat justru "meng-gairahkan" kehidupan bermasyarakat, maka gairah itu kini berubah menjadi sebuah kesibukan yang menghabiskan energi untuk memerangi para koruptor. Padahal, jika para penguasa memiliki komitmen moral dan etika yang kuat, maka mengelola tradisi konflik kepentingan, justru memberi keuntungan bagi seluruh individu dan masyarakat dan otomatis bagi para pemimpin.
Karena di dalam diri individu terdapat potensi sosial dan di dalam masyarakat terdapat potensi individu.
Jadi, paradigma konflik sosial antara dua kepentingan menjadi lebih rumit.
Potensi individu yang terkandung di dalam individualisme berubah menjadi negatif berupa keserakahan.
Terlebih moral negatif keserakahan itu menjadi watak para pemimpin dan pejabat pemerintahan.
Maka konflik antara kepentingan individu (individualisme) dan kepentingan ko lektif (kolektivisme) justru menjadi potensi bagi eksistensi masyarakat.
Oleh karena itu, kunci persoalannya terletak pada sejauh mana kesadaran moral dan etika watak perilaku setiap individu.
Jika kesadaran moral terbingkai dalam sistem norma-norma perilaku sosial (etika), maka kedua kepentingan akan terselenggara secara berkeadilan.
Misalnya analisis obyek tentang kepentingan individu, menghasilkan ragam jenis, dan bentuk.
Arti Moral dan Etika Dalam Webster's New Collegiate Dictionary dijelaskan bahwa moral berasal dari b ahasa Latin "mos" atau "mores", berarti costum.
Sedangkan etika mengenai, ditandaskan bahwa "etika bukan sumber tambahan moralitas melainkan filsafat yang mewujudkan ajaran-ajaran moral".
Sedangkan moral adalah hal-hal yang mendorong orang untuk melakukan tindakan-tindakan yang baik sebagai kewajiban terhadap norma".
Dari bentuk hubungan antara moral dan etika dapat dirumuskan bahwa moral lebih bersifat abstrak universal, sedangkan etika lebih bersifat konkret khusus (obyektif).
Sekian dan Terimakasih
Wassalamu'alaikum warahmatullahi Wabarakatuh.
Nama : Grace Hanna
Kelas : 3C
Npm : 2113053287
Izin memberikan analisis terkait jurnal 1
Pentingnya moral dalam kehidupan manusia adalah manusia tidak biasa hidup semaunya sendiri, karena di dalam kehidupan bermasyarakat terdapat berbagai aturan dimana aturan tersebut sesuai dengan norma dan nilai moral yang sesuai dengan kaidah yang berlaku di masyarakat, sehingga seseorang akan berperilaku sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.
Nilai moral dalam kehidupan masyarakat bisa seperti :
- Menghormati sesama manusia, tua atau muda.
- Membungkukkan badan ketika melewati orang yang lebih tua.
- Menyantuni anak yatim piatu dipanti asuhan atau luar panti.
- Berperilaku sopan terhadap siapapun dan dimanapun.
- Memberikan pembelajaran untuk anak-anak jalanan.
Kelas : 3C
Npm : 2113053287
Izin memberikan analisis terkait jurnal 1
Pentingnya moral dalam kehidupan manusia adalah manusia tidak biasa hidup semaunya sendiri, karena di dalam kehidupan bermasyarakat terdapat berbagai aturan dimana aturan tersebut sesuai dengan norma dan nilai moral yang sesuai dengan kaidah yang berlaku di masyarakat, sehingga seseorang akan berperilaku sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.
Nilai moral dalam kehidupan masyarakat bisa seperti :
- Menghormati sesama manusia, tua atau muda.
- Membungkukkan badan ketika melewati orang yang lebih tua.
- Menyantuni anak yatim piatu dipanti asuhan atau luar panti.
- Berperilaku sopan terhadap siapapun dan dimanapun.
- Memberikan pembelajaran untuk anak-anak jalanan.
Nama : Putri ristamarin
NPM : 2013053185
Sudah menjadi anggapan umum bahwa ada dua konflik kepentingan yang saling bertentangan dalam setiap kehidupan masyarakat. Yaitu individualisme yang sangat menekankan kepentingan individu terhadap kolektivisme dengan penekanannya pada kepentingan masyarakat. Kenyataan itu sesungguhnya dipahami sebagai hakikat masyarakat manusia itu sendiri. Itulah sebabnya konflik itu, secara historis, masih berlangsung sampai sekarang dan mungkin harus demikian adanya, sampai waktu yang tidak diketahui. Apalagi, konflik itu kini diwarnai oleh perilaku koruptif. Dari filosofi moralitas (etika) masing-masing pendekatan, bagaimanapun, tidak ada yang penting untuk mengakhiri konflik itu sama sekali. Karena itu, persoalan signifikannya adalah 'bagaimana mungkin menggabungkan dua potensi di balik konflik'. Untuk mewujudkan tujuan tersebut diyakini bahwa hati nurani dan atau perilaku etis memiliki kekuatan yang tepat untuk memecahkan masalah tersebut. Ada dua alasan, a) Kesadaran Moralitas, yaitu hati nurani adalah kebebasan individu dan sumber kreativitas, dan, b) Norma etika harus dapat mengarahkan kreativitas individu untuk meningkatkan perkembangan masyarakat manusia Akhirnya, dapat disimpulkan bahwa masyarakat yang sarat dengan kesadaran moralitas individu harus ditumbuhkan dan dikembangkan, sebaliknya masyarakat dengan norma-norma etis harus teratur.
NPM : 2013053185
Sudah menjadi anggapan umum bahwa ada dua konflik kepentingan yang saling bertentangan dalam setiap kehidupan masyarakat. Yaitu individualisme yang sangat menekankan kepentingan individu terhadap kolektivisme dengan penekanannya pada kepentingan masyarakat. Kenyataan itu sesungguhnya dipahami sebagai hakikat masyarakat manusia itu sendiri. Itulah sebabnya konflik itu, secara historis, masih berlangsung sampai sekarang dan mungkin harus demikian adanya, sampai waktu yang tidak diketahui. Apalagi, konflik itu kini diwarnai oleh perilaku koruptif. Dari filosofi moralitas (etika) masing-masing pendekatan, bagaimanapun, tidak ada yang penting untuk mengakhiri konflik itu sama sekali. Karena itu, persoalan signifikannya adalah 'bagaimana mungkin menggabungkan dua potensi di balik konflik'. Untuk mewujudkan tujuan tersebut diyakini bahwa hati nurani dan atau perilaku etis memiliki kekuatan yang tepat untuk memecahkan masalah tersebut. Ada dua alasan, a) Kesadaran Moralitas, yaitu hati nurani adalah kebebasan individu dan sumber kreativitas, dan, b) Norma etika harus dapat mengarahkan kreativitas individu untuk meningkatkan perkembangan masyarakat manusia Akhirnya, dapat disimpulkan bahwa masyarakat yang sarat dengan kesadaran moralitas individu harus ditumbuhkan dan dikembangkan, sebaliknya masyarakat dengan norma-norma etis harus teratur.
