Lampirkan analisis anda mengenai jurnal diatas, dengan menyertakan identitas diri seperti nama dan NPM.
Forum Analisis Jurnal 2
NPM : 2113053052
Kelas : 3C
Prodi : PGSD
Analisi menurut saya Pendidikan merupakan proses seumur hidup mulai dari dalam kandungan dan berlangsung sampai akhir dari kehidupan. Pendidikan tidak hanya memberikan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai, pelatihan naluri, membina sikap yang tepat dan kebiasaan terhadap generasi muda. Moralitas dan Pendidikan moral dapat dilihat dari dua sisi, yaitu dari sisi luar dan dari sisi dalam. Dilihat dari luar, moralitas mengatur cara bergaul dengan orang lain, dan dari dalam mengatur cara bergaul dengan diri sendiri.
Perkembangan moral telah dipelajari dari berbagai perspektif psikologis, termasuk teori belajar, psikoanalisis. Studi saat ini tentang perkembangan moral telah dipengaruhi oleh pendekatan perkembangan kognitif Jean Piaget dan Lawrence Kohlberg. Teori Kohlberg mengenai perkembangan moral secara formal disebut cognitive-dvelopmental theory of moralization, yang berakar pada karya Piaget. Untuk menemukan tahap kepatutan moral seseorang, Kohlberg telah menyusun instrumen penelitian guna menggolongkan proses penalaran orang tersebut dalam mengatasi dilema moral.
2153053040
Izin memberikan hasil analisis jurnal.
Bagi seorang pendidik, sangat penting untuk memahami perkembangan moral peserta didiknya. Menurut Duska & Whelan (1984) bahwa kemahiran mengukur tahap-tahap penalaran moral hanya akan dicapai dengan memahami secara seksama deskripsi- deskripsi tentang tahap, termasuk kemampuan mengaplikasikan deskripsi-deskripsi tersebut pada jawaban-jawaban dari anak.
Kohlberg mengidentifikasi beberapa masalah filosofis mendasar yang mendasari studi perkembangan moral, seperti pertanyaan tentang definisi konstruk yang adil secara budaya.
Teori Kohlberg mengenai perkembangan moral secara formal disebut cognitive-dvelopmental theory of moralization, yang berakar pada karya Piaget.
Teori (Kohlberg; L., Hersh, R.H. 1977) tentang Perkembangan Moral dibagi menjadi 3 level, yang masing-masing level dibagi menjadi beberapa tahap sebagai berikut:
Level 1. Moralitas Pra-konvensional
* Tahap 1 - Ketaatan dan Hukuman
* Tahap 2 - Individualisme dan Pertukaran
Level 2. Moralitas Konvensional
* Tahap 3 - Hubungan Interpersonal
* Tahap 4 - Menjaga Ketertiban Sosial
Level 3. Moralitas Pasca-konvensional
* Tahap 5 - Kontrak Sosial dan Hak Perorangan
* Tahap 6 - Prinsip Universal
Terimakasih
NPM: 2113053136
Hasil analisis berdasarkan jurnal diatas berjudul: Perkembangan Moral Siswa Sekolah Dasar Berdasarkan Teori Kohlberg.
Teori Kohlberg mengenai perkembangan moral secara formal
disebut cognitive-dvelopmental theory of moralization, yang berakar pada karya Piaget. Untuk menemukan tahap kepatutan moral seseorang, Kohlberg
telah menyusun instrumen penelitian guna menggolongkan proses penalaran orang tersebut dalam mengatasi dilema moral. Seseorang
dihadapkan pada dilema moral supaya muncul minatnya, lalu ditanya secara langsung bagaimana solusinya terhadap dilema tersebut dan
mengapa dia mengambil keputusan seperti itu (Zuchdi, 2010: 11-13).
Berdasarkan hasil analisis terhadap jawaban yang dikemukakan atas dilema moral yang dijawab oleh para responden, secara umum (90%) ternyata perkembangan moral para responden yang berada pada usia 11-12 tahun memang masih berada pada tingkat pra konvensional. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan Kohlberg (Whelan & Duska), dimana pada tingkatan pra konvensional ini, kalau seorang anak mendengar bahwa sesuatu itu baik atau buruk, gambaran yang ada padanya berbeda sekali dengan yang ada pada orang dewasa.
2113053045
Dalam jurnal yng berjudul PERKEMBANGAN MORAL SISWA SEKOLAH DASAR BERDASARKAN TEORI KOHLBERG dapat dilihat bahwa Teori Kohlberg mengenai perkembangan moral secara formal disebut cognitive-dvelopmental theory of moralization, yang berakar pada karya Piaget. Asumsi utama Piaget adalah bahwa kognisi (pikiran) dan afek (perasaan) berkembang secara paralel dan keputusan moral merupakan proses perkembangan kognisi secara alami. Sebaliknya, kebanyakan ahli psikologi pada masa itu berasumsi bahwa pikiran moral lebih merupakan proses psikologi dan sosial. Dalam mengembangkan teorinya, Kohlberg tidak memusatkan perhatian pada tingkah laku moral, artinya apa yang dilakukan oleh seorang indivdu tidak menjadi pusat pengamatannya.
Hasil dari penelitian tersebut yaitu Responden/peserta dalam penelitian ini adalah siswa Sekolah Dasar yang berusia antara 11-12 tahun. Berdasarkan teori Kohlberg, pada umumnya anak-anak yang berusia sekitar 10–13 tahun berada pada tahap pra-konvensional, meskipun juga ada orang-orang dewasa yang berhenti perkembangannya pada tahap tersebut. Karena orang dewasa yang terhenti pada tingkatan itu merupakan kekecualian (Duska & Whelan, 1984:65).
Npm :2113053097
Kelas: 3C
Prodi : PGSD
Izin memberikan hasil analisis jurnal 2
Tahap awal perkembangan moral terutama terjadi pada anak-anak kecil, tetapi orang dewasa juga mampu mengekspresikan jenis penalaran ini. Pada tahap ini, anak-anak melihat aturan sebagai hal yang tetap dan absolut. Pada tahap perkembangan moral ini, anak-anak menjelaskan sudut pandang individu dan menilai tindakan berdasarkan bagaimana mereka melayani kebutuhan individu. Dalam dilema Heinz, anak-anak berpendapat bahwa tindakan terbaik adalah pilihan yang paling baik memenuhi kebutuhan Heinz.
Seringkali disebut sebagai orientasi «good boy-good girl», tahap perkembangan moral ini difokuskan pada memenuhi harapan dan peran sosial. Pada tahap perkembangan moral ini, orang mulai menganggap masyarakat secara keseluruhan ketika membuat penilaian. Tingkat penalaran moral terakhir Kolhberg didasarkan pada prinsip-prinsip etika universal dan penalaran abstrak. Pada tahap ini, orang mengikuti prinsip-prinsip keadilan yang diinternalisasi ini, bahkan jika mereka bertentangan dengan hukum dan peraturan.
Tahap awal perkembangan moral terutama terjadi pada anak-anak kecil, tetapi orang dewasa juga mampu mengekspresikan jenis penalaran yang telah di sajikan. Pada tahap ini, anak-anak melihat aturan sebagai hal yang tetap dan absolut. Pada tahap perkembangan moral ini, anak-anak menjelaskan sudut pandang individu dan menilai tindakan berdasarkan bagaimana mereka melayani kebutuhan individu. Dalam dilema Heinz, anak-anak berpendapat bahwa tindakan terbaik adalah pilihan yang paling baik memenuhi kebutuhan Heinz.
