Cobalah anda kemukakan disini pembangunan berkelanjutan dalam konteks Indonesia dan dunia. bagaimanakah relevansinya pembangunan berkelanjutan dengan gerakan ramah
lingkungan/Greenmatric yang telah dilaksanakan dengan upaya menumbuhkan kesadaran ekologis masyarakat?
Forum Diskusi
Nama: Maria Ulfa Rara Ardhika
NPM: 2523031009
Menurut saya, pembangunan berkelanjutan merupakan perubahan cara pandang bahwa pembangunan tidak cukup hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi harus mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan, kesejahteraan sosial, dan kebutuhan generasi mendatang. UNESCO (2026) menjelaskan bahwa pembangunan berkelanjutan berupaya memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang, dengan mengintegrasikan aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Dalam konteks global, prinsip tersebut diwujudkan melalui Sustainable Development Goals (SDGs) yang terdiri atas 17 tujuan pembangunan berkelanjutan. Persoalan lingkungan di dalam SDGs tidak berdiri sendiri, tetapi berkaitan dengan pendidikan, kemiskinan, energi, konsumsi, perubahan iklim, hingga kehidupan masyarakat (United Nations, 2015). Artinya, kerusakan lingkungan pada akhirnya juga menjadi persoalan sosial dan ekonomi.
Di Indonesia, pembangunan berkelanjutan menghadapi tantangan seperti pencemaran, sampah, deforestasi, perubahan iklim, dan eksploitasi sumber daya alam. Menurut saya, persoalannya bukan hanya kurangnya program lingkungan, tetapi bagaimana membangun kesadaran masyarakat agar keberlanjutan menjadi bagian dari perilaku sehari-hari. UNESCO (2020) menegaskan bahwa pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan penting karena tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membentuk sikap, keterampilan, nilai, dan kemampuan masyarakat untuk mengambil tindakan terhadap persoalan lingkungan.
Relevansi GreenMetric dengan Kesadaran Ekologis
Dalam konteks tersebut, UI GreenMetric menjadi salah satu contoh bagaimana prinsip pembangunan berkelanjutan diterjemahkan ke dalam tindakan yang lebih terukur di lingkungan perguruan tinggi. GreenMetric memperhatikan berbagai aspek seperti energi, perubahan iklim, air, transportasi, pengelolaan limbah, infrastruktur, serta pendidikan dan penelitian keberlanjutan (UI GreenMetric, 2019).
Menurut saya, GreenMetric penting karena gerakan ramah lingkungan sering kali berhenti pada kegiatan simbolis seperti menanam pohon atau membersihkan lingkungan. Kegiatan tersebut memang penting, tetapi belum cukup jika tidak diikuti perubahan sistem dan perilaku. GreenMetric mendorong institusi untuk mengukur kondisi lingkungan, melakukan perbaikan, dan mengevaluasi hasilnya.
Hubungannya dengan kesadaran ekologis dapat dilihat melalui proses:
pengukuran → kesadaran → perubahan perilaku → evaluasi → perbaikan berkelanjutan.
Hal ini semakin jelas dalam pengembangan UI GreenCityMetric. UI GreenMetric (2025) menambahkan aspek peningkatan kesadaran dan perubahan perilaku masyarakat sebagai bagian dari upaya mewujudkan kabupaten/kota yang berkelanjutan. Ini menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak cukup hanya dibangun melalui infrastruktur hijau, tetapi membutuhkan masyarakat yang sadar dan terlibat.
Namun, menurut saya, GreenMetric juga perlu dilihat secara kritis. Jangan sampai keberlanjutan hanya dipahami sebagai persoalan mengejar skor atau peringkat. Sebuah institusi mungkin memiliki ruang hijau, pengelolaan sampah, dan fasilitas ramah lingkungan yang baik, tetapi jika warga di dalamnya tidak memiliki kesadaran ekologis, keberlanjutan tersebut menjadi kurang bermakna. Karena itu, indikator kuantitatif perlu berjalan bersama perubahan budaya dan perilaku masyarakat.