Nama : Kadek Eli
Npm : 2113053117
Kelas: 3 C
Izin memberikan analisis jurnal yang berjudul Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat:
Suatu Pemikiran Kefilsafatan, dalam jurnal tersebut kita dapat tahu bahwa konflik masih tetap ada bahkan di abad 21 yang disebabkan oleh kepentingan umum maupun kepentingan individu. Ada 3 komponen moral dan etika yang harus dibina dan dikembangkan secara kontinu, yang utama adalah kesadaran moral. kesadaran moral mendorong terbentuknya suatu keterikatan sosial dalam bentuk kerja
sama dalam kehidupan bermasyarakat. Atas kesadaran moral itulah kemudian berfungsi menjadi
satu wawasan bagi seluruh individu dalam bermasyarakat. kemudian yang kedua adalah kreativitas dalam reproduksi ,an hidup lainnya.
Jadi, atas potensi kreatifnya itu, kehidupan masyarakat menjadi lebih lebih maju, kreatif,
produktif, dan mandiri di masa depan, sehingga, bukan menjadi masyarakat bergantung,
melainkan masyarakat otonom yang mampu mengelola kehidupan atas kemampuan sendiri. Ketiga adalah mengendalikan perilaku, dalam kehidupan bermasyarakat baik pada taraf
individual maupun kelembagaan sosial secara moral dan etika bertanggungjawab atas perilaku berproduksi.
Npm : 2113053117
Kelas: 3 C
Izin memberikan analisis jurnal yang berjudul Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat:
Suatu Pemikiran Kefilsafatan, dalam jurnal tersebut kita dapat tahu bahwa konflik masih tetap ada bahkan di abad 21 yang disebabkan oleh kepentingan umum maupun kepentingan individu. Ada 3 komponen moral dan etika yang harus dibina dan dikembangkan secara kontinu, yang utama adalah kesadaran moral. kesadaran moral mendorong terbentuknya suatu keterikatan sosial dalam bentuk kerja
sama dalam kehidupan bermasyarakat. Atas kesadaran moral itulah kemudian berfungsi menjadi
satu wawasan bagi seluruh individu dalam bermasyarakat. kemudian yang kedua adalah kreativitas dalam reproduksi ,an hidup lainnya.
Jadi, atas potensi kreatifnya itu, kehidupan masyarakat menjadi lebih lebih maju, kreatif,
produktif, dan mandiri di masa depan, sehingga, bukan menjadi masyarakat bergantung,
melainkan masyarakat otonom yang mampu mengelola kehidupan atas kemampuan sendiri. Ketiga adalah mengendalikan perilaku, dalam kehidupan bermasyarakat baik pada taraf
individual maupun kelembagaan sosial secara moral dan etika bertanggungjawab atas perilaku berproduksi.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, sebelumnya izin memperkenalkan diri,
Nama: Sherlita Nur Azizah
NPM: 2113053232
Kelas: 3C
Izin menyampaikan hasil analisis jurnal 1,
Konflik yang saling bertentangan dalam kehidupan masyarakat sudah menjadi hal yang lumrah. Hal tersebut merupakan sifat individualisme setiap orang yang menekankan kepada kepentingan individu terhadap kolektivisme dengan penekanannya pada kepentingan masyarakat. Oleh karena itu, secara historis, konflik tersebut terus terjadi sampai saat ini dan entah kapan akan berakhir. Bahkan konflik yang sangat mencolok saat ini yaitu perilaku korupsi. Untuk memecahkan masalah tersebut, maka dibutuhkan partisipasi masyarakat untuk bersama sama bekerja sama menanggulangi permasalahan dengan saling menyadari bahwa seseorang harus memiliki moral yang baik demi terciptanya kehidupan masyarakat yang baik pula. Adapun dua hal yang menjadi alasan yaitu, kesadaran moralitas, yang berarti hati nurani adalah suatu sumber daya kebebasan dan kreativitas individu, dan yang kedua yaitu norma etika dimana harus mampu memimpin kreativitas individu untuk meningkatkan perkembangan masyarakat manusia. Kemudian, bisa disimpulkan bahwa masyarakat dengan kesadaran moralitas individu yang baik harus ditumbuhkan dan dikembangkan agar menjadi masyakarat yang mampu mengatasi setiap konflik yang terjadi di masyarakat.
Nama: Sherlita Nur Azizah
NPM: 2113053232
Kelas: 3C
Izin menyampaikan hasil analisis jurnal 1,
Konflik yang saling bertentangan dalam kehidupan masyarakat sudah menjadi hal yang lumrah. Hal tersebut merupakan sifat individualisme setiap orang yang menekankan kepada kepentingan individu terhadap kolektivisme dengan penekanannya pada kepentingan masyarakat. Oleh karena itu, secara historis, konflik tersebut terus terjadi sampai saat ini dan entah kapan akan berakhir. Bahkan konflik yang sangat mencolok saat ini yaitu perilaku korupsi. Untuk memecahkan masalah tersebut, maka dibutuhkan partisipasi masyarakat untuk bersama sama bekerja sama menanggulangi permasalahan dengan saling menyadari bahwa seseorang harus memiliki moral yang baik demi terciptanya kehidupan masyarakat yang baik pula. Adapun dua hal yang menjadi alasan yaitu, kesadaran moralitas, yang berarti hati nurani adalah suatu sumber daya kebebasan dan kreativitas individu, dan yang kedua yaitu norma etika dimana harus mampu memimpin kreativitas individu untuk meningkatkan perkembangan masyarakat manusia. Kemudian, bisa disimpulkan bahwa masyarakat dengan kesadaran moralitas individu yang baik harus ditumbuhkan dan dikembangkan agar menjadi masyakarat yang mampu mengatasi setiap konflik yang terjadi di masyarakat.
Nama: Zahara Ameliani Putri
Npm: 2113053197
Kelas: 3C
Analisis jurnal 1 yang berjudul " Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat: Suatu Pemikiran Kefilsafatan". Secara langsung atau tidak langsung, moralitas dan etika hanya bisa berlaku secara sempurna di dalam kehidupan bermasyarakat. Orang yang hidup dengan mengisolir diri di tengah hutan, seolah-olah tidak memerlukan moral dan etika. Tetapi ketika mulai memanfaatkan sumber daya hutan, apalagi jka cara pemanfaatannya cenderung merusak, maka perilakunya sudah masuk ke dalam lingkup moral dan etika. Hal itu karena kelangsungan hidup dan kehidupan pada umumnya, termasuk kehidupan bermasyarakat, mutlak bergantung pada keberadaan hutan. Karena sifatnya universal, maka pemikiran kritis tentang moral dan etika lebih menyoal pada masalah kesadaran moral, yang berkedudukan pada awal dari seluruh kegiatan hidup. Sadar akan asal-mula dan tujuan kehidupan, maka manusia sadar tentang apa yang perlu dilakukan dalam menjalani kehidupannya. Atas kesadaran moralnya, seseorang terdorong untuk melakukan perbuatan yang baik dan bernilai guna bagi kelangsungan dan tujuan hidup.