Tahap perkembangan moral ini difokuskan pada memenuhi harapan dan peran sosial. Pada tahap perkembangan moral ini, orang mulai menganggap masyarakat secara keseluruhan ketika membuat penilaian. Tingkat penalaran moral terakhir Kolhberg didasarkan pada prinsip-prinsip etika universal dan penalaran abstrak. Pada tahap ini, orang mengikuti prinsip-prinsip keadilan yang diinternalisasi ini, bahkan jika mereka bertentangan dengan hukum dan peraturan.
Npm : 2113053208
Kelas : 3C
Analisis Jurnal 2 yang berjudul " Perkembangan Moral Siswa Sekolah Dasar Berdasarkan Teori Kohlberg"
Anak SD kelas tinggi dengan usia 11-12 tahun secara umum masuk kedalam kategori pra konvensional dimana pada tahap ini siswa SD melakukan suatu kegiatan bukan karena membutuhkan hasil namun karena mereka takut dihukum oleh guru. Salah satu aspek yang menunjang perkembangan kemahiran dalam kolaborasi, komunikasi, dan pemecahan masalah adalah dengan membantu perkembangan moral siswa agar tumbuh optimal. Hal ini penting karena di masyarakat meyakini bahwa moral merupakan pondasi terpenting bagi keberhasilan seseorang baik dalam karir maupun kehidupan pribadinya. Jadi dapat dikatakan bahwa pendidikan formal ini penting sebagai salah satu tujuan dasar dalam pendidikan formal dan juga dijadikan sebagai moral ini sebagai kontrol kondisi sosial dan sarana yang sangat diperlukan untuk aktualisasi diri.
Seorang ahli yang bernama Lawrence Kohlberg merumuskan enam tahapan pengenaan moral yaitu setiap perkembangan moral dibagi ke dalam tiga level dimana level pertama yaitu pra konvensional level kedua yaitu konvensional dan level ketiga yaitu pasca konvensional. Korban tidak memusatkan perhatian pada tingkah moral, artinya apa yang dilakukan oleh seorang individu tidak menjadi pusat pengamatannya karena menurutnya mengamati tingkah laku tidak menunjukkan banyak mengenai kematangan moral. Kematangan moral seseorang tidak tercermin dalam tingkah laku mereka melainkan pada pertimbangan atau penalaran.
NPM : 2113053005
Kelas : 3C
Menurut analasis yang saya simpulkan dalam jurnal yang berjudul PERKEMBANGAN MORAL SISWA SEKOLAH DASAR BERDASARKAN TEORI KOHLBERG, Pendidikan merupakan proses seumur hidup mulai dari dalam kandungan dan berlangsung sampai akhir dari kehidupan. Pendidikan tidak hanya memberikan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai, pelatihan naluri, membina sikap yang tepat dan kebiasaan terhadap generasi muda. dan Moralitas dan Pendidikan moral dapat dilihat dari dua sisi, yaitu dari sisi luar dan dari sisi dalam. Dilihat dari luar, moralitas mengatur cara bergaul dengan orang lain, dan dari dalam mengatur cara bergaul dengan diri sendiri.
Bagi seorang pendidik, sangat penting untuk memahami perkembangan moral peserta didiknya. Menurut Duska & Whelan (1984) bahwa kemahiran mengukur tahap-tahap penalaran moral hanya akan dicapai dengan memahami secara seksama deskripsi- deskripsi tentang tahap, termasuk kemampuan mengaplikasikan deskripsi-deskripsi tersebut pada jawaban-jawaban dari anak.
Kohlberg mengidentifikasi beberapa masalah filosofis mendasar yang mendasari studi perkembangan moral, seperti pertanyaan tentang definisi konstruk yang adil secara budaya. Psikolog yang mempelajari moralitas atau perkembangan moral harus berurusan dengan masalah relativisme moral atau netralitas nilai, yang bermula dari kata-kata yang bermuatan nilai "moral" dan "pengembangan." Relativisme moral adalah posisi bahwa nilai-nilai moral berbeda di antara budaya dan masyarakat dan karenanya tidak universal (Naito, 2013). teori kohlberg itu sendiri mengenai tentang moral secara formal tang berarti pikiran dan perkembangan yang secara pararel, dan mempunyai keputusan moral yang berkembang secara alami.
Perkembangan moral menurut kohlberg dibagi menjadi 3 level yaitu sebagai berikut :
-Level 1. Moralitas Pra-konvensional
Tahap 1 - Ketaatan dan Hukuman. Tahap awal perkembangan moral terutama terjadi pada anak-anak kecil, tetapi orang dewasa juga mampu mengekspresikan jenis penalaran ini.
Tahap 2 - Individualisme dan Pertukaran. Pada tahap perkembangan moral ini, anak-anak menjelaskan sudut pandang individu dan menilai tindakan berdasarkan bagaimana mereka melayani kebutuhan individu.
-Level 2. Moralitas Konvensional • Tahap 3 - Hubungan Interpersonal. Seringkali disebut sebagai orientasi "good boy-good girl", tahap perkembangan moral ini difokuskan pada memenuhi harapan dan peran sosial.
Tahap 4 - Menjaga Ketertiban Sosial. Pada tahap perkembangan moral ini, orang mulai menganggap masyarakat secara keseluruhan ketika membuat penilaian. Fokusnya adalah menjaga hukum dan ketertiban dengan mengikuti aturan, melakukan tugas seseorang dan menghormati otoritas.
-Level 3. Moralitas Pasca-konvensional. Tahap 5 - Kontrak Sosial dan Hak Perorangan. Pada tahap ini, orang mulai memperhitungkan perbedaan nilai, pendapat, dan kepercayaan orang lain.
NPM : 2113053058
Kelas: 3C
Analisis jurnal 2
Teori Kohlberg mengenai perkembangan moral secara formal disebut cognitive-dvelopmental theory of moralization, yang berakar pada karya Piaget. Asumsi utama Piaget adalah bahwa kognisi (pikiran) dan afek (perasaan) berkembang secara paralel dan keputusan moral merupakan proses perkembangan kognisi secara alami. Sebaliknya, kebanyakan ahli psikologi pada masa itu berasumsi bahwa pikiran moral lebih merupakan proses psikologi dan sosial. Dalam mengembangkan teorinya, Kohlberg tidak memusatkan perhatian pada tingkah laku moral, artinya apa yang dilakukan oleh seorang indivdu tidak menjadi pusat pengamatannya. Moralitas selalu berbicara tentang nilai, yang menjadi evaluasi standar normatif dalam mengatur kehidupan manusia. Evaluasi standar normatif maksudnya adalah moralitas merupakan sebuah kesepakatan antara individu dengan masyarakat mengenai kriteria baik atau buruknya sesuatu, sehingga akan menentukan apakah suatu hal layak atau tidak layak untuk dikerjakan oleh individu atau masyarakat. Hal itu didasari oleh pertimbangan moral (Taylor, 1969: 3).
Dari jurnal PERKEMBANGAN MORAL SISWA SEKOLAH DASAR BERDASARKAN TEORI KOHLBERG dapat disimpulkan bahwa teori perkembangan moral Kohlberg, pada anak-anak usia 11-12 tahun memang masih berada pada tahap pra konvensional tahap ½ yang dominan diikuti tahap 2 dan 2/3, yang cenderung ingin melakukan sesuatu karena takut dihukum. Karan hal ini dapat dilihat dari hasil penelitiannya bahwa Alasan yang mereka katakan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu, sejalan dengan yang dikatakan Kohlberg (Whelan & Duska), dimana pada tingkatan pra konvensional ini, kalau seorang anak mendengar bahwa sesuatu itu baik atau buruk, gambaran yang ada padanya berbeda sekali dengan yang ada pada orang dewasa. Anak pada tingkatan ini mempunyai pandangan yang sempit sekali tentang masyarakat. Tindakan hanya dinilainya dalam ukuran konsekuensikonsekuensi yang mungkin akan terjadi.
