Lampirkan analisis anda mengenai jurnal diatas, dengan menyertakan identitas diri seperti nama dan NPM.
Forum Analisis Jurnal 1
Nama: Cicilia Cahyani Cristta Viva
NPM: 2513053210
Pada jurrnal "Pendidikan Nilai dan Moral dalam Sistem Kurikulum Pendidikan di Aceh" membahas tentang bagaimana penerapan pembentukan karakter dan sikap siswa di Aceh yang tidak sekadar berorientasi pada aspek kognitif. Berdasarkan landasan ajaran Islam dan Qanun Aceh, nilai-nilai moral diintegrasikan langsung ke dalam mata pelajaran serta aktivitas sekolah. Meskipun begitu, pelaksanaannya masih menghadapi hambatan, seperti keterbatasan sarana penunjang dan belum optimalnya pemahaman guru dalam memadukan nilai moral ke dalam proses mengajar. Hal ini mempertegas bahwa efektivitas pendidikan moral tidak cukup hanya diajarkan sebagai teori, melainkan harus diwujudkan melalui keteladanan pendidik, pembiasaan konsisten, dan budaya sekolah sehari-hari.
NPM: 2513053210
Pada jurrnal "Pendidikan Nilai dan Moral dalam Sistem Kurikulum Pendidikan di Aceh" membahas tentang bagaimana penerapan pembentukan karakter dan sikap siswa di Aceh yang tidak sekadar berorientasi pada aspek kognitif. Berdasarkan landasan ajaran Islam dan Qanun Aceh, nilai-nilai moral diintegrasikan langsung ke dalam mata pelajaran serta aktivitas sekolah. Meskipun begitu, pelaksanaannya masih menghadapi hambatan, seperti keterbatasan sarana penunjang dan belum optimalnya pemahaman guru dalam memadukan nilai moral ke dalam proses mengajar. Hal ini mempertegas bahwa efektivitas pendidikan moral tidak cukup hanya diajarkan sebagai teori, melainkan harus diwujudkan melalui keteladanan pendidik, pembiasaan konsisten, dan budaya sekolah sehari-hari.
Azzahra Ramadhani
2513053216
PENDIDIKAN NILAI DAN MORAL DALAM SISTEM KURIKULUM PENDIDIKAN DI ACEH
Penyelenggaraan pendidikan nilai dan moral di Provinsi Aceh yang memanfaatkan kewenangan otonomi khusus berlandaskan Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2015. Penelitian ini menyoroti bahwa sistem pendidikan di Aceh dirancang sebagai kurikulum "Nasional plus", yaitu memadukan muatan kurikulum nasional dengan materi pendidikan Islam serta muatan lokal berbasis syariat dan kearifan lokal Aceh. Pengintegrasian nilai moral Islami bertujuan untuk membentuk kepribadian peserta didik (ureung Aceh) yang berakhlak mulia melalui keseimbangan hubungan vertikal kepada Tuhan dan horizontal kepada sesama masyarakat. Upaya ini diterapkan secara menyeluruh melalui perumusan visi sekolah, penyisipan materi pada seluruh mata pelajaran, kegiatan ekstrakurikuler, hingga manajemen budaya sekolah seperti pembiasaan disiplin dan busana syar'i. Kendati memiliki landasan regulasi dan konsep yang ideal, artikel ini mengungkapkan adanya tantangan berat di lapangan, seperti ketidaksiapan dinas terkait, keterbatasan sarana prasarana, pemahaman guru yang belum utuh, serta pengintegrasian nilai keIslaman dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang kerap sebatas formalitas di awal sesi pembelajaran. Oleh karena itu, artikel ini menyimpulkan bahwa efektivitas pelaksanaan kurikulum Islami di Aceh sangat bergantung pada kejelasan pola implementasi, peningkatan kapasitas pendidik, dan komitmen bersama dari seluruh pemangku kepentingan. Artikel karya Iwan Fajri dkk. (2021)
2513053216
PENDIDIKAN NILAI DAN MORAL DALAM SISTEM KURIKULUM PENDIDIKAN DI ACEH
Penyelenggaraan pendidikan nilai dan moral di Provinsi Aceh yang memanfaatkan kewenangan otonomi khusus berlandaskan Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2015. Penelitian ini menyoroti bahwa sistem pendidikan di Aceh dirancang sebagai kurikulum "Nasional plus", yaitu memadukan muatan kurikulum nasional dengan materi pendidikan Islam serta muatan lokal berbasis syariat dan kearifan lokal Aceh. Pengintegrasian nilai moral Islami bertujuan untuk membentuk kepribadian peserta didik (ureung Aceh) yang berakhlak mulia melalui keseimbangan hubungan vertikal kepada Tuhan dan horizontal kepada sesama masyarakat. Upaya ini diterapkan secara menyeluruh melalui perumusan visi sekolah, penyisipan materi pada seluruh mata pelajaran, kegiatan ekstrakurikuler, hingga manajemen budaya sekolah seperti pembiasaan disiplin dan busana syar'i. Kendati memiliki landasan regulasi dan konsep yang ideal, artikel ini mengungkapkan adanya tantangan berat di lapangan, seperti ketidaksiapan dinas terkait, keterbatasan sarana prasarana, pemahaman guru yang belum utuh, serta pengintegrasian nilai keIslaman dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang kerap sebatas formalitas di awal sesi pembelajaran. Oleh karena itu, artikel ini menyimpulkan bahwa efektivitas pelaksanaan kurikulum Islami di Aceh sangat bergantung pada kejelasan pola implementasi, peningkatan kapasitas pendidik, dan komitmen bersama dari seluruh pemangku kepentingan. Artikel karya Iwan Fajri dkk. (2021)
Nama: Cinta Damairia Imana
NPM: 2553053046
Hasil analisis yang saya dapatkan dari jurnal tersebut yaitu tentang "Pendidikan Nilai dan Moral dalam Sistem Kurikulum Pendidikan di Aceh" yang didalam jurnal tersebut membahas tentang Penerapan pendidikan nilai dan moral melalui kurikulum islami di Aceh, jadi pendidikan di Aceh tidak itu tidak hanya mengikuti kurikulum nasional, tetapi juga disesuaikan dengan Qanun Aceh dan nilai-nilai Islam. Tujuannya adalah membentuk siswa yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga memiliki akhlak dan karakter yang baik. Jadi, penerapan nilai moral di sekolah itu penting karena tidak hanya diajarkan melalui agama, tetapi juga diterapkan dalam pembelajaran dan kegiatan sehari-hari. Tetapi, pelaksanaannya masih ada kendala pada pemahaman guru. Secara keseluruhan, pendidikan di Aceh berusaha membentuk siswa yang berilmu sekaligus berakhlak, dan guru sebagai salah satu faktor penting dalam penerapannya.
NPM: 2553053046
Hasil analisis yang saya dapatkan dari jurnal tersebut yaitu tentang "Pendidikan Nilai dan Moral dalam Sistem Kurikulum Pendidikan di Aceh" yang didalam jurnal tersebut membahas tentang Penerapan pendidikan nilai dan moral melalui kurikulum islami di Aceh, jadi pendidikan di Aceh tidak itu tidak hanya mengikuti kurikulum nasional, tetapi juga disesuaikan dengan Qanun Aceh dan nilai-nilai Islam. Tujuannya adalah membentuk siswa yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga memiliki akhlak dan karakter yang baik. Jadi, penerapan nilai moral di sekolah itu penting karena tidak hanya diajarkan melalui agama, tetapi juga diterapkan dalam pembelajaran dan kegiatan sehari-hari. Tetapi, pelaksanaannya masih ada kendala pada pemahaman guru. Secara keseluruhan, pendidikan di Aceh berusaha membentuk siswa yang berilmu sekaligus berakhlak, dan guru sebagai salah satu faktor penting dalam penerapannya.
Nama: Fresqia Hanun Mazda
NPM : 2513053197
Jadi analisis dari jurnal 1 berjudul "Pendidikan Nilai dan Moral dalam Sistem Kurikulum Pendidikan di Aceh" adalah membahas tentang pendidikan nilai dan moral di Aceh yang memiliki kekhasan karena pendidikan di sana berlandaskan nilai-nilai Islam dan budaya Aceh. Kurikulumnya disebut kurikulum nasional plus karena selain menggunakan kurikulum nasional, juga ditambah pendidikan Islam dan muatan lokal seperti sejarah Aceh, bahasa daerah, adat, dan budaya. Nilai-nilai tersebut tidak hanya diajarkan melalui pelajaran agama, tetapi juga diterapkan melalui aturan sekolah, keteladanan guru, cara berkomunikasi, kedisiplinan, dan kegiatan sekolah.