Npm: 2113053197
Kelas: 3C
Analisis jurnal 1 yang berjudul " Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat: Suatu Pemikiran Kefilsafatan". Secara langsung atau tidak langsung, moralitas dan etika hanya bisa berlaku secara sempurna di dalam kehidupan bermasyarakat. Orang yang hidup dengan mengisolir diri di tengah hutan, seolah-olah tidak memerlukan moral dan etika. Tetapi ketika mulai memanfaatkan sumber daya hutan, apalagi jka cara pemanfaatannya cenderung merusak, maka perilakunya sudah masuk ke dalam lingkup moral dan etika. Hal itu karena kelangsungan hidup dan kehidupan pada umumnya, termasuk kehidupan bermasyarakat, mutlak bergantung pada keberadaan hutan. Karena sifatnya universal, maka pemikiran kritis tentang moral dan etika lebih menyoal pada masalah kesadaran moral, yang berkedudukan pada awal dari seluruh kegiatan hidup. Sadar akan asal-mula dan tujuan kehidupan, maka manusia sadar tentang apa yang perlu dilakukan dalam menjalani kehidupannya. Atas kesadaran moralnya, seseorang terdorong untuk melakukan perbuatan yang baik dan bernilai guna bagi kelangsungan dan tujuan hidup.
Nama: Laela nur vazriyah
Npm: 2113053186
Kelas: 3C
Izin memberikan analisis jurnal yang berjudul "Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat:
Suatu Pemikiran Kefilsafatan"
Memasuki abad ke-21, kehidupan nyata masyarakat manusia masih tetap diliputi berbagai macam konflik. Secara klasik, ada dua jenis konflik kepentingan yaitu antara kepentingan umum keseluruhan masyarakat dan kepentingan khusus bagi setiap individu. Ketika kepentingan umum tidak menyerap keberagaman tuntutan individual dan ketika kepentingan individual mengganggu kepentingan umum, maka pasti terjadi konflik. Misalnya, pembebasan tanah warga untuk pelebaran jalan akan mengakibatkan konflik antara kepentingan individual dan masyarakat keseluruhan, jika hak warga atas tanah itu dirampas begitu saja.
Di era sekarang Kini, tradisi konflik antara kepentingan individu dan masyarakat melemah dan bahkan cenderung tidak muncul ke permukaan. Sedangkan yang muncul adalah konflik antar individu atau grup untuk mendapatkan kekuasaan dalam pemerintahan. Proses demokratis untuk meraih suatu kekuasaan semakin dikendalikan sepenuhnya dengan sistem “money politics”. Sudah barang tentu, tidak menghasilkan pemimpin yang aspiratif bagi kepentingan umum. Di sepanjang masa jabatannya, mereka hanya sibuk untuk secara cerdik menciptakan kesempatan berkorupsi. Egoisme individual menjadi watak para penguasa. Akibat daripadanya, terjadi krisis kepemimpinan. Jika demikian halnya maka dinamika sosial untuk meraih tujuan umum melemah.
Maka dari itu Ada tiga komponen moral dan etika bermasyarakat yang perlu dibina untuk dikembangkan secara berkelanjutan. Pertama, kesadaran moral. Kedua, kreativitas dalam reproduksi. Dan Ketiga, pengendalian perilaku dalam berproduksi. Tiga pilar moralitas dan etika tersebut wajib ditanam dibina dan dikembangkan di dalam diri setiap individu melalui pendidikan keluarga, pendidikan sekolah dan pendidikan bermasyarakat. Jika penerapan nya berhasil, maka konflik kepentingan antara paham individualisme dan kolektivisme justru menjadi energi sosial untuk mendorong pertumbuhan kehidupan masyarakat berkeadilan. Di dalam masyarakat berkeadilan, setiap individu mendapat keleluasaan berdinamika untuk mengoptimalkan potensi dirinya menjadi seorang individu berkepribadian ideal. Sebaliknya, dengan demikian otomatis masyarakat menemukan jati dirinya yaitu sebagai suatu sistem manajemen sosial.
Npm: 2113053186
Kelas: 3C
Izin memberikan analisis jurnal yang berjudul "Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat:
Suatu Pemikiran Kefilsafatan"
Memasuki abad ke-21, kehidupan nyata masyarakat manusia masih tetap diliputi berbagai macam konflik. Secara klasik, ada dua jenis konflik kepentingan yaitu antara kepentingan umum keseluruhan masyarakat dan kepentingan khusus bagi setiap individu. Ketika kepentingan umum tidak menyerap keberagaman tuntutan individual dan ketika kepentingan individual mengganggu kepentingan umum, maka pasti terjadi konflik. Misalnya, pembebasan tanah warga untuk pelebaran jalan akan mengakibatkan konflik antara kepentingan individual dan masyarakat keseluruhan, jika hak warga atas tanah itu dirampas begitu saja.
Di era sekarang Kini, tradisi konflik antara kepentingan individu dan masyarakat melemah dan bahkan cenderung tidak muncul ke permukaan. Sedangkan yang muncul adalah konflik antar individu atau grup untuk mendapatkan kekuasaan dalam pemerintahan. Proses demokratis untuk meraih suatu kekuasaan semakin dikendalikan sepenuhnya dengan sistem “money politics”. Sudah barang tentu, tidak menghasilkan pemimpin yang aspiratif bagi kepentingan umum. Di sepanjang masa jabatannya, mereka hanya sibuk untuk secara cerdik menciptakan kesempatan berkorupsi. Egoisme individual menjadi watak para penguasa. Akibat daripadanya, terjadi krisis kepemimpinan. Jika demikian halnya maka dinamika sosial untuk meraih tujuan umum melemah.
Maka dari itu Ada tiga komponen moral dan etika bermasyarakat yang perlu dibina untuk dikembangkan secara berkelanjutan. Pertama, kesadaran moral. Kedua, kreativitas dalam reproduksi. Dan Ketiga, pengendalian perilaku dalam berproduksi. Tiga pilar moralitas dan etika tersebut wajib ditanam dibina dan dikembangkan di dalam diri setiap individu melalui pendidikan keluarga, pendidikan sekolah dan pendidikan bermasyarakat. Jika penerapan nya berhasil, maka konflik kepentingan antara paham individualisme dan kolektivisme justru menjadi energi sosial untuk mendorong pertumbuhan kehidupan masyarakat berkeadilan. Di dalam masyarakat berkeadilan, setiap individu mendapat keleluasaan berdinamika untuk mengoptimalkan potensi dirinya menjadi seorang individu berkepribadian ideal. Sebaliknya, dengan demikian otomatis masyarakat menemukan jati dirinya yaitu sebagai suatu sistem manajemen sosial.