NPM : 2113053092
Kelas : 3C
Menurut analisis saya dari jurnal dengan judul Perkembangan moral siswa sekolah dasar berdasarkan teori kohlberg
Teori kohlberg ini dikenal sebagai teori yang digunakan untuk mengukur moral seseorang. Pendidikan merupakan proses seumur hidup mulai dari dalam kandungan dan berlangsung sampai tutup usia, pendidikan dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja baik itu usia tua muda bisa melakukan pendidikan, dalam pendidikan didalamnya memuat pelatihan naluri, menanam nilai-nilai dan kebiasaan yang mampu membawa kearah yang tepat.
Dalam teori kohlberg seorang ahli yang telah melakukan penelitian tentang moral dimana kohlberg tidak memusatkan perhatian pada tingkah laku, mengamati tingkah laku tidak menunjukkan banyak mengenai kematangan moral, namun melihat dari alasan apa yang digunakan seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam teori kohlberg ia juga menggunakan prinsip -prinsip etika universal dan penalaran abstrak. berdasarkan teori kohlberg tentang moral yang ada dalam diri seseorang tidak bisa dilihat dari umur atau dewasanya seseorang tetapi dari mengapa dia melakukan hal itu, karena apa ia melakukan hal itu
2113053029
Salah satu aspek yang menunjang perkembangan kemahiran dalam kolaborasi, komunikasi, dan pemecahan masalah adalah dengan membantu perkembangan moral siswa agar tumbuh optimal. Ini menjadi sangat penting terutama bagi para siswa di wilayah Indonesia yang secara umum masyarakatnya adalah masyarakat religius yang meyakini bahwa moral merupakan pondasi terpenting bagi keberhasilan seseorang baik dalam karir maupun kehidupan pribadinya. Pendidikan merupakan proses seumur hidup mulai dari dalam kandungan dan berlangsung sampai akhir dari kehidupan. Pendidikan tidak hanya memberikan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga
menanamkan nilai-nilai, pelatihan naluri, membina sikap yang tepat dan kebiasaan terhadap generasi muda.Moralitas dan Pendidikan moral dapat dilihat dari dua sisi, yaitu dari sisi luar dan dari sisi dalam. Dilihat dari luar, moralitas mengatur cara bergaul dengan orang lain, dan dari dalam mengatur cara bergaul dengan diri sendiri. Dengan kata lain, pendidikan moral diperlukan sekaligus sebagai kontrol kondisi sosial dan sarana yang sangat diperlukan untuk aktualisai diri. Sebagian besar dari kita, termasuk filsuf serta orang tua dan pendidik, menganggap bahwa kedua fungsi moralitas saling mendukung: apa yang baik bagi masyarakat juga baik untuk anak-anak kita, dan sebaliknya (Wren, 2008: 11).
Teori Kohlberg
1.Teori Kohlberg mengenai perkembangan moral secara formal disebut cognitive-dvelopmental theory of moralization, yang berakar pada karya Piaget. Asumsi utama Piaget adalah bahwa kognisi (pikiran) dan afek (perasaan) berkembang secara paralel dan keputusan moral merupakan proses perkembangan kognisi secara alami.
2. PRA-KONVESIONAL
1. Menghindari Hukuman : seseorang memiliki alasan untuk bertindak atau tidak bertindah karena untuk menghindari hukuman
2. Keuntungan dan Minat Pribadi : tindakan dilakukan dengan memperhitungkan apa yang akan di dapatkan olehnya
KONVESIONAL
3. Menjaga Sikap Orang Baik : memikirkan bagaimana kesepakatan sosial yang ada dan pendapat orang lain terhadapnya
4. Memelihara Peraturan : jika peraturan tidak ada yang mematuhinya maka keadaan akan menjadi kacau
PASCA KONVESIONAL
5. Orientasi Kontrak Sosial : setiap orang memiliki latar belakang dan situasi berbeda, tidak ada yang absolut atau pasti ketika melihat sebuah kasus
6. Prinsip Etika Universal : mengambarkan prinsip internal seseorang
Npm : 2143053034
Kelas : 3C
Perkembangan moral telah dipelajari dari berbagai perspektif psikologis, termasuk teori belajar, psikoanalisis, dan lain-lain. Studi saat ini tentang perkembangan moral telah dipengaruhi oleh pendekatan perkembangan kognitif Jean Piaget dan Lawrence Kohlberg. Kohlberg mengidentifikasi beberapa masalah filosofis mendasar yang mendasari studi perkembangan moral, seperti pertanyaan tentang definisi konstruk yang adil secara budaya. Seseorang dihadapkan pada dilema moral supaya muncul minatnya, lalu ditanya secar alangsung bagaimana solusinya terhadap dilema tersebut dan mengapa dia mengambil keputusan seperti itu . Kohlberg tidak memusatkan perhatian pada tingkah laku moral, artinya apa yang dilakukan oleh seorang indivdu tidak menjadi pusat pengamatannya. Sekali lagi tidak tampak perbedaan antara orang dewasa dengan anak kecil. Apa yang menampakan perbedaan dalam kematangan moral itu adalah pertimbangan-pertimbangan yang diberikan oleh mereka, mengapa mencuri mangga itu salah.
Npm : 2113053079
Kelas : 3C
pendidikan merupakan sebuah proses yang mana itu berlaku seumur hidup yang memberikan pengetahuan serta keterampilan, menanamkan nilai-nilai atau bisa disebut juga sebagai proses penanaman karakter. pendidikan moral diperlukan karena sebagai kontrol kondisi sosial dan sarana yang sangat diperlukan untuk aktualisai diri. moralitas saling mendukung apa yang baik bagi masyarakat juga baik untuk anak-anak , dan sebaliknya Oleh karena itu pembentukan moral anak dijadikan sebagai salah satu tujuan dasar dari pendidikan formal. Selain itu, masyarakat semakin sadar bahwa lingkungan dan masyarakat memainkan peran penting untuk melatih anak tentang norma-norma moral dan sosial yang mengatur kehidupan manusia .
Adapun tahap perkembangan moral dibagi ke dalam 3 level yakni :
1. prakonvesional, yang terdiri dari mengindari hukuman, keuntungan dan minat pribadi maksudnya lebih mengharapkan balasan timbal balik terhadap apa yang dilakukannya misal dia berbuat baik kepada seseorang dan dia juga mengharap adanya balasan baik juga oleh seseorang.
2. Konvensional, yang tediri dari menjaga sikap orang baik dan memelihara peraturan guannya untuk memelihara kenyamanan bersama
3. Pasca konvensional, yang terdiri dari orientasi kontak sosial dan prinsip etika universal
Sebelumnya izin memperkenalkan diri
Nama : Irmanda Frahani
Npm : 2113053124
Izin memberikan analisis mengenai artikel yang berjudul PERKEMBANGAN MORAL SISWA SEKOLAH DASAR BERDASARKANTEORI KOHLBERG
oleh Enung Hasanah
Teori Kohlberg mengenai perkembangan moral secara formal disebut cognitive-dvelopmental theory of moralization, yang berakar pada karya Piaget. Asumsi utama Piaget adalah bahwa kognisi (pikiran) dan afek (perasaan) berkembang secara paralel dan keputusan moral merupakan proses perkembangan kognisi secara alami. Sebaliknya, kebanyakan ahli psikologi pada masa itu berasumsi bahwa pikiran moral lebih merupakan proses psikologi dan sosial. Dalam mengembangkan teorinya, Kohlberg tidak memusatkan perhatian pada tingkah laku moral, artinya apa yang dilakukan oleh seorang individu tidak menjadi pusat pengamatannya.