Kesimpulan
Dengan demikian, pembangunan berkelanjutan, SDGs, GreenMetric, dan pendidikan ekologis memiliki hubungan yang erat. Pembangunan berkelanjutan memberikan arah, SDGs memberikan tujuan, GreenMetric membantu mengukur dan mendorong praktik keberlanjutan, sedangkan pendidikan membangun kesadaran dan perubahan perilaku.
Menurut saya, keberhasilan pembangunan berkelanjutan tidak cukup dilihat dari banyaknya ruang hijau, fasilitas ramah lingkungan, atau tingginya skor GreenMetric. Ukuran yang lebih penting adalah apakah masyarakat benar-benar memahami keterbatasan alam, bersedia mengubah perilakunya, dan ikut bertanggung jawab terhadap keberlanjutan lingkungan. Karena itu, GreenMetric sebaiknya tidak hanya menjadi alat pemeringkatan, tetapi dimanfaatkan sebagai sarana untuk membangun budaya ekologis yang berkelanjutan.
Daftar Pustaka
UNESCO. 2020. Education for Sustainable Development: A Roadmap. Paris: UNESCO.
UNESCO. 2026. What You Need to Know About Education for Sustainable Development. Paris: UNESCO.
United Nations. 2015. Transforming Our World: The 2030 Agenda for Sustainable Development. New York: United Nations.
UI GreenMetric. 2019. UI GreenMetric World University Rankings: Guidelines. Depok: Universitas Indonesia.
UI GreenMetric. 2025. Siaran Pers Peluncuran dan Sosialisasi UI GreenCityMetric 2025. Depok: Universitas Indonesia.
NPM: 2523031009
Menurut saya, pembangunan berkelanjutan merupakan perubahan cara pandang bahwa pembangunan tidak cukup hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi harus mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan, kesejahteraan sosial, dan kebutuhan generasi mendatang. UNESCO (2026) menjelaskan bahwa pembangunan berkelanjutan berupaya memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang, dengan mengintegrasikan aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Dalam konteks global, prinsip tersebut diwujudkan melalui Sustainable Development Goals (SDGs) yang terdiri atas 17 tujuan pembangunan berkelanjutan. Persoalan lingkungan di dalam SDGs tidak berdiri sendiri, tetapi berkaitan dengan pendidikan, kemiskinan, energi, konsumsi, perubahan iklim, hingga kehidupan masyarakat (United Nations, 2015). Artinya, kerusakan lingkungan pada akhirnya juga menjadi persoalan sosial dan ekonomi.
Di Indonesia, pembangunan berkelanjutan menghadapi tantangan seperti pencemaran, sampah, deforestasi, perubahan iklim, dan eksploitasi sumber daya alam. Menurut saya, persoalannya bukan hanya kurangnya program lingkungan, tetapi bagaimana membangun kesadaran masyarakat agar keberlanjutan menjadi bagian dari perilaku sehari-hari. UNESCO (2020) menegaskan bahwa pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan penting karena tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membentuk sikap, keterampilan, nilai, dan kemampuan masyarakat untuk mengambil tindakan terhadap persoalan lingkungan.
Relevansi GreenMetric dengan Kesadaran Ekologis
Dalam konteks tersebut, UI GreenMetric menjadi salah satu contoh bagaimana prinsip pembangunan berkelanjutan diterjemahkan ke dalam tindakan yang lebih terukur di lingkungan perguruan tinggi. GreenMetric memperhatikan berbagai aspek seperti energi, perubahan iklim, air, transportasi, pengelolaan limbah, infrastruktur, serta pendidikan dan penelitian keberlanjutan (UI GreenMetric, 2019).