Nama : Fitri Cahya Karnain
Npm : 2153053034
Kelas : 3C
Analisis Jurnal 1 yang berjudul "Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat: Suatu Pemikiran Kefilsafatan"
Secara etimologis, istilah filsafat berakar dari bahasa Yunani “philo sophia”, tersusun dari kata - kata ‘philein’ atau ‘philia’ yang berarti cinta, dan “sophia” yang berarti kearifan (Suhartono,2005). Jadi, istilah filsafat berarti cinta kearifan.
Npm : 2153053034
Kelas : 3C
Analisis Jurnal 1 yang berjudul "Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat: Suatu Pemikiran Kefilsafatan"
Secara etimologis, istilah filsafat berakar dari bahasa Yunani “philo sophia”, tersusun dari kata - kata ‘philein’ atau ‘philia’ yang berarti cinta, dan “sophia” yang berarti kearifan (Suhartono,2005). Jadi, istilah filsafat berarti cinta kearifan.
Dalam bahasa Indonesia dikenal dengan “moralitas” (Ensiklopedi Umum, 1977) yaitu “tata tertib tingkah laku yang dianggap baik atau luhur dalam suatu lingkungan atau masyarakat”. Jadi, moralitas kurang lebih berarti dorongan atau semangat batin untuk melakukan perbuatan baik. Sedangkan etika, berakar dari bahasa Yunani, “ ethos”, juga berarti kebiasaan atau watak.
Berdasar pada kerangka pikir di atas, sistematika pembahasan tentang manusia dan masyarakatnya, diawali dengan pemikiran filosofis, dilanjutkan denga n pemikiran etika dalam kehidupan bermasyarakat dan etika pendidikan dalam kehidupan bermasyarakat. Khusus mengenai pemikiran terakhir, dipandang perlu karena pendidikan adalah satu - satunya cara penanaman nilai-nilai moral dan etika.
Orang yang hidup dengan mengisolir diri di tengah hutan, seolah-olah tidak memerlukan moral dan etika. Hal itu karena kelangsungan hidup dan kehidupan padaumumnya, termasuk kehidupan bermasyarakat, mutlak bergantung pada keberadaan hutan. Karena sifatnya universal, maka pemikiran kritis tentang moral dan etika lebih menyoal padamasalah kesadaran moral, yang berkedudukan pada awal dari seluruh kegiatan hidup. Atas kesadaran moralnya, seseorang terdorong untuk melakukan perbuatan yang baik dan bernilai guna bagi kelangsungan dan tuj uan hidup.
Dari sisi pendidikan, dalam kehidupan bermasyarakat terkandung sistem interaksi menyatukan dalam bentuk saling didik -mendidik antara pihak yang satu dengan yang lain untuk mencapai tujuan bersama. Seseorang yang lebih menguasai bidang tertentu, wajib mendidik yang lain dan sebaliknya ia harus siap untuk mendapat didikan orang lain yang lebih menguasi bidang yang berbeda.
Assalamu'alaikum warahmatullahi warahmatullahi
Sebelumnya izin memperkenalkan diri
Nama : Irmanda Frahani
Npm : 2113053124
Kelas : 3C
Izin memberikan analisis mengenai artikel yang berjudul Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat : Suatu Pemikiran Kefilsafatan
Memasuki abad ke-21, kehidupan nyata masyarakat manusia masih tetap diliputi berbagai macam konflik. Secara klasik, ada dua jenis konflik kepentingan yaitu antara kepentingan umum keseluruhan masyarakat dan kepenti ngan khusus bagi setiap individu. Ketika kepentingan umum tidak menyerap keberagaman tuntutan individual dan ketika kepentingan individual mengganggu kepentingan umum, maka pasti terjadi konflik. Misalnya, pembebasan tanah warga untuk pelebaran jalan akan mengakibatkan konflik antara kepentingan individual dan masyarakat keseluruhan, jika hak warga atas tanah itu dirampas begitu saja. Di era teknologi komunikasi ini, komunikasi individual semakin mengglobal. Kemajuan ekonomi material negara -negara maju,
membuat silau orang-orang yang hidup di negara-negara berkembang. Mereka terstimuli untuk
bisa berkehidupan dengan kelimpahan harta dalam waktu sesingkat mungkin. Sementara itu, karena kualitas pendidikannya, mereka belum memiliki potensi kreatif untuk menghasilkan kelimpahan ekonomi material. Jika kebetulan mereka memperoleh kepercayaan menduduki jabatan dalam pemerintahan dan hukum, maka atas kekuasaannya itu mereka secara berjamaah berbuat korupsi.
Secara etimologis, istilah filsafat berakar dari bahasa Yunani “philo sophia”, tersusun dari kata-kata ‘philein’ atau ‘philia’ yang berarti cinta, dan “sophia” yang berarti kearifan (Suhartono,2005). Jadi, istilah filsafat berarti cinta kearifan. cinta kearifan adalah suatu bentuk perilaku yang bersubstansi nilai -nilai aksiologis keindahan, kebenaran dan kebaikan. Oleh sebab itu, secara etimologis, dalam istilah filsafat sendiri memang terkandung persoalan tentang sistem perilaku ( morality) atau etika.
Menurut Franz Magnis Suseno (1991), “aja ran moral memuat pandangan-pandangan nilai-nilai dan norma-norma moral yang terdapat di antara sekelompok manusia. Norma moral adalah aturan tentang bagaimana manusia harus hidup supaya menjadi baik sebagai manusia”. Sedangkan mengenai etika, ditandaskan bahwa “etika bukan sumber tambahan moralitas melainkan merupakan filsafat yang merefleksikan ajaran -ajaran moral”. Lebih lanjut, ditekankan bahwa “etika mempersoalkan tentang mengapa kita harus mengikuti moralitas tertentu,
bagaimana kita dapat mengambil sikap yang bertanggung-jawab berhadapan dengan pelbagai moralitas”. de Vos (1987), mengatakan bahwa “etika adalah ilmu pengetahuan tentang kesusilaan dan moral. Sedangkan moral adalah hal-hal yang mendorong orang untuk melakukan tindakan-tindakan yang baik sebagai kewajiban untuk norma”.
Kehidupan bermasyarakat adalah suatu si stem manajemen untuk mengorganisir kemampuan individual menjadi sebuah kekuatan sosial, agar kemudian tujuan bersama seluruh individu anggotanya dapat terwujud. Masyarakat bukan hanya tempat
berkumpul, melainkan suatu proses sosial di dalam mana setiap ind ividu mendapat ruang gerak untuk melakukan berbagai aksi sosial (social action). Masyarakat memproses seluruh jenis pengertian, perasaan dan perilaku individual dalam jumlah tak terbatas. Maka, muncullah suatu pemikiran bahwa seharusnya kehidupan bermasyar akat itu “berkeadilan”.