Namun, masalahnya adalah pelaksanaannya yang belum sepenuhnya berjalan dengan baik. Dari hasil data yang dikutip dari jurnal, ada sekitar 7% sekolah dari sekolah yang diteliti sudah mencoba menerapkan kurikulum Aceh, tetapi masih banyak kendalanya. Guru masih banyak kesulitan dalam mengintegrasikan nilai Islam ke dalam pembelajaran, sarana pendukung yang belum memadai, dan belum ada pola penerapan yang sama. Bahkan, ada guru yang hanya mencantumkan nilai religius di awal pembelajaran atau RPP. Jadi, jurnal ini menunjukkan bahwa adanya jarak antara kebijakan yang sudah dibuat dengan pelaksanaannya di sekolah. Kebijakan pendidikan nilai dan moral yang bagus tetap membutuhkan kesiapan guru, sarana, dan panduan yang jelas agar nilai-nilai tersebut benar-benar menjadi bagian dari kehidupan siswa.
NPM : 2513053197
Jadi analisis dari jurnal 1 berjudul "Pendidikan Nilai dan Moral dalam Sistem Kurikulum Pendidikan di Aceh" adalah membahas tentang pendidikan nilai dan moral di Aceh yang memiliki kekhasan karena pendidikan di sana berlandaskan nilai-nilai Islam dan budaya Aceh. Kurikulumnya disebut kurikulum nasional plus karena selain menggunakan kurikulum nasional, juga ditambah pendidikan Islam dan muatan lokal seperti sejarah Aceh, bahasa daerah, adat, dan budaya. Nilai-nilai tersebut tidak hanya diajarkan melalui pelajaran agama, tetapi juga diterapkan melalui aturan sekolah, keteladanan guru, cara berkomunikasi, kedisiplinan, dan kegiatan sekolah.
Namun, masalahnya adalah pelaksanaannya yang belum sepenuhnya berjalan dengan baik. Dari hasil data yang dikutip dari jurnal, ada sekitar 7% sekolah dari sekolah yang diteliti sudah mencoba menerapkan kurikulum Aceh, tetapi masih banyak kendalanya. Guru masih banyak kesulitan dalam mengintegrasikan nilai Islam ke dalam pembelajaran, sarana pendukung yang belum memadai, dan belum ada pola penerapan yang sama. Bahkan, ada guru yang hanya mencantumkan nilai religius di awal pembelajaran atau RPP. Jadi, jurnal ini menunjukkan bahwa adanya jarak antara kebijakan yang sudah dibuat dengan pelaksanaannya di sekolah. Kebijakan pendidikan nilai dan moral yang bagus tetap membutuhkan kesiapan guru, sarana, dan panduan yang jelas agar nilai-nilai tersebut benar-benar menjadi bagian dari kehidupan siswa.
Rizki Indah Lestari
2513053206
Jurnal ini membahas tentang penerapan pendidikan nilai dan moral di Aceh melalui kurikulum Islami yang berlandaskan Qanun Aceh No. 9 Tahun 2015. Dalam penerapannya, kurikulum nasional dipadukan dengan nilai-nilai Islam dan budaya lokal Aceh supaya siswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga memiliki akhlak dan perilaku yang baik. Nilai-nilai tersebut diterapkan melalui pembelajaran, pembiasaan, kegiatan sekolah, aturan sekolah, dan keteladanan guru. Namun, dari pembahasan jurnal terlihat bahwa penerapannya masih belum maksimal karena masih ada guru yang kesulitan mengintegrasikan nilai Islam ke dalam pembelajaran, fasilitas yang belum memadai, serta penerapannya berbeda-beda di setiap sekolah. Bahkan, hasil monitoring yang dibahas dalam jurnal menunjukkan baru 7% sekolah yang mencoba menerapkannya dan pelaksanaannya juga belum memiliki pola yang jelas. Menurut analisis saya, hal ini menunjukkan bahwa membuat aturan dan kurikulum saja belum cukup, karena keberhasilannya juga bergantung pada kesiapan guru, sekolah, dan lingkungan pendidikan. Jadi, konsep kurikulum Islami di Aceh sebenarnya sudah memiliki arah yang jelas dalam membentuk nilai dan moral siswa, tetapi pelaksanaannya masih perlu diperkuat agar nilai-nilai tersebut benar-benar menjadi kebiasaan dalam kehidupan siswa, bukan hanya tertulis dalam kurikulum atau perangkat pembelajaran.
2513053206
Jurnal ini membahas tentang penerapan pendidikan nilai dan moral di Aceh melalui kurikulum Islami yang berlandaskan Qanun Aceh No. 9 Tahun 2015. Dalam penerapannya, kurikulum nasional dipadukan dengan nilai-nilai Islam dan budaya lokal Aceh supaya siswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga memiliki akhlak dan perilaku yang baik. Nilai-nilai tersebut diterapkan melalui pembelajaran, pembiasaan, kegiatan sekolah, aturan sekolah, dan keteladanan guru. Namun, dari pembahasan jurnal terlihat bahwa penerapannya masih belum maksimal karena masih ada guru yang kesulitan mengintegrasikan nilai Islam ke dalam pembelajaran, fasilitas yang belum memadai, serta penerapannya berbeda-beda di setiap sekolah. Bahkan, hasil monitoring yang dibahas dalam jurnal menunjukkan baru 7% sekolah yang mencoba menerapkannya dan pelaksanaannya juga belum memiliki pola yang jelas. Menurut analisis saya, hal ini menunjukkan bahwa membuat aturan dan kurikulum saja belum cukup, karena keberhasilannya juga bergantung pada kesiapan guru, sekolah, dan lingkungan pendidikan. Jadi, konsep kurikulum Islami di Aceh sebenarnya sudah memiliki arah yang jelas dalam membentuk nilai dan moral siswa, tetapi pelaksanaannya masih perlu diperkuat agar nilai-nilai tersebut benar-benar menjadi kebiasaan dalam kehidupan siswa, bukan hanya tertulis dalam kurikulum atau perangkat pembelajaran.
Nama: Annisa Nurfatonah
NPM:2513053215
Jurnal "Pendidikan Nilai dan Moral dalam Sistem Kurikulum Pendidikan di Aceh" membahas bagaimana pendidikan nilai dan moral di terapkan dalam sistem pendidikan di aceh yang memiliki kekhusussan karna berlandaskan nilai-nilai islam. Pendidikan di aceh tidak hanya mengacu pada kurikulum nasional saja, tapi juga mengintegrasikan kurikulum dan nilai-nilai keislaman serta budaya lokal aceh. Nilai moral tidak di berikan hanya sebagai pengetahuan tapi juga sebagai bagian dari sikap dan prilaku peserta didik melalui pembelajaran, pembiasaan, budaya sekolah, ekstrakulikuler, dan keteladanan guru. Dalam penerapannya seperti keimanan, kedisiplinan, tanggung jawab, kejujuran, kesopanan, dan kepedulian diintegrasikan dalam pembelajaran. Disini guru memiliki peran penting karna tidak hanya menyampaikan meteri tapi juga menjadi contoh nyata bagi pesrta didik. Jurnal juga menunjukkan dalam penerapankurikulum berbasis nilai di aceh masih menghadapi beberapa kendala seperti; pemahaman guru yang belum merata, kesiapan sekolah yang kurang, keterbatasan fasilitas dan metode, dan penerapan yang belum konsisten di semua sekolah. Jurnal ini juga menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan nilai dan moral membutuhkan integrasi antara kurukulum, pembelajaran, keteladanan, pembiasaan, budaya sekolah, keluarga dan juga lingkungan masyarakat.
NPM:2513053215
Jurnal "Pendidikan Nilai dan Moral dalam Sistem Kurikulum Pendidikan di Aceh" membahas bagaimana pendidikan nilai dan moral di terapkan dalam sistem pendidikan di aceh yang memiliki kekhusussan karna berlandaskan nilai-nilai islam. Pendidikan di aceh tidak hanya mengacu pada kurikulum nasional saja, tapi juga mengintegrasikan kurikulum dan nilai-nilai keislaman serta budaya lokal aceh. Nilai moral tidak di berikan hanya sebagai pengetahuan tapi juga sebagai bagian dari sikap dan prilaku peserta didik melalui pembelajaran, pembiasaan, budaya sekolah, ekstrakulikuler, dan keteladanan guru. Dalam penerapannya seperti keimanan, kedisiplinan, tanggung jawab, kejujuran, kesopanan, dan kepedulian diintegrasikan dalam pembelajaran. Disini guru memiliki peran penting karna tidak hanya menyampaikan meteri tapi juga menjadi contoh nyata bagi pesrta didik. Jurnal juga menunjukkan dalam penerapankurikulum berbasis nilai di aceh masih menghadapi beberapa kendala seperti; pemahaman guru yang belum merata, kesiapan sekolah yang kurang, keterbatasan fasilitas dan metode, dan penerapan yang belum konsisten di semua sekolah. Jurnal ini juga menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan nilai dan moral membutuhkan integrasi antara kurukulum, pembelajaran, keteladanan, pembiasaan, budaya sekolah, keluarga dan juga lingkungan masyarakat.