Penelitian Kohlberg menunjukan bahwa bila penalaran-penalaran yang diajukan oleh seseorang mengapa ia mempunyai pertimbangan moral tertentu atau melakukan tindakan tertentu diperhatikan, maka
akan tampak jelas adanya perbedaan-perbedaan yang berarti dalam pendangan moral orang tersebut. Mungkin saja seseorang menunjukan bahwa berbuat curang itu salah, karena dapat ditangkap, sedangkan
orang lain barangkali menunjukan bahwa berbuat curang itu merongrong kepercayaan umum yang dibutuhkan untuk berlangsungnya masyarakat (Duska & Whelan, 1984: 57). Dengan demikian, apa yang membedakan tingkatan moral seseorang dapat dilihat dari alasan apa yang digunakan seseorang untuk melakukan sesuatu.
Teori (Kohlberg; L., Hersh, R.H. 1977) tentang Perkembangan Moral dibagi menjadi 3 level, yang masing-masing level dibagi menjadi beberapa tahap sebagai berikut:
Level 1. Moralitas Pra-konvensional
Tahap 1 - Ketaatan dan Hukuman.
Tahap 2 - Individualisme dan Pertukaran.
Level 2. Moralitas Konvensional
Tahap 3 - Hubungan Interpersonal.
Tahap 4 - Menjaga Ketertiban Sosial.
Level 3. Moralitas Pasca-konvensional.
Tahap 5 - Kontrak Sosial dan Hak Perorangan.
Tahap 6 - Prinsip Universal
Responden/peserta dalam penelitian ini adalah siswa Sekolah Dasar yang berusia antara 11-12 tahun. Berdasarkan teori Kohlberg, pada umumnya anak-anak yang berusia sekitar 10–13 tahun berada pada tahap pra-konvensional, meskipun juga ada orang-orang dewasa yang berhenti perkembangannya pada tahap tersebut. Karena orang dewasa yang terhenti pada tingkatan itu merupakan kekecualian (Duska & Whelan, 1984: 65).
Penelitian memberi angket kepada peserta didik kemudian peserta didik mengisi angket tersebut sesuai dengan hati atau pikiran nya.
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat dianalisis bahwa teori perkembangan moral Kohlberg, anak-anak usia 11-12 tahun memang masih berada pada tahap pra konvensional tahap ½ yang dominan diikuti tahap 2 dan 2/3, yang cenderung ingin melakukan sesuatu karena takut dihukum. Dalam hasil penelitian sederhana ini, responden yang berusia 11-12 tahun cenderung baru memasuki tingkat 1 tahap 1, meskipun pada kasus tertentu mungkin saja ada pengecualian yaitu pada usia 11-12 bisa saja berada pada tingkat perkembangan moral yang lebih rendah atau yang lebih tinggi.
Terima kasih
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Npm : 2113053094
Analisis jurnal 2
Moralitas dan Pendidikan moral dapat dilihat dari dua sisi, yaitu dari sisi luar dan dari sisi dalam. Dilihat dari luar, moralitas mengatur cara bergaul dengan orang lain, dan dari dalam mengatur cara bergaul dengan diri sendiri. Oleh karena itu pembentukan moral anak dijadikan sebagai salah satu tujuan dasar dari pendidikan formal. Menurut Duska & Whelan bahwa kemahiran mengukur tahap-tahap penalaran moral hanya akan dicapai dengan memahami secara seksama deskripsi deskripsi tentang tahap, termasuk kemampuan mengaplikasikan deskripsi-deskripsi tersebut pada jawaban-jawaban dari anak. Perkembangan moral telah dipelajari dari berbagai perspektif psikologis, termasuk teori belajar, psikoanalisis, dan lain-lain.
Terima Kasih
Npm: 2113053023
Izin untuk memberikan analisis jurnal mengenai “PERKEMBANGAN MORAL SISWA SEKOLAH DASAR BERDASARKAN TEORI KOHLBERG”
Bagi seorang pendidik, memahami perkembangan moral anak didik sangatlah penting. Menurut Duska & Whelan (1984), kemampuan untuk mengukur tahapan-tahapan penalaran moral hanya akan dicapai dengan pemahaman yang menyeluruh tentang deskripsi tahapan-tahapan tersebut, termasuk kemampuan untuk menerapkan deskripsi tersebut pada respon anak. Penelitian Kohlberg menunjukkan bahwa jika seseorang memperhitungkan alasan yang diberikan orang tentang mengapa mereka memiliki pandangan moral tertentu atau melakukan tindakan tertentu, jelas ada perbedaan yang signifikan dalam karakter moral orang tersebut. Mungkin seseorang akan menunjukkan bahwa berbuat curang itu salah, karena bisa ditangkap, sementara orang lain mungkin menunjukkan bahwa penipuan mengikis kepercayaan umum yang diperlukan untuk kelangsungan hidup masyarakat (Duska & Whelan, 1984:57). Jadi yang membedakan tingkat moral seseorang dapat dilihat dari alasan yang digunakan seseorang untuk melakukan sesuatu.
Nama: Erma Titis Nikmah
Npm: 2153053014
Teori moralisasi perkembangan kognitif , yang berakar pada karya Piaget , adalah nama yang diberikan untuk hipotesis Kohlberg tentang perkembangan moralitas yang diformalkan .Asumsi dasar Piaget adalah bahwa kognisi (pikiran) dan emosi (perasaan) berkembang secara bersamaan dan bahwa penilaian moral mewakili suatu proses pengembangan kognisi dengan cara yang dapat dimengerti .
Teori (Kohlberg; L., Hersh, R.H. 1977) tentang Perkembangan Moral dibagi menjadi 3 level, yang masing-masing level dibagi menjadi beberapa tahap sebagai berikut:
Level 1. Moralitas Pra-konvensional
Tahap 1 - Ketaatan dan Hukuman.
Tahap 2 - Individualisme dan Pertukaran
Level 2. Moralitas Konvensional
Tahap 3 - Hubungan Interpersonal.
Tahap 4 - Menjaga Ketertiban Sosial.
Level 3. Moralitas Pasca-konvensional.
Tahap 5 - Kontrak Sosial dan Hak Perorangan
Tahap 6 - Prinsip Universal.
Penelitian Kohlberg menunjukan bahwa bila penalaran-penalaran yang diajukan oleh seseorang mengapa ia mempunyai pertimbangan moral tertentu atau melakukan tindakan tertentu diperhatikan, maka akan tampak jelas adanya perbedaan-perbedaan yang berarti dalam pendangan moral orang tersebut.
NPM : 2113053277
Berdasarkan jurnal diatas mengenai Perkembangan Moral Siswa SD Berdasarkan Teori Kohlberg dapat saya simpulkan bahwa perkembangan moral secara normal disebut sebagai cognitive-dvelopmental theory of moralization, yang berakar pada karya Piaget. Piaget mengasumsikan bahwa kognisi dan afek ( perasaan ) berkembang secara parallel serta keputusan moral merupakan sebuah proses perkembangan kognisi secara alami. Kohlberg sendiri tidak memusatkan perhatian pada tingkah laku moral. Kohlberg juga tidak memusatkan perhatian pada pernyataan ( statement) seseorang. Dalam penelitiannya menunjukkan bahwa bila penalaran-penalaran yang diajukan seseorang mengapa ia mempunya pertimbangan moral tertentu, maka akan tampak jelas adanya perbedaan-perbedaan yang berarti dalam pandangan moral tersebut.