Kesadaran moral memiliki kekuatan memposisikan dan memfungsikan segala potensi individual untuk “social eforcement”, sedangkan masyarakat difungsikan sebagai sistem proses mencapai kesejahteraan umum. Oleh karena itu tidak perlu lagi terjadi saling menyudutkan antara paham individualisme dan kolektivisme. Justru dengan kesadaran moral, kebebasan dan kreativitas individual mendapat saluran yang tepat, dan sebaliknya kolektivisme bisa mendapatkan jati dirinya di dalam kehidupan bermasyarakat.
Nilai-nilai moral dan etika perlu ditanamkan di dunia pendidikan dan dikembangkan di dalam kehidupan sosial pada umumnya. Sebagai sistem, masyarakat seharusnya berkharakteristik mendidik agar
dinamika sosial berkembang menurut dorongan moral (hati nurani individual) dan nilai -nilai etika. Karena, dengan jiwa mendidik berarti setiap pihak bermoral belajar, dan hanya dengan belajar suatu kemajuan dapat diraih. Sedemikian rupa sehingga setiap individu sadar atas kewajiban sosial apa yang harus dilakukan demi keutuhan masyarakatnya, dan masyarakat secara etis bertanggung-jawab atas kewajiban setiap individu itu. Itulah landasan dasar pendidikan untuk mendirikan sebuah masyarakat terdidik, masyarakat berbudaya yang berkeadilan.
Ada tiga komponen moral dan etika bermasyarakat yang perlu dibina untuk dikembangkansecara berkelanjutan.
1. Kesadaran moral
2. Kreativitas dalam reproduksi
3. Pengendalian perilaku dalam berproduksi
Sebelumnya izin memperkenalkan diri
Nama : Irmanda Frahani
Npm : 2113053124
Kelas : 3C
Izin memberikan analisis mengenai artikel yang berjudul Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat : Suatu Pemikiran Kefilsafatan
Memasuki abad ke-21, kehidupan nyata masyarakat manusia masih tetap diliputi berbagai macam konflik. Secara klasik, ada dua jenis konflik kepentingan yaitu antara kepentingan umum keseluruhan masyarakat dan kepenti ngan khusus bagi setiap individu. Ketika kepentingan umum tidak menyerap keberagaman tuntutan individual dan ketika kepentingan individual mengganggu kepentingan umum, maka pasti terjadi konflik. Misalnya, pembebasan tanah warga untuk pelebaran jalan akan mengakibatkan konflik antara kepentingan individual dan masyarakat keseluruhan, jika hak warga atas tanah itu dirampas begitu saja. Di era teknologi komunikasi ini, komunikasi individual semakin mengglobal. Kemajuan ekonomi material negara -negara maju,
membuat silau orang-orang yang hidup di negara-negara berkembang. Mereka terstimuli untuk
bisa berkehidupan dengan kelimpahan harta dalam waktu sesingkat mungkin. Sementara itu, karena kualitas pendidikannya, mereka belum memiliki potensi kreatif untuk menghasilkan kelimpahan ekonomi material. Jika kebetulan mereka memperoleh kepercayaan menduduki jabatan dalam pemerintahan dan hukum, maka atas kekuasaannya itu mereka secara berjamaah berbuat korupsi.
Secara etimologis, istilah filsafat berakar dari bahasa Yunani “philo sophia”, tersusun dari kata-kata ‘philein’ atau ‘philia’ yang berarti cinta, dan “sophia” yang berarti kearifan (Suhartono,2005). Jadi, istilah filsafat berarti cinta kearifan. cinta kearifan adalah suatu bentuk perilaku yang bersubstansi nilai -nilai aksiologis keindahan, kebenaran dan kebaikan. Oleh sebab itu, secara etimologis, dalam istilah filsafat sendiri memang terkandung persoalan tentang sistem perilaku ( morality) atau etika.
Menurut Franz Magnis Suseno (1991), “aja ran moral memuat pandangan-pandangan nilai-nilai dan norma-norma moral yang terdapat di antara sekelompok manusia. Norma moral adalah aturan tentang bagaimana manusia harus hidup supaya menjadi baik sebagai manusia”. Sedangkan mengenai etika, ditandaskan bahwa “etika bukan sumber tambahan moralitas melainkan merupakan filsafat yang merefleksikan ajaran -ajaran moral”. Lebih lanjut, ditekankan bahwa “etika mempersoalkan tentang mengapa kita harus mengikuti moralitas tertentu,
bagaimana kita dapat mengambil sikap yang bertanggung-jawab berhadapan dengan pelbagai moralitas”. de Vos (1987), mengatakan bahwa “etika adalah ilmu pengetahuan tentang kesusilaan dan moral. Sedangkan moral adalah hal-hal yang mendorong orang untuk melakukan tindakan-tindakan yang baik sebagai kewajiban untuk norma”.
Kehidupan bermasyarakat adalah suatu si stem manajemen untuk mengorganisir kemampuan individual menjadi sebuah kekuatan sosial, agar kemudian tujuan bersama seluruh individu anggotanya dapat terwujud. Masyarakat bukan hanya tempat
berkumpul, melainkan suatu proses sosial di dalam mana setiap ind ividu mendapat ruang gerak untuk melakukan berbagai aksi sosial (social action). Masyarakat memproses seluruh jenis pengertian, perasaan dan perilaku individual dalam jumlah tak terbatas. Maka, muncullah suatu pemikiran bahwa seharusnya kehidupan bermasyar akat itu “berkeadilan”.
Kesadaran moral memiliki kekuatan memposisikan dan memfungsikan segala potensi individual untuk “social eforcement”, sedangkan masyarakat difungsikan sebagai sistem proses mencapai kesejahteraan umum. Oleh karena itu tidak perlu lagi terjadi saling menyudutkan antara paham individualisme dan kolektivisme. Justru dengan kesadaran moral, kebebasan dan kreativitas individual mendapat saluran yang tepat, dan sebaliknya kolektivisme bisa mendapatkan jati dirinya di dalam kehidupan bermasyarakat.
Nilai-nilai moral dan etika perlu ditanamkan di dunia pendidikan dan dikembangkan di dalam kehidupan sosial pada umumnya. Sebagai sistem, masyarakat seharusnya berkharakteristik mendidik agar
dinamika sosial berkembang menurut dorongan moral (hati nurani individual) dan nilai -nilai etika. Karena, dengan jiwa mendidik berarti setiap pihak bermoral belajar, dan hanya dengan belajar suatu kemajuan dapat diraih. Sedemikian rupa sehingga setiap individu sadar atas kewajiban sosial apa yang harus dilakukan demi keutuhan masyarakatnya, dan masyarakat secara etis bertanggung-jawab atas kewajiban setiap individu itu. Itulah landasan dasar pendidikan untuk mendirikan sebuah masyarakat terdidik, masyarakat berbudaya yang berkeadilan.