Nama: Talitha Putri Riguna
NPM: 2513053205
Analisis Jurnal 1 - Pertemuan 5
Jurnal ini membahas bagaimana Aceh berusaha mengatasi masalah moral remaja dengan membuat aturan khusus dari Kurikulum Islami berbasis Qanun. karena Aceh punya hak otonomi, mereka tidak cuma pakai kurikulum nasional biasa tapi memasukkan juga nilai-nilai ajaran Islam ke semua mata pelajaran, aturan sekolah, dan ke budaya dan kegiatan sehari-hari siswa. tapi saat praktiknya, penerapan aturan ini ternyata masih ada kendala. banyak sekolah dan guru yang masih bingung cara jelasinya, sarana pendukungnya kurang, dan jadinya tiap sekolah beda-beda pas menerapkannya. jadi intinya, ide buat menanamkan moral dari budaya Islami sudah bagus dan pas banget dengan warga Aceh, tetapi tindakan dari pemerintah ke sekolah-sekolah nya yang belum maksimal.
NPM: 2513053205
Analisis Jurnal 1 - Pertemuan 5
Jurnal ini membahas bagaimana Aceh berusaha mengatasi masalah moral remaja dengan membuat aturan khusus dari Kurikulum Islami berbasis Qanun. karena Aceh punya hak otonomi, mereka tidak cuma pakai kurikulum nasional biasa tapi memasukkan juga nilai-nilai ajaran Islam ke semua mata pelajaran, aturan sekolah, dan ke budaya dan kegiatan sehari-hari siswa. tapi saat praktiknya, penerapan aturan ini ternyata masih ada kendala. banyak sekolah dan guru yang masih bingung cara jelasinya, sarana pendukungnya kurang, dan jadinya tiap sekolah beda-beda pas menerapkannya. jadi intinya, ide buat menanamkan moral dari budaya Islami sudah bagus dan pas banget dengan warga Aceh, tetapi tindakan dari pemerintah ke sekolah-sekolah nya yang belum maksimal.
Rohani Melinda Tambunan
2513053192
Analisis Jurnal: "Pendidikan Nilai dan Moral dalam Sistem Kurikulum Pendidikan di Aceh" (Fajri, Rahmat, Sundawa, & Mohd Yusoff, 2021)
Identitas Jurnal
Ditulis oleh Iwan Fajri, Rahmat, dan Dadang Sundawa (Universitas Pendidikan Indonesia) bersama Mohd Zailani Mohd Yusoff (Universiti Utara Malaysia), dipublikasikan dalam Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha Vol. 9 No. 3, September 2021.
Ringkasan Isi
Jurnal ini membahas bagaimana pendidikan nilai dan moral diimplementasikan di Provinsi Aceh melalui kurikulum khusus berbasis syariat Islam, yang landasan hukumnya adalah Qanun Aceh No. 9 Tahun 2015 (perubahan atas Qanun No. 11 Tahun 2014). Sebagai daerah dengan status otonomi khusus (UU No. 44/1999 dan UU No. 18/2001), Aceh mengembangkan "kurikulum nasional plus", yaitu kurikulum nasional yang ditambah muatan pendidikan Islam dan muatan lokal (bahasa daerah, sejarah Aceh, adat budaya). Pembahasan mencakup landasan hukum, integrasi budaya Islami dalam manajemen sekolah, serta implementasi di lapangan, di mana penulis menemukan adanya kesenjangan antara regulasi dan praktik nyata di sekolah.
Kekuatan
2513053192
Analisis Jurnal: "Pendidikan Nilai dan Moral dalam Sistem Kurikulum Pendidikan di Aceh" (Fajri, Rahmat, Sundawa, & Mohd Yusoff, 2021)
Identitas Jurnal
Ditulis oleh Iwan Fajri, Rahmat, dan Dadang Sundawa (Universitas Pendidikan Indonesia) bersama Mohd Zailani Mohd Yusoff (Universiti Utara Malaysia), dipublikasikan dalam Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha Vol. 9 No. 3, September 2021.
Ringkasan Isi
Jurnal ini membahas bagaimana pendidikan nilai dan moral diimplementasikan di Provinsi Aceh melalui kurikulum khusus berbasis syariat Islam, yang landasan hukumnya adalah Qanun Aceh No. 9 Tahun 2015 (perubahan atas Qanun No. 11 Tahun 2014). Sebagai daerah dengan status otonomi khusus (UU No. 44/1999 dan UU No. 18/2001), Aceh mengembangkan "kurikulum nasional plus", yaitu kurikulum nasional yang ditambah muatan pendidikan Islam dan muatan lokal (bahasa daerah, sejarah Aceh, adat budaya). Pembahasan mencakup landasan hukum, integrasi budaya Islami dalam manajemen sekolah, serta implementasi di lapangan, di mana penulis menemukan adanya kesenjangan antara regulasi dan praktik nyata di sekolah.
Kekuatan
- Fokus dan kekhasan topik jelas : mengangkat isu daerah dengan otonomi khusus yang jarang dibahas, memberikan kontribusi pada wacana pendidikan nilai berbasis kearifan lokal/agama.
- Rujukan sangat kaya dan mutakhir : memuat lebih dari 60 sumber, kombinasi literatur internasional (Lickona, Halstead, Print) dan lokal, sehingga kerangka konseptualnya kuat.
- Ada unsur kritis : tidak sekadar menjustifikasi kebijakan, tapi juga mengungkap temuan bahwa implementasi kurikulum Islami di lapangan masih "amburadul", baru diterapkan di sekitar 7% sekolah yang diteliti, dan pemahaman guru belum utuh. Ini menambah kredibilitas karena tidak bias sepenuhnya normatif.
- Struktur pembahasan sistematis : dipecah menjadi tiga subbagian (landasan hukum, integrasi budaya, implementasi), memudahkan pembaca mengikuti alur argumen.
- Metodologi tidak dijelaskan secara eksplisit : tidak ada bagian "Metode Penelitian" yang memaparkan desain, teknik pengumpulan data, atau jumlah informan secara sistematis, padahal artikel mengutip banyak "hasil penelitian Sulaiman et al. (2020)" dan wawancara guru. Data primer tampak minim dan bercampur dengan kutipan penelitian lain.
- Sumber data implementasi terbatas : temuan soal 7% sekolah yang menerapkan kurikulum hanya bersumber dari satu laporan (Majelis Pendidikan Aceh, 2019), tanpa triangulasi data lain.
- Tinjauan literatur terlalu panjang dan agak melebar : bagian tentang konsep moral dalam Islam (akhlak, qalb, nafs, ruh, aql) cukup filosofis-teologis dan kurang terhubung langsung dengan analisis kurikulum yang menjadi fokus utama judul.
- Kesimpulan kurang mencerminkan temuan kritis : bagian penutup menyimpulkan bahwa pendidikan di Aceh "secara keseluruhan sudah Islami" dan berjalan baik, padahal di bagian pembahasan sendiri disebutkan implementasi masih tergesa-gesa, tidak substantif, dan guru kesulitan menerapkannya. Ada inkonsistensi antara temuan kritis di pembahasan dan simpulan yang cenderung normatif/afirmatif.
- Minim pembahasan tantangan atau rekomendasi konkret : setelah mengungkap masalah implementasi, jurnal tidak memberikan rekomendasi kebijakan atau strategi perbaikan yang jelas.
Nama : Nabilatur Rahmah
NPM : 2513053200
Hasil analisis dari jurnal "Pendidikan Nilai dan Moral dalam Sistem Kurikulum Pendidikan Aceh" menunjukkan bahwa persoalan utama pendidikan nilai dan moral dalam artikel jurnal ini bukan hanya terletak dari kurangnya nilai yang ingin ditanamkan, tetapi pada bagaimana sebuah nilai itu dapat diterjemahkan dari kebijakan menjadi pengalaman nyata peserta didik. Aceh sudah memiliki dasar kurikulum yang menggabungkan pendidikan nasioanal, nilai islam, budaya lokal. Namun, keberadaan kurikulum belum otomatis menghasilkan perilaku moral karena masih terdapat kesenjangan atau hambatan pada kesiapan pendidiknya, pola penerapan, sarana, dan proses integerasinya dalam proses pembelajaran. Hal yang paling terlihat adalah ketika nilai hanya dituliskan dalam RPP tetapi belum terlaksana sepenuhnya, dari bagian cara pendidik/guru dalam mengajar dan kebiasaan peserta didiknya.