Perkembangan moral yang dicetuskan oleh Kohlberg pada tahun 1997 mengungkapkan bahwa perkembangan moral terbagi atas 3 level.
1. Moralitas Pra-Konvensional, pada level ini terbagi menjadi 2 tahap yaitu tahap ketaatan dan hukuman dan yang kedua adalah individualisme dan pertukaran.
2. Moralitas Konvensional. Level ini terdiri dari 2 tahap yaitu, tahap 3 yang merupakan hubungan Interpersonal dan tahap 4 yang merupakan menjaga ketertiban sosial.
3. Moralitas Pasca-Konvensional, yang terdiri dari tahap 5 yaitu kontrak sosial dan hak perorangan serta tahap 6 yaitu prinsip universal.
Nama : Annisa Salsabina Rahmadhani
NPM : 2113053014
Kelas : 3C
Salah satu aspek yang menunjang perkembangan kemahiran dalam kolaborasi, komunikasi, dan pemecahan masalah adalah dengan membantu perkembangan moral siswa agar tumbuh optimal. Pendidikan merupakan proses seumur hidup mulai dari dalam kandungan dan berlangsung sampai akhir dari kehidupan. Pendidikan tidak hanya memberikan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai, pelatihan naluri, membina sikap yang tepat dan kebiasaan terhadap generasi muda. Dengan kata lain, pendidikan juga merupakan proses penanaman karakter. Teori Kohlberg mengenai perkembangan moral secara formal disebut cognitive-dvelopmental theory of moralization, yang berakar pada karya Piaget. Asumsi utama Piaget adalah bahwa kognisi (pikiran) dan afek (perasaan) berkembang secara paralel dan keputusan moral merupakan proses perkembangan kognisi secara alami.
Teori (Kohlberg; L., Hersh, R.H. 1977) tentang Perkembangan Moral dibagi menjadi 3 level, yang masing-masing level dibagi menjadi beberapa tahap sebagai berikut:
1. Level 1. Moralitas Pra-konvensional, pada Tahap 1 - Ketaatan dan Hukuman. Tahap awal perkembangan moral terutama terjadi pada anak-anak kecil, tetapi orang dewasa juga mampu mengekspresikan jenis penalaran ini. Lalu Tahap 2 - Individualisme dan Pertukaran. Pada tahap perkembangan moral ini, anak-anak menjelaskan sudut pandang individu dan menilai tindakan berdasarkan bagaimana mereka melayani kebutuhan individu.
2. Level 2. Moralitas Konvensional yakni pada Tahap 3 - Hubungan Interpersonal. Seringkali disebut sebagai orientasi "good boy-good girl", tahap perkembangan moral ini difokuskan pada memenuhi harapan dan peran sosial. Lalu Tahap 4 - Menjaga Ketertiban Sosial. Pada tahap perkembangan moral ini, orang mulai menganggap masyarakat secara keseluruhan ketika membuat penilaian.
3. Level 3. Moralitas Pasca-konvensional. Pda Tahap 5 - Kontrak Sosial dan Hak Perorangan. Pada tahap ini, orang mulai memperhitungkan perbedaan nilai, pendapat, dan kepercayaan orang lain. Lalu Tahap 6 - Prinsip Universal, Tingkat penalaran moral terakhir Kolhberg didasarkan pada prinsip-prinsip etika universal dan penalaran abstrak.
Npm : 2113053073
Kelas : 3C
Analisis jurnal 2
Berikut ini hasil analisis jurnal menurut saya mengenai “Perkembangan Moral Siswa Sekolah Dasar Berdasarkan Teori Kohlberg” bahwa Teori Kohlberg dikenal sebagai teori yang mengukur moralitas masyarakat. Untuk mengetahui perkembangan moral peserta didik di sekolah dasar yang berlandaskan teori Kohlberg penulis melakukan penelitian sederhana melalui angket dengan jawaban yang terbuka.
Terimaksih
NPM : 2113053167
Kelas : 3C
Menurut pendapat saya berdasarkan hasil analisis jurnal yang berjudul perkembangan moral siswa sekolah dasar berdasarkan teori kholberg yaitu Teori Kohlberg dikenal sebagai teori yang mengukur tingkatan moral seseorang. Perkembangan moral telah dipelajari dari berbagai perspektif psikologis, termasuk teori belajar, psikoanalisis, dan lain-lain. Studi saat ini tentang perkembangan moral telah dipengaruhi oleh pendekatan perkembangan kognitif Jean Piaget dan Lawrence Kohlberg. Dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan teori perkembangan moral Kohlberg, anak-anak usia 11-12 tahun memang masih berada pada tahap pra konvensional tahap ½ yang dominan diikuti tahap 2 dan 2/3, yang cenderung ingin melakukan sesuatu karena takut dihukum.
NPM: 2113053171
Analisi Jurnal kedua yang berjudul “ PERKEMBANGAN MORAL SISWA SEKOLAH DASAR BERDASARKAN TEORI KOHLBERG”
Pendidikan moral sangat diperlukan karena sebagai pengaruh kondisi sosial dan sarana yang sangat diperlukan untuk aktualisai diri. Perkembangan moral juga sangat perlu dipahami oleh tenaga pendidik.
Teori Kohlberg tentang perkembangan moral secara formal disebut cognitive-dvelopmental theory of moralization, yang berakar pada teori Piaget. Asumsi utama Piaget adalah bahwa kognisi (pikiran) dan afek (perasaan) berkembang secara paralel dan keputusan moral merupakan proses perkembangan kognisi secara alami.
Kohlberg; L., Hersh, R.H. 1977) tentang Perkembangan Moral dibagi menjadi 3 level yang setiap levelnya terdiri dari 2 tahap yaitu:
Level 1 yaitu Moralitas Pra-konvensional yang meliputi:
Tahap 1 - Ketaatan dan Hukuman
Tahap 2 - Individualisme dan Pertukaran
Level 2 Moralitas Konvensional yang meliputi:
Tahap 3 Hubungan Interpersonal
Tahap 4 - Menjaga Ketertiban Sosial
Level 3 Moralitas Pasca-konvensional
Tahap 5 Kontrak Sosial dan Hak Perorangan
Tahap 6 Prinsip Universal
Pada jurnal tersebut penulis membuat data angket tantang perkembangan moral, pada penelitian tersebut membuktikan bahwa anak usia antara 11 dan 12 tahun, memiliki perkembangan moral seperti apa yang dikemukakan oleh Kohlberg (1968), bahwa pada usia tersebut termasuk pada tahap 1.
Npm : 2153053032
Kelas : 3c
Izin memberikan tanggapan analisis mengenai jurnal yang berjudul PERKEMBANGAN MORAL SISWA SEKOLAH DASAR BERDASARKAN TEORI KOHLBERG
Teori Kohlberg mengenai perkembangan moral secara formal disebut cognitive-dvelopmental theory of moralization, yang berakar pada karya Piaget. Asumsi utama Piaget adalah bahwa kognisi (pikiran) dan afek (perasaan) berkembang secara paralel dan keputusan moral merupakan proses perkembangan kognisi secara alami. Sebaliknya, kebanyakan ahli psikologi pada masa itu berasumsi bahwa pikiran moral lebih merupakan proses psikologi dan sosial. Dalam mengembangkan teorinya, Kohlberg tidak memusatkan perhatian pada tingkah laku moral, artinya apa yang dilakukan oleh seorang indivdu tidak menjadi pusat pengamatannya.