Ada tiga komponen moral dan etika bermasyarakat yang perlu dibina untuk dikembangkansecara berkelanjutan.
1. Kesadaran moral
2. Kreativitas dalam reproduksi
3. Pengendalian perilaku dalam berproduksi
jessica amelia putri
2113053029
Secara etimologis, istilah filsafat berakar dari bahasa Yunani “philo sophia”, tersusun dari kata - kata ‘philein’ atau ‘philia’ yang berarti cinta, dan “sophia” yang berarti kearifan (Suhartono, 2005). Jadi, istilah filsafat berarti cinta kearifan. Pada dasarnya dalam ungkapan cinta dan kearifan terkandung suatu pengetahuan mendalam (hakikat). Kata cinta, menunjukkan adanya hubungan menyatukan antara subyek dan obyek, di dalam mana subyek melakukan suatu kebaikan terhadap obyek. Untuk itu, maka tanpa pengetahuan mendalam mengenai sifat hakikat obyek, tidak mungkin subyek bisa melakukan kebaikan terhadap obyek. Berdasar pada kerangka pikir di atas, sistematika pembahasan tentang manusia dan masyarakatnya, diawali dengan pemikiran filosofis, dilanjutkan denga n pemikiran etika dalam kehidupan bermasyarakat dan etika pendidikan dalam kehidupan bermasyarakat. Khusus mengenai pemikiran terakhir, dipandang perlu karena pendidikan adalah satu -satunya cara penanaman nilai-nilai moral dan etika.Secara langsung atau tidak langsung, moralitas dan etika hanya bisa berlaku secara sempurna di dalam kehidupan bermasyarakat. Orang yang hidup dengan mengisolir diri di tengah hutan, seolah-olah tidak memerlukan moral dan etika. Tetapi ketika mulai memanfaatkan sumber daya hutan, apalagi jka cara pemanfaatannya cenderung merusak, maka perilakunya sudah masuk ke dalam lingkup moral dan etika. Hal itu karena kelangsungan hidup dan kehidupan pada umumnya, termasuk kehidupan bermasyarakat, mutlak bergantung pada keberadaan hutan. Karena sifatnya universal, maka pemikiran kritis tentang moral dan etika lebih menyoal pada masalah kesadaran moral, yang berkedudukan pada awal dari seluruh kegiatan hidup.
2113053029
Secara etimologis, istilah filsafat berakar dari bahasa Yunani “philo sophia”, tersusun dari kata - kata ‘philein’ atau ‘philia’ yang berarti cinta, dan “sophia” yang berarti kearifan (Suhartono, 2005). Jadi, istilah filsafat berarti cinta kearifan. Pada dasarnya dalam ungkapan cinta dan kearifan terkandung suatu pengetahuan mendalam (hakikat). Kata cinta, menunjukkan adanya hubungan menyatukan antara subyek dan obyek, di dalam mana subyek melakukan suatu kebaikan terhadap obyek. Untuk itu, maka tanpa pengetahuan mendalam mengenai sifat hakikat obyek, tidak mungkin subyek bisa melakukan kebaikan terhadap obyek. Berdasar pada kerangka pikir di atas, sistematika pembahasan tentang manusia dan masyarakatnya, diawali dengan pemikiran filosofis, dilanjutkan denga n pemikiran etika dalam kehidupan bermasyarakat dan etika pendidikan dalam kehidupan bermasyarakat. Khusus mengenai pemikiran terakhir, dipandang perlu karena pendidikan adalah satu -satunya cara penanaman nilai-nilai moral dan etika.Secara langsung atau tidak langsung, moralitas dan etika hanya bisa berlaku secara sempurna di dalam kehidupan bermasyarakat. Orang yang hidup dengan mengisolir diri di tengah hutan, seolah-olah tidak memerlukan moral dan etika. Tetapi ketika mulai memanfaatkan sumber daya hutan, apalagi jka cara pemanfaatannya cenderung merusak, maka perilakunya sudah masuk ke dalam lingkup moral dan etika. Hal itu karena kelangsungan hidup dan kehidupan pada umumnya, termasuk kehidupan bermasyarakat, mutlak bergantung pada keberadaan hutan. Karena sifatnya universal, maka pemikiran kritis tentang moral dan etika lebih menyoal pada masalah kesadaran moral, yang berkedudukan pada awal dari seluruh kegiatan hidup.
Nama : Kiki Lieoni Widodo
NPM : 2113053005
Izin menganalisis Jurnal 1 yang berjudul "Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat
Suatu Pemikiran Kefilsafatan" Memasuki abad ke-21, kehidupan nyata masyarakat manusia masih tetap diliputi berbagai macam konflik. Secara klasik, ada dua jenis konflik kepentingan yaitu antara kepentingan umum keseluruhan masyarakat dan kepenti ngan khusus bagi setiap individu. Ketika kepentingan umum tidak menyerap keberagaman tuntutan individual dan ketika kepentingan individual mengganggu kepentingan umum, maka pasti terjadi konflik. namun sekarang yang terjadi tradisi konflik antara kepentingan individu dan masya rakat melemah dan bahkan cenderung tidak muncul ke permukaan. Sedangkan yang muncul adalah konflik antar individu atau grup untuk mendapatkan kekuasaan dalam pemerintahan. Proses demokratis untuk meraih suatu kekuasaan semakin dikendalikan sepenuhnya denga n sistem “money politics”. Sudah barang tentu, tidak menghasilkan pemimpin yang aspiratif bagi kepentingan umum. Menurut filsafat moral (etika), masya -rakat adalah suatu sistem komunikasi sosial antar individu untuk mencapai tujuan bersama. Maka konflik antara kepentingan individual (individualisme) dan kepentingan ko lektif (kolektivisme) justru menjadi potensi bagi eksistensi masyarakat.
Ada tiga komponen moral dan etika bermasyarakat yang perlu dibina untuk dikembangkan secara berkelanjutan.
1. kesadaran moral.
2. kreativitas dalam reproduksi
3. pengendalian perilaku dalam berproduksi.
Oleh sebab itu, tiga pilar moralitas dan etika tersebut wajib ditanam dibina dan dikembangkan di dalam diri setiap individu melalui pendidikan keluarga, pendidikan sekolah dan pendidikan bermasyarakat. Jika berhasil, maka konflik kepentingan antara paham individualisme dan kolektivisme justru menjadi energi sosial untuk mendorong pertumbuhan kehidupan masyarakat berkeadilan.