Karena hal itu, keberhasilan pendidikan moral lebih tepat dilihat dari konsistensi antara apa yang tertulis dalam kurukulum, apa yang dicontohkan oleh pendidik/guru, apa yang dibiasakan sekolah, dan perilaku yang bagimana akhirnya ditunjukkan siswa, serta pembiasaan.
NPM : 2513053200
Hasil analisis dari jurnal "Pendidikan Nilai dan Moral dalam Sistem Kurikulum Pendidikan Aceh" menunjukkan bahwa persoalan utama pendidikan nilai dan moral dalam artikel jurnal ini bukan hanya terletak dari kurangnya nilai yang ingin ditanamkan, tetapi pada bagaimana sebuah nilai itu dapat diterjemahkan dari kebijakan menjadi pengalaman nyata peserta didik. Aceh sudah memiliki dasar kurikulum yang menggabungkan pendidikan nasioanal, nilai islam, budaya lokal. Namun, keberadaan kurikulum belum otomatis menghasilkan perilaku moral karena masih terdapat kesenjangan atau hambatan pada kesiapan pendidiknya, pola penerapan, sarana, dan proses integerasinya dalam proses pembelajaran. Hal yang paling terlihat adalah ketika nilai hanya dituliskan dalam RPP tetapi belum terlaksana sepenuhnya, dari bagian cara pendidik/guru dalam mengajar dan kebiasaan peserta didiknya.
Karena hal itu, keberhasilan pendidikan moral lebih tepat dilihat dari konsistensi antara apa yang tertulis dalam kurukulum, apa yang dicontohkan oleh pendidik/guru, apa yang dibiasakan sekolah, dan perilaku yang bagimana akhirnya ditunjukkan siswa, serta pembiasaan.
Nama: Vina Rosalia
NPM: 2513053201
Hasil analisis saya dari jurnal ini, saya memahami bahwa pendidikan nilai dan moral itu sebenarnya bukan cuma soal mengajarkan siswa mana yang baik dan mana yang salah. Nilai-nilai tersebut juga harus dibiasakan dalam kegiatan sehari-hari di sekolah. Di Aceh sendiri, nilai-nilai Islam dimasukkan ke dalam kurikulum dan tidak hanya diberikan lewat pelajaran agama, tetapi juga melalui mata pelajaran lain, kegiatan sekolah, dan kebiasaan yang ada di lingkungan sekolah.
Yang menurut saya cukup penting dari jurnal ini adalah peran guru. Guru bukan hanya menjelaskan materi, tetapi juga harus bisa memberikan contoh kepada siswa. Karena siswa biasanya lebih mudah melihat dan meniru apa yang dilakukan gurunya daripada hanya mendengarkan penjelasan. Jadi, kalau ingin membentuk sikap dan moral siswa, lingkungan sekolah juga harus ikut mendukung.
Tapi penerapannya ternyata tidak semudah yang ada di dalam kurikulum. Masih ada guru yang bingung bagaimana cara memasukkan nilai-nilai Islam ke dalam pembelajaran secara nyata. Bahkan ada yang akhirnya hanya mencantumkan nilai religius di bagian awal pembelajaran atau RPP, tanpa benar-benar mengintegrasikannya ke dalam kegiatan pembelajaran.
Dari sini saya melihat bahwa membuat aturan atau kurikulum saja belum cukup. Guru juga perlu benar-benar memahami cara menerapkannya supaya pendidikan nilai dan moral tidak hanya menjadi formalitas. Kalau diterapkan dengan baik, nilai yang diajarkan bisa menjadi kebiasaan siswa dan terlihat dalam perilaku mereka sehari-hari.
NPM: 2513053201
Hasil analisis saya dari jurnal ini, saya memahami bahwa pendidikan nilai dan moral itu sebenarnya bukan cuma soal mengajarkan siswa mana yang baik dan mana yang salah. Nilai-nilai tersebut juga harus dibiasakan dalam kegiatan sehari-hari di sekolah. Di Aceh sendiri, nilai-nilai Islam dimasukkan ke dalam kurikulum dan tidak hanya diberikan lewat pelajaran agama, tetapi juga melalui mata pelajaran lain, kegiatan sekolah, dan kebiasaan yang ada di lingkungan sekolah.
Yang menurut saya cukup penting dari jurnal ini adalah peran guru. Guru bukan hanya menjelaskan materi, tetapi juga harus bisa memberikan contoh kepada siswa. Karena siswa biasanya lebih mudah melihat dan meniru apa yang dilakukan gurunya daripada hanya mendengarkan penjelasan. Jadi, kalau ingin membentuk sikap dan moral siswa, lingkungan sekolah juga harus ikut mendukung.
Tapi penerapannya ternyata tidak semudah yang ada di dalam kurikulum. Masih ada guru yang bingung bagaimana cara memasukkan nilai-nilai Islam ke dalam pembelajaran secara nyata. Bahkan ada yang akhirnya hanya mencantumkan nilai religius di bagian awal pembelajaran atau RPP, tanpa benar-benar mengintegrasikannya ke dalam kegiatan pembelajaran.
Dari sini saya melihat bahwa membuat aturan atau kurikulum saja belum cukup. Guru juga perlu benar-benar memahami cara menerapkannya supaya pendidikan nilai dan moral tidak hanya menjadi formalitas. Kalau diterapkan dengan baik, nilai yang diajarkan bisa menjadi kebiasaan siswa dan terlihat dalam perilaku mereka sehari-hari.
Nama: Vina May Fira
NPM: 2513053191
Jurnal Pendidikan Nilai dan Moral dalam Sistem Kurikulum Pendidikan di Aceh
Menurut saya, jurnal ini membahas tentang penerapan pendidikan nilai dan moral dalam sistem pendidikan di Aceh, terutama melalui kurikulum Islami yang disesuaikan dengan Qanun Aceh. Nilai-nilai Islam tidak hanya diajarkan melalui mata pelajaran agama, tetapi juga diintegrasikan ke dalam berbagai mata pelajaran, kegiatan sekolah, pembiasaan, keteladanan guru, serta budaya sekolah. Kurikulum tersebut juga memuat budaya dan kearifan lokal Aceh sebagai bagian dari pembentukan karakter peserta didik. Selain itu, jurnal membahas peran guru dan sekolah dalam menanamkan nilai moral serta berbagai kendala dalam penerapannya, seperti kurangnya pemahaman guru, sarana dan prasarana yang belum memadai, dan penerapan kurikulum yang belum seragam di setiap sekolah.
NPM: 2513053191
Jurnal Pendidikan Nilai dan Moral dalam Sistem Kurikulum Pendidikan di Aceh
Menurut saya, jurnal ini membahas tentang penerapan pendidikan nilai dan moral dalam sistem pendidikan di Aceh, terutama melalui kurikulum Islami yang disesuaikan dengan Qanun Aceh. Nilai-nilai Islam tidak hanya diajarkan melalui mata pelajaran agama, tetapi juga diintegrasikan ke dalam berbagai mata pelajaran, kegiatan sekolah, pembiasaan, keteladanan guru, serta budaya sekolah. Kurikulum tersebut juga memuat budaya dan kearifan lokal Aceh sebagai bagian dari pembentukan karakter peserta didik. Selain itu, jurnal membahas peran guru dan sekolah dalam menanamkan nilai moral serta berbagai kendala dalam penerapannya, seperti kurangnya pemahaman guru, sarana dan prasarana yang belum memadai, dan penerapan kurikulum yang belum seragam di setiap sekolah.
Keyza Novia Putri
2513053193
2513053193
Jurnal ini membahas tentang pendidikan Aceh yang unik dibandingkan provinsi lain di Indonesia. Aceh boleh membuat kurikulum sendiri yang menggabungkan kurikulum nasional dengan pendidikan Islam, karena Aceh punya status "otonomi khusus" berdasarkan undang-undang (UU No. 44/1999 dan UU No. 18/2001). Aturan pelaksanaannya diatur dalam Qanun Aceh No. 9 Tahun 2015. Jadi, di sekolah-sekolah Aceh, semua mata pelajaran tidak hanya mengikuti kurikulum nasional 2013 biasa, tapi juga ditambah dengan nilai-nilai ajaran Islam dan muatan lokal. Itu sebabnya kurikulum Aceh disebut "kurikulum nasional plus". Tujuannya supaya siswa punya akhlak yang baik, sesuai dengan budaya dan syariat Islam yang berlaku di Aceh. Dalam jurnal ini juga dijelaskan teori-teori tentang pendidikan nilai dan moral, baik dari tokoh pendidikan umum (seperti Lickona) maupun dari perspektif Islam (seperti pemikiran Al-Ghazali tentang empat sifat akhlak: bijaksana, berani, sederhana, dan adil). Nilai-nilai ini dibagi menjadi dua arah: hubungan manusia dengan Tuhan (vertikal) dan hubungan manusia dengan sesama serta lingkungan (horizontal). Kelebihan jurnal ini terletak pada pembahasan teori yang lengkap, karena berhasil menggabungkan sudut pandang pendidikan Barat dan Islam, serta memberikan gambaran yang jelas mengenai dasar hukum (qanun) yang mendasari penyelenggaraan pendidikan Islam di Aceh. Namun di sisi lain, jurnal ini memiliki kelemahan karena tidak menjelaskan secara detail metode penelitian yang digunakan (apakah melalui wawancara, studi literatur, atau cara lain), serta data pendukung dari lapangan seperti kutipan guru masih sedikit dan tidak dijelaskan cara pengambilannya, sehingga klaim bahwa "pendidikan di Aceh sudah sepenuhnya Islami" masih memerlukan bukti yang lebih kuat.