Penelitian Kohlberg menunjukan bahwa bila penalaran-penalaran yang diajukan oleh seseorang mengapa ia mempunyai pertimbangan moral tertentu atau melakukan tindakan tertentu diperhatikan, maka akan tampak jelas adanya perbedaan-perbedaan yang berarti dalam pendangan moral orang tersebut.
Sebelumnya izin memperkenalkan diri
Nama : Putri ristamarin
Npm : 2013053185
Izin memberikan analisis mengenai artikel yang berjudul PERKEMBANGAN MORAL SISWA SEKOLAH DASAR BERDASARKANTEORI KOHLBERG
oleh Enung Hasanah
Teori Kohlberg mengenai perkembangan moral secara formal disebut cognitive-dvelopmental theory of moralization, yang berakar pada karya Piaget. Asumsi utama Piaget adalah bahwa kognisi (pikiran) dan afek (perasaan) berkembang secara paralel dan keputusan moral merupakan proses perkembangan kognisi secara alami. Sebaliknya, kebanyakan ahli psikologi pada masa itu berasumsi bahwa pikiran moral lebih merupakan proses psikologi dan sosial. Dalam mengembangkan teorinya, Kohlberg tidak memusatkan perhatian pada tingkah laku moral, artinya apa yang dilakukan oleh seorang individu tidak menjadi pusat pengamatannya.
Penelitian Kohlberg menunjukan bahwa bila penalaran-penalaran yang diajukan oleh seseorang mengapa ia mempunyai pertimbangan moral tertentu atau melakukan tindakan tertentu diperhatikan, maka
akan tampak jelas adanya perbedaan-perbedaan yang berarti dalam pendangan moral orang tersebut. Mungkin saja seseorang menunjukan bahwa berbuat curang itu salah, karena dapat ditangkap, sedangkan
orang lain barangkali menunjukan bahwa berbuat curang itu merongrong kepercayaan umum yang dibutuhkan untuk berlangsungnya masyarakat (Duska & Whelan, 1984: 57). Dengan demikian, apa yang membedakan tingkatan moral seseorang dapat dilihat dari alasan apa yang digunakan seseorang untuk melakukan sesuatu.
Teori (Kohlberg; L., Hersh, R.H. 1977) tentang Perkembangan Moral dibagi menjadi 3 level, yang masing-masing level dibagi menjadi beberapa tahap sebagai berikut:
Level 1. Moralitas Pra-konvensional
Tahap 1 - Ketaatan dan Hukuman.
Tahap 2 - Individualisme dan Pertukaran.
Level 2. Moralitas Konvensional
Tahap 3 - Hubungan Interpersonal.
Tahap 4 - Menjaga Ketertiban Sosial.
Level 3. Moralitas Pasca-konvensional.
Tahap 5 - Kontrak Sosial dan Hak Perorangan.
Tahap 6 - Prinsip Universal
Responden/peserta dalam penelitian ini adalah siswa Sekolah Dasar yang berusia antara 11-12 tahun. Berdasarkan teori Kohlberg, pada umumnya anak-anak yang berusia sekitar 10–13 tahun berada pada tahap pra-konvensional, meskipun juga ada orang-orang dewasa yang berhenti perkembangannya pada tahap tersebut. Karena orang dewasa yang terhenti pada tingkatan itu merupakan kekecualian (Duska & Whelan, 1984: 65).
Penelitian memberi angket kepada peserta didik kemudian peserta didik mengisi angket tersebut sesuai dengan hati atau pikiran nya.
Nama: Sherlita Nur Azizah
NPM: 2113053232
Kelas: 3C
Izin menyampaikan hasil analisis jurnal 1,
Salah satu tugas perkembangan yang harus dicapai pada priode anak adalah memiliki seperangkat nilai atau sistem etis untuk menjadi pedoman dalam bertingkah laku dalam menjalani kehidupan dimasyarakat. Selama usia anak-anak, pengusaha moral anak mulai diperhatikan secara berangsur-angsur mereka mulai menguasai dan menyakini nilai-nilai yang bersifat universal.nilai-nilai yang dimiliki sebagi seorang anak membimbing cara berinteraksi dengan orang lain,dan dalam menghadapi berbagai problematik kehidupan, sehingga memungkinkan anak menjalani kehidupan secara seimbang dan tentram. Tercapainya perkembangan moral memberi arti bagi peningkatan sosialisasi sehingga anak benar-benar siap memasuki kehidupan dewasa atau remajanya.
Dengan menggunakan teori perkembangan moral Kohlberg, anak-anak usia 11-12 tahun memang masih berada pada tahap pra konvensional tahap ½ yang dominan diikuti tahap 2 dan 2/3, yang cenderung ingin melakukan sesuatu karena takut dihukum. Dalam hasil penelitian sederhana ini, responden yang berusia 11-12 tahun cenderung baru memasuki tingkat 1 tahap 1, meskipun pada kasus tertentu mungkin saja ada pengecualian yaitu pada usia 11-12 bisa saja berada pada tingkat perkembangan moral yang lebih rendah atau yang lebih tinggi.
Sekian, terimakasih. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
NPM : 2113053209
Analisis Jurnal 2
PERKEMBANGAN MORAL SISWA SEKOLAH DASAR BERDASARKAN
TEORI KOHLBERG
Berdasarkan penelitian Teori Kholberg menunjukan bahwa bila penalara-penalaran yang diajukan oleh seseorang mengapa ia mempunyai pertimbangan moral tertentu atau melakukan tindakan tertentu diperhatikan, maka akan tampak jelas adanya perbedaan-perbedaan yang berarti dalam pendangan moral orang tersebut.
Berdasarkan analisis saya tahap perkembangan Manusia dalam perkembangan moralnya berbeda-beda tergantung usia mereka, selain berpengaruh dari usia moral manusia juga dapat dipengaruhi dari pendidikan yang ia terima, dan lingkungan tempat tinggal mereka.
NPM: 2113053196
Kelas: 3C
Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabaraktuh.
Selamat sore Bapak Roy Kembar Habibie, M.Pd. selaku dosen pengampu mata kuliah Pendidikan Nilai dan Moral Kelas 3C PGSD. Saya Farhan Iqbal Pratama ingin mengirim tugas mengenai analisis jurnal 2 yang berjudul “PERKEMBANGAN MORAL SISWA SEKOLAH DASAR BERDASARKAN TEORI KOHLBERG” oleh Enung Hasanah, Jurnal JIPSINDO No. 2, Volume 6, September 2019.
Kholberg mengemukakan teori yang dapat digunakan dalam mengukur tingkatan moral seseorang. Loh?! Bagaimana bisa? Hal ini dikarenakan, Teori Kohlberg dapat mengetahui tingkatan moral seseorang melalui perspektif psikologi, mulai dari teori belajar, psikoanalisis dll. Teori Kohlberg mengenai perkembangan moral secara formal disebut cognitive-dvelopmental theory of moralization. Kohlberg tidak memusatkan perhatian pada tingkah laku moral, artinya apa yang dilakukan oleh seorang indivdu tidak menjadi pusat pengamatannya. Mengamati tingkah laku tidak menunjukan banyak mengenai kematangan moral.
Teori Kohlberg mengenai perkembangan moral seseorang dibagi menjadi 3 level, yaitu:
A. Level 1 tentang Moralitas Pra-Konvensional yang terdiri dari: (1) tahap ketaatan dan hukuman; (2) tahap individualisme dan pertukaran.
B. Level 2 tentang Moralitas Konvensional yang terdiri dari: (3) tahap hubungan interpersonal; (4) tahap menjaga ketertiban sosial.