Menurut saya, GreenMetric penting karena gerakan ramah lingkungan sering kali berhenti pada kegiatan simbolis seperti menanam pohon atau membersihkan lingkungan. Kegiatan tersebut memang penting, tetapi belum cukup jika tidak diikuti perubahan sistem dan perilaku. GreenMetric mendorong institusi untuk mengukur kondisi lingkungan, melakukan perbaikan, dan mengevaluasi hasilnya.
Hubungannya dengan kesadaran ekologis dapat dilihat melalui proses:
pengukuran → kesadaran → perubahan perilaku → evaluasi → perbaikan berkelanjutan.
Hal ini semakin jelas dalam pengembangan UI GreenCityMetric. UI GreenMetric (2025) menambahkan aspek peningkatan kesadaran dan perubahan perilaku masyarakat sebagai bagian dari upaya mewujudkan kabupaten/kota yang berkelanjutan. Ini menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak cukup hanya dibangun melalui infrastruktur hijau, tetapi membutuhkan masyarakat yang sadar dan terlibat.
Namun, menurut saya, GreenMetric juga perlu dilihat secara kritis. Jangan sampai keberlanjutan hanya dipahami sebagai persoalan mengejar skor atau peringkat. Sebuah institusi mungkin memiliki ruang hijau, pengelolaan sampah, dan fasilitas ramah lingkungan yang baik, tetapi jika warga di dalamnya tidak memiliki kesadaran ekologis, keberlanjutan tersebut menjadi kurang bermakna. Karena itu, indikator kuantitatif perlu berjalan bersama perubahan budaya dan perilaku masyarakat.
Kesimpulan
Dengan demikian, pembangunan berkelanjutan, SDGs, GreenMetric, dan pendidikan ekologis memiliki hubungan yang erat. Pembangunan berkelanjutan memberikan arah, SDGs memberikan tujuan, GreenMetric membantu mengukur dan mendorong praktik keberlanjutan, sedangkan pendidikan membangun kesadaran dan perubahan perilaku.
Menurut saya, keberhasilan pembangunan berkelanjutan tidak cukup dilihat dari banyaknya ruang hijau, fasilitas ramah lingkungan, atau tingginya skor GreenMetric. Ukuran yang lebih penting adalah apakah masyarakat benar-benar memahami keterbatasan alam, bersedia mengubah perilakunya, dan ikut bertanggung jawab terhadap keberlanjutan lingkungan. Karena itu, GreenMetric sebaiknya tidak hanya menjadi alat pemeringkatan, tetapi dimanfaatkan sebagai sarana untuk membangun budaya ekologis yang berkelanjutan.
Daftar Pustaka
UNESCO. 2020. Education for Sustainable Development: A Roadmap. Paris: UNESCO.
UNESCO. 2026. What You Need to Know About Education for Sustainable Development. Paris: UNESCO.
United Nations. 2015. Transforming Our World: The 2030 Agenda for Sustainable Development. New York: United Nations.
UI GreenMetric. 2019. UI GreenMetric World University Rankings: Guidelines. Depok: Universitas Indonesia.
UI GreenMetric. 2025. Siaran Pers Peluncuran dan Sosialisasi UI GreenCityMetric 2025. Depok: Universitas Indonesia.
Nama: Habibah Husnul Khotimah
NPM: 2523031006
Gerakan ramah lingkungan seperti Greenmatric memiliki relevansi yang kuat dengan konsep pembangunan berkelanjutan karena tidak hanya berorientasi pada kebersihan lingkungan, tetapi juga mendorong perubahan pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat agar mampu menjaga keseimbangan antara kebutuhan sosial, ekonomi, dan kelestarian lingkungan. Syamsiyah et al. (2025), misalnya, menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat berperan penting dalam keberhasilan program pengembangan desa berwawasan lingkungan dan keberlanjutan manfaat sosial-ekologisnya. Pembangunan berkelanjutan membutuhkan keterlibatan masyarakat secara aktif, sehingga gerakan lingkungan berbasis partisipasi dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan kesadaran ekologis melalui pengalaman langsung, kerja sama, dan pembiasaan perilaku ramah lingkungan.