Nama: Adelia Eriyanti
NPM: 2513053209
Pada jurnal "Pendidikan Nilai dan Moral dalam Sistem Kurikulum Pendidikan di Aceh" menunjukkan bahwa pendidikan nilai dan moral di Aceh sudah disesuaikan dengan kondisi daerah yang memiliki kekhususan dalam penerapan nilai-nilai Islam. Kurikulumnya tidak hanya berisi pembelajaran nasional, tetapi juga memasukkan nilai Islam, budaya, sejarah, dan kearifan lokal Aceh. Hal ini menunjukkan bahwa pembentukan karakter siswa disesuaikan dengan lingkungan dan budaya tempat mereka belajar. Nilai moral tidak seharusnya hanya diberikan sebagai materi pelajaran. Nilai seperti jujur, disiplin, tanggung jawab, dan religius perlu terlihat dalam kebiasaan siswa dan budaya sekolah. Guru juga mempunyai peran besar karena sikap dan perilaku guru dapat menjadi contoh bagi siswa. Namun, penerapannya masih belum maksimal. Masih ada sekolah yang belum memahami cara menerapkan kurikulum Islam dengan jelas, ditambah keterbatasan fasilitas dan kesiapan guru. Akibatnya, nilai-nilai tersebut terkadang hanya dituliskan dalam rencana pembelajaran tanpa benar-benar diterapkan dalam kegiatan belajar. Dari sini dapat dianalisis bahwa keberhasilan pendidikan moral tidak hanya bergantung pada isi kurikulum, tetapi juga pada kesiapan guru, budaya sekolah, dan penerapan yang dilakukan secara konsisten. Jadi, kurikulum yang sudah memuat banyak nilai akan kurang maksimal kalau tidak diwujudkan dalam perilaku dan kegiatan sehari-hari siswa.
NPM: 2513053209
Pada jurnal "Pendidikan Nilai dan Moral dalam Sistem Kurikulum Pendidikan di Aceh" menunjukkan bahwa pendidikan nilai dan moral di Aceh sudah disesuaikan dengan kondisi daerah yang memiliki kekhususan dalam penerapan nilai-nilai Islam. Kurikulumnya tidak hanya berisi pembelajaran nasional, tetapi juga memasukkan nilai Islam, budaya, sejarah, dan kearifan lokal Aceh. Hal ini menunjukkan bahwa pembentukan karakter siswa disesuaikan dengan lingkungan dan budaya tempat mereka belajar. Nilai moral tidak seharusnya hanya diberikan sebagai materi pelajaran. Nilai seperti jujur, disiplin, tanggung jawab, dan religius perlu terlihat dalam kebiasaan siswa dan budaya sekolah. Guru juga mempunyai peran besar karena sikap dan perilaku guru dapat menjadi contoh bagi siswa. Namun, penerapannya masih belum maksimal. Masih ada sekolah yang belum memahami cara menerapkan kurikulum Islam dengan jelas, ditambah keterbatasan fasilitas dan kesiapan guru. Akibatnya, nilai-nilai tersebut terkadang hanya dituliskan dalam rencana pembelajaran tanpa benar-benar diterapkan dalam kegiatan belajar. Dari sini dapat dianalisis bahwa keberhasilan pendidikan moral tidak hanya bergantung pada isi kurikulum, tetapi juga pada kesiapan guru, budaya sekolah, dan penerapan yang dilakukan secara konsisten. Jadi, kurikulum yang sudah memuat banyak nilai akan kurang maksimal kalau tidak diwujudkan dalam perilaku dan kegiatan sehari-hari siswa.
Nama: Syahidah Asmanina
NPM: 2513053202
Pada jurnal "Pendidikan Nilai dan Moral dalam Sistem Kurikulum Pendidikan di Aceh" membahas pendidikan di Aceh yang tetap mengikuti kurikulum nasional, tetapi juga memasukkan nilai-nilai Islam dan budaya Aceh. Penerapannya memiliki dasar hukum, salah satunya Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2015 sebagai perubahan atas Qanun Aceh Nomor 11 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan. Kurikulum nasional tersebut kemudian dipadukan dengan pendidikan Islam dan muatan lokal seperti bahasa, sejarah, dan adat Aceh.
NPM: 2513053202
Pada jurnal "Pendidikan Nilai dan Moral dalam Sistem Kurikulum Pendidikan di Aceh" membahas pendidikan di Aceh yang tetap mengikuti kurikulum nasional, tetapi juga memasukkan nilai-nilai Islam dan budaya Aceh. Penerapannya memiliki dasar hukum, salah satunya Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2015 sebagai perubahan atas Qanun Aceh Nomor 11 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan. Kurikulum nasional tersebut kemudian dipadukan dengan pendidikan Islam dan muatan lokal seperti bahasa, sejarah, dan adat Aceh.
Dalam jurnal dijelaskan bahwa nilai dan moral bukan hanya tentang mengetahui mana yang baik dan buruk, tetapi juga bagaimana nilai tersebut terlihat dalam perilaku sehari-hari. Nilai seperti jujur, disiplin, toleransi, dan tanggung jawab perlu diterapkan dalam berbagai kegiatan pembelajaran. Dalam pendidikan Islam, nilai moral juga berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan lingkungan. Nilai-nilai tersebut dapat diterapkan melalui pembelajaran maupun kegiatan di sekolah. Contohnya melalui kegiatan budaya Aceh, aturan berpakaian, cara berbicara yang sopan, serta pembiasaan suasana sekolah yang sesuai dengan nilai Islam.
Yang menjadi persoalan adalah penerapan kurikulum yang belum sepenuhnya berjalan dengan baik. Dalam jurnal dijelaskan bahwa belum ada pola penerapan yang sama dan masih ada guru yang belum memahami kurikulum secara menyeluruh. Nilai-nilai Islam juga terkadang hanya dicantumkan dalam perencanaan, tetapi belum terlihat dalam seluruh proses pembelajaran. Menurut saya, hal ini menunjukkan bahwa kurikulum saja belum cukup. Guru dan sekolah perlu memahami cara menerapkannya agar nilai-nilai tersebut tidak hanya menjadi aturan tertulis, tetapi benar-benar diterapkan dalam pembelajaran dan kehidupan sehari-hari siswa.
Yang menjadi persoalan adalah penerapan kurikulum yang belum sepenuhnya berjalan dengan baik. Dalam jurnal dijelaskan bahwa belum ada pola penerapan yang sama dan masih ada guru yang belum memahami kurikulum secara menyeluruh. Nilai-nilai Islam juga terkadang hanya dicantumkan dalam perencanaan, tetapi belum terlihat dalam seluruh proses pembelajaran. Menurut saya, hal ini menunjukkan bahwa kurikulum saja belum cukup. Guru dan sekolah perlu memahami cara menerapkannya agar nilai-nilai tersebut tidak hanya menjadi aturan tertulis, tetapi benar-benar diterapkan dalam pembelajaran dan kehidupan sehari-hari siswa.
In reply to First post
Re: Forum Analisis Jurnal 1
Nama: Zakiyah Dhiasti Seruni
NPM: 2513053190
Judul: Pendidikan Nilai dan Moral dalam Sistem Kurikulum Pendidikan di Aceh
Penulis: Iwan Fajri, Rahmat, Dadang Sundawa, dan Mohd Zailani Mohd Yusoff
Jurnal: Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha
Volume: 9, Nomor 3
Tahun: 2021
Jurnal ini membahas pentingnya pendidikan nilai dan moral dalam membentuk karakter siswa di Aceh. Pendidikan di Aceh tidak hanya mengikuti kurikulum nasional, tetapi juga mengintegrasikan nilai-nilai Islam, budaya, dan kearifan lokal melalui pembelajaran, aturan sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, serta keteladanan guru.