C. Level 3 tentang Moralitas Pasca-Konvensional yang terdiri dari: (5) tahap kontrak sosial dan hak perorangan; (6) tahap prinsip universal.
Adanya perbedaan level dalam teori Kohlberg adalah dimaksudkan agar kita tahu sudah sejauh mana perkembangan moralitas seseorang.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Enung Hasanah dalam jurnalnya bahwa anak yang berusia 10-13 tahun menurut teori Kohlberg masih berada dalam tahap pra-konvensional. Melihat hasil angket anak berusia 11-12 tahun (siswa SD), dapat dianalisis bahwasannya hal yang mlatarbelakangi siswa melakukan motif perbuatan seperti mereka akan tetap belajar bukan karena ingin pintar namun ada suatu keharusan patuh hukum untuk menghindari yang namanya hukuman. Contoh yang diambil adalah jawaban dari Salsabila (11 tahun) yang mana ia berjanji harus menepati janjinya karena tidak ingin dicap sebagai orang yang suka berbohong. Berdasarkan data angket juga bahwasannya terdapat 10% anak yang perkembangan moralnya lebih tinggi dibandingkan dengan 90% lainnya.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa teori Kohlberg dapat membantu kita sebagai pendidik dalam mengetahui perkembangan moralitas peserta didiknya, sehingga dalam penerapannya kita yang sekarang masih dianggap sebagai calon pendidik harus paham betul dalam mengetahui tingkatan moralitas peserta didik kita nantinya agar kita tahu harus bagaimana jika terdapat peserta didik yang belum mencapai tingkatan moralitasnya sesuai yang disebutkan Kohlberg dalam teorinya.
Sekian analisis jurnal 2 dari saya.
Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.
NPM : 2113053186
Kelas. : 3C
Analisis Jurnal 2 yang berjudul " Perkembangan Moral Siswa Sekolah Dasar Berdasarkan Teori Kohlberg"
Perkembangan moral telah dipelajari dari berbagai perspektif psikologis, termasuk teori belajar, psikoanalisis, dan lain-lain. Studi saat ini tentang perkembangan moral telah dipengaruhi oleh pendekatan perkembangan kognitif Jean Piaget dan Lawrence Kohlberg. Kohlberg mengidentifikasi beberapa masalah filosofis mendasar yang mendasari studi perkembangan moral, seperti pertanyaan tentang definisi konstruk yang adil secara budaya. Psikolog yang mempelajari
moralitas atau perkembangan moral harus berurusan dengan masalah relativisme moral atau netralitas nilai, yang bermula dari kata-kata yang bermuatan nilai "moral" dan "pengembangan." Relativisme moral
adalah posisi bahwa nilai-nilai moral berbeda di antara budaya dan masyarakat dan karenanya tidak universal (Naito, 2013).
Teori Kohlberg mengenai perkembangan moral secara formal disebut cognitive-dvelopmental theory of moralization, yang berakar pada karya Piaget. Asumsi utama Piaget adalah bahwa kognisi (pikiran) dan afek (perasaan) berkembang secara paralel dan keputusan moral merupakan proses perkembangan kognisi secara alami. Sebaliknya, kebanyakan ahli psikologi pada masa itu berasumsi bahwa pikiran
moral lebih merupakan proses psikologi dan sosial. Dalam mengembangkan teorinya, Kohlberg tidak memusatkan perhatian pada tingkah laku moral, artinya apa yang dilakukan oleh seorang indivdu
tidak menjadi pusat pengamatannya.
Teori (Kohlberg; L., Hersh, R.H. 1977) tentang Perkembangan Moral ini dibagi menjadi 3 level, yang masing-masing level itu dibagi menjadi
beberapa tahap yaitu :
Level 1. Moralitas Pra-konvensional
Tahap 1 - Ketaatan dan Hukuman.
Tahap 2 - Individualisme dan Pertukaran
Level 2. Moralitas Konvensional
Tahap 3 - Hubungan Interpersonal.
Tahap 4 - Menjaga Ketertiban Sosial.
Level 3. Moralitas Pasca-konvensional.
Tahap 5 - Kontrak Sosial
dan Hak Perorangan
Tahap 6 - Prinsip Universal.
Untuk menemukan tahap kepatutan moral seseorang, Kohlberg telah menyusun instrumen penelitian guna menggolongkan proses penalaran orang tersebut dalam mengatasi dilema moral. Seseorang
dihadapkan pada dilema moral supaya muncul minatnya, lalu ditanya secar alangsung bagaimana solusinya terhadap dilema tersebut dan mengapa dia mengambil keputusan seperti itu (Zuchdi, 2010: 11-13)
Dapat disimpulkan hasil penelitian dari jurnal "Perkembangan Moral Siswa Sekolah Dasar Berdasarkan Teori Kohlberg" Berdasarkan hasil analisis data dengan menggunakan teori
perkembangan moral Kohlberg pada anak-anak usia 11-12 tahun memang masih berada pada tahap pra konvensional tahap ½ yang dominan diikuti tahap 2 dan 2/3, yang cenderung ingin melakukan sesuatu
karena takut dihukum. Yaitu (90%) perkembangan moral para responden yang berada pada usia 11-12 tahun masih berada pada tingkat pra konvensional. Alasan yang mereka katakan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu, sejalan dengan yang dikatakan Kohlberg (Whelan & Duska), dimana pada tingkatan pra konvensional ini, kalau seorang anak mendengar bahwa sesuatu itu baik atau buruk, gambaran yang ada padanya berbeda sekali dengan yang ada pada orang dewasa. Anak pada tingkatan ini mempunyai pandangan yang sempit sekali tentang masyarakat. Tindakan hanya dinilainya dalam ukuran konsekuensikonsekuensi yang mungkin akan terjadi.
Npm: 2113053133
Kelas: 3C
Izin memberikan analis pada jurnal yang berjudul " Perkembangan Moral Siswa Sekolah Dasar Berdasarkan Teori Kohlberg "
Berdasarkan jurnal diatas moralitas merupakan suatu hal yang selalu berbicara mengenai nilai yang menjadi evaluasi standar normatif dalam mengatur kehidupan manusia. Moralitas menjadi sebuah kesepakatan antara individu dengan masyarakat mengenai kriteria baik atau buruknya sesuatu, sehingga akan menentukan apakah suatu hal layak atau tidak layak untuk dikerjakan oleh individu atau masyarakat.
Teori Kohlberg mengenai perkembangan moral secara formal disebut cognitive-dvelopmental theory of moralization yang betakar pada karya pigaet. Pigaet berasumsi bahwa kognisi dan afek berkembang secara paralel dan keputusan moral merupakan proses perkembangan kognisi secara alami. Dalam mengembangkan teorinya Kohlberg tidak memusatkan perhatian pada tingkah laku moral dan pernyataan seseorang. Teori perkembangan Kohlberg terbagi menjadi 3 level, yang masing-masing level memiliki 2 tahap, yaitu sebagai berikut:
Level 1 Moralitas pra konvensional
Tahap 1 ketaatan dan hukuman, tahap 2 individualisme dan pertukaran.
Level 2 Moralitas Konvensional;
Tahap 3 hubungan interpersonal dan tahap 4 Menjaga ketertiban sosial
Level 3 Moralitas Pasca Konvensional;
Tahap 5 Kontrak sosial dan hak perorangan, Tahap 6 Prinsip Universal.
Didalam jurnal diatas, terdapat penelitian mengani perkembangan moral dengan responden Siswa Sekolah Dasar kelas VI yang berusia sekitar 11-12 tahun. Berdasarkan hasil analisis data dengan menggunakan teori perkembangan moral Kohlberg, anak-anak usia 11-12 tahun memang masih berada pada tahap pra konvensional tahap ½ yang dominan diikuti tahap 2 dan 2/3, yang cenderung ingin melakukan sesuatu karena takut dihukum.