Pada konteks Greenmatric, kegiatan ramah lingkungan yang dilakukan secara berkelanjutan dapat dipandang sebagai proses pendidikan ekologis berbasis praktik. Masyarakat tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai permasalahan lingkungan, tetapi belajar memahami hubungan antara tindakan manusia dan keberlanjutan lingkungan melalui keterlibatan nyata. Hal ini sejalan dengan penelitian Sucipto et al. (2024) yang menunjukkan bahwa keterlibatan aktif, komunikasi, kerja sama, dan pembelajaran berbasis komunitas dapat memperkuat peran masyarakat dalam pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan. Dengan demikian, Greenmatric dapat menjadi media untuk mengubah kepedulian lingkungan menjadi kebiasaan dan tindakan kolektif, sehingga kesadaran ekologis masyarakat tidak berhenti pada pemahaman, tetapi berkembang menjadi perilaku yang mendukung keberlanjutan lingkungan.
Rujukan:
Sucipto, S., & Fatihin, M. (2024). Participatory Learning for Rural Community Empowerment. Jurnal Ilmu Pendidikan, 30(1), 69-79.
Syamsiyah, N., Sadeli, A. H., Saidah, Z., & Noor, T. I. (2025). Community participation in the development of sustainable, environmentally conscious villages in the Cirasea Sub-Watershed, Indonesia. Sustainability, 17(11), 4871. https://doi.org/10.3390/su17114871
NPM: 2523031006
Gerakan ramah lingkungan seperti Greenmatric memiliki relevansi yang kuat dengan konsep pembangunan berkelanjutan karena tidak hanya berorientasi pada kebersihan lingkungan, tetapi juga mendorong perubahan pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat agar mampu menjaga keseimbangan antara kebutuhan sosial, ekonomi, dan kelestarian lingkungan. Syamsiyah et al. (2025), misalnya, menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat berperan penting dalam keberhasilan program pengembangan desa berwawasan lingkungan dan keberlanjutan manfaat sosial-ekologisnya. Pembangunan berkelanjutan membutuhkan keterlibatan masyarakat secara aktif, sehingga gerakan lingkungan berbasis partisipasi dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan kesadaran ekologis melalui pengalaman langsung, kerja sama, dan pembiasaan perilaku ramah lingkungan.
Pada konteks Greenmatric, kegiatan ramah lingkungan yang dilakukan secara berkelanjutan dapat dipandang sebagai proses pendidikan ekologis berbasis praktik. Masyarakat tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai permasalahan lingkungan, tetapi belajar memahami hubungan antara tindakan manusia dan keberlanjutan lingkungan melalui keterlibatan nyata. Hal ini sejalan dengan penelitian Sucipto et al. (2024) yang menunjukkan bahwa keterlibatan aktif, komunikasi, kerja sama, dan pembelajaran berbasis komunitas dapat memperkuat peran masyarakat dalam pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan. Dengan demikian, Greenmatric dapat menjadi media untuk mengubah kepedulian lingkungan menjadi kebiasaan dan tindakan kolektif, sehingga kesadaran ekologis masyarakat tidak berhenti pada pemahaman, tetapi berkembang menjadi perilaku yang mendukung keberlanjutan lingkungan.
Rujukan:
Sucipto, S., & Fatihin, M. (2024). Participatory Learning for Rural Community Empowerment. Jurnal Ilmu Pendidikan, 30(1), 69-79.
Syamsiyah, N., Sadeli, A. H., Saidah, Z., & Noor, T. I. (2025). Community participation in the development of sustainable, environmentally conscious villages in the Cirasea Sub-Watershed, Indonesia. Sustainability, 17(11), 4871. https://doi.org/10.3390/su17114871