Kelebihan jurnal ini adalah menjelaskan hubungan antara kurikulum, nilai moral, budaya, dan peran guru. Namun, penerapannya masih menghadapi kendala karena sebagian guru belum memahami cara mengintegrasikan nilai Islam ke dalam pembelajaran secara konkret.
Kesimpulannya, pendidikan nilai dan moral akan lebih efektif jika tidak hanya diajarkan sebagai teori, tetapi juga dibiasakan dan dicontohkan dalam kehidupan sehari-hari siswa. Guru, sekolah, kurikulum, dan lingkungan memiliki peran bersama dalam membentuk karakter peserta didik.
NPM: 2513053190
Judul: Pendidikan Nilai dan Moral dalam Sistem Kurikulum Pendidikan di Aceh
Penulis: Iwan Fajri, Rahmat, Dadang Sundawa, dan Mohd Zailani Mohd Yusoff
Jurnal: Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha
Volume: 9, Nomor 3
Tahun: 2021
Jurnal ini membahas pentingnya pendidikan nilai dan moral dalam membentuk karakter siswa di Aceh. Pendidikan di Aceh tidak hanya mengikuti kurikulum nasional, tetapi juga mengintegrasikan nilai-nilai Islam, budaya, dan kearifan lokal melalui pembelajaran, aturan sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, serta keteladanan guru.
Kelebihan jurnal ini adalah menjelaskan hubungan antara kurikulum, nilai moral, budaya, dan peran guru. Namun, penerapannya masih menghadapi kendala karena sebagian guru belum memahami cara mengintegrasikan nilai Islam ke dalam pembelajaran secara konkret.
Kesimpulannya, pendidikan nilai dan moral akan lebih efektif jika tidak hanya diajarkan sebagai teori, tetapi juga dibiasakan dan dicontohkan dalam kehidupan sehari-hari siswa. Guru, sekolah, kurikulum, dan lingkungan memiliki peran bersama dalam membentuk karakter peserta didik.
Nama : Shakira Alya Khaira
Npm : 2513053219
Jurnal ini membahas sebuah cara penerapan pendidikan nilai dan moral dalam sistem kurikulum pendidikan di Aceh. Menurut saya, hal yang paling menarik dari jurnal ini adalah pendidikan nilai dan moral di Aceh tidak hanya diberikan melalui mata pelajaran agama, tetapi diintegrasikan ke dalam berbagai mata pelajaran dan kegiatan di sekolah. Hal ini dilakukan dengan berpedoman pada Qanun Aceh dan budaya Islami yang menjadi ciri khas pendidikan di Aceh. Menurut saya, penerapan pendidikan nilai seperti ini penting karena pembentukan moral siswa tidak cukup hanya dengan memberikan teori tentang baik dan buruk. Nilai tersebut juga perlu dibiasakan melalui kegiatan sehari-hari, aturan sekolah, keteladanan guru, dan lingkungan sekolah. Jurnal ini juga menjelaskan bahwa guru mempunyai peran penting sebagai contoh bagi siswa dalam menerapkan nilai-nilai tersebut nammun, dalam penerapannya masih terdapat beberapa kendala. Sebagian sekolah di Aceh belum memiliki pemahaman yang sama tentang bagaimana kurikulum Islami diterapkan dalam pembelajaran. Bahkan, hasil pemantauan yang dibahas dalam jurnal menunjukkan bahwa penerapannya di beberapa sekolah masih belum jelas dan belum memiliki pola yang sama. Jadi, menurut saya, pendidikan nilai dan moral akan lebih efektif jika tidak hanya menjadi bagian dari kurikulum secara tertulis, tetapi benar-benar diterapkan dalam kebiasaan dan kehidupan sehari-hari di sekolah. Guru, sekolah, dan lingkungan sekitar juga perlu bekerja sama agar nilai yang diajarkan tidak hanya dipahami siswa, tetapi juga menjadi bagian dari perilaku mereka.
Npm : 2513053219
Jurnal ini membahas sebuah cara penerapan pendidikan nilai dan moral dalam sistem kurikulum pendidikan di Aceh. Menurut saya, hal yang paling menarik dari jurnal ini adalah pendidikan nilai dan moral di Aceh tidak hanya diberikan melalui mata pelajaran agama, tetapi diintegrasikan ke dalam berbagai mata pelajaran dan kegiatan di sekolah. Hal ini dilakukan dengan berpedoman pada Qanun Aceh dan budaya Islami yang menjadi ciri khas pendidikan di Aceh. Menurut saya, penerapan pendidikan nilai seperti ini penting karena pembentukan moral siswa tidak cukup hanya dengan memberikan teori tentang baik dan buruk. Nilai tersebut juga perlu dibiasakan melalui kegiatan sehari-hari, aturan sekolah, keteladanan guru, dan lingkungan sekolah. Jurnal ini juga menjelaskan bahwa guru mempunyai peran penting sebagai contoh bagi siswa dalam menerapkan nilai-nilai tersebut nammun, dalam penerapannya masih terdapat beberapa kendala. Sebagian sekolah di Aceh belum memiliki pemahaman yang sama tentang bagaimana kurikulum Islami diterapkan dalam pembelajaran. Bahkan, hasil pemantauan yang dibahas dalam jurnal menunjukkan bahwa penerapannya di beberapa sekolah masih belum jelas dan belum memiliki pola yang sama. Jadi, menurut saya, pendidikan nilai dan moral akan lebih efektif jika tidak hanya menjadi bagian dari kurikulum secara tertulis, tetapi benar-benar diterapkan dalam kebiasaan dan kehidupan sehari-hari di sekolah. Guru, sekolah, dan lingkungan sekitar juga perlu bekerja sama agar nilai yang diajarkan tidak hanya dipahami siswa, tetapi juga menjadi bagian dari perilaku mereka.
Nama: Cahaya Esist Alpasa
NPM: 2513053199
Jurnal ini membahas tentang bagaimana pendidikan nilai dan moral diterapkan dalam sistem pendidikan di Aceh. Menurut saya, pendidikan di Aceh tidak hanya berfokus pada pengetahuan dan kemampuan siswa dalam belajar, tetapi juga berusaha membentuk sikap dan perilaku yang baik. Hal ini terlihat dari penerapan kurikulum yang menggabungkan kurikulum nasional dengan nilai-nilai Islam serta budaya Aceh. Nilai tersebut diterapkan melalui pembelajaran di kelas, aturan sekolah, kegiatan siswa, pembiasaan sehari-hari, dan juga melalui contoh yang diberikan oleh guru. Jadi, guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi, tetapi juga harus bisa menjadi contoh bagi siswa dalam bersikap dan berperilaku. Namun, dalam penerapannya masih terdapat beberapa kendala, seperti guru yang belum sepenuhnya memahami cara menggabungkan nilai-nilai tersebut ke dalam pembelajaran, kurangnya persiapan sekolah, serta sarana dan pendukung yang belum memadai. Bahkan, penerapannya di setiap sekolah juga belum sama. Dari jurnal ini saya dapat memahami bahwa pendidikan moral tidak cukup hanya diajarkan melalui teori atau ditulis dalam kurikulum, tetapi harus dilakukan melalui kebiasaan dan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari siswa.
NPM: 2513053199
Jurnal ini membahas tentang bagaimana pendidikan nilai dan moral diterapkan dalam sistem pendidikan di Aceh. Menurut saya, pendidikan di Aceh tidak hanya berfokus pada pengetahuan dan kemampuan siswa dalam belajar, tetapi juga berusaha membentuk sikap dan perilaku yang baik. Hal ini terlihat dari penerapan kurikulum yang menggabungkan kurikulum nasional dengan nilai-nilai Islam serta budaya Aceh. Nilai tersebut diterapkan melalui pembelajaran di kelas, aturan sekolah, kegiatan siswa, pembiasaan sehari-hari, dan juga melalui contoh yang diberikan oleh guru. Jadi, guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi, tetapi juga harus bisa menjadi contoh bagi siswa dalam bersikap dan berperilaku. Namun, dalam penerapannya masih terdapat beberapa kendala, seperti guru yang belum sepenuhnya memahami cara menggabungkan nilai-nilai tersebut ke dalam pembelajaran, kurangnya persiapan sekolah, serta sarana dan pendukung yang belum memadai. Bahkan, penerapannya di setiap sekolah juga belum sama. Dari jurnal ini saya dapat memahami bahwa pendidikan moral tidak cukup hanya diajarkan melalui teori atau ditulis dalam kurikulum, tetapi harus dilakukan melalui kebiasaan dan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari siswa.