Nama : Wiranto Oktavian
NPM : 2153053012
Disini saya akan memberikan hasil analisis saya terkait jurnal diatas mengenai "Perkembangan Moral Siswa Sekolah Dasar Berdasarkan Teori Kohlberg"
Teori Kohlberg dikenal sebagai teori yang mengukur tingkatan moral seseorang. Perkembangan moral telah dipelajari dari berbagai perspektif psikologis, termasuk teori belajar, psikoanalisis, dan lain-lain. penelitian perkembangan moral dipengaruhi oleh pendekatan perkembangan kognitif Jean Piaget dan Lawrence Kohlberg.
Siswa Sekolah Dasar yang berusia antara 11-12 tahun. Berdasarkan teori Kohlberg, pada umumnya anak-anak yang berusia sekitar 10–13 tahun berada pada tahap pra-konvensional, meskipun juga ada orang-orang dewasa yang berhenti perkembangannya pada tahap tersebut. Karena orang dewasa yang terhenti pada tingkatan itu merupakan kekecualian.
jadi, dapat disimpulkan bahwa anak-anak yang berusia 11-12 tahun masih dalam tahap pra-tradisional, di antaranya berada di tahap 2 dan 2/3, yang cenderung melakukan sesuatu karena takut akan hukuman. Hasil survei sederhana ini, responden berusia 11-12 tahun cenderung mencapai level 1 level 1, meskipun ada pengecualian dalam beberapa kasus, termasuk usia 11-12 tahun pada level perkembangan moral.
Sekian terima kasih
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
NPM : 2113053117
Kelas : 3c
Berdasarkan jurnal yang berjudul PERKEMBANGAN MORAL SISWA SEKOLAH DASAR BERDASARKAN
TEORI KOHLBERG kita dapat mengukur tingkatan perkembangan moral menggunkan teori kohlberg. Pada penelitian tersebut difokuskan pada anak yang berusia 11 sampai 12 tahun. Berdasarkan jurnal tersebut anak-anak usia 11 sampai 12 tahun berada tahap pra konvensional. Dari pernyataan tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa pendidikan berperan penting untuk perkembangan moral anak, oleh karena itu kita sebagai calon seorang guru dituntut untuk mampu memahami perkembangan moral siswanya.
NPM : 2113053254
Kelas : 3C
Izin memberikan hasil analisis saya terkait jurnal “PERKEMBANGAN MORAL SISWA SEKOLAH DASAR BERDASARKAN TEORI KOHLBERG”
Menurut jurnal yang telah saya baca bahwa Teori Kohlberg dikenal sebagai teori yang mengukur tingkatan moral seseorang. Teori Kohlberg, Ada tiga tingkatan perkembangan penalaran tentang moral, yaitu Penalaran prakonvesional, Penalaran Konvensional, dan Penalaran Pascakonvensional. Teori Kohlberg mengenai perkembangan moral secara formal disebut cognitive-dvelopmental theory of moralization, yang berakar pada karya Piaget. Asumsi utama Piaget adalah bahwa kognisi (pikiran) dan afek (perasaan) berkembang secara paralel dan keputusan moral merupakan proses perkembangan kognisi secara alami. Berdasarkan teori Kohlberg, pada umumnya anak-anak yang berusia sekitar 10–13 tahun berada pada tahap pra-konvensional, meskipun juga ada orang-orang dewasa yang berhenti perkembangannya pada tahap tersebut.
teori perkembangan moral Kohlberg, anak-anak usia 11-12 tahun memang masih berada pada tahap pra konvensional tahap ½ yang dominan diikuti tahap 2 dan 2/3, yang cenderung ingin melakukan sesuatu karena takut dihukum. Dalam hasil penelitian sederhana ini, responden yang berusia 11-12 tahun cenderung baru memasuki tingkat 1 tahap 1, meskipun pada kasus tertentu mungkin saja ada pengecualian yaitu pada usia 11-12 bisa saja berada pada tingkat perkembangan moral yang lebih rendah atau yang lebih tinggi.
Terimakasih
Npm: 2113053099
Kelas: 3C
Moralitas dan Pendidikan moral dapat dilihat dari dua sisi, yaitu dari sisi luar dan dari sisi dalam. Dilihat dari luar, moralitas mengatur cara bergaul dengan orang lain, dan dari dalam mengatur cara bergaul dengan diri sendiri. Dengan kata lain, pendidikan moral diperlukan sekaligus sebagai kontrol kondisi sosial dan sarana yang sangat diperlukan untuk aktualisai diri. Sebagian besar dari kita, termasuk filsuf serta orang tua dan pendidik, menganggap bahwa kedua fungsi moralitas saling mendukung: apa yang baik bagi masyarakat juga baik untuk anak-anak kita, dan sebaliknya (Wren, 2008: 11).
Teori Kohlberg
1.Teori Kohlberg mengenai perkembangan moral secara formal disebut cognitive-dvelopmental theory of moralization, yang berakar pada karya Piaget. Asumsi utama Piaget adalah bahwa kognisi (pikiran) dan afek (perasaan) berkembang secara paralel dan keputusan moral merupakan proses perkembangan kognisi secara alami.
2. PRA-KONVESIONAL
1. Menghindari Hukuman : seseorang memiliki alasan untuk bertindak atau tidak bertindah karena untuk menghindari hukuman
2. Keuntungan dan Minat Pribadi : tindakan dilakukan dengan memperhitungkan apa yang akan di dapatkan olehnya
KONVESIONAL
3. Menjaga Sikap Orang Baik : memikirkan bagaimana kesepakatan sosial yang ada dan pendapat orang lain terhadapnya
4. Memelihara Peraturan : jika peraturan tidak ada yang mematuhinya maka keadaan akan menjadi kacau
PASCA KONVESIONAL
5. Orientasi Kontrak Sosial : setiap orang memiliki latar belakang dan situasi berbeda, tidak ada yang absolut atau pasti ketika melihat sebuah kasus
6. Prinsip Etika Universal : mengambarkan prinsip internal seseorang
Npm: 2113053197
Kelas: 3C
Pendidikan merupakan sebuah proses yang mana itu berlaku seumur hidup yang memberikan pengetahuan serta keterampilan, menanamkan nilai-nilai atau bisa disebut juga sebagai proses penanaman karakter. pendidikan moral diperlukan karena sebagai kontrol kondisi sosial dan sarana yang sangat diperlukan untuk aktualisai diri. moralitas saling mendukung apa yang baik bagi masyarakat juga baik untuk anak-anak , dan sebaliknya Oleh karena itu pembentukan moral anak dijadikan sebagai salah satu tujuan dasar dari pendidikan formal. Selain itu, masyarakat semakin sadar bahwa lingkungan dan masyarakat memainkan peran penting untuk melatih anak tentang norma-norma moral dan sosial yang mengatur kehidupan manusia .
Adapun tahap perkembangan moral dibagi ke dalam 3 level yakni :
1. prakonvesional, yang terdiri dari mengindari hukuman, keuntungan dan minat pribadi maksudnya lebih mengharapkan balasan timbal balik terhadap apa yang dilakukannya misal dia berbuat baik kepada seseorang dan dia juga mengharap adanya balasan baik juga oleh seseorang.
2. Konvensional, yang tediri dari menjaga sikap orang baik dan memelihara peraturan guannya untuk memelihara kenyamanan bersama
3. Pasca konvensional, yang terdiri dari orientasi kontak sosial dan prinsip etika universal