NPM : 2113053005
Izin menganalisis Jurnal 1 yang berjudul "Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat
Suatu Pemikiran Kefilsafatan" Memasuki abad ke-21, kehidupan nyata masyarakat manusia masih tetap diliputi berbagai macam konflik. Secara klasik, ada dua jenis konflik kepentingan yaitu antara kepentingan umum keseluruhan masyarakat dan kepenti ngan khusus bagi setiap individu. Ketika kepentingan umum tidak menyerap keberagaman tuntutan individual dan ketika kepentingan individual mengganggu kepentingan umum, maka pasti terjadi konflik. namun sekarang yang terjadi tradisi konflik antara kepentingan individu dan masya rakat melemah dan bahkan cenderung tidak muncul ke permukaan. Sedangkan yang muncul adalah konflik antar individu atau grup untuk mendapatkan kekuasaan dalam pemerintahan. Proses demokratis untuk meraih suatu kekuasaan semakin dikendalikan sepenuhnya denga n sistem “money politics”. Sudah barang tentu, tidak menghasilkan pemimpin yang aspiratif bagi kepentingan umum. Menurut filsafat moral (etika), masya -rakat adalah suatu sistem komunikasi sosial antar individu untuk mencapai tujuan bersama. Maka konflik antara kepentingan individual (individualisme) dan kepentingan ko lektif (kolektivisme) justru menjadi potensi bagi eksistensi masyarakat.
Ada tiga komponen moral dan etika bermasyarakat yang perlu dibina untuk dikembangkan secara berkelanjutan.
1. kesadaran moral.
2. kreativitas dalam reproduksi
3. pengendalian perilaku dalam berproduksi.
Oleh sebab itu, tiga pilar moralitas dan etika tersebut wajib ditanam dibina dan dikembangkan di dalam diri setiap individu melalui pendidikan keluarga, pendidikan sekolah dan pendidikan bermasyarakat. Jika berhasil, maka konflik kepentingan antara paham individualisme dan kolektivisme justru menjadi energi sosial untuk mendorong pertumbuhan kehidupan masyarakat berkeadilan.
Annisa Nathania
2153053040
Izin memberikan hasil analisis jurnal, berjudul:
Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat: Suatu Pemikiran Kefilsafatan
Menurut filsafat moral (etika), masya-rakat adalah suatu sistem komunikasi sosial antar individu untuk mencapai tujuan bersama. Maka konflik antara kepentingan individual (individualisme) dan kepentingan kolektif (kolektivisme) justru menjadi potensi bagi eksistensi masyarakat. Oleh sebab itu, kunci persoalannya terletak pada sejauh mana kesadaran moral dan etika menjadi watak perilaku setiap individu.
Pada dasarnya dalam ungkapan cinta dan kearifan terkandung suatu pengetahuan mendalam (hakikat). Kata cinta, menunjukkan adanya hubungan menyatukan antara subyek dan obyek, di dalam mana subyek melakukan suatu kebaikan terhadap obyek. Untuk itu, maka tanpa pengetahuan mendalam mengenai sifat hakikat obyek, tidak mungkin subyek bisa melakukan kebaikan terhadap obyek. Oleh sebab itu, secara etimologis, dalam istilah filsafat sendiri memang terkandung persoalan tentang sistem perilaku ( morality) atau etika.
Dari bentuk hubungan antara moral dan etika dapat dirumuskan bahwa moral lebih bersifat
abstrak universal, sedangkan etika lebih bersifat konkret khusus (obyektif). Mengenai pemikiran fil osofis tentang manusia, pada umumnya pandangan “Timur” menitikberatkan sifat hakikat manusia sebagai makhluk sosial.
Hakiki kehidupan bermasyarakat adalah manusia sebagai makhluk individu dan so sial. Dari kedua sifat hakikat itulah berkembang paham individualisme dan kolektivisme.
Kemudian, kesadaran moral juga berfungsi sebagai pengendali perilaku, sedemikian rupa sehingga seseorang mampu berperilaku jujur menurut moralitas bersyukur, bersabar dan berikhlas. Sesungguhnya, kesadaran moral itu selalu ada di dalam diri setiap orang.
Terimakasih...
2153053040
Izin memberikan hasil analisis jurnal, berjudul:
Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat: Suatu Pemikiran Kefilsafatan
Menurut filsafat moral (etika), masya-rakat adalah suatu sistem komunikasi sosial antar individu untuk mencapai tujuan bersama. Maka konflik antara kepentingan individual (individualisme) dan kepentingan kolektif (kolektivisme) justru menjadi potensi bagi eksistensi masyarakat. Oleh sebab itu, kunci persoalannya terletak pada sejauh mana kesadaran moral dan etika menjadi watak perilaku setiap individu.
Pada dasarnya dalam ungkapan cinta dan kearifan terkandung suatu pengetahuan mendalam (hakikat). Kata cinta, menunjukkan adanya hubungan menyatukan antara subyek dan obyek, di dalam mana subyek melakukan suatu kebaikan terhadap obyek. Untuk itu, maka tanpa pengetahuan mendalam mengenai sifat hakikat obyek, tidak mungkin subyek bisa melakukan kebaikan terhadap obyek. Oleh sebab itu, secara etimologis, dalam istilah filsafat sendiri memang terkandung persoalan tentang sistem perilaku ( morality) atau etika.
Dari bentuk hubungan antara moral dan etika dapat dirumuskan bahwa moral lebih bersifat
abstrak universal, sedangkan etika lebih bersifat konkret khusus (obyektif). Mengenai pemikiran fil osofis tentang manusia, pada umumnya pandangan “Timur” menitikberatkan sifat hakikat manusia sebagai makhluk sosial.
Hakiki kehidupan bermasyarakat adalah manusia sebagai makhluk individu dan so sial. Dari kedua sifat hakikat itulah berkembang paham individualisme dan kolektivisme.
Kemudian, kesadaran moral juga berfungsi sebagai pengendali perilaku, sedemikian rupa sehingga seseorang mampu berperilaku jujur menurut moralitas bersyukur, bersabar dan berikhlas. Sesungguhnya, kesadaran moral itu selalu ada di dalam diri setiap orang.
Terimakasih...
Nama : Niken azzahra
Npm : 2153053032
Kelas : 3c
Izin menganalisis jurnal 1 yang berjudul “Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat: Suatu Pemikiran Kefilsafatan”. Oleh Suparlan Suhartono.”
Suhartono (2006), secara filosofis menjelaskan bahwa pendidikan adalah persoalan tentang sistem proses perubahan menuju pendewasaan, pematangan atau pencer-dasan tiga potensi kejiwaan manusia yaitu rasa, cipta dan karsa. Karena itu, ruang lingkup pendidikan mencakup tiga hal yaitu:
1) pencerdasan spiritual, menumbuhkan kesadaran tentang asal-mula, tujuan, dan eksistensi kehidupan,
2) pencerdasan intelektual, membina kemampuan akal agar mampu memecahkan setiap persoalan yang muncul di sepanjang kehidupan,
3) pencerdasan moral, membimbing setiap perilaku agar selalu bernilai bagi tujuan kehidupan.