Nama: Ghina Azizah
Npm: 2513053198
Pada jurnal "Pendidikan Nilai dan Moral dalam Sistem Kurikulum Pendidikan di Aceh" menjelaskan bahwa pendidikan nilai dan moral di Aceh berusaha menggabungkan kurikulum nasional dengan nilai-nilai Islam serta muatan lokal. Penerapannya tidak hanya melalui mata pelajaran agama, tetapi juga diintegrasikan ke dalam pelajaran lain, kegiatan sekolah, aturan, dan kebiasaan sehari-hari. Guru juga memiliki peran penting karena siswa dapat belajar dari contoh sikap yang ditunjukkan oleh gurunya. Namun, pelaksanaannya masih memiliki kendala, seperti persiapan sekolah yang terburu-buru, pemahaman guru yang belum merata, dan fasilitas yang belum memadai. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan moral tidak cukup hanya direncanakan dalam kurikulum, tetapi harus benar-benar diterapkan dalam kehidupan sekolah agar siswa dapat memahami dan membiasakan nilai-nilai tersebut.
Npm: 2513053198
Pada jurnal "Pendidikan Nilai dan Moral dalam Sistem Kurikulum Pendidikan di Aceh" menjelaskan bahwa pendidikan nilai dan moral di Aceh berusaha menggabungkan kurikulum nasional dengan nilai-nilai Islam serta muatan lokal. Penerapannya tidak hanya melalui mata pelajaran agama, tetapi juga diintegrasikan ke dalam pelajaran lain, kegiatan sekolah, aturan, dan kebiasaan sehari-hari. Guru juga memiliki peran penting karena siswa dapat belajar dari contoh sikap yang ditunjukkan oleh gurunya. Namun, pelaksanaannya masih memiliki kendala, seperti persiapan sekolah yang terburu-buru, pemahaman guru yang belum merata, dan fasilitas yang belum memadai. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan moral tidak cukup hanya direncanakan dalam kurikulum, tetapi harus benar-benar diterapkan dalam kehidupan sekolah agar siswa dapat memahami dan membiasakan nilai-nilai tersebut.
Nama:Rahma fatayati
NPM:2513053212
Menurut saya, moral adalah pedoman yang membantu seseorang menentukan mana yang baik dan buruk dalam bertindak. Moral tidak hanya diketahui, tetapi juga harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam artikel tersebut, pendidikan moral sangat penting karena sekolah tidak hanya bertugas memberikan pengetahuan, tetapi juga membentuk sikap dan karakter siswa. Nilai seperti jujur, disiplin, toleransi, peduli, bertanggung jawab, dan menghargai orang lain perlu diterapkan dalam kegiatan pembelajaran.
Di Aceh, pendidikan nilai dan moral juga diintegrasikan dengan nilai-nilai Islam dan budaya Aceh melalui kurikulum. Guru memiliki peran penting karena bukan hanya mengajarkan nilai, tetapi juga harus memberikan contoh melalui perilakunya sehari-hari
NPM:2513053212
Menurut saya, moral adalah pedoman yang membantu seseorang menentukan mana yang baik dan buruk dalam bertindak. Moral tidak hanya diketahui, tetapi juga harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam artikel tersebut, pendidikan moral sangat penting karena sekolah tidak hanya bertugas memberikan pengetahuan, tetapi juga membentuk sikap dan karakter siswa. Nilai seperti jujur, disiplin, toleransi, peduli, bertanggung jawab, dan menghargai orang lain perlu diterapkan dalam kegiatan pembelajaran.
Di Aceh, pendidikan nilai dan moral juga diintegrasikan dengan nilai-nilai Islam dan budaya Aceh melalui kurikulum. Guru memiliki peran penting karena bukan hanya mengajarkan nilai, tetapi juga harus memberikan contoh melalui perilakunya sehari-hari
Nama : Faridha rahmawati
Npm : 2513053195
Dalam jurnal “Pendidikan Nilai dan Moral dalam Sistem Kurikulum Pendidikan di Aceh” membahas penerapan nilai moral melalui kurikulum Islami di Aceh yang tetap mengacu pada pendidikan nasional, tetapi disesuaikan dengan syariat Islam dan budaya lokal. Nilai tersebut diterapkan melalui mata pelajaran, budaya sekolah, pembiasaan, dan keteladanan guru. Namun, dalam praktiknya masih terdapat kesenjangan antara konsep dan pelaksanaannya. Persiapan yang belum matang, pemahaman guru yang belum merata, serta pola penerapan yang belum jelas menjadi beberapa kendala. Bahkan, hanya sekitar 7% sekolah yang diteliti telah mencoba menerapkannya.
Menurut saya, nilai moral tidak cukup hanya ditulis dalam kurikulum atau RPP, tetapi harus terlihat dalam proses pembelajaran dan keseharian siswa. Dari jurnal ini, guru itu masih kesulitan menghubungkan nilai-nilai Islam dengan materi pelajaran, sehingga penerapannya belum maksimal. Selain itu, jurnal belum banyak menunjukkan bukti perubahan perilaku siswa setelah kurikulum diterapkan. Jadi, bagi saya, pendidikan moral bukan hanya membuat siswa memahami nilai yang baik, tetapi juga membiasakan mereka menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Npm : 2513053195
Dalam jurnal “Pendidikan Nilai dan Moral dalam Sistem Kurikulum Pendidikan di Aceh” membahas penerapan nilai moral melalui kurikulum Islami di Aceh yang tetap mengacu pada pendidikan nasional, tetapi disesuaikan dengan syariat Islam dan budaya lokal. Nilai tersebut diterapkan melalui mata pelajaran, budaya sekolah, pembiasaan, dan keteladanan guru. Namun, dalam praktiknya masih terdapat kesenjangan antara konsep dan pelaksanaannya. Persiapan yang belum matang, pemahaman guru yang belum merata, serta pola penerapan yang belum jelas menjadi beberapa kendala. Bahkan, hanya sekitar 7% sekolah yang diteliti telah mencoba menerapkannya.
Menurut saya, nilai moral tidak cukup hanya ditulis dalam kurikulum atau RPP, tetapi harus terlihat dalam proses pembelajaran dan keseharian siswa. Dari jurnal ini, guru itu masih kesulitan menghubungkan nilai-nilai Islam dengan materi pelajaran, sehingga penerapannya belum maksimal. Selain itu, jurnal belum banyak menunjukkan bukti perubahan perilaku siswa setelah kurikulum diterapkan. Jadi, bagi saya, pendidikan moral bukan hanya membuat siswa memahami nilai yang baik, tetapi juga membiasakan mereka menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Nama: Nasya Nurul Putri
NPM: 2513053203
Artikel itu menjelaskan bahwa guru memiliki peran yang sangat penting sebagai contoh yang baik dalam membentuk nilai-nilai karakter siswa. Mengajarkan nilai moral tidak cukup hanya dengan menjelaskan teori kepada siswa, tetapi harus dilakukan dengan cara diamati, dicontohkan, dilatih, dan didukung oleh lingkungan sekitarnya.
Namun, ada beberapa hambatan dalam menerapkan kurikulum Islami di Aceh. Artikel tersebut menjelaskan bahwa beberapa sekolah masih merasa kesulitan dalam memahami dan menerapkan kurikulum tersebut. Hasil pengawasan yang disebutkan dalam artikel menunjukkan bahwa penerapan tersebut belum memiliki konsep dan cara yang sama untuk semua, sementara beberapa guru masih merasa kesulitan dalam menggabungkan nilai-nilai Islam ke dalam pembelajaran dengan cara yang nyata.
NPM: 2513053203
Artikel itu menjelaskan bahwa guru memiliki peran yang sangat penting sebagai contoh yang baik dalam membentuk nilai-nilai karakter siswa. Mengajarkan nilai moral tidak cukup hanya dengan menjelaskan teori kepada siswa, tetapi harus dilakukan dengan cara diamati, dicontohkan, dilatih, dan didukung oleh lingkungan sekitarnya.
Namun, ada beberapa hambatan dalam menerapkan kurikulum Islami di Aceh. Artikel tersebut menjelaskan bahwa beberapa sekolah masih merasa kesulitan dalam memahami dan menerapkan kurikulum tersebut. Hasil pengawasan yang disebutkan dalam artikel menunjukkan bahwa penerapan tersebut belum memiliki konsep dan cara yang sama untuk semua, sementara beberapa guru masih merasa kesulitan dalam menggabungkan nilai-nilai Islam ke dalam pembelajaran dengan cara yang nyata.
Nadya Juliet Balbara
2513053214
Jurnal ini membahas tentang bagaimana pendidikan nilai dan moral diterapkan dalam sistem kurikulum pendidikan di Aceh. Pada dasarnya, pendidikan di Aceh tetap mengikuti sistem pendidikan nasional, tetapi memiliki kekhususan karena pendidikan di sana juga disesuaikan dengan nilai-nilai Islam dan budaya Aceh. Jadi, sekolah tidak hanya bertujuan membuat siswa memiliki kemampuan akademik, tetapi juga membentuk siswa agar memiliki akhlak, moral, sikap, dan perilaku yang baik sesuai dengan ajaran Islam. Nilai-nilai tersebut seharusnya tidak hanya diberikan melalui pelajaran agama, tetapi juga diterapkan dalam berbagai mata pelajaran, kegiatan sekolah, aturan sekolah, kedisiplinan, cara berkomunikasi, serta melalui contoh yang diberikan oleh guru. Selain itu, kurikulum di Aceh juga memasukkan unsur budaya lokal, seperti sejarah Aceh, bahasa daerah, adat istiadat, dan kearifan lokal.
Namun, jurnal ini menunjukkan bahwa penerapannya di sekolah masih belum berjalan secara maksimal. Masih banyak guru dan sekolah yang belum benar-benar memahami bagaimana cara memasukkan nilai-nilai Islam ke dalam proses pembelajaran secara nyata. Ada yang hanya mencantumkan nilai agama di dalam rencana pembelajaran tanpa benar-benar menerapkannya dalam kegiatan belajar. Sekolah juga masih menghadapi kendala dalam hal pedoman, metode pembelajaran, fasilitas, dan kesiapan guru. Bahkan, penerapan Kurikulum Aceh pada saat penelitian dilakukan masih sangat terbatas dan belum memiliki pola yang sama di setiap sekolah. Jadi, kesimpulan dari jurnal ini adalah pendidikan di Aceh sudah memiliki konsep yang jelas dalam menggabungkan pendidikan akademik dengan pendidikan moral, nilai Islam, dan budaya Aceh, tetapi pelaksanaannya masih perlu diperkuat agar nilai-nilai tersebut benar-benar menjadi bagian dari kehidupan dan kebiasaan siswa, bukan hanya sekadar tertulis di dalam kurikulum.
2513053214
Jurnal ini membahas tentang bagaimana pendidikan nilai dan moral diterapkan dalam sistem kurikulum pendidikan di Aceh. Pada dasarnya, pendidikan di Aceh tetap mengikuti sistem pendidikan nasional, tetapi memiliki kekhususan karena pendidikan di sana juga disesuaikan dengan nilai-nilai Islam dan budaya Aceh. Jadi, sekolah tidak hanya bertujuan membuat siswa memiliki kemampuan akademik, tetapi juga membentuk siswa agar memiliki akhlak, moral, sikap, dan perilaku yang baik sesuai dengan ajaran Islam. Nilai-nilai tersebut seharusnya tidak hanya diberikan melalui pelajaran agama, tetapi juga diterapkan dalam berbagai mata pelajaran, kegiatan sekolah, aturan sekolah, kedisiplinan, cara berkomunikasi, serta melalui contoh yang diberikan oleh guru. Selain itu, kurikulum di Aceh juga memasukkan unsur budaya lokal, seperti sejarah Aceh, bahasa daerah, adat istiadat, dan kearifan lokal.
Namun, jurnal ini menunjukkan bahwa penerapannya di sekolah masih belum berjalan secara maksimal. Masih banyak guru dan sekolah yang belum benar-benar memahami bagaimana cara memasukkan nilai-nilai Islam ke dalam proses pembelajaran secara nyata. Ada yang hanya mencantumkan nilai agama di dalam rencana pembelajaran tanpa benar-benar menerapkannya dalam kegiatan belajar. Sekolah juga masih menghadapi kendala dalam hal pedoman, metode pembelajaran, fasilitas, dan kesiapan guru. Bahkan, penerapan Kurikulum Aceh pada saat penelitian dilakukan masih sangat terbatas dan belum memiliki pola yang sama di setiap sekolah. Jadi, kesimpulan dari jurnal ini adalah pendidikan di Aceh sudah memiliki konsep yang jelas dalam menggabungkan pendidikan akademik dengan pendidikan moral, nilai Islam, dan budaya Aceh, tetapi pelaksanaannya masih perlu diperkuat agar nilai-nilai tersebut benar-benar menjadi bagian dari kehidupan dan kebiasaan siswa, bukan hanya sekadar tertulis di dalam kurikulum.
Nama: Rezandi Cahyaningsih
NPM: 2513053194
Jurnal Pendidikan Nilai dan Moral dalam Sistem Kurikulum Pendidikan di Aceh membahas tentang pentingnya pendidikan nilai dan moral dalam membentuk karakter siswa. Jadi pendidikan tidak hanya bertujuan untuk memberikan pengetahuan, tetapi juga membentuk sikap, akhlak, dan perilaku siswa dalam kehidupan sehari-hari. Di Aceh, pendidikan nilai dan moral memiliki ciri khusus karena selain mengikuti sistem pendidikan nasional, pendidikan juga berpedoman pada ajaran Islam dan Qanun Aceh. Kurikulum Aceh memasukkan nilai-nilai Islam ke dalam berbagai mata pelajaran, kegiatan sekolah, budaya sekolah, serta kegiatan ekstrakurikuler. Nilai seperti disiplin, sopan santun, tanggung jawab, kejujuran, kepedulian, dan keteladanan menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter siswa.
Jurnal ini juga menjelaskan bahwa pelaksanaan pendidikan nilai dan moral di Aceh masih memiliki beberapa kendala. Sebagian sekolah dan guru belum memahami dengan jelas bagaimana menerapkan kurikulum Islami dalam kegiatan pembelajaran. Bahkan, hasil pemantauan menunjukkan bahwa penerapannya belum merata dan setiap sekolah masih dapat menerjemahkannya dengan cara yang berbeda. Guru juga masih mengalami kesulitan dalam mengintegrasikan nilai-nilai Islam ke dalam pembelajaran secara nyata, sehingga terkadang nilai tersebut hanya dicantumkan pada bagian awal pembelajaran. Menurut saya, hal yang paling penting dari jurnal ini adalah pendidikan nilai tidak cukup hanya melalui aturan atau materi pelajaran, tetapi harus dilakukan melalui pembiasaan, keteladanan guru, budaya sekolah, kegiatan siswa, serta dukungan lingkungan. Dengan demikian, tujuan pendidikan di Aceh bukan hanya membuat siswa memiliki pengetahuan, tetapi juga membentuk siswa yang memiliki karakter dan perilaku yang baik sesuai dengan nilai Islam, budaya Aceh, dan tujuan pendidikan nasional.
NPM: 2513053194
Jurnal Pendidikan Nilai dan Moral dalam Sistem Kurikulum Pendidikan di Aceh membahas tentang pentingnya pendidikan nilai dan moral dalam membentuk karakter siswa. Jadi pendidikan tidak hanya bertujuan untuk memberikan pengetahuan, tetapi juga membentuk sikap, akhlak, dan perilaku siswa dalam kehidupan sehari-hari. Di Aceh, pendidikan nilai dan moral memiliki ciri khusus karena selain mengikuti sistem pendidikan nasional, pendidikan juga berpedoman pada ajaran Islam dan Qanun Aceh. Kurikulum Aceh memasukkan nilai-nilai Islam ke dalam berbagai mata pelajaran, kegiatan sekolah, budaya sekolah, serta kegiatan ekstrakurikuler. Nilai seperti disiplin, sopan santun, tanggung jawab, kejujuran, kepedulian, dan keteladanan menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter siswa.
Jurnal ini juga menjelaskan bahwa pelaksanaan pendidikan nilai dan moral di Aceh masih memiliki beberapa kendala. Sebagian sekolah dan guru belum memahami dengan jelas bagaimana menerapkan kurikulum Islami dalam kegiatan pembelajaran. Bahkan, hasil pemantauan menunjukkan bahwa penerapannya belum merata dan setiap sekolah masih dapat menerjemahkannya dengan cara yang berbeda. Guru juga masih mengalami kesulitan dalam mengintegrasikan nilai-nilai Islam ke dalam pembelajaran secara nyata, sehingga terkadang nilai tersebut hanya dicantumkan pada bagian awal pembelajaran. Menurut saya, hal yang paling penting dari jurnal ini adalah pendidikan nilai tidak cukup hanya melalui aturan atau materi pelajaran, tetapi harus dilakukan melalui pembiasaan, keteladanan guru, budaya sekolah, kegiatan siswa, serta dukungan lingkungan. Dengan demikian, tujuan pendidikan di Aceh bukan hanya membuat siswa memiliki pengetahuan, tetapi juga membentuk siswa yang memiliki karakter dan perilaku yang baik sesuai dengan nilai Islam, budaya Aceh, dan tujuan pendidikan nasional.