Orang yang terdidik memiliki kesadaran tentang dari mana asal mula dan tujuan kehidupan. Berdasar kesadaran itu, manusia harus kreatif dan produktif dalam menjalani kehidupan dan mau bersikap dan berperilaku adil di sepanjang hidupnya. Jadi nilai-nilai moral dan etika perlu ditanamkan di dunia pendidikan dan dikembangkan di dalam kehidupan sosial pada umumnya. Sebagai sistem, masyarakat seharusnya berkharakteristik mendidik agar dinamika sosial berkembang menurut dorongan moral (hati nurani individual) dan nilai-nilai etika. Karena, dengan jiwa mendidik berarti setiap pihak bermoral belajar, dan hanya dengan belajar suatu kemajuan dapat diraih. Sedemikian rupa sehingga setiap individu sadar atas kewajiban sosial apa yang harus dilakukan demi keutuhan masyarakatnya, dan masyarakat secara etis bertanggung-jawab atas kewajiban setiap individu itu. Itulah landasan dasar pendidikan untuk mendirikan sebuah masyarakat terdidik, masyarakat berbudaya yang berkeadilan.
Npm : 2153053032
Kelas : 3c
Izin menganalisis jurnal 1 yang berjudul “Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat: Suatu Pemikiran Kefilsafatan”. Oleh Suparlan Suhartono.”
Suhartono (2006), secara filosofis menjelaskan bahwa pendidikan adalah persoalan tentang sistem proses perubahan menuju pendewasaan, pematangan atau pencer-dasan tiga potensi kejiwaan manusia yaitu rasa, cipta dan karsa. Karena itu, ruang lingkup pendidikan mencakup tiga hal yaitu:
1) pencerdasan spiritual, menumbuhkan kesadaran tentang asal-mula, tujuan, dan eksistensi kehidupan,
2) pencerdasan intelektual, membina kemampuan akal agar mampu memecahkan setiap persoalan yang muncul di sepanjang kehidupan,
3) pencerdasan moral, membimbing setiap perilaku agar selalu bernilai bagi tujuan kehidupan.
Orang yang terdidik memiliki kesadaran tentang dari mana asal mula dan tujuan kehidupan. Berdasar kesadaran itu, manusia harus kreatif dan produktif dalam menjalani kehidupan dan mau bersikap dan berperilaku adil di sepanjang hidupnya. Jadi nilai-nilai moral dan etika perlu ditanamkan di dunia pendidikan dan dikembangkan di dalam kehidupan sosial pada umumnya. Sebagai sistem, masyarakat seharusnya berkharakteristik mendidik agar dinamika sosial berkembang menurut dorongan moral (hati nurani individual) dan nilai-nilai etika. Karena, dengan jiwa mendidik berarti setiap pihak bermoral belajar, dan hanya dengan belajar suatu kemajuan dapat diraih. Sedemikian rupa sehingga setiap individu sadar atas kewajiban sosial apa yang harus dilakukan demi keutuhan masyarakatnya, dan masyarakat secara etis bertanggung-jawab atas kewajiban setiap individu itu. Itulah landasan dasar pendidikan untuk mendirikan sebuah masyarakat terdidik, masyarakat berbudaya yang berkeadilan.
Nama : Icha Kurnia Putri
NPM : 2113053052
Kelas : 3C
Analisis Jurnal 1
Di dalam satu keterikatan moral, mereka bermasyarakat menurut prinsip etika normatif dalam mencapai tujua n bersama. Jadi tidak perlu terjadi benturan konflik. Berdasar pada kerangka pikir di atas, sistematika pembahasan tentang manusia dan masyarakatnya, diawali dengan pemikiran filosofis, dilanjutkan denga n pemikiran etika dalam kehidupan bermasyarakat dan etika pendidikan dalam kehidupan bermasyarakat. Khusus mengenai pemikiran terakhir, dipandang perlu karena pendidikan adalah satu -satunya cara penanaman nilai-nilai moral dan etika. Jadi, dapat disimpulkan bahwa kehidupan bermasyarakat adalah suatu si stem manajemen untuk mengorganisir kemampuan individual menjadi sebuah kekuatan sosial, agar kemudian tujuan bersama seluruh individu anggotanya dapat terwujud. Masyarakat bukan hanya tempat berkumpul, melainkan suatu proses sosial di dalam mana setiap ind ividu mendapat ruang gerak untuk melakukan berbagai aksi sosial (social action). Masyarakat memproses seluruh jenis pengertian, perasaan dan perilaku individual dalam jumlah tak terbatas. Maka, muncullah suatu pemikiran bahwa seharusnya kehidupan bermasyar akat itu “berkeadilan”.
Pada dasarnya, sebagai komponen kesadaran moral, daya kreativitas ada secara menginti di dalam tujuan hidup, dorongan hidup dan kecakapan hidup. Artinya, untuk mencapai tujuan hidup, maka harus ada kreativitas yaitu suatu kecakapan dan ketrampil an dalam membuat perubahan. Setiap perubahan berfungsi sebagai dorongan ke arah tujuan hidup. Pada hakikatnya, kreativitas selalu cenderung mencipta perubahan untuk kemajuan, karena itu pula mengandung nilai.
NPM : 2113053052
Kelas : 3C
Analisis Jurnal 1
Di dalam satu keterikatan moral, mereka bermasyarakat menurut prinsip etika normatif dalam mencapai tujua n bersama. Jadi tidak perlu terjadi benturan konflik. Berdasar pada kerangka pikir di atas, sistematika pembahasan tentang manusia dan masyarakatnya, diawali dengan pemikiran filosofis, dilanjutkan denga n pemikiran etika dalam kehidupan bermasyarakat dan etika pendidikan dalam kehidupan bermasyarakat. Khusus mengenai pemikiran terakhir, dipandang perlu karena pendidikan adalah satu -satunya cara penanaman nilai-nilai moral dan etika. Jadi, dapat disimpulkan bahwa kehidupan bermasyarakat adalah suatu si stem manajemen untuk mengorganisir kemampuan individual menjadi sebuah kekuatan sosial, agar kemudian tujuan bersama seluruh individu anggotanya dapat terwujud. Masyarakat bukan hanya tempat berkumpul, melainkan suatu proses sosial di dalam mana setiap ind ividu mendapat ruang gerak untuk melakukan berbagai aksi sosial (social action). Masyarakat memproses seluruh jenis pengertian, perasaan dan perilaku individual dalam jumlah tak terbatas. Maka, muncullah suatu pemikiran bahwa seharusnya kehidupan bermasyar akat itu “berkeadilan”.
Pada dasarnya, sebagai komponen kesadaran moral, daya kreativitas ada secara menginti di dalam tujuan hidup, dorongan hidup dan kecakapan hidup. Artinya, untuk mencapai tujuan hidup, maka harus ada kreativitas yaitu suatu kecakapan dan ketrampil an dalam membuat perubahan. Setiap perubahan berfungsi sebagai dorongan ke arah tujuan hidup. Pada hakikatnya, kreativitas selalu cenderung mencipta perubahan untuk kemajuan, karena itu pula mengandung nilai.